0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
351 tayangan37 halaman

Epidemiologi dan Klasifikasi DBD

Dokumen tersebut membahas tentang Demam Berdarah Dengue (DBD), termasuk definisi, klasifikasi, etiologi, epidemiologi, dan beberapa aspek lainnya. DBD disebabkan oleh infeksi virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes. Terdapat 4 serotipe virus Dengue yang dapat menyebabkan penyakit dengan gejala yang bervariasi. Indonesia merupakan negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara dan penyakit ini telah

Diunggah oleh

InTan Permata
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
351 tayangan37 halaman

Epidemiologi dan Klasifikasi DBD

Dokumen tersebut membahas tentang Demam Berdarah Dengue (DBD), termasuk definisi, klasifikasi, etiologi, epidemiologi, dan beberapa aspek lainnya. DBD disebabkan oleh infeksi virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes. Terdapat 4 serotipe virus Dengue yang dapat menyebabkan penyakit dengan gejala yang bervariasi. Indonesia merupakan negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara dan penyakit ini telah

Diunggah oleh

InTan Permata
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Demam berdarah dengue (DBD) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh

infeksi virus dengue. DBD adalah penyakit akut dengan manifestasi klinis perdarahan

yang menimbulkan syok yang berujung kematian. DBD disebabkan oleh salah satu

dari empat serotipe virus dari genus Flavivirus, family Flaviviridae. Setiap serotipe

cukup berbeda sehingga tidak adaproteksisilang dan wabah yang disebabkan beberapa

serotipe (hiperendemisitas) dapat terjadi. Virus ini bisa masuk ke dalam tubuh manusia

dengan perantara nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenisnyamuk ini

terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian

lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. Seluruh wilayah di Indonesia mempunyai

resiko untuk terjangkit penyakit demam berdarah dengue, sebab baik virus penyebab

maupun nyamuk penularnya sudah tersebar luas di perumahan penduduk maupun di

tempat-tempat umum diseluruh Indonesia kecuali tempat-tempat di atas ketinggian 100

meter dpl. Hampir setiap tahun terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di beberapa daerah

pada musim penghujan. Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan

endemis di sebagian kabupaten / kota di Indonesia.

Penyakit Demam Berdarah Dengue dapat menyerang semua golongan umur.

Sampai saat ini penyakit Demam Berdarah Dengue lebih banyak menyerang anak-anak

tetapi dalam dekade terakhir ini terlihat adanya kecenderungan kenaikan proporsi

penderita Demam Berdarab Dengue pada orang dewasa.

Sejak tahun 1968 hingga tahun 2009, World Health Organization (WHO)

1|FARMAKOTERAPI II-DBD
mencatat negara Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia

Tenggara. Di Indonesia, DBD pertama kali ditemukan di kota Surabaya pada tahun

1968, sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang meninggal dunia. Sejak saat itu,

penyakit ini menyebar luas ke seluruh Indonesia (Depkes RI, 2010). Pada tahun 2002

jumlah kasus sebanyak 40.377 (IR: 19,24/100.000 penduduk dengan 533 kematian

(CFR: 1,3%), tahun 2003 jumlah kasus sebanyak 52.566 (IR: 24,34/100.000

penduduk) dengan 814 kematian (CFR: 1,5%), tahun 2004 jumlah kasus sebanyak

79.462 (IR: 37,01/100.000 penduduk) dengan 957 kematian (IR: 1,20%), tahun 2005

jumlah kasus sebanyak 95.279 (IR: 43,31/100.000 penduduk) dengan 1.298 kematian

(CFR: 1,36%) tahun 2006 jumlah kasus sebanyak 114.656 (IR: 52,48/100.000

penduduk) dengan 1.196 kematian (CFR: 1,04%) sampai

dengan bulan November 2007, kasus telah mencapai 124.811 (IR: 57,52/100.000

penduduk) dengan 1.277 kematian (CFR: 1,02%).

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :

1. Apa pengertian dari DBD?

2. Apa klasifikasi dari DBD ?

3. Bagaimana etiologi penyakit DBD ?

4. Bagaimana epidemiologi penyakit DBD ?

5. Bagaimana patofisiologi penyakit DBD?

6. Bagaimana cara penularan DBD?

7. Apa gejala-gejala seseorang menderita DBD?

8. Bagaimana cara penanggulangan/pencegahan DBD?

2|FARMAKOTERAPI II-DBD
9. Bagaimana cara pengobatan kepada penderita DBD?

1.3. TUJUAN

Adapun tujuan penulisannya adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pengertian dari DBD.

2. Untuk mengetahui klasifikasi dari DBD.

3. Untuk mengetahui etiologi penyakit DBD.

4. Untuk mengetahui epidemiologi penyakit DBD.

5. Untuk mengetahui patofisiologi penyakit DBD.

6. Untuk mengetahui cara penularan DBD.

7. Untuk mengetahui gejala-gejala DBD.

8. Untuk mengetahui cara penanggulangan/pencegahan DBD.

9. Untuk mengetahui cara pengobatan kepada penderita DBD.

3|FARMAKOTERAPI II-DBD
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Definisi Demam Berdarah Dengue

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah suatu penyakit menular yang

disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang ditandai

dengan demam mendadak dua sampai tujuh hari tanpa penyebab yang jelas, lemah atau

lesu, gelisah, nyeri ulu hati, disertai dengan tanda-tanda perdarahan di kulit berupa

bintik perdarahan (petechia), ruam (purpura). Kadang-kadang mimisan, berak darah,

muntah darah, kesadaran menurun. Hal yang dianggap serius pada demam berdarah

dengue adalah jika muncul perdarahan dan tanda-tanda syok/ renjatan (Mubin, 2009).

Fever Dengue (DF) adalah penyakit febris-virus akut, seringkali ditandai

dengan sakit kepala, nyeri tulang atau sendi dan otot, ruam, dan leukopenia sebagai

gejalanya. Demam berdarah dengue (Dengue Haemoragick Frever/DHF) ditandai

dengan empat gejala klinis utama: demam tinggi/ suhu meningkat tiba-tiba, sakit

kepala supra, nyeri otot dan tulang belakang, sakit perut dan diare, mual muntah.

Fenomena hemoragi, sering dengan hepatomegali dan pada kasus berat disertai tanda

tanda kegagalan sirkulasi. Pasien ini dapat mengalami syok yang diakibatkan oleh

kebocoran plasma. Syok ini disebut Sindrom Syock Dengue (DSS) dan sering

menyebabkan fatal ( Mubin, 2009:19).

2.2. Klasifikasi Demam Berdarah Dengue

Menurut Kementerian Kesehatan RI (2010), klasifikasi penyakit Demam

Berdarah Dengue yaitu :

4|FARMAKOTERAPI II-DBD
a. Dengue tanpa tanda bahaya dan dengue dengan tanda bahaya (Dengue Without

Warning Signs). Kriteria dengue tanpa tanda bahaya dan dengue dengan tanda

bahaya :

1) Bertempat tinggal di atau bepergian ke daerah endemik dengue.

2) Demam disertai 2 dari hal berikut : mual, muntah, ruam, sakit dan nyeri, uji

tournikuet positif, lekopenia, adanya tanda bahaya.

3) Tanda bahaya adalah nyeri perut atau kelembutannya, muntah berkepanjangan,

terdapat akumulasi cairan, perdarahan mukosa, letergis, lemah, pembesaran hati

>2cm, kenaikan hematokrit seiring dengan penurunan jumlah trombosit yang

cepat.

4) Dengue dengan konfirmasi laboratorium (penting bila bukti kebocoran plasma

tidak jelas)

b. Dengue Berat (Severe Dengue). Kriteria dengue berat : kebocoran plasma berat,

yang dapat menyebabkan syok (DSS), akumulasi cairan dengan distress

pernafasan. Perdarahan hebat, sesuai pertimbangan klinisi gangguan organ berat,

hepar (AST atau ALT 1000, gangguan kesadaran, gangguan jantung dan organ

lain). Untuk mengetahui adanya kecenderungan perdarahan dapat dilakukan uji

tourniquet.

Klasifikasi Infeksi Virus Dengue berdasarkan diagnosa (lazim disebut virus

Demam Berdarah) menjadi 2 kategori umum, yaitu (Depkes, 2005) Asymptomatic

dengue infection or dengue without symptoms and the symptomatic dengue. Sedangkan

infeksi virus Dengue dengan gejala (the symptomatic dengue) di bagi menjadi 3

kelompok yaitu: (a). Demam Dengue tanpa gejala spesifik (b) Demam Dengue dengan

5|FARMAKOTERAPI II-DBD
demam di tambah 2 gejala spesifik yakni pendarahan dan tanpa pendarahan (c) Demam

Berdarah Dengue (DBD) dengan atau tanpa shock syndrome

2.3. EtiologiDemam Berdarah Dengue

Penyebab penyakit adalah virus Dengue. Sampai saat ini dikenal ada 4serotype

virus yaitu ;

1. Dengue 1 (DEN 1) diisolasi oleh Sabin pada tahun1944.

2. Dengue 2 (DEN 2) diisolasi oleh Sabin pada tahun 1944.

3. Dengue 3 (DEN 3) diisolasi oleh Sather

4. Dengue 4 (DEN 4) diisolasi oleh Sather.

Keempat type virus tersebut telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia

dan yang terbanyak adalah type 2 dan type 3. Penelitian di Indonesia menunjukkan

Dengue type 3 merupakan serotype virus yang dominanmenyebabkan kasus yang

berat.

Penyebab penyakit DBD adalah virus dengue yang terdapat dalam tubuh

nyamuk Aedes aegepty (betina). Virus ini termasuk famili Flaviviridae yang berukuran

kecil sekali yaitu 35-45 mm. Virus ini dapat tetap hidup (survive) di alam ini melalui 2

mekanisme. Mekanisme pertama, transmisi vertikal dalam tubuh nyamuk, dimana

virus yang ditularkan oleh nyamuk betina pada telurnya yang nantinya akan menjadi

nyamuk. Virus juga dapat ditularkan dari nyamuk jantan pada nyamuk betina melalui

kontak seksual. Mekanisme kedua, transmisi virus dari nyamuk ke dalam tubuh

manusia dan sebaliknya. Nyamuk mendapatkan virus ini pada saat melakukan gigitan

pada manusia yang pada saat itu sedang mengandung virus dengue pada darahnya

(viremia). Virus yang sampai ke lambung nyamuk akan mengalami replikasi

6|FARMAKOTERAPI II-DBD
(memecah diri/berkembang biak), kemudian akan migrasi yang akhirnya akan sampai

di kelejar ludah. Virus yang berada di lokasi ini setiap saat siap untuk dimasukkan ke

dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk (Darmowandowo, 2001).

2.4. Epidemiologi Demam Berdarah Dengue

Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit

menularyang berbahaya dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat dansering

menimbulkan wabah. Penyakit ini pertama kali ditemukan di ManilaFilipina pada

tahun 1953 dan selanjutnya menyebar ke berbagai negara. Di Indonesia penyakit ini

pertama kali dilaporkan pada tahun 1968 di Surabaya dengan jumlah penderita 58

orang dengan kematian 24 orang (41,3%), akan tetapi konfirmasi virologis baru

didapat pada tahun 1972. Selanjutnya sejak saat itu penyakit Demam Berdarah Dengue

cenderung menyebar ke seluruh tanah air Indonesia, sehingga sampai tahun 1980

seluruh propinsi di Indonesia kecuali Timor-Timur telah terjangkit penyakit, dan

mencapai puncaknya pada tahun 1988 dengan insidens rate mencapai 13,45 % per

100.000 penduduk. Keadaan ini erat kaitannya dengan meningkatnya mobilitas

penduduk dan sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transpotasi.

Menurut Ditjen PP dan PL Depkes RI 2008 Distribusi kasus berdasarkan jenis

kelamin pada tahun 2008, persentase penderita laki-laki dan perempuan hampir sama.

Jumlah penderita berjenis kelamin laki-laki adalah 10.463 orang (53,78%) dan

perempuan berjumlah 8.991 orang (46,23%). Hal ini menggambarkan bahwa risiko

terkena DBD untuk laki-laki dan perempuan hampir sama, tidak tergantung jenis

kelamin.

7|FARMAKOTERAPI II-DBD
2.5. PatofisiologiDemam Berdarah Dengue

Virus dengue masuk kedalam tubuh inang kemudian mencapai sel target yaitu

makrofag. Sebelum mencapai sel target maka respon immune non-spesifik dan spesifik

tubuh akan berusaha menghalanginya. Terjadinya infeksi makrofag oleh virus dengue

menyebabkan aktivasi T helper dan T sitotoksik sehingga diproduksi limfokin dan

interferon gamma. Interferon gamma akan mengaktivasi monosit sehingga disekresi

berbagai mediator inflamasi seperti TNF-_, IL-1, PAF (platelet activatingfactor), IL-6,

dan histamin yang mengakibatkan terjadinya disfungsi endotel dan terjadi

kebocoran plasma.

Peningkatan seperti C3a dan C5a mediator-mediator ini juga dapat

menyebabkan terjadinya kenaikan permeabilitas kapiler celah endotel melebar lagi.

Akibat kejadian ini maka terjadi ekstravasasi cairan dari intravaskuler ke extravaskuler

dan menyebabkan terjadinya tanda kebocoran plasma seperti hemokonsentrasi,

hipoproteinemia, efusi pleura, asites, penebalan dinding vesica fellea dan syok

hipovolemik. Kenaikan permeabilitas kapiler ini berimbas pada terjadinya

hemokonsentrasi, tekanan nadi menurun dan tanda syok lainnya merupakan salah satu

patofisiologi yang terjadi pada DBD (BJE Vol 2, 2010)

Nyamuk Aedes aegypti maupun Aedes albopictus merupakan vector penularan

virus Dengue dari penderita kepada orang lain melalui gigitan. Virus memasuki tubuh

ke manusia melalui gigitan nyamuk menembus kulit. Setelah itu disusul oleh periode

tenang selama kurang lebih 4 hari, dimana virus melakukan replikasi secara cepat

dalam tubuh manusia. Apabila jumlah virus sudah cukup maka virus akan memasuki

sirkulasi (viremia), yang pada saat itu manusia yang terinfeksi akan mengalami gejala

8|FARMAKOTERAPI II-DBD
panas. Dengan adanya virus dengue dalam tubuh manusia maka tubuh akan memberi

reaksi. Bentuk reaksi tubuh terhadap virus ini antara manusia yang satu dengan yang

lain dapat berbeda, dimana perbedaan reaksi akan memanifestasikan perbedaan

penampilan gejala klinis dan perjalanan penyakitnya. Pada prinsipnya bentuk reaksi

tubuh terhadap keberadaan virus dengue adalah sebagai berikut :

1. Bentuk reaksi pertama

Mengendapkan bentuk netralisasi virus pada pembuluh darah kecil, kulit berupa

gejala ruang (rash).

2. Bentuk reaksi kedua

Terjadi gangguan fungsi pembekuan darah sebagai akibat dari penurunan jumlah

darah dan kualitas komponen-komponen pembuluh darah yang menimbulkan

manifestasi perdarahan.

3. Bentuk reaksi ketiga

Terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya komponen

plasma atau cairan darah dari dalam pembuluh darah menuju ke rongga perut berupa

gejala asites dan rongga selaput paru berupa gejala efusi pleura. Apabila tubuh manusia

hanya memberi reaksi bentuk 1 dan 2 saja maka orang tersebut akan menderita demam

dengue, sedangkan apabila ketiga bentuk reaksi terjadi maka orang tersebut akan

mengalami demam berdarah dengue (Darmowandowo, 2001)

Hipotesis infeksi sekunder (the secamdary heterologous infection/ thesequential

infection hypothesis) menyatakan bahwa demam berdarah denguedapat terjadi bila

seseorang setelah terinfeksi dengue pertama kali mendapatinfeksi berulang dengue

lainnya. Re infeksi ini akan menyebabkan suatureaksi amnestif antibodi yang akan

9|FARMAKOTERAPI II-DBD
terjadi dalam beberapa harimengakibatkan proliferasi dan transformasi limsofit dengan

menghasilkantitik tinggi antibodi IgG [Link] itu replikasi virus dengue

terjadi juga dalam limsofit yangbertransformasi dengan akibat terdapatnya virus dalam

jumlah banyak. Halini akan mengakibatkan terbentuknya virus kompleks antigen

antibody (virus antibody complex) yang selanjutnya akan mengakibatkan

aktivasisistem komplemen pelepasan C3a dan C5a akibat aktivasi C3 dan

C5menyebabkan peningkatan permeabilitis dinding pembuluh darah danmerembesnya

plasing dari ruang intravascular ke ruang ekstravascular (BJE Vol 2, 2010).

10 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Gambar 1. Patofisiologi Demam Berdarah Dengue

2.6. Manifestasi Klinis Demam Berdarah Dengue

Gambaran klinis yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DBD dengan masa

inkubasi antara 3-15 hari. Penderita biasanya mengalami demam akut atau suhu

meningkat tiba-tiba, sering disertai menggigil, saat demam pasien compos mentis.

Gejala klinis lain yang sangat menonjol adalah terjadinya perdarahan pada saat demam

dan tak jarang pula dijumpai pada saat penderita mulai bebas dari demam. Perdarahan

yang terjadi dapat berupa

a. Perdarahan pada kulit atau petechie, echimosis, hematom.

b. Perdarahan lain seperti epistaksis, hematemesis, hematuridan melena.

Selain demam dan perdarahan yang merupakan ciri khas DBD, gambaran klinis

lain yang tidak khas dijumpai pada penderita DBD adalah :

a. Keluhan pada saluran pernafasan seperti batuk, pilek, sakit pada waktu menelan.

b. Keluhan pada saluran pencernaan : mual, muntah, anoreksia, diare, konstipasi.

c. Keluhan sistem tubuh yang lain : nyeri atau sakit kepala, nyeri pada otot tulang

dan sendi, nyeri otot abdomen, nyeri uluhati, pegal-pegal pada seluruh tubuh,

kemerahan pada kulit, muka, pembengkakan sekitar mata, lakrimasi dan

fotofobia, otot-otot sekitar mata sakit bila disentuh dan pergerakan bola mata

terasa pegal.

Pada hari pertama sakit, penderita panas mendadak secara terus-menerus dan

badan terasa lemah atau lesu. Pada hari kedua atau ketiga akan timbul bintik-bintik

perdarahan, lembam atau ruam pada kulit di muka, dada, lengan atau kaki dan nyeri

ulu hati serta kadang-kadang mimisan, berak darah atau muntah. Antara hari ketiga

11 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
sampai ketujuh, panas turun secara tiba-tiba. Kemungkinan yang selanjutnya adalah

penderita sembuh atau keadaan memburuk yang ditandai dengan gelisah, ujung tangan

dan kaki dingin dan banyak mengeluarkan keringat. Bila keadaan berlanjut, akan

terjadi renjatan (lemah lunglai, denyut nadi lemah atau tidak teraba) kadang

kesadarannya menurun (Mubin, 2005).

Kriteria klinis DBD menurut WHO 1986 (dalam Arif. M, 2001; 429) adalah

1. Demam akut yang tetap tinggi selama 2-7 hari, kemudian turun secara lisis.

Demam disertai gejala tidak spesifik

2. Manifestasi perdarahan.

3. Pembesaran hati dan nyeri tekan tanpa ikterus

4. Dengan/adanya renjatan

5. Kenaikan nilai hematokrit.

Menurut (Mubin, 2009) derajat penyakit DBD terbagi empat derajat :

1. Derajat 1 :

Demam disertai gejala tidak khas, hanya terdapat manifestasi perdarahan (uji

tourniquet positif)

2. Derajat II

Seperti derajat I disertai perdarahan spontan dikulit dan perdarahan lain pada

hidung (epistaksis)

3. Derajat III

Ditemukan kegagalan sirkulasi dengan adanya nadi cepat dan lemah, tekanan nadi

menurun (kurang dari 20 mm/Hg) / hipotensi disertai kulit dingin dan lembab serta

gelisah

12 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
4. Derajat IV

Perdarahan spontan, disertai atau tidak disertai hepatomegali dan ditemukan gejala

syok (renjatan) yang sangat berat dengan tekanan darah dan denyut nadi yang tidak

terdeteksi.

2.7. Cara Penularan Demam Berdarah Dengue

Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi virus

dengue, yaitu mausia, virus dan vektor perantara. Virus dengue ditularkan kepada

manusia melalui nyamuk Aedes Aegypti. Aedes albopictus, Aedes polynesiensis dan

beberapa spesies yang lain dapat juga menularkan virus ini, namun merupakan vektor

yang kurang berperan. Nyamuk Aedes betina tersebut biasanya terinfeksi virus dengue

pada saat dia menghisap darah dari seseorang yang sedang dalam fase demam akut

(viraemia) yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul. Kemudian

virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8 10 hari (extrinsic

incubation period) dan tergantung pada strain nyamuk, genotip virus, serta faktor

lingkungan seperti kelembaban dan temperatur sebelum dapat di tularkan kembali pada

manusia pada saat gigitan berikutnya. Virus dapat masuk dan bereplikasi di dalam

jaringan midgut nyamuk, kemudian melalui hemolymph menyebar ke jaringan lain

seperti trakea, lemak tubuh, dan kelenjar ludah kemudian berkembang biak di dalam

tubuh nyamuk tersebut dan dapat menularkan virus selama hidupnya (infektif).Dalam

tubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 46 hari (intrinsic incubation

period) sebelum menimbulkan penyakit. Penularan dari manusia kepada nyamuk dapat

terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari

sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul.

13 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Titer virus tertinggi dalam midgut didapatkan pada 7-10 hari setelah infeksi,

sedangkan pada abdomen terjadi antara 7-17 hari, dan pada kelenjar ludah setelah 12-

18 hari (Xi et al., 2008). Masa inkubasi di dalam tubuh manusia (intrinsic incubation

period) antara 4-6 hari. Manusia infektif hanya pada saat viremia saja (5-7 hari), tetapi

nyamuk dapat infektif selama hidupnya (Soewondo, 2002).

Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk menusuk atau mengigit,

sebelum mengisap darah akan mengeluarkan air liur melalui alat tusuknya (proboscis)

agar darah yang diisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus dengue

dipindahkan dari nyamuk ke orang lain (siregar, 2004).

Setelah masa inkubasi di tubuh manusia timbul gejala awal penyakit secara

mendadak, yangditandai demam, pusing, myalgia (nyeri otot), hilangnya nafsu makan

danberbagai tanda atau gejala lainnya (Soewondo, 2002).

2.8. Cara Penangulangan dan Pencegahan Demam Berdarah Dengue

Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya,

yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan

menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu :

A. LingkunganMetode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara

lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah

padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan

manusia, dan perbaikan desain rumah. Sebagai contoh:

a. Menguras bak mandi/penampungan air- sekurang-kurangnya sekali

seminggu.

14 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
b. Mengganti/menguras vas bunga dan tempat- minum burung seminggu

sekali.

c. Menutup dengan rapat tempat penampungan- air.

d. Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah

dan lain sebagainya.

B. Biologis

Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikanpemakan jentik

(ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14).

C. Kimiawi

Cara pengendalian ini antara lain dengan:

a) Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion),

berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu

tertentu.

b) Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan

air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.

Pencegahan penyakit DBD dapat dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu pencegahan

primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier (Depkes RI, 2012b).

1. Pencegahan Primer

Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mempertahankan

orang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang sehat menjadi sakit. Secara garis

besar, upaya pencegahan ini dapat berupa pencegahan umum dan khusus. Surveilans

untuk nyamuk Aedes aegypti sangat penting untuk menentukan distribusi, kepadatan

populasi, habitat utama larva, faktor resiko berdasarkan waktu dan tempat yang

15 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
berkaitan dengan penyebaran dengue, dan tingkat kerentanan atau kekebalan

insektisida yang dipakai, untuk memprioritaskan wilayah dan musim untuk

pelaksanaan pengendalian vektor. Data tersebut akan memudahkan pemilihan dan

penggunaan sebagian besar peralatan pengendalian vektor, dan dapat dipakai untuk

memantau keefektifannya. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah survei jentik.

Pengendalian vektor, surveilans kasus, dan gerakan pemberantasan sarang nyamuk

merupakan pencegahan primer.

2. Pencegahan Sekunder

Pencegahan tingkat kedua ini merupakan upaya manusia untuk mencegah orang

yang sakit agar sembuh, menghambat progresifitas penyakit, menghindarkan

komplikasi dan mengurangi ketidakmampuan. Pencegahan skunder dapat dilakukan

dengan cara mendeteksi penyakit secara dini dan pengadaan pengobatan yang cepat

dan tepat.

3. Pencegahan Tersier

Pencegahan ini dimaksudkan untuk mengurangi ketidakmampuan dan

mengadakan rehabilitasi. Upaya pencegahan tingkat ketiga ini dapat dilakukan dengan

memaksimalkan organ yang cacat. Pengobatan penderita DBD pada dasarnya bersifat

simptomatik dan suportifyaitu dukungan pada penderita serta mendirikan pusat-pusat

rehabilitasi medik.

2.9. DiagnosisDemam Berdarah Dengue

Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis menurut WHO tahun

1997 terdiri dari kriteria klinis dan laboratorium

1. Kriteria Klinis

16 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
a. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus menerus

selama 2-7 hari.

b. Terdapat manifestasi perdarahan ditandai dengan : uji tourniquet positif,

petechie, echymosis, purpura, perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi,

hematemesis dan malena. Uji tourniquet dilakukan dengan terlebih dahulu

menetapkan tekanan darah. Selanjutnya diberikan tekanan di antara sistolik dan

diastolik pada alat pengukur yang dipasang pada lengan di atas siku; tekanan

ini diusahakan menetap selama percobaan. Setelah dilakukan tekanan selama 5

menit, diperhatikan timbulnya petekia pada kulit di lengan bawah bagian

medial pada sepertiga bagian proksimal. Uji dinyatakan positif apabila pada 1

inchi persegi (2,8 x 2,8 cm) didapat lebih dari 20 petekia.

c. Pembesaran hati (hepatomegali).

d. Syok (renjatan), ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi,

hipotensi, kaki dan tangan dingin, kulit lembab, dan gelisah.

2. Kriteria Laboratorium

a. Trombositopenia ( < 100.000 sel/ml)

b. Hemokonsentrasi, dapat dilihat dari peningkatan hematokrit 20% atau lebih.

Beberapa jenis pemeriksaan laboratorium pada penderita DBD antara lain:

A. Hematologi

1) Hemoglobin, Penurunan Hb disertai dengan penurunan hematokrit diduga

adanyaperdarahan internal.

2) Leukosit

17 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Jumlah leukosit normal, tetapi biasanya menurun dengandominasi sel

neutrofil.

Peningkatan jumlah sel limfosit atipikal atau limfosit plasma biru(LPB) >

4% di darah tepi yang biasanya dijumpai pada hari sakitketiga sampai hari

ke tujuh.

3) Trombosit, Pemeriksaan trombosit antara lain dapat dilakukan dengan cara:

Semi kuantitatif (tidak langsung)

Langsung (Rees-Ecker)

Cara lainnya sesuai kemajuan teknologi (Hematology Cell

CounterAutomatically)Jumlah trombosit 100.000/l biasanya ditemukan

diantarahari ke 3-7 sakit. Pemeriksaan trombosit perlu diulang setiap 4-

6jam sampai terbukti bahwa jumlah trombosit dalam batas normal

ataukeadaan klinis penderita sudah membaik.

4) Hematokrit

Peningkatan nilai hematokrit menggambarkan adanyakebocoran pembuluh

darah. Penilaian hematokrit ini, merupakan indikator yang peka akan terjadinya

perembesan plasma, sehinggaperlu dilakukan pemeriksaan hematokrit secara

berkala. Padaumumnya penurunan trombosit mendahului peningkatan

[Link] dengan peningkatan hematokrit 20% (misalnyanilai

Ht dari 35% menjadi 42%), mencerminkan peningkatanpermeabilitas kapiler dan

perembesan plasma. Perlu mendapatperhatian, bahwa nilai hematokrit dipengaruhi

oleh penggantian cairanatau [Link] perhitungan selisih nilai

hematokrit tertinggi danterendah baru dapat dihitung setelah mendapatkan nilai Ht

18 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
saat akutdan konvalescen (hari ke-7). Pemeriksaan hematrokrit antara laindengan

mikro-hematokrit centrifuge

Nilai normal hematokrit:

1) Anak-anak : 33 - 38 vol%

2) Dewasa laki-laki : 40 - 48 vol%

3) Dewasa perempuan : 37 - 43 vol%

B. Serologis

Pemeriksaan serologis didasarkan atas timbulnya antibodi padapenderita terinfeksi

virus Dengue.

a. Uji Serologi Hemaglutinasi inhibisi (Haemaglutination Inhibition Test)

Pemeriksaan HI sampai saat ini dianggap sebagai uji bakuemas (gold standard).

Namun pemeriksaan ini memerlukan 2 sampeldarah (serum) dimana spesimen

harus diambil pada fase akut danfase konvalensen (penyembuhan), sehinggga

tidak dapat memberikanhasil yang cepat.

b. ELISA (IgM/IgG)

Infeksi dengue dapat dibedakan sebagai infeksi primer atausekunder dengan

menentukan rasio limit antibodi dengue IgMterhadap IgG. Dengan cara uji

antibodi dengue IgM dan IgG, ujitersebut dapat dilakukan hanya dengan

menggunakan satu sampeldarah (serum) saja, yaitu darah akut sehingga hasil

cepat [Link] hasil adalah apabila garis yang muncul hanya IgMdan

kontrol tanpa garis IgG, maka Positif Infeksi Dengue Primer (DD).Sedangkan

apabila muncul tiga garis pada kontrol, IgM, dan IgGdinyatakan sebagai Positif

Infeksi Sekunder (DBD). Beberapa kasusdengue sekunder tidak muncul garis

19 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
IgM, jadi hanya muncul gariskontrol dan IgG saja. Pemeriksaan dinyatakan

negatif apabila hanyagaris kontrol yang terlihat. Ulangi pemeriksaan dalam 2-3

hari lagiapabila gejala klinis kearah DBD. Pemeriksaan dinyatakan invalidapabila

garis kontrol tidak terlihat dan hanya terlihat garis pada IgMdan/atau IgG saja.

c. Antigen NS1

Pemeriksaan Laboratorium untuk konfirmasi :

a) PCR (Polymerase Chain Reaction)

b) Isolasi Virus

C. Radiologi

Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan penunjang untukmendeteksi adanya

kebocoran plasma. Pada foto toraks posisi RightLateral Decubitus dapat mendeteksi

adanya efusi pleura minimal padaparu kanan. Pada pemeriksaan USG dapat

mendeteksi adanya asites,penebalan dinding kandung empedu dan efusi pleura

minimal.

A. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Diagnosa DBD ditegakkan jika ada 2 kriteriaklinis ditambah dengan 2 kriteria

laboratoris(Tabel 1). Kasus DBD yang menjadi lebih berat,menjadi kasus Dengue

Shock Syndrome (DSS).

Tabel 1. Kriteria Klinik dan Laboratoris DBD

1. Demam tinggi mendadak, terusmenerus selama 2-7 hari

Kriteria Klinik 2. Terdapat manifestasi perdarahanseperti torniquet


positif,petechiae, echimosis, purpura, perdarahan mukosa,
epistaksis,perdarahan gusi danhematemesis dan atau melena
3. Pembesaran hati

20 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
4. Syok ditandai dengan nadi lemahdan cepat, tekanan nadi
turun,tekanan darah turun, kulit dingindan lembab terutama
di ujungjari dan ujung hidung, sianosis sekitar mulut, dan
gelisah
Kriteria 1. Trombositopenia (100.000ul ataukurang)
Laboratoris 2. Hemokonsentrasi, peningkatanhematokrit 20% atau lebih

Tabel 2. Klasifikasi Derajat Penyakit Infeksi Virus Dengue


DD/D Derajat Gejala Laboratorium
BD
Demam disertai 2 atau lebih Leukopenia
tanda : sakit kepala, nyeri retro- Trombositopen ia, tidak
DD orbital, myalgia, arthralgia. ditemukan bukti
kebocoranplasma.
Serologidengue positif
DBD I Gejala diatas ditambah uji Trombositopenia, kebocoran
bendung positif plasma
DBD II Gejala diatas ditambah Trombositopenia, kebocoran
pendarahan spontan plasma
Gejala diatas ditambah Trombositopenia, kebocoran
DBD III
kegagalan sirkulasi (kulit dingin plasma
dan lembab serta gelisah)
Syok berat disertai dengan Trombositopenia, kebocoran
DBD IV tekanan darah dan nadi tidak plasma
terukur.

* DBD derajat III dan IV juga disebut Dengue Syok Syndrome (DSS)
(Suhendro, [Link]., 2006)

Observasi keadaan umum, nadi, tekanan darah, suhu, dan pernapasan tiap jam, serta

Hemoglobin (Hb) dan Hematokrit (Ht) tiap 4-6 jam pada hari pertama selanjutnya tiap

24 jam.

Keterangan Nilai Normal Hb Nilai Normal Ht


Anak-anak 11,5 12,5 gr/100 ml 33 38 vol %
darah

21 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Laki-laki dewasa 13 16 gr/100 ml darah 40 48 vol %
Wanita dewasa 12 14 gr/100 ml darah 37 43 vol %

Bila pada pemeriksaan darah didapatkan penurunan kadar Hb dan Ht maka diberi

transfusi darah

B. Demam Dengue (DD)

Merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan dua atau lebih

manifestasi klinis sebagai berikut:

a) Nyeri kepala

b) Nyeri retro-orbital.

c) Mialgia / artralgia.

d) Ruam kulit.

e) Manifestasi perdarahan (petekie atau ujibendung-rumple leed positif).

f) Leukopenia.

g) dan pemeriksaan serologi dengue positif, atauditemukan pasien DD/DBD yang

sudahdikonfirmasi pada lokasi dan waktu yang sama.(Suhendro, [Link]., 2006).

C. Dengue Shock Syndrome (DSS).

Pada DSS, setelah demam berlangsung selama beberapa hari keadaan umum tiba-

tibamemburuk, hal ini terjadi biasanya pada saat atau setelah demam menurun, yaitu di

antara hari sakit ke 3-7. Hal ini dapat di terangkan dengan hipotesis meningkatnya

reaksi imunologis (theimmunological enchancement hypothesis). Pada sebagian besar

kasus ditemukan tanda kegagalan peredaran darah, kulit teraba lembab dan dingin,

sianosis di sekitar mulut, nadi menjadi cepat dan lembut. Anak tampak lesu, gelisah,

dan secara cepat masuk dalam fase syok. Pasien seringkali mengeluh nyeri di daerah

perut sesaat sebelum syok. Fabie (1996) mengemukakan bahwa nyeri perut hebat

22 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
seringkali mendahului pendarahan gastrointestinal. Nyeri di daerah retrosternal tanpa

sebab yang jelas dapat memberikan petunjuk adanya pendarahan gastrointestinal yang

hebat. Syok yang terjadi selama periodedemam, Disamping kegagalan sirkulasi, syok

ditandai oleh nadi lembut, cepat, kecil sampai tidak dapat diraba. Tekanan nadi

menurun menjadi 20 mmHg atau kurang dan tekanan sistolik menurun sampai 80

mmHg atau lebih rendah. Syok harus segera diobati apabila terlambat pasien dapat

mengalami syok berat (profound shock), tekanan darah tidak dapat diukur dan nadi

tidak dapat diraba. Tatalaksana syok yang tidak adekuat akanmenimbulkan komplikasi

asidosis metabolik, hipoksia, pendarahan gastrointestinal hebat dengan prognosis

buruk. Sebaliknya dengan pengobatan yang tepat segera terjadi masa penyembuhan

dengan cepat. Pasien menyembuh dalam waktu 2-3 hari. Selera makan membaik

merupakan petunjuk prognosis baik. Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan

trombositopenia dan hemokonsentrasi. Jumlah trombosit < 100.000/l ditemukan di

antara hari sakit ke 3-7. Peningkatan kadar hematocrit merupakan bukti adanya

kebocoran plasma, terjadi pula pada kasus derajat ringan walaupun tidak sehebat dalam

keadaan syok. Hasil laboratorium lain yang sering ditemukan ialah hipoproteinemia,

hiponatremia, kadartransaminase serum dan nitrogen darah meningkat. Pada beberapa

kasus ditemukan asidosis metabolik. Jumlah leukosit bervariasi antara leukopenia dan

leukositosis. Kadangkadang ditemukan albuminuria ringan yang bersifat sementara.

(Sudarmo, et al, 2002)

2.10 Pengobatan Demam Berdarah Dengue

DHF merupakansuatu penyakit infeksi yang disebabkan olehvirus, sehingga

pemberian antibiotik dalampengobatan DHF tidak diperlukan kecuali jika terdapat

23 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
infeksi sekunder yang disebabkan olehadanya bakteri dan apabila terjadi DSS,

mengingat kemungkinan infeksi sekunder dapat terjadi dengan adanya translokasi

bakteri dari saluran cerna (DepKes RI, 2003).

Pengobatan penderita DBD pada dasarnya bersifat simptomatik dan suportif

yaitu mengatasi kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas

kapiler dan sebagai akibat [Link] kebocoran plasma dan terjadinya

trombositopeniapada umumnya terjadi antara hari ke 4 hingga6 sejak demam

berlangsung. Pada hari ke-7 proseskebocoran plasma akan berkurang dan cairan

akankembali dari ruang interstitial ke intravaskular.

1. Penatalaksanaan pada fase demam :

Tatalaksana DBD bersifat simptomatik dan suportif yaitu pemberian cairan oral

untuk mencegah dehidrasi. Apabila cairan oral tidak dapat diberikan oleh karena

tidak mau minum, muntah atau nyeri perut yang berlebihan, maka cairan intravena

rumatan perlu diberikan. Antipiretik kadang-kadang diperlukan, tetapi perlu

diperhatikan bahwa antipiretik tidak dapat mengurangi lama demam pada DBD.

Parasetamol direkomendasikan untuk pemberian atau dapat disederhanakan seperti

tertera pada Tabel 4.

Rasa haus dan keadaan dehidraasi dapat timbul sebagai akibat demam tinggi,

anoreksia dan muntah. Jenis minuma yang dianjurkan adalah jus buah, air the

manis, sirup, susu serta larutan oralit Pasien perlu diberikan minum 50ml/kg BB

dalam 4-6 jam pertama. Setelah keadaan dehidrasi dapat diatasi anak diberikan

cairan rumatan 80-100 ml/kg BB dalam 24 jam berikutnya. Bayi yang masih

24 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
minum ASI, tetap harus diberikan disamping larutan oralit. Bila terjadi kejang

demam, disamping antipiretik diberikan antikonvulsif selama demam.

Tabel 4. Dosis Parasetamol menurut kelompok umur

Parasetamol tiap kali pemberian


Umur (tahun)
Dosis (mg) Tablet (1 tab = 500 mg)
<1 60 1/8
1-3 60-125 1/8 - 1/4
4-6 125-250 1/4 - 1/2
7-12 250-500 1/2 - 1
2. Penatalaksanaan dengan penggantian Volume Plasma

Kebutuhan cairan awal dihitung untuk 2-3 jam pertama, sedangkan pada kasus

syok mungkin lebih sering (setiap 30-60 menit). Tetesan dalam 24-48 jam

berikutnya harus selalu disesuaikan dengan tanda vital, kadar hematocrit, dan

jumlah volume urin. Cairan intravena diberikan apabila :

1) Anak terus menerus muntah , tidak mau minum, demam tinggi sehingga tidak

mungkin diberikan minum peroral

2) Nilai hematocrit meningkat pada pemeriksaan berkala

Jumlah cairan yang diberikan tergantung dari derajat dehidrasi dan kehilangan

elektrolit, dianjurkan cairan glukosa 5% didalam larutan NaCl 0,45%. Bila terdapat

asidosis, diberikan natrium bikarbonat 7,46%, 1-2 ml/kg BB IV Bolus secara

perlahan-lahan. Apabila terdapat hemokonsentrasi 20% maka komposisi jenis

cairan yang diberikan harus sama dengan plasma. Volume dan komposisi cairan

yang diperlukan sesuai cairan untuk dehidrasi pada diare ringan sampai sedang,

yaitu cairan rumatan defisit 6% (5-8%), seperti tertera pada Tabel 5.

Tabel 5. Kebutuhan Cairan Pada Dehidrasi Sedang (Depkes RI, 2004)

25 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Berat Badan Waktu Masuk RS (kg) Jumlah Cairan ml/kg BB per hari
<7 220
7-11 165
12-18 132
>18 88

Pemilihan Jenis dan volume cairan yang diperlukan tergantung dari umur dan berat

badan pasien serta derajat kehilangan plasma, yang sesuai dengan derajat

hemokonsentrasi. pada anak gemuk, kebutuhan cairan disesuaikan dengan berat badan

ideal untuk anak umur yang sama. Kebutuhan cairan rumatan dapat diperhitungkan

dari Tabel 6berikut :

Tabel 6. Kebutuhan Cairan Rumatan

Berat Badan (kg) Jumlah Cairan (ml)


10 100 per kg BB
10-20 1000 + 50 x kg (diatas 10 kg)
>20 1500 + 20 x kg (diatas 20 kg)

Jenis Cairan (rekomendasi WHO)

A. Kristaloid

Larutan Ringer Laktat (RL), Larutan Ringer Asetat (RA), Larutan garam faali

(GF), Dekstrosa 5% dalam larutan Ringer asetat (D5/RA), Dekstrosa 5% dalam

1/2 larutan garam faali (D5/1/2 LGF).

Untuk resuitasi syok dipergunakan larutan RL atau RA tidak boleh diberikan

larutan yang mengandung Dekstran.

B. Koloid

26 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Dekstran 40, Plasma dan Albumin

Penggolongan Koloid

1. Dekstran

Larutan 10% dekstran 40 dan larutan 6% dekstran 70 mempunyai sifat isotonic

dan hiperokotik, maka pemberian dengan larutan tersebut akan meanmbah

volume intravascular oleh karena itu akan menarik cairan ekstravaskular. Efek

volume 6% dekstran 70 dipertahankan selama 6-8 jam , sedangkan efek 10%

dekstran 40 dipertahankans selama 3,5-4,5 jam . kedua larutan tersebut akan

mengganggu mekanisme pembekuan darah dengan dcara mengganggu fungsi

trombosit dan menurunkan jumlah fibrinogen serta faktor VIII, terutama bila

diberikan lebih dari 1000 ml/24 jam.

2. Gelatin

Haemasel dan gelafundin merupakan larutan gelatin yang mempunyai sifat

isotonic dan isoonkotik. Efek volume larutan gelatin menetap sekitar 2-3 jam

dan tidak mengganggu mekanisme pembekuan darah.

3. Hydroxy Ethyl Starch (HES)

6% HES 200/0,5 ; 6% HES 200/0,6 ; 6% HES 450/0,7 adalah larutan isotonic

dan isonkotik, sedangkan 10% HES 200/0,5 adalah larutan isotonic dan

hiponkotik. Efek volume 6%/10% HES 200/0,5 menetap dalam 4-8 jam,

sedangkan larutan 6% HES 200/0,6 dan 6% HES 450/0,7 menetap selama 8-12

jam. Gangguan mekanisme pembekuan darah tidak dapat terjadi bila diberikan

kurang dari 1500cc/24 jam, dan efek ini terjadi karena pengenceran dengan

penurunan trombosit. Pada kasus SSD apabila setelah pemberian Cairan koloid

27 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
syok dapat diatasi, maka penatalksanaan selanjutnya dapat diberikan RL

dengan kecepatan sekitar 4-6 jam setiap500cc. Bila syok belum dapat diatas,

selain RL juga dapat diberikan obat-obatan vasopressor seperti dopamine,

dobutamin, atau epinephrine.

3. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue tanpa syok

Anak dirawat di rumah sakit

a. Berikan anak banyak minum larutan oralit atau jus buah, air tajin, airsirup, susu,

untuk mengganti cairan yang hilang akibat kebocoran plasma,demam,

muntah/diare.

b. Berikan parasetamol bila demam. Jangan berikan asetosal atau ibuprofenkarena

obat-obatan ini dapat merangsang terjadinya perdarahan.

c. Berikan infus sesuai dengan dehidrasi sedang:

a) Berikan hanya larutan isotonik seperti Ringer laktat/asetat

b) Kebutuhan cairan parenteral

Berat badan < 15 kg : 7 ml/kgBB/jam

Berat badan 15-40 kg : 5 ml/kgBB/jam

Berat badan > 40 kg : 3 ml/kgBB/jam

c) Pantau tanda vital dan diuresis setiap jam, serta periksa

laboratorium(hematokrit, trombosit, leukosit dan hemoglobin) tiap 6 jam

d) Apabila terjadi penurunan hematokrit dan klinis membaik, turunkan

jumlahcairan secara bertahap sampai keadaan stabil. Cairan intravena

biasanyahanya memerlukan waktu 2448 jam sejak kebocoran

pembuluhkapiler spontan setelah pemberian cairan.

28 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
e) Apabila terjadi perburukan klinis berikan tatalaksana sesuai dengan tatalaksana

syok terkompensasi (compensated shock).

4. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue dengan Syok

a. Perlakukan hal ini sebagai gawat darurat. Berikan oksigen 2-4 L/menitsecarra

nasal.

b. Berikan 20 ml/kg larutan kristaloid seperti Ringer laktat/asetat secepatnya.

c. Jika tidak menunjukkan perbaikan klinis, ulangi pemberian kristaloid20 ml/kgBB

secepatnya (maksimal 30 menit) atau pertimbangkan pemberiankoloid 10-

20ml/kgBB/jam maksimal 30 ml/kgBB/24 jam.

d. Jika tidak ada perbaikan klinis tetapi hematokrit dan hemoglobin

menurunpertimbangkan terjadinya perdarahan tersembunyi; berikan transfuse

darah/komponen.

e. Jika terdapat perbaikan klinis (pengisian kapiler dan perfusi perifermulai membaik,

tekanan nadi melebar), jumlah cairan dikurangi hingga10 ml/kgBB/jam dalam 2-4

jam dan secara bertahap diturunkan tiap 4-6jam sesuai kondisi klinis dan

laboratorium.

f. Dalam banyak kasus, cairan intravena dapat dihentikan setelah 36-48 [Link]

banyak kematian terjadi karena pemberian cairan yang terlalubanyak daripada

pemberian yang terlalu sedikit.

5. Tatalaksana komplikasi perdarahan

Jika terjadi perdarahan berat segera beri darah bila mungkin. Bila tidak,beri koloid

dan segera rujuk.

29 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Terapi nonfarmakologis yang diberikan meliputitirah baring (pada trombositopenia

yang berat)dan pemberian makanan dengan kandung-an giziyang cukup, lunak dan

tidak mengandung zat ataubumbu yang mengiritasi saluaran cerna. Sebagai

terapisimptomatis, dapat diberikan antipiretik berupaparasetamol, serta obat

simptomatis untuk mengatasikeluhan dispepsia. Pemberian aspirin ataupun

obatantiinflamasi nonsteroid sebaiknya dihindari karenaberisiko terjadinya perdarahan

pada saluran cernabagian atas (lambung/duodenum).Protokol pemberian cairan sebagai

komponenutama penatalaksanaan DBD dewasa mengikuti 5 protokol,mengacu pada

protokol WHO. Protokol ini terbagidalam 5 kategori, sebagai berikut:

1. Penanganan tersangka DBD tanpa syok (gambar 1)

2. Pemberian cairan pada tersangka DBD dewasa di ruang rawat (gambar 2).

3. Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematocrit >20% (gambar 3).

4. Penatalaksanaan perdarahan spontan pada DBDdewasa dengan syok dan

Perdarahan Masif (gambar 4)

5. Tatalaksana sindroma syok dengue pada dewasa(gambar 5).

(Journal Of Pharmaceutical Development, 2009).

Gambar 1. Penanganan Penderita DBD tanpa syok

30 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Gambar 2. Pemberian cairan pada Penderita DBD dewasa di ruang rawat inap
tanpaperdarahan dan tanpa syok

31 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Gambar 3. Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematokrit >20%

32 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
33 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Gambar 5. Tatalaksana sindroma syok dengue(SSD) pada dewasa

34 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Jumlah cairan yang diberikan sangat bergantung dari banyaknya kebocoran

plasma yang terjadi serta seberapa jauh proses tersebut masih akan berlangsung. Pada

kondisi DBD derajat 1 dan 2, cairan diberikan untuk kebutuhan rumatan (maintenance)

dan untuk mengganti cairan akibat kebocoran plasma. Secara praktis, kebutuhan

rumatan pada pasien dewasa dengan berat badan 50 kg, adalah sebanyak kurang lebih

2000 ml/24 jam; sedangkan pada kebocoran plasma yang terjadi seba-nyak 2,5-5% dari

berat badan sebanyak 1500-3000 ml/24 jam. Jadi secara rata-rata kebutuhan cairan

pada DBD dengan hemodinamik yang stabil adalah antara 3000-5000 ml/24 jam

(Journal Of Pharmaceutical Development, 2009).

2.11 Monitoring

Tanda vital dan kadar hematokrit harus dimonitor dan dievaluasi secara teratur

untuk menilai hasil pengobatan . Hal-hal yang harus diperhatikan pada monitoring

adalah :

a. Nadi, tekanan darah, respirasi dan temperatur harus dicatat setiap 15-30 menit atau

lebih sering , sampai syok dapat diatasi

b. Kadar hematokrit harus diperiksa tiap 4-6 jam sekali sampai keadaan klinis pasien

stabil.

c. Setiap pasien harus mempunyai formulir pemantauan, mengenai jenis cairan ,

jumlah dan tetesan untuk menentukan apakah cairan yang diberikan sudah

mencukupi.

d. Jumlah dan frekuensi diuresis.

35 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
BAB III

KESIMPULAN

Dari penjabaran diatas dapat disimpulkan bawhwa penyakit Demam berdarah

dengue (DBD) adalah penyakit yang terdapat pada anak dandewasa dengan gejala

utama demam, nyeri otot dan sendi, yang biasanya memburuk pada hari kedua.

Virus dengue tergolong dalam grup Flaviviridae dengan 4 serotipe, DEN 3,

merupakan serotie yang paling banyak.

Penatalaksanaan demam berdarah dengue bersifat simtomatif dan suportif yaitu

mengatasi kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler

dan sebagai akibat perdarahan.

Untuk penatalaksanaan penyakit ini menggunakan obat golongan Antipiretik

yaitu parasetamol namun tidak dapat mengurangi lama demam pada DBD, diberikan

cairan intravena sebagai pengganti volume plasma seperti cairan glukosa 5% didalam

larutan NaCl 0,45% serta pemberian cairan rumatan golongan kristaloid dan koloid.

36 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI.2004. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue Di Indonesia. Direktorat

Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular Dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta

Hadinegoro, Sri Rezeki H. Soegianto, Soegeng. Suroso, Thomas. Waryadi, Suharyono.

Tatalaksana Demam Berdarah Dengue Di Indonesia. Depkes & Kesejahteraan

Sosial Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan

Hidup 2001. Hal 1 33.

Kemenkes RI. 2010. Demam Berdarah Dengue, vol 2-Agustus. Buletin Jendela

Epidemiologi. Jakarta

Kemenkes RI. 2011. Modul Pengendalian Demam Berdarah Dengue. Direktorat

Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular Dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta

Sri Rezeki H. Muzal, K. dkk. 2012. Update Management of Infectious Disease and

Gastrointestinal Disorders. Fakultas Kedokteran UI. Departemen Ilmu

Kesehatan Anak. Jakarta

Wachid P, Hari P, Sukma H. 2013. Program Pengendalian Penyakit Menular : Demam

Berdarah Dengue. Fakultas Kedokteran UNS. Surakarta

37 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D

Anda mungkin juga menyukai