0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
270 tayangan23 halaman

Paper Audit

Audit 1

Diunggah oleh

Cut Farisa Machmud
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
270 tayangan23 halaman

Paper Audit

Audit 1

Diunggah oleh

Cut Farisa Machmud
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS AKHIR PENGAUDITAN 1

ANALISA KASUS LARAMIE WIRE MANUFACTURING

Disusun Oleh:
Cut Nyak Farisa Nuzulya Machmud

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2016

1
STATEMENT OF AUTHORSHIP

Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas


terlampir adalah murni hasil pekerjaan saya sendiri. Tidak ada pekerjaan orang
lain yang saya gunakan tanpa menyebutkan sumbernya.
Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk
makalah/tugas pada mata ajaran lain kecuali saya menyatakan dengan jelas bahwa
saya menyatakan dengan jelas bahwa saya menyatakan menggunakannya.
Saya memahami bahwa tugas yang saya kumpulkan ini dapat diperbanyak dan
atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarism.

Mata Ajaran : Pengauditan 1


Judul Tugas : Analisa Kasus Laramie Wire Manufacturing
Tanggal : 9 Desember 2016
Dosen : Bapak Saptoto Agustomo, S.E, M.M., dan Bapak
Hendang Tanusdjaja S.E, M.M., CPA.
Nama : Cut Nyak Farisa Nuzulya Machmud
NPM : 1406570386
Tanda tangan :

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penulisan tugas akhir dengan baik dan tepat waktu. Tugas akhir yang berjudul
Analisa Kasus Laramie Wire Manufacturing menggunakan prosedur analitis
sebagai dasar analisanya. Tersusunnya makalah ini tak terlepas dari bantuan dosen
mata kuliah Pengauditan 1 penulis yaitu Bapak Saptoto Agustomo S.E.,M.M. dan
Bapak Hendang Tanusdjaja S.E, M.M., CPA.
Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini masih terdapat banyak
kekurangan. Oleh karena itu, penulis selalu terbuka terhadap kritik dan saran yang
bersifat membangun dari pembaca. Penulis berharap bahwa apa yang tertulis
dalam tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi penulis, dan para pembaca.

Depok, 9 Desember 2016

Penulis

ii
DAFTAR ISI

STATEMENT OF AUTHORSHIP ............................................................................. i


KATA PENGANTAR ................................................................................................ ii
DAFTAR ISI .............................................................................................................. iii
BAB I - PENDAHULUAN ........................................................................................ 1

1.1 RINGKASAN KASUS ................................................................................ 1

BAB II LANDASAN TEORI DAN ANALISIS ................................................... 4

2.1 LANDASAN TEORI ................................................................................... 4


2.2 ANALISIS .................................................................................................... 7

BAB III - KESIMPULAN ........................................................................................ 12


DAFTAR PUSAKA ................................................................................................. xiii

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 RINGKASAN KASUS

Laramie Wire Manufacturing adalah perusahaan yang memproduksi berbagai


macam produk kabel tembaga dengan menggunakan bahan baku plastik dan
tembaga batangan. Laramie mengalokasikan area gedung yang luasnya 500.000
kaki persegi untuk area kantor (3%), produksi (57%), pengirimian dan penerimaan
(15%), serta penyimpanan bahan baku dan persediaan barang jadi (25%).
Bagian produksi dibagi menjadi tiga bagian, di mana setiap bagian
dikhususkan untuk kelompok produk tertentu yaitu produk perumahan, produk
industri dan produk pesanan khusus. Setiap jenis produk Laramie menggunakan
bahan baku yang sama, sehingga persediaan bahan baku disimpan di suatu tempat.
Persediaan tembaga batangan disimpan dalam palet yang tidak bisa ditumpuk.
Palet tersebut berukuran 36 kaki persegi. dan dapat menampung 1500 pon
tembaga batangan. Persedian plastik disimpan dalam barel yang bisa ditumpuk.
Tinggi setiap barel adalah 4 kaki dan dapat menyimpan 350 pon. Persediaan
bahan baku dan barang jadi diangkut dengan sebuah truk yang dapat menyimpan
sampai dengan 15 palet tembaga batangan, 40 barel plastik atau 24 gulungan
kabel tembaga.
Tahun ini merupakan tahun pertama Laramie menggunakan jasa KAP untuk
melakukan audit atas seluruh laporan keuangannya. Walaupun begitu, sebelumnya
Laramie pernah menggunakan jasa akuntan untuk melakukan audit yang hanya
bertujuan untuk pengajuan kredit kepada bank. Tujuan dari mengaudit
keseluruhan laporan keuangan adalah untuk keperluan IPO yang akan
dilakukan dalam beberapa tahun mendatang.
Dalam kasus ini auditor ditugaskan untuk melakukan analisis dalam tahap
perencanaan audit, dan menggunakan analisis tersebut sebagai tes substantif
dalam rangka pengumpulan bukti audit. Pada tahap perencanaan, analisis tersebut
digunakan untuk membantu auditor memperoleh pemahaman keseluruhan tentang
bisnis klien dan lingkungan bisnisnya. Analisis tersebut juga untuk membantu

1
auditor dalam mengidentifikasi potensi risiko dan permasalahan yang akan
membutuhkan pengujian substantif yang lebih luas selama tahap pengumpulan
bukti.

Berikut adalah laporan keuangan yang terlampir:

Kasus di atas yang diambil dari buku Auditing Cases: An Interactive


Learning Approach merupakan modifikasi dari kasus nyata Laribee Wire Mfg.
Co. yang terjadi pada tahun 1990an. Auditor Laribee yaitu Deloitte & Touche
gagal mendeteksi bahwa persediaan Laribee merupakan persediaan fiktif. Laribee
juga mempunyai hutang yang besarnya tujuh kali dari ekuitasnya. Sementara itu,
penjualan kabel tembaga kepada industri kontruksi menurun. Pada tahun 1990,
Laribee mengajukan pinjaman sebesar $130 juta kepada enam bank. Bank
tersebut memberikan Laribee pinjaman berdasarkan opini audit bersih yang
diberikan oleh Deloitte pada 1998. Laporan keuangan tahun 1998 yang diaudit
menyatakan laba bersih sebesar $3 juta. Agunan pinjaman tersebut terdiri atas
persediaan tembaga batangan.

2
Pada tahun 1991, Laribee mengajukan bankruptcy-court-protection.
Investigasi yang dilakukan oleh akuntan, pengacara, dan ahli bankruptcy
menunjukan bahwa mayoritas persediaan Laribee fiktif. Sebagian persediaan
tersebut dilaporkan pada angka yang di atas harga wajar. Produk kabel
tembaganya yang dilaporkan pada harga $2.2 per pon, dijual pada harga $1.70
sampai dengan $1.75 per pon. Pengiriman persediaan antarpabrik dilaporkan
sebagai persediaan pada kedua pabrik. Bahkan, ditemukan bahwa
pengirimannyapun fiktif. Tembaga batangan Laribee dilaporkan bernilai lebih dari
$5 juta. Tembaga tersebut dikatakan disimpan pada dua pabrik Laribee. Walau
begitu, investigasi menemukan bahwa kuantitas tembaga batangan yang
dilaporkan Laribee membutuhkan kapasitas gudang yang berukuran tiga kali
kapasitas gudang yang sebenarnya tersedia.
Kasus Laribee merupakan salah satu overstatement persediaan terebesar,
dengan nilai inventory fraud yang mencapai $5.5 juta pada tahun 1998. Apabila
Laribee melaporkan laporan keuangannya dengan wajar, maka harusnya Laribee
melaporkan kerugian $6.5 juta.
Pada tahun 1991, berbagai bank dan kreditor menuntut Deloitte & Touche
pada pengadilan di Texas, Illinois, North Carolina dan New York karena dianggap
malpraktik dan gagal mendeteksi manipulasi akuntansi yang dilakukan Laribee.
Selain KAP itu sendiri, salah satu partner KAP yang bertanggung jawab atas audit
Laribee juga dituntut.
Ternyata, selama proses audit tersebut, auditor yang melakukan
pengecekan pesediaan mengalami pengalaman audit kurang lebih dari tiga tahun.
Bahkan, partner yang bertanggung jawab atas audit tersebut, tidak pernah hadir
pada perhitungan persediaan tahunan. Deloitte tidak mengakui kesalahannya dan
menyatakan bahwa audit tersebut dilakukan sesuai dengan standar audit.

3
BAB II
LANDASAN TEORI DAN ANALISIS

2.1 LANDASAN TEORI

2.1.1 Definisi Prosedur Analitis

Menurut ISA 520, prosedur analitis adalah evaluasi atas laporan keuangan
melalui analisis hubungan yang masuk akal antara informasi keuangan dengan
informasi non-keuangan. Prosedur analisis juga mencakup investigasi yang
diperlukan terkait adanya identifikasi fluktuasi atau hubungan yang inkonsisten
dengan informasi relevan, atau yang berbeda dari nilai yang diekspektasikan
dalam jumlah yang signifikan. Proserdur analitis memungkinkan auditor utuk
memastikan apakah angka-angka tersebut masuk akal atau tidaknya.

2.1.2 Prosedur Analitis dalam Tahapan-tahapan pada Proses Audit

Prosedur analitis digunakan auditor dalam merencanakan proses audit, sebagai


substantive procedures, dan sebagai review keseluruhan atas financial statement
pada tahap penyelesaian audit.

Planning
Pada tahap planning, prosedur analitis digunakan untuk mengidentifikasi
perubahan yang tidak biasa pada financial statement atau perubahan yang
diekspektasikan tidak muncul, dan adanya resiko yang spesifik. Pada tahap ini,
prosedur fokus pada balance akun pada laporan keuangan dan hubungannya.
Area-area yang berisiko tersebut menjadi dasar dari perencanaan sifat, waktu dan
luas dari prosedur audit serta pengumpulan bukti audit.

Substantive Testing
Pada tahap substansive testing, prosedur analitis digunakan untuk memastikan
bahwa laporan keuangan tidak mengandung salah saji yang material. Pada tahap

4
ini, prosedur analitis fokus terhadap faktor yang mempengaruhi account balances
dengan mengekspektasikan bagaimana akun tersebut seharusnya.

Overall Review
Pada tahap overall review, prosedur analitis digunakan untuk membantu auditor
dalam menilai bahwa seluruh fluktuasi yang siginifikan dan item yang tidak biasa
sudah dapat dijelaskan dan keseluruhan dari financial statement presentation
sesuai dengan hasil audit dan pengertian bisnis. Menurut ISA 520, auditor harus
melakukan prosedur analitis pada bagian akhir audit untuk membantu auditor
ketika membuat kesimpulan akhir mengenai konsisten tidaknya laporan keuangan
terhadap pengertian auditor akan entitas. Prosedur analitis pada tahap review
membantu dalam menentukan kewajaran dari laporan keuangan dan
mengidentifikasi area yang membutuhkan prosedur lanjutan.

2.1.3 Jenis Prosedur Analitis

Analisis Tren
Analisis tren adalah analisis perubahan pada salah satu akun atau rasio setiap
waktu sehingga jumlah akun pada satu waktu dapat dibandingkan dengan waktu
yang lain. Analisis tren akan efektif bila digunakan pada akun yang jumlahnya
sudah dapat diprediksi atau sudah diketahui seperti biaya sewa. Semakin stabil
operasi yang dimiliki perusahaan maka akan semakin terprediksi hubungan dan
semakin sesuai penggunaan dari multiple periods.

Analisis Rasio
Analisis rasio adalah pembandingan hubungan antara akun pada laporan
keuangan, pembandingan suatu akun dengan data non-finansial, atau
perbandingan antara hubungan perusahaan dalam industri. Analisis rasio akan
sesuai apabila digunakan ketika hubungan antar akun dapat diprediksi atau stabil.
Jenis analisis ini lebih efektif dibanding analisis tren karena perbandingan antara
balance sheet dan income statement akan selalu mengalami fluktuasi. Ada
berbagai jenis Ratio Analysis yaitu: (1) rasio perbandingan data klien dan data

5
industry, (2) rasio perbandingan data klien dengan data periode sebelumnya, (3)
rasio perbandingan data klien dengan hasil yang diharapkan klien, (4) rasio
perbandingan data klien dengan hasil yang diekspektasikan oleh auditor, dan (5)
rasio perbandingan data klien dengan hasil yang diekspektasikan berdasarkan data
non-finansial.

Reasonable Testing
Reasonable testing adalah analisis terhadap account balance atau
perubahan pada account balance dalam periode akuntansi atas hubungan antar
akun yang sudah diekspektasikan. Hal ini mencakup pengembangan ekspektasi
berdasarkan data finansial, data non-finansial, atau keduanya. Berbeda dengan
kedua analisis yang sudah dijelaskan, reasonable testing menggunakan informasi
untuk mengembangkan prediksi atas account balance dengan mempertimbangkan
jumlah barang yang terjual, harga per unit, struktur harga yang berbeda, dan
pengetahuan akan industri.

2.1.4 Analytical Review Process

Porses dari merencanakan, ekskusi, dan membuat kesimpulan dari prosedur


analitis disebut analytical review. Analytical review terdiri dari empat fase:

a) Fase 1 memformulasikan ekspektasi


Ekspetasi dibangun berdasarkan identifikasi hubungan logis yang
diekspektasikan keberadaannya oleh auditor, berdasarkan pemahamannya
mengenai klien dan industri yang digelutinya.
Hubungan-hubungan tersebut dapat ditentukan dengan perbandingan-
perbandingan dari beberapa sumber:
Informasi yang dapat dibandingkan dari periode sebelumnya;
Hasil yang diharapkan (budget, forecast);
Elemen-elemen dari laporan keuangan dari periode berjalan;
Informasi terkait industri yang sama; dan
Informasi non-finansial.

6
b) Fase 2 membandingkan nilai-nilai ekspektasi dengan nilai tercatat oleh
entitas
c) Fase 3 investigasi terkait penjelasan yang memungkinkan atas perbedaan
yang muncul antara nilai eksepktasi dengan yang tercatat
d) Fase 4 evaluasi terhadap dampak yang dihasilkan oleh perbedaan nilai
ekspektasi dan yang tercatat oleh entitas terhadap audit dan laporan keuangan.

2.2 ANALISIS

2.2.1 Analisis Rasio, Tren & Reasonable Testing

Untuk melakukan prosedur analisis berdasarkan laporan keuangan yang


disediakan, perlu dilakukan analisis rasio untuk meguji asersi-asersi manajemen.
Berikut adalah perhitungannya:
2005 2004 % Change
Sales $8,450,000 $8,150,000 3.68%
Cost of Sales $6,242,500 $6,080,000 2.67%
Finished Goods Inventory $1,654,500 $1,175,500 40.75%
(Approx. 300 million ft -- 2002)
Copper Rod Inventory $2,625,000 $1,650,000 59.09%
(Approx 5.9 million lbs -- 2002)
Plastics Inventory $224,500 $182,000 23.35%
(Approx 1.1 million lbs -- 2002)
A/P (for inventory purchase) $450,000 $425,000 5.88%
Days Purchase in A/P 43.6 44.2 -1.36%
Days Sales in Receivables 56.3 48.4 16.32%
Market price Insulated wire (per ft.) 0.008 0.009 -11.11%
Market price copper rod (per lb.) 0.48 0.48 0.00%
Market price plastic (per lb.) 0.12 0.19 -36.84%
Inventory turnover 1.39 2.02
Inventory as percentage of sales 53.30% 36.90%

7
[Link] Analisis Rasio

Persentase perubahan days sales in receivables


Days sales in receivable adalah rasio yang mengukur rata-rata jumlah hari yang
dibutuhkan untuk menagih piutang penjualannya. Pada periode 2004-2005, rasio
umur piutang meningkat sebesar 16.32%. Di sisi lain, penjualan hanya meningkat
sebesar 3.68% pada periode yang sama. Karena perbedaan peningkatan tersebut
cukup signifikan, maka auditor harus memeriksa lebih lanjut penyebab dari
kenaikan tersebut apakah karena perubahan dalam kebijakan penagihan piutang
atau penjualan yang digelembungkan.

Persediaan sebagai persentase terhadap penjualan


Pada tahun 2004, persentase persediaan terhadap penjualan adalah 36.90%. Pada
tahun 2005, persentase persediaan terhadap penjualan naik secara signifikan
menjadi 53.30%. Karena signifikansi dari kenaikan tersebut, maka auditor harus
memberi perhatian yang lebih pada akun persediaan

[Link] Analisis Tren

Persentase perubahan COGS


Pada periode 2004-2005, COGS meningkat sebesar 2.67%, sementara penjualan
meningkat sebesar 4%. Hal itu dinilai cukup wajar sehingga auditor tidak perlu
memeriksa secara mendetil mengenai hal tersebut.

Persentase perubahan nilai persediaan


Pada periode 2004-2005, nilai dolar dari persediaan meningkat secara signifikan.
Nilai dolar dari persediaan plastik meningkat sebesar 23.35%, persediaan tembaga
batangan meningkat sebesar 59.09%, dan persediaan kabel tembaga meningkat
sebesar 40.75%. Karena kenaikan persedian tersebut cukup signifikan, maka
auditor harus memberi perhatian yang lebih pada akun persediaan.

8
Persentase perubahan utang usaha
Pada tahun 2004-2005, utang usaha meningkat sebesar 5.88%. Peningkatan
tersebut relatif kecil jika dibandingkan peningkatan persediaan plastik (23.35%),
tembaga batangan (59.09%) dan kabel tembaga (40.75%). Karena kesenjangan
yang cukup signifikan antara peningkatan hutang usaha dan persediaan, maka
auditor harus memeriksa lebih lanjut akun persediaan.

[Link] Analisis Reasonable Testing

Expected value persediaan batang tembaga


Dengan mengalikan kuantitas persediaan batang tembaga dengan harga pasar,
maka dapat dihitung bahwa jumlah nilai persedian yang expected pada tahun 2005
adalah $2.832.000. Expected value tersebut lebih besar dibanding dengan jumlah
persediaan yang dilaporkan yaitu $2.625.000. Oleh karena itu, dapat disimpulkan
bahwa persediaan disajikan sesuai dengan prinsip lower of cost or market.

Expected value persediaan plastik.


Dengan mengalikan kuantitas persediaan plastic dengan harga pasar, maka dapat
dihitung bahwa jumlah nilai persedian yang expected pada tahun 2005 adalah
$132.000. Expected value tersebut lebih kecil dibanding dengan jumlah
persediaan yang dilaporkan yaitu $224.000. Hal tersebut berarti angka akun
persediaan yang disajikan di atas harga pasar sehingga melanggar prinsip lower of
cost or market. Dengan itu, auditor harus memerhatikan lebih lanjut penyajian
akun persediaan tersebut.

Luas gudang yang digunakan untuk penyimpanan persediaan batang tembaga


Diketahui bahwa perkiraan jumlah persediaan batang tembaga adalah 5.900.000
pon (sekitar 3933 palet). Dengan keterangan pada kasus ini yang menjelaskan
bahwa setiap palet berukuran 36 kaki persegi, maka ruang yang ditempati sebesar
141.588 kaki persegi. Dikatakan bahwa ruang penyimpanan persediaan adalah
25% dari total ruang yaitu 150.000 kaki persegi, sehingga ruang penyimpanan
persediaan berukuran 125.000 kaki persegi. Hal tersebut menujukan bahwa ruang

9
yang ditempati berdasarkan perhitungan analisis dari data laporan keuangan
melebihi kapasitas ruangan itu sendiri. Oleh karena itu, auditor harus memberi
perhatian lebih akan hal ini.

2.2.2 Hubungan Analisis dengan Asersi Manajemen

Berdasarkan ISA 520, apabila berdasarkan prosedur analisis auditor menemukan


fluktuasi atau hubungan yang tidak konsisten dengan informasi yang disajikan
atau expected value secara signifikan, auditor harus melakukan investigasi lebih
lanjut terhadap perbedaan tersebut. Berdasarkan perhitungan rasio pada poin
sebelumnya, ditemukan beberapa isu terkait dengan persediaan:

Penilaian persediaan plastik pada 2005 yang disajikan pada laporan


keuangan sebesar $224.500. Angka tersebut di atas expected market value
yaitu $132.000. Penyajian angka persediaan yang tidak sesuai dengan
prinsip akuntansi (lower of cost or market), mengindikasikan potensi salah
saji terkait dengan asersi valuation pada akun persediaan plastik.
Ruang untuk penyimpanan persediaan batang tembaga sesuai dengan data
yang tertara lebih besar dibanding kapasitas ruang yang sebernya.
Berdasarkan data,, persediaan batang tembaga berjumlah 3933 palet
(5.900.000 pon/1500 pon per palet) sehingga membutuhkan ruang 141.588
kaki persegi (3933 palet x 36 kaki persegi/palet). Sedangkan, ruang
penyimpanan untuk seluruh jenis persediaan sadalah 125.000 (500.000 x
25%) kaki persegi. Dengan demikian, ruang yang dibutuhkan untuk
menyimpan persediaan batang tembaga melebihi kapasitias ruang untuk
menyimpnan seluruh peresediaan yang ada. Hal tersebut mengindikasikan
potensi salah saji terkait dengan asersi existence pada akun persediaan
batang tembaga.
Utang usaha untuk pembelian persediaan bahan baku meningkat sebesar
5.88%. Peningkatan tersebut relatif kecil jika dibandingkan peningkatan
persediaan bahan baku yaitu 23.35% untuk plastic dan 59.09% untuk
kabel tembaga. Hal tersebut mengindikasikan potensi salah saji terkait

10
dengan asersi existence pada akun persediaan plastik dan kabel tembaga
serta asersi completeness pada akun utang usaha..
Nilai dari persediaan meningkat secara signifikan yaitu 23.35% untuk
plastik, 59.09% untuk tembaga batangan, dan 40.75% untuk persediaan
kabel tembaga meningkat sebesar 40.75%. Kenaikan persedian disertai
dengan penurunan inventory turnover yaitu sebesar -31.44%. Selain itu,
persentase persediaan terhadap penjualan naik dari 36.90% pada 2004
menjadi 53.30% pada 2005. Kenaikan persedian yang signifikan harus
diperiksa lebih lanjut dengan mempertimbangkan asersi existence dan
valuation.

11
BAB III
KESIMPULAN

Prosedur analitis digunakan auditor dalam merencanakan proses audit, sebagai


substantive procedures, dan sebagai review keseluruhan atas financial statement
pada tahap penyelesaian audit. Secara spesifik, kasus ini membahas prosedur
analitis pada tahap perencanaan audit.
Masalah utama dalam kasus fraud Larabee Wire Mfg. Co. atau Laramie
Wire Mfg. Co. (kasus yang dimodifikasi) adalah banyaknya persediaan yang
fiktif. Ketidakmampuan Deloitte & Touche untuk mendeteksi persediaan yang
fiktif menunjukan bahwa prosedur analitis yang dilakukan Deloitte tidak
mencukupi dan tidak memadai.
Dalam paper ini, penulis melakukan prosedur analitis sederhana dengan
analisis tren, rasio dan reasonable testing. Melalui perhitungan sederhana, dapat
terlihat adanya inkonsistensi antara penyajiaan persediaan dengan penyajian akun
lainnya, serta menyimpangnya nilai persediaan dari expected value-nya. Analisis
tersebut menunjukkan bahwa risiko salah saji pada akun persediaan cukup tinggi.
Seharusnya, hasil analisis tersebut menjadi dasar dari perencanaan sifat, waktu
dan luas dari prosedur audit serta pengumpulan bukti audit. Dalam kasus ini,
berarti seharusnya auditor lebih fokus kepada pengumpulan bukti audit terkait
dengan persediaan dan perhitungan inventori yang mendetil.
Dengan demikian, penulis menyadari pentingnya prosedur analitis untuk
membantu auditor dalam mengidentifikasi potensi risiko dan permasalahan yang
akan membutuhkan pengujian substantif yang lebih luas selama tahap
pengumpulan bukti. Melalui prosedur analitis, risiko seorang auditor memberi
opini audit yang tidak tepat atas laporan keuangan yang disalahsajikan secara
material (audit risk) dapat berkurang.

12
DAFTAR PUSAKA

Berton, Lee. Convenient Fiction: Inventory Chicanery Tempts More Firms, Fools
More Auditors --- A Quick Way to Pad Profits, It Is Often Revealed Only
When Concern Collapses --- A Barrel Full of Sweepings The Wall Street
Journal, December 14, 1992, p. A1.
Hayes, R. S., Schilder, A., Dassen, R., & Wallage, P. (2014). Principles of
Auditing: An Introduction to International Standards of Auditing (Third
ed.). Ediburgh: Pearson Education
Glover, S. M., Prawitt, D. F., Beasley, M. S., & Buckless, F. A. (2008). Auditing
Cases: An Interactive Learning Approach (Third ed.). Upper Saddle River,
NJ: Pearson/Prentice Hall.

xiii
ISBN: 0-536-44690-3

Auditing Cases:An Interactive Learning Approach, Third Edition, by Mark [Link], Frank [Link], Steven [Link], and Douglas [Link] by Prentice
[Link] 2006 by Pearson Education, Inc.
ISBN: 0-536-44690-3

Auditing Cases:An Interactive Learning Approach, Third Edition, by Mark [Link], Frank [Link], Steven [Link], and Douglas [Link] by Prentice
[Link] 2006 by Pearson Education, Inc.
ISBN: 0-536-44690-3

Auditing Cases:An Interactive Learning Approach, Third Edition, by Mark [Link], Frank [Link], Steven [Link], and Douglas [Link] by Prentice
[Link] 2006 by Pearson Education, Inc.
ISBN: 0-536-44690-3

Auditing Cases:An Interactive Learning Approach, Third Edition, by Mark [Link], Frank [Link], Steven [Link], and Douglas [Link] by Prentice
[Link] 2006 by Pearson Education, Inc.
WALL STREET JOURNAL EXCERPTS
LARIBEE WIRE MFG.1
How an audit can misfire is illustrated by the way Deloitte & Touche,
the auditors of Laribee Wire Mfg. Co., failed to realize that the New
York copper-wire maker was buoying a sinking ship by creating
fictitious inventories. Laribee was plagued by huge debt--almost seven
times its equity--generated by a major acquisition in 1988. Meanwhile,
its sales to the troubled construction industry, its major customer for
copper wire, were declining. In 1990, Laribee borrowed $130 million
from six banks. The banks say they relied on the clean opinion that
D&T gave Laribees financial statements for 1989, when the company
reported $3,000,000 in net income. A major portion of the loan
collateral consisted of Laribees inventories of the copper rod used to
draw wire at its six U.S. factories.
But after Laribee filed for bankruptcy-court protection in early 1991, a
court-ordered investigation by other accountants, attorneys and
bankruptcy specialists showed that much of Laribees inventory didnt
exist. Some was on the books at bloated values. Certain wire-product
stocks carried at $2.20 a pound were selling at only $1.70 to $1.75 a
pound. Shipments between plants were recorded as stocks located at
both plants. Some shipments never left the first plant, and
documentation supposedly showing they were being transferred to the
second plant appeared to be largely fictitious, the report to the court
found. And 4.5 million pounds of copper rod, supposedly worth more
than $5 million, that Laribee said it was keeping in two warehouses in
upstate New York would have required three times the capacity of the
buildings, the report said.
It was one of the biggest inventory overstatements Ive ever seen,
says John Turbidy, the court-appointed trustee. He estimates that
inventory fraud contributed $5.5 million before taxes to Laribees 1989
results. Absent this fraud and other accounting shenanigans, Laribee
would have reported a $6.5 million loss instead of the profit, he adds.
Laribees previous top management declines to comment.
Banks and other creditors sued D&T in state courts in Texas, Illinois,
North Carolina, and New York earlier this year for unspecified
damages, charging it with malpractice and gross negligence in failing to
spot the accounting manipulations at Laribee. A suit filed by Asarco
Inc., a copper producer and Laribee creditor, accuses Mel
Dobrichovsky, the Deloitte partner who oversaw Laribees audit, of
fraud in missing the inventory scam and other improper audit practices.
The auditor was either taken in or missed the obvious, Mr. Turbidy
says. Giving the auditors the benefit of the doubt, I assume that it was
inexperience on their part because some who showed up at Laribees
plants were fresh out of college. Otherwise, how could they have
overlooked such blatant manipulations?
James T. Simmons, Laribees former vice president for operations, says
a firm later merged into Deloitte sent three to five auditors with three
years or less experience to the plants to check inventory. He recalls:
The faces kept changing and there was little continuity. According to
several Laribee employees, a standing joke at the plants was that the
next outside auditor would be fresh out of high school. Mr. Simmons
adds that Mr. Dobrichovsky never showed up at the plants during
annual inventory counts. Mr. Dobrichovsky, who left D&T at the end
of 1990, declines to comment. Deloitte denies any wrongdoing and
says the audits were done in accordance with professional standards.
1 Berton, Lee, Convenient Fiction: Inventory Chicanery Tempts More Firms, Fools More
Auditors --- A Quick Way to Pad Profits, It Is Often Revealed Only When Concern Collapses ---
A Barrel Full of Sweepings, The Wall Street Journal, December 14, 1992, p. A1.

Anda mungkin juga menyukai