BAB I
PENDAHULUAN
CCAM (Congenital Cystic Adenomatoid Malformation) merupakan
sekelompok massa multikistik maupun non kistik akibat proliferasi
abnormal bronkhiolus respiratorius terminalis.1,2 CCAM merupakan lesi
yang sering ditemukan (25%) diantara kelainan paru kongenital lainnya.
Pada bayi baru lahir atau anak-anak akan datang dengan distress
respirasi atau bahkan tetap asimptomatik hingga dewasa. CCAM juga
sering disebut sebagai CPAM (Congenital Pulmonary Airway
Malformation).1,2,3
CCAM merupakan lesi kistik kongenital selain kista bronkhogenik,
bronchopulmonary sequestration dan CLE (Congenital Lobar
Emphysema). Kasusnya jarang, ditemukan 1 dari 8.300-35.000 kelahiran.
Kista berukuran besar ditemukan sekitar 70% dari CCAM. 3,4 CCAM
banyak ditemukan pada bayi baru lahir dan tidak ditemukan perbedaan
predileksi baik pada laki-laki maupun perempuan. Tidak didapatkan
perbedaan predisposisi genetik, kecuali CCAM tipe 4 yang berkaitan
dengan sindroma familial pleuropulmonary blastoma.3,4,5
Deteksi kista paru banyak ditemukan saat pemeriksaan USG
prenatal rutin. Akan tetapi, kadang-kadang pada periode neonatal awal,
kista tidak terisi udara sehingga memberikan gambaran radiologi yang
mirip dengan airspace disease.3 Kista yang belum terisi udara kadang
memberikan gambaran konsolidasi atau massa solid sehingga sering
dikelirukan dengan suatu massa paru seperti pleuropulmonary
blastoma.4,5 Bahkan pada beberapa kasus menyerupai gambaran hernia
diafragma kongenital dengan loop usus yang terisi cairan apabila lesi
kistik terletak di basis paru.5
Diagnosis CCAM pun kadang dikelirukan dengan suatu infeksi paru
yang lebih banyak terjadi di negara berkembang. Pneumonia rekuren
lobus inferior yang sudah diterapi akan membentuk gambaran
pneumatocele yang mirip dengan lesi kistik pada CCAM. Menurut Sruthi,
et al, pernah dilaporkan seorang bayi berusia 15 bulan yang awalnya
asimptomatik, diantar ke rumah sakit akibat demam intermitten selama 21
hari.6 Bayi tersebut didiagnosis dengan pneumatocele akibat pneumonia
lobus bawah yang setelah diterapi antibiotik selama 3 minggu, rontgen
toraks menunjukkan gambaran lesi kistik multiple berdinding tipis yang
menyerupai gambaran CCAM.5,6
Radiologi memegang peranan penting dalam penentuan lesi kistik
kongenital pada paru. Gambaran malformasi bronkhopulmoner tersebut
sangat bervariasi dan sering overlapping satu sama lain. Variasi gambaran
diagnosis lesi kistik kongenital paru berperan penting dalam penentuan
penanganan dan prognosis suatu lesi. Beberapa lesi kistik kongenital paru
dilakukan tindakan pembedahan, sedangkan beberapa lesi kistik yang lain
hanya dilakukan tindakan konservatif. 5,6,7
BAB II
CONGENITAL CYSTIC ADENOMATOID MALFORMATION
2.1 Definisi CCAM
Istilah CCAM pertama kali digunakan oleh Chin dan Tang di Inggris
pada tahun 1949. CCAM merupakan kelainan perkembangan traktus
respiratorius bagian bawah yang ditandai dengan terbentuknya lesi kistik
dan proliferasi adenomatoid dari bronkhiolus terminalis selama
pembentukan fetus.7 Istilah Congenital Pulmonary Airway Malformation
telah direkomendasikan sebagai istilah lain dari CCAM karena lesi kistik
hanya terlihat pada 3 dari 5 tipe lesi dan adenomatoid hanya pada 1 tipe
(tipe 3).9,10
Kista paru didefinisikan sebagai ruangan di parenkim paru yang
berbatas tegas, berdinding tipis (< 2 mm) atau relatif tipis ( 4 mm). Lesi
kistik tersebut dapat berisi udara atau cairan, dengan diameter 1 cm.
Komposisi dinding kista ditentukan oleh komponen yang ditemukan pada
bronkhopulmoner (originnya), yaitu kelenjar bronkhus, kartilago atau epitel
alveolus.11,12,13
2.2 Epidemiologi
CCAM merupakan malformasi kongenital yang jarang. Namun
diantara semua lesi paru kongenital angka kejadian CCAM sekitar 95%. Di
Amerika Serikat, belum ada data yang valid mengenai frekuensi
kejadiannya. Sebuah tinjauan dari 48 kasus di Kanada, diperkirakan dari
1:25000 sampai 1:35000 pasien dapat terdiagnosis sebelum lahir. Hal ini
berkaitan dengan penggunaan ultrasonografi prenatal yang dapat
meningkatkan diagnosis CCAM.2
2. 2.1 Mortalitas / Morbiditas
Angka kematian akibat CCAM yaitu sebesar 25-30% dari semua
bayi baru lahir. Namun angka-angka tersebut tidak temasuk anak-anak
tanpa gejala yang hidup. Rata-rata angka kematian yang dilaporkan dari
diagnosis prenatal dengan CCAM berkisar 9-49%. Terlihat pada anak-
anak dengan gejala asimptomatik pada periode neonatal dengan
diagnosis lesi antenatal hampir 3-10% akan dapat bergejala pada tahun
pertama kehidupan.16
Sebuah studi memperkirakan 18 dari 21 pasien CCAM menunjukan
gejala pada pertengahan umur 2 tahun. Prognosis buruk terjadi pada lesi
mikrokista dan hydrops fetalis. Secara keseluruhan ukuran lesi sangat
mempengaruhi kemungkinan survival. Morbiditas utama berhubungan
dengan penekanan paru. Lesi yang besar dikaitkan dengan hipoplasia
paru yang dapat menyebabkan distres pernapasan saat kelahiran. Lesi
yang bilateral juga dapat memperburuk prognosis. 7
Salah satu studi mengatakan bahwa polihidramnion juga berkaitan
dengan hasil yang buruk. Potensi untuk transformasi keganasan diakui
dalam semua kasus CCAM. Apakah ya atau tidaknya reseksi lengkap dari
daerah yang terkena dapat menghilangkan risiko belum diketahui. 1
2.2.2 Umur
Identifikasi kasus CCAM biasanya terjadi saat dilakukan
pemerikaan ultrasonografi rutin pada masa prenatal. CCAM dapat terjadi
pada anak yang lebih tua maupun dewasa sebagai temuan insidensial
atau sekunder terhadap infeksi berulang. Dalam literatur disebutkan
bahwa kelainan ini dapat terjadi pada laki-laki dan perempuan dengan
frekuensi yang sama. Delapan puluh persen kasus terjadi pada bayi baru
lahir dan frekuensi yang terjadi sama antara bayi prematur dengan bayi
cukup bulan. Hanya 10% kasus yang terjadi setelah tahun pertama
kehidupan, dan sangat jarang CCAM ditemukan sebagai delay case
sampai usia dewasa. Usia tertua yang dilaporkan dengan kelainan paru-
paru ini adalah dengan usia 35 tahun.8,9
2.3 Etiologi
Penyebab yang mendasari CCAM tidak diketahui. CCAM yang
direseksi menunjukkan tanda-tanda proliferasi sel meningkat dan
penurunan apoptosis. Pada suatu penelitian ditemukan peran gen HOXB5
dan ekspresi protein, serta faktor-faktor pertumbuhan lainnya seperti
mesenchymal plateletderived growth factor-BB. 18
Perkembangan dari sistem pernapasan dimulai pada 3 minggu
kehamilan, dan penyimpangan dalam proses perkembangan dapat
menimbulkan sekelompok kelainan struktural disebut bronchopulmonary
foregut malformations. Jadi, proses dari embriogenesis abnormal selama
pertama 6-7 minggu kehamilan yang melibatkan perkembangan yang
salah dari cabang terminal inilah yang menyebabkan CCAM. 17
2.4 Klasifikasi
Berdasarkan Stocker, terdapat tiga tipe CCAM secara gambaran
radiologi:
1. Tipe I, 50% dari semua kasus CCAM dengan karakteristik kista
besar multiple dengan ukuran diameter 2-10 cm atau terkadang
berupa dominasi kista tunggal yang disertai kista kecil. Dinding
kista tersebut mengandung otot, jaringan elastin dan jaringan
fibrosa. Kista tersebut berhubungan dengan percabangan bronchial
di lobus yang rusak. Pada gambaran mikroskopik kista dibatasi
oleh garis tinggi. dengan sel epitel pseudostratifed kolumnar yang
dapat mengahasilkan musin. Jika kista tunggal dominan yang ada,
tipe ini akan diragukan dengan Congenital Lobar Emphysema
(CLE).
2. Tipe II, 40% dari kasus CCAM dengan karakteristik gabungan dari
kista multipel yang jarang melebihi ukuran diameter 1,2 cm. Kista
relatif seragam menyerupai bronkiolus. Kista ini berhubungan
dengan percabangan bronkial dan terisi udara saat bayi bernafas.
Secara mikroskopik kista ini dibatasi oleh kuboid bersilia ke sel
epitel kolumnar. Sekitar 30% tipe ini ini sering ditemukan
bersamaan dengan multipel kelainan kongenital lainnya, seperti
anomali pada ginjal, gastrointestinal, jantung, dan perubahan
osseus.
3. Tipe III, 10% dari semua kasus CCAM, terlihat sebagai lesi solid
dengan kista ukuran mikroskopik.6,12
2.5 Patofisiologi
Congenital Cystic Adenomatoid Malformation merupakan anomali
dari perkembangan paru yang terjadi pada awal pembentukan paru janin
yang terjadi pada minggu ke-5 dan minggu ke-8 kehamilan. Hal ini
dicurigai terjadi karena terhentinya maturasi paru janin yang disebabkan
oleh atresia pada bronkial primer atau kegagalan segmental bronkus
normal. Hal ini mengakibatkan displastik pada jaringan distal dari
bronkopulmonal dan segmen yang terkena. Jaringan displastik
bronkopulmonal terdiri dari struktus seperti bronkiolus dengan ukuran
yang beragam dengan banyak sel yang imatur disekitar jaringan paru.
Morfologi abnormal dari jaringan displastik paru dapat dibedakan dengan
jaringan paru yang normal terlihat dengan fetal ultrasonografi.3
Bentukan dari displasik jaringan paru berupa hipoplasia dan
agenesis pada paru fetus. Kista yang berukuran besar dapat menggeser
mediastinum yang akan menekan jantung dan vena cava inferior. Jika
tekanan menetap dan meningkat, akan terjadi non-imun fetal hydrop pada
fetus. Polihidramnion juga dapat terjadi karena penekanan esofagus fetus.
Pada saat lahir, distres pada sistem pernafasan tidak hanya terjadi akibat
hipoplasia atau agenesis, tapi juga karena terdapat kista abnormal yang
akan mengisi udara dan menekan jaringan paru normal disekitarnya
setelah bayi melakukan inspirasi pertama.3
2.6 Manifestasi Klinis
Dengan meningkatanya penggunaan ultrasonografi prenatal serta
perkembangan teknologi dan keterampilan, sebagian besar kasus CCAM
terdiagnosis prenatal. Gejala yang dimbul berupa distres pernapasan. Ini
adalah gejala yang paling sering terjadi pada bayi baru lahir yang
didiagnosis CCAM. Gejala yang terlihat berupa bayi mendengkur,
takipnea, dan kebutuhan oksigan ringan sampai kegagalan pernafasan
yang membutuhkan bantuan ventilator atau oksigenasi membran
ekstrakorporal (ECMO). Beberapa mekanisme awal terjadinya sulit
bernapas yaitu hipoplasia paru terlihat sebagai lanjutan dari CCAM yang
luas, pergeseran mediastinum dapat menekan jantung dan fungsi
pernapasan, pneumotorak spontan dapat terjadi dan udara yang
terperangkap dalam kista menyebabkan gangguan fungsi jaringan paru. 14
Gejala lainya berupa Infeksi saluran nafas berulang. Anak dengan
CCAM berisiko terjadi infeksi paru berulang karena kompresi bronkial.
Gejala lain berupa hemoptisis, dyspneu dan nyeri dada.14
Beberapa dari CCAM dapat tidak menimbulkan gejala. Neonatal
yang telah terdiagnosis dengan CCAM pada masa prenatal, namun saat
lahir dapat tidak menunjukkan gejala. Dalam beberapa kasus, massa tidak
dapat terlihat dengan foto polos toraks biasa dan terlihat dengan CT scan.
Kita mengetahui bahwa massa tersebut tidak akan regresi setelah
kelahiran. Namun pada beberapa kasus dilaporkan bahwa terjadinya
keganasan dapat terjadi bersamaan dengan CCAM berupa
rhabdomiosarkoma embrional, karsinoma bronkioalveolar, dan blastoma
paru. Banyak dari pasien berakhir pada usia 15 bulan dan keganasan
cenderung terjadi pada CCAM tipe II. Neonatus dengan CCAM kadang
juga dapat terjadi pneumotoraks spontan disertai dengan multipel kista.6,15
2.7 Pemeriksaan Penunjang
CCAM dapat dideteksi menggunakan ultrasonography prenatal.
Namun, setelah lahir, pemeriksaan yang dapat dilakukan pertama kali
adalah foto polos dada. USG setelah lahir dapat dilakukan untuk penilaian
yang lebih rinci, terutama untuk lesi tipe III. Biasanya, CT scan toraks tidak
diperlukan untuk diagnosis CCAM pada periode neonatal. Paling sering,
diagnosis CCAM dapat dibuat dengan menggunakan radiografi polos,
yang mana muncul sebagai massa yang terdiri dari berbagai kista yang
mengandung udara tersebar tidak teratur di seluruh segmen paru. Massa
ruang menempati, meluas ke hemitoraks ipsilateral dan pergeseran
mediastinum ke sisi kontralateral. CT scan dapat digunakan untuk
mendiagnosis kasus membingungkan yang dihadapi pada masa bayi,
masa kanak-kanak hidup, atau orang dewasa atau untuk operasi
perencanaan. Selain itu, CT scan juga diperlukan untuk penentuan jenis
dan luasnya lesi.14
2.7.1 Foto Polos Toraks
Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan pertama yang diperlukan
pada nenonatus dengan gejala respiratory distress dan temuan dapat
bermacam-macam sesuai dengan tipe dari CCAM. Terkadang, pada foto
polos toraks menunjukkan massa padat, yang mana seiring berjalannya
waktu, berubah menjadi air filled cystic spaces. Tampilan classical
radiological pada foto polos torak adalah multiple air filled cystic spaces
yang biasanya terdapat pada satu lobus intersposed diantara kista.
Perubahan dari lesi menjadi air filled cystic spaces ini dapat dilakukan
dengan membuat foto polos dada serial.5
Gambar 2.1 Foto
thorak AP CCAM
pada hari pertama
kelahiran dengan
dense lungs dan memberikan kesan paru-paru kanan lebih sedikit
bervolume daripada paru-paru yang kiri.
Gambar 2.2 Foto torak AP hari kedua kelahiran (tampak area kista
berisi udara yang menempati lobus atas paru kanan)
Gambar 2.3 Foto thorak CCAM dengan kista bilateral (tampak lesi
yang lebih besar pada sisi kiri menekan mediastinum kekearah
kontalateral, menyebabkan kongenital skoliosis
2.7.2 USG
Ultrasonografi prenatal akurat dalam mendiagnosis dari CCAM.
Lesi yang didiagnosis saat prenatal, mungkin dapat asimptomatik saat
lahir (71%) dan umumnya ditemukan gambaran radiografi yang normal
(57%). Umumnya, gambaran radiografi terlihat jelas pada individu yang
simptomatik, namun tidak jelas pada individu yang asimptomatik.
Sebagian besar CCAM didiagnosis pada 16-22 minggu umur kehamilan
saat pemeriksaan rutin dengan USG.3,14
Gambaran USG Prenatal berupa terlihat masa solid atau kistik,
dengan mediastinum bergeser. Polyhydramnion dapat terjadi pada 66%
kasus akibat kompresi esofagus. Fetal ascites (71% kasus) dan Fetal
hydrop (8-47% kasus) dapat terlihat pada pemeriksaan USG.14
Gambar 2.4 Ultrasonografi prenatal gambar a. Pada posisi oblik
terlihat masa kista besar pada hemitoraks kiri dengan septal interna.
Gambar b. Posisi transversal terlihat masa kista besar pada hemitoraks
kiri.
2.7.3 CT Scan
. CT scan dapat digunakan untuk mendiagnosis kasus-kasus yang
membingungkan. CT Scan lebih akurat dibandingkan radiografi atau
ultrasonografi dalam mengklasifikasikan jenis dari CCAM.
Gambar 2.5 CT-scan Toraks dengan Kista Multiple pada Lobus Paru
Kanan atas
Gambar 2.6 CT-scan Paru dengan bilateral CCAM
Gambar 2.7 CT scan potongan axial. Lung window menunjukkan multiple
air filled cyst pada lobus kanan bawah dengan parenkim paru-paru normal
diantaranya.
Biasanya pola radiografi muncul sebagai massa jaringan lunak
yang meluas mengandung beberapa massa kistik yang berisi udara dari
berbagai ukuran dan juga dapat menunjukkan pergeseran dari
mediastinum. Pada mulanya pada awal kehidupan, dapat muncul
homogeneous fluid-opacity pulmonary mass dan berkembang menjadi
gambaran radiografi kistik berisi udara. Penampilan padat awal
merupakan hasil dari pengosongan tertunda cairan alveolar melalui
bronkus maupun limfatik dan sistem sirkulasi. Pada pasien dengan
CCAM, pola di paru-paru menunjukkan beberapa daerah radiolusen yang
sangat bervariasi dalam ukuran dan bentuk. Selain itu, kista dipisahkan
satu sama lain oleh helai jaringan paru yang opak. Keterlibatan paru-paru
mungkin muncul honeycombed atau spongy, namun terkadang 1 kista
yang besar dapat memburamkan gambaran yang lain. Selain itu, udara
yang terjebak dalam ruang kistik dapat menyebabkan pembesaran yang
cepat dari CCAM.2
Temuan pada CT berkaitan dengan temuan patologi terlihat area
kista kecil (diameter <2 cm) terlihat dengan abnormalitas lainnya (area
kista besar, konsolidasi, atau atenuasi rendah) paling sering ditemukan.
Kemudian terlihat kista besar multipel (diameter >2 cm) terlihat tunggal
dengan abnormalitas atau dengan abnormalitas lainnya (area kista besar,
konsolidasi, atau atenuasi rendah). Area atenuasi rendah merupakan
kelompok mikrokista serta gambaran air fluid level dapat terlihat pada
beberapa [Link] ini dengan predominan tipe I, tipe II atau kombinasi
keduanya.14
2.8 Diagnosis diferensial
1. Congenital Lobar Emphysema (CLE)
Kelainan ini ditemukan dominan pada laki-laki yang dihubungkan
dengan penyakit jantung congenital seperti PDA dan VSD.
Predileksi kelainan ini sering terjadi pada lobus atas paru. Pada
pemeriksaan radiografi toraks ditemukan gambaran translusen
yang meningkat, hiperinflasi dan air trapping , pergeseran
mediastinal, dan peningkatan corakan vascular. Selain itu
ditemukan kolaps pada paru ipsilateral dan atelektasis paru
kontralateral.
Gambar 2.8 Gambaran foto toraks AP Lateral pada CLE
Pada pemeriksaan radiografi toraks di atas tampak adanya
peningkatan translusen pada paru kiri dengan pergeseran mediastinum ke
kanan. Pada proyeksi lateral ditemukan adanya hiperlusen di daerah
lobus paru kiri dengan pergeseran fisura obliq ke posteroinferior.
Gambar 2.9 CT scan potongan axial pada CLE
2. Pneumotocele
Pada pneumatocele terlihat daerah kista berdinding tipis di
dalam parenkim paru yang mengandung udara. Selain itu
kelainan ini sering ditemukan bersamaan dengan infeksi. Pada
tahap awal pemeriksaaan radografi torak, ditemukan
konsolidasi yang sangat sulit dibedakan dengan abses.
Beberapa gambaran yang sangat mirip abses berupa dinding
yang dan regular, garis tepi halus, dan mengandung sedikit
cairan.
Gambar 2.10 Foto toraks AP pada pneumotocele. Pada tahap awal
(gambar kiri) ditemukan konsolidasi di lobus kanan paru atas, sedangkan
pada foto kanan yakni seminggu setelahnya ditemukan kista bulat dengan
dinding tipis di lobus kanan paru atas.
Gambar 2.11 CT scan lung windows potongan axial pada
pneumonia dengan pneumotocele
2. Hernia Diafragmatika Kongenital
Hemitoraks kiri primer
Hemidiafragma kiri tidak terdeteksi
Gambaran usus berisi udara terlihat di hemitoraks
Tanda udara dan air lebih sedikit terjadi dibandingkan CCAM
Gambar 2.12 Foto Toraks AP pada Hernia Diafragma Kongenital,
terlihat herniasi dari hepar dan usus besar yang msuk ke
hemitoraks kanan dengan pergeseran jantung dan mediastinum ke
sisi kiri
2.9 Tatalaksana
Pembedahan dengan eksisi pada lesi merupakan terapi utama pada
anak-anak dengan gejala distress pernapasan. Untuk menghindari
komplikasi serius dari CCAM , sebaiknya dilakukan pengangkatan
sebelum bayi berumur satu tahun. Sedangkan pada anak-anak dengan
gejala asimptomatik disarankan dilakukan pengangkatan lesi karena
berisiko terjadinya keganasan.6
Tatalaksana pilihan untuk CCAM adalah lobektomi, operasi akan
dilakukan pada usia sekitar 2 sampai 6 bulan. Thoracocentesis
memungkinkan drainase kista besar dengan dekompresi segera dari
CCAM tersebut; Namun, cairan dengan cepat terakumulasi kembali,
sehingga tidak adanya manfaat dari prosedur ini. Pilihan lain adalah
dengan menempatkan shunt thoracoamniotic yang terus mengalirkan
cairan dari CCAM ke amniotic space. Inilah yang paling bermanfaat ketika
CCAM terdiri dari kista besar yang berisi cairan. Komplikasi seperti
obstruksi dan shunt dislodgement mungkin dapat terjadi.17
2.10 Komplikasi
Komplikasi mungkin asimtomatik, sampai ketika infeksi,
pneumotoraks atau degenerasi menjadi keganasan dapat terjadi. Selain
itu, juga dapat menyebabkan gangguan pernapasan, pergeseran
mediastinum, hipoplasia jaringan normal paru-paru, polihidramnion dan
penekanan kardiovaskular yang menyebabkan fetal hydrops dan
kematian. Jika hidrops berkembang akan menyebabkan sedikit
peningkatan risiko bagi ibu untuk terjadinya "mirror syndrome.". 17
2.11Prognosis
Prognosis biasanya optimal dan baik. Temuan prognostik yang buruk
terjadi pada fetalis hidrops, ascites, polihidramnion, dan keterlibatan paru
bilateral. Hal ini juga harus disebutkan bahwa Congenital cystic
adenomatoid malformation (CCAM) memiliki prognosis yang berbeda
sesuai dengan jenis.4 progonis masing-masing tipe secara berturut-turut
sebagai berikut tipe I, 69% baik setelah reseksi, tipe II prognosis buruk,
yang terkait dengan abnormalitas lain yang berat, sedangkan tipe III
prognosis buruk akibat hipoplasi paru dan hydrops.
BAB III
KESIMPULAN
CCAM (Congenital cystic adenomatoid malformation) pada janin
tetap menjadi tantangan bagi ahli obstetri, ahli neonatologi, dan ahli bedah
anak. Perbaikan dalam pemantauan serial antenatal diperlukan dan akan
membantu dalam meningkatkan prediksi hasil. Kombinasi antara MRI
prenatal dan penelitian ultrasound serial akan mengoptimalkan surveilans
janin dan membantu perawatan pascakelahiran. Pada neonatus dengan
CCAM tanpa gejala dimana intervensi bedah tidak dilakukan, mereka
harus ditindaklanjuti hingga masa remaja dan sampai dewasa, karena
dapat bermanifestasi dengan perubahan ganas.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kim WS, Lee KS, Kim IO, Suh YL. Congenital Cystic Adenomatoid
Malformation: CT-Pathologic Correlation. JR. 1997, 168: 47-53
2. Imaging in the Diagnosis of Fetal Anomalies, Chapter 18, p 286
3. Jain A, Singla S, Kumar A. Congenital Cystic Lung Diseases.
Journal of Clinical Imaging Science. 2013, vol 3
4. Iavazzo C, [Link], A.M Bacanu, et al. Congenital Cystic
AdenomatoidMalformation: Is There a Need for Pregnancy
Termination?. Available at
[Link] . Diakses pada
20 Agustus 2017
5. Jana, M, Arun K. Radiologic Evolution of Congenital Cystic
Adenomatoid Malformation in a Neonate. Available at
[Link] . Diakses pada 21
Agustus 2017.
6. Jerald P, Thomas L, Jack O. Caffeys Pediatric Diagnostic
[Link] Edition. Mosby: Philadelphia. 2004
7. Kotecha S, Barbato A, Bush A, Claus F, Davenport M, Delacourt C,
et al. Antenatal and postnatal management of congenital cystic
adenomatoid malformation. Paediatr Respir Rev. Sep
2012;13(3):162-70;.
8. Makhija Z, Moir CR, Allen MS, Cassivi SD, Deschamps C, Nichols
FC 3rd, et al. Surgical management of congenital cystic lung
malformations in older patients. Ann Thorac Surg. May
2011;91(5):1568-73; discussion 1573.
9. Morelli L, Irene P, Stefano et al. Pulmonary congenital cystic
adenomatoid malformation, type I, presenting as a single cyst of the
middle lobe in an adult: case report. Available at
[Link]
[Link]. Diakses pada 20 Agustus 2017.
10. Staatz G, D Honnef, W Piroth, et al. Direct Diagnosis in Radiology
Pediatric Imaging. Thieme: Germany
11. Sood, M. Congenital Cystic Adenomatoid Malformation of the Lung:
A Case Report. Available at
[Link] .
Diakses pada 20 Agustus 2017. Hindawi Publishing Corporation
12. Stone A, Michael R. Cystic Adenomatoid Malformation. Available at
[Link] Diakses
pada 20 Agustus 2017.
13. Sung W, Soo K, Kim O, et al. Congenital cystic Adenomatoid
Malformation of the Lung. Available at
[Link] Diakses
pada 20 Agustus 2017.
14. Tawil MI, Pilling DW. Congenital cystic adenomatoid malformation:
is there a difference between the antenatally and postnatally
diagnosed cases?. Pediatr Radiol. Jan 2005;35(1):79-84.
15. Wader J, Neha G, Sujata K. Congenital Cystic Adenomatoid
Malformation (CCAM): A Case Report. Available at
[Link]/vol3_current_issue_3/[Link]. Diakses pada tanggal
21 Agustus 2017.
16. Wang X, Wolgemuth DJ, Baxi LV. Overexpression of HOXB5, cyclin
D1 and PCNA in congenital cystic adenomatoid malformation. Fetal
Diagn Ther. 2011;29(4):315-20.
17. Congenital diaphragmatic hernia imaging oleh ;ali hekmatnia, md;
chief editor: eugene c lin, md
[Link]