0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan72 halaman

Kerangka Pikir Drainase Kota Bogor

Dokumen tersebut membahas kerangka pelaksanaan pekerjaan survey sumber daya air di kota Bogor. Terdiri dari lima tahap utama yaitu pendahuluan, pengumpulan data, analisis, perancangan strategi, dan penetapan program prioritas. Menguraikan metodologi pelaksanaan pekerjaan secara terperinci dari awal hingga akhir.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan72 halaman

Kerangka Pikir Drainase Kota Bogor

Dokumen tersebut membahas kerangka pelaksanaan pekerjaan survey sumber daya air di kota Bogor. Terdiri dari lima tahap utama yaitu pendahuluan, pengumpulan data, analisis, perancangan strategi, dan penetapan program prioritas. Menguraikan metodologi pelaksanaan pekerjaan secara terperinci dari awal hingga akhir.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KERANGKA PIKIR PELAKSANAAN PEKERJAAN

Dalam rangka melaksanakan pekerjaan Survey Data Sumber Daya Air Kota Bogor maka
Konsultan Perencana, akan menyajikan Kerangka Pikir Pelaksanaan Pekerjaan sebagai
berikut :

Gambar 5. 1 Kerangka Pikir Pelaksanaan Pekerjaan

5.1 PENDEKATAN PELAKSANAAN PEKERJAAN


Pengertian tentang drainase kota pada dasarnya telah diatur dalam SK Menteri No. 233
Tahun 1987. Menurut SK tersebut, yang dimaksud drainase kota yaitu: jaringan
pembuangan air yang berfungsi mengeringkan bagian-bagian wilayah administrasi kota
dan daerah urban dari genangan air, baik dari hujan lokal maupun luapan sungai yang
melintas didalam kota. Dalam mengelola drainase tidak hanya mengendalikan air, tetapi
juga memperhatikan dampak yang terjadi pada lingkungan sehingga sistem drainase
yang ada merupakan drainase yang berwawasan lingkungan. Dalam drainase yang
berwawasan lingkungan, terdapat dua pola yang dipakai:
1. Pola Defensi (menampung air sementara), misalnya dengan membuat kolam
penampungan.
2. Pola Retensi (meresapkan), antara lain dengan membuat sumur resapan,
saluran resapan, bidang resapan atau kolam resapan.
Fungsi dari drainase perkotaan yaitu:
1. Mengeringkan bagian wilayah kota dari genangan sehingga tidak menimbulkan
dampak negatif.
2. Mengalirkan air permukaan ke badan air penerima terdekat secepatnya.
3. Mengendalikan kelebihan air permukaan yang dapat dimanfaatkan untuk
persediaan air dan kehidupan akuatik.
4. Meresapkan air permukaan untuk menjaga kelestarian air tanah (konservasi air).
Berdasarkan fungsi pelayanan, sistem drainase kota dapat dibagi menjadi dua bagian
pokok yaitu:

1. Sistem drainase lokal

Yang termasuk dalam sistem drainase lokal yaitu sistem saluran awal yang melayani
suatu kawasan kota tertentu seperti kompleks perumahan, areal pasar, perkantoran,
areal industri dan komersial. Sistem ini melayani area kurang dari 10 ha.
Pengelolaan sistem drainase lokal menjadi tanggung jawab masyarakat,
pengembang atau instansi lainnya.

2. Sistem drainase utama

Yang termasuk sistem drainase utama yaitu saluran drainase primer, sekunder,
tersier beserta bangunan kelengkapannya yang melayani kepentingan sebagian
besar warga masyarakat. Pengelolaan sistem drainsae utama menjadi tanggung
jawab pemerintah kota.

3. Pengendalian banjir (flood control):


Sungai yang melintasi wilayah kota berfungsi sebagai pengendalian banjir, sehingga
tidak mengganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kegiatan
kehidupan manusia. Pengelolaan pengendalian banjir menjadi tanggung jawab
Dinas Pengairan (Sumber Daya Air).
Berdasarkan fisiknya, sistem drainase terdiri atas saluran primer, sekunder, tersier dan
sebagainya.

1. Sistem saluran primer

Yang dimaksud dengan sistem saluran primer yaitu saluran utama yang menerima
masukan aliran dari saluran sekunder. Dimensi saluran ini relatif besar dan akhir
saluran primer yaitu badan penerima air.

2. Sistem saluran sekunder:


Sistem saluran primer yaitu saluran terbuka atau tertutup yang berfungsi menerima
aliran air dari salura tersier dan limpasan air dari permukaan disekitarnya, dan
meneruskan air ke saluran primer. Dimensi saluran tergantung pada debit yang
dialirkan.

3. Sistem saluran tersier

Sistem saluran tersier adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran
drainase lokal.

Untuk mewujudkan fungsi drainase perkotaan yang optimal, perencanaan drainase


perkotaan harus dilakukan secara menyeluruh dan terarah, melalui pembuatan rencana
induk (master plan), studi kelayakan dan perencanaan teknis.

Rencana Induk (Master Plan)

Rencana induk Sistem Drainase perkotaan merupakan perencanaan menyeluruh


sistem drainase pada satu perkotaan, untuk waktu perencanaan 25 tahun. Lingkup
dari rencanan induk yaitu sistem drainase utama saja yang berada dalam satu
daerah administrasi kota atau perkotaan.

Rencana Induk Drainase disiapkan untuk kota besar (metropolitan) atau kota
besar yang strategis dimana pengembangan drainase benar-benar diperlukan.
Rencana ini merupakan suatu perencanaan yang dirumuskan oleh
engineer/designer/planner untuk mengatur run-off yang berasal dari air hujan
kota untuk proyek atau area drainase tertentu.

Studi Kelayakan

Studi kelayakan Sistem Drainase Perkotaan merupakan perencanaan teknis sistem


drainase pada satu atau lebih beberapa pengaliran air, untuk waktu perencanaan 5
atau 10 tahun. Lingkup dari studi kelayakan yaitu diarahkan pada daerah prioritas
yang telah ditentukan dalam Rencana Induk Drainase Perkotaan. Kajian yang
dilakukan meliputi kelayakan teknis, kelayakan ekonomi, serta kelayakan lingkungan.

Studi Kelayakan mengikuti perkembangan dari suatu Master Drainage Plan sebagai
tahap berikutnya dari perencanaan drainase kota. Studi ini meliputi suatu evaluasi
yang diolah dari rencana manajemen curah hujan terpilih yang mencakup rencana
rancang-bangun persiapan untuk memperkirakan biaya yang dibutuhkan, evaluasi
ekonomi terperinci, penilaian dampak lingkungan, dan kebutuhan untuk operasional
dan perawatan, survei dan pengaturan kelembagaan. Sebagai tambahannya, kriteria
desain dan jadwal implementasi juga dikembangkan.

Perencanaan Teknis

Perencanaan teknis dibuat untuk daerah prioritas yang telah mempunyai studi
kelayakan atau rencana kerangka (Outline Plan). Jangka waktu perencanaan untuk
2 atau 5 tahun. Rencana teknis harus memuat persyaratan teknis dan gambar
teknis, kriteria perencanaan dan langkah-langkah perencanaan konstruksi sistem
drainase di daerah perkotaan.

Kriteria Perencanaan merupakan parameter kebijakan bagi sistem drainase yang


dikembangkan, dirancang dan dibangun agar dapat memberikan perlindungan
terhadap banjir sesuai dengan yang diharapkan. Parameter-parameter ini dapat juga
meliputi yang kriteria desain yang pada umumnya dijelaskan pada Master Drainage
Plan, laporan Studi Kelayakan atau Outline Plan dan memberikan bimbingan kepada
engineer/designer untuk menyelesaikan perancangan detail komponen sistem
drainase.

Berdasarkan acuan yang telah digariskan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK), maka
dalam menyiapkan rencana kegiatan akan memberikan konsep metodologi pelaksanaan
yang optimal, ekonomis, tepat guna dan solusinya dapat diandalkan. Oleh karena itu
dalam melaksanakan pekerjaan ini, pihak Konsultan akan menyajikan konsep
metodologi pelaksanaan pekerjaan dari masing-masing kegiatan yang dimulai dari tahap
awal hingga penyelesaian akhir pekerjaan. Bagan alir pelaksanaan pekerjaan yang
merepresentasikan metoda pelaksanaan pekerjaan yang Konsultan buat seperti yang
ada pada Gambar 3.1.
Gambar 5. 2 Diagram Alir Metodologi Pekerjaan
Dengan mengacu pada Kerangka Acuan Kerja, hasil yang diharapkan dari pekerjaan ini
yaitu berupa rekomendasi sistem drainase dan penanganan masalah banjir dan
genangan secara fisik dan non-fisik (pembinaan) di kawasan kajian, termasuk
penentuan skala prioritas penanganan. Secara garis besar untuk mencapai hasil
keluaran seperti tersebut di atas dalam tahap perencanaan diperlukan aktivitas
pekerjaan yang meliputi: kegiatan lapangan, kegiatan kantor dan laboratorium. Validasi
dan keakuratan dalam penyelesaian pekerjaan adalah suatu hal yang sangat diperlukan
dan harus dicapai dengan tujuan agar hasil akhir yang diperoleh dalam hal ini berupa
pemodelan banjir sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang ada di lapangan.
Pekerjaan Survey Data Sumber Daya Air Kota Bogor dilaksanakan dengan mengikuti
bagan alir seperti yang disajikan dalam Gambar 5.2. Tahapan utama dan sub tahapan
yang harus dilaksanakan selama masa penyelesaian pekerjaan antara lain adalah:

1. Tahap Pendahuluan
1. Pekerjaan persiapan
2. Pengumpulan data sekunder dan review studi yang sudah ada

2. Tahap Pengumpulan Data dan Survei Lapangan

1. Orientasi lapangan dan survei pendahuluan


2. Penyusunan rencana detail survei
3. Survei lapangan

3. Tahap Analisa dan Pemodelan

1. Analisis Topografi
2. Analisa Hidrologi
3. Analisa Hidraulika
4. Analisis Tata Guna Lahan
5. Pemodelan banjir
6. Analisis Lingkungan

4. Tahap Rancangan Strategi dan Kebijakan


1. Penyusunan alternatif penanganan (struktural dan non struktural)
2. Pembahasan
3. Rekomendasi strategi dan kebijakan

5. Tahap Penentuan Program Prioritas


1. Penyusunan Program Penanganan
2. Penyusunan Prioritas Program
3. Pembuatan Matriks Action Plan dan indikator program (Masterplan)

Dari beberapa tahap dan sub tahap yang merupakan bagian dari metode pelaksanaan
pekerjaan yang akan dikerjakan oleh Konsultan ini akan diuraikan secara rinci kegiatan
yang ada dalam masing-masing tahap pekerjaan.

5.2 TAHAP PENDAHULUAN


Kegiatan persiapan dilaksanakan segera setelah diterbitkannya Surat Perintah
Menjalankan Pekerjaan (SPMK). Secara umum pekerjaan persiapan terdiri dari:

1. Persiapan Administrasi

Persiapan administrasi lebih banyak berkaitan dengan penyelesaian administrasi


dengan pemberi tugas, perijinan yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan, kerja
sama dengan perusahaan dan instansi lain dan sebagainya. Pekerjaan administrasi
yang dipersiapkan adalah:
1. Legalisasi pelaksanaan pekerjaan.
2. Penjajakan kerjasama dengan instansi lain yang terkait.
3. Persiapan administrasi dan finansial.
4. Persiapan peralatan dan peminjaman (bila ada).
5. Pembuatan rencana kerja harian.
6. Penjadwalan personil dan koordinasi pelaksanaan.

2. Persiapan Teknis

Persiapan teknis merupakan persiapan yang harus dilakukan sebelum kegiatan


pengumpulan data (primer dan sekunder) dilaksanakan, lebih banyak berkaitan
dengan hal mobilisasi personil, mobilisasi peralatan dan bahan, pemahaman
terhadap KAK, penyusunan metodologi dan rencana kerja. Uraian dari persiapan
teknis mencakup beberapa hal sebagai berikut:
1. Mobilisasi Personil:
Jumlah dan kualifikasi personil yang diperlukan berdasarkan pengalaman dan
pendidikan.
Kemampuan fisik personil terutama untuk personil pada pelaksanaan survey
lapangan.
Penyusunan deskripsi tugas dan tanggung jawab personil.
2. Persiapan/Mobilisasi Bahan dan Peralatan yang akan digunakan:
Persiapan peralatan yang akan digunakan.
Persiapan bahan dan data yang akan digunakan.

3. Pemahaman Terhadap KAK

Pemahaman terhadap KAK dilakukan untuk mendifinisikan kegiatan yang akan


dilakukan oleh konsultan. Pemahaman terhadap KAK ini biasanya sudah dilakukan
pada saat pembuatan usulan teknis. Dari pemahaman KAK ini Konsultan akan dapat
membuat metodologi kerja.

4. Penyusunan Metodologi dan Rencana Kerja

Review terhadap Kerangka Acuan Kerja (KAK/TOR) harus terlebih dahulu dipahami
dan dijabarkan ke dalam penyusunan parameter yang akan menjadi tolak ukur dari
setiap tahapan pelaksanaan pekerjaan. Dengan adanya penjabaran parameter yang
ada dalam KAK ini maka dengan mudah dapat disusun metodologi dan rencanan
kerja yang akan dilaksanakan oleh konsultan.

5. Pengumpulan Data Sekunder/Review Studi yang Ada

Dalam kegiatan ini akan digali variabel-variabel penentu dan permasalahan yang
ada di lokasi pekerjaan, sehingga dapat dijadikan solusi atau dasar dalam
menjalankan tugas dan tanggung Jawab konsultan dalam hal ini yaitu pekerjaan
Survey Data Sumber Daya Air Kota Bogor.

6. Pengumpulan Data Sekunder

Adapun data yang akan dikumpulkan tidak terbatas pada hal di bawah ini, antara
lain:
1. Hidroklimatologi untuk daerah yang bersangkutan.
2. Sungai/saluran yang ada di daerah yang akan di rencanakan.
3. RUTR/RUTW daerah yang bersangkutan.
4. Peruntukan lahan dari daerah yang akan dibuat Survey Data Sumber
Daya Air.
5. Sosial ekonomi dari masyarakat setempat.
6. Mekanika tanah dari tempat yang akan direncakan, biasanya dari
perencanaan sebelumnya yang sejenis maupun yang tidak sejenis.
7. Hidrogeologi dari daerah yang bersangkutan.
8. Citra satelit/foto udara dari daerah yang direncanakan (jika ada).
9. Properda
10. Peta genangan daerah bersangkutan.
11. Peta topografi yang sudah ada.
12. Peta geologi permukaan terdahulu.
13. Sistem tata air yang sudah ada.
14. Catchment area yang sudah ada.

7. Review Studi yang Ada

Dalam kegiatan ini, Konsultan akan melakukan studi literatur sekaligus mereview
terhadap studi-studi yang berhubungan maupun Pra Rancangan yang telah ada dan
membuat justifikasi bahwa studi dan Pra Rancangan tersebut masih sesuai dan dapat
dipakai sebagai dasar penyusunan Desain. Pada kegiatan review studi yang ada ini
juga dilakukan kegiatan iventarisasi atau tinjauan terhadap Bangunan Drainase baik
tinjauan terhadap struktur maupun hidraulis bangunan.

5.3 PENGUMPULAN DATA DAN SURVEY LAPANGAN

5.4.1 Pengumpulan Data Sekunder

Orientasi lapangan/survei pendahuluan ini adalah merupakan survey awal yang perlu
dilakukan sebelum dilakukan survey detail yaitu untuk mengamati dan mendata secara
umum kondisi dari masing-masing bagian dari lokasi studi, pada tahap ini Konsultan
akan mengumpulkan sebanyak mungkin data yang diperlukan untuk kegiatan Survey
Data Sumber Daya Air Kota Bogor lebih lanjut. Untuk itu Konsultan akan melakukan hal-
hal sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi daerah genangan yang ada pada lokasi studi.
2. Mengidentifikasi kerugian kerugian banjir yang dialami di daerah studi.
3. Mengidentifikasi sarana dan prasarana pengendalian banjir existing di daerah yang
bersangkutan.
7. Melakukan kegiatan penentuan leak dan titik-titik patok pengukuran di lokasi yang
akan dilakukan survei lapangan.
8. Melakukan cross ceck data yang didapat dengan kondisi yang ada dilapangan.
9. Mencari informasi dan mengidentifikasi sistem tata air yang sudah ada.
10. Mencari informasi dan mengidentifikasi kondisi peruntukan lahan di daerah studi.
11. Melakukan pengamatan kasar terhadap cathment area daerah yang bersangkutan.
12. Melengkapi data yang belum ada yang sudah didapat pada tahap pendahuluan yaitu
dengan mencari dan mengumpulan data sekunder.

5.4.2 Penyusunan Rencana Detail Survei Primer

Dari survei pendahuluan yang sudah dilaksanakan, diharapkan Konsultan sudah dapat
menyajikan metode penelitian, mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin timbul
dan penanganan masalah yang akan diterapkan. Pada tahapan ini Konsultan akan
menyusun rencana detail jadwal pelaksanaan survey lapangan. Dan Semua hasil survei
pendahuluan akan dilaporkan dan dikonsultasikan kepada Pemberi Tugas sebagai
dasar persiapan langkah selanjutnya.

5.4.3 Observasi dan Pengumpulan Data Lapangan


Survei lapangan yang akan dilakukan oleh Konsultan mengacu pada metodologi kerja
yang sudah dibuat dan didasari dengan permintaan dari Pemberi Kerja yang tercantum
dalam KAK. Adapun survei lapangan yang akan dilakukan oleh Konsultan terdiri dari
survey jaringan drainase, hidrometri, dan lingkungan.

[Link] Survei Jaringan Drainase

a. Tujuan Survei
Dalam kegiatan survei jaringan drainase mempunyai tujuan untuk mendapatkan data
dan gambaran kondisi drainase eksisting dan informasi kemiringan lahan secara garis
besar yang berupa situasi dan ketinggian serta posisi kenampakan yang ada.

b. Ruang Lingkup Survei


Kegiatan yang dilaksanakan dalam survei jaringan drainase mempunyai ruang lingkup
sebagai berikut:
1. Orientasi medan
2. Pekerjaan pengukuran dimensi saluran drainase eksisting
3. Penggambaran sketsa kemiringan lahan dan kemiringan saluran
c. Metodologi Survei

Metodologi pengukuran yang akan dilaksanakan terdiri dari beberapa kegiatan sebagai
berikut:

Orientasi Medan

Sebagai langkah awal setelah tim tiba di Base Camp lapangan adalah
melakukan orientasi medan yang meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
- Meninjau dan mengamati kondisi sungai beserta keadaan daerah sekitarnya.
- Melacak serta mengamati keadaan di dalam lokasi.
- Penghimpunan Tenaga Lokal (TL) yang diambil dari penduduk sekitar lokasi.
- Melakukan konsolidasi internal terhadap kesiapan personil, peralatan,
perlengkapan, material, serta logistik.
- Melakukan konsultasi teknis serta meninjau lokasi secara bersama-sama
dengan pemilik pekerjaan.

Pengukuran Penampang Saluran

Pengukuran penampang saluran dimaksudkan untuk mendapatkan penampang,


melintang/memanjang saluran serta ketinggian muka air disetiap penampang.
Pengukuran dilakukan dengan alat ukur water pass otomatis atau To,
pengukuran detail penampang saluran dilakukan pada jarak yang ditentukan dan
akan memuat keadaan topografi dasar, tebing dan tepi saluran serta daerah
sekitarnya. Untuk kegiatan pengukuran ini diperlukan pemahaman tentang
saluran yang mengacu pada Peraturan Pemerintah Indonesia Nomor. 35 Tahun
1991, tentang saluran yaitu Ketentuan Umum Bab I pasal 1 mengenai Sub Bab
Bantaran saluran yang dimaksud dengan bantaran adalah lahan pada kedua sisi
sepanjang palung saluran dihitung dari tepi saluran dengan kaki tanggul sebelah
dalam. Selain itu juga berdasarkan Keputusan Menteri PU No. 63/PRT/1993
tanggal 27 Februari, tentang Garis Sempadan saluran, Daerah Manfaat saluran,
Daerah Penguasaan saluran dan Bekas saluran, sebagai berikut:
- Tanggul adalah bangunan pengendali sungai yang dibangun dengan
persyaratan teknis tertentu untuk melindungi daerah sekitar sungai terhadap
limpasan air sungai.
- Garis sempadan adalah garis batas luar pengamanan sungai.
- Daerah sempadan adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai termasuk
sungai buatan.
- Daerah sempadan adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai termasuk
sungai buatan yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan
kelestarian fungsi sungai.
Berikut ini adalah gambaran mengenai garis sempadan sungai dan daerah bantaran
sungai.

a. Garis sempadan untuk sungai yang bertanggul adalah:

Untuk daerah perkotaan adalah 3m dihitung dari kaki tanggul luar.


Untuk daerah luar perkotaan adalah 5m dihitung dari kaki tanggul luar.

b. Garis sempadan untuk sungai yang tak bertanggul dengan kedalaman air
maksimum 3m adalah:

Untuk daerah perkotaan adalah 10m dihitung dari tepi sungai.


Untuk daerah luar perkotaan adalah 50m dihitung dari tepi sungai.
c. Daerah Bantaran Sungai

Perhitungan Hasil Pengukuran

Semua pekerjaan hitungan sementara harus selesai di lapangan sehingga kalau


ada kesalahan dapat segera diulang untuk dapat diperbaiki saat itu juga.

d. Personil Survei
Personil yang melaksanakan kegiatan ini adalah asisten ahli drainase, surveyor, dan
tenaga lokal. Dalam pekerjaan ini jika mengalami kesulitan maka tenaga ahli yang
berkaitan dengan pekerjaan ini yaitu ahli drainase akan turun tangan.

e. Peralatan Survei
Peralatan yang digunakan dalam survey jaringan drainase antara lain:
1. Pita ukur 50 meter.
2. Peilschaal.

f. Hasil Survei
Hasil dari pengukuran ini dari survei jaringan drainase adalah:
1. Data pengukuran dan perhitungan hasil pengukuran dimensi saluran di
lapangan.
2. Peta genangan
3. Peta jaringan drainase
[Link] Survei Hidrometri

a. Tujuan Survei
Tujuan dilakukannya survey hidrometri adalah untuk memperoleh data pengukuran dan
sampel untuk mendapatkan gambaran aktual kondisi hidrometri di lokasi studi.

b. Ruang Lingkup Survei

1. Penentuan lokasi pengukuran debit sungai.

2. Pengukuran kecepatan aliran.

3. Pengukuran penampang melintang.

4. Penelusuran sistem drainase.

5. Pengambilan contoh air sungai.

c. Metodologi Survei

Penentuan Lokasi Pengukuran Debit Sungai

Untuk meramalkan banjir yang lebih akurat, pengukuran debit sungai harus
dilakukan berkali-kali. Oleh karena itu, pilihlah lokasi yang strategis. Yang paling
ideal untuk mengukur debit adalah pada bangunan air yang ada di sungai itu,
seperti bendungan, pintu air, siphon, talang air, saluran, gorong-gorong, waduk,
dan lain-lain. Khususnya untuk bendungan besar, anda tidak usah mengukur
debit, karena ada operator bendung yang mencatat tinggi air, dan sekaligus
debitnya. Kalau anda beruntung, anda bisa memperoleh data pengukuran debit
sampai beberapa puluh tahun yang lalu. Kalau bangunan seperti itu tidak ada,
maka sebaiknya adan menghubungi Litbang air dari Departemen Kimpraswil,
yang berlokasi di Bandung. Banyak sungai ditanah air yang sudah diukur secara
rutin, dan dibukukan debitnya dengan baik.
Lokasi pengukuran debit harus bebas dari olakan air, arus yang tidak teratur (tidak
simetris), erosi pada sisi sungai, interupsi dari inlet atau out-let anak sungai, atau
adanya pengendapan didasarnya. Gambar 5.3 memberikan rambu-rambu lokasi
pengukuran debit sungai.
Gambar 5. 3 Rambu-rambu Lokasi Pengukuran Debit Sungai

Pengukuran Kecepatan Aliran

Sebelum mulai mengukur aliran sungai terlebih dahulu harus dipilih lokasi sekitar
pos duga yang memenuhi syarat sebagai berikut:
Palung sungai harus sedapat mungkin lurus dengan arah arus kecepatan sejajar
satu dengan yang lain.
Dasar sungai sedapat mungkin tidak berubah-ubah, bebas dari batu besar,
tumbuhan air dan bangunan air yang menyebabkan jalur kecepatan tidak sejajar
satu dengan yang lainnya.
Dasar penampang sungai sedapat mungkin rata supaya pada waktu menghitung
penampang basah hasilnya mendekati sebenarnya.

Tahap kegiatan pengukuran

1. Mengukur pada kedalaman garis vertikal yang akan diukur kecepatannya


kemudian menentukan titik kedalaman pengukuran (0,2; 0,8 atau 0,2; 0,6; 0,8
atau 0,6 saja).

2. Mengukur jarak dari tepi permukaan sungai ke setiap garis pengukuran


vertikal.

3. Mencatat jumlah putaran yang terjadi pada setiap titik pengukuran.

4. Menghitung kecepatan daripada setiap titik pengukuran berdasarkan jumlah


putaran yang diperoleh dan selanjutnya merata-ratakan.

5. Menghitung luas bagian penampang melintang untuk setiap jalur.

6. Menghitung besar aliran untuk setiap bagian jalur penampang melintang


dengan menggunakan rumus Q = A . V.

7. Kegiatan ini terus berulang untuk setiap jalur garis vertikal pada seluruh
penampang melintang.

8. Besar aliran untuk seluruh penampang basah adalah jumlah kumulatif


seluruh besar aliran bagian dari seluruh vertikal. Kecepatan rata-rata aliran
penampang basah diperoleh dengan membagi besar aliran seluruh
penampang dengan luas seluruh penampang melintang.

9. Mengukur Kecepatan Arus dengan Pelampung

10. Pelampung adalah pengukuran arus yang paling sederhana. Bahan yang
bisa adalah stereofoam (semacam busa putih). Disarankan untuk
membentuk seperti badan kapal, supaya memiliki karakteristik hidrolis yang
paling ideal. Yang diukur adalah kecepatan permukaan pada sepertiga lebar
sungai, mengikuti distribusi kecepatan yang berbentuk parabola datar dan
hiperbola tegak, seperti Gambar 5.4.
Gambar 5. 4 Distribusi Kecepatan Aliran Pada Suatu Tampang Sungai

Mengukur Kecepatan Arus dengan Current Meter

Tipe Price (kerucut)

Gambar 5. 5 Current Meter Jenis Kerucut


Arus air memutar, kerucut banyak putaran dicatat pada center:
V =a+bN

a, b = konstanta tgt jenis alat


N = banyak putaran persatuan waktu

V = kecepatan
Tipe Baling-baling (Propeller)

Gambar 5. 6 Current Meter Tipe Baling-baling


Arus memutar baling-baling, banyak putaran dicatat pada kounter, waktu dicatat
pada stopwacth:

V = a + b.N
N = banyak putaran persatuan waktu

a, b = konstanta tgt jenis alat

Pengukuran penampang melintang

Pengukuran melintang sungai dilakukan pada lokasi/tempat yang sama dengan


titik pengukuran kecepatan arus. Pengukuran penampang melintang akan
dicocokkan terhadap pengukuran topografi, dimana pengukuran melintang
dilakukan dengan interval 400m pada saluran dan 2000m pada sungai dengan
Menggunakan Rod (Pemberat) dan Tali
Gambar 5. 7 Pengukuran Menggunakan Pemberat dan Tali

Penelusuran sistem drainase

Penulusuran dilakukan dengan menelusuri saluran atau sungai yang ada dan
kemudian dilakukan pengukuran hidrometri. Penelusuran dihentikan pada
cabang saluran drainase sekunder.

c. Personil Survei
Personil yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan survei hidrometri yaitu
ahli drainase, ahli bangunan air, dan surveyor hidrometri.

d. Peralatan Survei

Dalam melaksanakan kegiatan ini dibutuhkan alat bantu survei sebagai berikut:
1. Peilschaal.
2. Currentmeter.
3. Alat pelampung.
4. Kompas.
5. Theodolite T0 (bila dibutuhkan).

e. Hasil Survei
Dari pekerjaan survei hidrometri akan didapatkan hasil seperti yang disebutkan di bawah
ini:
Data kecepatan aliran
Data penampang sungai

[Link] Survei Identifikasi Situ

a. Tujuan Survei
Tujuan dilakukannya survey identifikasi situ adalah untuk memperoleh data mengenai
kondisi situ yang ada di Kota Bogor.

b. Ruang Lingkup Survei

1. Penentuan lokasi situ


2. Penelusuran sistem drainase.

c. Metodologi Survei

Penentuan Lokasi Situ

Lokasi situ-situ yang ada di Kota Bogor diidentifikasi dengan melakukan


kunjungan langsung ke lapangan.

Penelusuran sistem drainase

Penulusuran dilakukan dengan menelusuri situ dan saluran-saluran yang terkait


dengan situ tersebut. Penelusuran dihentikan pada cabang saluran drainase
sekunder.

c. Personil Survei
Personil yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan survei situ yaitu ahli
drainase.

d. Peralatan Survei

Dalam melaksanakan kegiatan ini dibutuhkan alat bantu survei sebagai berikut:
1. Camera digital
2. Alat ukur sederhana seperti meteran

e. Hasil Survei

Dari pekerjaan survei situi akan didapatkan hasil seperti yang disebutkan di bawah ini:
Data posisi situ
Data penampang dan kondisi situ

5.5 TAHAP ANALISA

5.5.1 ANALISA DATA TOPOGRAFI


Pengolahan dan perhitungan data lapangan hasil pengukuran topografi mempunyai
tujuan untuk memberikan gambaran permukaan tanah berupa situasi dan ketinggian
serta posisi kenampakan yang ada disekitar lokasi. Pengolahan data topografi yang
dilakukan adalah dengan cara mengoverlay data citra satelit dengan data dari peta
Bakorsurtanal sehingga tercipta suatu system informasi geografis sederhana.
Sistem Informasi Geografis disingkat SIG, adalah sistem berbasis komputer yang
digunakan untuk menyimpan, memanipulasi, dan menganalisa informasi geografis.
Teknologi ini berkembang pesat sejalan dengan perkembangan teknologi informasi atau
teknologi komputer.
Sistem informasi geografis pertama dikembangkan pada tahun 1960-an, yaitu pada
pertengahan tahun 1960, Canada Geographic Information System (CGIS) yang
disponsori oleh Pemerintah Canada, bersamaan dengan Land Use and Natural
Resources Inventory (LUNR) dari New York serta Pemerintah Negara Bagian New York
yang mengembangkan sistem informasi geografis berbasis komputer. Kedua sistem
tersebut banyak menggunakan foto udara dan peta lainnya, yang digunakan sebagai
penyedia informasi mengenai pertanian, kehutanan, satwa liar, tanah dan geologi.
1. Data Spasial
a. Sumber Data Spasial
Pada umumnya, peta digital merupakan komputerisasi dari peta analog
melalui cara tertentu seperti digitasi atau scan. Tanpa sumber peta analog,
artinya peta digital langsung dibangun dari data koordinat, proses yang perlu
dilakukan akan menjadi sangat lama, terutama bila diinginkan tingkat akurasi
yang tinggi. Peta analog, sebagai sumber peta digital, dapat berupa peta
hasil foto satelit, foto udara, maupun peta lainnya sesuai dengan
ketersediaan peta serta tingkat akurasi yang diinginkan.
Sumber peta analog untuk peta digital SIG Jalan adalah Peta Rupa Bumi,
yaitu peta hasil pencitraan satelit, yang dikeluarkan oleh Bakosurtanal, tahun
pembuatan 2004 dan berskala 1 : 25.000. Sistem koordinat peta analog
sumber tersebut adalah Koordinat Lintang-Bujur.
Informasi yang terdapat dalam peta sumber tersebut adalah:
Ruas-ruas Jalan Nasional
Ruas-ruas Jalan Propinsi
Ruas-ruas Jalan Kota/Kabupaten
Batas Kabupaten/Daerah Administrasi
Batas Kecamatan
Batas Kelurahan
Jalan Kereta Api
Sungai
Batas Pantai
b. Sumber Data Atribut
Sumber data atribut SIG saluran eksisting adalah menggunakan data-data
jaringan di lingkungan dinas SDA. Sesuai dengan data spasial yang telah
dikembangkan, yaitu menyangkut sistem drainase digunakan data-data hasil
survey primer dan data sekunder dari PU Pengairan.
c. Proses Pembangunan SIG Sungai
Data Spasial Peta Analog
Scaning Peta
(Peta Rupa Bumi)

Penggabungan Peta yang


Bersebelahan dalam Satu Kabupaten
(Edge Matching) dan Pendataan

Tracing Peta dan Pembentukan Layer


(Coverage)
Data Atribut
Survey Primer dan Sekunder Penggabungan dengan Data Atribut

Editing

Lay Out

Gambar 5. 8 Proses Pengolahan dan Analisa Data Topografi

Secara umum, proses pengolahan data topografi tersebut dapat


dikelompokkan ke dalam penyiapan peta digital, penyiapan data atribut serta
finishing.
i. Penyiapan Peta Digital
Scaning Peta.
Tahap paling awal dari proses penyiapan peta digital adalah
berupa scanning peta analog, sehingga diperoleh file
gambar/picture file/raster image, dalam format Tag Image
Format ( .tif), atau Grafik Interchange Format (*.gif), atau
Windows Bitmaps (*.bmp), atau format file gambar lainnya.
Penggabungan dan Pendataan
File dalam format gambar tersebut kemudian dibuka dalam
ArcView dan dilakukan penggabungan peta-peta yang
bersebelahan (dalam satu kabupaten), karena kebanyakan, peta
analog yang berskala 1:25.000 berjumlah 2 atau lebih untuk
satu kabupaten. Juga ditetapkan koordinatnya serta didata
(register) agar tidak terjadi pengulangan proses tersebut.
Tracing dan Pembentukan Layer
Dalam platform ArcView tersebut, kemudian dilakukan tracing,
yaitu penggambaran ulang peta di ArcView dengan mengikuti
titik serta garis peta raster. Sebelumnya ditentukan layer-layer
(coverages), sehingga tracing dilakukan menurut layer-layer
tersebut.

ii. Penyiapan Atribut


Data spasial/layer yang memiliki data attribut dalam bidang drainase.
Untuk data atribut drainase, terdiri dari 2 item sebagai berikut :
Nama saluran drainase
Panjang saluran
iii. Proses Finishing
Dalam proses ini, data spasial (peta digital) digabungkan dengan data
atribut-nya. Kemudian dilakukan editing, yaitu penyempurnaan data
spasial, misalnya perbaikan gambar ruas-ruas jalan yang masih
terputus. Dan akhirnya data spasial per kecamatan atau wilayah yang
telah disempurnakan dan memiliki data atribut di-lay out, serta
digabungkan antara kecamatan-kecamatan atau wilayah dalam satu
kota.
Dalam proses penggabungan data spasial dan data atribut, dilakukan
penggabungan tabel yang telah ada dari data spasial.

5.4.2 ANALISA HIDROLOGI DAN HIDROMETRI

a. Tujuan Analisa
Tujuan dari analisa hidrometri dan hidrologi yaitu untuk mendapatkan curah hujan
rencanan yang nantinya digunakan sebagai dasar perhitungan parameter aliran.
Sedangkan dalam hidrometri lebih terfokus parameter aliran di sungai yang berupa
besarnya debit sungai dan kondisi morfologi sungai.
b . Ruang Lingkup Analisa
Ruang lingkup kegiata analisa hidrometri yaitu perhitungan besarnya perhitungan debit
sungai, sedangkan dalam analisa hidrologi mempunyai ruang lingkup sebagai berikut:
1. Curah hujan regional.
2. Analisa curah hujan rencana.
3. Uji kecocokan.
4. Intensitas curah hujan rencana.
5. Debit perencanaan.
c. Metodologi Analisa Hidrometri
Dalam analisa data hidrometri, perhitungan debit sungai dapat dilakukan dengan
berbagai cara.

1. Perhitungan Debit Dengan Area Velocity Method


Perhitungan debit dengan area velocity method, terdiri dari dua macam yaitu
1. Mid sectio method
2. Dan mean sectio method
2. Mid Section Method
Dengan menggunakan mid section method, rumus perhitungan yang dipergunakan
yaitu:
Q = A.V
Dimana:
A = penampang melintang
V = kecepatan
Besarnya debit dihitung dengan cara Mid Section Method.
Q total = D1.a1.V1 + D2.a2.V2 + D3.a3.V3 + D4.a4.V4 + D5.a5.V5 + D6.a6.V6
Gambar 5. 9 Pembagian Penampang dengan Menggunakan Mid Section Method (dengan
cara 1)

Gambar 5. 10 Pembagian Penampang dengan Menggunakan Mid Section Method (dengan


cara 2).
1,2,3 : titik pengukuran
b1,b2,b3 : jarak titik pengukuran terhadap titik patok (acuan)
1, 2, 3 : kedalaman air pada titik pengukuran kecepatan
a1,a2,a3 : lebar irisan sungai

Luas penampang basah sub irisan (3) = (d3)


Debit melalui sub irisan (3) = (d3)

Debit melalui sub irisan (x) = (dx)

3. Mean Section Method


Dalam perhitugan debit sungai dengan menggunakan mean sectio method dapat
dijelaskan seperti di bawah ini.

Gambar 5. 11 Pembagian Penampang dengan Menggunakan Mean Section Method

Luas penampang untuk sub irisan (3-4) = (a3)

Debit melalui sub irisan (3) = (a3)

Debit melalui sub irisan (x) = (ax)

4. Perhitungan Debit dengan Area Slope Method


Perhitungan debit dengan area slope method, dipergunakan rumus perhitungan
sebagai berikut:
Q = A.V = A. 1/n R2/3 S1/2
Dimana:
A = luas penampang
n = koefisien kekasaran saluran (sungai)
R = jari-jari hidraulis
S = kemiringan dengan sungai antara 2 penampang
Gambar 5. 12 Perhitungan dengan Menggunakan Area Slope Method

S =

H = H1 - H2 (beda elevasi titik A1 dan A2) (hulu - hilir)


L = panjang sungai antara 2 penampang yang diukur

R =

Dari semua debit yang didapat dengan menggunakan metode perhitungan yang sudah
dipilih kemudian akan dibuat lengkung debit dengan cara mengeplot ke dalam grafik
antara elevasi/tinggi muka air (ordinat) dengan debit pada elevasi/tinggi muka air yang
bersangkutan (absis).

d. Metodologi Analisa Hidrologi


Dalam rangka untuk mendapatkan parameter-paremeter desain, dalam hal ini yang ada
kaitannya dengan hidrologi maka perlu dilakukan analisa hidrologi. Adapun dalam
kegiatan analisa hidrologi ini mengikuti bagan alir, seperti yang ada pada Gambar 5.13.
Mulai

Data
Curah Hujan Harian
Maksimum

Analisa Frekuensi Curah Hujan

Metode
Metode Normal
Gumbell

Metode Log Normal


Metode Pearson III
2 Parameter

Metode Log Normal


Metode Log Person III
3 Parameter

Curah Hujan RencanaN Periode

Uji Kecocokan
(Smirnov-Kolmogorov)

Pemilihan Hujan Rencana

Perhitungan Intensitas Hujan &


Kurva IDF

Intensitas Hujan N Periode

Pemilihan Intensitas Rencana

Hasil
Curah Hujan Rencana
Intensitas Hujan
Rencana

Selesai

Gambar 5. 13 Bagan Alir Analisa Hidrologi

d.1. Curah Hujan Regional


Pengisian Data Kosong
Data yang diperoleh dari stasiun curah hujan tidak semua tercatat atau dengan kata
lain ada data yang kosong. Dalam perhitungan intensitas curah hujan dari masing-
masing stasiun harus lengkap, oleh karena itu untuk melengkapi data curah hujan
yang kosong ini dilakukan perhitungan sebagai berikut:
1. Rata-rata Aritmatik
Jika ada suatu stasiun hujan terdapat data curah hujan yang hilang dan
bila perbedaan antara hujan tahunan normal pada stasiun yang hilang
datanya tersebut < 10%, maka perkiraan data curah hujan yang hilang
tersebut dicari dengan mengambil harga rata-rata aritmatik dari stasiun-
stasiun yang mengelilinginya.
R1 R2 ........ Rn
RX
n
Dimana:
RX = Curah hujan yang hilang
R1, R2, ......Rn =curah hujan pada stasiun 1, 2,.......,n (datanya lengkap)
n = jumlah stasiun yang datanya lengkap untuk tahun yang sama

2. Normal Ratio Method


Bila perbedaan antara hujan tahunan normal pada stasiun yang hilang
datanya tersebut > 10%, maka perkiraan data curah hujan yang hilang
tersebut dihitung dengan metoda perbandingan normal:

1 NX N N
RX R2 X R2 ..... X Rn
n N1 N2 Nn
Dimana:
RX = curah hujan yang hilang
R1, R2, .Rn =curah hujan pada stasiun 1, 2,...,n untuk tahun yang sama
(datanya lengkap)
NX = curah hujan tahunan rata-rata pada stasiun yang hilang datanya.
N1, N2, ......Nn = curah hujan rata-rata pada stasiun 1, 2,.......,n (datanya
lengkap)
n = jumlah stasiun yang datanya lengkap untuk tahun yang sama

3. Reciprocal Method
Cara perhitungan yang dianggap lebih baik, adalah cara reciprocal
method, yang memanfaatkan jarak antar stasiun sebagai faktor koreksi.
Hal ini dapat dimengerti karena korelasi antara dua stasiun hujan menjadi
makin kecil dengan besarnya jarak antar stasiun tersebut. Metode ini
dapat digunakan jika dalam DPS terdapat lebih dari dua stasiun pencatat
hujan. Umumnya, dianjurkan untuk menggunakan paling tidak tiga
stasiun acuan.
R1 R2 R
2 2 ...... 2n
d d d Xn
RX 2X 1 X22
1/ d X 1 1/ d X 2 ........ 1/ d Xn2
Dimana:
RX = curah hujan yang hilang
R1, R2, .Rn = curah hujan pada stasiun 1, 2,...,n untuk tahun yang
sama (datanya lengkap)
n = jumlah stasiun yang datanya lengkap untuk tahun yang
sama.
dX1, dX2, ..., dXn = jarak stasiun dengan stasiun yang datanya tidak ada.

d.2 Analisa Curah Hujan Wilayah


Analisa curah hujan wilayah adalah untuk menentukan curah hujan harian
maksimum rata-rata suatu daerah dari beberapa stasiun pengamat curah hujan yang
ada di daerah bersangkutan. Ada tiga macam cara yang berbeda dalam menentukan
tinggi curah hujan rata-rata pada areal tertentu dari angka-angka curah hujan
dibeberapa titik pos penakar atau pencatat curah hujan.
1. Cara Tinggi Rata-rata
Tinggi rata-rata curah hujan didapatkan dengan mengambil nilai rata-rata
hitung (arithmetic mean) pengukuran hujan di pos penakar hujan di dalam
areal tersebut:
R1 R2 R3 ........ Rn
R
n
Dimana:
R = tinggi curah hujan rata-rata.
R1, R2, R3 ...Rm = tinggi curah hujan pada pos penakar.
N = jumlah pos penakar hujan.
Cara ini akan memberikan hasil yang dapat dipercaya jika pos-pos
penakarnya ditempatkan secara merata di area tersebut, dan hasil
penakaran masing-masing pos penakar tidak menyimpang jauh dari nilai
rata-rata seluruh pos di seluruh areal.
2. Cara poligon thiessen
Cara ini berdasarkan rata-rata timbang (weighted average). Masing-
masing penakar mempunyai daerah pengaruh yang dibentuk dengan
menggambarkan garis-garis sumbu tegak lurus terhadap garis
penghubung diantara dua pos penakar yang berdekatan.
2

A2

1 3
A4
4
A1
A3

A5
A7
A6
7
5
6
Gambar 5.14 Poligon Thiesen
R1 A1 R2 A2 ....... R7 A2
R
A1 A2 .......... A7
Dimana:
R = tinggi curah hujan rata-rata.
R1, R2,........R7 = tinggi curah hujan pada pos penakar.
A1 = luas daerah pengaruh pos penakar 1.
A2 = luas daerah pengaruh pos penakar 2.
A7 = luas daerah pengaruh pos penakar 7.

3. Cara isohyet
Dengan cara ini, kita harus menggambarkan dulu kontur tinggi hujan
yang sama (isohyet), seperti gambar di bawah:
R6
R4 R5
R7
R3
R2

R1

A
A
5
A A A A 5

1 2 3 4

Gambar 5. 14 Penggambaran Isohyet


Kemudian luas bagian diantara isoyet-isohyet yang berdekatan diukur, dan nilai
rata-ratanya dihitung sebagai nilai rata-rata timbang nilai kontur, sebagai berikut:

R1 R2 R R3 R R7
A1 2 A2 ...... 6 A6
2 2
R
A1 A2 ........... A6
Dimana:
R = tinggi curah hujan rata-rata.
R1, R2,........R7 = tinggi curah hujan pada isohyet.
A1, A2, ........, A6 = luas daerah yang dibatasi oleh isohyet-isohyet berdekatan.

d.3 Analisa Curah Hujan Rencana


Besaran yang digunakan sebagai beban rencana adalah hujan harian maksimum
tahunan, yaitu curah hujan terbesar dalam setahun yang turun dalam kurun waktu 24
jam. Dalam ilmu probabilitas diperkenalkan konsep probabilitas terlampaui yaitu
probabilitas kejadian sama atau melampaui suatu nilai yang ditetapkan serta analisis
return period.
- Probabilitas Terlampaui
Tool pertama yang diperkenalkan disini adalah Formulasi Weibull untuk probabilitas
terlampaui yang dirumuskan sebagai berikut:
m
p
N 1
Dimana:
p = probabilitas terlampaui.
m = posisi dalam rangking yang dibuat dari besar ke kecil.
N = jumlah titik data.
Penggunaan Formulasi Weibull terbatas pada interval data yang diketahui,
sedangkan hujan merupakan kejadian acak yang mungkin sekali terjadi diluar
interval yang diketahui tersebut. Untuk itu, dalam hal ini diperkenalkan konsep
periode ulang yaitu jangka waktu hipotetik dimana secara statistik berdasarkan data
dimasa lalu, suatu besaran angka tertentu akan disamai atau dilampaui sekali dalam
jangka waktu tersebut.
Secara impiris hubungan probabilitas terlampaui dan periode ulang dapat dinyatakan
sebagai berikut:
1
p Pr( X X T )
Tr
Dimana:
P = probabilitas terlampaui.
X = besaran yang ditinjau.
XT = harga X dengan periode ulang Tr.
Pr(X XT) = probabilitas harga XT dilampaui.
Tr = periode ulang.
Dalam bentuk lain dinyatakan seperti dibawah ini:
Jika Pr( X X T ) 1 Pr( X X T )
Pr( X X T ) 1 F ( X T )
Tr 1
Maka F ( XT )
Tr
Dimana: F(XT) = probabilitas kumulatif

- Analisis Harga Ekstrim dengan Periode Ulang


Berikut ini akan diuraikan metoda analisa harga ekstrim dengan menggunakan
fungsi distribusi, antara lain:
Distribusi Normal
Distribusi Gumbel
Pearson
Log Pearson type III
Distribusi Log Normal dgn 2 parameter
Distribusi Log Normal dengan 3 parameter

1. Distribusi Normal
Fungsi distribusi komulatif (CDF) dari distribusi normal dirumuskan:

1 1 x 2
F ( x) f ( x)dx 2 exp dx
2
Dimana:
rata rata
deviasi s tan dar

Z 1 F ( x )
^
X .Z
Dalam distribusi ini harus mengubah parameter = 0 dan = 1
2. Distribusi Gumbel
Fungsi distribusi komulatif (CDF) dari ditribusi Gumbel dirumuskan:
F ( x) exp exp( y )
Dimana:
x
y

6
S

x 0.5772
Untuk x = xT maka
1
yT Ln Ln
F ( xT

Tr
yT Ln Ln
Tr 1
Menurut Gumbel persamaan peramalan dinyatakan sebagai berikut:
xT x K T S

6 Tr
KT 0.5772 Ln Ln
Tr 1

Dimana:
yN = reduced mean
SN = reduced standar deviasi

3. Pearson Type III


Parameter yang ada dalam perhitungan stastitik Pearson:
nilai rata-rata (mean)
Standar deviasi
koefisien
Garis besar dalam menghitungnya:
X1, X2, X3,.......Xn
X
Hitung nilai mean: X
N

X X 2

Hitung standar deviasi: S =


N 1

Hitung koefisien kemencengan: C S



log X log X 3

N 1 * N 2 * S 3
Hitung curah hujan: X T X S * K T
4. Distribusi Log Pearson type III
Fungsi distribusi kumulatif (CDF) dari distribusi Log Pearson dirumuskan:
c cx/ 2
x
f (x ) po 1 e
a
dx

Dimana: 2 adalah varian dan (x) adalah fungsi gamma


Parameter-parameter statistik yang diperlukan oleh distribusi log Pearson
Tipe III adalah:
Nilai rata-rata (mean)
Standar deviasi
Koefisien
Garis besar dalam menghitungnya:
Ubah data hujan X1 , X2, X3,.......Xn menjadi LogX1, LogX2,
LogX3,.......LogXn.
log X
Hitung nilai mean: log X
N
Hitung standar deviasi: Slog =
LogX Log X 2

N 1

Hitung koefisien kemencengan: C S



LogXi LogXi 3

N 1 * N 2 * S log
3

Hitung logaritma hujan: log X T log X S log * K T


5. Log Normal dengan 2 parameter
Fungsi distribusi komulatif (CDF) dari distribusi Log Normal dirumuskan:

1 1 x
2

F ( x) f ( x)dx
2
exp
2 n
n


dx

Dimana:
n rata rata untuk y Lnx

n deviasi s tan dar untuk y Lnx

Dalam perhitungannya sama sedangan distribusi Log Pearson Type III,


tetapi dengan mengambil harga koefisien asimetri Cs = 0.
6. Log Normal dengan 3 parameter
Fungsi distribusi komulatif (CDF) dari distribusi Log Normal dirumuskan:

1 1 x
2

F ( x) f ( x)dx
2
exp
2 n
n


dx

Dimana:
n rata rata untuk y Lnx

n deviasi s tan dar untuk y Lnx

Dalam perhitungannya sama sedangan distribusi Log Pearson Type III,


tetapi dengan mengambil harga koefisien asimetri Cs = 1.

d.5 Uji Kecocokan


Dalam menghitung curah hujan maksimum digunakan beberapa distribusi, dari
beberapa distribusi ini hanya satu yang akan dipakai. Untuk menentukan distribusi
mana yang akan dipakai dilakukan uji kecocokan dengan maksud untuk memberikan
informasi apakah suatu distribusi data sama atau mendekati dengan hasil
pengamatan dan kelayakan suatu fungsi distribusi. Ada empat metoda yang
digunakan untuk pengujian tersebut:
Rata-rata prosentase error, digunakan untuk menguji fungsi kerapatan
probabilitas dan fungsi kerapatan kumulatif.
Deviasi, digunakan untuk menguji fungsi kerapatan probabilitas dan fungsi
kerapatan komulatif.
Chi-Kuadrat, digunakan untuk menguji fungsi kerapatan probabilitas.
Kolmogorof-Smirnov, digunakan untuk menguji fungsi kerapatan kumulatif.

- Rata-rata Prosentase Error


Pengujian dengan rata-rata prosenase error digunakan untuk menentukan nilai
prosentase kesalahan antara nilai analitis dengan data lapangan, dinyatakan dalam:

Rata-rata error =
Xi X
*10 %i
N
Dimana:
^
X i = nilai analitis
Xi = nilai aktual
i = nomor urut data (1,2,3, ......N)
N = jumlah data
Jika nilai rata-rata prosentase error mendekati 100% atau lebih, maka suatu fungsi
distribusi memiliki nilai kepercayaan error besar, dengan kata lain fungsi distribusi
tidak cocok dengan data lapangan, dan sebaliknya.

- Deviasi
Nilai deviasi sebanding dengan nilai simpangan data analisa terhadap data
lapangan. Semakin kecil nilai deviasi maka sebaran nilai fungsi akan mendekati,
dengan data pengamatan dan sebaliknya jika nilai deviasi besar maka sebaran
fungsi tersebut akan menjahui data. Nilai deviasi dinyatakan dengan:
N^ 2

i1XiX1

N 1
Fungsi distribusi dikatakan cocok dengan data lapangan jika memiliki nilai deviasi
kecil jika dibandingkan terhadap fungsi yang lain maka yang dipilih adalah yang
tekecil.

- Chi-Kuadrat
Pengujian Chi-kuadrat yaitu dengan membandingkan frekuensi-frekuensi
pengamatan n1, n2, n3, .....nk sejumlah nilai-nilai variat (atau dalam k selang) terhadap
frekuensi-frekuensi pengamatan e1, e2, e3, .....ek yang bersangkutan dari suatu fungsi
distribusi. Dasar untuk memeriksa kebenaran perbandingan ini digunakan distribusi
dari besaran:
k
ni ei
i 1 ei
C1f

Dimana C1-f adalah nilai distribusi komulatif (1- ) dari Xf2 distribusi teoritis yang
diasumsikan merupakan model yang dapat diterima pada taraf nyata . Biasanya
nilai yang digunakan adalah 5%. Jumlah drajat kebebasan untuk fungsi distribusi
dengan jumlah c buah parameter dilakukan dengan (k c - 1) drajat kebebasan.
Untuk memberikan hasil yang memuaskan digunakan k5 dan ei5.

- Kolmogorof-Smirnov
Prinsip dari metoda ini yaitu membandingkan probabilitas kumulatif lapangan dengan
distribusi komulatif fungsi yang ditinjau. Data yang ditinjau berukuran N, diatur
dengan urutan semakin meningkat. Dari data yang diatur ini akan membentuk suatu
fungsi frekuensi kumulatif tangga sebagai berikut:
0 x x1

k
G ( x) xk x xk 1
N
1 x xN

Dimana:
xi = nilai data ke i
k = nomor urut data (1,2,3,4,.......,N)
G ( x) = CDF data aktual
G(x) = CDF data teoritis
Selisih maksimum antara G ( x ) dan G(x) untuk seluruh rentang x merupakan ukuran
penyimpangan dari model teoritis terhadap data aktual. Selisih maksimum
dinyatakan dalam:
DN G ( x) G ( x )

Secara teoritis, DN merupakan suatu variabel acak yang ditribusinya tergantung pada
N. Untuk taraf nyata yang tertentu, pengujian K-S membandingkan selisih


maksimum pengamatan dengan nilai kritis
D N
, yang didefinisikan dengan:


P( D N D N ) 1

Jika DN yang diamati kurang dari nilai kritis
D N
, maka distribusi dapat diterima

pada taraf yang ditentukan, jika tidak maka distribusi akan ditolak.

d.5 Waktu Konsentrasi (tc)


Waktu konsentrasi merupakan waktu yang diperlukan untuk air hujan dari daerah
terjauh dalam cathment area untuk mengalir menuju suatu titik atau profil melintang
saluran yang ditinjau. Dalam drainase, pada umumnya waktu konsentrasi (t c) terdiri
dari penjumlahan dua komponen, yaitu:
1. Waktu yang diperlukan untuk titik air yang terjauh dalam cathment area
mengalir pada per mukaan tanah ke alur saluran permulaan yang
terdekat (tof).
2. Waktu yang dibutuhkan untuk air mengalir dari alur saluran permulaan
menuju ke suatu profil melintang saluran tertentu yang ditinjau (tdf).
tc t0 f t df
Ld
tdf
vd
Dimana:
Ld = panjang saluran dari awal sampai akhir titik yang ditinjau (m)
Vd = kecepatan rerata sepanjang saluran yang ditinjau.
Untuk menghitung tof (overland flow time) dapat dilakukan beberapa pendekatan
empiris, antara lain:
1. Jepang
1/ 6
2 n.d
tof 3,28 Lo ( menit )
3 so

Dimana:
Lo = panjang pengaliran (m)
n.d = koefisien hambat.
Beton (aspal) : n.d = 0,013
Rerumputan : n.d = 0,200
So = kemiringan permukaan (%)
2. Kerby
0 , 467
r.L1,5
tof 3,03 ( jam)
H
Rumus ini berlaku untuk
L < 4 km
r = koefisien permukaan
r = 0,02 (permukaan halus)
r = (0,3-0,4) untuk rerumputan
L = Panjang permukaan (km)
H = beda tinggi permukaan (m)
3. Izzard

tof
0,024 i 0 , 33
878k
20,67 L0, 67 ( jam)
CH 0 , 67 0 , 67

Berlaku untuk:
i.L 3,8
i = intensitas hujan (mm/jam)
k = koefisien permukaan terdiri dari
K = 0,07 (aspal halus)
K = 0,012 (beton)
L = panjang permukaan (km)
C = koefisien limpasan
H = beda tinggi permukaan (m)
4. Brasby-William
0,96 L1, 2
tof ( jam )
H 0,33 A0,1
Dimana:
L = panjang permukaan
H = beda tinggi permukaan (m)
A = luas daerah tadah (km2)
5. Aviation agency
3,64(1,1 C ) L0,83
tof ( jam)
H 0,33
Dimana:
C = koefisien limpasan
L = panjang permukaan (km)
H = beda tinggi permukaan (km)

3,64(1,1 C ) L0,5
Rumus lain tof 1
(menit )
S 3

Dimana :
C = koefisien limpasan
L = panjang permukaan (km)
S = kemiringan lahan (%)

0,784(1,1 C ) L0,5
Atau tof 1
(menit )
S 3

Dimana:
C = koefisien limpasan
L = panjang permukaan (km)
S = kemiringan lahan (m/m)
d.6 Intensitas Curah Hujan Rencana
- Lengkung Intensitas Hujan (IDC = Intensity Duration Curve)
Intensitas curah hujan rencana merupakan besarnya curah hujan yang terjadi pada
kurun waktu dimana air tersebut berkonsentrasi. Lengkung intensitas curah hujan
adalah kurva yang menggambarkan hubungan antara lamanya pengaliran dan
intensitas curah hujan. Dalam membuat IDC memperlukan data lengkap dari stasiun
pengamat. Apabila data tidak lengkap atau tidak ada maka dapat digunakan data
pembanding suatu daerah dengan anggapan sifat dan ciri curah hujan di daerah
tersebut kurang lebih sama dengan daerah yang ditinjau untuk kasus yang dihadapi.
Intensitas hujan di Indonesia, dapat mengacu pada pola grafik IDC dari:
1. V. Breen
Yang dapat didekati dengan persamaan:
54 RT 0,707 RT2
IT
tc 0,31RT
Dimana:
IT = intensitas hujan pada PUH T dan pada waktu konsentrasi tc
(mm/jam)
RT = tinggi hujan pada PUH T (mm/hari)
2. DR. Mononobe (Jepang)
2/3
R 24
IT T ( mm / jam)
42 t
L
t ( jam)
v
0, 6
H
t 72 (km / jam)
L
Dimana:
IT = intensitas hujan (mm/jam)
RT = hujan harian dengan PUH (tahun ) dalam (mm)
T = waktu tempuh aliran disaluran dalam (jam)
V = kecepatan aliran
H = beda tingi hulu-hilir (km)
Beberapa macam persamaan lengkung intensitas hujan, antara lain:
3. Formula Talbot
Formula Talbot dirumuskan sebagai berikut :
a
I
t b
Dimana:
I = intensitas hujan (mm/jam)
T = waktu konsentrasi
a, b = konstanta

a
I .t . I I .t I
2 2

N I I
2 2

b
I .t . I N I .t 2

N I I
2 2

N = jumlah data.
4. Formula Sherman
Formula sherman adalah:
a
I
tn
Dimana:
I = intensitas hujan (mm/jam)
T = waktu konsentrasi
a,n = konstanta

log(I ) . log(t ) log(t ).log(I ) log(t )


2

log(a )
N log(t ) log(t )
2 2

n
log( I ) . log(t ) N log(t ).log(I )
N log(t ) log(t )
2 2

N = banyaknya data
5. Formula Ishiguro
Formula Ishiguro dapat dirumuskan sebagai berikut :
a
I
t b
Dimana:
I = intensitas hujan (mm/jam)
t = waktu konsentrasi
a, b = konstanta
a
I . t . I I . t I
2 2

N I I
2 2

b
I . t I N I 2
. t
N I I
2 2

N = jumlah data.

d.7 Debit Perencanaan (Run Off)


Dalam kegiatan desain bangunan air perlu dilakukan terlebih dahulu perhitungan
berbagi debit desain dengan kriteria-kriteria desain. Untuk menentukan debit desain
tersebut perlu dihitung atau diketahui debit saluran di tempat lokasi studi dengan
berbagai frekuensi kejadiannya. Debit desain yang diambil ini harus ada kaitannya
dengan keamanan dan resiko terhadap masalah/hambatan/dampak yang akan
timbul. Debit desain ini diantaranya meliputi:
Debit desain kriteria bahaya/resiko pelimpahan dan tekanan aliran harus diambil
debit besar.
Debit desain kriteria bahaya/resiko penggerusan setempat.
Debit desain kriteria bahaya/resiko agradasi, degradasi.
Debit desain kriteria bahaya/resiko muatan sedimen.
Debit desain kriteria bahaya/resiko daerah genangan berhubungan dengan
pembebasan tanah, dan sebagainya.
Penentuan debit banjir rencana, dilakukan menurut ketentuan Tata Cara Perhitungan
Debit Banjir Rencana, SNI. Penentuan debit banjir dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara,
yaitu Metode Rasional, Metode Unit Hidrograf (Hidrograf Sintetik), dan MetodeSCS.
1) Metode RASIONAL
a. Daerah Pengaliran
Luas daerah tangkapan hujan pada perencanaan saluran adalah daerah
pengaliran yang menerima curah hujan selama waktu tertentu (intensitas hujan)
sehingga menimbulkan debit limpasan yang harus ditampung oleh saluran untuk
dialirkan ke sungai. Penampang melintang daerah pengaliran (A) seperti pada
Error: Reference source not found, dengan panjang yang ditinjau adalah
sepanjang saluran (L).
A = Lt x L
A = L (L1 + L2 + L3)
b. Waktu Konsentrasi
Waktu konsentrasi (tC) adalah waktu yang diperlukan untuk air hujan dari daerah
yang terjauh dalam daerah pengaliran untuk mengalir menuju ke suatu titik atau
profil melintang saluran tertentu yang ditinjau. Besarnya waktu konsentrasi
didefinisikan sebagai:
t C t1 t 2

di mana:
tC = waktu konsentrasi (menit)
t1 = inlet time (menit)
t2 = waktu pengaliran (menit)

c. Inlet Time (t1)


Inlet time atau waktu pencapaian awal adalah waktu yang diperlukan untuk titik
air terjauh dalam daerah pengaliran mengalir pada permukaan tanah menuju ke
saluran permukaan yang terdekat. Inlet time dipengaruhi oleh banyak faktor
seperti kondisi dan kelandaian permukaan, luas dan bentuk daerah tangkapan.
Rumus inlet time:
0.167
2 n
t 1 x 3.28 xL t x d
3 k

di mana:
t1 = inlet time (menit)
Lt = panjang dari titik terjauh sampai saluran (m)
k = kelandaian permukaan
nd = koefisien hambatan (pengaruh kondisi permukaan yang dilalui aliran)
L1 dan L2 ditentukan dari klasifikasi jalan, sedangkan L2 tergantung dari terrain di
lapangan karena daerah pengaliran dibatasi oleh titik-titik tertinggi pada bagian
kiri dan kanan jalan berupa alur dan saluran yang memotong jalan.
1) Jika L3 > (L1 + L2), maka Lt = L3
2) Jika L3 < (L1 + L2), maka Lt = (L1 + L2)
Besarnya koefiesien hambatan untuk beberapa kondisi lahan sebagai
berikut:
Kondisi Permukaan yang Dilalui
nd
Aliran
1. Lapisan semen dan aspal beton 0,013
2. Permukaan halus dan kedap air 0,02
3. Permukaan halus dan padat 0,10
4. Lapangan dengan rumput jarang,
ladang, tanah lapang kosong 0,20
dengan permukaan cukup kasar
5. Ladang dan lapangan rumput 0,40
6. Hutan 0,60
7. Hutan dan rmba 0,80
Keterangan :
1) Kelandaian :
Untuk L1, k1 = 2 3%
Untuk L2, k2 = 3 5%
Untuk L3, k3 = sesuai dengan kondisi di lapangan
2) Lebar :
Lebar daerah pengaliran yang diperitungkan = panjang saluran yang
dihitung
d. Waktu Pengaliran (t2)
Waktu pengaliran (t2) adalah waktu yang diperlukan untuk air mengalir dari
saluran permulaan menuju ke suatu profil melintang saluran tertentu yang
ditinjau. Waktu pengaliran diperoleh sebagai pendekatan dengan membagi
panjang aliran maksimum dari saluran dengan kecepatan rata-rata aliran pada
saluran tersebut.
L
t2
60 v
di mana:
t2 = waktu pengaliran (menit)
L = panjang saluran (m)
Nilai kecepatan rata-rata diperoleh dari rumus Manning:
1 2 / 3 1/ 2
v R S
n
dengan:
v = kecepatan aliran rata-rata (m/dtk)
R = jari-jari hidraulis (m) = A/P
A = luas penampang basah (m2)
P = keliling basah (m)
S = kemiringan saluran
n = koefisien kekasaran Manning
e. Debit Aliran
Debit aliran dicari dengan menggunakan Metode Rasional, karena daerah pengaliran
yang ditinjau tidak luas dan curah hujan dianggap seragam untuk suatu luas daerah
pengaliran yang kecil. Rumus Metode Rasional:
Qa CIA

di mana:
Qa = debit aliran (m3/dtk)
C = koefisien pengaliran
I = intensitas hujan selama waktu konsentrasi (m/dtk)
A = luas daerah pengaliran (m2)
Intensitas hujan diperoleh dari persamaan lengkung intensitas hujan rencana.

2) Metode HIDROGRAF NAKAYASU

Analisis hidrograf yang digunakan menggunakan cara Nakayasu, dengan rumus yang
digunakan adalah sebagai berikut :
C A Ro
Qp
3,6 ( 0,3Tp T0, 3 )

Dimana :
Qp = debit puncak bamjir (m3 / detik)
Ro = hujan satuan (mm)
Tp = tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak banjir (jam)
T0,3 = waktu yang diperlukan oleh penurunan debit, dari debit puncak sampai
menjadi 30 % dari debit puncak (jam)

Bagian lengkung naik (rising limb ) hidrograf satuan mempunyai persamaan :


t 2, 4
Qa Qp
Tp

Dimana :
Qa = limpasan sebelum mencapai debit puncak (m3/detik)
t = Waktu (jam)
Bagian lengkung turun (decreasing limb)
t Tp
a. Qd >0,3 Qp : T0 , 3
Qd Qp* 0.3
t Tp 0 , 5 T0 , 3
b. 0,3 Qp > Qd >0,32 Qp : 1, 5 T0 , 3
Qd Qp * 0,3
t Tp 1, 5 T0 , 3
c. 0,32 Qp > Qd : 2 T0 , 3
Qd Qp * 0.3
Sedangkan waktu Tp = tg + 0,8 tr
dimana untuk
L < 15 km tg = 0,21 L0,7
L > 15 km tg = 0,4 + 0,058 L
Dimana :
L = panjang alur sungai (km)
tg = waktu konsentrasi (jam)
tr = 0,5 tg sampai tg (jam)
T 0,3 = tg (jam)
Dengan besarnya =
untuk daerah pengaliran biasa = 2
untuk bagian naik hidrograf yang lambat dan bagian menurun
yang cepat = 15
untuk bagian naik hidrograf yang cepat dan bagian menurun
yang lambat = 3
Asumsi yang dipergunakan dalam perhitungan ini adalah :
Panjang sungai
Luas catchment area
Koefisien pengaliran

Kurva Hidrograf
Hidrograf dapat didefinisikan sebagai grafik yang menyatakan hubungan antara elevasi
muka air atau aliran (debit) dengan waktu. Karakteristik hidrograf berkaitan erat dengan
air yang jatuh ke bumi dan yang mencapai sungai. Air tersebut dapat menempuh
bermacam-macam jalan antara lain:
Mengalir di atas permukaan sebagai aliran permukaan (surface runoff, surface
flow, overland flow) dan akan mencapai sungai segera setelah hujan turun.
Meresap (infiltrasi) ke dalam tanah dan mengalir ke bawah permukaan menuju
sungai. Air tersebut bergerak lebih perlahan/lambat dari air permukaan.

Dalam hidrologi besarnya debit yang mengalir pada sungai (debit total) diperlukan
pemisahan menjadi komponen-komponen aliran.
Aliran total yang mengalir pada sungai berasal dari 2 bagian, yaitu:
Limpasan langsung (Direct runoff )
Aliran dasar (Base flow)
Limpasan langsung terdiri dari aliran permukaan dan sebagian aliran sub permukaan
sedangkan aliran dasar sebagian besar terdiri dari aliran air tanah. Perbedaan antara
kedua aliran tersebut hanya terletak pada waktu mencapai sungai bukan pada jalan
yang ditempuh.

Gambar 5. 15 Komponen Hidrograf

Ada 4 komponen penting dalam analisa hidrograf banjir, seperti terlihat pada gambar di
atas, yaitu:
BC : kurva naik (rising limb)
C : aliran puncak (peak flow)
CD : kurva menurun (falling limb)
AB dan DE : resesi aliran dasar (baseflow recession)
Kurva naik dipengaruhi oleh hujan lebat dan daerah karakteristik daerah aliran (DAS).
Kurva resesi dipengaruhi hanya oleh karakteristik daerah aliran (DAS), tidak tergantung
dari hujan lebat. Meskipun hidrograf akan berbeda namun kurva resesi untuk setiap
hidrograf akan serupa dan hanya bergantung kepada karakteristik DAS.
Gambar 5. 16 Hidrograf Satuan Sintetik

e. Personil Analisa
Personil yang terlibat dalam pekerjaan analisa hidrologi dan hidrometri yaitu ahli
drainase, ahli hidrologi dan hidraulika, dan asisten dari kedua ahli ini.
f. Peralatan Analisa
Alat bantu yang dipegunakan dalam kegiatan ini yaitu alat tulis dan komputer.
g. Hasil Analisa
Dari kegiatan ini akan dihasilkan debit perencanaan untuk mendesain Master Plan Kota
Bogor.

5.4.3 ANALISIS TATA GUNA LAHAN

a. Tujuan
Dalam Analisis Tata Guna Lahan ini bertujuan untuk menentukan koefisien pengaliran
dari setiap segemen lahan baik itu eksisting maupun yang akan direncanakan. Dengan
demikian dapat menjadi bahan bagi penentuan debit run off untuk tiap segmen wilayah
perencanaan.

b. Lingkup Kegiatan
Lingkup kegiatan yang dilakukan dalam Analisis Tata Guna Lahan yaitu:
Tinjauan Tata Guna Lahan Eksisting
Tinjauan Tata Guna Lahan Perencanaan (RTRW)
Kalibrasi batas lahan dalam peta dan kondisi real di lapangan
Penentuan Koefisien Pengaliran

c. Metodologi Analisis
Hasil analisis terhadap peta tata guna lahan yang telah di overlay dan superimpose
kemudian akan disesuaikan dengan tabel koefisien limpasan sebagai berikut :
Tabel 5. 1 Koefisien Limpasan (untuk metoda Rasional)
Deskripsi Lahan / Karakter permukaan Koefisien aliran ( c )
a) Busines
o Perkotaan O,70 0,95
o Pinggiran 0,50 0,70
b) Perumahan
o Rumah tunggal 0,30 0,50

o Multi unit, terpisah 0,40 0,60


0,60 0,75
o Multi unit, tergabung
0,25 0,40
o Perkampungan
0,50 0,70
o Apartemen
c) Industri
0,50 0,80
o Ringan
0,60 0,90
o Berat
d) Perkerasan
0,70 - 0,95
o Aspal dan beton
0,50 0,70
o Batu bata, paving 0,75 0,95
e) Atap
f) Halaman tanah berpasir 0,05 0,10
o Datar < 2% 0,10 0,15
o Rata-rata, 2 7 % 0,15 0,20
o Curam, > 7%
g) Halaman rumah/tanah berat 0,13 0,17
o Datar < 2% 0,18 0,22
o Rata-rata, 2 7 % 0,25 0,35

o Curam, > 7% 0,10 0,35

h) Halaman kereta api 0,20 0,35

i) Halaman tempat bermain 0,10 0,25


j) Taman/pekuburan 0,10 0,40
k) Hutan 0,25 0,50
o Datar, 0 5% 0,30 0,60
o Bergelombang, 5 10%
o Berbukit, 10 - 30%
Sumber: McGuen, 1989

Hal lain yang menjadi pertimbangan dalam analisis tata guna lahan adalah kondisi
geologi dan hidrogeologi lahan, permeabilitas lahan dan jenis vegetasi tutupan lahan.

5.4.4 ANALISIS HIDROLIKA DAN PEMODELAN

a. Tujuan
Dalam Analisis hidraulis ini bertujuan untuk mengetahui profil aliran dan kapasitas
saluran/sungai.

b. Lingkup Kegiatan
Lingkup kegiatan yang dilakukan dalam Analisis hidraulika yaitu:
Tinjauan Umum Model Matematika (HEC-RAS)
Input Data (kondisi batas, kondisi awal, bangunan air)
Kalibrasi Permodelan

c. Metodologi Analisis
Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis hidraulis adalah terbagi menjadi
beberapa tahap, yaitu :
Perhitungan Data Hidraulis
Data-data hidraulik yang dikumpulkan adalah meliputi data geometri atau dimensi
saluran dan data karakteristik tampungan. Data mengenai dimensi saluran
diperoleh berdasarkan as built drawing dan pengukuran di lapangan. Sementara itu
data karakteristik tampungan diperoleh dari hasil interpretasi data kontur
menggunakan software AutoCAD. Hasil interpretasi ini mencakup perkiraan luas
genangan dan volume genangan berdasarkan ketinggian muka air. Sementara data
hidrologi yang digunakan adalah data kurva hidrograf hasil perhitungan hidrologi.
Dalam melakukan Analisis ini digunakan metodologi seperti terlihat pada Gambar
5.15. Dari gambar ini dapat diuraikan seperti berikut:
Mengidentifikasi kondisi existing data sarana dan prasarana pengendalian air
yang sudah didapat.
Menentukan sarana dan prasarana yang mana masih berfungsi dan yang tidak
berfungsi.
Untuk sarana yang masih berfungsi, ditentukan berapa kapasitas dari sarana
dan prasarana tersebut untuk menangani permasalahan yang ada.
Merencanakan sistem polder yang tepat. Menentukan lokasi polder dan
menempatkan instrumen-instrumennya dengan perencanaan yang matang,
sehingga sistem polder dapat efektif menanggulangi banjir.
Memberikan rekomendasi desain. Dimana rekomendasi desain untuk sarana dan
prasarana yang berfungsi dan yang tidak berfungsi berbeda, selain itu juga
harus disesuaikan dengan permasalahannya yang ada.
Pemodelan aliran I (kondisi eksisting)
Setelah data-data dikumpulkan, langkah selanjutnya adalah membuat model
saluran. Sebelum membuat model harus diketahui dahulu dasar teori dan metode
yang akan digunakan.
Setelah itu data-data hidraulik dan hidrologi dimasukkan sebagai input dalam
pemodelan. Data hidraulik yang dimasukkan adalah data kondisi eksisting. Langkah
selanjutnya adalah menjalankan program simulasi berdasarkan model yag dibentuk.
Model yang dibentuk harus mampu menggambarkan kondisi sebenarnya di
lapangan. Oleh karena itu perlu dilakukan kalibrasi terhadap kondisi sebenarnya.
Desain saluran
Saluran didesain berdasarkan hasil simulasi aliran I. Desain saluran harus
memperhitungkan faktor ekonomis dan konstruksi. Faktor ekonomis artinya desain
saluran tidak terlalu mahal tanpa mengurangi efektivitas. Sedangkan faktor
konstruksi artinya proses pembangunannya tidak terlalu rumit.
Pemodelan aliran II (dengan desain)
Pemodelan ini sama dengan pemodelan aliran I sebelumnya, hanya saja
ditambahkan faktor saluran. Hasil simulasi disesuaikan dengan kondisi yang
diinginkan, jika tidak sesuai maka akan dilakukan redesain saluran hingga tercapai
kondisi yang diinginkan.
Gambar 5. 17 Tahapan pemodelan rainfall-runoff

Tinjauan Umum Hec-Ras


Karena metode pengukuran debit aliran saluran di lapangan karena kondisi
aliran saluran tidak memungkinkan untuk diukur secara langsung, maka perlu
dilakukan simulasi untuk mengetahui besarnya debit aliran pada tiap segmen
saluran.
Dalam melakukan simulasi ini diperlukan data hidrologi berupa data curah hujan
dan karakteristik saluran yang akan diperkirakan debit alirannya. Dengan Hec-
Ras maka masalah tersbut dapat kita atasi. Hec-Ras akan melakukan simulasi
dari data-data input yang kita masukan sesuai boundary condition yang mewakili
lokasi yang mau kita modelkan.
Variabel-variabel dari boundary condition suatu lokasi meliputi semua datayang
diperlukan oleh Hec-Ras. Variabel yang diperhitungkan adalah debit aliran
berdasarkan curah hujan harian maksimum selama 10 tahun terakhir.
Prinsip-prinsip dasar aliran yaitu prinsip kontinuitas dan prinsip kekekalan
momentum inilah yang selanjutnya merupakan dasar algoritma program yang
digunakan oleh model HEC-RAS.
Program HEC-RAS 3.0 merupakan program lanjutan dari HEC-RAS 2.21 yang
dikeluarkan oleh U.S. Army Corps of Engineers. Program HEC-RAS sendiri
dikembangkan oleh The Hydrologic Engineering Center (HEC), yang merupakan
bagian dari U.S. Army Corps of Engineers.
HEC-RAS 3.0 dikeluarkan pada tahun 2001 dan untuk pertama kalinya program
HEC-RAS memiliki kemampuan untuk melakukan pemodelan dengan
perhitungan aliran tak tunak dengan tinjauan satu dimensi. Dalam perencanaan
ke depan, program HEC-RAS kelak akan memiliki kemampuan untuk melakukan
pemodelan sedimentasi dengan tinjauan secara satu dimensi.
Program dengan versi yang terbaru ini dapat menangani jaringan saluran air
secara penuh dengan memodelkan aliran subkritis, superkritis dan aliran mixed
untuk kalkulasi aliran tunak. Perhitungan dasarnya mengikuti prosedur
pemecahan kalkulasi energi aliran satu dimensi. Kehilangan energi dievaluasikan
terhadap friksi yang terjadi pada saat pengaliran (persamaan manning), kontraksi
dan ekspansi saluran (dengan koefisiennya yang dikalikan dengan kecepatan
alir).
Persamaan momentum digunakan saat situasi dimana profil muka air secara
cepat bervariasi. Situasi ini termasuk perhitungan mixed flow regime (misalnya
loncatan hidrolik), perhitungan pada hidrolika aliran melintasi jembatan dan
perhitungan pada junction (pertemuan dan perpisahan dua atau lebih saluran).
Selanjutnya perhitungan juga bisa dilakukan terhadap talang air, gorong-gorong,
pompa air dan struktur bangunan air lainnya termasuk perhitungan aliran dengan
saluran tertutup es.
Penyelesaian aliran tak tunak diambil dari model UNET yang pernah dibuat oleh
Dr. Robert L. Barkau. Fasilitas aliran tak tunak ini dikembangkan terutama untuk
kalkulasi aliran subkritis.
Program HEC-RAS 3.0 menggunakan pengaturan data dimana dengan data
geometri yang sama bisa dilakukan kalkulasi data aliran yang berbeda-beda,
begitu juga sebaliknya. Data geometri terdiri dari lay out pemodelan disertai
cross section untuk saluran-saluran yang dijadikan model. Bangunan-bangunan
air serta storage area berada dalam masukan data geometri pemodelan. Data
aliran ditempatkan terpisah dengan data geometri. Data aliran bisa dipakai salah
satu diantara data aliran tunak dan data aliran tak tunak. Setiap data aliran
tersebut mengharuskan diisinya besaran boundary condition dan initial condition
yang sesuai agar pemodelan bisa dijalankan. Bentuk hidrograf hanya bisa
diisikan pada data aliran tak tunak. Selanjutnya bisa dilakukan kalkulasi dengan
membuat rencana komputasi. Rencana komputasi harus terdiri dari satu data
geometri dan satu data aliran.
HEC-RAS 3.0 adalah program yang dapat memodelkan aliran tak tunak dengan
tinjauan satu dimensi dengan pemodelan geometri yang lebih akurat karena titik
pendekatan untuk memodelkan cross section saluran bisa dibuat lebih banyak
dari beberapa program aliran tak tunak satu dimensi lain yang sering digunakan.
Dengan demikian maka penggambaran setiap cross section saluran dengan
menggunakan program HEC-RAS 3.0 ini akan menjadi lebih mendekati
dibandingkan sebelumnya.
Input data yang dilakukan adalah menggambarkan profil aliran yang akan
dimodelkan dan memasukkan data cross section pada masing-masing saluran.
Lay out saluran diperoleh dari peta topografi dengan skala 1:5000.

Input Data
Setiap data yang berhubungan dengan kondisi kajian sudah tentu merupakan
bahan masukan pada pemodelan. Program yang digunakan hanya
menggunakan kejadian hidrologi dan kejadian hidrolika yang berpengaruh besar
pada perhitungan. Pemodelan yang dibuat tidak memperhitungkan besarnya
evaporasi dan rembesan mengingat kecilnya daerah tinjauan sehingga pengaruh
evaporasi dan rembesan diperkirakan sangat kecil.
Data-data yang paling penting untuk melakukan pemodelan kali ini adalah data
geometri daerah kajian dan data perhitungan hidrologi pada lokasi tertentu
sebagai syarat batas. Data geometri untuk model saluran dan bangunan air
menggunakan data as built drawing dan data ketinggian elevasi. Data
perhitungan hidrologi berupa data debit banjir dengan periode ulang 25 atau
tahun.
Pemodelan dibuat dengan memanfaatkan data debit berdasarkan kurva
hidrograf untuk mengetahui pergerakan air. Data elevasi muka air yang tercatat
adalah data elevasi muka air pada tiap segmen atau cross section yang diamati
tiap beda waktu tertentu.

Data Geometri
HEC-RAS 3.0 adalah program yang dapat memodelkan aliran tak tunak dengan
tinjauan satu dimensi dengan pemodelan geometri yang lebih akurat karena titik
pendekatan untuk memodelkan cross section saluran bisa dibuat lebih banyak
dari beberapa program aliran tak tunak satu dimensi lain yang sering digunakan.
Dengan demikian maka penggambaran setiap cross section saluran dengan
menggunakan program HEC-RAS 3.0 ini akan menjadi lebih mendekati
dibandingkan sebelumnya.
Input data yang dilakukan adalah menggambarkan profil aliran yang akan
dimodelkan dan memasukkan data cross section pada masing-masing saluran.
Lay out saluran diperoleh dari peta topografi dengan skala 1:5000.
Contoh Gambar profil yang digunakan dalam pemodelan dapat dilihat di gambar
berikut :
Gambar 5. 18 Lay Out Pemodelan Aliran
Langkah selanjutnya adalah memasukkan data geometri dari potongan melintang. Kode
potongan melintang yang dibuat adalah sebagai berikut :
Tabel 5. 2 Kode Potongan Melintang Yang Digunakan

Nama Sungai [Link] Tanggul Kiri Tanggul Kanan


Sungai Sekanak B1 X=473116.2931 Y=9669570.1051 X=473136.9172 Y=9669583.4606
B2 X=473046.0207 Y=9669729.9709 X=473063.6832 Y=9669738.1338
B3 X=472966.4443 Y=9669904.4734 X=472987.5438 Y=9669913.4259
B4 X=472886.7154 Y=9670068.3169 X=472897.7319 Y=9670076.5903
B5 X=472776.3801 Y=9670225.6778 X=472789.6439 Y=9670232.7211
B6 X=472687.5952 Y=9670395.1922 X=472702.3418 Y=9670403.0800
B7 X=472576.2871 Y=9670548.1843 X=472589.4037 Y=9670558.8793
B8 X=472444.9106 Y=9670685.6595 =472456.7942 Y=9670697.8991
B9 X=472312.2799 Y=9670831.5771 X=472335.1229 Y=9670831.5771
B10 X=472217.0738 Y=9670956.0068 X=472229.7584 Y=9670967.5519
B11 X=472078.9158 Y=9671083.9517 X=472089.9180 Y=9671099.0082
B12 X=471927.8306 Y=9671022.1225 X=471925.0224 Y=9671032.6674
B13 X=471741.0864 Y=9671029.1164 X=471745.4232 Y=9671044.9360
B14 X=471554.8718 Y=9671067.1928 X=471556.6096 Y=9671081.2726
B15 X=471365.0538 Y=9671091.6245 X=471367.3538 Y=9671110.2589
B16 X=471174.6555 Y=9671098.2920 X=471175.0104 Y=9671110.3751
B17 X=470990.8918 Y=9671073.2331 X=470987.5587 Y=9671080.4646
B18 70828.2260 Y=9670978.1912 X=470824.6352 Y=9670990.431
B19 X=470643.0484 Y=9670918.8845 X=470638.8492 Y=9670951.2525
B20 X=470448.7927 Y=9670924.9003 X=470450.5710 Y=9670941.3723
B21 X=470259.0827 Y=9670950.3963 X=470259.9780 Y=9670959.8100
B22 X=470123.2611 Y=9670882.5830 X=470118.0151 Y=9670885.3237
B23 X=470016.0651 Y=9670724.5707 X=470011.7761 Y=9670728.2519
B24 X=469853.5463 Y=9670788.2893
B25 X=469690.4913 Y=9670764.5077
B26 X=469556.5714 Y=9670646.3782
B27 X=469384.7517 Y=9670579.7605
B28 X=469214.0902 Y=9670555.0605
B29 X=469095.3415 Y=9670406.5744
B30 471944.9494 Y=9671218.5124 X=471954.1477 Y=9671223.7135
B31 X=471944.9494 Y=9671218.5124 X=471860.4798 Y=9671399.1817
B32 X=470862.4564 Y=9671050.9626 470869.5790 Y=9671052.1513
B33 X=470833.0365 Y=9671221.6466 X=470843.5407 Y=9671223.3996
B34 X=470681.5524 Y=9671313.8278 X=470687.4301 Y=9671321.3615
B35 X=470523.4717 Y=9671410.5999 X=470524.7714 Y=9671417.1073
B36 X=470531.8969 Y=9671530.6695 X=470550.6778 Y=9671533.3103
B37 X=470482.7741 Y=9671713.2867 X=470489.6068 Y=9671714.4271
B38 X=470428.4279 Y=9671886.8023
B39 X=470340.6415 Y=9672051.0385
B40 X=470234.1902 Y=9672194.4350

Contoh masukan data potongan melintang saluran yang dimodelkan adalah sebagai
berikut :
Gambar 5. 19 Contoh1 Input Data pada Cross Section

Selanjutnya data potongan melintang untuk cross section lain dimasukkan ke


dalam pemodelan.

Koefisien Kekasaran Saluran


Koefisien kekasaran saluran adalah suatu besaran yang merepresentasikan nilai
hambatan dalam suatu aliran. Nilai hambatan ini ditentukan dengan
memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi nilai kekasaran saluran seperti
faktor kekasaran permukaan, tumbuhan, ketidakteraturan saluran, trase saluran,
pengendapan dan penggerusan saluran, ukuran dan bentuk saluran. Besar nilai
koefisien kekasaran saluran berkisar antara 0,009 hingga 0,150. Berdasarkan
tabel yang disusun oleh Ven Te Chow (1959) menunjukkan bahwa untuk saluran
yang telah dilining nilai koefisen kekasaran berkisar antara 0,015 hingga 0,025.
Koefisien Kontraksi dan Ekspansi
Koefisien kontraksi dan ekspansi digunakan untuk memperkirakan besarnya
kehilangan energi (energy loss) yang disebabkan kontraksi dan ekspansi aliran.
Besarnya nilai koefisien ini berdasarkan perubahan tinggi kecepatan dari suatu
cross section sampai cross section selanjutnya.

Waktu Awal dan Akhir Pemodelan


Waktu awal dan akhir perhitungan tidak ditentukan secara spesifik dalam hari
dan waktu tertentu. Acuan dalam pemodelan yang digunakan adalah waktu yang
tercakup dalam kurva hidrograf yaitu waktu awal dan akhir suatu perkiraan curah
hujan dengan periode ulang 25 tahun. Data tersebut dimasukkan ke dalam
model HEC-RAS sebagaimana ditunjukkan oleh gambar 5.18 berikut .

Gambar 5. 20 Input Data Waktu Awal dan Waktu Akhir Perhitungan


Kondisi Batas Pemodelan
Dalam suatu pemodelan kondisi batas dapat dispesifikasikan sebagai berikut:
Tinggi muka air dan debit, dapat dalam bentuk konstan maupun berubah
menurut waktu atau merupakan seri Fourier.
Aliran tambahan kedalam jaringan saluran terbuka, dapat dispesifikasikan
sebagai debit yang berubah menurut waktu atau berupa hubungan antara
curah hujan dan aliran permukaan (run-off)
Hubungan debit dengan tinggi muka air (rating curve) dalam bentuk tabel.
Kondisi batas yang digunakan pada pemodelan ini diperoleh dari hasil analisis
hidrologi berupa kurva hidrograf banjir dengan periode ulang 25 tahunan. Kurva
hidrograf ini berisi data debit dalam bentuk berubah menurut waktu (time series).
Input data kondisi batas dapat dilihat pada gambar 5.19.

Gambar 5. 212 Input Data Kondisi Batas


Kalibrasi
Untuk mendapatkan model yang sesuai dengan kondisi real di lapangan, maka
kalibrasi model perlu dilakukan. Kalibrasi dilakukan dengan membandingkan
debit atau tinggi muka air hasil model dengan debit atau tinggi muka air real yang
terjadi di lapangan. Jika hasil model tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya di
lapangan, maka parameter-parameter hidrologi dalam model (kekasaran, koef.
Infiltrasi koef. Groundwater dsb) dirubah dengan cara coba-coba sampai hasil
pemodelan mendekati kenyataan sebenarnya di lapangan.

5.4.5 ANALISIS LINGKUNGAN

Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam Analisis lingkungan ini mencakup antara
lain :
a). Hubungan sebab akibat antara kegiatan proyek pada tiap tahapan ( pra
konstruksi, konstruksi, dan pasca konstruksi ) dengan lingkungan hidup,
dengan dampak positif dan negatif yang mungkin timbul.
b). Ciri dampak penting yang positif dan negatif, harus dikemukakan dengan
jelas secara kwantitatif dan matematis dalam arti apakah dampak penting
tersebut akan berlangsung terus selama kegiatan berlangsung atau
apakah dampak yang satu dengan dampak yang lainnya akan terdapat
hubungan timbal balik.
c). Selain dampak penting kegiatan terhadap lingkungan juga diduga dan
dievaluasi dampak lingkungan terhadap proyek.
d). Seberapa luas dan dalam intensitas daerah yang akan terkena dampak
penting dari kegiatan ini yang mungkin dapat dinyatakan di dalam peta.
Untuk melaksanakan prediksi dampak digunakan metode, Prediksi Dampak dapat
menggunakan metode formal dan metode tersebut diuraikan secara jelas.

5.5. TAHAP STRATEGI PERENCANAAN DAN PENGELOLAAN


Penanggulangan banjir adalah bagian dari pengelolaan sumber daya air secara luas,
dengan cakupan yang meliputi konservasi, pengendalian, dan pendayagunaan air.
Konsep dalam menjinakkan banjir lazim dikenal sebagai pengendalian banjir (Flood
Control) atau pengurangan kerugian akibat banjir (Flood Mitigation/Flood Damage
Mitigation). Ada dua bentuk upaya yang dilakukan dalam pengendalian banjir, yaitu:

A. Penanganan Struktural
Dengan upaya yang cenderung pada rekayasa teknis yang bertujuan untuk
memodifikasi besaran-besaran banjir dan memodifikasi tingkat kerawanan banjir.
Debit banjir (Q, m3/dt) adalah fungsi dari kecepatan aliran (V, m/dt) dan luas
penampang sungai (A, m2). Upaya-upaya pengendalian banjir dapat dilakukan
dengan pendekatan terhadap ketiga komponen banjir tersebut.
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan jenis bangunan
pengendalian banjir adalah sebagai berikut:
1. Pengaruh regim sungai terutama erosi dan sedimentasi dan hubungannya
dengan biaya pemeliharaan.
2. Kebutuhan perlindungan erosi didaerah kritis.
3. Pengaruh bangunan terhadap lingkungan.
4. Perkembangan Pembangunan daerah.
5. Pengaruh bangunan terhadap kondisi aliran di sebelah hulu dan sebelah hilirnya.
Ada beberapa bangunan yang lazim digunakan untuk penanganan banjir, yaitu :

- Kolam Penampungan
Seperti halnya bendung, kolam penampungan (retention basin) berfungsi untuk
menyimpan sementara debit sungai sehingga puncak banjir dapat dikurangi. Tingkat
pengurangan banjir tergantung pada karakteristik hidrograf banjir, volme kolam dan
dinamika beberapa bangunan outlet. Wilayah yang digunakan perencanaan dan
pelaksanaan tata guna lahan yang baik, kolam penampungan dapat digunakan
untuk pertanian. Untuk strateri pengendalian yang andal diperlukan:
1. Pengontrol yang memadai untuk menjamin keterpatan peramalan banjir
2. Peramalan banjir yang andal dan tepat waktu untuk perlindungan atau evakuasi
3. Sistem drainase yang baik untuk mengosongkan air dari daerah tampungan
secapatnya setalah banjir reda.
Pertimbangan-pertimbangan pembuatan kolam penampungan ini, antara lain:
1. Ketersediaan lahan.
2. Sebagai konsekuensi dari perubahan fungsi lahan rawa.
3. Normalisasi saluran dirasa belum cukup untuk mengendalikan banjir.
4. Sebagai sarana konservasi lingkungan dan rekreasi.
5. Merupakan salah satu solusi untuk mengurangi banjir.
- Tanggul Penahan banjir
Tanggul penahan banjir adalah penghalang yang didesain untuk menahan air banjir
di palung sungai untuk melindungi daerah disekitarnya. Tanggul banjir sesuai untuk
daerah-daerah dengan memperhatikan faktor-faktor berikut:
1. Dampak tanggul terhadap regim
2. Tinggi jagaan dan kapasitas debit sungai pada bangunan-bangunan sungai
misalnya jembatan.
3. Ketersediaan bahan bangunan setempat
4. Syarat-syarat teknis dan dampaknya terhadap pengembangan wilayah.
5. Hidrograf banjir yang lewat
6. Pengaruh tanggul terhadap lingkungan
7. Pengaruh limpasan, penambangan, longsoran dan bocoran
8. Pengaruh tanggul terhadap lingkungan
9. Lereng tanggul dengan tepi sungai yang relatif stabil.
Pemilihan tanggul penahan banjir sebagai alternatif penanggulangan banjir ini akan
diberikan dengan pertimbangan:
1. Ketersediaan lahan
2. Kondisi elevasi muka air yang lebih tinggi dari elevasi sekitar sehingga
memerlukan pelindung berupa tanggul.
3. Untuk melindungi daerah tertentu dari beban banjir.

- Saluran by Pass/Sudetan
Saluran by pass adalah saluran yang digunakan untuk mengalihkan sebagian atau
seluruh aliran air banjir dalam rangka mengurangi debit banjir pada daerah yang
dilindungi. Fakotr-faktor yang penting sebagai pertimbangan dalam desain saluran
by pass adalah sebagai berikut:
1. Biaya pelaksanaan yang relatif mahal
2. Kondisi topografi dari rute alur baru
3. Bangunan terjunan mungkin diperlukan disaluran by pass untuk mengontrol
kecepatan air erosi
4. Kendala-kendala geologi timbul sepanjang aliran sungai asli di bagian hilir dari
likasi percabangan
5. Penyediaan air dengan program pengembangan daerah disekitar sungai
6. Kebutuhan air harus tercukupi sepanjang aliran sungai asli di bagian hilir dari
lokasi percabangan
7. Pembagian air akan berpengaruh pada sifat alami daerah hilir mulai dari lokasi
percabangan by pass.
Pemilihan saluran by pass ini akan dipilih jika kondisi lokasi:
1. Tidak memungkinkan lagi dilakukan peningkatan kapasitas saluran yang ada.
2. Ketersediaan lahan.
3. Mempercepat pengaliran.
4. Untuk mengurangi beban pada saluran eksisting.

- Sistim Pengerukan/Normalisasi Sungai


Sistem pengerukan atau normalisasi saluran adalah bertujuan memperbesar
kapasitas tampung sungai dan memperlancar aliran. Analisis yang harus
diperhitungkan adalah analissi hidrologi, hidrolika dan analisis sedimentasi. Analisis
perhitungan perlu dilakukan dengan cermat mengingat kemungkunan kembalinya
sungai ke bentuk semula sangat besar. Normalisasi diantaranya kegiatan-kegiatan
melebarkan sungai, mengarahkan alur sungai dan memperdalam sungai
(pengerukan). Untuk mengarahkan sungai dan melecarkan penampangnya sering
terjadi diperlukan pembebasan lahan. Oleh karena itu dalam kajiannya harus juga
memperhitungkan aspek ekonomi (ganti rugi) dan aspek sosial terutama bagi
masyarakat atau stakeholders lainnya yang merasa dirugikan akibat lahannya
berkurang. Kegiatan ini dilakukan dengan melihat dikondisi saluran sebagai berikut:
1. Terjadi sedimentasi yang mengganggu jalannya pengaliran.
2. Fisik saluran yang kurang baik.
3. Kapasitas pengaliran yang kurang sehingga perlu ditingkatkan. Ini dilakukan jika
ada ruang yang cukup.
4. Bentuk atau arah saluran yang kurang baik.

- Sistem Pompanisasi
Sistem drainase khusus sering diperlukan untuk memindahkan air dari daerah rawan
banjir karena drainase yang buruk secara alami atau karena ulah manusia. Alternatif
dengan pemompaan mungkin diperlukan untuk daerah buangan dengan elevasi air
dibagian hilir terlalu tinggi. Desain dari sistem drainase khusus berdasarkan
pertimbangan berikut:
1. Topografi, karakteristik infiltarsi dan luas daerah yang akan dilindungi
2. Kecepatan dan waktu hujan serta aliran permukaan
3. Volume dari air yang ditahan
4. Periode banjir
Adapun kriteria yang digunakan dalam pemilihan bangunan adalah:
1. Apabila elevasi air buangan lebih rendah dari elevasi daerah dilindungi, dapat
digunakan out let sederhana.
2. Apabila fluktuasi perubahan elevasi air berubah-ubah diperlukan pintu air
otomatis
Pemilihan sistem pompanisasi akan dilakukan untuk kondisi-kondisi sebagai berikut:
1. Apabila elevasi buangan lebih tinggi dari daerah yang dilindungi.
2. Kondisi saluran yang selalu di pengaruhi pasang surut sehingga kecepatan
pengaliran menjadi kecil.
3. Drainase perkotaan dimana drainase perkotaan tidak memadai
4. Digunakan untuk melindungi daerah hilir dari pengaruh pasang surut
5. Daerah genangan/bantaran banjir dengan bangunan floodwall/dinding penahan
banjir.

- Pembuatan Saluran Baru


Langkah ini akan diterapkan pada daerah-daerah yang belum memiliki saluran
terutama di daerah luar perkotaan yang masih tersedia lahan yang cukup dan
penduduk yang relatif masih jarang atau di wilayah bermasalah yang minim saluran
drainase. Seluruh DAS sungai di Kota Bogor telah memiliki saluran primer namun
dibeberapa DAS yang luar perkotaan untuk saluran sekunder belum ada.
Pembuatan saluran di luar perkotaan ini dilakukan untuk saluran sekunder saja
karena kondisi masyarakat di daerah ini belum ada atau belum terbentuk.
Pembuatan saluran sekunder di daerah seperti ini dilakukan sebagai tanggapan
terhadap perkembangan Kota Bogor yang semakin mengarah ke lahan yang masih
kosong atau semakin ke luar perkotaan.
B. Penanganan Non Struktural
Upaya-upaya sebagaimana dijelaskan di atas harus disesuaikan dengan tujuan yang
akan dicapainya yaitu untuk Jangka Pendek, Jangka Menengah atau Jangka
Panjang. Secara umum untuk Jangka pendek perlu dengan segera dilakukan urutan
prioritas/ranking dari upaya yang akan dilakukan termasuk ketersediaan dananya.
Kegiatan non-struktur bertujuan untuk mengindari dan juga menekan besarnya
masalah yang ditimbulkan oleh banjir, antara lain dengan cara mengatur
pembudidayaan lahan di dataran banjir dan DAS sedemikian rupa sehingga selaras
dengan kondisi dan fenomena lingkungan/alam termasuk kemungkinan terjadinya
banjir. Upaya penanganan pengendalian banjir non struktur lebih bersifat jangka
panjang. Oleh sebab itu pola penanganan ini diperlukan konsistensi dalam
menjalankan program dan tersusun secara sistematis yang bersifat strategis.
Adanya partisipasi masyarakat merupakan persyaratan pokok bagi berhasilnya
upaya ini. Upaya tersebut dapat berupa:
1. Konservasi tanah dan air di DPS hulu menekan besarnya aliran permukaan dan
mengendalikan besarnya debit puncak banjir serta pengendalian erosi untuk
mengurangi pendangkalan/sedimentasi di dasar sungai. Kegiatan ini merupakan
gabungan antara rekayasa teknik sipil dengan teknik agro, yang bertujuan untuk
mengendalikan aliran permukaan antara lain dengan terasering, bangunan
terjun, check-dam/dam penahan, dam pengendalian sedimen, penghijauan dan
reboisasi, serta sumur resapan.
2. Penataan ruang dan rekayasa di dataran banjir yang diatur sedemikian rupa,
sehingga resiko/kerugian/bencana yang timbul apabila tergenang banjir minimal.
Rekayasa yang berupa bangunan antara lain berupa: rumah tipe panggung,
rumah susun, jalan layang, jalan dengan perkerasan beton, dan sebagainya.
Sedangkan rekayasa di bidang pertanian dapat berupa pemilihan varitas
tanaman yang tahan genangan.
3. Penataan ruang dan rekayasa di DPS hulu (yang dengan pertimbangan tertentu
kemungkinan ditetapkan menjadi kawasan budidaya) sedemikian rupa sehingga
pembudidayaan/pendayagunaan lahan tidak merusak kondisi hidrologi DAS dan
tidak memperbesar masalah banjir.
4. Penanggulangan banjir (flood-fighting) untuk menekan besarnya bencana dan
mengatasinya secara darurat. Kegiatan inimerupakan bagian dari kegiatan
satkorlak penanggulangan bencana, yang dilaksanakan sebelum kejadian banjir
(meliputi perondaan dan pemberian peringatan dini kepada masyarakat yang
tinggal di daerah rawan banjir/dataranbanjir), pada saat banjir berupa upaya
penyelamatan, maupun pasca banjir yang berupa penanganan darurat terhadap
kerusakan akibat banjir.
5. Penerapan sistem perkiraan dan peringatan dini untuk menekan besarnya
bencana bila banjir benar-benar terjadi. Upaya ini untuk mendukung kegiatan
penanggulangan banjir.
6. Flood proofing yang dilaksanakan sendiri baik oleh perorangan, swasta maupun
oleh kelompok masyarakat untuk mengatasi masalah banjir secara lokal,
misalnya di kelompokan permukiman/real estat, industri, antara lain dengan
membangun tanggul keliling, polder dan pompa.
7. Partisipasi masyarakat yang didukung adanya penegakan huku antara lain
dalam mentaati ketentuan menyangkut tata ruang dan pola pembudidayaan
dataran banjir dan DAS hulu, menghindarikan terjadinya penyempitan dan
pendangkalan alur sungai akibat adanya sampah padat termasuk bangunan,
hunian liar dan tanaman di bantaran sungai.
8. Penetapan sempadan sungai yang didukung dengan penegakan hukum.
9. Penyuluhan dan pendidikan masyarakat lewat berbagai media menyangkut
berbagai aspek dalam rangka meningkatkan kepedulian dan parisipasinya.
10. Penanggulangan kemiskinan (poverty allevation). Masyarakat miskin banyak
yang tinggal di bantaran sungai, demikian pula masyarakat petani lahan kering di
DPS hulu pada umumnya miskin.

5.6. PENENTUAN PROGRAM PRIORITAS

Penyusunan Survey Data Sumber Daya Air Kota Bogor berangkat dari Visi dan Misi. Visi
yang akan digunakan adalah menciptakan suasana Kota Bogor aman terhadap
ancaman banjir dan nyaman sebagai tempat tinggal untuk mendukung kota sebagai
kota bersejarah, dan pusat komersial dan layanan. Sedangkan misi yang diemban
dalam pembuatan master plan ini bahwa pengelolaan Drainase Kota akan dilakukan
melalui pendekatan ekosistem alam berdasarkan prinsip satu DAS, satu rencana, satu
pengelolaan. Sedangkan wilayah DAS ditentukan oleh batas alam yang tidak selalu
bertepatan (co-incided) dengan batas wilayah administrasi/ daerah.
5.6.1 Prinsip Penyusunan
Penyusunan Survey Data Sumber Daya Air lebih sering kali ditujukan untuk
ketersediaan drainase, memperingan banjir, atau memperkecil resiko. Secara garis
besarnya ada 2 komponen utama dalam master plan yakni laporan teknis dan
rencana pelaksanaan. Laporan teknis lebih bersifat penggambaran kondisi-kondisi
di lapangan dan bagaimana sistem yang diusulkan akan selaras dengan tujuan
master plan, sedangkan rencana pelaksanaan merupakan suatu rencana usulan
seperti untuk saluran, kontrol jumlah limpasan dan sistem kontrol kualitas air.
Dalam perencanaan system banjir perkotaan harus menggunakan prinsip berikut:
1. Drainase banjir adalah suatu fenomena umum yang tidak dipengaruhi batasan
antara aturan pemerintah atau antara kepemilikan umum dan pribadi.
2. Drainase banjir adalah suatu sub sistem dari sistem sumber daya air perkotaan
secara keseluruhan.
3. Setiap daerah perkotaan harus mempunyai 2 sistem drainase, yang harus
diterapkan dan direncanakan.
4. Pengelolaan banjir merupakan masalah alokasi ruang, sehingga itu merupakan
suatu bagian dasar dari proses perencanaan kota.
5. Pembuangan aliran permukaan yang dilakukan secepatnya bukan merupakan
wewenang managemen banjir secara praktek, pendekatan dengan orientasi
tampungan sebaiknya ditempatkan pada tempat yang memungkinkan.
6. Perencanaan sistem banjir pada umumnya sebaiknya tidak berdasarkan pada
dasar pemikiran bahwa permasalahan drainase bisa dipindahkan dari satu
lokasi ke lokasi lain.
7. Suatu strategi banjir perkotaan seharusnya merupakan multi fungsi.
8. Perencanaan dari pengaturan sistem sebaiknya memperhatikan kelebihan dan
fungsi-fungsi alami dari drainase.
9. Dalam pengembanganpengembangan baru, besar aliran banjir setelah
pengembangan sebaiknya mendekati/mengikuti kondisi-kondisi sebelum
pengembangan, dan beban limbah yang seharusnya dihilangkan.
10. Sistem pengelolaan banjir sebaiknya direncanakan, dimulai dari hilir ke sungai
dari daerah tangkapan.
11. Sistem pengelolaan banjir sebaiknya ditempatkan pada lokasi yang mudah
dijangkau untuk memudahkan perawatan.
5.6.2 Skenario Master Plan
Dalam menyusun Survey Data Sumber Daya Air Kota Bogor akan memanfaatkan
potensi-potensi yang telah ada, antara lain:
1. Keberadaan Sungai-sungai Besar yang Ada
Sebagian besar DAS sungai di Kota Bogor berkapasitas sangat besar dan
sangat berpotensi sebagai badan air penerima saluran drainase untuk
daerah ini.
2. Sungai-sungai dan Saluran yang Telah Ada
Kota Bogor ini memiliki banyak sekali sungai ataupun saluran ini merupakan
sarana yang telah ada yang bisa dimanfaatkan secara baik. Sungai-sungai ini
akan dilakukan analisa terhadap kapasitas, permasalahan yang sedang
terjadi dan alternatif pemecahannya. Sungai-sungai yang ada inilah yang
merupakan sarana utama dalam memindahkan beban air ke muara.
3. Ketersediaan Ruang
Ketersediaan ruang memang sangat penting dalam mendukung rencana-
rencana pengembangan sistem drainase. Di dalam Kota memang sedikit
sarana lahan tidak seperti di daerah luar kota yang cukup luas. Namun
demikian dalam pembuatan master plan ini langkah-langkah yang akan
diupayakan meminimalkan penggunaan lahan baru atau pembebasan lahan.
4. Lahan Resapan
Lahan resapan merupakan sarana penampungan air hujan alami yang
sangat baik sebagai sarana konservasi lingkungan. Secara keseluruhan
lahan resapan yang ada memiliki kapasitas yang cukup besar namun
keberadaanya terus berkurang akibat dampak negatif dari perkembangan
kota Dalam pembuatan master plan ini kondisi lahan resapan harus
seoptimal mungkin dipertahankan terhadap perkembangan kota. Misalkan
ada perubahan fungsi resapan menjadi sarana lainnya harus
mempertimbangkan pengurangan daya tampung yang akibat pengurukan
tersebut.
5. Bangunan Air
Kota Bogor telah memiliki sejumlah retensi yang berfungsi sebagai
penampung air hujan, tempat rekreasi atau mungkin juga dimanfaatkan
masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari. Retensi ini merupakan bentuk
kolam-kolam kecil yang pemanfaatannya pada saat hujan bisa digunakan
sebagai pengendali banjir sedangkan dalam sehari-hari sebagai kolam kota
atau untuk keindahan kota dan tempat rekreasi.

5.6.3 Pembuatan Action Plan dan Indikator Program


Setelah menentukan strategi dan kebijakan serta skenario Masterplan drainase,
maka langkah selanjutnya adalah membuat matrik kegiatan yang berisikan
tentang action plan (rencana tindak) dan indikator program. Bentuk matriksnya
adalah sebagai berikut :

NAMA JADWAL PERKIRAAN PELAKSANA


NO LOKASI KEGIATAN
PROGRAM IMPLEMENTASI BIAYA TEKNIS
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Anda mungkin juga menyukai