Memahami Sibling Rivalry pada Anak
Memahami Sibling Rivalry pada Anak
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
2. Untuk mengetahui persiapan apa saja yang harus dilakukan orang tua baru.
PEMBAHASAN
A. PengertianSibling Rivalry
Kamus kedokteran Dorland (Suherni, 2008): sibling (anglo-saxon sib dan ling bentuk
kecil) anak-anak dari orang tua yang sama, seorang saudara laki-laki atu perempuan. Disebut
juga sib. Rivalry keadaan kompetisi atau antagonisme. Sibling rivalry adalah kompetisi
antara saudara kandung untuk mendapatkan cinta kasih, afeksi dan perhatian dari satu kedua
orang tuanya, atau untuk mendapatkan pengakuan atau suatu yang lebih.
Sibling rivalryadalah kecemburuan, persaingan dan pertengkaran antara saudara laki-laki dan
saudara perempuan. Hal ini terjadi pada semua orang tua yang mempunyai dua anak atau
lebih.
Sibling rivalryatau perselisihan yang terjadi pada anak-anak tersebut adalah hal yang biasa
bagi anak-anak usia antara 5-11 tahun. Bahkan kurang dari 5 tahun pun sudah
sangat mudah terjadi sibling rivalry itu. Istilah ahli psikologi hubungan antar anak-
anak seusia seperti itu bersifatambivalent dengan love hate relationship.
c. Anak-anak merasa hubungan dengan orang tua mereka terancam oleh kedatangan
anggota keluarga baru/ bayi.
f. Kemungkinan, anak tidak tahu cara untuk mendapatkan perhatian atau memulai
permainan dengan saudara mereka.
h. Pemikiran orang tua tentang agresi dan pertengkaran anak yang berlebihan
dalam keluarga adalah normal.
i. Tidak memiliki waktu untuk berbagi, berkumpul bersama dengan anggota keluarga.
l. Cara orang tua memperlakukan anak dan menangani konflik yang terjadi pada mereka.
Meskipun sibling rivalry mempunyai pengertian yang negatif tetapi ada segi positifnya,
antara lain:
Oleh karena itu agar segi positif tersebut dapat dicapai, maka orang tua harus menjadi
fasilitator.
4. Membuat anak-anak mampu bekerja sama daripada bersaing antara satu sama lain.
5. Memberikan perhatian setiap waktu atau pola lain ketika konflik biasa terjadi.
6. Mengajarkan anak-anak Anda cara-cara positif untuk mendapatkan perhatian dari satu
sama lain.
7. Bersikap adil sangat penting, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan anak. Sehingga adil
bagi anak satu dengan yang lain berbeda.
9. Meyakinkan setiap anak mendapatkan waktu yang cukup dan kebebasan mereka
sendiri.
10. Orang tua tidak perlu langsung campur tangan kecuali saat tanda-tanda akan
kekerasan fisik.
11. Orang tua harus dapat berperan memberikan otoritas kepada anak-anak, bukan
untuk anak-anak.
12. Orang tua dalam memisahkan anak-anak dari konflik tidak menyalahkan satu sama lain.
14. Kesabaran dan keuletan serta contoh-contoh yang baik dari perilakuorang tua sehari-hari
adalah cara pendidikananak-anak untuk menghindari sibling rivalry yang paling bagus.
Menjadi orangtua bukanlah hal yang mudah, tetapi tidak juga sesulit yang [Link]
satu kunci sukses menjadi orangtua sukses adalah mempersiapkan diri dari kedua belah
pihak.
Menjadi orangtua merupakan dambaan bagi mereka yang sudah membina rumah tangga.
Oleh sebab itu, tidak ada salahnya jika sudah mempersiapkan hal ini sejak awal. Dimulai dari
persiapan kehamilan sampai kelahiran. Namun ini bukan saja menjadi tugas seorang istri,
tetapi juga suami.
[Link] Fisik
a) Hentikan kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol. Himbauan ini berlaku
bagi calon ayah dan [Link] aktif dan pasif dapat membuat janin mengalami gangguan
[Link] rokok yang terhirup oleh calon ibu dapat mengahmbat suplai oksigen,
sehingga resiko janin lahir prematur menjadi lebih tinggi. Minuman berakohol membuat
calon ibu menghadapi resiko keguguran karena kandungan menjadi melemah. Sedangkan
para pria, kadar alkohol yang tinggi membuat jumlah sel sperma sedikit jumlahnya sehingga
tidak cukup untuk pembuahan.
b) Calon orangtua harus mulai mengonsumsi makanan dengan gizi tinggi. Membatasi
asupan makanan bergula dan berlemak tinggi sangat [Link] dalam kondisi
berat badan yang ideal agar pembuahan berlangsung sempurna.
c) Lakukanlah tes kesehatan untuk memastikan kondisi kesehatan calon ibu. Jika dalam
pemeriksaan calon ibu dinyatakan mengalami gangguan kesehatan tertentu, biasanya dokter
akan menyarankan agar pasangan menunda dulu kehamilan sampai calon ibu dinyatakan
sehat.
d) Melakukan vaksinasi yang perlu dilakukan oleh ibu untuk melindungi janinnya selama
kehamilan dan menjalani proses persalinan.
2. Persiapan Psikologis.
Bagi calon ayah dan ibu, proses kehamilan hingga melahirkan akan menjadi pengalaman
istimewa. Namun, pengalaman yang luar biasa akan dirasakan ketika pasangan suami-istri
menjadi orangtua. Jadi sebelum memiliki anak sebaiknya diskusikan perubahan dan
tantangan hidup yang akan dialami sehingga calon orangtua telah siap dengan segala
kemungkinan yang akan terjadi.
3. Persiapan Finansial
Persiapan finansial bisa dikatakan sama pentingnya dengan persiapan fisik maupun psikologi.
Persiapan yang dimaksud adalah perencanaan keuangan untuk mencukupi keperluan anak
sejak masih berada dalam kandungan hingga lahir. Kehadiran seorang bayi berarti
pertambahan biaya tetap bagi sebuah keluarga, yang secara tetap akan meningkat seiring
kebutuhan pertumbuhan anak. Orangtua adalah penentu kehidupan anak selanjutnya dan
orang tualah yang memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak agar baik dalam hal
kepribadian, sosialisasi, penyesuaian dan pengendalian diri, kemampuan berpikir dan lain hal
yang kelak akan menentukan keberhasilan dan kemandirian anak yang juga menentukan
keberhasilan anak saat menjadi orangtua.
Dalam kaitannya dengan kehadiran bayi sebagai anggota keluarga baru, maka diperlukan
adaptasi yang baik oleh suami sebagai seorang ayah dan adaptasi anggota keluarga lainnya
yaitu saudara dari bayi tersebut karena terjadi perubahan pola interaksi sehingga tercipta
keserasian dalam kehidupan keluarga.
Dengan kehadiran bayi maka sistem dalam keluarga akan berubah dan pola interaksi dalam
keluarga harus dikembangkan (May, 1994).
Selama masa kehamilan dan melahirkan, tanggung jawab utama pria yaitu memberikan
dukungan penuh kepada [Link] terkadang kecewa karena hanya dianggap sebagai
pendukung dan penolong, bukan sebagai bagian dari calon ornag [Link] dari itu, diadakan
grup pendukung atau kelas bagi calon ayah mengenal perannya lebih jauh. Dalam forum ini
pria lain yang sudah berpengalaman berbagi pengalamannya dalam menghadapi kehamilan,
melahirkan, dan bahkan mengasuh anak.
Ketika seorang ibu melahirkan anak, suatu hal yang ingin diketahui ialah: seperti apakah atau
seperti siapakah anak saya? Ini suatu keingintahuan yang biasa dan wajar. Namun sebenarnya
ada satu hal yang lebih penting lagi yaitu akan seperti apakah kelak anak saya ini? Suatu
pertanyaan dengan rentangan panjang, memakan waktu lama untuk bisa menjawabnya, dan
sulit untuk bisa diramalkan antara apa yang ada dan apa yang akan terjadi, serta antara yang
terlihat dan apa yang akan diperlihatkan.
Anak yang baru lahir berada dalam keadaan lemah, tidak berdaya, tidak bisa apa-apa, tidak
bisa mengurus diri sendiri, tidak bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Jadi ia
tergantung sepenuhnya pada lingkungannya, lingkungan hidupnya, terutama orang tua dan
lebih khusus lagi ialah ibunya. Mengenai lingkungan hidup yang menjadi tokoh pusat ialah
orang [Link] yang berperan besar, langsung atau kadang-kadang tidak langsung,
berhubungan terus-menerus dengan anak, memberikan perangsang (stimulasi) melalui
berbagai corak komunikasi antara orang tua (terutama ibu) dengan anak.
Berdasarkan pada hal-hal tersebut diatas, orang tua jelas berperan besar dalam perkembangan
dan memperkembangkan kepribadian [Link] tua menjadi faktor penting dalam
menanamkan dasar kepribadian yang ikut menentukan corak dan gambaran kepribadian
seorang setelah [Link], gambaran kepribadian yang terlihat dan diperlihatkan seseorang
setelah dewasa banyak ditentukan oleh keadaan dan proses-proses yang ada dan terjadi
sebelumnya.
Dalam usaha atau tindakan aktif orang tua untuk mengembangakan kepribadian anak, perlu
memperhatikan aspek-aspek perkembangan sebagai berikut :
Perlakuan dan pengasuhan yang baik disertai dengan lingkungan sehat memungkinkan anak
hidup sehat, jauh dari keadaan yang mempermudah timbulnya sakit dan penyakit perlu sekali
di perhatikan. Pengetahuan praktis mengenai kadar gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan
dan kesehatan anak perlu diketahui orang tua. Juga diperlukan pengetahuan- pengetahuan
praktis mengenai kebutuhan- kebutuhan anak, kebutuhan dasar dan mineral, untuk
memungkinkan anak berkembang sebaik-baiknya.
Pergaulan adalah juga merupakan suatu kebutuhan untuk memperkembangkan aspek sosial
anak. Seorang anak membutuhkan anak lain atau kelompok yang kira-kira sebaya. Melalui
hubungan dengan lingkungan sosialnya, anak sengaja atau tidak sengaja, langsung atau tidak
langsung terpengaruh pribadinya. Peniruan menjadi salah satu faktor yang sering terjadi
dalam proses pembentukan pribadi anak. Maka penting diperhatikan siapa atau dengan
kelompok mana anak boleh berinteraksi, dianjurkan atau sebaliknya menghindari atau
sesedikit mungkin bergaul.
c) Dalam kaitannya dengan perkembangan mental anak
Komunikasi verbal antara orang tua dengan anak, khususnya pada tahun-tahun pertama
kehidupan anak, besar pengaruhnya untuk perkembangan [Link] memahami arti
sesuatu mulai dari yang kongkrit sampai yang [Link] dari usaha anak sendiri yang
bereksplorsi didalam lingkungannya, mendengar, mengamati dan mengolah menjadi
pengetahuan-pengetahuan, juga berasal dari perangsangan- perangsangan yang diberikan oleh
orang-orang yang ada di sekeliling hidup [Link] anak berbicara sambil membimbing
lebih lanjut mempunyai dampak positif bagi perkembangan aspek mentalnya.
Pengetahuan anak mengenai perbuatan baik atau tidak batik, boleh atau tidak boleh
dilakukan, diperoleh dari usaha anak sendiri yang secara aktif memperhatikan, meniru dan
mengolah dalam alam pikirannya dan lebih lanjut menjadi sikap dan [Link]
dalam banyak hal peranan dari orang tua juga cukup besar dalam mempengaruhi
perkembangan aspek moral dan rohani anak.
Orang tua sedikit demi sedikit membimbing dan mengarahkan sikap dan perilaku anak sesuai
dengan patokan atau ukuran orang tua, sesuai dengan kitab suci dan ajaran- ajaran agama.
G. Adaptasi Paternal
Jordan (1990) mendeskripsikan 3 proses perkembangan yang dialami oleh calon ayah,yaitu
mengaitkan dengan realitas akan kehamilan dan anak, mengenal peran orang tua dari
keluarga dan lingkungan masyarakat, serta berusaha melihat relevansi akan childbearing.
Respon kanak-kanak atas kelahiran seorang bayi laki-laki atau perempuan bergantung kepada
umur dan tingkat perkembangan. Biasanya anak-anak kurang sadar akan adanya kehadiran
anggota baru, sehingga menimbulkan persaingan dan perasaan takut kehilangan kasih
sayangorang tua. Tingkah laku negatif dapat muncul dan merupakan petunjuk
derajat stres pada anak-anak ini
Tingkah laku ini antara lain berupa:
Masalah tidur.
Peningkatan upaya menarik perhatian orang tua maupun anggota keluarga lain.
Pada tahapanperkembangan ini, yang termasuk batita (bawah tiga tahun) ini adalah usia 1-2
tahun. Cara beradaptasi pada tahap perkembangan ini antara lain:
Mengajarkan pada orang tua untuk menerima perasaan yang ditunjukkan oleh anaknya.
Tahap perkembangan pada anak yang lebih tua, dikategorikan pada umur 3-12 tahun.
Pada anak seusia ini jauh lebih sadar akan perubahan-perubahantubuh ibunya dan mungkin
adiknya. Terdapat pula, kelas-kelas yang mempersiapkan mereka sebagai kakak sehingga
Respon para remaja juga bergantung kepada tingkat perkembangan mereka. Ada remaja
yang merasa senang dengan kehadiran angggota baru, tetapi ada juga yang larut dalam
perkembangan mereka sendiri. Adaptasi yang ditunjukkan para remaja yang menghadapi
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Membina rumah tangga dan akhirnya memiliki anak bukanlah sebuah realita yang begitu saja
terjadi, namun memiliki alur dan interaksi yang unik bahkan pelik jika dipandang sebelah
[Link] karena itu, perlu dilakukan persiapan diri. Persiapan menjadi orang tua bukan saja
menjadi tugas seorang istri, tetapi juga suami .
Hubungan antara anak dengan orangtuanya atau dengan saudaranyaakan menjadi dekat ketika
adanya komunikasi yang baik. Anak akanmerasa nyaman dengan dukungan dan nasihat dari
orangtuanya atas kebingungan dan kekhawatiran yang ia alami di awal.
Dalam realitanya, sibling rivalry tentu terjadi pada keluarga dengan jumlah anak lebih dari
satu. Peran bidan untuk mengatasi sibling rivalry yaitu :
1. Membantu menciptakan terjadinya ikatan antara ibu dan bayi dalam jam pertama
pasca kelahiran.
2. Memberikan dorongan pada ibu dan keluarga untuk memberikan respon positif tentang
bayinya, baik melalui sikap maupun ucapan dan tindakan.
3. Memberikan penjelasan kepada orang tua agar sedini mungkin mengenalkan calon bayi
pada kakaknya.
B. Saran
Menjadi orangtua merupakan dambaan bagi mereka yang sudah membina rumah tangga.
Oleh sebab itu, tidak ada salahnya jika sudah mempersiapkan hal ini sejak awal. Dimulai dari
persiapan kehamilan sampai kelahiran. Namun ini bukan saja menjadi tugas seorang istri,
tetapi juga suami yang harus mengerti apa saja yang harus dipersiapkan untuk menjadi
orangtua.
DAFTAR PUSTAKA
Murray, Sharon Smith & Emily Slone McKinney. (2007). Foundations of Maternal-
Newborn
Bahiyatun. 2009. Buku Ajar Asuhan KebidananNifasNormal. Jakarta: EGC. (hlm: 56-
57).
Desty, dkk. 2009. Respon Orang Tua Terhadap Bayi Baru Lahir. Akademi Kebidanan
Kamus kedokteran Dorland (Suherni, 2008): sibling (anglo-saxon sib dan ling bentuk kecil)
anak-anak dari orang tua yang sama, seorang saudara laki-laki atu perempuan. Disebut juga
sib. Rivalry keadaan kompetisi atau antagonisme. Sibling rivalry adalah kompetisi antara
saudara kandung untuk mendapatkan cinta kasih, afeksi dan perhatian dari satu kedua orang
tuanya, atau untuk mendapatkan pengakuan atau suatu yang lebih.
Sibling rivalry adalah kecemburuan, persaingan dan pertengkaran antara saudara laki-laki dan
saudara perempuan. Hal ini terjadi pada semua orang tua yang mempunyai dua anak atau
lebih.
Sibling rivalry atau perselisihan yang terjadi pada anak-anak tersebut adalah hal yang biasa
bagi anak-anak usia antara 5-11 tahun. Bahkan kurang dari 5 tahun pun sudah
sangat mudah terjadi sibling rivalry itu. Istilah ahli psikologi hubungan antar anak-anak
seusia seperti itu bersifat ambivalent dengan love hate relationship.
Anak merasa kurang mendapatkan perhatian, disiplin dan mau mendengarkan dari orang tua
mereka.
Anak-anak merasa hubungan dengan orang tua mereka terancam oleh kedatangan anggota
keluarga baru/ bayi.
Anak frustasi karena merasa lapar, bosan atau letih sehingga memulai pertengkaran.
Kemungkinan, anak tidak tahu cara untuk mendapatkan perhatian atau memulai permainan
dengan saudara mereka.
Pemikiran orang tua tentang agresi dan pertengkaran anak yang berlebihan dalam keluarga
adalah normal.
Tidak memiliki waktu untuk berbagi, berkumpul bersama dengan anggota keluarga.
Orang tua mengalami stres dalam menjalani kehidupannya.
Cara orang tua memperlakukan anak dan menangani konflik yang terjadi pada mereka.
Meskipun sibling rivalry mempunyai pengertian yang negatif tetapi ada segi positifnya,
antara lain:
Oleh karena itu agar segi positif tersebut dapat dicapai, maka orang tua harus menjadi
fasilitator.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua untuk mengatasi sibling rivalry, sehingga
anak dapat bergaul dengan baik, antara lain:
Membuat anak-anak mampu bekerja sama daripada bersaing antara satu sama lain.
Memberikan perhatian setiap waktu atau pola lain ketika konflik biasa terjadi.
Mengajarkan anak-anak Anda cara-cara positif untuk mendapatkan perhatian dari satu sama
lain.
Bersikap adil sangat penting, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan anak. Sehingga adil bagi
anak satu dengan yang lain berbeda.
Meyakinkan setiap anak mendapatkan waktu yang cukup dan kebebasan mereka sendiri.
Orang tua tidak perlu langsung campur tangan kecuali saat tanda-tanda akan kekerasan fisik.
Orang tua harus dapat berperan memberikan otoritas kepada anak-anak, bukan untuk anak-
anak.
Orang tua dalam memisahkan anak-anak dari konflik tidak menyalahkan satu sama lain.
Jangan memberi tuduhan tertentu tentang negatifnya sifat anak.
Kesabaran dan keuletan serta contoh-contoh yang baik dari perilaku orang tua sehari-hari
adalah cara pendidikan anak-anak untuk menghindari sibling rivalry yang paling bagus.
Masalah tidur.
Peningkatan upaya menarik perhatian orang tua maupun anggota keluarga lain.
Kembali ke pola tingkah laku kekanak-kanakan seperti: ngompol dan menghisap jempol.
Merubah pola tidur bersama dengan anak-anak pada beberapa minggu sebelum kelahiran.
Mengajarkan pada orang tua untuk menerima perasaan yang ditunjukkan oleh anaknya.
Remaja
Respon para remaja juga bergantung kepada tingkat perkembangan mereka. Ada remaja yang
merasa senang dengan kehadiran angggota baru, tetapi ada juga yang larut dalam
perkembangan mereka sendiri. Adaptasi yang ditunjukkan para remaja yang menghadapi
kehadiran anggota baru dalam keluarganya, misalnya:
Peran Bidan
Peran bidan dalam mengatasi sibling rivalry, antara lain:
Membantu menciptakan terjadinya ikatan antara ibu dan bayi dalam jam pertama pasca
kelahiran.
Memberikan dorongan pada ibu dan keluarga untuk memberikan respon positif tentang
bayinya, baik melalui sikap maupun ucapan dan tindakan.
Referensi
Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 71-72).
Bahiyatun. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC. (hlm: 56- 57).
Desty, dkk. 2009. Respon Orang Tua Terhadap Bayi Baru Lahir. Akademi Kebidanan
Mambaul Ulum Surakarta.
Kyla, B. 2009. Sibling Rivalry. Diunduh 29 Januari 2009, 06: 49
PM. [Link]/yourchild/topics/[Link]
Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 67-76).
1 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Sebagian besar anak tumbuh bersama dengan setidaknya satu saudara
kandung (Volling dan Blandon, 2003). Keterikatan dengan saudara kandung, baik itu kakak
maupun adik merupakan hubungan yang paling lama yang dimiliki seseorang (Sanders,
dalam Edwards, et al, 2006). Ini disebabkan karena interaksi antar saudara kandung dimulai
ketika anak masih kecil dan terus berlanjut sepanjang hidup anak (Zanden, 2003). Interaksi
antar saudara kandung akan menghasilkan hubungan yang saling mempengaruhi
perkembangan satu sama lain, terutama pada perkembangan sosial dan koginitif (Dunn,
dalam Thompson, 2004) Hubungan saudara kandung atau selanjutnya akan disebut dengan
sibling relationship merupakan jumlah total interaksi, baik secara fisik maupun komunikasi
(verbal atau non verbal), antara dua individu atau lebih yang mempunyai orang tua biologis
yang sama. Dalam hubungan tersebut, ndividu tersebut berbagi pengetahuan, persepsi, sikap,
kepercayaan dan perasaan mengenai satu sama lain dari waktu ke waktu dimulai ketika satu
anak menyadari kehadiran saudaranya (Cicirelli, 1985a; 1996). Sibling relationship
merupakan salah satu hubungan horizontal pada anak yaitu hubungan yang bersifat timbal
balik dimana satu pihak dengan pihak lain mempunyai derajat yang sama (Bee & Boyd,
2004). Bagi anak pertama, sibling relationship diawali ketika lahirnya adik dalam keluarga.
Kehadiran adik dapat menimbulkan pengalaman yang beragam dalam diri setiap anak.
Kehadiran adik dapat menjadi teman baru bagi anak pertama, sikap saling berbagi akan
muncul dalam diri anak dan kakak-adik tersebut bisa saling belajar untuk mengembangkan
kemampuan sosial mereka (Ferrer and McCrea, 2002). Tidak hanya hal positif saja yang
dapat ditimbulkan oleh kehadiran adik. Kehadiran anak kedua dapat dihubungkan dengan
penurunan jumlah dan sikap positif dari interaksi ibu dengan anak pertamanya (Baydar, [Link].,
dalam Vasta, [Link]., 2004). Penurunan interaksi ibu dengan anak pertamanya 1
2 2 disebabkan karena ibu harus membagi perhatiannya kepada adik yang baru lahir. Situasi
seperti ini akan menimbulkan sibling rivalry pada anak yang lebih tua. Sibling rivalry adalah
semangat kecemburuan, kompetisi atau kemarahan antar kakak dan adik yang dimulai sejak
kelahiran adik dalam keluarga (Shaffer, 2002) Kecemburuan dan kompetisi pada sibling
rivalry terjadi untuk merebut perhatian orang tua (Helms & Turner, 1976). Sibling rivalry
merupakan hal yang umum dan rutin terjadi pada anak yang tumbuh dalam keluarga
(Molgaard, 1997), namun juga merupakan hal yang menjadi perhatian orang tua dengan dua
anak atau lebih (Boyse, 2007). Kecemburuan, kompetisi dan pertengkaran antar saudara
kandung merupakan hal yang umum terjadi di keluarga, namun apabila ketiga hal tersebut
terus menerus terjadi, dapat membawa keluarga kepada situasi yang berbahaya dan perlu
untuk segera diatasi (Molgaard, 1997). Vasta, [Link]., (2004) mengatakan bahwa sibling rivalry
merupakan salah satu masalah yang ditakutkan dalam sibling relationship. Selain itu, peneliti
menemukan banyak buku panduan orang tua untuk mengatasi sibling rivalry (contoh:
Kennedy, 2003; Faber & Mazlish, 2000; Woolfson, 2005) dan buku-buku panduan tersebut
menekankan sibling rivalry sebagai sebuah hal yang memerlukan perhatian khusus. Sejak
dulu para peneliti tertarik untuk meneliti mengenai sibling rivalry bahkan pada penelitian
awal, rivalry merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas sibling relationship
(Cicirelli, 1996). Penelitian awal sibling rivalry dilakukan oleh David M Levy (dalam
http//:[Link]). Levy melakukan penelitian mengenai agresi dan menemukan
sibling rivalry akibat kehadiran adik pada anak yang lebih tua. Sibling rivalry yang
ditemukan oleh Levy berbentuk reaksi agresif anak yang lebih tua terhadap adiknya. Lebih
lanjutnya Levy mendefinisikan sibling rivalry sebagai respon agresif yang umum terjadi
akibat kedatangan adik dalam kehidupan keluarga (dalam Sawicki (1997) mengemukakan
empat manifestasi sibling rivalry yang umum terjadi pada anak yang lebih tua saat lahirnya
adik dalam keluarga. Manifestasi sibling rivalry tersebut adalah (1) agresi anak, (2)
kemunduran tingkah laku anak, (3) tingkah laku anak mencari perhatian orang tua, serta (4)
3 3 timbulnya kematangan dan kemandirian anak. Keempat manifestasi ini terjadi pada awal
kehadiran adik dalam keluarga dan pada umumnya intensitasnya akan berkurang seiring
dengan perkembangan usia anak dan perilaku dari orang tua. Sebagian besar manifestasi
sibling rivalry yang dikemukakan Jill Sawicki merupakan respon yang negatif karena
kehadiran adik, seperti munculnya agresi pada anak yang lebih tua dan penurunan tingkah
laku anak, oleh karena itu orang tua harus tanggap dalam mengamati tingkah laku anak agar
sibling rivalry yang muncul pada awal kehadiran adik tidak menimbulkan masalah dalam
keluarga. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pengertian sibling rivalry juga
turut berkembang. Sibling rivalry kini tidak hanya muncul pada anak yang lebih tua, namun
bisa juga terjadi pada saudara kandung anak tersebut. Sibling rivalry yang terjadi pada kakak-
adik tersebut merupakan kompetisi antar anak untuk merebut perhatian dan kasih sayang
orang tua serta dominansi di keluarga (Nicholson, 2003). Mander (1991; Anderson 2002)
mengemukakan dua manifestasi sibling rivalry yang biasa terjadi pada anak dalam keluarga,
yaitu (1) kecemburuan dan (2) kompetisi. Kedua manifestasi sibling rivalry ini dapat terjadi
pada kakak maupun adik di dalam keluarga. Kecemburuan merupakan manifestasi utama
sibling rivalry (Thompson, 2004). Pada umumnya anak cemburu karena kehilangan perhatian
orang tua Kecemburuan pada anak-anak merupakan kecemburuan terkuat selama masa muda
mereka (Parrot dalam Anderson, 2006). Kompetisi pada anak terjadi untuk memperebutkan
perhatian orang tua dan sumber yang terbatas dalam bentuk material (Dunn; Michale
&Crouter; Nolle dalam Noller, [Link]., 2007). Kompetisi yang merupakan bentuk sibling
rivalry ini dapat memunculkan reaksi emosi yang ekstrim pada pasangan kakak adik (Bedford
& Volling; Dunn, dalam Noller, [Link]., 2007). Pada usia kanak-kanak pertengahan, anak
menghabiskan waktu lebih banyak dengan saudara kandungnya dibandingkan dengan masa
awal hidup mereka dengan demikian sibling relationship cenderung meningkat dan beragam
pada anak-anak di usia tersebut (Thompson, 2004). Demikian juga dengan sibling rivalry,
sibling rivalry cenderung meningkat pada usia kanak-kanak pertengahan (Berk, 2005).
Penelitian dari Annie McNemey dan Joy Usner mengenai sibling rivalry pada beberapa
rentang usia (dalam [Link])
5 5 latihan diskusi bagi anak untuk menghargai pendapat dan perasaan orang lain (dalam
serta menimbulkan kemampuan perspektif yang lebih baik pada anak (Perner, et al., dalam
Bomb, 2005). Anak terlatih melakukan negosiasi, berkompromi dan menyelesaikan konflik
dengan saudara kandungnya (dalam Bomb, 2005). Dengan berlatih bersama saudara
kandungnya, anak mampu menyelesaikan pertengkaran yang terjadi di luar keluarga,
misalnya dengan teman sepermainannya. Sibling rivalry dapat terjadi pada setiap keluarga
yang mempunyai dua anak atau lebih, termasuk pada keluarga dengan anak berkebutuhan
khusus, seperti pada keluarga dengan anak ADHD (Attention Deficit Hyperactivity
Disorder). ADHD adalah disability dimana seorang anak menunjukkan satu atau lebih
karakteristik berikut dalam jangka waktu yang lama: (1) inattention atau sulit untuk
memusatkan perhatian (2) Hiperaktif dimana mempunyai level aktivitas yang tinggi dan
selalu bergerak kemana-mana serta (3) impulsive dimana anak sulit menahan reaksi mereka
(Santrock, 2007). ADHD merupakan salah satu bentuk gangguan yang umum terjadi pada
anak-anak di seluruh dunia (Slomkowski, et al. dalam McDougall, [Link]., 2006). Menurut
Zametkin dan Ernest (dalam Cosser, 2005), ADHD diperkirakan terjadi pada dua sampai
sebelas persen atau lebih anak-anak di seluruh dunia. Penelitian Kilic dan Sener (2005)
mengenai anak ADHD mendapat hasil bahwa anak ADHD mempunyai resiko yang tinggi
akan perubahan mood dan karakteristik temperamental. Anak ADHD juga mempunyai
masalah dalam pengendalian emosi, mood yang labil dimana emosi mereka cepat berpindah
dari satu emosi ke emosi lainnya, toleransi terhadap frustasi yang rendah, dan temperamen
yang tinggi (Sattler, [Link]. dalam Sattler, 2002). Sibling rivalry merupakan kecemburuan dan
kompetisi yang berkaitan dengan pengalaman emosi seseorang. Dengan adanya ADHD pada
diri anak, maka sibling rivalry yang akan ia alami akan beragam dibandingkan dengan anak
normal pada umumnya. Emosi yang meluap-luap dari anak ADHD memungkinan
pengalaman sibling rivalry pada anak tersebut akan semakin terlihat. Selain itu agresi anak
ADHD mungkin dapat berhubungan dengan sibling rivalry yang terjadi pada diri anak
tersebut.
6 6 Agresi dapat membuat sibling rivalry lebih terlihat dan dapat menyebabkan konflik antara
anak ADHD dan saudara kandungnya. ADHD tidak hanya mempengaruhi anak yang
mengalaminya, namun juga memperngaruhi seluruh keluarga anak ADHD, termasuk saudara
kandung anak ADHD. Kendall (dalam McDougall, [Link]., 2006) meneliti mengenai
pengalaman saudara kandung anak ADHD, bagaimana ADHD mempengaruhi sibling
relationship serta gaya hidup mereka. Dalam penelitian tersebut, saudara kandung anak
ADHD mengeluhkan tingkah laku anak ADHD yang agresif, sikap anak ADHD yang
bermusuhan serta suka bertengkar Saudara kandung anak ADHD mengaku mengalami
gangguan yang dihasilkan dari gejala negatif ADHD (Kendall, dalam McDougall, [Link].,
2006). Gangguan yang dialami oleh saudara kandung anak ADHD tersebut sering tidak
dihiraukan oleh orang tua (McDougall, [Link]., 2006). Bahkan pusat perhatian orang tua
cenderung kepada anak ADHD. Orang tua sering membela anak ADHD serta
memperlakukan anak ADHD berbeda dengan saudaranya. Hal ini disadari oleh saudara
kandung anak ADHD. Mereka merasa bahwa orang tua terlalu mendukung anak ADHD yang
selalu melanggar aturan, tidak mau bekerja sama, tidak mau melakukan rutininas dan selalu
mencoba untuk mendapatkan perlakuan khusus dari orang tua. Perasaan saudara kandung
anak ADHD ini akan berkembang menjadi perasaan cemburu dimana anak merasa orang tua
sangat memperhatikan saudara mereka yang ADHD, dan akhirnya akan menimbulkan sibling
rivalry dalam diri saudara kandung anak ADHD. Ini dapat terjadi karena salah satu faktor
yang dapat mengembangkan sibling rivalry adalah kecenderungan orang tua untuk
memusatkan perhatian pada salah satu anaknya (Berk, 2005). Di sisi lain, anak ADHD sendiri
sangat membutuhkan dukungan dari keluarga untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan
sekitarnya. Dukungan dari keluarga tersebut juga datang dari saudara kandung, bahkan anak
ADHD dapat mempunyai hubungan yang lebih dekat dengan saudara kandungnya
dibandingkan dengan orang tuanya. Saudara kandung dapat membantu anak tersebut untuk
menjadi lebih kreatif, bertanggung jawab, dan ambisius. (Wilson, dalam Oleh karena itu,
adanya sibling rivalry pada saudara kandung anak ADHD memungkinkan timbulnya
pengaruh terhadap hubungan
7 7 anak ADHD dan saudara kandungnya, pengaruh terhadap diri anak ADHD serta pengaruh
terhadap diri saudara kandung dari anak ADHD Hal ini menarik peneliti untuk mengetahui
bagaimana sebenarnya gambaran sibling rivalry pada anak ADHD dan saudara kandungnya.
Untuk mengetahui hal tersebut, peneliti akan menggunakan pendekatan kualitatif dengan
observasi dan wawancara mendalam sebagai metode pengumpulan data. Pendekatan
kualitatif dipilih karena dengan menggunakan metode kualitatif, peneliti dapat melihat
bagaimana gambaran atau deskripsi langsung fenomena tertentu (Sandelowski, 2000). Dalam
penelitian ini gambaran atau deskripsi langsung mengenai sibling rivalry pada anak ADHD
dan saudara kandungnya. Peneliti akan mewawancara tiga pasang anak ADHD dan saudara
kandungnya dan melakukan observasi terhadap interaksi anak ADHD dan saudara
kandungnya. Baik anak ADHD maupun saudara kandungnya berada dalam rentang usia 6-12
tahun (dalam kategori usia kanak-kanak pertengahan). Pada usia kanak-kanak pertengahan,
anak sudah bisa berpikir logis dan konkret. Pada usia tersebut, anak juga mengalami
peningkatan dalam ingatan dan bahasa. Selain itu sibling rivalry pada anak cenderung
meningkat pada usia kanak-kanak pertengahan (Berk, 2005). Untuk mendapatkan gambaran
sibling rivalry pada anak ADHD dan saudara kandungnya, peneliti akan mewawancara orang
tua serta significant others dari anak ADHD dan saudara kandungnya. Orang tua yang dipilih
adalah ibu. Dalam beberapa budaya, ibu merupakan pihak utama dalam mengurus anak
(Papalia, [Link]., 2004). Termasuk juga dalam budaya di Indonesia dimana sebagian besar
budaya di Indonesia menekankan ayah sebagai kepala keluarga yang mencari nafkah,
sementara ibu berperan dalam mendidik dan mengurus anak. Menurut Santrock (2007), yang
terjadi pada kehidupan keluarga akhir-akhir ini adalah ibu memegang tanggung jawab utama
untuk anak, selain itu ibu bertanggung jawab pada pekerjaan rumah yang lain serta berbagai
bentuk pekerjaan keluarga masih bergantung di pundak ibu (Barnard dan Martell, 1995 dalam
Santrock, 2007). Dengan demikian ibu akan lebih dekat dengan anak bila dibandingkan
dengan ayah.
8 8 1.2 Masalah Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti ingin melihat masalah umum
sebagai berikut: - Bagaimana gambaran sibling rivalry pada Anak ADHD dan saudara
kandungnya yang berada pada rentang usia kanak-kanak pertengahan? Masalah umum di atas
terbagi menjadi dua masalah khusus, yaitu: - Bagaimana gambaran sibling rivalry
berdasarkan MANIFESTASI sibling rivalry pada Anak ADHD dan saudara kandungnya yang
berada pada rentang usia kanak-kanak pertengahan? - Bagaimana gambaran sibling rivalry
berdasarkan TIPE sibling rivalry pada Anak ADHD dan saudara kandungnya yang berada
pada rentang usia kanak-kanak pertengahan? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian
ini adalah untuk melihat gambaran sibling rivalry pada sepasang saudara kandung yang salah
satunya mengalami ADHD. Adapun tujuan khususnya adalah mengetahui secara lebih dalam
gambaran sibling rivalry pada keluarga dengan anak ADHD berdasarkan MANIFESTASI
dan TIPE sibling rivalry agar keluarga dapat menemukan cara untuk mengatasi sibling rivalry
yang dialami oleh pasangan saudara kandung dimana salah satunya mengalami ADHD.
Selain itu penelitian ini berguna untuk memperkaya penelitian dalam psikologi
perkembangan anak, terutama penelitian mengenai sibling relationship dan anak
berkebutuhan khusus, terutama anak ADHD. 1.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari
penelitian ini adalah: - Memberikan sumbangan ilmiah mengenai faktor yang mempengaruhi
perkembangan anak, berhubungan dengan adanya sibling rivalry dalam pasangan kakak-adik.
- Bagi keluarga; memberikan informasi kepada keluarga, terutama untuk orang tua dengan
anak ADHD mengenai sibling rivalry dan dampaknya bagi perkembangan anak
9 9 - Menemukan cara untuk mengatasi sibling rivalry yang dialami oleh pasangan saudara
kandung dimana salah satunya mengalami ADHD Sistematika Penulisan Sistematika
penulisan yang dilakukan oleh peneliti meliputi: Bab pendahuluan, penulis akan menguraikan
beberapa hal, seperti asal mula dan alasan mengapa sibling rivalry dipilih menjadi tema
dalam penelitian ini, permasalahan yang diangkat dalam penelitian, serta tujuan dan manfaat
penelitian bagi pembacanya. Dalam bab dua, penulis mengajukan beberapa tinjauan pustaka
yang berhubungan dengan penelitian yang akan dilakukan. Tinjauan pustaka tersebut yaitu
teori sibling, sibling relationship, sibling rivalry, karakteristik anak usia kanak-kanak
pertengahan, karakteristik anak ADHD, sibling rivalry pada usia kanak-kanak pertengahan,
serta sibling rivalry pada anak ADHD dan saudara kandungnya. Tinjauan Pustaka dilakukan
mulai dari definisi sampai penelitianpenelitian yang berhubungan dengan teori yang akan
dibahas. Bab tiga berisi mengenai metode penelitian, dimana di dalamnya peneliti akan
menguraikan mengenai karakteristik subjek penelitian, bentuk penelitian dan prosedur
penelitian yang akan dilakukan. Pada Bab empat, peneliti akan menjabarkan hasil penelitian
yang telah didapatkan. Hasil tersebut meliputi gambaran dari masing-masing subjek, hasil
interpretasi data dari masing-masing subjek dan lainnya. Bab lima yang merupakan bab
terakhir, yaitu bab kesimpulan, diskusi dan saran. Dalam bab ini, peneliti akan menjelaskan
kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian. Selanjutnya akan dibahas diskusi mengenai
kesalahan yang peneliti lakukan dan hambatan-hambatan dalam pelaksanaan penelitian ini,
serta saran-saran dari peneliti untuk penelitian serupa.
Mengenal ADHD Gejala, Penyebab dan Pengobatannya
Penulis
Web Kesehatan
ADHD adalah singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder, yaitu sebuah
gangguan pada perkembangan otak yang menyebabkan penderitanya menjadi hiperaktif,
impulsif, serta susah memusatkan perhatian. Kondisi ini dulunya dikenal
dengan ADD atau Attention Deficit Disorder.
ADHD adalah kondisi yang bisa terdapat pada anak-anak, remaja bahkan pada orang dewasa.
Namun gejalanya biasanya mulai berkembang pada masa kanak-kanak dan berlanjut hingga
dewasa. Diperkirakan terdapat 3-5 persen anak-anak atau anak usia sekolah yang mengalami
kondisi ini. Tanpa penanganan yang tepat, ADHD dapat menimbulkan konsekuensi yang
serius seperti mal-prestasi (under-achievement), kegagalan di sekolah atau pekerjaan, susah
menjalin hubungan atau interaksi sosial, rasa tidak percaya diri yang parah, dan juga depresi
kronis.
Gejala ADHD
Gejala atau pertanda ADHD bisa berbeda bagi setiap orang. Gejalanya biasanya mulai
tampak saat masa anak-anak. Berikut ini adalah tiga gejala utama ADHD yang umum pada
anak-anak:
Hiperaktif
Tampak seperti kelebihan energi, selalu aktif dan tidak bisa diam. Tanda-tandanya yang
biasanya tampak adalah:
Tidak bisa bermain dengan tenang
Susah berdiam diri, menggeliat, gelisah, dan sering berdiri kembali ketika duduk
Selalu bergerak, seperti berlari atau memanjat pada sesuatu
Tidak bisa duduk dengan tenang
Impulsif
Penderita ADHD biasanya memiliki sifat impulsif atau bertindak tanpa berpikir (spontan).
Gejala yang dapat dikenali misalnya:
Sponsored Links
Selain ketiga gejala di atas, terdapat juga beberapa gejala lain yang bisa terjadi pada penderita
ADHD, antara lain:
Penyebab ADHD
Penyebab pasti ADHD belum diketahui secara pasti, namun para peneliti memusatkan objek
penelitiannya pada kinerja dan perkembangan otak. Selain itu, terdapat tiga faktor yang
dianggap mempengaruhi kondisi ADHD, yaitu:
Faktor genetik/keturunan
Sebagian besar penderita ADHD mendapatkan kondisi ini dari orang tuanya.
ADHD memiliki kecenderungan besar terjadi pada keluarga/keturunan.
Ketidakseimbangan kimia
Para ahli meyakini bahwa ketidakseimbangan kimiawi pada otak
(neurotransmitter) merupakan faktor yang mempengaruhi perkembangan gejala
ADHD.
Kinerja otak
Pada anak yang menderita ADHD, didapati bahwa area otak yang mengontrol
perhatian tampak tidak terlalu aktif, dibandingkan dengan anak-anak lainnya yang
tidak menderita ADHD.
Walaupun kondisi ini tidak bisa disembuhkan, terdapat beberapa tindakan atau penanganan
bagi penderita ADHD. Pengobatan di sini berarti tindakan atau strategi untuk membantu
mengontrol gejala-gejala ADHD. Tujuannya adalah membantu penderitanya meningkatkan
kemampuan sosial, meningkatkan kemampuan dalam belajar/bekerja, meningkatkan rasa
percaya diri anak, dan menjaga penderitanya dari tingkah laku yang dapat membahayakan
diri sendiri.
Pengobatan bagi penderita ADHD bisa berupa obat-obatan ataupun terapi. Obat-obatan yang
sering diberikan oleh dokter biasanya berupa stimulan, yang digunakan untuk membantu
mengontrol sikap hiperaktif dan impulsif pada anak, serta membantu meningkatkan fokus
atau perhatian.
Penanganan berupa terapi (psikoterapi) juga umum diberikan pada penderita ADHD. Terapi
yang diberikan bisa berupa pelatihan kemampuan sosial, modifikasi tingkah laku (behavior),
dan juga terapi kognitif. Orang tua dan keluarga juga biasanya akan diberikan pelatihan
berupa pengenalan terhadap ADHD, cara menghadapi gejala ADHD pada anak, pendekatan-
pendekatan yang digunakan, ataupun berupa support bagi orang tua yang memiliki anak
penderita ADHD.
Referensi:
WebMD: What Is Attention Deficit Hyperactivity Disorder?
NIH: Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
Sibling Rivalry
Sibling rivalry adalah permusuhan dan kecemburuan antara saudara kandung yang
menimbulkan ketegangan diantara mereka. Hal ini tak dapat disangkal bahwa perselisihan
antara mereka akan selalu ada. Biasanya ini terjadi apabila masing-masing pihak berusaha
lebih unggul dari yang lain. Kemungkinan sibling rivalry akan semakin besar apabila mereka
berjenis kelamin sama dan usia keduanya cukup dekat.
Menurut Dr. Sawitri, sibling rivalry adalah persingan antara dua saudara kandung dalam
memperebutkan kasih saying dan perhatian orang tua yang telah dirasakan saat anak usia 3
tahun. Berebut mainan, berebut tempat untuk bisa lebih dekat dengan ayah atau ibu, berebut
kue, berebut kesempatan memainkan sesuatu dan sebagainya.
Sibling rivalry banyak terjadi pada anak-anak yang berjarak usia sangat dekat (1 atau 2
tahun), sama beradu pada pertengahan masa anak (8-12 tahun) dan berjenis kelamin sama.
Akibatnya apabila tidak tertangani bisa kemungkinan sampai dewasa, sampai tua kakek
nenek.
Sibling rivalry bukanlah kesalahan anak tertua, maupun anak-anak dalam keluarga, juga
bukan merupakan kesalahan orang tua semata, bahwa akar permasalahannya adalah
kurangnya waktu dan perhatian, akibat kondisi umum yang dimiliki oleh suatu keluarga.
Seorang kakak yang iri terhadap adiknya menganggap adik sebagai penyebab hilangnya
beberapa kenikmatan yang selama ini dinikmatinya. Iri hati kakak pada adik merupakan suatu
yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sang kakak biasanya iri ketika ibu terkesan
lebih memperhatikan adik. Pearasaan iri semakin kuat karena adik biasanya lebih
diperhatikan, dikasihi dan disayang.
Bagi anak-anak, yang mereka perebutkan adalah waktu, perhatian, cinta dan penerimaan yang
diberikan orang tua kepada setiap anak. Dengan segenap kemampuan fisik dan mental yang
dimiliki, orang tua akan lebih mudah mencurahkan kepada satu anak saja daripada harus
membaginya kepada beberapa anak sekaligus, apalagi setiap anak memiliki kebutuhan yang
berbeda.
Sumber permasalahan sibling rivalry muncul pada masalah anak itu sendiri, akan tetapi orang
tua harus bertindak dalam permasalah tersebut. Fungsi keluarga juga merupakan factor yang
mempengaruhi sibling rivalry karena anak-anak mereka berebut perhatian orang tua atau
karena kesalahan sikap orang tua yang terkadang tidak berlaku adil, pilih kasih atau
membanding-bandingkan antara anak yang satu dengan anak yang lain.
Penyebab alas an mengapa anak merasa cemburu dan benci terhadap saudaranya antara lain :
Anak sangat bergantung pada cinta dan kasih saying orang tuanya.
Adanya konflik dan ketidaksetujuan hidup bersama dengan orang lain dalam jangka waktu
yang cukup lama.
Faroritisme orang tua terhadap salah seorang dapat memicu dendam anak yang lain.
Jika seorang anak kurang berbakat disbanding saudaranya, maka anak yang kurang
berbakat cenderung membenci saudaranya,
Selain adanya kopetensi dan kecemburuan, factor-faktor lain dapat mempengaruhi kakak adik
bertengkar adalah karakteristik individu merupakan salah satu factor yang mempengaruhinya
memang tidak dapat dipungkiri, bahkan orang tua dengan mudahnya memberi label, sehingga
anak tertentu cepat merasa bosan, sementara yang lain mudah frustasi. Di sisi lain anak-anak
yang memiliki kelemahan tertentu dalam perkembangannya, seprti kemampuan bahasa dan
interaksi sosial.
Agar tercapai menfaat yang diinginkan, orang tua perlu menjadi fasilitator. Beberapa hal
yang perlu diperhatikan adalah :
Orang tua tidak perlu langsung bereaksi. Campur tangan dibituhkan saat terdapat tanda-
tanda akan terjadi kekerasan fisik.
Orang tua perlu membatasi diri, cobalah menyelesaikan masalah dengan anak-anak.
Jika anak-anak selalu memperebutkan benda yang sama, misalnya televise, ajaklah mereka
membuat daftar yang menunjukkan giliran siapa memakai benda tersebut dalam seminggu.
Mengajak setiap anak untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan tentang saudaranya.
Mencegah sibling rivalry merupakan hal yang sulit bagi orang tua, ada beberapa hal yang
dapat dilakukan untuk mengurangi terjadinya sibling rivalry :
Beri setiap anak perhatian dan cinta yang khusus dan istimewa.
Kembangkan dan ajarkan anak bersikap empati dan memperhatikan saudaranya yang lain.
Luangkan waktu untuk mendengar keluh kesah masing-masing anak dan pujilah bila
mereka akur satu sama lain.
Advertisements