Overlay
A. Pengertian
Overlay atau tebal lapis tambahan merupakan lapis perkerasan tambahan yang dipasang
di atas konstruksi perkerasan yang ada dengan tujuan meningkatkan kekuatan struktur
perkerasan yang ada agar dapat melayani lalu lintas yang direncanakan selama kurun waktu yang
akan datang (Oriza Rizky, 2010).
B. Alat dan bahan-bahan yang digunakan
a) Alat
Dump truck (dump truk)
Dump truck adalah kendaraan jenis yang digunakan untuk mengangkut bahan
material seperti pasir, kerikil atau tanah untuk keperluan konstruksi.
Asphalt Sprayer
Asphal Sprayer adalah peralatan yang digunakan untuk menyemprotkan asphalt cair
pada pekerjaan finishing jalan
Three Wheel Roller
Three Wheel Roller (Penggilas roda tiga) atau biasa juga disebut dengan Macadam
Roller, adalah merupakan alat penggilas yang digunakan dalam melaksanakan
pekerjaan-pekerjaan pemampatan.
Asphalt Finisher
Asphalt Finisher adalah alat yang digunakan untuk menghamparkan aspal olahandari
mesin pengolah aspal dan meratakan lapisannya.
Pneumatic Tire Roller
alat terdiri atas roda-roda ban karet yang dipompa (pneumatic) maka area pekerjaan
juga perlu dibebaskan dari benda-benda tajam yang dapat merusak roda. Susunan
dari roda muka dan roda belakang selang-seling sehingga bagian yang tidak tergilas
oleh roda bagian muka maka akan digilas oleh roa bagian belakangnya. Alat ini baik
sekali digunakan pada penggilasan bahan yang bergranular (berbatu), juga baik
digunakan pada penggilasan lapisan hot mix sebagai penggilas antara
Tandem roller
termasuk sebagai alat pemadatan. Biasanya digunakan untuk penggilasan akhir,
artinya fungsi alat ini adalah untuk meratakan permukaan
b) Bahan
AC-WC (ASPHALT CONCRETE WEARING COURSE)
Beton aspal adalah jenis perkerasan jalan yang terdiri dari campuran agregat
dan aspal, dengan atau tanpa bahan tambahan. Material-material pembentuk beton
aspal dicampur di instalasi pencampur pada suhu tertentu, kemudian diangkut ke
lokasi,dihamparkan dan dipadatkan. Suhupencampuran ditentukan berdasarkan jenis
aspal yang akan digunakan. Jika semen aspal,maka pencampuran umumnya antara
145-155C, sehingga disebut beton aspal campuran panas. Campuran ini dikenal
dengan hotmix.(Silvia Sukirman, 2003).
Material utama penyusun suatu campuran aspal sebenarnya hanya dua
macam, yaitu agregat dan aspal. Namun dalam pemakaiannya aspal dan agregat bisa
menjadi bermacam-macam, tergantung kepada metode dan kepentingan yang dituju
pada penyusunan suatu perkerasan.
Salah satu produk campuran aspal yang kini banyak digunakan oleh
Departemen Pekerjaan Umum dan Prasarana Wilayah adalah AC-WC (Asphalt
Concrete - WearingCourse) / Lapis Aus Aspal Beton. AC-WC adalah salah satu dari tiga
macam campuran lapis aspalbeton yaitu AC-WC, AC-BC dan AC-Base. Ketiga jenis
Laston tersebut merupakan konsepspesifikasi campuran beraspal yang telah
disempurnakan oleh Bina Marga bersama-sama dengan Pusat Litbang Jalan. Dalam
perencanaan spesifikasi baru tersebut menggunakan pendekatan kepadatan mutlak.
Penggunaan AC-WC yaitu untuk lapis permukaan (paling atas) dalam
perkerasandan mempunyai tekstur yang paling halus dibandingkan dengan jenis laston
lainnya. Pada campuran laston yang bergradasi menerus tersebut mempunyai
sedikit rongga dalam struktur agregatnya dibandingkan dengan campuran bergradasi
senjang. Hal tersebut menyebabkan campuran AC-WC lebih peka terhadap variasi
dalam proporsi campuran.
Gradasi agregat gabungan untuk campuran AC-WC yang mempunyai gradasi
menerustersebut ditunjukkan dalam persen berat agregat, harus memenuhi batas- batas
dan harus berada diluar daerah larangan (restriction zone) yang diberikan dalam Tabel
di bawah ini dengan membandingkan dengan AC-BC yang mempunyai ukuran butir
agregat maksimum 25 mm atau 1dan AC-Base 37,5 mm atau 1. Sedangkan AC-WC
mempunyai ukuran butir agregat maksimum 19mm atau .
Tabel Gradasi Agregat Untuk Campuran Lapis Beton Aspal
Ukuran Ayakan % Berat Yang Lolos
ASTM (mm) WC BC Base
11/2 37,5 - - 100
1 25 - 100 90 100
3/4 19 100 90 100 maks. 90
1/2 12,5 90 - 100 maks. 90
3/8 9,5 maks. 90
no.8 2,36 28 58 23 49 19 45
no.16 1,18 - - -
no.30 0,6 - - -
no.50 0,3 - - -
No.100 0,15 - - -
No.200 0,075 4 10 48 37
Daerah Larangan
no.4 4,75 - - 39,5
no.8 2,36 39,1 34,6 26,8 30,8
no.16 1,18 25,6 31,6 22,3 28,3 18,1 24,1
no.30 0,6 19,1 23,1 16,7 20,7 13,6 17,6
no.50 0,3 15,5 13,7 11,4
Tack Coat
Lapisan Perekat tersusun dari :
o Aspal emulsi (RS) atau di encerkan dengan air perbandingan 1:1
o Aspal semen penetrasi 60/70 atau 80/100 diencerkan dengan minyak tanah
25-30 pph
C. Proses pekerjaan Overlay di Lapangan
a. Persiapan Peremukaan Jalan Existing ( Jalan yang sudah ada )
Tahap-tahap yang harus dilakukan antara lain adalah :
1. Pekerjaan pembersihan permukaan jalan existing dari debu dan kerikil, dengan
melakukan penyemprotan menggunakan compressor.
Gambar pekerjaan pembersihan dengan compressor
2. Kemudian dilakukan pekerjaan penyemprotan lapis perekat (tack coat), dengan
menggunakan asphalt sprayer. Tujuan dilakukannya pelapisan tack coat ini adalah
untuk menambah daya ikat antara jalan existing dengan campuran aspal baru. Batas
Permukaan yang akan disemprot oleh setiap lintasan penyemprotan diukur dan
ditandai dengan cat atau benang. Distributor aspal mulai bergerak kira-kira 5 meter
sebelum daerah yang akan disemprot. Kecepatan laju dijaga konstan sampai melalui
titik akhir dicek apakah telah merata, untuk lapis perekat disemprotkan hanya
sebentar ( kira-kira setebal kertas saat pengujian nilai kerataan ) sebelum
penghamparan lapis aspal di atasnya untuk memperoleh kondisi kelengketan yang
tepat.
Gambar Pekerjaan Penyemprotan Tack Coat
b. Pekerjaan hamparan
Penghamparan dilaksanakan stelah pekerjaan persiapan seperti pembersihan
permukaan dari bahan yang lepas atau tidak dikehendaki dengan sapu mekanis
pemasangan rambu-rambu, pengaturan lalu-lintas peralatan, patok batas penghamparan
dan lokasi telah dihamparkan lapis pengkat.
Sebelum memulai penghamparan, sepatu (screed) alat penghampar harus
dipanaskan, campuran aspal harus dihampar dan diratakan sesuai kelandaian, elevasi,
serta bentuk penampang melintang yang disyaratkan. Apabila penghamparan
dilaksanakan pada malam hari maka harus disediakan penerangan secukupnya.
Ketebalan hamparan diatur pada alat asphalt finisher sesuai dengan ketebalan
yang ditentukan. Apabila tebal hamparan lebih dari satu lapis maka toleransi ketebalan
harus memenuhi persyaratan dan spesifikasi. Mesin vibrasi pada alat penghampar harus
dijalankan selama penghamparan dan pembentukan. Temperatur penghamparan 155oC.
Alat penghampar dioperasikan dengan kecepatan yang tetap agar tidak menyebabkan
retak permukaan, koyakan atau bentuk ketidakrataan lainnya.
Berikut tahapan tahapan pekerjaan penghamparan :
1. Tempatkan Asphalt Finisher pada jalur di titik awal pekerjaan, sebelumnya Asphalt
Finisher di-stel terlebih dahulu, sehingga mampu menghampar dan membentuk
campuran aspal sesuai dengan garis, kelandaian serta penampang melintang yang
diperlukan
Gambar Penempatan asphalt finisher pada titik awal
2. Tempatkan Dump truck di depan alat penadah (Hopper) dari Asphalt Finisher lalu
Tuangkan campuran aspal ke dalam Hopper.
Gambar Masuknya Hotmix ke dalam Hopper pada Asphalt Finisher
3. Setelah hotmix berada di dalam hopper dan siap untuk dihamparkan, segera
operasikan asphalt finisher . Nyalakan mesin fibrasi selama penghamparan agar
campuan aspal terdistribusi secara merata.
Gambar Pekerjaan penghamparan dengan menggunakan asphalt finisher
4. Para pekerja meratakan campuran aspal yang dikeluarkan dari Asphalt Finisher
dengan menggunakan sekop dan lacker, agar campuran aspal merata.
Gambar Aspal diratakan dengan menggunakan sekop dan lacker
5. Periksa ketebalan hasil penghamparan dengan menggunakan alat ukur sederhana
yang terbuat dari tulangan yang telah ditandai, seteah campuran diratakan.
6. Segera isi ulang aspal ke dalam Hopper apabila campuran aspal akan habis. Jika
tersisa campuran aspal pada Hopper, suhunya tidak boleh lebih rendah dari suhu
penghamparan.
c. Pekerjaan Pemadatan
Setelah pekerjaan penghamparan selesai kemudian dilakukan pekerjaan pemadatan.
Pekerjaan ini adalah pekerjaan tahap akhir dari rangkaian pekerjaan lapis perkerasan
lentur. Pekerjaan ini dilakukan secara berulang kali dengan tujuan mendapatkan hasil
yang maksimal. Alat yang digunakan pada pekerjaan pemadatan ini adalah Three Weel,
Pneumatic Tired Roller, dan Mini Pneumatic Tired Roller.
pemadatan dilakukan 3 tahap pengerjaan yaitu:
1. Pemadatan awal
Alat yang digunakan adalah Three Wheels, Pemadatan dilakukan dari tepi ruas
penghamparan ke tepi lainnya kemudian ke bagian tengah lintasan. Ini dilakukan
dengan tujuan agar permukaan jalan mendapatkan kemiringan yang ideal dan
tidak mengalami penurunan. Agar campuran aspal panas tidak melekat pada roda
Three Wheels, maka roda Three Wheels dibasahi secukupnya dengan
menggunakan air.
Gambar Pemadatan Awal Menggunakan Three Weels
b. Pemadatan antara
Alat yang digunakan untuk proses pemadatan antara adalah Pneumatic Tired
Roller. Pemadatan dilakukan segera setelah pemadatan awal selesai dikerjakan. Tujuan
dari pemadatan antara ini adalah agar aspal hasil pemadatan awal tidak mengalami
penurunan (settle down).
Proses dan arah pemadatan kedua ini sama dengan proses pemadatan pertama,
hanya jumlah Passing-nya lebih banyak, yaitu 16 Passing untuk satu lebar jalan. Selain
itu, ban gilas harus di semprot air dan pembantu operator juga membantu membersihkan
ban karet dengan menyemprotkan kerosin lalu permukaan ban dibersihkan dari campuran
yang menempel dengan menggunakan kain, selagi PTR melakukan pemadatan alat ini
menyemprotkan air pada campuran aspal panas, hal ini bertujuan untuk mencegah hotmix
menempel pada ban.
Gambar Pemadatan Antara dengan Pneumatic Tired Roller
Gambar Pembantu operator menyemprotkan kerosin pada permukaan ban karet
Gambar Penyemprotan air agar aspal tidak menempel pada ban karet
Gambar Kondisi permukaan jalan yang basah setelah dilakukan penyemprotan air
c. Pemadatan akhir
Alat yang digunakan adalah Mini Pneumatic Tired Roller. Pemadatan ini bertujuan untuk
menghilangkan bekas jejak roda hasil pemadatan antara sehingga didapatkan permukaan
yang merata yang halus. Di lapangan pemadatan akhir menggunakan Tundhem roller
sebanyak 2 lintasan.
Gambar Pemadatan Akhir dengan Mini Pneumatic Tired Roller