LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN MINYAK DAN GAS BUMI
DISTILASI ASTM D-86 (2)
Disusun Oleh :
Kelompok 3
Ahmad Buhori (061440410768)
Jogi Abednego Samosir (061440410775)
M. Rafli (061440410778)
Rizki Meilani (061440410782)
Wenny Septiani (061440410786)
Yosirham Abdu Salam (061440410788)
Monica Ayu Ningrum (061440411703)
Kelas : 5 EG. A
Dosen Pembimbing : Ir. Selastia Yuliati, [Link].
PROGRAM STUDI DIV TEKNIK ENERGI
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PALEMBANG
2016
DISTILASI ASTM D-86 (2)
I. TUJUAN
- Menjelaskan pengertian dan peranan titik didih petroleum eter berdasarkan ASTM D-86.
- Menentukan titik didih yan dimiliki oleh petroleum eter.
- Menyelesaikan perhitungan untuk menentukan panas laten penguapan.
II. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN
a. Alat yang digunakan
- Double necked round bottom flask
- Heating mantel, 1000 ml
- Distillation top after clasein
- Liebig cooler
- Distilation adapter
- Graduated cylinder, 100 ml
- Thermometer
- Water batch
- Klem
- Bisshed
- Joint clip
b. Bahan yang digunakan
- Petroleum Eter
- Es batu
- Air
III. DASAR TEORI
3.1 Analisa Minyak Bumi
Metode yang banyak dipakai untuk melakukan pemeriksaan terhadap minyak dan
produknya adalah :
1. ASTM (American Society for Testing Material)
2. API (American Petroleum Institute)
3. IP (Institude de Petrol)
4. ISI (Indian Spesification Institute)
Distilasi ASTM (American Society for Testing and Materials)
Pemeriksaan distilasi laboratorium yang dilakukan untuk gasoline, nafta dan kerosin
adalah dengan metode ASTM D-86, untuk bensin alam dengan ASTM D-216, dan untuk gas oil
dengan ASTM D-158. Distilasi laboratorium dilakuakn pada volume 100 ml dengan kecepatan
tetesan yang keluar adalah 5 ml/menit. Suhu uap mula mula menetes (setelah mengembun)
disebut IBP (Initial Boiling Pint).
Distilasi ASTM merupakan informasi untuk operasi di kilang bagaimana fraksi fraksi
seperti komponen gasoline, bahan bakar jet, minyak diesel dapat diambil dari minyak mentah
yang disajikan melalui kinerja dan volatilitas dalam bentuk persen penguapannya.
Distilasi ASTM dilaksanakan dalam suatu labu Engler. Pada distilasi ini, tidak
dipergunakan struktur tray maupun packing serta refluks yang ada merupakan efek kehilangan
panas (heat loss) pada struktur leher labu engler. Metode distilasi ini paling banyak digunakan
karena biayanya murah, lebih sederhana, membutuhkan jumlah sample yang sedikit, serta waktu
pengujian yang lebih singkat dibandingkan distilasi TBP (kurang lebih 1/10 kali waktu pengujian
TBP). Distilasi ASTM dilakukan guna mengetahui kualitas produk (product quality control).
Beberapa metode distilasi ASTM adalah sebagai berikut:
a. ASTM method D86
Metode distilasi ini digunakan untuk menguji motor gasoline, aviation gasoline, aviation
turbine, naphta, kerosine, diesel, distillate fuel oil dan produk-produk yang serupa. Pengujiannya
dilakukan pada tekanan atmosferis. Digunakan termometer yang dipaparkan langsung dalam
labu engler dan hasil pembacaannya tidak ada koreksi stem.
b. ASTM method D216
Metode distilasi ini digunakan untuk menguji natural gasoline. Dilakukan pada tekanan
atmosferis.
c. ASTM method D1160
Metode distilasi ini digunakan untuk menguji produk migas fraksi berat yang dapat
diuapkan secara parsial maupun keseluruhan pada suhu maksimal 750 F pada tekanan absolut
hingga 1 mmHg dan dikondensasikan menjadi fase liquid pada tekanan pengujian. Tekanan
operasi pengujian berkisar antara 1-760 mmHg absolut. Temperatur diukur dengan perangkat
thermocouple.
d. ASTM method D2887
Metode ini merupakan metode simulasi distilasi yang dilakukan dengan gas
chromatography (GC). Metode ini merupakan metode yang paling sederhana yang dapat
melakukan analisis cut point dan boiling range fraksi hidrokarbon dengan ketelitian tinggi.
Distilasi TBP (True Boiling Point)
Distilasi TBP dilakukan dalam sebuah kolom distilasi dengan 15 - 100 plates(trays)
teoritis dengan reflux ratio yang tinggi (5 : 1 atau lebih). Tingkat fraksinasi yang tinggi pada
pengujian ini memberikan distribusi komponen campuran yang akurat. Kekurangan distilasi TBP
adalah tidak adanya standadisasi alat dan prosedur pengujian. Meskipun demikian, variasi antara
laboratorium pengujian yang ada hanya sedikit karena pemisahan komponen campuran dapat
tercapai dengan baik dengan pengujian yang dilakukan. Distilasi TBP ini dilakukan untuk
mengetahui % volume produk yang diperoleh dari cutting kurva berdasarkan cut point produk
yang dihaapkan.
Distilasi EFV (Equilibrium Flash Vaporization)
Distilasi EFV sangat identik dengan distilasi pada unit distilasi yang sebenarnya. Oleh
karenanya hasil pengujian distilasi EFV ini dijadikan dasar penentuan kondisi operasi. Pada
pengujian distilasi EFV ini, terjadi kesetimbangan vapor-liquid. Namun demikian, proses
pengujian yang menargetkan terjadinya kesetimbangan vapor-liquid tersebut memakan waktu
yang relatif lebih lama dibandingkan metode pengujian yang lainnya. Metode ini juga
bersesuaian dengan perhitungan secara flash (flash calculation method). Distilasi EFV ini
berfungsi untuk menentukan kondisi operasi unit distilasi.
a. Panas Laten Penguapan
Panas laten penguapan yang lazim disebut panas laten didefinisikan sebagai panas yang
dibutuhkan untuk menguapkan 1 lb cairan pada titik didihnya pada tekanan atmosfer. Penguapan
dapat terjadi pada tekanan lain atau suhu lain. Panas laten berubah dengan berubahnya suhu atau
tekanan dimana terjadi penguapan. Panas laten pada tekanan atmosfir untuk fraksi minyak bumi
dapat dilihat pada grafik 5-5 s/d 5-9 Nelson.
b. Titik Didih
Sifta sifat fisik minyak mentah maupun produknya mempunyai hubungan yang erat
dengan titik didih rata rata seperti terlihat pada Table 1. Titik didih rata rata (MABP = Molal
Average Boiling Point) lebih memuaskan dibandingkan dengan penguapan. Hubungan titik didih
rarta rata dapat dilihat pada grafik 5-4 dan 5-5 Nelson.
Titik didih rata rata volumetrik (VABP = Volume Average Boiling Point) langsung
dapat dihitungdari data distilasi dalam bentuk persen volume distilat terhadap suhu penguapan,
baik pada distilasi TBP maupun distilasi ASTM seperti terlihat pada Tabel 2.
Table 1. Hubungan titik didih dan sifat fisik
No Macam Titik Didih Sifat sifat fisik
1 Titik didih rata rata volume (VABP) Viskositas dan panas jenisn ( dan Cp)
2 Titik didih rarta rata berat (WABP) Suhu kritis nyata (Tc)
3 Titik didih rata rata molal (MABP) Suhu kritis pseudo (T/Tc+) dan ekspansi
termis (kt+)
4 Titik didih rata rata (MnABP) Berat molekul (M), factor karakteristik (K),
berat jenis (), tekanan kritis pseudo (P/+Pc)
dan panas pembakaran (Hc)
Tabel 2. VABP berbagai minyak
Jenis Minyak Grafik Distilasi
TBP ASTM
Minyak Mentah 20 + 50 + 70 30 + 50 +70
tv = tv =
3 3
Fraksi fraksi tv =
0 + 450 + 100
tv =
10 + 250 + 90
6 4
Titik didih rata rata yang lain dapat dihitung menggunakan VABP dan sudut garis
miring (slpoe) dari grafik 5 4 dan 5 5 Nelson. Slpoe dapat dihitung dengan rumus sebagai
70 10
berikut : S = , oF / %
70 10
Hubungan antara titik didih rata rata molal ( MABP) dan titik didih rata rata volumetrik
(VABP) terhadap sifat sifat fisik lain seperti o API gravity, berat molekul, faktor karakteristik,
suhu kritis dan tekanan kritis, dapat dilihat pada grafik 5 9 s/d 5 12 Nelson.
3.2 Distilasi
Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan
perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) [Link] penyulingan,
campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke
dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu.
Metode ini termasuk sebagai unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini
didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada
titik didihnya. Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum [Link]
pertama kali ditemukan oleh kimiawan Yunani sekitar abad pertama masehi yang akhirnya
perkembangannya dipicu terutama oleh tingginya permintaan akan spritus. Hypathia dari
Alexandria dipercaya telah menemukan rangkaian alat untuk distilasi dan Zosimus dari
Alexandria-lah yang telah berhasil menggambarkan secara akurat tentang proses distilasi pada
sekitar abad ke-4. Bentuk modern distilasi pertama kali ditemukan oleh ahli-ahli kimia Islam
pada masa kekhalifahan Abbasiah, terutama oleh Al-Razi pada pemisahan alkohol menjadi
senyawa yang relatif murni melalui alat alembik, bahkan desain ini menjadi semacam inspirasi
yang memungkinkan rancangan distilasi skala mikro, The Hickman Stillhead dapat terwujud.
Tulisan oleh Jabir Ibnu Hayyan (721-815) yang lebih dikenal dengan Ibnu Jabir menyebutkan
tentang uap anggur yang dapat [Link] juga telah menemukan banyak peralatan dan proses
kimia yang bahkan masih banyak dipakai sampai saat kini. Kemudian teknik penyulingan
diuraikan dengan jelas oleh Al-Kindi (801-873).
Salah satu penerapan terpenting dari metode distilasi adalah pemisahan minyak mentah
menjadi bagian-bagian untuk penggunaan khusus seperti untuk transportasi, pembangkit listrik,
pemanas, [Link] didistilasi menjadi komponen-komponen seperti oksigen untuk penggunaan
medis dan helium untuk pengisi [Link] juga telah digunakan sejak lama untuk
pemekatan alkohol dengan penerapan panas terhadap larutan hasil fermentasi untuk
menghasilkan minuman suling.
Ada 4 jenis distilasi, yaitu distilasi sederhana, distilasi fraksionasi, distilasi uap, dan
distilasi vakum.
a. Distilasi Sederhana
Pada distilasi sederhana, dasar pemisahannya adalah perbedaan titik didih yang jauh atau
dengan salah satu komponen bersifat volatil. Jika campuran dipanaskan maka komponen yang
titik didihnya lebih rendah akan menguap lebih dulu. Selain perbedaan titik didih, juga
perbedaan kevolatilan, yaitu kecenderungan sebuah substansi untuk menjadi [Link] ini
dilakukan pada tekanan [Link] distilasi sederhana digunakan untuk memisahkan
campuran air dan alkohol.
b. Distilasi Uap
Distilasi uap digunakan pada campuran senyawa-senyawa yang memiliki titik didih
mencapai 200 C atau [Link] uap dapat menguapkan senyawa-senyawa ini dengan suhu
mendekati 100 C dalam tekanan atmosfer dengan menggunakan uap atau air [Link]
yang fundamental dari distilasi uap adalah dapat mendistilasi campuran senyawa di bawah titik
didih dari masing-masing senyawa [Link] itu distilasi uap dapat digunakan untuk
campuran yang tidak larut dalam air di semua temperatur, tapi dapat didistilasi dengan
[Link] dari distilasi uap adalah untuk mengekstrak beberapa produk alam seperti minyak
eucalyptus dari eucalyptus, minyak sitrus dari lemon atau jeruk, dan untuk ekstraksi minyak
parfum dari [Link] dipanaskan melalui uap air yang dialirkan ke dalam campuran
dan mungkin ditambah juga dengan pemanasan. Uap dari campuran akan naik ke atas menuju ke
kondensor dan akhirnya masuk ke labu distilat.
c. Distilasi Vakum
Distilasi vakum biasanya digunakan jika senyawa yang ingin didistilasi tidak stabil,
dengan pengertian dapat terdekomposisi sebelum atau mendekati titik didihnya atau campuran
yang memiliki titik didih di atas 150 C. Metode distilasi ini tidak dapat digunakan pada pelarut
dengan titik didih yang rendah jika kondensornya menggunakan air dingin, karena komponen
yang menguap tidak dapat dikondensasi oleh air. Untuk mengurangi tekanan digunakan pompa
vakum atau aspirator. Aspirator berfungsi sebagai penurun tekanan pada sistem distilasi ini
d. Destilasi Fraksinasi
1. Pengertian Umum
Destilasi fraksinasi merupakan suatu teknik pemisahan untuk larutan yang mempunyai
perbedaan titik didih yang tidak terlalu jauh yaitu sekitar 30oC atau lebih. Dalam destilasi
fraksional atau destilasi bertingkat proses pemisahan parsial diulang berkali-kali dimana setiap
kali terjadi pemisahan lebih lanjut. Hal ini berarti proses pengayaan dari uap yang lebih volatil
juga terjadi berkali-kali sepanjang proses destilasi fraksional itu berlangsung.
2. Karakteristik Bahan Olahan
Karakteristik bahan pada destilasi fraksinasi adalah cairan yang mempunyai perbedaan
titik didih yang tidak terlalu jauh yaitu sekitar 30oC atau lebih . Aplikasi dari distilasi jenis ini
digunakan pada industri minyak mentah, untuk memisahkan komponen-komponen dalam
minyak mentah
3. Dasar Teori (Mekanisme Pemisahan)
Destilasi terfraksi ini berbeda dengan destilasi biasa, karena terdapat suatu kolom
fraksionasi dimana terjadi suatu proses refluks. Proses refluks pada destilasi ini dilakukan agar
pemisahan campuran dapat terjadi dengan baik. Kolom fraksionasi berfungsi agar kontak antara
cairan dengan uap terjadi lebih lama. Sehingga komponen yang lebih ringan dengan titik didih
yang lebih rendah akan terus menguap dam masuk kondensor. Sedangkan komponen yang lebih
besar akan kembali kedalam labu destilasi.
Perbedaan distilasi fraksionasi dan distilasi sederhana adalah adanya kolom
[Link] kolom ini terjadi pemanasan secara bertahap dengan suhu yang berbeda-beda pada
setiap [Link] yang berbeda-beda ini bertujuan untuk pemurnian distilat yang lebih
dari plat-plat di [Link] ke atas, semakin tidak volatil cairannya.
4. Peralatan Destilasi Fraksinasi (skala industri)
Kolom fraksionasi: digunakan untukmemberikan luas permukaan yang besar agar uap
yang berjalan naik dan cairan yang turun dapat [Link] praktek, kolom tutup
gelembung kurang efektif untuk pekerjaan di laboratorium. Hasilnya relatif terlalu sedikit bila
dibandingkan dengan besar bahan yang tergantung di dalam kolom. Dengan kata lain kolom
tutup gelembung memiliki keluaran yang kecil dengan sejumlah besar bahan yang masih tertahan
di dalam kolom.
Keefektifan kolom ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti cara pengaturan
materi di dalam kolom, pengaturan temperatur, panjang kolom dan kecepatan penghilangan hasil
destilasi. Satuan dasar efisiensi adalah tinggi setara dengan sebuah lempeng teoritis (HETP atau
H). Besarnya H sama dengan panjang kolom dibagi dengan jumlah plat teoritis. Banyaknya plat
teoritis H bergantung pada sifat campuran yang dipisahkan.
5. Proses Destilasi Fraksinasi
Mula-mula minyak mentah dipanaskan dalam aliran pipa dalam furnace (tanur) sampai
dengan suhu [Link] mentah yang sudah dipanaskan tersebut kemudian masuk kedalam
kolom fraksinasi pada bagian flash chamber (biasanya berada pada sepertiga bagian bawah
kolom fraksinasi). Untuk menjaga suhu dan tekanan dalam kolom maka dibantu pemanasan
dengan steam (uap air panas dan bertekanan tinggi).
Minyak mentah yang menguap pada proses destilasi ini naik ke bagian atas kolom dan
selanjutnya terkondensasi pada suhu yang berbeda-beda. Komponen yang titik didihnya lebih
tinggi akan tetap berupa cairan dan turun ke bawah, sedangkan yang titik didihnya lebih rendah
akan menguap dan naik ke bagian atas melalui sungkup-sungkup yang disebut sungkup
gelembung. Makin ke atas, suhu yang terdapat dalam kolom fraksionasi tersebut makin rendah,
sehingga setiap kali komponen dengan titik didih lebih tinggi akan terpisah, sedangkan
komponen yang titik didihnya lebih rendah naik ke bagian yang lebih atas lagi. Demikian
selanjutnya sehingga komponen yang mencapai puncak adalah komponen yang pada suhu kamar
berupa [Link] yang berupa gas ini disebut gas petroleum, kemudian dicairkan dan
disebut LPG (Liquified Petroleum Gas).Fraksi minyak mentah yang tidak menguap menjadi
[Link] minyak bumi meliputi parafin, lilin, dan [Link]-residu ini memiliki rantai
karbon sejumlah lebih dari 20.
3.3 Proses Pengolahan Minyak Bumi
1. Destilasi atau Fraksinasi
Tahap pertama yang harus dilalui dalam proses pengolahan minyak bumi mentah adalah
destilasi. Destilasi (sering pula disebut fraksinasi) adalah proses pemisahan fraksi-fraksi dalam
minyak bumi berdasarkan perbedaan titik didih. Proses destilasi biasanya dilakukan pada sebuah
tanur tinggi yang kedap udara. Minyak bumi mentah dialirkan ke dalamnya untuk dipanaskan
dalam tekanan 1 atmosfer pada suhu 370CPemanasan minyak mentah ini kemudian membuat
fraksi-fraksi dalam minyak bumi terpisah. Fraksi yang memiliki titik didih terendah akan berada
di bagian atas tanur, sedangkan fraksi yang memiliki titik didih tinggi akan berada di dasar tanur.
2. Cracking
Cracking adalah tahapan pengolahan minyak bumi yang dilakukan untuk menguraikan molekul-
molekul besar senyawa hidrokarbon menjadi molekul-molekul hidrokarbon yang lebih kecil,
misalnya pengolahan fraksi minyak solar atau minyak tanah menjadi bensin. Proses cracking
dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu cara panas (thermal cracking), cara katalis (catalytic
cracking), dan hidrocracking.
3. Reforming
Setelah dilakukan pemurnian melalui cracking, tahap pengolahan minyak bumi dilanjut
dengan proses reforming. Reforming adalah proses merubah struktur molekul fraksi yang
mutunya buruk (rantai karbon lurus) menjadi fraksi yang mutunya lebih baik (rantai karbon
bercabang) yang dilakukan dengan penggunaan katalis atau proses pemanasan. Karena dilakukan
untuk merubah struktur molekul, maka proses ini juga bisa disebut sebagai proses isomerisasi.
4. Alkilasi dan Polimerisasi
Setelah diperbaiki struktur molekulnya, fraksi-fraksi yang dihasilkan dari pengolahan
minyak bumi mentah kemudian melalui proses alkilasi dan polimerisasi. Alkilasi adalah tahap
penambahan jumlah atom pada fraksi sehingga molekul fraksi menjadi yang lebih panjang dan
bercabang. Proses alkilasi menggunakan penambahan katalis asam kuat seperti HCl, H2SO4,
atau AlCl3 (suatu asam kuat Lewis). Sedangkan polimerisasi adalah tahap penggabungan
molekul-molekul kecil menjadi molekul yang lebih besar dalam fraksi sehingga mutu dari
produk akhir akan lebih meningkat.
5. Treating
Treating adalah proses pemurnian fraksi minyak bumi melalui eliminasi bahan-bahan
pengotor yang terikut dalam proses pengolahan atau yang berasal dari bahan baku minyak
mentah. Bahan-bahan pengotor yang dihilangkan dalam proses treating tersebut antara lain bau
tidak sedap melalui copper sweetening dan doctor treating, lumpur dan warna melalui acid
treatment, parafin melalui dewaxing, aspal melalui deasphalting, dan belerang melalui
desulfurizing.
6. Blending
Tahap terakhir yang dilalui dalam proses pengolahan minyak bumi sehingga
menghasilkan bahan siap guna adalah proses blending. Blending adalah tahapan yang dilakukan
untuk meningkatkan kualitas produk melalui penambahan bahan-bahan aditif ke dalam fraksi
minyak bumi. Bahan-bahan aditif yang digunakan tersebut salah satunya adalah tetra ethyl lead
(TEL). TEL adalah bahan aditif yang digunakan menaikkan bilangan oktan bensin.
IV. PROSEDUR KERJA
1. Menyusun rangkaian alat.
2. Memberikan silicon grease pada setiap sambungan alat.
3. Mengisi botton flask 100 ml dengan petroleum eter.
4. Mengisi tempat airpada cooler dengan es batu dan air.
5. Menghidupkan cooler.
6. Menghidupkan heating mantel dan memanaskan secara perlahan-lahan.
7. Bila mulai mendidih, mencatat temperatur tetesan pertama distilat.
8. Menjaga laju pemanas secara hati-hati.
9. Mencatat pembacaan suhu pada termometer setiap 10 ml penambahan volume distilat.
10. Mencatat temperatur disaat destilasi selesai setelah tidak ada tetesan lagi.
11. Titik didih akhir temperatur paling tinggi yang terbaca pada termometer adalah pada
volume 5 ml petroleum eter.
V. DATA PENGAMATAN
Volume awal petroleum eter = 100 ml
IBP (Initian Boiling Point) = 64oC
FBP (Final Boiling Point) = 75oC
Volume (ml) Suhu (oC) Volume (ml) Suhu (oC)
0 64 55 67
5 64 60 67
10 64,5 65 69
15 65 70 69
20 65 75 69
25 65 80 69
30 65 85 69
35 65 90 69
40 65 91 70
45 65 91,5 73
50 66 75
Waktu (menit) Volume (ml)
5 33
10 42
15 44
20 58
25 62
30 77
35 82
40 86
45 90
50 91,5
Grafik Hubungan Volume dan Suhu
Petroleum Eter
76
74
72
Suhu (oC)
70
68
64 64 64,5
66
64
62
60
75
80
15
20
25
30
35
40
45
50
55
60
65
70
85
90
91,5
Dari grafik yang diperoleh dapat dijelaskan bahwa semakin tinggi temperature
pada alat distilasi tersebut, maka volume distilat yang dihasilkan semakin banyak. Hal itu
juga tergantung pada air pendingin. Jika air semakin dingin maka tetesan uap
terkondensasi juga semakin cepat menetes.
VI. PERHITUNGAN
Konversi suhu ke oF
64oC
T(oF) = (1,8xToC)+32
= (1,8x64)+32
= 147,2 oF
64,5oC
T(oF) = (1,8xToC)+32
= (1,8x64,5)+32
= 148,1 oF
65oC
T(oF) = (1,8xToC)+32
= (1,8x65)+32
= 150,8 oF
67oC
T(oF) = (1,8xToC)+32
= (1,8x67)+32
= 152,6 oF
69oC
T(oF) = (1,8xToC)+32
= (1,8x69)+32
= 56,2 oF
70oC
T(oF) = (1,8xToC)+32
= (1,8x70)+32
= 158 oF
73oC
T(oF) = (1,8xToC)+32
= (1,8x73)+32
= 163,4 oF
75oC
T(oF) = (1,8xToC)+32
= (1,8x75)+32
= 167 oF
Suhu (oC) Suhu (oF) Suhu (oC) Suhu (oF)
64 147,2 66 150,8
64 147,2 67 152,6
64,5 148,1 67 152,6
65 149 69 152,6
65 149 69 152,6
65 149 69 152,6
65 149 69 152,6
65 149 70 158
65 149 73 163,14
65 149 75 167
?
1. Temperatur Operasi = 152,735 oF
2. Density destilat petroleum eter = 0,694 gr/cm3
o 141,5
API = 0,694 - 131,5
= 90
3. Penentuan panas penguapan petroleum eter
Tekanan Operasi = 152,735 oF
o
API = 90
10+2+50+90
VABP = 4
148,1+2(150,8)+(63,4)F
= 4
= 153,275 oF
70+10
Slope = 60
(156,2148,1)
= 60
= 0,135 oF/%
4. Menentukan titik didih rata-rata (MeABP) dari factor koreksi
Menentukan MeABP
MeABP = VABP + A
A adalah faktor koreksi dalam oF
In A = -0,94402 0,008651 (VABP 32)0,6667 + 2,99791 S0,333
In A = -0,94402 0,008651 (152,275 32)0,6667 + 2,99791 (0,135)0,333
In A = - 1,15601 + 1,53893
In A = 0,38292
A = e0,38292
A = 1,4666 oF
Maka, MeABP = VABP + A
= (153,275 1,4666)oF
= 151,8084 oF
o Menentukan faktor karakteristik, Watson characterization factors
(MeABP)
K = Spgr
151,8084
= 0,694
= 7,6866
(Sumber: Fundamentals of Petroleum Refining menurut persamaan 3.5; 3.6; dan 3.7
halaman 39)
5. Menentukan berat molekul (BM) petroleum eter
Untuk menghitung berat molekul didapat dari grafik Molecular Weight vs Boiling
Point and Gravity; data Book on Hydrocarbon Application to Process Engineering, maka
didapat berat molekul petroleum eter adalah 92.
6. Menentukan tekanan uap
Untuk menentukan tekanan uap didapat dari grafik Petroleum of Refinery Nelson
untuk temperatur rata-rata 151,8084oF didapatkan tekanan uap untuk petroleum eter adalah
1,18 atm.
7. Menentukan tekanan kritik semu (pseudo critical pressure)
Untuk menentukan tekanan kritik semu didapat dari grafik Pseudo Critical Pressure
of Petroleum Fraction; data Book on Hydrocarbon Application to Process Engineering
dengan MeABP sebesar 151,8084 dan oAPI gravity sebesar 90, didapatkan tekanan kritik
semu untuk petroleum spirit adalah 402 psia, sehingga:
402 psia
x 1 atm = 27,34 atm
14,7 psia
8. Menentukan berat molekul normal paraffin
Untuk mendapatkan berat molekul normal paraffin didapat dari titik didih normal
rata-rata 151,8084 oF yang diambil dari grafik Molecular Weight vs Boiling Point yaitu 86.
9. Menentukan tekanan uap normal paraffin
tekanan kritik normal
Tekanan uap normal paraffin = x tekanan uap
tekanan titik semu
29,8 atm
= 27,34 atm x 1,18 atm
= 1,273 atm
10. Menentukan panas penguapan normal paraffin
Dari grafik Latent Heat of Vaporization of Hydro Paraffin Hydrocarbon
VaporPressuredidapat latent heat normal paraffin = 175 Btu/lb.
11. Menentukan panas penguapan petroleum eter
BM normal paraffin
Panas penguapan = x panas laten normal paraffin
BM petroleum eter
86
= 175
92
= 163,58
Pertanyaan
1. Sebutkan macam-macam metode analisis minyak bumi !
2. Uraikan apa yang dimaksud dengan:
a. IBP dan FBP
b. Panas laten penguapan
c. VABP,WABP,MABP,dan MeABP
3. Apakah perbedaan metode distilasi ASTM D-86 dan ASTM D-158 !
Jawab :
1. Metode yang banyak dipakai untuk melakukan pemeriksaan terhadap minyak dan
produknya adalah :ASTM (American Society for Testing Material), API (American
Petroleum Institute), IP (Institude de Petrol), dan ISI (Indian Spesification Institute).
2. a. IBP adalah titik didih awal yang keluar dari alat distilasi
FBP adalah titik didih akhir yang keluar dari alat distilasi
[Link] laten penguapan adalah jumlah panas yang harus ditambahkan kepada zat (cair)
pada titik didihnya sampai wujudnya berubah menjadi uap seluruhnya pada suhu yang
sama.
c. VABP (Volume Average Boiling Point) adalah volume rata-rata titik didih dari distilat.
MABP (Molal Average Boiling Point) adalah suatu metode penentuan sifat fisik
minyak mentah yang belum diketahui dengan menghitung titik didih rata-rata.
WABP (Weight Average Boiling Point) adalah untuk mengukut berat molekul sebuah
solute non volatil dengan menentukan konsentrasi titik didih elevasi solute.
MeABP (Mean Average Boiling Point) untuk menghitung titik didih kurva.
3. Distilasi ASTM D-86 adalah suatu metode pemeriksaan distilasi yang dilakukan untuk
gasolin, nafta, dan kerosin. Sedangkan ASTM D-158 adalah suatu metode pemeriksaan
yang dilakukan untuk gas oil.
VIII. ANALISA DATA
Pada praktikum kali ini mengenai Distilasi ASTM D-86 menggunakan bahan
petroleum eter. Pada minggu kedua ini menggunakan sampel yang sama dengan volume 100
ml, lalu dipasangkan kealat distilasi.
Pada praktikum ini dilakukan pengujian pada selang volume 5 ml distilat, degan
suhu uap yang harus dijaga pada 60oC agar tidak terjadi pengembunan 5 menit dan volume
5 ml. Temperatur yang didapat yaitu 66oC, temperature menetes smpai terakhir digunakan
untuk mengetahui nilai panas laten dari petroleum ether. Suhu mula-mula setelah meetes
disebut IBP ASTM D-86 menggunakan sampel sebanyak 100 ml, setelah proses didapat
hanya 91,5 ml distilat yang ada didalam gelas ukur dengan temperature akhir pada volume
91,5 ml yaitu 75oC.
IX. KESIMPULAN
Setelah dilakukan praktikum dapat disimpulkan bahwa:
1. Distilasi ASTM D-86 adalah salah satu jenis distilasi untuk memisahkan minyak bumi
dari jenis petroleum.
2. IBP dan FBP diperoleh yaitu 64oC dan 75oC
3. Nilai VABP sampai 91,5 ml diperoleh 153,275oF.
4. Nilai panas laten yang didapat 163,58 btu/lb
5. Berat molekul petroleum ether = 92
Berat molekul paraffin = 86
6. Tekanan uap petroleum ether = 1,18 atm
7. Tekanan uap paraffin = 1,273 atm
X. DAFTAR PUSTAKA
- Tesm Lab. 2016. Penuntun Praktikum Teknologi Minyak dan Gas Bumi. Palembang :
Politeknik Negeri Sriwijaya.
- [Link] ASTM D-86, (Online),
([Link]
[Link] , diakses 10 Oktober 2016).
V. GAMBAR ALAT
Rangkaian Peralatan Distilasi ASTM D-86