50% menganggap dokumen ini bermanfaat (4 suara)
831 tayangan61 halaman

Strategi Merchandising di Apotek Kimia Farma

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Kimia Farma Makassar. PKPA bertujuan untuk memberikan pemahaman peran apoteker, pengalaman praktis kerja di apotek, serta pengetahuan manajemen dan merchandising apotek kepada calon apoteker. PKPA dilaksanakan selama 4 minggu di Kimia Farma Makassar pada bulan Juli 2017.

Diunggah oleh

Tyna Mew-mew
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
50% menganggap dokumen ini bermanfaat (4 suara)
831 tayangan61 halaman

Strategi Merchandising di Apotek Kimia Farma

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Kimia Farma Makassar. PKPA bertujuan untuk memberikan pemahaman peran apoteker, pengalaman praktis kerja di apotek, serta pengetahuan manajemen dan merchandising apotek kepada calon apoteker. PKPA dilaksanakan selama 4 minggu di Kimia Farma Makassar pada bulan Juli 2017.

Diunggah oleh

Tyna Mew-mew
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Tenaga kesehatan memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat sebagaimana dimaksud
dalam Pembukaan Undang - Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, dimana Tenaga Kesehatan yang dapat memberikan pelayanan di luar
kewenangannya, antara lain adalah perawat atau bidan yang memberikan
pelayanan kedokteran dan kefarmasian dalam batas tertentu atau tenaga teknis
kefarmasian yang memberikan pelayanan kefarmasian yang menjadi kewenangan
apoteker dalam batas tertentu (1).
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 9
tahun 2017 tentang apotek dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
nomor 73 tahun 2016 tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek, yang
dimaksud apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek
kefarmasian oleh apoteker (2).
Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung
jawab kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan Farmasi dengan maksud
mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien (3).
Pelayanan kefarmasian semakin berkembang, tidak terbatas hanya pada penyiapan
obat dan penyerahan obat pada pasien, tetapi perlu melakukan interaksi dengan
pasien dan profesional kesehatan lainnya, dengan melaksanakan pelayanan
pharmaceutical care secara menyeluruh oleh tenaga farmasi (4).
Namun tidak dapat dipungkiri di sisi lain bahwa apotek adalah salah satu
model badan usaha retail, yang tidak jauh berbeda dengan badan usaha retail
lainnya. Apotek sebagai badan usaha retail, bertujuan untuk menjual
komoditinya, dalam hal ini obat dan alat kesehatan, sebanyak-banyaknya untuk
mendapatkan keuntungan.
Oleh karena itu, segala usaha untuk meningkatkan keuntungan perlu
dilaksanakan salah satunya dengan kegiatan merchandising. Merchandising
merupakan suatu konsep dan alat yang berupa cara penataan/penampilan produk
2

yang telah terbukti secara efektif dapat meningkatkan penjualan, yang juga dapat
menaikkan image dari perusahaan/brand/produk, dan atau toko yang melakukan
merchandising tersebut.

I.2 Tujuan PKPA


1. Meningkatkan Pemahaman calon apoteker tentang peran, fungsi, posisi,
dan tanggung jawab apoteker dalam pelayanan kefarmasian di apotek.
2. Membekali calon apoteker agar memiliki wawasan, pengetahuan,
keterampilan, dan pengalaman praktis untuk melakukan pekerjaan
kefarmasian di apotek.
3. Memberi kesempatan kepada calon apoteker untuk melihat dan
mempelajari strategi dan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam
rangka pengembangan praktik farmasi komunitas di apotek.
4. Mempersiapkan calon apoteker dalam memasuki dunia kerja sebagai
tenaga farmasi yang professional.
5. Mempelajari penataan obat-obat bebas dan bebas terbatas dengan
Merchandising dan dianalisa kenaikan omsetnya.

I.3 Manfaat PKPA


1. Mengetahui, memahami tugas, dan tanggung jawab apoteker dalam
mengelola apotek.
2. Mendapatkan pengalaman praktis mengenai pekerjaan kefarmasian di
apotek.
3. Mendapatkan pengetahuan manajemen praktis di apotek.
4. Mendapatkan pengetahuan tentang proses merchandising di apotek.
5. Meningkatkan rasa percaya diri untuk menjadi apoteker yang professional.

I.4 Waktu Pelaksanaan


Waktu pelaksanaan praktek kerja profesi apoteker di kimia farma unit
Makassar yaitu dimulai sejak tanggal 3 Juli 2017 hingga 29 Juli 2017.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Tinjauan Pustaka Umum


a. Pengertian Apotek
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
nomor 9 tahun 2017 tentang apotek dan Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia nomor 73 tahun 2016 tentang standar pelayanan
kefarmasian di apotek, yang dimaksud apotek adalah sarana pelayanan
kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker.
Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan
bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan
Farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk
meningkatkan mutu kehidupan pasien dan apoteker adalah sarjana
farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah mengucapkan
sumpah jabatan Apoteker (2)
Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan
bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan
Farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk
meningkatkan mutu kehidupan pasien (2).
b. Landasan Hukum
Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat
yang diatur dalam:
a. Undang-undang, antara lain:
1) Undang-Undang No. 5 tahun 1997 tentang psikotropika
2) Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang narkotika
3) Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan
4) Undang-Undang No. 36 tahun 2014 tentang tenaga kesehatan
b. Peraturan pemerintah, antara lain:
1) Peraturan pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang pekerjaan
kefarmasin.
4

2) Peraturan pemerintah No. 44 tahun 2010 tentang prekursor


3) Peraturan pemerintah No. 40 tahun 2013 tentang Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika
c. Peraturan menteri kesehatan, antara lain:
1) Permenkes No. 3 tahun 2015 tentang Peredaran, Penyimpanan,
Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan
Prekursor Farmasi
2) Permenkes No. 31 tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 889/Menkes/Per/V/2011 tentang
Registrasi, Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian
3) Permenkes No. 73 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek
4) Permenkes No. 2 tahun 2017 tentang perubahan penggolongan
narkotika
5) Permenkes No. 3 tahun 2017 tentang perubahan penggolongan
psikotropika
6) Permenkes No. 9 tahun 2017 tentang apotek
d. Keputusan menteri kesehatan, antara lain:
1) HK.03.03/MENKES/704/2016 tentang apotek rakyat
2) HK.02.02/MENKES/24/2017 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 31 Tahun 2016 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
889/Menkes/Per/V/2011 tentang Registrasi, Izin Praktik, dan
Izin Kerja Tenaga Kefarmasian
3) Permenkes No. 168/Menkes/Per/II/2005 tentang prekursor
farmasi
c. Tugas dan Fungsi Apotek
Apotek mempunyai fungsi utama dalam pelayanan obat atas
dasar resep dan yang berhubungan dengan itu, serta pelayanan obat
tanpa resep yang biasa dipakai di rumah atau biasa juga disebut
swamedikasi. Dalam pelayanan obat ini, apoteker harus berorientasi
pada penderita dan memberikan informasi, apakah obat yang
5

diinginkan pasien tersebut dapat menyembuhkan penyakitnya, ada


tidaknya efek samping yang merugikan, atau apakah obat tersebut
rasional atau tidak (4).
Berdasarkan PP No. 51 Tahun 2009, fungsi apotek adalah (4):
1) Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah
mengucapkan sumpah jabatan Apoteker.
2) Sarana yang digunakan untuk melakukan Pekerjaan Kefarmasian
3) Sarana yang digunakan untuk memproduksi dan distribusi sediaan
farmasi antara lain obat, bahan baku obat, obat tradisional, dan
kosmetika.
4) Sarana pembuatan dan pengendalian mutu Sediaan Farmasi,
pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau
penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep
dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan
obat dan obat tradisional.
Kewenangan apoteker di apotek, yaitu:
1) Mengangkat seorang Apoteker pendamping yang memiliki SIPA;
2) Mengganti obat merek dagang dengan obat generik yang sama
komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan
dokter dan/atau pasien; dan
3) Menyerahkan obat keras, narkotika dan psikotropika kepada
masyarakat atas resep dari dokter sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan (4).
d. Persyaratan Apotek
Persyaratan Pendirian Berdasarkan permenkes no.9 tahun
2017, syarat pendirian apotek adalah sebagai berikut (2) :
1. Apoteker dapat mendirikan apotek dengan modal sendiri dan/atau
modal dari pemilik modal baik perorangan maupun perusahaan.
2. Dalam hal apoteker yang mendirikan apotek bekerjasama dengan
pemilik modal maka pekerjaan kefarmasian harus tetap dilakukan
sepenuhnya oleh apoteker yang bersangkutan.
Pendirian apotek harus memenuhi persyaratan, meliputi :
1) Lokasi
6

Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dapat mengatur persebaran


Apotek di wilayahnya dengan memperhatikan akses masyarakat
dalam mendapatkan pelayanan kefarmasian (2).
2) Bangunan
a. Bangunan Apotek harus memiliki fungsi keamanan,
kenyamanan, dan kemudahan dalam pemberian pelayanan
kepada pasien serta perlindungan dan keselamatan bagi semua
orang termasuk penyandang cacat, anak-anak, dan orang lanjut
usia.
b. Bangunan Apotek harus bersifat permanen yang dapat
merupakan bagian dan/atau terpisah dari pusat perbelanjaan,
apartemen, rumah toko, rumah kantor, rumah susun, dan
bangunan yang sejenis.
Apotek wajib memasang papan nama yang dipasang di
dinding bagian depan bangunan atau dipancangkan di tepi jalan,
secara jelas dan mudah terbaca. Papan nama yang terdiri atas:
a. papan nama Apotek, yang memuat paling sedikit informasi
mengenai nama Apotek, nomor SIA, dan alamat dan
b. papa nama praktik Apoteker, yang memuat paling sedikit
informasi mengenai nama Apoteker, nomor SIPA, dan jadwal
praktik Apoteker.
3) Sarana, Prasarana, dan Peralatan
Bangunan apotek paling sedikit memiliki sarana ruang yang
berfungsi:
a. penerimaan resep
b. pelayanan resep dan peracikan (produksi sediaan secara
terbatas)
c. penyerahan sediaan farmasi dan alat kesehatan
d. konseling
e. penyimpanan sediaan farmasi dan alat kesehatan
f. arsip
Prasarana apotek paling sedikit terdiri atas:
a. instalasi air bersih
7

b. instalasi listrik
c. sistem tata udara
d. sistem proteksi kebakaran
Peralatan apotek meliputi semua peralatan yang dibutuhkan
dalam pelaksanaan pelayanan kefarmasian, yaitu: rak obat, alat
peracikan, bahan pengemas obat, lemari pendingin, meja, kursi,
komputer, sistem pencatatan mutasi obat, formulir catatan
pengobatan pasien dan peralatan lain sesuai dengan kebutuhan
4) Ketenagaan
Ketenagaan terdiri atas apoteker pemegang SIA yang dalam
menyelenggarakan Apotek dapat dibantu oleh Apoteker lain,
Tenaga Teknis Kefarmasian dan tenaga administrasi. Apoteker dan
tenaga teknis kefarmasian tersebut wajib memiliki surat izin praktik
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Prosedur untuk mendapatkan Surat Izin Apotek, yaitu:
a. Apoteker harus mengajukan permohonan tertulis kepada
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
b. Permohonan harus ditanda tangani oleh Apoteker disertai
dengan kelengkapan dokumen administratif meliputi:
1) fotokopi STRA dengan menunjukan STRA asli
2) fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP)
3) fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak Apoteker
4) fotokopi peta lokasi dan denah bangunan dan
5) daftar prasarana, sarana, dan peralatan.
c. Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak menerima
permohonan dan dinyatakan telah memenuhi kelengkapan
dokumen administratif, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
menugaskan tim pemeriksa untuk melakukan pemeriksaan
setempat terhadap kesiapan apotek.
d. Tim pemeriksa harus melibatkan unsur dinas kesehatan
kabupaten/kota yang terdiri atas:
1) tenaga kefarmasian
2) tenaga lainnya yang menangani bidang sarana dan prasarana.
8

e. Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak tim


pemeriksa ditugaskan, tim pemeriksa harus melaporkan hasil
pemeriksaan setempat yang dilengkapi Berita Acara
Pemeriksaan (BAP) kepada Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota.
f. Paling lama dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja sejak
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menerima laporan dan
dinyatakan memenuhi persyaratan, Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota menerbitkan SIA dengan tembusan kepada
Direktur Jenderal, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kepala
Balai POM, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dan
Organisasi Profesi.
g. Dalam hal hasil pemeriksaan dinyatakan masih belum
memenuhi persyaratan, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
harus mengeluarkan surat penundaan paling lama dalam waktu
12 (dua belas) hari kerja.
h. Tehadap permohonan yang dinyatakan belum memenuhi
persyaratan, pemohon dapat melengkapi persyaratan paling
lambat dalam waktu 1 (satu) bulan sejak surat penundaan
diterima.
i. Apabila pemohon tidak dapat memenuhi kelengkapan
persyaratan, maka Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
mengeluarkan Surat Penolakan.
j. Apabila Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam menerbitkan
SIA melebihi jangka waktu, Apoteker pemohon dapat
menyelenggarakan Apotek dengan menggunakan BAP sebagai
pengganti SIA.
Prosedur untuk mendapatkan SIPA, yaitu:
a. Apoteker mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota tempat pekerjaan kefarmasian
b. Permohonan SIPA harus melampirkan:
1) fotokopi STRA yang dilegalisir oleh KFN
9

2) surat pernyataan mempunyai tempat praktik profesi atau surat


keterangan dari pimpinan fasilitas pelayanan kefarmasian
3) surat rekomendasi dari organisasi profesi dan
4) pas foto berwarna ukuran 4 x 6 sebanyak 2 (dua) lembar dan
3 x 4 sebanyak 2 (dua) lembar
c. Dalam mengajukan permohonan SIPA sebagai Apoteker
pendamping harus dinyatakan secara tegas permintaan SIPA
untuk tempat pekerjaan kefarmasian pertama, kedua, atau
ketiga.
d. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus menerbitkan
SIPA paling lama 20 (dua puluh) hari kerja sejak surat
permohonan diterima dan dinyatakan lengkap (2).
e. Operasional Apotek
Pelayanan Kefarmasian di Apotek meliputi 2 (dua) kegiatan
yaitu pelayanan yang berdisat manajerial berupa pengelolaan sediaan
farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai (perencanaan,
pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengontrolan,
pemusnahan, pencatatan dan pelaporan) dan pelayanan farmasi klinik
yang meliputi pelayanan resep,dan pemberian informasi obat dan atau
sediaan farmasi lainnya. Penyelenggaraan pelayanan kefarmasian yang
dilakukan di apotek harus menjamin ketersediaan sedian farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai yang aman, bermutu,
bermanfaat, dan terjangkau, serta wajib mengikuti standar pelayanan
kefarmasian sebagaimana yang ditetapkan dalam Peraturan
Pemerintah (3).
1. Perencanaan
Dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan Bahan Medis habis pakai perlu diperhatikan pola
penyakit, pola konsumsi, budaya dan kemampuan masyarakat (3).
2. Pengadaan
Kriteria yang harus dipenuhi dalam pengadaan sediaan
farmasi dan perbekalan kesehatan adalah:
10

a. Sediaan farmasi dan alat kesehatan yang diadakan memiliki izin


edar atau nomor registrasi.
b. Mutu, keamanan dan kemanfaatan sediaan farmasi dan alat
kesehatan dapat dipertanggung jawabkan.
c. Pengadaan sediaan farmasi dan alat kesehatan berasal dari jalur
resmi.
d. Dilengkapi dengan persyaratan administrasi (3)
3. Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis
spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera
dalam surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima (3).
4. Penyimpanan (3).
a. Obat/bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik.
Dalam hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahlan
pada wadah lain, maka harus dicegah terjadinya kontaminasi
dan harus ditulis informasi yang jelas pada wadah baru. Wadah
sekurang-kurangnya memuat nama obat, nomor batch dan
tanggal kadaluwarsa.
b. Semua obat/baha obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai
sehingga terjamin keamanan dan stabilitasnya
c. System penyimpanan dilakukan dengan memperhatikan bentuk
sediaan dan kelas terapi obat serta disusun secara alfabetis
d. Pengeluaran obat memakai system FEFO (First Expire First
Out) dan FIFO (First In First Out)
5. Pemusnahan (3).
a. Obat kadaluarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai dengan
jenis dan bentuk sediaan. Pemusnahan obat kadaluwarsa atau
rusak yang mengandung narkotika atau psikotropika dilakukan
oleh Apoteker dan disaksikan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
Pemusnahan obat selain narkotika dan psikotropika dilakukan
oleh Apoteker dan disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain
yang memiliki surat izin praktik atau surat izin kerja.
11

Pemusnahan dibuktikan dengan berita acara pemusnahan


menggunakan Formulir 1 sebagaimana terlampir.
b. Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 (lima)
tahun dapat dimusnahkan. Pemusnahan Resep dilakukan oleh
Apoteker disaksikan oleh sekurang-kurangnya petugas lain
yang dibuktikan dengan Berita Acara Pemusnahan Resep
menggunakan Formulir 2 sebagaimana terlampir dan
selanjutnya dilaporkan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota.
6. Pengendalian
Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan jumlah
persediaan sesuai kebutuhan pelayanan, melalui pengaturan system
pesanan atau pengadaan, penyimpanan dan pengeluaran. Hal ini
bertujuan untuk menghindari terjadinya kelebihan, kekurangan,
kekosongan, kerusakan, kadaluwarsa, kehilangan serta
pengembalian pesanan. Pengendalian persediaan dilakukan
menggunakan kartu stok baik dengan cara manual atau elektronik.
Kartu stok sekurang-kurangnya memuat nama obat, tanggal
kadaluwarsa, jumlah pemasukan, jumlah pengeluaran dan sisa
persediaan (3).
7. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dilakukan pada setiap proses pengelolaan
sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
meliputi pengadaan (surat pesanan, faktur), penyimpanan (kartu
stock), penyerahan (nota atau struk penjualan) dan pencatatan
lainnya disesuaikan dengan kebutuhan (3).
Pelaporan terdiri dari pelaporan internal dan eksternal.
Pelaporan internal merupakan pelaporan yang digunakan untuk
kebutuhan manajemen Apotek, meliputi keuangan, barang dan
laporan lainnya (3).
Pelaporan eksternal merupakan pelaporan yang dibuat
untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan meliputi pelaporan narkotika (menggunakan
12

formulir 3 sebagaimana terlampir), psikotropika (menggunakan


Formulir 4 sebagaimana terlampir) dan peloporan lainnya (3).
f. Pemusnahan Narkotika dan Psikotropika
Pemusnahan Narkotika dan Psikotropika farmasi hanya
dilakukan dalam hal : (5)
1. Diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku
dan/atau tidak dapat diolah kembali
2. Telah kadaluarsa
3. Tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan
dan/atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk sisa
penggunaan
4. Dibatalkan izin edarnya, atau
5. Berhubungan dengan tindak pidana
Pemusnahan Narkotika, dan Psikotropika Farmasi harus
dilakukan dengan :
1. Tidak mencemari lingkungan, dan
2. Tidak membahayakan kesehatan masyarakat.
Pemusnahan Narkotika, dan Psikotropika Farmasi dilakukan
dengan tahapan sebagai berikut :
1. Penanggung jawab fasilitas produksi/fasilitas distribusi/fasilitas
pelayanan kefarmasian/pimpinan lembaga/dokter praktik
perorangan menyampaikan surat pemberitahuan dan permohonan
saksi kepada :
a. Kementerian kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan
Makanan, bagi Instalasi Farmasi Pemerintah Pusat
b. Dinas Kesehatan Provinsi dan/atau Balai Besar/Balai Pengawas
Obat dan Makanan setempat, bagi Importir, Industri Farmasi,
PBF, Lembaga Ilmu Pengetahuan, atau Instalasi Farmasi
Pemerintah Provinsi, atau
c. Dinas kesehatan Kabupaten/Kota dan/atau Balai Besar/Balai
Pengawas Obat dan Makanan setempat, bagi Apotek, instalasi
farmasi Rumah Sakit, Instalasi Farmasi Klinik, Instalasi
Farmasi Pemerintah Kabupaten/Kota, Dokter, atau Toko Obat.
13

2. Kemeterian kesehatan, badan pengawas obat dan makanan, dinas


kesehatan provinsi, Balai Pengawas Obat dan Makanan setempat,
dan dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menetapkan petugas di
lingkungannya menjadi saksi pemusnahan sesuai dengan surat
permohonan sebagai saksi.
3. Pemusnahan disaksikan oleh petugas yang telah ditetapkan
sebagaimana dimaksud di atas.
4. Narkotika dan Psokotropika dalam bentuk bahan baku, produk
antara, dan produk ruahan harus dilakukan sampling untuk
kepentingan pengujian oleh petugas yang berwenang, sebelum
dilakukan pemusnahan
5. Narkotika, dan psikotropika farmasi dalam bentuk obat jadi harus
dilakukan pemastian kebenaran secara organoleptis oleh saksi
sebelum dilakukan pemusnahan.
Dalam hal Pemusnahan Narkotika dan Psikotropika Farmasi
dilakaukan oleh pihak ketiga, wajib disaksikan oleh pemilik Narkotika,
dan Paikotropika Farmasi dan saksi sebagaimana dimaksud dalam
pasal diatas.
1. Penanggung jawab fasilitas produksi/fasilitas distribusi/fasilitas
pelayanan kefarmasian/pimpinan lembaga/dokter praktik
perorangan yang melaksanakan pemusnahan Narkotika dan
Psikotropika Farmasi harus membuat berita acara pemusnahan
2. Berita Acara Pemusnahan sebagaimana dimaksud pada ayat (6),
paling sedikit memuat :
a. Hari, tanggal, bulan dan tahun pemusuhan;
b. Tempat pemusnahan
c. Nama penanggung jawab fasilitas produksi/fasilitas pelayanan
kefarmasian/pimpinan lembaga/dokter praktik perorangan.
d. Nama petugas kesehatan yang menjadi saksi dan saksi lain
badan/sarana tersebut
e. Nama dan jumlah Narkotika dan Psikotropika Farmasi yang
dimusnahkan
f. Cara pemusnahan
14

g. Tanda tangan penanggung jawab fasilitas produksi/fasilitas


distribusi/fasilitas pelayanan kefarmasian/pimpinan
lembaga/dokter praktik perorangan dan saksi
3. Berita acara pemusnahan sebagaimana dimaksud dibuat dalam
rangkap 3 (tiga) dan tembusannya disampaikan kepada direktur
jenderal dan Kepala Badan/Kepala Balai menggunakan contoh
sebagaimana tercantum dalam formulir 10 terlampir.

g. Farmasi Klinik
Farmasi Klinik adalah pelayanan farmasi yang tenaga
kefarmasian berinteraksi langsung dengan pasien yang menggunakan
obat untuk tercapainya tujuan terapi dan terjaminnya keamanan
penggunaan obat berdasarkan penerapan ilmu, teknologi dan fungsi
dalam perawatan penderita dengan memperhatikan preferensi pasien.
Pelayanan farmasi klinik dapat meliputi pelayanan resep (dispensing),
pelayanan informasi obat, konsultasi informasi dan edukasi,
pencatatan penggunaan obat, ldentifikasi, pemantauan dan pelaporan
reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD) dan efek samping obat
(MESO), pemantauan terapi obat, visite, evaluasi penggunaan obat,
pelayanan farmasi di rumah (home care) dan pemantauan kadar obat
dalam darah. (6)
1. Pelayanan Informasi Obat (PIO) (6)
Pelayanan informasi obat merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
apoteker dalam pemberian informasi mengenai obat yang tidak
memihak, dievaluasi dengan kritis dan dengan bukti terbaik dalam
segala aspek penggunaan obat kepada profesi kesehatan lain,
pasien atau masyarakat. Informasi mengenai obat termasuk obat
resep, obat bebas dan herbal.
Informasi meliputi dosis, bentuk sediaan, formulasi khusus, rute
dan metoda pemberian, farmakokinetik, farmakologi, terapeutik
dan alternative, efikasi, keamanan penggunaan pada ibu hamil dan
15

menyusui, efek samping, interaksi, stabilitas, ketersediaan, harga,


sifat fisika atau kimia dari obat dan lain-lain.
Kegiatan pelayanan informasi obat di apotek meliputi :
a. Menjawab jawaban lisan maupun tulisan
b. Membuat dan menyebarkan bulletin/brosur/leaflet,
pemberdayaan masyarakat (penyuluhan)
c. Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien
d. Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa
farmasi yang sedang praktik profesi.
e. Melakukan penelitian penggunaan obat
f. Membuat atau menyampaikan makalah dalam forum ilmiah
g. Melakukan program jaminan mutu
Pelayanan informasi obat harus didokumentasikan untuk
membantu penelusuran kembali dalam waktu yang relative singkat
dengan menggunakan formulir 6 sebagaimana terlampir.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam dokumentasi pelayanan
informasi obat :
a. Topik pertanyaan
b. Tanggal dan waktu pelayanan informasi obat diberikan
c. Metode pelayanan informasi obat (lisan, tertulis, lewat telepon)
d. Data pasien (umur, jenis kelamin, berat badan, informasi lain
seperti riwayat alergi, apakah pasien sedang hamil/menyusui,
data laboratorium)
e. Uraian pertanyaan
f. Jawaban pertanyaan
g. Referensi
h. Metode pemberian jawaban (lisan, tertulis, per telepon) dan
data apoteker yang memberikan pelayanan informasi obat.
2. Konseling (7)
Konseling merupakan proses interaktif antara Apoteker dengan
pasien/keluarga untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman,
kesadaran dan kepatuhan sehingga terjadi perubahan perilaku
dalam penggunaan obat dan menyelesaikan masalah yang dihadapi
16

pasien. Untuk mengawasi konseling, apoteker menggunakan three


prime questions. Apabila tingkat kepatuhan pasien dinilai rendah,
perlu dilanjutkan dengan metode Health Belief Model. Apoteker
harus melakukan verifikasi bahwa pasien atau keluarga pasien
sudah memahami obat yang diguanakan.
Kriteria pasien/keluarga pasien yang perlu diberi konseling :
a. Pasien kondisi khusus (pediatrik, geriatrik, gangguan fungsi
hati dan/atau ginjal, ibu hamil dan menyusui)
b. Pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis
(Misalnya: TB, DM, AIDS, epilepsi).
c. Pasien yang menggunakan obat dengan instruksi khusus
(penggunaan kortikosteroid dengan tappering down/off)
d. Pasien yang menggunakan obat dengan indeks terapi sempit
(digoksin, fenitoin, teofilin).
e. Pasien dengan polifarmasi; pasien menerima beberapa obat
untuk indikasi penyakit yang sama. Dalam kelompok ini juga
termasuk pemberian lebih dari satu obat untuk penyakit yang
diketahui dapat disembuhkan dengan satu jenis obat.
f. Pasien dengan tingkat kepatuhan rendah.
Tahap kegiatan konseling :
a. Membuka komunikasi antara apoteker dengan pasien
b. Menilai pemahaman pasien tentang penggunaan obat melalui
Three Prime Questions.
c. Menggali informasi lebih lanjut dengan memberi kesempatan
kepada pasien untuk mengeksplorasi masalah penggunaan obat.
d. Memberikan penjelasan kepada pasien untuk menyelesaikan
masalah penggunaan obat.
e. Melakukan verifikasi akhir untuk memastikan pemahaman
pasien.
Apoteker mendokumentasikan konseling dengan meminta tanda
tangan pasien sebagai bukti bahwa pasien memahami informasi
yang diberikan dalam konseling dengan menggunakan formulir 7
sebagaimana terlampir.
17

3. Pelayanan Kefarmasian di rumah (home pharmacy care)


Apoteker sebagai pemberi layanan diharapkan juga dapat
melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah,
khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan
penyakit kronis lainnya.
Jenis pelayanan kefarmasian dirumah yang dapat dilakukan oleh
apoteker, meliputi :
a. Penilaian/pencarian (assessment) masalah yang berhubungan
dengan pengobatan
b. Identifikasi kepatuhan pasien
c. Pendamping pengelolaan obat dan/atau alat kesehatan di
rumah, misalnya cara pemakaian obat asma, penyimpanan
insulin
d. Konsultasi masalah obat atau kesehatan secara umum
e. Monitoring pelaksanaan, efektifitas dan keamanan penggunaan
obat berdasarkan catatan pengobatan pasien
f. Dokumentasi pelaksanaan pelayanan kefarmasian dirumah
dengan menggunakan formulir 8 sebagaimana terlampir.
4. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
Merupakan proses yang memastikan bahwa seorang pasien
mendapatkan terapi obat yang efektif dan terjangkau dengan
memaksimalkan efikasi dan menimalkan efek samping.
Kriteria pasien :
a. Anak-anak dan lanjut usia, ibu hamil dan menyusui
b. Menerima obat lebih dari 5 (lima) jenis
c. Adanya multidiagnosis
d. Pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau hati
e. Menerima obat dengan indeks terapi sempit
f. Menerima obat yang sering diketahui menyebabkan reaksi obat
yang merugikan
Kegiatan :
a. Memilih pasien yang memenuhi kriteria
18

b. Mengambil data yang dibutuhkan yaitu riwayat pengobatan


pasien yang terdiri dari riwayat penyakit, riwayat penggunaan
obat dan riwayat alergi, melalui; melalui wawancara dengan
pasien atau keluarga pasien atau tenaga kesehatan lain.
c. Melakukan identifikasi masalah terkait obat. Masalah terkait
obat antara lain adalah adanya indikasi terapi tidak diterapi,
pemberian obat tanpa indikasi, pemilihan obat yang tidak tepat,
dosis terlalu tinggi, dosis terlalu rendah, terjadinya reaksi obat
yang tidak diinginkan atau terjadinya reaksi obat yang tidak
diinginkan atau terjadinya interaksi obat.
d. Apoteker menentukan prioritas masalah sesuai kondisi pasien
dan menentukan apakah masalah tersebut sudah atau berpotensi
akan terjadi
e. Memberikan rekomendasi atau rencana tindak lanjut yang
berisi rencana pemantauan dengan tujuan memastikan
pencapaian efek terapi dan meminimalkan efek yang tidak
dikehendaki
f. Hasil identifikasi masalah terkait obat dan rekomendasi yang
telah dibuat oleh apoteker harus dikomunikasikan dengan
tenaga kesehatan terkait untuk mengoptimalkan tujuan terapi.
g. Melakukan dokumentasi pelaksanaan pemantauan terapi obat
dengan menggunakan formulir 9 sebagaimana terlampir.
5. Monitoring Efek Samping Obat (MESO) (6)
Merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap obat yang
merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal
yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis
dan terapi atau memodifikasi fungsi fisiologis.
Kegiatan :
a. Mengidentifikasi obat dan pasien yang mempunyai resiko
tinggi mengalami efek samping obat.
b. Mengisi formulir monitoring efek samping obat (MESO)
c. Melaporkan ke pusat monitoring efek samping obat nasional
dengan menggunakan formulir 10 sebagaimana terlampir
19

Factor yang perlu diperhatikan :


a. Kerjasama dengan tim kesehatan lain
b. Ketersediaan formulir monitoring efek samping obat
II.2 Tinjauan Pustaka Kimia Farma
a. Sejarah PT Kimia Farma Tbk Apotek (8).
Sejarah PT Kimia Farma Apotek dimulai hampir dua abad yang lalu
yaitu tahun 1817 yang kala itu merupakan perusahaan farmasi pertama
didirikan Hindia Belanda di Indonesia bernama NV Chemicalien
Handle Rathkamp & Co. Kemudian pada awal kemerdekaan
dinasionalisasi oleh pemerintah Republik Indonesia dan seterusnya
pada tanggal 16 Agustus 1971 menjadi PT (Persero) Kimia Farma,
sebuah perusahaan farmasi negara yang bergerak dalam bidang
industri farmasi, distribusi, dan apotek. Sampai dengan tahun 2002,
apotek merupakan salah satu kegiatan usaha PT Kimia Farma
(Persero) Tbk, yang selanjutnya pada awal tahun 2003 di-spin-off
menjadi PT Kimia Farma Apotek.
PT Kimia Farma Apotek menjadi anak perusahaan PT Kimia
Farma (Persero) Tbk sejak tanggal 4 Januari 2003 berdasarkan akta
pendirian No. 6 tahun 2003 yang dibuat di hadapan Notaris Ny. Imas
Fatimah, S.H di Jakarta dan telah diubah dengan akta No.42 tanggal
22 April 2003 yang dibuat di hadapan Notaris Nila Noordjasmani
Soeyasa Besar, S.H. Akta ini telah mendapat persetujuan dari Menteri
Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan surat
keputusan No: C-09648 HT.01.01 TH 2003 tanggal 1 Mei 2003.
Pada tahun 2010 dibentuk PT Kimia Farma Diagnostika dan
merupakan anak perusahaan PT Kimia Farma Apotek yang
melaksanakan pengelolaan kegiatan usaha Perseroan di bidang
laboratorium klinik. Saat ini PT Kimia Farma Apotek bertrasnformasi
menjadi healthcare provider company, suatu perusahaan jaringan
layanan kesehatan terintegrasi dan terbesar di Indonesia, yang pada
akhir tahun 2015 memiliki 725 apotek, 300 klinik dan praktek dokter
bersama, 42 laboratorium klinik, dan 10 optik, dengan visi menjadi
20

perusahaan jaringan layanan kesehatan yang terkemuka dan mampu


memberikan solusi kesehatan masyarakat di Indonesia.
b. Struktur Organisasi (8)
PT. Kimia Farma (Persero), Tbk diawasi langsung oleh
pemerintah sebagai komisaris, dan memiliki 4 direktur selain Direktur
Utama, yaitu Direktur Pemasaran, Direktur Keuangan, Direktur
Produksi serta Direktur Umum dan Personalia.
Struktur organisasi PT. Kimia Farma Apotek adalah sebagai berikut :
1. Dewan Komisaris
2. Direktur Utama PT. Kimia Farma Apotek
3. Direktur Operasional, terdiri dari:
a. Manajer Operasional
b. Manajer Bisnis
c. Manajer Merchandisingr dan Logistik
4. Direktur Keuangan, SDM, dan Umum, terdiri dari:
a. Manajer Umum dan SDM
b. Manajer Keuangan dan Akuntansi
c. Manajer Teknologi Informatika
5. Direktur Pengembangan, membawahi Manajer Pengembangan
Usaha
Berikut gambar struktur organisasi PT. Kimia Farma A sebagai berikut
:
21

Gambar.1 Struktur Organisasi PT. Kimia Farma, Tbk

c. Budaya Perusahaan
Perseroan telah menetapkan budaya perusahaan yang
merupakan nilai-nilai inti Perseroan (corporate values) yaitu I C A R E
yang menjadi acuan/pedoman bagi Perseroan dalam menjalankan
usahanya, untuk berkarya meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan
masyarakat. Berikut adalah budaya perusahaan (corporate culture)
perseroan (8):
1. Innovative
Budaya berpikir out of the box, smart dan kreatif untuk
membangun produk unggulan
2. Customer first
Mengutamakan pelanggan sebagai mitra kerja
3. Accountable
22

Dengan senantiasa bertanggung jawab atas amanah yang


dipercayakan oleh perusahaan dengan memegang teguh
profesialisme, integritas dan kerja sama
4. Responsible
Memiliki tanggung jawab pribadi untuk bekerja tepat waktu, tepat
sasaran dan dapat diandalkan, serta senantiasa berusaha untuk tegar
dan bijaksana dalam menghadapi setiap masalah.
5. Eco-Friendly
Menciptakan dan menyediakan baik produk maupun jasa layanan
yang ramah lingkungan.
asas sebagai Ruh Budaya Perusahaan yang terdiridari 5 yaitu :
a. Kerja ikhlas:
Siap bekerja dengan tulus tanpa pamrih untuk kepentingan
bersama
b. Kerja cerdas:
Kemampuan dalam belajar cepat (fast learner) dan
memberikan solusi yang tepat
c. Kerja keras:
Menyelesaikan pekerjaan dengan mengerahkan segenap
kemampuan untuk mendapatkan hasil terbaik
d. Kerja Antusias:
Keinginan kuat dalam bertindak dengan gairah dan semangat
untuk mencapai tujuan bersama
e. Kerja tuntas :
Melakukan pekerjaan secara teratur dan selesai untuk
menghasilkan out put yang maksimal sesuai dengan harapan.
d. Core Bisnis KF Umum
Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan sesuai
dengan anggaran Dasar Perseroan yang ditetapkan melalui Keputusan
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor :
[Link] 2008 tentang Persetujuan Akta
Perubahan Anggaran Dasar Perseroan adalah menyediakan barang
dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat khususnya
23

di bidang industri kimia, farmasi, biologi, kesehatan, industri makanan


serta minuman, dan mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai
Perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.
Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, Perseroan dapat
melaksanakan kegiatan usaha sebagai berikut :
1) Mengadakan, menghasilkan, mengolah bahan kimia, farmasi,
biologi dan lainnya yang diperlukan guna pembuatan sediaan
farmasi, kontrasepsi, kosmetika, obat tradisional, alat kesehatan,
produk makanan/minuman dan produk lainnya termasuk bidang
perkebunan dan pertambangan yang ada hubungannya dengan
produksi di atas.
2) Memproduksi pengemas dan bahan pengemas, mesin dan peralatan
serta sarana pendukung lainnya, baik yang berkait dengan industri
farmasi maupun industri lainnya.
3) Menyelenggarakan kegiatan pemasaran, perdagangan dan distribusi
dari hasil produksi seperti di atas, baik hasil produksi sendiri
maupun hasil produksi pihak ketiga, termasuk barang umum, baik
di dalam maupun di luar negeri, serta kegiatan-kegiatan lain yang
berhubungan dengan usaha Perseroan.
4) Berusaha di bidang jasa, baik yang ada hubungannya dengan
kegiatan usaha Perseroan maupun jasa, upaya dan sarana
pemeliharaan dan pelayanan kesehatan pada umumnya, termasuk
jasa konsultasi kesehatan
5) Melakukan usaha-usaha optimalisasi aset yang dimiliki Perseroan
6) Jasa penunjang lainnya termasuk pendidikan, penelitian dan
pengembangan sejalan dengan maksud dan tujuan Perseroan, baik
yang dilakukan sendiri maupun kerja sama dengan pihak lain.
7) Perseroan memiliki bidang usaha di bidang industri farmasi, yang
didukung oleh manufaktur, research & development, pemasaran,
distribusi, ritel, laboratorium klinik dan klinik kesehatan.
PT. Kimia Farma (Persero), Tbk atau PT. Kimia Farma Holding
memiliki 3 anak perusahaan yaitu:
24

1) PT Kimia Farma Trading & Distribution, yang bergerak di bidang


perdagangan dan distribusi baik obat maupun alat kesehatan. Saat
ini Perseroan memiliki 46 Cabang KFTD yang tersebar di seluruh
wilayah Indonesia.
2) PT Kimia Farma Apotek, bergerak di bidang ritel farmasi dan yang
terbesar dari kekuatan jaringan apotek di Indonesia. Perseroan
memiliki lebih dari 560 Apotek Kimia Farma yang tersebar di
seluruh wilayah Indonesia. Pada tahun 2012, Perseroan mulai
membuka konsep bisnis ritel baru yaitu dengan konsep One Stop
Healthcare Solution (OSHcS) yaitu layanan kesehatan dari praktek
dokter/klinik kesehatan, laboratorium klinik hingga apotek
semuanya dilayani dalam satu atap secara terintegrasi. Terkait
dengan bisnis layanan laboratorium klinik, Perseroan telah
membentuk PT Kimia Farma Diagnostika yang berada di bawah
kewenangan PT Kimia Farma Apotek
3) PT Sinkona Indonesia Lestari, bergerak di bidang produksi dan
pemasaran produk kina beserta turunannya dan satu-satunya
perusahaan yang memproduksi kina dan bahan baku di Indonesia
yang hampir seluruh produksinya di ekspor ke luar negeri. (8)
e. Kimia Farma BM Makassar
Apotek Kimia Farma Makassar memiliki 27 apotek yang tersebar di
beberapa daerah, yaitu :

Tabel 1. Daftar Apotek Kimia Farma yang Termasuk dalam BM


Makassar
NO. Nama Apotek Alamat No. Telpon

Kimia Farma
Jl. Jend A. Yani 17
1. Ahmad Yani 04113620942
19
(33)
25

Kimia Farma
2. Hasanuddin Jl. St. Hasanuddin 46 04113617110
(38)
Kimia Farma
3. Jl. Urip Sumoharjo 32 0411449936
Erlina (199)
Kimia Farma
4. Jl. Pongtiku Raya 486 24141
Toraja (201)
Kimia Farma
5. Jl. Dr. Ratulangi 59 0411873789
Ratulangi (250)
Kimia Farma
Jl. Boulevard Komp.
6. Boulevard 0411442088
Ruby 1 No. 17
(410)
Kimia Farma
7. Jl. Dr. Kayadoe 351677
Ambon (26)
Kimia Farma Jl. Nurrusamawati 3
8. 22237
Pare-Pare (31) No. 151 (Pare-Pare)
Kimia Farma Jl. Daeng Tata No. 69-
9. 0411880685
Dg. Tata (501) 69A Makassar
Kimia Farma Jl. Pettarani No. 18
10. 0411857287
Pettarani (502) Makassar
Kimia Farma
Jl. Cendrawasih No.
11. Cendrawasih 0411875940
233
(548)
Jl. Perintis
Kimia Farma
12. Kemerdekaan KM. 14 0411518291
Daya (577)
No. 195 A
Jl. Poros Maros
Kimia Farma
13. Maccopa, Taroada, 0411372020
Maros (600)
Turikale, Maros
Kimia Farma Jl. Perintis
14. 04114813615
Unhas Kemerdekaan KM. 19
15. Kimia Farma Jl. Perintis 0411585904
26

Wahidin Kemerdekaan KM.11

Kimia Farma Jl. Sultan Aauddin No.


16. 0411865538
Alauddin (602) 222

Jl. Sultan Hasanuddin


Kimia Farma No. 8, Kel : Pandang-
17. 38 Hasanudin Pandang , Kec : Somba 0411869842
(601) Opu, Sungguminasa,
38 Hasanudin.
Jl. Kima 15 Kav.
Kimia Farma
18. R4/A1 Makassar 0411316907
Kima
90241
Kimia Farma Jl. Pengayoman No.
19. 0411438432
Pengayoman C2.16
Kimia Farma Jl. Adiyaksa Baru No.
20 04114673896
Lacasino 4
Kimia Farma Bumi Tamalanrea
21 04114773598
BTP Permai M/39
Kimia Farma Jl. Urip Sumoharjo No.
22 0411447940
Urip 36
Kimia Farma Jl. Perintis
23. 04118958915
Perintis Kemerdekaan KM. 11
Kimia Farma Jl. Diponogoro No. 66
24. 3822893
Urimeseng Ambon
Kimia Farma Jl. Bau Masepe No.
25. 041122237
Gelora (248) 404 Pare-Pare
Kimia Farma Jl. Perintis
26. 0411813615
Sudiang Kemerdekaan KM. 19
Kimia Farma Jl. Lanto Dg.
27. 0411384637
Bulukumba Pasewang No. 80
27

II.3 Apotek Kimia Farma 578 Sudiang


A. Lokasi Kimia Farma 578 Sudiang
Apotek Kimia Farma 578 Sudiang terletak di jalan Jln. Perintis
Kemerdekaan Km19 Ruko 237, Kec. Biring Kanaya, Kota Makassar,
Sulawesi Selatan 9011, Indonesia. Ditinjau dari lokasi apotek, apotek
Kimia Farma 578 Sudiang terletak di lokasi yang cukup strategis karena
berada dipinggir jalan yang mudah dijangkau dengan transportasi baik
dengan roda empat, roda dua maupun pejalan kaki. Hal ini pula didukung
dengan Puskesmas Sudiang dan Rumah Sakit TNI AU dr. Dody Sarjoto
yang berada tidak jauh dari apotek. Selain itu juga lokasi yang berada
dipinggir jalan, berdekatan dengan minimarket, bandara sultan hasanuddin,
bank, pusat bisnis, serta dekat dengan perhotelan untuk wisatawan, yang
akan lebih menguntungkan sehingga masyarakat yang akan membutuhkan
obat ataupun yang lainnya lebih mudah untuk datang ke apotek Kimia
Farma 578 Sudiang.
B. Tata Ruang Kimia Farma 578 Sudiang
Apotek Kimia Farma Sudiang terdiri dari 1 lantai. Tata ruang
Apotek terdiri dari ruang Apoteker, ruang pemeriksaan Dokter, ruang
tunggu, swalayan, tempat penerimaan resep dan kasir, ruang penyimpanan
obat, ruang peracikan, musholah, gudang dan toilet. Ruang tunggu apotek
dilengkapi dengan pendingin ruangan, televisi sehingga meningkatkan
kenyamanan pengunjung baik saat berbelanja di swalayan maupun saat
menunggu resep. Pada area pelayanan resep terdiri dari bagian penerimaan
resep, kasir pelayanan, penyediaan dan peracikan obat, penyerahan obat
dan ruang tunggu. Area swalayan farmasi, konsumen dapat langsung
melihat dan memilih obat atau alat kesehatan yang diinginkan dan dapat
dibantu oleh petugas untuk mencari obat yang diinginkan.
c. Struktur Organisasi
Kimia Farma 578 Sudiang memiliki 1 orang Apoteker Penanggung
Jawab (APA) yang sekaligus juga sebagai Manajer Apotek Pelayanan
(MAP), memiliki 1 orang Apoteker Pendamping (APING) dan 2 orang
Asisten Apoteker.
28

II.4 Tinjauan Tugas Khusus


a. Pengertian Merchandising
Merchandising adalah aktivitas untuk mendapatkan barang atau
jasa tertentu dan menjadikannya tersedia pada waktu, tempat, harga
serta jumlah yang mampu membuat peritel mencapai tujuannya. Jadi
merchendising merupakan suatu kegiatan perencanaan, pelaksanaan
maupun pengaturan dan penempatan produk serta promosi produk
sekaligus evaluasi produk yang dijual dalam store (9).
Merchandising menekankan pada persediaan, harga, kualitas
dan manfaat produk bagi konsumen. Prinsip respon cepat terhadap
kebutuhan dan keinginan pelanggan harus dapat dilaksanakan dengan
baik. Merchandising terbagi atas dua, yaitu (10):
1. Merchandising Promotion adalah upaya mendongkrak penjualan
untuk barang barang tertentu dalam periode waktu tertentu.
Event promosi ini bisa merupakan program dari supplier/produk
principal atau diagendakan oleh retailer sebagai bagian dari
program marketingnya. Bentuk promosi yang umum biasanya
berupa pemberian potongan harga, dan lain-lain.
2. Merchandising structure adalah suatu cara untuk membuat
kategorisasi atau barang-barang yang dijual sehingga ada kesamaan
persepsi atas data dan informasi barang dari keseluruhan pihak
yang terlibat. Ada 3 hal terpenting dalam merchandising structure,
yaitu:
a. Merchandising classification, yaitu suatu cara pengelompokan
barang berdasarkan suatu hierarki menurut kelompok
kebutuhan konsumen.
b. Items data maintenance, yaitu suatu cara untuk
mengidentifikasikan suatu items dan membedakannya dari
items lainnya dalam merchandising classification
c. Supplier data maintenance, yaitu suatu cara untuk
mengidentifikasi supplier yang menjadi sumber dari bahan
uang dijual. Komponen supplier data juga menjadi salah satu
dari komponan pembedah dalam identifikasi suatu items.
29

b. Fungsi Merchandising
Secara umum merchandising berfungsi sebagai berikut: (10)
1. Menolong pelanggan mengelompokkan barang, dengan logika
urutan dari suatu visualisasi (petunjuk arah, warna, ukuran, dan
jenis), pelanggan akan lebih mudah menemukan barang yang
dibutuhkan.
2. Menarik perhatian pelanggan, dengan pajangan yang sesuai dengan
prinsip visualisasi warna, ukuran, dan keselarasan interior,
pelanggan cenderung tertarik dengan apa yang dilihatnya.
3. Membangkitkan perasaan pelanggan, melalui visual, sentuhan, dan
aroma, pelanggan dapat merasakan barang yang ada secara
langsung.
4. Menstimulasi ketertarikan pada produk, ini dapat terjadi melalui
kemasan, informasi, atau pamflet/selebaran dalam toko.
5. Menolong pelanggan untuk segera membuat keputusan.
6. Mempunyai stok di rak barang-barang yang fast moving
7. Menjaga keamanan stok. Dengan merchandising yang dipajang
rapi keamanan barang akan lebih terjaga (10).
Elemen- elemen yang Termasuk di dalam Merchandising antara
lain :
a. Pemajangan, yaitu teknik memajang barang di dalam apotek,
baik dalam rangka mengkomunikasikan di bagian depan
apotek maupun mengoptimalkan pajangan barang stok di
dalam apotek.
b. Iklan, yaitu mengkomunikasikan tema dan konsep barang
dagangan kepada pelanggan melalui media cetak, media
elektronik, serta media indoor dan out door
c. Promosi, maksudnya memberikan potongan harga melalui
coupon sampling, premium, bonus pack, discount, stamps,
contest, dan bazar
d. Tata letak dalam apotek, menyangkut pengkondisian suasana
apotek yang berdampak langsung pada kenyamanan
berbelanja pelanggan.
30

e. Kemasan, yaitu keberadaan kemasan yang dapat menimbulkan


citra bagi barang tersebut (10).
Ada beberapa ketentuan dalam menentukan Struktur
Merchandising suatu produk di PT. Kimia Farma Apotek
a. Semua Vitamin golongan obat bebas (lingkaran Hijau) dan
obat bebas terbatas (lingkaran biru) masuk dalam Departement
: Health Group : Vitamin & Supplement Category :
Vitamin and Mineral, sedangkan Vitamin sediaan Injeksi/
infus masuk Departement : Prescription Group : Drugs
Category : Intravenous & Other Sterile Solutions, sedangkan
vitamin atau nutrisi golongan obat keras atau enteral masuk
Departement : Prescription Group : Drugs Category :
Vitamins & Nutritions
b. Khusus Produk yang mengandung Bahan Alami/ ekstrak (spt.
Imunos, Imboost, Lanavision dll) yang berfungsi sebagai anti
oksidan, penambah stamina, daya tahan tubuh masuk
Departement : Health Group : Vitamin & Supplement
Category : Vitamin and Mineral
c. Produk yang mengandung Vitamin dan Herbal atau Natural
atau Bahan Alam yang berfungsi sebagai multivitamin atau
berkhasiat obat dan di produksi oleh produsen khusus Food
Supplement masuk Group : Vitamin & Supplement
Category : Food Supplement
d. Untuk produk sediaan Oral yang mengandung Herbal atau
Natural atau Bahan Alam dan di produksi oleh produsen jamu
maka masuk Category : Traditional Medicine Sub Category
: Jamu
e. Untuk produk sediaan Oral yang mengandung Herbal atau
Natural atau Bahan Alam dan di produksi oleh bukan
produsen Jamu dan bukan produsen khusus food supplement
maka masuk Category : Traditional Medicine Sub Category
: Fito Farmaka/ Herbal/ Natural
31

f. Produk yang masuk Fito Farmaka adalah produk yang


mengandung bahan alami yang telah ada uji klinis
g. Semua jenis Obat Kumur ( bahan alami/ medicine/ kesegaran )
masuk dalam Group : Beauty Care Category : Oral Care
Sub Category : Oral Hygiene
h. Obat Gosok yang berupa Jamu seperti Minyak Gosok (Minyak
Tawon, Minyak Kayu Putih dll) tidak masuk Group :
Traditional Medicine tapi masuk dalam Group : Medicine
Cabinet Category : Topical Sub Category : Minyak Kayu
Putih, sedangkan Obat Gosok (Minyak Telon) masuk dalam
Deptement : Baby Products Group : Baby & Child Care
Category : Bath, Skin & Hair Care Sub Category : Minyak
Telon
i. Obat Panas Dalam ( Lasegar, Larutan Kaki 3 dll ) masuk
dalam Departement : Household Group : Household Items
Category : Drinks Sub Category : Energy & Health
Drink
j. Bedak/ Lotion Gatal/ Biang Keringat/ Anti Jamur (bedak
purol, bedak caladin, bedak daktarin dll) masuk Departement
: Baby Products Group : Baby & Child Care Category :
Bath, Skin & Hair Care Sub Category : Baby Powder,
Medicated Powder
k. Shampo Antiseptic/ Jamur masuk Departement Personal &
Beauty Group Beauty Care Category Hair Care Sub
Category Hair Tonic, Medicated Shampoo
l. Sabun Kesehatan/ Anti Septik masuk Departement : Personal
& Beauty Group : Beauty Care Category : Soap &
Bodywash Sub Category : Medicated Soap
m. Yang masuk Group : Traditional Medicine adalah sediaan
Oral, selain sediaan Oral masuk dalam Group : Medicine
Cabinet Category : Topical atau Departement : Personal &
Beauty atau Baby Products tergantung fungsi produknya
32

n. Semua Obat Batuk/ Pilek/ Analgesik/ Antipiretik golongan


obat bebas (lingkaran Hijau) dan obat bebas terbatas
(lingkaran biru) masuk dalam Departement : Health Group
: Medicine Cabinet, sedangkan golongan obat keras masuk
Departement : Prescription Group : Drugs
o. Semua Obat Pencernaan (stomach) golongan obat bebas
(lingkaran Hijau) dan obat bebas terbatas (lingkaran biru)
masuk dalam Departement Health Group Medicine Cabinet
Category Stomach, sedangkan golongan obat keras masuk
Departement : Prescription Group : Drugs
p. Produk pemutih masuk Category Skin Care
q. Botol obat, pot salep dan serta wadah lain masuk Departement
Prescription Group Raw Material Category Raw
Material
r. Produk Kapas Non Kecantikan masuk dalam Departement
Health Medical Equipment First Aid Medical Cottons.
Sedangkan Produk Kapas untuk Kecantikan masuk dalam
Departement Personal & Beauty Beauty Care Skin Care
Facial Cottons
s. Semua Minuman Kesehatan/ yang Berkhasiat Obat masuk
dalam Departement : Household Group Household Items
Category Drinks
t. Produk yang berhubungan dengan kelengkapan dalam
perawatan seperti tempat bedak, pisau kecil, gunting kuku,
hiasan rambut, sisir dll masuk Departement Personal &
Beauty Group Beauty Care Category Cosmetics
Cosmetics Accessories.
c. Faktor-Faktor Merchandising
Untuk dapat menarik pelanggan, pertama-tama yang harus
dilakukan adalah mendeskripsikan segmen pasar atau segmen pelanggan.
Setelah itu mengoptimalkan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan
pelanggan melalui merchandising. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan
33

secara seksama dan dapat menarik konsumen melalui merchandising


adalah (11).
a. Citra toko (Store Image)
Pelanggan akan mempunyai kesan me ndalam terhadap suatu toko
berdasarkan pada pengalamannya. Semakin banyak kesukaan akan
citra toko yang pernah dilihatnya, semakin memungkinkan bagi
pelanggan untuk loyal. Aspek eksterior (logo, nama toko, petunjuk,
pesan toko/slogan yang ditonjolkan) juga perlu dioptimalkan.
Meskipun hanya bagian kecil, kebersihan pintu masuk, keset, dan
bagian depan toko juga harus terus diupayakan.
b. Pajangan depan (Window Display)
Pajangan di depan toko yang mengesankan dan jendela samping (kiri
dan kanan) sangat berpengaruh dalam menciptakan kesan positif
pelanggan. Pajangan di depan semestinya memiliki tema khusus. Ini
berguna untuk mempengaruhi pelanggan agar bersedia memiliki
barang yang dijual apotek tersebut. Tema yang sering diangkat
sepanjang tahun adalah tahun baru (masehi, imlek), liburan sekolah,
hari Valentine, Lebaran, dan Natal. Pajangan di depan juga
dianjurkan memakai warna yang harmonis dan dioptimalkan dengan
penyinaran lampu yang luks. Kebersihan kaca-kaca dan bagian
dalam harus terus dijaga. Secara periodik pajangan depan harus
diganti sesuai dengan jangka waktu yang dijadwalkan dan tema yang
ditentukan.
c. Bagian dalam toko (Inside the Store)
Toko harus dibuat bersuasana penuh merchandising (item barang
lengkap, keluasan, dan kedalamannya baik jenis maupun ukurannya),
namun tidak semrawut, dan berkesan mengundang rasa ingin tahu
serta membangkitkan minat pembeli.
d. Lampu penerangan
Penerangan yang baik sangat efektif dalam membangkitkan
perhatian pelanggan. Penerangan bahkan terbukti mampu
menciptakan semangat membeli pelanggan. Penerangan juga
memilki kualitas dan warna untuk memberikan gambaran terbaik
34

bagi merchandising toko. Untuk menciptakan semangat membeli


pelanggan, dianjurkan memakai lampu berwarna dan penerangan
yang lembut. Barang yang ada di tempat-tempat pajangan harus
diberi penerangan khusus agar lebih menarik pelanggan.

e. Exterior display
Memajang barang-barang diluar tokoh, misalnya pada waktu
mengadakan obral dan pasar malam. Tujuan dari display exterior
adalah untuk:
a. Memperkenalkan suatu produk secara cepat dan ekonomis
b. Membantu parah konsumen yang menyalurkan barang-barangnya
dengan cepat dan ekonomis
c. Membangun hubungan yang baik dengan masyarakat, misalnya
pada hari raya, ulang tahun, dll
d. Menyebabkan adanya kontinuitas skema dan tema warna dari
pembungkus
e. Membantu mengkoordinasikan advertising dan merchandising
f. Kekuatan warna
Warna adalah alat atau sesuatu yang sangat kuat dalam
visualisasi merchandising. Warna disini dipakai untuk
menciptakan daya tarik, menumbuhkan perhatian,
menciptakan semangat, dan merangsang setiap orang untuk
bertindak.
d. Registrasi dan Listing (9)
Registrasi adalah proses pendaftaran produk principal (ETHICAL)
dalam master barang dagang PT KFA yang dilakukan oleh
principal/distributor ke kantor pusat dengan persyaratan yang telah
ditetapkan tanpa dikenakan biaya apapun dan tidak ada surat direksi,
hanya via email dari KP KFA dan hanya sekali registrasi utk suatu
produk.
Listing adalah proses pendaftaran produk principal (OTC) dalam
Master Barang Dagang PT KFA yang dilakukan oleh
35

Principal/Distributor ke Kantor Pusat dengan Persyaratan yang telah


ditetapkan dan dikenakan biaya listing, pemeberitahuan adanya surat
direksi, dan dikirim via email dari KP KFA dan berlaku 1 tahun atau
sesuai kesepakatan berikutnya.
e. Mengoptimalkan Story Lay Out (11)
Lay Out dalam merchendasing sangat penting, keputusan Lay Out
interior harus disesuaikan dengan tipe toko dan faktor tingkat
penetapan self service. Story Lay Out merupakan cara mengatur bagian
selling dan non-selling, lorong, rak, pajangan, serta pemajanga barang
dan alat-alat yang saling berhubungan dan menjadi element yang
menyatu dalam sruktur .
1. Dasar story lay out
Tujuan Story Lay Out adalah untuk memaksimalkan
penjualan dan mempertahankan konsistensi profit dengan selalu
mempertimbangkan kenyamanan pelanggan. Hal yang perlu
diperhatikan adalah bagaimana menampilkan barang yang
sebanyak mungkin kepada pelanggan. Ada dua prinsip yang perluh
diperhatikan dalam membuat Lay Out untuk memenuhi kepuasan
pelanggan, diantaranya:
a) Pajangan akhir (end display) untuk gondola di depan mesin
kasir
Study tentang antrean pembelian konsumen menunjukkan
bahwa frekuensi pembelian barang yang terpajang pada
pajangan akhir relatif rendah. Item yang menunjukkan
frekuensi penjualan paling tinggi sebaiknya diletakkan di depan
kasir.
b) Penempatan oleh kekuatan yang menggerakkan
Produk yang banyak dibeli oleh pelanggan seringkali karena
barang itu sendiri memiliki kekuatan yang menggerakkan
pelanggan untuk membeli, biasanya merupakan kebutuhan
harian, seperti susu, sabun cuci, pasta gigi, dan pembersih lain
di supermarket. Agar pajangan lebih lengkap, masing-masing
36

lorong pajangan setidaknya diisi dua kategori barang yang


memiliki kekuatan menggerakkan pelanggan untuk membeli.

2. Lay out dan implikasinya


Lay Out adalah penataan letak dan susunan lemari obat di apotek
dengan tujuan untuk memberikan kemudahan dan kecepatan
kepada pegawai dalam menyiapkan obat yang dibutuhkan oleh
konsumen. Jenis-jenis lay out:
a) Lay Out dengan pola kotak-kotak besi (Lay Our beralian lurus)
Rak disusun satu dengan yang lainnya dan menutupi dinding.
Kelebihan dari pola ini adalah:
1) Aliran lalu lintas pelanggan lebih efisien
2) Keamanan dan kontrol barang lebih baik,
3) Memunginkan semua lantai ruangan digunakan, dan
4) Pelanggan dapat berbelanja dengan cepat.
Kekurangan dari pola ini adalah:
1) Pelanggan serba ingin cepat,
2) Suasana dingin biasa-biasa saja, dan
3) Mengurangi kesukaan pelanggan untuk melihat-lihat.
b) Desain kurva atau aliran bebas
Pola seperti ini umumnya digunakan oleh departemen store dan
memungkinkan pelanggan bergerak ke seluruh apotek dan
melihat-lihat bagian yang bervariasi secara bebas.
Kekurangannya ialah petugas lebih sulit untuk mengamati dan
mengontrol barang dan lebih banyak menggunakan ruangan.
f. Cara Menata Perbekalan Farmasi di Apotek
Tata cara penataan obat di apotek dapat dibagi menjadi dua, yaitu: (10)
1. Di ruangan peracikan atau penyiapan counter (ethical counter)
Hal yang menjadi pertimbangan dalam menata perbekalan farmasi
bagian di etical conter antara lain:
a. Peraturan, terutama yang mengatur tentang narkotik,
psikotropik, dan obat keras daftar G.
37

1) Narkotik di ruangan peracikan disimpan di lemari khusus


narkotik, ditempatkan sesuai dengan ketentuan peraturan
yang berlaku.
2) Psikotropik di ruang peracikan ditempatkan di lemari
khusus terpisah dengan perbekalan farmasi lainnya.
3) Untuk golongan obat keras daftar G dan obt ethical lainnya,
diletakkan di ruang peracikan disimpan di lemari khusus
yang dibagi menjadi 4 bentuk perbekalan farmasi, yaitu:
Lemari penyimpanan obat solid yaitu lemari penyimpanan
khusus untuk obat yang berbentuk solid seperti tablet,
kaplet, kapsul dan pil.
a) Lemari perekalan semisolid yaitu lemari penyimpanan
khusus obat yang berbentuk semisolid seperti cream,
salep, pasta, jelly, dll
b) Lemari perbekalan obat cairan, yaitu lemari khusus
penyimpanan obat yang berbentuk cairan seperti
injeksi, ampul, sirup
c) Lemari pendingin (kulkas) yaitu tempat penyimpanan
obat yang harus disimpan di tempat sejuk atau dingin
seperti vaksin, ovula, suppo, insulin.
b. Bentuk dan tanda lemari (rak) obat
1) Bentuk lemari (rak) obat. Bentuk lemari dibuat seperti
sarang tawon yang dapat menampung banyak jenis obat,
sehingga penyimpanan obat menjadi lebih efisien dan
mempermudah dalam proses penyiapan obat.
2) Tanda lemari obat yaitu petunjuk mengenai tempat-tempat
bentuk perbekalan farmasi disetiap lemari atau rak obat
yang terdapat di perackan, agar da[pat memberikan
kemudahan dan kecepatan dalam menyiapkan obat yang
dibutuhkan oleh konsumen. Tandanya dapat berupa:
tergantung diatas lemari obat, nempel pada lemari obat.
3) Kebersihan obat yang terdapat dalam lemari agar kualitas
obat terjamin dan terjaga sehingga tidak rusak.
38

2. Di ruangan penjualan obat bebas (OTC Counter)


Hal yang perlu diperhatikan dalam menata perbekalan farmasi
dalam OTC Counter antara lain:
1. Lay Out atau tata letak suasana barang yang dapat memberikan
kenyamanan, kemudahan bagi konsumen dalam memperoleh
obat
2. Estatika atau seni menata dan mendesain rak obat bebas, obat
bebas terbatas, dan OTC agar dapat menimbulkan rasa ingin
tahu dan membeli bagi setiap konsumen dalam memperoleh
obat yang dibutuhkan.
3. Tanda atau petunjuk mengenai tempat-tempat golongan fungsi
obat di setiap lemari atau rak obat
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menata kedua ruangan
tersebut:
a. Estetika, bersih, indah dan menyenangkan
b. Informatif, ada tanda tentang golongan fungsi obat
c. Pada ethical Counter harus dibuat menjadi dua ruangan,
yaitu:
1) Tempat membuat atau meracik obat seperti pulveres,
capsul, salep, krim pada ruangan khusus tertutup kaca, agar
konsumen dapat melihat bagaiman obat tersebut disiapkan.
2) Tempat menyiapkan dan memberi etiket obat jadi, pada
ruangan peraciakn tidak perluh dilihat oleh konsumen.
3) Kenyamanan, ethical dan OTC counter harus dipisah untuk
mencegah penumpukan konsumen pada satu tempat.

g. Kriteria Barang dan Posisi Pajangan (2)


Kategori barang dan kebutuhan panjangnya adalah sebagai berikut:
1. Barang paling laku best seller
Ada dua tipe barang best seller yang posisi panjangnya perlu
diperhatikan, diantaranya jenis barang kebutuhan dasar harus
diletakkan ditempat yang memungkinkan untuk memacuh
39

penjualan barang lain. Jenis barang promosi (sale items)


diposisikan di tempat yang utama.
2. Barang dengan laba tinggi (hight profit) harus diletakkan di tempat
utama
Barang yang memancing untuk dibeli (impuls items) diletakkan di
pajangan yang muda dilihat dan didekati untuk memancing
oelanggan agar berani melihat dan pada akhirnya membeli.
3. Barang spesial, harus muda dilihat dan punya tanda khusus
sehingga pelanngan dapat langsung kelokasi dan melihatnya untuk
membeli
4. Barang musiman (seasonal items) yang merupakan barang yang
membutuhkan lokasi utama agar pelanggan tahu bahwa barang ini
ada di tokoh.
5. Barang dengan persediaan bermasalah, tidak boleh dipajang
ditempat utama karena penjualan bisa tidak banyak.
40

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

III.1 Hasil dan Pembahasan Kegiatan Umum


Selama mengikuti kegiatan PKPA Farmasi Perapotekan di Apotek Kimia
578 Sudiang, kami ikut terlibat dalam kegiatan pengelolaan perbekalan farmasi,
meliputi:
1. Pengadaan
Pengadaan perbekalan farmasi di apotek Kimia Farma 578 Sudiang
diawali dengan kegiatan perencanaan. Dasar perencanaan pengadaan sistem
ini dibuat berdasarkan stok level seluruh Apotek pelayanan berdasarkan rata-
rata penjualan per hari yang diperoleh dari data penjualan 3 bulan ke
belakang dari masing-masing Apotek. Kegiatan ini merupakan proses
penentuan jenis dan jumlah sediaan yang akan dipesan ke Pedagang Besar
Farmasi (PBF) untuk memenuhi kebutuhan dalam jangka waktu tertentu yang
pengadaannya dilakukan secara terpusat oleh bagian pembelian di Business
Manager (BM). Ada dua metode pengadaan yang dilakukan di Kimia Farma
Apotek 38 Hasanudin yaitu pengadaan dengan menggunakan BPBA (Bon
Permintaan Barang Apotek) dan pengadaan P4 (Program Pengadaan Pola
Pareto). Proses pengadaan yang kami lakukan selama PKPA yaitu
berdasarkan data penjualan per hari yang diperoleh dari data penjualan
sebelumnya, dimana semua item barang pada apotek akan diklasifikasikan ke
dalam3 kelas, yaitu:
a. Kelas A, mewakili 20% item barang yang memberikan kontribusi
sebesar 80% dari total penjualan
b. Kelas B, mewakili 10% item barang yang memberikan kontribusi
sebesar 15% dari total penjualan
c. Kelas C, mewakili 70% item barang yang memberikan kontribusi
sebesar 5% dari total penjualan
Pemesanan rutin dilakukan terhadap produk yang tergolong dalam
pareto A dan B, sediaan farmasi yang termasuk ke dalam kategori kelas A,
biasanya merupakan sediaan yang perputarannya cepat (fast moving).
Untuk produk yang termasuk ke dalam pareto C dilakukan pemesanan bila
41

produk tersebut akan habis. Dengan demikian perencanaan persediaan


dapat ditentukan dengan cepat.
Setelah dilakukan kegiatan perencanaan, selanjutnya dilakukan
pemesanan barang. Pemesanan dilakukan dengan mengisi surat pesanan
pada komputer apotek, setelah barang didata, selanjutnya dilakukan
validasi dan BPBA dikirim Secara online melalui Kimia Farma
Information System (KIS) ke Business Manager (BM). BM akan merekap
permintaan tesebut dan mengecek apakah barang ada atau tidak di BM.
Jika stok barang ada maka barang langsung dikirimkan ke apotek Kimia
Farma 578 Sudiang disertai bukti faktur. Tetapi, jika stok barang tidak ada,
maka BM akan membuat Surat Pesanan (SP) ke Pedagang Besar Farmasi
(PBF) yang telah dipilih. PBF akan mengirim barang-barang yang dipesan
ke BM yang disertai dengan faktur pembelian.
2. Penerimaan
Barang datang di Apotek dilakukan pengecekan kesesuaian barang yang
diterima daftar faktur yang diserahkan dari BM ke apotek. Pengecekan
dilakukan terhadap kesesuaian nama apotek, nama barang, jumlah barang,
nomor batch, tanggal kadaluarsa serta kondisi fisik barang. Jika barang sesuai
dengan pesanan dan dalam kondisi baik maka daftar faktur diparaf oleh
petugas penerima, tanggal, bulan, tahun barang diterima serta nomor urut
penerimaan. Jika barang tidak sesuai dengan faktur atau adanya cacat pada
barang maka bagian pembelian akan membuat berita pengembalian barang
atau retur dan mengembalikan barang tersebut ke BM untuk ditukar dengan
barang yang sesuai. Dua lembar salinan dropping digunakan untuk keperluan
administrasi yaitu satu lembar untuk arsip apotek dan satu lembar sisanya
diserahkan kepada BM.
3. Penyimpanan
Apotek Kimia Farma 578 Sudiang secara besar memiliki dua area
penyimpanan berdasarkan jenis produk yang dilakukan, yaitu:
a. Penyimpanan Produk Bebas atau produk swalayan
Obat bebas dan obat bebas terbatas dipajang di swalayan dan disusun
berdasarkan kegunannya.
b. Penyimpanan produk etikal
42

Produk etikal merupakan produk-produk yang tidak boleh dipajang.


Sistem penyimpanannya, yang melihat bentuk sediaan dan Farmakologi
obat. adalah sebagai berikut:
1) Tempat penyimpanan obat berdasarkan kelas terapi disusun secara
alfabetis diantaranya yaitu:
Sediaan Topikal, Sistem Saraf Pusat, Vitamin dan Mineral, Insulin,
Endokrin dan Hormonal, Alergi dan Pernapasan, Hati dan Pencernaan,
Urinaria, Produk Kimia Farma, Kardiovaskuler, Ovula dan
Supositoria, Antibiotik dan Antivirus, Sediaan Injeksi, Obat Generik,
Sediaan Oftalmik, Obat-obat BPJS, dan Obat-Obat INHEALTH.
2) Penyimpanan berdasarkan bentuk sediaannya yaitu:
Tablet dan kapsul, Sirup, suspensi dan drop, Tetes mata dan salep
mata, Tetes telinga, Salep, krim dan lotio, Injeksi dan infus, Ovula dan
suppositoria.
3) Golongan obat Narkotika dan Psikotropika
Disimpan dalam lemari tersedia secara khusus. Lemari terdiri dari 2
pintu yang terkunci. Khususnya untuk narkotika harus disimpan dalam
lemari penyimpanan Narkotika ukuran 40x80x100 cm. Bahannya dari
kayu atau bahan lain yang kuat. Lemari ditanam pada dinding atau
lemari dan dalam keadaan terkunci.
4) Penyimpanan obat-obat termolabil
Disimpan dalam lemari es dengan suhu tertentu.
5) High Alert dan LASA
Penyimpanan/peletakkan obat-obat LASA diberi jarak bila
memungkinkan pada tempat yang tidak dalam satu deret rak obat, dan
LASA diberi tandan dengan stiker bulat berwarna biru pada tempat
obat tersebut.
Obat High Alert merupakan obat yang perlu kewaspadaan tinggi,
penyimpanan dipisahkan dengan obat-obat lainnya atau diberi tanda
dengan stiker bulat berwarna merah.
6) Alat kesehatan
Disimpan dalam lemari alat kesehatan
43

4. Pelayanan
Pelayanan obat di Apotek Kimia Farma 578 Sudiang terdiri dari
pelayanan obat melalui resep dan pelayanan obat non resep. . Pelayanan
obat dengan resep terbagi menjadi pelayanan resep tunai dan pelayanan
resep kredit.
a. Pelayanan Resep
Pelayanan obat melalui resep merupakan pelayanan di mana pasien yang
akan menebus resep awalnya menyerahkan resep di bagian penerimaan
untuk diperiksa kelengkapan dan keabsahan resep serta mengecek
ketersediaan obat yang ingin dibeli dan penentuan harganya, pelayanan
dengan Resep ini seperti BPJS, Inhealth, Mandiri, Pertamina, harus
membawa kartu/fotocopy dari kartu jaminan kesehatan
perusahaan/instansi terkait serta resep asli, dan untuk Pasien Umum
dilakukan dengan metode pembayaran. Tahapan dalam pelayanan resep
sebagai berikut:
1) Penerimaan resep
Resep yang diterima oleh petugas apotek terlebih dahulu di-skrining,
kemudian dilakukan pemeriksaan persediaan obat, penginformasian
khusus untuk pasien BPJS, Inhealth, Mandiri, Pertamina, jika ada obat
yang diresepkan tidak di tanggung, seperti vitamin Imboost dan lain-
lain. Pada pasien Umum dengan Resep dilakukan cara penerimaan
seperti resep pada umumnya. Setelah itu, memberikan informasi harga
obat jika pasien setuju maka petugas akan memberikan harga,
mencatat data pasien (nama, alamat dan nomor telepon).
2) Perjanjian dan pembayaran
Perjanjian meliputi pengambilan obat semua atau sebagian, penawaran
pengantaran obat jika obat jumlahnya kurang atau tidak tersedia,
penggantian obat bila tidak ada, dalam hal ini jika pasien meminta obat
Cetirizin, tetapi obat yang diminta kosong dan digantikan dengan obat
Cerini yang indikasi dan fungsinya sama.
Jika pasien telah setuju dengan perjanjian maka pasien dapat
membayar biaya obat sesuai dengan harga obat yang diminta.
44

Untuk pasien BPJS dan jaminan yang lainnya, perjanjian obat yang
kosong bisa diambil jika obat tersebut tersedia, dan pihak apotik akan
menginformasikan kembali melalui telepon.
3) Pengerjaan resep
a) Resep racikan
Dalam pengerjaan resep racikan yang dilakukan adalah membaca
resep dengan seksama, menghitung pemakaian dosis obat dan
banyaknya obat yang diambil, jika ada obat dengan dosis berlebih
maka harus di konfirmasikan langsung kepada dokter penulis
resep, mengambil obat sesuai dengan banyaknya obat yang
dibutuhkan, melakukan peracikan dan pengemasan obat (puyer
atau kapsul), menulis etiket sesuai dengan resep yang meliputi
nomor resep, nama pasien, tanggal, cara pemakaian, jumlah puyer
atau kapsul. Untuk etiket obat dalam menggunakan etiket warna
putih sedangkan obat luar menggunakan etiket berwarna biru.
b) Resep non racikan atau obat jadi
Yang dilakukan adalah membaca resep dengan seksama,
mengambil obat sesuai dengan permintaan yang ada diresep,
menulis pada etiket yang sesuai yang meliputi nomor resep, nama
pasien, tanggal, aturan pakai, cara pemakaian, nama obat, dan
jumlah obat yang diberikan. Untuk etiket obat dalam menggunakan
etiket warna putih sedangkan obat luar menggunakan etiket
berwarna biru.
4) Pemeriksaan akhir
Obat yang telah disiapkan diserahkan kepada petugas pemeriksa resep
untuk dilakukan pemeriksaan akhir. Apabila obat yang telah
dipersiapkan sudah sesuai dengan permintaan pada resep, dapat
dilakukan penyerahan obat kepada pasien dengan disertai dengan
pemberian informasi obat (PIO)
5) Penyerahan dan pemberian informasi obat
Penyerahan obat dapat dilakukan oleh apoteker penanggungjawab
apotek maupun apoteker pendamping yang sedang bertugas.
Penyerahan dilakukan dengan cara memanggil nama pasien, kemudian
45

dilanjutkan dengan pemberian dinformasi obat yang didahului dengan


menanyakan three prime questions kemudian pasien diberikan
informasi mengenai nama obat, bentuk sediaan, dosis, jumlah, aturan
dan cara pakai, cara penyimpanan, efek samping yang mungkin terjadi
dan cara mengatasinya.
b. Pelayanan Non Resep
Pelayanan obat non resep merupakan pelayanan di mana pasien
datang dengan permintaan obat tertentu atau dengan keluhan tertentu lalu
bekonsultasi dengan Apoteker untuk menentukan obat yang sesuai,Saat
menanggapi keluhan pasien diperlukan teknik tahapan bertanya yang
sistematis sehingga farmasis memperoleh informasi yang lengkap dan
dapat mengambil keputusan dengan tepat. Obat yang dapat dilayani tanpa
menggunakan resep dokter antara lain obat bebas, obat bebas terbatas, obat
tradisional, kosmetik, alat kesehatan dan obat keras yang termasuk di
dalam daftar obat wajib apotek (OWA).
Untuk pelayanan obat tanpa resep, pertama-tama pasien harus
mengisi data permintaan obat UPDS (Upaya Pengobtan Diri Sendiri) atau
swamedikasi. Terdapat metode yang digunakan oleh Apotek Kimia Farma
578 Sudiang dalam pelayanan UPDS, yakni metode WWHAM. Dalam
metode ini, pasien akan diberikan beberapa pertanyaan, yaitu:
1) W (Who), Siapa yang menggunakan obat?
2) W (What), Apa gejala yang di alami?
3) H (How Long), Berapa lama gejala berlangsung?
4) A (Actions), Apa yang telah anda lakukan terhadap gejala tersebut?
5) M (Medicine), Obat lain yang sedang digunakan?
Pasien dengan Non Resep akan dilayani indikasi yang dialami pasien
dan pengobatannya termaksud daftar obat wajib apotek (OWA), setelah itu
dilakukan penyerahan obat pada pasien disertai informasi seperti aturan
pakai, indikasi, kontra indikasi, efek samping dan hal lain terkait dengan
penggunaan obat, apabila setelah mendapatkan jawaban dari pasien,
apoteker dapat menyimpulkan tindakan apa yang harus diberikan terhadap
pasien terkait obat yang diminta, tidak dapat dilayani Apoteker pasien
dapat direkomendasikan untuk berkonsultasi dengan dokter.
46

III.2 Hasil dan Pembahasan Tugas Khusus


Apotek Kimia Farma 578 Sudiang, memiliki konsep bangunan yang cukup
luas dan menunjang dalam penyusunan konsep merchandising, hal ini cukup
optimal dan menguntungkan apotek. Dari segi atmosfer store telah memenuhi
syarat begitupun dari segi pencahayaan dan warna, serta ruang tunggu yang
dilengkapi tv menimbulkan kesan yang nyaman bagi konsumen yang menunggu,
hal ini juga dapat membantu dalam proses penjualan.
Kimia Farma 578 Sudiang memiliki penyusunan merchandising yang
berada dalam swalayan apotek yaitu memiliki 6 island gondola, 7 end gondola, 6
wall gondola, 2 wall rendah, 1 floor display, back counter, check out counter dan
1 chiller/cooler.
Team merchandising melakukan bedah outlet di Kimia Farma Dg Tata
pada tanggal 19 Juli 2017, hal ini dilakukan untuk merubah tata letak gondola
pada denah atau layout untuk lebih menarik konsumen yang datang.
Bedah otlet ini sangat membantu memperbaiki tata letak produknya, dalam
proses penjualan. Dengan meletakkan produk sesuai tempat persyaratan, dimana
produk medicine di letakkan di area yang dekat dengan area prescription (jauh
dari pintu masuk apotek), dikarenakan karakter produknya merupakan obat-
obatan, sehingga memudahkan pengawasan dan pelayanan oleh karyawan yang
bertugas di area prescription. Sedangkan untuk produk non medicine jauh dari
counter dan dekat dari pintu masuk apotek, sehingga menghasilkan image yang
seimbang, kelengkapan apotek Kimia Farma juga didukung dengan penyediaan
produk-produk Personal and Beauty. Kimia farma juga mempunyai produk listing
dan produk registrasi yang diperjual belikan pada swalayan apotek yang
diletakkan di area merchandising. Produk listing yaitu produk Over The Counter
(OTC) atau produk yang dapat dibeli tanpa resep dokter dan pendaftaran
produknya dikenakan biaya. Contoh dari produk listing yaitu Natur-e, Bio-oil,
Nutrimax, Seaquill, Naturs Health. Sedangkan produk registrasi yaitu produk
ethical atau produk-produk (obat-obat) yang memerlukan resep dokter untuk
mendapatkan atau membeli produk obat tersebut dan pendaftaran produknya tidak
dikenakan biaya. Contoh produk registrasi adalah Allopurinol, Cefadroxil,
Fentanyl, Codipront, Haloperidol, Codein, Miniaspi, Asam Traneksamat,
Thyrozol, Amoxan syrup.
47

Denah atau layout apotek kimia farma merupakan layout cheap and quick
service store dimana layout ini mempunyai peran untuk mengembangkan store
image. Beberapa produk masih ada yang tear yang penyusunannya melebihi
ketentuan yaitu tersusun dua kesamping dan beberapa kebelakang, hal ini
walaupun tidak sesuai dengan standar penyusunan akan tetap dilakukan untuk
menghindari gondola yang kosong dan akan merusak tampilan merchandising.
Konsep merchandising menjadi sangat penting dalam peningkatan
keuntungan Kimia Farma, karena merchandising merupakan suatu konsep dan
alat yang berupa cara penataan/penampilan produk yang telah terbukti secara
efektif dapat meningkatkan penjualan, yang juga dapat menaikkan image dari
perusahaan/brand/produk, dan atau toko yang melakukan merchandising tersebut.
Setelah dilakukan Bedah Outlet, team merchandising apotek melakukan
pengamatan pengolahan data omset penjualan yang dilakukan sebelum bedah
outlet dan sesudah bedah outlet di Kimia Farma Dg Tata, maka didapatkan hasil
sebagai berikut :

Tabel 2. Omset Penjualan Sebelum dan Susudah Bedah Outlet


NAMA Omset Penjualan Sebelum Omset Penjualan Sesudah
Bedah Outlet Bedah Outlet
21/06/2017 - 26/06/2017 21/07/2017 26/07/2017
BABY AND CHILD CARE 45.732 33.421
MILK AND NUTRITION 162.141 451.35
PAPER AND DIAPER 81.720 21.433
FIRST AID 27.060 259.052
ORAL CARE 60.432 147.254
TOPICAL 568.119 468.93
ALKES 1 0.0
VITAMIN AND MINERAL 1067.86 858.992
BEAUTY CARE 103.285 499.07
PERSONAL CARE 299.602 163.777
SKIN CARE 708.542 611.718
FOOD SUPLEMEN 1.337 57.151
MEDICINE 47.535 1303.04
TOTAL 1.995.389 2.152.789
48

Gambar 2. Diagram perbandingan omset penjualan sebelum dan sesudah


bedah outlet
Team merchandising, telah melakukan bedah outlet pada tanggal 19 Juli
2017. Perubahan tata letak gondola pada denah atau layout dilakukan untuk lebih
menarik konsumen yang datang. Dengan ini kami mengambil dan mengamati
perubahan pada penjualan sebelum dan sesudah bedah outlet. Pengamatan
penjualan dilakukan dengan mengambil sebelum bedah outlet pada tanggal 21-26
Juni 2017 dan sesudah bedah outlet 21-26 Juli 2017. Hasil data setelah bedah
outlet yang didapat terjadi peningkatan omset penjualan pada produk milk and
nutrition, first aid, oral care, beauty care, food suplemen dan medicine. Kami
juga menarik data secara keseluruhan penjualan yang ada di swalayan yaitu
sebelum bedah outlet sebesar Rp. 1.995.389 dan sesudah bedah outlet Rp.
2.152.789, dari hasil yang diperoleh penjualan setelah Bedah Outlet mengalami
peningkatan. Peningkatan hasil penjualan cukup besar, hal ini terjadi atas kerja
sama semua pegawai Apotek Kimia Farma Dg Tata.
49

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

IV.1 KESIMPULAN
Dari pengamatan yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan:
1. Tugas dan tanggung jawab apoteker di Apotek meliputi bagian
manajerial, pelayanan farmasi klinik dan mampu mengelola aspek-aspek
penting di Apotek seperti SDM, sediaan, sarana dan prasarana.
2. Strategi pengembangan apotek dapat dilakukan dengan meningkatkan
pelayanan kepada pelanggan.
3. Merchandising di Apotek Kimia Farma 578 Sudiang sudah lumayan
bagus, akan tetapi belum optimal karena masih banyak gondola yang
tidak terisi, masih terdapat beberapa obat yang ada di gondola belum
diberi label harga.
4. Bedah Outlet dilakukan 19 Juli 2017 di Kimia Farma Dg Tata, dilakukan
perbandingan penjualan dengan mengambil 5 hari sebelum Bedah Outlet
dan 5 hari setelah Bedah Outlet dengan menghasilkan kenaikan omset.
IV.2 SARAN
Adapun beberapa saran dan masukan untuk Apotek Kimia Farma
adalah:
1. Usahakan gondola di isi penuh jangan ada yang kosong karena kelihatan
kurang menarik
2. Kebersihan rak obat agar lebih diperhatikan lagi dan periksa selalu stok
obat di gondola
3. Mempertahankan produk-produk yang mengalami peningkatan
penjualan, hal ini dalam proses pengadaan barang suatu produk agar
dipenuhi dan jangan dibiarkan dalam keadaan kosong dan berkurang.
56

DAFTAR PUSTAKA

1. Menteri Kesehatan RI, 2014. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 36 Tahun


2014. Tentang Tenaga Kesehatan. Jakarta.

2. Undang undang Republik Indonesia No.9 Tahun 2017 tentang Apotek. 2017.
Jakarta. Mitra Info.

3. Undang undang Republik Indonesia N0. 35 Tahun 2014 tentang Standar


Pelayanan Kefarmasian di Apotek. 2014. Jakarta. Mitra Info.

4. Undang-Undang Republik Indonesia. No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan


Kefarmasia. 2009. Jakarta. Mitra Info.

5. Undang undang Republik Indonesia No. 3 Tahun 2015 tentang Peredaran,


Penyimpanan, Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan
Prekursor Farmasi. 2015. Jakarta. Mitra Info.

6. Direktorat Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian


Kesehatan Republik Indonesia dan Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia.
Pedoman Cara Pelayanan Kefarmasian yang Baik (CPFB). 2011

7. Direktorat Bina Farmasi Komunikasi dan Klinik. Depkes RI. Pedoman


Konseling Pelayanan Kefarmasian di Sarana Kesehatan. 2007

8. [Link] di akses tanggal 1 maret 2017

9. Marchandise Structure and Display Manual KFA -2012

10. Pasaribu, Juliana Sari. 2008. Laporan Praktek Kerja Farmasi


Komunitas/Apoteker di Apotek Kimia Farma Pematang Siantar. E-repository.
Universitas Sumatera Utara. Medan

11. Menteri Kesehatan RI, 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia Nomor 73 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di
Apotrk. Jakarta. 2016.

12. Hardjono, S. 2001. Kumpulan Peraturan Perundang undangan Apotek.


Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

13. Undang-undang Republik Indonesia. No. 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang


Ketentuan Pemberian Ijin Apotek. 2002. Jakarta. Mitra Info.

14. [Link] di akses tanggal 1 maret 2017

15. Marchandise Structure and Display Manual KFA -2012


57

LAMPIRAN

Lampiran 1. Layout Display Apotek Kimia Farma 578 Sudiang


58

Lampiran 2. Layout Display apotek Kimia Farma Dg Tata Sebelum Bedah


Outlet

Lampiran 3. Layout Display apotek Kimia Farma Dg Tata Setelah Bedah


Outlet
59

Lampiran 4. Struktur organisasi Kimia Farma Apotek

KFA

LAB.
BM KLINIK DC
KLINIK

FRANCHISE NEW JV KFA-


OUTLET Pratama Spesialis AVERO
US

IDI Brand Activasi

Insurance Keagenan/Priv Label

InHealth DC
60

Lampiran 5. Struktur organisasi BM

MANAGER BISNIS

SEKRETARIAT KASIR

APP
AKUNTANSI
PENGADAAN GUDANG
& KEUANGAN

1. Adm. Kas/Bank 1. TRANSITO IN


2. Adm Penjualan/Piutang 2. TRANSITO OUT
3. Adm. Pembelian/Hutang
4. Adm. Inkaso/penagihan
5. Adm. Umum & Personalia
6. Adm. Perpajakan
61

Lampiran 6. Struktur Organisasi Kimia Farma 578 Sudiang

Pharmacy Manager

Apoteker Pendamping

Supervisor Layanan Dokter Klinik


Farmasi

Perawat

PJ Swalayan Farmasi

SPG
Asisten Kasir/ Juru
Apoteker Racik
62

Lampiran 7. Alur Pelayanan Obat Melalui Resep

Penerimaan resep Kelengkapan untuk resep non tunai(fc


kartu jaminan kesehatan)

Skrining resep
Penolakan
resep
Tidak setuju

Cek ketersediaan Tanya pasien/dokter untuk penggantian obat


obat tidak
setuju
Ada

Pengambilan obat

Pemberian Penyiapan obat


harga dan
pembayaran
(resep tunai )
Penulisan etiket dan copy resep
(bila diperlukan)

Pengemasan obat

Pemeriksaan akhir oleh


apoteker

Metode KIE:
[Link] questions
Penyerahan dan KIE oleh Apoteker [Link] verification
[Link] and tell
63

Lampiran 8. Alur Pelayanan Obat Non Resep

Pasien datang dengan permintaan obat tertentu atau dengan keluhan


tertentu dengan Apoteker untuk menentukan obat yang sesuai

Who(siapayang sakit?)
Apoteker What (apa gejalanya?)
menentukan How(berapalamagejalanya?)
obat yang sesuai Actions (tindakan apa yang
Pemberian harga & sudah dilakukan?)
pembayaran Medications (obat apa yang
sudah digunakan?)

Penyiapan &
penyerahan
obat

PIO (Pelayanan
Informasi
Obat)
64

Lampiran 9. Surat Pesanan Prekursor

SURAT PESANAN OBAT MENGANDUNG PREKURSOR FARMASI

Nomor SP :

Yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : SITTI HASNAWATI, S. Farm., Apt
Jabatan : APOTEKER PENGELOLA APOTEK
Nomor SIPA : 446/842.11/SIPA/ DKK/VIII/2014

Mengajukan pesanan obat mengandung precursor Farmasi kepada :


Nama PBF : BINA SAN PRIMA
Alamat :
Telp. :

Jenis obat mengandung Prekursor Farmasi dipoesan adalah :


Bentuk
Nama obat Zat Aktif
dan
No mengandung prekursor Satuan Jumlah Ket.
kekuatan
precursor farmasi
sediaan
1 Aldisa SR cap Pseudoefedrin Kapsul Box 4 box
@50
2 Sanaflu tab Pseudoefedrin Tablet Box 1 box
@100
3 Tremenza tab Pseudoefedrin tablet Box 5 box
@100
4 Tremenza syr 60 pseudoefedrin sirup botol 6
ml

Obat mengandung Precursor Farmasi tersebut akan digunakan untuk memenuhi


kebutuhan :
Nama Apotek : Apotek Kimia Farma 578 Sudiang
Alamat lengkap : Jl. Perintis Kemerdekaan KM 19
Surat Izin Apotek :
Makassar. 27 Juli 2017
Pemesan,

Sitti Hasnawati, S. Farm., Apt


SIPA: 446/842.11/SIPA/ DKK/VIII/2014
65

Lampiran 10. Surat Pesanan Narkotika

No. SP : 003/Sp/KF.578/ 2017 Lembar ke 1/2/3/4/5

SURAT PESANAN NARKOTIKA

Yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : SITTI HASNAWATI, S. Farm., Apt
Jabatan : APOTEKER PENGELOLA APOTEK
Alamat Rumah :

Mengajukan pesanan narkotika kepada :


Nama Distributor : KIMIA FARMA TD
Alamat & No. telp : Jl. KIMA Raja

Sebagai berikut :
DUROGESIC 12,5 , 2 x 5 Patch

Narkotika tersebut akan dipergunakan untuk keperluan


Apotik KIMIA FARMA 578 SUDIANG

Lembaga
Makassar, 27 Juli 2017
Pemesan

Sitti Hasnawati, S. Farm., Apt


SIPA: 446/842.11/SIPA/ DKK/VIII/2014
66

Lampiran 11. Surat Pesanan Psikotropika

SURAT PESANAN PSIKOTROPIKA

Yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : SITTI HASNAWATI, S. Farm., Apt
Jabatan : APOTEKER PENGELOLA APOTEK
Alamat Rumah :
Mengajukan pesanan narkotika kepada :
Nama Distributor : KIMIA FARMA
Alamat & No. telp : Jl. KIMA Raja

Jenis Psikotropika
1. ALPRAZOLAM 1 MG TAB @100 = 3 (TIGA) BOX
2. ALPRAZOLAM 0,5 MG TAB @100 = 3 (TIGA) BOX

untuk keperluan
Nama : Apotik KIMIA FARMA578 SUDIANG
Alamat : Jl. Perintis Kemerdekaan KM 19

Makassar 27 Juli 2017


Pemesan

Sitti Hasnawati, S. Farm., Apt


SIPA: 446/842.11/SIPA/ DKK/VIII/2014
1

Common questions

Didukung oleh AI

PT Kimia Farma Apotek menggunakan strategi pemasaran yang mencakup diversifikasi produk dan layanan, pengembangan jaringan layanan kesehatan terintegrasi, dan promosi konsep One Stop Healthcare Solution. Selain itu, perusahaan juga melakukan optimalisasi aset, membentuk kemitraan dengan entitas lain, dan meningkatkan kualitas layanan serta produk melalui inovasi dan penelitian berkelanjutan. Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing melalui keunikan dan kualitas layanan serta memperluas jangkauan pasar .

Pendirian apotek di Indonesia harus memenuhi beberapa persyaratan, diantaranya apoteker dapat mendirikan apotek dengan modal sendiri atau bekerja sama dengan pemilik modal. Lokasi apotek diatur oleh Pemerintah Daerah untuk memastikan kemudahan akses masyarakat. Bangunan apotek harus memenuhi standar fungsional dan keselamatan, serta harus memasang papan nama yang jelas. Selain itu, apotek harus dilengkapi dengan sarana, prasarana, dan peralatan sesuai fungsi pelayanan kefarmasian. Apoteker dan tenaga teknis kefarmasian harus memiliki izin praktik yang sah. Surat Izin Apotek diajukan melalui permohonan tertulis ke Pemerintah Daerah disertai dokumen pendukung seperti fotokopi STRA dan dokumen identitas lainnya .

Apotek memastikan keamanan dan kualitas penyimpanan obat termolabil dengan menyimpannya dalam lemari es pada suhu tertentu yang sesuai untuk menjaga stabilitas obat tersebut. Sistem penyimpanan yang baik harus memisahkan obat termolabil dari jenis obat lainnya untuk menghindari paparan suhu yang tidak sesuai. Apotek juga harus memastikan lemari es dalam kondisi baik, rutin memeriksa suhu penyimpanan, dan menggunakan tanda khusus untuk memperjelas lokasi penyimpanan obat termolabil .

Sistem penyimpanan obat berdasarkan bentuk sediaan dan kelas terapeutik bermanfaat untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko kesalahan saat pengeluaran obat. Dengan kategori yang jelas seperti tablet, sirup, tetes mata, dan lainnya, serta klasifikasi berdasarkan kelas terapi seperti antibiotik, kardiovaskuler, dan lainnya, memudahkan staf apotek untuk menemukan dan mengatur obat secara tepat. Ini juga membantu dalam mengikuti standar pengendalian mutu dan memastikan obat disimpan dalam kondisi optimal untuk mempertahankan keamanannya .

Apoteker di apotek memastikan pemahaman pasien melalui proses konseling yang interaktif, menggunakan metode Three Prime Questions untuk memfasilitasi diskusi tentang penggunaan obat. Jika kepatuhan pasien dinilai rendah, apoteker menggunakan pendekatan Health Belief Model. Pasien atau keluarganya diberi informasi mendetail tentang dosis, jadwal, efek samping, dan cara penggunaan obat. Prosedur ini membantu meningkatkan pemahaman dan kesadaran pasien, mendorong kepatuhan, dan mengubah perilaku penggunaan obat menuju yang lebih tepat dan aman .

PT Kimia Farma telah bertransformasi menjadi penyedia layanan kesehatan terintegrasi dengan mengembangkan berbagai unit usaha seperti apotek, klinik, laboratorium klinik, dan optik yang tersebar luas di Indonesia. Transformasi ini dilakukan melalui pengembangan konsep layanan One Stop Healthcare Solution yang menyediakan layanan kesehatan dari klinik hingga apotek dalam satu lokasi. Manfaat bagi masyarakat termasuk kemudahan akses terhadap berbagai layanan kesehatan di satu tempat, peningkatan kualitas pelayanan karena integrasi berbagai layanan mendukung diagnostik dan pengobatan yang lebih cermat, dan efisiensi waktu bagi pasien .

Struktur organisasi PT Kimia Farma Apotek dirancang dengan adanya Dewan Komisaris dan Direktur Utama, serta didukung oleh Direktur Operasional yang bertanggung jawab atas manajemen operasional apotek. Struktur ini memungkinkan berbagai fungsi seperti pemasaran, distribusi, dan layanan kesehatan terintegrasi dan saling mendukung untuk mencapai efisiensi operasional dan pelayanan yang optimal kepada masyarakat. Pengawasan langsung oleh pemerintah selaku komisaris memastikan kepatuhan dan arah strategis perusahaan .

Pelayanan resep tunai di apotek Kimia Farma Sudiang melibatkan pembayaran langsung oleh pasien saat menebus resep obat. Sebaliknya, pelayanan resep kredit mencakup kerja sama dengan perusahaan atau instansi seperti BPJS dan Pertamina, di mana pembayaran obat dilakukan melalui sistem klaim setelah pasien menunjukkan kartu atau dokumen pendukung lainnya. Kedua layanan ini memastikan ketersediaan obat yang dibutuhkan sesuai resep dokter, namun metode pembayaran didasarkan pada jenis hubungan finansial yang dimiliki pasien dengan pihak pembayar .

Pelayanan Informasi Obat (PIO) di apotek harus meliputi pemberian informasi tentang obat resep, obat bebas, dan herbal. Informasi tersebut harus objektif, berdasarkan bukti terbaik, dan mencakup aspek seperti dosis, bentuk sediaan, farmakokinetik, terapeutik, efek samping, serta interaksi obat. Selain itu, kegiatan PIO harus terdokumentasi dengan baik untuk penelusuran cepat jika diperlukan. PIO di apotek juga dapat melibatkan penjawaban pertanyaan lisan dan tulisan, penyebaran edukasi melalui brosur, serta memberikan pendidikan kepada mahasiswa farmasi .

Seorang apoteker bertanggung jawab untuk mengidentifikasi obat dan pasien yang berisiko tinggi mengalami efek samping. Mereka harus mengisi formulir monitoring efek samping obat dan melaporkan ke pusat monitoring nasional. Apoteker juga berperan dalam berkolaborasi dengan tim kesehatan lain dan memastikan ketersediaan formulir monitoring serta mendokumentasikan pemantauan yang dilakukan menggunakan formulir yang ditentukan .

Anda mungkin juga menyukai