0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
207 tayangan6 halaman

Teknik Blinding dalam Penelitian Klinik

Teks tersebut membahas tentang pentingnya melakukan blinding (pembutaan) dalam penelitian eksperimen untuk menghindari bias. Ada tiga jenis blinding yang dibahas yaitu single blinding, double blinding, dan triple blinding. Double blinding dianggap sebagai standar emas karena dapat menyembunyikan status penunjukan kelompok baik dari subyek maupun peneliti.

Diunggah oleh

wkksjdjndns
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
207 tayangan6 halaman

Teknik Blinding dalam Penelitian Klinik

Teks tersebut membahas tentang pentingnya melakukan blinding (pembutaan) dalam penelitian eksperimen untuk menghindari bias. Ada tiga jenis blinding yang dibahas yaitu single blinding, double blinding, dan triple blinding. Double blinding dianggap sebagai standar emas karena dapat menyembunyikan status penunjukan kelompok baik dari subyek maupun peneliti.

Diunggah oleh

wkksjdjndns
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Blinding

Bias dalam eksperimen dapat terjadi jika klinisi/peneliti yang memberikan


obat baru juga mendiagnosis kasus, mengalokasikan pasien kedalam eksperimen
dan kelompok control , atau mengukur variable hasilnya. Dalam eksperimen,
peneliti mengontrol kondisi penelitian untuk meningkatkan validitas internal,
yaitu agar kesimpulan yang ditarik tentang efek intervensi memang merupakan
efek yang sesungguhnya dari intervensi tersebut. Terdapat lima cara mengontrol
kondisi penelitian: (1) Memberikan gradasi intervensi yang berbeda; (2)
Melakukan randomisasi; (3) Melakukan restriksi; (4) Melakukan pembutaan
(blinding); dan (5) Melakukan intention-to-treat analysis

Blinding (baca:masking, pembutaan, ketersamaran) merujuk kepada suatu


teknik untuk mengurangi peluang terjadinya bias dalam menentukan status
variable hasil, dengan cara membuat subyek penelitian, pengamat, atau peneliti
tidak tidak mengetahui tentang status penunjukan kelompok (yaitu, apakah
kelompok perlakuan atau kelompok control). Pembutaan (blinding) adalah metode
untuk melakukan uji klinis di mana peserta tidak tahu siapa yang mengambil
pengobatan eksperimental, pengobatan standar (kontrol), atau plasebo. Jika subjek
penelitian mengetahui bahwa dia mendapatkan intervensi yang sesungguhnya atau
hanya plasebo, maka sadar atau tidak, respons subjek penelitian dapat dipengaruhi
oleh pengetahuan tersebut. Demikian pula jika pengamat mengetahui hipotesis
penelitian dan status intervensi subjek penelitian, maka ada kemungkinan proses
pengukuran variabel, wawancara, pencatatan, dan pemasukan data, akan
terpengaruh oleh hipotesis penelitian, disebut interviewer bias (bias
pewawancara) (Hennekens dan Buring, 1987). Demikian juga jika penganalisis
data mengetahui hipotesis penelitian, maka ada kemungkinan proses pemasukan
data, analisis data, dan penarikan kesimpulan hasil analisis akan dipengaruhi oleh
hipotesis penelitian.

Penelitian eksperimen/uji klinis dengan teknik randomisasi akan lebih


besar kualitasnya jika dalam pengukurannya dilakukan penyamaran (blinding).
Blinding lazim digunakan dalam clinical trial: tiga jenis blinding: (1) single
blinding (pembutaan tunggal) merupakan teknik untuk menyembunyikan status
penunjukkan kelompok kepada subyek-subyek penelitian, sampai studi berakhir,
(2) double blinding adalah teknik untuk menyembunyikan status peninjukkan
kelompok kepada subyek penelitian maupun pengamat, maupun analisis dan
statistic, sampai studi berakhir. dan (3) triple blinding adalah teknik untuk
menyembunyikan status penunjukkan kelompok kepada subyek penelitian,
pengamat, maupun analisis data statistic, sampai studi berakhir. Tujuan triple
Blinding adalah mencegah bias informasi pada semua tahap studi. Kekuatan
desain ini bisa meminimalisir faktor perancu yang dapat menyebabkan bias dalam
hasil penelitian.

Ketersamaran/ pembutaan ini bertujuan untuk menghindarkan bias, baik


yang berasal dari peneliti, subyek, maupun evaluator penelitian. Oleh karena bias
dapat terjadi diberbagai bagian uji klinis, maaka ketersamaran juga harus
diupayakan pada berbagai bagian uji klinis, seperti pada saat randomisasi, alokasi
subyek, pelaksanaan uji klinis, pengukuran, dan evaluasi hasil.

Salah satu teknik ketersamaran yang banyak dipakai dalam fase intervensi,
baik pada desain paralel ataupun desain menyilang, adalah penggunaan placebo,
yang diberikan pada kelompok control. Apabila dipergunakan placebo maka perlu
diperhatikan hal-hal dibawah ini :

a. Plasebo dapat dipergunakan apabila belum ada pengobatan untuk penyakit


yang diteliti. Apabila pengobatan yang diteliti merupakan tambahan pada
regimen standar yang sudah ada , maka placebo juga dapat digunakan.
b. Placebo diperlukan terutama apabila hasil pengobatan bersifat subyektif,
misalnya berkurangnya rasa sakit, perubahan gambaranradiologis dan lain
[Link] efek yang dinilai bersifat obyektif, misalnya kadar
kimia darah, maka kepentingan placebo tidak terlalu penting.
c. Placebo lebih aman dipergunakan untuk penyakit yang tidak berat. Pada
penyakit berat, lebih-lebih bila sudah terdapat indikasi sebelumnya bahwa
obat yang diteliti bermanfaat, penggunaan placebo harus dipertanyakan.

Maksud penggunaan placebo adalah untuk mengurangi atau


menyingkirkan bias, baik dari sisi peneliti maupun dari sisi subyek penelitian.
Dari sisi peneliti, apabila ia mengetahui jenis obat yang digunakan, mungkin ia
cenderung untuk melakukan penilaian atatu tindakan yang menguntungkan
subyek yang diberi obat yang diteliti. Dari sisi subyek, ketersamaan dengan
menggunakan placebo akan mengurangi atau meniadakan pengaruhefek placebo,
yakni perasaan mengalami suatu efek padahal efek tersebut itu tidak ada.

Jenis ketersamaran

a. Uji klinis terbuka(open trial)

Pada uji klinis terbuka, baik peneliti maupun subyek mengetahui


pengobatan yang diberikan. Desain ini seringkali dilakukan untuk penelitian
pendahuluan, yang akan dilanjutkan dengan desain acak tersamar ganda, atau
apabila secara teknis ketersamaran tidak mungkindilaksanakan. (misal : study
untuk membandingkan mastektomi sederhana plus radiasi dengan mastektomi
radikal pada pengobatan kanker payudara.

b. Tersamar tunggal (single mask)

Pada desain ini subyek tidak tahu pengobatan yang diberikan, sedangkan
peneliti mengetahuinya. Secara teoritis hal yang sebaliknya juga dapat dilakukan
(subyek mengetahui sedangkan dokter tidak), namun hal ini jarang, kerugian pada
uji klinis tersamar tunggal adalah seperti pada uji klinis terbuka , terjadinya
bias(terutama bias pengukuran) oleh karena peneliti dapat memberikan perhatian
lebih pada kelompok perlakuan.

c. Tersamar ganda (double mask)

Pada desain ini baik peneliti maupun subyek tidak mengetahui pengobatan
yang diberikan , hal ini akan mengurangi terjadinya berbagai bias dan dianggap
sebagai baku emas untuk uji klinis.

d. Triple mask

Pada desain ini baik subyek, peneliti, maupun evaluator tidak tahu obat
apa yang diberikan. Sebagian ahli tidak mempergunakan istilah ini, meski terdapat
tiga komponen ketersamaran, cukup disebut sebagai tersamar ganda saja.
Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif

Metode penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang


spesifikasinya adalah sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal
hingga pembuatan desain penelitiannya. Definisi lain menyebutkan penelitian
kuantitatif adalah penelitian yang banyak menuntut penggunaan angka, mulai dari
pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari
hasilnya. Demikian pula pada tahap kesimpulan penelitian akan lebih baik bila
disertai dengan gambar, table, grafik, atau tampilan lainnya.

Menurut Sugiyono, metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai


metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk
meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Teknik pengambilan sampel pada
umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen
penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji
hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2012: 7).

Selain itu metode penelitian kuantitatif dikatakan sebagai metode yang


lebih menekankan pada aspek pengukuran secara obyektif terhadap fenomena
sosial. Untuk dapat melakukan pengukuran, setiap fenomena sosial di jabarkan
kedalam beberapa komponen masalah, variable dan indikator. Setiap variable
yang di tentukan di ukur dengan memberikan simbol-simbol angka yang berbeda
beda sesuai dengan kategori informasi yang berkaitan dengan variable tersebut.
Dengan menggunakan simbolsimbol angka tersebut, teknik perhitungan secara
kuantitatif matematik dapat di lakukan sehingga dapat menghasilkan suatu
kesimpulan yang belaku umum di dalam suatu parameter. Tujuan utama dati
metodologi ini ialah menjelaskan suatu masalah tetapi menghasilkan generalisasi.
Generalisasi ialah suatu kenyataan kebenaran yang terjadi dalam suatu realitas
tentang suatu masalah yang di perkirakan akan berlaku pada suatu populasi
tertentu. Generalisasi dapat dihasilkan melalui suatu metode perkiraan atau
metode estimasi yang umum berlaku didalam statistika induktif. Metode estimasi
itu sendiri dilakukan berdasarkan pengukuran terhadap keadaan nyata yang lebih
terbatas lingkupnya yang juga sering disebut sample dalam penelitian
kuantitatif. Jadi, yang diukur dalam penelitian sebenarnya ialah bagian kecil dari
populasi atau sering disebut data. Data ialah contoh nyata dari kenyataan yang
dapat diprediksikan ke tingkat realitas dengan menggunakan metodologi
kuantitatif tertentu. Penelitian kuantitatif mengadakan eksplorasi lebih lanjut serta
menemukan fakta dan menguji teori-teori yang timbul.

Metode penelitian kualitatif sering di sebut metode penelitian naturalistik


karena penelitianya di lakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting), di
sebut juga metode etnographi, karena pada awalnya metode ini lebih banyak di
gunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya.

Beberapa metodologi seperti Kirk dan Miller (1986), mendefinisikan


metode kualitatif sebagai tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang
secara fundamental bergantung pada pengamatan terhadap manusia dalam
kawasanya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam
bahasanya dan dalam peristilahanya. Sedangkan menurut Bogdan dan Taylor
(1975) dalam buku Moleong (2004:3) mengemukakan metode kualitatif sebagai
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau lisan
dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Miles and Huberman (1994)
dalam Sukidin (2002:2) metode kualitatif berusaha mengungkap berbagai
keunikan yang terdapat dalam individu, kelompok, masyarakat, dan/atau
organisasi dalam kehidupan sehari-hari secara menyeluruh, rinci, dalam, dan
dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Menurut teori penelitian kualitatif, agar penelitinya dapat betul-betul


berkualitas, maka data yang dikumpulkan harus lengkap, yaitu berupa data primer
dan data sekunder. Data primer adalah data dalam bentuk verbal atau kata-kata
yang diucapkan secara lisan,gerak-gerik atau perilaku yang dilakukan oleh subjek
yang dapat dipercaya, dalam hal ini adalah subjek penelitian (informan) yang
berkenaan dengan variabel yang diteliti. Sedangkan data sekunder adalah data
yang diperoleh dari dokumen-dokumen grafis (tabel, catatan, notulen rapat, dll),
foto-foto, film, rekaman video, benda-benda, dan lain-lainyang dapat memperkaya
data primer.
Daftar Pustaka

1. Elwood M. Critical Appraisal of Epidemiological Studies and Clinical


Trials. New York: Oxford University Press; 2007.
2. Hennekens, C.H. dan Buring, J.E. (1987). Epidemiology in medicine.
Boston: Little, Brown and Company.
3. Sophiyudin D. Telaah Kritis pada Penelitian Klinis. 2012.

Anda mungkin juga menyukai