100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
266 tayangan16 halaman

Teks Rekon Faktual Banjir Garut 2016

Dokumen tersebut membahas tentang pendahuluan Rapid Health Assessment (RHA) pasca banjir bandang di Kabupaten Garut pada 20 September 2016. RHA dilakukan untuk menilai kondisi kesehatan masyarakat di lokasi pengungsian dan mencegah terjadinya masalah kesehatan akibat bencana. Dokumen ini juga menjelaskan definisi bencana, klasifikasi bencana, risiko kesehatan pascabencana, dan upaya penanggulangan bencana melal

Diunggah oleh

ErlinaDwiJ
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
266 tayangan16 halaman

Teks Rekon Faktual Banjir Garut 2016

Dokumen tersebut membahas tentang pendahuluan Rapid Health Assessment (RHA) pasca banjir bandang di Kabupaten Garut pada 20 September 2016. RHA dilakukan untuk menilai kondisi kesehatan masyarakat di lokasi pengungsian dan mencegah terjadinya masalah kesehatan akibat bencana. Dokumen ini juga menjelaskan definisi bencana, klasifikasi bencana, risiko kesehatan pascabencana, dan upaya penanggulangan bencana melal

Diunggah oleh

ErlinaDwiJ
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Bencana alam seakan tidak henti-hentinya menimpa tanah air, sehingga
sudah tidak asing lagi bagi kita jika mendengar terjadinya peristiwa gempa
bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, kekeringan, longsor, dan lain-
lain. Peristiwa bencana tersebut tidak mungkin dihindari, hal yang dapat kita
lakukan adalah memperkecil terjadinya korban jiwa, harta maupun
lingkungan. Pada tanggal 20 September 2016 sekitar pukul 20.15 WIB,
terjadi bencana banjir bandang. Bencana ini diakibatkan hujan dengan
intensitas tinggi dan durasi yang relatif lama mengguyur Kabupaten Garut
sehingga menyebabkan meluapnya Sungai Cimanuk.
Daerah yang terdampak adalah 6 kecamatan yaitu Kecamatan
Bayongbong, Garut Kota, Tarogong Kidul, Tarogong Kaler, Banyuresmi, dan
Kecamatan Karangpawitan . Banjir bandang mengakibatkan jatuhnya korban
jiwa, pengungsi, dan kerusakan infrastruktur termasuk fasilitas layanan
kesehatan. Korban meninggal ditemukan di 3 lokasi yaitu Lapang Paris, Kp.
Bojong Larang dan [Link]. Bupati Garut telah menetapkan SK
Tanggap Darurat Banjir Bandang tanggal 21-28 September 2016. Pada hari
Jumat tanggal 23 September 2016, terjadi banjir bandang susulan di wilayah
Cikajang, hulu Sungai Cimanuk sore sampai dengan malam hari. Banjir
menimpa RW 3, 4, 5, 6, 7 Desa Mekarjaya. Ketinggian air mencapai 1,5
meter. Sampai malam ini, sebagian rumah masih terendam.
Dalam waktu yang hampir bersamaan dengan banjir bandang di Kab.
Garut, tanggal 20 September 2016, hujan deras juga mengguyur Kab.
Sumedang sehingga mengakibatkan terjadinya bencana tanah longsor pada
pukul 19.30 WIB di Desa Ciherang dan Kel. Pasagrahan Baru Kec.
Sumedang Selatan yang menimbulkan adanya korban jiwa dan pengungsi.
Perlu diketahui bahwa bencana yang diikuti dengan pengungsian
menimbulkan masalah kesehatan yang sebenarnya diawali oleh masalah
bidang/sektor lain. Mencegah terjadinya masalah kesehatan tersebut Rapid
Health Assesment dilakukan untuk menilai kondisi kesehatan SDM yang ada
di lokasi pengungsian. Namun kegiatan assesment ini harus dilakukan dengan
cepat melihat sesaat setelah bencana merupakan kondisi darurat yang
membutuhkan tindakan yang taktis dan strategis. Mengingat penanggulangan
masalah kesehatan harus segera diberikan baik saat terjadi maupun pasca
bencana. Purwo Atmojo yang merupakan salah satu staf Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Timur menjelaskan Jangan terlalu ambisius untuk
mengumpulkan data karena waktu yang ada sangat terbatas ketika
memberikan pengarahan dalam Bimbingan Tekhnis Dokter dan Perawat
dalam Penanggulangan Bencana di Surabaya(28/07/2009).

1.2 Rumusan Masalah


Bagiamana mencegah terjadinya masalah kesehatan pada bencana banjir
bandang 20 September 2016 di Kabupatten Garut ?

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan pada Rapid Health
Assessment (RHA) pasca banjir bandang 20 September 2016 di Kabupaten
Garut.

1.4 Manfaat
1. Bagi Bidang Akademik
Laporan Pendahuluan ini diharapkan dapat memberikan tambahan daftar
kepustakaan yang bermanfaat dan dapat menjadi referensi dari
perbandingan dalam pembuatan laporan tugas akhir selanjutnya,
khususnya bagi intitusi dan mahasiswa Stikes Hang Tuah Surabaya.
2. Bagi Institusi Rumah Sakit / Bidang Pelayanan Masyarakat
Dapat dijadikan masukan dan informasi bagi seluruh praktisi kesehatan
dalam menentukan kebijakan atau dapat dijadikan dalam pengambilan
keputusan untuk melakukan kegiatan pada Rapid Health Assessment
(RHA) pascca banjir bandang 20 September 2016 di Kabupaten Garut.
3. Bagi Profesi Keperawatan
Memberi masukan dan sumbangan bagi perkembangan ilmu keperawatan
dan profesi keperawatan yang profesinonal.
4. Bagi Responden
Agar responden mampu mengetahui tentang kegiatan pada Rapid Health
Assessment (RHA) pascca banjir bandang 20 September 2016 di
Kabupaten Garut.
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Bencana


Bencana adalah peristiwa/rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik
oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia, sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan,
kerugian harta benda dan dampak psikologis dan di luar kemampuan
masyarakat dengan segala sumber dayanya.
Sumber lain juga mendefinisikan bencana sebagai suatu kejadian alam,
buatan manusia, atau perpaduan antara keduanya yang terjadi secara tiba-tiba
sehingga menimbulkan dampak negatif yang dahsyat bagi kelangsungan
kehidupan.

2.2 Klasifikasi Bencana


Bencana dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Menurut Penyebab :
a. Alam : gempa bumi dan erupsi vulkanik, keadaan cuaca yang berat
kekeringan (banjir dan angin taufan)
b. Perbuatan manusia : kecelakaan kimia atau perang.
2. Menurut Perkiraan :
a. Dapat diprediksi sebelumnya : banjir, angin taufan,
b. Tidak dapat diprediksi : gempa bumi.
3. Menurut Waktu Berlangsungnya :
a. Singkat saja : angin tornado, gempa bumi
b. Jangka waktu lama : kekeringan, kecelakaan radiasi.
4. Menurut Frekuensi :
a. Sering : angin tornado dan taufan
b. Jarang : mencairnya reaktor-reaktor nuklir.
5. Menurut Dampak :
a. Terhadap jutaan orang : kelaparan, gempa bumi
b. Relatif kecil orang : runtuhnya jembatan

2.3 Risiko KLB Pasca Bencana


Bencana alam dapat memperbesar risiki penyakit yang dapat dicegah akibat
perubahan yang merugikan pada bidang-bidang berikut :
a. Kepadatan penduduk
Kontak yang dekat antar manusia berpotensi meningkatkan penyebaran
penyakit bawaan udara (airborne disease). Kondisi tersebut ikut
menyebabkan sebagian peningkatan kasus infeksi pernapasan akut yang
dilaporkan pasca bencana.
b. Perpindahan penduduk
Pemindahan korban bencana dapat menyebabkan masuknya penyakit
menular baik pada penduduk migran maupun pada penduduk asli yang
rentan.
c. Kerusakan dan pencemaran layanan sanitasi dan penyediaan air
Air minum sangat rentan terhadap kontaminasi yang disebabkan oleh
kebocoran saluran air kotor dan adanya bangkai binatang di sumber air.
d. Terganggunya program kesehatan masyarakat
Setelah bencana, tenaga dan dana biasanya dialihkan untuk kegiatan
pemulihan. Jika program kesehatan masyarakat (misalnya program
pengendalian vector atau program vaksinasi) tidak dipelihara atau
dipulihkan sesegera mungkin, penyebaran penyakit menular dapat
meningkat pada populasi yang tidak terlindung.
e. Perubahan ekologi yang mendukung perkembangbiakan vector
Musim hujan yang disertai atau yang tidak disertai banjir, kemungkinan
dapat memengaruhi kepadatan populasi vector. Salah satu dampaknya
adalah pertambahan tempat perkembangbiakan nyamuk atau masuknya
hewan pengerat di daerah banjir.
f. Perpindahan hewan peliharaan dan hewan liar
Seperti halnya populasi manusia, populasi hewan sering berpindah
akibat bencana alam, sehingga zoonoses yang ada pada tubuh hewan
tersebut dapat ditularkan pada manusia dan juga pada hewan lain.
g. Persediaan makanan, air dan penampungan darurat dalam situasi
bencana
Kebutuhan dasar penduduk sering disediakan dari sumber baru atau
sumber yang berbeda. Sangat penting untuk memastikan bahwa
makanan dari sumber baru tersebut tidak merupakan sumber penyakit
menular.

2.4 Surveilans Berperan Dalam


a. Saat Bencana : Rapid Health Assesment (RHA), melihat dampak-
dampak apa saja yang ditimbulkan oleh bencana,seperti berapa jumlah
korban,barang-barang apa saja yang dibutuhkan, peralatan apa yang
harus disediakan,berapa banyak pengungsi lansia, anak-anak, seberapa
parah tingkat kerusakan dan kondisi sanitasi lingkungan.
b. Setelah Bencana : Data-data yang akan diperoleh dari kejadian bencana
harus dapat dianalisis, dan dibuat kesimpulan berupa bencana kerja atau
kebijakan, misalnya apa saja yang harus dilakukan masyarakatuntuk
kembali dari pengungsian,rekonstruksi dan rehabilitasi seperti apa yang
harus diberikan.
c. Menentukan arah respon/penanggunglangan dan menilai keberhasilan
respon/evaluasi. Manajemen penanggulangan bencana meliputi Fase I
untuk tanggap darurat, Fase II untuk fase akut, Fase III untuk recovery
(rehabilitasi dan rekonstruksi). Prinsip dasar penaggunglangan bencana
adalah pada tahap Preparedness atau kesiapsiagaan sebelum terjadi
bencana.

2.5 Upaya Penanggulangan Bencana


1. Pra-bencana
a. Kelembagaan/ koordinasi yg solid
b. SDM/ petugas kesehatan yg terampil secara medik dan sosial (dapat
bekerjasama dengan siapapun)
2. Ketersediaan logistic (bahan, alat, dan obat)
a. Ketersediaan informasi ttg bencana (daerah rawa, beresiko terkena
dampak)
b. Jaringan kerja lintas program/sector

2.6 Ketika bencana RHA (Rapid Health Assessment) dilakukan hari H


hingga H+3
Rapid Health Assessment (penilaian kesehatan secara cepat) dilakukan
untuk mengatur besarnya suatu masalah yang berkaitan dengan kesehatan
akibat bencana, yaitu dampak yang terjadi maupun yang kemungkinan dapat
terjadi terhadap kesehatan, sebarapa besar kerusakan terhadap sarana
permukiman yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan dan
merupakan dasar bagi upaya kesehatan yang tepat dalam penanggulangan
selanjutnya.
Assessment terhadap kondisi darurat merupakan suatu proses yang
berkelanjutan. Artinya seiring dengan perkembangan kondisi darurat
diperlukan suatu penilaian yang lebih rinci
Tujuan dari dilakukannya assessment awal secara cepat adalah:
1. Mendapatan informasi yang memadai tentang perubahan keadaan
darurat
2. Menjadi dasar bagi perencanaan program
3. Mengidentifikasi dan membangun dukungan berbasis self-help serta
aktivitas-aktivitas berbasis masyarakat.
4. Mengidentifikasi kesenjangan, guna :
a. Menggambarkan secara tepat dan jelas jenis bencana, keadaan,
dampak, dan kemungkinan terjadinya perubahan keadaan darurat
b. Mengukur dampak kesehatan yang telah terjadi dan akan terjadi
c. Menilai kapasitas sumber daya yang ada dalam pengelolaan
tanggap darurat dan kebutuhan yang perlu direspon secepatnya
d. Merekomendasikan tindakan yang menjadi prioritas bagi aksi
tanggap darurat.
5. Pasca bencana: berdasarkan dari RHA untuk menentukan langkah
selanjutnya
a. Pengendalian penyakit menular (ISPA, diare,DBD,chikungunya,
tifoid,dll)
b. Pelayanan kesehatan dasar
c. Memperbaiki kesehatan lingkungan (air bersih, MCK,
pengelolaan sampah, sanitasi makanan, dll)

2.7 Manfaat Surveilans Bencana


Surveilans bencana sangat penting, secara garis besar manfaatnya adalah:
a. Mencari faktor resiko ditempat pengungsian seperti air, sanitasi,
kepadatan, kualitas tempat penampungan.
b. Mengidentifikasi Penyebab utama kesakitan dan kematian sehingga dapat
diupayakan pencegahan.
c. Mengidentifikasi pengungsi kelompok rentan seperti anak-
anak,lansia,wanita hamil,sehingga lebih memperhatikan kesehatannya.
d. Pendataan pengungsi di wilayah, jumlah, kepadatan, golongan, umur,
menurut jenis kelamin.
e. Mengidentifikasi kebutuhan seperti gizi
f. Survei Epidemiologi.

2.8 Masalah Epidemiologi dalam Surveilans Bencana


a. Pertolongan terhadap kelaparan
Para ahli epidemiologi telah mengembangkan survei baru dan metode
untuk secara cepat menilai status nutrisi penduduk yang mengungsi, dan
usaha pertolongannya sebagai prioritas utama. Selanjutnya memonitor
status nutrisi populasi sebagai respon atas kualitas dan tipe makanan yang
dibagikan. Perkiraaan epidemiologi secara cepat membuktikan ketidak
tersediaan secara optimal dari distribusi makanan sementara kondisi
kesehatan terus-menerus berubah. Sejak itulah, pengawasan nutrisi dan
distribusi makanan menjadi bagian dari usaha pertolongan penanggulangan
kelaparan, terhadap penduduk yang mengungsi.
b. Kontrol Epidemik : Kantor Pengaduan
Para epidemiologis selanjutnya mesti terlibat dalam aspek lain kondisi
pasca bencana, yaitu : Antisipasi berkembangnya desas-desus tentang
penyebaran / mewabahnya penyakit kolera ataupun typus. Untuk itulah
sebuah kantor pengaduan dapat memberikan fungsi yang amat penting
dalam memonitor berkembangnya issu-issu yakni dengan menyelidiki yang
benar-benar bermanfaat serta kemudian menginformasikan kepada
khalayak umum akan bahaya yang mungkin terjadi. Konsep ini amat
bermanfaat tidak hanya untuk penduduk terkena musibah dinegara-negara
berkembang tetapi juga terhadap lingkungan kota, negara-negara industri.
c. Surveilans Pencegahan Kematian, Sakit dan Cedera
Masalah kesehatan yang berkaitan dengan bencana besar biasanya lebih
luas, tidak hanya ketakutan terhadap penyakit-penyakit wabah yang
mungkin terjadi, namun sering diukur berapa jumlah orang yang
meninggal, terluka parah atau berapa banyak yang jatuh sakit.
d. Surveilans Kebutuhan Perawatan Kesehatan.
Pada bencana yang terkait dengan jumlah korban yang cukup banyak
dengan cedera yang berat (contoh : ledakan, tornado) ataupun penyakit
yang parah (kecelakaan nuklir, epidemi), maka kemampuan untuk
mencegah kematian dan menurunkan kesakitan yang berat akan sangat
tergantung pada perawatan medis yang tepat dan adekuat (memadai) atau
tergantung pada pengiriman korban pada pusat-pusat layanan yang
menyediakan perawatan medis yang tepat.
e. Penelitian untuk menghindari tindakan tidak perlu
Setelah bencana banyak lembaga dan donor yang menawarkan bantuan
peralatan dan tenaga untuk usaha-usaha pertolongan yang tidak selalu
sesuai dengan kebutuhan. Sebagai contoh : pengiriman obat-obatan yang
tidak penting, kadarluarsa ataupun yang tidak berlabel pada daerah-daerah
terkena bencana, seringkali justru mengganggu usaha pertolongan sebab
menyebabkan beberapa personil terpaksa harus mengidentifikasi bantuan
yang relevan dari sekumpulan material yang tidak diperlukan.
f. Analisis Epidemiologi : Konsekuensi pencegahan kesehatan pada bencana
yang akan datang
Pada beberapa bencana seperti ; gempa bumi, tornado ataupun angin
ribut jumlah kematian atau terluka parah terutama terjadi akibat kejadian
bencana itu sendiri. Pada masing-masing pencegahan ini strategi-strategi
pencegahan sering direkomendasikan, padahal belum melalui suatu
penelitian epidemiologi yang mendalam.
g. Analisis Peringatan dari Usaha Pertolongan
Konsekuensi bencana jangka panjang tidak cukup diperkirakan. Tidak
ada evaluasi dibuat 5 atau 10 tahun sesudah bencana untuk menentukan
apakah perubahan dalam epidemiologi atau praktik pertolongan,
pengarahan ulang dana untuk tujuan jangka panjang atau perubahan dari
pola dan kebiasaan membuat bangunan, memiliki pengaruh jangka panjang
terhadap respon masyarakat terhadap bencana. Meskipun demikian,
kebanyakan masyarakat yang mengalami bencana, lebih peduli terhadap
usaha-usaha persiapan dimasa yang akan datang.

2.9 Rapid Health Assessment (RHA) Pasca Banjir Bandang di Kab. Garut 20
September 2016
A. Permasalahan Kesehatan
1) Banjir Bandang di Kabupaten Garut
Meninggal : 30 orang *) (9 laki-laki, 21 perempuan)
Luka Berat / Rawat Inap : 37 orang
Luka Ringan / Rawat Jalan : 20 orang
Hilang : 15 orang *)
Pengungsi : 6.019 jiwa (Lokasi : Makorem, Masjid Ali Yasin
Cimacan, Masjin At Taqwa Sukamenteri, Masjid Assyifa Kel.
Paminggir, Masjid daerah Cipicung Kec. Banyuresmi.)
Faskes yang rusak : 2 unit (RS Slamet dan Balai Kesehatan Paru
2) Longsor di Kab. Sumedang
Meninggal : 4 orang *)
Luka Berat / Rawat Inap : 8 orang
Luka Ringan / Rawat Jalan : 372 orang )
Pengungsi : 732 jiwa / 184 KK (di GOR Tadjamalela) Kelompok
rentan :
- Bayi : 18 jiwa
- Balita : 62 jiwa
- Bumil : 15 jiwa
- Busui : 16 jiwa
- Lansia : 44 jiwa
B. Upaya Yang Dilakukan
1. Dinas Kesehatan Kabupaten
a. Dinas Kesehatan Kabupaten Garut
Mengirimkan tim TRC dan RHA bencana
Membentuk Pos kesehatan sentral dan rujukan di RSUD dr.
Slamet dan RS Guntur
Mendirikan 2 poskes 24 jam di Rusunawa Cilawu dan Makorem
Garut dengan 2 shift bergilir oleh 11 Puskesmas.
Pembentukan Pos kesehatan di 18 wilayah kerja PKM sepanjang
sungai Cimanuk langsung maupun tidak langsung
Pembentukan posko untuk evakuasi korban dan penanganan
korban luka yaitu di RS Guntur, Aula Makorem 062/Tn,
Madrasah Asyfa Kp. Kaum Lebak, Makodim 0611/Grt, Kantor
Kel. Paminggir
Pembagian piket di pos-pos siaga
Membersihkan RSUD Dr. Slamet dan BKPM dengan desinfektan
Mendistribusikan air bersih ke pengungsian
Memberikan pelayanan kesehatan melalui puskesmas keliling di
pengungsian sebagai ganti posko kesehatan.
b. Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang
Mengirimkan tim TRC dan RHA
Membantu melakukan evakuasi korban
Mendirikan poskes dan memberikan pelayanan kesehatan
Pengamatan penyakit SKD respon KLB
Pengendalian vector
Inspeksi sanitasi
Pembagian MP ASI, PMT Anak Sekolah, PMT Bumil.
2. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
Melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Garut
dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang.
Memberikan bantuan disenfektan dan obat yang sifatnya darurat ke
Kabupaten Garut .
3. Kementerian Kesehatan
Megirimkan Tim Rapid Health Assesment (RHA) sejumlah 10 orang
ke Kabupaten Garut yang terdiri dari PKK, Dit. Yankes Primer, Dit.
Fasyankes, dan BPFK.
Bantuan yang diberikan ) :
Pusat Krisis Kesehatan
1) MP ASI (10 box)
2) Kantung mayat anak-anak (10 buah)
Dit. Kesling
1) Penjernih air cepat (PAC) : 500 sachet
2) Desinfektan air (kaporit) : 20kg
3) Polybag ranah lingkungan : 1000 lembar
4) Polybag biasa : 1000 lembar
5) Polybag limbah medis : 1000 lembar
6) Desinfektan lantai : 120 liter
7) Safety box : 100 bh Dit.
Gizi Masyarakat
1) MP ASI : 3,5 ton
2) PMT Bumil : 2,5 ton
3) PMT Anak Sekolah : 0,5 ton
Dit. Obat Publik
2 paket obat-obatan (600 pelayanan)
Melakukan rapat koordinasi klaster kesehatan di Dinas Kesehatan
Kab. Garut pada tanggal 22 September 2016 pukul 08.00 WIB.
Pada hari Jumat tanggal 23 September 2016, Menteri Kesehatan
didampingi oleh Sesjen dan beberapa pejabat terkait, mengunjungi
korban, pengungsi, dan faskes yang mengalami kerusakan, serta
memberikan bantuan.
KKP Bandung melakukan desinfeksi terhadap fasilitas vital RSUD
Slamet serta melakukan fogging terhadap seluruh area RS.
Tim Gizi Kemenkes melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan
Kab. Garut terkait bantuan makanan, utamanya susu formula untuk
anak-anak di pengungsian.
Melakukan koordinasi, pemantauan dan melaporkan perkembangan
kejadian.

C. Bantuan Yang Dibutuhkan


Dinas Kesehatan Kabupaten Garut saat ini membutuhkan bantuan:
Kaporit, Lysol, alat fogging, dan air bersih di RSUD Slamet.

D. Kondisi Saat Ini


1. Kondisi Fasilitas Kesehatan di Kab. Garut hingga saat ini :
RS yang aktif adalah RS Guntur
RS Nurhayati dan RS Intan Husada digunakan untuk pasien hamil
IGD, poliklinik, ICU, OK, laboratorium, dan radiologi tidak
beroperasi, namun pelayanan rawat inap bisa digunakan tetapi hanya
perawatan ringan saja sisanya dirujuk.
Beberapa sarana prasarana dan alat kesehatan di RSUD Slamet tidak
dapat digunakan karena terendam banjir.
Faskes primer tidak ada yang terdampak banjir bandang, bahkan siap
melayani 24 jam.
2. BKPM dan RS di Garut mulai kehabisan obat dots. BKPM akan mulai
efektif melakukan pelayanan kembali pada tanggal 26 September
2016.
3. Sampai saat ini buffer stock obat-obatan di Dinas Kesehatan Provinsi,
baik obat kesehatan dasar maupun obat program masih aman. Jika
Dinkes Kab. Garut kekurangan obat, dapat menggunakan obat yang
ada di Dinkes Prov. Jabar.
4. Pemantauan tetap dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Garut,
Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Barat, Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan.

E. Rencana Tindak Lanjut


1. Dinas Kesehatan Kab. Garut akan membuat surat edaran kepada
seluruh posko dan tim di lapangan perihal pemberian bantuan berupa
susu formula agar diserahkan semua ke Dinas Kesehatan.
2. Pengendalian dan pengawasan bersama terhadap pemberian bantuan
makanan oleh LSM.
3. Mengkoordinasikan pemenuhan permintaan bantuan yang diajukan
oleh Dinas Kesehatan Kab Garut.
4. Melakukan penilaian kerusakan, kerugian dan kebutuhan bidang
kesehatan pasca bencana banjir bandang.
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Rapid Health Assessment (penilaian kesehatan secara cepat) dilakukan
untuk mengatur besarnya suatu masalah yang berkaitan dengan kesehatan
akibat bencana, yaitu dampak yang terjadi maupun yang kemungkinan dapat
terjadi terhadap kesehatan, sebarapa besar kerusakan terhadap sarana
permukiman yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan dan
merupakan dasar bagi upaya kesehatan yang tepat dalam penanggulangan
selanjutnya. Rapid Health Assesment (RHA), melihat dampak-dampak apa
saja yang ditimbulkan oleh bencana, seperti berapa jumlah korban, barang-
barang apa saja yang dibutuhkan, peralatan apa yang harus
disediakan,berapa banyak pengungsi lansia, anak-anak, seberapa parah
tingkat kerusakan dan kondisi sanitasi lingkungan.

3.2 Saran
Pada saat terjadinya bencana biasanya begitu banyak pihak yang menaruh
perhatian dan mengulurkan tangan memberikan bantuan tenaga, moril maupun
material. Banyaknya bantuan yang datang sebenarnya merupakan sebuah
keuntungan yang harus dikelola dengan baik, agar setiap bantuan yang masuk
dapat tepat guna, tepat sasaran, tepat manfaat, dan terjadi efisiensi. Dengan
demikian diharapkan pelaksanaan manajemen logistik dan peralatan dapat
berjalan secara efektif dan efisien dan terkoordinasi dengan baik.
BAB 3 PENUTUP

Anda mungkin juga menyukai