Tentang Equalizer, Reverb, dan Compressor
18 Dec 2010
Music Recording xnet 0 Comments
Equalizer
Equalizer secara umum dapat dibagi dua, yaitu graphic dan parametric. Graphical EQ
banyak dipakai pada Equalizer rumahan, sedangkan di dalam dunia audio engineering
banyak dipakai parametric EQ.
Parametric EQ memiliki 3 buah parameter yang dapat disetel yaitu:
* Center frequency : Frequency tengah yang ingin anda cut / boost
* Gain : jumlah cut / boost dalam satuan dB
* Q Factor : Lebar atau sempit nya bandwith dari frequency yang di cut/boost
Q factor: semakin tinggi angka nya, semakin sempit frequency yang terkena. Semakin
rendah Q nya, semakin lebar frequency yang kena.
Selain Bell Shape EQ yang dapat kita tentukan Q nya, kita mengenal juga yang
namanya Shelving EQ. Pada shelving EQ, bandwith dan center frequency tidak lagi
relevan. Sebagai ganti nya f di deskripsikan sebagai cut-off frequency, dan g
adalah slope nya.
Low Shelf EQ: Semua frequency dibawah f yang kita tentukan akan terkena boost / cut
High Shelf EQ: Semua frequency diatas f yang kita tentukan akan terkena boost / cut
High Pass EQ: Semua frequency dibawah f yang kita tentukan akan dipotong / dibuang.
Low Pass EQ: Semua frequency diatas f yang kita tentukan akan dipotong / dibuang.
EQ sebaiknya digunakan sesudah proses tracking. Artinya, pada saat merekam suatu
suara, baik itu vocal, atau gitar, dianjurkan untuk tidak meng EQ nya terlebih
dahulu. Biasakanlah untuk mencari sound yang terbaik pada saat merekam. Mungkin
dengan merubah letak microphone, mengganti microphone nya, atau alat musik nya.
Yang harus diingat, anda tak dapat mem boost/cut apa yang tidak ada dari awal nya.
Low Cut Filter: Digunakan ketika merekam vocal dengan jarak dekat. Karena ada nya
proximity Effect, juga menjaga getaran2 spt dari kaki, AC, dll nya.
Apabila anda terpaksa meng EQ lebih dari 9 dB, apabila mungkin, cobalah untuk
merubah posisi microphone atau men tune alat musik anda untuk mendapatkan sound
yang diinginkan.
Apabila anda kebagian job mixing sementara orang lain yang men track nya, maka anda
mau tak mau terpaksa menggunakan EQ. Dalam hal inicobalah untuk menghindari
penggunaan lebih dari 9 dB. Penggunaan EQ, terutama saat mem boost nya, memiliki
efek samping yaitu phase shifting. Lebih baik utk meng cut, karena efek samping nya
tidak sebesar mem boost.
Gunakan cut utk menghilangkan frequency yg bermasalah atau membuat sound menjadi
lebih baik. Gunakan boost utk merubah warna dari sound.
Natural EQ
Asli nya di alam, frequency yang ber energy rendah adalah high frequency. Jadi nya
pada jarak yang jauh, yang pertama kali hilang adalah high frequency nya.
Sebagai contoh: Apabila kita mendengar suara drum dari ruangan sebelah, suara kick
drum ( low frequency )dapat menembus tembok karena memiliki energy lebih
dibandingkan dengan suara cymbal ( High Frequency ). Teori ini kita pergunakan
sewaktu mixing dan ingin membuat beberapa instrument terdengar lebih jauh.
Penggunaan EQ
Penggunaan EQ sebenarnya dapat menurunkan kualitas dari sound. Oleh karena itu
sangat dianjurkan untuk mencari sound yang diinginkan dari awal nya. Ingatlah bahwa
anda tak dapat meng-cut atau boost frequency yang tidak ada dari awal nya. Sebagai
contoh, apabila seseorang menaruh bantal diantara beater kick drum dan microphone,
maka bagaimanapun anda mem-boost atau meng-cut frequency, maka tetap tak akan
mendapatkan sound yang diinginkan.
Jangan meng EQ instrument utk menjadikan nya terdengar enak dalam solo, tetapi
bagaimana membuat instrument itu terdengar baik di dalam mix. Contoh nya: Full
Range gitar solo terdengar enak waktu solo, tapi mungkin akan menabrak instrument
lain nya dalam mix.
EQ biasa digunakan untuk:
* Merubah warna dari sound
* Memisahkan dua instrument yang frequency nya bertabrakan
* Menyingkirkan frequency kotor yang mengganggu
* Mastering
Frequency dapat dibagi atas:
* Very Low yaitu dari sekitar 80 Hz kebawah
* Low sekitar 80 Hz - 350 Hz
* Low Midrange sekitar 350 Hz - 2 kHz
* High Midrange sekitar 2 kHz - 6 kHz
* High yaitu sekitar 6 kHz keatas
Penggunaan EQ untuk pemula:
* G nya tidak melebihi 9 dB
* Q nya berkisar sekitar 1.5
* Frequency dibawah 150 Hz gunakan Low Shelf EQ
* Frequency diatas 8 kHz gunakan High Shelf EQ
Apabila mungkin cobalah untuk mixing tanpa mempergunakan terlalu banyak EQ. Selain
lebih hemat waktu, juga sound yang dihasilkan akan jauh terdengar lebih natural.
Cobalah untuk terlebih dulu mixing sebaik-baik nya dengan hanya mengatur volume
fader dan reverb. Mungkin sekali anda akan merasakan hasil yang natural dan terbuka
(lebar).
Reverb
Anda tentu nya sering mendengar ungkapan penyanyi kamar mandi kan? Ungkapan ini ada
karena banyak orang yang senang bernyanyi sewaktu mandi. Lalu, kenapa orang senang
bernyanyi di kamar mandi? Jawaban nya adalah: di kamar mandi suara kita akan
bergema, sehingga terdengar lebih bagus. Gema inilah yang dalam bidang audio
engineering kita sebut dengan reverb. Jangan dicampur dengan echo lho, karena itu
adalah hal lain. Terkadang sewaktu karaoke orang bilang, minta echo nya tambah
donk!. Maksud nya adalah reverb nya yang ditambah.
Reverb: adalah suatu efek yang terjadi karena suara yang dipantulkan di dalam satu
ruangan. Jadi kita tak akan mendengar ada nya reverb di ruangan terbuka seperti
misalnya lapangan bola.
Tiap ruangan memiliki karakteristik reverb yang berbeda, yang mana ditentukan oleh
beberapa faktor spt:
* Bahan dan bentuk dari dinding ruangan
* Luas nya ruangan
* Banyak nya material / benda di dalam ruangan tersebut
Kembali ke contoh kamar mandi. Coba anda bernyanyi, atau menepuk tangan anda di
kamar mandi, lalu bandingkan dengan misalnya di kamar tidur anda. Suara Reverb nya
beda kan? Mungkin di kamar tidur anda, anda tak menyadari ada nya reverb, atau ada
reverb yang sedikit sekali. Kenapa bisa begitu?
Setelah kita perhatikan 3 faktor diatas. Ternyata inilah yang menyebabkan perbedaan
antara karakter reverb yang ada di kamar mandi, dengan reverb yang ada di kamar
tidur anda. Dari contoh kita di atas, faktor yang paling menentukan adalah:
Kamar mandi dinding nya biasa nya terbuat dari tembok dan kaca, lantai nya juga
dari keramik atau marmer. Material2 ini tidak menyerap suara.
Kamar tidur biasa nya di tengah nya ada sebuah ranjang besar yang menyerap suara.
Belum lagi mungkin ada tirai, karpet, pakaian yang digantung, dll
Perbedaan ini saja sudah cukup untuk menjadikan kedua ruangan tersebut memiliki
karakter reverb yang sangat berbeda.
Di bidang audio engineering, kita menggunakan berbagai parameter di efek unit
reverb kita untuk men simulasi kan reverb yang terjadi di alam. Apabila anda
perhatikan efek unit atau plug in reverb anda, maka akan didapati beberapa
parameter seperti pre delay, early reflection, RT 60 / reverb time 60 dB,
Diffusion, High Cut / Low Cut, dsb. Di bawah ini adalah keterangan singkat dari
tiap2 parameter yang ada.
Pre Delay: Pantulan pertama yang kembali dari pantulan dinding yang terdekat. Otak
manusia mempersepsikan reverb ketika jarak pre delay adalah kurang dari 100 ms.
Apabila lebih dari itu, maka dibilang adalah echo.
Early Reflection: Beberapa pantulan pertama yang terjadi sebelum reverb yang
sesungguh nya datang. Beberapa pantulan pertama ini lah yang mempersepsi kan bentuk
ruangan serta luasnya ruangan tersebut.
Hi-Cut: Utk meng-cut high frequency nya dari reverb. Karena apabila suara
dipantulkan, maka dia akan kehilangan sebagian dari high frequency nya. Selain itu
high frequency sangat mudah untuk di absorb oleh material spt karpet atau pakaian.
Jadi, ini lah yang dicoba untuk di simulasi oleh reverb unit dengan mengatur
parameter Hi- Cut.
Diffusion: Setting yang mengatur kejelasan nya dari sebuah reverb
RT 60: Panjang nya waktu sebelum reverb berkurang sebanyak 60 dB. Sering disebut
juga sebagai Reverb Time, atau Sustain, Decay, dll
Tiga jenis Reverb utama yang paling sering digunakan adalah:
* Plate
* Room
* Hall
Ketika mixing reverb biasanya digunakan sebagai efek send. Alasan nya adalah:
apabila digunakan dalam posisi insert, maka anda harus memasang sebuah unit pada
setiap channel yang membutuhkan reverb. Sedangkan dalam posisi send, reverb cukup
di insert pada aux channel / effect channel. Selanjutnya anda tinggal membuka aux
bus dari channel yang ingin diberi efek. Selain menghemat CPU, dengan hanya
menggunakan satu atau dua buah unit saja, maka hasil mixing anda akan terdengar
lebih menyatu karena karakteristik reverb nya sama.
Ketika Reverb digunakan sebagai efek send (aux), maka harus diingat settingan mix
adalah Wet 100 % dan Dry 0 %. Pada auxiliary channel kita hanya ingin mendapatkan
Sound Reverb nya ( wet ). Sound asli nya ( dry ) berada pada track channel nya.
Tambahan :
Menggunakan 2 buah reverb atau lebih dalam satu lagu bisa membantu apa yg disebut
depth balance
Misalnya
Reverb pertama settingan Pre Delay 0 ms, Reverb Time 1 second, Karakteristik mid
low. Bisa kita pakai untuk menambah sustain dari beberapa instrument spt tom atau
acoustic guitar dry. Reverb ini berfungsi menambah nuansa tanpa mengganggu reverb
kedua
Reverb kedua settingan Pre Delay 20 ms, Reverb Time 2 seconds, Karakteristik mid
bright. Bisa kita pakai untuk snare, vocal, atau instrument lain nya yg diinginkan.
Ketika digunakan, maka instrument2 yang menggunakan reverb pertama sustain nya akan
habis lebih dahulu sehingga menciptakan depth yang berbeda daripada reverb kedua.
Compressor
Compressor adalah sebuah alat yang termasuk dalam kategori gain based. Sewaktu kita
menyetel parameter2 yang terdapat pada sebuah unit compressor, digunakan satuan
dalam dB. Compressor berguna utk membuat signal lebih rata atau stabil. Tidak
terlalu naik turun.
Dahulu sewaktu rekaman banyak dilakukan di pita analog, ketika seorang Sound
Engineer merekam material yang memiliki perubahan dinamika tinggi, maka dia akan
menurunkan volume sehingga bagian yang berdinamika kuat tak akan mengakibatkan
distorsi. Masalahnya, ketika volume diturunkan, maka bagian yang lembut berada
dekat pada noise floor, jadinya tak terdengar jelas karena tertutup oleh suara
seperti shhhhhh. Dengan menggunakan compressor, maka Sound Engineer dapat men-
stabilkan materi sehingga volume keseluruhan dapat diangkat dan mengurangi tape
noise.
Contoh lain nya adalah penggunaan compressor pada vocal. Mari kita bayangkan
apabila kita mixing sebuah lagu yang hanya terdiri dari vocal, sedangkan musiknya
berasal dari keyboard atau organ tunggal. Kita mengetahui bahwa musik organ tunggal
memiliki dinamika yg konstan, sehingga akan menjadi masalah apabila vocal nya
memiliki dinamika yang lebar.
Misalnya si penyanyi berbisik pada intro, lalu menyanyi dengan kencang pada bagian
reff. Apabila kita mem balance musik dan vocal berdasarkan saat ref, maka ketika
intro vocal tak akan kedengaran karena si penyanyi berbisik. Begitu juga apabila
kita mem balance musik dan vocal berdasarkan saat intro, maka saat ref musik akan
tertutup karena si vocalist menyanyi dengan kencang / berteriak.
Dengan menggunakan compressor, Sound Engineer dapat menstabilkan vocal tersebut
sehingga dapat masuk/menempel dengan baik pada musik organ tunggal.
Utk rekaman, Compressor juga dapat digunakan sebelum signal masuk ke tape / hard
disk. Utk aplikasi ini, Compressor berguna utk menjaga signal yang masuk agar tidak
sampai terjadi digital clipping.
Yang masih termasuk dari kategori compressor antara lain:
Limiter: output nya konstan, tidak perduli besar kecil nya signal yang masuk /
signal tak diperkenankan melewati threshold yang ada.
Brick Wall Limiter: Limiter yang banyak digunakan pada saat mastering untuk
menaikkan volume keseluruhan dari sebuah material audio.
Frequency Selected Compressor: bekerja pada satu band frequency yang telah
ditentukan. Contoh nya adalah deesser. Deesser bekerja pada frequency sekitar 5 8
kHz dan berguna utk menekan bunyi desis pada vocal
Multi Band Compressor: Banyak digunakan utk mastering. Bisa kita bayangkan sebagai
beberapa compressor dijadikan satu. Yang mana tiap2 compressor menangani frekuensi
atau bandwith yang berbeda secara independent. Tiap bandwith dapat memiliki
settingan attack, release , ratio dan threshold yang berbeda juga. Misalnya kita
memiliki MBC yang dibagi 3, maka dapat di set: satu untuk meng-compress frequency
rendah, satu utk mid, dan satu utk high frequency.
Apabila digunakan dengan baik dan benar, sebagian besar pendengar yang awam tak
akan menyadari bahwa compressor telah digunakan. Telinga manusia cenderung lebih
peka terhadap perubahan pitch daripada perubahan amplitude.
Umumnya, sound engineer mengerti musik. Tentu nya anda mengerti, selain nada dan
irama, perubahan dinamika atau keras lembut nya sebuah lagu sangat mempengaruhi
keindahan dari lagu tersebut. Apalagi utk lagu klasik. Nah, inilah yang akan kita
coba pertahankan.
Secara garis umum ada 5 buah parameter yang dapat di adjust, yaitu: threshold,
ratio, attack time, release time, dan output/gain. Dari ke 5 parameter ini, saya
akan membagi nya menjadi dua bagian yaitu, threshold dan ratio. Selanjutnya adalah
attack time dan release time. Pertama-tama kita membahas soal threshold dan ratio.
Yang pertama adalah threshold. Threshold adalah satu point dimana apabila sebuah
signal melewati titik ini, maka si compressor akan mulai bekerja. Anda lah yang
menentukan threshold ini. Sebagai contoh, apabila threshold di set pada -20 dB,
maka semua signal yang melewati -20 dB akan di proses. Signal yang tak melewati tak
akan di proses.
Parameter yang kedua adalah ratio. Singkatnya, ratio adalah perbandingan atau
jumlah dari kompresi yang akan dikenakan kepada signal audio yang melewati batas
threshold. Misalkan ratio di set pada perbandingan 3:1 dan threshold -20 dBFS.
Apabila signal berada pada -14, berarti melewati threshold dengan jumlah 6 dB. Lalu
akan di kompress dengan perbandingan 3:1. Maka akan kita dapat hasil 2. Nah ini
yang kita tambahkan pada threshold kita yang -20 tadi. Hasil akhir nya adalah -18
dB.
Kita telah membahas berulang kali soal dB ini, mungkin anda bertanya-tanya, berapa
dB kah kompresi yang baik itu? Sebagai jawaban nya, tergantung selera dan jenis
musik yang sedang anda mixing. Tapi, ada patokan nya yaitu: apabila anda sudah
mengkompress sebesar 6 dB, maka di persepsikan itu adalah setengah dari keras nya
suara sebelum di kompress. Utk lebih jelas nya perhatikan tabel pada bagian bawah
artikel ini.
Parameter kita yang ketiga, adalah attack time. Attack time menentukan berapa lama
nya si compressor menunggu sebelum mulai bekerja setelah ia mendeteksi ada nya
signal yang melewati threshold. Seperti kita lihat pada gambar diatas, setiap
instrument memiliki Sound Envelope yang berbeda. Jika attack time anda set fast,
maka compressor akan melihat dan bereaksi pada hampir setiap signal yang melewati
threshold.
Contoh nya saat kita gunakan compressor pada track drum. Apabila attack time di set
cepat, maka compressor akan bereaksi terhadap setiap pukulan drum. Ketika anda
merubah attack time to slow, maka compressor tak akan bereaksi terhadap signal
berdurasi pendek.
Parameter kita yang ke empat, adalah release time. Release time menentukan berapa
lama nya si compressor menunggu sebelum berhenti bekerja setelah ia mendeteksi
bahwa signal audio sudah tak lagi berada di atas threshold. Bisa juga diartikan
waktu nya sebelum compressor kembali ke normal (sebelum dia bekerja)
Parameter yang ke lima adalah make up gain, atau output. Ketika sebuah signal di
compress, maka otomatis amplitude nya akan berkurang. Output ini berguna untuk
menambah Gain dari signal audio anda yang sudah di kompress.
Beberapa Compressor memiliki settingan yang disebut Hard Knee atau Soft Knee.
Perbedaan nya adalah, pada Hard Knee, ketika signal masih di bawah threshold, sama
sekali tidak di compress. Begitu melewati threshold, maka compressor langsung
bekerja. Pada soft knee, ketika signal mulai mendekati threshold maka compressor
nya mulai bekerja.
Beberapa kesalahan yang banyak ditemui pada saat setting compressor:
* Threshold nya di set ke 0
* Ratio di set ke 1
* Attack terlalu besar saat meng-compress instrument perkusi
Cara cepat utk mengeset compressor :
* Set Ratio 3:1
* Set Attack Time 12 ms, Release Time 50 ms atau Auto
* Perlahan-lahan turunkan threshold nya sehingga didapat Gain Reduction antara 4
s/d 8 dB ( Tergantung jenis instrument nya )
Panduan menentukan parameter compressor :
Jenis instrument dipakai untuk menentukan attack dan release Time
Teknik bermain atau dynamic range dipakai untuk menentukan ration dan gain
reduction
sumber :
[Link]