Penanganan Penyakit Graves di Klinik
Penanganan Penyakit Graves di Klinik
C. Materi
1. Pengertian Penyakit Graves
2. Fungsi Kelenjar Tiroid
3. Penyebab Penyakit Graves
1
4. Tanda dan gejala Penyakit Graves
5. Mengetahui cara untuk mendiagnosa penyakit graves
6. Penanganan Penyakit Graves
Uraian Materi Terlampir
D. Metode
Metode yang digunakan adalah Ceramah, Tanya Jawab dan Diskusi.
E. Media
Media yang digunakan adalah :
1. Laptop
2. LCD
3. Leaflet.
F. Proses Belajar
2
2. Isi 1. Menjelaskan tentang 1. Mendengarkan 15 menit
pengertian Penyakit dan menyimak
Graves penjelasan
yang diberikan.
2. Menjelaskan tentang
kelenjar tiroid
3. Menjelaskan tentang
penyebab Penyakit
Graves.
4. Menjelaskan tentang
tanda dan gejala
yang dialami oleh
penderita penyakit
graves.
5. Menjelaskan tentang
bagaimana cara
mengetahui
seseorang terkena
penyakit graves
6. Menjelaskan tentang
cara penanganan
2. Mengajukan
penyakit graves
7. Memberikan pertanyaan.
kesempatan pada
peserta untuk
bertanya.
3. Penutup 1. Mengajukan 1. Menjawab 10 menit
pertanyaan tentang pertanyaan.
materi yang telah
diberikan sebagai
2. Mendengarkan
evaluasi.
[Link]-sama dan membuat
menyimpulkan hasil kesimpulan
kegiatan penyuluhan. secara bersama.
3
3. Menjawab
3. Menutup penyuluhan
salam
dan mengucapkan
salam penutup.
G. Evaluasi
Prosedur Evaluasi : Pertanyaan.
Bentuk : Lisan.
Dengan mengajukan pertanyaan seperti :
1. Apa yang dimaksud dengan Penyakit Graves?
2. Penyakit Graves disebabkan oleh apa?
3. Sebutkan 2 dari 4 tanda gejala khas penyakit graves
4. Sebutkan 4 dari 10 tanda gejala penyakit graves yang lain
5. Bagaimana cara penanganan penyakit graves?
Kriteria Hasil :
1. Dari 10 peserta, 2 peserta mampu menjawab dengan benar
2. Dari 10 peserta, 1 peserta mampu menjawab dengan benar
3. Dari 10 peserta, 4 peserta mampu menjawab dengan benar
4. Dari 10 peserta, 4 peserta mampu menjawab dengan benar
5. Dari 10 peserta, 6 peserta dapat menjawab dengan benar
Penyakit Graves
4
1. Penyakit Graves adalah suatu penyakit yang disebabkan karena proses
autoimun, dimana terbentuknya antibodi yang disebut Thyroid Stimulating
Immunoglobulin (TSI) yang menempel pada sel-sel tiroid, yang membuat
TSH merangsang kelenjar tiroid untuk membuat hormon tiroid yang sangat
banyak (Tarwoto, 2012:hal.89).
2. Penyakit Graves merupakan penyebab tersering hipertiroidisme akibat
proses autoimun, dimana antibodi IgG mengikat pada reseptor TSH
(Weetman. 2005:hal. 352)
3. Penyakit Graves adalah suatu keadaan terganggunya sistem imun, dimana
sistem imun memicu pembentukan Thyroid Stimulating Immunoglobulins
(TSIs) dan berikatan dengan reseptor TSH sehingga menyebabkan produksi
yang berlebihan dari hormon tiroid (Loys. 2012:hal. 605)
4. Penyakit Graves merupakan kelainan autoimun yang diperantarai oleh
antibodi IgG yang berikatan dengan reseptor TSH aktif pada permukaan sel-
sel tiroid (Rumahorbo. 2000:hal. 51)
5. Penyakit Graves adalah suatu penyakit autoimun yang tidak diketahui
penyebabnya, bercirikan pembesaran kelenjar tiroid dan sekresi hormon
tiroid yang berlebihan, serta keadaan dimana antibodi berikatan dengan
reseptor TSH dan menstimulasi kelenjar tiroid untuk melepaskan T 3, T4 atau
kedua-duanya secara berlebihan (Lewis. 2014)
5
Kelenjar Tiroid terletak di anterior trakea, dibawah laring membentang dari
C5 sampai T1. Bentuknya seperti kupu-kupu dan merupakan kelenjar endokrin
yang terbesar dengan berat 10-20 gram. Tersusun atas dua buah lobus, yang
disatukan oleh jaringan tiroid yang tipis yang dinamakan isthmus.
Kelenjar Tiroid mensintesis dan mensekresi tiga hormon tiroid yaitu,
Tiroksin (T4), Tri-iodotironin (T3) dan Kalsitonin atau Tirokalsitonin. Hormon
Tiroksin dan Tri-iodotironin berperan dalam mengatur laju pertumbuhan dan
laju metabolisme. Sedangkan Kalsitonin berfungsi utama menurunkan kadar
kalsium plasma dengan cara menghambat reabsorbsi kalsium di tulang.
Efek fisiologis hormon tiroid pada berbagai organ tubuh, antara lain :
Organ Target Efek Mekanisme
Jantung Kronotropik Meningkatkan jumlah dan afinitas
reseptor -adrenergik
Inotropik Meningkatkan respon terhadap
katekolamin dalam darah.
Meningkatkan kontraktilitas jantung dan irama jantung
Jaringan Lemak Katabolik Merangsang lipolisis.
Otot Katabolik Meningkatkan penguraian protein
Tulang Perkembangan dan Mendorong pertumbuhan normal dan
Metabolik perkembangan tulang, mempercepat
penggantian tulang.
Sistem Saraf Perkembangan Mendorong perkembangan
Usus Metabolik Meningkatkan laju penyerapan
karbohidrat
Lipoprotein Metabolik Merangsang pembentukan reseptor
LDL
Reproduksi Perkembangan Meningkatkan reproduksi normal
wanita dan proses laktasi.
Lain-lain Kalorigenik Merangsang konsumsi O2 oleh jaringan
yang aktif bermetabolisme.
Mempengaruhi kekuatan dan ritme pernapasan sebagai
kompensasi tubuh terhadap kebutuhan O2 dalam
metabolisme.
6
Penyakit Graves merupakan salah satu penyakit autoimun, yang penyebabnya
sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Namun diketahui beberapa
faktor predisposisi, yang turut berperan dalam meningkatkan resiko penyakit
Graves, yaitu:
1. Faktor Genetik
Penyakit Graves bersifat familial. Keluarga yang memiliki riwayat penyakit
Graves, lebih beresiko 15x daripada keluarga yang tidak memiliki riwayat.
Ditemukan adanya kaitan dengan Human Leucocyte Antigen tertentu,
terutama pada lokus B dan D kromosom 6, seperti HLA-B8 dan HLA-DR3
pada Ras Kaukasus, HLA-Bw46 dan HLA-B5 pada Asia dan HLA-B17
pada orang kulit hitam.
2. Faktor Imunologi
Defek pada limfosit Tsupressor (Ts), sehingga memungkinkan T helper (Th)
merangsang Limfosit B mengeluarkan autoantibodi tiroid.
3. Faktor Lingkungan
a. Infeksi Bakteri
Adanya infeksi bakteri gram negatif ([Link], Yersinia) yang memiliki
titik kesamaan antigen pada membran sel bakteri dengan reseptor TSH
pada sel folikuler kelenjar tiroid akibat mutasi atau biomodifikasi obat
dan zat kimia yang menjadi penyebab timbulnya autoantibodi yang
mempromosi timbulnya penyakit Graves. Terjadinya reaksi silang dengan
autoantigen pada kelenjar tiroid.
b. Berat Badan Lahir Rendah
Berat badan lahir bayi rendah merupakan faktor risiko beberapa penyakit
tertentu seperti penyakit jantung khronik. Kekurangan makanan selama
kehamilan dapat menyebabkan intoleransi glukosa pada kehidupan
dewasa serta rendahnya berat thymus dan limpa mengakibatkan
menurunnya sel T supresor.
c. Asupan Iodine
Asupan yodium yang tinggi dapat meningkatkan kadar iodinated
immunoglobulin yang bersifat lebih imunogenik sehingga meningkatkan
kecenderungan untuk terjadinya penyakit tiroid autoimun. Penyakit
Graves lebih sering ditemukan di daerah cukup iodium.
d. Merokok
7
Selain merupakan faktor risiko penyakit jantung dan kanker paru, juga
mempengaruhi sistim imun. Merokok akan menginduksi aktivitas
poliklonal sel B dan T, meningkatkan produksi IL-2, dan juga
menstimulasi sumbu HPA. Merokok akan meningkatkan risiko
kekambuhan penyakit Graves serta eksaserbasi oftalmopatia setelah
pengobatan dengan lodium radioaktif.
e. Obat-obatan, seperti Lithium
Dosis terapeutik dari lithium yang sering digunakan dalam pengobatan
psikosa depresif, dapat pula mempengaruhi fungsi sel limfosit T
suppressor sehingga dapat menimbulkan penyakit tiroid autoimun.
8
Gambar Manifestasi Klinis Penyakit Graves
Sumber : Greenstein, Ben, Diana F. Wood. At a Glance Sistem Endokrin.2010
9
1. Preparat Radioaktif Iodine (I131)
Merupakan isotop radioaktif iodium yang stabil. Preparat ini, secara
kimia serupa dengan iodium, bedanya memiliki sifat radioaktif. Setelah
diberikan per oral, preparat RAI ini akan diambil oleh kelenjar tiroid dan
terkonsentrasi di dalamnya, sehingga emisi partikel radioaktif
menghancurkan jaringan tiroid. Kerusakan pada jaringan lain hanya sedikit,
dikarenakan partikel tidak keluar dari kelenjar tiroid. Akan terjadi
hipotiroid bila kelenjar tiroid yang dihancurkan terlalu banyak.
2. Pembedahan
Pembedahan yang dilakukan berupa Thyroidectomi Subtotal bila struma
menjadi sangat besar, sehingga arteri leher atau batang tenggorokan menjadi
tersumbat, tetapi hanya sebagian struma yang dikeluarkan. Kelenjar yang
masih tersisa diharapkan dapat memenuhi kebutuhan tubuh akan hormon
tiroid, sehingga tidak diperlukan adanya terapi pengganti hormon. Untuk
mempermudah pembedahan, 1-2 minggu sebelum pembedahan diberi
therapi dengan iodida dan atau tiroistatika, dengan tujuan mengurangi
vaskularisasi tiroid dan memadatkan konsistensi tiroid. Pembedahan Total
dilakukan pada kasus kanker kelenjar tiroid. Pembedahan dilakukan bila
OAT atau therapi RAI tidak dapat mengatasi gejala, merusak kelenjar
paratiroid dan saraf ke laring.
3. Obat-obatan
a. Terapi Tunggal = Obat Anti Tiroid
Hanya menggunakan Golongan Tionamid, yaitu Tiourasil dan Imidazol.
Tiourasil dipasarkan dengan nama propiltiourasil (PTU) dan imidazol
dipasarkan dengan nama metimazol, karbimazol dan tiamazol yang
isinya sama dengan metimazol. Pada penderita Graves, pertama kali
diberikan OAT dalam dosis tinggi, yaitu PTU 300-600mg/hari atau
Metimazole 40-45mg/hari.
10
mengurangi produksi hormonnya. Akan tetapi, bila penggunaan obat ini
dihentikan, dapat terjadinya residif.
b. Terapi Kombinasi
Tionamida dan Tiroksin sering dijadikan terapi kombinasi. Indikasinya
mencegah hiperplasia dan resiko hipotiroidisme. Tionamida diberikan
terlebih dahulu baru tiroksin. Penderita diberi methimazole 3 x 10
mg/hari selama 6 bulan, selanjutnya 10 mg perhari ditambah tiroksin 100
g perhari selama 1 tahun, dan kemudian hanya diberi tiroksin saja
selama 3 tahun.
c. Golongan Beta Blocker
Propanolol 10-40mg setiap 6 jam untuk mengontrol takikardia, HT,
fibrilasi atrial melalui blokadenya pada reseptor adrenergik.
d. Obat Glukokortikoid (Prednison 40-80mg/hari), dosis diturunkan secara
bertahap, paling tidak selama 3 bulan.
4. Diet
a. Makan porsi kecil tapi sering dengan tinggi karbohidrat dan tinggi
protein
b. Mengkonsumsi jus, buah-buahan dan sayur
c. Mengkonsumsi lobak, kacang tanah, kacang pinus, kubis dan singkong
dapat membantu menormalkan fungsi tiroid
5. Perawatan Mata
a. Mengompres mata dengan air hangat yang bersih dan tetes mata
b. Memakai kacamata rayben saat diluar ruangan
c. Memakai kacamata khusus untuk meningkatkan jarak pandangan
d. Tidur dengan posisi kepala lebih tinggi untuk mengurangi pembengkakan
e. Saat tidur gunakan plester anti alergi atau penutup mata untuk membantu
kelopak mata menutup dan mencegah kekeringan
11
Suplemen vitamin yang mengandung zat besi
Konsumsi obat tiroid bersamaan dengan obat-obatan antasid atau yang
mengandung magnesium
Konsumsi obat tiroid saat perut kosong
DAFTAR PUSTAKA
12
Chang, Ester. 2009. Patofisiologi : Aplikasi Pada Keperawatan. Jakarta: EGC
Greenstein, Ben, Diana F. Wood. 2010. At a Glance Sistem Endokrin. Jakarta:
Erlangga
Ignatavicius, Donna D. 2010. Medical Surgical Nursing. Vol 2. Ohio: Saunders
Lemon, Priscilla & Karen Burke. 2004. Medical Surgical Nursing:Critical
Thinking in Client Care. New Jersey: Pearson Education
Merkle, Carrie J. 2005. Handbook of Pathophysiology. USA: Lippincott Williams
& Wilkins
Munson, Carol. 2005. Pathophysiology: Reference for Nurses. USA: Lippincott
Williams & Wilkins
Rumahorbo, Hotma. 2000. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem
Endokrin. Jakarta: EGC
Saputra, Lyndon. 2014. Sinopsis Organ Sistem Endokrinologi. Tangerang Selatan:
Karisma Publishing Group
Saputra, Lyndon. 2014. Buku Ajar Patofisiologi Klinik. Tangerang Selatan:
Karisma Publishing Group
Silbernagl, Stefan. 2007. Teks & Atlas Berwarna Patofisiologi. Jakarta: EGC
Tarwoto. 2012. Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Endokrin. Jakarta:
Trans Info Medika
Weetman, AP. 2005. Graves Disease. England: New England J. Medical
Wong, Donna L. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC
13
14
15
PENDAHULUAN
16
persalinan . Hal ini dapat menerangkan kenapa pasca persalinan dapat
terjadi eksaserbasi hipertiroid pada penderita Graves.
Pada seorang wanita hamil yang disertai dengan hipertiroid, dokter akan
ditantang oleh beberapa persoalan yaitu :
Pada mereka yang tidak hamil, sebagian besar hipertiroid Graves dapat
di diagnosis secara klinis oleh karena gambaran klinis yang khas seperti
takhikardi, banyak keringat, kelainan mata dll. Tidaklah demikian pada
wanita hamil, sebab sebagian tanda hipermetabolik dapat disebabkan oleh
proses kahamilan sehingga mengacaukan dengan keadaan hipertiroid .
Perubahan-perubahan tersebut ialah :
1. Gejala hiperdinamik
Pada wanita hamil dapat terjadi gejala hiperdinamik seperti tidak
tahan panas, kulit yang panas dan basah, takhikardi.
3. Adanya struma.
Sebagian wanita hamil akan ditemukan adanya struma. Hal ini oleh
karena pada kehamilan klirens ginjal terhadap yodida meningkat sehingga
dapat terjadi defisiensi yodium untuk sementara waktu. Penelitian di
Skotland menunjukkan bahwa sekitar 79% wanita hamil disertai dengan
adanya struma .
17
Memperhatikan keadaan diatas yang dapat mengacaukan diagnosis
hipertiroid pada kehamilan, maka prosedur diagnosis mutlak memerlukan
pemeriksaan laboratorium. Gambaran klinis saja tidak dapat dipakai
sebagai pegangan [Link] itu diagnosis dengan bantuan kedokteran
nuklir tidak mungkin dilakukan pada wanita hamil. Pemeriksaan yang perlu
dilakukan adalah :
2. Kadar TSHs
TSH (thyroid stimulating hormon) adalah hormon yang dikeluarkan oleh
hipofise bagian anterior yang fungsinya memacu tiroid untuk sekresi T4
dan T3. Pada saat ini telah dikembangkan cara pemeriksaan laboratorium
yang sensitif untuk deteksi TSH (TSHs = TSH sensitive test). Pada
hipertiroid kadar TSHs akan rendah, sebaliknya pada keadaan hipotiroid
kadar TSHs akan meningkat.
3. Tes TRH
Tes TRH hanya dilakukan apabila pemeriksaan diatas masih tetap
meragukan apakah hipertiroid atau tidak. Pada umumnya sebagian besar
kasus hipertiroid sudah terdeteksi dengan pemeriksaan FT4 dan TSHs.
18
hamil.
5. Iodida dan radioiodida juga melewati plasenta.
6. Thyroid stimulating immunoglobulin (TSI) dapat bebas melewati
plasenta. Oleh karena itu pemeriksaan kadar TSI pada
kehamilan penting, dengan pengertian apabila kadar TSI saat
hamil tinggi maka kemungkinan dapat terjadi hipertiroid
neonatal.
PENGOBATAN
Makin tua umur kehamilan proses autoimmun ibu akan menurun, sehingga
beberapa ahli menganjurkan untuk menghentikan pemberian obat antitiroid 4
minggu sebelum persalinan. Krenning dan Hennemann di Rumah Sakit
Dijkzigt Rotterdam menghentikan obat antitiroid 4 minggu sebelum
persalinan. Surge dan Drury dari Dublin Maternity Hospital mempergunakan
dosis awal carbimazole 60 mg sehari tetapi setelah 6-8 minggu diturunkan
menjadi 5-10 mg sehari, kemudian obat dihentikan pada minggu gestasi ke
37. Andi Sutanto dkk mempergunakan dosis PTU 1-3 kali 100 mg sehari pada
19
13 wanita hamil dengan hipertiroid selama kehamilan tidak menemukan
kelainan pada bayi yang dilahirkan.
3. Pembedahan
20
klinik yang mampu, pemeriksaan TSI juga dilakukan . Kadar TSI yang
tinggi selama hamil, memberikan kesan pada anak mungkin dapat terjadi
hipertiroid neonatal.
KESIMPULAN
RUJUKAN
21
3. Walfish PG, Cham JYC: Post partum hyperthyroidism. Clinical
Endocrinology and Metabolism 14: 417-448, 1985.
4. Burrow GN: Thyroid disease in pregnancy. In: Thyroid function
and disease, Burrow, Oppenheimer, Volpe (eds), WB Saunders co,
Philadelphia, 1989: 292-293.
5. Seth [Link] G: Diagnosis of hyperthyroidism: The newer
biochemical tests. Clinics in Endocrinology and Metabolism
1985, 14: 373-393.
6. Furth ED: Thyroid and parathyroid function in pregnancy. In:
Endocrinology and pregnancy. Fuchs F, Kloppr A (eds). 4th ed,
Phyladelphia, Harper and Row Pub. 1983: 176-182.
7. Krenning EP, Hennemann G: Ziekten Van de schiledklier. In
Nederland Leerboek der Endocrinologie, Wetenschappelijke
Uitgeveri j Bunge, Utrecht 1982: 60-72.
8. Sugrue D, Drury MI: Hyperthyroidism complicating pregnancy:
Results of pretreatment by antithyroid drugs in 77
pregnacies. British Journal of Obstetri and Gynaecology 87:
870-975,1980.
9. Andi Sutanto, Waspadji S, Slamet Sujono, Supartondo:
Pengalaman pengobatan penderita hiperetiroidisme dengan
kehamilan. Naskah Lengkap Kongres PERKENI 1986: 417-425.
[Link] L, Kolodny HD, Ramohan M, Liebermann HD: The thyroid
gland in pregnancy. In Perspective of Clinical Endocrinology,
1980: 227-253.
[Link] RJ, Crosby WM: Hyperthyroidism during pregnancy. Am J
Obstet Gynecol 115: 150-155, 1974.
22