0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan86 halaman

Manfaat Menelan Sperma Saat Haid

Proposal tesis ini membahas pengaruh pendidikan kesehatan menstrual hygiene terhadap sikap remaja puteri dalam kebersihan diri selama menstruasi. Penelitian ini akan menggunakan desain kuasi eksperimen dengan sampel remaja puteri SMA di Jakarta yang akan dibagi menjadi kelompok kontrol dan intervensi. Data akan dikumpulkan menggunakan kuesioner sikap dan diolah menggunakan uji statistik untuk menganalisis pengaruh intervens

Diunggah oleh

uniq computer
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan86 halaman

Manfaat Menelan Sperma Saat Haid

Proposal tesis ini membahas pengaruh pendidikan kesehatan menstrual hygiene terhadap sikap remaja puteri dalam kebersihan diri selama menstruasi. Penelitian ini akan menggunakan desain kuasi eksperimen dengan sampel remaja puteri SMA di Jakarta yang akan dibagi menjadi kelompok kontrol dan intervensi. Data akan dikumpulkan menggunakan kuesioner sikap dan diolah menggunakan uji statistik untuk menganalisis pengaruh intervens

Diunggah oleh

uniq computer
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN MENSTRUAL


HYGIENE (PMH) TERHADAP SIKAP REMAJA
PUTERI DALAM KEBERSIHAN DIRI
SELAMA MENSTRUASI

PROPOSAL TESIS

Meinarisa
1506778994

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
AGUSTUS, 2017
UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN MENSTRUAL


HYGIENE TERHADAP SIKAP REMAJA
DALAM KEBERSIHAN DIRI
SELAMA MENSTRUASI

PROPOSAL TESIS

Diajukan sebagai satu syarat untuk memperoleh gelar


Magister keperawatan

Meinarisa
1506778994

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
AGUSTUS, 2017
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

Saya yang bertanda tangan di bawah ini dengan sebenarnya menyatakanbahwa

proposal tesis inisaya susun tanpa tindakan plagiarisme sesuai dengan ketentuan

yang berlaku di Universitas Indonesia, jika dikemudian hari ternyata saya

melakukan tindakan plagiarisme, saya bertanggung jawab sepenuhnya dan

meneima sanksi yang dijatuhkan oleh Universitas Indonesia.

Depok, Juni 2017

Meinarisa
PERNYATAAN ORISINALITAS

Proposal ini adalah hasil karya saya,

Dan semua sumber yang dikutip maupun dirujuk

telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Meinarisa

NPM : 1506778994

Tanda Tangan :

Tanggal : Mei 2017


HALAMAN PERSETUJUAN

Proposal tesis ini diajukan oleh:


Nama : Meinarisa
NPM : 1506778994
Program Studi : Magister Ilmu Keperawatan
Judul Tesis : Pengaruh Pendidikan Kesehatan Menstrual Hygiene
Terhadap Sikap Remaja Dalam Kebersihan Diri
Selama Menstruasi

Telah disetujui oleh pembimbing untuk dipertahankan di hadapan Dewan Penguji


dalam seminar Proposal Tesis sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk
memperoleh gelar Magister Keperawatan pada Program Studi Magister Ilmu
Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia.

PEMBIMBING

Pembimbing I : Prof. Dra. Setyowati, [Link]., M. [Link]., Ph.D. ( ....................)

Pembimbing II : Tri Budiati, [Link]., [Link]., [Link]. (.....................)

Ditetapkan di : Depok

Tanggal : Agustus 2017


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkah dan limpahan
rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan proposal tesis ini. Penulisan proposal tesis
ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Keperawatan Kekhususan Keperawatan Maternitas pada Program Studi
Magister Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia. Saya
menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak maka
penyusunan proposal tesis ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
(1) Prof. dra. Setyowati, [Link].,[Link], PhD. selaku pembimbing I yang telah
banyak memberikan perhatian, arahan dan masukan dalam penyusunan
proposal tesis ini;
(2) Ns. Tri Budiati, [Link]., [Link], [Link]. selaku pembimbing II yang
telah banyak memberikan dukungan, arahan dan masukan dalam penyusunan
proposal tesis ini serta untuk menempuh pendidikan Malgister Keperawatan
Kekhususan Keperawatan Maternitas Universitas Indonesia;
(3) Dra. Junaiti Sahar, [Link]., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Ilmu
Keperawatan yang memberikan dukungan untuk menempuh pendidikan di
Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia;
(4) Dr. Novy H.C. Daulima, SKp., MSc selaku Ketua Program Studi Magister
Keperawatan yang memberikan dukungan untuk menempuh pendidikan di
Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia;
(5) Seluruh dosen dan staf Magister Keperawatan FIK UI yang telah ikut
berpartisipasi selama proses penulisan;
(6) Orang tua dan keluarga yang telah memberikan dukungan material dan moral
serta menjadi sumber inspirasi untuk sampai pada tahap ini; dan
(7) Rekan-rekan seperjuangan Magister Keperawatan tahun 2015 yang telah
mencurahkan dukungan dan motivasi selama proses penulisan.
Akhir kata, kiranya Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan semua pihak
yang telah membantu. Semoga tesis ini membawa manfaat bagi pengembangan
ilmu keperawatan khususnya Keperawatan Maternitas.

Depok, Agustus 2017

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................... i
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ........................................................ ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ............................................... iii
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN................................................ iv
KATA PENGANTAR ........................................................................................ v
DAFTAR ISI ....................................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ............................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xi
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ....................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah .................................................................................. 4
1.3. Tujuan Penelitian ................................................................................... 5
1.3.1. Tujuan Umum .............................................................................. 5
1.3.2. Tujuan Khusus ............................................................................. 5
1.4. Manfaat Penelitian ................................................................................. 5
1.4.1. Praktik Pelayanan Keperawatan Maternitas ............................... 5
1.4.2. Perkembangan Ilmu Keperawatan Maternitas .......................... 5
1.4.3. Perkembangan Riset selajutnya ................................................ 5
1.4.4. Bagi Masyarakat ...................................................................... 6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 7
2.1 Remaja ................................................................................................. 7
2.2 Menstruasi ............................................................................................ 9
2.3 Menstrual Hygiene (MH) ...................................................................... 11
2.4 Sikap .................................................................................................... 15
2.5 Konsep Promosi Kesehatan .................................................................. 17
2.6 Faktor yang mempengaruhi sikap remaja puteri dalam keberishan diri
Selama menstruasi ............................................................................... 18
2.7 Kerangka Teori .................................................................................... 19
BAB 3 KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI
OPERASIONAL.................................................................................... 20
3.1. Kerangka Konsep ................................................................................. 20
3.2. Hipotesis .............................................................................................. 21
3.3. Defenisi Operasional ............................................................................. 22
BAB 4 METODE PENELITIAN .................................................................... 23
4.1. Rancangan Penelitan ............................................................................ 23
4.2. Populasi dan Sampel ............................................................................ 24
4.3. Tempat dan Waktu Penelitian .............................................................. 26
4.4. Etika Penelitian .................................................................................... 26
4.5. Alat Pengumpulan Data ....................................................................... 29
4.6. Prosedur Pengumpulan Data ................................................................ 29
4.7. Pengolahan Data dan Rencana Analisis Data ...................................... 33
DAFTAR SKEMA

Skema 2.1 Kerangka Teori ................................................................................. 19


Skema 3.1 Kerangka Konsep ............................................................................. 20
Skema 4.1 Rancangan Penelitian ....................................................................... 23
Skema 4.2 Alur Kegiatan Pelaksanaan Penelitan .............................................. 32
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Defenisi Operasional .......................................................................... 22


Tabel 4.1 Analisis Univariat .............................................................................. 34
Tabel 4.2 Analisis Bivariat ................................................................................. 35
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Penjelasan Penelitian


Lampiran 2 Lembar Persetujuan Berpartisipasi Dalam Penelitian
Lampiran 3 Kuesioner
Lampiran 4 Protokol Pelaksanaan Penelitian
Lampiran 5 Protokol Pedoman Intervensi
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menstruasi adalah siklus normal yang dialami wanita lebih dari separuh hidup
mereka dan merupakan bagian dari kesehatan fisik umum wanita. Meskipun
remaja mengalami menarche pada usia yang berbeda, menarche merupakan
bagian penting dalam proses pematangan reproduksi wanita, mewakili transisi
masa kanak-kanak menjadi seorang wanita (Grifiin, 1999).

Siklus menstruasi umumnya pertama kali terjadi pada usia 12 dan 13 tahun,
meskipun juga dapat terjadi dari usia sembilan sampai 17 tahun (Taylor, Carlson,
Griffin, & Wilson, 2014). siklus mesntruasi pada wanita berlangsung 4-5 hari,
tetapi ada juga yang hanya 2 hari dan paling lama 8 hari (Nelson, 2013).
Menstruasi akan terus berjalan secara reguler sampai usia seorang wanita
mengalami menopause, atau sekitar usia 45-50 tahun (BKKBN, 2016). Darah
menstruasi paling banyak keluar pada hari pertama dan kedua, serta pada remaja
tahun pertama dan kedua merupakan masa dimana darah menstruasi paling
banyak keluar dan periode menstruasi belum teratur, hal ini umum terjadi karena
penyesuaian dari hormon dalam tubuh (Taylor et al., 2014).

Menstruasi yang terjadi pada masa remaja, membutuhkan informasi yang


memadai mengenai siklus menstruasi karena hal informasi mengenai menstruasi
akan digunakan sepanjang hidup wanita selama wanita tersebut mengalami
menstruasi (Unesco, 2014). WHO menunjukan jumlah remaja di dunia berjumlah
1,2 milyar atau 18% dari jumlah penduduk dunia (2014). Sensus penduduk tahun
2010 menunjukkan sebanyak 43,5 juta atau sekitar 18% dari jumlah penduduk
Indonesia berusia antara 10-19 tahun. Jumlah remaja perempuan di Indonesia,
menurut Sensus Penduduk 2010 adalah 21.489.600 atau 18,11% dari jumlah
perempuan. Pada 2035, menurut Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035
(Bappenas, BPS, dan UNFPA 2013) remaja perempuan akan berjumlah
22.481.900 atau 14,72% dari jumlah perempuan Indonesia. Jadi meskipun

1
2

jumlahnya proporsinya sedikit menurun, namun jumlah tersebut masih cukup


besar (BKKBN, 2016).

Kesehatan remaja dalam Indonesia Demographic and Health Survey 2012 Special
Report on Adolescent Reproductive Health menunjukkan sebanyak 82% remaja
puteri mengetahui bahwa menstruasi merupakan tanda perubahan fisik pada
remaja untuk menjadi wanita dewasa. Sumber informasi terbesar mengenai
menstruasi bagi remaja puteri adalah ibu sebesar 53%, informasi dari teman
sebesar 41% dan sisanya dari sumber lain seperti ayah, saudara, guru, kerabat
dekat dan tenaga kesehatan.

Hasil SDKI 2012 Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) menunjukkan bahwa


pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi belum memadai. Dapat dilihat
dengan hanya 35,3% remaja perempuan yang mengetahui bahwa perempuan
dapat hamil dengan satu kali berhubungan seksual. Mengetahui penularan HIV-
AIDS sebesar 41,2%, mengetahu satu atau lebih gejala PMS pada perempuan
sebesar 15,3% dan hanya 7,2% yang mengetahui tempat pelayanan informasi dan
konseling kesehatan reproduksi remaja (Kementrian Kesehatan RI, 2014).

Selain itu, Hasil Riskesdas 2010 menunjukkan masih rendahnya pengetahuan


komprehensif tentang HIV dan AIDS pada penduduk usia 15-24 tahun, yaitu
11,4%. Padahal target yang harus dicapai pada tahun 2014 adalah 95%. Hal ini
mencerminkan bahwa pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi termasuk
HIV dan AIDS masih rendah sehingga diperlukan kerja keras untuk memberikan
pendidikan kesehatan reproduksi kepada remaja. Fakta lain menunjukkan bahwa
kelompok remaja yang pernah mendapat penyuluhan kesehatan reproduksi baru
25,1%. Fakta ini menunjukkan bahwa informasi yang jelas dan benar tentang
kesehatan reproduksi termasuk pencegahan IMS sangat diperlukan di kalangan
remaja (Kementrian Kesehatan RI, 2015).

Masalah yang dihadapi wanita tiap bulannya berkaitan dengan menstruasi antara
lain adalah mengalami keputihan sebanyak 10%, rasa gatal sebanyak 5%,
premenstrual sindrome 16%, rasa tidak nyaman selama menstruasi 6%, darah
menstruasi yang sangat banyak 10%, mengalami kram perut 11%. Namun remaja

Universitas Indonesia
3

puteri sering tidak memperhatikan perubahan tersebut. Karena kurangnya


informasi dan tidak mengetahui tempat untuk berobat atau penangana yang tepat
terhadap gejala tersebut (Sofy, 2014). Salah satu penyebab masalah keputihan
adalah karena pratik kebersihan selama menstruasi yang tidak bersih. Perlu
adanya perhatian segera untuk mempromosikan penggunaan alat sanitasi yang
higienis selama masa menstruasi (Anand, Singh, & Unisa, 2015).

Menstrual hygiene dapat didefenisikan sebagai menjaga kebersihan selama


menstruasi dengan penggunaan material untuk menyerap atau mengumpulkan
darah menstruasi, dan bahan yang digunakan dapat diganti sesering mungkin
sesuai kebutuhan saat mengalami menstruasi, juga termasuk penggunaan sabun,
air untuk mencuci area kewanitaan dan bagian tubuh lainnya dan tempat
mengganti bahan penyerap darah menstruasi (pembalut) (USAID, 2013).
Menstrual hygiene adalah hal penting selama wanita mengalami proses
menstruasi. Menstrual hygiene membutuhkan akses akan air bersih untuk mencuci
tangan dan pembalut ganti, tempat private untuk mengganti pembalut dan
pembalut bersih untuk mengganti pembalut yang penuh dengan darah menstrasi
(UKAID, 2012).

Menstrual hygiene yang tidak adekuat akan merugikan remaja putri. Penelitian
yang dilakukan oleh Unicef di Indonesia pada tahun 2015 di empat provinsi
menunjukkan bahwa satu dari tujuh remaja putri tidak masuk sekolah tiap
bulannya selama 1-3 hari dikarenakan menstruasi yang dialaminya, terkait dengan
kurangnya informasi mengenai menstrual higiene, kurangnya fasilitas sekolah
yang tidak memadai untuk menunjang kebersihan diri remaja putri selama
menstruasi, dan salahnya informasi mengenai obat pengurang rasa nyeri selama
menstruasi. Informasi yang buruk mengenai menstrual hygiene menyebabkan
meningkatnya resiko infeksi, rasa ketidaknyamanan dan iritasi pada remaja putri.
Penelitian tersebut juga mendapati bahwa remaja puteri paling banyak tidak
masuk karena menstruasi adalah pada tingkat Sekolah menengah Pertama (SMP)
(Unicef, 2015).

Program Unesco dalam memperbaiki Mestrual Hygiene Management (MHM)


antara lain dengan pemberian modul mengenai menstrual hygiene, dikenal juga

Universitas Indonesia
4

dengan program water, Sanitary and Hygiene (WASH) (Unesco, 2014). Program
ini dikembangkan dan terdiri dari hardwere intervention (intervensi perangkat
keras) dimana terdiri dari penyediaan pembalut baik yang dapat di pakai berulang
atau yang sekali pakai, penyediaan air dan sabun untuk mengganti pembalut dan
mencuci tangan, serta toilet untuk mengganti pembalut, serta tempat membuang
pembalut yang baik. Kedua adalah softwere intervention (intervensi perangkat
lunak) berupa pendidikan kesehatan dimana remaja akan diberikan pendidikan
mengenai menstrual hygiene baik secara lansung maupun booklet atau handbook.
Menurut Hennegan & Montgomery (2016) intervensi perangkat keras tidak secara
signifikan memberikan perubahan terhadap perubahan MHM, sedangkan
intervensi perangkat lunak memberikan perubahan yang signifikan terhadap
MHM.

Dinas kesehatan RI juga memiliki program untuk kesehatan reproduksi remaja


yaitu Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja (PKPR) dimulai sejak tahun 2003
dengan ciri khas pelayanan berupa konseling dan peningkatan kemampuan remaja
dalam menerapkan Pendidikan dan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS). PKPR
dapat terlaksana dengan optimal bila membentuk jejaring dan terintegrasi dengan
lintas program, lintas sektor, organisasi pariwisata dan LSM terkait kesehatan
remaja. PKPR dapat dilaksanakan diluar gedung fasilitas kesehatan seperti
sekolah, karang taruna, gereja dan tempat-tempat lain dimana remaja berkumpul.
PKPR sangat erat terkait dengan kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang
juga dibina oleh puskesmas setempat (Departemen Kesehatan RI, 2014).

Sampai akhir tahun 2014 terdapat 81,69% kabupaten/kota yang memiliki minimal
4 puskesmas PKPR dan 2.999 dari 9.731 puskesmas (31%) yang mampu
melaksanakan PKPR. Cakupan kabupaten/kota yang mampu laksana PKPR terus
meningkat, namun masih dibawah target yaitu 90% pada akhir 2014. Pada akhir
2019, ditargetkan 45% puskesmas di Indonesia telah menyelenggarakan kegiatan
kesehatan remaja (Departemen Kesehatan RI, 2014). Di Jambi terdapat 4
puskesmas yang diharapkan mampu menjalankan PKPR namun hanya satu
puskesmas yang telah menjalankan program tersebut yaitu puskesmas Simpang
IV Sipin Jambi. Kegiatan yang telah dilakukan antara lain penyuluhan kesehatan

Universitas Indonesia
5

reproduksi remaja di sekolah-sekolah wilayah kerja puskesmas tersebut yaitu


Kecamatan Telanaipura Simpang IV Sipin Jambi (Dinas Kesehatan Kota Jambi,
2016).

Kegiatan pelayanan kesehatan reproduksi remaja juga terdapat dalam Program


Generasi Berencana (GenRe) yang diselenggarakan oleh Badan Kependudukan
dan Keluarga Berencana (BKKBN). Program GenRe yang dilaksanakan melalui
pendekatan dari dua sisi yaitu pendekatan kepada remaja dan pendekatan pada
keluarga yang memliliki anggota keluarga remaja. Remaja yang menjadi sasaran
program adalah penduduk usia 10-24 tahun yang belum menikah. Kegiatan yang
pernah dilakukan antara lain adalah pemilihan duta mahasiswa, seminar remaja,
gelar seni budaya, pentas komedi, penyebaran poster, Junior Eagle Award, GenRe
Goes ti School (Departemen Kesehatan RI, 2014).

Kedua program tersebut menyasar remaja sebagai target program, namun yang
lebih dikenal adalah PKPR. Hal ini dikarenakan program PKPR memiliki
pelayanan yang lebih komprehensif termasuk tahap tindak lanjut. Namun untuk di
beberapa wilayah Indonesia saja yang sangat populer dan diwilayah lain tidak
mengenal program PKPR. Sebagai contoh, beberapa kota di Sumatyera termasuk
Jambi. Belum banyak remaja yang mengetahu mengenai program tersebut,
padahal sasaran utama program tersebut adalah remaja. Tidak adanya informasi
terkait program yang disediakan pemerintah, membuat remaja semakin jauh
dalam menyadari dan memahami hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi
mereka sendiri (Wulandari, 2014).

Lembaga yang tidak dijalankan oleh pemerintah alias lembaga non-pemerintah,


lebih cenderung gesit dan efektif untuk merangkul remaja, seperti program PKBI
di berbagai wilayah Indonesia atau LSM-LSM terkait lainnya. Di berbagai
kesempatan, pihak non-pemerintah tersebut cenderung mensosialisasikan program
Pelayanan Ramah Remaja yang mereka buat dan benar-benar meyakinkan remaja
akan tingkat keamanan dari penggunaan layanan tersebut. Selain itu, program dari
pemerintah acap kali menciptakan hambatan yang menyulitkan remaja untuk
mengakses, seperti jam buka yang terbentuk waktu sekolah remaja dan kurangnya
keramahan dari petugas. Di beberapa Puskesmas, masih ada saja petugas yang

Universitas Indonesia
6

melayani dengan cemberut atau pun ketus. Kedua hal ini menjadi jurang pemisah
bagi remaja untuk mendapatkan haknya melalui program dari pemerintah,
sehingga tidak berjalan efektif. Jika dibandingkan lagi dengan Program Ramah
Remaja yang dimiliki oleh lembaga non-pemerintah, mereka memiliki nilai
tambah pada kedua kelemahan program pemerintah. Mereka bahkan
mengefektifkan program dengan layanan tak tatap muka, seperti melalui sms,
telepon, media sosial dan sebagainya. Selain itu, pelayanan diberikan dengan
keramahan yang membuat remaja nyaman dan terbuka untuk membicarakan
permasalahan yang remaja miliki (Wulandari, 2104).

Sikap remaja puteri terhadap menstruasi merupakan sikap yang bercampur antara
positif dan negatif. Misalnya remaja puteri di China setingkat SPM mengangga
malu (85%), tumbuh dewasa (66%), dan merasa feminin (40%) saat mengalami
menstruasi pertama (Tang, Yeung & Lee, 2003). Di Taiwan lebih dari separuh
siswa SD perempuan merasa bahwa menstruasi memiliki pengaruh terhadap tugas
sekolah, emosi, kehidupan sehari-hari dan interaksi sosial (Chang & Chen, 2008).
Studi oleh Chang et al (2009) remaja puteri di China menunjukkan sikap negatif
mengenai menstruasi, menunjukkan emosi negatif terhadap persepsi mereka pada
menstruasi, menunjukkan persiapan pada menarche yang tidak adekuat dan
ketidak siapan mereka pada menstrual hygiene yang baik saat menstruasi. Dalam
beberapa penelitian, sebagian besar remaja puteri mendapatkan informasi dari ibu
dan pihak sekolah sebagai sumber infomasi pertama bagi mereka mengenai
menstruasi (Beausang & Razor, 2000; Chang & Chen, 2008; Cheng et al., 2007;
Houston, Abraham, Huang, & D'Angelo, 2006).

Penelitian di China, menyelidiki dampak intervensi keperawatan yang


dikembangkan secara kultural dan dikembangkan pada kesehatan menstruasi
gadis remaja di China. Desain kuasi eksperimental dan pretest-posttest menguji
efek edukasi interaktif mengenai kesehatan menstruasi. Sampel akhir meliputi 116
gadis remaja. Peningkatan yang signifikan diamati pada kelompok intervensi
mengenai pengetahuan menstruasi, kepercayaan diri dalam melakukan perilaku
layanan kesehatan menstruasi, dan perilaku perawatan diri dismenore. Program
pendidikan yang dikelola memperbaiki pengetahuan menstruasi gadis remaja,

Universitas Indonesia
7

mendorong sikap yang lebih positif, mendorong kepercayaan diri, dan


memperbaiki praktik pereda nyeri (Su & Lindell, 2016).

Salah satu metode untuk menyebarluaskan informasi kesehatan adalah dengan


melakukan promosi kesehatan. Promosi kesehatan dengan media penyuluhan dan
demonstrasi merupakan upaya yang dapat digunakan. Agar lebih dapat menjamin
peningkatan pengetahuan, sikap dan perubahan perilaku (Notoatmodjo, 2005).

Karena menstrual hygiene harus dilakukan terus menerus sepanjang perempuan


menstruasi maka diperlukan pemahaman dan pengetahuan mumpuni akan
menstrual hygiene sejak dari remaja dan sikap dari remaja puteri. Beberapa
intervensi mengenai menstruasi pada remaja putri sudah banyak dilakukan di luar
negeri. Di Indonesia sudah ada penelitian dengan pengaruh pendidikan kesehatan
mengenai menstrual hygiene terhadap sikap saat menstruasi remaja putri. Namun
tidak menggunakan metode penggunaan booklet, demonstrasi dan ceramah.
Sebagai tenaga kesehatan perawat khususnya di bidang maternitas diharapkan
mampu memberikan intervensi yang tepat dengan kebutuhan remaja putri
mengenai menstrual hygiene.

Berdasarkan hal diatas maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan


pemberian edukasi menstrual hygiene dan melihat pengaruhnya terhadap sikap
remaja puteri dalam kebersihan diri selama menstruasi.

1.2 Perumusan Masalah


Jumlah remaja puteri dan wanita yang mengalami gatal pada area organ
reproduksi saat menstruasi masih tinggi. Masalah remaja puteri yang mengalami
keputihan akibat menstrual hygiene yang buruk juga masih tinggi dan tidak
mendapatkan pengobatan yang tepat karena kurangnya informasi yang
didapatkan. Hanya seperempat dari remaja puteri di Indonesia yang terpapar
promosi kesehatan. Sedangkan menstrual hygiene adalah hal yang penting,
karema infomasi tersebut akan dipergunakan sepanjang umur wanita selama
wanita tersebut mengalami menstruasi. Dan tentunya informasi tersebut
diturunkan dan disebarkan pada keluarga terutama anak perempuan mereka kelak.
Pemberian informasi ini harus diberikan sejak menarche pada masa remaja. Hasil

Universitas Indonesia
8

penelitian yang dilakukan bahwa praktik dan pengetahuan menstrual hygiene pada
remaja belum memadai. Penelitian mengenai pendidikan kesehatan mengenai
menstrual hygiene terhadap sikap remaja puteri dalam kebersihan diri selama
menstruasi sangat penting dilakukan. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan
penelitian untuk mengidentifikasi bagaimana pengaruh pendidikan kesehatan
menstrual hygiene (PMH) terhadap sikap remaja putri dalam kebersihan diri
selama menstruasi.

1.3 Tujuan Penelitian


4.6.1. Tujuan Umum
menguji pengaruh pendidikan kesehatan menstrual hygiene (PMH) terhadap sikap
remaja putri dalam kebersihan diri selama menstruasi.

4.6.2. Tujuan Khusus


a. Diidentifikasinya karakteristik responden remaja puteri (pendidikan ibu, usia,
usia menarche, pendapatan keluarga)
b. Diidentifikasinya perbedaan sikap remaja puteri sebelum diberikan
pendidikan kesehatan pada kelompok intervensi dan kontrol
c. Diidentifikasinya perbedaan sikap remaja puteri sesudah diberikan
pendidikan kesehatan pada kelompok intervensi dan kontrol
d. Diidentifikasinya perbedaan sikap remaja puteri sebelum dan sesudah
diberikan pendidikan kesehatan menstrual hygiene terhadap sikap remaja
puteri dalam kebersihan diri selama menstruasi pada kelompok intervensi
e. Diidentifikasinya perbedaan sikap remaja puteri sebelum dan sesudah
diberikan pendidikan kesehatan menstrual hygiene terhadap sikap remaja
puteri dalam kebersihan diri selama menstruasi pada kelompok kontrol
f. Diidentifikasinya pengaruh pendidikan kesehatan menstrual hygiene terhadap
sikap remaja puteri dalam kebersihan diri selama menstruasi
g. Diidentifikasinya faktor-faktor yang memengaruhi sikap remaja puteri dalam
kebersihan diri selama menstruasi

Universitas Indonesia
9

1.4 Manfaat Penelitian


4.6.1. Praktik Pelayanan Keperawatan Maternitas
Diharapkan dengah hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi
intervensi remaja putri mengenai menstrual hygiene. Selain itu dapat dijadikan
bahan dalam mengembangkan penilaian sikap remaja putri.

4.6.2. Perkembangan Ilmu Keperawatan Maternitas


diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah data dan kepustakaan mengenai
intervensi yang dilakukan pada remaja putri umtuk meningkatkan sikap mengenai
menstrual hygiene.

4.6.3. Pengembangan Riset Selanjutnya


Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah rujukan dan kepustakaan
mengenai intervensi yang dilakukan pada remaja putri umtuk meningkatkan sikap
remaja puteri mengenai menstrual hygiene. Bagi peneliti selanjutnya juga dapat
mengembangkan intervensi lainnya dengan variabel dan metode lainnya.

4.6.4. Bagi Masyarakat


Diharapkan hasil penelitian ini dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan
sikap remaja putri mengenai menstrual hygiene, meningkatkan remaja putri
menjaga kebersihan diri selama masa menstruasi.

Universitas Indonesia
10

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Remaja
Remaja berdasarkan WHO berusia 10-19 tahun, sedangkan menurut BKKBN
remaja adalah yang berusia 10-24 tahun dan menurut Peraturan Menteri
Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014 adalah yang berusia 10-18 tahun. Saat
seorang anak memasuki usia remaja, maka terjadi perubahan-perubahan pada
dirinya. Perubahan tersebut lah yang disebut dengan masa pubertas. Pada masa
remaja, baik remaja puteri maupun remaja putera akam mengalami perubahan
umum seperti (1) akselerasi dalam pertumbuhan yang mengakibatkan cepatnya
tinggi badan bertambah; (2) karakteristik perkembangan seks primer karena
perkembangan kelenjar gonat yang memicu kelenjar seks yaitu testis pada pria
dan indung telur pada wanita sehingga mengalami menstruasi; (3) perkembangan
karakteristik seks skunder yaitu perubahan pada alat kelamin pertumbuhan
payudara pada wanita, pertumbuhan rambut pada area ketiak dan kemaluan dna
perkembangan lebih lanjut dari organ seks, (4) terjadi perubahan komposisi tubuh
khususnya pada distribusi lemak dan otot; (5) perubahan sistem peredaran darah
dan pernafasan, yang menyebabkan meningkatnya toleransi pada peningkatan
kekuatan dan kegiatan olahraga (Cohen, 2014).

Pubertas pada remaja terlihat seperti keadaan yang tiba-tiba, namun faktanya
merupakan sebuah proses yang bertahap yang dimulai sejak masa pembuahan.
Dalam tubuh remaja tidak ada hormon baru yang diproduksi, tetapi merupakan
perubahan jumlah hormon yang sudah ada, dimana beberapa hormon mengalami
peningkatan dan yang lainnya mengalami penurunan. Sistem endokrin akan
menerima instruksi untuk meningkatkan atau mengurangi sirkulasi hormon
tertentu dari sistem saraf pusat, sistem endokrin ini bekerja seperti termostat
(Cohen, 2014).

Sistem endokrin ini seperti umpan balik yang penting pada masa awal pubertas.
Jauh sebelum masa remaja awal, pada masa bayi, sebuah lingkaran umpan balik
berkembang yang melibatkan kelenjar pituitari (yang mengendalikan hormon
secara umum), hipotalamus (bagian otak yang mengendalikan kelenjar pituitari)

Universitas Indonesia
11

dan kelenjar gonad (pada pria dikenal dengan testis, dan pada wanita dikenal
dengan ovarium). Gonad melepaskan hormon seks; androgen dan estrogen.
Meskipun pada seseorang secara khas menganggap androgen sebagai hormon pria
dan estrogen sebagai hormon wanita, kedua jenis hormon di produksi oelh setiap
jenis kelamin, dan keduanya hadir pada pria dan wanita. Selama masa remaja,
rata-rata pria menghasilkan lebih banyak androgen daripada estrogen dan wanita
sebaliknya (Cohen, 2014).

Meskipun para ilmuwan tidak sepenuhnya yakin, ada peningkatan bukti bahwa
meningkatnya kadar protein yang diproduksi oleh sel lemak, leptin, mungkin
merupakan sinyal yang paling penting dalam pemicu pubertas baik pada remaja
pria maupun wanita. Gagasan ini konsisten dengan pengamatan bahwa individu
mungkin tidak mengalami masa pubertas sampai mereka mengumpulkan sejumlah
lemak tubuh tertentu dan konsisten dengan penelitian yang menunjukkan bahwa
stres, penyakit, kekurangan nutrisi dan olahraga dapat menunda terjadinya
pubertas. Sinyal yang dibawa oleh meningkatnya kadar leptin menginstruksikan
hipotalamus untuk berhenti melakukan hal-hal yang telah menghambat pubertas
dan mulai melakukan hal-hal yang membuatnya bergerak. Sebagai hasil dari
kedua proses ini, hipotalamus memulai serangkaian kejadian hormonal yang pada
akhirnya menghasilkan pematangan seksual individu (Nelson, 2013).

Perubahan fisik remaja dipengaruhi oleh perkembangan pubertas, pengaruh


genetik dan biologis, peristiwa penting dalam hidup, status sosial ekonomi,
nutrisi, jumlah lemak dalam tubuh dan adanya penyakit kronis (American
Physicological Association, 2012).

Penelitian menyebutkan bahwa remaja puteri yang tidak siap secara fisik dan
emosional akan mengalami masa yang sulit dalam menerima periode menstruasi.
Remaja puteri mengatakan bahwa persiapan yang perlu dilakukan sebelum
mengamai menarche dan menstruasi adalah mendapatkan informasi yang
memadai mengenai perubahan tubuh mereka melalui ibu mereka. Ibu para remaja
sebaiknya memberikan dukungan emosional, menjelaskan mengenai menstrual
hygiene, dan memberikan informasi mengenai perubahan perasaan saat remaja.
Sedangkan remaja putri tidak menyukai jika ayah mereka berkomentar mengenai

Universitas Indonesia
12

perubahan fisik yang mereka alami dan bahwa ibu tidak mendiskusikan perubahan
ini dengan ayah di depan remaja (American Physicological Association, 2012).

Penampilan fisik pada masa remaja umumnya dianggap sangat penting. Baik
remaja puteri maupun putra diketahui menghabiskan waktu berjam-jam
memikirkan penampilan, terutama agar sesuai dengan norma kelompok yang
paling dikenali remaja. Pada saat yang sama remaja juga memiliki gaya yang unik
bagi diri mereka sendiri, dan remaja juga dapat menghabiskan waktu berjam-jam
berada di kamarmandi dan didepan cermin untuk mencapai tujuan
tersebut(American Physicological Association, 2012).

Perubahan kognitif pada remaja adalah remaja semakin fokus dan matang dalam
mempertimbangkan masa depan melalui implikasi dari tindakan mereka saat ini.
Hal ini juga dapat dilihat dengan remaja yang lebih memperhatikan kesehatan.
Meskipun perilaku ini dapat berubah sepanjang masa remaja, bahkan sampai
dewasa. Meningkatnya kemampuan remaja memandang masalah kompleks dan
mencari jalan keluar atau solusi yang sederhana terhadap masalah tersebut. Hal ini
menunjukkan bahwa remaja mengembangkan pemikiran abstrak (Cohen, 2014).

Hubungan sosial pada remaja semakin dianggap penting dan memainkan peran
utama dalam pengembangan emosional remaja. Remaja sering mencari teman
sebaya yang keyakinan, nilai, bahkan tingkah laku yang mirip dengan keluarga
mereka. sementara pengaruh teman sebaya dan pengaruh sosial lainnya sering
memperkuat nilai keluarga, beberapa pengaruh dapar mengekspos remaja
terhadap nilai-nilai yang berbeda secara signifikan dari keluarga. Dengan
demikian, kebutuhan untuk mengimbangi tekanan teman sebaya dan harapan
keluarga menciptakan tantangan baru dan ketegangan keluarga saat remaja mulai
membuat keputusan independen (Fisher, 2012).

2.2 Menstruasi
Menarche adalah menstruasi untuk pertama kali bagi remaja puteri, merupakan
indikator pertama kapasitas reproduksi pada wanita dan faktor penting yang
berhubungan dengan transisi anak perempuan menjadi wanita dewasa (Levesque,
2011). Menarche adalah momen haid pertama diikuti dengan periode menstruasi

Universitas Indonesia
13

tiap bulannya yang akan terus berlangsung sampai dengan menopause, sedangkan
menstruasi adalah keluarnya darah melalui vagina tiap bulannya karena tidak ada
tanda pembuahan sehingga terjadi pelepasan dinding rahim yang menyebabkan
perdarahan (Redchi, 2008).

Menstruasi adalah perdarahan melalui vagina pada perempuan tiap bulannya.


Menstruasi atau periode bulanan merupakan fungsi alami pada tubuh perempuan.
Menstruasi pertama kali pada umumnya terjadi pada remaja putri pada usia 12 dan
13 tahun, meskipun dapat juga terjadi mulai dari usia 9 dan 17 tahun. Perubahan
fisik dan perkembangan bervariasi di masing-masing individu. Terjadinya
menstruasi juga dibarengi dengan perkembangan payudara, tumbuh rambut pada
area pubik dan bawah ketiak, pinggul menjadi bulat dan keluar cairan putih
bening melalui vagina (Taylor et al., 2014).

Jumlah hormon estrogen dan progesteron selama siklus menstruasi yang


dihasilkan oleh ovarium akan berubah. Estrogen akan dihasilkan pada awal siklus
menstruasi, hormon estrogen ini akan menyebabkan tumbuh lapisan darah dan
jaringan tebal disekitar endometrium. Pada pertengahan siklus ovarium akan
mengeluarkan satu sel telur yang matang. Pada tahap ini, sel telur akan memiliki
kesempatan yang besar untuk dibuahi jika ada sperma yang masuk. Jika sel telur
tidak dibuahi, maka endometrium akan meluruh dan terjadilah proses menstruasi
(Nair & Taylor, 2010).

Banyak remaja merasakan perubahan fisik dan emosional beberapa hari sebelum
periode menstruasi datang. Jika hal ini berlangsung tiap periode menstruasi akan
datang, hal ini dikenal dengan premenstrual syndrome (PMS). Genjala fisik antara
lain dapat berupa sakit kepala, nyeri atau rasa tidak nyaman pada punggung,
kembung, peningkatan berat badan, badan terasa tidak enak, payudara menjadi
lunak/lembut, ruam pada kulit. Gejala psikologis dan perilaku yang muncul antara
lain perubahan suasana hati (mood swing), depresi, kelelahan, merasa lemas,
mudah tersinggung, kecemasan, penurunan kemampuan kognitif, agresi, mudah
marah, mengalami gangguna tidur dan berkeinginan makan makanan tertentu
(ngidam). Banyak penelitian yang meneliti penyebab PMS, namun belum dapat
dipastikan penyebab utama dari PMS tersebut. Dugaan sementara PMS dapat

Universitas Indonesia
14

terjadi pada remaja puteri dan dewasa awal hingga akhir adalah karena perubahan
hormonal sebelum menstruasi, kelebihan esterogen, kekurangan progesteron dan
peningkatan prolaktin berkaitan dengan gejala PMS. Selain itu, perubahan pada
kimia otak, yaitu serotonin yang berfluktuasi sebelum terjadi menstruasi dikaitkan
dengan gangguan suasana hati dan depresi terkait PMS. Serotonin yang rendah
juga mengarah pada kelelahan, ngidam makanan tertentu dan sulit tidur (Mandal,
2014).

Mengatasi PMS dapat dilakukan dengan mengatur pola hidup menjadi lebih sehat.
Dengan mengatur makanan yang dikonsumsi yaitu mengurangi konsumsi lemak,
konsumsi gula, garam dan kafein, meningkatkan makanan dengan serat tigngi
seperti meningkatkan konsumsi buah dan sayuran hijau sebagai sumber
magnesium, zat besi dan kalsium. Selain itu dengatur waktu olahraga, berlatih
yoga atau peregangan dan pernafasaan. Dukungan keluarga dan teman juga sangat
membantu mengurangi gejala PMS (Panay, 2014).

Informasi mengenai menstruasi pada remaja putra sangat membantu memberikan


gambaran mengenai menstruasi. Hal ini akan memberikan remaja putra cukup
informasi mengenai perkembangan tubuh mereka dan juga lawan jenisnya pada
masa remaja. Bagi remaja putri menstruasi dapat dianggap tidak menyenangkan,
mengganggu dan membuat rasa tidak nyaman bahkan lebih buruk lagi. Karena itu
mereka membutuhkan bantuan dan rasa empati saat mengalami hal tersebut.
Sehingga dirasa perlu remaja putera sebagai teman mengetahui apa yang dialami
remaja puteri bahkan dapat menawarkan dukungan dan empati kapan pun mereka
bisa. Selama ini di banyak negara hal ini sulit untuk dijalankan karena kurangnya
informasi dini mengenai menstruasi dan perkembangan remaja sehingga para
lelaki atau remaja putera diak menemukan jalan yang cocok untuk membantu
remaja puteri (Kapoor, 2015).

Penelitian kualitatif yang dilakukan pada 23 laki-laki (usia 18-24 tahun) dan
dianalisis untuk memahami bagaimana remaja memahami mengenai menstruasi.
Hasilnya menunjukkan bahwa remaja putera pertama kali belajar mengenai
menstruasi melalui keluarga mereka, terutama melalui menarche saudara
perempuan mereka, remaja putera tahu bahwa menarche dialami remaja puteri

Universitas Indonesia
15

saat pubertas. Remaja putera juga mengembangkan sikap dan mitos dimana
menstruasi dianggap kotor, sampai pada akhirnya mereka mengerti saat
pengalaman mengenai hubungan intim mereka lalui (Allen, Kaestle, & Goldberg,
2011).

2.3 Menstrual Hygiene (MH)


Menstrual Hygiene merupakan hal penting dalam kehidupan perempuan. Untuk
menjaga kebersihan tetap terjaga selama menstruasi perempuan membutuhkan
akses yang baik mengenai air, sabun, sanitasi dan kebersihan lingkungan berupa
toilet bersih yang dapat digunakan selama periode menstruasi. Menstrual hygiene
sangat dipengaruhi oleh water, sanitary and hygiene (WASH), kesehatan seksual
dan reproduksi serta pendidikan. Hal ini sering terabaikan karena dipengaruhi oleh
ketidak setaraan jender, pendidikan yang kurang pada perempuan, hal-hal yang
dianggap tabu (House, Mahon, & Cavill, 2012).

Praktik menstrual hygiene yang dilakukan remaja puteri antara lain adalah
menggunakan pembalut dan menggantinya tiap 4-8 jam tergantung jumlah darah
menstruasi yang keluar. Remaja puteri dapat memilih pembalut sekali pakai atau
yang dapat dipakai berulang kali setelah di cuci dan dikeringkan. Pemilihan
material pembalut juga harus diperhatikan. Material pembalut yang baik harus
memenuhi sarat antara lain adalah dapat menyerap darah menstruasi dengan baik,
lembut dikulit dan tidak menyebabkan iritasi. Untuk re-usable pad dapat memilih
menggunakan kain berbahan dasar kain katun dan untuk penggunaannya setelah
dipakai harus di cuci bersih menggunakan sabun detergen dan dikeringkan dengan
baik di bawah sinar matahari dan digantung dengan baik kemudian di setrika.
Pembalut ini murah, dapat digunakan berulang dan bertahan hingga satu tahun
jika menggunakan bahan yang bagus seperti handuk (UKAID, 2013).

Selain pemilihan dan penggunaan pembalut, yang termasuk dalam menstrual


hygiene adalah penggunaan sabun untuk mandi dua kali sehari saat menstruasi,
menggunakan sabun untuk mencuci tangan setelah mengganti pembalut serta
ketersedian air bersih untuk mencuci pembalut dan tangan. Kebersihan
lingkungan juga perlu diperhatikan yaitu dengan menyiram kloset setelah buang

Universitas Indonesia
16

air kecil atau mencuci pembalut, membuang pembalut sekali pakai ketempat
sampah dan jangan membuang pembalut langsung ke sungai (UKAID, 2013).

Informasi mengenai menstruasi pada remaja putra sangat membantu memberikan


gambaran mengenai menstruasi. Hal ini akan memberikan remaja putra cukup
informasi mengenai perkembangan tubuh mereka dan juga lawan jenisnya pada
masa remaja. Bagi remaja putri menstruasi dapat dianggap tidak menyenangkan,
mengganggu dan membuat rasa tidak nyaman bahkan lebih buruk lagi. Karena itu
mereka membutuhkan bantuan dan rasa empati saat mengalami hal tersebut.
Sehingga dirasa perlu remaja putera sebagai teman mengetahui apa yang dialami
remaja puteri bahkan dapat menawarkan dukungan dan empati kapan pun mereka
bisa. Selama ini di banyak negara hal ini sulit untuk dijalankan karena kurangnya
informasi dini mengenai menstruasi dan perkembangan remaja sehingga para
lelaki atau remaja putera diak menemukan jalan yang cocok untuk membantu
remaja puteri (Kapoor, 2015).

2.4 Sikap
Mekanisme mental yang mengevaluasi, membentuk pandangan, mewarnai
perasaan dan akan ikut menentukan kecenderungan perilaku individu terhadap
manusia lainnya atau sesuatu yang sedang dihadapi oleh individu, bahkan
terhadap diri individu itu sendiri disebut fenomena sikap. Fenomena sikap yang
timbul tidak saja ditentukan oleh keadaan objek yang sedang dihadapi tetapi juga
dengan kaitannya dengan pengalaman-pengalaman masa lalu, oleh situasi di saat
sekarang, dan oleh harapan-harapan untuk masa yang akan datang. Sikap
manusia, atau untuk singkatnya disebut sikap, telah didefinisikan dalam berbagai
versi oleh para ahli (Azwar, 2007).

Sikap atau Attitude senantiasa diarahkan pada suatu hal, suatu objek. Tidak ada
sikap tanpa adanya objek (Gerungan, 2004). dapat disimpulkan bahwa sikap
adalah kecenderungan individu untuk memahami, merasakan, bereaksi dan
berperilaku terhadap suatu objek yang merupakan hasil dari interaksi komponen
kognitif, afektif dan konatif.

Universitas Indonesia
17

Menurut Alwisol (2009) intervensi dapat dilakukan untuk merubah sikap,


tergantung seberapa penting informasi atau intervensi yang didapatkan, ada
tidaknya penguatan dari dalam maupun luar diri individu, observasi diri dan
efikasi diri. Perubahaan tersebut dapat dilihat rata-rata dalam dua minggu. Sesuai
dalam penelitian mengenai program edukasi konsumsi makanan: meningkatkan
konsumsi buah dan sayur pada remaja. Dimana dalam penelitian tersebut
perubahan sikap dapat diukur setelah intervensi melalui self-report selama 3
minggu (Somsri, Satheannoppakao, Tipayamongkholgul, & Vatanasomboon,
2016).

2.5.1. komponen sikap


Azwar (2007) menyatakan bahwa sikap memiliki 3 komponen yaitu:
a. komponen kognitif
komponen kognitif merupakan komponen yang berisi kepercayaan seseorang
mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap.

b. Komponen afektif
Komponen afektif merupakan komponen yang menyangkut masalah emosional
subjek seseorang terhadap suatu objek sikap. Secara umum, komponen ini
disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu.

c. Komponen perilaku
Komponen perilaku atau komponen konatif dalam struktur sikap menunjukkan
bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri
seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya.

2.5.2. Karakteristik sikap


Azwar (2007) menyatakan karakteristik sikap memiliki yaitu:
a. Sikap disimpulakan dari cara-cara individu bertingkah laku
b. Sikap ditujukan mengarah kepada objek psikologis atau kategori, dalam hal
ini skema yang dimiliki individu menentukan bagaimana individu
mengkategorisasikan objek target dimana sikap diarahkan.
c. Sikap dipelajari.

Universitas Indonesia
18

d. Sikap mempengaruhi perilaku. Memegang teguh suatu sikap yang mengarah


pada suatu objek memberikan satu alasan untuk berperilaku mengarah pada
objek itu dengan suatu cara tertentu.

2.5 Konsep Promosi Kesehatan


Model promosi keperawatan dikenalkan oleh tokoh keperawatan yaitu Nola J
Pender pada tahun 1982 dalam upaya menjelaskan bagai mana orang melihat
kesehatan mereka dan bagaimana latar belakang dan kekuatan lingkungan
tindakan pribadi dan fungsi pribadi untuk memprediksi potensi perilaku kesehatan
(Sakraida, 2014). Model promosi keperawatan membagi proporsi utama menjadi
tiga kategori: karakteristik individu, pengaruh kognitif dan perilaku (Kazer &
Fitzpatrick, 2012). Kognitif diidentifikasi sebagai manfaat yang dirasakan dari
tindakan, ada tidak hambatan dalam bertindak, ada tidak Iself-efficacy, aktifitas
terkait yang mempengaruhi, pengaruh situasional. Komitmen seseorang untuk
sebuah rencana tindakan, serta tuntunan (McCullagh, 2013).

Pender benpadangan komprehensif dan optimis bahwa promosi kesehatan yang


dilakukan adalah untuk mencapai keseimbangan antara individu dan
lingkungannnya . Dalam model Pender perawat memainkan peran penting dalam
memberikan informasi yang lengkap dan akurat kepada klien untuk meningkatkan
effikasi diri, sikap dan perilaku. Informasi yang disampaikan akan lebih dapat
diterima jika pemberi infomasi telah memiliki keterampilan, pengetahuan dan
efikasi diri yang baik mengenai infomasi yang disampaikan (McCullagh, 2013).

Media yang digunakan untuk menyampaikan infomasi kesehatan akan


mempengaruhi keberhasilan penyaluran infomasi. Penggunaan media akan
memperjelas dan menjadi perantara penyampaian kejelasan pesan yang
disampaikan (Mubarak dkk, 2006). Semakin lengkap media yang digunakan maka
pemahaman dapat diterima dengan jelas dan akan meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman (Ibrahim & Nana, 2003). Media pendidikan kesehatan dibagi menjadi
media cetak, elektronik dan papan (bill board). Media cetak meliputi booklet,
leaflet, lembar balik, rubrik, photo, poster. Media elektronik dapat berupa televisi,
slide, radio dan film singkat. Media papan dapat berupa informasi yang

Universitas Indonesia
19

ditempatkan pada tempat umum yang berisi infomasi kesehatan (Notoatmodjo,


2010).

Pendidikan kesehatan yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan media cetak yaitu dalam bentuk booklet. Secara umum diketahui
bahwa pengetahuan lebih banyak diterima melalui indra mata sebanyak 75-87%
dan hanya 13-25% yang disalurkan oleh indra yag lainnya (Notoatmodjo, 2010).
Selain media cetak, metode demonstrasi diyakini sangat efektif dalam proses
penyampaian informasi karena menurut Silalahi (2012) menjelaskan bahwa
perilaku manusia sebagian besar diperoleh melalui proses kognitif dan meniru
orang lain (pemodelan). Perilaku model dipelajari melalui bahasa, keteladanan
dan nilai-nilai yang diyakini. Seseorang akan meniru suatu kemampuan atau
perilaku yang didemonstrasikan orang lain yang dianggap sebagai model.

2.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap remaja puteri dalam


kebersihan diri selama menstruasi
Berdasarkan penelitian Grose & Grabe (2014) bahwa nilai budaya mempengaruhi
praktik menstrual hygiene. Dimana wanita akan mengembangkan stereotip, sikap
dan penilaian terhadap mentruasi benrdasarkan budaya yang berkembang dan
diketahui oleh mereka. seringnya hal tersebut menempatkan kesehatan wanita
tersebut pada resiko kesehatan yang tidak higienis.

Penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa nilai budaya mempengaruhi


penggunaan pembalit dan praktik menstrual hygiene di banyak negara. Perbedaan
etnik menyebabkan perbedaan dalam kerentanan kulit menyebabkan prakti
kebersihan dan pemilihan pembalut menjadi berbeda tiap etniknya. Orang jepang
penggunaan pembalut tinggi pada hari pertama menstruasi, sangat berbeda dengan
orang yang berkulit gelap seperti keturunan afrika seperti negara Nigeria. Hal ini
dianalisa, dan dinyatakan bahwa orang dengan kulit lebih putih akan memiliki
iritasi sensorik yang lebih tinggi (Farage, Elsner, & Maibach, 2007).

Penilaian terhadap sikap remaja puteri dalam keberishaan diri selama menstruasi
dapat menggunakan Adolescent Menstrual Attitude Quessionaire khusus untuk
menilai sikap remaja saat mengalami menstrusi yang telah digunakan dalam

Universitas Indonesia
20

banyak penelitian di berbagai negara. Salah satunya adalah India, Inggris dan
Kanada. Terdiri dari 58 pertanyaan (Morse, Kieren, & Bottorff, 2009).

2.7 Kerangka Teori

Remaja

Perubahan fisik Perubahan kognitif Perubahan sosial Perubahan emosional Perubahan sistem
reproduksi remaja
puteri

menstruasi

Resiko infeksi meningkat

Menstrual Hygiene - Nilai budaya

Melakukan Menstrual Hygiene Tidak melakukan Menstrual Hygiene

Resiko infeksi menurun: Resiko infeksi menurun:


- Tidak mengalami gatal pada - Mengalami gatal pada daerah
daerah genital saat menstruasi genital saat menstruasi atau di
- Tidak mengalami keputihan luar masa menstruasi
setelah menstruasi - Mengalami keputihan setelah
- Mengganti pembalut 4-6 jam atau menstruasi
sesuai dibutuhkan - Tidak menganti pembalut 4-6
jam atau sesuai dibutuhkan

Sumber: Cohen, 2014; Nelson, 2013; Taylor et al., 2014;Omdivar & Begum,
2010; Grose & Grabe ,2014; Salili, Chiu dan Lai, 2001; Grigorenko & OKeefe,
2004;

Universitas Indonesia
21

BAB 3

KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep


Berlatarbelakang dari kerangkna teori yang telah dibuat di tinjauan pustaka,
peneliti mengembangkan kerangka konsep penelitian. Kerangka konsep
merupakan landasan berfikir hubungan variabel yang akan diteliti. Kerangka
konsep penelitian ini menggambarkan ada atau tidak ada pengaruh edukasi
menstrual hygiene terhadap peningkatan sikap pada remaja puteri. Penelitian ini
terdiri dari tiga variabel, yaitu variabel independen, variabel dependen dan
variabel pengganggu.

Responden dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok intervensi dan
kelompok kontrol. Kelompok intevensi pada penelitian ini diberikan Pendidikan
Kesehatan menstrual hygiene (PMH) sedangkan kelompok kontrol hanya
mendapatkan penyuluhan mengenai menstruasi. Kemudian kelompok intervensi
dan kelompok kontrol diberi kuesioner untuk dinilai.

Skema 3.1 Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Pendidikan Sikap remaja puteri


kesehatan menstrual dalam kebersihan diri
hygiene (PMH) selama menstruasi

Karakteristik remaja puteri: Variabel perancu


- Usia - Nilai budaya
- Usia menarche
- Pendapatan keluarga
- Pendidikan ibu
Universitas Indonesia
22

3.2. Hipotesis
3.2.1. Hipotesa mayor
Ada pengaruh edukasi menstrual hygiene terhadap peningkatan sikapremaja puteri
dalam kebersihan diri selama menstruasi.

3.2.2. Hipotesis minor

a. Terdapat perbedaan sikap remaja puteri dalam kebersihan diri selama


menstruasi sebelum diberikan edukasi menstrual hygiene pada kelompok
intervensi dan kelompok kontrol
b. Terdapat perbedaan sikap remaja puteri dalam kebersihan diri selama
menstruasi sesudah diberikan edukasi menstrual hygiene pada kelompok
intervensi dan kelompok kontrol
c. Terdapat perbedaan sikap remaja puteri dalam kebersihan diri selama
menstruasi sebelum dan sesudah diberikan edukasi menstrual hygiene pada
kelompok intervensi
d. Terdapat perbedaan sikap remaja puteri dalam kebersihan diri selama
menstruasi sebelum dan sesudah diberikan edukasi menstrual hygiene pada
kelompok kontrol
e. Terdapat pengaruh Pendidikan Menstrual Hygiene (PMH) terhadap sikap
remaja puteri dalam menjaga kebersihan diri selama menstruasi

Universitas Indonesia
23

3.3. Definisi Operasional


Tabel 3.1 Defenisi Operasional
Variabel Defenisi Operasional Alat Ukur dan Cara Hasil Ukur Skala
Ukur
Variabel Independen
Pendidikan Pemberian pendidikan kesehatan Pembagian kelompok Dibagi Kategorik
kesehatan mengenai cara menjaga menjadi dua
mensterual kebersihan diri selama kelompok
hygiene (PMH) menstruasi. Edukasi diberikan yaitu:
dengan cara edukasi kepada 0=kelompok
remaja puteri yang sudah kontrol
mengalami menstruasi melalui (booklet)
ceramah interaktif dan dilengkapi 1=kelompok
dengan booklet. Materi edukasi intervensi
menstrua hygiene meliputi cara (PMH:
memilih pembalut, menggunakan penyuluhan,
pembalut dan cara membersihkan demostrasi
diri dan menjaga kebersihan dan booklet)
lingkungan saat menstruasi.
Variabel Dependen
Sikap remaja Kepercayaan diri remaja puteri Menggunakan Dikelompokk Numerik
puteri dalam dalam menjaga kebersihan diri Adolescent Menstrual an dalam
kebersihan diri saat mengalami menstruasi Attitude skoring 58-
selama Questionnaire 290
menstruasi
Semakin besar
skor semakin
positif sikap
remaja puteri
Variabel perancu
Nilai budaya Nilai- nilai yang disepakati dan Menggunakan Dikelompokk Numerik
tertanam dalam suatu masyarakat kursioner nilai budaya an dalam
yang berasal dari kebiasaan, sebanyak 10 skoring 10-30
kepercayaan, dengan karakteristik pertanyaan
tertentu yang digunakan sebagai
acuan prilaku
Karakteristik remaja puteri
Usia menarche Pertama kali remaja puteri Data demografi Dinyatakan Numerik
mendapat menstruasi melalui satu dalam bentuk
peertanyaan tanggal

Pendapatan Pendapatan yang diperoleh Data demografi Dinyatakan Numerik


keluarga keluarga/orang tua remaja puteri melalui satu dalam bentuk
dijumlahkan dalam kurun waktu 1 pertanyaan rupiah
bulan

Usia Umur responden dengan satuan Diukur melalui aitem Dinyatakan Numerik
tahun yang dihitung sejak tahun pertanyaan dalam dengan hitung
kelahiran demografi rentang umur
karakteristik dalam tahun
responden tentang (12-14 tahun)
usia

Pendidikan ibu Pendidikan terakhir dari orang tua Diukur melalui aitem 1:pendidikan Kategorik

Universitas Indonesia
24

perempuan (yang menjelaskan pertanyaan dalam rendah (tidak


mengenai menstruasi dan demografi sekolah, SD,
menstrual hygiene)yang telah karakteristik SMP)
ditamatkan dan berdasarkan responden tentang 2: pendidikan
ijazah pendidikan ibu tinggi (SMA,
PT)
BAB 4
METODE PENELITIAN

4.1. Rancangan Penelitian

Desain penelitian adalah model yang digunakan peneliti untuk melakukan suatu
penelitian yang memberikan arah terhadap jalannya penelitian. Disain penelitian
yang dibuat sangat dipengaruhi oleh rumusan masalah yang akan dijawab pada
penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan eksperimen semu (quasi
eksperiment), yaitu penelitian yang mengujicobakan suatu intervensi pada
sekelompok subjek dan dengan atau tanpa kelompok pembanding. Rancangan
penelitian yang digunakan adalah pre-test and post-test with control, yaitu suatu
rancangan yang melakukan perlakuan pada satu kelompok dengan kelompok
pembanding. Efektifitas perlakukan dinilai dengan cara membandingkan nilai
post-test dengan pre-test.

Berikut bentuk rancangan dari penelitian ini:

Skema 4.1 Rancangan Penelitian

Desain Penelitian Eksperimen Semu dengan Rancangan Rangkaian Waktu

Pretest Posttest
R (Kelompok intervensi) 01 A 02

R (kelompok kontrol) 03 B 04

Keterangan:

Universitas Indonesia
25

01 : Sikap remaja puteri sebelum dilakukan Pendidikan kesehatan Menstrual

Hygiene (PMH) menggunakan penyuluhan, demonstrasi dan booklet pada

kelompok intervensi

02 : Sikap remaja puteri setelah dilakukan Pendidikan kesehatan Menstrual

Hygiene (PMH) menggunakan penyuluhan, demonstrasi dan booklet pada

kelompok intervensi

03 : Sikap remaja puteri sebelum dilakukan Pendidikan kesehatan Menstrual

Hygiene (PMH) menggunakan booklet pada kelompok kontrol

04 : Sikap remaja puteri setelah dilakukan Pendidikan kesehatan Menstrual

Hygiene (PMH) menggunakan booklet pada kelompok kontrol

A : perlakuan dengan menggunakan penyuluhan, demostrasi dan booklet

B : perlakukan dengan booklet

4.2. Populasi dan Sampel


4.2.1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua remaja puteri di SMP N 3 Seberang
Kota Jambi dan SMP N 24 kotabaru Kota Jambi, 234 siswi di SMP N 24 Kota
Jambi dan 214 siswi di SMP N 3 Kota Jambi.

4.2.2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah semua remaja puteri yang mengalami
menstruasi di SMP N 3 Seberang Kota Jambi dan SMP N 24 kotabaru Kota Jambi
dengan kriteria inklusi sebagai berikut:
Kriteria inklusi
a. Remaja usia 12-14 tahun
b. Dapat membaca, menulis dan berbahasa indonesia dengan baik
c. Bersedia menjadi responden dan menandatangani surat persetujuan menjadi
responden

Universitas Indonesia
26

Rumus besar sampel untuk uji hipotesis satu arah dengan rumus perhitungan
yaitu:
(Z1 + Z1 )2
2 2
n = 2
(1 2 )2

Keterangan:
n : Jumlah sampel
1
2 : Estimasi varian kelompok kontrol dan kelompok intervensi rumus 2 (12 +

22 )
1 /2 : Standar normal deviasi
1 : Standar normal deviasi untuk
1 : Nilai menan kelompok kontrol yang didapat dari penelitian sebelumnya
2 : Nilai mean kelompok uji coba dari pendapat peneliti
1 2 : Nilai beda mean yang dianggap bermakna antara kelompok kontrol
maupun kelompok intervensi

Berdasarkan penelitian Fakhri, Hamzehgardeshi, Golchin & Komili (2012)


didapatkan mean kelompok kontrol sebesar 295 dengan standar deviasi 37.
Sedangkan mean dari kelompok uji coba yang ditetapkan peneliti sebesar 300
dengan standar deviasi 35. Standar normal 1,96 dan standar normal deviasi
0,842.
Perhitungan besar sampel penelitian berdasarkan rumus sebagai berikut:
2 (69,96)(1,96 + 0,842)2
n=
(295 300)2
= 44
Berdasarkan perhitungan tersebut, diperoleh 44 responden untuk masing-masing
kelompok intervensi dan kelopok kontrol, dengan perkiraan drop out 10%. Untuk
mencegah kejadian drop out, maka jumlah sampel penelitian dengan perhitungan:

n
n =
(1 )

Universitas Indonesia
27

keterangan:
n : besar sampel yang dihitung
: perkiraan proporsi drop out

44
n = (1 0,9)

= 49
Sehingga sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 49 responden pada
kelompok intervensi dan 49 responden pada kelompok kontrol.

Sampel ditetapkan dalam penelitian ini menggunakan tehnik simple ramdom


sapling, yaitu suatu metode cara pengambilan sampel secara acak dan bersifat
sederhana dengan keyakinan bahwa karakteristik tertentu yang dimiliki oleh
populasi tidak dipertimbangkan dalam penelitian (Polit & Beck, 2012).

4.3. Tempat dan Waktu Penelitian


4.3.1. Tempat penelitian
Tempat penelitian ini adalah SMP N 3 Seberang Kota Jambi dan SMP N 24
Kotabaru Jambi. Jarak antara SMP adalah 7,28 KM atau 4,52 Mil.

4.3.2. Waktu penelitian


Waktu penelitian bulan Agustus 2017.

4.4. Etika Penelitian


Peneliti dalam melakukan penelitian mempertimbangkan prinsip etik. Pada
penelitian ini calon responden akan diberikan informed consent agar responden
mengerti maksud, tujuan dan dampak peneltian. Apabila calon responden bersedia
menjadi rsponden dalam penelitian ini maka harus menandatangani lembar
persetujuan. Namun apabila calon responden tidak bersedia atau menolak menjadi
responden maka peneliti harus tetap menghormati hak pasien. Selain itu juga
memperhatikan prinsip etik dalam penelitian (Polit & Back, 2013):

a. Menghormati harkat dan martabat manusia (respect for human dignity)


Peneliti memberikan hak kepada responden untuk menentukan apakah bersedia
menjadi responden tanpa resiko mendapat kerugian. Disamping itu, peneliti
memberikan informasi yang terbuka dan lengkap tentang pelaksanaan penelitian

Universitas Indonesia
28

meliputi tujuan dan manfaat penelitian, prosedur penelitian, keuntungan yang


didapat dan kerahasiaan informasi.

Penelitian ini dilakukan untuk mengungkap pengaru PMH dengan sikap remaja
pueri dalam menjaga kebersihan diri selama menstruasi, yang mana membuat
peneliti mengetahui karakteristik remaja, usia menarche, nilai budaya remaja. Hal
ini membuat rahasia remaja diketahi oleh peneliti. Oleh karena itu tindakan
peneliti dalam menghormati harkat dan martabat responden yaitu peneliti
menyampaiakn tujuan penelitian, prosedur penelitian, kemungkinan resiko dan
manfaat keikutsertaan responden dalam penelitian ini. Selain itu peneliti juga
memperkenalkan diri sebagai penanggung jawab penelitian dan memberikan
kesempatan kepada responden untuk bertanya dan menyampaikan pengunduran
diri dari penelitian tanpa adanya sangsi. Responden juga diminta untuk
menandatangani informed consent sebagai pernyataan persetujuan menjadi
responden secara sukarela.

b. Menghormati privasi dan kerahasiaan subjek (respect for privacy and


confidentiality)
Pada penelitian ini responden memiliki hak dasar mengenai privasi dan kebebasan
[Link] menjaga kerahasiaan dengan cara meniadakan identitas asli
seperti nama responden diganti dengan kode responden. Hasil pengambilan data
hanya akan diketahui oleh peneliti dan kolektor data. Pada proses pengolahan
data, analisis data dan publikasi identitas responden tidak diketahui orang lain.
Semua data disimpan beberapa bulan atau tahun setelah itu dihancurkan/dihapus
permanen.

c. Menghormati keadilan (respect for justice)

Prinsip etik ini yaitu setiap responden berhak untuk mendapatkan perlakukan yang
adil dalam penelitian. Prinsip keadilan pada penelitian memberikan keuntungan
dan beban secara merata sesuai dengan kebutuhan ressponden dan kemampuan
peneliti. Penerapan prinsip ini dimulai sejak pemilihan responden oleh peneliti
yang didasarkan pada tujuan penelitian dan tidak berdasarkan status sosial
responden. Semua responden memperoleh perlakukan yang sama dalam penelitian
yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh PMH terhadap sikap remaja puteri

Universitas Indonesia
29

dalam menjaga kebersihan diri selama menstruasi. Semua responden diberlakukan


adil tanpa melihat status sosial dan ekonomisemua responden mendapatkan
penjelasan maksud dan tujuan penelitian serta petunjuk dalam pengisian
kuesioner.
Hak responden terkait privasi meliputi anonymity dan confidentiality. Anonymity
ialah hak responden terkait kerahasiaan identitas dirinya. Confidentiality dapat
diterapkan dalam penelitian ini melalui tidan mencantumkan nama responden
melainkan kode responden pada alat pengumpulan data. Implementasi aspek
confidentiality meliputi peneliti menggunakan informasi dari responden hanya
untuk kepentingan penelitian. Data yang berasal dari responden disimpan
ditempat yang aman dan hanya bisa diakses oleh peneliti. Semua data yang
diperoleh diolah dan dimasukkan kedalam perangkat komputer dalam bentuk
kode, sehingga data responden tidak akan terbaca dan diketahui selain peneliti.
d. The principe of benefience and non-maleficence
Pada penelitian ini mempertimbangkan manfaat sebesar-besarnya bagi responden
penelitian dan bagi remaja puteri. Memberikan manfaat untuk menambah
pengetahuan responden mengenai menstrual hygiene. Prinsip bermanfaat terdiri
dari prinsip utama terbebas dari bahaya dan terbebas dari eksploitasi. Penerapan
prinsip ini dalam penelitian ini ialah melaui penjelasan tentang tujuan penelitian
dan isi dari informed consent, sehingga calon responden dapat menentukan
kesediaannya dalam mengikuti penelitian tanpa adanya paksaan. Siswi SMP N 3
dan SMP N 24 Kota Jambi yang terpilih sebagai calon responden setelah
mendapatkan penjelasan tentang tujuan penelitian, dan persetujuan penelitian
seluruhnya bersedia menjadi responden, walaupun mereka bingung dan
mengajukan pertanyaan tentang jalannya penelitian, akan tetapi seluruhnya
bersedia diambil datanya sebagai responden. Prinsip beneficience juga
dimaksudkan agar penelitian ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi
responden dengan memberikan perlindungan responden dari bahaya fisik,
psikologis dan eksploitasi. Salah satu manfaat dalam penelitian ini adalah
responden mendapat informasi tentang menstrual hygiene. Prinsip etik ini
mengindikasikan bahwa penelitian ini memberikan manfaat langsung dan tidak

Universitas Indonesia
30

langsung bagi responden, sehingga dapat menumbuhkan kerjasama antara peneliti


dan responden.

Penerapan prinsip non-maleficense inalah penelitian yang dilakukan tidak akan


menimbulkan kerugian fisik maupun psikologis responden serta tidak terdapat
eksploitasi. Peneliti memberikan waktu yang cukup bagi rsponden dalam mengisi
kuesioner, sehingga responden merasa nyaman dalam mengisi kuesioner. Risiko
yang terjadi pada responden ialah responden yang berada dalam tahap tumbuh
kembang remaja merasa malu atau tidak enak jila memiliki sikap negatif terhadap
menstruasi. Akan tetapi peneliti akan menjelaskan kembali bahwa penelitian ini
diproses dalam bentuk kode dan bersifat rahasia bagi orang lain. Peneliti
menjelaskan tidak akan mencemarkan nama baik responden dan
menginformasikan hasil pengambilan data kepada orang lain.

4.5. Alat Pengumpulan Data


Peneliti menggunakan instrumen yang berisi data demografi karakteristik
responden, kuesioner Adolescent menstrual Attitude Questionaire untuk menilai
sikapremaja puteri dalam menjaga kebersihan diri selama menstruasi dan
kuesioner budaya memengaruhi menstruasi untuk variabel perancu nilai budaya.

4.6. Prosedur pengumpulan data


Langkah-langkah pengumpulan data yang akan dilakukan oleh peneliti dapat
dijabarkan sebagai berikut:
4.6.1. Prosedur administrasi
a. Setelah proposal penelitian disetujui, peneliti mengurus surat keterangan lolos
uji etik dan surat ijin penelitian dari FIK UI.
b. Setelah mendapat ijin dari dinas kesehatan, dinas pendidikan setempat
menyampaikan proposal terkait tujuan dan pengambilan sampel penelitian.
c. Mengidentifikasi remaja puteri yang akan dijadikan responden dengan
kriteria inklusi.
4.6.2. Prosedur persiapan

Peneliti saat melakukan penelitian ini dibantu oleh empat orang asisten, dengan
kriteria sebagai berikut: (1) asisten peneliti merupakan perawat dengan latar
belakang pendidikan [Link] Ns; (2) asisten peneliti mengetahui dan menguasai isi

Universitas Indonesia
31

serta penggunaan instrumen penelitian; (3) asisten peneliti sudah melakukan


persamaan persepsi dengan peneliti tentang prosedur teknis yang akan dilakukan
selama penelitian; (4) asisten dan peneliti bertanggung jawab atas responden,
yang terbagi atas kelompok intervensi dan kelompok kontrol.

Tugas asisten peneliti adalah membantu peneliti memberikan sosialisasi,


menjelaskan maksud dan tujuan penelitian, membantu peneliti dalam mengurus
informed consernpada responden, membantu peneliti mendampingi responden
selama mengisi pernyataan tentang sikap remaja puteri dalam menjaga kebersihan
diri selama menstruasi terkait ada hal yang kurang jelas dan ingin ditanyakan,
membantu peneliti dalam pengumpulan dan pengecekan kelengkapan data serta
pegisian kuesioner.

4.6.3. Prosedur teknis


a. Peneliti memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan penelitian dan proses
penelitian sebagai penanggung jawab penelitian kepada kepala sekolah dan
guru-guru di sekolah SMP N 3 dan SMP N 24 Kota Jambi
b. Mengambil data remaja putri di sekolah SMP N 3 dan SMP N 24 Kota Jambi
sesuai kriteria inklusi
c. Responden yang memenuhi kriteria ditetapkan sebagai sampel dimana SMP
N 3 sebagai kelompok kontrol dan SMP N 24 Kota Jambi sebagai kelompok
intervensi
d. Prosedur pengumpulan data pada kelompok intervensi.
1) Peneliti memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan penelitian dan proses
penelitian sebagai penanggung jawab penelitian kepada remaja puteri di
sekolah SMP N 24 Kota Jambi
2) Meminta persetujuan kepada remaja puteri untuk menjadi responden
(informed consent)
3) Menjelaskan tentang komponen kuesioner, petunjuk pengisian kuesioner dan
cara mengisi kuesioner
4) Setelah responden merasa jelas terhadap penjelasan peneliti maka dilakukan
pengambilan data terkait dengan data demografi, sikap remaja puteri dalam
menjaga kebersihan diri selama menstruasi pada kelompok intervensi.

Universitas Indonesia
32

5) Mendampingi responden selama mengisi pernyataan terkain ada hal yang


kurang jelas dan ingin ditanyakan.
6) Hasil pengukuran dikumpulkan dan di cek kelengkapan data serta pengisian
kuesioner.
7) Melakukan PMH pada kelompok intervensi berupa penyuluhan, demostrasi
dan booklet
8) Melakukan pengambilan data pada kelompok intervensi setelah dilakukan
PMH, menyebarkan self-report dan mengumpulkan kembali setelah selesai
menstruasi
9) Hasil pengukuran dikumpulkan dan di cek kelengkapannya serta pengisian
kuesioner.
10) Setelah semua selesai, peneliti meninggalkan responden dan mengucapkan
terima kasih
11) Mengumpukan hasil pengambilan data kemudian diolah dan dianalisis.
e. Prosedur pengumpulan data pada kelompok kontrol
1) Peneliti memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan penelitian dan proses
penelitian sebagai penanggung jawab penelitian kepada remaja puteri di
sekolah SMP N 24 Kota Jambi
2) Meminta persetujuan kepada remaja puteri untuk menjadi responden
(informed consent)
3) Menjelaskan tentang komponen kuesioner, petunjuk pengisian kuesioner dan
cara mengisi kuesioner
4) Setelah responden merasa jelas terhadap penjelasan peneliti maka dilakukan
pengambilan data terkait dengan data demografi, sikap remaja puteri dalam
menjaga kebersihan diri selama menstruasi pada kelompok kontrol.
5) Mendampingi responden selama mengisi pernyataan terkain ada hal yang
kurang jelas dan ingin ditanyakan.
6) Hasil pengukuran dikumpulkan dan di cek kelengkapan data serta pengisian
kuesioner pretest dan menyebarkan self report dan dikumpulkan setelah
selesai menstruasi
7) Melakukan pengambilan data pada kelompok kontrol

Universitas Indonesia
33

8) Hasil pengukuran dikumpulkan dan di cek kelengkapannya serta pengisian


kuesioner.
9) Setelah semua data terkumpul, peneliti melakukan penyuluhan dan
menyebarkan booklet.
10) Setelah semua selesai, peneliti meninggalkan responden dan mengucapkan
terima kasih
11) Mengumpukan hasil pengambilan data kemudian diolah dan dianalisis.

Skema 4.1 Alur Kegiatan Pelaksanaan Penelitian

Uji etik dan ijin Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan


setempat

Menentukan responden berdasarkan kriteria inklusi


pengacakan sampel

Remaja puteri yang sudah menarche

Informed consent

Kelompok intervensi Kelompok kontrol

Pretest sikap pada remaja Pretest sikap pada remaja


puteri (hari ke-1) puteri (hari ke-1)

Pendidikan kesehatan Posttest self-efficacy pada


menstrual hygiene (PMH) remaja puteri
berupa penyuluhan,
demostrasi dan booklet -penyuluhan akhir,
menstruasi (60 menit) demostrasi dan booklet
menstruasi (60 menit)

Posttest sikap pada remaja


puteri

-penyuluhan akhir Universitas Indonesia


34

4.7. Pengolahan data dan Rencana Analisis data


4.7.1. Peolahan data
Sebelum melakukan analisis data beberapa tahapan harus dilakukan terlebih
dahulu. Tahapan tersebut terdiri dari:

a. Editing
Peneliti melakukan pengecekan instrumen yang berisi data demografi dan data pre
test dan post test yang telah dilakukan secara lengkap, jelas, relevan serta
konsisten.

b. Coding
Proses merubah data yang berbentuk huruf menjadi data berbentuk bilangan. Hal
ini penting untuk mempercepat pada saat entry data dan mempermudah pada saat
menganalisis data. Dalam penelitian ini kelompok intervensi diberi kode 1 dan
kelompok kontrol diberi kode 0.

c. Entry
Tahap ini merupakan tahap memproses data agar data yang di entry dapat
menganalisis dengan menggunakan komputer.

d. Cleaning
Merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang dimasukkan apakah mendapat
kesalahan atau tidak.

4.7.2. Rencana Analisa data


Setelah melakukan pengolahan data, maka langkah berikutnya adalah
menganalisis data. Analisis data dilakukan untuk menjawab dan membuktikan
hipotesa yang telah ditegakkan.

Universitas Indonesia
35

a. Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan deskripsi hasil penelitian.
Analisis univariat dalam penelitian ini adalah karakteristik responden pada kedua
kelompok meliputi edukasi menstrual hygiene, menstrual hygiene self-efficacy,
kelompok sebaya. Untuk data numerik dianalisis dengan menggunakan ukuran
tengah (mean, median) dan ukuran variasi (standar deviasi, range) dan confident
interval (CI) 95%. Sedangkan data jenis kategorik dianalisis dengan distribusi
frekuensi dengan ukuran persentase atau proporsi.

Tabel 4.1 Analisis Univariat

No Variabel Jenis Data/Skala Deskripsi


Pengukuran
1 Pendidikan Nominal Distribusi frekuensi,
kesehatan persentase
menstrual hygiene
2 Sikap remaja puteri Rasio Mean, median, SD, min-mak
mengenai dengan tingkat kepercayaan
menstrual hygiene 95%
3 Pendapatan Ordinal Distribusi frekuensi,
keluarga persentase
4 Usia Interval Mean, median, SD, min-mak
dengan tingkat kepercayaan
95%
5 Nilai budaya Rasio Mean, median, SD, min-mak
dengan tingkat kepercayaan
95%

b. Analisis Bivariat

Pada penelitian ini sebelum masuk analisis bivariat harus dilakukan uji
homogenitas dan normalitas.

1) Uji Homogenitas

Uji homogenitas varian untuk mengetahui bahwa sikap remaja puteri dalam
menjaga kebersihan diri selama menstruasi pada kedua kelompok tidak terdapat
perbedaan. Uji homogenitas pada penelitian ini menggunakan uji T-Test
Independent. Jika diperoleh nilai >0,05 maka disebut datanya homogen.

Universitas Indonesia
36

2) Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data tersebar secara normal
atau tidak dan menentukan uji parametrik yang digunakan. Uji yang digunakan
adalah uji saphiro-Wilk, karena jumlah sampel 50. Dara tersebut tersebar
normal apabila nilai kemaknaan (p) > 0,05. Jika data dikatakan normal untuk uji
hipotesis menggunakan uji parametrik, namun jika data dikatakan tidak normal
menggunakan uji non parametrik.

3) Uji Hipotesis
Uji hipotesis digunakan untuk membuktikan hipotesis penelitian yaitu melihat
pengaruh edukasi menstrual hygiene terhadap sikap remaja puteri pada kelompok
kontrol dan kelompok intervensi. Pada penelitian ini menggunakan analisa
bivariat yang tercantum pada tabel berikut.

Tabel 4.2 Analisis Bivariat

No Variabel Jenis Data Uji statistik Hasil


1 Uji Homogenitas Rasio Uji T-Test Data homogen
independent (P Value
0,05 )
2 Uji normalitas data Rasio Uji Sapiro wilk Data normal (P
Value 0,05 )
3 Uji hipotesis
a. Data terdistribusi normal
1) Sikap remaja puteri Rasio Uji T-Test Terdapat
dalam menjaga independent perbedaan
kebersihan diri sikap (P Value
selama menstruasi 0,05 )
sebelum diberikan
PMH pada
kelompok intervensi Rasio Uji T-Test Terdapat
2) Sikap remaja puteri independent perbedaan
dalam menjaga sikap (P Value
kebersihan diri 0,05 )
selama menstruasi
sebelum diberikan
booklet pada
kelompok kontrol
3) Sikap remaja puteri Rasio Uji T-Test Terdapat
dalam menjaga independent perbedaan
kebersihan diri sikap (P Value
selama menstruasi 0,05 )
sesudah diberikan
PMH pada

Universitas Indonesia
37

kelompok intervensi
4) Sikap remaja puteri Rasio Uji T-Test Terdapat
dalam menjaga independent perbedaan
kebersihan diri sikap (P Value
selama menstruasi 0,05 )
sesudah diberikan
booklet pada
kelompok kontrol
5) Pengaruh PMH Rasio Uji T-Test Terdapat
terhadap sikap dependent perbedaan
remaja puteri sikap (P Value
b. Data terdistribusi 0,05 )
tidak normal
1) Sikap remaja puteri Rasio Uji Wilcoxon Terdapat ada
dalam menjaga test perbedaan
kebersihan diri sikap (P Value
selama menstruasi 0,05 )
sebelum diberikan
PMH pada
kelompok
intervensi
2) Sikap remaja puteri Rasio Uji Wilcoxon Terdapat
dalam menjaga test pengaruh (P
kebersihan diri Value 0,05 )
selama menstruasi
sebelum diberikan
booklet pada
kelompok kontrol
3) Sikap remaja puteri Rasio Uji Wilcoxon Terdapat
dalam menjaga test perbedaan
kebersihan diri sikap (P Value
selama menstruasi 0,05 )
sesudah diberikan
PMH pada
kelompok
intervensi
4) Sikap remaja puteri Rasio Uji Wilcoxon Terdapat
dalam menjaga test perbedaan
kebersihan diri sikap (P Value
selama menstruasi 0,05 )
sesudah diberikan
booklet pada
kelompok kontrol
5) Pengaruh PMH Rasio Uji Man Terdapat
terhadap sikap whitney pengaruh sikap
remaja puteri (P Value
0,05 )

Nilai budaya Rasio Uji pearson Ada pengaruh


product (P Value

Universitas Indonesia
38

moment 0,05 )

DAFTAR PUSTAKA

Alligood, M. R. (2014). Nursing theorists and their work (8th ed.). St. Louis, MO:
Elsevier/Mosby.
Alwisol. (2010). Psikologi Kepribadian, edisi Revisi. Jakarta: UMM Press
Allen, K. R., Kaestle, C. E., & Goldberg, A. E. (2011). of Family Issues More
Than Just a. [Link]
Anand, E., Singh, J., & Unisa, S. (2015). Menstrual hygiene practices and its
association with reproductive tract infections and abnormal vaginal discharge
in India. Sexual & Reproductive Healthcare, 16.
[Link]
APA. (2012). A Reference for Professionals Developing Adolescents.
Cohen, M. I. (2014). Adolescence.
Farage, M., Elsner, P., & Maibach, H. (2007). Influence of usage practices ,
ethnicity and climate on the skin compatibility of sanitary pads, 415427.
[Link]
House, S., Mahon, T., & Cavill, S. (2012). A resource for improving menstrual
hygiene around the world.
Levesque, R. J. R. (2011). Menarche. In R. J. R. Levesque (Ed.), Encyclopedia of
Adolescence (pp. 16911692). New York, NY: Springer New York.
[Link]
Mandal, A. (2014). Penyebab Sindrom pramenstruasi ( PMS ), 13.
Morse, J. M., Kieren, D., & Bottorff, J. (2009). Health Care for Women
International The adolescent menstrual attitude questionnaire, (January
2015), 3741. [Link]
Nair, A. R., & Taylor, H. S. (2010). The Mechanism of Menstruation, 2135.
[Link]
Nelson, L. (2013). Menstruation and the Menstrual Cycle.
Panay, N. (2014). The National Association for Premenstrual Syndrome ( NAPS )
Guidelines on Premenstrual Syndrome.

Universitas Indonesia
39

Redchi, G. (2008). Menarche. In Encyclopedia of Genetics, Genomics,


Proteomics and Informatics (p. 1181). Dordrecht: Springer Netherlands.
[Link]
RI, K. K. (2014). pusat data dan informasi kementrian kesehatan RI.
Somsri, P., Satheannoppakao, W., Tipayamongkholgul, M., & Vatanasomboon, P.
(2016). Research Article A Cosmetic Content Based Nutrition Education
Program Improves Fruit and Vegetable Consumption Among Grade 11 Thai
Students. Journal of Nutrition Education and Behavior, 48(3), 190198.e1.
[Link]
Su, J. J., & Lindell, D. (2016). Promoting the menstrual health of adolescent girls
in China, (February), 17. [Link]
Taylor, M., Carlson, G., Griffin, J., & Wilson, J. (2014). Managing Menstruation,
2.
UKAID. (2013). Understanding and Managing Menstruation.
unesco. (2014). puberty education and & menstrual hygiene management.
WHO. (2012). Pelvic Inflammatory Disease (PID) Statistics. Diakses pada tanggal
15 Mei 2017 Dalam [Link]

Universitas Indonesia
Lampiran 1

PENEJELASAN PENELITIAN

Judul penelitian : Pengaruh Pendidikan Kesehatan Menstrual Hygiene


(PMH) Terhadap Sikap Remaja Puteri Dalam
Kebersihan Diri Selama Menstruasi

Peneliti : Meinarisa

NPM : 1506778994

Peneliti adalah mahasiswa program Magister Keperawatan Peminatan Maternitas,


Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia.

Peneliti berkeinginan melakukan penelitian mengenai Pengaruh Pendidikan


Kesehatan Menstrual Hygiene (PMH) Terhadap Sikap Remaja Puteri Dalam
Kebersihan Diri Selama Menstruasi, oleh sebab itu peneliti meminta kesediaan
adik-adik untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Sebelum adik berpartisipasi
dalam penelitian ini, maka saya jelaskan beberapa hal sebagai berikut:

1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik remaja puteri yang


sudah mengalami menarche (haid pertama) berdasarkan usia menarche,
pendapatan keluarga dan pendidikan terakhir ibu.
2. Penelitian ini akan bermanfaat dalam meningkatkan keyakinan remaja puteri
terhadap memampuannya menjagha keberisihan selama menstruasi yang
berhubungan dengan siklus menstruasi, gejala premenstrual syndrome
(PMS), menstrual hygiene.
3. Penelitian ini akan digunakan untuk mengembangkan riset dibidang
keperawatan sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap pelayanan
keperawatan di komunitas.
4. Responden yang merupakan kelompok intervensi dalam penelitian ini akan
melakukan pretest sikap remaja puteri dalam kebersihan diri selama
menstruasi, kemudian diberikan penjelasan mengenai menstrual hygiene
melalui Pendidikan Kesehatan Menstrual Hygiene (PMH) yang berisi
penyuluhan dan demostrasi terkait menstruasi dan booklet yang berisi
beberapa keterampilan dan informasi mengenai cara menjaga kebersihan
selama menstruasi. Pelaksanaan pemberian materi edukasi dan booklet akan
dilakukan setelah pretest hari pertama. Selama 60 menit, selanjutnya akan
diberikan lembaran laporan pribadi (self-report) yang diisi selama menstruasi.
Setelah selesai menstruasi maka akan diberikan posttest. Pada kelompok
kontrol dalam penelitian ini akan melakukan pretest sikap remaja puteri
dalam kebersihan diri selama menstruasi, selanjutnya akan diberikan
lembaran laporan pribadi (self-report) yang diisi selama menstruasi. Setelah
selesai menstruasi maka akan diberikan posttest. Selanjutnya akan diberikan
materi edukasi dan booklet selama 60 menit.
5. Penelitian ini tidak akan memberikan pengaruh negatif pada remaja puteri
karena intervensi yang diberikan merupakan edukasi yang bertujuan untuk
meningkatkan pengetahuan dan keyakinan remaja puteri dalam menghadapi
periode menstruasi tiap bulannya dan semua data serta informasi yang adik
berikan melalui kuesioner ini dijamin kerahasiaannya termasuk identitas adik.
Inisial nama dalam kuesioner digunakan untuk mempermudah identifikasi
responden sesuai dengan hasil pengukuran pada instrumen penelitian. Peneliti
akan menggunakan kode untuk indentitas adik saat proses data komputer.
6. Partisipasi adik dalam penelitian ini bersifat sukarela tanpa paksaan dan
apabila adik menolak sebagai responden maupun mengundurkan diri
sewaktu-waktu, tidak ada sanksi apapun.
7. Apabila adik telah memahami dan bersedia berpartisipasi dalam penelitian
ini, maka ibu dapat menandatangani lembar persetujuan dan menjawab
pertanyaan-pertanyaa pada lembar angket (kuesioner) yang telah disediakan.

Atas perhatian dan kesediaan adik untuk berpartisipasi dalam penelitian ini saya
ucapkan terima kasih. Apabila terdapat pertanyaan selama proses penelitian diluar
waktu pertemuan adik dapat menghubungi saya Meinarisa di 085266365867 atau
raisakameella18@[Link]

Depok, juni 2017

Peneliti,

Meinarisa
Lampiran 2

LEMBAR PERSETUJUAN

BERPARTISIPASI DALAM PENELITIAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:


Inisial Nama : ....................................
Umur : ....................................
Alamat : ....................................
Telepon/Hp : ....................................
Saya telah mendapatkan penjelasan serta mendapat jawaban atas pertanyaa saya
terkait penelitian ini, maka saya menyatakan turut berpartisipasi sebagai
responden dalam penelitian Pengaruh Pendidikan Kesehatan Menstrual
Hygiene (PMH) Terhadap Sikap Remaja Puteri Dalam Kebersihan Diri
Selama Menstruasi, yang dilakukan oleh Meinarisa, mahasiswa Magister
Keperawatan Peminatan Keperawatan Maternitas, Fakultas Ilmu Keperawatan,
Universitas Indonesia, tanpa ada paksaan dan bersifat sukarela serta berhak untuk
sewaktu-waktu mengundurkan diri dari peneltian tanpa konsekuensi.

Saya memahami tujuan, proses dan manfaat penelitian ini. Saya percaya bahwa
peneliti menjamin kerahasiaan indentitas dan hak-hak saya sebagai responden.
Saya meyakini bahwa penelitian ini tidak akan menimbulkan dampak merugikan
bagi saya.

Demikian lembar persetujuan ini saya isi dengan sebebar-benarnya agar dapat
dipergunakan sebagaimana menstinya.

Jambi, Juli 2017

Responden

(...........................)
Lampiran 3

No responden :

Group :

KUESIONER PENELITIAN

Petunjuk pengisian kuesioner

1. Mohon kuesioner diisi sesuai dengan kenyataan, responden tidak perlu berdiskusi
dengan orang lain.
2. Jika kurang mengerti dengan pertanyaan yang diajukan atau ragu, tanyakan pada
peneliti.
3. Untuk pilihan jawaban beri tanda centang () atau lingkari pada jawaban yang
tersedia.
4. Informasi akan dijaga kerahasiaannya.
KUESIONER A: DATA DEMOGRAFI

No Data

1 Nama

2 Kelas

3 Pertama kali menstruasi / /


(Tgl / bulan / tahun)
4 Tanggal lahir / /
(Tgl / bulan / tahun)
4 Jumlah pendapatan keluarga dalam satu bulan Rp.

5 Pendidikan terakhir ibu


KUESIONER B: SIKAP REMAJA PUTERI DALAM MENJAGA KEBERSIHAN
DIRI SELAMA MENSTRUASI

No Pernyataan Sangat Tidak Sedikit Cukup Sangat


tidak yakin yakin yakin yakin
yakin
1 Ketika saya mengalami menstruasi, saya
takut anak laki-laki akan mengetahuinya
2 Saya merasa sangat senang mengetahuia saya
mengalami menstruasi
3 Saya belum memberitahu siapapun bahwa
saya sudah mengalami menstruasi
4 Saya senang mendapatkan informasi
mengenai menstruasi
5 Saya khawatir suatu hari nanti saya mungkin
tidak menyadari jika saya mengalami
menstruasi
6 Kebanyakan remaja puteri merasa terganggu
jika membeli pembalut di toko
7 Menstruasi membuat saya tidak nyaman
8 Saya takut kram ketika awal menstruasi
datang
9 Saya sering berbicara tentang menstruasi
dengan teman-teman saya
10 Saya merasa khawatir jika menstruasi datang
tiba-tiba
11 Remaja puteri tidak suka terlihat membuang
pembalut ketempat sampah
12 Adalah hal normal jika remaja puteri
mengalami menstruasi
13 Saya merasa sama saja ketika menstruasi atau
tidak menstruasi
14 Remaja puteri yang mengatakan sakit ketika
menstruasi hanya membuat alasan saja
15 Saya merasa baik-baik saja ketika saya
mendapatkan menstruasi
16 Ketika saya berbicara mengenai menstruasi
kepada teman saya merasa tidak nyaman
17 Jika remaja puteri mengalami menstruasi,
mereka harus diijinkan untuk tinggal di
rumah
18 Remaja puteri merasa sangat khawatir jika
darah menstruasi mereka bocor/mengotori
pakaian mereka
19 Saya dengan cepat merasa terbiasa
mengalami menstruasi
20 Remaja puteri yang mengalami menstruasi
biasanya menjadi pemarah dan tegang
21 Saya tidak sabar untuk mendapat periode
menstruasi
22 Saya suka berbicara mengenai menstruasi
kepada teman-teman saya
23 Memalukan jika mengajukan pertanyaan
mengenai menstruasi
24 Saat menstruasi saya merasa baik
No Pernyataan Sangat Tidak Sedikit Cukup Sangat
tidak yakin yakin yakin yakin
yakin
25 Remaja puteri yang mengalami menstruasi
biasa menghindari latihan jasmani
26 Saya merasa senang mengalami menstruasi
27 Saya merasa takut karena saya tidak tahu apa
yang terjadi saat saya menstruasi
28 Saya merasa sangat dewasa ketika saya
mengalami menstruasi
29 Bila remaja puteri mengalami menstruasi
sebaiknya tidak menyisir rambut
30 Remaja puteri biasa merasa sangat kesal saat
menstruasi
31 Ketika mengalami menstruasi, saya merasa
sakit
32 Saya merasa senang jika memikirkan saya
mengalami menstruasi
33 Saya takut orang orang akan tahu kapan saya
mengalami menstruasi
34 Remaja puteri sering murung ketika mereka
mengalami menstruasi
35 Remaja puteri yang mengalami kram pada
perut harus khawatir ada yang salah dengan
diri mereka
36 Mengatasi menstruasi adalah hal mudah
37 Kebanyakan remaja puteri mengerti apa
yang terjadi pada tubuh mereka saat mereka
mendapat menstruasi
38 Remaja puteri merasa tidak nyaman belajar
mengenai menstruasi disekolah
39 Saya merasa tidak apa-apa untuk
mendiskusikan mengenai menstruasi dengan
anak laki-laki
40 Remaja puteri tidak keberatan untuk membeli
pembalut
41 Saya merasa orang bisa tahu kapan saya
menstruasi
42 Setiap kali orang menyebut kata menstruasi
saya merasa gugup
43 Saya senang saya telah tumbuh dewasa untuk
mengalami menstruasi
44 Kebanyakan remaja puteri merasa malu jika
membeli pembalut di kamar mandi umum
45 Saya merasa istimewa saat menjalani
menstruasi
46 Tidak apa-apa berenang saat menstruasi
47 Saya menrasa bangga jika mengalami
menstruasi
48 Kram perut selama menstruasi sangat
menyakitkan
49 Remaja puteri mengalami sakit punggung
jika menstruasi
50 Remaja puteri sering merasa mual ketika
menstruasi
51 Ketika saya mengalami menstruasi, saya
berubah menjadi wanita
52 Tidak apa-apa ketinggalan sekolah jika
mengalami menstruasi
53 Saya merasa jelek dan kotor selama
menstruasi
54 Saat menstruasi saya merasa malu
55 Remaja puteri mudah menangis saat
menstruasi
56 Remaja puteri tidak suka memberisihkan
dirinya sendiri untuk mengganti pembalut
jika menstruasi
57 Ketika remaja puteri menstruasi, mereka
tidak apa-apa jika tidak ke gym atau latihan
fisik

KUESIONER C: PENGARUH BUDAYA

No Pernyataan ya Tidak Tidak


tahu
1 Saat menstruasi, anak perempuan dilarang untuk
mencuci rambut
2 Saat menstruasi anak perempuan dilarang tidur di
kasur
3 Saat menstruasi anak perempuan dilarang
melakukan perjalanan jauh
4 Saat menstruasi anak perempuan dilarang makan
makanan yang memiliki rasa asam
5 Saat menstruasi anak perempuan tidak boleh
masuk ke rumah ibadah
6 Saat menjemur pakaian, anak perempuan harus
menjemur di tempat yang terrsembunyi pakaian
dalam yang digunakan saat menstruasi
7 Darah menstruasi adalah kotor
8 Saat menstruasi, anak perempuan sebaiknya tidak
minum es atau minuman dingin
9 Saat menstruasi, anak perempuan sebaiknya tidak
datang ke acara pernikahan
10 Saat menstruasi, anak perempuan sebaiknya tidak
masuk ke dapur dan menyentuh makanan yang
sedang difermentasi seperti acar dan tapai
Lampiran 4
PROTOKOL PELAKSANAAN PENELITIAN

A. KELOMPOK NON INTEVENSI


1. Remaja puteri yang telah menarche
2. Perkenalan, membina hubungan saling percaya
3. Remaja puteri memenuhi kriteria inklusi, berikan penjelasan tentang tujuan,
manfaat dan prosedur penelitian
4. Minta kesediaan berpartisipasi
5. Lakukan pengukuran preetest sikap menstrual hygiene
6. Memberikan lembar laporan pribadi (self-report) saat menstruasi
7. Responden mengisi lembar laporan pribadi (self-report) selama menstruasi
8. Setelah menstruasi selesai, dilakukan pengukuran posttest sikap menstrual
hygiene. selanjutnya responden diberikan penyuluhan menstruasi,
demonstrasi dan booklet mengenai menstrual hygiene oleh peneliti.

B. KELOMPOK INTERVENSI
1. Remaja puteri yang telah menarche
2. Perkenalan, membina hubungan saling percaya
3. Remaja puteri memenuhi kriteria inklusi, berikan penjelasan tentang tujuan,
manfaat dan prosedur penelitian
4. Minta kesediaan berpartisipasi
5. Lakukan pengukuran pretest sikap menstrual hygiene
6. Berikan Pendidikan Kesehatan Menstrual Hygiene (PMH) sesuai intervensi.
Berupa penyuluhan menstruasi, demonstrasi dan booklet mengenai menstrual
hygiene.
7. Memberikan lembar laporan pribadi (self-report) saat menstruasi
8. Responden mengisi lembar laporan pribadi (self-report) selama menstruasi
9. Selesai menstruasi lakukan pengukuran sikap remaja puteri dalam menjaga
kebersihan diri semama menstruasi. selanjutnya responden diberikan
penyuluhan menstruasi dan edukasi oleh peneliti.
Lampiran 5

UNIVERSITAS INDONESIA

PROTOKOL PEDOMAN INTERVENSI PENDIDIKAN KESEHATAN


MENSTRUAL HYGIENE (PMH) TERHADAP SIKAP REMAJA PUTERI
DALAM MENJAGA KEBERSIHAN DIRI SELAMA MENSTRUASI

Disusun Oleh:
Meinarisa
Prof. Dra. Setyowati, [Link]., M. [Link]., Ph.D

Tri Budiati, [Link]., [Link]., [Link].

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM STUDI NERS SPESIALIS KEPERAWATAN
MATERNITAS
DEPOK
JUNI, 2017
PENDIDIKAN KESEHATAN MENSTRUAL HYGIENE
DALAM MENINGKATKAN SIKAP REMAJA PUTERI DALAM
MENJAGA KEBERSIHAN DIRI SELAMA MENSTRUASI

Pokok Bahasan : menstrual hygiene remaja puteri


Sub Pokok Bahasan : 1. Proses menstruasi
2. Premenstrual syndrome (PMS)
3. menstrual hygiene
Sasaran : remaja puteri yang sudah mengalami menstruasi
pertama (menarche)
Hari/tanggal :
Waktu : 60 menit
Tempat : SMP N 3 Seberang Kota Jambi dan SMP N 24
Kotabaru Jambi.

A. Tujuan Instruksional Umum


Setelah mendapatkan Pendidikan kesehatan Menstrual Hygiene (PMH), remaja
puteri dapat memahami mengenai menstruasi dan kebersihan selama menstruasi.
B. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mendapatkan paket Pendidikan Kesehatan Menstrual Hygiene (PMH)
remaja puteri mampu:
1. Menjelaskan pengertian menstruasi
2. Menjelaskan siklus menstruasi
3. Menjelaskan premenstrual syndrome (PMS)
4. Menjelaskan gejala umum PMS
5. Menjelaskan makanan yang baik selama menstruasi
6. Menjelaskan hal yang dapat meringankan gejala PMS
7. Menjelaskan mengenai menstrual hygiene
8. Menjelaskan material pembalut yang baik
9. Menjelaskan cara menjaga kebersihan diri selama menstruasi
10. Menjelaskan cara menjaga kebersihan lingkungan selama menstruasi
C. Materi Edukasi
1. Pengertian menstruasi
2. premenstrual syndrome (PMS)
3. Menjelaskan gejala umum PMS
4. menstrual hygiene
5. Menjelaskan material pembalut yang baik
6. Cara menjaga kebersihan diri selama menstruasi
7. Cara menjaga kebersihan lingkungan selama menstruasi

D. Metode dan Media


1. Metode : ceramah, diskusi dan demonstrasi
2. Media : power point, booklet

E. Kegiatan Edukasi

Tahap Waktu Kegiatan Peneliti Kegiatan sasaran


Pendahuluan 5 menit Mengucapkan salam Menjawab salam
Memperkenalkan diri Memperhatikan
Menjelaskan tujuan Memperhatikan
Apresiasi mengenai menstrual Menjawab
hygiene
Penyajian 50 menit Menjelaskan pengertian menstruasi Memperhatikan
Menjelaskan siklus menstruasi Memperhatikan
Menjelaskan premenstrual Memperhatikan
syndrome (PMS)
Menjelaskan gejala umum PMS Memperhatikan
Menjelaskan makanan yang baik Memperhatikan
selama menstruasi
Menjelaskan hal yang dapat Memperhatikan
meringankan gejala PMS
Memberikan kesempatan kepada Bertanya
remaja puteri untuk bertanya mengenai topik
yang belum
dimengerti
Menjelaskan mengenai menstrual Memperhatikan
hygiene
Menjelaskan material pembalut Memperhatikan
yang baik
Mendemonstrasikan penggunaan
Memperhatikan
pembalut dan jenis pembalut
Menjelaskan cara menjaga Memperhatikan
kebersihan diri selama menstruasi
Memperhatikan
Menjelaskan cara menjaga
kebersihan lingkungan selama
menstruasi

penutup 5 menit Melakukan evaluasi dengan Menjawab


pertanyaan ringan pertanyaan
Menyimpulkan materi yang telah Memperhatikan
disampaikan
Membuat kontrak untuk pertemuan Menyetujui
selanjutnya kontrak
Mengucapkan salam menjawab salam

F. Evaluasi

Evaluasi tercapai apabila remaja puteri dapat mengulang kembali dengan


bahasanya sendiri mengenai:

1. Menjelaskan pengertian menstruasi


2. Menjelaskan siklus menstruasi
3. Menjelaskan premenstrual syndrome (PMS)
4. Menjelaskan gejala umum PMS
5. Menjelaskan makanan yang baik selama menstruasi
6. Menjelaskan hal yang dapat meringankan gejala PMS
7. Menjelaskan mengenai menstrual hygiene
8. Menjelaskan material pembalut yang baik
9. Menjelaskan cara menjaga kebersihan diri selama menstruasi
10. Menjelaskan cara menjaga kebersihan lingkungan selama menstruasi

G. Daftar Pustaka

Epstain, Elizabeth. (2014, May 28). 28 Reasons Why Menstrual Hygiene Matters.
May 30,2017. [Link]
menstrual-hygiene-matters/

House, S., Mahon, T., & Cavill, S. (2012). A resource for improving menstrual
hygiene around the world.

Panay, N. (2014). The National Association for Premenstrual Syndrome ( NAPS )


Guidelines on Premenstrual Syndrome.

Russell, K., & Hailes, jean. (2016). What you need to know: periods, 112.

Taylor, J., Coates, E., Brewster, L., Mountain, G., Wessels, B., & Hawley, M. S.
(2014). Examining the use of telehealth in community nursing: identifying
the factors affecting frontline staff acceptance and telehealth adoption.
[Link]

Taylor, M., Carlson, G., Griffin, J., & Wilson, J. (2014). Managing Menstruation,
2.

USAID. 2013. Understanding and Managing Menstruation. Uganda: Author.

UKAID. 2014. Menstruation hygiene management for schoolgirls. India: Author.


LAPORAN PRIBADI (SELF-REPORT) KEGIATAN MENJAGA KEBERSIHAN DIRI SELAMA MENSTRUASI

Beri tanda centang pada kegiatan yang dilakukan

No Kegiatan untuk menjaga kebersihan diri Hari menstruasi


1 2 3 4 5 6 7
1 Menggunakan pembalut
2 Tidak memasukkan material apapun kedalam vagina
3 Mengganti pembalut setiap 3-8 jam sekali atau sesuai kebutuhan/banyaknya darah
4 Mencuci pakaian yang terkena darah menstruasi dengan detergen dan di rendam
15-20 menit sebelum di bilas
5 Mencuci pembalut yang digunakan kembali/pembalut kain/reusable pad yang
terkena darah menstruasi dengan detergen dan di rendam 15-20 menit sebelum di
bilas (jika menggunakan)
6 Mengeringkan pembalut yang digunakan kembali/pembalut kain/reusable pad
dibawah sinar matahari sampai benar-benar kering(jika menggunakan)
7 Menyetrika pembalut yang digunakan kembali/pembalut kain/reusable pad setelah
di cuci(jika menggunakan)
8 Memasukkan pembalut yang terkena darah menstruasi ke dalam kantong jika
belum bisa di cuci
9 Mencuci tangan setelah mengganti pembalut
10 Mandi minimal 2 kali sehari menggunakan sabun dan air bersih
11 Membasuh daerah kewanitaan dengan air bersih tiap hari (pagi dan sore) atau
sesuai kebutuhan
12 Menjaga pembalutyang digunakan dalam keadaan nyaman dan kering
13 Membawa pembalut ganti saat bepergian keluar rumah
14 Membasuh area kewanitaan dari depan ke belakang
15 Mencuci pembalut sekali pakai sampai bersih, jika bisa dibakar setelahnya
16 Tidak membuang pembalut sekali pakai tanpa dibersihkan terlebih dahulu
17 Memastikan tidak ada darah tersisa di lantai kamar mandi setelah mencuci
pembalut
18 Menggunakan botol berisi air hangat dilapis dengan sebet dan diletakkan di perut
jika mengalami nyeri menstruasi atau kram
19 Melakukan peregangan atau olahraga ringan saat menstruasi
20 Mengkonsumsi obat pereda nyeri saat mengalami sakit perut/kram sesuai resep
dokter
DAFTAR ISI

COVER .......................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................ ii
Menstruasi ................................................................. 1
Premenstrual Syndrome (PMS)............................ 8
Pertanyaan terkait menstruasi .......................... 11
Menstrual Hygiene ..................................................... 12
Gangguan kesehatan jika tidak menjaga
menstrual hygiene....................................................... 17

2
MENSTRUASI
Menstruasi adalah keluarnya darah dari uterus
melalui vagina, biasa berlangsung 3-7 hari setiap
bulannya. Biasa terjadi dimulai pada usia 9 dan 16
tahun (J. Taylor et al., 2014).

Hal yang wajar jika kamu mensceritakan


menstruasi pertamamu dengan ibu, atau saudara
perempuanmu, atau siapa saja dalam keluargamu
yang paling kamu percayai. Hal ini akan
membantumu mendapatkan informasi yang
bermanfaat dalam menjalankan siklus menstruasi
dan infomasi mengenai kebersihan diri selama
menstruasi (Gavin, 2013).

Apa tanda menstruasi akan datang?


Anda akan merasa mudah lelah, nyeri pada area
payudara, nyari pada perut, perasaan tidak
nyaman pada tubuh, terkadang ada juga yang
merasa mual, terkadang juga muncul jerawat di
wajah (Russell & Hailes, 2016).

3
Siklus menstruasi:
Siklus menstruasi adalah saat antara hari pertama
satu periode haid dan hari pertama hari periode
berikutnya. Siklus bervariasi dari satu orang ke
orang lain. Rentangnya berkisar 21 hari sampai 35
[Link] haid biasa mengalir sekitar lima hari,
tetapi pada beberapa remaja puteri bisa lebih
pendek atau lebih panjang. Dalam dua tahun
pertama, menstruasi mungkin tidak terjadi setiap
bulan (belum teratur) (M. Taylor, Carlson, Griffin, &
Wilson, 2014).
Selama siklus menstruasi, jumlah hormon estrogen
dan progesteron yang dihasilkan oleh indung telur
berubah. Bagian pertama siklus menstruasi yang
dihasilkan oleh ovarium adalah sebagian estrogen.
Estrogen ini yang akan menyebabkan tumbuhnya
lapisan darah dan jaringan yang tebal diseputar
endometrium. Di pertengahan siklus, indung telur
melepas sebuah sel telur yang dinamakan ovulasi.
Bagian kedua siklus menstruasi, yaitu antara
pertengahan sampai datang menstruasi
berikutnya, tubuh wanita menghasilkan hormon
progesteron yang menyiapkan uterus untuk

4
kehamilan. Menstruasi disebabkan oleh
berkurangnya estrogen dan progesteron secara
tiba-tiba, terutama progesteron pada akhir siklus
ovarium bulanan. Dengan mekanisme yang
ditimbulkan oleh kedua hormon di atas terhadap
sel endometrium, maka lapisan endometrium
dapat dikeluarkan disertai dengan perdarahan
yang normal.
CONTOH SIKLUS MENSTRUASI 28 HARI
SISTEM REPRODUKSI HORMON PADA WANITA

WANITA
HARI KE 1-6 Hari pertama adalah hari
pertama dalam siklus
menstruasi jika anda tidak
mengalami kehamilan dan
menandakan siklus
menstruasi anda dimulai.
Catat lah atau masukkan
dalam pengingat HP silus
menstruasimu. Sehingga
mempermudah pemantauan
siklus menstruasi.
Hormon dari otak
menyebabkan indung telur
menghasilkan kantung kecil
5
cairan (folikel) yang
mengandung telur yang
belum matang.
HARI KE 7-14 Darah menstruasi biasanya
berhenti pada hari ke 7,
mungkin juga ada yang lebih
cepat.
Satu folikel tumbuh dan
menghasilkan telur.
Lapisan rahim menjadi lebih
tebal jika telur dibuahi, maka
akan ditanam pada dinding
rahim tersebut (estrogen
meningkat, progesteron
menurun).
HARI KE 14 hormon menyebabkan sel
telur tumbuh dan keluar dari
folikel dan meninggalkan
indung telur, hal ini disebut
dengan ovulasi.

HARI KE 15-20 sel telur menyusuri saluran


telur menuju rahim/uterus.
Jika anda berhubungan
seksual pada masa ini, dan
sperma bertemu dengan sel
telur, maka sel telur dapat
dibuahi oleh sperma dan
kemungkinan untuk hamil
bisa terjadi.
Setelah seltelur dibuahi, sel
telur akan bergerak ke bawah
dan menempel pada diding
rahim/uterus dan tumbuh
menjadi janin.
HARI 21-28 Jika sel telur dibuahi maka,
anda tidak akan mengalami
siklus menstruasi dan
hormon kehamilan akan
6
dilepas oleh tubuh.
Jika sel telur tidak dibuahi
maka kadar hormon akan
mulai turun.
Kemudian lapisan rahim
mulai luruh dan terpisah dari
diding rahim.
Hal ini menyebabkan siklus
mentruasi dimulai kembali.
(Russell & Hailes, 2016)
Premenstrual Syndrome (PMS)
Apa itu Premenstrual Syndrome (PMS)?
Perubahan fisik dan emosional sebelum
menstruasi atau bahkan berlanjut saat menstruasi.
Terjadi tiap kali periode menstruasi akan terjadi,
berbulan bulan dan mempengaruhi kehidupan
normal wanita, hal inilah yang dikenal dengan PMS
(Panay, 2014).

Gejala umum PMS (Panay, 2014)


gejala fisik:
sakit kepala, nyeri atau rasa tidak nyaman pada
punggung, kembung, peningkatan berat badan, badan
terasa tidak enak, payudara menjadi lunak/lembut,
ruam pada kulit/jerawat, nyeri perut.
Gejala psikologi dan perilaku:

7
perubahan suasana hati (mood swing), depresi,
kelelahan, merasa lemas, mudah tersinggung,
kecemasan, penurunan kemampuan kognitif, agresi,
mudah marah, mengalami gangguna tidur dan
berkeinginan makan makanan tertentu (ngidam).

Makanan yang baik selama menstruasi:


1. Konsumsi makanan mengadung banyak serat:
sayur dan buah. Hal ini akan menurunkan rasa
nyeri selama menstruasi dan meningkatkan
masukan vitamin dan mineral dalam tubuh selama
menstruasi. Contohnya bayam dan brokoli adalah
jenis sayuran mengandung banyak serat dan
vitamin A, C, B6, E, mengandung banyak
potasium, magnesium dan kalsium yang
dibutuhkan dalam pembentukan sel darah merah.
Buah seperti pisang, biji bunga matahari (kuaci)
atau biji labu juga mengandung gizi yang baik.
2. Mengurangi konsumsi minuman atau makanan
tinggi gula, tinggi lemak dan berkarbonat. Karena
akan menimbulkan rasa kembung.
3. Mengurangi makanan tinggi garam, mengandung
kafein dan alkohol.

8
Hal yang dapat dilakukan untuk meringankan
gejala PMS (Panay, 2014):
1. Melakukan kompres hangat jika mengalami
nyeri abdomen. Menggunakan kantung
kompres atau botol air mineral yang dialas
dengan handuk.
2. Melakukan latihan pernafasan atau yoga untuk
meringankan gejala tubuh yang tidak enak.
3. Istirahat yang cukup selama periode
menstruasi.
4. Menjaga kebersihan diri (mandi, ganti
pembalut dan pakaian) selama menstruasi
untuk meningkatkan rasa nyaman diri.
5. Meningkatkan konsumsi makanan yang
mengandung banyak serat: sayur dan buah.

Berbicara kepada teman laki-laki mengenai


menstruasi:
Mungkin bagi sebagian remaja puteri akan merasa
malu membicarakan, atau memberi tahu mengenai
siklus menstruasi yang dialami. Di sekolah
mungkin sering terjadi, remaja puteri ada yang
tidak sanggup mengikuti kegiatan olahraga atau

9
latihan jasmani jika sedang dalam siklus
menstruasi. Tetapi malu untuk menjelaskannya
pada teman, terutama teman laki-laki (Byworth,
2017).
Perlu di ingat bahwa menstruasi merupakan hal
yang normal dan wajar dialami wanita. Merupakan
suatu pertanda kematangan fungsi seksual. Dan
merupakan yang dialami juga oleh ibu dari teman
teman laki-laki kita (Dowshen, 2016). Menstruasi
tidak berarti kotor. Sehingga tidak perlu merasa
malu mengenai menstruasi yang merupakan hal
alami dan tidak perlu menghindar jika remaja
puteri sedang mengalami menstruasi (Scott, 2017).
Dengan menjelaskan kepada teman lelaki kita,
masa siklus menstruasi kita akan lebih terasa
ringan untuk dilewati dan mungkin mereka (laki-
laki) akan lebih merasa berbelas kasih. Sehingga
bagi remaja puteri yang mengalami PMS, akan jauh
merasa lebih baik (Scott, 2017).

10
Pertanyaan lain berkaitan mesntruasi
Dapatkan kita berenang saat siklus
menstruasi?
Tentu saja kegiatan jasmani seperti berenang
dapat dilakukan saat menstruasi. ini adalah pilihan,
kamu tidak perlu melakukannya jika kamu merasa
tidak nyaman. Jika kamu ingin berenang saat
menstruasi sudah akan berakhir, kamu dapat
memilih warna baju renang yang gelap agar
menyamarkan darah menstruasi (Bell, 2017).
Dapatkah terjangkit infeksi jika berenang saat
siklus menstruasi?
Kita tidak akan tertular penyakit pada daerah
kelamin jika berenang saat menstruasi. Infeksi
kulit dan sakit perut karena menelan air yang
terkontaminasi adalah keluhan yang lebih umum.
Hal ini karena air kolam renang diberi cairan
klorin. Cairan ini lah sebenarnya yang dapat
mengiritasi vagina bagi remaja yang sensitif
terhadap cairan klorin, sehingga berisiko terkena
infeksi jamur. Segera lah mandi jika sudah selesai
berenang dan hindarilah duduk-duduk dengan
pakaian renang yang basah (Bell, 2017).

11
Menstrual Hygiene
Apa itu menstrual hygiene?
Menstrual hygiene adalah perawatan diri sendiri
untuk mempertahankan kebersihan diri selama
siklus menstruasi (House, Mahon, & Cavill, 2012).
Apa manfaat dari menstrual hygiene?
Manfaat menstrual hygiene adalah untuk menjaga
kebersihan diri selama siklus menstruasi
berlangsung, baik untuk menjaga kebersihan
dirinya (mencegah infeksi dan iritasi kulit) dan
juga lingkungannya (mencegah penyebaran
penyakit melalui darah menstruasi). Selain itu
menstrual hygiene yang baik juga dapat
meningkatkan percaya diri bagi remaja puteri
selama siklus menstruasi karena telah mampu
menjalankan dengan baik masa tak nyaman tiap
bulannya dengan baik (Epstain, Elizabeth, 2014) .
Apa yang harus dilakukan untuk menjaga
menstrual hygiene?
Praktik menstrual hygiene yang baik (UKAID,
2013) seperti dibawah ini:

12
pertanyaan Petunjuk praktis yang baik dilakukan
oleh remaja puteri
Bagaimana Bicaralah pada wanita lain yang kamu
menghadapi percayai mampu memberikan
menstruasi informasi seperti ibumu, saudara
pertama? perempuan atau bibi.
Jangan takut, karena menstruasi
adalah hal normal dan alami yang
dialami oleh wanita
Jika kamu sedang disekolah,
sampaikan kepada guru wanita atau
temanmu.
Berbahagialah! Tubuhmu sekarang
sedang berkembang menjadi wanita
muda.
Bagaimana Gunakan pembalut
mengumpulkan Jangan memasukkan material apapun
darah kedalam vagina
menstruasi agar Ganti pembalut setiap 3-8 jam sekali
tidak mengotori atau sesuai kebutuhan/banyaknya
baju? darah
Bagaimana cara Cuci pakaian dalam, pakaian yang
membuang/me terkena darah menstruasi dan
mbersihkan pembalut yang dapat digunakan
pembalut yang kembali/pembalut kain/ re-usable
telah dipakai? pads dengan detergen, rendam 15-20
menit sebelum dibilas.
Jika kamu menggunakan pembalut
yang dapat digunakan
kembali/pembalut kain/ re-usable
pads, masukkan pembalut yang tepah
dipakai dalam kantung plastik, dan
bawalah pulang ke rumah atau sampai
kamu menemukan tempat yang
menyediakan deterjen untuk
mencucinya.
Keringkan re-usable pads di bawah
sinar matahari, pastikan benar-benar
kering sebelum dipakai kembali.
Setrika re-usable pads setelah di cuci.

13
Jika kamu menggunakan pembalut
sekali pakai, cucilah bersih lalu
masukkan kedalam kantung plastik
dan kamu dapat membuangnya
kedalam tong sampah
Cucilah tangan dengan sabun setelah
mengganti pembalut
Bagaimana Mandilah minimal dua kali sehari dan
menjaga gunakanlah sabun.
keberihan diri Cuci atau basuh daerah kewanitaan
selama menggunakan air bersih tiap harinya
menstruasi? (pagi dan sore).
Jaga selalu pembalut yang digunakan
dalam keadaan nyaman dan kering,
jangan biarkan terlalu penuh. Jika
terlalu penuh, hal ini akan
membuatmu tidak nyaman dan
meningkatkan resiko infeksi.
Bawalah selalu pembalut ganti dalam
tasmu.
Selalu basuh area kewanitaan dari
depan ke belakang setelah BAB dan
BAK.
Bagaimana Kamu dapat menggunakan botol
mengatasi rasa berisi air hangat yang dilapis serbet
sakit pada dan diletakkan dibagian yang perut.
perut/kram saat Jaga selalu tubuhmu dalam keadaan
siklus aktif atau lakukan peregangan atau
menstruasi latihan jasmani ringat.
Kamu juga bisa mengkonsumsi obat
penghilang rasa sakit sesuai resep
dokter
Bagaimana Cuci bersih pembalut sekali pakai
caranya menjaga sampai bersih, jika bisa setelah itu
kebersihan dapat dibakar.
lingkungan Jangan buang pembalut sekali pakai
selama tanpa dibersihkan terlebih dahulu,
menstruasi? terutama di sungai dan air mengalir
lainnya. Karena dapat menyebabkan
penyebaran penyakit.

14
Setelah mencuci pembalut, pastikan
tidak ada darah tersisa di lantai dan
kloset kamar mandi, siram dengan air
lantai kamar mandi hingga bersih. Jika
tidak, darah akan mempermudah
penyebaran penyakit dari satu orang
kepada orang lainnya.

Macam-macam pembalut (sanitary pads)


(UKAID,2013):
Ada dua macam pembalut:
1. Pembalut sekali pakai (disposable pads)
2. Pembalut yang dapat dipakai berulang (re-
usable pads)
MATERIAL PEMBALUT
Material yang baik: dapat menyerap darah
menstruasi, membantu menjaga kebersihan
diri selama menstruasi, tidak mudah tembus
dengan darah menstruasi, tetap
kering/menyerap cepat saat darah menstruasi
keluar, lembut di kulit/tidak mengiritasi.
Material yang buruk: tidak mampu menyerap
darah menstruasi, dapat menyebabkan iritasi
pada kulit, tidak menyerap cepat darah

15
menstruasi sehingga memudahkan bakteri dan
jamur untuk berkembang pada darah.
MATERIAL YANG BAIK MATERIAL YANG BURUK
Pembalut buatan pabrik Tissue toilet, merupakan
yang banyak beredar di bahan yang dapat
warung atau menyerap tapi tidak
supermarket dapat menampung
Re-usable pads yang banyak darah
terbuat dari bahan yang menstruasi, mudah
menyerap dengan baik robek dan lengket.
berupa handuk lembut, Bahan yang tidak
katun, woll kualitas baik menyerap: seperti
(dengan syarat dapat poliyester
dicuci bersih dan Spons/busa
digunakan dalam Potongan pakaian yang
kondisi bersih: telah di kotor
cuci dengan detergen
dan telah dikeringkan)
(USAID, 2014)
Gangguan Kesehatan Jika Tidak Menjaga
Menstrual Hygiene
Tindakan yang Gangguan Kesehatan
Dilakukan
Mengunakan Menyebabkan bakteri
pembalut yang tidak penyebab infeksi bergerak
bersih menuju saluran kemih
Tidak menggangti Pembalut yang basah
pembalut menyebabkan iritasi kulit
Memasukkan material Menyebabkan bakteri
tidak bersih kedalam masuk dan menginfeisi
16
vagina leher rahim (cerviks) dan
saluran kemih
Membasuh area Membuat bakteri dari
kewanitaan dari anus masuk dan menyebar
belakang ke depan ke vagina dan saluran
kemih
Menggunakan Menyebabkan itirasi pada
pembalut saat tidak vagina
menstruasi
Melakukan hubungan Meningkatkan terjadinya
seksual saat infeksi menular seksual
menstruasi atau meningkatkan
penularan HIV dan
Hepatitis B
Tidak mencuci tangan Dapat menyebarkan
setelah mengganti infeksi menular berupa
pembalut Hepatitis B dan jamur

17
Referensi
Bell, Jean. Is it okay to swim during your period?.
Diakses 21 juli 2017.
[Link]
swim-during-your-period-491f0fb2eea8
Dowshen, Steven. Girl Reproductive System.
Diakses 23 Juli 2017.
[Link]
s/en/teens/female-
[Link]?[Link]=ctg#catgirls
Epstain, Elizabeth. (2014, May 28). 28 Reasons
Why Menstrual Hygiene Matters. May
30,[Link]://[Link]/2014/0
5/28/28-reasons-why-menstrual-hygiene-
matters/
Gavin, Marry, L. All About Menstruation. Diakses 20
July 2017.
[Link]
/en/teens/[Link]
House, S., Mahon, T., & Cavill, S. (2012). A resource
for improving menstrual hygiene around the
world.
Panay, N. (2014). The National Association for
Premenstrual Syndrome ( NAPS ) Guidelines
on Premenstrual Syndrome.
Russell, K., & Hailes, jean. (2016). What you need
to know: periods, 112.
Scott, Ellen. Boys need to be taught about
periods, too. Diakses 31 Juli
2017. [Link]
need-to-be-taught-about-periods-too-
6584513/#ixzz4oQcLkQ8S
Taylor, J., Coates, E., Brewster, L., Mountain, G.,
Wessels, B., & Hawley, M. S. (2014). Examining
18
the use of telehealth in community nursing:
identifying the factors affecting frontline staff
acceptance and telehealth adoption.
[Link]
Taylor, M., Carlson, G., Griffin, J., & Wilson, J. (2014).
Managing Menstruation, 2.
USAID. 2013. Understanding and Managing
Menstruation. Uganda: Author.
UKAID. 2014. Menstruation hygiene management
for schoolgirls. India: Author.
---. Diakses 23 Juli 2017.
[Link]
1/teen-boy-grow-up-girls-periods-arent-gross

19

Anda mungkin juga menyukai