LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN GANGGUAN SISTEM URINARIA: CKD ( CHRONIC KIDNEY
DISEASE )
OLEH :
DIV KEPERAWATAN TINGKAT II SEMESTER IV
I GUSTI AYU CINTYA ADIANTI
P07120214012
KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2016
PENDAHULUAN CKD (CHRONIC KIDNEY DISEASE)
I. KONSEP DASAR PENYAKIT
A. PENGERTIAN
Chronic kidney disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis
didefinisikan sebagai kerusakan ginjal untuk sedikitnya 3 bulan dengan
atau tanpa penurunan glomerulus filtration rate (GFR) (Nahas &
Levin,2010). CKD atau gagal ginjal kronis (GGK) didefinisikan sebagai
kondisi dimana ginjal mengalami penurunan fungsi secara lambat,
progresif, irreversibel, dan samar (insidius) dimana kemampuan tubuh
gagal dalam mempertahankan metabolisme, cairan, dan keseimbangan
elektrolit, sehingga terjadi uremia atau azotemia (Smeltzer, 2009)
Gagal ginjal Kronik Merupakan Kerusakan Ginjal Progresif yang
berakibat fatal dan di tandai dengan uremia (urea dan Limbah nitrogen
lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan
dialysis atau transplantasi ginjal) .
B. PENYEBAB
Penyebab GGK termasuk glomerulonefritis, infeksi kronis,
penyakit vaskuler (nefrosklerosis), proses obstruksi (kalkuli), penyakit
kolagen (luris sutemik), agen nefrotik (amino glikosida), penyakit
endokrin (diabetes). (Doenges, 1999; 626)
Penyebab GGK menurut Price, 1992; 817, dibagi menjadi delapan kelas,
antara lain:
1) Infeksi misalnya pielonefritis kronik
2) Penyakit peradangan misalnya glomerulonefritis
3) Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna,
nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis
4) Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus
sistemik, poliarteritis nodosa,sklerosis sistemik progresif
5) Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal
polikistik,asidosis tubulus ginjal
6) Penyakit metabolik misalnya
DM,gout,hiperparatiroidisme,amiloidosis
7) Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik,nefropati
timbal
8) Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli
neoplasma, fibrosis netroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah:
hipertropi prostat, striktur uretra, anomali kongenital pada leher
kandung kemih dan uretra.
C. PATOFISIOLOGI
Ginjal mempunyai kemampuan nyata untuk mengkompensasi
kehilangan nefron yang persisten yang terjadi pada gagal ginjal kronik.
Jika angka filtrasi glomerolus menurun menjadi 5-20 ml/menit/1,73 m2,
kapasitas ini mulai gagal. Hal ini menimbulkan berbagai masalah biokimia
berhubungan dengan bahan utama yang ditangani ginjal.
Ketidakseimbangan natrium dan cairan terjadi karena
ketidakmampuan ginjal untuk memekatkan urin. Hiperkalemia terjadi
akibat penurunan sekresi kalium. Asidosis metabolik terjadi karena
kerusakan reabsorbsi bikarbonat dan produksi ammonia. Demineralisasi
tulang dan gangguan pertumbuhan terjadi akibat sekresi hormon
paratiroid, peningkatan fosfat plasma (penurunan kalsium serum, asidosis)
menyebabkan pelepasan kalsium dan fosfor ke dalam aliran darah dan
gangguan penyerapan kalsium usus. Anemia terjadi karena gangguan
produksi sel darah merah, penurunan rentang hidup sel darah merah,
peningkatan kecenderungan perdarahan (akibat kerusakan fungsi
trombosit). Perubahan pertumbuhan berhubungan dengan perubahan
nutrisi dan berbagai proses biokimia
Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk
glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa
nefron utuh). Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi
volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam
keadaan penurunan GFR / daya saring. Metode adaptif ini memungkinkan
ginjal untuk berfungsi sampai dari nefronnefron rusak. Beban bahan
yang harus dilarut menjadi lebih besar daripada yang bisa direabsorpsi
berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan haus. Selanjutnya karena
jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri timbul disertai retensi
produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada pasien menjadi
lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila kira-kira
fungsi ginjal telah hilang 80% - 90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang
demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih
rendah itu. ( Barbara C Long, 1996, 368)
Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang
normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi
uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan
produk sampah maka gejala akan semakin berat. Banyak gejala uremia
membaik setelah dialisis. (Brunner & Suddarth, 2001 : 1448).
D. KLASIFIKASI
Klasifikasi gagal ginjal kronis berdasarkan derajat (stage) LFG
(Laju Filtration Glomerulus) dimana nilai normalnya adalah 125
ml/min/1,73m2 dengan rumus Kockroft Gault sebagai berikut :
Derajat Penjelasan LFG (ml/mn/1.73m2)
1 Kerusakan ginjal dengan LFG normal atau 90
2 Kerusakan ginjal dengan LFG atau ringan 60-89
3 Kerusakan ginjal dengan LFG atau sedang 30-59
4 Kerusakan ginjal dengan LFG atau berat 15-29
5 Gagal ginjal < 15 atau dialisis
Sumber : Sudoyo,2006 Buku Ajar Ilmu penyakit Dalam. Jakarta : FKUI
E. GEJALA KLINIS
Menurut Brunner & Suddart (2002) setiap sistem tubuh pada gagal
ginjal kronis dipengaruhi oleh kondisi uremia, maka pasien akan
menunjukkan sejumlah tanda dan gejala. Keparahan tanda dan gejala
bergantung pada bagian dan tingkat kerusakan ginjal, usia pasien dan
kondisi yang mendasari. Tanda dan gejala pasien gagal ginjal kronis
adalah sebagai berikut :
a. Manifestasi kardiovaskuler
Mencakup hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivasi
sistem renin-angiotensin-aldosteron), pitting edema
(kaki,tangan,sakrum), edema periorbital, Friction rub perikardial,
pembesaran vena leher.
b. Manifestasi dermatologi
Warna kulit abu-abu mengkilat, kulit kering, bersisik, pruritus,
ekimosis, kuku tipis dan rapuh, rambut tipis dan kasar.
c. Manifestasi Pulmoner
Krekels, sputum kental dan liat, napas dangkal, pernapasan Kussmaul
d. Manifestasi Gastrointestinal
Napas berbau amonia, ulserasi dan pendarahan pada mulut, anoreksia,
mual,muntah, konstipasi dan diare, pendarahan saluran gastrointestinal
e. Manifestasi Neurologi
Kelemahan dan keletihan, konfusi, disorientasi, kejang, kelemahan
tungkai, panas pada telapak kaki, perubahan perilaku
f. Manifestasi Muskuloskeletal
Kram otot, kekuatan otot hilang, fraktur tulang, foot drop
g. Manifestasi Reproduktif
Amenore dan atrofi testikuler
F. PEMERIKSAAN FISIK
1) Penampilan / keadaan umum.
Lemah, aktifitas dibantu, terjadi penurunan sensifitas nyeri.
Kesadaran pasien dari compos mentis sampai coma.
2) Tanda-tanda vital.
Tekanan darah naik, respirasi riet naik, dan terjadi dispnea, nadi
meningkat dan reguler.
3) Antropometri.
Penurunan berat badan selama 6 bulan terahir karena kekurangan
nutrisi, atau terjadi peningkatan berat badan karena kelebihan
cairan.
4) Kepala.
Rambut kotor, mata kuning / kotor, telinga kotor dan terdapat
kotoran telinga, hidung kotor dan terdapat kotoran hidung, mulut
bau ureum, bibir kering dan pecah-pecah, mukosa mulut pucat dan
lidah kotor.
5) Leher dan tenggorok.
Peningkatan kelenjar tiroid, terdapat pembesaran tiroid pada leher.
6) Dada
Dispnea sampai pada edema pulmonal, dada berdebar-debar.
Terdapat otot bantu napas, pergerakan dada tidak simetris,
terdengar suara tambahan pada paru (rongkhi basah), terdapat
pembesaran jantung, terdapat suara tambahan pada jantung.
7) Abdomen.
Terjadi peningkatan nyeri, penurunan pristaltik, turgor jelek, perut
buncit.
8) Genital.
Kelemahan dalam libido, genetalia kotor, ejakulasi dini, impotensi,
terdapat ulkus.
9) Ekstremitas.
Kelemahan fisik, aktifitas pasien dibantu, terjadi edema,
pengeroposan tulang, dan Capillary Refill lebih dari 1 detik.
10) Kulit.
Turgor jelek, terjadi edema, kulit jadi hitam, kulit bersisik dan
mengkilat / uremia, dan terjadi perikarditis.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Radiologi
Ditujukan untuk menilai keadaan ginjal dan derajat komplikasi
ginjal.
a. Ultrasonografi ginjal digunakan untuk menentukan ukuran
ginjal dan adanya massa kista, obtruksi pada saluran
perkemihan bagianatas.
b. Biopsi Ginjal dilakukan secara endoskopik untuk menentukan
sel jaringan untuk diagnosis histologis.
c. Endoskopi ginjal dilakukan untuk menentukan pelvis ginjal.
d. EKG mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan
elektrolit dan asam basa.
2. Foto Polos Abdomen
Menilai besar dan bentuk ginjal serta adakah batu atau obstruksi lain.
3. Pielografi Intravena
Menilai sistem pelviokalises dan ureter, beresiko terjadi penurunan
faal ginjal pada usia lanjut, diabetes melitus dan nefropati asam urat.
4. USG
Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkin ginjal , anatomi
sistem pelviokalises, dan ureter proksimal, kepadatan parenkim
ginjal, anatomi sistem pelviokalises dan ureter proksimal, kandung
kemih dan prostat.
5. Renogram
Menilai fungsi ginjal kanan dan kiri , lokasi gangguan (vaskuler,
parenkhim) serta sisa fungsi ginjal
6. Pemeriksaan Radiologi Jantung
Mencari adanya kardiomegali, efusi perikarditis
7. Pemeriksaan radiologi Tulang
Mencari osteodistrofi (terutama pada falangks /jari) kalsifikasi
metatastik
8. Pemeriksaan radiologi Paru
Mencari uremik lung yang disebabkan karena bendungan.
9. Pemeriksaan Pielografi Retrograde
Dilakukan bila dicurigai adanya obstruksi yang reversible
10. EKG
Untuk melihat kemungkinan adanya hipertrofi ventrikel kiri, tanda-
tanda perikarditis, aritmia karena gangguan elektrolit (hiperkalemia)
11. Biopsi Ginjal
dilakukan bila terdapat keraguan dalam diagnostik gagal ginjal
kronis atau perlu untuk mengetahui etiologinya.
12. Pemeriksaan laboratorium menunjang untuk diagnosis gagal ginjal
a. Laju endap darah
b. Urin
Volume : Biasanya kurang dari 400 ml/jam (oliguria atau urine
tidak ada (anuria).
Warna : Secara normal perubahan urine mungkin disebabkan
oleh pus / nanah,
bakteri, lemak, partikel koloid,fosfat, sedimen kotor, warna
kecoklatan menunjukkan adanya darah, miglobin, dan porfirin.
Berat Jenis : Kurang dari 1,015 (menetap pada 1,010
menunjukkan kerusakan
ginjal berat).
Osmolalitas : Kurang dari 350 mOsm/kg menunjukkan
kerusakan tubular, amrasio
urine / ureum sering 1:1.
c. Ureum dan Kreatinin
Ureum:
Kreatinin: Biasanya meningkat dalam proporsi. Kadar
kreatinin 10 mg/dL diduga
tahap akhir (mungkin rendah yaitu 5).
H. TERAPI
1. Konsumsi cairan, protein, dan fosfat:
a. Penatalaksanaan hiponatremia
Koreksi natrium dengan cairan isotonik, bila hiponatremia
berat dengan Natrium Chlorida 3% hipertonik.
b. Nutrisi
Selain penggantian cairan dan elektrolit, masukan diarahkan
pada pensuplaian pasien dengan kalori dalam bentuk
karbohidrat dan lemak. Pemberian protein 40-60 gram atau
asam amino esensial. Kalori 2000-3000 cal/hari.
2. Obat-obatan : diuretik untuk peningkatan diuretik dan juga
pemberian Epogen (Eritropoetin manusia rekombinan). Terapi
Epogen diberikan untuk memperoleh nilai hematokrit sebesar
33%-38%, yang biasanya memulihkan gejala anemia. Epogen
diberikan secara intravena atau subkutan 3 x seminggu. Epogen
tidak diindikasikan untuk pasien yang memerlukan koreksi
anemia dengan segera.
3. Dialisis
4. Transplantasi ginjal
I. KOMPLIKASI
Seperti penyakit kronis dan lama lainnya, penderita CKD akan
mengalami beberapa komplikasi. Komplikasi dari CKD menurut Smeltzer
dan Bare (2001) serta Suwitra (2006) antara lain adalah :
1. Hiperkalemi akibat penurunan sekresi asidosis metabolik, kata
bolisme, dan masukan diit berlebih.
2. Perikarditis, efusi perikardial, dan tamponad jantung akibat retensi
produk sampah uremik dan dialisis yang tidak adekuat.
3. Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi sistem
renin angiotensin aldosteron.
4. Anemia akibat penurunan eritropoitin.
5. Penyakit tulang serta klasifikasi metabolik akibat retensi fosfat, kadar
kalsium serum yang rendah, metabolisme vitamin D yang abnormal
dan peningkatan kadar alumunium akibat peningkatan nitrogen dan
ion anorganik.
6. Uremia akibat peningkatan kadar uream dalam tubuh.
7. Gagal jantung akibat peningkatan kerja jantung yang berlebihan.
8. Malnutrisi karena anoreksia, mual, dan muntah.
9. Hiperparatiroid, Hiperkalemia, dan Hiperfosfatemia.
II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Pengkajian fokus yang disusun berdasarkan pada Gordon dan mengacu
pada Doenges (2001), serta Carpenito (2006) sebagai berikut :
1. Demografi.
CKD dapat terjadi pada siapapun, pekerjaan dan lingkungan juga
mempunyai peranan penting sebagai pemicu kejadian CKD. Karena
kebiasaan kerja dengan duduk / berdiri yang terlalu lama dan lingkungan
yang tidak menyediakan cukup air minum / mengandung banyak senyawa/
zat logam dan pola makan yang tidak sehat.
2. Riwayat penyakit yang diderita pasien sebelum CKD seperti DM,
glomerulo nefritis, hipertensi, rematik, hiperparatiroidisme, obstruksi
saluran kemih, dan traktus urinarius bagian bawah juga dapat memicu
kemungkinan terjadinya CKD.
3. Pola nutrisi dan metabolik.
Gejalanya adalah pasien tampak lemah, terdapat penurunan BB dalam
kurun waktu 6 bulan. Tandanya adalah anoreksia, mual, muntah, asupan
nutrisi dan air naik atau turun.
4. Pola eliminasi
Gejalanya adalah terjadi ketidak seimbangan antara output dan input.
Tandanya adalah penurunan BAK, pasien terjadi konstipasi, terjadi
peningkatan suhu dan tekanan darah atau tidak singkronnya antara tekanan
darah dan suhu.
Pengkajian primer :
a. Airway
Subjektif : pasien mengatakan ada batuk berdahak.
Objektif : pada oedema paru, terdapat batuk disertai sputum merah
muda encer.
b. Breathing
Subjektif : Pasien mengatakan ada rasa sesak
Objektif : nafas pendek , RR meningkat, oksihemoglobin menurun.
c. Cirkulation
Subjektif : pasien mengeluhkan pusing, dan gatal gatal
Objektif : kadar oksigen dalam darah menurun, dan ureum dalam
darah meningkat.
Pengkajian sekunder:
a. Breathing
Subjektif : Pasien mengatakan terkadang ada rasa sesak
Objektif :RR meningkat, terdapat pernafasan cuping hidung,
oksihemoglobin menurun.
b. Blood
Subjektif : Mengatakan gatal gatal
Objektif : Terdapat oedema, kadar urea dalam darah meningkat.
c. Brain
Subjektif : Pasien mengatakan merasa pusing dan lemah, cemas, letih
dan lesu, gelisah, gangguan tidur
Objektif : Tampak cemas, lemah, letih dan lesu, gelisah, gangguan
tidur
d. Bladder
Subjektif : Pasien mengatakan kencing sedikit / tidak
Objektif : Oligiri sampai anuria,terkadang warna urine pekat.
e. Bowel
Subjektif : Pasien mengatakan tidak nafsu makan, mual dan muntah
Objektif : Nafsu makan menurun, ada mual dan muntah.
f. Bone
Subjektif : Klien mengeluh ada kelemahan
Objektif : Tampak ada kesulitan dalam beraktivitas.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan oedema paru ditandai
dengan sesak nafas.
2. Gangguan volume cairan lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
retensi Na dan air ditandai dengan oedema
3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan uremia dan pengeluaran
cairan dan elektrolit berlebih ditandai dengan gatal-gatal dan turgor kulit
menurun.
4. Gangguan pola eliminasi urine berhubungan dengan retensi Na berlebih
ditandai dengan sedikit kencing
5. Gangguan nurtisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
peningkatan asam lambung ditandai dengan mual dan muntah.
6. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan anemia dan penurunan suplai
oksigen ke otak ditandai dengan syncope.
C. PERENCANAAN KEPERAWATAN
No Diagnosa (Dx) Tujuan Intervensi Rasional
a b c d e
1. Gangguan Setelah diberikan NIC : Respiratory
pertukaran gas tindakan keperawatan Management
berhubungan selama ...x.. jam a. Auskultasi bunyi a. Mengetahui
dengan oedema diharapkan pasien dapat nafas kelainan bunyi n
paru ditandai bernafas dengan adekuat b. Pantau TTV dan b. Mengetahui
dengan sesak dengak kriteria hasil : AGD aktivitas kerja ja
nafas. dan paru
NOC :
c. Berikan posisi
Respiratory Status duduk semi fowler c. Melapangka
oksigen masuk k
Vital Sign Status
d. Lakukan tirah paru
1. Melaporkan sesak baring pada pasien
berkurang d. Dengan Tira
2. Tidak ada sianosis baring, istirahat
3. AGD (pO2 80- cukup dan pemb
ventilator dapat
membantu mela
a b c d e
100mmHg, pCO2 35- jalan nafas pasie
45 mmHg, HCO3 22- e. Kolaborasi e. Memenuhi
26 mEq/L, pH 7,35- pemberian oksigen kebutuhan oksig
7,45) dan TTV dalam
batas normal.
4. Suara nafas vesikuler
2. Gangguan Setelah diberikan NIC: Fluid Managemen
volume cairan tindakan keperawatan [Link] balance a. Pengaturan ma
lebih dari selama ...x..jam cairan/24 jam dan keluaran c
kebutuhan diharapkan volume b. b. Balance tubuh
tubuh cairan dan elektrolit Timbang BB harian c. Mengontrol
berhubungan seimbang dengan kriteria [Link] peningkatan kemungkinan
dengan retensi hasil : tekanan darah absorbsi Na be
Na dan air d. Pantau besarny
NOC : Fluid Balance
ditandai dengan d. kelebihan vol.
oedema 1. BB stabil Monitor elektrolit darah f. Ekskresi cair
2. Elektrolit dalam
[Link] edema perifer dan terganggu
batas normal
distensi vena leher
3. Intake dan output
f. Batasi masukan cairan
seimbang
3. Gangguan Setelah diberikan a. Inspeksi kulit a. Menandakan
integritas kulit tindakan keperawatan terhadap perubahan adanya sirkulasi y
berhubungan selama..x..jam warna,turgor dan tidak baik
dengan uremia diharapkan intergritas vaskular
dan pengeluaran kulut kembali utuh b. Kaji terhadap
cairan dan dengan kriteria hasil : kekeringan kulit, b. Perubahan m
elektrolit gatal-gatal pada pasien Pruritis, Excoriations disebabkan oleh
berlebih berkurang dan dan infeksi. Selidiki penurunan aktivit
kelenjar keringat
a b c d e
ditandai dengan menunjukkan perilaku keluhan gatal pada pengumpulan kal
gatal-gatal dan mencegah kerusakan atau pasien dan phospat pada
turgor kulit cidera kulit. cutaneus.
menurun
c. Monitor Lipatan c. Area- area in
kulit dan area yang sangat mudah ter
oedema. injuri.
d. Lakukan perawat d. Untuk menc
kulit secara benar. injuri dan
infeksiPemberian
dapat mengurang
gatal pada pasien
e. Anjurkan lien
untuk kompres lembab
dan dingin untuk e. Menghilangk
memberikan tekanan ketidaknyamanan
daripada garukan pada
daerah pruritrus
4. Gannguan pola Setelah diberikan a. Awasi pemasukan a. Memberikan info
eliminasi urine tindakan keperawatan dan pengeluaran tentang ginjal dan
berhubungan selama ...x...jam urine adanya komplika
dengan retensi diharapkan pasien dapat b. Awasi pemeriksaan b. Peninggian BUN
Na berlebih berkemih dengan normal laborotorium, ,kreatinin dan ele
ditandai dengan dengan kriteria hasil (elektrolit, mengindikasikan
sedikit kencing terdapat produksi urine > BUN,kreatinin) ginjal
400 ml/24 jam. c. Mengatasi perma
c. Kolaborasi dalam dalam eliminasi s
pemberian obat permasalahan pad
sesuai indikasi ginjal
d. Membantu klien
d. Bantu klien dalam
a b c d e
memilih teknik mengatasi perma
dialisis. eliminasi.
5. Gangguan Setelah diberikan Nitrition Managemen
nurtisi kurang tindakan keperawatan a. Kaji terhadap adanya [Link] keada
dari kebutuhan selama...x..jam Mual, muntah dan seperti ini akan
tubuh diharapkan Pasien dapat anorexia. meningkat kehila
berhubungan mempertahankan status kebutuhan nutrisi
dengan nutrisi adekuat dengan b. Monitor intake [Link] menentukk
peningkatan criteria hasil : makanan dan yang tepat bagi p
asam lambung NOC: Nutritional Status : perubahan berat
ditandai dengan Food and Fluid Intake badan ;Monitor data
mual dan BB tidak mengalami laboratorium : Serum
muntah. penurunan, albumin, protein, Lemak,
dalam batas normal (4- Kalium dan natrium.
5,2 g/dl) c. Berikan makanan
[Link] ke
sesuai diet yang
Nutrisi klien sesu
dianjurkan dan
modifikasi sesuai
kesukaan Klien.
d. Bantu atau anjurkan
d. Menghilangk
pasien melakukan
tidak enak dalam
oral hygiene sebelum
sebelum makan.
makan.
6. Intoleransi Setelah diberikan NIC : Activity therapy
aktifitas tindakan keperawatan a. Tingkatkan a. Mengupayakan
berhubungan selama ..x ...jam kemandirian dalam kemandirian
dengan anemia diharapkan dapat terdapat aktifitas perawatan
dan penurunan peningkatan dalam diri yang dapat
aktivitas dengan kriteria ditoleransi, bantu jika
a b c d e
suplai oksigen hasil : keletihan terjadi
ke otak ditandai NOC: Self Care ADL
dengan berkurangnya b. Anjurkan aktifitas b. Dengan aktivitas
syncope. kelemahan,dapat alternatif sambil ringan dan istira
beristirahat secara istirahat. yang banyak dap
cukup,mampu memulihkan kea
melakuakan kembali pasien.
aktivitas sehari-hari yang c. Kaji faktor yang c. Mengurangi resi
memungkinkan menimbulkan memperburuk ko
keletihan pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn [Link] Asuhan Keperawatan. Jakarta :ECG
Herdinan, Heather T. Diagnosis Keperawatan NANDA: Definisi dan Klasifikasi
2012-2014. Jakarta: EGC. 2012.
Johnson, M. Etal. Nursing Outcome Classification (NOC). USA: Mosby Elsevier.
2008.
Price, Sylvia. 2002. Patofisiologi. Volume 2. Jakarta: EGC.
Suddarth,Brunner. [Link] Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2. Edisi
8. Jakarta: ECG.
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan
Medikal BedahBrunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC
Denpasar, 7 Mei 2016
Mengetahui,
Pembimbing Praktik Mahasiswa
I Gusti Ayu Cintya Adianti
NIP. NIM. P07120214012
Mengetahui,
Pembimbing Akademik
NIP.