Penerangan Jalan Tenaga Surya di Kampus USU
Penerangan Jalan Tenaga Surya di Kampus USU
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan kajian
pustaka dan teori yang digunakan sebelumya sebagai bahan acuan penelitian ini:
4
5
maka banyak kegiatan akan terhenti seketika. Sumber energi matahari merupakan
salah satu harapan utama sebagai sumber energi alam yang hampir dapat
dikatakan tidak akan habis. Solar cell merupakan suatu panel yang terdiri dari
beberapa sel dan beragam jenis. Penggunaan solar cell ini telah banyak digunakan
di negara-negara berkembang dan negara maju dimana pemanfaatnya tidak hanya
pada lingkup yang kecil, tetapi sudah banyak digunakan untuk keperluan industri
dan penerangan jalan umum sehingga energi matahari dapat dijadikan
sebagaisumber energi alternatif tertentu. Dalam skripsi ini akan di lakukan analisis
teknis dan ekonomis penerangan PJU solar cell untuk kebutuhan penerangan di
jalan tol darmo Surabaya.
Berdasarkan penelitian[3]: Algoritma Two-Model MPPT Control sebagai
Metode Tracker Daya Maksimum Panel Surya untuk Pengaturan Kerja Zeta
Converter. Daya listrik keluaran panel surya bergantung pada iradiasi cahaya
matahari yang mengenai permukaannya. Diakibatkan cuaca matahari yang bisa
berubah - ubah karena gerak semu harian. Perancangan sistem pembangkit tenaga
surya pasti membutuhkan MPPT (Maximum Power Point Tracker) untuk
memperoleh daya maksimum keluaran panel surya. Pada proyek akhir ini, daya
maksimum panel surya dicari menggunakan algoritma Two-Model MPPT
Control. Algoritma ini adalah hasil kombinasi Incremental Conductance dan
Constant Voltage, yang diklaim dapat bekerja pada iradiasi yang kerap berubah.
Metode Two-Model ini digunakan untuk mencari tegangan pada saat daya
maksimum dalam setiap waktu. Sebagai aktuator dari MPPT, adalah konverter DC
tipe Zeta yang dapat menaikkan dan menurunkan tegangan kerja panel surya
hingga daya masukan konverter berada di titik maksimum. Dari pengujian
integrasi sistem, daya yang dihasilkan antara lain pada pukul 11.00 WIB dengan
panel surya 120 WP, beban baterai 12 Volt 35 Ah, menghasilkan daya tanpa
MPPT sebesar 39,01 Watt, dan daya MPPT sebesar 39,68 Watt. Kenaikan daya
sebesar 1,7%.
2.2 Photovoltaic
Sel surya atau juga sering disebut Photovoltaic adalah divais yang mampu
mengkonversi langsung cahaya matahari menjadi listrik. Sel surya bisa disebut
6
sebagai pemeran utama untuk memaksimalkan potensi sangat besar energi cahaya
matahari yang sampai kebumi, walaupun selain dipergunakan untuk menghasilkan
listrik, energi dari matahari juga bisa dimaksimalkan energi panasnya melalui
sistem solar thermal. Sel surya dapat dianalogikan sebagai divais dengan dua
terminal atau sambungan, dimana saat kondisi gelap atau tidak cukup cahaya
berfungsi seperti dioda, dan saat disinari dengan cahaya matahari dapat
menghasilkan tegangan. Ketika disinari, umumnya satu sel surya komersial
menghasilkan tegangan dc sebesar 0,5 sampai 1 volt, dan arus short-circuit dalam
skala milliampere per cm2.
Besar tegangan dan arus ini tidak cukup untuk berbagai aplikasi, sehingga
umumnya sejumlah sel surya disusun secara seri membentuk modul surya. Satu
modul surya biasanya terdiri dari 28-36 sel surya, dan total menghasilkan
tegangan dc sebesar 12 V dalam kondisi penyinaran standar (Air Mass 1.5).
Modul surya tersebut bisa digabungkan secara paralel atau seri untuk
memperbesar total tegangan dan arus outputnya sesuai dengan daya yang
dibutuhkan untuk aplikasi tertentu. Gambar dibawah menunjukan ilustrasi dari
modul surya.
1
[Link]
7
sel surya yang umum berada dipasaran saat ini yaitu sel surya berbasis material
silikon yang juga secara umum mencakup struktur dan cara kerja sel surya
generasi pertama (sel surya silikon) dan kedua (thin film/lapisan tipis).
Gambar 2.2. Struktur dari sel surya komersial yang menggunakan material
silikon sebagai semikonduktor.2
Gambar diatas menunjukan ilustrasi sel surya dan juga bagian-bagiannya. Secara
umum terdiri dari :
1. Substrat/Metal Backing
Substrat adalah material yang menopang seluruh komponen sel surya.
Material substrat juga harus mempunyai konduktifitas listrik yang baik karena
juga berfungsi sebagai kontak terminal positif sel surya, sehingga umumnya
digunakan material metal atau logam seperti aluminium atau molybdenum. Untuk
sel surya dye-sensitized (DSSC) dan sel surya organik, substrat juga berfungsi
sebagai tempat masuknya cahaya sehingga material yang digunakan yaitu material
yang konduktif tapi juga transparan sepertindium tin oxide (ITO) dan flourine
doped tin oxide (FTO).
2. Material Semikonduktor
Material semikonduktor merupakan bagian inti dari sel surya yang
biasanya mempunyai tebal sampai beberapa ratus mikrometer untuk sel surya
2
[Link]
8
generasi pertama (silikon), dan 1-3 mikrometer untuk sel surya lapisan tipis.
Material semikonduktor inilah yang berfungsi menyerap cahaya dari sinar
matahari. Untuk kasus gambar diatas, semikonduktor yang digunakan adalah
material silikon, yang umum diaplikasikan di industri elektronik. Sedangkan untuk
sel surya lapisan tipis, material semikonduktor yang umum digunakan dan telah
masuk pasaran yaitu contohnya material Cu(In,Ga)(S,Se)2 (CIGS), CdTe
(kadmium telluride), dan amorphous silikon, disamping material-material
semikonduktor potensial lain yang dalam sedang dalam penelitian intensif
seperti Cu2ZnSn(S,Se)4 (CZTS) dan Cu2O (copper oxide).
Bagian semikonduktor tersebut terdiri dari junction atau gabungan dari dua
material semikonduktor yaitu semikonduktor tipe-p (material-material yang
disebutkan diatas) dan tipe-n (silikon tipe-n, CdS,dll) yang membentuk p-n
junction. P-n junction ini menjadi kunci dari prinsip kerja sel surya. Pengertian
semikonduktor tipe-p, tipe-n, dan juga prinsip p-n junction dan sel surya akan
dibahas dibagian cara kerja sel surya.
3. Kontak Metal / Contact Grid
Selain substrat sebagai kontak positif, diatas sebagian material
semikonduktor biasanya dilapiskan material metal atau material konduktif
transparan sebagai kontak negatif.
4. Lapisan Antireflektif
Refleksi cahaya harus diminimalisir agar mengoptimalkan cahaya yang
terserap oleh semikonduktor. Oleh karena itu biasanya sel surya dilapisi oleh
lapisan anti-refleksi. Material anti-refleksi ini adalah lapisan tipis material dengan
besar indeks refraktif optik antara semikonduktor dan udara yang menyebabkan
cahaya dibelokkan ke arah semikonduktor sehingga meminimumkan cahaya yang
dipantulkan kembali.
5. Enkapsulasi / Cover Glass
Bagian ini berfungsi sebagai enkapsulasi untuk melindungi modul surya
dari hujan atau kotoran.
Sel surya konvensional bekerja menggunakan prinsip p-n junction, yaitu
junction antara semikonduktor tipe-p dan tipe-n. Semikonduktor ini terdiri dari
ikatan-ikatan atom yang dimana terdapat elektron sebagai penyusun dasar.
9
Gambar 2.3. Junction antara semikonduktor tipe-p (kelebihan hole) dan tipe-n
(kelebihan elektron)3.
3
[Link]
10
(2.1)
Keterangan :
Peran dari p-n junction ini adalah untuk membentuk medan listrik
sehingga elektron (dan hole) bisa diekstrak oleh material kontak untuk
menghasilkan listrik. Ketika semikonduktor tipe-p dan tipe-n terkontak, maka
kelebihan elektron akan bergerak dari semikonduktor tipe-n ke tipe-p sehingga
membentuk kutub positif pada semikonduktor tipe-n, dan sebaliknya kutub negatif
pada semikonduktor tipe-p. Akibat dari aliran elektron dan hole ini maka
terbentuk medan listrik yang mana ketika cahaya matahari mengenai susuna p-n
junction ini maka akan mendorong elektron bergerak dari semikonduktor menuju
kontak negatif, yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai listrik, dan sebaliknya hole
11
Gambar [Link] cara kerja sel surya dengan prinsip p-n junction.4
Daya listrik yang dihasilkan panel surya ketika mendapat cahaya diperoleh
dari kemampuan perangkat panel surya tersebut untuk memproduksi tegangan dan
mengeluarkan arus ketika diberi beban pada waktu yang sama. Kemampuan ini
direpresentasikan dalam kurva arus-tegangan (I-V) dan kurva daya tegangan (P-
V) sesuai pada Gambar 2.6.
Keterangan :
Isc = Arus hubung singkat.
4
[Link]
Kartika Novi Hardini, Optimalisasi PV Menggunakan Teknik MPPT dengan Fuzzy Logic
5
rendah, yaitu antara 13% sampai 16%. Biaya pembuatan jenis panel surya
polycrystalline lebih rendah jika dibandingkan dengan jenis panel surya
monocrystalline sehingga harga sel surya polycrystalline masih di bawahnya.
Wujud dari polycrystalline mirip dengan motif kaca pecah. Ketika disusun untuk
membentuk panel surya, dapat menjadi lebih rapat sehingga tidak ada ruangan
yang kosong. Selain itu, pembuatannya tidak memerlukan proses yang rumit
sehingga ongkos produksinya jadi lebih murah.
Di pasaran Indonesia, harga panel surya polycrystalline mulai 200 ribu hingga 6,5
juta rupiahtergantung pada merk, kualitas hingga kapasitas panel surya itu sendiri.
Harga panel surya ini dapat berubah sewaktu-waktu. Ukuran kapasitasnya mulai
dari 10 WP, 20 WP, 50 WP, 80 WP, 100 WP dan hingga ratusan WP.
3. Thin Film Solar Cell atau TFSC
Jenis panel surya ketiga dinamakan thin film solar cell atau disingkat
TFSC. Komponen pembangkit listrik tenaga surya ini diproduksi melalui teknik
penambahan satu atau beberapa lapisan bahan sel surya yang bentuknya tipis
dalam lapisan paling bawah. Bentuknya sangat tipis dan ringan.
Adapun bahan atau material yang dipakai untuk membuat komponen yang
digunakan dalam pembangkit listrik energi surya ini ada 3 macam. Pertama ialah
amorphous sillicon solar cells yang pada zaman dulu sering dipakai sebagai
sumber energi pada mesin kalkulator atau jam tangan.
Material kedua adalah cadmium telluride solar cells. Bahan ini mempunyai
tingkat efisiensi 9% hingga 11%. Kemudian yang terakhir adalah copper indium
gallium selenide solar cells. Tingkat efisiensinya antara 10% sampai 12% dan
tidak mengandung material berbahaya. Jadi lebih aman digunakan.
sesuai dengan besarnya beban yang digunakan, pada pembuatan skripsi ini pada
saat charging menggunakan Sepic Converter dan pada saat Discharge
menggunakan Zeta Converter.
Ketika saklar S1 diaktifkan, arus IL1 meningkat dan arus IL2 berjalan lebih
negatif. Energi untuk meningkatkanIL1 saat ini berasal dari sumber input (VIN ).
Sejak S1 beberapa saat tertutup, dan tegangan VC1 sesaat adalah sama dengan VIN ,
danteganganVL2 adalah sama dengan VIN . Oleh karenaitu, kapasitor C1 memasok
energy untuk meningkatkan besarnya arus dalam IL2 dan dengan demikian
meningkatkan energi yang tersimpan di L2.
Gambar 2.8. Rangkaian Daya DC Chopper Tipe Sepic Switching Saat Close
Ketika saklar S1 dimatikan, arus IC1 menjadi sama dengan IL1 dan arus IL2
akan terus ke arah negatif. Hal ini dapat dilihat dari gambar 2.9. bahwa IL2 negatif
16
Gambar 2.9. Rangkaian Daya DC Chopper Tipe Sepic Switching Saat Open
Arus yang melalui L1 (hijau) dan arus melalui L2 (merah) menghasilkan arus yang
melalui beban
Kapasitor Cin diperlukan untuk mengurangi efek dari induktansi parasit dan
resistansi internal dari pasokan [Link] meningkatkan / menurunkan
dari SEPIC yang mungkin karena kapasitor C1 dan induktor L2. Induktor L1 dan
saklar S1 membuat converter menjadi topologi boost converter, yang
menghasilkan tegangan (VS1 ) yang lebih tinggi dari VIN ,. Karena rata-rata
tegangan C1 adalah VIN , tegangan output (VO) adalah VIN - VS1 Jika VS1 kurang
dari dua kali lipat VIN , maka tegangan output akan kurang dari tegangan input.
Jika VS1 lebih besar dari dua kali lipat VIN , maka tegangan output akan lebih besar
dari tegangan input.
17
IL1b
Cc L1b
Q is On
D Cout R Vout
Vin L1a
IL1
a
6Ibid hal. 4
18
Saat Q dalam kondisi On atau tertutup, seperti pada Gambar 2.4, yaitu dari t
= 0 sampai t = D T, arus pada induktor dapat ditulis:
= (2.2)
Sehingga nilai perubahan arus pada induktor saat akhir dari kondisi on
adalah
= 0 = 0 = (2.3)
Cc L1b
Q is Off
IL1b
D Cout R Vout
Vin L1a
IL1a
Pada saat kondisi off atau saklar terbuka, seperti pada Gambar 2.12., arus
pada induktor dapat dirumuskan :
0
= (2.4)
Energi yang di di simpan pada induktor harus sama pada saat awal dan akhir
pensaklaran. Rumus energi pada induktor adalah
7Ibid hal. 4
19
1
= 2 (2.6)
2
Karena total energi yang disimpan pada induktor harus sama dengan nol
pada setiap cycle, maka
+ = 0 (2.8)
= 1 (2.10)
= (2.11)
+
Keterangan :
Vi = Tegangan
Il = Arus induktor
t = Waktu
D = Duty Cycle
T = Periode
L = Induktor
E = Energi
PWM yang paling sederahana adalah dengan cara membandingkan sebuah sinyal
segitiga atau gigi gergaji dengan tegangan referensi seperti yang terlihat pada
Gambar 2.14. Gelombang segitiga atau gigi gergaji sebagai frekuensi pembawa
yang juga merupakan frekuensi sinyal luaran PWM. Sedangkan tegangan referensi
adalah tegangan yang menentukan besarnya duty cycle dari luaran sinyal PWM.
8
[Link]
21
maka variabel yang dipakai adalah TCNT1 dan OCR1.TCNT1 adalah suatu
variabel yang nilainya terus bertambah setiap satu satuan waktu (bergantung pada
setting timer) yang jika dianalogikan ke rangkaian analog adalah sinyal ramp.
Sedangkan OCR1 adalah suatu variabel yang berfungsi sebagai nilai referensi
kapan output PWM berubah dari high ke low ataupun sebaliknya. Keadaan ini
dapat diilustrasikan seperti Gambar 2.15.
t
1023 1023 1023 1023
0 OCR1 OCR1 OCR1 OCR1
0 0 0
Saat nilai tegangan referensi lebih besar dari tegangan carrier (gigi gergaji)
maka output comparator akan bernilai high. Namun saat tegangan referensi
bernilai lebih kecil dari tegangan carrier, maka output comparator akan bernilai
low. Dengan memanfaatkan prinsip kerja dari komparator inilah, untuk mengubah
duty cycle dari sinyal output cukup dengan mengubah-ubah besar tegangan
referensi. Besarnya duty-cycle rangkaian PWM ini
(2.12)
2.5. Relay
Di dalam operasi pengisian baterai, dibutuhkan komponen pemutus aliran
daya. Pemutusan aliran daya bertujuan untuk pemutushubungan pengisian baterai
pada saat baterai sudah terisipenuh,memutuskan hubungan ketika short circuit,
dan mengalirkan arus dari baterai ke beban. Komponen tersebut bisa berupa relay
mekanik yang digerakkan oleh elektromagnet. Tipe relay yang dipakai pada
proyek akhir ini adalah tipe SPDT dengan bentuk fisik seperti Gambar 2.16.
(a) (b)
23
Gambar 2.16. (a)Simbol relay SPDT (b) Relay 5 Volt DC tipe SPDT9.
2.6. Baterai
Baterai adalah alat penyimpan tenaga listrik arus searah (DC). Ada
beberapa jenis baterai / aki di pasaran yaitu jenis aki basah/ konvensional, hybrid
dan MF (Maintenance Free). Aki basah/konvensional berarti masih menggunakan
asam sulfat (H2SO4) dalam bentuk cair. Sedangkan aki MF sering disebut juga
9
[Link]
24
aki kering karena asam sulfatnya sudah dalam bentuk gel/selai. Dalam hal
mempertimbangkan posisi peletakannya maka aki kering tidak mempunyai
kendala, lain halnya dengan aki basah.
Aki konvensional juga kandungan timbalnya (Pb) masih tinggi sekitar
2,5%untuk masing-masing sel positif dan negatif. Sedangkan jenis hybrid
kandungan timbalnya sudah dikurangi menjadi masing-masing 1,7%, hanya saja
sel negatifnya sudah ditambahkan unsur Calsium. Sedangkan aki MF / aki kering
sel positifnya masih menggunakan timbal 1,7% tetapi sel negatifnya sudah tidak
menggunakan timbal melainkan Calsium sebesar 1,7%. Pada Calsium battery
Asam Sulfatnya (H2SO4) masih berbentuk cairan, hanya saja hampir tidak
memerlukan perawatan karena tingkat penguapannya kecil sekali dan
dikondensasi kembali. Teknologi sekarang bahkan sudah memakai bahan silver
untuk campuran sel negatifnya.
E. Pemakaian dari aki itu sendiri apakah untuk kebutuhan rutin yang sering
dipakai ataukah cuma sebagai back-up saja. Aki basah, tegangan dan
kapasitasnya akan menurun bila disimpan lama tanpa recharge, sedangkan aki
kering relatif stabil bila di simpan untuk jangka waktu lama tanpa recharge.
F. Harga karena aki kering mempunyai banyak keunggulan maka harganya pun
jauh lebih mahal daripada aki basah. Untuk menjembatani rentang harga yang
jauh maka produsen aki juga memproduksi jenis aki kalsium (calcium battery)
yang harganya diantara keduanya.
10
[Link]
26
diterapkan pada sistem surya industri-industri berat. Misalnya, aki AGM terdapat
di dalam pesawat terbang, rumah sakit dsb. Kualitas aki AGM juga sangat bagus
dan bisa tahan lama. Aki Sun Xtender adalah contoh jenis AGM.
11
[Link]
28
Vin
.I= (2.13)
R1+R2
= 2 (2.14)
Vin x R2
. Vout = (2.15)
R1+R2
29