KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Gedung H lt 4 Kampus, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001 Website:
[Link] - E-mail: unnes@[Link]
FRONT WHEEL ALIGMENT (FWA)
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-02-AKD-06 01 1 dari 1 1 September 2012
A. URAIAN
Front wheel alignment adalah penyetelan sudut geometris dan ukuran rodaroda
depan, yang terdiri dari camber, caster, toe angle, kingpin inclination,
turning radius.
Wheel alignment berfungsi untuk menghasilkan stabilitas dalam pengemudian
kendaraan.
B. JENIS-JENIS WHEEL ALIGNMENT
1. Camber
Camber adalah sudut yang dibentuk
antara kemiringan roda
dan garis vertikal dilihat dari
depan kendaraan.
Bila miringnya ke arah luar disebut
camber positif, dan bila miringnya
ke arah dalam disebut
camber negatif.
Camber positif berfungsi untuk
memungkinkan terbentuknya
camber nol saat kendaraan diberi
beban, dan mengurangi beban
pada steering.
Tujuan camber negatif adalah
untuk mengutamakan kendaraan
dapat lurus dan stabil.
Camber negatif mengurangi
ground camber (kemiringan kendaraan
saat membelok) dan
menyempurnakan kemampuan
belok.
2. Steering Axis (King Pin) Inclination
Steering axis adalah sumbu tempat
roda berputar saat berbelok
King pin inclination adalah sudut
yang dibentuk oleh steering axis
dengan garis vertikal dilihat dari
depan kendaraan.
Offset adalah jarak dari titik
potong garis tengah ban dengan
jalan ke titik potong steering axis
dengan jalan.
Offset yang lebih kecil akan menyebabkan
kemudi menjadi lebih
ringan dan daya balik kemudi
baik.
3. Caster
Caster adalah sudut yang dibentuk
oleh steering axis dengan garis vertikal
dilihat dari samping kendaraan.
Caster positif berfungsi untuk kestabilan
pengemudian dan daya balik kemudi
setelah membelok. Jarak dari titik potong
sumbu steering axis dengan jalan, ke titik
pusat singgung ban dengan
jalan disebut trail.
Caster yang terlalu positif akan menyebabkan trail semakin panjang dan
daya balik kemudi makin baik, tetapi kemudi menjadi lebih berat.
Caster negatif membuat kemudi ringan, tetapi kestabilan kendaraan saat
berjalan lurus menjadi berkurang.
4. Toe Angle (Toe In dan Toe Out)
Kendaraan dapat disebut memiliki
toe in apabila jarak bagian
depan roda depan (A) lebih kecil
dari pada bagian belakang roda
depan (B). dan dinyatakan dalam
satuan mm (BA).
Toe in berfungsi untuk mengimbangi
camber roll (menggelindingnya
roda ke arah luar) yang
disebabkan oleh camber positif.
5. Turning Radius
Bila roda depan kanan dan kiri
mempunyai sudut belok (turning
radius) roda yang sama besar,
akan menyebabkan roda-roda
berputar mengelilingi titik pusat
yang berbeda (01 dan 02), akibatnya
kendaraan tidak dapat
membelok dengan lembut karena
terjadinya side slip pada rodaroda.
Untuk mencegah hal ini, knuckle
arm diserongkan ke dalam, akibatnya
sudut belok roda inner
sedikit lebih besar daripada
sudut belok roda outer.
Prinsip ini disebut prinsip ackerman
6. Side Slip
Side slip adalah jumlah slipnya
roda depan (kiri dan kanan) ke
arah samping saat kendaraan
berjalan lurus.
Side slip diukur dengan side slip
tester pada saat kendaraan
bergerak lurus dan perlahan.
Side slip dinyatakan dalam mm/m, umumnya besar side slip adalah 03
mm. Tujuan mengukur side slip adalah untuk menilai wheel alignment
secara keseluruhan. Terjadinya side slip terutama disebabkan oleh camber
atau toe in.
C. PEMERIKSAAN, PENGUKURAN DAN PENYETELAN WHEEL ALIGNMENT
1. Pemeriksaan Sebelum Pengukuran
a. Periksa ban terhadap keausan, ukuran
dan tekanan ban yang tidak tepat.
b. Periksa kelonggaran bearing roda.
c. Periksa run out roda.
d. Periksa suspensi.
e. Periksa kerusakan steering linkage.
f. Periksa bahwa shock absorber berfungsi
dengan baik dengan melakukan standard
bounce test.
2. Tempatkan Kendaraan pada Turning Radius
a. Setel turning radius pada 0 dan pasang
penguncinya.
b. Gerakkan kendaraan dan posisikan roda
depan di atas turning radius sehingga
garis pusat ban dan garis pusat spindle
lurus di tengah gauge
c. Pasangkan stand yang tinggi sama dengan
tinggi turning radius pada roda belakang.
d. Tekan pedal rem dengan brake pedal
pusher. Jangan menekan pedal dengan
kaki anda, karena berat anda akan
mempengaruhi hasil pengukuran.
3. Ukur Tinggi Kendaraan
a. Ukur tinggi kendaraan dari titik tengah
lampu besar ke tanah.
b. Apabila tidak standar setel pada baut
penyetel torsion bar.
4. Pasang Camber Caster Kingpin Gauge (CCKG)
a. Lepaskan wheel bearing cap dan
cotter pin (pin belah).
b. Luruskan center rod dari CCKG dengan
spindle.
Mengukur Camber
a. Tepatkan gelembung udara pada
level di titik 0.
b. Baca skala gelembung udara dari
camber gauge.
0 = 20 =
5 = 25 =
10 = 30 =
15 =
c. Apabila tidak standar setel dengan
menambah atau mengurangi shim
penyetel pada poros upper arm.
5. Mengukur Caster dan King Pin Inclination
a. Putar roda depan keluar 20.
b. Putar adjusting knob pada bagian
belakang gauge sampai gelembung
udara untuk caster dan king
pin inclination berada pada 0.
c. Putar roda ke dalam 20.
d. Baca angka yang ditunjukkan gelembung
udara pada caster dan king pin inclination
gauge.
e. Apabila caster tidak standar, setel
strut bar. sedangkan king pin inclination
tidak dapat disetel.
6. Mengukur Turning Radius
a. Tempatkan kendaraan di atas turning
radius gauge.
b. Putar habis steering wheel ke kiri.
c. Bacalah turning radius roda kiri dan
kanan.
d. Putar habis steering wheel ke arah
e. kanan.
f. Bacalah turning radius roda kiri dan kanan.
g. Apabila tidak standar setel pada baut
stopper
h. Panjang tie rod kiri dan kanan harus
sama (banyaknya ulir).
7. Toe Angle
a. Ayunkan kendaraan agar suspensi stabil.
b. Berikan tanda pada bagian belakang
kedua roda depan, di tengah thread
dan ukur jarak kedua tanda
c. Majukan kendaraan sampai tanda
pada bagian belakang ban berada
setinggi gauge pada bagian depan
ban
d. Ukur jarak kedua tanda.
e. Apabila tidak standar setel tie rod.
8. Spesifikasi Kendaraan Panther
Item Standar
Tinggi Kendaraan
165R13 750 mm
550-13 765 mm
Caster 050 30
King Pin Inclination 730 60
Camber 30 130
Toe In 2 2 mm
Turning Radius
Outer 3430
Inner 3430 3630
Analisis
Buatlah analisis mengenai permasalahan yang timbul karena ketidak sesuaian FWA dibawah ini.
Permasalahan Penyebab Perbaikan
1. Pengembalian roda
kemudi setelah belok
kurang baik.
2. Kendaraan tidak
berjalan lurus saat roda
kemudi dilepaskan
3. Umur ban pendek.
4. Keasuan pada roda
tidak merata