Insentif dan Disiplin Kerja Karyawan Danamon
Insentif dan Disiplin Kerja Karyawan Danamon
A. Latar Belakang
Pada era globalisasi ini kemajuan tehnologi dan perkembangan
ekononi begitu cepat dirasakan, seiring dengan kemajuan dan
perkerkembangan tersebut, tingkat persaingan antar perusahaan ikut
pula mengalami peningkatan, perusahaan harus mampu mengatur
dan mengolah semua sumber daya yang dimilikinya agar tetap
hidup dan berkembang serta mempertahankan kondisi perusahaan
agar selalu dapat berjalan secara efisien. Sebagian besar perusahaan
meningkatkan efisiensi lebih mengarah pada rasionalisasi sumber
daya yang dimiliki, artinya terdapat kecenderungan untuk menekan
biaya yang berkaitan dengan sumber daya manusia.
1
Manajemen sumber daya manusia adalah suatu ilmu atau cara
bagaimana mengatur hubungan dan perasanan sumber daya (tenaga
kerja) yang di miliki oleh individu secara efisien serta dapat
digunakan secara maksumal sehingga tercapai tujuan bersama
perusahaan, karyawan dan masyarakat menjadi maksimal.
2
kriteria penilaian setiap pegawai yang ada misalnya mulai dari
jumlah pekerjaan yang bisa diselesaikan, kecepatan kerja,
komunikasi dengan pekerja lain, perilaku, pengetahuan atas
pekerjaan, dan lain sebainya.
Para karyawan mungkin akan menghitung-hitung kinerja dan
pengorbanan dirinya dengan kompensasi yang diterima. Apabila
karyawan merasa tidak puas dengan kompensasi yang didapat,
maka dia dapat mencoba mencari pekerjaan lain yang memberi
kompensasi lebih baik. Hal itu cukup berbahaya bagi perusahaan
apabila pesaing merekrut / membajak karyawan yang merasa tidak
puas tersebut karena dapat membocorkan rahasia perusahaan /
organisasi.
3
Macam-Macam / Jenis-Jenis Kompensasi Yang Diberikan Pada
Karyawan :
1. Imbalan Ektrinsik
2. Imbalan Intrinsik
4
yang jelas, kondisi lingkungan kerja, pekerjaan yang menarik, dan
lain-lain.
Insentif adalah suatu sarana memotivasi berupa materi, yang
diberikan sebagai suatu perangsang ataupun pendorong dengan
sengaja kepada para pekerja agar dalam diri mereka timbul
semangat yang besar untuk meningkatkan produktivitas kerjanya
dalam organisasi (Gorda, 2010:141). Sedangkan Manullang (2003
:147) menyatakan, Insetif merupakan sarana motivasi/sarana yang
menimbulkan dorongan.
5
Dari pernyataan-pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa
pengertian insentif merupakan alat untuk mendorong karyawan agar
lebih meningkatkan produktivitas kerja untuk mencapai tujuan
perusahaan yang telah ditetapkan.
Bentuk-bentuk Insentif
1. Uang
6
3. Partisipasi
7
Jenis- Jenis Insentif
8
kuat untuk mencapai tambahan penghasilan serta dapat
menguntungkan semua pihak.
Indikator Insentif
Insentif merupakan sarana motivasi, dapat berupa perangsang atau
pendorong yang diberikan dengan sengaja kepada para pekerja agar
dalam diri mereka timbul semangat yang lebih besar untuk
berprestasi dalam berorganisasi (Sujatmoko, 2007).
Indikator-indikator insentif dapat diukur seperti berikut :
1. Kinerja
2. Lama kerja
3. Senioritas
4. Kebutuhan
5. Keadilan dan Kelayakan
6. Evaluasi Jabatan
Disiplin Kerja
9
dicapainya. Tanpa disiplin pegawai yang baik, sulit bagi organisasi
perusahaan mencapai hasil yang optimal.
Disiplin yang baik mencerminkan besarnya rasa tanggung
jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya.
Hal ini akan mendorong gairah kerja, semangat kerja, dan
terwujudnya tujuan perusahaan, pegawai, dan masyarakat. Oleh
karena itu, setiap manajer selalu berusaha agar para bawahannya
mempunyai disiplin yang baik. Seorang manajer dikatakan efektif
dalam kepemimpinannya, jika para bawahannya berdisiplin baik.
Untuk memelihara dan meningkatkan kedisiplinan yang baik
memang merupakan hal yang cukup sulit, karena banyak faktor
yang mempengaruhinya.
Terkadang kekurang tahuan pegawai tentang peraturan,
prosedur, dan akan kebijakan yang ada merupakan penyebab
terbanyak tindakan indisipliner. Salah satu upaya untuk mengatasi
hal tersebut pihak pimpinan sebaiknya memberikan program
orientasi kepada tenaga kerja. Selain memberikan orientasi,
pimpinan harus menjelaskan secara rinci peraturan peraturan yang
sering dilanggar, berikut rasional, dan konsekuensinya. Demikian
pula peraturan/prosedur atau kebijakan yang mengalami perubahan
atau diperbaharui, sebaiknya diinformasikan kepada staf melalui
diskusi aktif.
Disiplin yang baik mencerminkan besarnya rasa tanggung
jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya.
Hal ini mendorong gairah kerja, semangat kerja dan mendukung
terwujudnya tujuan perusahaan. Disiplin harus ditegakan dalam
suatu organisasi, karena tanpa dukungan disiplin kerja yang baik,
10
maka sulit bagi perusahaan atau organisasi untuk mencapai
tujuannya.
Menurut Henry Simamora (2004:610) :
Disiplin adalah prosedur yang mengoreksi atau menghukum
bawahan karena melanggar peraturan atau prosedur. Disiplin
merupakan pengendalian diri karyawan dan pelaksanaan yang
teratur dan menunjukkan tingkat kesungguhan tim kerja di dalam
sebuah organisasi. Tindakan disipliner menuntut suatu hukuman
terhadap karyawan yang gagal memenuhi standar yang ditatapkan.
Tindakan disipliner yang efektif terpusat pada perilaku karyawan
yang salah, bukan pada diri karyawan sebagai pribadi.
11
Kedisiplinan pegawai menurut Sjafri
Mangkuprawira (2007:1)yang dikutip dari
[Link]
adalah sifat seorang karyawan yang secara sadar, mematuhi
aturan, dan peraturan organisasi tertentu. Hal itu sangat
mempengaruhi kinerja pegawai dan perusahaan. Kedisiplinan
sepatutnya dipandang sebagai bentuk latihan bagi pegawai dalam
melaksanakan aturan-aturan perusahaan.
12
perilaku pegawai sehingga para pegawai tersebut secara sukarela
berusaha bekerja secara kooperatif dengan pegawai yang lainnya.
13
c. Dapat menggunakan dan memelihara sarana dan prasarana barang
dan jasa perusahaan dengan sebaik-baiknya.
d. Dapat bertindak dan berperilaku sesuai dengan norma-norma yang
berlaku pada perusahaan.
e. Tenaga kerja mampu memperoleh tingkat produktivitas yang
tinggi sesuai dengan harapan perusahaan, baik dalam jangka pendek
maupun jangka panjang.
14
3. Balas jasa
Balas jasa (gaji dan kesejahteraan) ikut mempengaruhi kedisiplinan
karyawan karena balas jasa akan memberikan kepuasan dan
kecintaan karyawan terhadap perusahaan pekerjaannya. Jika
kecintaan karyawan semakin baik terhadap pekerjaan, kedisiplinan
mereka akan semakin baik pula. Balas jasa berperan penting untuk
menciptakan kedisiplinan karyawan. Artinya semakin besar balas
jasa, semakin baik kedisiplinan karyawan. Sebaliknya, apabila balas
jasa kecil, kedisiplinan karyawan menjadi rendah. Karyawan sulit
untuk berdisiplin baik selama kebutuhan-kebutuhan primernya tidak
terpenuhi dengan baik.
4. Keadilan
Keadilan ikut mendorong terwujudnya kedisiplinan karyawan,
karena ego dan sifat manusia yang selalu merasa dirinya penting,
dan minta diperlakukan sama dengan manusia lainnya. Keadilan
yang dijadikan dasar kebijaksanaan dalam pemberian balas jasa
(pengakuan) atau hukuman, akan merangsang terciptanya
kedisiplinan karyawan yang baik. Manajer yang cakap dalam
memimpin selalu berusaha bersikap adil terhadap semua
bawahannya. Dengan keadilan yang baik, akan menciptakan
kedisiplinan yang baik pula. Jadi, keadilan harus diterapkan dengan
baik pada setiap perusahaan agar kedisiplinan karyawan perusahaan
baik pula.
5. Waskat
Waskat (pengawasan melekat) adalah tindakan nyata dan paling
efektif dalam mewujudkan kedisiplinan karyawan perusahaan.
Dengan waskat berarti atasan harus aktif dan langsung mengawasi
perilaku, moral, sikap, gairah kerja, dan prestasi kerja bawahannya.
15
Hal ini berarti atasan harus selau hadir di tempat kerja agar dapat
mengawasi dan memberikan petunjuk jika ada bawahannya yang
mengalami kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaannya. Waskat
efektif merangsang kedisiplinan dan moral kerja karyawan.
Karyawan merasa mendapat perhatian, bimbingan, petunjuk,
pengarahan dan pengawasan dari atasannya.
6. Sanksi hukuman
Sanksi hukuman berperan penting dalam memelihara kedisiplinan
karyawan. Dengan sanksi hukuman yang semakin berat, karyawan
akan semakin takut melanggar peraturan perusahaan, sikap, dan
perilaku indisipliner karyawan akan berkurang.
7. Ketegasan
Ketegasan pimpinan dalam melakukan tindakan akan
mempengaruhi kedisiplinan karyawan perusahaan. Pimpinan harus
berani dan tegas bertindak untuk menghukum setiap karyawan yang
indisipliner sesuai dengan sanksi hukuman yang telah ditetapkan.
Pimpinan yang berani menindak tegas menerapkan hukuman bagi
karyawan yang indisipliner akan disegani dan diakui
kepemimpinannya oleh bawahannya. Dengan demkian, pimpinan
akan memelihara kedisiplinan karyawan perusahaan.
8. Hubungan kemanusiaan
Hubungan kemanusiaan yang harmonis diantara sesama karyawan
ikut menciptakan kedisiplinan yang baik pada suatu perusahaan.
Hubungan-hubungan baik bersifat vertikal maupun horizontal yang
terdiri dari Direct Single Relationship, Direct Group Relationship,
dan Cross Relationship hendaknya berjalan harmonis. Manajer
harus berusaha menciptakan suasana kemanusiaan yang serasi serta
memikat, baik secara vertikal maupun horizontal diantara semua
16
karyawannya. Terciptanya Human Relationship yang serasi akan
mewujudkan lingkungan dan suasana kerja yang nyaman. Hal ini
akan memotivasi kedisiplinan yang baik pada perusahaan. Jadi,
kedisiplinan karyawan akan tercipta apabila hubungan kemanusiaan
dalam organisasi tersebut baik.
17
3. Ketaatan Pada Standar Kerja, dalam melaksanakan pekerjaannya
pegawai diharuskan menaati semua standar kerja yang telah
ditetapkan sesuai dengan aturan dan pedoman kerja agar kecelakaan
kerja tidak terjadi atau dapat dihindari.
4. Ketaatan Pada Peraturan Kerja, dimaksudkan demi kenyamanan
dan kelancaran dalam bekerja.
5. Etika Kerja, diperlukan oleh setiap pegawai dalam melaksanakan
perkerjaannya agar tercipta suasana harmonis, salin menghargai
antar sesama pegawai.
18
indisipliner, sehingga bekerja etis sebagai salah satu wujud dari
disiplin kerja karyawan.
19
3. Disiplin Diri, dimana pelaksana tunggal sepenuhnya tergantung
pada pelatihan, ketangkasan, dan kendali diri.
20
2. Sanksi pelanggaran sedang, dengan jenis: penundaan kenaikan
gaji, penurunan gaji, penundaan kenaikan pangkat.
3. Sanksi pelanggaran berat, dengan jenis: penurunan pangkat,
pembebasan dari jabatan, pemberhentian, pemecatan.
21
3. Peringatan tertulis
Peringatan tertulis diberikan untuk karyawan yang telah melanggar
peraturan berulang-ulang. Tindakan ini biasanya didahului dengan
pembicaraan terhadap karyawan yang melakukan pelanggaran.
4. Pengrumahan sementara
Pengrumahan sementara adalah tindakan pendisiplinan yang
dilakukan terhadap karyawan yang telah berulang kali melakukan
pelanggaran. Ini berarti bahwa langkah pendisiplinan sebelumnya
tidak berhasil mengubah perilakunya. Pengrumahan sementara
dapat dilakukan tanpa melalui tahapan yang diuraikan sebelumnya
jika pelanggaran yang dilakukan adalah pelanggaran yang cukup
berat. Tindakan ini dapat dilakukan sebagai alternatif dari tindakan
pemecatan jika pimpinan perusahaan memandang bahwa karir
karyawan itu masih dapat diselamatkan.
5. Demosi
Demosi berarti penurunan pangkat atau upah yang diterima
karyawan. Akibat yang biasa timbul dari tindakan pendisiplinan ini
adalah timbulnya perasaan kecewa, malu, patah semangat, atau
mungkin marah pada karyawan bersangkutan. Oleh sebab itu,
demosi tidak dipandang sebagai langkah yang besar manfaatnya
dalam pendisiplinan progresif di sejumlah perusahaan.
6. Pemecatan
Pemecatan merupakan langkah terakhir setelah langkah sebelumnya
tidak berjalan dengan baik. Tindakan ini hanya dilakukan untuk
jenis pelanggaran yang sangat serius atau pelanggaran yang terlalu
sering dilakukan dan tidak dapat diperbaiki dengan langkah
pendisiplinan sebelumnya. Keputusan pemecatan biasanya diambil
oleh pimpinan pada tingkat yang lebih tinggi.
22
Pada dasarnya penerapan sanksi sebaiknya diatur dengan
menampung masukan dari pegawai dengan maksud keikutsertaan
mereka dalam penyusunan sanksi yang akan diberikan sedikit
banyaknya akan mempengaruhi serta mengurangi ketidakdisiplinan
tersebut, selain itu pemberian sanksi disiplin harus berorientasi pada
pemberian latihan atau sifatnya pembinaan bukan bertujuan untuk
menghukum agar para pegawai tidak melakukan kesalahan yang
sama dimasa datang.
B. Identifikasi Masalah
23
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis mengidentifikasi
masalah masalah sebagai berikut :
1. Pemberian insentif yang diberikan oleh pihak PT Danamon Wahana
Multi Jasa belum maksimal
2. Kurangnya disiplin dalam bekerja pada PT Danamon Wahana Multi
Jasa
3. Karyawan belum merasa puas atas pemberian insentif yang berikan
PT Danamon Wahana Multi Jasa
4. Insentif yang diberikan belum bisa mendorong disiplin kerja
karyawan
5. Pengaruh pemberian insentif terhadap disiplin kerja pegawai belum
efektif.
C. Pembatasan Masalah
24
D. Perumusan Masalah
[Link] penelitian
Hasil penelitian ini diharapakan dapat bermanfaat baik secara teoritis
maupun praktis bagi :
a. Manfaat teoritis; penelitian ini bertitik tolak dengan meragukan
suatu teori tertentu atau yang disebut dengan penelitian verifikatif.
b. Manfaat praktis; berguna untuk memecahkan permasaahan praktis
25
1) Bagi penulis
Untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Strata atau
(S1) pada program studi manajemen, fakultas ekonomi, universitas
pamulang, serta meningkatkan kemampuan penulis dalam
mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari selama perkuliahan, dan
dijadikan studi antara teori yang di dapat diperkuliahan, dan sumber
lainnya dengan kenyataan yang ada dilapangkan khususnya ilmu
manajemen sumber daya manusia, khususnya yang dikenakan pada
disiplin.
1) Bagi Perusahaan
a. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
acuan pertimbangan obyektif bagi pimpinan dalam pengambilan
keputusan menyangkut pengaruh motivasi terhadap kinerja
karyawan PT. Danamon Wahana Multi Jasa.
yang diterapkan oleh perusahaan sehingga dapat meningkatkan
motivasi kinerja karyawan untuk mencapai tujuan perusahaan.
2) Bagi Masyarakat Umum
Hasil penelitian ini juga dapat diharapkan dapat menjadi gambaran
bagi masyarakat yang akan mendirikan sebuah perusahaan dalam
meningkatkan motivasi terhadap kinerja karyawan.
3) Bagi Kampus (UNPAM) Hasil penelitian ini dapat diharapkan
menjadi acuan bagi mahasiswa/mahasiswi unpam terhadap
pengaruh motivasi dalam belajar dan untuk kehidupan yang lebih
baik .
26
F. Kerangka Berpikir
27
digambarkan sebagai berikut :
4. Kebutuhan 4. Keadilan
7. Ketegasan
8. Hubungan
Kemanusiaan
G. Hipotesis Penelitian
kebenarannya.
28
Menurut Purwanto Erwan dan Sulistyastuti Dyah (dalam
Multi Jasa
Multi Jasa
H. Sistematika Penulisan
Jasa lebih jelas dan terarah mengenai masalah yang akan dibahas
29
Adapun isi dari masing-masing bab secara singkat adalah sebagai
berikut:
1. Sampul Muka
Sampul muka meerupakan bagian depan dari karya tulis ini, yang
berisikan informasi tentang judul dan identitasnya.
2. Halaman Pengesahan
Halaman pengesahan berisikan keterangan mengenai pernyataan
lulus atas pengujian terhadap karya ilmiah yang telah selesai di buat
oleh penulis.
3. Halaman Pernyataan
Halaman pernyataan berisikan pernyataan yang dibuat oleh penulis.
4. Halaman Abstrak ( Bahasa Indonesia)
Halaman abstrak merupakan gambaran secara garis besar mengenai
isi karya tulis, yang diungkapakan dalam Bahasa Indonesia oleh
penulis.
5. Halaman Abstrak (Bahasa Inggris)
Halaman abstrak merupakan gambaran secara garis besar mengenai
isi karya tulis, yang diungkapakan dalam Bahasa Inggris oleh
penulis.
6. Kata Pengantar
Kata pengantar berisikan ungkapan terima kasih dan puji syukur
penulis kepada Allah swt. dan kepada pihak pihak yang secara
langsung maupun tidak langsung berperan serta dalam penyusunan
karya tulis sehingga dapat diselesaikan dengan baik.
7. Daftar Isi
30
Daftar isi merupakan susunan informasi atas isi dari karya tulis
yang telah disusun oleh penulis, sehingga memudahkan pembaca
atau pihak-pihak yang berkepentingandalam mencari informasi
yang dibutuhkan.
8. Daftar Tabel
Daftar table merupakan ringkasan data dari gambar-gambar yang
terdapat dikarya tulis.
9. Daftar Gambar
Daftar gambar merupakan ringkasan data dari gambar-gambar yang
terdapat dari karya tulis.
10. Daftar Lampiran
Daftar lampiran merupakan daftar yang memberikan informasi
tentang lampiran-lampiran dokumen yang diguunakan oleh penulis
penyusunan karya tulis.
11. Bagian Utama terdiri dari lima bab terbagi atas sub bab sebagai
berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
penulisan.
31
manajemen, peranan manajemen sumber daya manusia, pengertian
bersangkutan.
32
I. Pendekatan data dan Keilmuan
1. Grand Theory
Insentif adalah suatu sarana memotivasi berupa materi, yang diberikan
sebagai suatu perangsang ataupun pendorong dengan sengaja kepada
para pekerja agar dalam diri mereka timbul semangat yang besar untuk
meningkatkan produktivitas kerjanya dalam organisasi (Gorda, 2010:141).
Sedangkan Manullang (2003 :147) menyatakan, Insetif merupakan sarana
motivasi/sarana yang menimbulkan dorongan.
Bentuk-bentuk Insentif
1. Uang
33
Menurut analisis para ahli, situasi kerja yang baik dapat
meningkatkan keinginan untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-
baiknya.
3. Partisipasi
34
6. Mempertahankan karyawan yang berprestasi agar tetap berada
dalam perusahaan.
2. Middle theory
J. Tim Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapat bantuan dan dukungan moril
maupun materil dari berbagai pihak. Adapun pihak-pihak yang ikut
turut serta membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan
skripsi ini adalah sebagai berikut:
35
3. Kepada Bapak Pdt. Dhanyal Tantular selaku Gembala di Gereja
GBI Perigi dan seluruh pengurus dan Jemaat GBI Perigi yang selalu
mendukung dalam doa.
4. Kepada semua teman-teman yang mendukung khususnya teman-
teman kuliah yang memberikan saran dan motivasi.
5. Bapak Drs. H. Darsono selaku Ketua Yayasan Sasmita Jaya yang
telah memberikan fasilitas bagi penulis sehingga dapat menjalankan
progam pendidikan di Universitas Pamulang.
6. Bapak Drs. H. M. Buchori Nuriman, N.M., selaku Wakil Rektor
Universitas Pamulang.
7. Bapak Zaenal Abidin. [Link], [Link]., selaku Kepala Program Bidang
Study Manajemen Universitas Pamulang.
8. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi Prodi Manajemen yang telah
memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis.
K. Jadwal Kegiatan
Penelitian untuk penulisan karya tulis ini dimulai dari bulan April
2017 sampai dengan selesai. Penelitian ini dilakukan pada
perusahaan swasta penyedia jasa tenaga kerja yaitu PT. Danamon
Wahana Multi Jasa.
36
L. Anggaran
Dalam penulisan ini tentunya mengeluarkan biaya untuk kelancaran
pembuatan proposal skripsi, adapun biaya-biaya diperkirakan
dikeluarkan oleh peneliti sebagai berikut:
37
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui beberapa penelitian
yaitu,
a. Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau
variable yang berupa catatan, transkip,buku, surat kabar, majalah,
prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya. Dokumen yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah dengan melakukan
penelusuran menggunakan computer untuk data dalam format
elektrik.
b. Metode studi pustaka adalah suatu cara pengumpulan data dengan
membaca buku-buku atau bentuk lainya dari perpustakaan atau
sumber lainya. Penulis memperoleh data tersebut dengan membaca
dan mempelajari literatur-literatur yang ada hubunganya dengan
judul yang diteliti.
N. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk
mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.
Berdasarkan hal tersebut terdapat empat kata kunci yang perlu
diperhatikan yaitu, cara ilmiah, data, tujuan, dan kegunaan.
Penelitian ini nerupakan penelitian kausalitas yaitu penelitian yang
bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen (Sugiono:2012,11).
2. Populasi dan Sample
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas
obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu
yang ditetepakan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
38
kesimpulannya (Sugiyono,2012:80). Sample adalah bagian dari
jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila
populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang
ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan
waktu, maka peneliti dapat menggunakan sample yang yang
diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sample itu,
kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu
sample yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif
(Sugiyono, 2013:81). Pengambilan sampel dalam penelitian ini
dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, dalam
hal ini lebih khusus dalam penggunaan metode judgment sampling.
Judgment sampling merupakan tipe cara pengambilan sampel
secara tidak acak yang informasinya diperoleh dengan
menggunakan pertimbangan tertentu yang umumnya disesuaikan
dengan tujuan atau masalah penelitian (Indriantoro dan Supomo,
2002).
3. Teknik pengumpulana Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling
strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian
adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan
data, maka pneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi
standar data yang diteteapkan.
Pengumpulan data dapat dilihat dari beberapa settin, beberapa
sumber, dan berbagai cara. Bila dilihat dari settingnya, data
dikumpulkan pada setting alamiah (natural setting), pada
laboratorium dengan metode eksperimen, di rumah dengan berbagai
responden, pada suatu seminar, diskusi, di jalan dan lain-lain. Bila
dilihat dari sumber datanya, maka pengumpulan data dapat
39
menggunakan sumber primer, dan sumber sekunder. Sumber primer
adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada
pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang
tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya
lewat orang atau dokumen. Selanjutnya bila dilihat sari segi cara
atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data
dapat dilakukan dengan observasi (pengamatan) interview
(wawancara), kuesioner (angket), dokumentasi dan gabungan
keempatan.
Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu data yang diperoleh
oleh peneliti secara tidak langsung dari objeknya, tetapi melalui
sumber lain, baik lisan maupun tulisan. Data sekunder dikumpulkan
dari website dan sumber lainnya, lalu dilanjutkan dengan
pencatatan, perekapan, kemudian penghitungan.
40
yaitu statistik deskriptif, dan statistik inferensial. Berikut ini adalah
metode analisis yang digunakan sebagai berikut:
1) Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk
menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau
menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya
tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum
atau generalisasi. Dalam statistik deskriptif juga dapat dilakukan
mencari kuatnya hubungan antara dua variabel melalui analisis
korelasi, melakukan prediksi dengan analisis regresi, dan membuat
perbandingan dengan membandingkan rata-rata sample atau
populasi.
Statistik inferensial, (sering juga disebut statistik induktif atau
statistik probabilitas), adalah teknik statistik yang digunakan untuk
menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk
populasi.
2) Uji Klasik
a) Uji Normalitas
Pengujian normalitas dilakukan untuk mengetahui normal tidaknya suatu
distribusi data. Hal ini penting diketahui berkaitan dengan ketepatan
pemilihan uji statistik yang akan digunakan. Karena uji statistik
para metrik mensyartakan data harus berdistribusi normal. Uji ini
bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel
independen, variabel dependen atau keduanya memiliki distribusi
normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki
distribusi data normal atau mendekati normal (Ghozali, 2012).
Proses uji normalitas data dilakukan dengan uji Kolmogorov-
41
Smirnov (K-S). Uji K-S dilakukan dengan melihat angka
probabilitasnya dengan ketentuan:
1) Nilai signifikansi atau nilai probabilitas < 0,05; distribusi adalah tidak
normal.
2) Nilai signifikansi atau nilai probabilitas > 0,05; distribusi adalah normal.
Selain uji K-S, normal tidaknya suatu data dapat dideteksi juga lewat plot
grafik histogram, hanya gambar grafik kadang-kadang dapat
menyesatkan karena kelihatan distribusinya normal tetapi secara
statistik sebenarnya tidak normal (Ghozali, 2012).
b) Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas atau independen
(Ghozali, 2012). Untuk menguji multikolinearitas, maka dapat
dilakukan pengujian dengan menggunakan uji Variance Inflation
Factor (VIF) dengan ketentuan, yaitu:
1) Apabila memiliki nilai VIF (variance inflation factor) <
10;
2) Mempunyai angka Tolerance mendekati > 0,10; dan
3) Jika kedua kriteria di atas terpenuhi, maka bisa disimpulkan bahwa
variabel-variabel independen tidak memiliki masalah
multikolinearitas.
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel
independen (Ghozali, 2012).
c) Uji Heterokedastisitas
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi terjadi
ketidaksamaan varian dari residual dari satu pengamatan ke
42
pengamatan lainnya. Jika varian dari residual dari satu pengamatan
ke pengamatan lainnya tetap, maka disebut homokedastisitas, dan
jika berbeda disebut heterokedastisitas. Model regresi yang baik
bersifat homokedastisitas dan tidak terjadi heterokedastisitas
(Ghozali, 2012). Heterokedastisitas dapat dideteksi dengan melihat
plot antara nilai taksiran dengan residual. Uji heterokedastisitas
dalam penelitian ini yaitu dengan melihat ada tidaknya pola tertentu
pada grafik scatter plot. Ketentuan :
1) Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentukpola
tertentu yang teratur (bergelombang, melebar, kemudian
menyempit), maka mengindikasikan masalah heterokedastisitas.
2) Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan
dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi
heterokedastisitas.
d) Uji Autokorelasi
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier ada
korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan
kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Gejala ini
menimbulkan konsekuensi yaitu interval keyakinan menjadi lebih
lebar serta varians dan kesalahan standar akan ditafsir terlalu
rendah. Uji autokorelasi dilakukan dengan Run test untuk menguji
apakah antar residual terdapat korelasi yang tinggi.
3) Uji Hipotesis
Jika suatu variabel dependen bergantung pada lebih dari satu
variabel independen, hubungan antara kedua variabel disebut
43
analisis regresi berganda (multiple regression). Hasil pengujian
tersebut akan memberikan hasil dari penolakan atau penerimaan
dari hipotesis penelitian. Penelitian ini menggunakan software
SPSS 21 untuk memprediksi hubungan antara variabel independen
dengan variabel dependen. Analisis regresi linier berganda dan
analisis jalur digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian
ini. Analisis jalur merupakan perluasan dari analisis regresi
berganda, atau dengan kata lain analisis jalur adalah penggunaan
analisis regresi untuk menaksir hubungan kausalitas antar variabel
yang telah ditetapkan sebelumnya.
Untuk mengetahui kebenaran prediksi dari pengujian regresi
yang dilakukan, maka dilakukan pencarian nilai koefisien
determinasi. Uji F juga digunakan untuk mengetahui apakah semua
variabel independen secara simultan merupakan penjelas yang
signifikan terhadap variabel dependen. Sedangkan pengujian untuk
mendukung hipotesis adalah dengan uji t yaitu seberapa jauh
pengaruh variabel dependen.
44
independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan
untuk memprediksi variabel dependen. Nilai R yang kecil atau
dibawah 0,5 berarti kemampuan variabel-variabel independen
dalam menjelaskan variabel dependen sangat kecil. Menurut
Gujarati (2003) dalam Ghozali (2012) jika dalam uji empiris
didapat nilai adjusted R negatif, maka nilai adjusted R dianggap
bernilai nol.
45
menerangkan variabel dependen. Pengujian dilakukan dengan
menggunakan tingkat signifikansi sebesar 0,05 (=5%).
Ketentuan penolakan atau penerimaan hipotesis adalah sebagai
berikut:
1) Jika nilai signifikansi t > 0,05 maka Ho diterima dan menolak H1
(koefisien regresi tidak signifikan). Ini berarti bahwa secara parsial
variabel independen tersebut tidak mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap variabel dependen.
2) Jika nilai signifikansi t 0,05 maka Ho ditolak dan menerima H1
(koefisien regresi signifikan). Ini berarti bahwa secara parsial
variabel independen tersebut mempunyai pengaruhyang signifikan
terhadap variabel dependen.
46
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
Jakarta
YPKN . Jakarta.
Cipta, Jakarta
Djambatan, Jakarta.
47
Hasibuan, Malayu S.P. (2003). ManajemenSumberDayaManusia,
Komputindo, Jakarta.
Kuncoro ,M (2003).
MetodeRisetuntukBisnisdanEkonomiBagaimanaMenelitidanMen
ulisTesis,Erlangga, Jakarta.
Martoyo,Susilo(2010),
ManajemenSumberDayaManusia,BPFE,Jakarta
48