Kerangka Pikir Drainase Kota Bogor
Kerangka Pikir Drainase Kota Bogor
Dalam rangka melaksanakan pekerjaan Survey Data Sumber Daya Air Kota Bogor maka
Konsultan Perencana, akan menyajikan Kerangka Pikir Pelaksanaan Pekerjaan sebagai
berikut :
Yang termasuk dalam sistem drainase lokal yaitu sistem saluran awal yang melayani
suatu kawasan kota tertentu seperti kompleks perumahan, areal pasar, perkantoran,
areal industri dan komersial. Sistem ini melayani area kurang dari 10 ha.
Pengelolaan sistem drainase lokal menjadi tanggung jawab masyarakat,
pengembang atau instansi lainnya.
Yang termasuk sistem drainase utama yaitu saluran drainase primer, sekunder,
tersier beserta bangunan kelengkapannya yang melayani kepentingan sebagian
besar warga masyarakat. Pengelolaan sistem drainsae utama menjadi tanggung
jawab pemerintah kota.
Yang dimaksud dengan sistem saluran primer yaitu saluran utama yang menerima
masukan aliran dari saluran sekunder. Dimensi saluran ini relatif besar dan akhir
saluran primer yaitu badan penerima air.
Sistem saluran tersier adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran
drainase lokal.
Rencana Induk Drainase disiapkan untuk kota besar (metropolitan) atau kota
besar yang strategis dimana pengembangan drainase benar-benar diperlukan.
Rencana ini merupakan suatu perencanaan yang dirumuskan oleh
engineer/designer/planner untuk mengatur run-off yang berasal dari air hujan
kota untuk proyek atau area drainase tertentu.
Studi Kelayakan
Studi Kelayakan mengikuti perkembangan dari suatu Master Drainage Plan sebagai
tahap berikutnya dari perencanaan drainase kota. Studi ini meliputi suatu evaluasi
yang diolah dari rencana manajemen curah hujan terpilih yang mencakup rencana
rancang-bangun persiapan untuk memperkirakan biaya yang dibutuhkan, evaluasi
ekonomi terperinci, penilaian dampak lingkungan, dan kebutuhan untuk operasional
dan perawatan, survei dan pengaturan kelembagaan. Sebagai tambahannya, kriteria
desain dan jadwal implementasi juga dikembangkan.
Perencanaan Teknis
Perencanaan teknis dibuat untuk daerah prioritas yang telah mempunyai studi
kelayakan atau rencana kerangka (Outline Plan). Jangka waktu perencanaan untuk
2 atau 5 tahun. Rencana teknis harus memuat persyaratan teknis dan gambar
teknis, kriteria perencanaan dan langkah-langkah perencanaan konstruksi sistem
drainase di daerah perkotaan.
Berdasarkan acuan yang telah digariskan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK), maka
dalam menyiapkan rencana kegiatan akan memberikan konsep metodologi pelaksanaan
yang optimal, ekonomis, tepat guna dan solusinya dapat diandalkan. Oleh karena itu
dalam melaksanakan pekerjaan ini, pihak Konsultan akan menyajikan konsep
metodologi pelaksanaan pekerjaan dari masing-masing kegiatan yang dimulai dari tahap
awal hingga penyelesaian akhir pekerjaan. Bagan alir pelaksanaan pekerjaan yang
merepresentasikan metoda pelaksanaan pekerjaan yang Konsultan buat seperti yang
ada pada Gambar 3.1.
Gambar 5. 2 Diagram Alir Metodologi Pekerjaan
Dengan mengacu pada Kerangka Acuan Kerja, hasil yang diharapkan dari pekerjaan ini
yaitu berupa rekomendasi sistem drainase dan penanganan masalah banjir dan
genangan secara fisik dan non-fisik (pembinaan) di kawasan kajian, termasuk
penentuan skala prioritas penanganan. Secara garis besar untuk mencapai hasil
keluaran seperti tersebut di atas dalam tahap perencanaan diperlukan aktivitas
pekerjaan yang meliputi: kegiatan lapangan, kegiatan kantor dan laboratorium. Validasi
dan keakuratan dalam penyelesaian pekerjaan adalah suatu hal yang sangat diperlukan
dan harus dicapai dengan tujuan agar hasil akhir yang diperoleh dalam hal ini berupa
pemodelan banjir sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang ada di lapangan.
Pekerjaan Survey Data Sumber Daya Air Kota Bogor dilaksanakan dengan mengikuti
bagan alir seperti yang disajikan dalam Gambar 5.2. Tahapan utama dan sub tahapan
yang harus dilaksanakan selama masa penyelesaian pekerjaan antara lain adalah:
1. Tahap Pendahuluan
1. Pekerjaan persiapan
2. Pengumpulan data sekunder dan review studi yang sudah ada
1. Analisis Topografi
2. Analisa Hidrologi
3. Analisa Hidraulika
4. Analisis Tata Guna Lahan
5. Pemodelan banjir
6. Analisis Lingkungan
Dari beberapa tahap dan sub tahap yang merupakan bagian dari metode pelaksanaan
pekerjaan yang akan dikerjakan oleh Konsultan ini akan diuraikan secara rinci kegiatan
yang ada dalam masing-masing tahap pekerjaan.
1. Persiapan Administrasi
2. Persiapan Teknis
Review terhadap Kerangka Acuan Kerja (KAK/TOR) harus terlebih dahulu dipahami
dan dijabarkan ke dalam penyusunan parameter yang akan menjadi tolak ukur dari
setiap tahapan pelaksanaan pekerjaan. Dengan adanya penjabaran parameter yang
ada dalam KAK ini maka dengan mudah dapat disusun metodologi dan rencanan
kerja yang akan dilaksanakan oleh konsultan.
Dalam kegiatan ini akan digali variabel-variabel penentu dan permasalahan yang
ada di lokasi pekerjaan, sehingga dapat dijadikan solusi atau dasar dalam
menjalankan tugas dan tanggung Jawab konsultan dalam hal ini yaitu pekerjaan
Survey Data Sumber Daya Air Kota Bogor.
Adapun data yang akan dikumpulkan tidak terbatas pada hal di bawah ini, antara
lain:
1. Hidroklimatologi untuk daerah yang bersangkutan.
2. Sungai/saluran yang ada di daerah yang akan di rencanakan.
3. RUTR/RUTW daerah yang bersangkutan.
4. Peruntukan lahan dari daerah yang akan dibuat Survey Data Sumber
Daya Air.
5. Sosial ekonomi dari masyarakat setempat.
6. Mekanika tanah dari tempat yang akan direncakan, biasanya dari
perencanaan sebelumnya yang sejenis maupun yang tidak sejenis.
7. Hidrogeologi dari daerah yang bersangkutan.
8. Citra satelit/foto udara dari daerah yang direncanakan (jika ada).
9. Properda
10. Peta genangan daerah bersangkutan.
11. Peta topografi yang sudah ada.
12. Peta geologi permukaan terdahulu.
13. Sistem tata air yang sudah ada.
14. Catchment area yang sudah ada.
Dalam kegiatan ini, Konsultan akan melakukan studi literatur sekaligus mereview
terhadap studi-studi yang berhubungan maupun Pra Rancangan yang telah ada dan
membuat justifikasi bahwa studi dan Pra Rancangan tersebut masih sesuai dan dapat
dipakai sebagai dasar penyusunan Desain. Pada kegiatan review studi yang ada ini
juga dilakukan kegiatan iventarisasi atau tinjauan terhadap Bangunan Drainase baik
tinjauan terhadap struktur maupun hidraulis bangunan.
Orientasi lapangan/survei pendahuluan ini adalah merupakan survey awal yang perlu
dilakukan sebelum dilakukan survey detail yaitu untuk mengamati dan mendata secara
umum kondisi dari masing-masing bagian dari lokasi studi, pada tahap ini Konsultan
akan mengumpulkan sebanyak mungkin data yang diperlukan untuk kegiatan Survey
Data Sumber Daya Air Kota Bogor lebih lanjut. Untuk itu Konsultan akan melakukan hal-
hal sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi daerah genangan yang ada pada lokasi studi.
2. Mengidentifikasi kerugian kerugian banjir yang dialami di daerah studi.
3. Mengidentifikasi sarana dan prasarana pengendalian banjir existing di daerah yang
bersangkutan.
7. Melakukan kegiatan penentuan leak dan titik-titik patok pengukuran di lokasi yang
akan dilakukan survei lapangan.
8. Melakukan cross ceck data yang didapat dengan kondisi yang ada dilapangan.
9. Mencari informasi dan mengidentifikasi sistem tata air yang sudah ada.
10. Mencari informasi dan mengidentifikasi kondisi peruntukan lahan di daerah studi.
11. Melakukan pengamatan kasar terhadap cathment area daerah yang bersangkutan.
12. Melengkapi data yang belum ada yang sudah didapat pada tahap pendahuluan yaitu
dengan mencari dan mengumpulan data sekunder.
Dari survei pendahuluan yang sudah dilaksanakan, diharapkan Konsultan sudah dapat
menyajikan metode penelitian, mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin timbul
dan penanganan masalah yang akan diterapkan. Pada tahapan ini Konsultan akan
menyusun rencana detail jadwal pelaksanaan survey lapangan. Dan Semua hasil survei
pendahuluan akan dilaporkan dan dikonsultasikan kepada Pemberi Tugas sebagai
dasar persiapan langkah selanjutnya.
a. Tujuan Survei
Dalam kegiatan survei jaringan drainase mempunyai tujuan untuk mendapatkan data
dan gambaran kondisi drainase eksisting dan informasi kemiringan lahan secara garis
besar yang berupa situasi dan ketinggian serta posisi kenampakan yang ada.
Metodologi pengukuran yang akan dilaksanakan terdiri dari beberapa kegiatan sebagai
berikut:
Orientasi Medan
Sebagai langkah awal setelah tim tiba di Base Camp lapangan adalah
melakukan orientasi medan yang meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
- Meninjau dan mengamati kondisi sungai beserta keadaan daerah sekitarnya.
- Melacak serta mengamati keadaan di dalam lokasi.
- Penghimpunan Tenaga Lokal (TL) yang diambil dari penduduk sekitar lokasi.
- Melakukan konsolidasi internal terhadap kesiapan personil, peralatan,
perlengkapan, material, serta logistik.
- Melakukan konsultasi teknis serta meninjau lokasi secara bersama-sama
dengan pemilik pekerjaan.
b. Garis sempadan untuk sungai yang tak bertanggul dengan kedalaman air
maksimum 3m adalah:
d. Personil Survei
Personil yang melaksanakan kegiatan ini adalah asisten ahli drainase, surveyor, dan
tenaga lokal. Dalam pekerjaan ini jika mengalami kesulitan maka tenaga ahli yang
berkaitan dengan pekerjaan ini yaitu ahli drainase akan turun tangan.
e. Peralatan Survei
Peralatan yang digunakan dalam survey jaringan drainase antara lain:
1. Pita ukur 50 meter.
2. Peilschaal.
f. Hasil Survei
Hasil dari pengukuran ini dari survei jaringan drainase adalah:
1. Data pengukuran dan perhitungan hasil pengukuran dimensi saluran di
lapangan.
2. Peta genangan
3. Peta jaringan drainase
[Link] Survei Hidrometri
a. Tujuan Survei
Tujuan dilakukannya survey hidrometri adalah untuk memperoleh data pengukuran dan
sampel untuk mendapatkan gambaran aktual kondisi hidrometri di lokasi studi.
c. Metodologi Survei
Untuk meramalkan banjir yang lebih akurat, pengukuran debit sungai harus
dilakukan berkali-kali. Oleh karena itu, pilihlah lokasi yang strategis. Yang paling
ideal untuk mengukur debit adalah pada bangunan air yang ada di sungai itu,
seperti bendungan, pintu air, siphon, talang air, saluran, gorong-gorong, waduk,
dan lain-lain. Khususnya untuk bendungan besar, anda tidak usah mengukur
debit, karena ada operator bendung yang mencatat tinggi air, dan sekaligus
debitnya. Kalau anda beruntung, anda bisa memperoleh data pengukuran debit
sampai beberapa puluh tahun yang lalu. Kalau bangunan seperti itu tidak ada,
maka sebaiknya adan menghubungi Litbang air dari Departemen Kimpraswil,
yang berlokasi di Bandung. Banyak sungai ditanah air yang sudah diukur secara
rutin, dan dibukukan debitnya dengan baik.
Lokasi pengukuran debit harus bebas dari olakan air, arus yang tidak teratur (tidak
simetris), erosi pada sisi sungai, interupsi dari inlet atau out-let anak sungai, atau
adanya pengendapan didasarnya. Gambar 5.3 memberikan rambu-rambu lokasi
pengukuran debit sungai.
Gambar 5. 3 Rambu-rambu Lokasi Pengukuran Debit Sungai
Sebelum mulai mengukur aliran sungai terlebih dahulu harus dipilih lokasi sekitar
pos duga yang memenuhi syarat sebagai berikut:
Palung sungai harus sedapat mungkin lurus dengan arah arus kecepatan sejajar
satu dengan yang lain.
Dasar sungai sedapat mungkin tidak berubah-ubah, bebas dari batu besar,
tumbuhan air dan bangunan air yang menyebabkan jalur kecepatan tidak sejajar
satu dengan yang lainnya.
Dasar penampang sungai sedapat mungkin rata supaya pada waktu menghitung
penampang basah hasilnya mendekati sebenarnya.
7. Kegiatan ini terus berulang untuk setiap jalur garis vertikal pada seluruh
penampang melintang.
10. Pelampung adalah pengukuran arus yang paling sederhana. Bahan yang
bisa adalah stereofoam (semacam busa putih). Disarankan untuk
membentuk seperti badan kapal, supaya memiliki karakteristik hidrolis yang
paling ideal. Yang diukur adalah kecepatan permukaan pada sepertiga lebar
sungai, mengikuti distribusi kecepatan yang berbentuk parabola datar dan
hiperbola tegak, seperti Gambar 5.4.
Gambar 5. 4 Distribusi Kecepatan Aliran Pada Suatu Tampang Sungai
V = kecepatan
Tipe Baling-baling (Propeller)
V = a + b.N
N = banyak putaran persatuan waktu
Penulusuran dilakukan dengan menelusuri saluran atau sungai yang ada dan
kemudian dilakukan pengukuran hidrometri. Penelusuran dihentikan pada
cabang saluran drainase sekunder.
c. Personil Survei
Personil yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan survei hidrometri yaitu
ahli drainase, ahli bangunan air, dan surveyor hidrometri.
d. Peralatan Survei
Dalam melaksanakan kegiatan ini dibutuhkan alat bantu survei sebagai berikut:
1. Peilschaal.
2. Currentmeter.
3. Alat pelampung.
4. Kompas.
5. Theodolite T0 (bila dibutuhkan).
e. Hasil Survei
Dari pekerjaan survei hidrometri akan didapatkan hasil seperti yang disebutkan di bawah
ini:
Data kecepatan aliran
Data penampang sungai
a. Tujuan Survei
Tujuan dilakukannya survey identifikasi situ adalah untuk memperoleh data mengenai
kondisi situ yang ada di Kota Bogor.
c. Metodologi Survei
c. Personil Survei
Personil yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan survei situ yaitu ahli
drainase.
d. Peralatan Survei
Dalam melaksanakan kegiatan ini dibutuhkan alat bantu survei sebagai berikut:
1. Camera digital
2. Alat ukur sederhana seperti meteran
e. Hasil Survei
Dari pekerjaan survei situi akan didapatkan hasil seperti yang disebutkan di bawah ini:
Data posisi situ
Data penampang dan kondisi situ
Editing
Lay Out
a. Tujuan Analisa
Tujuan dari analisa hidrometri dan hidrologi yaitu untuk mendapatkan curah hujan
rencanan yang nantinya digunakan sebagai dasar perhitungan parameter aliran.
Sedangkan dalam hidrometri lebih terfokus parameter aliran di sungai yang berupa
besarnya debit sungai dan kondisi morfologi sungai.
b . Ruang Lingkup Analisa
Ruang lingkup kegiata analisa hidrometri yaitu perhitungan besarnya perhitungan debit
sungai, sedangkan dalam analisa hidrologi mempunyai ruang lingkup sebagai berikut:
1. Curah hujan regional.
2. Analisa curah hujan rencana.
3. Uji kecocokan.
4. Intensitas curah hujan rencana.
5. Debit perencanaan.
c. Metodologi Analisa Hidrometri
Dalam analisa data hidrometri, perhitungan debit sungai dapat dilakukan dengan
berbagai cara.
S =
R =
Dari semua debit yang didapat dengan menggunakan metode perhitungan yang sudah
dipilih kemudian akan dibuat lengkung debit dengan cara mengeplot ke dalam grafik
antara elevasi/tinggi muka air (ordinat) dengan debit pada elevasi/tinggi muka air yang
bersangkutan (absis).
Data
Curah Hujan Harian
Maksimum
Metode
Metode Normal
Gumbell
Uji Kecocokan
(Smirnov-Kolmogorov)
Hasil
Curah Hujan Rencana
Intensitas Hujan
Rencana
Selesai
1 NX N N
RX R2 X R2 ..... X Rn
n N1 N2 Nn
Dimana:
RX = curah hujan yang hilang
R1, R2, .Rn =curah hujan pada stasiun 1, 2,...,n untuk tahun yang sama
(datanya lengkap)
NX = curah hujan tahunan rata-rata pada stasiun yang hilang datanya.
N1, N2, ......Nn = curah hujan rata-rata pada stasiun 1, 2,.......,n (datanya
lengkap)
n = jumlah stasiun yang datanya lengkap untuk tahun yang sama
3. Reciprocal Method
Cara perhitungan yang dianggap lebih baik, adalah cara reciprocal
method, yang memanfaatkan jarak antar stasiun sebagai faktor koreksi.
Hal ini dapat dimengerti karena korelasi antara dua stasiun hujan menjadi
makin kecil dengan besarnya jarak antar stasiun tersebut. Metode ini
dapat digunakan jika dalam DPS terdapat lebih dari dua stasiun pencatat
hujan. Umumnya, dianjurkan untuk menggunakan paling tidak tiga
stasiun acuan.
R1 R2 R
2 2 ...... 2n
d d d Xn
RX 2X 1 X22
1/ d X 1 1/ d X 2 ........ 1/ d Xn2
Dimana:
RX = curah hujan yang hilang
R1, R2, .Rn = curah hujan pada stasiun 1, 2,...,n untuk tahun yang
sama (datanya lengkap)
n = jumlah stasiun yang datanya lengkap untuk tahun yang
sama.
dX1, dX2, ..., dXn = jarak stasiun dengan stasiun yang datanya tidak ada.
A2
1 3
A4
4
A1
A3
A5
A7
A6
7
5
6
Gambar 5.14 Poligon Thiesen
R1 A1 R2 A2 ....... R7 A2
R
A1 A2 .......... A7
Dimana:
R = tinggi curah hujan rata-rata.
R1, R2,........R7 = tinggi curah hujan pada pos penakar.
A1 = luas daerah pengaruh pos penakar 1.
A2 = luas daerah pengaruh pos penakar 2.
A7 = luas daerah pengaruh pos penakar 7.
3. Cara isohyet
Dengan cara ini, kita harus menggambarkan dulu kontur tinggi hujan
yang sama (isohyet), seperti gambar di bawah:
R6
R4 R5
R7
R3
R2
R1
A
A
5
A A A A 5
1 2 3 4
R1 R2 R R3 R R7
A1 2 A2 ...... 6 A6
2 2
R
A1 A2 ........... A6
Dimana:
R = tinggi curah hujan rata-rata.
R1, R2,........R7 = tinggi curah hujan pada isohyet.
A1, A2, ........, A6 = luas daerah yang dibatasi oleh isohyet-isohyet berdekatan.
1. Distribusi Normal
Fungsi distribusi komulatif (CDF) dari distribusi normal dirumuskan:
1 1 x 2
F ( x) f ( x)dx 2 exp dx
2
Dimana:
rata rata
deviasi s tan dar
Z 1 F ( x )
^
X .Z
Dalam distribusi ini harus mengubah parameter = 0 dan = 1
2. Distribusi Gumbel
Fungsi distribusi komulatif (CDF) dari ditribusi Gumbel dirumuskan:
F ( x) exp exp( y )
Dimana:
x
y
6
S
x 0.5772
Untuk x = xT maka
1
yT Ln Ln
F ( xT
Tr
yT Ln Ln
Tr 1
Menurut Gumbel persamaan peramalan dinyatakan sebagai berikut:
xT x K T S
6 Tr
KT 0.5772 Ln Ln
Tr 1
Dimana:
yN = reduced mean
SN = reduced standar deviasi
N 1 * N 2 * S 3
Hitung curah hujan: X T X S * K T
4. Distribusi Log Pearson type III
Fungsi distribusi kumulatif (CDF) dari distribusi Log Pearson dirumuskan:
c cx/ 2
x
f (x ) po 1 e
a
dx
N 1
N 1 * N 2 * S log
3
1 1 x
2
F ( x) f ( x)dx
2
exp
2 n
n
dx
Dimana:
n rata rata untuk y Lnx
1 1 x
2
F ( x) f ( x)dx
2
exp
2 n
n
dx
Dimana:
n rata rata untuk y Lnx
Rata-rata error =
Xi X
*10 %i
N
Dimana:
^
X i = nilai analitis
Xi = nilai aktual
i = nomor urut data (1,2,3, ......N)
N = jumlah data
Jika nilai rata-rata prosentase error mendekati 100% atau lebih, maka suatu fungsi
distribusi memiliki nilai kepercayaan error besar, dengan kata lain fungsi distribusi
tidak cocok dengan data lapangan, dan sebaliknya.
- Deviasi
Nilai deviasi sebanding dengan nilai simpangan data analisa terhadap data
lapangan. Semakin kecil nilai deviasi maka sebaran nilai fungsi akan mendekati,
dengan data pengamatan dan sebaliknya jika nilai deviasi besar maka sebaran
fungsi tersebut akan menjahui data. Nilai deviasi dinyatakan dengan:
N^ 2
i1XiX1
N 1
Fungsi distribusi dikatakan cocok dengan data lapangan jika memiliki nilai deviasi
kecil jika dibandingkan terhadap fungsi yang lain maka yang dipilih adalah yang
tekecil.
- Chi-Kuadrat
Pengujian Chi-kuadrat yaitu dengan membandingkan frekuensi-frekuensi
pengamatan n1, n2, n3, .....nk sejumlah nilai-nilai variat (atau dalam k selang) terhadap
frekuensi-frekuensi pengamatan e1, e2, e3, .....ek yang bersangkutan dari suatu fungsi
distribusi. Dasar untuk memeriksa kebenaran perbandingan ini digunakan distribusi
dari besaran:
k
ni ei
i 1 ei
C1f
Dimana C1-f adalah nilai distribusi komulatif (1- ) dari Xf2 distribusi teoritis yang
diasumsikan merupakan model yang dapat diterima pada taraf nyata . Biasanya
nilai yang digunakan adalah 5%. Jumlah drajat kebebasan untuk fungsi distribusi
dengan jumlah c buah parameter dilakukan dengan (k c - 1) drajat kebebasan.
Untuk memberikan hasil yang memuaskan digunakan k5 dan ei5.
- Kolmogorof-Smirnov
Prinsip dari metoda ini yaitu membandingkan probabilitas kumulatif lapangan dengan
distribusi komulatif fungsi yang ditinjau. Data yang ditinjau berukuran N, diatur
dengan urutan semakin meningkat. Dari data yang diatur ini akan membentuk suatu
fungsi frekuensi kumulatif tangga sebagai berikut:
0 x x1
k
G ( x) xk x xk 1
N
1 x xN
Dimana:
xi = nilai data ke i
k = nomor urut data (1,2,3,4,.......,N)
G ( x) = CDF data aktual
G(x) = CDF data teoritis
Selisih maksimum antara G ( x ) dan G(x) untuk seluruh rentang x merupakan ukuran
penyimpangan dari model teoritis terhadap data aktual. Selisih maksimum
dinyatakan dalam:
DN G ( x) G ( x )
Secara teoritis, DN merupakan suatu variabel acak yang ditribusinya tergantung pada
N. Untuk taraf nyata yang tertentu, pengujian K-S membandingkan selisih
maksimum pengamatan dengan nilai kritis
D N
, yang didefinisikan dengan:
P( D N D N ) 1
Jika DN yang diamati kurang dari nilai kritis
D N
, maka distribusi dapat diterima
pada taraf yang ditentukan, jika tidak maka distribusi akan ditolak.
Dimana:
Lo = panjang pengaliran (m)
n.d = koefisien hambat.
Beton (aspal) : n.d = 0,013
Rerumputan : n.d = 0,200
So = kemiringan permukaan (%)
2. Kerby
0 , 467
r.L1,5
tof 3,03 ( jam)
H
Rumus ini berlaku untuk
L < 4 km
r = koefisien permukaan
r = 0,02 (permukaan halus)
r = (0,3-0,4) untuk rerumputan
L = Panjang permukaan (km)
H = beda tinggi permukaan (m)
3. Izzard
tof
0,024 i 0 , 33
878k
20,67 L0, 67 ( jam)
CH 0 , 67 0 , 67
Berlaku untuk:
i.L 3,8
i = intensitas hujan (mm/jam)
k = koefisien permukaan terdiri dari
K = 0,07 (aspal halus)
K = 0,012 (beton)
L = panjang permukaan (km)
C = koefisien limpasan
H = beda tinggi permukaan (m)
4. Brasby-William
0,96 L1, 2
tof ( jam )
H 0,33 A0,1
Dimana:
L = panjang permukaan
H = beda tinggi permukaan (m)
A = luas daerah tadah (km2)
5. Aviation agency
3,64(1,1 C ) L0,83
tof ( jam)
H 0,33
Dimana:
C = koefisien limpasan
L = panjang permukaan (km)
H = beda tinggi permukaan (km)
3,64(1,1 C ) L0,5
Rumus lain tof 1
(menit )
S 3
Dimana :
C = koefisien limpasan
L = panjang permukaan (km)
S = kemiringan lahan (%)
0,784(1,1 C ) L0,5
Atau tof 1
(menit )
S 3
Dimana:
C = koefisien limpasan
L = panjang permukaan (km)
S = kemiringan lahan (m/m)
d.6 Intensitas Curah Hujan Rencana
- Lengkung Intensitas Hujan (IDC = Intensity Duration Curve)
Intensitas curah hujan rencana merupakan besarnya curah hujan yang terjadi pada
kurun waktu dimana air tersebut berkonsentrasi. Lengkung intensitas curah hujan
adalah kurva yang menggambarkan hubungan antara lamanya pengaliran dan
intensitas curah hujan. Dalam membuat IDC memperlukan data lengkap dari stasiun
pengamat. Apabila data tidak lengkap atau tidak ada maka dapat digunakan data
pembanding suatu daerah dengan anggapan sifat dan ciri curah hujan di daerah
tersebut kurang lebih sama dengan daerah yang ditinjau untuk kasus yang dihadapi.
Intensitas hujan di Indonesia, dapat mengacu pada pola grafik IDC dari:
1. V. Breen
Yang dapat didekati dengan persamaan:
54 RT 0,707 RT2
IT
tc 0,31RT
Dimana:
IT = intensitas hujan pada PUH T dan pada waktu konsentrasi tc
(mm/jam)
RT = tinggi hujan pada PUH T (mm/hari)
2. DR. Mononobe (Jepang)
2/3
R 24
IT T ( mm / jam)
42 t
L
t ( jam)
v
0, 6
H
t 72 (km / jam)
L
Dimana:
IT = intensitas hujan (mm/jam)
RT = hujan harian dengan PUH (tahun ) dalam (mm)
T = waktu tempuh aliran disaluran dalam (jam)
V = kecepatan aliran
H = beda tingi hulu-hilir (km)
Beberapa macam persamaan lengkung intensitas hujan, antara lain:
3. Formula Talbot
Formula Talbot dirumuskan sebagai berikut :
a
I
t b
Dimana:
I = intensitas hujan (mm/jam)
T = waktu konsentrasi
a, b = konstanta
a
I .t . I I .t I
2 2
N I I
2 2
b
I .t . I N I .t 2
N I I
2 2
N = jumlah data.
4. Formula Sherman
Formula sherman adalah:
a
I
tn
Dimana:
I = intensitas hujan (mm/jam)
T = waktu konsentrasi
a,n = konstanta
log(a )
N log(t ) log(t )
2 2
n
log( I ) . log(t ) N log(t ).log(I )
N log(t ) log(t )
2 2
N = banyaknya data
5. Formula Ishiguro
Formula Ishiguro dapat dirumuskan sebagai berikut :
a
I
t b
Dimana:
I = intensitas hujan (mm/jam)
t = waktu konsentrasi
a, b = konstanta
a
I . t . I I . t I
2 2
N I I
2 2
b
I . t I N I 2
. t
N I I
2 2
N = jumlah data.
di mana:
tC = waktu konsentrasi (menit)
t1 = inlet time (menit)
t2 = waktu pengaliran (menit)
di mana:
t1 = inlet time (menit)
Lt = panjang dari titik terjauh sampai saluran (m)
k = kelandaian permukaan
nd = koefisien hambatan (pengaruh kondisi permukaan yang dilalui aliran)
L1 dan L2 ditentukan dari klasifikasi jalan, sedangkan L2 tergantung dari terrain di
lapangan karena daerah pengaliran dibatasi oleh titik-titik tertinggi pada bagian
kiri dan kanan jalan berupa alur dan saluran yang memotong jalan.
1) Jika L3 > (L1 + L2), maka Lt = L3
2) Jika L3 < (L1 + L2), maka Lt = (L1 + L2)
Besarnya koefiesien hambatan untuk beberapa kondisi lahan sebagai
berikut:
Kondisi Permukaan yang Dilalui
nd
Aliran
1. Lapisan semen dan aspal beton 0,013
2. Permukaan halus dan kedap air 0,02
3. Permukaan halus dan padat 0,10
4. Lapangan dengan rumput jarang,
ladang, tanah lapang kosong 0,20
dengan permukaan cukup kasar
5. Ladang dan lapangan rumput 0,40
6. Hutan 0,60
7. Hutan dan rmba 0,80
Keterangan :
1) Kelandaian :
Untuk L1, k1 = 2 3%
Untuk L2, k2 = 3 5%
Untuk L3, k3 = sesuai dengan kondisi di lapangan
2) Lebar :
Lebar daerah pengaliran yang diperitungkan = panjang saluran yang
dihitung
d. Waktu Pengaliran (t2)
Waktu pengaliran (t2) adalah waktu yang diperlukan untuk air mengalir dari
saluran permulaan menuju ke suatu profil melintang saluran tertentu yang
ditinjau. Waktu pengaliran diperoleh sebagai pendekatan dengan membagi
panjang aliran maksimum dari saluran dengan kecepatan rata-rata aliran pada
saluran tersebut.
L
t2
60 v
di mana:
t2 = waktu pengaliran (menit)
L = panjang saluran (m)
Nilai kecepatan rata-rata diperoleh dari rumus Manning:
1 2 / 3 1/ 2
v R S
n
dengan:
v = kecepatan aliran rata-rata (m/dtk)
R = jari-jari hidraulis (m) = A/P
A = luas penampang basah (m2)
P = keliling basah (m)
S = kemiringan saluran
n = koefisien kekasaran Manning
e. Debit Aliran
Debit aliran dicari dengan menggunakan Metode Rasional, karena daerah pengaliran
yang ditinjau tidak luas dan curah hujan dianggap seragam untuk suatu luas daerah
pengaliran yang kecil. Rumus Metode Rasional:
Qa CIA
di mana:
Qa = debit aliran (m3/dtk)
C = koefisien pengaliran
I = intensitas hujan selama waktu konsentrasi (m/dtk)
A = luas daerah pengaliran (m2)
Intensitas hujan diperoleh dari persamaan lengkung intensitas hujan rencana.
Analisis hidrograf yang digunakan menggunakan cara Nakayasu, dengan rumus yang
digunakan adalah sebagai berikut :
C A Ro
Qp
3,6 ( 0,3Tp T0, 3 )
Dimana :
Qp = debit puncak bamjir (m3 / detik)
Ro = hujan satuan (mm)
Tp = tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak banjir (jam)
T0,3 = waktu yang diperlukan oleh penurunan debit, dari debit puncak sampai
menjadi 30 % dari debit puncak (jam)
Dimana :
Qa = limpasan sebelum mencapai debit puncak (m3/detik)
t = Waktu (jam)
Bagian lengkung turun (decreasing limb)
t Tp
a. Qd >0,3 Qp : T0 , 3
Qd Qp* 0.3
t Tp 0 , 5 T0 , 3
b. 0,3 Qp > Qd >0,32 Qp : 1, 5 T0 , 3
Qd Qp * 0,3
t Tp 1, 5 T0 , 3
c. 0,32 Qp > Qd : 2 T0 , 3
Qd Qp * 0.3
Sedangkan waktu Tp = tg + 0,8 tr
dimana untuk
L < 15 km tg = 0,21 L0,7
L > 15 km tg = 0,4 + 0,058 L
Dimana :
L = panjang alur sungai (km)
tg = waktu konsentrasi (jam)
tr = 0,5 tg sampai tg (jam)
T 0,3 = tg (jam)
Dengan besarnya =
untuk daerah pengaliran biasa = 2
untuk bagian naik hidrograf yang lambat dan bagian menurun
yang cepat = 15
untuk bagian naik hidrograf yang cepat dan bagian menurun
yang lambat = 3
Asumsi yang dipergunakan dalam perhitungan ini adalah :
Panjang sungai
Luas catchment area
Koefisien pengaliran
Kurva Hidrograf
Hidrograf dapat didefinisikan sebagai grafik yang menyatakan hubungan antara elevasi
muka air atau aliran (debit) dengan waktu. Karakteristik hidrograf berkaitan erat dengan
air yang jatuh ke bumi dan yang mencapai sungai. Air tersebut dapat menempuh
bermacam-macam jalan antara lain:
Mengalir di atas permukaan sebagai aliran permukaan (surface runoff, surface
flow, overland flow) dan akan mencapai sungai segera setelah hujan turun.
Meresap (infiltrasi) ke dalam tanah dan mengalir ke bawah permukaan menuju
sungai. Air tersebut bergerak lebih perlahan/lambat dari air permukaan.
Dalam hidrologi besarnya debit yang mengalir pada sungai (debit total) diperlukan
pemisahan menjadi komponen-komponen aliran.
Aliran total yang mengalir pada sungai berasal dari 2 bagian, yaitu:
Limpasan langsung (Direct runoff )
Aliran dasar (Base flow)
Limpasan langsung terdiri dari aliran permukaan dan sebagian aliran sub permukaan
sedangkan aliran dasar sebagian besar terdiri dari aliran air tanah. Perbedaan antara
kedua aliran tersebut hanya terletak pada waktu mencapai sungai bukan pada jalan
yang ditempuh.
Ada 4 komponen penting dalam analisa hidrograf banjir, seperti terlihat pada gambar di
atas, yaitu:
BC : kurva naik (rising limb)
C : aliran puncak (peak flow)
CD : kurva menurun (falling limb)
AB dan DE : resesi aliran dasar (baseflow recession)
Kurva naik dipengaruhi oleh hujan lebat dan daerah karakteristik daerah aliran (DAS).
Kurva resesi dipengaruhi hanya oleh karakteristik daerah aliran (DAS), tidak tergantung
dari hujan lebat. Meskipun hidrograf akan berbeda namun kurva resesi untuk setiap
hidrograf akan serupa dan hanya bergantung kepada karakteristik DAS.
Gambar 5. 16 Hidrograf Satuan Sintetik
e. Personil Analisa
Personil yang terlibat dalam pekerjaan analisa hidrologi dan hidrometri yaitu ahli
drainase, ahli hidrologi dan hidraulika, dan asisten dari kedua ahli ini.
f. Peralatan Analisa
Alat bantu yang dipegunakan dalam kegiatan ini yaitu alat tulis dan komputer.
g. Hasil Analisa
Dari kegiatan ini akan dihasilkan debit perencanaan untuk mendesain Master Plan Kota
Bogor.
a. Tujuan
Dalam Analisis Tata Guna Lahan ini bertujuan untuk menentukan koefisien pengaliran
dari setiap segemen lahan baik itu eksisting maupun yang akan direncanakan. Dengan
demikian dapat menjadi bahan bagi penentuan debit run off untuk tiap segmen wilayah
perencanaan.
b. Lingkup Kegiatan
Lingkup kegiatan yang dilakukan dalam Analisis Tata Guna Lahan yaitu:
Tinjauan Tata Guna Lahan Eksisting
Tinjauan Tata Guna Lahan Perencanaan (RTRW)
Kalibrasi batas lahan dalam peta dan kondisi real di lapangan
Penentuan Koefisien Pengaliran
c. Metodologi Analisis
Hasil analisis terhadap peta tata guna lahan yang telah di overlay dan superimpose
kemudian akan disesuaikan dengan tabel koefisien limpasan sebagai berikut :
Tabel 5. 1 Koefisien Limpasan (untuk metoda Rasional)
Deskripsi Lahan / Karakter permukaan Koefisien aliran ( c )
a) Busines
o Perkotaan O,70 0,95
o Pinggiran 0,50 0,70
b) Perumahan
o Rumah tunggal 0,30 0,50
Hal lain yang menjadi pertimbangan dalam analisis tata guna lahan adalah kondisi
geologi dan hidrogeologi lahan, permeabilitas lahan dan jenis vegetasi tutupan lahan.
a. Tujuan
Dalam Analisis hidraulis ini bertujuan untuk mengetahui profil aliran dan kapasitas
saluran/sungai.
b. Lingkup Kegiatan
Lingkup kegiatan yang dilakukan dalam Analisis hidraulika yaitu:
Tinjauan Umum Model Matematika (HEC-RAS)
Input Data (kondisi batas, kondisi awal, bangunan air)
Kalibrasi Permodelan
c. Metodologi Analisis
Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis hidraulis adalah terbagi menjadi
beberapa tahap, yaitu :
Perhitungan Data Hidraulis
Data-data hidraulik yang dikumpulkan adalah meliputi data geometri atau dimensi
saluran dan data karakteristik tampungan. Data mengenai dimensi saluran
diperoleh berdasarkan as built drawing dan pengukuran di lapangan. Sementara itu
data karakteristik tampungan diperoleh dari hasil interpretasi data kontur
menggunakan software AutoCAD. Hasil interpretasi ini mencakup perkiraan luas
genangan dan volume genangan berdasarkan ketinggian muka air. Sementara data
hidrologi yang digunakan adalah data kurva hidrograf hasil perhitungan hidrologi.
Dalam melakukan Analisis ini digunakan metodologi seperti terlihat pada Gambar
5.15. Dari gambar ini dapat diuraikan seperti berikut:
Mengidentifikasi kondisi existing data sarana dan prasarana pengendalian air
yang sudah didapat.
Menentukan sarana dan prasarana yang mana masih berfungsi dan yang tidak
berfungsi.
Untuk sarana yang masih berfungsi, ditentukan berapa kapasitas dari sarana
dan prasarana tersebut untuk menangani permasalahan yang ada.
Merencanakan sistem polder yang tepat. Menentukan lokasi polder dan
menempatkan instrumen-instrumennya dengan perencanaan yang matang,
sehingga sistem polder dapat efektif menanggulangi banjir.
Memberikan rekomendasi desain. Dimana rekomendasi desain untuk sarana dan
prasarana yang berfungsi dan yang tidak berfungsi berbeda, selain itu juga
harus disesuaikan dengan permasalahannya yang ada.
Pemodelan aliran I (kondisi eksisting)
Setelah data-data dikumpulkan, langkah selanjutnya adalah membuat model
saluran. Sebelum membuat model harus diketahui dahulu dasar teori dan metode
yang akan digunakan.
Setelah itu data-data hidraulik dan hidrologi dimasukkan sebagai input dalam
pemodelan. Data hidraulik yang dimasukkan adalah data kondisi eksisting. Langkah
selanjutnya adalah menjalankan program simulasi berdasarkan model yag dibentuk.
Model yang dibentuk harus mampu menggambarkan kondisi sebenarnya di
lapangan. Oleh karena itu perlu dilakukan kalibrasi terhadap kondisi sebenarnya.
Desain saluran
Saluran didesain berdasarkan hasil simulasi aliran I. Desain saluran harus
memperhitungkan faktor ekonomis dan konstruksi. Faktor ekonomis artinya desain
saluran tidak terlalu mahal tanpa mengurangi efektivitas. Sedangkan faktor
konstruksi artinya proses pembangunannya tidak terlalu rumit.
Pemodelan aliran II (dengan desain)
Pemodelan ini sama dengan pemodelan aliran I sebelumnya, hanya saja
ditambahkan faktor saluran. Hasil simulasi disesuaikan dengan kondisi yang
diinginkan, jika tidak sesuai maka akan dilakukan redesain saluran hingga tercapai
kondisi yang diinginkan.
Gambar 5. 17 Tahapan pemodelan rainfall-runoff
Input Data
Setiap data yang berhubungan dengan kondisi kajian sudah tentu merupakan
bahan masukan pada pemodelan. Program yang digunakan hanya
menggunakan kejadian hidrologi dan kejadian hidrolika yang berpengaruh besar
pada perhitungan. Pemodelan yang dibuat tidak memperhitungkan besarnya
evaporasi dan rembesan mengingat kecilnya daerah tinjauan sehingga pengaruh
evaporasi dan rembesan diperkirakan sangat kecil.
Data-data yang paling penting untuk melakukan pemodelan kali ini adalah data
geometri daerah kajian dan data perhitungan hidrologi pada lokasi tertentu
sebagai syarat batas. Data geometri untuk model saluran dan bangunan air
menggunakan data as built drawing dan data ketinggian elevasi. Data
perhitungan hidrologi berupa data debit banjir dengan periode ulang 25 atau
tahun.
Pemodelan dibuat dengan memanfaatkan data debit berdasarkan kurva
hidrograf untuk mengetahui pergerakan air. Data elevasi muka air yang tercatat
adalah data elevasi muka air pada tiap segmen atau cross section yang diamati
tiap beda waktu tertentu.
Data Geometri
HEC-RAS 3.0 adalah program yang dapat memodelkan aliran tak tunak dengan
tinjauan satu dimensi dengan pemodelan geometri yang lebih akurat karena titik
pendekatan untuk memodelkan cross section saluran bisa dibuat lebih banyak
dari beberapa program aliran tak tunak satu dimensi lain yang sering digunakan.
Dengan demikian maka penggambaran setiap cross section saluran dengan
menggunakan program HEC-RAS 3.0 ini akan menjadi lebih mendekati
dibandingkan sebelumnya.
Input data yang dilakukan adalah menggambarkan profil aliran yang akan
dimodelkan dan memasukkan data cross section pada masing-masing saluran.
Lay out saluran diperoleh dari peta topografi dengan skala 1:5000.
Contoh Gambar profil yang digunakan dalam pemodelan dapat dilihat di gambar
berikut :
Gambar 5. 18 Lay Out Pemodelan Aliran
Langkah selanjutnya adalah memasukkan data geometri dari potongan melintang. Kode
potongan melintang yang dibuat adalah sebagai berikut :
Tabel 5. 2 Kode Potongan Melintang Yang Digunakan
Contoh masukan data potongan melintang saluran yang dimodelkan adalah sebagai
berikut :
Gambar 5. 19 Contoh1 Input Data pada Cross Section
Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam Analisis lingkungan ini mencakup antara
lain :
a). Hubungan sebab akibat antara kegiatan proyek pada tiap tahapan ( pra
konstruksi, konstruksi, dan pasca konstruksi ) dengan lingkungan hidup,
dengan dampak positif dan negatif yang mungkin timbul.
b). Ciri dampak penting yang positif dan negatif, harus dikemukakan dengan
jelas secara kwantitatif dan matematis dalam arti apakah dampak penting
tersebut akan berlangsung terus selama kegiatan berlangsung atau
apakah dampak yang satu dengan dampak yang lainnya akan terdapat
hubungan timbal balik.
c). Selain dampak penting kegiatan terhadap lingkungan juga diduga dan
dievaluasi dampak lingkungan terhadap proyek.
d). Seberapa luas dan dalam intensitas daerah yang akan terkena dampak
penting dari kegiatan ini yang mungkin dapat dinyatakan di dalam peta.
Untuk melaksanakan prediksi dampak digunakan metode, Prediksi Dampak dapat
menggunakan metode formal dan metode tersebut diuraikan secara jelas.
A. Penanganan Struktural
Dengan upaya yang cenderung pada rekayasa teknis yang bertujuan untuk
memodifikasi besaran-besaran banjir dan memodifikasi tingkat kerawanan banjir.
Debit banjir (Q, m3/dt) adalah fungsi dari kecepatan aliran (V, m/dt) dan luas
penampang sungai (A, m2). Upaya-upaya pengendalian banjir dapat dilakukan
dengan pendekatan terhadap ketiga komponen banjir tersebut.
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan jenis bangunan
pengendalian banjir adalah sebagai berikut:
1. Pengaruh regim sungai terutama erosi dan sedimentasi dan hubungannya
dengan biaya pemeliharaan.
2. Kebutuhan perlindungan erosi didaerah kritis.
3. Pengaruh bangunan terhadap lingkungan.
4. Perkembangan Pembangunan daerah.
5. Pengaruh bangunan terhadap kondisi aliran di sebelah hulu dan sebelah hilirnya.
Ada beberapa bangunan yang lazim digunakan untuk penanganan banjir, yaitu :
- Kolam Penampungan
Seperti halnya bendung, kolam penampungan (retention basin) berfungsi untuk
menyimpan sementara debit sungai sehingga puncak banjir dapat dikurangi. Tingkat
pengurangan banjir tergantung pada karakteristik hidrograf banjir, volme kolam dan
dinamika beberapa bangunan outlet. Wilayah yang digunakan perencanaan dan
pelaksanaan tata guna lahan yang baik, kolam penampungan dapat digunakan
untuk pertanian. Untuk strateri pengendalian yang andal diperlukan:
1. Pengontrol yang memadai untuk menjamin keterpatan peramalan banjir
2. Peramalan banjir yang andal dan tepat waktu untuk perlindungan atau evakuasi
3. Sistem drainase yang baik untuk mengosongkan air dari daerah tampungan
secapatnya setalah banjir reda.
Pertimbangan-pertimbangan pembuatan kolam penampungan ini, antara lain:
1. Ketersediaan lahan.
2. Sebagai konsekuensi dari perubahan fungsi lahan rawa.
3. Normalisasi saluran dirasa belum cukup untuk mengendalikan banjir.
4. Sebagai sarana konservasi lingkungan dan rekreasi.
5. Merupakan salah satu solusi untuk mengurangi banjir.
- Tanggul Penahan banjir
Tanggul penahan banjir adalah penghalang yang didesain untuk menahan air banjir
di palung sungai untuk melindungi daerah disekitarnya. Tanggul banjir sesuai untuk
daerah-daerah dengan memperhatikan faktor-faktor berikut:
1. Dampak tanggul terhadap regim
2. Tinggi jagaan dan kapasitas debit sungai pada bangunan-bangunan sungai
misalnya jembatan.
3. Ketersediaan bahan bangunan setempat
4. Syarat-syarat teknis dan dampaknya terhadap pengembangan wilayah.
5. Hidrograf banjir yang lewat
6. Pengaruh tanggul terhadap lingkungan
7. Pengaruh limpasan, penambangan, longsoran dan bocoran
8. Pengaruh tanggul terhadap lingkungan
9. Lereng tanggul dengan tepi sungai yang relatif stabil.
Pemilihan tanggul penahan banjir sebagai alternatif penanggulangan banjir ini akan
diberikan dengan pertimbangan:
1. Ketersediaan lahan
2. Kondisi elevasi muka air yang lebih tinggi dari elevasi sekitar sehingga
memerlukan pelindung berupa tanggul.
3. Untuk melindungi daerah tertentu dari beban banjir.
- Saluran by Pass/Sudetan
Saluran by pass adalah saluran yang digunakan untuk mengalihkan sebagian atau
seluruh aliran air banjir dalam rangka mengurangi debit banjir pada daerah yang
dilindungi. Fakotr-faktor yang penting sebagai pertimbangan dalam desain saluran
by pass adalah sebagai berikut:
1. Biaya pelaksanaan yang relatif mahal
2. Kondisi topografi dari rute alur baru
3. Bangunan terjunan mungkin diperlukan disaluran by pass untuk mengontrol
kecepatan air erosi
4. Kendala-kendala geologi timbul sepanjang aliran sungai asli di bagian hilir dari
likasi percabangan
5. Penyediaan air dengan program pengembangan daerah disekitar sungai
6. Kebutuhan air harus tercukupi sepanjang aliran sungai asli di bagian hilir dari
lokasi percabangan
7. Pembagian air akan berpengaruh pada sifat alami daerah hilir mulai dari lokasi
percabangan by pass.
Pemilihan saluran by pass ini akan dipilih jika kondisi lokasi:
1. Tidak memungkinkan lagi dilakukan peningkatan kapasitas saluran yang ada.
2. Ketersediaan lahan.
3. Mempercepat pengaliran.
4. Untuk mengurangi beban pada saluran eksisting.
- Sistem Pompanisasi
Sistem drainase khusus sering diperlukan untuk memindahkan air dari daerah rawan
banjir karena drainase yang buruk secara alami atau karena ulah manusia. Alternatif
dengan pemompaan mungkin diperlukan untuk daerah buangan dengan elevasi air
dibagian hilir terlalu tinggi. Desain dari sistem drainase khusus berdasarkan
pertimbangan berikut:
1. Topografi, karakteristik infiltarsi dan luas daerah yang akan dilindungi
2. Kecepatan dan waktu hujan serta aliran permukaan
3. Volume dari air yang ditahan
4. Periode banjir
Adapun kriteria yang digunakan dalam pemilihan bangunan adalah:
1. Apabila elevasi air buangan lebih rendah dari elevasi daerah dilindungi, dapat
digunakan out let sederhana.
2. Apabila fluktuasi perubahan elevasi air berubah-ubah diperlukan pintu air
otomatis
Pemilihan sistem pompanisasi akan dilakukan untuk kondisi-kondisi sebagai berikut:
1. Apabila elevasi buangan lebih tinggi dari daerah yang dilindungi.
2. Kondisi saluran yang selalu di pengaruhi pasang surut sehingga kecepatan
pengaliran menjadi kecil.
3. Drainase perkotaan dimana drainase perkotaan tidak memadai
4. Digunakan untuk melindungi daerah hilir dari pengaruh pasang surut
5. Daerah genangan/bantaran banjir dengan bangunan floodwall/dinding penahan
banjir.
Penyusunan Survey Data Sumber Daya Air Kota Bogor berangkat dari Visi dan Misi. Visi
yang akan digunakan adalah menciptakan suasana Kota Bogor aman terhadap
ancaman banjir dan nyaman sebagai tempat tinggal untuk mendukung kota sebagai
kota bersejarah, dan pusat komersial dan layanan. Sedangkan misi yang diemban
dalam pembuatan master plan ini bahwa pengelolaan Drainase Kota akan dilakukan
melalui pendekatan ekosistem alam berdasarkan prinsip satu DAS, satu rencana, satu
pengelolaan. Sedangkan wilayah DAS ditentukan oleh batas alam yang tidak selalu
bertepatan (co-incided) dengan batas wilayah administrasi/ daerah.
5.6.1 Prinsip Penyusunan
Penyusunan Survey Data Sumber Daya Air lebih sering kali ditujukan untuk
ketersediaan drainase, memperingan banjir, atau memperkecil resiko. Secara garis
besarnya ada 2 komponen utama dalam master plan yakni laporan teknis dan
rencana pelaksanaan. Laporan teknis lebih bersifat penggambaran kondisi-kondisi
di lapangan dan bagaimana sistem yang diusulkan akan selaras dengan tujuan
master plan, sedangkan rencana pelaksanaan merupakan suatu rencana usulan
seperti untuk saluran, kontrol jumlah limpasan dan sistem kontrol kualitas air.
Dalam perencanaan system banjir perkotaan harus menggunakan prinsip berikut:
1. Drainase banjir adalah suatu fenomena umum yang tidak dipengaruhi batasan
antara aturan pemerintah atau antara kepemilikan umum dan pribadi.
2. Drainase banjir adalah suatu sub sistem dari sistem sumber daya air perkotaan
secara keseluruhan.
3. Setiap daerah perkotaan harus mempunyai 2 sistem drainase, yang harus
diterapkan dan direncanakan.
4. Pengelolaan banjir merupakan masalah alokasi ruang, sehingga itu merupakan
suatu bagian dasar dari proses perencanaan kota.
5. Pembuangan aliran permukaan yang dilakukan secepatnya bukan merupakan
wewenang managemen banjir secara praktek, pendekatan dengan orientasi
tampungan sebaiknya ditempatkan pada tempat yang memungkinkan.
6. Perencanaan sistem banjir pada umumnya sebaiknya tidak berdasarkan pada
dasar pemikiran bahwa permasalahan drainase bisa dipindahkan dari satu
lokasi ke lokasi lain.
7. Suatu strategi banjir perkotaan seharusnya merupakan multi fungsi.
8. Perencanaan dari pengaturan sistem sebaiknya memperhatikan kelebihan dan
fungsi-fungsi alami dari drainase.
9. Dalam pengembanganpengembangan baru, besar aliran banjir setelah
pengembangan sebaiknya mendekati/mengikuti kondisi-kondisi sebelum
pengembangan, dan beban limbah yang seharusnya dihilangkan.
10. Sistem pengelolaan banjir sebaiknya direncanakan, dimulai dari hilir ke sungai
dari daerah tangkapan.
11. Sistem pengelolaan banjir sebaiknya ditempatkan pada lokasi yang mudah
dijangkau untuk memudahkan perawatan.
5.6.2 Skenario Master Plan
Dalam menyusun Survey Data Sumber Daya Air Kota Bogor akan memanfaatkan
potensi-potensi yang telah ada, antara lain:
1. Keberadaan Sungai-sungai Besar yang Ada
Sebagian besar DAS sungai di Kota Bogor berkapasitas sangat besar dan
sangat berpotensi sebagai badan air penerima saluran drainase untuk
daerah ini.
2. Sungai-sungai dan Saluran yang Telah Ada
Kota Bogor ini memiliki banyak sekali sungai ataupun saluran ini merupakan
sarana yang telah ada yang bisa dimanfaatkan secara baik. Sungai-sungai ini
akan dilakukan analisa terhadap kapasitas, permasalahan yang sedang
terjadi dan alternatif pemecahannya. Sungai-sungai yang ada inilah yang
merupakan sarana utama dalam memindahkan beban air ke muara.
3. Ketersediaan Ruang
Ketersediaan ruang memang sangat penting dalam mendukung rencana-
rencana pengembangan sistem drainase. Di dalam Kota memang sedikit
sarana lahan tidak seperti di daerah luar kota yang cukup luas. Namun
demikian dalam pembuatan master plan ini langkah-langkah yang akan
diupayakan meminimalkan penggunaan lahan baru atau pembebasan lahan.
4. Lahan Resapan
Lahan resapan merupakan sarana penampungan air hujan alami yang
sangat baik sebagai sarana konservasi lingkungan. Secara keseluruhan
lahan resapan yang ada memiliki kapasitas yang cukup besar namun
keberadaanya terus berkurang akibat dampak negatif dari perkembangan
kota Dalam pembuatan master plan ini kondisi lahan resapan harus
seoptimal mungkin dipertahankan terhadap perkembangan kota. Misalkan
ada perubahan fungsi resapan menjadi sarana lainnya harus
mempertimbangkan pengurangan daya tampung yang akibat pengurukan
tersebut.
5. Bangunan Air
Kota Bogor telah memiliki sejumlah retensi yang berfungsi sebagai
penampung air hujan, tempat rekreasi atau mungkin juga dimanfaatkan
masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari. Retensi ini merupakan bentuk
kolam-kolam kecil yang pemanfaatannya pada saat hujan bisa digunakan
sebagai pengendali banjir sedangkan dalam sehari-hari sebagai kolam kota
atau untuk keindahan kota dan tempat rekreasi.