Manfaat Menelan Sperma Saat Haid
Manfaat Menelan Sperma Saat Haid
PROPOSAL TESIS
Meinarisa
1506778994
PROPOSAL TESIS
Meinarisa
1506778994
proposal tesis inisaya susun tanpa tindakan plagiarisme sesuai dengan ketentuan
Meinarisa
PERNYATAAN ORISINALITAS
Nama : Meinarisa
NPM : 1506778994
Tanda Tangan :
PEMBIMBING
Ditetapkan di : Depok
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkah dan limpahan
rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan proposal tesis ini. Penulisan proposal tesis
ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Keperawatan Kekhususan Keperawatan Maternitas pada Program Studi
Magister Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia. Saya
menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak maka
penyusunan proposal tesis ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
(1) Prof. dra. Setyowati, [Link].,[Link], PhD. selaku pembimbing I yang telah
banyak memberikan perhatian, arahan dan masukan dalam penyusunan
proposal tesis ini;
(2) Ns. Tri Budiati, [Link]., [Link], [Link]. selaku pembimbing II yang
telah banyak memberikan dukungan, arahan dan masukan dalam penyusunan
proposal tesis ini serta untuk menempuh pendidikan Malgister Keperawatan
Kekhususan Keperawatan Maternitas Universitas Indonesia;
(3) Dra. Junaiti Sahar, [Link]., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Ilmu
Keperawatan yang memberikan dukungan untuk menempuh pendidikan di
Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia;
(4) Dr. Novy H.C. Daulima, SKp., MSc selaku Ketua Program Studi Magister
Keperawatan yang memberikan dukungan untuk menempuh pendidikan di
Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia;
(5) Seluruh dosen dan staf Magister Keperawatan FIK UI yang telah ikut
berpartisipasi selama proses penulisan;
(6) Orang tua dan keluarga yang telah memberikan dukungan material dan moral
serta menjadi sumber inspirasi untuk sampai pada tahap ini; dan
(7) Rekan-rekan seperjuangan Magister Keperawatan tahun 2015 yang telah
mencurahkan dukungan dan motivasi selama proses penulisan.
Akhir kata, kiranya Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan semua pihak
yang telah membantu. Semoga tesis ini membawa manfaat bagi pengembangan
ilmu keperawatan khususnya Keperawatan Maternitas.
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................................... i
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ........................................................ ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ............................................... iii
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN................................................ iv
KATA PENGANTAR ........................................................................................ v
DAFTAR ISI ....................................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ............................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xi
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ....................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah .................................................................................. 4
1.3. Tujuan Penelitian ................................................................................... 5
1.3.1. Tujuan Umum .............................................................................. 5
1.3.2. Tujuan Khusus ............................................................................. 5
1.4. Manfaat Penelitian ................................................................................. 5
1.4.1. Praktik Pelayanan Keperawatan Maternitas ............................... 5
1.4.2. Perkembangan Ilmu Keperawatan Maternitas .......................... 5
1.4.3. Perkembangan Riset selajutnya ................................................ 5
1.4.4. Bagi Masyarakat ...................................................................... 6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 7
2.1 Remaja ................................................................................................. 7
2.2 Menstruasi ............................................................................................ 9
2.3 Menstrual Hygiene (MH) ...................................................................... 11
2.4 Sikap .................................................................................................... 15
2.5 Konsep Promosi Kesehatan .................................................................. 17
2.6 Faktor yang mempengaruhi sikap remaja puteri dalam keberishan diri
Selama menstruasi ............................................................................... 18
2.7 Kerangka Teori .................................................................................... 19
BAB 3 KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI
OPERASIONAL.................................................................................... 20
3.1. Kerangka Konsep ................................................................................. 20
3.2. Hipotesis .............................................................................................. 21
3.3. Defenisi Operasional ............................................................................. 22
BAB 4 METODE PENELITIAN .................................................................... 23
4.1. Rancangan Penelitan ............................................................................ 23
4.2. Populasi dan Sampel ............................................................................ 24
4.3. Tempat dan Waktu Penelitian .............................................................. 26
4.4. Etika Penelitian .................................................................................... 26
4.5. Alat Pengumpulan Data ....................................................................... 29
4.6. Prosedur Pengumpulan Data ................................................................ 29
4.7. Pengolahan Data dan Rencana Analisis Data ...................................... 33
DAFTAR SKEMA
PENDAHULUAN
Menstruasi adalah siklus normal yang dialami wanita lebih dari separuh hidup
mereka dan merupakan bagian dari kesehatan fisik umum wanita. Meskipun
remaja mengalami menarche pada usia yang berbeda, menarche merupakan
bagian penting dalam proses pematangan reproduksi wanita, mewakili transisi
masa kanak-kanak menjadi seorang wanita (Grifiin, 1999).
Siklus menstruasi umumnya pertama kali terjadi pada usia 12 dan 13 tahun,
meskipun juga dapat terjadi dari usia sembilan sampai 17 tahun (Taylor, Carlson,
Griffin, & Wilson, 2014). siklus mesntruasi pada wanita berlangsung 4-5 hari,
tetapi ada juga yang hanya 2 hari dan paling lama 8 hari (Nelson, 2013).
Menstruasi akan terus berjalan secara reguler sampai usia seorang wanita
mengalami menopause, atau sekitar usia 45-50 tahun (BKKBN, 2016). Darah
menstruasi paling banyak keluar pada hari pertama dan kedua, serta pada remaja
tahun pertama dan kedua merupakan masa dimana darah menstruasi paling
banyak keluar dan periode menstruasi belum teratur, hal ini umum terjadi karena
penyesuaian dari hormon dalam tubuh (Taylor et al., 2014).
1
2
Kesehatan remaja dalam Indonesia Demographic and Health Survey 2012 Special
Report on Adolescent Reproductive Health menunjukkan sebanyak 82% remaja
puteri mengetahui bahwa menstruasi merupakan tanda perubahan fisik pada
remaja untuk menjadi wanita dewasa. Sumber informasi terbesar mengenai
menstruasi bagi remaja puteri adalah ibu sebesar 53%, informasi dari teman
sebesar 41% dan sisanya dari sumber lain seperti ayah, saudara, guru, kerabat
dekat dan tenaga kesehatan.
Masalah yang dihadapi wanita tiap bulannya berkaitan dengan menstruasi antara
lain adalah mengalami keputihan sebanyak 10%, rasa gatal sebanyak 5%,
premenstrual sindrome 16%, rasa tidak nyaman selama menstruasi 6%, darah
menstruasi yang sangat banyak 10%, mengalami kram perut 11%. Namun remaja
Universitas Indonesia
3
Menstrual hygiene yang tidak adekuat akan merugikan remaja putri. Penelitian
yang dilakukan oleh Unicef di Indonesia pada tahun 2015 di empat provinsi
menunjukkan bahwa satu dari tujuh remaja putri tidak masuk sekolah tiap
bulannya selama 1-3 hari dikarenakan menstruasi yang dialaminya, terkait dengan
kurangnya informasi mengenai menstrual higiene, kurangnya fasilitas sekolah
yang tidak memadai untuk menunjang kebersihan diri remaja putri selama
menstruasi, dan salahnya informasi mengenai obat pengurang rasa nyeri selama
menstruasi. Informasi yang buruk mengenai menstrual hygiene menyebabkan
meningkatnya resiko infeksi, rasa ketidaknyamanan dan iritasi pada remaja putri.
Penelitian tersebut juga mendapati bahwa remaja puteri paling banyak tidak
masuk karena menstruasi adalah pada tingkat Sekolah menengah Pertama (SMP)
(Unicef, 2015).
Universitas Indonesia
4
dengan program water, Sanitary and Hygiene (WASH) (Unesco, 2014). Program
ini dikembangkan dan terdiri dari hardwere intervention (intervensi perangkat
keras) dimana terdiri dari penyediaan pembalut baik yang dapat di pakai berulang
atau yang sekali pakai, penyediaan air dan sabun untuk mengganti pembalut dan
mencuci tangan, serta toilet untuk mengganti pembalut, serta tempat membuang
pembalut yang baik. Kedua adalah softwere intervention (intervensi perangkat
lunak) berupa pendidikan kesehatan dimana remaja akan diberikan pendidikan
mengenai menstrual hygiene baik secara lansung maupun booklet atau handbook.
Menurut Hennegan & Montgomery (2016) intervensi perangkat keras tidak secara
signifikan memberikan perubahan terhadap perubahan MHM, sedangkan
intervensi perangkat lunak memberikan perubahan yang signifikan terhadap
MHM.
Sampai akhir tahun 2014 terdapat 81,69% kabupaten/kota yang memiliki minimal
4 puskesmas PKPR dan 2.999 dari 9.731 puskesmas (31%) yang mampu
melaksanakan PKPR. Cakupan kabupaten/kota yang mampu laksana PKPR terus
meningkat, namun masih dibawah target yaitu 90% pada akhir 2014. Pada akhir
2019, ditargetkan 45% puskesmas di Indonesia telah menyelenggarakan kegiatan
kesehatan remaja (Departemen Kesehatan RI, 2014). Di Jambi terdapat 4
puskesmas yang diharapkan mampu menjalankan PKPR namun hanya satu
puskesmas yang telah menjalankan program tersebut yaitu puskesmas Simpang
IV Sipin Jambi. Kegiatan yang telah dilakukan antara lain penyuluhan kesehatan
Universitas Indonesia
5
Kedua program tersebut menyasar remaja sebagai target program, namun yang
lebih dikenal adalah PKPR. Hal ini dikarenakan program PKPR memiliki
pelayanan yang lebih komprehensif termasuk tahap tindak lanjut. Namun untuk di
beberapa wilayah Indonesia saja yang sangat populer dan diwilayah lain tidak
mengenal program PKPR. Sebagai contoh, beberapa kota di Sumatyera termasuk
Jambi. Belum banyak remaja yang mengetahu mengenai program tersebut,
padahal sasaran utama program tersebut adalah remaja. Tidak adanya informasi
terkait program yang disediakan pemerintah, membuat remaja semakin jauh
dalam menyadari dan memahami hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi
mereka sendiri (Wulandari, 2014).
Universitas Indonesia
6
melayani dengan cemberut atau pun ketus. Kedua hal ini menjadi jurang pemisah
bagi remaja untuk mendapatkan haknya melalui program dari pemerintah,
sehingga tidak berjalan efektif. Jika dibandingkan lagi dengan Program Ramah
Remaja yang dimiliki oleh lembaga non-pemerintah, mereka memiliki nilai
tambah pada kedua kelemahan program pemerintah. Mereka bahkan
mengefektifkan program dengan layanan tak tatap muka, seperti melalui sms,
telepon, media sosial dan sebagainya. Selain itu, pelayanan diberikan dengan
keramahan yang membuat remaja nyaman dan terbuka untuk membicarakan
permasalahan yang remaja miliki (Wulandari, 2104).
Sikap remaja puteri terhadap menstruasi merupakan sikap yang bercampur antara
positif dan negatif. Misalnya remaja puteri di China setingkat SPM mengangga
malu (85%), tumbuh dewasa (66%), dan merasa feminin (40%) saat mengalami
menstruasi pertama (Tang, Yeung & Lee, 2003). Di Taiwan lebih dari separuh
siswa SD perempuan merasa bahwa menstruasi memiliki pengaruh terhadap tugas
sekolah, emosi, kehidupan sehari-hari dan interaksi sosial (Chang & Chen, 2008).
Studi oleh Chang et al (2009) remaja puteri di China menunjukkan sikap negatif
mengenai menstruasi, menunjukkan emosi negatif terhadap persepsi mereka pada
menstruasi, menunjukkan persiapan pada menarche yang tidak adekuat dan
ketidak siapan mereka pada menstrual hygiene yang baik saat menstruasi. Dalam
beberapa penelitian, sebagian besar remaja puteri mendapatkan informasi dari ibu
dan pihak sekolah sebagai sumber infomasi pertama bagi mereka mengenai
menstruasi (Beausang & Razor, 2000; Chang & Chen, 2008; Cheng et al., 2007;
Houston, Abraham, Huang, & D'Angelo, 2006).
Universitas Indonesia
7
Universitas Indonesia
8
penelitian yang dilakukan bahwa praktik dan pengetahuan menstrual hygiene pada
remaja belum memadai. Penelitian mengenai pendidikan kesehatan mengenai
menstrual hygiene terhadap sikap remaja puteri dalam kebersihan diri selama
menstruasi sangat penting dilakukan. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan
penelitian untuk mengidentifikasi bagaimana pengaruh pendidikan kesehatan
menstrual hygiene (PMH) terhadap sikap remaja putri dalam kebersihan diri
selama menstruasi.
Universitas Indonesia
9
Universitas Indonesia
10
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Remaja
Remaja berdasarkan WHO berusia 10-19 tahun, sedangkan menurut BKKBN
remaja adalah yang berusia 10-24 tahun dan menurut Peraturan Menteri
Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014 adalah yang berusia 10-18 tahun. Saat
seorang anak memasuki usia remaja, maka terjadi perubahan-perubahan pada
dirinya. Perubahan tersebut lah yang disebut dengan masa pubertas. Pada masa
remaja, baik remaja puteri maupun remaja putera akam mengalami perubahan
umum seperti (1) akselerasi dalam pertumbuhan yang mengakibatkan cepatnya
tinggi badan bertambah; (2) karakteristik perkembangan seks primer karena
perkembangan kelenjar gonat yang memicu kelenjar seks yaitu testis pada pria
dan indung telur pada wanita sehingga mengalami menstruasi; (3) perkembangan
karakteristik seks skunder yaitu perubahan pada alat kelamin pertumbuhan
payudara pada wanita, pertumbuhan rambut pada area ketiak dan kemaluan dna
perkembangan lebih lanjut dari organ seks, (4) terjadi perubahan komposisi tubuh
khususnya pada distribusi lemak dan otot; (5) perubahan sistem peredaran darah
dan pernafasan, yang menyebabkan meningkatnya toleransi pada peningkatan
kekuatan dan kegiatan olahraga (Cohen, 2014).
Pubertas pada remaja terlihat seperti keadaan yang tiba-tiba, namun faktanya
merupakan sebuah proses yang bertahap yang dimulai sejak masa pembuahan.
Dalam tubuh remaja tidak ada hormon baru yang diproduksi, tetapi merupakan
perubahan jumlah hormon yang sudah ada, dimana beberapa hormon mengalami
peningkatan dan yang lainnya mengalami penurunan. Sistem endokrin akan
menerima instruksi untuk meningkatkan atau mengurangi sirkulasi hormon
tertentu dari sistem saraf pusat, sistem endokrin ini bekerja seperti termostat
(Cohen, 2014).
Sistem endokrin ini seperti umpan balik yang penting pada masa awal pubertas.
Jauh sebelum masa remaja awal, pada masa bayi, sebuah lingkaran umpan balik
berkembang yang melibatkan kelenjar pituitari (yang mengendalikan hormon
secara umum), hipotalamus (bagian otak yang mengendalikan kelenjar pituitari)
Universitas Indonesia
11
dan kelenjar gonad (pada pria dikenal dengan testis, dan pada wanita dikenal
dengan ovarium). Gonad melepaskan hormon seks; androgen dan estrogen.
Meskipun pada seseorang secara khas menganggap androgen sebagai hormon pria
dan estrogen sebagai hormon wanita, kedua jenis hormon di produksi oelh setiap
jenis kelamin, dan keduanya hadir pada pria dan wanita. Selama masa remaja,
rata-rata pria menghasilkan lebih banyak androgen daripada estrogen dan wanita
sebaliknya (Cohen, 2014).
Meskipun para ilmuwan tidak sepenuhnya yakin, ada peningkatan bukti bahwa
meningkatnya kadar protein yang diproduksi oleh sel lemak, leptin, mungkin
merupakan sinyal yang paling penting dalam pemicu pubertas baik pada remaja
pria maupun wanita. Gagasan ini konsisten dengan pengamatan bahwa individu
mungkin tidak mengalami masa pubertas sampai mereka mengumpulkan sejumlah
lemak tubuh tertentu dan konsisten dengan penelitian yang menunjukkan bahwa
stres, penyakit, kekurangan nutrisi dan olahraga dapat menunda terjadinya
pubertas. Sinyal yang dibawa oleh meningkatnya kadar leptin menginstruksikan
hipotalamus untuk berhenti melakukan hal-hal yang telah menghambat pubertas
dan mulai melakukan hal-hal yang membuatnya bergerak. Sebagai hasil dari
kedua proses ini, hipotalamus memulai serangkaian kejadian hormonal yang pada
akhirnya menghasilkan pematangan seksual individu (Nelson, 2013).
Penelitian menyebutkan bahwa remaja puteri yang tidak siap secara fisik dan
emosional akan mengalami masa yang sulit dalam menerima periode menstruasi.
Remaja puteri mengatakan bahwa persiapan yang perlu dilakukan sebelum
mengamai menarche dan menstruasi adalah mendapatkan informasi yang
memadai mengenai perubahan tubuh mereka melalui ibu mereka. Ibu para remaja
sebaiknya memberikan dukungan emosional, menjelaskan mengenai menstrual
hygiene, dan memberikan informasi mengenai perubahan perasaan saat remaja.
Sedangkan remaja putri tidak menyukai jika ayah mereka berkomentar mengenai
Universitas Indonesia
12
perubahan fisik yang mereka alami dan bahwa ibu tidak mendiskusikan perubahan
ini dengan ayah di depan remaja (American Physicological Association, 2012).
Penampilan fisik pada masa remaja umumnya dianggap sangat penting. Baik
remaja puteri maupun putra diketahui menghabiskan waktu berjam-jam
memikirkan penampilan, terutama agar sesuai dengan norma kelompok yang
paling dikenali remaja. Pada saat yang sama remaja juga memiliki gaya yang unik
bagi diri mereka sendiri, dan remaja juga dapat menghabiskan waktu berjam-jam
berada di kamarmandi dan didepan cermin untuk mencapai tujuan
tersebut(American Physicological Association, 2012).
Perubahan kognitif pada remaja adalah remaja semakin fokus dan matang dalam
mempertimbangkan masa depan melalui implikasi dari tindakan mereka saat ini.
Hal ini juga dapat dilihat dengan remaja yang lebih memperhatikan kesehatan.
Meskipun perilaku ini dapat berubah sepanjang masa remaja, bahkan sampai
dewasa. Meningkatnya kemampuan remaja memandang masalah kompleks dan
mencari jalan keluar atau solusi yang sederhana terhadap masalah tersebut. Hal ini
menunjukkan bahwa remaja mengembangkan pemikiran abstrak (Cohen, 2014).
Hubungan sosial pada remaja semakin dianggap penting dan memainkan peran
utama dalam pengembangan emosional remaja. Remaja sering mencari teman
sebaya yang keyakinan, nilai, bahkan tingkah laku yang mirip dengan keluarga
mereka. sementara pengaruh teman sebaya dan pengaruh sosial lainnya sering
memperkuat nilai keluarga, beberapa pengaruh dapar mengekspos remaja
terhadap nilai-nilai yang berbeda secara signifikan dari keluarga. Dengan
demikian, kebutuhan untuk mengimbangi tekanan teman sebaya dan harapan
keluarga menciptakan tantangan baru dan ketegangan keluarga saat remaja mulai
membuat keputusan independen (Fisher, 2012).
2.2 Menstruasi
Menarche adalah menstruasi untuk pertama kali bagi remaja puteri, merupakan
indikator pertama kapasitas reproduksi pada wanita dan faktor penting yang
berhubungan dengan transisi anak perempuan menjadi wanita dewasa (Levesque,
2011). Menarche adalah momen haid pertama diikuti dengan periode menstruasi
Universitas Indonesia
13
tiap bulannya yang akan terus berlangsung sampai dengan menopause, sedangkan
menstruasi adalah keluarnya darah melalui vagina tiap bulannya karena tidak ada
tanda pembuahan sehingga terjadi pelepasan dinding rahim yang menyebabkan
perdarahan (Redchi, 2008).
Banyak remaja merasakan perubahan fisik dan emosional beberapa hari sebelum
periode menstruasi datang. Jika hal ini berlangsung tiap periode menstruasi akan
datang, hal ini dikenal dengan premenstrual syndrome (PMS). Genjala fisik antara
lain dapat berupa sakit kepala, nyeri atau rasa tidak nyaman pada punggung,
kembung, peningkatan berat badan, badan terasa tidak enak, payudara menjadi
lunak/lembut, ruam pada kulit. Gejala psikologis dan perilaku yang muncul antara
lain perubahan suasana hati (mood swing), depresi, kelelahan, merasa lemas,
mudah tersinggung, kecemasan, penurunan kemampuan kognitif, agresi, mudah
marah, mengalami gangguna tidur dan berkeinginan makan makanan tertentu
(ngidam). Banyak penelitian yang meneliti penyebab PMS, namun belum dapat
dipastikan penyebab utama dari PMS tersebut. Dugaan sementara PMS dapat
Universitas Indonesia
14
terjadi pada remaja puteri dan dewasa awal hingga akhir adalah karena perubahan
hormonal sebelum menstruasi, kelebihan esterogen, kekurangan progesteron dan
peningkatan prolaktin berkaitan dengan gejala PMS. Selain itu, perubahan pada
kimia otak, yaitu serotonin yang berfluktuasi sebelum terjadi menstruasi dikaitkan
dengan gangguan suasana hati dan depresi terkait PMS. Serotonin yang rendah
juga mengarah pada kelelahan, ngidam makanan tertentu dan sulit tidur (Mandal,
2014).
Mengatasi PMS dapat dilakukan dengan mengatur pola hidup menjadi lebih sehat.
Dengan mengatur makanan yang dikonsumsi yaitu mengurangi konsumsi lemak,
konsumsi gula, garam dan kafein, meningkatkan makanan dengan serat tigngi
seperti meningkatkan konsumsi buah dan sayuran hijau sebagai sumber
magnesium, zat besi dan kalsium. Selain itu dengatur waktu olahraga, berlatih
yoga atau peregangan dan pernafasaan. Dukungan keluarga dan teman juga sangat
membantu mengurangi gejala PMS (Panay, 2014).
Penelitian kualitatif yang dilakukan pada 23 laki-laki (usia 18-24 tahun) dan
dianalisis untuk memahami bagaimana remaja memahami mengenai menstruasi.
Hasilnya menunjukkan bahwa remaja putera pertama kali belajar mengenai
menstruasi melalui keluarga mereka, terutama melalui menarche saudara
perempuan mereka, remaja putera tahu bahwa menarche dialami remaja puteri
Universitas Indonesia
15
saat pubertas. Remaja putera juga mengembangkan sikap dan mitos dimana
menstruasi dianggap kotor, sampai pada akhirnya mereka mengerti saat
pengalaman mengenai hubungan intim mereka lalui (Allen, Kaestle, & Goldberg,
2011).
Praktik menstrual hygiene yang dilakukan remaja puteri antara lain adalah
menggunakan pembalut dan menggantinya tiap 4-8 jam tergantung jumlah darah
menstruasi yang keluar. Remaja puteri dapat memilih pembalut sekali pakai atau
yang dapat dipakai berulang kali setelah di cuci dan dikeringkan. Pemilihan
material pembalut juga harus diperhatikan. Material pembalut yang baik harus
memenuhi sarat antara lain adalah dapat menyerap darah menstruasi dengan baik,
lembut dikulit dan tidak menyebabkan iritasi. Untuk re-usable pad dapat memilih
menggunakan kain berbahan dasar kain katun dan untuk penggunaannya setelah
dipakai harus di cuci bersih menggunakan sabun detergen dan dikeringkan dengan
baik di bawah sinar matahari dan digantung dengan baik kemudian di setrika.
Pembalut ini murah, dapat digunakan berulang dan bertahan hingga satu tahun
jika menggunakan bahan yang bagus seperti handuk (UKAID, 2013).
Universitas Indonesia
16
air kecil atau mencuci pembalut, membuang pembalut sekali pakai ketempat
sampah dan jangan membuang pembalut langsung ke sungai (UKAID, 2013).
2.4 Sikap
Mekanisme mental yang mengevaluasi, membentuk pandangan, mewarnai
perasaan dan akan ikut menentukan kecenderungan perilaku individu terhadap
manusia lainnya atau sesuatu yang sedang dihadapi oleh individu, bahkan
terhadap diri individu itu sendiri disebut fenomena sikap. Fenomena sikap yang
timbul tidak saja ditentukan oleh keadaan objek yang sedang dihadapi tetapi juga
dengan kaitannya dengan pengalaman-pengalaman masa lalu, oleh situasi di saat
sekarang, dan oleh harapan-harapan untuk masa yang akan datang. Sikap
manusia, atau untuk singkatnya disebut sikap, telah didefinisikan dalam berbagai
versi oleh para ahli (Azwar, 2007).
Sikap atau Attitude senantiasa diarahkan pada suatu hal, suatu objek. Tidak ada
sikap tanpa adanya objek (Gerungan, 2004). dapat disimpulkan bahwa sikap
adalah kecenderungan individu untuk memahami, merasakan, bereaksi dan
berperilaku terhadap suatu objek yang merupakan hasil dari interaksi komponen
kognitif, afektif dan konatif.
Universitas Indonesia
17
b. Komponen afektif
Komponen afektif merupakan komponen yang menyangkut masalah emosional
subjek seseorang terhadap suatu objek sikap. Secara umum, komponen ini
disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu.
c. Komponen perilaku
Komponen perilaku atau komponen konatif dalam struktur sikap menunjukkan
bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri
seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya.
Universitas Indonesia
18
Universitas Indonesia
19
Pendidikan kesehatan yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan media cetak yaitu dalam bentuk booklet. Secara umum diketahui
bahwa pengetahuan lebih banyak diterima melalui indra mata sebanyak 75-87%
dan hanya 13-25% yang disalurkan oleh indra yag lainnya (Notoatmodjo, 2010).
Selain media cetak, metode demonstrasi diyakini sangat efektif dalam proses
penyampaian informasi karena menurut Silalahi (2012) menjelaskan bahwa
perilaku manusia sebagian besar diperoleh melalui proses kognitif dan meniru
orang lain (pemodelan). Perilaku model dipelajari melalui bahasa, keteladanan
dan nilai-nilai yang diyakini. Seseorang akan meniru suatu kemampuan atau
perilaku yang didemonstrasikan orang lain yang dianggap sebagai model.
Penilaian terhadap sikap remaja puteri dalam keberishaan diri selama menstruasi
dapat menggunakan Adolescent Menstrual Attitude Quessionaire khusus untuk
menilai sikap remaja saat mengalami menstrusi yang telah digunakan dalam
Universitas Indonesia
20
banyak penelitian di berbagai negara. Salah satunya adalah India, Inggris dan
Kanada. Terdiri dari 58 pertanyaan (Morse, Kieren, & Bottorff, 2009).
Remaja
Perubahan fisik Perubahan kognitif Perubahan sosial Perubahan emosional Perubahan sistem
reproduksi remaja
puteri
menstruasi
Sumber: Cohen, 2014; Nelson, 2013; Taylor et al., 2014;Omdivar & Begum,
2010; Grose & Grabe ,2014; Salili, Chiu dan Lai, 2001; Grigorenko & OKeefe,
2004;
Universitas Indonesia
21
BAB 3
Responden dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok intervensi dan
kelompok kontrol. Kelompok intevensi pada penelitian ini diberikan Pendidikan
Kesehatan menstrual hygiene (PMH) sedangkan kelompok kontrol hanya
mendapatkan penyuluhan mengenai menstruasi. Kemudian kelompok intervensi
dan kelompok kontrol diberi kuesioner untuk dinilai.
3.2. Hipotesis
3.2.1. Hipotesa mayor
Ada pengaruh edukasi menstrual hygiene terhadap peningkatan sikapremaja puteri
dalam kebersihan diri selama menstruasi.
Universitas Indonesia
23
Usia Umur responden dengan satuan Diukur melalui aitem Dinyatakan Numerik
tahun yang dihitung sejak tahun pertanyaan dalam dengan hitung
kelahiran demografi rentang umur
karakteristik dalam tahun
responden tentang (12-14 tahun)
usia
Pendidikan ibu Pendidikan terakhir dari orang tua Diukur melalui aitem 1:pendidikan Kategorik
Universitas Indonesia
24
Desain penelitian adalah model yang digunakan peneliti untuk melakukan suatu
penelitian yang memberikan arah terhadap jalannya penelitian. Disain penelitian
yang dibuat sangat dipengaruhi oleh rumusan masalah yang akan dijawab pada
penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan eksperimen semu (quasi
eksperiment), yaitu penelitian yang mengujicobakan suatu intervensi pada
sekelompok subjek dan dengan atau tanpa kelompok pembanding. Rancangan
penelitian yang digunakan adalah pre-test and post-test with control, yaitu suatu
rancangan yang melakukan perlakuan pada satu kelompok dengan kelompok
pembanding. Efektifitas perlakukan dinilai dengan cara membandingkan nilai
post-test dengan pre-test.
Pretest Posttest
R (Kelompok intervensi) 01 A 02
R (kelompok kontrol) 03 B 04
Keterangan:
Universitas Indonesia
25
kelompok intervensi
kelompok intervensi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua remaja puteri di SMP N 3 Seberang
Kota Jambi dan SMP N 24 kotabaru Kota Jambi, 234 siswi di SMP N 24 Kota
Jambi dan 214 siswi di SMP N 3 Kota Jambi.
4.2.2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah semua remaja puteri yang mengalami
menstruasi di SMP N 3 Seberang Kota Jambi dan SMP N 24 kotabaru Kota Jambi
dengan kriteria inklusi sebagai berikut:
Kriteria inklusi
a. Remaja usia 12-14 tahun
b. Dapat membaca, menulis dan berbahasa indonesia dengan baik
c. Bersedia menjadi responden dan menandatangani surat persetujuan menjadi
responden
Universitas Indonesia
26
Rumus besar sampel untuk uji hipotesis satu arah dengan rumus perhitungan
yaitu:
(Z1 + Z1 )2
2 2
n = 2
(1 2 )2
Keterangan:
n : Jumlah sampel
1
2 : Estimasi varian kelompok kontrol dan kelompok intervensi rumus 2 (12 +
22 )
1 /2 : Standar normal deviasi
1 : Standar normal deviasi untuk
1 : Nilai menan kelompok kontrol yang didapat dari penelitian sebelumnya
2 : Nilai mean kelompok uji coba dari pendapat peneliti
1 2 : Nilai beda mean yang dianggap bermakna antara kelompok kontrol
maupun kelompok intervensi
n
n =
(1 )
Universitas Indonesia
27
keterangan:
n : besar sampel yang dihitung
: perkiraan proporsi drop out
44
n = (1 0,9)
= 49
Sehingga sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 49 responden pada
kelompok intervensi dan 49 responden pada kelompok kontrol.
Universitas Indonesia
28
Penelitian ini dilakukan untuk mengungkap pengaru PMH dengan sikap remaja
pueri dalam menjaga kebersihan diri selama menstruasi, yang mana membuat
peneliti mengetahui karakteristik remaja, usia menarche, nilai budaya remaja. Hal
ini membuat rahasia remaja diketahi oleh peneliti. Oleh karena itu tindakan
peneliti dalam menghormati harkat dan martabat responden yaitu peneliti
menyampaiakn tujuan penelitian, prosedur penelitian, kemungkinan resiko dan
manfaat keikutsertaan responden dalam penelitian ini. Selain itu peneliti juga
memperkenalkan diri sebagai penanggung jawab penelitian dan memberikan
kesempatan kepada responden untuk bertanya dan menyampaikan pengunduran
diri dari penelitian tanpa adanya sangsi. Responden juga diminta untuk
menandatangani informed consent sebagai pernyataan persetujuan menjadi
responden secara sukarela.
Prinsip etik ini yaitu setiap responden berhak untuk mendapatkan perlakukan yang
adil dalam penelitian. Prinsip keadilan pada penelitian memberikan keuntungan
dan beban secara merata sesuai dengan kebutuhan ressponden dan kemampuan
peneliti. Penerapan prinsip ini dimulai sejak pemilihan responden oleh peneliti
yang didasarkan pada tujuan penelitian dan tidak berdasarkan status sosial
responden. Semua responden memperoleh perlakukan yang sama dalam penelitian
yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh PMH terhadap sikap remaja puteri
Universitas Indonesia
29
Universitas Indonesia
30
Peneliti saat melakukan penelitian ini dibantu oleh empat orang asisten, dengan
kriteria sebagai berikut: (1) asisten peneliti merupakan perawat dengan latar
belakang pendidikan [Link] Ns; (2) asisten peneliti mengetahui dan menguasai isi
Universitas Indonesia
31
Universitas Indonesia
32
Universitas Indonesia
33
Informed consent
a. Editing
Peneliti melakukan pengecekan instrumen yang berisi data demografi dan data pre
test dan post test yang telah dilakukan secara lengkap, jelas, relevan serta
konsisten.
b. Coding
Proses merubah data yang berbentuk huruf menjadi data berbentuk bilangan. Hal
ini penting untuk mempercepat pada saat entry data dan mempermudah pada saat
menganalisis data. Dalam penelitian ini kelompok intervensi diberi kode 1 dan
kelompok kontrol diberi kode 0.
c. Entry
Tahap ini merupakan tahap memproses data agar data yang di entry dapat
menganalisis dengan menggunakan komputer.
d. Cleaning
Merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang dimasukkan apakah mendapat
kesalahan atau tidak.
Universitas Indonesia
35
a. Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan deskripsi hasil penelitian.
Analisis univariat dalam penelitian ini adalah karakteristik responden pada kedua
kelompok meliputi edukasi menstrual hygiene, menstrual hygiene self-efficacy,
kelompok sebaya. Untuk data numerik dianalisis dengan menggunakan ukuran
tengah (mean, median) dan ukuran variasi (standar deviasi, range) dan confident
interval (CI) 95%. Sedangkan data jenis kategorik dianalisis dengan distribusi
frekuensi dengan ukuran persentase atau proporsi.
b. Analisis Bivariat
Pada penelitian ini sebelum masuk analisis bivariat harus dilakukan uji
homogenitas dan normalitas.
1) Uji Homogenitas
Uji homogenitas varian untuk mengetahui bahwa sikap remaja puteri dalam
menjaga kebersihan diri selama menstruasi pada kedua kelompok tidak terdapat
perbedaan. Uji homogenitas pada penelitian ini menggunakan uji T-Test
Independent. Jika diperoleh nilai >0,05 maka disebut datanya homogen.
Universitas Indonesia
36
2) Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data tersebar secara normal
atau tidak dan menentukan uji parametrik yang digunakan. Uji yang digunakan
adalah uji saphiro-Wilk, karena jumlah sampel 50. Dara tersebut tersebar
normal apabila nilai kemaknaan (p) > 0,05. Jika data dikatakan normal untuk uji
hipotesis menggunakan uji parametrik, namun jika data dikatakan tidak normal
menggunakan uji non parametrik.
3) Uji Hipotesis
Uji hipotesis digunakan untuk membuktikan hipotesis penelitian yaitu melihat
pengaruh edukasi menstrual hygiene terhadap sikap remaja puteri pada kelompok
kontrol dan kelompok intervensi. Pada penelitian ini menggunakan analisa
bivariat yang tercantum pada tabel berikut.
Universitas Indonesia
37
kelompok intervensi
4) Sikap remaja puteri Rasio Uji T-Test Terdapat
dalam menjaga independent perbedaan
kebersihan diri sikap (P Value
selama menstruasi 0,05 )
sesudah diberikan
booklet pada
kelompok kontrol
5) Pengaruh PMH Rasio Uji T-Test Terdapat
terhadap sikap dependent perbedaan
remaja puteri sikap (P Value
b. Data terdistribusi 0,05 )
tidak normal
1) Sikap remaja puteri Rasio Uji Wilcoxon Terdapat ada
dalam menjaga test perbedaan
kebersihan diri sikap (P Value
selama menstruasi 0,05 )
sebelum diberikan
PMH pada
kelompok
intervensi
2) Sikap remaja puteri Rasio Uji Wilcoxon Terdapat
dalam menjaga test pengaruh (P
kebersihan diri Value 0,05 )
selama menstruasi
sebelum diberikan
booklet pada
kelompok kontrol
3) Sikap remaja puteri Rasio Uji Wilcoxon Terdapat
dalam menjaga test perbedaan
kebersihan diri sikap (P Value
selama menstruasi 0,05 )
sesudah diberikan
PMH pada
kelompok
intervensi
4) Sikap remaja puteri Rasio Uji Wilcoxon Terdapat
dalam menjaga test perbedaan
kebersihan diri sikap (P Value
selama menstruasi 0,05 )
sesudah diberikan
booklet pada
kelompok kontrol
5) Pengaruh PMH Rasio Uji Man Terdapat
terhadap sikap whitney pengaruh sikap
remaja puteri (P Value
0,05 )
Universitas Indonesia
38
moment 0,05 )
DAFTAR PUSTAKA
Alligood, M. R. (2014). Nursing theorists and their work (8th ed.). St. Louis, MO:
Elsevier/Mosby.
Alwisol. (2010). Psikologi Kepribadian, edisi Revisi. Jakarta: UMM Press
Allen, K. R., Kaestle, C. E., & Goldberg, A. E. (2011). of Family Issues More
Than Just a. [Link]
Anand, E., Singh, J., & Unisa, S. (2015). Menstrual hygiene practices and its
association with reproductive tract infections and abnormal vaginal discharge
in India. Sexual & Reproductive Healthcare, 16.
[Link]
APA. (2012). A Reference for Professionals Developing Adolescents.
Cohen, M. I. (2014). Adolescence.
Farage, M., Elsner, P., & Maibach, H. (2007). Influence of usage practices ,
ethnicity and climate on the skin compatibility of sanitary pads, 415427.
[Link]
House, S., Mahon, T., & Cavill, S. (2012). A resource for improving menstrual
hygiene around the world.
Levesque, R. J. R. (2011). Menarche. In R. J. R. Levesque (Ed.), Encyclopedia of
Adolescence (pp. 16911692). New York, NY: Springer New York.
[Link]
Mandal, A. (2014). Penyebab Sindrom pramenstruasi ( PMS ), 13.
Morse, J. M., Kieren, D., & Bottorff, J. (2009). Health Care for Women
International The adolescent menstrual attitude questionnaire, (January
2015), 3741. [Link]
Nair, A. R., & Taylor, H. S. (2010). The Mechanism of Menstruation, 2135.
[Link]
Nelson, L. (2013). Menstruation and the Menstrual Cycle.
Panay, N. (2014). The National Association for Premenstrual Syndrome ( NAPS )
Guidelines on Premenstrual Syndrome.
Universitas Indonesia
39
Universitas Indonesia
Lampiran 1
PENEJELASAN PENELITIAN
Peneliti : Meinarisa
NPM : 1506778994
Atas perhatian dan kesediaan adik untuk berpartisipasi dalam penelitian ini saya
ucapkan terima kasih. Apabila terdapat pertanyaan selama proses penelitian diluar
waktu pertemuan adik dapat menghubungi saya Meinarisa di 085266365867 atau
raisakameella18@[Link]
Peneliti,
Meinarisa
Lampiran 2
LEMBAR PERSETUJUAN
Saya memahami tujuan, proses dan manfaat penelitian ini. Saya percaya bahwa
peneliti menjamin kerahasiaan indentitas dan hak-hak saya sebagai responden.
Saya meyakini bahwa penelitian ini tidak akan menimbulkan dampak merugikan
bagi saya.
Demikian lembar persetujuan ini saya isi dengan sebebar-benarnya agar dapat
dipergunakan sebagaimana menstinya.
Responden
(...........................)
Lampiran 3
No responden :
Group :
KUESIONER PENELITIAN
1. Mohon kuesioner diisi sesuai dengan kenyataan, responden tidak perlu berdiskusi
dengan orang lain.
2. Jika kurang mengerti dengan pertanyaan yang diajukan atau ragu, tanyakan pada
peneliti.
3. Untuk pilihan jawaban beri tanda centang () atau lingkari pada jawaban yang
tersedia.
4. Informasi akan dijaga kerahasiaannya.
KUESIONER A: DATA DEMOGRAFI
No Data
1 Nama
2 Kelas
B. KELOMPOK INTERVENSI
1. Remaja puteri yang telah menarche
2. Perkenalan, membina hubungan saling percaya
3. Remaja puteri memenuhi kriteria inklusi, berikan penjelasan tentang tujuan,
manfaat dan prosedur penelitian
4. Minta kesediaan berpartisipasi
5. Lakukan pengukuran pretest sikap menstrual hygiene
6. Berikan Pendidikan Kesehatan Menstrual Hygiene (PMH) sesuai intervensi.
Berupa penyuluhan menstruasi, demonstrasi dan booklet mengenai menstrual
hygiene.
7. Memberikan lembar laporan pribadi (self-report) saat menstruasi
8. Responden mengisi lembar laporan pribadi (self-report) selama menstruasi
9. Selesai menstruasi lakukan pengukuran sikap remaja puteri dalam menjaga
kebersihan diri semama menstruasi. selanjutnya responden diberikan
penyuluhan menstruasi dan edukasi oleh peneliti.
Lampiran 5
UNIVERSITAS INDONESIA
Disusun Oleh:
Meinarisa
Prof. Dra. Setyowati, [Link]., M. [Link]., Ph.D
E. Kegiatan Edukasi
F. Evaluasi
G. Daftar Pustaka
Epstain, Elizabeth. (2014, May 28). 28 Reasons Why Menstrual Hygiene Matters.
May 30,2017. [Link]
menstrual-hygiene-matters/
House, S., Mahon, T., & Cavill, S. (2012). A resource for improving menstrual
hygiene around the world.
Russell, K., & Hailes, jean. (2016). What you need to know: periods, 112.
Taylor, J., Coates, E., Brewster, L., Mountain, G., Wessels, B., & Hawley, M. S.
(2014). Examining the use of telehealth in community nursing: identifying
the factors affecting frontline staff acceptance and telehealth adoption.
[Link]
Taylor, M., Carlson, G., Griffin, J., & Wilson, J. (2014). Managing Menstruation,
2.
COVER .......................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................ ii
Menstruasi ................................................................. 1
Premenstrual Syndrome (PMS)............................ 8
Pertanyaan terkait menstruasi .......................... 11
Menstrual Hygiene ..................................................... 12
Gangguan kesehatan jika tidak menjaga
menstrual hygiene....................................................... 17
2
MENSTRUASI
Menstruasi adalah keluarnya darah dari uterus
melalui vagina, biasa berlangsung 3-7 hari setiap
bulannya. Biasa terjadi dimulai pada usia 9 dan 16
tahun (J. Taylor et al., 2014).
3
Siklus menstruasi:
Siklus menstruasi adalah saat antara hari pertama
satu periode haid dan hari pertama hari periode
berikutnya. Siklus bervariasi dari satu orang ke
orang lain. Rentangnya berkisar 21 hari sampai 35
[Link] haid biasa mengalir sekitar lima hari,
tetapi pada beberapa remaja puteri bisa lebih
pendek atau lebih panjang. Dalam dua tahun
pertama, menstruasi mungkin tidak terjadi setiap
bulan (belum teratur) (M. Taylor, Carlson, Griffin, &
Wilson, 2014).
Selama siklus menstruasi, jumlah hormon estrogen
dan progesteron yang dihasilkan oleh indung telur
berubah. Bagian pertama siklus menstruasi yang
dihasilkan oleh ovarium adalah sebagian estrogen.
Estrogen ini yang akan menyebabkan tumbuhnya
lapisan darah dan jaringan yang tebal diseputar
endometrium. Di pertengahan siklus, indung telur
melepas sebuah sel telur yang dinamakan ovulasi.
Bagian kedua siklus menstruasi, yaitu antara
pertengahan sampai datang menstruasi
berikutnya, tubuh wanita menghasilkan hormon
progesteron yang menyiapkan uterus untuk
4
kehamilan. Menstruasi disebabkan oleh
berkurangnya estrogen dan progesteron secara
tiba-tiba, terutama progesteron pada akhir siklus
ovarium bulanan. Dengan mekanisme yang
ditimbulkan oleh kedua hormon di atas terhadap
sel endometrium, maka lapisan endometrium
dapat dikeluarkan disertai dengan perdarahan
yang normal.
CONTOH SIKLUS MENSTRUASI 28 HARI
SISTEM REPRODUKSI HORMON PADA WANITA
WANITA
HARI KE 1-6 Hari pertama adalah hari
pertama dalam siklus
menstruasi jika anda tidak
mengalami kehamilan dan
menandakan siklus
menstruasi anda dimulai.
Catat lah atau masukkan
dalam pengingat HP silus
menstruasimu. Sehingga
mempermudah pemantauan
siklus menstruasi.
Hormon dari otak
menyebabkan indung telur
menghasilkan kantung kecil
5
cairan (folikel) yang
mengandung telur yang
belum matang.
HARI KE 7-14 Darah menstruasi biasanya
berhenti pada hari ke 7,
mungkin juga ada yang lebih
cepat.
Satu folikel tumbuh dan
menghasilkan telur.
Lapisan rahim menjadi lebih
tebal jika telur dibuahi, maka
akan ditanam pada dinding
rahim tersebut (estrogen
meningkat, progesteron
menurun).
HARI KE 14 hormon menyebabkan sel
telur tumbuh dan keluar dari
folikel dan meninggalkan
indung telur, hal ini disebut
dengan ovulasi.
7
perubahan suasana hati (mood swing), depresi,
kelelahan, merasa lemas, mudah tersinggung,
kecemasan, penurunan kemampuan kognitif, agresi,
mudah marah, mengalami gangguna tidur dan
berkeinginan makan makanan tertentu (ngidam).
8
Hal yang dapat dilakukan untuk meringankan
gejala PMS (Panay, 2014):
1. Melakukan kompres hangat jika mengalami
nyeri abdomen. Menggunakan kantung
kompres atau botol air mineral yang dialas
dengan handuk.
2. Melakukan latihan pernafasan atau yoga untuk
meringankan gejala tubuh yang tidak enak.
3. Istirahat yang cukup selama periode
menstruasi.
4. Menjaga kebersihan diri (mandi, ganti
pembalut dan pakaian) selama menstruasi
untuk meningkatkan rasa nyaman diri.
5. Meningkatkan konsumsi makanan yang
mengandung banyak serat: sayur dan buah.
9
latihan jasmani jika sedang dalam siklus
menstruasi. Tetapi malu untuk menjelaskannya
pada teman, terutama teman laki-laki (Byworth,
2017).
Perlu di ingat bahwa menstruasi merupakan hal
yang normal dan wajar dialami wanita. Merupakan
suatu pertanda kematangan fungsi seksual. Dan
merupakan yang dialami juga oleh ibu dari teman
teman laki-laki kita (Dowshen, 2016). Menstruasi
tidak berarti kotor. Sehingga tidak perlu merasa
malu mengenai menstruasi yang merupakan hal
alami dan tidak perlu menghindar jika remaja
puteri sedang mengalami menstruasi (Scott, 2017).
Dengan menjelaskan kepada teman lelaki kita,
masa siklus menstruasi kita akan lebih terasa
ringan untuk dilewati dan mungkin mereka (laki-
laki) akan lebih merasa berbelas kasih. Sehingga
bagi remaja puteri yang mengalami PMS, akan jauh
merasa lebih baik (Scott, 2017).
10
Pertanyaan lain berkaitan mesntruasi
Dapatkan kita berenang saat siklus
menstruasi?
Tentu saja kegiatan jasmani seperti berenang
dapat dilakukan saat menstruasi. ini adalah pilihan,
kamu tidak perlu melakukannya jika kamu merasa
tidak nyaman. Jika kamu ingin berenang saat
menstruasi sudah akan berakhir, kamu dapat
memilih warna baju renang yang gelap agar
menyamarkan darah menstruasi (Bell, 2017).
Dapatkah terjangkit infeksi jika berenang saat
siklus menstruasi?
Kita tidak akan tertular penyakit pada daerah
kelamin jika berenang saat menstruasi. Infeksi
kulit dan sakit perut karena menelan air yang
terkontaminasi adalah keluhan yang lebih umum.
Hal ini karena air kolam renang diberi cairan
klorin. Cairan ini lah sebenarnya yang dapat
mengiritasi vagina bagi remaja yang sensitif
terhadap cairan klorin, sehingga berisiko terkena
infeksi jamur. Segera lah mandi jika sudah selesai
berenang dan hindarilah duduk-duduk dengan
pakaian renang yang basah (Bell, 2017).
11
Menstrual Hygiene
Apa itu menstrual hygiene?
Menstrual hygiene adalah perawatan diri sendiri
untuk mempertahankan kebersihan diri selama
siklus menstruasi (House, Mahon, & Cavill, 2012).
Apa manfaat dari menstrual hygiene?
Manfaat menstrual hygiene adalah untuk menjaga
kebersihan diri selama siklus menstruasi
berlangsung, baik untuk menjaga kebersihan
dirinya (mencegah infeksi dan iritasi kulit) dan
juga lingkungannya (mencegah penyebaran
penyakit melalui darah menstruasi). Selain itu
menstrual hygiene yang baik juga dapat
meningkatkan percaya diri bagi remaja puteri
selama siklus menstruasi karena telah mampu
menjalankan dengan baik masa tak nyaman tiap
bulannya dengan baik (Epstain, Elizabeth, 2014) .
Apa yang harus dilakukan untuk menjaga
menstrual hygiene?
Praktik menstrual hygiene yang baik (UKAID,
2013) seperti dibawah ini:
12
pertanyaan Petunjuk praktis yang baik dilakukan
oleh remaja puteri
Bagaimana Bicaralah pada wanita lain yang kamu
menghadapi percayai mampu memberikan
menstruasi informasi seperti ibumu, saudara
pertama? perempuan atau bibi.
Jangan takut, karena menstruasi
adalah hal normal dan alami yang
dialami oleh wanita
Jika kamu sedang disekolah,
sampaikan kepada guru wanita atau
temanmu.
Berbahagialah! Tubuhmu sekarang
sedang berkembang menjadi wanita
muda.
Bagaimana Gunakan pembalut
mengumpulkan Jangan memasukkan material apapun
darah kedalam vagina
menstruasi agar Ganti pembalut setiap 3-8 jam sekali
tidak mengotori atau sesuai kebutuhan/banyaknya
baju? darah
Bagaimana cara Cuci pakaian dalam, pakaian yang
membuang/me terkena darah menstruasi dan
mbersihkan pembalut yang dapat digunakan
pembalut yang kembali/pembalut kain/ re-usable
telah dipakai? pads dengan detergen, rendam 15-20
menit sebelum dibilas.
Jika kamu menggunakan pembalut
yang dapat digunakan
kembali/pembalut kain/ re-usable
pads, masukkan pembalut yang tepah
dipakai dalam kantung plastik, dan
bawalah pulang ke rumah atau sampai
kamu menemukan tempat yang
menyediakan deterjen untuk
mencucinya.
Keringkan re-usable pads di bawah
sinar matahari, pastikan benar-benar
kering sebelum dipakai kembali.
Setrika re-usable pads setelah di cuci.
13
Jika kamu menggunakan pembalut
sekali pakai, cucilah bersih lalu
masukkan kedalam kantung plastik
dan kamu dapat membuangnya
kedalam tong sampah
Cucilah tangan dengan sabun setelah
mengganti pembalut
Bagaimana Mandilah minimal dua kali sehari dan
menjaga gunakanlah sabun.
keberihan diri Cuci atau basuh daerah kewanitaan
selama menggunakan air bersih tiap harinya
menstruasi? (pagi dan sore).
Jaga selalu pembalut yang digunakan
dalam keadaan nyaman dan kering,
jangan biarkan terlalu penuh. Jika
terlalu penuh, hal ini akan
membuatmu tidak nyaman dan
meningkatkan resiko infeksi.
Bawalah selalu pembalut ganti dalam
tasmu.
Selalu basuh area kewanitaan dari
depan ke belakang setelah BAB dan
BAK.
Bagaimana Kamu dapat menggunakan botol
mengatasi rasa berisi air hangat yang dilapis serbet
sakit pada dan diletakkan dibagian yang perut.
perut/kram saat Jaga selalu tubuhmu dalam keadaan
siklus aktif atau lakukan peregangan atau
menstruasi latihan jasmani ringat.
Kamu juga bisa mengkonsumsi obat
penghilang rasa sakit sesuai resep
dokter
Bagaimana Cuci bersih pembalut sekali pakai
caranya menjaga sampai bersih, jika bisa setelah itu
kebersihan dapat dibakar.
lingkungan Jangan buang pembalut sekali pakai
selama tanpa dibersihkan terlebih dahulu,
menstruasi? terutama di sungai dan air mengalir
lainnya. Karena dapat menyebabkan
penyebaran penyakit.
14
Setelah mencuci pembalut, pastikan
tidak ada darah tersisa di lantai dan
kloset kamar mandi, siram dengan air
lantai kamar mandi hingga bersih. Jika
tidak, darah akan mempermudah
penyebaran penyakit dari satu orang
kepada orang lainnya.
15
menstruasi sehingga memudahkan bakteri dan
jamur untuk berkembang pada darah.
MATERIAL YANG BAIK MATERIAL YANG BURUK
Pembalut buatan pabrik Tissue toilet, merupakan
yang banyak beredar di bahan yang dapat
warung atau menyerap tapi tidak
supermarket dapat menampung
Re-usable pads yang banyak darah
terbuat dari bahan yang menstruasi, mudah
menyerap dengan baik robek dan lengket.
berupa handuk lembut, Bahan yang tidak
katun, woll kualitas baik menyerap: seperti
(dengan syarat dapat poliyester
dicuci bersih dan Spons/busa
digunakan dalam Potongan pakaian yang
kondisi bersih: telah di kotor
cuci dengan detergen
dan telah dikeringkan)
(USAID, 2014)
Gangguan Kesehatan Jika Tidak Menjaga
Menstrual Hygiene
Tindakan yang Gangguan Kesehatan
Dilakukan
Mengunakan Menyebabkan bakteri
pembalut yang tidak penyebab infeksi bergerak
bersih menuju saluran kemih
Tidak menggangti Pembalut yang basah
pembalut menyebabkan iritasi kulit
Memasukkan material Menyebabkan bakteri
tidak bersih kedalam masuk dan menginfeisi
16
vagina leher rahim (cerviks) dan
saluran kemih
Membasuh area Membuat bakteri dari
kewanitaan dari anus masuk dan menyebar
belakang ke depan ke vagina dan saluran
kemih
Menggunakan Menyebabkan itirasi pada
pembalut saat tidak vagina
menstruasi
Melakukan hubungan Meningkatkan terjadinya
seksual saat infeksi menular seksual
menstruasi atau meningkatkan
penularan HIV dan
Hepatitis B
Tidak mencuci tangan Dapat menyebarkan
setelah mengganti infeksi menular berupa
pembalut Hepatitis B dan jamur
17
Referensi
Bell, Jean. Is it okay to swim during your period?.
Diakses 21 juli 2017.
[Link]
swim-during-your-period-491f0fb2eea8
Dowshen, Steven. Girl Reproductive System.
Diakses 23 Juli 2017.
[Link]
s/en/teens/female-
[Link]?[Link]=ctg#catgirls
Epstain, Elizabeth. (2014, May 28). 28 Reasons
Why Menstrual Hygiene Matters. May
30,[Link]://[Link]/2014/0
5/28/28-reasons-why-menstrual-hygiene-
matters/
Gavin, Marry, L. All About Menstruation. Diakses 20
July 2017.
[Link]
/en/teens/[Link]
House, S., Mahon, T., & Cavill, S. (2012). A resource
for improving menstrual hygiene around the
world.
Panay, N. (2014). The National Association for
Premenstrual Syndrome ( NAPS ) Guidelines
on Premenstrual Syndrome.
Russell, K., & Hailes, jean. (2016). What you need
to know: periods, 112.
Scott, Ellen. Boys need to be taught about
periods, too. Diakses 31 Juli
2017. [Link]
need-to-be-taught-about-periods-too-
6584513/#ixzz4oQcLkQ8S
Taylor, J., Coates, E., Brewster, L., Mountain, G.,
Wessels, B., & Hawley, M. S. (2014). Examining
18
the use of telehealth in community nursing:
identifying the factors affecting frontline staff
acceptance and telehealth adoption.
[Link]
Taylor, M., Carlson, G., Griffin, J., & Wilson, J. (2014).
Managing Menstruation, 2.
USAID. 2013. Understanding and Managing
Menstruation. Uganda: Author.
UKAID. 2014. Menstruation hygiene management
for schoolgirls. India: Author.
---. Diakses 23 Juli 2017.
[Link]
1/teen-boy-grow-up-girls-periods-arent-gross
19