Pada kira-kira 6 jam pasca mati, batas diskus kabur dan hanya pembuluh-pembuluh
besar yang mengalami segmentasi yang dapat dilihat dengan latar belakang kuning-kelabu.
Dalam waktu 7-10 jam pasca mati akan mencapai tepi retina dan batas diskus akan sangat
kabur. Pada 12 jam pasca mati diskus hanya dapat dikenal dengan adanya konvergensi
beberapa segmen pembuluh darah yang tersisa. Pada 15 jam pasca mati tidak ditemukan lagi
gambaran pembuluh darah retina dan diskus, hanya makula saja yang tampak berwarna
coklat gelap.4,7
Pada pemeriksaan mata juga akan didapatkan midriasis akibat adanya proses
relaksasi. Beberapa pemeriksaan dapat dilakukan untuk melihat fungsi jaringan pada mata
pada awal kematian. Walaupun beberapa refleks menghilang, namun sel-sel dalam jaringan
mata masih hidup dan dapat distimulus dengan rangsang listrik maupun kimia. Pada
pemeriksaan kimia dapat digunakan zat carbahol untuk miosis dan adrenalin HCl untuk
midriasis pupil.4,7
Gambar 3. Taches noires sclerotique
Gambar 4. Dilatasi pupil
4. Penurunan Suhu Tubuh
Pada saat sel masih hidup ia akan selalu menghasilkan kalor dan energi. Kalor dan
energi ini terbentuk melalui proses pembakaran sumber energi seperti glukosa, lemak, dan
protein. Sumber energi utama yang digunakan adalah glukosa. Satu molekul glukosa dapat
menghasilkan energi sebanyak 36 ATP yang nantinya digunakan sebagai sumber energi
dalam berbagai hal seperti transport ion, kontraksi otot, dan lain-lain. Energi sebanyak 36
ATP hanya menyusun sekitar 38% dari total energi yang dihasilkan dari satu molekul
glukosa, sisanya sebesar 62% energi yang dihasilkan inilah yang dilepaskan sebagai kalor
atau panas.4
Sesudah mati, metabolisme yang menghasilkan panas akan terhenti sehingga suhu
tubuh akan turun menuju suhu udara atau medium di sekitarnya. Penurunan ini disebabkan
oleh adanya proses radiasi, konduksi, dan pancaran panas. Proses penuunan suhu pada mayat
ini biasa disebut algor mortis. Algor mortis ini merupakan salah satu perubahan yang dapat
kita temukan pada mayat yang sudah berada pada fase lanjut postmortem.4,7
Pada beberapa jam pertama, penurunan suhu terjadi sangat lambat dengan bentuk
sigmoid. Hal ini disebabkan ada 2 faktor, yaitu:7
- Masih adanya sisa metabolisme dalam tubuh mayat, yakni karena masih adanya proses
glikogenolisis dari cadangan glikogen yang disimpan di otot dan hepar.
- perbedaan koefisien hantar sehingga butuh waktu mencapai tangga suhu.
Pada jam-jam pertama penurunannya sangat lambat tetapi sesudah itu penurunan
menjadi lebih cepat dan pada akhirnya menjadi lebih lambat kembali. Jika dirata-rata maka
penurunan suhu tersebut antara 0,90 sampai 10 Celcius atau sekitar 1,50 Fahrenheit setiap jam,
dengan catatan perubahan suhu dimulai dari 370 Celcius atau 98,40 Fahrenheit sehingga
dengan dapat dirumuskan cara untuk memperkirakan berapa jam mayat telah mati dengan
rumus (98,60 F suhu rectal0F) : 1,50F. Pengukuran dilakukan per rectal dengan
menggunakan thermometer kimia (long chemical thermometer). 7,8
Terdapat dua hal yang mempengaruhi cepatnya penurunan suhu mayat ini yakni:
Faktor Internal
o Suhu tubuh saat mati
Sebab kematian, misalnya perdarahan otak dan septikemia, mati dengan suhu
tubuh tinggi. Suhu tubuh yang tinggi pada saat mati ini akan mengakibatkan
penurunan suhu tubuh menjadi lebih cepat. Sedangkan pada hiportermia
tingkat penurunannya menjadi sebaliknya.4,7
o Keadaan tubuh mayat
Konstitusi tubuh pada anak dan orang tua makin mempercepat penurunan suhu
tubuh mayat. Pada mayat yang tubuhnya kurus, tingkat penurunannya menjadi
lebih cepat.4,7
Faktor Eksternal
o Suhu medium
Semakin besar selisih suhu antara medium dengan mayat maka semakin cepat
terjadinya penurunan suhu. Hal ini dikarenakan kalor yang ada ditubuh mayat
dilepaskan lebih cepat ke medium yang lebih dingin.4,7
o Keadaan udara disekitarnya
Pada udara yang lembab, tingkat penurunan suhu menjadi lebih besar. Hal ini
disebabkan karena udara yang lembab merupakan konduktor yang baik. selain
itu, aliran udara juga makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat.4,7
o Jenis medium
Pada medium air, tingkat penurunan suhu menjadi lebih cepat sebab air
merupakan konduktor panas yang baik sehingga mampu menyerap banyak
panas dari tubuh.4,7
o Pakaian mayat
Semakin tipis pakaian yang dipakai maka penurunan suhu mayat semakin
cepat. Hal ini dikarenakan kontak antara tubuh mayat dengan suhu medium
atau lingkungan lebih mudah.4,7
Gambar 5. Pengukuran suhu tubuh rectal menggunakan termometer digital rectal
Gambar 6. Kurva penurunan suhu mayat akan tampak sebagai garis sigmoid terbalik
5. Lebam Mayat
Lebam mayat disebut juga Post Mortem Lividity, Post Mortem Suggilation,
Hypostasis, Livor Mortis, Stainning.4
Lebam mayat terbantuk bila terjadi kegagalan sirkulasi darah dalam mempertahankan
tekanan hidrostatik yang menggerakan darah mencapai capillary bed dimana pembuluh-
pembuluh darah kecil afferent dan efferent saling berhubungan. Maka secara bertahap darah
yang mengalami stagnasi di dalam pembuluh vena besar dan cabang-cabangnya akan
dipengaruhi gravitasi dan mengalir ke bawah, ke tempat-tempat yang terendah yang dapat
dicapai. Dikatakan bahwa gravitasi lebih banyak mempengaruhi sel darah merah tetapi
plasma akhirnya juga mengalir ke bagian terendah yang memberikan kontribusi pada
pembentukan gelembung-gelembung di kulit pada awal proses pembusukan.4
Adanya eritrosit di daerah yang lebih rendah akan terlihat di kulit sebagai perubahan
warna biru kemerahan. Oleh karena pengumpulan darah terjadi secara pasif maka tempat-
tempat di mana mendapatkan tekanan lokal akan menyebabkan tertekan pembuluh darah di
daerah tersebut sehingga meniadakan terjadinya lebam mayat yang mengakibatkan kulit di
daerah tersebut berwarna lebih pucat.4
Lebam mayat ini biasanya timbul setengah jam sampai dua jam setelah kematian, di
mana setelah terbentuk hypostasis yang menetap dalam waktu 10-12 jam ternyata akan
memberikan lebam mayat pada sisi yang berlawanan setelah dilakukan reposisi pada tubuh
dari pronasi ke supinasi ( interpostmorchange).9
Lebam mayat ini biasanya berkembang secara bertahap dan dimulai dengan timbulnya
bercak-bercak yang berwarna keunguan dalam waktu kurang dari setengah jam sesudah
kematian dimana bercak-bercak ini intensitasnya menjadi meningkat kemudian bergabung
menjadi satu dalam beberapa jam kemudian, di mana fenomena ini menajdi komplet dalam
waktu kurang lebih 8-12 jam, pada waktu ini dapat dikatakan lebam mayat terjadi secara
menetap. Menetapnya lebam mayat ini disebabkan oleh karena terjadinya perembesan daran
ke dalam jaringan sekitar akibat rusaknya pembuluh darah akibat tertimbunnya sel-sel darah
dalam jumlah yang banyak, adanya proses hemolisa sel-sel darah dan kekakuan otos-otot
dinding pembuluh darah. Dengan demikian penekanan pada daerah lebam yang dilakukan
setelah 8-12 jam tidak akan menghilang. Hilangnya lebam pada penekanan dengan ibu jari
dapat memberikan indikasi bahwa suatu lebam belum terfiksasi secara sempurna. Setelah 4
jam kapiler-kapiler akan mengalami kerusakan dan butir-butir darah merah juga akan rusak.
Pigmen-pigmen dari pecahan darah merah akan keluar dari kapiler yang rusak dan mewarnai
jaringan di sekitarnya sehingga menyebabkan warna lebam mayat akan menetap serta tidak
hilang jika ditekan dengan ujung atau jika posisi mayat dibalik. Jika pembalikan posisi
dilakukan setelah 12 jam dari kematiannya maka lebam mayat baru tidak akan timbul pada
posisi terendah, karena darahnya sudah mengalami koagulasi.1,4,6
Gambar 7. Lebam mayat di bagian terbawah tubuh yang tidak mendapat tekanan
Gambar 8. Lebam mayat di bagian dada
Gambar 9. Jika belum menetap, lebam mayat akan hilang dengan penekanan
Tabel 1. Perbedaan lebam mayat dan memar
Lebam Mayat Memar
Lokasi Bagian tubuh terbawah Dimana saja
Permukaan Tidak menimbul Bisa menimbul
Batas Tegas Tidak tegas
Warna Kebiru biruan atau merah Diawali dengan merah yang
keunguan, warna spesifik lama kelamaan berubah
pada kematian karena kasus seiring bertambahnya waktu
keracunan
Penyebab Distensi kapiler vena Ekstravasasi darah dari
kapiler
Efek penekanan Bila ditekan akan memucat Tidak ada efek penekanan
Bila dipotong Akan terlihat darah yang Terlihat perdarahan pada
terjebak antara pembuluh jaringan dengan adanya
darah, tetesan akan perlahan koagulasi atau darah cair
lahan yang berasal dari pembuluh
yang ruptur
Mikroskopis Unsur darah ditemukan Unsur darah ditemukan
diantara pembuluh darah dan diluar pembuluh darah dan
tidak terdapat peradangan tampak bukti peradangan
Enzimatik Tidak ada perubahan Perubahan level dari enzim
pada daerah yang terlibat
Kepentingan medicolegal Memperkirakan waktu Memperkirakan cedera,
kematian dan posisi saat mati senjata yang digunakan
6. Kaku Mayat
Kaku mayat atau rigor mortis adalah kekakuan yang terjadi pada otot yang kadang-
kadang disertai dengan sedikit pemendekan serabut otot, yang terjadi setelah periode
pelemasan atau relaksasi primer. Hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan kimiawi
pada protein yang terdapat pada serabut-serabut otot. Menurut Szen-Gyorgyi di dalam
pembentukan kaku mayat peranan ATP adalah sangat penting. Seperti diketahui bahwa
serabut otot dibentuk oleh dua jenis protein, yaitu aktin dan myosin, di mana kedua jenis
protein ini bersama dengan ATP membentuk suatu massa yang lentur dan dapat berkontraksi.
Bila kadar ATP menurun, maka akan terjadi perubahan pada akto-myosin, di mana sifat
lentur dan kemampuan untuk berkontraksi menghilang sehingga otot yang bersangkutan akan
menjadi kaku dan tidak dapat berkontraksi.10
Gambar 10. Fisiologi kontraksi otot
Oleh karena kadar glikogen yang terdapat pada setiap otot itu berbeda-beda, sehingga
waktu terjadinya pemecahan glikogen menjadi asam laktat dan energi saat terjadinya
kematian somatic, dimana energi tersebut untuk resintesa ATP, akan menyebabkan adanya
perbedaan kadar ATP dalam setiap otot. Keadaan tersebut dapat menerangkan mengapa kaku
mayat akan mulai nampak pada jaringan otot yang jumlah serabut ototnya sedikit. Atas dasar
itulah mengapa pada kematian karena infeksi, konculsi kelelahan fisik serta keadaan suhu
keliling yang tinggi akan dapat mempercepat terbentuknya kaku mayat, demikian pula pada
mereka yang keadaan gizinya jelek akan lebih cepat terjadi kaku mayat bila dibandingkan
korban yang mempunyai tubuh yang baik.9,10
Kaku mayat terjadi pada seluruh otot, baik otot lurik maupun otot polos dan bila
terjadi pada otot rangka, maka akan didapatkan suatu kekakuan yang mirip atau menyerupai
papan sehingga dibutuhkan cukup tenaga untuk dapat melawan kekakuan tersebut, bila hal ini
terjadi otot dapat putus sehingga daerah tersebut tidak mungkin lagi terjadi kaku mayat.10-12
Kaku mayat mulai terdapat sekitar 2 jam post mortem dan mencapai puncaknya
setelah 10-12 jam post mortem, keadaan ini akan menetap selama 24 jam dan setelah 24 jam
kaku mayat akan mulai meghilang sesuai dengan urutan terjadinya yaitu dimulai dari otot-
otot wajah, leher, lengan, dada, perut, dan tungkai.10
Gambar 11. Kaku mayat pada lengan dan leher
Gambar 12. Kaku mayat pada mayat baru
Gambar 13. Pemeriksaan kaku mayat pada sendi siku
Faktor-faktor yang mempengaruhi kaku mayat:4,7,9
Kondisi otot
Persediaan glikogen
Cepat lambat kaku mayat tergantung persediaan glikogen otot. Pada kondisi tubuh sehat
sebelum meninggal, kaku mayat akan lambat dan lama, juga pada orang yang sebelum mati
banyak makan karbohidrat, makan kaku mayat akan lambat.
Gizi
Pada mayat dengan kondisi gizi jelek saat mati, kaku mayat akan cepat terjadi.
Kegiatan otot
Pada orang yang melakukan kegiatan otot sebelum meninggal maka kaku mayat akan terjadi
lebih cepat.
Usia
Pada orang tua dan anak-anak lebih cepat dan tidak berlangsung lama.
Pada bayi premature tidak terjadi kaku mayat, kaku mayat terjadi pada bayi cukup bulan.
Keadaan lingkungan
Keadaan kering lebih lambat daripada panas dan lembab.
Pada mayat dalam air dingin, kaku mayat akan cepat terjadi dan berlangsung lama
Pada udara suhu tinggi, kaku mayat akan terjadi lebih cepat dan singkat, tetapi pada suhu
rendah kaku mayat lebih lambat dan lama.
Kaku mayat tidak terjadi pada suhu dibawah 10 derajat celcius kekakuan yang terjadi adalah
pembekuan atau cold stiffening.
Cara kematian
Pada mayat dengan penyakit kronis dan kurus, kaku mayat lebih cepat terjadi dan
berlangsung tidak lama.
Pada mati mendadak, kaku mayat terjadi lebih lambat dan berlangsung lebih lama.
Terdapat kekakuan pada mayat yang menyerupai kaku mayat:
-Cadaveric spasme (instantaneous rigor), adalah bentuk kekakuan otot yang terjadi pada saat
kematian dan menetap. Cadaveric spasme sesungguhnya merupakan kaku mayat yang timbul
dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi primer. Penyebabnya adalah
akibat habisnya cadangan glikogendan ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis
karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal. Kepentingan
medikolegalnya adalah menunjukan sikap terakhir masa hidupnya. Misalnya, tangan yang
menggenggam erat benda yang diraihnya pada kasus tenggelam, tangan yang menggenggam
pada kasus bunuh diri.7,9,10
Tabel 2. Perbedaan kaku mayat dan cadaveric spasme
Sifat Kaku mayat Spasme cadaver
Mulai timbul 1-2 jam setelah kematian Segera
Faktor predisposisi Negatif Kematian
mendadak,aktivitas berlebih,
ketakutan , terlalu lelah
Otot yang terluka Semua otot, termasuk Biasanya terbatas pada satu
volunteer dan involunteer kelompok volunteer
Kaku otot Tidak jelas, dapat dilawan Sangat jelas, perlu tenaga
dengan sedikit tenaga yang kuat untuk melawan
kekakuannya
Kepentingn medikolegal Untuk perkiraan waktu Menunjukan cara kematian,
kematian yaitu bunuh diri,
pembunuhan , atau
kecelakaaan
Suhu mayat Dingin Hangat
Kematian sel Ada Tidak ada
Rangsangan listrik Tidak ada respon otot Ada respon otot
- Heat stiffening , yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas. Otot-
otot berwarna merah muda, kaku, tepi rapuh (mudah robek). Keadaan ini dapat
dijumpai pada korban mati terbakar. Pada saat stiffening serabut otot-ototnya
memendek sehingga menimbulkan fleksi leher, siku, paha, dan, lutut, membentuk
sikap petinju ( pugilistic attitude) perubahan sikap ini dak memberikan arti tertentu
bagi sikap semasa hidup, intravitalitas, penyebab atau cara kematian.7,9
- Cold stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin (dibawah 3,5 atau 40
F), sehingga terjadi pembekuan cairan sendi, pemadatan jaringa lemak subtukan dan
otot, bila cairan sendi yang membeku menyebabkan sendi tidak dapat digerakan. Bila
sendi dibengkokan secara paksa maka akan terdengar suara es pecah dan mayat yang
kaku ini akan menjadi lmas kembalibila diletakkan di tempat yang hangat, kemudian
rigor mortis akan terjadi dalam waktu yang sangat singkat.7,9
Waktu terjadinya rigor mortis (kaku mayat) :3,4
- Kurang dari 3-4 jam post mortem: belum terjadi rigor mortis
- Lebih dari 3-4 jam pos mortem: mulai terjadi rigor mortis
- Rigor mortis maksimal terjadi 12 jam setelah kematian
- Rigor mortis dipertahankan selama 12 jam
- Rigor mortis menghilang 24-36 jam post mortem
7. Pembusukan
Pembusukan mayat atau dekomposisi, putrefiction. Pembusukan mayat adalah proses
degradasi jaringan terutama protein akibat autolisis dan kerja bakteri pembusuk terutama
Klostridium welchii yang banyak terdapat di kolon. Bakteri ini menghasilkan asam lemak
dan gas pembusukan berupa H2S, HCN, dan AA. H2S berwarna hijau kehitaman . syarat
terjadinya degradasi jaringan yaitu adanya mikroorganisme dan enzim proteolitik.4
Autolisis adalaj perlunakan adan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan steril
melalui proses kimia yang disebabkan oleh enzim-enzim intraseluler, sehingga organ-organ
yang kaya dengan enzim-enzim akan mengalami proses autolisis lebih cepat daripada organ-
organ yang tidak memiliki enzim , dengan demikian pankreas akan akan mengalami autolisis
lebih cepat daripada jantung. Proses autolisis ini tidak dipengaruhi oleh mikroorganisme oleh
karena tu pada mayat yang steril misalnya mayat bayi dalam kandungan proses autolisis tetap
terjadi. Proses autolisis terjadi sebagai akibat dari pengaruh enzim yang dilepaskan pasca
mati. Mula-mula yang terkena adalah nukleoprotein yang terdapat pada kromatain dan
sesudah itu sitoplasmanya , kemudian dinding sel akan mengalami kehancuran sebagai
akibatnya jaringan akan manjadi lunak dan mencair. Pada mayat yang dibekukan pelepasan
enzim akan terhambat oleh pengaruh suhu yang rendah maka proses autolisis ini akan
dihambat demikian juga pada suhu tinggi enzim-enzim yang terdapat pada sel akan
mengalami kerusakan sehingga proses ini terhambat.4,7,9
Fase pembusukan pada manusia terbagi menjadi 5 fase, yaitu fase fresh, bloating,
decay, postdecay, dan skeletal atau remain stage. Beberapa ahli membagi fase decay menjadi
active dan advance decay. Fase fresh dimulai segera setelah meninggal dunia sampai
terjadinya bloating. Perubahan yang terjadi pada fase fresh adalah munculnya warna
kehijauan di perut kanan bawah, terjadinya livor mortis, munculnya retah pada kulit, taches
noires sclerotiques pad sclera mata, dan hinggapnya lalat dan serangga pada lubang-lubang
tubuh dan luka pada tubuh. Fase bloating mulai proses dekomposisi dan puterifikasi tubuh
oleh mikroorganisme. Bakteri aneaerob di intestinal mencerna jaringan yang mengakibatkan
terbentuknya gas H2S. Gas tersebut menekan rongga abdomen sehingga menggembung dan
tubuh berubah menjadi ballon-like appearance. Pada fase ini juga mulai terjadi
metabolisme yang menimbulkan peningkatan suhu internal tubuh hingga jauh di atas suhu
lingkungan . pada fase ini tercium bau amoniak yang kuat. Selain itu gas dalam tubuh juga
mendorong isi tubuh keluar seperti urin, feses, cairan pembusukan yang bercampur darah dan
hasil konsepsi melalui lubang-lubang tubuh. Pada fase decay terjadi perubahan berpa skin
slippage atau mengelupasnya lapisan terluar kulit, keluarnya gas dari abdomen, tubuh mayat
juga berbau pembusukan yang sangat menyengat, mulai terinvasi larva dipteral. Pada fase ini
semua jaringan linak terdekomposisi oleh larva hingga menyisakan kulit, kartilago dan
tulang. Proses dekomposisi selanjutnya oleh larva deptera hingga hanya menyisakan tulang
yang bersih terjadi pada fase postdecay. Pada fase ini mulai investasi larva callphoride dan
sacnophagidae sedangkan yang terakhir fase skeletal tersisa tulang, gigi, dan rambut yang
dapat terdekomposisi setelah bertahun tahun lamanya tergantung faktor lingkungan tempat
mayat berada.
Golongan organ berdasarkan kecepatan pembusukannya, yaitu :
- Early: Organ dalam yang cepat membusuk antara lain jaringan intestinal, medulla
adrenal, pancreas, otak, lien, usus, uterus gravidarum, uterus pist partum dan darah
- Moderate : organ dalam yang lambat membusuk antara lain paru-paru, jantung, ginjal,
diafragma, lambung, otot polos dan otot lurik.
- Late : uterus non gravidarum dan prostat, merupakan organ yang lebih tahan terhadap
pembusukan karena memiliki struktur yang berbeda dengan jaringan lainyaitu fibrous.4,7,9
Pembusukan dipengaruhi oleh beberapa fakrot intrinsik diatas, selain itu juga dipengaruhi
oleh faktor ekstrinsik antara lain kelembaban udara disekeliling mayat maka pembusukan leih
cepat berlangsung, sedangkan pembusukan pada medium udara lebih cepat dibandingkan
pada medium tanah. Mayat yang tercelup dalam air akan lebih lambat proses
pembusukannya. Berdasarkan hukum rasio Caspers apabila semua faktor sama dan akses
keudara bebas sama, tubuh terdekomposisi duakali leih cepat dari pada mayat yang tercelup
di dalam air dan delapan kali lebih cepat daripada yagn terpendam atau terkubur.
Pada pembusukan mayat kita juga dapat menginterpretasikan suatu kematian sebagai
tanda past kematian, untuk menaksir saat kematian, untuk menaksir laa kematian, serta dapat
membedakannya dengan bulla intravital.
Tabel 3. Perbedaan bula intravital dan bula pembusukan
Bulla intravital Perbedaan Bulla pembusukan
Kecoklatan Warna kulit ari Kuning
Tinggi Kadar albumin dan klor Rendah atau tidak ada
bula
Hiperemis Dasar bulla Merah pembusukuan
Intraepidermal Jaringan yang Antara epidermis dan
terangkat dermis
Ada Reaksi jaringan dan Tidak ada
respon darah
Pada keadaan tertentu tanda-tanda pembusukan tersebut tidak dijumpai, namun ang diteui
adalah modifikasi pembusukan. Jenis-jenis modifikasi pembusukan antara lain :
Mummifikasi
Mummifikasi dapat terjadi bila keadaan lingkungan menyebabkan pengeringan dengan cepat
sehingga dapat menghentikan proses pembusukan. Jaringan menjadi gelap, keras dan kering.
Pengeringan dakan mengakibatkan menyusutnya alat-alat dalam tubuh, sehingga tubuh akan
menjadi lebih kecil dan ringan. Untuk dapat terjadi mummifikasi dibutuhkan waktu yang
cukup lama, beberapa minggu sampai beberapa bulan ; yang dipengaruhi oleh keaadaan suhu
lingkungan dan sifat aliran udara.7,9
Saponifikasi
Saponifikasi dapat terjadi pada mayat yang berada didalam suasana hangat, lembab atau
basah. Terjadi karena proses hidrolisis dari lemak menjadi asam lemak. Selanjutnya asam
lemak yang tak jenuh akan mengalami dehidrogenisasi menjadi asam lemah jenuh dan
kemudian bereaksi dengan alkali menjadi sabun yang tak larut. Terbentuknya pertama kali
pada letak superfisisal bentuk bercak , di pipi , di payudara, bokong bagian tubuh atau
ekstrimitas. Terjadinya saponifikasi membutuhkan waktu beberapa bulan dan dapat terjadi
pada setiap jaringan tubuh yang berlemak denga tanda-tanda berwarna keputihan dan berbau
seperti minyak kelapa.9,13
8. Biokimiawi Darah
Kadar semua komponen darah berubah setelah kematian, sehingga analisisdarah pasca
mati tidak memberikan konsentrasi zat-zat tersebut semasa hidupnya. Perubahan tersebut
diakibatkan oleh aktivitas enzim dan bakteri, serta gangguan permeabilitas dari sel yang telah
mati. Selain itu gangguan fungsi tubuh selama proses kematian dapat menimbulkan
perubahan dalam darh bahkan sebelum kematian itu terjadi. Hingga saat ini belum
ditemukan perubahan dalam darah yang dapat digunakan untuk memperkirakan saat mati
dengan lebih cepat.5,7,13
9. Cairan Serebrospinal
Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14% menunjukan kematian belum lewat 10
jam, kadar nitrogen non-protein kurang dari 80mg% menunjukan kematian belum 24 jam,
kadar protein kurang dari 5mg% dan 10mg% masing-masing menunjukan kematian belum
mencapai 10 jam dan 30 jam.5
10. Perubahan pada lambung
Kecepatan pengosongan lambung sangat bervariasi, sehinga tidak dapat digunakan
untuk memberikan petunjuk pastu waktu antara makan terakir dan saat mati. Namun, keadaan
lambung dan isinya mungkinmembantu dalam membuat keputusan. Ditemukan nya makanan
tertentu (pisang, kulit tomat, biji-bijian) dalam lambung dapat digunakan untuk
menyimpulkan bahwa korban sebelum meninggal tealh makan makanan tersebut.5
BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
1. Thanatologi adalah bagian ilmu kedokteran forensik yang mempelajari segala
macam aspek yang berkaitan dengan mati, meliputi pengertian, tipe kematian,
cara-cara melakukan diagnosis, perubahan-perubahan yang terjadi sesudah mati
serta kegunaannya. Kegunaannya yaitu untuk memastikan kematian klinis,
memperkirakan cara kematian.
2. Mati didefinisikan sebagai berhentinya fungsi saraf pusat, sirkulasi dan respirasi
secara permanen (mati klinis). Dengan adanya perkembangan teknologiada alat
yang bisa mengganikan funsi sirkulasi dan respirasi secara buaran definisi
kematian berkembang menjadi kematian batang otak (matai otak). Kematian
dididagnosis dengan kriteria diagnostik berupa tanda negatif dan tanda ositif.
Tanda negatif berupa hilangnya fungsi sistem saraf pusat, pernafasan dan sirkulasi
beserta reflek-refleknya. Tanda positif berupa munculnya tanda-tanda perubahan
postmortem awal.
3. Setelah terjadinya kematian, tubuh akan mengalami perubahan-perubahan, antara
lain perubahan kulit muka sebagai akibat dari berhentinya sirkulasi darah,
relaksasi otot, perubahan pada mata, penurunan suhu tubuh, timbulnya lebam
mayat karena adanya gaya gravitasi, kaku mayat karena penumpukan ADP pada
otot-otot, pembusukan, perubahan pada darah yang dilanjutkan dengan kematian
sel.
4. Parameter-parameter yang dapat digunakan untuk menentukan saat kematian
adalah :
Perubahan eksternal : penurunan suhu , lebam mayat, kaku mayat,
pembusukan dan timbulnya larva.
Perubahan internal : kenaikan potasium pada cairan bola mata, kenaikan non
protein nitrogen dalam darah, kenaikan ureum darah, penurunan kadar gula
darah, dan kenaikan kadar dextrose pada vena cava inferior
B. Saran
Thanatologi merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kedokteran forensik untuk
membantu menentukan cara kematian, sebab kematian, saat kematian, dan diagnosis
kematian. Oleh karena itu ilmu thanatologi sebaiknya dipelajari secara mendalam agar
dapat melengkapi ilmu-ilmu yang sudah ada sebelumnya.
Daftar pustaka
1. Abdul Munim Idries, Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta ; Bina Rupa
Aksara. 1997.
2. Saukko,P, Knight, B. The Pathophysiology of Death in Knights Forensic Pathology
3th edition. Hodder Arnold. 2004
3. Idries, MA Dr. Saat Kematian. Edisi pertama. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik.
Jakarta : Bina Rupa Aksara, 1997.
4. Dahlan, Sofwan. Ilmu Kedokteran Forensik. Pedoman bagi Dokter dan Penegak
Hukum. Cetaka V. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2007
5. Budiyanto , Arif, dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Bagian Kedokteran
Forensik Fakultas Kedokterab Universitas Indonesia. 1997.
6. Yu X, Wang H, Feng L, Zhu J. QuantitativeResearch in Modern Forensic Analysis of
Death Cause : New Classification of Death Cause, Degree of Contribution, and
Determination of Manner of Death. J Forensic Res 5:221. Shantou : Departement of
Forensic Medicine of Shantou University College, 2014
7. Vij, Krishan. Forensik Medicine and Toxicology. 5th Ed. Death and Its Medicolegal (
Forensic Thanatology). New Delhi : Elsevier, 2011.
8. Poposka V, Gutevska A, Stankov A, Pavlovski G, Jakovski Z, Janeska B. Estimation
of Time Since Death by Using Algorithm in Early Postmortem Period. Global
Journal of Medical Research. USA ; Gloal Journals Inc, 2013.
9. Bate-Smith EC, Bendall JR. Rigor Mortis and Adenosinetriphospate. J Physiol
106,1947.
10. Prasad BK. Postmortem Ocular Changes : A Study on Autopsy Cases in Bharatpur
Hospital. Nepal : Kathmandu University Medical Journal, 2003.
11. Abraham dkk. Tanya Jawab Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi II. Semarang : Badan
Penerbit Universitas Diponegoro, 2010.
12. Lee, GM. Early Post Mortem Changes dan Stages of decomposition in Exposed
Cadavers. USA : Springer, 2009.
13. Hau TC. Hamzah NH, Lian HH, Hamzah SPAA. Decomposition Process and
Postmortem Changes. Kuala Lumpur : Sains Malaysiana, 2014.