0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
203 tayangan34 halaman

Prinsip Kerja Generator AC dan Komponennya

Prinsip kerja generator AC melibatkan komponen slip ring yang membedakannya dari generator DC. Slip ring memungkinkan arus listrik berubah arah secara periodik, menghasilkan gelombang sinusoidal AC."

Diunggah oleh

isak
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
203 tayangan34 halaman

Prinsip Kerja Generator AC dan Komponennya

Prinsip kerja generator AC melibatkan komponen slip ring yang membedakannya dari generator DC. Slip ring memungkinkan arus listrik berubah arah secara periodik, menghasilkan gelombang sinusoidal AC."

Diunggah oleh

isak
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Prinsip Kerja Generator AC

BY: ONNY

Arus listrik AC (Alternating Current) merupakan arus listrik yang arahnya bolak-balik
pada sebuah rangkaian listrik. Jika pada rangkaian listrik DC arus listrik mengalir
dari kutub positif ke kutub negatif, lain halnya dengan rangkaian listrik AC dimana
arus listrik bergerak secara periodik berbolak-balik arah dari kutub satu ke yang
lainnya.

Perbedaan Arus Listrik AC dan DC


(Sumber)

Berbolak-baliknya arah arus listrik AC menghasilkan nilai arus yang secara periodik
akan bernilai positif dan negatif. Jika digambarkan pada sebuah grafik, maka nilai
arus listrik AC akan membentuk gelombang sinusoidal yang memiliki nilai frekuensi
tertentu.

Diagram Arus Listrik Bolak-Balik (AC)


(Sumber)

Bentuk arus listrik AC yang sedemikian rupa berkaitan dengan generator listrik yang
membangkitkannya. Generator listrik AC memiliki prinsip kerja yang serupa dengan
generator DC yakni menggunakan prinsip elektromagnetik (baca artikel Prinsip Kerja
Generator DC berikut), hanya saja ada satu komponen yang membuat arus listrik
yang terbangkitkan berupa arus bolak-balik. Komponen tersebut adalah slip ring.
Generator AC menggunakan slip ring dengan bentuk lingkaran penuh yang berbeda
dengan slip ring pada generator DC yang berupa cincin belah. Untuk lebih jelasnya
mari kita perhatikan komponen-komponen utama generator listrik AC berikut ini.

Komponen-Komponen Generator Listrik AC


(Sumber)

Sebelum lebih dalam membahas generator AC, ada baiknya kita mengenal hukum
Faraday mengenai induksi elektromagnetik sebagai fenomena dasar yang
diterapkan pada generator. Hukum Faraday menyebutkan jika terjadi perubahan
garis gaya magnet pada sebuah kumparan kawat, maka akan timbul gaya gerak
listrik (ggl) pada kawat tersebut. Jika kumparan kawat dihubungkan dengan
rangkaian listrik tertutup, maka akan timbul pula arus listrik yang mengalir pada
rangkaian.
Kaidah Tangan Kanan Fleming
(Sumber)

Memahami hukum Faraday, kita tidak dapat lepas dengan kaidah tangan kanan
yang diperkenalkan oleh John Ambrose Fleming. Kaidah tangan kanan fleming
adalah sebuah metode mneumonik untuk memudahkan kita menentukan arah vektor
dari ketiga komponen hukum Faraday, yakni arah gaya gerak kumparan kawat, arah
medan magnet, serta arah arus listrik. Jika Anda menirukan posisi jari tangan kanan
Anda seperti pada gambar di atas, maka ibu jari akan menunjukkan arah gaya
(torsi), jari telunjuk menunjukkan arah medan magnet, dan jari tengah menunjukkan
arah arus listrik.

Kembali pada skema komponen-komponen generator AC di atas, rotor generator


diskemakan dengan sebuah kawat angker penghantar listrik (armature) yang
membentuk persegi panjang. Masing-masing ujung kawat angker terhubung dengan
cincin logam yang biasa kita kenal dengan sebutan slip ring. Slip ring ini termasuk
bagian dari rotor, sehingga ia ikut berputar dengan rotor. Komponen slip ring inilah
yang membedakan antara generator AC dengan DC. Jika pada generator DC
digunakan cincin belah sebagai penyearah arus, pada generator AC slip
ring berbentuk lingkaran penuh dan terhubung dengan masing-masing
ujung armature.

Untuk sisi stator generator tersusun atas dua magnet dengan kutub berbeda yang
saling berhadapan. Pada bagian yang kontak langsung dengan slip ring, stator
dilengkapi dengan sikat karbon yang berfungsi untuk menghubungkan arus listrik
yang dibangkitkan pada kawat angker ke rangkaian listrik di luar generator.

Skema Prinsip Kerja Generator AC


(Sumber)
Gambar di atas adalah skema sederhana proses kerja generator AC. Kawat angker
ABCD dapat berputar terhadap sumbu a-b, dan berada di tengah-tengah medan
magnet N-S. Kawat angker sedang dalam kondisi diputar oleh sumber dari luar,
dengan arah yang berlawanan arah putaran jarum jam sesuai pada gambar. Putaran
ini memberikan gaya torsi dengan arah yang selalu tegak lurus dengan kawat
angker.

Sekarang mari kita perhatikan bagian kawat angker sisi C-D pada gambar sebelah
kiri. Kawat tersebut bergerak ke atas (keluar bidang gambar) sesuai dengan torsi
arah putaran gaya luar. Gerakan kawat angker ini memotong garis gaya magnet
sehingga akan timbul gaya gerak listrik di kawat angker tersebut. Dengan
menggunakan kaidah tangan kanan Fleming, maka dengan mudah dapat kita
tentukan arah arus listrik yang terbangkitkan yakni ke bawah dari titik C ke D.
Sehingga arah arus pada tahanan R adalah dari kanan ke kiri. Begitu pula pada
kawat angker sisi A-B yang mengalami gaya torsi ke bawah (masuk bidsng gambar),
sehingga jika kita menggunakan kaidah tangan kanan Fleming maka akan kita
dapatkan arah arus listrik dari titik A ke B.

Seiring dengan berputarnya poros generator, maka kawat angker generator akan
berpindah posisi sesuai dengan gambar sebelah kanan. Pada kondisi ini, dengan
menggunakan cara yang sama seperti sebelumnya, akan dapat dengan mudah kita
simpulkan bahwa aliran arus listrik di sisi kawat angker A-B adalah dari titik B ke A.
Sedangkan pada sisi kawat C-D arah arus listrik yakni dari titik D ke C. Dengan
masing-masing sisi kawat angker yang selalu bersentuhan dengan slip ring
tersendiri, maka arah arus listrik yang dibangkitkan pada konfigurasi kawat angker
gambar kanan adalah kebalikan dari gambar kiri. Disinilah arus bolak-balik listrik AC
berasal.
Gelombang Sinusoidal Arus AC
(Sumber)

Dengan penjelasan di atas maka arus listrik AC memiliki karakter unik yakni nilai
arus yang fluktuatif dari positif hingga negatif. Tiap-tiap posisi kawat angker memiliki
nilai arus yang berbeda-beda, dan akan kembali bernilai sama jika kawat angker
rotor kembali ke posisi nol nya (telah berputar 360o). Gambar di atas adalah
gelombang sinusoidal arus listrik yang dibangkitkan oleh generator AC. Gambar
sebelah kiri adalah ilustrasi penampang generator AC dengan berbagai posisi kawat
angker rotor. Sedangkan gambar yang sisi kanan adalah grafik sinusoidal arus listrik
AC dengan sumbu X adalah waktu, dan sumbu Yadalah nilai arus listrik. Grafik arus
listrik AC disebut dengan grafik sinusoidal karena nilai arus listrik sesuai dengan
prinsip trigonometri fungsi sinus (x(t) = [Link]).

Frekuensi Listrik AC

Frekuensi menjadi salah satu karakter arus listrik AC, tentu saja hal ini dikarenakan
bentuk grafik arus listrik yang berupa gelombang sinusoidal. Frekuensi adalah
jumlah gelombang yang terjadi di setiap satu detik, dengan satuan frekuensi yaitu
Hertz. Pada gambar di atas satu gelombang voltase listrik AC dihasilkan oleh satu
putaran penuh kawat angker rotor lilitan single, di dalam medan magnet kutub utara-
selatan. Putaran rotor yang konstan akan menghasilkan frekuensi listrik AC yang
konstan pula. Sehingga jika putaran rotor semakin cepat, maka frekuensi listrik juga
akan semakin besar. Oleh karena itulah nilai frekuensi listrik AC adalah berbanding
lurus dengan kecepatan rotasi rotor ( ), dengan N = rpm.

Pada gambar sederhana di atas kita juga hanya menggunakan kutub tunggal untuk
masing-masing kutub utara dan selatan, sehingga hanya terdapat satu arah garis
gaya magnet. Misalkan saja kita menambah satu pasang lagi kutub magnet
sehingga terdapat dua kutub utara dan dua kutub selatan, maka untuk satu saja
putaran kumparan rotor akan menghasilkan dua gelombang sinusoidal listrik AC.
Dapat disimpulkan disini bahwa nilai frekuensi listrik AC juga berbanding lurus
dengan jumlah pasangan kutub magnet ( P ), dimana P = jumlah pasangan
kutub magnet stator generator.

Dengan ini dapat kita simpulkan bahwa nilai frekuensi listrik AC sebuah generator
AC dapat kita hitung menggunakan rumus sederhana berikut :

dengan f = gelombang / menit

atau,

Dimana N adalah kecepatan rotor dalam rpm, P adalah jumlah pasang kutub magnet
rotor, sedangkan 60 adalah konversi ke detik.

[Link]

Macam-Macam Alternator Berdasarkan Fase Listrik yang Dihasilkan

Telah kita bahas di artikel sebelumnya bahwa karakter listrik AC adalah besar
voltase yang naik turun membentuk gelombang sinusoidal. Pada suatu sistem listrik
AC, gelombang voltase tersebut bisa berjumlah satu atau tiga. Jumlah satu dan tiga
ini lebih familiar digunakan di khalayak umum dibandingkan dengan angka yang lain.
Jika sistem listrik AC tersebut hanya terdapat satu gelombang voltase, maka hal ini
disebut listrik AC satu fasa. Sedangkan jika terdapat tiga gelombang voltase maka
disebut dengan listrik AC tiga fasa.

Perbedaan Gelombang Listrik AC Fasa Tunggal dengan Tiga Fasa


(Sumber)

Bagaimana bisa ada dua tipe arus listrik AC di atas adalah berasal dari sumber arus
listrik AC tersebut, dalam hal ini adalah generator. Komponen generator yang
menentukan jumlah fasa yang dihasilkan tersebut adalah kumparan kawat
(armature). Jumlah dan susunan kumparan menjadi penentu jumlah fasa yang
dihasilkan oleh sebuah generator AC. Berikut akan kita bahas lebih lanjut dua tipe
generator ini berdasarkan fasa listrik AC yang ia hasilkan.

1. Generator AC Fasa Tunggal.

Generator AC yang menghasilkan listrik fasa tunggal adalah generator yang di


dalamnya hanya memiliki satu kumparan kawat (armature), atau beberapa
kumparan kawat yang tersusun secara seri. Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan
beberapa skema generator berikut.
(a) Alternator Dengan Satu Putaran Lilitan Kumparan Sebagai Rotor

(b) Alternator Dengan Beberapa Putaran Lilitan Kumparan Sebagai Rotor

(c) Alternator Dengan Satu Pasang Kumparan Sebagai Stator


(d) Alternator Dengan Dua Pasang Kumparan Sebagai Stator
(Sumber)

Keempat jenis generator di atas sama-sama menghasilkan arus listrik AC satu fasa.
Gambar (a) adalah sebuah generator AC dengan kumparan kawat sebagai rotor.
Nampak pada grafik dibawahnya bahwa dengan satu putaran lilitan kumparan
mampu menghasilkan listrik AC fasa tunggal. Gambar (b) juga sama seperti gambar
(a), yakni sebuah alternator dengan kumparan sebagai rotor. Hanya saja lilitan
kumparan diperbanyak menjadi beberapa kali. Hal ini akan menghasilkan arus listrik
AC fasa tungggal dengan frekuensi yang sama seperti gambar (a), namun memiliki
nilai voltase yang berlipat ganda sesuai dengan jumlah lilitan kumparan.

Gambar (c) dan (d) adalah generator AC tipe medan magnet sebagai rotor, sehingga
kawat kumparan didesain berada di sisi stator. Nampak pada gambar (c), stator
tersusun atas dua sisi kumparan yang saling terhubung secara seri. Selain itu arah
putaran lilitan kumparan antara yang satu dengan yang lainnya nampak saling
berkebalikan, hal ini dikarenakan tiap-tiap kumparan akan menghadap ke medan
magnet dengan kutub yang berbeda. Dengan desain demikian akan membuat arah
arus listrik yang terbangkitkan akan selalu searah antara kumparan yang satu
dengan yang lainnya.

Generator gambar (d) merupakan pengembangan dari desain (c), dimana kumparan
kawat bertambah menjadi empat kumparan dan begitu pula dengan kutub magnet
yang juga menjadi empat kutub. Lilitan kumparan saling terhubung secara seri
sesuai dengan gambar di atas. Dengan desain semacam ini, untuk setiap
90o putaran rotor, kutub voltase listrik akan berubah arah dari positif ke negatif
ataupun sebaliknya. Sehingga di setiap satu putaran rotor akan tercipta dua
gelombang penuh listrik AC. Selain itu karena kumparan dihubungkan secara seri
dan output tegangan berupa satu fase, maka besar tegangan listrik total yang
dihasilkan oleh generator ini sebanyak empat kali tegangan yang dihasilkan oleh
masing-masing kumparan. Dengan kata lain dua kali lebih besar dibandingkan
dengan tegangan listrik yang dihasilkan oleh generator (c).

2. Generator AC Fasa Tiga.

Generator tiga fasa memiliki prinsip kerja yang sama dengan generator satu fasa.
Pembeda paling utama adalah digunakannya tiga kumparan kawat yang saling
terhubung dengan konfigurasi khusus. Jika pada alternator satu fasa beberapa
kumparan dihubungkan secara seri akan menghasilkan tegangan listrik AC yang
lebih besar, maka pada alternator tiga fasa koneksi antar ketiga kumparan kawat
akan menghasilkan tiga gelombang voltase listrik AC yang saling mendahului.
Koneksi Antar Kumparan Pada Alternator AC
(Sumber)

Tiga kumparan kawat, baik diposisikan sebagai rotor ataupun stator alternator,
disusun sedemikian rupa sehingga diantara ketiganya memiliki jarak sudut 120 o.
Masing-masing kumparan memiliki dua ujung kawat yang salah satu ujungnya
dihubungkan dengan ujung kawat kumparan lainnya dengan bentuk konfigurasi delta
() atau wye(Y) seperti pada gambar di atas. Sedangkan ujung-ujung kawat
kumparan lainnya berfungsi sebagai output untuk menyalurkan energi listrik AC yang
terbangkitkan keluar generator.
3 Kumparan Sebagai Stator Alternator Saling Terhubung dengan Koneksi Y
(Sumber)

Tegangan listrik keluaran alternator AC tiga fasa membentuk tiga buah gelombang
sinus jika diproyeksikan ke dalam sebuah grafik. Ketiga gelombang tersebut memiliki
frekuensi yang sama persis, namun saling memiliki jarak sepertiga gelombang
antara satu gelombang dengan gelombang lainnya. Dibawah ini adalah sebuah
animasi proses pembentukan gelombang listrik AC dari sebuah alternator. Titik-titik
merah, biru, dan hijau adalah posisi dimana kumparan kawat harus diletakan serta
merepresentasikan fase satu, dua, dan tiga.

[Link]
Macam-macam Generator AC
BY: ONNY

Macam-Macam Alternator Berdasarkan Posisi Kawat Kumparan (Armature)

Pembangkitan gaya gerak listrik (GGL) oleh generator terjadi karena adanya medan
magnet yang di tengah-tengahnya melintas kawat kumparan, atau sebaliknya
adanya sebuah kawat kumparan yang sedang dilintasi oleh medan magnet. Atas
dasar hal tersebut maka generator AC dapat diklasifikasikan menjadi dua, yakni
alternator dengan kumparan sebagai rotor dan alternator dengan medan magnet
sebagai rotor.

1. Alternator Dengan Kumparan Sebagai Rotor.

Generator AC dengan kumparan sebagai rotor diilustrasikan pada gambar di bawah


ini. Stator generator ini bekerja sebagai sumber medan magnet, sedangkan sisi rotor
bekerja sebagai kumparan kawat. Kumparan kawat berputar dan memotong garis
gaya magnet sehingga terbangkitkan arus listrik pada kumparan tersebut. Arus listrik
dikeluarkan dari rotor melalui slip ring dan sikat karbon (brush). Masing-masing slip
ring terkoneksi dengan tiap-tiap ujung kawat kumparan. Sikat karbon berfungsi
sebagai bidang gesek yang berkontak langsung dengan slip ring. Voltase listrik yang
dihasilkan generator ditransfer dari slip ring melewati sikat karbon untuk menuju ke
luar sistem.
Alternator Dengan Kumparan sebagai Rotor
(Sumber)

Generator AC tipe ini lebih banyak diaplikasikan untuk kebutuhan daya listrik rendah.
Jika digunakan untuk daya listrik yang tinggi, maka arus listrik yang mengalir
melewati slip ring dan sikat karbon akan semakin besar. Tentu hal ini
merupakan losses yang cukup besar dengan mentransmisikan listrik berdaya besar
melewati sebuah bidang gesek. Dibutuhkan biaya yang tidak sedikit jika alternator
tipe ini dipaksakan untuk memproduksi listrik berdaya tinggi. Sehingga sebagian
besar generator AC yang memproduksi listrik berdaya tinggi merupakan tipe medan
magnet sebagai rotor.

2. Alternator Dengan Medan Magnet Sebagai Rotor.

Generator AC dengan medan magnet sebagai rotor menjadi generator AC yang


lebih umum digunakan dibandingkan dengan tipe sebelumnya. Pada tipe ini, arus
listrik DC dari sumber luar dialirkan ke kumparan rotor dengan melewati slip ring dan
sikat karbon. Arus listrik DC tersebut digunakan untuk membangkitkan medan
magnet di kumparan rotor. Seiring dengan perputaran rotor, maka medan magnet
akan ikut bergerak berputar. Garis gaya medan magnet yang bergerak berputar,
akan terpotong oleh kumparan pada sisi stator yang diam sehingga tercipta gaya
gerak listrik di sisi kumparan stator. Dikarenakan daya keluaran generator ini melalui
sisi stator, maka dimungkinkan untuk menggunakan konektor tetap dan selalu
terisolasi sebagai sistem transmisinya. Hal ini tentu menjadi kelebihan jika
digunakan untuk mentransmisikan arus AC yang besar. Di sisi lain, sistem slip ring
dan sikat karbon yang digunakan pada sisi rotor tidak menjadi masalah karena arus
listrik DC yang ditransmisikan tidak sebesar arus listrik AC yang dihasilkan pada sisi
stator.
Alternator Dengan Medan Magnet sebagai Roto

[Link]

Macam-Macam Alternator Berdasarkan Fase Listrik yang Dihasilkan

Telah kita bahas di artikel sebelumnya bahwa karakter listrik AC adalah besar
voltase yang naik turun membentuk gelombang sinusoidal. Pada suatu sistem listrik
AC, gelombang voltase tersebut bisa berjumlah satu atau tiga. Jumlah satu dan tiga
ini lebih familiar digunakan di khalayak umum dibandingkan dengan angka yang lain.
Jika sistem listrik AC tersebut hanya terdapat satu gelombang voltase, maka hal ini
disebut listrik AC satu fasa. Sedangkan jika terdapat tiga gelombang voltase maka
disebut dengan listrik AC tiga fasa.

Perbedaan Gelombang Listrik AC Fasa Tunggal dengan Tiga Fasa


(Sumber)

Bagaimana bisa ada dua tipe arus listrik AC di atas adalah berasal dari sumber arus
listrik AC tersebut, dalam hal ini adalah generator. Komponen generator yang
menentukan jumlah fasa yang dihasilkan tersebut adalah kumparan kawat
(armature). Jumlah dan susunan kumparan menjadi penentu jumlah fasa yang
dihasilkan oleh sebuah generator AC. Berikut akan kita bahas lebih lanjut dua tipe
generator ini berdasarkan fasa listrik AC yang ia hasilkan.

1. Generator AC Fasa Tunggal.

Generator AC yang menghasilkan listrik fasa tunggal adalah generator yang di


dalamnya hanya memiliki satu kumparan kawat (armature), atau beberapa
kumparan kawat yang tersusun secara seri. Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan
beberapa skema generator berikut.

(a) Alternator Dengan Satu Putaran Lilitan Kumparan Sebagai Rotor

(b) Alternator Dengan Beberapa Putaran Lilitan Kumparan Sebagai Rotor


(c) Alternator Dengan Satu Pasang Kumparan Sebagai Stator
(d) Alternator Dengan Dua Pasang Kumparan Sebagai Stator
(Sumber)

Keempat jenis generator di atas sama-sama menghasilkan arus listrik AC satu fasa.
Gambar (a) adalah sebuah generator AC dengan kumparan kawat sebagai rotor.
Nampak pada grafik dibawahnya bahwa dengan satu putaran lilitan kumparan
mampu menghasilkan listrik AC fasa tunggal. Gambar (b) juga sama seperti gambar
(a), yakni sebuah alternator dengan kumparan sebagai rotor. Hanya saja lilitan
kumparan diperbanyak menjadi beberapa kali. Hal ini akan menghasilkan arus listrik
AC fasa tungggal dengan frekuensi yang sama seperti gambar (a), namun memiliki
nilai voltase yang berlipat ganda sesuai dengan jumlah lilitan kumparan.

Gambar (c) dan (d) adalah generator AC tipe medan magnet sebagai rotor, sehingga
kawat kumparan didesain berada di sisi stator. Nampak pada gambar (c), stator
tersusun atas dua sisi kumparan yang saling terhubung secara seri. Selain itu arah
putaran lilitan kumparan antara yang satu dengan yang lainnya nampak saling
berkebalikan, hal ini dikarenakan tiap-tiap kumparan akan menghadap ke medan
magnet dengan kutub yang berbeda. Dengan desain demikian akan membuat arah
arus listrik yang terbangkitkan akan selalu searah antara kumparan yang satu
dengan yang lainnya.

Generator gambar (d) merupakan pengembangan dari desain (c), dimana kumparan
kawat bertambah menjadi empat kumparan dan begitu pula dengan kutub magnet
yang juga menjadi empat kutub. Lilitan kumparan saling terhubung secara seri
sesuai dengan gambar di atas. Dengan desain semacam ini, untuk setiap
90o putaran rotor, kutub voltase listrik akan berubah arah dari positif ke negatif
ataupun sebaliknya. Sehingga di setiap satu putaran rotor akan tercipta dua
gelombang penuh listrik AC. Selain itu karena kumparan dihubungkan secara seri
dan output tegangan berupa satu fase, maka besar tegangan listrik total yang
dihasilkan oleh generator ini sebanyak empat kali tegangan yang dihasilkan oleh
masing-masing kumparan. Dengan kata lain dua kali lebih besar dibandingkan
dengan tegangan listrik yang dihasilkan oleh generator (c).

2. Generator AC Fasa Tiga.

Generator tiga fasa memiliki prinsip kerja yang sama dengan generator satu fasa.
Pembeda paling utama adalah digunakannya tiga kumparan kawat yang saling
terhubung dengan konfigurasi khusus. Jika pada alternator satu fasa beberapa
kumparan dihubungkan secara seri akan menghasilkan tegangan listrik AC yang
lebih besar, maka pada alternator tiga fasa koneksi antar ketiga kumparan kawat
akan menghasilkan tiga gelombang voltase listrik AC yang saling mendahului.
Koneksi Antar Kumparan Pada Alternator AC
(Sumber)

Tiga kumparan kawat, baik diposisikan sebagai rotor ataupun stator alternator,
disusun sedemikian rupa sehingga diantara ketiganya memiliki jarak sudut 120 o.
Masing-masing kumparan memiliki dua ujung kawat yang salah satu ujungnya
dihubungkan dengan ujung kawat kumparan lainnya dengan bentuk konfigurasi delta
() atau wye(Y) seperti pada gambar di atas. Sedangkan ujung-ujung kawat
kumparan lainnya berfungsi sebagai output untuk menyalurkan energi listrik AC yang
terbangkitkan keluar generator.
3 Kumparan Sebagai Stator Alternator Saling Terhubung dengan Koneksi Y
(Sumber)

Tegangan listrik keluaran alternator AC tiga fasa membentuk tiga buah gelombang
sinus jika diproyeksikan ke dalam sebuah grafik. Ketiga gelombang tersebut memiliki
frekuensi yang sama persis, namun saling memiliki jarak sepertiga gelombang
antara satu gelombang dengan gelombang lainnya. Dibawah ini adalah sebuah
animasi proses pembentukan gelombang listrik AC dari sebuah alternator. Titik-titik
merah, biru, dan hijau adalah posisi dimana kumparan kawat harus diletakan serta
merepresentasikan fase satu, dua, dan tiga.

[Link]

Macam-Macam Generator AC Berdasarkan Kecepatan Putaran Rotor

Generator AC juga dapat dibagi menjadi dua berdasarkan kecepatan putaran


rotornya. Jika sebuah generator AC rotornya berputar dengan kecepatan sesuai
dengan sinkronisasi jaringan, maka generator tersebut dinamakan generator
sinkron. Namun jika kecepatan putaran rotor generator lebih cepat sedikit
dibandingkan kecepatan frekuensi jaringan, maka generator tersebut adalah
generator tidak sinkron.

1. Generator Sinkron
Generator sinkron adalah generator yang putaran rotornya seirama dengan
frekuensi jaringan. Pada generator ini berlaku rumus menghitung frekuensi jaringan
sebagai berikut:

Dimana N adalah kecepatan rotor dalam rpm, P adalah jumlah pasang kutub magnet
rotor, sedangkan 60 adalah konversi ke detik.

Generator Sinkron
(Sumber)

Semisal ada sebuah generator yang menggunakan dua kutub magnet (1 utara dan 1
selatan) terpasang ke sebuah jaringan listrik berfrekuensi 50Hz. Jika putaran rotor
generator tersebut adalah 3000 rpm, maka generator tersebut disebut generator
sinkron.

2. Generator Tidak Sinkron


Yang dimaksud dengan generator tidak sinkron adalah generator ini memiliki
kecepatan putaran rotor yang sedikit lebih cepat dengan kecepatan sinkronisasi
jaringan. Hal ini dikarenakan komponen rotor generator ini tidak menggunakan
magnet permanen ataupun sistem eksitasi dari luar. Rotor generator tipe ini
menggunakan induksi elektromagnetik yang tercipta pada stator untuk ditangkap
oleh batang-batang konduktor (biasa berbentuk seperti kandang tupai) sehingga
tercipta medan magnet di dalam rotor. Disaat yang sama rotor tersebut diputar oleh
sumber putaran dari luar dengan kecepatan di atas kecepatan sinkronisasi,
menghasilkan fluks magnet rotor yang sekarang memotong kumparan stator. Pada
saat inilah kumparan stator akan menghasilkan arus listrik untuk dikirim ke sistem.
Komponen Generator Tidak Sinkron (aSinkron)
(Sumber)

Generator tipe ini banyak dipergunakan untuk pembangkit listrik tenaga angin dan
tenaga mikro hidro. Hanya saja ada beberapa kelemahan di dalamnya, yakni:

Efisiensi sistem eksitasi internal di dalam generator ini kurang baik.


Kita tidak dapat menggunakan generator tipe ini untuk kondisi faktor daya
sedang lagging.
Generator ini membutuhkan daya reaktif yang terlalu besar.

[Link]
Generator dan Sistem Eksitasi
BY: ONNY

Generator merupakan satu komponen yang paling penting pada sebuah pabrik
penghasil listrik semacam PLTU. Energi panas dari uap air yang diproduksi oleh
boiler diubah menjadi energi mekanis berupa putaran poros pada turbin. Energi
mekanis tersebut selanjutnya akan diubah menjadi energi listrik oleh generator.
Generator listrik menggunakan prinsip dasar dari Hukum Faraday dimana apabila
sebuah konduktor listrik dilewatkan ke sebuah medan magnet, akan timbul tegangan
listrik yang terinduksi pada konduktor tersebut.

Prinsip Dasar Generator

Secara umum generator terbagi ke dalam dua jenis, yakni generator DC dan
generator AC. Generator DC membangkitkan arus listrik searah dengan
menggunakan komponen utama berupa komutator, sebuah komponen berupa lilitan
kawat untuk membangkitkan listrik searah. Generator DC hanya cocok untuk
membangkitkan tenaga listrik kecil, karena untuk memenuhi kebutuhan listrik yang
tinggi, dibutuhkan generator DC yang ukurannya sangat besar mengalahkan ukuran
generator AC untuk menghasilkan daya yang sama. Generator AC tersusun atas
sebuah konduktor listrik yang bergerak memotong medan magnet (biasanya berupa
elektromagnetik). Kedua ujung dari konduktor tersebut terhubung ke beban listrik
yang menjadi konsumen listrik dari generator. Untuk memahami prinsip kerja
generator AC, mari kita perhatikan gambar di bawah ini.
Prinsip Pembangkitan Arus Listrik AC

Pada saat posisi konduktor vertikal, tegangan yang dihasilkan adalah nol karena
pada posisi ini konduktor tidak memotong garis medan magnet. Konduktor terus
berputar hingga 90o sehingga pada saat posisi horisontal akan dihasilkan tegangan
listrik maksimum. Konduktor ini akan terus berputar sehingga menghasilkan arus
listrik AC yang dapat digambarkan dengan grafik sinusoidal pada gambar di atas.

Prinsip Dasar Generator AC 3-Fasa

Generator 3-fasa memiliki prinsip kerja yang sama dengan generator 1-fasa. Tiga
lilitan konduktor disusun secara melingkar sehingga jarak antar lilitan adalah sebesar
120o. Medan magnet yang berputar di tengah-tengah ketiga lilitan konduktor tersebut
menginduksi lilitan-lilitan tersebut sehingga menghasilkan tegangan listrik pada
masing-masing lilitan. Jika digambarkan menjadi sebuah kurva, maka akan
membentuk tiga kurva yang masing-masing memiliki jarak 120o.

Sistem Eksitasi

Komponen utama dari rotor sebuah generator adalah magnet. Magnet ini dapat
berupa magnet permanen maupun magnet yang dibangkitkan dengan menggunakan
kumparan. Pada generator yang menggunakan kumparan sebagai magnet buatan,
maka dibutuhkan arus listrik yang mengalir ke kumparan tersebut. Proses dari
pembangkitan medan magnet secara buatan pada generator inilah yang disebut
dengan proses eksitasi.

Perbedaan Generator Dengan Exciter dan Magnet Permanen

Pada generator dengan sistem eksitasi, besar tegangan listrik yang dihasilkan oleh
generator sebanding dengan besar medan magnet di dalamnya, sedangkan besar
medan magnet ini sebanding dengan besar arus eksitasi yang dibangkitkan. Maka,
jika arus eksitasi sama dengan nol, maka tegangan listrik juga sama dengan nol.
Atas dasar ini, sistem eksitasi dapat dikatakan sebagai sebuah sistem amplifier,
dimana sejumlah kecil daya dapat mengontrol sejumlah daya yang besar. Prinsip ini
menjadi dasar untuk mengontrol tegangan keluaran generator, jika tegangan sistem
turun maka arus eksitasi harus ditambah, dan jika tegangan sistem terlalu tinggi
maka arus eksitasi dapat diturunkan.
Macam-macam Exciter

Secara umum exciter dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu:

1. Exciter Berputar. Exciter jenis ini membangkitkan arus listrik DC dengan


menggunakan semacam generator berukuran kecil yang ikut berputar dengan
generator utama. Ada dua tipe exciter berputar, mereka adalah:
Tipe yang menggunakan brush. Tipe klasik ini memerlukan komponen slip-
ring untuk menghubungkan arus yang dibangkitkan oleh exciter dengan rotor
generator. Sehingga tipe ini memerlukan perawatan yang berjangka.
Tipe brushless. Tipe ini lebih modern karena exciter berada satu poros dengan
generator utama. Supply arus dari exciter kumparan magnet generator
dihubungkan dengan plat dioda.
Exciter Tipe Brushless

2. Exciter Statis. Exciter tipe ini tidak menggunakan generator kecil sebagai
pembangkit arus DC untuk generator utamanya. Tipe ini menggunakan arus listrik
yang keluar dari generator yang "disearahkan" menjadi DC dan disupply ke rotor
generator utama.

Sumber:

[Link]

Prinsip Kerja Generator DC


BY: ONNY

Generator adalah sebuah mesin yang berfungsi untuk mengubah energi mekanis
menjadi energi listrik. Listrik yang dihasilkan oleh generator dapat berupa AC
ataupun DC, bergantung dari tipe generator. Kali ini kita akan terlebih dahulu
membahas generator DC.

Sama halnya dengan motor listrik, generator listrik juga menggunakan fenomena
hukum Faraday mengenai induksi elektromagnetik. Hukum Faraday menyebutkan
jika terjadi perubahan garis gaya magnet pada sebuah kumparan kawat, maka akan
timbul gaya gerak listrik (ggl) pada kawat tersebut. Jika kumparan kawat
dihubungkan dengan rangkaian listrik tertutup, maka akan timbul pula arus listrik
yang mengalir pada rangkaian.

Kaidah Tangan Kanan Fleming


(Sumber)
Sebelum lebih lanjut memahami prinsip kerja generator, terlebih dahulu Anda harus
mengenal kaidah tangan kanan Fleming. Kaidah tangan kanan fleming adalah
sebuah metode mneumonik untuk memudahkan kita menentukan arah vektor dari
ketiga komponen hukum Faraday, yakni arah gaya gerak kumparan kawat, arah
medan magnet, serta arah arus listrik. Jika Anda menirukan posisi jari tangan kanan
Anda seperti pada gambar di atas, maka ibu jari akan menunjukkan arah gaya
(torsi), jari telunjuk menunjukkan arah medan magnet, dan jari tengah menunjukkan
arah arus listrik.

Skema Bagian-bagian Generator DC


(Sumber)

Generator DC memiliki komponen yang sama persis dengan motor listrik DC. Pada
skema di atas, rotor generator diskemakan dengan sebuah kawat angker
penghantar listrik (armature) yang membentuk persegi panjang. Pada kedua ujung
kawat angker terpasang komutator berbentuk lingkaran yang terbelah menjadi dua,
komponen ini sering kita dengar dengan sebutan cincin belah. Cincin belah
termasuk bagian dari rotor, sehingga ia ikut berputar dengan rotor. Sedangkan stator
generator tersusun atas dua magnet dengan kutub berbeda yang saling
berhadapan. Pada bagian yang kontak langsung dengan cincin belah, stator
dilengkapi dengan sikat karbon yang berfungsi untuk menghubungkan arus listrik
yang dibangkitkan pada kawat angker ke rangkaian di luar generator.
(a)

(b)
(c)
Prinsip Kerja Generator DC
(Sumber)

Gambar di atas adalah skema sederhana proses kerja generator DC. Kawat angker
ABCD dapat berputar dengan sumbu a-b, dan berada di tengah-tengah medan
magnet N-S. Kawat angker sedang dalam kondisi diputar oleh sumber dari luar,
dengan arah yang searah putaran jarum jam sesuai pada gambar. Putaran ini
memberikan gaya torsi dengan arah yang selalu tegak lurus dengan kawat angker.

Kawat angker berada dalam posisi horisontal pada gambar (a). Kawat A-B
mengalami gaya torsi yang mengarah ke bawah (sesuai arah putaran angker).
Dengan menggunakan kaidah tangan kanan Fleming, kita akan dengan mudah
menentukan arah arus listrik yang terbangkitkan adalah dari titik A ke B. Demikian
pula dengan kawat C-D, melalui cara yang sama akan dengan mudah kita tentukan
arah arus listrik yang terbangkitkan adalah dari C ke D.

Pada gambar (b) arah torsi yang terjadi pada kawat A-B adalah mendatar ke arah
kiri, sedangkan untuk kawat C-D arah torsi adalah mendatar ke kanan. Karena
vektor torsi ini sejajar dengan garis gaya magnet dan tidak terjadi pemotongan garis
gaya magnet, maka pada posisi ini tidak akan timbul gaya gerak listrik.
Pada gambar (c) kawat angker kembali berposisi horisontal. Pada kondisi ini kembali
dengan mudah kita dapat menentukan arah arus listrik yang teebangkitkan. Untuk
kawat A-B arus listrik akan mengarah dari B ke A, sedangkan pada kawat C-D arus
listrik akan mengarah dari D-C.

Grafik Voltase yang Dibangkitkan Generator DC


(Sumber)

Grafik di atas menunjukkan besar voltase gaya gerak listrik yang dibangkitkan oleh
sebuah generator dengan satu lilitan kawat angker pada beberapa posisi lilitan.
Terlihat bahwa grafik berbentuk setengah gelombang yang selalu berulang secara
periodik. Nilai voltase pada setiap waktu adalah positif, hal ini dikarenakan arus yang
dibangkitkan oleh generator DC yang selalu searah.

Pada aplikasinya, generator DC selalu menggunakan lebih dari satu lilitan kawat
angker. Penggunaan banyak lilitan ini akan menghasilkan voltase yang semakin
stabil di setiap waktu. Celah yang ada di tiap tengah-tengah gelombang voltase akan
semakin tertutup. Semakin banyak jumlah lilitan, akan semakin tertutupi celah-celah
tersebut. Gambar berikut adalah generator dengan empat lilitan, tampak grafik
voltasenya menjadi semakin rata dan stabil.

Skema Generator dengan Empat Lilitan Armature


Grafik Voltase Generator dengan Empat Lilitan Armature

Anda mungkin juga menyukai