Chapter 1
Hey.. Haloo. Namaku Eun Gee. "Kim Eun Gee". Sebenarnya ini hanyalah nama peranku dalam
cerita ini. Ceritanya mirip-mirip seperti di funfiction tapi aku akan membawakannya dengan alur
yang sedikit berbeda.
Aku tak pandai dalam menulis apalagi menciptakan sebuah kata dengan level tinggi seperti
penulis pada umumnya. Aku hanya berharap kalian bisa ikut larut dalam imajinasi yang akhir-
akhir ini selalu membayangiku. Aku tahu ini sangat tidak masuk akal dan terdengar sedikit
menggelikan. Maafkan hehe
Semua berawal dari sebuah Idol grup asal Korea Selatan atau yang biasa kita sebut "boyband".
Mungkin beberapa diantara pecinta K-POP mengalami hal yang serupa denganku. Dan beginilah
caraku mengekspresikannya.
Ngomong-ngomong tentang Korea, selain musiknya yang selalu ditunggu-tunggu oleh para
pecinta K-POP, drama yang dibintangi oleh aktor dan aktrisnya membuat sebagian orang merasa
terbawa didalam ceritanya. Ada yang menyukainya dari pesona kecantikan dan ketampanannya,
ada juga karena isi cerita yang menarik (kadang bikin baper) dan ending yang susah ditebak.
Mungkin itulah yang menjadi daya tarik dari negeri gingseng itu.
Oke, itu hanya pepengantar. Disini aku akan membahas tentang boyband yang saat ini menjadi
"world trending topic". Siapa lagi kalau bukan E.X.O. Idol grup yang awalnya beranggotakan 12
member, sekarang tersisa 9 member dan semoga akan tetap seperti itu. Kita doakan saja ya.
Sekarang kita kembali ke fiktif. Dan selamat berimajinasi.
Chapter II
Seperti yang sudah kuperkenalkan tadi, namaku KIM EUN GEE. Kalian bisa memanggilku Eun
Gee. Aku terlahir dengan marga "KIM". Kim Jongdae atau Kak Chen dan Kim ... atau Kak Suho.
Mereka berdua adalah kakakku. Meski berstatus "saudara" tapi kata "akur" sangat jarang
ditemukan di kamus mereka. Tapi kalau sudah berurusan dengan Eun Gee, mau tidak mau, suka
tidak suka, mereka harus memihak padaku. Entah aku adalah adik yang beruntung karena
memiliki kakak seperti mereka atau malah sebaliknya. Hmmm... Tapi sudahlah itu urusan mereka.
Aku hanya ingin menjalani hidupku yang seperti ini. Sejak kedua orangtuaku berpisah, Ayah dan
Ibu atau mungkin aku tidak pantas memanggilnya seperti itu, mereka meninggalkan kami sejak
kedatangan Ayah Tiri dan Ibu Tiri. Meski mereka masih berstatus sebagai orangtua yang hanya
sekali dalam setahun mengunjungi kami ditengah kesibukannya. Itupun hanya datang untuk
melihat-lihat keadaan rumah lalu pergi begitu saja. Hanya Kak Suho dan Kak Chen lah yang
mengurusiku dengan sangat baik. Jadi wajar kalau mereka berdua sangat bekerja keras untuk
menghidupi keluarga ini. Bahkan mereka telah bekerja di sebuah agency ternama di Korea
Selatan. "SM Entertainment". Kak Suho masih menjadi trainee disana selama kurang lebih 5 tahun
dan Kak Chen akhirnya debut sebulan yang lalu bersama grupnya CBX.
Betewe, CBX adalah singkatan dari Chen Baekhyun Xiumin. Berhubung karena kita ngomongin
ChenBaekXi, aku akan memperkenalkan seorang sahabat yang sudah aku anggap sebagai teman
hidup. "Baekhyun". Kalian bisa manggil dia "Baekh". He's my Baekh. Kemana-mana kalau ada
aku, pasti ada dia. Bahkan banyak orang yang bilang kalau kita pacaran. Tapi NO NO!! Aku
memang deket, bahkan deket banget. Bagaikan aku tanpa dia itu ada yang kurang. Dan sekarang,
semenjak dia udah bergabung dengan Kak Chen, dia nggak berubah cuman jarang ketemu aja.
Rindu iya. Kesel iya. Karena udah ga ada yang diajak berantem gitu. Tapi aku selalu mendukung
apa yang dia lakukan selama itu bisa membuat dia mandiri. Soalnya Baekh itu orangnya manjaahh
banget. Kurang tau juga sih kenapa bisa keterima di SM. Heheh bercanda kok. Dia itu selain
punya suara yang ga usah ditanyakan lagi, dia juga mudah beradaptasi dengan lingkungan dan
orang baru. Aku juga ga terlalu khawatir sih, karena Kak Chen bersamanya. Jadi aku berharap
mereka bisa jadi idol terkenal nantinya.
Nah kalo Kak Xiumin, aku ga terlalu tahu persis bagaimana dia. Tapi yang kulihat-lihat sih dia
agak pendiam tapi baik banget. Saking baiknya kalau aku ke tempat latihannya CBX, dia mau loh
disuruh-suruh sama aku. Bukan disuruh sih, cuman minta tolong bantu kerjain tugaslah, minta
dibeliin makanan lah. Walaupun Kak Chen udah pernah negur sih kalo nggak boleh gitu, tapi Kak
Xiumin nya aja yang terlalu baik. Terus udah gitu, imut nya ituloh yang nggak dibuat-buat kayak
si Baekh. Mana ada dia mau kayak Kak Xiumin. Udah pelit, manja lagi. Tapi kayaknya Kak
Xiumin udah punya pacar deh tapi belum dikenalin jadi nggak tau hehehe. Cuman mau bilang,
beruntung banget sih yang jadi pacarnya dia. Hftt
Yaudah, kita bahas Eun Gee lagi ya
Oiyaa, aku belum kasih tau kalo sekarang aku duduk di bangku kelas 3 SMA. Siap-siap UN dong.
Pagi nya sekolah, dan malamnya lanjut les. Siapa lagi coba yang ngusulin les-les kayak gini? Yah
jelas Kak Suho lah. Katanya Eun Gee harus jadi orang ginilah gitulah apalah. Beda banget sama
Kak Chen yang nggak pernah nuntut aku harus gimana. Dia cuman bilang "semalas-malasnya
kamu belajar, Jangan sampai bolos!!! Yang terpenting sekarang kamu bisa lulus. Selebihnya kamu
mau jadi apa terserah." Duh, Kak Chen emang paling TOP! Coba kalo bukan Kak Suho, mana ada
Eun Gee mau rajin kayak gini. Anggap aja ini hanya formalitas.
Eh tapi tunggu. Ada satu orang lagi yang bikin aku jadi sok rajin seperti sekarang. Dia adalah Pak
DO. Tapi aku lebih senang memanggilnya Kak Kyungso. Yap. Dia adalah tentor andalan di tempat
les. Kalo soal wajah, penampilan, kecerdasan. Uuunncchhh .. Dialah yang terbaik. Tapi jangan
salah, orang se-keren itu belum punya pacar loh. Kurang apa coba? Dan siapa sangka kalo aku
bisa akrab dengan tentor itu. Padahal kalo bisa dibilang nih, dia orangnya agak cuek gitu. Apalagi
diluar jam pembelajaran. Tapi sebenarnya dia sangat bersahabat.
Sampai suatu waktu, aku mau pulang dari tempat les tapi terhalang oleh hujan. Akhirnya aku
berdiam diri di depan pintu masuk dengan memakai headset dan mendengarkan musik kesukaanku
daripada harus mendengar suara hujan yang semakin deras.
Mungkin sebagian orang menyukai hujan dengan alasan tertentu. Tapi aku tidak. Sama sekali
tidak. Ada yang karena disetiap tetesannya mengandung rindu begitu mendalam hingga dikaitkan
dengan sesuatu hal yang romantis. Tapi berbeda denganku. Aku merasa hujan adalah hal yang
paling menyakitkan bahkan menusuk jiwa dan raga. (Stop! Aku mulai alay)
Nah pada saat aku menunggu, tiba-tiba ada yang memberiku sebuah payung. Lalu aku menoleh
juga melepas headset yang masih melekat di telingaku, dan ternyata itu kak Kyungso.
"Pakai ini. Sepertinya hujannya semakin deras. Jangan sampai kamu kemalaman disini. Bahaya"
ia lalu menawarkan payung nya untukku.
"Tidak usah kak, aku suka menunggu kok" ini sebenarnya pernyataan yang sedikit tidak masuk
akal.
"Kenapa? Jarang loh ada yang seperti itu"
mendengar suaranya saja, aku selalu terpancing untuk menjawab apapun yang ia tanyakan.
"Cuman suka. Dengan menunggu aku tau apa itu sabar"
"Wah Eun Gee. Ternyata kamu cukup dewasa"
Ya ampun, dia sepertinya memuji ku. Bagaimana ini? Haruskah aku salah tingkah? Oh tidak tidak.
Kamu cukup tersenyum saja Eun Gee!!!
"Hehe tidak juga kak. Kedewasaan tidak bisa diukur hanya dengan perkataan. Mungkin saja aku
bilang seperti ini, tapi pada kenyataannya sangat sulit"
"Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri Eun Gee. Dengan begitu kamu akan menemukan
kedewasaan yang sesungguhnya"
Sepertinya aku tidak mampu lagi untuk menjawab. Baru kali ini aku melihat dia sebijak itu.
Sejenak aku memandanginya. Dan berpikir "Apa aku sedang bermimpi?."
Lalu tiba-tiba tangannya melambai ke arahku.
"Eun Gee? Apa kamu baik-baik saja?"
Aku terkejut dan spontan mengatakan
"Eh Ahh, kakak bilang apa barusan?"
"Sepertinya hujan sudah reda"
"Oh hehehe iya kak" entah kenapa aku tersipu malu.
"Kalau begitu ayo kita pulang. Nanti kemalaman disini"
"Oh yaudah kak. Aku pulang duluan"
"Bukankah jalan rumah kita searah?"
Ah? Searah? Rumahnya Kak Kyungso saja aku tidak tau dimana. Kenapa dia bilang searah? Apa
jangan-jangan...
Tidak lama kemudian, Kak Suho datang menjemputku.
"Eun Gee ya?" Kak Suho memanggilku dari dalam mobil.
Spontan aku berbalik
"Eh Kak" memasang muka yang masih bingung karena baru kali ini Kak Suho ke tempat les.
Biasanya sih Kak Chen yang jemput kalo dia nggak sibuk.
"Ayo pulang. Tunggu apa lagi?"
Kemudian Kak Kyungso berpamitan duluan padaku.
"Eun Gee. Kalau begitu aku pamit pulang ya. Sepertinya itu kakakmu. Cepat masuk mobil"
"Oke kak, hati-hati"
Ia tersenyum lalu berjalan sendiri. Kemudian aku juga berjalan menuju mobil.
Saat membuka pintu mobil, aku kembali melihat kearah Kak Kyungso. Entah kenapa saat
melihatnya tadi, aku merasa kalau dia sangat kesepian.
"Apa dia baik-baik saja?" tanyaku yang masih mengkhawatirkannya
"Eun Gee? Apa kau akan terus disitu? Cepat masuk. Ini sudah jamberapa"
Aku lupa ternyata Kak Suho sudah menunggu di dalam mobil.
"Iya iya kak. Maafin hehe"
Awalnya aku kira kita akan pulang ke rumah, tapi Kak Suho rupanya mengajakku makan
jajangmyeon di tempat biasa.
"Ada apa kak? Tumben bawa Eun Gee kesini
Sambil menunggu jajangmyeon nya datang, aku menanyakan hal-hal yang terasa menjanggal.
"Nggak ada apa-apa. Emang salah kalau kakak ngajakin adik yang cantiknya ini makan?"
"Iya nggak apa-apa sih. Tapi kakak nggak latihan gitu? Emang nggak sibuk? Jadi kapan dong
debutnya? Aku udah mau liat kakak di tv nih kayak Kak Chen"
Seketika mendengar nama itu, Kak Suho langsung bereaksi. Dia langsung mukul meja dengan
sumpit yang dipegangnya.
"Bisa nggak jangan bahas dia dulu? Nggak dirumah, nggak disini kamu selalu ngomongin dia.
Apa nggak ada masalah lain apa?"
"Emang apa salahnya kak? Dia kan juga kakaknya Eun Gee. Lagian juga Kak Chen nggak pernah
cari masalah sama kakak. Dia juga nggak pernah cerita yang aneh-aneh tentang kakak. Nah
sekarang tiba-tiba kakak marah gitu aja"
"Nggak pernah cari masalah? Dia itu masalah buat kakak ya Eun Gee. Asal kamu tau. Dia udah
buat kakak jadi kayak gini. Dan sekarang kamu nge-bela dia? Oh jadi selama kakak nggak
dirumah, kamu udah di doktrin ya sama kakak kamu itu."
Mendengar kata-kata yang menurutku sudah sangat kelewatan itu, aku nggak tahan.
"Kakak jangan ngomong sembarangan ya. Aku nggak ngebela siapa-siapa. Dari dulu aku diam aja
ngeliat kakak selalu bertengkar dengan Kak Chen. Dulu itu memang urusan kalian berdua. Tapi
sekarang aku udah nggak tahan. Eun Gee tuh udah gede kak. Kalau memang kalian masih
bersikap kekanakan kayak gini, Oke aku nggak bakalan muncul dihadapan kalian lagi"
Tanpa pikir panjang, aku meninggalkan tempat itu, jajangmyeon yang belum aku makan sama
sekali, dan Kak Suho.
Yang aku nggak habis pikir, kenapa Kak Suho tega marah didepan Eun Gee. Ditempat umum pula.
Aku nggak pernah liat dia se-marah itu. Aku tahu dia pasti ada masalah. Tapi kenapa harus Eun
Gee yang jadi korban marah kakak?
Disepanjang jalan aku hanya bisa nangis dan terus saja menangis. Aku udah nggak peduli berapa
banyak orang yang udah ngeliat aku sejelek ini. Aku juga nggak tau harus kemana sekarang.
"Aaarrghhhh"
Saking bete nya, nggak sengaja aku menjatuhkan handphone lalu mengambilnya. Ketika
membukanya, aku melihat fotoku dengan baekh di walpaper hp ku.
"Oh iyaa. Kan ada Baekh. Kenapa nggak kepikiran dari tadi sih? Aku telfon dulu aja kali ya?"
Aku langsung memencet nomor 3 itu artinya panggilan cepat untuk My Baekh.
"Kok nggak diangkat sih? Ah Baekh. Malesin"
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi kerumah Baekh. Siapatau dia ada dirumah. Jadi aku
kesana. Tapi lagi-lagi dia nggak ada dirumah. Aku ketuk pintu nya, nggak ada yang buka. Aku
pencet bel nya nggak ada yang nyahut. Aku telfon-telfon tapi nggak diangkat. Terus kemana
dong?
Tanpa sadar, setelah beberapa menit kemudian. Aku tertidur didepan pintu rumah Baekh karena
masih menunggunya pulang. Seperti kataku, "aku suka menunggu."
Sekitar se-jam kemudian, Baekh datang dan membangunkanku.
"Ya Eun Gee. Eun Gee ya?"
Dengan muka yang masih mengantuk dan menguap. Perlahan aku membuka mata.
"Baekh? Oh kamu udah datang. Dari mana? Aku udah nungguin dari tadi"
"Kamu yang dari mana? Tiba-tiba datang kerumah orang nggak bilang-bilang. Dan selarut ini?
Dasar ya kamu"
Baekh lalu menepuk kepalaku agar terbangun sepenuhnya.
"Kamu yang dasar. Udah ditelfon-telfon tapi nggak diangkat. Emang kamu sesibuk itu sampai
udah nggak pernah ngangkat telfon? Ha?"
"Ya Maaf kalii. Hp ku dalam keadaan silent. Jadi gimana mau denger. Aku juga lagi dijalan pulang
tadi"
Baekh kemudian menyuruhku masuk ke rumah dan membuatkan ku secangkir teh hangat.
"Pasti ada masalah. Kenapa lagi sih kamu nona pembuat masalah?"
Baekh mulai mengolok-olokku seperti yang selalu ia lakukan.
"Biasa. Kak Suho" jawabku singkat. Karena aku yakin, Baekh pasti tau apa yang aku rasain.
"Hadeuh, kamu tuh ya. Sebagai adik ya kamu cobalah untuk ngertiin posisi dia kayak gimana.
Kamu tau kan kalo selama latihan, kita banyak mendapatkan tekanan dan sebagainya. Jadi wajar
kalau dia bete, marah. Itu hal yang sangat wajar."
Aku diam aja dan tetap fokus meminum teh buatannya dia.
"Jadi gimana? Kamu mau apa sekarang?"
Masih aja diam dan memperhatikan yang lain.
Akhirnya Baekh menelfon Kak Chen untuk menjemputku. Dan nggak lama kemudian, mungkin
bisa aku hitung jari berapa menit dia sampai kesini. Wah daebak!
"Eun Gee? Kamu baik-baik aja kan? Kamu dari mana? Kakak tungguin dirumah tapi kamu belum
pulang. Untung ada Baekhyun yang tadi nelfon. Lain kali jangan buat siapapun khawatir. Ingat ya"
Aku masih aja tetap diam dan hanya mengangguk sesekali.
"Kalau gitu kita pulang dulu ya. Tengkyu bro udah awasin anak gadis satu ini"
"Santailah. Dia juga emang gitu orangnya. Ya Eun Gee? Denger tuh kata kakakmu. Lain kali
nggak usah pake acara ngambek-ngambekan apalah. Kan bukan anak kecil lagi. Ya kaan??
"Iya iya. Makasih ya baekh. Aku pulang dulu. Ingat besok ada les malam lagi. Jadi harus datang.
Jangan sok sibuk lagi"
"Sippp"
Saat itu sekitar jam 10 malam, aku pulang bareng Kak Chen. Nggak banyak yang diomongin,
cuma nanya apa aku sudah makan atau belum. Dan aku cuman bilang "Iya sudah kak, tadi sama
Kak Suho" padahal jajangmyeon nya belum dimakan sama sekali. Sayang banget. Setelah itu, Kak
Chen nggak nanya apa-apa lagi. Tadi aku kenapa dan bagaimana, sama sekali nggak ditanyain.
Padahal jawabannya udah aku siapin dari tadi. Tapi sudahlah.
Sesampainya di rumah, ternyata ada Kak Suho yang udah duduk manis di ruang tamu. Tapi aku
nggak noleh sama sekali dan langsung ke kamar. Udah itu pintu langsung aku kunci. Yah kayak
anak baru gede' gitu. Biarin. Nanti juga bakal nyesal sendiri.
Nggak lama, apa aku bilang. Kak Suho datang kan? Dia ngetuk-ngetuk pintu kamar.
"Eun Gee? Buka pintu nya! Dek maafin tadi kakak emosi. Nggak ada maksud mau marahin Eun
Gee. Tapi.."
Belum selesai ngomong, aku langsung buka pintu
"Tapi apa kak? Udah lupain aja yang tadi. Kakak bisa tidur sekarang. Besok kakak nginap disana
lagi kan? Jadi Selamat malam kak"
Dengan muka yang sedikit murung, Kak Suho mengiyakan apa yang aku katakan.
"Yaudah, kamu juga tidur gih sana!"
Kemudian aku menjawabnya dengan sedikit tersenyum.
Dan kembali menutup pintu setelah Kak Suho pergi ke kamarnya.
Di belakang pintu, aku termenung sejenak memikirkan sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti.
Entah kenapa aku ingin membuka laci yang berada tepat disamping tempat tidurku. Aku mendekat
dan kemudian mengambil sebuah foto berukuran sedang yang dibingkai rapi namun sedikit
kusam.
Aku duduk sambil memandangi foto itu. Tanpa sadar aku menitihkan air mata, yang sejujurnya ini
adalah hal paling bodoh yang telah aku lakukan.
"Rasanya baru kemarin aku, Ayah, Ibu, Kak Suho, Kak Chen menghabiskan waktu bersama. Tapi
pada kenyataannya harus berakhir seperti ini." kataku dalam hati. Yang aku sendiri tak tau harus
mengatakannya pada siapa. Aku tidak ingin ada yang tahu bahwa aku lemah. Aku harus kembali
menjadi Eun Gee yang ceria. Karena aku adalah kebahagiaan semua orang. Yapss!!!
Chapter III
Keesokan harinya, Baekh datang menjemputku pagi-pagi sekali. Entah apa yang membuat anak
itu menjadi terlalu rajin seperti ini. Tapi nggak apa-apa. Itu artinya aku tidak sendiri.
"Tunggu Baekh" sambil mengikat tali sepatu