0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan2 halaman

Panduan Penanganan Rhinitis Akut

Dokumen tersebut merupakan Standar Operasional Prosedur (SOP) tentang rhinitis akut di Puskesmas DTP Poned Cikalongkulon. SOP ini membahas tentang pengertian, diagnosis, dan penatalaksanaan rhinitis akut serta komplikasi dan edukasi yang perlu diberikan kepada pasien.

Diunggah oleh

Hendro Gunawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan2 halaman

Panduan Penanganan Rhinitis Akut

Dokumen tersebut merupakan Standar Operasional Prosedur (SOP) tentang rhinitis akut di Puskesmas DTP Poned Cikalongkulon. SOP ini membahas tentang pengertian, diagnosis, dan penatalaksanaan rhinitis akut serta komplikasi dan edukasi yang perlu diberikan kepada pasien.

Diunggah oleh

Hendro Gunawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

NOMOR SOP

TGL. PEMBUATAN

TGL. REVISI

TGL. EFEKTIF
Kepala Puskesmas DTP PONED Cikalongkulon

PUSKESMAS DTP DISAHKAN OLEH


PONED dr. SANDRAWATI, [Link]
CIKALONGKULON NIP. 197405162006042006

NAMA SOP RHINITIS AKUT

TUJUAN 1. Mengetahui pengertian rhinitis akut


2. Mampu mendiagnosa kasus rhinitis akut
3. Mampu menangani kasus rhinitis akut

KEBIJAKAN 1. Petugas mampu menangani kasus rhinitis akut

PETUNJUK RHINITIS AKUT adalah peradangan pada mukosa hidung yang


PELAKSANAAN berlangsung akut (<12 minggu), dapat disebabkan oleh infeksi virus,
bakteri, ataupun iritan. Radang sering ditemukan karena manifestasi dari
rhinitis simpleks (common cold), influenza, penyakit eksantem (seperti
morbili, variola, varicella, pertusis), penyakit spesifik, serta sekunder dari
iritasi lokal atau trauma.

ANAMNESA
Keluhan utama:
- keluar ingus dari hidung (rinorea)
- hidung tersumbat
- rasa panas dan gatal pada hidung.

Rhinitis simpleks: gejala berupa rasa panas di daerah belakang hidung pada
awalnya, lalu segera diikuti dengan hidung tersumbat, rinore, dan bersin
yang berulang-ulang. Pasien merasa dingin, dan terdapat demam ringan.
Pada infeksi bakteri ingus menjadi mukopurulen, biasanya diikuti juga
dengan gejala sistemik seperti demam, malaise dan sakit kepala.

Rhinitis influenza: gejala sistemik umumnya lebih berat disertai sakit pada
otot.

Rhinitis eksantematous: gejala terjadi sebelum tanda karakteristik atau


ruam muncul.

Rhinitis iritan: gejala berupa ingus yang sangat banyak dan bersin.
Biasanya didahului adanya paparan dengan asap, debu, gas yang bersifat
iritatif, ataupun trauma.

Rhinitis difteria: gejala berupa demam, toksemia, terdapat limfadenitis, dan


mungkin ada paralisis otot pernafasan.
PEMERIKSAAN FISIK
Dapat ditemukan adanya demam.
Pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak kavum nasi sempit, terdapat
sekret serous atau mukopurulen dan mukosa udem dan hiperemis.
Pada rhinitis difteri tampak ada ingus yang bercampur darah. Membran
keabu-abuan tampak menutup konka inferior dan kavum nasi bagian
bawah, membrannya lengket dan bila diangkat dapat terjadi perdarahan.

PEMERIKSAAN PENUNJANG: tidak diperlukan

KRITERIA DIAGNOSIS
Diagnosis Klinis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

KOMPLIKASI
1. Otitis media akut.
2. Sinusitis paranasalis.
3. Infeksi traktus respiratorius bagian bawah seperti laring,
tracheobronchitis, pneumonia.

PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF
1. Istirahat yang cukup.
2. Mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat.
3. Rhinitis akut merupakan penyakit yang bisa sembuh sendiri secara
spontan setelah kurang lebih 1 - 2 minggu. Karena itu umumnya terapi
yang diberikan lebih bersifat simptomatik, seperti analgetik, antipiretik,
dan nasal dekongestan disertai dengan istirahat yang cukup. Terapi
khusus tidak diperlukan kecuali bila terdapat komplikasi seperti infeksi
sekunder bakteri, maka antibiotik perlu diberikan.
- Dekongestan oral dapat mengurangi sekret hidung yang banyak,
membuat pasien merasa lebih nyaman, seperti pseudoefedrin,
fenilpropanolamin, atau fenilefrin.
- Antibiotik diberikan jika terdapat infeksi bakteri, seperti amoxicillin,
eritromisin, cefadroxil.
- Pada rhinitis difteri terapinya meliputi isolasi pasien, penisilin sistemik,
dan antitoksin difteri.

KONSELING & EDUKASI


1. Menjaga tubuh selalu dalam keadaan sehat dengan begitu dapat
terbentuknya sistem imunitas yang optimal yang dapat melindungi tubuh
dari serangan zat-zat asing.
2. Lebih sering mencuci tangan, terutama sebelum menyentuh wajah.
3. Memperkecil kontak dengan orang-orang yang telah terinfeksi.
4. Menutup mulut ketika batuk dan bersin.
5. Mengikuti program imunisasi lengkap, seperti vaksinasi influenza,
vaksinasi MMR untuk mencegah terjadinya rhinitis eksantematous.

Kriteria Rujukan: Pasien dengan rhinitis difteri.

Anda mungkin juga menyukai