TUGAS
INSTALASI PENGELOLAAN AIR LIMBAH RUMAH SAKIT
DI
RUMAH SAKIT UMUM KABUPATEN TANGERANG
BULAN JULI SEPTEMBER TAHUN 2017
Disusun oleh :
Alifya Fitri Muliasih 14040001
Dewi Nur Widayati 14040009
Djuriah Wulandari 14040012
Dyah Saraswati 14040013
Elvia Pujianti 14040015
Fenny Maita Sari 14040018
Muhamad Ikbal Hamdi 14040033
Muthia Nurhidayah 14040037
Nuraini 14040039
Siti Rohmah 14040047
PROGRAM STUDI S1 FARMASI
SEKOLAH TINGGI FARMASI MUHAMMADIYAH TANGERANG
TAHUN 201
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan
rahmat dan karuniaNya maka penulis dapat menyelesaikan tugas tentang Instalasi
Pengelolaan Air Limbah di Rumah Sakit ini tepat pada waktunya.
Penulisan dan penyusunan laporan ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan
berbagai pihak, oleh karena itu dengan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih
yang sebesar besarnya kepada :
1. Ibu Nita Rusdiana [Link]., [Link]., Apt selaku Ketua Sekolah Tinggi Farmasi
Muhammadiyah Tangerang.
2. Ibu Dina Pratiwi [Link]., [Link] selaku Kaprodi S1 Sekolah Tinggi Farmasi
Muhammadiyah Tangerang.
3. Ibu Dra Didiet Etnawati [Link]., Apt selaku Kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit
Umum Kabupaten Tangerang.
4. Ibu Nuraini [Link]., [Link]., Apt selaku Pembimbing Praktek Kerja Lapangan yang
telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama pelaksanaan Praktek Kerja
Lapangan dan penyusunan laporan ini.
5. Ibu Surpriani [Link].,Apt selaku Pembimbing Praktek Kerja Lapangan yang telah
memberikan bimbingan dan pengarahan selama pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan
dan penyusunan laporan ini.
6. Seluruh dosen - dosen Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Tangerang yang telah
memberikan kami ilmu sehingga kami dapat melaksanakan Praktek Kerja Lapangan
ini.
7. Seluruh staf dan karyawan Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Kabupaten
Tangerang yang telah menerima kami dengan baik dan mengizinkan kami untuk
menimba ilmu serta memberikan informasi mengenai kegiatan yang berlangsung di
masing masing bagian tersebut.
Penulis memyadari bahwa penyusunan tugas ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan dengan senang hati menerima
segala kritik dan saran demi perbaikan di masa yang akan datang.
Penulis berharap semoga tugas ini dapat bermanfaat dalam pengembangan
ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang farmasi dan aplikasi pelayanannya di
Rumah Sakit.
Tangerang, 01 September 2017
Penulis
1.1. LIMBAH
Menurut Undang-undang Republik Indonesia (UU RI) No. 32 Tahun 2009
tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), definisi
limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan. Definisi secara umum, limbah
adalah bahan sisa atau buangan yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses
produksi yang sudah tak terpakai lagi, baik pada skala rumah tangga, industri,
pertambangan, dan sebagainya. Karena tidak memiliki nilai ekonomi dan daya
guna lagi limbah bisa sangat membahayakan bila sudah mencemari lingkungan
sekitar terutama untuk limbah yang mengandung bahan kimia yang tak mudah
terurai oleh bakteri pengurai. Bentuk limbah tersebut dapat berupa gas dan debu,
cair atau padat. Jenis-jenis limbah dari bentuk fisiknya adalah:
1. Limbah padat, yang lebih dikenal sebagai sampah. Bentuk fisiknya padat.
Definisi menurut UU No. 18 Tahun 2008, sampah adalah sisa kegiatan sehari-
hari dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Contoh: sisa-sisa organisme,
barang dari plastik, kaleng, botol, dll.
2. Limbah cair. Bentuk fisiknya cair. Contoh: air buangan rumah tangga,
buangan industri, dll.
3. Limbah gas dan partikel. Bentuk fisiknya gas atau partikel halus (debu).
Contoh: gas buangan kendaraan (dari knalpot), buangan pembakaran industri.
1.2. LIMBAH CAIR
Sesuai Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-
58/MENLH/12/1995, Tanggal 21 Desember 1995, menyatakan bahwa limbah
cair adalah semua bahan buangan berbentuk cair yang berasal dari rumah sakit
yang kemungkinan mengandung mikroorganisme patogen, bahan kimia beracun
dan radioaktivitas.
Secara umum limbah cair merupakan limbah yang berupa cairan dan biasanya
jenis limbah cair ini sangat riskan mencemari lingkungan sehingga dikenal
sebagai pencemar air dan tanah. Untuk skala industri limbah cair umumnya
terdiri dari bahan buangan padat, bahan buangan organik dan bahan buangan
anorganik sisa dari hasil produksi sedang limbah yang biasa dihasilkan oleh
rumah tangga/domestik dapat berupa air kotor dari pemakaian mandi, cuci dan
toilet. Di manapun ia dibuang akan mencemari tempat pembuangannya, baik di
tanah maupun di air. Oleh karena itu, harus dilakukan pengolahan air limbah
baik dari perumahan maupun industri. Di kawasan industri air limbah diolah
dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Di perumahan, tempat
pembuangan air kakus adalah septictank, ini adalah bentuk pengolahan limbah
tinja secara individual, sedangkan air limbah lainnya masuk ke selokan.
1.3. AIR LIMBAH RUMAH SAKIT
Rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan sebagai upaya untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat tersebut. Rumah sakit
sebagai salah satu upaya peningkatan kesehatan tidak hanya terdiri dari balai
pengobatan dan tempat praktik dokter saja, tetapi juga ditunjang oleh unit-unit
lainnya, seperti ruang operasi, laboratorium, farmasi, administrasi, dapur,
laundry, pengolahan sampah dan limbah, serta penyelenggaraan pendidikan dan
pelatihan. Selain membawa dampak positif bagi masyarakat, yaitu sebagai
tempat menyembuhkan orang sakit, rumah sakit juga memiliki kemungkinan
membawa dampak negatif. Dampak negatifnya dapat berupa pencemaran dari
suatu proses kegiatan, yaitu bila limbah yang dihasilkan tidak dikelola dengan
baik.
Air limbah rumah sakit mengandung polutan yang bersifat toksid, infeksius,
bahkan radioaktif sehingga berpotensi menimbulkan dampak terhadap
pencemaran lingkungan dan kesehatan masyarakat. Disamping itu dengan
minimnya jumlah rumah sakit di Indonesia yang memiliki IPAL yaitu sebanyak
36%, dan yang memenuhi persyaratan IPAL sebesar 52% maka potensi dampak
yang ditimbulkan akan semakin nyata. Limbah cair rumah sakit dapat
mengandung bahan organik dan anorganik yang umumnya diukur dan parameter
BOD, COD, TSS, dan lain-lain.
1.4. INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH
Pengendalian dampak lingkungan adalah upaya yang dilakukan untuk
mencegah, meminimalkan, dan atau menangani dampak negatif suatu usaha
(proyek pembangunan) terhadap lingkungan sehingga kualitas lingkungan tetap
terjaga dengan baik. Pengolahan limbah cair mempunyai tujuan untuk
menghilangkan unsur-unsur pencemar dari air limbah dan untuk mendapatkan
effluent dari pengolahan yang mempunyai kualitas yang dapat diterima oleh
badan air penerima, tanpa ada gangguan-gangguan fisik, kimiawi maupun
biologi (Djabu, 1990/1991). Instalasi Pengolahan Limbah Cair rumah sakit
dibangun dengan maksud untuk mengolah limbah cair yang dihasilkan oleh
rumah sakit agar dapat mengurangi, menghilangkan dan menurunkan bahan-
bahan yang berbahaya yang terkandung dalam air limbah (Mulia, 2005).
1.5. INSTALASI PENGELOLAAN LIMBAH DI RSU KABUPATEN
TANGERANG
Instalasi pengolahan limbah RSU Kabupaten Tangerang merupakan bagian dari
pelayanan penunjang non medis. Jenis limbah yang ditangani Instalasi
Pengolahan Limbah RSU Kabupaten Tangerang meliputi limbah padat dan
limbah cair. Sistem pengolahan limbah yang diterapkan adalah sistem terpusat
artinya limbah yang berasal dari seluruh ruangan dipompa ke bak pengumpul.
Limbah merupakan sisa proses yang keberadaannya perlu dikelola dengan
pembakuan yang dipersyaratkan. Limbah rumah sakit yang mengandung unsur
kimia, fisika, dan mikroba sangat berpotensi menimbulkan dampak negatif atau
penyakit terhadap lingkungan.
1. Limbah Padat
Instalasi sanitasi di RSU Kabupaten Tangerang mengelola limbah padat
yang bersumber dari RSU maupun luar RSU. Adapun jenis limbah padat
adalah benda tajam, jarum infus, kassa, verban, botol selang infuse, sisa
jaringan tubuh. Langkah pertama pada pengolahan limbah padat adalah
mengumpulkan sampah dari seluruh ruangan, lalu dipisahkan berdasarkan
sampah medis dan non medis. Sampah non medis ditempatkan pada plastik
hitam dan dikumpulkan pada suatu tempat yang selanjutnya akan diangkut
oleh Dinas Kebersihan. Untuk sampah medis dimasukkan dalam plastik
kuning diangkut ke ruang mesin dimana dilakukan pemilihan antara benda
tajam dan benda tidak tajam. Untuk sampah sitostatika tidak dibedakan
dengan sampah medis sehingga penangannya tidak berbeda dengan sampah
lainnya, hal ini dikarenakan sulitnya mencari plastik yang berwarna ungu
yang menandakan bahwa sampah tersebut merupakan sampah sitostatika dan
untuk sampah kadaluarsa ditempatkan di plastik berwarna coklat (missal
obat-obatan). Limbah B3 kemudian diangkut kembali ke tempat pengolahan
akhir oleh pihak ke 3.
2. Limbah Cair
Pengelolaan limbah cair dilakukan di Instalasi Pengolahan Air Limbah
(IPAL) bantuan pemerintah Austria. IPAL RSU Kabupaten Tangerang
menggunakan system SBR (Sequencing Batch Reactor) tipe W3 yang
merupakan proses modifikasi dari proses pengelolaan lumpur aktif
konvensional. Dimana unit pengelolaan secara biologi serta pemisahan air
limbah terolah dengan lumpur (sedimentasi) dilakukan dengan
reaktor/tangki SBR selama waktu siklus yang ditentukan. Terdapat 5 proses
yang harus dilalui dalam SBR yaitu filling, mixing, aerasi, sedimentasi dan
decanting.
a. Filling merupakan proses memasukkan ke dalam SBR.
b. Mixing merupakan proses pencampuran antara air dengan limbah yang
akan diolah.
c. Aerasi merupakan pemberian O2 ke dalam SBR
d. Sedimentasi merupakan proses pengendapan hasil pengolahan limbah
dari tahap sebelumnya.
e. Decanting merupakan pengeluaran hasil pengolahan limbah yang berupa
air dari SBR.
Hasil limbah yang berupa air dimasukkan ke dalam kontainer kemudian
dilakukan desinfeksi dengan kaporit. Selanjutnya hasil desinfeksi dimasukkan ke dalam bak
penampungan untuk dilakukan uji kualitas air setiap 1 bulan sekali. Waktu yang diperlukan
hingga proses ini kurang lebih 4 jam. Hasil limbah yang berupa lumpur dimasukkan ke
sludge holding tank (bak penahan lumpur) dan diberi polielektrolit agar terjadi
penggumpalan. Instalasi ini juga melakukan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan sarana
dan prasarana IPAL serta melakukan pemeriksaan kualitas air limbah di inflow (sebelum
limbah cair diolah) maupun effluent (setelah limbah cair diolah) dengan hasil pemeriksaan
disesuaikan dengan baku mutu limbah cair rumah sakit yaitu Kep.58/[Link]/12/1995.
Selain pengolahan limbah padat dan cair rumah sakit, yang harus diperhatikan dalam
program sanitasi antara lain pengelolaan kebersihan bangunan, penyediaan dan pengawasan
air bersih, pembuatan makan dan minuman yang bersih dan sehat. Pengendalian serangga dan
binatang pengganggu, pemeliharaan taman dan kesehatan lingkungan