0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
158 tayangan48 halaman

Prinsip Kerja dan Komponen Boiler Batubara

Boiler berfungsi untuk memproduksi uap dengan memanaskan air menggunakan panas hasil pembakaran bahan bakar. Komponen utamanya meliputi tungku pembakaran, drum uap, superheater, air heater, pengumpul abu, katup pengaman, gelas penduga, dan pembuangan air. Boiler digunakan untuk menghasilkan uap yang bermanfaat untuk proses industri.

Diunggah oleh

Muswardi Wardi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
158 tayangan48 halaman

Prinsip Kerja dan Komponen Boiler Batubara

Boiler berfungsi untuk memproduksi uap dengan memanaskan air menggunakan panas hasil pembakaran bahan bakar. Komponen utamanya meliputi tungku pembakaran, drum uap, superheater, air heater, pengumpul abu, katup pengaman, gelas penduga, dan pembuangan air. Boiler digunakan untuk menghasilkan uap yang bermanfaat untuk proses industri.

Diunggah oleh

Muswardi Wardi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Prinsip kerja Boiler Batubara :

1. Batubara dari luar dialirkan ke penampung batubara dengan conveyor kemudian


dihancurkan dengan the pulverized fuel mill sehingga menjadi tepung batubara.

2. Kemudian batubara halus tersebut dicampur dengan udara panas oleh forced draught fan
sehingga menjadi campuran udara panas dan bahan bakar (batu bara).

3. Dengan tekanan yang tinggi, campuran udara panas dan batu bara disemprotkan kedalam
Boiler sehingga akan terbakar dengan cepat seperti semburan api.

4. Kemudian air dialirkan keatas melalui pipa yang ada dinding Boiler, air tersebut akan
dimasak dan menjadi uap, dan uap tersebut dialirkan ke tabung boiler untuk memisahkan uap
dari air yang terbawa.

5. Selanjutnya uap dialirkan ke superheater untuk melipatgandakan suhu dan tekanan uap
hingga mencapai suhu 570C dan tekanan sekitar 200 bar yang meyebabkan pipa ikut
berpijar merah.

6. Uap dengan tekanan dan suhu yang tinggi inilah yang menjadi sumber tenaga turbin
tekanan tinggi yang merupakan turbin tingkat pertama dari 3 tingkatan.

7. Untuk mengatur turbin agar mencapai set point, kita dapat menyeting steam governor
valve (10) secara manual maupun otomatis.

8. Suhu dan tekanan uap yang keluar dari Turbin tekanan tinggi akan sangat berkurang
drastis, untuk itu uap ini dialirkan kembali ke boiler re-heater untuk meningkatkan suhu dan
tekanannya kembali.

9. Uap yang sudah dipanaskan kembali tersebut digunakan sebagai penggerak turbin tingkat
kedua atau disebut turbin tekanan sedang, dan keluarannya langsung digunakan untuk
menggerakkan turbin tingkat 3 atau turbin tekanan rendah.

10. Uap keluaran dari turbin tingkat 3 mempunyai suhu sedikit diatas titik didih, sehingga
perlu di alirkan ke condensor agar menjadi air untuk dimasak ulang.

11. Air tersebut kemudian dialirkan melalui deaerator oleh feed pump untuk dimasak ulang.
awalnya dipanaskan di feed heater yang panasnya bersumber dari high pressure set,
kemudian ke economiser sebelum di kembalikan ke tabung boiler.

12. Sedangkan Air pendingin dari condensor akan di semprotkan kedalam cooling tower, dan
inilah yang meyebabkan timbulnya asap air pada cooling tower. kemudian air yang sudah
agak dingin dipompa balik ke condensor sebagai air pendingin ulang.

13. Ketiga turbin di gabung dengan shaft yang sama dengan generator 3 phase, Generator ini
kemudian membangkitkan listrik tegangan menengah ( 20-25 kV).

14. Dengan menggunakan transformer 3 phase, tegangan dinaikkan menjadi tegangan tinggi
berkisar 250-500 kV yang kemudian dialirkan ke sistem transmisi 3 phase.

15. Sedangkan gas buang dari boiler di isap oleh kipas pengisap agar melewati electrostatic
precipitator untuk mengurangi polusi dan kemudian gas yg sudah disaring akan dibuang
melalui cerobong

semoga bisa membantu


Sumber: kalo mau jelasnya liat di link ini;
[Link]

ungsi boiler serta komponen utamanya seharusnya patut untuk kita ketahui, terlebih bagi
yang sedang bekerja pada pabrik-pabrik yang menggunakan alat ini. Pada dasarnya, peralatan
industri memang tidak ada habisnya untuk dibahas, setelah pada artikel sebelumnya kita telah
diulas mengenai berbagai macam alat industri seperti pompa, evaporator, desalter, kondensor
dan sebagainya. Pada artikel ini akan dibahas mengenai boiler karena alat ini merupakan
salah satu alat yang umum digunakan pada kilang minyak maupun di pabrik-pabrik lainnya.
Tentu saja Anda sekalian pernah mendengar nama alat ini, tetapi mungkin belum mengerti
apa yang dimaksud dengan boiler, fungsi boiler dan komponen-komponen utamanya. Untuk
memahami hal tersebut, silahkan baca ulasannya di bawah.
Pabrik yang menggunakan boiler (sumber: [Link])

Fungsi Boiler dan Komponen Utamanya


Pada dasarnya boiler adalah alat yang berfungsi untuk memanaskan air dengan menggunakan
panas dari hasil pembakaran bahan bakar, panas hasil pembakaran selanjutnya panas hasil
pembakaran dialirkan ke air sehingga menghasilkan steam (uap air yang memiliki temperatur
tinggi). Dari pengertian tersebut berarti kita dapat menyimpulkan bahwa boiler berfungsi
untuk memproduksi steam (uap) yang dapat digunakan untuk proses/kebutuhan selanjutnya.
Seperti yang kita ketahui bahwa steam dapat digunakan untuk menjaga suhu dalam kolom
destilasi minyak bumi dan proses evaporasi pada evaporator. Umumnya bakar yang
digunakan untuk memanaskan boiler yaitu batu bara, gas, dan bahan bakar minyak.

Bagian-Bagian Pada Boiler dan Fungsinya

Sama seperti pompa, kompresor dan peralatan pabrik lainnya yang tersusun dari berbagai
komponen sehingga alat tersebut dapat beroperasi dan menjalankan perannya. Boiler juga
tersusun dari berbagai macam komponen dengan fungsinya masing-masing. Di bawah ini
adalah fungsi dari masing-masing komponen pada boiler, yaitu:

1. Tungku Pengapian (Furnace)

Bagian ini merupakan tempat terjadinya pembakaran bahan bakar yang akan menjadi sumber
panas, proses penerimaan panas oleh media air dilakukan melalui pipa yang telah dialiri air,
pipa tersebut menempel pada dinding tungku pembakaran. Proses perpindahan panas pada
furnace terjadi dengan tiga cara:

Perpindahan panas secara radiasi, dimana akan terjadi pancaran panas dari api atau
gas yang akan menempel pada dinding tube sehingga panas tersebut akan diserap oleh
fluida yang mengalir di dalamnya.
Perpindahan panas secara konduksi, panas mengalir melalui hantaran dari sisi pipa
yang menerima panas kedalam sisi pipa yang memberi panas pada air.
Perpindahan panas secara konveksi. panas yang terjadi dengan singgungan molekul-
molekul air sehingga panas akan menyebar kesetiap aliran air.

Di dalam furnace, ruang bakar terbagi atas dua bagian yaitu ruang pertama dan ruang kedua.
Pada ruang pertama, di dalamnya akan tejadi pemanasan langsung dari sumber panas yang
diterima oleh tube (pipa), sedangkan pada ruang kedua yang terdapat pada bagian atas, panas
yang diterima berasal dari udara panas hasil pembakaran dari ruang pertama. Jadi, fungsi dari
ruang pemanas kedua ini yakni untuk menyerap panas yang terbuang dari ruang pemanasan
pertama, agar energi panas yang terbuang secara cuma-cuma tidak terlalu besar, dan untuk
mengontrol panas fluida yang telah dipanaskan pada ruang pertama agar tidak mengalami
penurunan panas secara berlebihan.

2. Steam Drum

Steam drum berfungsi sebagai tempat penampungan air panas serta tempat terbentuknya uap.
Drum ini menampung uap jenuh (saturated steam) beserta air dengan perbandingan antara
50% air dan 50% uap. untuk menghindari agar air tidak terbawa oleh uap, maka dipasangi
sekat-sekat, air yang memiliki suhu rendah akan turun ke bawah dan air yang bersuhu tinggi
akan naik ke atas dan kemudian menguap.

3. Superheater

Merupakan tempat pengeringan steam, dikarenakan uap yang berasal dari steam drum masih
dalam keadaan basah sehingga belum dapat digunakan. Proses pemanasan lanjutan
menggunakan superheater pipe yang dipanaskan dengan suhu 260C sampai 350C. Dengan
suhu tersebut, uap akan menjadi kering dan dapat digunakan untuk menggerakkan turbin
maupun untuk keperluan peralatan lain.

4. Air Heater

Komponen ini merupakan alat yang berfungsi untuk memanaskan udara yang digunakan
untuk menghembus/meniup bahan bakar agar dapat terbakar sempurna. Udara yang akan
dihembuskan, sebelum melewati air heater memiliki suhu yang sama dengan suhu udara
normal (suhu luar) yaitu 38C. Namun, setelah melalui air heater, suhunya udara tersebut
akan meningkat menjadi 230C sehingga sudah dapat digunakan untuk menghilangkan
kandungan air yang terkandung didalamnya karena uap air dapat menganggu proses
pembakaran.

5. Dust Collector (Pengumpul Abu)

Bagian ini berfungsi untuk menangkap atau mengumpulkan abu yang berada pada aliran
pembakaran hingga debu yang terikut dalam gas buang. Keuntungan menggunakan alat ini
adalah gas hasil pembakaran yang dibuang ke udara bebas dari kandungan debu. Alasannya
tidak lain karena debu dapat mencemari udara di lingkungan sekitar, serta bertujuan untuk
mengurangi kemungkinan terjadinya kerusakan pada alat akibat adanya gesekan abu maupun
pasir.

6. Pengatur Pembuangan Gas Bekas

Asap dari ruang pembakaran dihisap oleh blower IDF (Induced Draft Fan) melalui dust
collector selanjutnya akan dibuang melalui cerobong asap. Damper pengatur gas asap diatur
terlebih dahulu sesuai kebutuhan sebelum IDF dinyalakan, karena semakin besar damper
dibuka maka akan semakin besar isapan yang akan terjadi dari dalam tungku.

7. Safety Valve (Katup pengaman)

Alat ini berfungsi untuk membuang uap apabila tekanan uap telah melebihi batas yang telah
ditentukan. Katup ini terdiri dari dua jenis, yaitu katup pengaman uap basah dan katup
pengaman uap kering. Safety valve ini dapat diatur sesuai dengan aspek maksimum yang
telah ditentukan. Pada uap basah biasanya diatur pada tekanan 21 kg per cm kuadrat,
sedangkan untuk katup pengaman uap kering diatur pada tekanan 20,5 kg per cm kuadrat.

8. Gelas Penduga (Sight Glass)

Gelas penduga dipasang pada drum bagian atas yang berfungsi untuk mengetahui ketinggian
air di dalam drum. Tujuannya adalah untuk memudahkan pengontrolan ketinggian air dalam
ketel selama boiler sedang beroperasi. Gelas penduga ini harus dicuci secara berkala untuk
menghindari terjadinya penyumbatan yang membuat level air tidak dapat dibaca.

9. Pembuangan Air Ketel

Komponen boiler ini berfungsi untuk membuang air dalam drum bagian atas. Pembuangan
air dilakukan bila terdapat zat-zat yang tidak dapat terlarut, contoh sederhananya ialah
munculnya busa yang dapat menganggu pengamatan terhadap gelas penduga. Untuk
mengeluarkan air dari dalam drum, digunakan blowdown valve yang terpasang pada drum
atas, katup ini bekerja bila jumlah busa sudah melewati batas yang telah ditentukan.

Baca Juga: Jenis-jenis Boiler Berdasarkan Cara Kerjanya

Sekian pembahasan kita tentang fungsi boiler serta komponen utamanya, semoga bermanfaat
bagi pembaca terutama yang memiliki aktivitas di bidang industri maupun bagi yang sedang
menuntut ilmu. Tentunya artikel ini masih memiliki banyak kekurangan, jadi harap
dimaklumi. Marilah kita belajar bersama, Terimakasih!
Bagian bagian Boiler

Boiler merupakan suatu alat untuk menghasilkan uap pada tekanan dan temperatur
tinggi (superheated vapor). Perubahan dari fase cair menjadi uap dilakukan dengan
memanfaatkan energi panas yang didapatkan dari pembakaran bahan bakar. Boiler pada
PLTU menggunakan batubara sebagai bahan bakar utamanya. Sedangkan bahan bakar
pendukung adalah solar dan residu, dimana solar dan residu ini digunakan hanya sebagai
pemantik awal (ignition) untuk membakar batubara. Penyaluran panas dari bahan bakar ke air
demin dapat terjadi secara radiasi, dan konveksi.
Bagian pemindah panas dari boiler terdiri dari pemanas mula (Low Pressure Heater
dan High Pressure Heater) , economizer, pemanas lanjut (Superheater), dan pemanas ulang
(Reheater).
Pemindahan panas dalam boiler terjadi dalam proses :
1. Radiasi di ruang bakar
2. Konveksi di Economizer dan Air Heater
3. Kombinasi radiasi dan konveksi di Superheater dan Reheater.

Komponen Utama Boiler


Komponen utama boiler terdiri dari : wall tube, steamdrum /main drum, superheater,
reheater, dan economizer

Wall Tube
Dinding boiler terdiri dari tubes / pipa-pipa yang disatukan oleh membran, oleh karena itu
disebut dengan wall tube. Di dalam wall tube tersebut mengalir air yang akan dididihkan.
Dinding pipa boiler adalah pipa yang memiliki ulir dalam (ribbbed tube), dengan tujuan agar
aliran air di dalam wall tube berpusar (turbulen), sehingga penyerapan panas menjadi lebih
banyak dan merata, serta untuk mencegah terjadinya overheating karena penguapan awal air
pada dinding pipa yang menerima panas radiasi langsung dari ruang pembakaran .
Wall tube mempunyai dua header pada bagian bawahnya yang berfungsi untuk
menyalurkan air dari downcomers.
Downcomer merupakan pipa yang menghubungkan steam drum dengan bagian bawah low
header.
Untuk mencegah penyebaran panas dari dalam furnace ke luar melalui wall tube, maka
disisi luar dari walltube dipasang dinding isolasi yang terbuat dari mineral fiber.
Steam Drum
Steam Drum adalah bagian dari boiler yang berfungsi untuk :
1. Menampung air yang akan dipanaskan pada pipa-pipa penguap (wall tube),dan menampung
uap air dari pipa-pipa penguap sebelum dialirkan ke superheater.
2. Memisahkan uap dan air yang telah dipisahkan di ruang bakar
( furnace ).
3. Mengatur kualitas air boiler, dengan membuang kotoran-kotoran terlarut di dalam boiler
melalui continious blowdown.
4. Mengatur permukaan air sehingga tidak terjadi kekurangan saat boiler beroperasi yang dapat
menyebabkan overheating pada pipa boiler.
Bagian-bagian dari steam drum terdiri dari : feed pipe, chemical feed pipe, sampling pipe,
baffle pipe, sparator, scrubber, dryer, dan dry box.
Level air dari drum harus selalu dijaga agar selalu tetap setengah dari tinggi drum.
Sehingga banyaknya air pengisi yang masuk ke steam drum harus sebanding dengan
banyaknya uap yang meninggalkan drum, supaya level air tetap konstan.

Pengaturan level air dilakukan dengan mengatur Flow Control Valve. Jika level air di
dalam drum terlalu rendah, akan menyebabkan terjadinya overheating pada pipa boiler,
sedangkan bila level air dalam drum terlalu tinggi, kemungkinan butir-butir air terbawa ke
Turbine dan akan mengakibatkan kerusakan pada Turbine.

Superheater
Superheater berfungsi untuk menaikkan temperatur uap jenuh menjadi uap panas lanjut
dengan memanfaatkan gas panas hasil pembakaran. Uap yang masuk ke superheater berasal
dari steam drum. Temperatur masuk superheater adalah 304oC dan temperatur keluar
sebesar 541oC. Uap yang keluar dari superheater kemudian digunakan untuk memutar HP
Turbine.

Reheater
Reheater berfungsi untuk memanaskan kembali uap yang keluar dari HP Turbine dengan
memanfaatkan gas hasil pembakaran yang temperaturnya relatif masih tinggi. Pemanasan ini
bertujuan untuk menaikkan efisiensi sistem secara keseluruhan . Perpindahan panas yang
paling dominan pada reheater adalah perpindahan panas konveksi. Uap ini kemudian
digunakan untuk menggerakkan IP Turbine, dan setelah uap keluar dari IP Turbine, langsung
digunakan untuk memutar LP Turbine tanpa mengalami pemanasan ulang.

Economizer
Economizer berupa pipa-pipa air yang dipasang ditempat laluan gas hasil pembakaran
sebelum air heater. Economizer menyerap panas dari gas hasil pembakaran setelah melewati
superheater, untuk memanaskan air pengisi sebelum masuk ke main drum. Pemanasan air ini
dilakukan agar perbedaan temperatur antara air pengisi dan air yang ada dalam steam drum
tidak terlalu tinggi, sehingga tidak terjadi thermal stress (tegangan yang terjadi karena
adanya pemanasan) di dalam main drum. Selain itu dengan memanfaatkan gas sisa
pembakaran, maka akan meningkatkan efisiensi dari boiler dan proses pembentukan uap
lebih cepat.
Perpindahan panas yang terjadi di economizer terjadi dengan arah aliran kedua fluida
berlawanan (counter flow). Air pengisi steam drum mengalir ke atas menuju steam drum,
sedangkan udara pemanas mengalir ke bawah.

1. Pengertian Boiler
Menurut UNEP (2006), Boiler adalah bejana tertutup dimana panas pembakaran dialirkan ke
air sampai terbentuk air panas atau steam. Air panas atau steam pada tekanan tertentu
kemudian digunakan untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Air adalah media yang
berguna dan murah untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Jika air dididihkan sampai
menjadi steam, volumnya akan meningkat sekitar 1.600 kali, menghasilkan tenaga yang
menyerupai bubuk mesiu yang mudah meledak, sehingga boiler merupakan peralatan yang
harus dikelola dan dijaga dengan sangat baik.
Sistem boiler terdiri dari: sistem air umpan, sistem steam dan sistem bahan bakar. Sistem air
umpan menyediakan air untuk boiler secara otomatis sesuai dengan kebutuhan steam.
Berbagai kran disediakan untuk keperluan perawatan dan perbaikan. Sistem steam
mengumpulkan dan mengontrol produksi steam dalam boiler. Steam dialirkan melalui sistem
pemipaan ke titik pengguna. Pada keseluruhan sistem, tekanan steam diatur menggunakan
kran dan dipantau dengan alat pemantau tekanan. Sistem bahan bakar adalah semua peralatan
yang digunakan untuk menyediakan bahan bakar untuk menghasilkan panas yang
dibutuhkan. Peralatan yang diperlukan pada sistem bahan bakar tergantung pada jenis bahan
bakar yang digunakan pada sistem.
Air yang disuplai ke boiler untuk diubah menjadi steam disebut air umpan. Dua sumber air
umpan adalah: (1) Kondensat atau steam yang mengembun yang kembali dari proses dan (2)
Air makeup (air baku yang sudah diolah) yang harus diumpankan dari luar ruang boiler dan
plant proses. Untuk mendapatkan efisiensi boiler yang lebih tinggi, digunakan economizer
untuk memanaskan awal air umpan menggunakan limbah panas pada gas buang.
2. Tipe - tipe Boiler
Boiler terdiri dari bermacam-macam tipe yaitu :

1. Fire Tube Boiler


Pada fire tube boiler, gas panas melewati pipa pipa dan air umpan boiler adadidalam shell
untuk dirubah menjadi steam. Fire tube boiler biasanya digunakanuntuk kapasitas steam yang
relatif kecil dengan tekanan steam rendah sampaisedang. Sebagai pedoman, fire tube boiler
kompetitif untuk kecepatan steamsampai 12.000 kg/jam dengan tekanan sampai 18 kg/cm.
Fire tube boiler dapatmenggunakan bahan bakar minyak bakar, gas atau bahan bakar padat
dalamoperasinya. Untuk alasan ekonomis, sebagian besar fire tube boiler dikonstruksisebagai
paket boiler (dirakit oleh pabrik) untuk semua bahan bakar.

Gambar 1. Fire Tube Boiler

2. Water Tube Boiler


Pada water tube boiler, air umpan boiler mengalir melalui pipa pipa masuk ke dalam drum.
Air yang tersikulasi dipanaskan oleh gas pembakar membentuk steam pada daerah uap dalam
drum. Boiler ini dipilih jika kebutuhan steam dan tekanan steam sangat tinggi seperti pada
kasus boiler untuk pembangkit tenaga. Water tube boiler yang sangat modern dirancang
dengan kapasitas steam antara 4.500-12.000 kg/jam, dengan tekanan sangat tinggi. Banyak
water tube boiler yang dikonstruksi secara paket jika digunakan bahan bakar minyak bakar
dan gas. Untuk water tube boiler yang menggunakan bahan bakar padat, tidak umum
dirancang secara paket.
Karakteristik water tube boiler sebagai berikut :

Forced, induced dan balanced draft membantu untuk meningkatkan efisiensi


pembakaran
Kurang toleran terhadap kualitas air yang dihasilkan dari plant pengolahan air
Memungkinkan untuk tingkat efisiensi panas yang lebih tinggi
Gambar 2. Water Tube Boiler

3. Paket Boiler
Disebut boiler paket sebab sudah tersedia sebagai paket yang lengkap. Pada saat dikirim ke
pabrik, hanya memerlukan pipa steam, pipa air, suplai bahan bakar dan sambungan listrik
untuk dapat beroperasi. Paket boiler biasanya merupakan tipe shell and tube dengan
rancangan fire tube dengan transfer panas baik radiasi maupun konveksi yang tinggi. Ciri-ciri
dari packaged boilers adalah:

Kecilnya ruang pembakaran dan tingginya panas yang dilepas menghasilkan


penguapan yang lebih cepat.
Banyaknya jumlah pipa yang berdiameter kecil membuatnya memiliki perpindahan
panas konvektif yang baik.
Sistem forced atau induced draft menghasilkan efisiensi pembakaran yang baik.
Sejumlah lintasan/pass menghasilkan perpindahan panas keseluruhan yang lebih
baik.
Tingkat efisiensi thermisnya yang lebih tinggi dibandingkan dengan boiler lainnya.

Boiler tersebut dikelompokkan berdasarkan jumlah pass/lintasannya yaitu berapa kali gas
pembakaran melintasi boiler. Ruang pembakaran ditempatkan sebagai lintasan pertama
setelah itu kemudian satu, dua, atau tiga set pipa api. Boiler yang paling umum dalam kelas
ini adalah unit tiga pass/lintasan dengan dua set fire-tube/pipa api dan gas buangnya keluar
dari belakang boiler.
Gambar 3. Jenis Paket Boiler 3 Pass, bahan bakar Minyak

4. Boiler Pembakaran dengan Fluidized Bed (FBC)


Pembakaran dengan fluidized bed (FBC) muncul sebagai alternatif yang memungkinkan dan
memiliki kelebihan yang cukup berarti dibanding sistem pembakaran yang konvensional dan
memberikan banyak keuntungan antara lain rancangan boiler yang kompak, fleksibel
terhadap bahan bakar, efisiensi pembakaran yang tinggi dan berkurangnya emisi polutan yang
merugikan seperti SOx dan NOx. Bahan bakar yang dapat dibakar dalam boiler ini adalah
batubara, barang tolakan dari tempat pencucian pakaian, sekam padi, bagas & limbah
pertanian lainnya. Boiler fluidized bed memiliki kisaran kapasitas yang luas yaitu antara 0.5
T/jam sampai lebih dari 100 T/jam.
Bila udara atau gas yang terdistribusi secara merata dilewatkan keatas melalui bed partikel
padat seperti pasir yang disangga oleh saringan halus, partikel tidak akan terganggu pada
kecepatan yang rendah. Begitu kecepatan udaranya berangsur-angsur naik, terbentuklah suatu
keadaan dimana partikel tersuspensi dalam aliran udara sehingga bed tersebut disebut
terfluidisasikan. Dengan kenaikan kecepatan udara selanjutnya, terjadi pembentukan
gelembung, turbulensi yang kuat, pencampuran cepat dan pembentukan permukaan bed yang
rapat. Bed partikel padat menampilkan sifat cairan mendidih dan terlihat seperti fluida yang
disebut bed gelembung fluida (bubbling fluidized bed). Jika partikel pasir dalam keadaan
terfluidisasikan dipanaskan hingga ke suhu nyala batubara, dan batubara diinjeksikan secara
terus menerus ke bed, batubara akan terbakar dengan cepat dan bed mencapai suhu yang
seragam. Pembakaran dengan fluidized bed (FBC) berlangsung pada suhu sekitar 840C
hingga 950C. Karena suhu ini jauh berada dibawah suhu fusi abu, maka pelelehan abu dan
permasalahan yang terkait didalamnya dapat dihindari. Suhu pembakaran yang lebih rendah
tercapai disebabkan tingginya koefisien perpindahan panas sebagai akibat pencampuran cepat
dalam fluidized bed dan ekstraksi panas yang efektif dari bed melalui perpindahan panas
pada pipa dan dinding bed. Kecepatan gas dicapai diantara kecepatan fluidisasi minimum dan
kecepatan masuk partikel. Hal ini menjamin operasi bed yang stabil dan menghindari
terbawanya partikel dalam jalur gas.

5. Atmospheric Fluidized Bed Combustion (AFBC)


Boiler Kebanyakan boiler yang beroperasi untuk jenis ini adalah Atmospheric Fluidized Bed
Combustion (AFBC) Boiler. Alat ini hanya berupa shell boiler konvensional biasa yang
ditambah dengan sebuah fluidized bed combustor. Sistem seperti telah dipasang digabungkan
dengan water tube boiler/ boiler pipa air konvensional. Batubara dihancurkan menjadi ukuran
1 10 mm tergantung pada tingkatan batubara dan jenis pengumpan udara ke ruang
pembakaran. Udara atmosfir yang bertindak sebagai udara fluidisasi dan pembakaran,
dimasukkan dengan tekanan, setelah diberi pemanasan awal oleh gas buang bahan bakar.
Pipa dalam bed yang membawa air pada umumnya bertindak sebagai evaporator. Produk gas
hasil pembakaran melewati bagian super heater dari boiler lalu mengalir ke economizer, ke
pengumpul debu dan pemanas awal udara sebelum dibuang ke atmosfir.

6. Pressurized Fluidized Bed Combustion (PFBC) Boiler


Pada tipe Pressurized Fluidized bed Combustion (PFBC), sebuah kompresor memasok udara
Forced Draft (FD), dan pembakarnya merupakan tangki bertekanan. Laju panas yang dilepas
dalam bed sebanding dengan tekanan bed sehingga bed yang dalam digunakan untuk
mengekstraksi sejumlah besar panas. Hal ini akan meningkatkan efisiensi pembakaran dan
peyerapan sulfur dioksida dalam bed. Steam dihasilkan didalam dua ikatan pipa, satu di bed
dan satunya lagi berada diatasnya. Gas panas dari cerobong menggerakan turbin gas
pembangkit tenaga. Sistem PFBC dapat digunakan untuk pembangkitan kogenerasi (steam
dan listrik) atau pembangkit tenaga dengan siklus gabungan (combined cycle). Operasi
combined cycle (turbin gas & turbin uap) meningkatkan efisiensi konversi keseluruhan
sebesar 5 hingga 8 persen.

7. Atmospheric Circulating Fluidized Bed Combustion Boilers (CFBC)


Dalam sistem sirkulasi, parameter bed dijaga untuk membentuk padatan melayang dari bed.
Padatan diangkat pada fase yang relatif terlarut dalam pengangkat padatan, dan sebuah down-
comer dengan sebuah siklon merupakan aliran sirkulasi padatan. Tidak terdapat pipa
pembangkit steam yang terletak dalam bed. Pembangkitan dan pemanasan berlebih steam
berlangsung di bagian konveksi, dinding air, pada keluaran pengangkat/ riser. Boiler CFBC
pada umumnya lebih ekonomis daripada boiler AFBC, untuk penerapannya di industri
memerlukan lebih dari 75 100 T/jam steam. Untuk unit yang besar, semakin tinggi
karakteristik tungku boiler CFBC akan memberikan penggunaan ruang yang semakin baik,
partikel bahan bakar lebih besar, waktu tinggal bahan penyerap untuk pembakaran yang
efisien dan penangkapan SO2 yang semakin besar pula, dan semakin mudah penerapan
teknik pembakaran untuk pengendalian NOx daripada pembangkit steam AFBC.

Gambar 4. CFBC Boiler

8. Stoker Fired Boilers


Stokers diklasifikasikan menurut metode pengumpanan bahan bakar ke tungku dan oleh jenis
grate nya. Klasifikasi utamanya adalah spreader stoker dan chaingate atau traveling-gate
stoker.
Spreader stokers : memanfaatkan kombinasi pembakaran suspensi dan pembakaran
grate. Batubara diumpankan secara kontinyu ke tungku diatas bed pembakaran
batubara. Batubara yang halus dibakar dalam suspensi; partikel yang lebih besar akan
jatuh ke grate, dimana batubara ini akan dibakar dalam bed batubara yang tipis dan
pembakaran cepat. Metode pembakaran ini memberikan fleksibilitas yang baik
terhadap fluktuasi beban, dikarenakan penyalaan hampir terjadi secara cepat bila laju
pembakaran meningkat. Karena hal ini, spreader stoker lebih disukai dibanding jenis
stoker lainnya dalam berbagai penerapan di industri.

Gambar 5. Spreader Stoker Boiler

Chain-grate atau traveling-grate stoker : Batubara diumpankan ke ujung grate baja


yang bergerak. Ketika grate bergerak sepanjang tungku, batubara terbakar sebelum
jatuh pada ujung sebagai abu. Diperlukan tingkat keterampilan tertentu, terutama bila
menyetel grate, damper udara dan baffles, untuk menjamin pembakaran yang bersih
serta menghasilkan seminimal mungkin jumlah karbon yang tidak terbakar dalam abu.
Hopper umpan batubara memanjang di sepanjang seluruh ujung umpan batubara pada
tungku. Sebuah grate batubara digunakan untuk mengendalikan kecepatan batubara
yang diumpankan ke tungku dengan mengendalikan ketebalan bed bahan bakar.
Ukuran batubara harus seragam sebab bongkahan yang besar tidak akan terbakar
sempurna pada waktu mencapai ujung grate.
Gambar 6. Traveling Grate Boiler

9. Pulverized Fuel Boiler


Kebanyakan boiler stasiun pembangkit tenaga yang berbahan bakar batubara menggunakan
batubara halus, dan banyak boiler pipa air di industri yang lebih besar juga menggunakan
batubara yang halus. Teknologi ini berkembang dengan baik dan diseluruh dunia terdapat
ribuan unit dan lebih dari 90 persen kapasitas pembakaran batubara merupakan jenis ini.
Untuk batubara jenis bituminous, batubara digiling sampai menjadi bubuk halus, yang
berukuran +300 micrometer (m) kurang dari 2 persen dan yang berukuran dibawah 75
microns sebesar 70-75 persen. Harus diperhatikan bahwa bubuk yang terlalu halus akan
memboroskan energi penggilingan. Sebaliknya, bubuk yang terlalu kasar tidak akan terbakar
sempurna pada ruang pembakaran dan menyebabkan kerugian yang lebih besar karena bahan
yang tidak terbakar. Batubara bubuk dihembuskan dengan sebagian udara pembakaran masuk
menuju plant boiler melalui serangkaian nosel burner. Udara sekunder dan tersier dapat juga
ditambahkan. Pembakaran berlangsung pada suhu dari 1300 - 1700 C, tergantung pada
kualitas batubara. Waktu tinggal partikel dalam boiler biasanya 2 hingga 5 detik, dan partikel
harus cukup kecil untuk pembakaran yang sempurna. Sistem ini memiliki banyak keuntungan
seperti kemampuan membakar berbagai kualitas batubara, respon yang cepat terhadap
perubahan beban muatan, penggunaan suhu udara pemanas awal yang tinggi dll. Salah satu
sistem yang paling populer untuk pembakaran batubara halus adalah pembakaran tangensial
dengan menggunakan empat buah burner dari keempat sudut untuk menciptakan bola api
pada pusat tungku.
Gambar 7. Pembakaran tangensial untuk bahan bakar halus

10. Boiler Limbah Panas


Dimanapun tersedia limbah panas pada suhu sedang atau tinggi, boiler limbah panas dapat
dipasang secara ekonomis. Jika kebutuhan steam lebih dari steam yang dihasilkan
menggunakan gas buang panas, dapat digunakan burner tambahan yang menggunakan bahan
bakar. Jika steam tidak langsung dapat digunakan, steam dapat dipakai untuk memproduksi
daya listrik menggunakan generator turbin uap. Hal ini banyak digunakan dalam pemanfaatan
kembali panas dari gas buang dari turbin gas dan mesin diesel.

Gambar 8. Skema sederhana Boiler Limbah Panas

11. Pemanas Fluida Termis


Saat ini, pemanas fluida termis telah digunakan secara luas dalam berbagai penerapan untuk
pemanasan proses tidak langsung. Dengan menggunakan fluida petroleum sebagai media
perpindahan panas, pemanas tersebut memberikan suhu yang konstan. Sistem pembakaran
terdiri dari sebuah fixed grate dengan susunan draft mekanis. Pemanas fluida termis modern
berbahan bakar minyak terdiri dari sebuah kumparan ganda, konstruksi tiga pass dan
dipasang dengan sistem jet tekanan. Fluida termis, yang bertindak sebagai pembawa panas,
dipanaskan dalam pemanas dan disirkulasikan melalui peralatan pengguna. Disini fluida
memindahkn panas untuk proses melalui penukar panas, kemudian fluidanya dikembalikan
ke pemanas. Aliran fluida termis pada ujung pemakai dikendalikan oleh katup pengendali
yang dioperasikan secara pneumatis, berdasarkan suhu operasi. Pemanas beroperasi pada api
yang tinggi atau rendah tergantung pada suhu minyak yang kembali yang bervariasi
tergantung beban sistem.
Keuntungan pemanas tersebut adalah:

Operasi sistem tertutup dengan kehilangan minimum dibanding dengan boiler steam.
Operasi sistem tidak bertekanan bahkan untuk suhu sekitar 250 0C dibandingkan
kebutuhan tekanan steam 40 kg/cm2 dalam sistem steam yang sejenis.
Penyetelan kendali otomatis, yang memberikan fleksibilitas operasi.
Efisiensi termis yang baik karena tidak adanya kehilangan panas yang diakibatkan
oleh blowdown, pembuangan kondensat dan flash steam.

Faktor ekonomi keseluruhan dari pemanas fluida termis tergantung pada penerapan spesifik
dan dasar acuannya. Pemanas fluida thermis berbahan bakar batubara dengan kisaran
efisiensi panas 55-65 persen merupakan yang paling nyaman digunakan dibandingkan dengan
hampir kebanyakan boiler. Penggabungan peralatan pemanfaatan kembali panas dalam gas
buang akan mempertinggi tingkat efisiensi termis selanjutnya.

Gambar 9. Konfigurasi Pemanas Fluida Termis

Bagian-Bagian Boiler Uap Dan Fungsinya

Komponen utama boiler terdiri dari furnace, membrane walls, boiler shell,
economizer, cyclone, water storage tank, deaerator, coal bunker, hopper, conveyor
dan chimney.
Berikut akan dibahas satu per satu:

1. Furnace
Furnace atau juga sering disebut dengan tungku pembakaran adalah sebuah

perangkat yang digunakan untuk pemanasan. Nama itu berasal dari bahasa latin

Fornax yang sama artinya dengan oven. Kadang kadang orang juga menyebut

dengan kiln. Proses perpindahan panas pada furnace terjadi dengan tiga cara:

Perpindahan panas secara radiasi, dimana akan terjadi pancaran panas dari
api dan akan diserap oleh fluida yang mengalir air didalamnya.
Perpindahan panas secara konduksi, panas mengalir melalui hantaran dari
sisi pipa yang menerima panas kedalam sisi pipa yang memberi panas pada
air.
Perpindahan panas secara konveksi, panas yang terjadi dengan singgungan
molekul-molekulair sehingga panas akan menyebar ke setiap aliran air.

2. Membrane Wall

Dinding terdiri dari tubes / pipa-pipa yang disatukan oleh membran, oleh

karena itu disebut dengan membrane wall. Di dalam membrane wall tersebut

mengalir air yang akan dididihkan. Konstruksi tubes / pipa-pipa adalah dari bawah ke

atas dimana bagian bawah pipa berisi air yang lebih berat massanya dan diharapkan
pada bagian atas sudah menjadi uap melalui proses pembakaran yang mana uap

massanya lebih ringan akan naik ke atas secara alamiah.

Membrabe wall mempunyai dua header pada bagian bawahnya yang

berfungsi untuk menyalurkan air dari downcomers. Downcomers merupakan pipa

yang menghubungkan steam drum dengan bagian bawah low header. Untuk

mencegah penyebaran panas dan untuk meminimalkan kontak sentuh dengan

manusia, maka disisi luar dari membrane wall di pasang dinding isolasi yang terbuat

dari rockwool wire blanket.

3. Boiler Shell

Boiler shell pada gambar diatas adalah tipe fire tube. Pada fire tube boiler,

gas panas melewati pipa-pipa dan air umpan boiler ada didalam shell untuk dirubah

menjadi steam.

Fungsi dari boiler adalah:

menampung air yang akan dipanaskan pada pipa-pipa penguap (membrane wall)

dan menampung uap dari membrane wall dan tube bundle sebelum dialirkan ke

pabrik atau ruang produksi.

Memisahkan uap dan air yang hasil pemanasan di ruang bakar (furnace).

Mengatur kualitas air, dengan membuang kotoran-kotoran terlarut di dalam boiler

melalui continuous blowdown.


Mengatur level permukaan air sehingga tidak terjadi kekurangan air saat boiler

beroperasi, karena jika terjadi kekurangan air dapat menyebabkan overheating pada

pipa.

Level air dari drum harus selalu dijaga agar selalu tetap pada ketinggian yang

telah ditetapkan sehingga banyaknya air pengisi yang masuk ke boiler sebanding

dengan banyaknya uap yang meninggalkan boiler agar level air dapat konstan.

4. Economizer

Economizer menyerap panas dari gas hasil pembakaran setelah melewati

boiler, untuk memanaskan air pengisi sebelum masuk ke boiler. Panas yang

diberikan ke air berupa panas sensible (panas yang menyebabkan kenaikan

temperatur tetapi phasa/wujud tidak berubah). Pemanasan air ini dilakukan agar

perbedaan temperatur antara air pengisi dan air yang ada dalam boiler tidak terlalu

jauh, sehingga tidak terjadi thermal stress (tegangan yang terjadi karena

pemanasan) di dalam boiler. Selain itu dengan memanfaatkan gas sisa pembakaran,
maka akan meningkatkan efisiensi dari boiler dan proses pembentukan uap lebih

cepat. Economizer berupa pipa-pipa air yang dipasang di tempat yang dilalui gas

hasil pembakaran.

Perpindahan panas yang terjadi di economizer terjadi dengan arah aliran

kedua fluida berlawanan (counter flow). Air pengisi boiler drum mengalir ke atas

menuju boiler, sedangkan udara pemanas mengalir ke bawah.

5. Cyclone

Cyclone adalah salah satu pengumpul debu yang menggunakan prinsip gaya
sentifugal untuk memisahkan partikel debu dengan udara dengan berdasarkan pada
perbedaan massa jenis dari udara dan partikulat.
Komponen pada cyclone terdiri dari :

Silinder vertikal yg berbentuk kerucut (cone) dengan bagian bawah

membentuk corong.

Dirty air inlet pada bagian atas.

Inner silinder dan clean air outlet.

Dust bin pada bagian bawah untuk menampung partikel debu.

Prinsip kerja cyclone adalah sebagai berikut:


Partikel dari flue gas dipisahkan dengan cara membuat suatu gaya sentrifugal.

Flue gas yang banyak mengandung partikel debu masuk ke inlet cyclone dan

diputar di bagian cyclone cone dengan tujuan untuk memisahkan partikel debu dan

udara menggunakan prinsip perbedaan berat. Partikel debu yg lebih berat dari udara

akan turun dan jatuh ke dust bin.

Performance cyclone sangat dipengaruhi oleh:

Ukuran partikelnya, karena menurut hukum stroke menyebutkan bahwa diameter

partikel berbanding lurus dengan terminal setting velocity sehingga semakin besar

ukuran partikel maka efisiensi cyclone akan semakin meningkat.

Semakin kecil diameter dari cyclone cone maka semakin tinggi efisiensinya.

Semakin besar viskositas maka efisiensi cyclone semakin kecil.

6. Water Storage Tank dan Deaerator


Water storage tank adalah alat yang digunakan untuk menampung air dari

water softener menuju boiler. Selain menampung air, pemanas awal juga terjadi

disini sebelum dipanaskan lagi di economizer. Sumber panas diambil melalui pipa

steam injection line dan temperatur didalam water storage tank bisa mencapai lebih

dari 1000C. Water storage tank juga dilengkapi dengan level gauge untuk melihat

level air di dalam dan dilengkapi juga dengan sensor-sensor.


Deaerator merupakan tangki yang berfungsi untuk memisahkan oksigen dari

air karena kadar O2 yang terlalu tinggi di air softener dapat menyebabkan korosi

pada pipa di boiler dan pipa-pipa pendukung lainnya. Deaerator bekerja berdasarkan

sifat dari oksigen yang kelarutannya pada air akan berkurang dengan adanya

kenaikan suhu.

7. Coal Bunker

Coal bunker merupakan tempat penyimpanan akhir batubara yang

ditampung dalam bunker (silo) sebelum digunakan sebagai bahan bakar. Pada coal

bunker diberi alat pendeteksi ketinggian atau level indicator, sehingga apabila coal

bunker sudah penuh, maka secara otomatis batubara yang masuk ke coal bunker

melalui conveyor akan stop.

8. Hopper
Hopper adalah alat penyimpanan bahan bakar seperti silo namun memiliki

diameter yang pada umumnya lebih besar dari silo. Alat penyimpanan ini biasanya

terbuat dari carbon steel dimana bagian bawah berbentuk kerucut untuk

memperkecil titik pengeluaran batubara yang tepat dibawahnya terdapat konveyor

untuk memindahkan dari hopper ke coal bunker.

9. Conveyor
Conveyor adalah suatu alat yg digunakan untuk memindahkan barang dari

satu tempat ke tempat lain. Conveyor biasanya digunakan untuk memindahkan

barang yang bersifat kontinyu dan berkesinambungan, dalam hal ini memindahkan

barubara dari hopper ke coal bunker.


Komponen-komponen Boiler Pipa Air (Part 1)

By: Onny

Memahami bagian-bagian dari boiler, akan memudahkan kita untuk memahami proses kerja
dari boiler. Boiler yang menjadi media untuk "memindahkan" kandungan energi panas dari
bahan bakar ke air, memiliki dua lingkup besar komponen penyusun yakni komponen-
kompoen yang mendukung proses pembakaran, dan komponen-komponen yang berhubungan
dengan perubahan fase dari air menjadi uap air. Kedua lingkup komponen tersebut akan kita
bahas satu-persatu pada artikel ini.

Sebagai pokok pembahasan, saya akan mengambil acuan berupa sebuah boiler pipa air
dengan bahan bakar batubara (kapasitas max. 283 ton/jam batubara) dan mampu
memproduksi uap air superheater max. 640 kg/s. Boiler jenis ini sangat umum digunakan
pada industri pembangkit listrik tenaga uap dengan kemampuan produksi listrik max. 640
MW.

A. Komponen-komponen Boiler Sisi Water-Steam


Komponen-komponen dari boiler yang akan saya sebutkan berikut menjadi komponen yang
berhubungan dengan proses perubahan fase dari air menjadi uap air. Air yang masuk ke
boiler berskala besar memiliki temperatur dan tekanan yang tinggi. Temperatur tinggi
didapatkan dari proses preheating, dan dibangkitkan tekanannya oleh Boiler Feed Water
Pump. Selanjutnya air akan mengalami berbagai proses di boiler sehingga terbentuk uap
kering (superheated steam). Dan berikut adalah bagian-bagian dari boiler yang berhubungan
dengan proses perubahan fase air tersebut:

1. Steam Drum
Seperti yang telah saya jelaskan pada artikel sebelumnya, Steam Drum pada boiler berfungsi
sebagai reservoir campuran air dan uap air, dan juga berfungsi untuk memisahkan uap air
dengan air pada proses pembentukan uap superheater.

Prinsip Kerja Steam Drum

Steam drum memiliki beberapa saluran masuk dan dua saluran keluar. Air yang
masuk ke dalam steam drum memiliki fase campuran antara uap air dan cair. Di
dalam steam drum terdapat cyclone separator, bagian ini berfungsi untuk
memisahkan antara uap air saturated dengan air. Uap air akan keluar melalui pipa
sebelah atas steam drum dan menuju ke boiler untuk dipanaskan lebih lanjut menjadi
uap kering. Sedangkan yang masih berfase cair akan menuju ke raiser tube untuk
dipanaskan sehingga berubah fase menjadi uap.
Prinsip Kerja Cyclone Separator

Cyclone separator menjadi bagian paling utama di dalam steam drum. Di dalam
cyclone separator terdapat semacam cakram miring yang dapat berputar terhadap
porosnya. Campuran uap air dan air bertekanan terdorong masuk ke dalam sehingga
menyebabkan cakram ini berputar. Efek putaran dan benturan antara fluida dengan
cakram tersebut secara alami akan memisahkan air dengan uap saturated, sehingga air
akan jatuh ke bawah sedangkan uap air akan naik ke atas. Di bagian atas keluaran
steam drum, terdapat plat-plat miring yang disebut eliminator / scrubber. Plat ini juga
berfungsi untuk memisahkan air dengan uap sehingga hanya uap saja yang dapat
melewati scrubber tersebut.
Bagian-bagian Steam Drum

2. Boiler Water Circulating Pump


Boiler Water Circulating Pump (BWCP) mensupply air feedwater dari steam drum ke water
wall / raiser tube. Pada boiler sub-kritikal sebenarnya air dapat secara natural mengalir
sesuai dengan desain boiler, asalkan saluran perpipaan didesain dengan hambatan yang
sangat rendah. Keberadaan BWCP akan memastikan air mengisi seluruh bagian pipa boiler,
yang hal ini tidak dijamin dapat dilakukan oleh boiler dengan sistem sirkulasi natural.
Sirkulasi air pada boiler sangat penting untuk diperhatikan, karena selain sebagai fluida kerja
air juga berfungsi sebagai media pendingin pipa-pipa boiler. Sedikit saja bagian dari pipa
boiler tidak terisi air akibat turunnya head keluaran BWCP, akan sangat fatal akibatnya.
Prinsip Kerja BWCP

Sebagai contoh mari kita perhatikan salah satu desain BWCP pada sebuah boiler
PLTU di atas. Pompa tersebut berjenis sentrifugal berposisi vertikal dengan satu inlet
dan dua outlet. BWCP ini menggunakan sebuah motor listrik khusus yang seporos
dengan pompa. Di antara pompa dengan motor tidak dipergunakan sistem sealing
semacam gland packing atau mechanical seal, karena temperatur kerja air yang
dipompa sudah terlalu tinggi. Untuk mengatasi hal ini, rotor dari motor pompa
didesain dapat terendam air dan digunakan pula heat exchanger untuk mendinginkan
air di dalam motor.

Bagian-bagian BWCP

3. Desuperheater Spray
Uap air superheater yang masuk turbin uap pada sebuah PLTU harus memiliki spesifikasi
yang sesuai dengan ketentuan. Temperatur uap air harus dijaga pada angka tertentu
sehingga sesuai dengan persyaratan untuk menggerakkan turbin uap. Desuperheater spray
adalah sebuah bagian pada boiler yang berfungsi untuk mengontrol temperatur uap
superheater maupun reheater keluaran boiler dengan jalan menyemprotkan air padanya.
Jumlah air yang disemprotkan ke uap air tersebut dikontrol oleh control valve. Komponen
inilah yang berfungsi untuk menjaga agar spesifikasi uap air selalu dalam parameter terbaik.

Konsep Sistem Desuperheater Spray

Sistem desuperheater mendapatkan input sinyal berupa temperatur uap air keluaran
sistem. Sinyal ini diproses sehingga sistem kontrol dapat mengatur besar bukaan
control valve yang mensupply air ke sistem. Air yang digunakan haruslah memiliki
tekanan yang lebih besar daripada tekanan uap air. Maka digunakanlah air feedwater
yang berasal dari outlet Boiler Feedwater Pump.

4. Pipa Boiler (Tube)


Boiler berskala besar dibentuk oleh pipa-pipa (tubing) berukuran antara 25 mm hingga 100
mm. Pipa-pipa ini memiliki desain material dan bentuk khusus yang harus tahan terhadap
perbedaan temperatur ekstrim antara ruang bakar dengan air / uap air yang mengalir di
dalamnya. Selain itu material pipa haruslah bersifat konduktor panas yang baik, sehingga
perpindahan panas (heat transfer) dari proses pembakaran ke air / uap air bisa efektif.
Tubing Boiler dengan Ulir Dalam

Ada desain khusus pada pipa-pipa boiler besar yang cukup unik. Pipa-pipa tersebut
berkontur ulir di dalamnya, sehingga menciptakan aliran turbulen pada saat air atau
uap air mengalir di dalam pipa-pipa tersebut. Tujuan diciptakannya aliran turbulen
adalah untuk mengurangi efek gesekan antara air atau uap air dengan permukaan pipa,
sehingga mengurangi resiko kemungkinan adanya aliran yang mengganggu
(turbulensi) pada lekukan pipa. Pada akhirnya hal ini akan meningkatkan efisiensi
perpindahan energi panas dari proses pembakaran ke air.
Macam-macam Ukuran Pipa Boiler

5. Boiler Relief Valve


Boiler relief valve adalah sebuah safety valve yang berfungsi untuk membuang uap boiler
pada saat tekanan terlalu berlebihan di atas ketentuan produksi boiler. Hal ini untuk
mencegah terjadinya ledakan yang lebih besar yang mungkin diakibatkan oleh tekanan uap
superheater yang besar. Boiler relief valve memiliki tekanan kerja tertentu yang sesuai
dengan setting yang telah ditentukan sebelum boiler beroperasi. Jika tekanan uap boiler
lebih besar daripada tekanan kerja relief valve ini, maka ia akan membuka dan membuang
uap air ke atmosfer.
Bagian-bagian Boiler Relief Valve

B. Komponen-komponen Proses Pembakaran Pada Boiler

Seperti yang telah Anda ketahui pula bahwa proses pembakaran apapun melibatkan dua
komponen utama, yaitu bahan bakar serta oksigen di dalam udara. Proses pembakaran pada
boiler melibatkan komponen-komponen yang mengatur supply udara serta bahan bakar ke
dalam furnace boiler sehingga terjadi proses pembakaran yang tepat. Jumlah dari udara serta
bahan bakar yang masuk ke dalam furnace harus tepat sesuai dengan perbandingan rasio
bahan bakar / udara (fuel/air ratio) teoritis sehingga didapatkan proses pembakaran yang
sempurna. Jika Anda ingin mengetahui bagaimana sistem kontrol proses pembakaran di
dalam boiler, silahkan Anda membaca artikel berikut.

Komponen-komponen boiler yang berhubungan dengan proses pembakaran tersusun atas dua
kelompok besar, yaitu sistem supply udara yang biasa disebut draft system serta sistem supply
bahan bakar. Sesuai dengan batasan yang telah saya sebutkan pada artikel sebelumnya, boiler
yang akan kita bahas adalah boiler skala besar yang digunakan pada pembangkit listrik
tenaga uap. Berikut adalah komponen-komponen boiler tersebut:

1. Coal Feeder
Coal feeder berfungsi untuk mengatur jumlah batubara yang akan masuk ke dalam
pulverizer. Jumlah batubara diatur sesuai dengan kebutuhan pembakaran pada
furnace. Sistem pengaturan jumlah batubara pada coal feeder dapat dilakukan dengan
dua cara berdasarkan jenisnya, yaitu secara fraksi berat atau secara fraksi volume
batubara.
Coal Feeder

Pengaturan jumlah batubara berdasarkan fraksi berat, menggunakan sensor


gravimetric yang dapat mendeteksi berat dari batubara yang melewati konveyornya.
Coal feeder jenis ini biasa disebut dengan Gravimetric Feeder. Sedangkan coal feeder
fraksi volume memiliki luas penampang jalur konveyor yang tetap untuk mengatur
jumlah batubara yang melewati konveyornya. Kedua sistem di atas sama-sama
menggunakan konveyor yang kecepatannya dapat diatur secara fleksibel.
Prinsip Kerja Gravimetric Coal Feeder

Gravimatic feeder lebih banyak dipilih untuk digunakan karena kemampuannya


dalam merespon perubahan berat jenis batubara yang digunakan. Kandungan energi
pada batubara cenderung bergantung pada berat jenis daripada volume batubara,
sehingga gravimetric feeder akan lebih baik dalam mengontrol supply energi yang
masuk ke boiler. Disamping itu gravimetric feeder memerlukan kalibrasi sensor
gravimetric-nya secara berkala agar sistem kontrol supply batubara dapat selalu
berjalan dengan baik.

[Link]
Batubara hasil tambang memiliki ukuran fisik yang sangat beragam, dari yang hanya
berukuran butiran pasir hingga seperti bongkahan kerikil berdiameter 20cm. Ukuran
batubara yang terlalu besar dapat mengurangi efisiensi proses pembakaran, karena
semakin kecil ukuran partikel batubara maka akan semakin cepat pula batubara
tersebut terbakar. Untuk mendapatkan ukuran batubara yang cukup kecil maka
sebelum masuk ke furnace boiler, batubara akan mengalami proses grinding pada
sebuah alat bernama pulverizer. Silahkan Anda bayangkan bahwa batubara keluaran
pulverizer akan berukuran selembut tepung, yang dinamakan pulverized fuel.
Pulverizer

Batubara yang diatur jumlahnya oleh coal feeder masuk ke pulverizer melalui sisi
inlet pada bagian atasnya. Batubara jatuh pada sebuah table yang berputar. Pada
bagian lain terdapat beberapa buah grinding yang dapat berputar bebas karena
permukaan grinding tersebut bersentuhan dengan table yang berputar tadi. Pada
grinding terdapat sistem pegas untuk memudahkan dalam menghancurkan batubara.
Udara panas dengan tekanan dan temperatur yang terjaga dimasukkan ke dalam
pulverizer sebagai media untuk membawa batubara yang telah halus keluar
pulverizer. Pada sisi outlet (bagian atas) terdapat sudu-sudu classifier yang berfungsi
untuk memfilter agar hanya batubara yang telah halus saja yang dapat melewati sudu-
sudu tersebut. Batubara yang tidak dapat melewati classifier akan jatuh kembali ke
table untuk digrinding agar lebih halus.

3. Burner
Burner menjadi alat untuk mencampur batubara dengan udara dan sebagai nozzle
untuk mendorong campuran bahan bakar tersebut ke dalam furnace boiler. Pulverized
fuel yang keluar dari pulverizer dibawa oleh udara bertekanan menuju ke burner
malalui pipa-pipa, di sisi lain ada pula udara tambahan (biasa disebut secondary air)
yang disupply untuk memenuhi kebutuhan pembakaran. Secondary air dalam debit
tertentu tersebut bertemu dengan pulverized fuel pada burner. Keduanya bercampur
dan terdorong menuju ke tengah-tengah furnace untuk dibakar. Pada proses penyalaan
boiler diperlukan proses penyalaan awal untuk campuran bahan bakar tersebut, dan
umumnya boiler-boiler besar menggunakan bahan bakar bantuan seperti solar (HSD)
untuk membantu proses penyalaan awal.
Coal Burner

Komponen-komponen dari coal burner umumnya adalah sebagai berikut:

o Oil Gun. Bagian ini berfungsi untuk mensupply bahan bakar (biasanya HSD)
ke dalam boiler sebagai proses penyalaan awal boiler dan juga proses
pematian boiler. Pada oil gun terdapat dua saluran utama yakni saluran fuel oil
dan saluran atomizing air. Atomizing air berfungsi untuk membentuk kabut
bahan bakar HSD tadi sehingga lebih mudah terbakar. Pada oil gun juga
terdapat ignitor yang berfungsi sebagai pemantik untuk menyalakan bahan
bakar tadi.
o Damper udara termasuk di dalam bagian burner. Damper ini mengatur supply
udara pembakaran yang masuk ke boiler.
o Coal Nozzle. Bagian ini sebagai ujung masuknya pulverized fuel ke dalam
furnace boiler.
o Flame Scanner. Adalah alat sensor api yang berfungsi untuk membaca apakah
terjadi proses pembakaran pada burner.

Pada proses penyalaan awal, boiler akan menggunakan bahan bakar HSD. Dengan
bantuan ignitor sebagai pemantik apinya, HSD akan terbakar di dalam furnace dengan
jarak aman tertentu. Jika proses pembakaran dengan menggunakan HSD dirasa telah
stabil (biasanya ditandai dengan jumlah tertentu uap air yang dihasilkan boiler) maka
pulverized fuel dapat dimasukkan ke dalam proses pembakaran dengan tanpa
menghentikan supply HSD. Supply HSD akan dihentikan jika flame scanner telah
membaca pulverized fuel terbakar di ujung burner. Jarak api yang terbentuk pada
ujung burner harus dijaga pada jarak aman tertentu, hal ini berhubungan dengan
keselamatan kerja agar api tidak menjalar ke pipa-pipa supply pulverized fuel.

4. Fan System
Untuk men-supply udara yang digunakan pada proses pembakaran, boiler
membutuhkan kerja beberapa jenis kipas dengan fungsi masing-masing. Dan berikut
adalah sistem-sistem yang berhubungan dengan supply udara untuk proses
pembakaran pada boiler:
o Primary Air Fan. Kipas ini berfungsi untuk men-supply udara bertekanan
yang akan digunakan untuk membawa pulverized fuel dari pulverizer menuju
ke boiler. Parameter terkontrol pada primary air adalah besar tekanan
kerjanya, sehingga kipas yang digunakan adalah yang bertipe kipas
sentrifugal. Kipas sentrifugal dikenal dapat menghasilkan tekanan udara
keluaran yang lebih tinggi daripada kipas aksial namun dengan debit aliran
yang cukup tinggi pula.

Centrifugal Primary Air Fan

Pada sisi inlet primary air fan terdapat sudu-sudu (inlet vane) yang dapat
bergerak ke arah menutup ataupun membuka 100%. Sudu-sudu ini berfungsi
untuk mengatur debit udara yang masuk ke kipas dan di-supply ke pulverizer.

o Secondary Air Fan. Kipas inilah yang menjadi penyupply utama udara ke
dalam furnace boiler untuk memenuhi kebutuhan proses pembakaran. Berbeda
dengan primary air yang menitik beratkan kepada tekanan kerjanya,
secondary air lebih diutamakan kontrol terhadap debit volume-nya. Oleh
karena itulah secondary air umumnya menggunakan kipas dengan tipe aksial
yang dapat menghasilkan volume debit aliran yang tinggi.
Axial Secondary Air Fan

Untuk mengatur jumlah udara yang di-supply ke boiler, sudu-sudu pada


secondary air fan dapat bergerak-gerak fleksibel membuka dan menutup.
Semakin besar bukaan sudu maka akan semakin banyak pula udara yang
dialirkan oleh kipas ini ke boiler untuk mencukupi kebutuhan proses
pembakaran.

o Air Pre-Heater. Komponen ini berfungsi untuk memanaskan awal primary


dan secondary air dengan menggunakan panas yang dihasilkan oleh gas buang
boiler. Air Pre-Heater tersusun atas plat-plat yang berfungsi untuk menyerap
panas dari gas buang boiler. Plat-plat tersebut tersusun melingkar dan dapat
berputar sehingga aliran udara ataupun gas buang adalah sejajar dengan poros
putaran air pre-heater ini. Putaran yang teratur namun tidak terlalu cepat akan
memindahkan panas dari gas buang boiler ke plat-plat air pre-heater dan
berlanjut pindah ke udara-udara primary dan secondary.
Desain Air Pre-Heater

Temperatur panas pada primary air berfungsi untuk mengeringkan pulverized


fuel yang dihasilkan oleh pulverizer. Karena jika pulverized fuel dalam
keadaan basah (akibat hujan mungkin) akan memperlambat proses
pembakaran di dalam furnace. Selain itu, kondisi basah dari pulverized fuel
yang selembut tepung dapat menempel dan menyebabkan penimbunan pada
pipa-pipa saluran menuju furnace. Hal ini sangat berbahaya karena jika terus
dibiarkan dapat menyumbat pipa-pipa tersebut.

5. Soot Blower
Salah satu produk sampingan dari proses pembakaran barubara pada boiler adalah
kerak. Kerak ini didapati banyak menempel pada pipa-pipa boiler, sehingga akan
sangat mengganggu proses perpindahan panas jika hal ini terus dibiarkan. Maka
dipergunakanlah satu alat bernama soot blower. Alat ini berfungsi untuk
menyemprotkan uap panas ke dinding-dinding pipa boiler sehingga kotoran-kotoran
yang menempel padanya dapat lepas. Soot blower menggunakan uap air kering yang
dihasilkan oleh boiler.
Masalah pada Furnace dan Boiler

Permasalahan-permasalahan yang mungkin terjadi pada Combustion Furnace and Boiler

a. Nyala Api Bergelombang


Indikasi Masalah
Terdengar suara gemuruh
Nyala api terlihat erratic (tidak konsisten)
Jilatan lidah api kadang-kadang panjang
Pengaruh Oprasional
Dapat mengakibatkan kerusakan refractory
Dapat mengakibatkan kerusakan burner
Penyelesaian Masalah
Kurangi pemakaian fuel sampai sesuai kebutuhan pembakaran
Naikan draft furnace dengan menambah bukaan damper
Atur pembakaran sesuai kapasitas burner

b. Lidah Api Menyentuh Tube


Indikasi Masalah
Secara visual ujung lidah api nampak menyentuh permukaan luar tube
Pengaruh Oprasional
Dapat mengakibatkan terjadinya hot spot pada tube
Dapat mengakibatkan tube failure akibat terjadinya coking pada tube
Penyelesaian Masalah
Bersihkan burner
Yakinkan udara pembakaran tercukupi
Yakinkan lubang tip tidak terarosi
Yakinkan posisi burner dan lubang tip lurus
Yakinkan distribusi udara

c. Flashback Pada Mixers


Indikasi Masalah
Perhatikan flame back bagian dalam mixer
Perhatikan overheating pada bagian luar mixer
Pengaruh Operasional
Dapat mengakibatkan kerusakan burner
Menurunnkan kinerja heater
Penyelesaian Masalah
Naikan tegangan gas pada burner
Bersihkan burner
Ganti gas tip

d. Bentuk Nyala Api Tidak Beraturan


Indikasi Masalah
Nyala sebagian burner panjang dan sebagian lainnya pendek
Pengaruh Operasional
Dapat mengakibatkan hot spot
Inefisiensi oprasi
Penyelesaian Masalah
Bersihkan tip burner (gas atau Oil)
Atur semua bukaan air register dengan posisi yang sama
Atur draft untuk meyakinkan aliran udara sama pada semua burner
Periksa aligment burner dan tip burner

e. Fuel Oil Tercecer


Indikasi Masalah
Fuel oil menetes dari burner dan mengakibatkan genangan minyak dibawah burner
Pengaruh Operasional
Operasi tidak aman
Inefisiensi operasi dan pembakaran
Pembentukan coke pada lantai
Penyelesaian Masalah
Atur temperature fuel oil
Atur fuel oil gun
Atur steam differential pressure
Bersihkan fuel oil gun
Periksa lubang tip, mungkin tererosi

f. Nyala Api Panjang dan Berasap


Indikasi Masalah
Secara visual nyala api tampak panjang dan berasap
Pengaruh Operasional
Inefisiensi pembakaran
Setting cot tidak tercapai
Permukaan tube terdapat deposit jelaga
Pembentukan coke di dinding
Penyelesaian Masalah
Atur tekanan steam
Bersihkan fuel oil gun
Atur draft
Yakinkan fuel oil tip sesuai standard
Periksa distribusi udara

g. Nyala Api Miring


Indikasi Masalah
Nyala api tampak miring kesalah satu sisi
Pengaruh Operasional
Hot spot pada tube
Penyelesaian Masalah
Periksa sirkulasi flue gas
Bersihkan burner tip
Periksa kemiringan burner dan tip
Periksa distribusi udara

h. Burner Padam dan Susah Dinyalakan


Indikasi Masalah
Operator tidak dapat menyalakan burner
Pengaruh Operasional
Kegagalan start up
Penyelesaian Masalah
Reposisi pilot sehiingga nyala pilot dapat menyambar burner
Yakinkan fuel (gas atau oil) mengalir ke burner dengan baik
Tutup air register
Atur tip (gas atau oil) pada lokasi yang sesuai

i. Tekanan Gas Tinggi


Indikasi Masalah
Tekana fuel pada fuel line lebih tinggi dari keadaan normal yang diperlukan untuk heat
release
Pengaruh Operasional
Nyala api bergejolak
Hot spot
Sulit mencapai temperature cot
Penyelesaian Masalah
Bersihkan orifice fuel pada burner
Bersihkan tip
Atur draft burner sesuai kebutuhan heat release

j. Temperatur Stack Tinggi


Indikasi Masalah
Temperatur stack cenderung naik diatas desain stack temperatur
Pengaruh Operasional
Menurunkan efisiensi furnace
Konsumsi fuel dan biaya operasi naik
Penyelesaian Masalah
Atur ekses oksigen
Atur draft
Bersihkan seksi konveksi
Lakukan shoot blowing pada tube

k. Overheating Pada Seksi Konveksi


Indikasi Masalah
Refractory rontok dari atas
Draft pada seksi konveksi cenderung pada tekanan positif
Struktur baja dapat melengkung
Pengaruh Operasional
Unit shutdown
Penyelesaian Masalah
Buka stack damper untuk meningkatkan draft dari positif agar lebih negatif
Jika damper telah terbuka, kurangi firing rate untuk mengeliminasi tekanan positif pada inlet
konveksi

l. Suara Gemuruh Saat Menyalakan Fuel Oil


Indikasi Masalah
Operator akan mendengar suara gemuruh dari burner
Pengaruh Operasional
Nyala api tidak stabil
Nyala api kadang-kadang hilang
Penyelesaian Masalah
Periksa kebocoran steam by pass valve
Periksa kandungan air pada fuel oil
Naikan tekanan fuel oil
Jika memungkinkan naikan ibf fuel oil, jika tidak ubah fuel oil gun dari concentric tube
menjadi dual tube

m. Nyala Api Diatas Burner


Indikasi Masalah
Nyala api yang terbakar agak jauh diatas tip
Pengaruh Operasional
Potensi tidak aman
Penyelesaian Masalah
Perbaiki tip (fuel gas atau oil)
Periksa flame holder
Atur primary air

n. Nyala Api Pilot Padam


Indikasi Masalah
Pilot tidak menyala
Pilot tidak dapat dinyalakan
Pengaruh Operasional
Potensi tidak aman
Penyelesaian Masalah
Atur draft
Atur primary air pada pilot mixer
Periksa tekanan gas pilot dan atur bila perlu
Periksa stabilitas nyala api

o. Nyala Api Di Burner Naik Turun


Indikasi Masalah
Perhatikan pada mixer akan cenderung panas dan nampak kemerahan
Pengaruh Operasional
Kondisi nyala api tidak stabil
Penyelesaian Masalah
Kurangi tekanan fuel pada burner
Naikan draft pada burner dengan membuka stack damper

p. Nox Tinggi
Indikasi Masalah
Pengukuran Nox di stack tinggi
Pengaruh Operasional
Emisi Nox melebihi ambang batas yang diijinkan
Penyelesaian Masalah
Cek secondary air register
Cek O2 level
Cek aliran fuel gas pada primary gas tip dan staged gas tip

Anda mungkin juga menyukai