LAPORAN KASUS
SINDROM VENA CAVA
SUPERIOR
Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Dalam Menjalani
Kepaniteraan Klinik Senior Pada Bagian/SMF Ilmu Paru
Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh
RumahSakitUmum Daerah Cut Meutia
Oleh :
Sakinah Nurul Aini, [Link] (11061007)
Deby Antatifani Ritonga, [Link] (11061008)
Eko Damara, [Link] (110610009)
Amanda Fairuz, [Link] (110610040)
Shabrina, [Link] (110610043)
Preseptor :
dr. Indra Buana, Sp.P
BAGIAN ILMU PARU
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALIKUSSALEH
RSUD CUT MEUTIA
ACEH UTARA
2016
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas
karunia dan anugerah-Nya sehingga dapat menyelesaikan penyusunan laporan
kasus dengan judul: Sindrom Vena Cava Superior dalam rangka memenuhi
salah satu tugas dalam menjalani kepaniteraan klinik di Bagian Ilmu Paru Rumah
Sakit Umum Cut Meutia. Shalawat beriring salam juga disanjung tinggikan
kepada Rasulullah SAW, beserta keluarga dan para sahabat.
Dalam menyelesaikan laporan kasus ini, saya mengucapkan terima kasih
kepada [Link] Buana, Sp.P selaku pembimbing selama menjalani kepaniteraan
ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan kasus ini masih jauh
dari kesempurnaan. Penulis mengharapkan saran dari segala pihak agar tercapai
hasil yang lebih baik nantinya. Penulis berharap semoga referat ini mendapat
keridhaan dan berkah dari Allah SWT sehingga dapat bermanfaat bagi siapapun
yang membacanya.
Lhokseumawe, Agustus 2016
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
DAFTAR GAMBAR...................................................................................... iii
DAFTAR TABEL .......................................................................................... iv
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................... .. 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 2
2.1Anatomi dan Fisiologi..................................................................... 2
2.2 Epidemiologi .................................................................................. 3
2.3 Manifestasi Klinis .......................................................................... 4
2.4 Diagnosis........................................................................................ 5
2.5 Penatalaksanaan ............................................................................. 10
2.6 Prognosis ....................................................................................... 13
BAB 3 LAPORAN KASUS ........................................................................... 14
3.1 Identitas Pasien............................................................................... 14
3.2 Anamnesis ...................................................................................... 14
3.3 Pemeriksaan Fisik .......................................................................... 18
3.4 Pemeriksaaan Penunjang................................................................ 26
3.5 Diagnosa Banding .......................................................................... 27
3.6 Diagnosis Kerja .............................................................................. 27
3.7 Penatalaksanaan ............................................................................. 27
3.8 Status Follow Up........................................................................... 28
BAB 4 PEMBAHASAN ................................................................................. 30
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 32
ii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1Anatomi vena cava superior.......................................................... 2
Gambar 2.2 Gambaran klinis pada sindrom VKS............................................ 7
Gambar 2.3 Foto thorax sindrom VKS ............................................................ 8
Gambar 2.4 CT SCAN pada sindrom VKS ..................................................... 8
Gambar 2.5 Alur penatalaksanaan SVKS ........................................................ 10
iii
DAFTAR TABEL
TABEL 2.1 Kategori penekanan vena kava superior....................................... 9
iv
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kegawatan napas dapat terjadi pada penyakit di saluran napas, pembuluh
darah toraks dan parenkim paru, salah satunya adalah sindrom vena kava superior
(SVKS). Sindrom Vena cava superior adalah vena utama yang menuju ke jantung.
Sindrom vena kava superior muncul bila terjadi gangguan aliran darah dari kepala
dan leher akibat berbagai sebab. SVKS merupakan salah satu gejala pada
keganasan di paru yang mengganggu aliran darah vena kava superior atau
cabang-cabangnya. Identifikasi yang cepat dan terapi yang tepat dapat
menghindari kegawatan akibat SVKS dan meningkatkan hasil terapi terhadap
penyebabnya.1.2
Karakteristik SVKS adalah terdapat hubungan antara berat ringan klinis
dengan derajat obstruksi/kompresi terhadap vena kava superior. SVKS menjadi
faktor prognostik penderita kanker [Link] keganasan yang paling sering
terkait dengan SVKS adalah kanker paru, limfoma dan diikuti oleh metastasis.
Sekitar 5% sampai 15% dari pasien dengan karsinoma bronkogenik menyebabkan
SVKS. SVKS empat kali lebih sering terjadi pada pasien.3,4
1
2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi dan Fisiologi
Vena kava superior (VKS) normal berukuran 6-8 cm dengan diameter 1-2
cm. Vena ini terletak di mediastinum anterior, di depan trakea dan di sisi kanan
aorta. Vena kava superior membawa aliran darah dari kepala dan leher kembali ke
atrium kanan. Bagian VKS yang masuk ke rongga perikard sekitar 2-3 cm.4 Pada
bagian atas VKS bermuara vena brakiosefalik kanan dan kiri, brakiosefalik kanan
menerima aliran darah dari vena subklavia dan jugular interna kanan, sedangkan
vena brakiosefalik kiri menerima aliran darah dari vena subklavia dan jugular
interna kiri.2,3 Drainase daerah kepala dan leher mempunyai 8 sistem kolateral
vena-vena, di antaranya vena paravertebra, azigos-hemiazigos, mammaria interna,
torakal lateral, jugular anterior, tiroidal, timik dan perikardiofrenik. Pada gambar
1 dapat dilihat anatomi vena kava superior.
Gambar 2.1 Anatomi vena kava superior dan vena-vena utama lain yang
membawa aliran darah dari kepala dan leher
2
3
Kompresi dari luar terhadap VKS dapat terjadi karena vena ini
mempunyai dinding tipis dan tekanan intravaskuler yang rendah. Vena kava
superior dikelilingi oleh bagian/struktur kaku sehingga relatif mudah terjadi
kompresi. Tekanan intravaskuler yang rendah memudahkan pembentukan
trombus, misalnya trombus yang terjadi akibat kateterisasi (catheter-induced
thrombus). Obstruksi dan aliran yang lambat menyebabkan tekanan vena
meningkat dan inilah yang menyebabkan timbulnya edema interstisial dan aliran
darah kolateral membalik ( retrograde collateral flow).3
Obstruksi pada vena kava superior atau vena yang berhubungan dengan
aliran darah dari kepala dan leher menyebabkan terjadinya SVKS. Obstruksi dapat
disebabkan oleh proses dari luar yang menyebabkan terjadinya penekanan
(kompresi) terhadap vena tetapi dapat juga terjadi karena proses di dalam vena,
misalnya munculnya trombosis. Kasus SVKS akibat proses dari dalam meningkat
seiring dengan semakin sering dilakukan intervensi pada vena sentral seperti
tindakan kateterisasi.1
2.2 Epidemiologi
Penyebab ganas SVCS didominasi pada individu berusia 40-60 tahun.
akun penyebab jinak untuk sebagian besar kasus didiagnosis pada individu berusia
30-40 tahun. Obstruksi SVC pada kelompok usia pediatrik adalah langka dan
memiliki spektrum etiologi yang berbeda.
Penyebab ganas SVCS yang paling sering dialami pada laki-laki karena
tingginya insiden kanker paru-paru pada populasi ini. Sebaliknya, kasus yang
4
berkaitan dengan penyebab jinak tidak menunjukkan perbedaan yang
berhubungan dengan seks di frekuensi.2
2.3 Etiologi
Penyakit yang paling banyak menyebabkan terjadi SVKS adalah
keganasan, tetapi penyakit infeksi seperti sifilis dan tuberkulosis juga dapat
menjadi penyebab SVKS walaupun jarang.
Berikut etiologi sindrom vena kava superior :
1. Kanker paru
2. Limfoma ganas
3. Metastasis tumor pada kanker payudara, seminoma testis
4. Fibrosis, mediastinitis tuberkulosis, histoplasmosis, dll
5. Trombosis vena kava, sindrom Behcets, polisitemia vera,
penggunaan kateter vena, dll
6. Tumor jinak mediastinum, aneurisma aorta, tumor dermoid, goiter,
sarkoidosis.
Kompresi yang disebabkan oleh keadaan diluar vena cava superior sangat
memungkinkan karena ini memiliki dinding yang tipis digabungkan dengan
tekanan rendah intravaskuler. Karena vena cava dikelilingi oleh stuktur yang kaku
hal ini sangat mudah untuk ditekan. Tekanan yang rendah dari intravaskuler juga
memberikan kemungkinan tejadi pembekuan. Obstruksi dari aliran darah
menyebabkan peningkatan tekanan vena yang mana menghasilkan edema
intertitial dan aliran yang menjadi semakin memburuk.
5
Lebih dari 80% dari kasus SVCS disebabkan oleh tumor mediastinum
ganas. Karsinoma bronkogenik untuk 75-80% dari semua kasus ini, dengan
sebagian besar menjadi karsinoma sel kecil. Non Hodgkin lymphoma (terutama
jenis-sel yang besar) account untuk 10-15%. Penyebab SVCS muncul mirip
dengan kejadian relatif paru primer dan tumor mediastinum. diagnosis ganas
langka termasuk penyakit Hodgkin, kanker metastatik. Leiomyosarcomas utama
pembuluh mediastinal, dan plasmocytomas.
2.4 Manifestasi Klinis
Keluhan atau gejala klinis pada SVKS sangat individual, tergantung berat
ringan gangguan. Tanda khas untuk SVKS adalah peningkatan gejala disebabkan
oleh pertambahan ukuran massa yang bersifat invasif (khusus untuk keganasan).
Sesak napas adalah keluhan yang paling sering, kemudian leher dan lengan
bengkak. Pada keadaan berat selain gejala sesak napas yang hebat dapat dilihat
pembengkakan leher dan lengan kanan disertai pelebaran venavena subkutan leher
dan dada. Keadaan ini kadang-kadang memerlukan tindakan emergensi untuk
mengatasi keluhan. Berat ringan gejala ini juga dipengaruhi oleh lokasi obstruksi
yang terjadi, perluasan proses penyakit penyebab, aliran cabang vena yang
tersumbat dan kemampuan vena beradaptasi terhadap perubahan aliran darah.
Gejala klinis sindrom vena kava superior, meliputi:
1. Sesak napas (Dyspnea)
2. Muka bengkak
3. Lengan bengkak
4. Batuk
6
5. Ortopnea
6. Nyeri dada
7. Sakit kepala
Keluhan yang juga dapat terjadi adalah suara serak, sakit menelan dan
sinkop. Sedangkan tanda tanda fisis yang paling sering ditemukan adalah
pembengkakan vena-vena di leher dan lengan dan edema akibat penumpukan
cairan di wajah dan lengan.
Tanda klinis sindrom vena kava superior sebagai berikut:
1. Pelebaran vena leher
2. Pletora pada wajah
3. Venektasi vena di daerah dada, Punggung, lengan
4. Lengan bengkak
5. Edema
Tanda klinis yang jarang ditemukan dan biasanya timbul pada keadaan
berat adalah sianosis sebagai akibat kurang oksigenisasi, Horners syndrome
(pupil mengecil, kelopak mata jatuh dan tidak berkeringat di satu sisi wajah) dan
paralisis pita suara.
7
Gambar 2.2 gambaran klinis pasien sindrom VKS
2.5 Diagnosis
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis vena cava
superior syndrome dan menemukan sumbatan pada vena cava superior antara lain:
1. X-Ray thorax. Pemeriksaan ini dapat memberikan kemampuan untuk
meunjukkan pelebaran mediastinum dan menujukkan penyebab dari vena
cava superior syndrome.
a. Pada foto toraks polos terlihat bayangan massa di mediastinum
superior kanan (90%), adenopati hilus (50%), efusi pleura kanan
(25%).
8
Gambar 2.3 Foto toraks sindrom VKS
2. CT-Scan. Pemeriksaan yang dapat menunjukkan gambar dengan detail
dari area didalam tubuh yang diambil dari sudut pengambilan gambar yang
berbeda. Bahan celup yang dimasukkan atau disuntikkan kedalam vena
atau ditelan untuk menunjukkan organ atau jaringan dengan lebih
[Link] paling baik untuk oklusi (penyempitan) pada VKS adalah
jika tampak gambaran opak pada pembuluh darah di daerah subkutan
toraks anterior, tampakan seperti itu mempunyai spesifikasi 96%.
Gambar 2.4 CT-Scan sindrom VKS
9
3. Venography. Pemeriksaan X-ray pada vena. Bahan celup kontras yang
disuntikkan kedalam vena untuk menguraikan vena-vena pada X-ray.
4. MRI. Pemeriksaan dengan menggunakan magnet, aliran radio, dan
komputer yang dapat menujukkan detail gambar pada organ dalam tubuh.
5. Ultrasound. Pemeriksaan dengan aliran energi suara yang tinggi yang
melambungkan jaringan atau organ dan membuat bunyi gema. Bunyi
gema yang terbentuk dari gambar jaringan tubuh disebut sonogram.
6. Pemeriksaan-pemeriksaan diatas penting untuk menemukan penyebab dari
vena cava superior syndrome sebelum memulai terapi. Jenis dari kanker
dapat mempengaruhi jenis terapi yang akan dilakukan. Kecuali jalan nafas
tersumbat atau edema otak. Jika dicurigai kanker paru adalah sebagai
penyebab maka sputum dapat dijadikan sample dan dilakukan biopsi.
Tabel 2.1 Kategori penekanan vena kava superio
Tipe IA Penyempitan sedang dan tanpa aliran kolateral atau tidak
terjadi penambahan ukuran vena azigos
Tipe IB Penyempitan berat menyebabkan aliran darah balik (retrograde) ke
vena azigos
Tipe II. Obstruksi di atas azygos arch aliran darah balik ke vena torasis,
vertebra dan perifer
Tipe III. Obstruksi di bawah azygos arch menyebabkan aliran darah balik
melalui azygos arch ke vena kava inferior
Tipe IV. Obstruksi pada azygos arch dengan multipel kolateral perifer
sedangkan vena azigos tidak terlihat.
10
2.5 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan untuk penderita dengan SVKS sangat individual, faktor
yang perlu dipertimbangkan adalah :
1. Ada atau tidak kegawatan pada SVKS itu yang apabila tidak dilakukan
tindakan segera dapat menyebabkan kematian.
2. Bisa atau tidak melakukan prosedur diagnostik
3. Cepat atau lambat identifikasi penyakit penyebab
4. Akurasi penilaian
Sindrom Vena Kava Superior dengan prediksi penyakit penyebabnya
adalah keganasan maka dapat dilakukan prosedur seperti yang dibuat oleh
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), seperti terlihat pada gambar 2.5.
Gambar 2.5 Alur penatalaksanaan sindrom vena kava superior (SVKS)
berdasarkan pedoman diagnosis dan penatalaksanaan kanker paru karsinoma
bukan sel kecil (KPKBSK)
11
Jika keadaan umum penderita baik (PS >50) maka harus dilakukan
prosedur diagnostik, pada kasus keganasan harus diupayakan tindakan untuk
mendapatkan jenis sel kanker. Radioterapi cito dengan dosis 300 1000 cGy
segera diberikan, bila telah memungkinkan dilakukan prosedur diagnostik. Terapi
selanjutnya tergantung pada diagnosis pasti penyebab penyakit.
Penatalaksanaan ideal untuk mengatasi SVKS adalah terapi definitif
penyakit penyebab, kadang diperlukan pengobatan multimodaliti yaitu
kemoterapi, radioterapi, bedah, pemasangan stent, trombolisis dan obat jenis lain.
Obat-obatan
Pasien dengan gejala ringan dan telah terbentuk aliran kolateral mungkin
tidak membutuhkan pengobatan. Jika lesi di atas vena azygos atau penyumbatan
berjalan lambat dan terjadi kompensasi dengan aliran kolateral, cukup waktu
untuk menjalani prosedur diagnosis tanpa pengobatan sampai ditemukan
diagnosis pasti penyebab penyakit. Terapi jangka pendek yang tidak agresif dapat
diberikan untuk mengurangi gejala yaitu dengan pemberian kortikosteroid dan
diuretik untuk mengurangi edema.
Radiasi
Jika obstruksi terjadi karena keganasan dan tumornya kemoresisten, maka
radiasi harus diberikan. Dosis radiasi total sesuai dengan penatalaksanaan
keganasan 5000 6000 cGy.
Kemoterapi.
Kemoterapi merupakan terapi yang biasa digunakan pada kasus tumor
yang respon terhadap obat antikanker. Kemoterapi menggunakan obat-obatan
12
yang menghentikan pertumbuhan sel kanker, yaitu membunuh sel kanker atau
menghentikan pembelahan sel kanker. Ketika kemoterapi diterima oleh mulut atau
disuntikkan kedalam vena atau otot, obat masuk kedalam aliran darah dan dapat
mencapai sel kanker diseluruh tubuh. Pada saat kemoterapi di tempatkan langsung
kedalam cairan serebrospinal dari organ, obat mempengaruhi sel kanker pada
daerah tersebut. Penggunaan keoterapi berdasarkan dari jenis dan stadium dari
kanker.
Trombolisis
Vena cava superior syndrome terjadi ketika pembekuan terjadi pada sebagian
sumbatan vena. Trombolisis adalah cara yang digunakan untuk menghancurkan
bekuan darah yag dikenal dengan teknik trombektomi. Trombektomi adalah
pembedahan untuk memindahkan bekuan darah atau menggunakan alat yang
dimasukkan kedalam vena untuk memindahkan bekuan darah.
Stent placement
Jika vena cava superior tersumbet sebagian oleh tumor, pipa yang dapat
dikembangkan ditempatkan didalam vena cava superior untuk membantu agar ini
tetap terbuka dan mengalirkan aliran darah. Terapi ini banyak menolong pasien
dengan tetap menggunakan obat yang menekan pembekuan darah.
Bedah
Intervensi bedah sangat jarang diindikasikan untuk mengatasi masalah
yang timbul pada SVKS.
Di bawah ini dapat dilihat indikasi relatif untuk intervensi bedah SVKS.
Indikasi relalif intervensi bedah pada sindrom vena kava superior yaitu :
13
1. Oklusi (penyumbatan) kronik dengan gejala klinis sedang sampai berat
2. Oklusi (penyumbatan) akut dengan gejala klinis berat
3. Oklusi (penyumbatan) rekuren dengan gejala klinis berat
2.6 Prognosis
Pada pasien dengan SVCS jinak, harapan hidup tidak berubah. Jika SVCS
adalah sekunder untuk proses ganas, kelangsungan hidup pasien berkorelasi
dengan histologi tumor. Pasien dengan tanda dan gejala laring dan edema serebral
memiliki manifestasi yang mengancam jiwa sebagian besar SVCS dan berada
dalam bahaya kematian mendadak.
Pengamatan klinis menunjukkan bahwa sekitar 10% dari pasien dengan
karsinoma bronkogenik dan 45% dari pasien dengan limfoma diobati dengan
iradiasi hidup setidaknya 30 bulan. Sebaliknya, pasien dengan SVCS ganas yang
tidak diobati bertahan hidup hanya sekitar 30 hari.
Kelangsungan hidup bagi mereka yang tidak merespon pengobatan
[Link] dari vena cava superior syndrome biasanya diperingan oleh terapi
radiasi selama satu bulan terapi. Walaupun dengan terapi, 90% dari pasien
meninggal dunia tidak lebih dari dua setengah tahun. Hal ini dihubungkan dengan
penyebab dari vena cava superior syndrome yaitu kanker.
14
BAB 3
LAPORAN KASUS
3.1 Identitas
Nama : Tn. I
Jenis Kelamin : laki-laki
Usia : 60 tahun
Alamat : Jambo Aye
Suku Bangsa : Aceh
Status perkawinan : kawin
Agama : Islam
No. MR : 43.94.23
Tanggal Masuk Rumah Sakit : 23 Agustus 2016
Tanggal Pemeriksaan : 23 Agustus 2016
3.2 Anamnesis
1. Keluhan utama : Batuk darah
2. Keluhan tambahan : Batuk berdahak, benjolan di leher, suara serak,
nyeri pada leher
3. Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang dengan keluhan utama batuk yang disertai darah berupa
bercak. Keluhan dialami sejak 1 bulan terakhir. Batuk juga disertai dahak putih
kental. Pasien mengeluh dada terasa sakit setiap batuk dan nyeri tidak menjalar.
Os juga mengeluh sesak yang hilang timbul akibat batuk yang dirasakan.
15
Pasien juga mengeluh terdapat benjolan di leher kanan dan kiri sebesar
1x2 cm. Benjolan tidak merah, tidak nyeri, dan teraba hangat. Benjolan sudah ada
sejak 1 tahun terakhir dan dirasakan semakin membesar. Os juga mengeluh
mengalami penurunan berat badan sejak 6 bulan terakhir.
Suara serak dikeluhkan pasien dialami sejak 15 hari sebelum masuk rumah
sakit. Tidak ada keluhan saat BAB maupun BAK.
Pasien pernah memeriksakan diri ke poli paru dengan bulan juni 2016 dan
diduga mengalami tumor paru.
4. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit hipertensi dan diabetes melitus disangkal. Menurut
pasien ia tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.
5. Riwayat penyakit keluarga
Disangkal
6. Riwayat penggunaan obat
Riwayat penggunaan OAT disangkal.
7. Riwayat kebiasaan
Pasien memiliki kebiasaan merokok sejak usia muda, sekitar lebih dari 5
tahun, dan masih tetap merokok.
8. Anamnesis umum
a. Keluhan keadaan umum
Panas badan : tidak ada
Kapan mulai timbul : tidak ada
Tipe : tidak ada
16
Udem : tidak ada
Ikterus : tidak ada
Haus : tidak ada
Berat badan : turun sejak 6 bulan terakhir
b. Keluhan di organ kepala
Mata : tidak ada
Hidung : tidak ada
Lidah : tidak ada
Gangguan menelan : tidak ada
Sakit kepala : tidak ada
Telinga : tidak ada
Mulut : tidak ada
Gigi : tidak ada
Suara : serak
c. Keluhan di leher
Kaku kuduk : tidak ada
Pembesaran kelenjar : ada
d. Keluhan di organ thorak
Sesak : tidak ada
Sakit dada : ada
Batuk : ada
Kapan : 10 hari
Dahak : ada (putih)
17
Darah : ada (bercak)
Jantung berdebar : tidak ada
Nafas berbunyi : tidak ada
e. keluhan di organ perut
Nyeri : ada
Lokalisasi : perut bagian bawah
Sifat nyeri : seperti diputar
Penjalaran : tidak ada
Nyeri tekan : tidak ada
Nyeri berhubungan dengan makanan : tidak ada
Nyeri berhubungan dengan BAB : tidak ada
Nyeri berhubungan dengan miksi : tidak ada
Nyeri berhubungan dengan haid : tidak
Perasaan tumor di perut : tidak ada
Muntah-muntah : tidak ada
Diare : tidak ada
Perubahan bentuk tinja : tidak ada
Obstipasi : tidak ada
Tenesmus ad anum : tidak ada
Perubahan air seni : tidak ada
f. Keluhan dari tangan ke kaki
Keluhan rasa kaku : tidak ada
Athrosis : tidak ada
18
Fraktur : tidak ada
Nyeri tekan : tidak ada
Luka/bekas luka : tidak ada
Edema pretibial : tidak ada
Rasa lemah : ada
Pasea/paraparese : tidak ada
Cara berjalan : normal
Perasaan kesemutan : tidak ada
Dorsum pedis : tidak ada
g. Keluhan lain
Keluhan alat motoris : tidak ada
Keluhan kelenjar endokrin : tidak ada
Diabetes melitus : tidak ada
Tiroid : tidak ada
Haid : tidak ada
Keluhan kelenjar limfe : tidak ada
2.3 Pemeriksaan Fisik
1. Kesan Umum
a. Keadaan umum
Kesan sakit : sedang
Gizi : Baik (BB aktual = 101% BBI)
Kesadaran : compos mentis (E4 V5 M6)
Tinggi badan : 170 cm
19
Berat badan : 68 kg
b. Keadaan sirkulasi
Tekanan darah : 150/100 mmHg
nadi : 100 kali permenit
Tipe : kuat angkat
Isi : penuh
Irama : reguler
Suhu : 37,0 C
c. Keadaan pernafasan
frekuensi : 28 kali per menit
corak pernafasan : thorak abdomen
bau nafas : tidak ada
2. Pemeriksaan khusus
A. Kepala
a. Tengkorak : normocephali
b. Muka : normal
c. Mata
Letak : simetris kiri dan kanan
Pergerakan : kiri normal /kanan normal
Palpebra : normal
Reaksi cahaya : kiri normal /kanan normal
Kornea : normal
Refleks kornea: kiri normal /kanan normal
20
Pupil : isokor
Sklera : ikterik -/-
Konjungtiva : pucat +/+
reaksi konvergen: ada
d. Telinga: normal
e. Hidung
Pernapasan cuping hidung: tidak ada
Lain-lain : tidak ada
f. Bibir
Sianosis : tidak ada
Kering : tidak ada
g. Gigi dan gusi : dalam batas normal
h. Lidah
Pergerakan : tidak terbatas
Permukaan : licin
Tremor : tidak ada
i. Rongga mulut : normal, mukosa tidak hiperemis
j. Rongga leher:
Faring: normal, mukosa tidak hiperemis
Tonsil: normal, T1/T1
k. Kelenjar parotis: normal
21
B. Leher
- Inspeksi
Kelenjar tiroid : tidak ada
Pembesaran vena : ada
Reflex hepatojugular : tidak ada
- Palpasi
Kaku kuduk : tidak ada
Kelenjar tiroid : konsistensi padat berbatas tegas, ikut bergerak saat
menelan ke arah cranial, permukaan diffus
Kelenjar getah bening: ada kanan dan kiri 1-2 cm
- Lain-lain : tidak ada
C. Ketiak: tidak ada
D. Pemeriksaan thorax
1. Thoraks depan
Inspeksi
Bentuk umum : normal
Sudut epigastrium : normal
Sela iga : tidak melebar
Frontal dan sagital : normal
Pergerakan : normal
Skeletal : normal
Kulit : normal
22
Iktus kordis : tidak terlihat
Tumor : tidak ada
Venektasi dada: ada
Kulit : hangat
Vokal fremitus: kanan> kiri
Mammae : normal
Iktus kordis
Lokalisasi : ICS 5 LMC sinistra 2 cm ke medial
Intensitas : tidak kuat angkat
Pelebaran : tidak ada
Irama : reguler
Thrill : tidak ada
Perkusi
- Paru-paru
Kanan : Redup
Kiri : sonor
Batas paru hati: ICS 5 dextra
Peranjakan : ICS 6 dextra, 1 jari ke atas
- Cor
Batas atas : ICS 2 parasternal sinistra
Batas kiri : ICS 5 LMC sinistra 2 cm medial
Batas kanan : ICS 4 parasternal dextra
23
Auskultasi
- Paru-paru
Suara pernafasan : Vesikuler
Suara tambahan : Wh (+/+), Rh (+/+)
- Cor
Bunyi jantung : M1>M2, A2>A1, P2>P1, T1>T2
Murmur : tidak ada
2. Thorax belakang
Inspeksi
Bentuk : normal
Pergerakan : simetris
Skeletal : normal, lordosis (-), kifosis (-), skoliosis (-)
Palpasi :Vokal fremitus: sama kiri dan kanan
Perkusi
Batas bawah paru kanan: torakal IX dextra, peranjakan: torakal X
dextra
Batas bawah paru kiri: torakal X sinistra, peranjakan: torakal XI sinistra
Auskultasi
Paru-paru
Suara pernafasan : vesikuler
Suara tambahan : Wheezing dan ronkhi
24
E. Pemeriksaan abdomen
Inspeksi
Bentuk : normal
Kulit : normal
Pergerakan waktu nafas: simetris
Palpasi
Dinding perut : soepel
Nyeri tekan : tidak ada
Nyeri lokal : tidak ada
Hepar
Pembesaran : tidak ada
Lien
Pembesaran : tidak ada
Ginjal
Pembesaran : tidak ada
Nyeri tekan : tidak ada
Perkusi
Asites
Batas kiri : tidak ada
Batas kanan : tidak ada
Batas atas : tidak ada
Pekak pindah : tidak ada
25
Nyeri ketok CVA
Kiri : tidak ada
Kanan : tidak ada
Auskultasi
Bising usus : normal
F. Lipat paha:
Pembesaran kelanjar : tidak ada
Tumor : tidak ada
Pulsasi a. Femoralis : normal
G. Kaki dan tangan
Inspeksi
Bentuk : normal
Kulit : tidak pucat
Pergerakan : tremor
Palmar eritrema: tidak ada
Clubbing finger: tidak ada
Udema : tidak ada
Palpasi
Nyeri kulit : tidak ada
H. Sendi
Inspeksi
Kelainan bentuk : tidak ada
26
Tanda radang : tidak ada
Pergerakan : tidak ada
Palpasi: normal
I. Neurologis
Reflex fisiologi
ABR: kiri normal, kanan normal
KPR: kiri normal, kanan normal
Reflex patologis: tidak ada
Rangsang meningeal: tidak ada
3.4 Pemeriksaan penunjang
a. Foto Thorak
Tampak perselubungan homogen pada mediastinum superior dektra
dengan batas tegas diduga massa, dan perselubungan inhomogen pada parahilus
27
sinistra disertai adanya peningkatan corakan bronkovaskular pada kedua lapangan
paru.
3.5 Diagnosis Banding:
1. Hemoptoe ec susp Tumor paru + Sindrom Vena Cava Superior + limfadenopati
a/r coli dextra et sinistra
2. Hemoptoe ec TB Paru + limfadenopati a/r coli dextra et sinistra
3.6 Diagnosis Kerja:
1. Hemoptoe ec susp Tumor paru + Sindrom Vena Cava Superior +
limfadenopatia/r coli dextra et sinistra
3.7 Terapi
Non farmakologi
a. Tirah baring
b. Diet MB
c. Berhenti merokok
Farmakologi
a. IVFD Nacl 0,9% + drip aminofilin 1 amp 20 gtt/i
b. Inj. Ambacim 1 gr/12 jam
c. Inj. Furosemid 20 mg/12 jam
d. Inj. Ranitidin 25 mg/12j
e. Inj. Methyl Prednisolon 125 mg/12 jam
f. Inj. Ketorolac 30 mg/8jam
g. Inj. Kalnex 500 mg/8jam
h. Nebule Ventholin + Flixotide/8jam
28
i. Codein 3x20 mg
j. Lesipar 2x1
3.8 Status follow up
Tanggal SOAP Terapi
23/08/16 S: - IVFD Nacl 0,9% +
[H+1] - Batuk (+), darah (+) bercak, dahak (+) putih drip aminofilin 1
- Sesak nafas (+), nyeri dada (+) saat batuk amp 20 gtt/i
- Benjolan di leher (+), nyeri (-),suara parau (+) - Inj. Anbacin 1 gr/12
- BAB dan BAK (dbn) jam
O: - Inj. Furosemid 20
KU: Baik, TD: 120/70 mmHg, RR: 27x/i, HR: mg/12 jam
0
x/i, Nadi: 84x/i, T: 36,4 C - Inj. Ranitidin 25 mg
- Leher : Limfadenopati amp /12j
- Thorax : venektasi - Inj. Methyl
- Paru : Wh (+/+), Rh (+/+) Prednisolon 125
mg/12 jam
A: Susp Tumor paru + sindrom vena cava - Inj. Ketorolac 30
superior mg/8jam
P: - Inj. Kalnex 500
Darah rutin, KGDR, LFT, RFT, BTA mg/8jam
EKG - Nebule Ventholin +
RO thorak PA Flixotide/8jam
- Codein 3x20 mg
- Lesipar 2x1
24/08/16 S: - IVFD Nacl 0,9% +
[H+2] - Batuk (+), darah (+) bercak, dahak (+) putih drip aminofilin 1
- Sesak nafas (+), nyeri dada (+) saat batuk amp 20 gtt/i
- Benjolan di leher (+), nyeri (-),suara parau (+) - Inj. Anbacin 1 gr/12
- BAB dan BAK (dbn) jam
O: - Inj. Furosemid 20
KU: Baik, TD: 110/70 mmHg, RR: 27x/i, HR: mg/12 jam
84x/i, Nadi: 94x/i, T: 36,3 0C - Inj. Ranitidin 25 mg
- Leher : Limfadenopati amp /12j
- Thorax : venektasi - Inj. Methyl
- Paru : Wh (+/+), Rh (+/+) Prednisolon 125
A: Susp Tumor paru + sindrom vena cava mg/12 jam
29
superior - Inj. Ketorolac 30
P: mg/8jam
Rujuk RSU Zainal Abidin - Inj. Kalnex 500
mg/8jam
- Nebule Ventholin +
Flixotide/8jam
- Codein 3x20 mg
- Lesipar 2x1