BAB II
KAJIAN TEORITIS TENTANG FOOD CAPTURE DALAM OFFICIAL
ACCOUNT INSTAGRAM @KULINERSBY
A. Media Sosial
Media jejaring sosial merupakan nama lain dari social media
online. Media jejaring sosial dikategorikan ke dalam social media
online bukan mass media online, karena memiliki kekuatan sosial
yang sangat mempengaruhi opini publik yang berkembang di
masyrakat. Selain mempunyai kekuatan sosial, politik dan budaya
media jejaring sosial juga memiliki kekuatan lain dari perspektif
komunikasi selain sebagai alat atau media komunikasi, berperan untuk
membentuk publisitas dan pencitraan inidividu atau lembaga1.
Media sosial atau dalam bahasa inggris Social Media menurut
tata bahasa, terdiri dari kata social yang memiliki arti
kemasyarakatan atau sebuah interaksi dan Media adalah sebuah
wadah atau tempat sosial itu sendiri.
Media sosial adalah sebuah media online, dengan para
penggunanya dapat dengan mudah berpartisipasi, berbagi dan
menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia
virtual2.
Menurut Andreas Kaplan dan Michael Haenlein dalam Abbas
mendefinisikan media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi
berbasis internet yang dibangun di atas dasar ideologi dan teknologi
1
Elvinaro Ardianto, Komunikasi 2.0: Teoritisasi dan Implikasi, (Bandung: ASPIKOM, 2011),
hlm: xii-xiii.
2
Ibid.
42
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
43
web 2.0 dan memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-
generated content. Web 2.0 menjadi platform dasar media sosial.
Media sosial ada dalam berbagai bentuk yang berbeda, termasuk
sosial network, forum internet, weblogs, sosial blogs, micro blogging,
wiki, podcasts, gambar, video, ratting dan bookmark sosial3.
Media sosial (social media) telah menjadi bagaian dari
kehidupan manusia modern saat ini. Diperkirakan yang akan menjadi
trend adalah 3S, yakni Social, Share and Speed. Social adalah
bagaimana seseorang terhubung dengan orang lain dan saling berbagi.
Share adalah bagaimana seseorang membagikan pengalamannya
kepada orang lain, melalui teks, foto, video, apapun itu, melalui
jejaring social. Speed bagaimana jejaring sosial bisa memberikan
informasi yang sangat cepat, melebihi kecepatan wartawan
menuliskan berita.
Salah satu yang menarik dari media sosial adalah sesama
pengguna akan memiliki konstruksi identitas masing-masing. Bagi
sesama pengguna yang belum saling mengenal atau belum berteman
di dunia nyata, mereka akan saling membayangkan profil berdasarkan
elemen-elemen yang ada di akun masing-masing. Sementara untuk
sesama pengguna yang sudah saling mengenal, proses melakukan
imajinasi terhadap pengguna yang lain sudah tidak berada lagi pada
level siapa dia tetapi pada level sedang apa. Misalkan jika dua
orang teman sekelas yang sudah saling mengenal, maka dalam media
3
M. Rifai Abbas, dkk, Panduan Optimalisasi Media Sosial Untuk Kementrian Perdagangan RI,
(Jakarta: Pusat Hubungan Masyarakat, 2014), hlm: 26.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
44
sosial mereka lebih memfokuskan komunikasi pada sedang
melakukan apa atau apa yang sedang terjadi pada dirinya4.
1. Karakteristik Media Sosial
Dari berbagai penjelasan mengenai media sosial, Abbas
menyebutkan karakteristik dari media sosial sebagaimana
berikut5:
a. Content yang disampaikan dan dibagikan kepada banyak
orang dan tidak terbatas pada satu orang tertentu.
b. Isi pesan muncul tanpa melalui suatu gatekeeper dan
tidak ada gerbang penghambat.
c. Isi disampaikan secara online dan langsung.
d. Content dapat diterima secara online dalam waktu lebih
cepat dan bisa juga tertunda penerimaannya tergantung
pada waktu interaksi yang ditentukan sendiri oleh
pengguna.
e. Media sosial menjadikan penggunanya sebagai creator
dan aktor yang memungkinkan dirinya untuk
beraktualisasi diri.
f. Dalam content media sosial terdapat sejumlah aspek
fungsional seperti identitas, percakapan (interaksi),
berbagi (sharing), kehadiran (eksis), hubungan (relasi),
reputasi (status) dan kelompok (group).
4
Jandy E. Luik, Media Sosial dan Presentasi Diri, Jurnal APISKOM Prodi Ilmu Komunikasi
Universitas Kristen Petra Surabaya 2011 Vol 2 Tahun , hlm: 7.
5
M. Rifai Abbas, dkk, Panduan Optimalisasi Media Sosial Untuk Kementrian Perdagangan RI,
(Jakarta: Pusat Hubungan Masyarakat, 2014), hlm: 27.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
45
2. Jenis-Jenis Media Sosial
Kaplan & Haenlein dalam Abbas membuat klasifikasi untuk
berbagai jenis media sosial yang ada berdasarkan ciri-ciri
penggunaannya. Menurut Kaplan & Haenlein, pada dasarnya
media sosial dapat dibagi menjadi enam jenis, antara lain yaitu6:
a. Proyek kolaborasi, yaitu sebuah website yang
mengizinkan user-nya mengubah, menambah dan
membuang content-content yang berada di website,
contohnya Wikipedia.
b. Blog dan microblog, yaitu user bebas mengekpresikan
sesuatu seperti curhat/kritik terhadap kebijakan
pemerintah, contohnya Twitter.
c. Content yaitu user dan pengguna website untuk saling
share content, seperti video, gambar, suara, contohnya
YouTube, SoundCold, Tumblr dan lainnya.
d. Situs jejaring sosial yaitu sebuah aplikasi yang
mengizinkan user saling terhubung dengan orang lain dan
berisikan informasi pribadi dan dapat dilihat orang lain,
contohnya Facebook, Blackberry Messanger, Messanger,
Path, WatsApp dan sebagainya.
e. Virtual Game World yaitu dunia virtual yang
menggunakan teknologi 3D, dimana user berbentuk avatar
6
Ibid, hlm: 28.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
46
dan berinteraksi dengan orang lain, contohnya Games
Online.
f. Virtual Sosial World yaitu dunia virtual yang user merasa
hidup di dunia maya dan berinteraksi dengan yang lain,
contohnya Second Life.
3. Peran Media Sosial
Peran media sosial dalam kehidupan sosial, terutama dalam
masyarakat modern telah memainkan peranan yang begitu
penting. Menurut McQuail dalam Setiawan ada enam perspektif
dalam hal melihat peran media yaitu7:
a. Melihat media sosial seabagai window on event and
experience. Media dipandang sebagai jendela yang
memungkinkan masyarakat melihat apa yang sedang terjadi
di luar sana. Atau media merupakan sarana belajar untuk
mengetahui berbagai peristiwa.
b. Media juga sering dianggap sebagai a mirror of event in
society and the world, implying a faithful reflection. Cermin
berbagai peristiwa yang ada di masyarakat dan dunia, yang
merefleksikan apa adanya. Karenanya para pengelola media
sering merasa tidak bersalah jika isi media penuh dengan
kekerasan, konflik, pornografi dan berbagai keburukan lain,
karena memang menurut mereka faktanya demikian, media
hanya sebagai refleksi fakta, terlepas dari suka atau tidak
7
Awan Setiawan, Becoming Radio Star, (Bandung:Simbiosa Rektama Media, 2008), hlm: 2.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
47
suka. Padahal sesungguhnya, angle, arah dan framing dari
isi yang dianggap sebagai cermin realitas tersebut
diputuskan oleh para profesional media dan masyarakat
tidak sepenuhnya bebas untuk mengetahui apa yang mereka
inginkan.
c. Memandang media sosial sebagai filter atau gatekeeper
yang menyeleksi berbagai hal untuk diberi perhatian atau
tidak. Media senantiasa memilih isu, informasi atau bentuk
content yang lain berdasar standar para pengelolanya. Disini
khalayak dipilihkan oleh media tentang apa-apa yang
layak diketahui dan mendapat perhatian.
d. Media sosial seringkali pula dipandang sebagai guide,
penunjuk jalan atau interpreter yang menerjemahkan dan
menunjukkan arah atas berbagai ketidakpastian atau
alternatif yang beragam.
e. Melihat media sosial sebagai forum untuk
mempresentasikan berbagai informasi dan ide-ide kepada
khalayak, sehingga memungkin terjadinya tanggapan dan
umpan balik.
f. Media sosial sebagai interlocutor, yang tidak hanya sekadar
tempat berlalu lalangnya informasi, tetapi juga partner
komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi
interaktif.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
48
Berdasarkan ke enam peran media sosial tersebut dapat
disimpulkan peran media massa dalam kehidupan sosial bukan
sekedar sarana diversion, pelepas ketegangan atau hiburan, tetapi
isi dan informasi yang disajikan mempunyai peran yang
signifikan dalam proses sosial. Isi media sosial merupakan
konsumsi otak bagi masyarakatnya, sehingga apa yang ada di
media sosial akan mempengaruhi realitas subjektif pelaku
interaksi sosial.
Gambaran tentang realitas yang dibentuk oleh isi media
sosial inilah yang nantinya mendasari respon dan sikap
masyarakat terhadap berbagai obyek sosial. Segala macam
informasi yang disodorkan oleh media sosial akan memunculkan
gambaran terhadap obyek sosial.
B. Pemahaman Interpretasi Khalayak Aktif
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia interpretasi adalah sebuah
pemberian kesan, pendapat atau pandangan teoritis terhadap sesuatu
dan tafsiran. Fungsi penafsiran hampir mirip dengan fungsi
pengawasan. Media massa tidak hanya memasok fakta dan data tetapi
juga memberikan penafsiran terhadap kejadiankejadian penting.
Organisasi atau industri media memilih dan memutuskan peristiwa
peristiwa yang dimuat atau dinyatakan. Tujuan penafsiran media ini
ingin mengajak para pembaca atau pemirsa untuk memperluas
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
49
wawasan dan membahasnya lebih lanjut ketika terjadi proses
komunikasi baik secara interpersonal maupun antarpersonal.8
Interpretasi atau penafsiran adalah proses komunikasi melalui
lisan atau gerakan antara dua atau lebih pembicara yang tak dapat
menggunakan simbol-simbol yang sama, baik secara simultan (dikenal
sebagai interpretasi simultan) atau berurutan (dikenal sebagai
interpretasi berurutan)9. Menurut definisi, interpretasi hanya
digunakan sebagai suatu metode jika dibutuhkan. Jika suatu obyek
(karya seni, ajaran dan lain-lain) cukup jelas maknanya, obyek
tersebut tidak akan mengundang suatu interpretasi. Istilah interpretasi
sendiri dapat merujuk pada proses penafsiran yang sedang
berlangsung atau hasilnya. Suatu interpretasi dapat merupakan bagian
dari suatu presentasi atau penggambaran informasi yang diubah untuk
menyesuaikan dengan suatu kumpulan simbol spesifik. Informasi itu
dapat berupa lisan, tulisan, gambar, matematika atau berbagai bentuk
bahasa lainnya.
Khalayak aktif, menurut Stuart Hall lebih memperhatikan
audiens sebagai penonton media dalam hal melakukan pengawasan
diri atau decoding terhadap teks media yang diterimanya10. Penelitian
khalayak analisis resepsi menurutnya memfokuskan pada
perhatian individu dalam proses komunikasi massa dalam decoding,
8
Elvinaro Ardianto dan Lukiati Komala Erdinaya, Komunikasi Massa Suatu Pengantar,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm: 16-17.
9
Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra, (Yogyakarta: PT. Buku Seru, 2013), hlm:
110.
10
Chris Barker, Cultural Studies: Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2008), hlm:
237.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
50
yaitu pada proses pemaknaan dan pemahaman yang mendalam atas
teks media dan bagaimana individu menginterpretasikan isi media11.
Khalayak aktif menurut Mark Levy dan Sven Windahl (1985)
dalam Richard dan Turner menyatakan istilah aktivitas khalayak
merujuk pada orientasi sukarela dan selektif oleh khalayak terhadap
proses komunikasi. Singkatnya, hal ini menyatakan bahwa
penggunaan media dimotivasi oleh kebutuhan dan tujuan yang
didefinisikan oleh khalayak itu sendiri dan bahwa partisipasi aktif
dalam proses komunikasi mungkin difasilitasi, dibatasi atau
mempengaruhi kepuasan dan pengaruh yang dihubungkan oleh
eksposur. Pemikiran terbaru juga mengatakan bahwa aktivitas
khalayak paling baik dikonseptualisasikan sebagai sebuah variable
konstruk dengan khalayak mempertunjukkan berbagai jenis dan
tingkat aktivitas12.
Sedangkan menurut Jay G. Blumler (1979) dalam Richard
dan Turner juga menjelaskan beberapa jenis aktivitas khalayak yang
dapat dilakukan oleh konsumen media termasuk didalamnya13:
1. Kegunaan, yaitu menggunakan media untuk menyelesaikan
tugas-tugas tertentu. Misalnya: orang mendengarkan radio di
mobil untuk mendapatkan informasi di lalu lintas.
11
Stanley J. Baran, Pengantar Komunikasi Massa: Literasi Media dan Budaya Edisi Kelima,
(Jakarta: Salemba Humanika, 2010), hlm: 257.
12
Richard West dan Lynn Turner, Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi, (Jakarta:
Salemba Humanika, 2008), hlm: 109.
13
Ibid, hlm: 110.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
51
2. Kesenjangan, yaitu terjadi ketika motivasi awal orang
menentukan penggunaan media. Contohnya: ketika orang
ingin dihibur mereka menonton komedi.
3. Selektivitas, yaitu penggunaan media oleh anggota khalayak
untuk menununjukkan minat mereka. Contoh: ketika
menyukai musik pop maka akan melihat tayangan musik pop.
4. Kesulitan untuk mempengaruhi, yaitu menunjuk pada
anggota khalayak yang mengkonstruksikan makna mereka
sendiri dari isi dan mempengaruhi apa yang mereka fikirkan
dan lakukan. Contoh: orang membeli produk berdasarkan
kualitas dan nilai daripada berdasarkan kampanye periklanan.
C. Instagram Sebagai Foto
Instagram adalah photo sharing yang sangat populer karena
memiliki nilai tambah dalam hal efek-efek. Instagram menggunakan
mekanisme menyerupai twitter, dimana kita bisa memfollow orang
lain dan para penggemar bisa memfollow kita balik. Selanjutnya kita
dapat bertukar komentar. Alasan paling tepat mengapa instagram
populer adalah karena memiliki banyak efek instant yang menarik.
Sebagian besar efek yang ada dalam aplikasi ini mampu mengubah
foto apapun menjadi tampak lebih artistik. Selain itu instagram juga
mendukung perekaman video yang bisa diberi efek-efek artistik14.
Gambar 2. 1
14
Jubilee Enterprise, 100 Aplikasi Android Paling Dahsyat, (Jakarta: Elex Media Komputindo,
2013), hlm: 6.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
52
Logo Instagram Versi 10.1. 0
Sumber: Website Instagram
Ciri khas Instagram adalah hasil fotonya yang berupa persegi,
mirip dengan produk Kodak Instamatic dan gambar-gambar yang
dihasilkan oleh foto Polaroid berbeda dengan kamera modern yang
biasanya memiliki bentuk persegi panjang atau dengan rasio
perbandingan bentuk 16: 9.
Gambar 2. 2
Tampilan Instagram pada smartphone
Sumber: Dokumen Pribadi Peneliti
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
53
Instagram diciptakan oleh Kevin Systrom dan Mike Krieger,
dua sarjana dari Stanford University di Amerika Serikat. Mereka
berdua meluncurkan Instagram pada bulan Oktober 2010. Layanan
Instagram yang tadinya masih berupa aplikasi smartphone ini
mendapatkan popularitas yang tinggi dalam waktu cepat, dengan lebih
dari 100 juta pengguna yang terdaftar (dan sekitar 90 juta pengguna
aktif bulanan) per Januari 2013. Ini berarti hanya dalam kurun waktu 3
tahun saja, jumlah pengguna Instagram sudah mencapai ratusan juta.
Instagram saat ini dapat diakses melalui Apple App Store dan Google
Play. Pada awalnya Instagram hanya tersedia untuk smartphone milik
Apple, seperti: iPhone, iPad dan iPod Touch. Kemudian sejak bulan
April 2012, fasilitas Instagram mulai diintegrasikan untuk ponsel
kamera Android sehingga pengguna Android pun bisa mulai
menggunakan Instagram untuk aktivitas sharing foto mereka15.
1. Fitur fitur Dalam Instagram
Menurut Bambang (2012) terdapat beberapa fitur pada
media sosial instagram yakni16:
a. Follower, fitur ini memungkinkan seseorang dapat
berkomunikasi antara sesama pengguna instagram.
15
Wikipedia ([Link] diakses 13 Desember 2016 pukul 14:30
WIB.
16
Bambang Dwi Atmoko, Instagram Handbook Tips Fotografi Ponsel, (Jakarta: Media Kita,
2012), hlm: 53.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
54
b. Kamera, foto yang telah diambil melalui instagram dapat
diolah dengan pengaturan yang tersedia. Ada 16 efek foto
yang bisa digunakan untuk mempercantik foto.
c. Judul foto, berfungsi untuk memberikan judul, menambah
lokasi foto dan memberikan narasi pada foto tersebut.
d. Arroba (@), digunakan untuk menautkan pengguna lain.
Dengan menambahkan tanda arroba (@) dan
memasukkan nama akun instagram orang lain.
e. Label foto atau hashtag (#), sebuah kode yang
memudahkan para pengguna untuk mencari foto dengan
kata kunci tertentu. Label atau hashtag banyak
digunakan untuk melakukan publikasi dan promosi
(komersil maupun non-komersil) agar foto tersebut dapat
dengan mudah ditemukan dan semakin populer.
f. Tanda suka (love), sebagai penanda bahwa pengguna lain
menyukai sebuah foto. Bila sebuah foto menjadi terkenal,
maka secara langsung foto tersebut akan mamsuk ke
halaman populer.
g. Populer, halaman populer merupakan tempat kumpulan
dari foto-foto populer dari seluruh dunia saat itu.
h. Effects Foto, Instagram memiliki efek-efek yang dapat
digunakan oleh user pada saat mereka hendak
menyunting sebuah foto. Efek tersebut terdiri dari: X-Pro
II, Lomo-fi, Earlybird, Sutro, Toaster,Brannan, Inkwell,
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
55
Walden, Hefe, Nashville, Valencia, Amaro, Rise, Hudson
dan Lord Kelvin.
i. Geotagging, yakni identifikasi metadata geografis dalam
sebuah media situs ataupun foto. Bagian geotag akan
muncul ketika user iDevice mengaktifkan GPS mereka di
dalam iDevice mereka tersebut.
j. Jejaring sosial, user tidak hanya berbagi foto di dalam
Instagram, melainkan foto tersebut dapat dibagi juga
melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, Foursquare,
Tumblr, Flickr dan juga posterous yang tersedia di
halaman untuk membagi foto.
Dari beberapa fitur yang terdapat pada instagram
ini, dapat memudahkan user instagram dalam mencari
apapun dalam akun mereka termasuk ketika mereka ingin
mengetahui tentang Surabaya, dapat langsung ditemukan
dan mendapatkan informasi yang berupa foto.
2. Instagram Pada Website
Pada tahun 2012, Instagram membuat profil web
yang memungkinkan pengguna untuk memiliki profil diri
serta menampilkan foto-foto Instagram mereka dalam
tampilan ala sosial media.
Gambar 2. 3
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
56
Screenshot Tampilan Instagram via Website
[Link]
Sumber: Dokumen Pribadi Peneliti
Pengguna Instagram dapat menjangkau jauh lebih
banyak pembaca/ pengunjung melalui tampilan baru
tersebut. Publik yang tidak memiliki akun Instagram juga
dapat menikmati seluruh foto yang ada di Instagram
melalui website ini tanpa harus melakukan pendaftaran
terlebih dahulu.
3. Instagram Sebagai Media Representasi Kuliner Kota
Surabaya
Sosial media berkembang begitu pesat dan hampir
semua orang menggunakan situs-situs jejaring sosial.
Sosial media saat ini sudah menjadi ruang publik. Ratusan
juta orang mengaksesnya hampir setiap hari dan setiap
waktu. Hal ini semakin didukung dengan adanya
smartphone yang dilengkapi dengan fitur kamera.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
57
Sehingga khalayak dapat dengan mudah mengunggah foto
yang sudah diambil melalui kamera smartphone ke media
sosial yang dimilikinya. Salah satu aplikasi sosial media
yang saat ini sedang banyak digunakaan adalah Instagram.
Instagram dapat diakses melalui berbagai perangkat
elektronik, selama perangkat tersebut terhubung dengan
fasilitas internet. Foto yang dihasilkan di Instagram dapat
dipergunakan untuk berbagai tujuan, mulai dari berbagi
kehidupan pribadi hingga informasi yang penting bagi
khalayak luas.
Berbicara mengenai gambar atau foto tidak terlepas
dari berbagai macam representasi yang dibawanya.
Representasi merujuk kepada konstruksi segala bentuk
media (terutama media massa) terhadap segala aspek
realitas kenyataan, seperti masyarakat, objek, peristiwa
hingga identitas budaya. Representasi ini bisa berbentuk
kata-kata atau tulisan bahkan juga dapat dilihat dalam
bentuk gambar atau foto17. Gambar atau foto
bagaimanapun hanya menyajikan representasi dari realitas.
Adanya penambahan fitur atau effect dalam media
sosial Instagram merupakan sebuah tindakan
menampilkan diri yang dilakukan oleh setiap individu
untuk mencapai sebuah citra diri yang diharapkan. Media
17
Daniel 2010, Media Representation,
[Link] diakses Rabu 9 Nopember 2016
pukul 09.00 WIB
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
58
sosial kini menjadi ruang untuk mempresentasikan diri
yang membuat setiap pengguna menjadi pengirim
sekaligus penerima pesan, meningkatkan variasi atau
memberikan ruang yang luas dalam presentasi diri.
Representasi diartikan sebagai perwakilan atas
sesuatu. Melalui media foto sebuah peristiwa diabadikan
dalam materi tertentu, kemudian dihadirkan kembali.
Sesuai dengan fungsinya yaitu representasi, foto
merupakan salah satu bentuk komunikasi. Foto dianggap
bisa mewakili identitas. Pada titik inilah representasi
penting dibicarakan. Istilah representasi itu sendiri
menunjukkan pada seseorang, satu kelompok, gagasan
atau pendapat tertentu ditampilkan18.
Dalam mempresentasikan diri, para pengguna media
sosial harus mengatur penampilan mereka dengan
berbagai strategi. Dengan demikian, pengguna media
sosial harus memiliki strategi dalam mengkonstruksi
identitasnya. Jones (1990) dalam Lusiana dan Widjarnako
menyatakan rangkuman dari lima strategi dalam
konstruksi presentasi diri yang diperoleh dari eksperimen
terhadap situasi interpersonal, yaitu ingratiation, self
18
. Stuart Hall, Representation: Cultural Representations And Signifying Practies, (California:
SAGE Publications, 1997), hlm: 24.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
59
promotion, intimidation, exemplification dan
supplication19.
D. Kulineran Dipahami Sebagai Gaya Hidup
Setiap manusia itu unik, maka gaya hidup mereka pun unik.
Gaya hidup dipahami sebagai tata cara hidup yang mencerminkan
nilai dan sikap dari seseorang. Gaya hidup merupakan adaptasi aktif
individu terhadap kondisi sosial dalam rangka memenuhi kebutuhan
untuk menyatu dan bersosialisasi dengan orang lain. Cara berpakaian,
konsumsi makanan, cara kerja dan bagaimana individu mengisi
kesehariannya merupakan unsur-unsur yang membentuk gaya hidup20.
Gaya Hidup merupakan pola-pola tindakan yang
membedakan antara satu orang dengan orang lain, maksudnya adalah
siapapun yang hidup dalam masyarakat modern akan menggunakan
gagasan tentang gaya hidup untuk menggambarkan tindakannya
sendiri maupun orang lain21. Sedangkan pengertian gaya hidup
menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah: pola tingkah
laku sehari-hari segolongan manusia di dalam masyarakat22.
Persoalan gaya hidup tidak sesederhana seperti halnya potret
kehidupan kelas menengah, Orang Kaya Baru, orang sukses atau
19
Yusida Lusiana dan Wisnu Widjanarko, Memadukan Kearifan Lokal Dan Modernitas Dalam
Pencitraan Suatu Bangsa: Studi Analisis Visual Pada Majalah Nipponia No. 35/2005, Jurnal
Universitas Jendral Soedirman, 2005, hlm: 9.
20
Agung Hujatnikajennong, dkk, Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realitas, (Yogyakarta:
Jalasutra, 2006), hlm: 9.
21
David Chaney, Life Style Sebuah Pengantar Komprehensif, (Yogyakarta: Jalasutra, 1996), hlm:
40.
22
[Link] diakses Senin 29 Nopember 2016, pukul 21.15
WIB.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
60
selebriti di kalangan gaya hidup media popular. Urusan gaya hidup
bukan pula selalu dimonopoli orang berduit. Orang yang miskin
sekalipun masih bisa memakai model gaya hidup tertentu, meskipun
mungkin hanya bersandiwara, meniru-niru atau berpura-pura.
Gaya hidup pada masyarakat saat ini, memang telah
mengalami perubahan yang sangat pesat akibat berkembangnya
tekhnologi. Kita bisa melihat masyarakat dahulu tidak terlalu
mementingkan urusan penampilan dan berbanding terbalik dengan
keadaan saat ini. Mereka, lebih mementingkan urusan penampilan dan
hanya meningkatkan prestise di lingkungannya. Terlebih lagi, gaya
hidup kini bukan lagi monopoli suatu kelas, tapi sudah lintas kelas.
Mana yang kelas atas, menengah dan bawah semua sudah bercampur
baur dan terkadang dipakai berganti-ganti.
Semakin banyaknya pilihan gaya hidup yang kita buat dari
sekian banyak banyak pilihan model gaya hidup yang ditawarkan
dalam masyarakat adalah hasil dari pergulatan diri kita dalam
pencarian identitas dan sensibilitas kita dengan lingkungan di mana
kita hidup. Sekalipun mungkin kita tidak menyadari bahwa kini dalam
banyak hal kita sudah banyak berubah, namun kita tidak tahu persis
apa sebenarnya yang paling dominan yang membentuknya seperti
nilai, cita rasa, gaya hingga tampilan diri kita seperti sekarang ini. Kita
seolah-olah hanya menentukan pilihan dari sekian banya pilihan gaya
hidup23.
23
David Chaney, Life Style Sebuah Pengantar Komprehensif, (Yogyakarta: Jalasutra, 1996), hlm:
12.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
61
Gaya Hidup merupakan gambaran keseluruhan diri seseorang
dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dalam menunjukkan
bagaimana orang mengatur kehidupan pribadinya, kehidupan
masyarakat, perilaku di depan umum dan upaya membedakan
statusnya dari orang lain melalui lambang-lambang sosial.
Ketika suatu gaya hidup menyebar kepada banyak orang dan
menjadi mode yang diikuti, pemahaman terhadap gaya hidup sebagai
satu keunikan tidak memadai dan tidak lagi digunakan. Gaya hidup
bukan lagi semata tata cara atau kebiasaan pribadi dan unik dari
individu, tetapi menjadi sesuatu yang populer diadopsi oleh
sekelompok orang. Sifat unik tidak lagi dijdikan patokan. Istilah gaya
hidup, baik dari sudut pandang individual maupun kolektif
mengandung pengertian bahwa gaya hidup mencakup sekumpulan
kebiasaan, pandangan dan pola respons terhadap hidup serta terutama
perlengkapan untuk hidup24.
Gaya hidup bukan lagi semata-mata tata cara atau kebiasaan
pribadi dan unik dari individu, tetapi menjadi suatu identitas yang
diadopsi oleh sekelompok orang. Sebuah gaya hidup bisa menjadi
populer dan diikuti oleh banyak orang. Mereka tidak segan-segan
mengikutinya jika dianggap baik oleh orang banyak25.
Bagi sebagian orang, berwisata tak hanya jalan-jalan ataupun
berfoto. Tetapi menjadi hal wajib untuk berburu kuliner khas daerah
24
Imy Ferica, Konsumsi Media Sebagai Gaya Hidup: Dominasi Sistem Tanda Dalam Konsumsi
Buku Impor Kaum Urban, Jakarta Volume V. Nomor 3, 2006, September-Desember, hlm 3.
25
Op. Cit, Agung Hujatnikajennong, dkk, Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realktas,
(Yogyakarta: Jalasutra, 2006), hlm: 37.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
62
yang didatangi. Henny R. Udy dalam [Link]
mengungkapkan bahwa kini jelajah kuliner bukan hanya menjadi
kebutuhan pokok, namun juga jadi bagian lifestyle26
Kuliner merupakan kata yang diadopsi dari istilah dalam
bahasa Inggris Culinary. Dalam [Link] didapatkan pengertian
tentang kuliner sebagai berikut:
The word culinary derives from the latin word culina,
meaning kitchen. It is commonly used as reference to things
related to cooking or the culinary profession .The culinary
profession is cooking or preparing food as a profession, i.e.
chefs, restaurant management, dieticians, nutritionists,
etc27.
Sementara menurut kamus Inggris Indonesia John M. Echols,
Culinary diartikan sebagai yang berhubungan dengan dapur atau
masakan28. Dari pengertian di atas dapat diartikan bahwa secara
harfiah kuliner adalah dapur yang biasa digunakan untuk merujuk
pada sesuatu yang berhubungan dengan memasak atau profesi kuliner.
Profesi kuliner sendiri dapat diartikan profesi untuk memasak atau
mempersiapkan makanan seperti cheff, management restaurant, ahli
penata diet, ahli gizi dan sebagainya.
Jadi yang dimaksud dengan kuliner adalah aktivitas atau
kegiatan perjalanan dan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang
26
[Link]
p, diakses Kamis 15 Desember 2016 pukul 09.20 WIB.
27
[Link] diakses Kamis 15 Desember 2016, pukul
09.05 WIB.
28
John M. Echloss, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka, 1993), hlm: 159.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
63
dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati
makanan atau minuman.
Daya tarik utama dalam wisata kuliner atau kulineran adalah
produk makanan. Produk makanan merupakan hasil proses
pengolahan bahan mentah menjadi makanan siap dihidangkan melalui
kegiatan memasak29. Lebih lanjut Davis dan Stone mengemukakan
bahwa karakteristik fisik dari produk makanan dan minuman antara
lain kualitas, penyajian, susunan menu, porsi makanan, siklus hidup
produk, dekorasi ruang maupun pengaturan meja30.
Sebagian makanan dan minuman disajikan dan disediakan di
restoran yaitu suatu tempat atau bangunan yang diorganisir secara
komersial yang menyelenggarakan pelayanan dengan baik kepada
semua tamunya baik berupa makanan maupun minuman31. Selain
restoran, tempat penjualan makanan dan minuman yang banyak
berdiri adalah warung makan yaitu tempat penjualan makanan pokok
dalam skala lebih kecil dan lebih sederhana daripada restoran dan toko
atau pusat jajanan yaitu tempat yang secara khusus hanya menjual
makanan kudapan yang sebagian besar berupa makanan kering
misalnya foodcourt, sentra kuliner dan lainnya32.
E. Food Capture Dalam Bingkai Gaya Hidup Kuliner
29
Farida Arifianti, Strategi Pengembangan Taman Kuliner Condongcatur Depok Sleman Dalam
Meningkatkan Jumlah Kunjungan, Jurnal AMPTA Vol 1 Nomor 2 Tahun 2002, hlm: 38.
30
David Bernard dan Sally Stone, Food and Beverage Management Second Edition, (Oxford:
Butterwort-Heinemann, 1994), hlm : 44.
31
Marsum WA, Restoran dan Segala Permasalahannya, Yogyakarta: Andi Offset, 2005, hlm: 7.
32
Hasan Saputro, HIK Naik Kelas: Kajian Sosial Ekonomi Warung HIK (Hidangan Istimewa
Kampung) di Kota Surakarta Sebagai Usaha Kecil Menengah Berbasis Kerakyatan, Jurnal
Saintestech Politeknik Indonusa Surakarta Vol 2 Nomor 2 Tahun 2004, hlm: 12-13.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
64
Makanan bisa dikatakan seperti halnya fashion, mereka
memiliki trend dan masa kadaluwarsa atas trend itu sendiri, terutama
dalam hal selera. Selera ini tidak hanya berkutat pada rasa saja. Dalam
hal rasa, memang mungkin tidak terlalu berubah dan tergantung pada
referensi seseorang. Tapi selain rasa, makanan memiliki elemen-
elemen lain yang juga sangat berpengaruh pada selera seseorang.
Pengaruh kelima indera dalam suatu makanan memunculkan
persepsi yang bisa membangkitkan selera atau justru mematikannya.
Itu yang menjadikan dunia kuliner cukup dinamis. Kelima indera ini
adalah pengelihatan, pendengaran, aroma, sentuhan dan rasa itu
sendiri.
Selera pada makanan awalnya dapat disebabkan oleh visual atau
penampilan yang tertangkap mata. Penampilan ini bisa berupa bentuk
dari suatu makanan, warnanya hingga ke penataan di piring dan
pemilihan bahan-bahan penghiasnya. Pentingnya visual ini tampak
dari banyaknya industri makanan yang berlomba-lomba meningkatkan
visualisasi makanannya agar dapat memikat pelanggan jauh sebelum
pelanggan bertemu atau mengenal mereka.
Pilihan atau trend visual dari makanan sendiri amat dipengaruhi
oleh kondisi masyarakat pada suatu masa. Hal ini tidak jauh berbeda
sebagaimana fashion, makanan pun memiliki trend.
Berbicara mengenai instagram, foto adalah sebuah tanda. Tanda
yang menggambarkan mengenai visual yang terlihat pada foto
tersebut. Dalam buku Design Basics, Lauer menjelaskan bahwa tanda
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
65
visual merupakan sekumpulan elemen dengan makna tertentu. Sebuah
gambar terbentuk dari elemen-elemen yang variatif dan terkomposisi
sedemikian rupa sehingga membentuk persepsi pada orang yang
melihatnya33. Aplikasi Instagram yang berbasis pada foto merupakan
bentuk komunikasi baru yang didominasi oleh gambar atau visual.
Trend foto makanan di media sosial instagram berasal dari
adanya blog. Banyak blog yang berisikan tentang rekomendasi tempat
makan atau minuman tertentu. Tujuan awalnya adalah untuk berbagi
informasi dan pengetahuan. Di dalam blog tersebut biasanya berisikan
tentag pendapat penulis (red: blogging) mengenai makanan tertentu,
kiasran harga makanan maupun pendapat makanan yang ada di suatu
restaurant tertentu dan yang pasti adalah foto dari makanan itu
sendiri. Namun sekarang banyak ditemukan pengguna media sosial
lainnya seperti facebook, Instagram, Line dan Path yang mengunggah
foto makanan. Foto makanan yang ada di media sosial benar-benar
menjamur dan menjadi sebuah trending topic baru di jagad raya.
Sebagaian besar pengguna media sosial pernah mengunggah foto
makanan di akun media sosial pribadi mereka.
F. Teori Encoding/ Decoding Stuart Hall (1973)
Penelitian dalam analisis resepsi kebanyakan menggunakan
Teori encoding-decoding yang dikemukakan oleh Stuart Hall pada
tahun 1973. Objek dari teori ini adalah makna dan pesan dalam bentuk
tanda yang diproses melalui pengoperasian kode dalam rantai
33
D.A Laurer, Design Basic dalam Terjemahan Anis Suryani, Boston: Thomson Wadsworth,
2008, hlm: 27.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
66
wacana34. Kebanyakan teori komunikasi bersifat linear karena hanya
berfokus pada pesan dan tidak memperhatikan pada faktor-faktor
penyusun pesan.
Dua dasar dari pendekatan encoding-decoding adalah:
1. Komunikator memilih untuk meng-encode pesan untuk
tujuan tertentu serta memanipulasi bahasa dan media guna
mencapai tujuan tersebut (pesan media diberikan sebuah
preferred reading)
2. Penerima tidak diharuskan menerima atau meng-decode
pesan sebagaimana yang dikirimkan namun dapat melawan
pengaruh ideologis dengan menerapkan cara pemaknaan
yang berlainan atau berlawanan dan sudut pandang
khalayak. Prinsip dasar dari model ini adalah adanya
keragaman makna, keberadaan komunitas yang memberikan
makna dan keunggulan penerima dalam menentukan
makna35.
Bagan 2.1
Model Teori Encoding Decoding Stuart Hall
34
Meenakshi Durham dan Douglas Kellner, Media and Cultural Studies, (Key Works: Blackwell
Publisher, 2002), hlm: 166.
35
Denis McQuail dan Sven Widahl, Communication Models For The Study Of Mass
Communication, 2nd Edition, (Singapore: Longman, 1996), hlm: 146-147.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
67
Sumber: Stuart Hall-Encoding Decoding36
Melalui teori encoding-decoding dapat diketahui bahwa struktur
makna (meaning structure) satu dan struktur makna dua kemungkinan
tidak sama. Kode encoding dan decoding kemungkinan juga tidak
sejajar. Derajat simetrisnya akan tergantung dari derajat simetri dan
asimetri yang dibangun antara decoder/receiver dan
encoder/producer. Derajat asimetri disini adalah derajat pengertian
dan salah pengertian dalam pertukaran komunikasi37.
Decoding adalah proses melalui mana audiens menggunakan
pengetahuannnya secara implisit tentang teks dan nilai-nilai budaya
guna mengintepretasikan teks media. Decoding berkaitan dengan
kapasitas subyektif untuk menghubungkan tanda tersebut dengan
tanda lainnya. Model ini memberikan fokus pada hubungan antara
pesan media yang di-encode oleh khalayak. Berdasarkan model ini,
khalayak akan meng-decode pesan suatu teks dengan menggunakan
pengetahuan dan nilai-nilai budaya yang khalayak miliki serta
mengaitkan dengan keadaan lingkungan secara menyeluruh. Namun
apa yang di-encode oleh pembuat teks tidak selalu simetri dengan apa
yang di-encode oleh khalayaknya38.
Namun demikian khalayak tidak bisa men-decode pesan
semaunya karena teks media memilki batasan intepretasi, seperti yang
36
Stuart Hall, The Cultural Studies Reader Edited by During, (London and New York: Routledge),
hlm: 94.
37
Meenakshi Durham dan Douglas Kellner, Media and Cultural Studies, (Key Works: Blackwell
Publisher, 2002), hlm: 173.
38
Ibid, hlm: 174.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
68
dikatakan oleh Hall Encoding will have the effect of constructing
some of the limits wich decoding will operate39. Karena encoding
akan memiliki efek membangun batasan intepretasi. Ditambahkan lagi
pendapat Hall yang dikutip oleh Baran penelitian audiens mempunyai
efek langsung terhadap analisis dalam konteks sosial dan politik
dimana isi media diproduksi (encoding) serta konsumsi isi media
dalam konteks dalam kehidupan sehari-hari (decoding)40. Menurut
Hall akan ada tiga bentuk pembacaan antara penulis teks dan pembaca
serta bagaimana pesan itu dibaca di antara keduanya:
1. Dominant-hegemonic position, yaitu pembacaann pesan
yang lebih mendekati makna sebenarnya seperti yang
ditawarkan oleh media. Pembaca dominan atas teks, secara
hipotesis akan terjadi jika baik pembuat atau pembaca teks
memiliki ideologi yang sama sehingga menyebabkan tidak
adanya perbedaan pandangan antara pembuat maupun
pembaca. Seterusnya nilai yang dibawa oleh pembuat teks
bukan hanya disetujui oleh pembaca, lebih jauh dinikmati
dan dikonsumsi oleh pembaca teks. Pada posisi ini tidak ada
perlawanan atau dari pembaca karena mereka memaknai
teks sesuai dengan yang ditawarkan pembuat.
2. Negotiated position, yaitu pembaca pesan mengerti makna
yang diinginkan produsen tetapi pembaca membuat adaptasi
39
Ingun Hagen & Wasko Janet, Consuming Audience? Production and Reception in Media
Research, (New Jersey: Hampton Publication, 2000), hlm: 19.
40
Stanley J. Baran, Mass Communication Theory, Foundation, Ferment and Future, 3 rd Edition,
Belmon, CA: Penerjemah Prijanda Ido, 2003), hlm: 269.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
69
dan aturan sesuai dengan konteks dimana pembaca berada.
Pembacaan ini terjadi ketika ideologi pembacalah yang lebih
berperan dalam menafsirkan dan menegosiasikan teksnya.
3. Oppsitional position, yaitu pembaca pesan mengerti makna
yang diinginkan oleh produsen, tetapi mereka menolak
makna tersebut serta memaknai dengan cara sebaliknya.
Pada posisi ini, ideologi pembaca berlawanan dengan
pembuat teks. Pembaca oposisi umumnya ditandai dengan
rasa ketidaksukaan dan ketidakcocokan terhadap teks
wacana yang dikonsumsi41.
Hall menerima fakta bahwa media membingkai pesan-pesan
dengan maksud tersembunyi untuk memengaruhi. Khalayak memilki
kapasitas untuk menghindari tertelan dari ideologi yang lebih
dominan42. Model encoding-decoding terfokus pada hubungan antara
media, yang dikonstruksikan oleh produsen dan interpretasi pesan atau
decoding oleh khalayak. Kedua proses ini sangat berhubungan karena
menyangkut teks media yang sama. Namun hasil dari proses
decoding, belum tentu sama dengan apa yang diinginkan oleh
produsen pada saat melakukan proses encoding. Produsen dalam
proses encoding-decoding menciptakan sebuah teks media (encode)
yang mengandung makna dominan43.
41
Meenaskhi Durham dan Douglas Kellner, Media and Cultural Studies, (Key Works: Blackwell
Publishers, 2002), hlm: 175.
42
West dan Turner, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi, (Jakarta: Salemba
Humanika, 2008), hlm: 73-74.
43
Stuart Hall, dkk, Culture, Media, Language, (London dan New York: Routledge, 2005), hlm:
117.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
70
Teks dalam model encoding-decoding diartikan sebagai struktur
penanda yang terdiri dari tanda dan kode yang penting bagi
komunikasi. struktur ini sangat bervariasi bentuknya mulai dari
pembicaraan, tulisan, gambar, video, pakaian, dekorasi mobil, gesture
dan lain sebagainya44. Maka food capture official account instagram
@kulinersby dalam penelitian ini disebut dengan teks.
Teks media dikatakan bersifat polisemi karena menurut Fiske
teks media mengandung berbagai makna45. Media dari sudut pandang
ini memungkinkan terjadinya keragaman intepretasi, teks terstruktur
sedemikian rupa sehingga memungkinkan pemaknaan yang
berlawanan dengan keinginan pembuat teks.
Namun teks tidak terbuka begitu saja, teks memang terbuka
untuk dimaknai namun memiliki batasan intepretasi46. Menurut
Fergusen & Golding dalam Hall batasan intepretasi itu dipengaruhi
oleh keikutisertaan audiens dalam suatu kelompok dan faktor-faktor
seperti usia, etnis, kelas sosial, pekerjaan, status perkawinan, ras,
gender, latar belakang pendidikan dan keyakinan politik yang mana
hal ini dapat membatasi dan membentuk intepretasi potensial tentang
suatu teks. Beberapa makna akan lebih mudah untuk dikonstruksi
karena nilai-nilainya yang tersebar di masyarakat47. Sebaliknya
pemaknaan lain akan lebih sulit karena jarang disosialisasikan kepada
masyarakat. Seperti yang dikatakan oleh Murdock yang dikutip oleh
44
Ibid.
45
John Fiske, Televisi Culture, (London: Routledge, 1997)
46
David Croteau dan William Hoyner, Media/ Society: Industries, Images and Audiences,
(London: Pine Forge Press, 2000), hlm: 266-268.
47
Stuart Hall, dkk., Culture, Media, Language, ( London dan New York:Routledge, 2005), hlm:92
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
71
Fergusen, menyatakan bahwa khalayak harus menghindari pandangan
bahwa isi teks sangatlah terbuka untuk diintepretasikan48.
Para perintis studi resepsi atau studi konsumsi menyatakan
bahwa apa pun yang dilakukan analisis makna tekstual sebagai kritik
masih jauh dari kepastian tentang makna yang teridentifikasi yang
akan diaktifkan oleh pembaca atau audiens konsumen, yang
dimaksudkan adalah bahwa audiens merupakan pencipta aktif makna
dalam kaitannya dengan teks. Sebelumnya mereka membawa
kompetensi budaya yang telah mereka dapatkan untuk dikemukakan
dalam teks, sehinngga audiens yang telah terbentuk akan berbeda
makna dari yang lainnya49.
Pengalaman khalayak dengan media massa setiap harinya akan
tergantung pada lokasi sosial, umur, budaya, pekerjaan, jenis kelamin
dan lainnya. Analisis resepsi dapat melihat mengapa khalayak
memaknai sesuatu secara berbeda, faktor-faktor psikologis dan sosial
budaya50. Oleh Karena itu, walaupun makna dikonstruksikan oleh
khalayak, namun hal-hal di atas juga akan membatasi pemaknaan
khalayak terhadap teks di media massa. Pada saat khalayak
mengkonsumsi media massa, maka ia akan memaknainya sesuai
48
Ibid, hlm: 125.
49
Chris Barker, Cultural Studies Theory & Practice, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, Penerjemah
Nurhadi, 2004), hlm: 34.
50
Dimas Narotama, Analissi Resepsi Terhadap Tayangan Republik Mimpi, Skripsi, (Semarang:
Universitas Diponegoro, 2008), hlm: 4.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
72
dengan budaya, agama, pendidikan, kepentingan lingkungan, serta
nilai-nilai yang mereka sudah anut sejak dulu51.
Banyak penelitian komunikasi yang meyakini bahwa khalayak
tidak dapat digolongkan sebagai massa yang tidak memiliki susunan.
Namun, khalayak terdiri atas banyak komunitas yang sangat berbeda,
yang masing-masing memiliki nilai-nilai, gagasan dan ketertarikan
sendiri. Isi media ditafsirkan dalam komunitas menurut makna yang
dikembangkan secara sosial dalam kelompok tersebut dan individu
lebih dipengaruhi oleh rekan-rekan mereka daripada oleh media52.
Makna sebuah program atau pesan tidak pernah ditentukan
sendiri, tetapi bersifat komunal. Ini merupakan bagian dari tradisi
sebuah kelompok, komunitas dan budaya. Implikasinya adalah bahwa
ketika anda bergabung dalam sebuah komunitas (turun-temurun atau
keanggotaan). Anda menerima kegiatan dan makna yang terus ada
dari komunitas atau kelompok tersebut. Tindakan yang menentukan
pemaknaan kelompok untuk isi media dilakukan dalam interaksi
antaranggota kelompok. Dengan kata lain, bagaimana kita bertindak
terhadap media dan pemaknaan apa yang muncul dari tindakan
tersebut disebut interaksi sosial53.
Pada penelitian ini, peneliti ingin mengetahui bagaimana
penerimaan khalyak dalam memaknai gaya hidup kulineran yang
51
Masayu Hanim, Studi Tentang Pornografi, Kekerasan dan Mistik di Televisi Cenderung
Memotivasi Perilaku Negatif (Studi Tentang Persepsi Masyarakat Makassar dan Bandung),
(Jurnal Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2007), hlm: 39.
52
Stephen W. Littlejohn dan Keren E. Foss, Teori Komunikasi (Theories Of Human
Communication), (Jakarta: Salemba Humanika, 2009), hlm: 419.
53
Ibid.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
73
ditampilkan melalui food capture dalam official account Instagram
@kulinersby. Dimana penerimaan tersebut dikategorikan kedalam tiga
hipotesis posisi khalayak dalam proses decoding menurut Hall.
Kategori dominant hegemonic dilekatkan pada khalayak yang
memaknai gaya hidup kulineran sama sebagaimana yang ditampilkan
melalui food capture dalam official account Instagram @kulinersby.
Kategori negotiated dilekatkan pada khalayak yang memaknai gaya
hidup kulineran sama seperti nilai-nilai dominan yang ditampilkan
melalui food capture namun dalam pemaknaan tersebut mereka juga
menyatakan ketidaksetujuannya dengan beberapa aspek yang
menurutnya tidak sesuai dengan latar belakang sosial dan budayanya.
Sedangkan kategori oppositional dilekatkan pada khalayak yang
cenderung melakukan pemaknaan yang berlawanan dengan gaya
hidup kulineran yang ditampilkan melalui food capture dalam official
account Instagram @kulinersby.
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]