Perkembangan Folikuler dan Menstruasi
Perkembangan Folikuler dan Menstruasi
MAKALAH
Untuk Memenuhi Mata Kuliah Fisiologi Reproduksi
Yang dibina oleh Ibu Umi Lestari
Oleh:
Kelompok 3 / Offering GHI-K
Chairil Akmal 150342602536
Esha Ardiansyah 150342606823
Linda Puspitasari 150342603190
Solichatul Afifah 150342603789
Kami bersyukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan
karunia, rahmat, dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul Perkembangan Folikuler Dan Siklus Menstruasi ini. Dengan tepat
waktu. Makalah ini dapat diselesaikan dengan baik atas bantuan berbagai pihak.
Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1. Ibu Umi Lestari selaku dosen mata kuliah Fisiologi Reproduksi dan
pembimbing dalam penyusunan makalah ini.
2. Seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Penyusun
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Haid merupakan proses kematangan seksual bagi seorang wanita (Lee dkk,
2006). Haid adalah pendarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai
pelepasan (deskuamasi) endometrium (Wiknjosastro, 2008). Panjang siklus haid
yang normal atau dianggap sebagai suatu siklus yang klasik adalah 28 hari , tetapi
cukup bervariasi tidak sama untuk setiap wanita (Guyton, 2006). Lama haid
biasanya antara 3-5 hari, ada yang 1-2 hari diikuti darah sedikit- sedikit dan ada
yang sampai 7-8 hari. Jumlah darah normal yang keluar rata-rata 33,2 16 cc.
Rata-rata panjang siklus haid pada gadis usia 12 tahun ialah 25,1 hari, pada wanita
usia 43 tahun 27,1 hari dan pada wanita usia 55 tahun ialah 51,9 hari
(Wiknjosastro, 2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Roupa dkk pada tahun 2009 menunjukkan
bahwa penyebab wanita infertil salah satunya adanya masalah pada menstruasi,
hal ini menempatkan menstruasi pada angka ketiga (20%) setelah tuba falopi dan
penyebab yang tidak diketahui (Roupa, 2009). Oleh karena itu, untuk memahami
siklus menstruasi dan fertilitas wanita perlu dipahami mengenai siklus hidup dari
folikel dominan dan apa saja yang mempengaruhinya. Pada kesempatan ini akan
dibahas mengenai hal-hal mengenai proses pembentukan folikel dan siklus
mentruasi.
Rumusan Masalah
Tujuan Penulisan
Fase Antral
Tanda dimulainya fase antral yaitu munculnya cairan antrum folikular
yang terbentuk dari cairan folikel yang terdiri dari sekresi sel granulosa termasuk
mucopolysaccharides dan transudate serum yang menyatu. Peningkatan ukuran
folikel tergantung pada peningkatan ukuran antrum folikular dan volume cairan
folikel (gambar 1.3). Meskipun oosit tidak mengalami peningkatan ukuran selama
periode antral, namun sintesis RNA dan protein masih tetap berlangsung.
Proliferasi sel teka menghasilkan dua macam lapisan yaitu teka interna (bersifat
vaskuler) dan teka eksterna (dikelilingi jaringan fibrosa). Oosit primer dikelilingi
oleh massa padat sel granulosa yang disebut cumulus oophorus yang terbenam
dalam cairan folikel dan hanya terhubung ke sel granulosa perifer melalui selapis
sel yang tipis (Johnson, 2013).
Gambar 1.3. Perkembangan folikel pada fase antral. (c) folikel antral awal dimana
granulosa dan sel teka telah berkembang. sel teka terdiri dari dua lapisan, lapisan
luar yaitu teka eksterna dan lapisan dalam disebut teka interna, kaya akan
pembuluh darah dan sel besar dengan reticulum endoplasma yang melimpah. Di
dalam membrane propria adalah lapisan granulosa avaskuler. (d) folikel antral
yang semakin luas, dengan antrum folikuler yang berkembang, meninggalkan
oosit yang dikelilingi oleh lapisan padat sel granulosa, cumulus oophorus, dan
dinding yang dilapisis oleh sel granulosa mural. Ukuran oosit sedikit mengalami
peningkatan (Johnson, 2013).
Selama fase pertumbuhan folikel kedua ini, menunjukkan adanya
peningkatan sintesis androgen dan estrogen. Androstenedion dan testosteron
meruapakan androgen potensial sedangkan estradiol 17 adalah estrogen
potensial. Pada beberapa spesies, estron juga disekresi. Pada saat fase ini, ukuran
folikel-folikel meningkat, sintesis estrogen meningkat dan folikel melepaskan
steroid ke dalam sirkulasi. Pada akhir dari fase pertumbuhan ini, dapat
digambarkan suatu gelombang sirkulasi estrogen. (Lestari, 2001).
Produksi steroid-steroid ini dikontrol oleh gonadotropin. Hanya sel-sel di
teka interna yang mengikat LH, sedangkan hanya sel granulosa yang mengikat
FSH. Apalagi efek pengikatan hormon pada masing-masing situs tersebut
menghasilkan konsekuensi yang sangat berbeda. Folikel antral menghasilkan dan
melepaskan jumlah yang meningkat dari steroid saat mereka tumbuh di bawah
pengaruh gonadotrophin. Estrogen utama yang dihasilkan adalah estradiol 17
dan estron (Johnson, 2013). Jika kedua populasi sel ini dipisahkan dari folikel-
folikel antral dan dibiakkan invitro, ditemukan sel-sel teka interna mensintesa
androgen dari asetat dan kholesterol, dan konversi ini sebagian besar dirangsang
oleh LH. Sebaliknya sel-sel granulosa tidak mampu memproduksi androgen.
Meskipun demikian, sel-sel granulosa disuplai dengan androgen, dan sel-sel
granulosa memiliki enzim-enzim yang siap melakukan aromatasi androgen
menjadi estrogen. Aromatasi ini dirangsang oleh FSH. Dengan demikian
androgen dihasilkan oleh folikel-folikel yang sedang berkembang yaitu sel-sel
teka, yang selanjutnya menghasilkan estrogen dengan dua cara, yaitu pertama,
melibatkan kerjasama sel teka dan sel granulosa yaitu androgen yang dihasilkan
sel-sel teka diaromatisasi dalam sel-sel granulosa, kedua, kemungkinan juga
dengan cara sintesis de novo dari asetat di dalam sel teka (Lestari, 2001).
Fase Preovulasi
Lestari (2001) menjelaskan bahwa pada akhir fase preantral, folikel
mengalami atresia jika tidak tersedia gonadotropin, dan folikel pada fase antral
akan mengalami hal serupa jika reseptor LH tidak tersedia dipermukaan sel
granulosa. Fase preovulasi terjadi jika ada lonjakan LH, sehingga reseptor yang
terdapat di sel granulosa dan sel teka dapat mengikat LH. Efek lonjakan LH pada
folikel menyebabkan pertumbuhan sel folikel dan oosit yang nantinya oosit dapat
keluar dari folikel, serta dapat menyebabkan perubahan folikel menjadi korpus
luteum.
Tabel 1.2 Perkembangan folikuler manusia
Ovulasi
Pada akhir fase preovulasi, volume cairan folikuler meningkat dan
menyebabkan sel granulosa bagian perifer menjadi lebih tipis dan sel teka
mengalami regresi. Folikel menonjol keluar dari permukaan ovarium disebabkan
karena adanya peningkatan ukuran folikel dan posisinya pada kortek dan stroma
ovarium, sehingga antar dinding foliel dan rongga peritoneal hanya dibatasi oleh
selapis tipis sel epitel yang bersifat avaskuler. Sel pada daerah tersebut akan
menagalami disosiasi dan degenerasi yang akhirnya dinding sel folikel akan
muncul. Folikel menjadi rusak dan cairan di dalamnya keluar ke permukaan
ovarium membawa oosit dan cumulus yang mengelilinginya. Bagian folikel yang
tertinggal di dalam ovarium akan menggumpal. Folikel yang tertinggal terdiri dari
beberapa lapisan sel granulosa yang dibungkus kapsula fibrosa. Diperkirakan
bahwa proses biokimia, pertama enzim-enzim seperti plasmin (enzim proteolitik)
dan kolagenase diaktifkan dalam periode preovulasi dan melisiskan dinding
folikuler, kedua aktifitas intra folikkuler dari prostaglandin dan histamin juga
berpengaruh terhadap terjadinya ovulasi. (Lestari, 2001).
Korpus Luteum
Folikel setelah terjadi ovulasi akan mengalami perubahan struktur.
Struktur baru yang terbentuk disebut korpus luteum. Dalam antrum folikular, inti
fibrin .mengalami fibrosis, membrane propria antara lapisan granulosa dan teka
rusak. Sel granulosa dan teka interna berkontribusi dalam korpus luteum,
meskipun banyak sel teka yang menyebar ke jaringan stroma. Sel granulosa
berhenti melakukan hipertrofi untuk membentuk sel lutein besar yang kaya akan
mitokondria, reticulum endoplasma halus, lipid, badan golgi, serta mengandung
karotenoid yang merupakan lutein dan menyebabkan warna kuning pada korpus
luteum. Transformasi tersebut disebut luteinisasi dan sel korpus luteum memiliki
kemampuan mensekresikan prostagen. Prostagen utama pada kebanyakan spesies
yang dikeluarkan adalah progesterone, namun pada primate adalah 17-
hidroxyprogesteron dan pada golongan tikus dan hamster adalah 20-
hidroxyprogesteron. Dalam bebrapa spesies terutama kera dan manusia, estrogen
utama berupa estradiol 17. Sumber estrogen tampaknya berasal dari gabungan
sel teka yang membentuk korpus luteum (Johnson, 2013).
Johnson (2013) menjelaskan bahwa korpus luteum juga mengeluarkan dua
hormon lain. Inhibin A disekresi dalam jumlah besar untuk produksi progesterone
dan oksitosin. Terdapat variasi pengaruh endokrin pada beberapa spesies.
Konversi folikel menjadi korpus luteum membutuhkan lonjakan LH yang tinggi
yang dapat mengakibatkan ovulasi. Gonadotropin dibutuhkan dalam jumlah
rendah untuk pemeliharaan korpus luteum. Pada beberapa spesies prolactin dan
progesterone merupakan komponen penting dari komplek luteotropik.
a. Stratum kompaktum
b. Stratum spongiosum
c. Stratum basalis.
Sekurang-kurangnya ada 5 hormon utama yang berperan dalam regulasi dan
koordinasi siklus pembentukan folikel dan siklus menstruasi di uterus, yaitu ;
SIKLUS MENSTRUASI
Satu siklus dihitung mulai dari hari pertama terjadinya pendarahan mens
sampai hari pertama pendarahan mens [Link] menstruasi dibagi
menjadi 4 fase, yakni pascamenstruasi, proliferasi, sekretoris, dan menstruasi.
a. Fase Pascamenstruasi
Pada waktu menstruasi terhenti, stratum kompaktum dan stratum
spongiosum dari endometrium telah selesai meluruh (mengelupas / mengalami
erosi).Pada waktu ini konsentrasi hormone estrogen dan hormone progesteron
rendah, dan keadaan ini memberikan umpan balik positif bagi hipotalamus
untuk meningkatkan produksi hormone GnRH, sehingga produksi FSH dan
LH mulai pula [Link] berlangsung kurang lebih 4 hari
(Ferial, 2013).
b. Fase Proliferasi
Pada fase ini endometrium mulai menebal kembali secara
[Link] dimungkinkan oleh proliferasi / perbanyakan sel-sel
endometrium di lapisan stratum basalis yang tidak mengalami erosi pada
waktu [Link] sel diinduksi oleh hormone estrogen yang
dihasilkan oleh teka folikuli interna dari folikel yangs edang berkembang
menjadi folikel de [Link], sementara folikel berkembang menjadi folikel
de Graaf yang diinduksi oleh hormone FSH, endometrium berproliferasi
menjadi tebal oleh hormone estrogen. Pada fase proliferasi tidak hanya
mengalami penebalan endometrium, akan tetapi terjadi pula regenerasi
kelenjar-kelenjar dan pembuluh darah yang terpotong pada waktu menstruasi.
Akhirnya terbentuk lagi stratum spongiosum dari [Link] ini
berlangsung kurang lebih 12 hari (Ferial, 2013).
c. Fase Sekretoris
Pada fase sekretori tebalnya endometrium telah maksimun, yakni
mencapai 5-7 mm, dari hanya 0,5-1 mm yang tersisa pada pascamentruasi.
Bagian basal dari kelenjar-kelenjar uterus yang tersisa bertumbuh memanjang
dan kemudian [Link] kelenjar [Link]-sel kelenjar
banyak memproduksi glikogen. Pada fase ini bagian apical sel-sel kelenjar
melepaskan diri dan disekresikan ke ruang uterus bersama glikogen dan secret
lain. Secret berupa lender berfungsi untuk menerima blastokista, jika terjadi
fertilisasi (Ferial, 2013).
Setelah ovulasi, hormon LH dari hipofisis anterior menginduksi folikel de
Graaf yang tersisa menjadi korpus [Link] luteum ini memproduksi
hormone [Link] peredaran darah hormone progesterone tiba di
uterus dan menginduksi sekresi kelenjar-kelenjar serta mempertahankan
eksistensi tebalnya endometrium, sebagai persiapan untuk implantasi dan
tempat perkembangan [Link] ini berlangsung kurang lebih 8 hari (Ferial,
2013).
d. Fase Menstruasi
Jika ovum tidak dibuahi, maka menjelang akhir fase sekrestoris hormone
estrogen dan progesterone makin meningkat. Konsentrasi tinggi dari kedua
hormone tersebut memberikan umpan balik negative bagi hipotalamus,
sehingga produksi hormone GnRH ditekan dan mengakibatkan penurunan
produksi hormone FSH dan LH. Pada waktu LH berkurang, maka korpus
luteum yang membutuhkan LH mulai berdegenari dan berubah menjadi
korpus [Link] ini mengakibatkan penurunan konsentrasi hormone
estrogen dan [Link] progesterone berfungsi mempertahankan fase
sekretoris dan keutuhan tebalnya endometrium, maka pada waktu konsentrasi
hormon progesterone menurun tajam, stratum kompaktum dan stratum
spongiosom mengalami [Link] darah terpotong, sehingga terjadi
[Link] ini disebut [Link] ini berlangsung kurang lebih
4 hari (Ferial, 2013).
Ada dua siklus reproduktif yang terkait erat pada perempuan yaitu (1)
perubahan perubahan yang terjadi di dalam uterus (uterine cycle), dan (2)
peristiwa peristiwa siklis yang terjadi di dalam ovarium (ovarian cycle).
Aktifitas hormon menghubungkan kedua siklus tersebut, sehingga
mensinkronisasi pertumbuhan folikel ovarium dan ovulasi dengan pembentukan
lapisan uterus yang dapat mendukung perkembangan embrio (Campbell et al,
2010).
Selama perubahan siklus menstruasi juga terjadi pada serviks, yaitu sel-sel
di lapisan serviks mengeluarkan lendir, dan os serviks mungkin terbuka atau
tertutup tergantung pada apakah fase siklusnya subur atau tidak subur. Wanita
dapat mengamati kejadian ini selama siklus karena hormon estrogen dan
progesteron menyebabkan perubahan pada indikator kesuburan, (yaitu perubahan
pada lendir serviks, suhu tubuh basal dan di leher rahim itu sendiri) yang
memungkinkannya untuk mengidentifikasi kapan dia tidak subur atau berpotensi
subur (kesuburan kesadaran) (Ohara, 2014).
Kesimpulan
1. Fase perkembangan folikuler terdiri dari fase preantral, antaral, preovulasi dan
fase ovulasi. Faktor yang [Link] perkembangan folikuler yaitu
perkembangan hormon seperti estrogen, progesteron, FSH [Link]
2. Siklus menstruasi dibagi menjadi 4 fase, yakni pascamenstruasi, proliferasi,
sekretoris, dan menstruasi.
3. Siklus menstruasi berhubungan dengan keadaan di uterus, ovarium dan sistem
sirkulasi, Selama menstruasi endometrium, (lapisan rahim) disiapkan untuk
kemungkinan kehamilan. Selama 'siklus ovarium' ovum yang belum matang,
(telur, folikel primordial) berkembang di ovarium dan saat matang, ia
dilepaskan ke ujung luar tuba falopi saat ovulasi.
Saran
Setelah mengetahui ilmu yang telah dipaparkan dari makalah ini, diharapakan
pembaca dapat mengetahui dan lebih memperhatikan diri sendiri karena tubuh
manusia selalu melakukan metabolisme dan apabila tejadi gangguan maka kinerja
dai tubuh tidak akan optimal bahkan dapat menyebabkan kematian.
Daftar Pustaka
Amstrong, D.G. & Webb, R. 1997. Ovarian Follicular Dominance: The Role of
Intraovarian Growth Factor and Novel Proteins. Rev Reprod. 2: 139-146.
Campbell, N. A., Reece, J. B., Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A.,
Minorsky, P. V., and Jackson, R.B. Biologi Edisi Kedelapan. Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Johnson, M.H. 2013. Essential Reproduction. Seventh Edition. UK: John Wiley &
Sons, Ltd.
Knobil & Neills. 2015. Physiology of Reproduction. Fourth Edition. USA:
Elsevier.
Lee, L.K., Chen, P.C., Lee, K.K., Kaur, J. 2006. Menstruation Among Adolescent
Girls InMalaysia. M. Singapore med J. 47(10): 869.
Rosadi., Bayu., Setiadi, M.A., Sajuthi, D., & Boediono, A. 2011. Preservasi
Ovarium dan Pengaruhnya terhadap Morfologi Folikel Domba. Jurnal
Veteriner, No. 2, Halaman: 91-97.
Roupa, Z., M. Polikandrioti, P. Sotiropoulo, E. Faros, A. Koulouri, G.
[Link] M. Gourni. [Link] Of Infertility In Women At
Reproductive Age. Health Science Journal Volume [Link] 2. Page : 80-
87.
Silverthon, D. U. 2010. Human Physiology An Integrated Approach. San
Francisco: Pearson Benjamin Cummings.
Webb, R., Nicholas, B., Gong JG., Campbell, B.K., Gutierrez, C.G., Garverick,
H.A., & Amstrong, D.G. 2004. Mechanisms Regulating Follicular
Development and Selection of the Dominant Follicle. Reproduction, Vol.
61: 71-90.
Wiknjosastro, H. 2008. IlmuKandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.