Nama : Angga Wilu Utomo
NIM : 15504241036
Kelas :A
Pompa Injeksi Bahan Bakar Diesel Tipe Distributor DPA
Pompa injeksi DPA di produksi oleh Amerika, sedangkan VE diprodusi oleh NIpondenso Japan.
Keduanya memiliki ciri sebagai berikut.
1. Kecil, ringan mampu pada rpm tinggi.
2. Penghantaran penekanan bahan bakar dengan cam permukaan dan plunyer tunggal.
3. Di dalam unit pompa terdapat governor.
4. Terdaapat juga pengatur saat penyemprotan yang di control oleh tekanan bahan bakar dan
pompa penyalur/ pegisian tipe rotary.
5. Aliran bahan bakar di matikan menggunakan selenoid untuk tipe VE dan shut off lever
untuk tipe DPA
6. Pelumasan dengan sendirinya.
Konstruksi pompa injeksi dristributor DPA
Komponen pompa injeksi :
Drive shaft : poros penggerak pompa injeksi yang di hubungkan dengan mesin
melalui timing gear.
Pump plunyer : pompa injeksi yang berbentuk dua buah silinder.
Metering valve : kaup pengaatur jumlah baha bakar yang menganut system aliran.
Fuel inlet : saluran untuk memasukan bahan bakar ked lam pompa injeksi.
Regulating unit : unit pengatur aliran bahan bakar
Advance device : unit untuk memajukan saat injeksi sejalan dengan kecepatan mesin.
Cam ring : sebuah cincin yang di dalamnya terdapat dua pasang nok.
Rotor : alat distribusi bahan bakar bertekanan tinggi ke injector sesuai dengan firing order.
Shut off lever : handel untuk mematikan mesin.
Back leak connection : adalah saluran yang di persiapkan untuk menampung kelebihan bahan bakar
akibat kebocoran.
Berdasrkan fugsi pompa injeksi bahan bakar dapat di kategoriakan kedalam 6 fungsi utama yaitu
A. Mengabutkan bahan bakar dan memberikan tekan yang tinggi.
Persyaratan yang di perlukan sesuai degan karakteristik mesin, yaitu mesinnya direct injection
atau indirect injection, seberapa tekanan kompresinya dan sebagainya. Sebgai contoh injector
dengan tipe mesin direct injection Injector berlubang satu (Single hole) proses pengabutannya
sangat baik akan tetapi memerlukan tekanan injektion pump yang tinggi. Demikian halnya
dengan Injektor berlubang banyak (multi hole) pengabutannya sangat baik. Injector ini sangat
tepat digunakan pada direct injection (injeksi langsung). Injector pada pompa injector jenis ini di
samping mengabutkan bahan bakar juga mengatur besrnya tekanan injeksi berbeda halnya
dengan injector pada common rail yang hanya membuka dan menutup injectornya.
B. Mengatur jumlah bahan bakar sesuai dengan beban dan kecepatan mesin.
Sekema aliran bahan bakar dari tangki dihisap oleh feed pump dan di tekan ke poma injeksi
melalui saringan bahan bakar. Bahan bakar masuk ke dalam pompa injeksi dihisap oleh transfer
pump dan di tekan ke dalam ruangan diantara plunyer setelah melalui proses pengukuran.
Pengukuran jumlah bahan bakar dilakukan oleh metering valve, gambar 4-23a menjelaskan saat
handle gas pda matering valve sebelum di injak, sementara gambar 4-23b menggambarkan posisi
metering valve seelah hendel gas pada posisi di injak. Terlhat perbedaanya, saat idle metering
valve berada di posisi setengah menutup saluran bahan bakar ke pompa injeksi. Dengan
demikian, maka jumlah bahan bakar akan berkurang/ sedikit. Sementara saat posisi seperti
gambar 4-23b jumlah bahan bakar akan lebih banyak.
C. Timing injeksi
Pengaturan timing injeksi sebagai mana dilaukan pada pompa injeksi inline, yaitu dengann
menggeser rumah pompa injeksi terhadap block silinder mesin. Sementara cara kerja timing
advance , seperti terlihat pada gambar 4-2, pada bagian bawah adalah unit advance. Pengajuan
saat injeksi dilakukan dengan memanfaatkan tekanan bahan bakardari transfer pump yang di
salurkan di sebelah kiri plunyer timing advance. Saat puaran mesin bertambah, maka tekanan
bahan bakar yang di hasilkan dari transfer pump juga bertambah . sewaktu tekanan bhan bakar
yang terjadi lebih besar dari tegangan pegas yang di pasang di sebelah kanan posisi ini berarti
timing akan maju namun saat putaran mesin berkurang maka tekanan di sebelah kanan berkurang
maka pegas mendorong plunyer advance ke arah kiri yang berarti akan menggeser timing
menurun dan mendekati timig injeksi standarnya.
D. Awal dan Akhir langkah injeksi
Pada bagian rotor terlihat terdapat beberapa saluran yaitu saluran distribusi jumlahnya satu,
saluraan ke injector jumlahnya sesuai dengan jumlah injector, saluran metering valve hanya satu,
dan saluran inlet ke pompa injeksi jumlahnya sesuai dengan jumlah injector, serta saluran leak
off.
Sepasang plunyer ditekan masuk oleh sepasang nok yang berbetuk ring yang disbut dengan cam
ring. Seperti terlihat pada gambar 4-25 berikut.
Arah panah menunjukan putaran pompa injeksi atau kedua plunyer pompa injeksi. Pada saat
posisi seperti di gambar dimana kedua plunyer tidak kena nok,maka nok akan bergerak ke luar
karena tekanan bahan bakar yang masuk diantaranya. Kemudain pompa berputar akan
memposisikan plunyer terkena sepasang nok pada cam [Link] saat ini plunyer di tekan ke
dalam oleh nok, dan menekan bahan bakar yang ada di antaranya. Begitu seterusnya, sehingga
bila di hitung selama satu putaran pompa injeksi plunyer di tekan sebanyak 4 kali, atau pompa
injeksi untuk motor disel empat sislinder.
Selanjutnya proses penekanan bahan bakar ke injector. Untuk membantu penjelasan lihat gambar
4-26 berikut.
Gambar 4-26a menggambarkan proses pengisian bahan bakar. Bahan bakar dari transfer pump
setelah di ukur oleh metering valve ditekan masuk ke pompa injeksi melalui saluran inlet dan
mendorong keluar kedua plunyer pompa. Gerakan keluar plunyer tergantung pada seberapa
banyak jumlah bahan bakar yang dikirim. Pada posisi ini berarti kedua plunyer tidak meyentuh
cam ring.
Gambar 4-26b, menggambarkan saat kedua plunyer pompa injeksi berhubungan dengan cam
ring. pada posisi ini rotor sudah berputar, saluran inlet terputus, dan saluran distribusi ke injector
terhubung. Sehingga saat kedua plunyer tertekan ke dalam menekan bahan bakar, bahan bakar di
salurkan ke injector, atau terjadi proses injeksi bahan bakar ke dalam silinder.
Proses pemasukan dan penekanan terulang sampaii keempat injector menginjeksikan bahan
bakar dan terjadi selama satu putaran rotor pompa injeksi.
E. Stabilisator
Governor berfungsi untuk mengatasi kebutuhan bahan bakar diesel yang tak dapat di kendalikan
oleh handel gas dengan kata lain fungsi dari governor sendiri adalah sebagai stabilisator.
Governor yang di gunakan pada pompa injeksi ini tipe hidrolis yaitu memanfaatkan variasi
tekanan bahan bakar yang di hasilkan oleh transfer pump.
Pada saat motor diesel bertambah beban, maka putaran akan cenderung turun dan transfer pump
juga akan turun putarannya. Putaran transfer pump turun berarti tekanan yang di hasilkan akan
turun juga. Kondisi ini berarti tegangan pegas akan lebih besar dan mendorong plunyer metering
valve ke arah kanan menambah jumlah bahan bakar, sehingga motor diesel akan kembali pada
putaran semula.
Sebaliknya saat beban berkurang, maka putaran motor diesel akan cenderung naik, berarti
putaran transfer pump juga naik kenaikan putaran transfer pump akan menaikan teanan bahan
bakar. Sehingga tekanan bahan bakar akan lebih besar dari tegangan pegas. Kondisi ini akan
mendorong plunyer metering valve ke arah kiri atau menggurangi jumlah bahan bakar. Dengan
demikian governor berfungsi saat beban bertambah akan menambah jumlah bahan bakar dan saat
beban berkurang akan mengurangi jumlah bahan bakar.
F. Mematikan mesin.
Untuk mematikan mesin diperguakan shut off lever (4-1). Hendel ini di sambungkan langsung
dengan metering plunyer agar saat handel ini di operasikan plunyer dapat di gerakan ke kiri
sepenuhnya hingga menutup saluran pompa injeksi. Dengan demikian meskipun transfer pump
tetap berputar mengirim bahan bakar, namun tidak di salurkan ke pompa injeksi. Bahan baar
akan berputar kembali ke inlet melalui regulating valve.