0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan18 halaman

Rangkaian Sensor dan Op-Amp Elektronik

Dokumen tersebut merupakan laporan praktikum modul 8 tentang rangkaian sensor sederhana dan aplikasi op-amp. Praktikum ini bertujuan untuk menguji pengubah tegangan ke arus, pengubah arus ke tegangan, dan cara kerja rangkaian sensor suhu dan cahaya menggunakan komponen seperti NTC, PTC, LDR, dan op-amp. Prosedur percobaan meliputi pengukuran tegangan output dari sensor suhu dengan variasi suhu dan pencahaya

Diunggah oleh

Inas Fathinah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan18 halaman

Rangkaian Sensor dan Op-Amp Elektronik

Dokumen tersebut merupakan laporan praktikum modul 8 tentang rangkaian sensor sederhana dan aplikasi op-amp. Praktikum ini bertujuan untuk menguji pengubah tegangan ke arus, pengubah arus ke tegangan, dan cara kerja rangkaian sensor suhu dan cahaya menggunakan komponen seperti NTC, PTC, LDR, dan op-amp. Prosedur percobaan meliputi pengukuran tegangan output dari sensor suhu dengan variasi suhu dan pencahaya

Diunggah oleh

Inas Fathinah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM

ELEKTRONIKA I
Modul praktikum :

Rangkaian Sensor Sederhana dan Aplikasi OP-AMP

Nama / NPM : Inas Fathinah Saepudin / 1506670074


Rekan Kerja : Akmal Duta Satria
Kelompok :9
Nomor Modul : Modul 8
Tanggal Percobaan : 24 November 2016
Hari : Kamis

Laboratorium Elektronika
Departemen Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Indonesia
Depok
2016
MODUL VIII
Rangkaian Sensor Sederhana dan Aplikasi OP-AMP

A. TUJUAN

Mampu mengoperasikan op-amp sebagai diferensial amplifier

Menguji pengubah tegangan ke arus

Menguji pengubah arus ke tegangan

Mampu mengetahui cara kerja rangkaian sensor

Mengetahui penggunaan rangkaian sensor

B. TEORI DASAR

Dalam rangkaian elektronik, transducer adalah sensor yang dipakai


dalam mengubah energi masukan (misalnya temperatur, gaya dan posisi)
menjadi energi listrik. Sensor-sensor yang lazim dipakai dapat
dikelompokkan sebagai berikut :

1. Sensor suhu :
Termistor
Thermistor adalah komponen elektronika yang nilai
resistansinya dipengaruhi oleh suhu. Thermistor yang merupakan
singkatan dari Thermal Resistor ini pada dasarnya terdiri dari 2
jenis yaitu PTC (Positive Temperature Coefficient) yang nilai
resistansinya akan meningkat tinggi ketika suhunya tinggi dan
NTC (Negative Temperature Coefficient) yang nilai resistansinya
menurun ketika suhunya meningkat tinggi.
Thermistor yang dapat mengubah energi listrik menjadi
hambatan ini terbuat dari bahan keramik semikonduktor seperti
Kobalt, Mangan atau Nikel Oksida yang dilapisi dengan kaca.
Keuntungan dari Thermistor adalah sebagai berikut :
- Memiliki Respon yang cepat atas perubahan suhu.
- Lebih murah dibanding dengan Sensor Suhu jenis RTD
(Resistive Temperature Detector).
- Rentang atau Range nilai resistansi yang luas berkisar dari
2.000 Ohm hingga 10.000 Ohm.
- Memiliki sensitivitas suhu yang tinggi.

Thermistor (PTC/NTC) banyak diaplikasikan kedalam


peralatan elektronika seperti Voltage Regulator, sensor suhu
kulkas, pendeteksi kebakaran, sensor suhu pada otomotif, sensor
suhu pada komputer, sensor untuk memantau pengisian ulang
baterai pada ponsel, kamera dan laptop.

Termokopel
Thermocouple adalah salah satu jenis sensor suhu yang
paling sering digunakan, hal ini dikarenakan rentang suhu
operasional Thermocouple yang luas yaitu berkisar -200C hingga
lebih dari 2000C dengan harga yang relatif rendah. Thermocouple
pada dasarnya adalah sensor suhu Thermo-Electric yang terdiri dari
dua persimpangan (junction) logam yang berbeda. Salah satu
Logam di Thermocouple dijaga di suhu yang tetap (konstan) yang
berfungsi sebagai junction referensi sedangkan satunya lagi
dikenakan suhu panas yang akan dideteksi. Dengan adanya
perbedaan suhu di dua persimpangan tersebut, rangkaian akan
menghasilkan tegangan listrik tertentu yang nilainya sebanding
dengan suhu sumber panas.
Keuntungan Thermocouple adalah sebagai berikut :
- Memiliki rentang suhu yang luas
- Tahan terhadap goncangan dan getaran
- Memberikan respon langsung terhadap perubahan suhu.
Resistansi platinum
Resistive Temperature Detector atau disingkat dengan RTD
memiliki fungsi yang sama dengan Thermistor jenis PTC yaitu
dapat mengubah energi listrik menjadi hambatan listrik yang
sebanding dengan perubahan suhu. Namun Resistive Temperature
Detector (RTD) lebih presisi dan memiliki keakurasian yang lebih
tinggi jika dibanding dengan Thermistor PTC. Resistive
Temperature Detector pada umumnya terbuat dari bahan Platinum
sehingga disebut juga dengan Platinum Resistance Thermometer
(PRT). Keuntungan dari Resistive Temperature Detector (RTD) :
- Rentang suhu yang luas yaitu dapat beroperasi di suhu -200C
hingga +650C.
- Lebih linier jika dibanding dengan Thermistor dan
Thermocouple
- Lebih presisi, akurasi dan stabil.

Semikonduktor junction

2. Sensor cahaya :
Sel fotokonduktif
Sensor cahaya tipe fotokonduktif akan memberikan
perubahan resistansi pada terminal outputnya sesuai dengan
perubahan intensitas cahaya yang diterimanya.

Fotodioda
Photo dioda adalah suatu dioda yang akan mengalami
perubahan resistansi pada terminal anoda dan katoda apabila
terkena cahaya. Nilai resistansi anoda dan katoda pada photo dioda
akan semakin rendah apabila intensitas cahaya yang diterima
photodioda semakin tinggi.
Gambar 1. Photo dioda

Foto transistor
Photo transistor adalah suatu transistor yang memiliki
resistansi antara kaki kolektor dan emitor dapat berubah sesuai
intensitas cahaya yang diterimanya. Photo transistor memiliki 2
terminal output dengan nama emitor dan kolektor, dimana nilai
resistansi emitor dan kolektor tersebut akan semakin rendah
apabila intensitas cahaya yang diterima photo transistor semakin
tinggi.

Gambar 2. Photo transistor

Relay adalah suatu peralatan elektronika yang menggunakan magnet


listrik untuk mengoperasikan perangkat kontak, bila kumparan kawat
dialiri arus listrik maka medan magnet yang dibangun akan menarik
armateur berporos. Gerakan ini dipakai untuk menutup atau membuka satu
atau banyak kontak yang bekerja secara serempak. Beberapa susunan
kontak yang lazim digunakan :

1. Normally open dimana relay akan menutup bila dialiri arus listrik.
2. Normally close dimana relay akan membuka bila dialiri arus listrik.
3. Changeover dimana relay ini memiliki kontak tengah yang normalnya
tertutup dan akan melepaskan diri dan membuat kontak lainnya
berhubungan.
Beberapa fungsi Relay yang telah umum diaplikasikan kedalam peralatan
elektronika diantaranya adalah :
- Relay digunakan untuk menjalankan Fungsi Logika (Logic Function).
- Untuk memberikan fungsi penundaan waktu (Time Delay Function).
- Untuk mengendalikan sirkuit tegangan tinggi dengan bantuan dari
sinyal tegangan rendah.
- Ada juga Relay yang berfungsi untuk melindungi motor ataupun
komponen lainnya dari kelebihan tegangan ataupun hubung singkat
(Short).

Gambar 3. Relay

Operational Amplifier (op-amp) atau di singkat op-amp merupakan


salah satu komponen analog yang sering digunakan dalam berbagai aplikasi
rangkaian elektronika. Op-amp dapat dikatakan sebagai penguat dengan
multistage yang mempunyai input differensial. Op-amp dikemas dalam
rangkaian terintegrasi (IC).
Ciri-ciri op-amp antara lain :
- Memiliki dua input dengan satu output
- Impedansi input tinggi Zi =
- Impedansi output rendah Zo = 0
- Penguatan open loop tinggi Av =
- Lebar pita frekuensi tak terhingga =
- Dapat dikonfigurasi dengan umpan balik
- Tegangan output nol bila kedua tegangan input sama

Pada kenyataan op-amp memiliki nilai batas tertentu, tergantung jenis


metode pembuatan op-amp tersebut.
C. ALAT DAN KOMPONEN YANG DIGUNAKAN
Transistor
Kapasitor
Potensio
NTP/PTC
LDR
Sumber tegangan 15 V
Osiloskop
Multimeter
Generator fungsi
Op-amp 741
Resistor dengan bermacam harga

D. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Sensor Suhu
a. Menyusun rangkaian seperti gambar 8.1.
b. Menggunakan NTC sebagai sensor dan memanaskannya,
mengukur kenaikan tegangan untuk setiap kenaikan harga
potensiometer.
c. Mengganti NTC dengan PTC dan melakukan hal yang sama.

Gambar 8.1 Gambar 8.2


Rangkaian Sensor Suhu Rangkaian Sensor Cahaya
2. Sensor Cahaya
a. Menyusun rangkaian seperti gambar 8.2.
b. Memperhatikan perubahan yang terjadi pada relay dengan
memperhatikan keadaan LED, ketika LDR ditutup dan terkena
cahaya.

3. Differensial
a. Menyusun rangkaian seperti gambar 8.3.
b. Memberikan V1 = 0,2V dan V2 = 0,3V.
c. Mencatat Vout yang terukur.
d. Mengubah Rf menjadi 50K. Mencatat Vout yang terukur.

Gambar 8.3
Differensial Amplifer

4. Pengubah Tegangan ke Arus


a. Menyusun rangkaian seperti gambar 8.4.
b. Mengatur variabel resistor P1 sehingga didapat V3 = 1V.
c. Mencatat arus output Iout.
d. Mengubah variabel resistor sehingga didapat Vin yang berbeda,
mengulangi langkah (a) s/d (c).
Gambar 8.4 Gambar 8.5
Pengubah tegangan ke arus Pengubah arus ke tegangan

5. Pengubah Arus ke Tegangan


a. Menyusun rangkaian seperti gambar 8.5.
b. Mengatur variabel resistor P1 sehingga didapt arus input Iin = 0,1
mA.
c. Mencatat tegangan output Vout.
d. Mengubah variabel resistor sehingga didapat Iin yang berbeda,
mengulangi langkah (a) s/d (c).

E. TUGAS PENDAHULUAN
1. Apa syarat utama sebuah rangkaian differensial amplifier dengan op-
amp?
Memiliki dua input dan memiliki nilai Rf yang sama
R1 = R2, Rf = Rf dengan V1 V2

2. Buat skema pengukur arus yang melewati sebuah hambatan dengan


amperemeter dan buat juga skema mengukur tegangan yang jatuh di
sebuah hambatan.

Skema pengukur arus Skema pengukur tegangan


F. SIMULASI
1. Sensor Suhu

2. Sensor Cahaya

3. Differensial amplifier
Rf = 10 K
Rf = 50 K

4. Pengubah tegangan ke arus


Vin = 1 V

Vin yang berbeda, Vin = 10,5 V


5. Pengubah arus ke tegangan
I in = 0,1 mA

I in yang berbeda, I in = 1,052 mA


G. DATA PENGAMATAN
1. Percobaan I (Sensor Suhu)
PTC
Rpot Vhot Vcold
10 K 11 mV 13 mV
5 K 6 mV 10 mV

NTC
Rpot Vhot Vcold
10 K
5 K 8 mV 12 mV

2. Percobaan II (Sensor Cahaya)


Praktikan tidak sempat melakukan percobaan ini.

3. Percobaan III (Differensial)


Rf 1 = 10 K Rf 2 = 47 K
V1 V2 Vout 1 Vout 2
0,2 V 0,3 V - 0,05 V - 1,9 V
0,4 V 0,6 V - 0,1 V - 1,65 V
1,0 V 1,5 V -0,5 V - 4,4 V

4. Percobaan IV (Pengubah tegangan ke arus)


V in I out
1V 28 mA
2V 27,7 mA
3V 27,5 mA
4V 27,2 mA
5V 27 mA
5. Percobaan V (Pengubah arus ke tegangan)
I in Vout

0,1 mA 0,5 V
0,2 mA 1,2 V
0,3 mA 1,3 V
0,4 mA 3,75 V
0,5 mA 4,5 V

H. ANALISIS
Pada percobaan dalam modul 8 ini, yaitu Rangkaian Sensor
Sederhana dan Aplikasi Op-Amp. Dalam percobaan ini praktikan
menggunakan beberapa alat dan komponen. Transistor untuk menguatkan
tegangan sumber pada rangkaian sensor suhu dan sensor cahaya. Lalu
potensiometer untuk memberi nilai hambatan yang berbeda. NTC/PTC
berfungsi sebagai sensor pada rangkaian yang berhubungan dengan suhu
(temperatur) dan digolongkan sebagai komponen transduser yang
mengubah suatu energi ke energi lainnya. Kemudian LDR atau Light
Dependent Resistor yang berfungsi sebagai sensor cahaya dimana nilai
resistansinya bergantung pada intensitas cahaya yang diterimanya. Sumber
tegangan 15 V sebagai tegangan Vcc dan VEE pada input op-amp yang
digunakan. Lalu mutimeter sebagai alat ukur tegangan dan arus yang
melewati rangkaian. Op-amp 741 sebagai komponen aktif dan penguat. Dan
resistor dengan berbagai harga sebagai komponen pasif dalam rangkaian
dan sebagai faktor dalam penentuan penguatan tegangan suatu rangkaian.

Pada percobaan pertama, yaitu rangkaian dengan sensor suhu untuk


mengetahui cara kerja dan penggunaan dari rangkaian sensor. Dalam
percobaan ini, praktikan menyusun rangkaian seperti pada modul. Di
percobaan ini, rangkaian menggunakan komponen NTC dimana nilai
resistansinya akan turun jika suhu di sekitar NTC tersebut tinggi
(berbanding terbalik/negatif), dan juga menggunakan komponen PTC
dimana semakin tinggi suhu di sekitarnya semakin tinggi pula nilai
resistansinya (berbanding lurus/positif). Komponen PTC/NTC tersebut
dipanaskan untuk mengukur kenaikan tegangan pada setiap kenaikan harga
potensiometer, lalu tegangan tersebut dicatat pada keadaan panas dan dingin
sehingga dapat diamati perubahan tegangan yang dihasilkan. Setelah
percobaan dilakukan, diperoleh data seperti yang dapat dilihat di data
pengamatan. Praktikan memperoleh data, saat menggunakan komponen
PTC sesuai dengan teori yaitu saat temperatur lebih tinggi resistansi juga
lebih besar sehingga tegangan yang dihasilkan lebih kecil. Namun saat
menggunakan komponen NTC, praktikan memperoleh data yang salah,
yaitu perbandingan besar tegangan yang sama dengan PTC, kemungkinan
terjadi kesalahan pada saat praktikan mengukur tegangan dengan
multimeter, sehingga data yang diperoleh kurang akurat.

Pada percobaan kedua, yaitu rangkaian menggunakan sensor cahaya


dengan tujuan percobaan yang sama dengan percobaan pertama. Praktikan
menyusun rangkaian seperti di modul dengan menggunakan LDR sebagai
sensor cahayanya. Pada rangkaian ini, relay berfungsi sebagai saklar yang
bekerja berdasarkan input yang dimilikinya. Menurut teori, dalam keadaan
gelap resistansi sekitar 10 M dan dalam keadaan terang sebesar 1 K atau
kurang. LDR yang praktikan gunakan terbuat dari bahan semikonduktor
seperti kadmium sulfida. Dengan bahan ini energi dari cahaya yang jatuh
menyebabkan lebih banyak muatan yang dilepas atau arus listrik meningkat.
Artinya, resistansi bahan telah mengalami penurunan. Perubahan nilai
hambatan pada LDR tersebut akan menyebabkan perubahan beda tegangan
pada input basis transistor, sehingga akan mengaktif/nonaktifkan transistor.
Namun untuk percobaan ini, praktikan belum sempat melakukannya karena
adanya keterbatasan waktu, sehingga praktikan tidak dapat mengamati dan
membandingkannya dengan berdasarkan teori.

Pada percobaan ketiga yaitu rangkaian differensial dengan tujuan


agar praktikan mampu mengoperasikan op-amp sebagai differensial
amplifier. Rangkaian ini menggunakan dua input yaitu inverting dan non
inverting ke op-amp dengan besar tegangan Vin yang berbeda. Lalu
praktikan mencatat besar tegangan Vout yang dihasilkan. Dengan besar
resistansi semua resistor sebesar 10 K, diperoleh tegangan Vout sebesar
-0,05V dengan V1 0,2V dan V2 0,3V. Ketika Rf akan diubah menjadi 50
K, praktikan tidak dapat menemukan resistor dengan sebesar 50 K
sehingga praktikan menggunakan resistor 47 K, dan diperoleh Vout
sebesar -1,9V dengan V input yang sama. Kemudian besar tegangan input
diubah sehingga diperoleh variasi data, dan praktikan memperoleh data
dengan perbandingan yang sama yaitu saat Rf 47 K tegangan Vout lebih
besar dibandingkan dengan Rf 10 K.

Pada percobaan keempat, yaitu untuk menguji rangkaian dengan


pengubah tegangan ke arus. Praktikan menyusun rangkaian seperti di
modul, lalu mengatur variabel resistor dengan Vin awal sebesar 1V dan
mencatat arus output yang dihasilkan, kemudian variabel resistor diubah
sampai 5V dengan interval 1V. Pada data pengamatan, dapat dilihat besar
Iout semakin kecil dengan bertambahnya besar Vin, seharusnya jumlah arus
akan semakin bertambah seiring naiknya tegangan yang diberikan karena
fungsi op-amp untuk mengubah tegangan tersebut menjadi arus. Adanya
kesalahan pada data kemungkinan disebabkan karena terjadi kesalahan pada
multimeter yang digunakan, karena nilai arus yang dihasilkan kecil
sehingga praktikan sulit untuk membacanya dan multimeter menunjukkan
data yang kurang tepat yaitu jarum penunjuk skala yang berubah-ubah.

Pada percobaan kelima, yaitu untuk menguji rangkaian dengan op-


amp mengubah arus ke tegangan. Dengan langkah percobaan yang hampir
sama dengan percobaan keempat, namun variabel resistor diubah untuk
mendapatkan arus I in awal sebesar 0,1 mA dan diubah sampai 0,5 mA
dengan interval 0,1 mA. Berdasarkan data pengamatan, diperoleh besar
Vout semakin besar dengan meningkatnya besar arus Iin, hal ini sesuai
dengan teori dimana rangkaian akan menghasilkan peningkatan tegangan
seiring dengan bertambahnya arus yang diberikan sesuai dengan fungsi op-
amp untuk mengubah arus tersebut menjadi tegangan.

I. KESIMPULAN
1. Rangkaian sensor suhu dengan menggunakan komponen NTC yang
akan memberikan resistansi semakin kecil jika suhu di sekitar
komponen tinggi. Dengan komponen PTC, rangkaian akan diberikan
resistansi besar dengan bertambahnya kenaikan temperatur.
2. Rangkaian sensor cahaya dengan menggunakan komponen LDR yang
berfungsi sebagai sensor dimana nilai resistansinya bergantung pada
intensitas cahaya yang diterimanya.
3. Praktikan mampu mengoperasikan op-amp sebagai differensial
amplifier dengan dua tegangan input yang diberikan pada kedua kaki
inverting dan non inverting pada op-amp.
4. Praktikan mampu menguji op-amp sebagai pengubah tegangan ke arus
dan arus menjadi tegangan, dengan besar tegangan/arus output
sebanding dengan besar arus/tegangan input yang diberikan.

J. REFERENSI
[1] Malvino, Albert Paul. Eletronic Principles 6th Edition. Tata McGraw-
Hill Publishing Company Limited. 1999.

[2] [Link]
suhu/ (Diakses pada tanggal 23 November 2016. Pukul 14.31 WIB)

[3] [Link]
(Diakses pada tanggal 23 November 2016. Pukul 15.47 WIB)

[4] [Link]
(Diakses pada tanggal 23 November 2016. Pukul 15.53 WIB)
K. LAMPIRAN
1. Datasheet
Transistor BC108
VCB (open emitter) : max. 30 V
VCE (open base) : max. 20 V
hFE : min. 110 dan max. 800

Op-Amp 741
Arus bias input : 500 A
Tegangan offset : 6000 mV
Slew rate : 0.5 V/ s
CMRR : 70 dB

2. Data praktikum sebelumnya

Anda mungkin juga menyukai