100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
323 tayangan9 halaman

Masjid Agung Airmata: Sejarah dan Tradisi

Masjid Agung Airmata adalah masjid tertua di Kota Kupang dan Pulau Timor yang dibangun pada tahun 1806. Masjid ini memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di wilayah tersebut dan menjadi simbol pemersatu umat beragama di Kupang.

Diunggah oleh

Sudi Arto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
323 tayangan9 halaman

Masjid Agung Airmata: Sejarah dan Tradisi

Masjid Agung Airmata adalah masjid tertua di Kota Kupang dan Pulau Timor yang dibangun pada tahun 1806. Masjid ini memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di wilayah tersebut dan menjadi simbol pemersatu umat beragama di Kupang.

Diunggah oleh

Sudi Arto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tuesday, September 7, 2010

Masjid Agung Air Mata - Kupang

Masjid Agung Airmata tertua di di kota Kupang dan pulau Timor (foto dari panoramio)

Dua Makna "Air Mata"

Airmata, merupakan nama salah satu dari 3 kawasan pemukiman muslim di kota Kupang,
Propinsi Nusa Tenggara Timur. Nama Airmata disini memiliki dua makna : pertama kawasan ini
memang merupakan sumber mata air sungai yang membelah kota Kupang. Makna Kedua, di
tempat inilah banyak airmata yang tumpah akibat kekejaman penjajah Belanda dan Jepang,
Setidaknya ada tiga ulama yang ditangkap dan diasingkan Belanda hingga mereka wafat dan
dimakamkan di sini, yakni Kiyai Arsyad asal Banten, Dipati Amir Bahrain asal Bangka dan
Sultan Dompu asal Bima. Ketiga tokoh itu yang kemudian juga menjadi Penyebar Agama Islam
di Kupang dan sekitarnya. Makam para ulama itu terletak berdekatan dalam sebuah kompleks
yang dikenal dengan nama Kuburan Batu Kadera.

Lokasi Masjid Agung Airmata


Masjid Agung Al-Baitul Qadim Airmata, terletak di Kelurahan Air Mata, Kota Kupang, Nusa
Tenggara Timur. Kelurahan Airmata merupakan pemukiman muslim pertama di Kupang, NTT.
Di sana masih berdiam keturunan ke-10 penyebar agama Islam di daerah itu. Jajan Air Mata
(JAM) merupakan salah satu ikon Kelurahan Airmata. Bahkan dialek atau logat Melayu Kupang
khas Airmata merupakan ciri khas lainnya. Koordina 1010'1"S 12334'45"E

Masjid Tertua di Kupang dan Pulau Timor

Masjid Agung Airmata atau resminya beranama Masjid Agung Al-Baitul Qadim, Daerah Air mata,
Kota kupang. Merupakan masjid pertama dan tertua di Kota Kupang dan di wilayah pulau Timor.
Masjid ini menjadi simbol pemersatu ummat beragama di kupang dan sekitarnya, karena sejak
pertaka kali dibangun nya pun dibangun bergotong royong bersama masyarakat Nasrani
setempat, Selain dari itu Masjid Airmata juga merupakan potret dasar masuknya Islam di
Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur (NTT). Masjid ini merupakan pemersatu warga Muslim
dan nonmuslim. Tak mengherankan jika masjid tersebut dijadikan sebagai objek wisata rohani
di Kota Kupang.

Sejarah Masjid Agung Airmata

Masjid yang sudah berusia sekitar 200 tahun itu dibangun diatas tanah hibah Syaban bin
Sanga Kala pada 1806 bersama dengan Kyai Arsyad (tokoh pergerakan Banten yang dibuang
Belanda ke Kupang) dibantu umat Kristiani yang ada di sekitar kampung Airmata Kupang.
Masjid Al-Baitul Qadim merupakan masjid tertua di Pulau Timor, dan dijadikan sebagai pusat
penyebaran agama Islam pada saat itu hingga sampai ke Timor Portugis (Timor Leste
sekarang).

Syahban bin Sanga Kala merupakan warga Muslim pertama yang menginjakkan kakinya di
Pulau Timor dalam pelayarannya dari Pulau Solor di Kabupaten Flores Timur. Syahban bin
Sanga Kala berasal dari Mananga, sebuah kampung di Pulau Solor bagian barat.

Menurut Munandjar Widiyatmika, peneliti masuknya agama Islam di NTT, Islam masuk pertama
kali di NTT mulai dari Pulau Solor di Kabupaten Flores Timur pada abad ke-15. Dimulai dari
Mananga, Pulau Solor dilakukan oleh para pedagang yang juga Ulama dari Palembang,
Sumatera selatan, ulama tersebut bernama Syahbudin bin Salman Al Faris yang kemudian
dikenal dengan sebutan Sultan Menanga. karena pertama kali membawa misi penyebaran
agama Islam di NTT dari Mananga, Pulau Solor di Kabupaten Flores Timur. Dari Mananga,
Islam kemudian perlahan-lahan masuk ke Pulau Flores, Alor dan Kupang seperti di Airmata itu.

Masjid Agung Airmata dari sisi belakang (foto dari panoramio)

Dapat difahami bila kemudian penyebar Islam pertama di daerah Airmata, Kupang adalah
Ulama yang berasal dari Menanga, karena memang Islam di Pulau Timor bermula masuk dari
sana. Hampir enam tahun lamanya baru masjid itu selesai dibangun dalam periode 1806-1812.
Pada 1984, imam masjid turunan ketujuh, Birando bin Tahir, mulai melakukan pemugaran atas
masjid bersejarah itu guna melestarikan keberadaannya sebagai pusat penyebaran Islam di
Pulau Timor.

Menurut penuturan dari H. Imam Birando bin Taher, Imam Masjid Agung Airmata ke tujuh yang
juga tokoh masyarakat Airmata. Sejatinya Masjid Agung Airmata bukanlah Masjid yang pertama
kali berdiri di Kupang. Sebelum nya sudah pernah ada dua kali didirikan Masjid oleh Kyai
Arsyad tapi dua kali juga di berangus oleh penjajah Belanda. Kiyai Arsyad, yang banyak
berperan dalam pengembangan Islam di Kupang. Sebelum ditangkap dan diasingkan, Kiyai
Arsyad memimpin perlawanan masyarakat Cilegon, Banten, terhadap Belanda (1926).
Kiyai Arsyad mula-mula tinggal di Oeba, kawasan pantai di belahan utara Kupang. Dan
mendirikan masjid. baru beberapa tahun, masjid itu digusur Belanda dengan dalih akan
dijadikan kompleks perumahan pejabat. Kiyai Arsyad dan pengikutnya kemudian bergeser ke
arah selatan kota, di Funtein sekarang dan kembali mendirikan masjid. Tapi Belanda kembali
menggusur masjid dan komunitas Kiyai Arsyad dengan alasan akan mendirikan perkantoran.
Kantor Bupati Kupang sekarang diyakini sebagai lokasi berdirinya masjid Kiyai Arsyad.

Tergusur dari Funtein, Kiyai Arsyad beserta pengikutnya memindahkan komunitasnya ke arah
selatan, Airmata sekarang dan tidak lagi digusur karena Belanda terlanjur angkat kaki dari
Nusantara. Masjid Agung yang didirikan di Airmata ini dibangun di atas tanah wakaf Syaban bin
Sanga Kala dan diberi nama Baitul Al-Qadim (rumah pertama).

Sya'ban bin Sanga pun mewakafkan anak-anaknya untuk kepentingan dakwah. Tiga puteranya,
yakni Birando, Abdullah dan Bofid. Birando diwakafkan sebagai imam, Abdullah sebagai khatib
dan Bofid sebagai muazzin. Tradisi mewakafkan diri pada masjid ini terus berlangsung hingga
cucu-cucu Sya'ban. H. Imam Birando bin Taher yang masih memegang jabatan imam sekarang
adalah cicit Sya'ban. Masjid Agung Al-Baitul Qadim telah menurunkan tujuh orang imam kepala,
di antaranya Birando bin Syaban, Ali bin Birando, Djamaludin, Abdul Gani, Tahin bin Ali
Birando dan Birando bin Tahir.

Foto lama masjid agung airmata sebelum direnovasi. (foto dari Depag RI)
Arsitektur Masjid Agung Airmata

Masjid itu dibangun dengan perpaduan arsitek antara unsur budaya Flores Timur dan Arab
sebagai simbol perlawanan warga Airmata terhadap koloni Belanda dan Jepang pada masa
itu. Masjid Air Mata dibangun pertama kali tahun 1806 Masehi berarsitektur perpaduan seni
arsitektur Jawa dan Cina. Dengan ukuran 10 x 10 meter, berbentuk joglo, dengan atap genteng.
Tahun 1984 masehi dilkukan pemugaran total dengan pemrakarasa Imam H. Birando bin
Taher. Menjadi bentuknya yang sekarang.

Pemugaran ini dilakukan Birando bin Tahir atas persetujuan jemaah setempat, dengan sejumlah
alasan, di antaranya bertambah pesatnya warga Muslim dam Muslimah. Pemugaran itu juga
didasarkan pada kondisi rumah ibadah tertua ini tidak layak lagi dipandang, karena sebagian
dinding dan atap mengalami perapuhan, sehingga perlu direnovasi, tanpa menghilangkan
keasliannya yang tetap nampak pada sebagian dinding ruangan yang hingga kini masih ada.

Tradisi di Masjid Agung Airmata

Mauludan yang Khas

Mengunjungi masjid ini akan lebih mengesankan bila bersamaan dengan, saat perayaan Maulid
Nabi, 12 Rabiul Awal. Berbeda dengan daerah lain, perayaan Maulid Nabi di Kupang, terutama
di kedua ini memiliki tradisi yang sangat khas. Acara pokok mauludan adalah berzikir, yakni
pembacaan kitab Barjanzi yang dilatunkan dengan irama tertentu serta diiringi oleh tabuhan
rebana. Sepintas, seni berzikir ini hampir memiliki kesamaan dengan seni ruddat yang banyak
dijumpai di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur. Tradisi yang sama juga dilaksanakan di Masjid Al-
Falah, Kampung Solor, Kota kupang.

Peringatan Maulid Nabi di sini juga ditandai dengan aneka hidangan yang dihiasi aneka warna.
Ada nasi merah dan kuning, ada telur ayam rebus, juga pisang rebus yang juga diberi aneka
warna dan dihidangkan dalam nampan bersama nasi tadi. Lebih khas lagi, ada kelapa muda
diukir aneka macam yang ditancapi kembang-kembang plastik. Semua aneka makanan, kelapa
dan bunga itu selepas waktu Isya diarak beramai-ramai menuju masjid dengan lantunan
Salawat Badar.
Interior Masjid Agung Airmata Saat ini

Perarakan Siripuan Warnai Perayaan Maulid Nabi Muhamad SAW

Prosesi Perarakan Siripuan mewarnai setiap perayaan Maulid Nabi Muhamad SAW
diselenggarakan oleh komunitas muslim Kelurahan Airmata-Kota Kupang. Siripuan yang diarak
tersebut berupa rangkaian bunga rampai daun pandan dan buah - buahan, yang merupakan
lambang cinta kasih dan damai sejahtera, diarak oleh ratusan masyarakat kelurahan Airmata,
diiringi dengan tari-tarian dengan bergandengan tangan sambil mendendangkan Sholawat
Nabi.

Prosesi perarakan siripuan yang merupakan perpaduan antara nilai budaya dan nilai religius
yang dilakukan dalam rangka memperingati hari lahirnya Nabi Muhamad SAW tersebut, telah
berlangsung turun temurun tepatnya sejak tahun 1806, dan bertujuan untuk meningkatkan tali
silaturahmi diantara umat muslim dan umat beragama lainnya yang ada di Kota Kupang.

Perarakan siripuan malam itu yang ditandai dengan pemukulan bedug oleh Walikota Kupang,
dilepas dari rumah imam masjid menuju Masjid Agung Al Baitul Qadim-Airmata. Acara ini biasa
nya juga dihadiri oleh para pejabat daerah dan pusat baik sipil maupun Militer.
Selasa, 20 Zulhijjah 1438 H / 22 November 2011 14:46 wib

21.593 views

Menengok Saudara Minoritas di Perkampungan Muslim Kupang

Kupang (voa-islam) Menurut masyarakat Muslim di Kupang, posisi umat Islam di sana ibarat wajan atau
kuali, dimana umat Islam berada di tengah kuali yang disekelilingnya dihuni oleh mayoritas warga Kristen
dan Katolik. Kebanyakan masyarakat muslim tinggal di Kelurahan Air Mata dan Kampung Solor. Itulah
sebabnya, Masjid Baitul Qadim di Kelurahan Airmata dan Masjid Al-Fatah di Kampung Solor (keduanya
berada di pemukiman Islam) merupakan benteng umat Islam di Kupang. Jika dua masjid ini diserang dan
dilumpuhkan, entah bagaimana nasib umat Islam di Kota Karang ini.

Seperti diketahui, umat Islam di Kupang adalah masyarakat minoritas. Mayoritas penduduk di kota ini
adalah pemeluk agama Kristen Protestan dan Katolik. Umat Islam yang minoritas itu bisa dirasakan di
kelurahan Batu Plat (Kecamatan Alak) dan Batakte (Kupang Barat). Di Batu Plat misalnya, masyarakat
Kristen di sini menolak rencana pembangunan Masjid Nur Musafir, setelah diprovokasi oleh pihak gereja.

Begitu juga di Batakte, tempat dimana Pesantren Hidayatullah berdiri, pada saat peristiwa kerusuhan
Kupang pada tahun 1998, hampir saja masjid yang berada dikomplek pesantren tersebut dibakar oleh
sekelompok orang dari pihak Salibis yang ketika itu diangkut oleh dua truk dengan menggunakan ikat
kepala berwarna merah. Ini menunjukkan, diskriminasi terhadap komunitas Islam minoritas acapkali
menjadi sasaran empuk pihak salibis yang dimotori gereja radikal.

Populasi penduduk di Kota Kupang terdiri dari banyak ras, yaitu: Atoni (orang pribumi lokal pulau ini yang
mempunyai bahasa dawan), Rote (berasal dari pulau rote), Sabu (berasal dari pulau sabu), Cina, Flores
(berasal dari pulau flores), Kiser, Adonara, Solor (berasal dari pulau alor), Ambon (berasal dari Maluku ),
Jawa, Arab, orang ekspatriat dari Eropa dan lain-lain.

Asal Mula Kampung Islam Terbentuk

Menurut Abdul Kadir G. Goro dalam sebuah thesisnya yang berjudul Sejarah Perkembangan Agama
Islam di Kabupaten Kupang (1977), Sejarah masuknya agama Islam di Kupang erat hubungannya dengan
penyebaran agama Islam di Indonesia. Dari Ternate, Islam meluas meliputi pulau-pulau di seluruh
Maluku, dan juga daerah pantau timur Sulawesi.
Dalam abad ke-16, dari Sulawesi Selatan muncul Kerajaan Gowa. Pengislaman dari Jawa disini tidak
berhasil, akan tetapi berkat usaha seorang ulama asal Minangkabau pada awal abad ke-17, raja Gowa itu
akhirnya memeluk agama Islam juga. Nah, atas kegiatan orang-orang Bugis, maka Islam masuk pula di
Kalimantan Timur dan Sulawesi Tenggara, juga beberapa pulau di Nusa Tenggara.

Akibat meluasnya kekuasaan Kerajaan Tallo dan Goa di Nusantara Tenggara Timur, maka masuklah
agama Islam di Nusa Tenggara Timur. Selain pengaruh dari Sulawesi Selatan, masuknya agama Islam di
NTT disebabkan pula oleh masuknya orang-orang yang beragama Islam dari Ternate Maluku ke daerah
ini.

Menurut cerita rakyat di Pulau Alor, pembawa agama Islam yang pertama ke Pulau Alor adalah Djou
Gogo, Kima Gogo, Salema Gogo, Iyang Gogo, Abdullah dan Muchtar yang berasal dari Ternate-Maluku.

Setelah masuknya agama Islam ke Pulau Solor sekitar abad ke XVI, maka dengan perantaraan orang-
orang yang beragama Islam dari Solor, agama Islam masuk ke Batu Besi Kupang sekitar tahun 1613.

Melalui komunikasi laut, agama Islam berhasil dikembangkan di daerah-daerah pesisir Kabupaten
Kupang yang strategis letaknya, sehingga terbentuknya masyarakat Islam di Kupang pada mulanya terjadi
di daerah-daerah pesisir.

Dalam catatan sejarawan, masyarakat Islam yang berada di pesisir Pulau Timor telah muncul di Kupang,
Toblolong (Kecamatan Kupang Barat), Sulamu (Kecamatan Kupang Timur), dan Naikliu (Kecamatan
Amfoang Utara), Babau (Kecamatan Kupang Timur). Di tempat inilah, para nelayan, pelayar, dan
pedagang menyinggahi dan menetap di daerah-daerah ini. Perkampungan Islam juga terbentuk di Pulau
Sabu (Kecamatan Sabu Barat) di daerah pesisir.

Bila diurai satu per satu, Toblolong merupakan daerah pesisir yang strategis, karena letaknya sebagai
jembatan penghubung antara Kupang dan Pulau Rote. Sebelum menyebrang ke Rote, para pendakwah
yang juga pelayar dan pedagang terlebih dulu singgah di Toblolong untuk mempersiapkan perbekalan
atau menunggu keadaan angin dan arus yang memungkinkan mereka untuk meneruskan pelayaran.
Akibatnya, orang Islam yang singgah di daerah ini kabarnya orang-orang Islam dari Solor-Lamakera --
menetap di Toblolong sekitar tahun 1.900, hingga terbentuklah masyarakat Islam di wilayah ini.

Adapun terbentuknya masyarakat Islam di Sulamu, berawal dari para nelayan yang beragama Islam dari
Kaledupa yang memasuki daerah Sulamu sekitar tahun 1918, hingga terbentuklah masyarakat Isla di
Sulamu.
Ihwal terbentuknya masyarakat muslim di Babau, bermula setelah masuknya para nelayan yang
beragama Islam (berasal dari Pulau Butung-Sulawesi) untuk menangkap ikan ke daerah ini. Kemudian
masuklah pedagang-pedagang Bugis, Makasar dan Solor untuk berniaga.

Masuknya Ahmad Horsan ke Tainbira untuk berniaga dan berdakwah, pada tahun 1952, ia berhasil
mengislamkan masyarakat Tainbira. Begitupula, masyarakat Islam terbentuk di Camplong sekitar tahun
1955, setelah menetapnya Hamid dan Mahmud yang datang untuk mencari nafkah. Masyarakat Islam
juga terbentuk di Takari sejak 1955, saat masuknya keluarga Aqlis untuk membeli hewan untuk
diperdagangkan. Sedangkan masyarakat Islam di Naikliu terbentuk ketika para pedagang dari Sulawesi
memasuki wilayah ini sekitar tahun 1975.

Daerah Batu Besi Kupang pada mulanya merupakan tempat persinggahan dari dua orang nelayan Solor
yang beragama Islam. Mereka terdampar di Kupang sekitar tahun 1613. Setelah itu menyusul datangnya
orang-orang Islam dari Solor ke Kupang dan mereka ikut menempati daerah Batu Besi Kupang. Akhirnya
sekitar tahun 1653, terbentuklah masyarakat Islam di Batu Besi Kupang.

Di luar Kupang, masyarakat Islam juga terbentuk di Oesalain (Pulau Semau) tahun 1920, Pulau Rote
(Papela, Kecamatan Rote Timur) sekitar tahun 1850. Selanjutnya juga terbentuk di Oelaba (Kecamatan
Rote Barat Laut), Batu Tua, Oenggae dan Ndao.

Pada tahun 1925, masyarakat Islam di Baa secara gotong royong membangun sebuah surau. Pada tahun
1930 di bangun Masjid An-Nur Baa berukuran 7x9 meter. Pada tahun 1.900, masyarakat Islam di Papela
membangun surau pertama atas inisiatif dari Habib Alwi Gudban.

Setelah masyarakat Islam terbentuk di Kupang tahun 1653, selanjutnya masuklah pedagang-pedagang
turunan Arab yang beragama Islam dari Semarang ke Kupang (tahun 1812), pedagang Islam dari Sumba
(1860), pedagang Islam dari Aceh (1885), nelayan-nelayan beragama Islam dari Pulau Butung (1895)
serta pedagang-pedagang Bugis dan Makasar (1957), disusul pula dengan masuknya para pencari nafkah
dari daerah-daerah lain di Indonesia, hingga terbentuk masyarakat Islam di Kota Kupang.

Syech Abdul Kadir bin Djailani sangat berperan dalam membentuk masyarakat muslim di Batu Besi
Kupang. Selain itu ada pula Atu Laganama (berasal daro Solor Lamakera), Sengadji Susang dan
Abdurrahman dari Benggala yang ketika itu ikut mendirikan surau dan mengadakan pengajian. Kemudian
ada Imam Syaban bin Sanga dan Badaruddin. Berkat kerjasama Imam Syaban dan Keluarga Badaruddin,
maka terbentuklah dua kelompok masyarakat Islam di Airmata Kupang. Desastian

Anda mungkin juga menyukai