0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan24 halaman

Perkembangan Folikuler dan Menstruasi

Makalah ini membahas tentang perkembangan folikuler dan siklus menstruasi. Perkembangan folikel meliputi fase preantral dan antral, dipengaruhi oleh hormon gonadotropin dari hipofisis. Siklus menstruasi terjadi secara periodik dan diatur oleh hormon estrogen dan progesteron.

Diunggah oleh

ArDi EcHa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan24 halaman

Perkembangan Folikuler dan Menstruasi

Makalah ini membahas tentang perkembangan folikuler dan siklus menstruasi. Perkembangan folikel meliputi fase preantral dan antral, dipengaruhi oleh hormon gonadotropin dari hipofisis. Siklus menstruasi terjadi secara periodik dan diatur oleh hormon estrogen dan progesteron.

Diunggah oleh

ArDi EcHa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERKEMBANGAN FOLIKULER DAN SIKLUS MENSTRUASI

MAKALAH
Untuk Memenuhi Mata Kuliah Fisiologi Reproduksi
Yang dibina oleh Ibu Umi Lestari

Oleh:
Kelompok 3 / Offering GHI-K
Chairil Akmal 150342602536
Esha Ardiansyah 150342606823
Linda Puspitasari 150342603190
Solichatul Afifah 150342603789

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
September2017
KATA PENGANTAR

Kami bersyukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan
karunia, rahmat, dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul Perkembangan Folikuler Dan Siklus Menstruasi ini. Dengan tepat
waktu. Makalah ini dapat diselesaikan dengan baik atas bantuan berbagai pihak.
Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :

1. Ibu Umi Lestari selaku dosen mata kuliah Fisiologi Reproduksi dan
pembimbing dalam penyusunan makalah ini.
2. Seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.

Makalah ini diajukan dalam rangka memenuhi tugas kelompok terstruktur


mata kuliah Fisiologi Reproduksi. Kami menyadari selesainya makalah ini, masih
jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat penulis harapkan. Akhirnya kami berharap agar makalah ini,
dapat bermanfaat.

Malang, 26 Septermber 2016

Penyusun
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Haid merupakan proses kematangan seksual bagi seorang wanita (Lee dkk,
2006). Haid adalah pendarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai
pelepasan (deskuamasi) endometrium (Wiknjosastro, 2008). Panjang siklus haid
yang normal atau dianggap sebagai suatu siklus yang klasik adalah 28 hari , tetapi
cukup bervariasi tidak sama untuk setiap wanita (Guyton, 2006). Lama haid
biasanya antara 3-5 hari, ada yang 1-2 hari diikuti darah sedikit- sedikit dan ada
yang sampai 7-8 hari. Jumlah darah normal yang keluar rata-rata 33,2 16 cc.
Rata-rata panjang siklus haid pada gadis usia 12 tahun ialah 25,1 hari, pada wanita
usia 43 tahun 27,1 hari dan pada wanita usia 55 tahun ialah 51,9 hari
(Wiknjosastro, 2008).

Fungsi reproduksi wanita memiliki siklus aktivitas yang ditandai dengan


pertumbuhan dan perkembangan dari folikel dominan (Cunningham, 2009).
Normalnya ovarium akan memproduksi satu folikel dominan yang akan
mengalami ovulasi pada setiap siklus menstruasi. Folikel dominan akan
memproduksi estradiol pada saat fase folikuler dari siklus ovarium. Setelah
ovulasi, folikel akan berubahmenjadi corpus luteum yang akan mensekresi
progesteron dalam jumlah besar saatfase luteal dari siklus menstruasi. Estradiol
dan progesteron bekerja pada uterusuntuk mempersiapkan kondisi uterus sebagai
tempat implantasi embrio (Guyton,2011).

Penelitian yang dilakukan oleh Roupa dkk pada tahun 2009 menunjukkan
bahwa penyebab wanita infertil salah satunya adanya masalah pada menstruasi,
hal ini menempatkan menstruasi pada angka ketiga (20%) setelah tuba falopi dan
penyebab yang tidak diketahui (Roupa, 2009). Oleh karena itu, untuk memahami
siklus menstruasi dan fertilitas wanita perlu dipahami mengenai siklus hidup dari
folikel dominan dan apa saja yang mempengaruhinya. Pada kesempatan ini akan
dibahas mengenai hal-hal mengenai proses pembentukan folikel dan siklus
mentruasi.
Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang diambil pada penulisan ini yaitu,

1. Bagaimana fase-fase perkembangan folikuler dan fakor yang berpengaruh


terhadap perkembangan folikuler?
2. Bagaimana proses terjadinya siklus menstruasi?
3. Bagaimana hubungan siklus menstruasi dengan keadaan di uterus, ovarium
dan sistem sirkulasi?

Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini yaitu,

1. Mengetahui fase-fase perkembangan folikuler dan faktor-faktor yang


berpengaruh terhadap perkembangan folikuler?
2. Mengetahui proses terjadinya siklus menstruasi?
3. Mengetahui hubungan siklus menstruasi dengan keadaan di uterus, ovarium
dan sistem sirkulasi?
KAJIAN PUSTAKA

Fase Perkembangan Folikel Dan Faktor Yang Berpengaruh Terhadap


Perkembangan Folikuler
Proses perkembangan folikel atau folikulogenesis merupakan suatu proses
perkembangan folikel di dalam ovarium yang melibatkan beberapa proses, seperti
rekrutmen, seleksi, pertumbuhan, pematangan dan ovulasi (Campbell et al, 2010).
Proses perkembangan dan maturasi folikel dikontrol oleh kelenjar hipofisis
anterior yaitu dengan mensekresikan FSH, LH dan prolactin pada beberapa
spesies. Perkembangan folikel sampai terjadi ovulasi melibatkan adanya hormon
pertumbuhan. Seperti pada testis, produksi gamet oleh ovarium dikoordinasi oleh
oleh aktivitas endokrin. Fungsi ovarium dewasa sangat berbeda sekali dengan
testis. Sperma dilepaskan oleh testis dalam jumlah yang banyak dan terjadi terus
menerus sedangkan sel telur yang dilepaskan oleh ovarium sangat sedikit dan
secara periodik. Saat ovulasi terdapat 2 macam steroid utama yaitu estrogen dan
progesteron, pelepasan dua macam hormon ini juga periodik sejalan dengan
lepasnya oosit (Lestari, 2001). Folikulogenesis ditandai dengan adanya proliferasi
dan diferensiasi komponen sel pada folikel. Selama folikulogenesis terjadi
perubahan tahap perkembangan folikel dimulai dari folikel primordial sampai
folikel tersier termasuk perubahan ekspresi mRNA yang mengkode reseptor
gonadotropin, hormone steroid dan diikuti seleksi folikel (Amstrong & Webb,
1997).
Webb et al (2004) menjelaskan bahwa pada pertumbuhan folikel terdapat
beberapa proses yang terkait hal tersebut. Proses tersebut antara lain (1)proses
rekruitmen, di mana pada fase ini folikel tumbuh dengan cepat. Terjadi
pertumbuhan dari folikel primordial menjadi folikel primer dan folikel sekunder.
(2) Proses seleksi, yaitu proses dimana satu atau lebih dari folikel rekruitmen
dipilih untuk pertumbuhan lebih lanjut menjadi folikel subordinat. Salah satu dari
kelompok folikel akan terseleksi dan tumbuh menjadi folikel dominan, sedangkan
folikel lainnya akan terhenti pertumbuhannya dan menuju atresia. (3) Proses
dominasi, yaitu proses perkembangan folikel dominan yang cepat dan
perkembangan folikel subordinat akan tertekan oleh folikel subordinat yang
disebabkan oleh meningkatnya Follicle Growth Inhibiting Factor (FGIF)yang
diproduksi oleh folikel dominan. Ketika folikel telah mencapai ukuran maksimal,
folikel dominan akan mengalami atresi dan regresi yang menyebabkan
pertumbuhan gelombang folikel baru.
Menurut Rosadi et al (2011) folikulogenesis dapat dibagi menjadi dua
fase. Fase pertama yaitu fase preantral atau fase gonadotropin-independen yang
ditandai dengan pertumbuhan dan diferensiasi dari oosit. Fase kedua yaitu fase
antral (Graaf) atau fase gonadotropin dependen yang ditandai dengan peningkatan
ukuran folikel dengan pesat hingga mencapai 25 mm. Terdapat literatur lain yang
mendukung penjelasan tersebut. Johnson (2013) menjelaskan bahwa fase
perkembangan folikuler meliputi fase preantral, fase antral, fase preovulasi, fase
ovulasi. Setelah terjai ovulasi, folikel akan membentuk struktur baru yang disebut
korpus luteum.
Gambar 1.1 Perkembangan folikuler

Sumber : Knobil & Neills (2015)


Tabel 1.1 durasi fase perkembangan folikuler pada animalia non-pregnant

Sumber : Johnson (2013)


Tahapan perkembangan folikuler adalah sebagi berikut.
Fase Preantral
Fase awal pertumbuhan folikel ditandai dengan adanya peningkatan
diameter folikel primordial dari 20 m sampai antara 200-400 m, tergantung dari
spesiesnya. Mayoritas pertumbuhannya terjadi pada oosit primer di mana
diameternya mencapai 60-120 m, diikuti aktivitas sintesis dan perubahan
morfologi (Gambar 1.2 ). Selama perkembangan oosit, kromosom dictyate secara
aktif mensintesis RNA ribosom dan RNA messenger dalam jumlah besar untuk
membangun organel dan menghasilkan rangkaian protein yang dapat digunakan
untuk tahap pematangan oosit (Johnson, 2013).
Pada pertumbuhan awal oosit, oosit mengeluarkan secret berupa
glikoprotein yang selanjutnya akan membentuk lapisan aseluler yang disebut zona
pelusida. Zona tersebut memisahkan oosit dari sel granulosa. Zona pelusida
memiliki kontak dengan permukaan oosit melalui gap junction. Jumlah gap
junction antar sel granulosa yang terbentuk meningkat, sehingga memungkinkan
adanya jaringan komunikasi interseluler. Dengan adanya jaringan komunikasi
tersebut substrat biosintetik dengan berat molekul kecil seperti asam amino dan
nukleotida dapat menembus oosit yang sedang tumbuh dan bergabung
membentuk makromolekul. Jaringan komunikasi yang terbentuk sangat penting
karena lapisan granulosa bersifat avaskuler. Folikel preantral juga meningkatkan
ukuran dan kompleksitas melalui kondensasi sel stroma ovarium pada membrane
propria. Sel stroma ovarium menjadi terkondensasi ke arah membrane propria
untuk membentuk teka yang sifatnya vaskuler (Johnson, 2013).
Gambar 1.2. Fase preantral perkembangan folikel. (a) folikel primordial yang
dikelilingi sel stroma, memiliki lapisan luar yaitu membrane propria, sel granulosa
pipih yang mengelilingi oosit primer. (b) sel stroma memadat membentuk lapisan
teka, sel granulosa terbagi menjadi sel berbentuk kubus; oosit tumbuh dan
menghasilkan zona pelusida. Kontak antara sel granulosa dengan oosit primer
diatur oleh proses sitoplasmik dengan mikrovili yang ada pada permukaan oosit.
Di dalam oosit jumlah mitokondria meningkat, ukurannya semakin kecil,
bentuknya bulat dengan krista silindris, reticulum endoplasma terpisah
membentuk vesikula kecil, kompleks golgi memisah menjadi unit vesikula kecil
yang bergabung dengan lipid. Gen transkripsi aktif, kromosom aktif melakukan
sintesis (Johnson, 2013).
Menurut Johnson (2013) Faktor pertumbuhan intraovarian atau sitokinesar
terlibat dalam tahap awal pertumbuhan folikel. Hal ini juga jelas bahwa
perkembangan folikuler preantral dapat terjadi secara independen kontrol
extraovarian langsung. Namun, hormon pertumbuhan umumnya bersifat fasilitasi
untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup folikel awal, yang mungkin
dimediasi oleh insulin-like growth factor 1 (IGF1) dari sel granulosa. Beberapa
bukti terbaru menunjukkan bahwa FSH dapat mempengaruhi jumlah folikel
primordial yang memulai perkembangan. Jelas bahwa sekali folikel primordial
diaktifkan, laju perkembangannya diatur oleh oosit folliculogenesis clock ' yang
mulai berjalan.
Beberapa folikel mengalami proses atresia, yaitu terjadi penurunan
aktivitas sintesis protein, akumulasi droplet lipid dan inti piknotik menjadi
berkembang yang kemudian akan diikuti kematian oosit. Keadaan tersebut
menyebabkan folikel terserang oleh leukosit dan makrofag, sehingga menjadi
jaringan fibrosa. Atresia dapat dicegah oleh hormone FSH dan LH yang terikat
reseptor pada sel folikel. Reseptor tersebut terbentuk saat berakhirnya fase
folikuler preantral (Lestari, 2001). Fenotipe folikuler serupa juga diamati pada
tikus, menunjukkan keterlibatan LH dan FSH. Dengan demikian, atresia dicegah
dengan hormon folliclestimulating (FSH) dan hormon luteinizing (LH). Hormon
ini berikatan dengan reseptor FSH dan LH folik itu pertama muncul pada sel-sel
di folikel preantral awal dan awal antral. FSH saja sudah cukup untuk
pertumbuhan folikel awal, tetapi LH membantu ekspansi antral lebih lanjut. Jadi,
Gonadotrophins memungut folikel preantral dan merangsang pertumbuhan antral
(Johnson, 2013).

Fase Antral
Tanda dimulainya fase antral yaitu munculnya cairan antrum folikular
yang terbentuk dari cairan folikel yang terdiri dari sekresi sel granulosa termasuk
mucopolysaccharides dan transudate serum yang menyatu. Peningkatan ukuran
folikel tergantung pada peningkatan ukuran antrum folikular dan volume cairan
folikel (gambar 1.3). Meskipun oosit tidak mengalami peningkatan ukuran selama
periode antral, namun sintesis RNA dan protein masih tetap berlangsung.
Proliferasi sel teka menghasilkan dua macam lapisan yaitu teka interna (bersifat
vaskuler) dan teka eksterna (dikelilingi jaringan fibrosa). Oosit primer dikelilingi
oleh massa padat sel granulosa yang disebut cumulus oophorus yang terbenam
dalam cairan folikel dan hanya terhubung ke sel granulosa perifer melalui selapis
sel yang tipis (Johnson, 2013).
Gambar 1.3. Perkembangan folikel pada fase antral. (c) folikel antral awal dimana
granulosa dan sel teka telah berkembang. sel teka terdiri dari dua lapisan, lapisan
luar yaitu teka eksterna dan lapisan dalam disebut teka interna, kaya akan
pembuluh darah dan sel besar dengan reticulum endoplasma yang melimpah. Di
dalam membrane propria adalah lapisan granulosa avaskuler. (d) folikel antral
yang semakin luas, dengan antrum folikuler yang berkembang, meninggalkan
oosit yang dikelilingi oleh lapisan padat sel granulosa, cumulus oophorus, dan
dinding yang dilapisis oleh sel granulosa mural. Ukuran oosit sedikit mengalami
peningkatan (Johnson, 2013).
Selama fase pertumbuhan folikel kedua ini, menunjukkan adanya
peningkatan sintesis androgen dan estrogen. Androstenedion dan testosteron
meruapakan androgen potensial sedangkan estradiol 17 adalah estrogen
potensial. Pada beberapa spesies, estron juga disekresi. Pada saat fase ini, ukuran
folikel-folikel meningkat, sintesis estrogen meningkat dan folikel melepaskan
steroid ke dalam sirkulasi. Pada akhir dari fase pertumbuhan ini, dapat
digambarkan suatu gelombang sirkulasi estrogen. (Lestari, 2001).
Produksi steroid-steroid ini dikontrol oleh gonadotropin. Hanya sel-sel di
teka interna yang mengikat LH, sedangkan hanya sel granulosa yang mengikat
FSH. Apalagi efek pengikatan hormon pada masing-masing situs tersebut
menghasilkan konsekuensi yang sangat berbeda. Folikel antral menghasilkan dan
melepaskan jumlah yang meningkat dari steroid saat mereka tumbuh di bawah
pengaruh gonadotrophin. Estrogen utama yang dihasilkan adalah estradiol 17
dan estron (Johnson, 2013). Jika kedua populasi sel ini dipisahkan dari folikel-
folikel antral dan dibiakkan invitro, ditemukan sel-sel teka interna mensintesa
androgen dari asetat dan kholesterol, dan konversi ini sebagian besar dirangsang
oleh LH. Sebaliknya sel-sel granulosa tidak mampu memproduksi androgen.
Meskipun demikian, sel-sel granulosa disuplai dengan androgen, dan sel-sel
granulosa memiliki enzim-enzim yang siap melakukan aromatasi androgen
menjadi estrogen. Aromatasi ini dirangsang oleh FSH. Dengan demikian
androgen dihasilkan oleh folikel-folikel yang sedang berkembang yaitu sel-sel
teka, yang selanjutnya menghasilkan estrogen dengan dua cara, yaitu pertama,
melibatkan kerjasama sel teka dan sel granulosa yaitu androgen yang dihasilkan
sel-sel teka diaromatisasi dalam sel-sel granulosa, kedua, kemungkinan juga
dengan cara sintesis de novo dari asetat di dalam sel teka (Lestari, 2001).

Gambar 1.4 Pembentukan


estrogen melalui sel teka dan
sel granulosa.
Estrogen dan FSH memiliki peran penting pada perkembangan folikel
hingga akhir dari fase kedua ini. Kedua hormon ini merangsang produksi reseptor
LH pada lapisan luar sel-sel granulosa. Tempat ikatan LH merupakan penentu
untuk keberhasilan memasuki fase pertumbuhan folikuler berikutnya yaitu fase
preovulasai.
Produksi dan aktivitas beberapa sitokin juga dirangsang oleh gonadotrofin
selama fase antral, dan kemudian memediasi dan/atau memodulasi tindakan
steroid dan gonadotrofin. Namun, sudah nampak jelas adanya keseimbangan
antara sitokin (seperti IGFs, inhibins, SCF) yang secara umum mendukung
perkembangan folikuler, sebagian besar bekerja sama dengan FSH dan androgen,
dan sitokin yang menekan atau menahan perkembangan folikel atresia (seperti
MIH, TNF, leptin dan IGFBP). Dua inhibins diproduksi oleh sel granulose,
produksi inhibin B dirangsang oleh FSH, inhibin A dirangsang oleh both FSH dan
LH. Dengan demikian, rasio inhibin A : B naik saat folikel mengembang sampai
tinggi saat ovulasi. Rasio dengan demikian bertindak sebagai penanda ekspansi
folikel, selain peningkatan estrogen (Johnson, 2013).
Pertumbuhan dan kematangan folikular sebagian diatur secara endogen
dan sebagian oleh gonadotrofin eksogen. FSH dan estrogen merangsang
munculnya situs pengikatan LH pada lapisan luar granulosa sel, yang sampai
sekarang kekurangan. Situs pengikatan LH ini penting untuk masuknya folikel
antral yang diperluas ke dalam fase preovulasi folikular (Johnson, 2013).

Fase Preovulasi
Lestari (2001) menjelaskan bahwa pada akhir fase preantral, folikel
mengalami atresia jika tidak tersedia gonadotropin, dan folikel pada fase antral
akan mengalami hal serupa jika reseptor LH tidak tersedia dipermukaan sel
granulosa. Fase preovulasi terjadi jika ada lonjakan LH, sehingga reseptor yang
terdapat di sel granulosa dan sel teka dapat mengikat LH. Efek lonjakan LH pada
folikel menyebabkan pertumbuhan sel folikel dan oosit yang nantinya oosit dapat
keluar dari folikel, serta dapat menyebabkan perubahan folikel menjadi korpus
luteum.
Tabel 1.2 Perkembangan folikuler manusia

Setelah lonjakan LH, oosit mengalami perubahan, yaitu membrane inti


oosit menjadi rusak yang menyebabkan berlangsungnya proses meiosis kembali
(Gambar 1.5). Kromosom melanjutkan proses meiosis I kemudian terbentuk oosit
sekunder. Kromosom dalam oosit sekunder berada pada metafase II yang
selanjutnya akan diovulasikan. Cumulus yang menghubungkan oosit dengan sel
granulosa akan hancur oleh proses penarikan sitoplasma. Apparatus Golgi pada
oosit mensintesis lisosom kemudian bermigrasi ke permukaan oosit dan berada
pada subkortikal untuk membentuk granula kortikal. Aktivitas tersebut
berlangsung untuk persiapan keperluan fertilisasi (Lestari, 2001).

Gambar 1.5 Pengaktifan kembali meiosis pada oosit fase preovulasi


Pengaktifan kembali meiosis pada oosit fase preovulasi. Setelah stimulasi
LH (a sampai b), vesikel germinal rusak, dan kromosom menyelesaikan profase
serta mengatur diri pada benang spindle meiosis I. kontak sitoplasma antara sel
oosit dan sel granulosa berhenti melalui penarikan mikrovili dan munculnya ruang
sub-zonal yang berbeda. Granula kortikal yang disintesis oleh Aparatus Golgi
bermigrasi ke permukaan. Pembelahan meiosis I selesai dengan pembentukan
badan polar I (b ke c). Kromosom oosit memasuki pembelahan meiosis II dan
berhenti pada metafase kedua. Sitoplasma di sekitar sumbu yang ditempatkan
secara eksentrik tidak memiliki granula kortikal dan membrane di atasnya tidak
memiliki mikrovili pada beberapa spesies (c sampai d). Oosit tersebut
diovulasikan dalam keadaan istirahat (kecuali pada anjing dan rubah yang
oositnya diovulasikan pada metafase I), badan polar akan mati setelah ovulasi
(Johnson, 2013).

Ovulasi
Pada akhir fase preovulasi, volume cairan folikuler meningkat dan
menyebabkan sel granulosa bagian perifer menjadi lebih tipis dan sel teka
mengalami regresi. Folikel menonjol keluar dari permukaan ovarium disebabkan
karena adanya peningkatan ukuran folikel dan posisinya pada kortek dan stroma
ovarium, sehingga antar dinding foliel dan rongga peritoneal hanya dibatasi oleh
selapis tipis sel epitel yang bersifat avaskuler. Sel pada daerah tersebut akan
menagalami disosiasi dan degenerasi yang akhirnya dinding sel folikel akan
muncul. Folikel menjadi rusak dan cairan di dalamnya keluar ke permukaan
ovarium membawa oosit dan cumulus yang mengelilinginya. Bagian folikel yang
tertinggal di dalam ovarium akan menggumpal. Folikel yang tertinggal terdiri dari
beberapa lapisan sel granulosa yang dibungkus kapsula fibrosa. Diperkirakan
bahwa proses biokimia, pertama enzim-enzim seperti plasmin (enzim proteolitik)
dan kolagenase diaktifkan dalam periode preovulasi dan melisiskan dinding
folikuler, kedua aktifitas intra folikkuler dari prostaglandin dan histamin juga
berpengaruh terhadap terjadinya ovulasi. (Lestari, 2001).
Korpus Luteum
Folikel setelah terjadi ovulasi akan mengalami perubahan struktur.
Struktur baru yang terbentuk disebut korpus luteum. Dalam antrum folikular, inti
fibrin .mengalami fibrosis, membrane propria antara lapisan granulosa dan teka
rusak. Sel granulosa dan teka interna berkontribusi dalam korpus luteum,
meskipun banyak sel teka yang menyebar ke jaringan stroma. Sel granulosa
berhenti melakukan hipertrofi untuk membentuk sel lutein besar yang kaya akan
mitokondria, reticulum endoplasma halus, lipid, badan golgi, serta mengandung
karotenoid yang merupakan lutein dan menyebabkan warna kuning pada korpus
luteum. Transformasi tersebut disebut luteinisasi dan sel korpus luteum memiliki
kemampuan mensekresikan prostagen. Prostagen utama pada kebanyakan spesies
yang dikeluarkan adalah progesterone, namun pada primate adalah 17-
hidroxyprogesteron dan pada golongan tikus dan hamster adalah 20-
hidroxyprogesteron. Dalam bebrapa spesies terutama kera dan manusia, estrogen
utama berupa estradiol 17. Sumber estrogen tampaknya berasal dari gabungan
sel teka yang membentuk korpus luteum (Johnson, 2013).
Johnson (2013) menjelaskan bahwa korpus luteum juga mengeluarkan dua
hormon lain. Inhibin A disekresi dalam jumlah besar untuk produksi progesterone
dan oksitosin. Terdapat variasi pengaruh endokrin pada beberapa spesies.
Konversi folikel menjadi korpus luteum membutuhkan lonjakan LH yang tinggi
yang dapat mengakibatkan ovulasi. Gonadotropin dibutuhkan dalam jumlah
rendah untuk pemeliharaan korpus luteum. Pada beberapa spesies prolactin dan
progesterone merupakan komponen penting dari komplek luteotropik.

Regulasi Hormonal Pada Alat Reproduksi Wanita

Menurut Ferial (2013) Dinding uterus terdiri dari 3 lapisan : endometrium,


myometrium, perimetrium. Lapisan endometrium dibagi menjadi 3 lapisan :

a. Stratum kompaktum
b. Stratum spongiosum
c. Stratum basalis.
Sekurang-kurangnya ada 5 hormon utama yang berperan dalam regulasi dan
koordinasi siklus pembentukan folikel dan siklus menstruasi di uterus, yaitu ;

1. GnRH (gonadotropin-releasing hormone)


2. FSH (follicle-stimulating hormone)
3. LH (luteinizing hormone)
4. Estrogen yang dihasilkan oleh teka folikuli interna dari folikel yang
sedang berkembang menjadi folikel de Graaf.
5. Progesteron yang dihasilkan oleh korpus luteum.

SIKLUS MENSTRUASI

Satu siklus dihitung mulai dari hari pertama terjadinya pendarahan mens
sampai hari pertama pendarahan mens [Link] menstruasi dibagi
menjadi 4 fase, yakni pascamenstruasi, proliferasi, sekretoris, dan menstruasi.

a. Fase Pascamenstruasi
Pada waktu menstruasi terhenti, stratum kompaktum dan stratum
spongiosum dari endometrium telah selesai meluruh (mengelupas / mengalami
erosi).Pada waktu ini konsentrasi hormone estrogen dan hormone progesteron
rendah, dan keadaan ini memberikan umpan balik positif bagi hipotalamus
untuk meningkatkan produksi hormone GnRH, sehingga produksi FSH dan
LH mulai pula [Link] berlangsung kurang lebih 4 hari
(Ferial, 2013).
b. Fase Proliferasi
Pada fase ini endometrium mulai menebal kembali secara
[Link] dimungkinkan oleh proliferasi / perbanyakan sel-sel
endometrium di lapisan stratum basalis yang tidak mengalami erosi pada
waktu [Link] sel diinduksi oleh hormone estrogen yang
dihasilkan oleh teka folikuli interna dari folikel yangs edang berkembang
menjadi folikel de [Link], sementara folikel berkembang menjadi folikel
de Graaf yang diinduksi oleh hormone FSH, endometrium berproliferasi
menjadi tebal oleh hormone estrogen. Pada fase proliferasi tidak hanya
mengalami penebalan endometrium, akan tetapi terjadi pula regenerasi
kelenjar-kelenjar dan pembuluh darah yang terpotong pada waktu menstruasi.
Akhirnya terbentuk lagi stratum spongiosum dari [Link] ini
berlangsung kurang lebih 12 hari (Ferial, 2013).
c. Fase Sekretoris
Pada fase sekretori tebalnya endometrium telah maksimun, yakni
mencapai 5-7 mm, dari hanya 0,5-1 mm yang tersisa pada pascamentruasi.
Bagian basal dari kelenjar-kelenjar uterus yang tersisa bertumbuh memanjang
dan kemudian [Link] kelenjar [Link]-sel kelenjar
banyak memproduksi glikogen. Pada fase ini bagian apical sel-sel kelenjar
melepaskan diri dan disekresikan ke ruang uterus bersama glikogen dan secret
lain. Secret berupa lender berfungsi untuk menerima blastokista, jika terjadi
fertilisasi (Ferial, 2013).
Setelah ovulasi, hormon LH dari hipofisis anterior menginduksi folikel de
Graaf yang tersisa menjadi korpus [Link] luteum ini memproduksi
hormone [Link] peredaran darah hormone progesterone tiba di
uterus dan menginduksi sekresi kelenjar-kelenjar serta mempertahankan
eksistensi tebalnya endometrium, sebagai persiapan untuk implantasi dan
tempat perkembangan [Link] ini berlangsung kurang lebih 8 hari (Ferial,
2013).
d. Fase Menstruasi
Jika ovum tidak dibuahi, maka menjelang akhir fase sekrestoris hormone
estrogen dan progesterone makin meningkat. Konsentrasi tinggi dari kedua
hormone tersebut memberikan umpan balik negative bagi hipotalamus,
sehingga produksi hormone GnRH ditekan dan mengakibatkan penurunan
produksi hormone FSH dan LH. Pada waktu LH berkurang, maka korpus
luteum yang membutuhkan LH mulai berdegenari dan berubah menjadi
korpus [Link] ini mengakibatkan penurunan konsentrasi hormone
estrogen dan [Link] progesterone berfungsi mempertahankan fase
sekretoris dan keutuhan tebalnya endometrium, maka pada waktu konsentrasi
hormon progesterone menurun tajam, stratum kompaktum dan stratum
spongiosom mengalami [Link] darah terpotong, sehingga terjadi
[Link] ini disebut [Link] ini berlangsung kurang lebih
4 hari (Ferial, 2013).

Gambar 1.5 Siklus


menstruasi
Hubungan Siklus Menstruasi Dengan Keadaan Di Uterus, Ovarium

Keadaan Di Uterus, Ovarium

Ada dua siklus reproduktif yang terkait erat pada perempuan yaitu (1)
perubahan perubahan yang terjadi di dalam uterus (uterine cycle), dan (2)
peristiwa peristiwa siklis yang terjadi di dalam ovarium (ovarian cycle).
Aktifitas hormon menghubungkan kedua siklus tersebut, sehingga
mensinkronisasi pertumbuhan folikel ovarium dan ovulasi dengan pembentukan
lapisan uterus yang dapat mendukung perkembangan embrio (Campbell et al,
2010).

Gambar 1.6 Siklus ovari


Selama setiap siklus haid, terjadi siklus secara simultan di rahim dan
ovarium disebut 'siklus rahim' dan 'siklus ovarium'. Selama 'siklus rahim'
endometrium, (lapisan rahim) disiapkan untuk kemungkinan kehamilan. Selama
'siklus ovarium' ovum yang belum matang, (telur, folikel primordial) berkembang
di ovarium dan saat matang, ia dilepaskan ke ujung luar tuba falopi saat ovulasi.
Sebelum ovulasi folikel berkembang mengeluarkan estrogen. Setelah ovulasi,
korpus luteum di ovarium mengeluarkan progesteron untuk mempertahankan
kemungkinan kehamilan (Ohara, 2014).

Selama perubahan siklus menstruasi juga terjadi pada serviks, yaitu sel-sel
di lapisan serviks mengeluarkan lendir, dan os serviks mungkin terbuka atau
tertutup tergantung pada apakah fase siklusnya subur atau tidak subur. Wanita
dapat mengamati kejadian ini selama siklus karena hormon estrogen dan
progesteron menyebabkan perubahan pada indikator kesuburan, (yaitu perubahan
pada lendir serviks, suhu tubuh basal dan di leher rahim itu sendiri) yang
memungkinkannya untuk mengidentifikasi kapan dia tidak subur atau berpotensi
subur (kesuburan kesadaran) (Ohara, 2014).

Berikut adalah skema atau diagram sederhana hubungan antara keadaan di


uterus, ovarium, dan serviks pada siklus menstruasi.
Gambar 1.7. Skema yang terjadi pada uterus, ovarium, dan serviks pada siklus
menstruasi (Sumber: Ohara, 2014)
PENUTUP

Kesimpulan

1. Fase perkembangan folikuler terdiri dari fase preantral, antaral, preovulasi dan
fase ovulasi. Faktor yang [Link] perkembangan folikuler yaitu
perkembangan hormon seperti estrogen, progesteron, FSH [Link]
2. Siklus menstruasi dibagi menjadi 4 fase, yakni pascamenstruasi, proliferasi,
sekretoris, dan menstruasi.
3. Siklus menstruasi berhubungan dengan keadaan di uterus, ovarium dan sistem
sirkulasi, Selama menstruasi endometrium, (lapisan rahim) disiapkan untuk
kemungkinan kehamilan. Selama 'siklus ovarium' ovum yang belum matang,
(telur, folikel primordial) berkembang di ovarium dan saat matang, ia
dilepaskan ke ujung luar tuba falopi saat ovulasi.

Saran

Setelah mengetahui ilmu yang telah dipaparkan dari makalah ini, diharapakan
pembaca dapat mengetahui dan lebih memperhatikan diri sendiri karena tubuh
manusia selalu melakukan metabolisme dan apabila tejadi gangguan maka kinerja
dai tubuh tidak akan optimal bahkan dapat menyebabkan kematian.
Daftar Pustaka

Amstrong, D.G. & Webb, R. 1997. Ovarian Follicular Dominance: The Role of
Intraovarian Growth Factor and Novel Proteins. Rev Reprod. 2: 139-146.
Campbell, N. A., Reece, J. B., Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A.,
Minorsky, P. V., and Jackson, R.B. Biologi Edisi Kedelapan. Jakarta:
Penerbit Erlangga.

Cunningham F.G., [Link] 23. Jakarta: EGC.

Ferial, E.W., 2013. Biologi Reproduksi. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Guyton, C. A., Hall. J. E. 2006. Textbook of Medical Physiology: Female


Physiology Before Pregnancy and Female Hoemones. USA: Elsevier
Saunders.

Johnson, M.H. 2013. Essential Reproduction. Seventh Edition. UK: John Wiley &
Sons, Ltd.
Knobil & Neills. 2015. Physiology of Reproduction. Fourth Edition. USA:
Elsevier.
Lee, L.K., Chen, P.C., Lee, K.K., Kaur, J. 2006. Menstruation Among Adolescent
Girls InMalaysia. M. Singapore med J. 47(10): 869.

Lestari, U. 2001. Fisiologi Reproduksi: Regulasi Fungsi Gonad dan Fungsi


Ovarium. Malang: Universitas Negeri Malang.
Ohara, B. 2014. Events In The Uterus & Ovary in the Cycle; What The Woman
Observes(online), ([Link]
ovary-during-the-cycle/) diakses pada 25 September 2017

Rosadi., Bayu., Setiadi, M.A., Sajuthi, D., & Boediono, A. 2011. Preservasi
Ovarium dan Pengaruhnya terhadap Morfologi Folikel Domba. Jurnal
Veteriner, No. 2, Halaman: 91-97.
Roupa, Z., M. Polikandrioti, P. Sotiropoulo, E. Faros, A. Koulouri, G.
[Link] M. Gourni. [Link] Of Infertility In Women At
Reproductive Age. Health Science Journal Volume [Link] 2. Page : 80-
87.
Silverthon, D. U. 2010. Human Physiology An Integrated Approach. San
Francisco: Pearson Benjamin Cummings.

Webb, R., Nicholas, B., Gong JG., Campbell, B.K., Gutierrez, C.G., Garverick,
H.A., & Amstrong, D.G. 2004. Mechanisms Regulating Follicular
Development and Selection of the Dominant Follicle. Reproduction, Vol.
61: 71-90.
Wiknjosastro, H. 2008. IlmuKandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.

Anda mungkin juga menyukai