BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gastroenteritis biasa disebut diare adalah salah satu penyakit yang
banyak terjadi di Indonesia. Gastroenteritis dapat menyerang pada semua
kelompok usia. Tidak jarang penyakit ini menyebabkan kematian pada si
penderita. Hal ini dikarenakan oleh ketidakmampan si penderita menoleransi
kehilangan elektrolit dan cairan dari tubuhnya.
Gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus
yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa dehidrasi disertai muntah.
Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk
tinja yang encer dengan frekuensi yang lebih banyak dari biasa (Sowdent,
2005).Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya
diare, seperti masyarakat harus menyadari bahwa kesehatan itu lebih dari
segalanya. Berdasarkan hal di atas penulis menyusun makalah dengan judul
Asuhan Keperawatan Gastroenteritis Akut .
B. Rumusan Masalah.
1. Bagaimana landasan teoritis penyakit gastroenteritis?
2. Apa sajakah penyebab diare ?
3. Bagaiman patofisiologi terjadinya diare ?
4. Sebutkan tanda dan gejala diare ?
5. Apa akibat dari penyakit diare ?
6. Bagaiman cara pencegahan terhadap penyakit diare ?
7. Sebutkan upaya pertolongan pertama yang perlu segera dilakukan terhadap
penyakit diare ?
1
C. Tujuan.
1. Mampu memberikan keperawatan yang tepat untuk pasien.
2. Agar dapat mengetahui penyebab diare,mengetahui gejala diare,mengetahui
cara penanggulangan diare dan dapat mengetahui cara pencegahan diare.
D. Mamfaat :
Sebagai salah satu sumber literatur dalam perkembangan dibidang
profesi keperawatan.
2
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Devinisi
Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung
dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah
(Sowden,et all.1996).Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang
tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi yang lebih banyak
dari biasanya (FKUI,1965).Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah
lambung dan intestinal yang disebabkan oleh bakteri yang bermacam-
macam,virus dan parasit yang patogen (Whaley &
Wongs,1995).Gastroenteritis adalah kondisi dengan karakteristik adanya
muntah dan diare yang disebabkan oleh infeksi,alergi atau keracunan zat
makanan ( Marlenan Mayers,1995 ).
Jadi dapat disimpulkan bahwa Gastroentritis (GE) adalah terjadinya
peradangan pada lambung dan usus yang disebabkan oleh bakteri, virus dan
parasit yang pathogen dimana gejala yang umum terjadi adalah diare (bentuk
tinja yang encer) dalam frekuensi yang lebih banyak dari biasanya. Diare
adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari
biasanya (normal 100 200 ml per jam tinja), dengan tinja berbentuk cairan
atau setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai frekuensi defekasi yang
meningkat (Mansjoer, Arif., et all. 1999).Diare adalah buang air besar encer
atau cair lebih dari tiga kali sehari ( WHO, 1980).
Diare akut adalah diare yang walanya mendadak dan berlangsung
singkat,dalam beberapa jam sampai 7 atau 14 hari.(kapita selekta kedokteran
jilid 1 edisi arief mansjoer,2000).
3
Jenis-jenis Diare :
1. Diare Akut.
Merupakan diare yang disebabkan oleh virus yang disebut Rotaviru
yang ditandai dengan buang air besar lembek/cair bahkan dapat berupa
air saja yang frekuensinya biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari) dan
berlangsung kurang dari 14 hari. Diare ini merupakan virus usus patogen
yang menduduki urutan pertama sebagai penyebab diare akut pada anak-
anak.
2. Diare Bermasalah.
Merupakan yang disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, parasit,
intoleransi laktosa, alergi protein susu sapi. Penularan secara fecal-oral,
kontak dari orang ke orang atau kontak orang dengan alat rumah tangga.
Diarae ini umumnya diawali oleh diare cair kemudian pada hari kedua
atau ketiga baru muncul darah, dengan maupun tanpa lendir, sakit perut
yang diikuti munculnya tenesmus panas disertai hilangnya nafsu makan
dan badan terasa lemah.
3. Diare Persisten.
Merupakan diare akut yang menetap, dimana titik sentral
patogenesis diare persisten adalah keruskan mukosa usus. Penyebab diare
persisten sama dengan diare akut.
B. Etiologi
Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor yaitu :
1. Faktor infeksi
Infeksi internal adalah infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan
penyebab utama diare meliputi :
a) Infeksi Bakteri : vibrio [Link] Salmonella, Shigella, Campyio bacter,
Aeromonas
b) Infeksi virus : Enteriviru ( virus echo, coxsacle, poliomyelitis ),
Adenovirus, Astrovirus, dll
c) Infeksi parasit : Cacing (ascaris, trichuris, oxyguris) Protozoa
(entamoeba histoticia, trimonas hominis), Jamur (candida albacus)
4
d) Infeksi parental adalah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti
otitis media akut (OMA), Bronco pneumonia, dan sebagainya.
2. Faktor Malabsorbsi
a) Malabsorbsi karbohidrat
b) Malabsorbsi Lema
3. Faktor Makanan
Makanan yang tidak bersih, basi, beracun dan alergi terhadap makana
C. Patofisiologi.
Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus,
Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter,
Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia,
Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi
pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-
sel, atau melekat pada dinding usus pada gastroenteritis akut.
Penularan gastroenteritis bisa melalui fekal-oral dari satu klien ke
klien yang lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan
makanan dan minuman yang terkontaminasi.
Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotik
(makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam
rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam
rongga usus, isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare ). Selain itu
menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi
air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan mutilitas usus
yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu
sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan
gangguan asam basa (asidosis metabolik dan hipokalemia), gangguan gizi
(intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.
5
D. Manifestasi Klinik
Pasien dengan diare akut akibat inveksi sering mengalami
muntah,nyeri perut sampai kejang perut,demam dan [Link] renjatan
hipovolemik harus [Link] cairan menyebabkan pasien akn
merasa haus ,lidah kering,tulang pipi menonjol,turgor kulit menurun,serta suara
menjadi [Link] biokimiawi seperti asidosis metabolik akan
menyebabkan frekuensi pernafasan lebih cepat dan dalam (pernafasan
kusmaul) bila terjadi renjatan hipofolemik berat maka denyut nadi cepat (lebih
dari 120x/menit).tekanan darah menurun sampai tak terukur ,pasien
gelisah,muka pucat,ujung-ujung estermitas dingin,kadang sianosis.
Kekurangan kalium menyebabkan aritmia jantung perfusi ginjal
menurun sehingga timbul anuria ,sehingga bila kekurangan cairan tak segera
diatasi maka dapat timbul penyakit berupa nekrosis tubulas [Link] klinis
karena diare akut terbagi menjadi 2 golongan :
a) Koleriform,dengan diare yang terutama terediri atas cairan saja
b) Disentriform,pada diare didapatkan lendir kental dan kadang-kadang
darah.
Gejala lain :
a) Muntah (dapat terjadi sebelum atau sesudah diare).
b) Gejala dehidrasi.
c) Berat badan menurun.
d) Ubun-ubun cekung (pada bayi).
e) Tonus dan turgor kulit berkurang.
f) Selaput lendir dan bibir kering.
g) Asidosis metabolik.
6
E. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
a) Pemeriksaan Tijna
1) Pemeriksaan tinja baik makroskopik maupun mikroskopik harus
dilakukan untuk menentukan diagnosa yang pasti.
2) Pemeriksaan secara makroskopik harus diperhatikan bentuk, warna
tinja, ada tidaknya darah, lendir, pus, lemak, dan lain-lain.
3) Pada pemeriksaan mikroskopik harus diperhatikan telur cacing,
parasit, dan bakteri.
b) Pemeriksaan darah
1) Homogram lengkap, meliputi : Hb, eritrosi, leukosit, dan hematokrit
untuk membantu menemukan derajat dehidrasi dan infeksi.
2) Pemeriksaan pH dan keseimbangan asam basa.
3) Pemeriksaan AGD dan elektrolit, yaitu Na, K, Cl, dan Mg.
c) Pemeriksaan urine
1) Ditetapkan volme, berat jenis, pH, dan elektrolitnya.
2. Endoskopi
Pemeriksaan endoskopi sebaiknya dilakukan sebagai pekerjaan
rutin pada setiap penderia diare. Lebih-lebih lagi setelaah ditemukan
colon fibrescope maka akan mempermudah dalam pembuatan diagnosa.
3. Radiologi
Penderita sering mengalami diare yang hilang timbul, misalnya
colitis ulseratif dan regional enteritis. Untuk menegakkan diagnosa perlu
dilakukan pemeriksaan radiology.
Pada pemeriksaan pada klien gastroenteritis umumnya terdapat :
a) Turgor kulit menurun, Mata mulai cekung.
7
b) Asites (+) BB menurun, Bising Usus Meningkat.
c) Membran mukosa mulut tampak kering.
d) BAK 3-5x/hari, 75 100 cc tiap BAK, warna kuning agak pekat.
e) BAB encer 2-3 kali atau lebih dalam sehari..
f) Hb 10,6 gr% (N : 11-14 gr%)
g) Konjungtiva subanemis.
h) Mukosa bibir pucat, agak kering.
i) Klien terlihat letih/ lemah dan pucat
F. Komplikasi.:
1. Dehidrasi.
2. Renjatan hipovolemik.
3. Kejang.
4. Bakterimia.
5. Mal nutrisi.
6. Hipoglikemia.
7. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.
G. Klasifikasi.
Klasifikasi Gastroenteritis (diare) dapat di klasifikasi berdasarkan
beberapa faktor :
1) Berdasarkan lama waktu :
a) Akut : berlangsung < 5 hari.
b) Persisten : berlangsung 15-30 hari.
c) Kronik : berlangsung > 30 hari.
2) Berdasarkan mekanisme patofisiologik.
a) Osmotik, peningkatan osmolaritas intraluminer.
b) Sekretorik, peningkatan sekresi cairan dan elektrolit.
3) Berdasarkan derajatnya.
a) Diare tanpa dehidrasi.
b) Diare dengan dehidrasi ringan/sedang.
c) Diare dengan dehidrasi berat.
8
4) Berdasarkan penyebab infeksi atau tidak.
a) Infektif.
b) Non infeksif.
5) Berdasarkan penyebab organik atau tidak.
a) Organik adalah bila ditemukan penyebab anatomik, bakteriologik,
hormonal, atau toksikologik.
b) Fungsional merupakan bila tidak ditemukan penyebab organik.
Tingkat Dehidrasi Gastroenteritis
1) Dehidrasi Ringan : Kehilangan cairan 2 5 % dari berat badan dengan
gambaran klinik turgor kulit kurang elastis, suara serak, klien belum jatuh
pada keadaan syok.
2) Dehidrasi Sedang : Kehilangan cairan 5 8 % dari berat badan dengan
gambaran klinik turgor kulit jelek, suara serak, presyok nadi cepat dan
dalam.
3) Dehidrasi Berat : Kehilangan cairan 8 10 % dari berat badan dengan
gambaran klinik seperti tanda-tanda dehidrasi sedang ditambah dengan
kesadaran menurun, apatis sampai koma, otot-otot kaku sampai sianosis.
H. Penatalaksanaan
Dasar pengobatan diare adalah pemberian cairan, dietetik (cara
pemberian makanan) dan [Link] cairanPemberian cairan pada
pasien diare dengan mempertahankan derajat dehidrasi dan keadaan umum.
1) Cairan per oral
Pada pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang cairan diberikan per
oral beberapa cairan yang berisikan NaCL,NaHCO3,KCL dan Glukosa.
Untuk diare akut dan kolera pada anak diatas umur 6 bulan dengan dehidrasi
ringan/sedang, kadar Natrium 50-60 mEg/1 formula lengkap sering disebut
oralit. Sebagai pengobatan sementara yang dibuat sendiri (formula tidak
lengkap) hanya air gula dan garam (NaCL dan sukrosa) atau air tajin yang
diberi garam dan gula.
9
2) Cairan parental
Pada umumnya digunakan cairan Ringel laktat (RL) yang
pemberiannya bergantung pada berat ringannya dehidrasi, yang
diperhitungkan dengan kehilangan cairan sesuai umur dan berat badannya
(Ngastiyah, 1997 : 146)
I. Pengobatan
Prinsip pengobatan diare adalah menggantikan cairan yang hilang melalui
tinja dengan atau tanpa muntah, dengan cairan yang mengandung elektrolit dan
glukosa atau karbohidrat lain (gula,air tajin, tepung beras dan sebagainya).
1) Obat anti sekres
a. Asetosal, dosis 25 mg/th,dengan dosis minimum 30 mg
b. Klorpromazin, dosis 0,5-1 mg/kg BB/hr
2) Obat spasmolitik
Seperti papaverin, ekstrak beladona, opinum loperamid, tidak untuk
mengatasi diare akut lagi.
3) Antibiotik
Tidak diberikan bila tidak ada penyebab yang jelas, bula penyebab
kolera, diberikan tetrasiklin 25-50 mg/kg BB/hr. Juga diberikan bila terdapat
penyakipenyerta seperti : OMA, faringitis, bronkitis, atau bronkopneumonia
( Ngastiyah, 1997 : 149)
H. Pencegahan.
1) Pencegahan muntaber bisa dilakukan dengan mengusahakan Usahakan
untuk selalu mencuci tangan sebelum menyentuh makanan.
2) Usahakan pula menjaga kebersihan alat-alat makan.
3) Sebaiknya air yang diminum memenuhi kebutuhan sanitasi standar di
lingkungan tempst tinggal. Air dimasak benar-benar mendidih, bersih,
tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa.
4) Tutup makanan dan minuman yang disediakan di meja.
10
5) Setiap kali habis pergi usahakan selalu mencuci tangan, kaki, dan muka.
6) Biasakan anak untuk makan di rumah dan tidak jajan di sembarangan
tempat. Kalau bisa membawa makanan sendiri saat ke sekolah.
7) Buatlah sarana sanitasi dasar yang sehat di lingkungan tempat tinggal,
seperti air bersih dan jamban/WC yang [Link] yang bersih
dan sehat.
8) Pembuatan jamban harus sesuai persyaratan sanitasi standar. Misalnya,
jarak antara jamban (juga jamban tetangga) dengan sumur atau sumber air
sedikitnya 10 meter agar air tidak terkontaminasi. Dengan demikian,
warga bisa menggunakan air bersih untuk keperluan sehari-hari, untuk
memasak, mandi, dan sebagainya.
11
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data, analisa data
dan penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi,
observasi, pemeriksaan fisik. Pengkaji data menurut Cyndi Smith Greenberg,
1992 adalah :
1. Identitas klien.
2. Riwayat keperawatan.
Awalan serangan : Awalnya anak cengeng,gelisah,suhu tubuh
meningkat,anoreksia kemudian timbul diare.
3. Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan
elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun
besar cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan
bibir kering, frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.
3. Riwayat kesehatan masa lalu.
Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.
4. Riwayat psikososial keluarga.
Hospitalisasi akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi
keluarga, kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur
dan pengobatan anak, setelah menyadari penyakit anaknya, mereka akan
bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.
5. Kebutuhan dasar.
a) Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali
sehari, BAK sedikit atau jarang.
b) Pola nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan
penurunan berat badan pasien.
c) Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen
yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.
d) Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.
12
e) Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya
nyeri akibat distensi abdomen.
6. Pemerikasaan fisik.
a) Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah, kesadaran
composmentis sampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah,
pernapasan agak cepat.
b) Pemeriksaan sistematik :Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar,
selaput lendir, mulut dan bibir kering, berat badan menurun, anus
kemerahan.
1) Perkusi : adanya distensi abdomen.
2) Palpasi : Turgor kulit kurang elastis
3) Auskultasi : terdengarnya bising usus.
4) Pemeriksaan tingkat tumbuh kembang : Pada anak diare akan
mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan
menurun.
7. Pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan tinja, darah lengkap dan duodenum intubation yaitu
untuk mengetahui penyebab secara kuantitatip dan kualitatif.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan keseimbangan cairan b/d output yang berlebihan
2. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) b/d hiperperistaltik
3. Gangguan eliminasi BAB : diare b/d infeksi bakteri
C. Intervensi
No. Tujuan dan
Intervensi Rasional
Dx KH
1 Tujuan : volume 1. pantau tanda 1. Menentukan
cairan dan kekurangan cairan intervensi
elektrolit dalam 2. observasi/catat hasil selanjutnya
tubuh seimbang intake output cairan 2. Mengetahui
3. (kurangnya anjurkan klien untuk keseimbangan
13
cairan dan banyak minum cairan
elektrolit 4. jelaskan pada ibu tanda 3. Mengurangi
terpenuhi) kekurangan cairan kehilangan cairan
5. berikan terapi sesuai : 4. Meningkatkan
2. - Infus RL 15 tpm partisipasi dalam
Dengan KH :
perawatan
5. mengganti cairan
1. Turgor kulit
yang keluar dan
cepat
mengatasi diare
kembali.
2. Mata
kembali
normal
3. Membran
mukosa
basah
4. Intake
output
seimbang
2 Tujuan : rasa 1. Teliti keluhan nyeri, 1. Identifikasi karakteristik
nyaman cacat intensitasnya nyeri & factor yang
terpenuhi, klien (dengan skala0-10). berhubungan merupakan
terbebas dari 2. Anjurkan klien untuk suatu hal yang amat
distensi menghindari allergen penting untuk memilih
abdomen 3. Lakukan kompres intervensi yang cocok &
dengan KH : hangat pada daerah untuk mengevaluasi ke
perut efektifan dari terapi yang
1. Klien tidak
4. Kolaborasi diberikan.
menyeringai
a. Berikan obat sesuai 2. Mengurangi bertambah
kesakitan.
indikasi beratnya penyakit.
2. Klien
b. Steroid oral, IV, & 3. Dengan kompres hangat,
mengungka
inhalasi distensi abdomen akan
pkan verbal
14
(-) c. Analgesik : injeksi mengalami relaksasi,
3. Wajah rileks novalgin 3x1 amp pada kasus peradangan
4. Skala nyeri (500mg/ml) akut/peritonitis akan
0-3 d. Antasida dan ulkus : menyebabkan
injeksi ulsikur 3x1 penyebaran infeksi.
amp (200mg/ 2ml) 4. Kortikosteroid untuk
mencegah reaksi alergi.
5. Analgesik untu
mengurangi
nyeri.
3 Tujuan : 1. Mengobservasi TTV 1. kehilangan cairan yang
Konsistensi 2. Jelaskan pada pasien aktif secar terus menerus
BAB lembek, tentang penyebab dari akan mempengaruhi TTV
frekwensi 1 kali diarenya 2. Klien dapat mengetahui
perhari dengan 3. Pantau leukosit setiap penyebab dari diarenya.
KH : hari 3. Berguna untuk
4. Kaji pola eliminasi klien mengetahui
1. Tanda vital
setiap hari penyembuhan
dalam batas
5. Kolaborasi infeksi
normal (N:
a. Konsul ahli gizi untuk 4. Untuk mengetahui
120-60 x/mnt,
memberikan diet konsistensi dan frekuensi
S; 36-37,50 c,
sesuai kebutuhan BAB
RR : < 40
klien. 5. Metode makan dan
x/mnt )
b. Antibiotik: kebutuhan kalori
2. Leukosit :
cefotaxime 3x1 amp didasarkan pada
4000 11.000
(500mg/ml) kebutuhan.
3. - Hitung
jenis leukosit
: 1-3/2-6/50-
70/20-80/2-8
15
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpilan.
Gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan
usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa dehidrasi disertai
muntah. Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak
normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi yang lebih banyak
dari biasa (Sowdent, 2005).Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan
untuk mencegah terjadinya diare, seperti masyarakat harus menyadari
bahwa kesehatan itu lebih dari segalanya.
B. Saran.
Setelah membaca makalah ini diharapkan teman-teman dapat
mengerti bagaimana cara pengobatan sekaligus pencegahannya pada
GASTROENTERITIS AKUT( GEA ). Dan teman-teman bisa
memberikan saran agar makalah ini kedepannya menjadi lebih baik.
16
Daftar Pustaka
Carpenito, L.J., (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2
Jakarata : EGC
Dongoes (2000). Diagnosa Keperawatan. Ed. 8. Jakarta : EGC
Makalah Kuliah . Tidak diterbitkan.
Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran
UI : Media Aescullapius.
Pitono Soeparto, dkk. (1997). Gastroenterologi Anak. Surabaya : GRAMIK FK
Universitas Airlangga.
Price, Anderson Sylvia. (1997) Patofisiologi. Ed. I. Jakarata : EGC.
17