Epidemiologi dan Klasifikasi DBD
Epidemiologi dan Klasifikasi DBD
PENDAHULUAN
Demam berdarah dengue (DBD) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
infeksi virus dengue. DBD adalah penyakit akut dengan manifestasi klinis perdarahan
yang menimbulkan syok yang berujung kematian. DBD disebabkan oleh salah satu
dari empat serotipe virus dari genus Flavivirus, family Flaviviridae. Setiap serotipe
cukup berbeda sehingga tidak adaproteksisilang dan wabah yang disebabkan beberapa
serotipe (hiperendemisitas) dapat terjadi. Virus ini bisa masuk ke dalam tubuh manusia
dengan perantara nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenisnyamuk ini
lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. Seluruh wilayah di Indonesia mempunyai
resiko untuk terjangkit penyakit demam berdarah dengue, sebab baik virus penyebab
meter dpl. Hampir setiap tahun terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di beberapa daerah
pada musim penghujan. Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan
Sampai saat ini penyakit Demam Berdarah Dengue lebih banyak menyerang anak-anak
tetapi dalam dekade terakhir ini terlihat adanya kecenderungan kenaikan proporsi
Sejak tahun 1968 hingga tahun 2009, World Health Organization (WHO)
1|FARMAKOTERAPI II-DBD
mencatat negara Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia
Tenggara. Di Indonesia, DBD pertama kali ditemukan di kota Surabaya pada tahun
1968, sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang meninggal dunia. Sejak saat itu,
penyakit ini menyebar luas ke seluruh Indonesia (Depkes RI, 2010). Pada tahun 2002
jumlah kasus sebanyak 40.377 (IR: 19,24/100.000 penduduk dengan 533 kematian
(CFR: 1,3%), tahun 2003 jumlah kasus sebanyak 52.566 (IR: 24,34/100.000
penduduk) dengan 814 kematian (CFR: 1,5%), tahun 2004 jumlah kasus sebanyak
79.462 (IR: 37,01/100.000 penduduk) dengan 957 kematian (IR: 1,20%), tahun 2005
jumlah kasus sebanyak 95.279 (IR: 43,31/100.000 penduduk) dengan 1.298 kematian
(CFR: 1,36%) tahun 2006 jumlah kasus sebanyak 114.656 (IR: 52,48/100.000
dengan bulan November 2007, kasus telah mencapai 124.811 (IR: 57,52/100.000
2|FARMAKOTERAPI II-DBD
9. Bagaimana cara pengobatan kepada penderita DBD?
1.3. TUJUAN
3|FARMAKOTERAPI II-DBD
BAB II
PEMBAHASAN
disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang ditandai
dengan demam mendadak dua sampai tujuh hari tanpa penyebab yang jelas, lemah atau
lesu, gelisah, nyeri ulu hati, disertai dengan tanda-tanda perdarahan di kulit berupa
muntah darah, kesadaran menurun. Hal yang dianggap serius pada demam berdarah
dengue adalah jika muncul perdarahan dan tanda-tanda syok/ renjatan (Mubin, 2009).
dengan sakit kepala, nyeri tulang atau sendi dan otot, ruam, dan leukopenia sebagai
dengan empat gejala klinis utama: demam tinggi/ suhu meningkat tiba-tiba, sakit
kepala supra, nyeri otot dan tulang belakang, sakit perut dan diare, mual muntah.
Fenomena hemoragi, sering dengan hepatomegali dan pada kasus berat disertai tanda
tanda kegagalan sirkulasi. Pasien ini dapat mengalami syok yang diakibatkan oleh
kebocoran plasma. Syok ini disebut Sindrom Syock Dengue (DSS) dan sering
4|FARMAKOTERAPI II-DBD
a. Dengue tanpa tanda bahaya dan dengue dengan tanda bahaya (Dengue Without
Warning Signs). Kriteria dengue tanpa tanda bahaya dan dengue dengan tanda
bahaya :
2) Demam disertai 2 dari hal berikut : mual, muntah, ruam, sakit dan nyeri, uji
cepat.
tidak jelas)
b. Dengue Berat (Severe Dengue). Kriteria dengue berat : kebocoran plasma berat,
hepar (AST atau ALT 1000, gangguan kesadaran, gangguan jantung dan organ
tourniquet.
dengue infection or dengue without symptoms and the symptomatic dengue. Sedangkan
infeksi virus Dengue dengan gejala (the symptomatic dengue) di bagi menjadi 3
kelompok yaitu: (a). Demam Dengue tanpa gejala spesifik (b) Demam Dengue dengan
5|FARMAKOTERAPI II-DBD
demam di tambah 2 gejala spesifik yakni pendarahan dan tanpa pendarahan (c) Demam
Penyebab penyakit adalah virus Dengue. Sampai saat ini dikenal ada 4serotype
virus yaitu ;
dan yang terbanyak adalah type 2 dan type 3. Penelitian di Indonesia menunjukkan
berat.
Penyebab penyakit DBD adalah virus dengue yang terdapat dalam tubuh
nyamuk Aedes aegepty (betina). Virus ini termasuk famili Flaviviridae yang berukuran
kecil sekali yaitu 35-45 mm. Virus ini dapat tetap hidup (survive) di alam ini melalui 2
virus yang ditularkan oleh nyamuk betina pada telurnya yang nantinya akan menjadi
nyamuk. Virus juga dapat ditularkan dari nyamuk jantan pada nyamuk betina melalui
kontak seksual. Mekanisme kedua, transmisi virus dari nyamuk ke dalam tubuh
manusia dan sebaliknya. Nyamuk mendapatkan virus ini pada saat melakukan gigitan
pada manusia yang pada saat itu sedang mengandung virus dengue pada darahnya
6|FARMAKOTERAPI II-DBD
(memecah diri/berkembang biak), kemudian akan migrasi yang akhirnya akan sampai
di kelejar ludah. Virus yang berada di lokasi ini setiap saat siap untuk dimasukkan ke
tahun 1953 dan selanjutnya menyebar ke berbagai negara. Di Indonesia penyakit ini
pertama kali dilaporkan pada tahun 1968 di Surabaya dengan jumlah penderita 58
orang dengan kematian 24 orang (41,3%), akan tetapi konfirmasi virologis baru
didapat pada tahun 1972. Selanjutnya sejak saat itu penyakit Demam Berdarah Dengue
cenderung menyebar ke seluruh tanah air Indonesia, sehingga sampai tahun 1980
mencapai puncaknya pada tahun 1988 dengan insidens rate mencapai 13,45 % per
kelamin pada tahun 2008, persentase penderita laki-laki dan perempuan hampir sama.
Jumlah penderita berjenis kelamin laki-laki adalah 10.463 orang (53,78%) dan
perempuan berjumlah 8.991 orang (46,23%). Hal ini menggambarkan bahwa risiko
terkena DBD untuk laki-laki dan perempuan hampir sama, tidak tergantung jenis
kelamin.
7|FARMAKOTERAPI II-DBD
2.5. PatofisiologiDemam Berdarah Dengue
Virus dengue masuk kedalam tubuh inang kemudian mencapai sel target yaitu
makrofag. Sebelum mencapai sel target maka respon immune non-spesifik dan spesifik
tubuh akan berusaha menghalanginya. Terjadinya infeksi makrofag oleh virus dengue
berbagai mediator inflamasi seperti TNF-_, IL-1, PAF (platelet activatingfactor), IL-6,
kebocoran plasma.
Akibat kejadian ini maka terjadi ekstravasasi cairan dari intravaskuler ke extravaskuler
hipoproteinemia, efusi pleura, asites, penebalan dinding vesica fellea dan syok
hemokonsentrasi, tekanan nadi menurun dan tanda syok lainnya merupakan salah satu
virus Dengue dari penderita kepada orang lain melalui gigitan. Virus memasuki tubuh
ke manusia melalui gigitan nyamuk menembus kulit. Setelah itu disusul oleh periode
tenang selama kurang lebih 4 hari, dimana virus melakukan replikasi secara cepat
dalam tubuh manusia. Apabila jumlah virus sudah cukup maka virus akan memasuki
sirkulasi (viremia), yang pada saat itu manusia yang terinfeksi akan mengalami gejala
8|FARMAKOTERAPI II-DBD
panas. Dengan adanya virus dengue dalam tubuh manusia maka tubuh akan memberi
reaksi. Bentuk reaksi tubuh terhadap virus ini antara manusia yang satu dengan yang
penampilan gejala klinis dan perjalanan penyakitnya. Pada prinsipnya bentuk reaksi
Mengendapkan bentuk netralisasi virus pada pembuluh darah kecil, kulit berupa
Terjadi gangguan fungsi pembekuan darah sebagai akibat dari penurunan jumlah
manifestasi perdarahan.
plasma atau cairan darah dari dalam pembuluh darah menuju ke rongga perut berupa
gejala asites dan rongga selaput paru berupa gejala efusi pleura. Apabila tubuh manusia
hanya memberi reaksi bentuk 1 dan 2 saja maka orang tersebut akan menderita demam
dengue, sedangkan apabila ketiga bentuk reaksi terjadi maka orang tersebut akan
lainnya. Re infeksi ini akan menyebabkan suatureaksi amnestif antibodi yang akan
9|FARMAKOTERAPI II-DBD
terjadi dalam beberapa harimengakibatkan proliferasi dan transformasi limsofit dengan
terjadi juga dalam limsofit yangbertransformasi dengan akibat terdapatnya virus dalam
10 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Gambar 1. Patofisiologi Demam Berdarah Dengue
Gambaran klinis yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DBD dengan masa
inkubasi antara 3-15 hari. Penderita biasanya mengalami demam akut atau suhu
meningkat tiba-tiba, sering disertai menggigil, saat demam pasien compos mentis.
Gejala klinis lain yang sangat menonjol adalah terjadinya perdarahan pada saat demam
dan tak jarang pula dijumpai pada saat penderita mulai bebas dari demam. Perdarahan
Selain demam dan perdarahan yang merupakan ciri khas DBD, gambaran klinis
a. Keluhan pada saluran pernafasan seperti batuk, pilek, sakit pada waktu menelan.
c. Keluhan sistem tubuh yang lain : nyeri atau sakit kepala, nyeri pada otot tulang
dan sendi, nyeri otot abdomen, nyeri uluhati, pegal-pegal pada seluruh tubuh,
fotofobia, otot-otot sekitar mata sakit bila disentuh dan pergerakan bola mata
terasa pegal.
Pada hari pertama sakit, penderita panas mendadak secara terus-menerus dan
badan terasa lemah atau lesu. Pada hari kedua atau ketiga akan timbul bintik-bintik
perdarahan, lembam atau ruam pada kulit di muka, dada, lengan atau kaki dan nyeri
ulu hati serta kadang-kadang mimisan, berak darah atau muntah. Antara hari ketiga
11 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
sampai ketujuh, panas turun secara tiba-tiba. Kemungkinan yang selanjutnya adalah
penderita sembuh atau keadaan memburuk yang ditandai dengan gelisah, ujung tangan
dan kaki dingin dan banyak mengeluarkan keringat. Bila keadaan berlanjut, akan
terjadi renjatan (lemah lunglai, denyut nadi lemah atau tidak teraba) kadang
Kriteria klinis DBD menurut WHO 1986 (dalam Arif. M, 2001; 429) adalah
1. Demam akut yang tetap tinggi selama 2-7 hari, kemudian turun secara lisis.
2. Manifestasi perdarahan.
4. Dengan/adanya renjatan
1. Derajat 1 :
Demam disertai gejala tidak khas, hanya terdapat manifestasi perdarahan (uji
tourniquet positif)
2. Derajat II
Seperti derajat I disertai perdarahan spontan dikulit dan perdarahan lain pada
hidung (epistaksis)
3. Derajat III
Ditemukan kegagalan sirkulasi dengan adanya nadi cepat dan lemah, tekanan nadi
menurun (kurang dari 20 mm/Hg) / hipotensi disertai kulit dingin dan lembab serta
gelisah
12 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
4. Derajat IV
Perdarahan spontan, disertai atau tidak disertai hepatomegali dan ditemukan gejala
syok (renjatan) yang sangat berat dengan tekanan darah dan denyut nadi yang tidak
terdeteksi.
Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi virus
dengue, yaitu mausia, virus dan vektor perantara. Virus dengue ditularkan kepada
manusia melalui nyamuk Aedes Aegypti. Aedes albopictus, Aedes polynesiensis dan
beberapa spesies yang lain dapat juga menularkan virus ini, namun merupakan vektor
yang kurang berperan. Nyamuk Aedes betina tersebut biasanya terinfeksi virus dengue
pada saat dia menghisap darah dari seseorang yang sedang dalam fase demam akut
(viraemia) yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul. Kemudian
virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8 10 hari (extrinsic
incubation period) dan tergantung pada strain nyamuk, genotip virus, serta faktor
lingkungan seperti kelembaban dan temperatur sebelum dapat di tularkan kembali pada
manusia pada saat gigitan berikutnya. Virus dapat masuk dan bereplikasi di dalam
seperti trakea, lemak tubuh, dan kelenjar ludah kemudian berkembang biak di dalam
tubuh nyamuk tersebut dan dapat menularkan virus selama hidupnya (infektif).Dalam
tubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 46 hari (intrinsic incubation
period) sebelum menimbulkan penyakit. Penularan dari manusia kepada nyamuk dapat
terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari
13 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Titer virus tertinggi dalam midgut didapatkan pada 7-10 hari setelah infeksi,
sedangkan pada abdomen terjadi antara 7-17 hari, dan pada kelenjar ludah setelah 12-
18 hari (Xi et al., 2008). Masa inkubasi di dalam tubuh manusia (intrinsic incubation
period) antara 4-6 hari. Manusia infektif hanya pada saat viremia saja (5-7 hari), tetapi
Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk menusuk atau mengigit,
sebelum mengisap darah akan mengeluarkan air liur melalui alat tusuknya (proboscis)
agar darah yang diisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus dengue
Setelah masa inkubasi di tubuh manusia timbul gejala awal penyakit secara
mendadak, yangditandai demam, pusing, myalgia (nyeri otot), hilangnya nafsu makan
yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan
seminggu.
14 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
b. Mengganti/menguras vas bunga dan tempat- minum burung seminggu
sekali.
d. Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah
B. Biologis
C. Kimiawi
tertentu.
1. Pencegahan Primer
orang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang sehat menjadi sakit. Secara garis
besar, upaya pencegahan ini dapat berupa pencegahan umum dan khusus. Surveilans
untuk nyamuk Aedes aegypti sangat penting untuk menentukan distribusi, kepadatan
populasi, habitat utama larva, faktor resiko berdasarkan waktu dan tempat yang
15 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
berkaitan dengan penyebaran dengue, dan tingkat kerentanan atau kekebalan
penggunaan sebagian besar peralatan pengendalian vektor, dan dapat dipakai untuk
memantau keefektifannya. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah survei jentik.
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan tingkat kedua ini merupakan upaya manusia untuk mencegah orang
dengan cara mendeteksi penyakit secara dini dan pengadaan pengobatan yang cepat
dan tepat.
3. Pencegahan Tersier
mengadakan rehabilitasi. Upaya pencegahan tingkat ketiga ini dapat dilakukan dengan
memaksimalkan organ yang cacat. Pengobatan penderita DBD pada dasarnya bersifat
rehabilitasi medik.
1. Kriteria Klinis
16 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
a. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus menerus
diastolik pada alat pengukur yang dipasang pada lengan di atas siku; tekanan
medial pada sepertiga bagian proksimal. Uji dinyatakan positif apabila pada 1
d. Syok (renjatan), ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi,
2. Kriteria Laboratorium
A. Hematologi
adanyaperdarahan internal.
2) Leukosit
17 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Jumlah leukosit normal, tetapi biasanya menurun dengandominasi sel
neutrofil.
Peningkatan jumlah sel limfosit atipikal atau limfosit plasma biru(LPB) >
4% di darah tepi yang biasanya dijumpai pada hari sakitketiga sampai hari
ke tujuh.
Langsung (Rees-Ecker)
4) Hematokrit
darah. Penilaian hematokrit ini, merupakan indikator yang peka akan terjadinya
18 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
saat akutdan konvalescen (hari ke-7). Pemeriksaan hematrokrit antara laindengan
mikro-hematokrit centrifuge
1) Anak-anak : 33 - 38 vol%
B. Serologis
virus Dengue.
Pemeriksaan HI sampai saat ini dianggap sebagai uji bakuemas (gold standard).
b. ELISA (IgM/IgG)
menentukan rasio limit antibodi dengue IgMterhadap IgG. Dengan cara uji
antibodi dengue IgM dan IgG, ujitersebut dapat dilakukan hanya dengan
menggunakan satu sampeldarah (serum) saja, yaitu darah akut sehingga hasil
cepat [Link] hasil adalah apabila garis yang muncul hanya IgMdan
kontrol tanpa garis IgG, maka Positif Infeksi Dengue Primer (DD).Sedangkan
apabila muncul tiga garis pada kontrol, IgM, dan IgGdinyatakan sebagai Positif
19 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
IgM, jadi hanya muncul gariskontrol dan IgG saja. Pemeriksaan dinyatakan
negatif apabila hanyagaris kontrol yang terlihat. Ulangi pemeriksaan dalam 2-3
garis kontrol tidak terlihat dan hanya terlihat garis pada IgMdan/atau IgG saja.
c. Antigen NS1
b) Isolasi Virus
C. Radiologi
kebocoran plasma. Pada foto toraks posisi RightLateral Decubitus dapat mendeteksi
adanya efusi pleura minimal padaparu kanan. Pada pemeriksaan USG dapat
minimal.
laboratoris(Tabel 1). Kasus DBD yang menjadi lebih berat,menjadi kasus Dengue
20 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
4. Syok ditandai dengan nadi lemahdan cepat, tekanan nadi
turun,tekanan darah turun, kulit dingindan lembab terutama
di ujungjari dan ujung hidung, sianosis sekitar mulut, dan
gelisah
Kriteria 1. Trombositopenia (100.000ul ataukurang)
Laboratoris 2. Hemokonsentrasi, peningkatanhematokrit 20% atau lebih
* DBD derajat III dan IV juga disebut Dengue Syok Syndrome (DSS)
(Suhendro, [Link]., 2006)
Observasi keadaan umum, nadi, tekanan darah, suhu, dan pernapasan tiap jam, serta
Hemoglobin (Hb) dan Hematokrit (Ht) tiap 4-6 jam pada hari pertama selanjutnya tiap
24 jam.
21 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Laki-laki dewasa 13 16 gr/100 ml darah 40 48 vol %
Wanita dewasa 12 14 gr/100 ml darah 37 43 vol %
Bila pada pemeriksaan darah didapatkan penurunan kadar Hb dan Ht maka diberi
transfusi darah
Merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan dua atau lebih
a) Nyeri kepala
b) Nyeri retro-orbital.
c) Mialgia / artralgia.
d) Ruam kulit.
f) Leukopenia.
Pada DSS, setelah demam berlangsung selama beberapa hari keadaan umum tiba-
tibamemburuk, hal ini terjadi biasanya pada saat atau setelah demam menurun, yaitu di
antara hari sakit ke 3-7. Hal ini dapat di terangkan dengan hipotesis meningkatnya
kasus ditemukan tanda kegagalan peredaran darah, kulit teraba lembab dan dingin,
sianosis di sekitar mulut, nadi menjadi cepat dan lembut. Anak tampak lesu, gelisah,
dan secara cepat masuk dalam fase syok. Pasien seringkali mengeluh nyeri di daerah
perut sesaat sebelum syok. Fabie (1996) mengemukakan bahwa nyeri perut hebat
22 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
seringkali mendahului pendarahan gastrointestinal. Nyeri di daerah retrosternal tanpa
sebab yang jelas dapat memberikan petunjuk adanya pendarahan gastrointestinal yang
hebat. Syok yang terjadi selama periodedemam, Disamping kegagalan sirkulasi, syok
ditandai oleh nadi lembut, cepat, kecil sampai tidak dapat diraba. Tekanan nadi
menurun menjadi 20 mmHg atau kurang dan tekanan sistolik menurun sampai 80
mmHg atau lebih rendah. Syok harus segera diobati apabila terlambat pasien dapat
mengalami syok berat (profound shock), tekanan darah tidak dapat diukur dan nadi
tidak dapat diraba. Tatalaksana syok yang tidak adekuat akanmenimbulkan komplikasi
buruk. Sebaliknya dengan pengobatan yang tepat segera terjadi masa penyembuhan
dengan cepat. Pasien menyembuh dalam waktu 2-3 hari. Selera makan membaik
antara hari sakit ke 3-7. Peningkatan kadar hematocrit merupakan bukti adanya
kebocoran plasma, terjadi pula pada kasus derajat ringan walaupun tidak sehebat dalam
keadaan syok. Hasil laboratorium lain yang sering ditemukan ialah hipoproteinemia,
kasus ditemukan asidosis metabolik. Jumlah leukosit bervariasi antara leukopenia dan
23 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
infeksi sekunder yang disebabkan olehadanya bakteri dan apabila terjadi DSS,
berlangsung. Pada hari ke-7 proseskebocoran plasma akan berkurang dan cairan
Tatalaksana DBD bersifat simptomatik dan suportif yaitu pemberian cairan oral
untuk mencegah dehidrasi. Apabila cairan oral tidak dapat diberikan oleh karena
tidak mau minum, muntah atau nyeri perut yang berlebihan, maka cairan intravena
diperhatikan bahwa antipiretik tidak dapat mengurangi lama demam pada DBD.
Rasa haus dan keadaan dehidraasi dapat timbul sebagai akibat demam tinggi,
anoreksia dan muntah. Jenis minuma yang dianjurkan adalah jus buah, air the
manis, sirup, susu serta larutan oralit Pasien perlu diberikan minum 50ml/kg BB
dalam 4-6 jam pertama. Setelah keadaan dehidrasi dapat diatasi anak diberikan
cairan rumatan 80-100 ml/kg BB dalam 24 jam berikutnya. Bayi yang masih
24 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
minum ASI, tetap harus diberikan disamping larutan oralit. Bila terjadi kejang
Kebutuhan cairan awal dihitung untuk 2-3 jam pertama, sedangkan pada kasus
syok mungkin lebih sering (setiap 30-60 menit). Tetesan dalam 24-48 jam
berikutnya harus selalu disesuaikan dengan tanda vital, kadar hematocrit, dan
1) Anak terus menerus muntah , tidak mau minum, demam tinggi sehingga tidak
Jumlah cairan yang diberikan tergantung dari derajat dehidrasi dan kehilangan
elektrolit, dianjurkan cairan glukosa 5% didalam larutan NaCl 0,45%. Bila terdapat
cairan yang diberikan harus sama dengan plasma. Volume dan komposisi cairan
yang diperlukan sesuai cairan untuk dehidrasi pada diare ringan sampai sedang,
25 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Berat Badan Waktu Masuk RS (kg) Jumlah Cairan ml/kg BB per hari
<7 220
7-11 165
12-18 132
>18 88
Pemilihan Jenis dan volume cairan yang diperlukan tergantung dari umur dan berat
badan pasien serta derajat kehilangan plasma, yang sesuai dengan derajat
hemokonsentrasi. pada anak gemuk, kebutuhan cairan disesuaikan dengan berat badan
ideal untuk anak umur yang sama. Kebutuhan cairan rumatan dapat diperhitungkan
A. Kristaloid
Larutan Ringer Laktat (RL), Larutan Ringer Asetat (RA), Larutan garam faali
B. Koloid
26 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Dekstran 40, Plasma dan Albumin
Penggolongan Koloid
1. Dekstran
volume intravascular oleh karena itu akan menarik cairan ekstravaskular. Efek
trombosit dan menurunkan jumlah fibrinogen serta faktor VIII, terutama bila
2. Gelatin
isotonic dan isoonkotik. Efek volume larutan gelatin menetap sekitar 2-3 jam
dan isonkotik, sedangkan 10% HES 200/0,5 adalah larutan isotonic dan
hiponkotik. Efek volume 6%/10% HES 200/0,5 menetap dalam 4-8 jam,
sedangkan larutan 6% HES 200/0,6 dan 6% HES 450/0,7 menetap selama 8-12
jam. Gangguan mekanisme pembekuan darah tidak dapat terjadi bila diberikan
kurang dari 1500cc/24 jam, dan efek ini terjadi karena pengenceran dengan
penurunan trombosit. Pada kasus SSD apabila setelah pemberian Cairan koloid
27 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
syok dapat diatasi, maka penatalksanaan selanjutnya dapat diberikan RL
dengan kecepatan sekitar 4-6 jam setiap500cc. Bila syok belum dapat diatas,
a. Berikan anak banyak minum larutan oralit atau jus buah, air tajin, airsirup, susu,
muntah/diare.
28 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
e) Apabila terjadi perburukan klinis berikan tatalaksana sesuai dengan tatalaksana
a. Perlakukan hal ini sebagai gawat darurat. Berikan oksigen 2-4 L/menitsecarra
nasal.
darah/komponen.
e. Jika terdapat perbaikan klinis (pengisian kapiler dan perfusi perifermulai membaik,
tekanan nadi melebar), jumlah cairan dikurangi hingga10 ml/kgBB/jam dalam 2-4
jam dan secara bertahap diturunkan tiap 4-6jam sesuai kondisi klinis dan
laboratorium.
f. Dalam banyak kasus, cairan intravena dapat dihentikan setelah 36-48 [Link]
Jika terjadi perdarahan berat segera beri darah bila mungkin. Bila tidak,beri koloid
29 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Terapi nonfarmakologis yang diberikan meliputitirah baring (pada trombositopenia
yang berat)dan pemberian makanan dengan kandung-an giziyang cukup, lunak dan
2. Pemberian cairan pada tersangka DBD dewasa di ruang rawat (gambar 2).
30 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Gambar 2. Pemberian cairan pada Penderita DBD dewasa di ruang rawat inap
tanpaperdarahan dan tanpa syok
31 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Gambar 3. Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematokrit >20%
32 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
33 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Gambar 5. Tatalaksana sindroma syok dengue(SSD) pada dewasa
34 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
Jumlah cairan yang diberikan sangat bergantung dari banyaknya kebocoran
plasma yang terjadi serta seberapa jauh proses tersebut masih akan berlangsung. Pada
kondisi DBD derajat 1 dan 2, cairan diberikan untuk kebutuhan rumatan (maintenance)
dan untuk mengganti cairan akibat kebocoran plasma. Secara praktis, kebutuhan
rumatan pada pasien dewasa dengan berat badan 50 kg, adalah sebanyak kurang lebih
2000 ml/24 jam; sedangkan pada kebocoran plasma yang terjadi seba-nyak 2,5-5% dari
berat badan sebanyak 1500-3000 ml/24 jam. Jadi secara rata-rata kebutuhan cairan
pada DBD dengan hemodinamik yang stabil adalah antara 3000-5000 ml/24 jam
2.11 Monitoring
Tanda vital dan kadar hematokrit harus dimonitor dan dievaluasi secara teratur
untuk menilai hasil pengobatan . Hal-hal yang harus diperhatikan pada monitoring
adalah :
a. Nadi, tekanan darah, respirasi dan temperatur harus dicatat setiap 15-30 menit atau
b. Kadar hematokrit harus diperiksa tiap 4-6 jam sekali sampai keadaan klinis pasien
stabil.
jumlah dan tetesan untuk menentukan apakah cairan yang diberikan sudah
mencukupi.
35 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
BAB III
KESIMPULAN
dengue (DBD) adalah penyakit yang terdapat pada anak dandewasa dengan gejala
utama demam, nyeri otot dan sendi, yang biasanya memburuk pada hari kedua.
yaitu parasetamol namun tidak dapat mengurangi lama demam pada DBD, diberikan
cairan intravena sebagai pengganti volume plasma seperti cairan glukosa 5% didalam
larutan NaCl 0,45% serta pemberian cairan rumatan golongan kristaloid dan koloid.
36 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D
DAFTAR PUSTAKA
Kemenkes RI. 2010. Demam Berdarah Dengue, vol 2-Agustus. Buletin Jendela
Epidemiologi. Jakarta
Sri Rezeki H. Muzal, K. dkk. 2012. Update Management of Infectious Disease and
37 | F A R M A K O T E R A P I I I - D B D