0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
108 tayangan18 halaman

Patofisiologi dan Biaya Trigger Finger

Ringkasan dokumen tersebut adalah tentang trigger finger yang merupakan salah satu penyakit ortopedi yang sering ditemukan. Trigger finger disebabkan oleh penebalan tendon fleksor yang menyebabkan tendon tidak berjalan sempurna di dalam selubung tendon. Gejala yang dirasakan pasien antara lain adanya klik atau terkuncinya jari saat ditekuk atau diluruskan."

Diunggah oleh

ika pratiwi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
108 tayangan18 halaman

Patofisiologi dan Biaya Trigger Finger

Ringkasan dokumen tersebut adalah tentang trigger finger yang merupakan salah satu penyakit ortopedi yang sering ditemukan. Trigger finger disebabkan oleh penebalan tendon fleksor yang menyebabkan tendon tidak berjalan sempurna di dalam selubung tendon. Gejala yang dirasakan pasien antara lain adanya klik atau terkuncinya jari saat ditekuk atau diluruskan."

Diunggah oleh

ika pratiwi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAGIAN ILMU ORTHOPEDI REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN JULI 2017


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

TRIGGER FINGER

OLEH:
Ika Pratiwi Lestari
111 2015 2242

PEMBIMBING :
dr. Hendrian Chaniago, [Link], [Link]

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU ORTHOPEDI FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
2017
LEMBAR PENGESAHAN
Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:
Nama : Ika Pratiwi Lestari
NIM : 111 2015 2242
Judul Kasus : TRIGGER FINGER
Telah menyelesaikan tugas Referat dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian
orthopedi Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia.

Makassar, Juli 2017

Pembimbing,
dr. Hendrian Chaniago, [Link], [Link]
LATAR BELAKANG

Trigger finger (TF) adalah salah satu penyakit yang paling sering yang
ditemukan dalam praktik ortopedi dan merupakan salah satu penyebab yang sering
terjadi pada keluhan nyeri tangan dan disabilitas. Keadaan ini merupakan penyebab
dari penebalan tendon fleksor distal pada telapak tangan.1
Penebalan ini menyebabkan tendon tidak berjalan sempurna di dalam
selubung tendon. Tendon yang terserang berada pada tepi pulley A1. Pasien
mengalami kesulitan saat menekukkan jarinya jika tendon yang terserang berada di
bagian distal dari pulley A1, atau kesulitan saat meregangkan (ekstensi) jarinya jika
tendon yang terserang berada pada proksimal pulley. Gejalanya dirasakan sangat
nyeri, terutama jika terdapat locking atau snapping.1
Etiologi TF belum diketahui pasti, namun lebih sering terjadi pada pasien
dengan rheumatoid arthritis (RA) atau diabetes mellitus (DM). Gejala TF dimulai
dengan ketidaknyamanan pada telapak tangan saat jari yang terserang digerakkan.
Pasien biasanya datang dengan keluhan satu jari yang terkunci (locking) pada posisi
tertentu, paling sering fleksi, yang mungkin memerlukan manipulasi pasif untuk dapat
mencapai ekstensi penuh.2
Predileksi TF paling sering pada tangan yang dominan digunakan, dengan
jari yang paling sering terserang adalah jempol, diikuti oleh jari-jari ring, middle,
little, dan index.2
Sampai saat ini, terapi lini pertama yang digunakan untuk pengobatan TF
yakni dengan menyuntikkan kortikosteroid ke dalam selubung tendon, dan pelepasan
pulley A1 melalui pembedahan sebagai pengobatan lini kedua.2
Pembedahan dalam bentuk pelepasan pulley A1 menjadi populer saat
splinting dan / atau terapi injeksi gagal atau dengan adanya patologi lain, seperti RA,
dimana pengobatan injeksi terbukti tidak berguna atau ada risiko pecah atau infeksi
tendon.2

ANATOMI

Tendon adalah jaringan yang menghubungkan otot ke tulang. Saat otot


berkontraksi, tendon menarik tulang. Inilah yang menyebabkan beberapa bagian
tubuh bergerak.3
Otot yang menggerakkan jari dan jempol terletak di lengan bawah, di atas
pergelangan tangan. Berupa tendon yang panjang, disebut tendon fleksor yang meluas
dari otot melalui pergelangan tangan dan menempel pada tulang kecil jari dan
jempol.3
Tendon fleksor ini mengendalikan gerakan jari dan jempol. Saat menekuk atau
meluruskan jari, tendon fleksor masuk melalui terowongan yang disebut selubung
tendon, yang membuat tendon tetap berada di samping tulang.3
DESKRIPSI

Tendon fleksor terperangkap pada pintu masuk selubung tendon (tendon


sheaths) oleh karena adanya penebalan (nodul). 4
Nodul sekunder bisa berkembang pada tendon. Penyebab yang mendasari
tidak diketahui, namun kondisi ini kebanyakan dialami pada pasien dengan diabetes
mellitus. Pasien dengan rheumatoid arthritis yang beresiko terjadinya penebalan nodul
atau intratendinous nodul yang juga dapat menjadi pemicu. Walaupun faktor
pekerjaan biasanya juga dikaitkan dengan kondisi ini, namun belum ditemukan
penyebab yang dapat mendasarinya.4

Tendon fleksor dapat mengalami iritasi saat berjalan melalui terowongan


selubung tendon. Karena semakin lama teriritasi, tendon dapat menebal sehingga
nodul terbentuk, membuat perjalanannya melalui terowongan menjadi sulit.4

Selubung tendon juga bisa menebal, menyebabkan terbukanya pintu masuk


terowongan menjadi lebih sempit..4

DEFINISI

Trigger finger (stenosing tenosynovitis) adalah kelainan yang umum


terjadi pada jari tangan, yang disebabkan oleh inflamasi sehingga terjadi penebalan
selubung tendon fleksor dan penyempitan pada celah selubung retinakulum. Hal ini
menyebabkan nyeri, sensasi klik saat jari fleksi dan ekstensi, serta kehilangan gerak
atau terkunci (locking) pada jari yang terkena. Istilah trigger finger pertama kali
dideskripsikan oleh Notta pada tahun 1850.4

ETIOLOGI

Etiologi Trigger finger belum diketahui secara pasti. Diduga pembentukan


nodul pada tendon, perubahan morfologis pada pulley, atau kombinasi dari keduanya
dapat memicu terjadinya trigger. Beberapa penelitian telah menunjukkan korelasi
antara TF dengan aktivitas yang memerlukan tekanan pada telapak tangan misalnya
cengkeraman kuat yang sering dilakukan atau berulang dengan posisi jari fleksi
(misalnya pengelasan busur, penggunaan gunting berat). Fleksi phalangeal proksimal
pada posisi mencengkeram dapat menyebabkan beban annular yang tinggi pada tepi
distal pulley A1.5
Jadi, kesimpulannya, etiologi yang tepat belum diketahui, namun kondisi
tertentu seperti diabetes melitus (DM) atau rheumatoid arthritis (RA) dapat
mempengaruhi. Sampson dkk menyimpulkan bahwa mekanisme patobiologis yang
mendasari untuk memicu adalah metaplasia fibrokartilaginosa pada pulley karena
trauma atau penyakit. Beberapa penelitian telah gagal untuk menunjukkan adanya sel
peradangan akut atau kronis dalam tenosinovium. Akhiran -itis dalam istilah
stenosing tendovaginitis sebenarnya adalah keliru kecuali kondisinya terkait dengan
RA atau radang sendi. Etiologi yang tepat masih belum diketahui, namun
diperkirakan kondisi DM atau autoimun dapat menyebabkan perubahan morfologis
pada pulley dan / atau selubung tendon yang menyebkan terjadinya trigger. 5
Sebuah studi retrospektif oleh Grandizio dkk mengindikasikan bahwa
setelah dilakukan pembedahan pelepasan terowongan karpal pasien yang memiliki
risiko TF lebih besar pada pasien DM dibandingkan mereka yang tidak menderita
DM. Dalam penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa dari 1003 pelepasan
terowongan karpal pada pasien tanpa DM, kejadian TF pada 6 dan 12 bulan masing-
masing adalah 3% dan 4%, sedangkan dari 214 pelepasan terowongan karpal pada
pasien DM, Kejadian pada 6 dan 12 bulan masing-masing 8% dan 10%.5

Trigger thumb
Trigger thumb (trigger pada ibu jari) biasanya terjadi secara idiopatik, meski
berkembang lebih sering pada individu dengan diabetes atau osteoarthritis. Trigger
pada ibu jari lebih cenderung terjadi pada seseorang dengan kondisi apapun yang
menyebabkan berkembangnya tenosynovium, seperti radang sendi, encok, atau
infeksi kronis (misalnya jamur, mikobakteri atipikal). Keadaan seperti ini dapat
berkembang dari distal ke sendi MCP, dan bila berat dapat menyebabkan kekakuan.5

EPIDEMIOLOGI

Epidemiologi TF adalah kondisi yang relatif umum dan terjadi dua sampai
enam kali lebih sering pada wanita daripada pada pria. Beberapa penemuan
mengungkapkan bahwa puncak kejadian TF ada pada individu berusia 55-60 tahun.
Distribusi umur tidak berubah secara signifikan meski terjadi peningkatan aktivitas
komputasi dan kegiatan berulang. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, TF pada
populasi anak-anak terjadi lebih jarang daripada pada orang dewasa dan lebih sering
menyerang ibu jari.6

PATOFISIOLOGI

Pada kondisi normal, tendon fleksor pada jari berjalan di bawah pulley yang
menahan. Penebalan pada selubung tendon fleksor dapat membatasi mekanisme
gerakan normalnya. Sebuah nodul dapat berkembang pada tendon, menyebabkan
tendon terjebak di tepi proksimal pulley A1 saat pasien mencoba untuk memfleksikan
jarinya, sehingga menyebabkan kesulitan untuk melakukannya.7
Inflamasi yang terjadi dapat menghalangi jalannya tendon sehingga tidak
dapat melalui pulley A1 dengan lancar. Jika nodulnya terdapat pada bagian distal dari
pulley A1 (seperti yang ditunjukkan pada sketsa), maka jari akan terjebak pada posisi
ekstensi. Sebaliknya, jika nodul berada pada posisi proksimal dari pulley A1, maka
jari pasien lebih cenderung terjebak dalam posisi fleksi.7
Data dari suatu penelitian mencatat bahwa penyebab gertakan (snapping)
pada jari penderita trigger finger adalah penebalan dan kekakuan dari pulley A1. Tiga
minggu setelah injeksi kortikosteroid, ketebalan pulley dan rasio lemak subkutan akan
menurun, sehingga gertakan (snapping) berangsur hilang pada semua pasien yang
diteliti.7

TANDA DAN GEJALA KLINIS

Setiap jari tangan dapat terserang trigger finger, namun ibu jari, jari manis dan
jari tengah merupakan yang paling sering dialami oleh pasien. Pasien mengeluhkan
adanya klik atau terkunci (locking) pada saat jari yang terkena di fleksikan ataupun
diekstensikan. Awalnya jari tersebut posisi membungkuk pada sendi PIP, namun
dengan sedikit usaha yang lebih jauh tiba-tiba jari tersebut dapat melengkung
sempurna. Nodul dapat terasa pada perabaan di depan sendi MCP. Dan sensasi klik
dapat terjadi pada saat jari tangan ditekuk (fleksi) maupun dilururuskan (ekstensi).4

Tanda dan gejala TF adalah sebagai berikut:8


1. jari terkunci (locking) pada saat fleksi maupun ekstensi.
2. Jari kaku, terutama pada kasus lama dan tidak diobati
3. Nyeri di telapak tangan distal
4. Nyeri menyebar di sepanjang jari
5. Sensasi gertakan atau krepitasi di atas pulley A1
6. Teraba nodul lembut di atas pulley A1
7. Nodul teraba di garis fleksor digitorum superficialis (FDS), distal ke sendi
metacarpophalangeal (MCP) di telapak tangan.
8. Bukti kondisi terkait (misalnya rheumatoid arthritis [RA], asam urat)

Keluhan klasik adalah kesulitan mencapai ekstensi penuh pada jari yang
terserang, yang akhirnya akan membuka dengan disertai rasa sakit di telapak tangan
bagian distal dan menjalar ke [Link] pasien mengalami kesulitan dengan
memfleksikan jari, bukan ekstensi. Pasien lain mungkin memiliki nodul yang nyeri
pada telapak tangan distal tanpa adanya locking atau trigger. Beberapa pasien
melaporkan kekakuan pada jari, terutama setelah mereka tidur atau setelah jarinya
dalam keadaan tidak aktif beberapa saat. Beberapa pasien melaporkan pembengkakan
pada jari yang terkena, terutama pada bagian proksimal.8

KLASIFIKASI

Klasifikasi Green digunakan untuk penilaian klinis. Tidak ada hubungan


antara skema penilaian dan hasilnya setelah terapi injeksi. Adapun penilaiannya
sebagai berikut:9
1. Grade I (pre triggering) : Nyeri, catching yang tidak terbukti pada
pemeriksaan klinis, perabaan di atas pulley A1
2. Grade II (aktif) : adanya catching, namun dengan kekuatan yang
lebih kuat dapat mencapai ekstensi aktif.
3. Grade III (pasif) : catching, diperlukan ekstensi pasif (grade
IIIA) atau dimana pasien tidak dapat melakukan flexi aktif (grade IIIB)
4. Grade IV (contracture) : catching yang jelas, dengan fleksi yang
menetap pada PIP

TATALAKSANA

Pada orang dewasa, kasus ini dapat diterapi dengan pemberian suntikan
kortikosteroid dengan hati-hati pada selubung tendon. Serangan berulang terjadi
hingga 6 bulan kemudian pada lebih dari 30% pasien khususnya pasien yang lebih
muda dan penderita diabetes, yang mungkin memerlukan suntikan kedua. Kasus
refrakter memerlukan operasi, melalui sayatan pada lipatan palmar distal, atau pada
lipatan MCP ibu jari, bagian A1 di insisi sampai tendon dapat bergerak dengan
bebas.4

Terapi pembedahan pada trigger finger (TF) sangat direkomendasikan dan


sangat efektif, dibandingkan dengan perawatan konservatif yang memerlukan
perawatan jangka panjang dan membutuhkan biaya yang mahal. Kemudian
dilaporkan adanya hasil yang buruk dari tindakan bedah pada 7-9% kasus.10
Terapi injeksi sekarang disepakati sebagai lini pertama dalam penanganan
TF. Pembedahan dilakukan untuk pasien yang pengobatan injeksinya gagal atau pada
rheumatoid arthritis (RA) yang diduga tidak dapat ditangani secara konservatif. Tidak
ada kontraindikasi mutlak yang ada untuk terapi bedah.10

Pada bulan Mei 2014, European HANDGUIDE Group menetapkan panduan


untuk tatalaksana trigger finger. mencakup hal-hal berikut:10
1. Orthoses (splinting)
2. Injeksi kortikosteroid
3. Injeksi kortikosteroid dan penggunaan orthoses
4. Operasi (pembedahan)
Tingkat keparahan dan durasi penyakit serta perawatan sebelumnya yang
diterima dinilai sebagai faktor utama yang mempengaruhi pilihan terapi.10

Pengobatan konservatif
Sebagian besar trigger finger pada orang dewasa berhasil dengan injeksi
steroid lokal dan splinting. Pengobatan farmakologis oral maupun topikal belum
terbukti efektif. Penemuan lain oleh Lee et al, melaporkan bahwa extension splinting
selama 12 minggu memperlihatkan perbaikan pada 71% ibu jari, dibandingkan
dengan 23% pasien lainnya yang tidak menerima perawatan apapun. 11

Pasien hamil
Splinting dan injeksi kortikosteroid lokal dapat dilakukan pada pasien yang
sedang hamil. Pembedahan pada pulley A1 secara umum merupakan prosedur elektif
dan biasanya ditunda dulu sampai pasien telah melahirkan. 11

Pasien lansia
Pada pasien lansia dengan riwayat masalah gastrointestinal atau komplikasi
lain dari obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), pertimbangkan inhibitor cyclo-
oxygenase-2 (COX-2) jika NSAID oral dibutuhkan. 11

A. MEDIKASI (OBAT-OBATAN)

NONSTEROID ANTI INFLAMATION DRUGS (NSAID)

NSAID oral dapat membantu mengurangi rasa sakit dan pembengkakan.


Berbagai NSAID oral dapat digunakan, walaupun tidak satu pun yang memiliki
perbedaan jelas untul dijadikan sebagai obat pilihan (DOC). Pilihan NSAID sebagian
besar sebagian besar berdasarkan kenyamanan (seberapa sering dosis harus dilakukan
untuk mencapai efek analgesik dan anti inflamasi yang memadai) serta faktor biaya.12

Ibuprofen (Motrin, Advil, NeoProfen, Provil)


Ibuprofen merupakan obat pilihan untuk pasien dengan nyeri ringan sampai
sedang. NSAID menghambat reaksi inflamasi dan nyeri dengan mengurangi sintesis
prostaglandin.12

Diklofenak topikal (Zorvolex, Zipsor, Cambia, Cataflam, Voltaren XR)

NSAID yang menghambat reaksi inflamasi dan nyeri dengan mengurangi


sintesis prostaglandin.12

Ketoprofen

Ketoprofen memiliki sifat anti inflamasi yang baik dan sifat analgesik yang
luar biasa. Ini adalah obat lini pertama karena dosis hariannya, yang dapat membantu
pasien dalam hal kepatuhan minum obat. Dosis yang rendah ditunjukkan pada pasien
muda dan lanjut usia dan pada pasien dengan gangguan ginjal atau hati. Dosis yang
lebih tinggi dari 75 mg tidak meningkatkan efek terapeutik. Berikan dosis tinggi
dengan hati-hati, dan perhatikan perubahan yang terjadi pada pasien.12

Naproxen atau naproxen sodium (Naprelan, Naprosyn, Aleve, Anaprox)

Naproxen digunakan untuk menghilangkan nyeri ringan sampai sedang dan


pembengkakan. Obat ini menghambat reaksi inflamasi dan rasa sakit dengan
mengurangi aktivitas COX yang menyebabkan penurunan sintesis prostaglandin.
Naproxen tersedia dalam banyak dosis. Cukup murah dan memiliki profil terapeutik
yang serupa dengan NSAID lainnya.12

Indometasin (Indocin)

Indometasin digunakan untuk menghilangkan nyeri ringan sampai sedang.


Bekerja dengan menghambat reaksi inflamasi dan rasa sakit dengan mengurangi
aktivitas COX yang menyebabkan penurunan sintesis prostaglandin.12

B. INJEKSI

Injeksi kortikosteroid pada area penebalan tendon dianggap sebagai


pengobatan lini pertama untuk TF. Penelitian di tahun 2009 menyimpulkan bahwa
terapi yang paling berhasil dan dapat menghemat biaya untuk TF adalah dua suntikan
steroid sebelum intervensi bedah, jika diperlukan. Adapun obat yang paling umum
digunakan yakni prednisolon, deksametason, dan triamcinolone dimana sebagian
besar berhasil menghilangkan gejala.12

KORTIKOSTEROID
Berbeda dengan obat anti inflamasi oral yang terdistribusi meluas secara
sistemik dalam tubuh setelah dikonsumsi. Suntikan kortikosteroid lokal hanya hanya
fokus pada letak nyeri yang dirasakan pasien atau letak peradangan terjadi. Berbagai
sediaan kortikosteroid tersedia. Umumnya, kortikosteroid dicampur dengan anestesi
lokal sebelum disuntikkan.12

Methylprednisolone (A-Methapred, Depo-Medrol, Solu-Medrol, Medrol)

Biasanya digunakan dalam bentuk suntikan lokal yang disuntikkan pada


bursae atau persendian. Obat ini memberikan efek anti-inflamasi lokal serta
meminimalkan risiko gastrointestinal dan risiko lainnya dari obat sistemik.12

Dexamethasone acetate (Baycadron)

Agen ini dapat mengurangi peradangan dengan menekan migrasi leukosit


polimorfonuklear dan mengurangi permeabilitas kapiler. Dosisnya bervariasi
berdasarkan tingkat peradangan dan besarnya daerah yang terserang.12

Hydrocortisone acetate (Solu-Cortef, Cortef, A-Hydrocort)

Hydrocortisone acetate menurunkan peradangan dengan menekan migrasi


leukosit polimorfonuklear dan peningkatan permeabilitas kapiler. Dosis bervariasi
berdasarkan tingkat peradangan dan luasnya daerah yang terkena.12

Betamethasone (Celestone, Celestone Soluspan)

Betamethasone adalah obat pilihan untuk suntikan intraartikular. Preparat ini


tidak mengkristal jika digunakan dengan sediaan anestesi paraben.12

Triamcinolone (Aristospan, Kenalog-10, Kenalog-40)

Triamcinolone digunakan untuk kondisi inflamasi yang responsif terhadap


steroid. Preparat ini mengurangi peradangan dengan menekan migrasi leukosit
polimorfonuklear dan mengembalikan permeabilitas kapiler. Preparat ini merupakan
obat pilihan, karena durasi kerjanya lebih lama.12

Pereda Nyeri
Menyuntikkan kortikosteroid ke telapak dianggap sangat efektif dalam
mengobati TF, walaupun akan sedikit nyeri saat disuntikkan. Sebuah penelitian yang
membandingkan injeksi konvensional dengan injeksi yang didahului oleh blok saraf
median dan ulnar yang dilakukan di pergelangan tangan menemukan bahwa dari 19
pasien yang diteliti, sebanyak 88% lebih memilih untuk dilakukan blok saraf median
dan ulnaris sebelum di injeksi .13

Ulangi suntikan
Injeksi kortikosteroid kedua dapat dilakukan 3-4 minggu setelah
pemeriksaan pertama. Jika dua atau tiga kali suntikan tidak memberikan respon yang
baik, segera pertimbangkan untuk merujuk pasien agar dilakukan pembedahan.
Suntikan berulang secara teoritis meningkatkan kemungkinan pecahnya tendon,
walaupun risiko tersebut tidak ditemukan dalam studi tentang suntikan berulang untuk
TF. 13

C. SPLINTING

Splinting yang dibuat khusus (Custom-made splinting) untuk sendi


metacarpophalangeal (MCP) merupakan pengobatan konservatif lainnya yang
digunakan pada pasien yang tidak ingin menjalani injeksi steroid. Biasanya, Custom-
made splinting digunakan untuk menahan sendi MCP jari yang mengalami fleksi 10-
15. Biasanya splinting digunakan selama 6 minggu.13
Meskipun secara splinting belum dianggap sebagai pengobatan yang efektif
untuk TF, suatu studi membuktikan bahwa adanya perbaikan yang dirasakan oleh
pasien coba. Penelitian lain mengemukakan bahwa 87% pasien yang memakai
custom-made splinting selama 8-10 minggu tidak memerlukan injeksi atau bedah
dalam follow up 1 tahun kemudian.13

D. OPERATIF

Pembedahan

TF yang gagal dengan dua atau mungkin tiga suntikan memerlukan


penanganan bedah, termasuk pembedahan nodul pada tendon dan pelepasan pulley A1
dengan anestesi lokal. Manfaat dari penanganan operatif pada TF dan trigger thumb
dibuktikan oleh 3 studi tentang surgical pulley release. Pada follow up terakhir,
semua pasien pada penelitian ini telah dapat melakukan aktivitas seperti biasanya
tanpa ada batasan atau rasa sakit, dan tidak ada pasien yang mengalami kekambuhan
triggering ataupun MCP hyperextension deformity.15

Dalam sebuah penelitian terhadap 93 TF, Chao dkk membandingkan hasil


dari miniscalpel-needle percutaneous release dengan suntikan steroid. Ditemukan
bahwa 44 dari 46 pasien TF yang di terapi dengan miniscalpel-needle percutaneous
release memiliki hasil yang memuaskan (diukur dengan skala nyeri analog visual dan
kepuasan pasien). Dan sebanyak 12 dari 47 pasien yang diterapi dengan injeksi
steroid memiliki hasil yang memuaskan. Tidak ada cedera saraf yang terjadi pada
kedua kelompok tersebut.16
TF pada anak-anak hampir selalu memerlukan tindakan bedah. Sedangkan
TF pada orang dewasa hanya jika injeksi tendon dengan kortikosteroid tidak
merespons lalu diperlukan pembedahan. Semua operasi dilakukan dengan kontrol
tourniquet dan anestesi lokal sebagai prosedurnya dengan membuat sayatan
transversal pada lipatan palmar distal atau pada lipatan fleksor ibu jari pada sendi
MCP.16

Persiapan Operasi

Persiapan pra operasi meliputi:17


1. Hanya jari yang mengalami TF yang mendapatkan tindakan operasi.
2. Kontraktur PIP maupun trigger thumb tidak boleh dilakukan metode
percutaneous release, dan pulley A1 selalu diposisikan di bawah penglihatan
langsung.
3. Pasien dengan kontraktur sendi PIP menjalani masa terapi tangan dan splinting
sebelum prosedur operatif .
4. Turniket selalu digunakan untuk mendapatkan lapangan kerja yang bersih.
5. Sekitar 4-5 mL lignokain 1% digunakan untuk menginfiltrasi kulit di atas pulley
A1, dengan injeksi dilakukan lebih dalam ke selubung tendon.
6. Insisi transversal ditandai dengan penanda kulit yang sesuai dengan jari yang
akan dilakukan pembedahan.

Prosedur operasional

Sendi MCP hyperextended untuk menggantikan struktur neurovaskular


dorsal, sehingga dapat meminimalkan risiko cedera. Insisi transversal berukuran 1-1,5
cm dibuat di atas metacarpal head yang terlibat. Diseksi tumpul digunakan untuk
menepiskan lemak subkutan dan mengekspos selubung tendon. Tepi proksimal pulley
A1 diidentifikasi, dan pisau bedah digunakan untuk memisahkan seluruh pulley A1 di
garis tengah di bawah penglihatan. Ketelitian diperlukan untuk menghindari insisi
yang berlebihan dan mengurangi risiko terkenanya pulley A2, yang dapat
menyebabkan bowstringing finger injury. Kemudian luka ditutup dengan dua atau tiga
jahitan dan tangan dibiarkan bebas.17
Pulley A1 dipotong dengan menggunakan gunting tumpul, gunting halus, tepat di
garis tengah. Catatan: jari ditahan dalam posisi hiperxtended oleh asisten.

Insisi untuk pelepasan A1, diposisikan pada lipatan fleksi MP, berpusat di atas nodul
tendon fleksor.
Trigger thumb. A1 pulley exposed within surgical field (arrow). Digital neurovascular
bundles behind retractors.

Trigger thumb. A1 pulley has been released; flexor pollicis longus tendon now
exposed. Retractors have been removed to demonstrate proximity of neurovascular
bundles (arrows) to tendon.
Perawatan pasca operasi

Gerakan aktif dianjurkan pada hari operasi. Obat anti inflamasi dan elevasi
disarankan untuk jangka waktu 2-3 hari setelah operasi. Jahitan dapat dilepaskan pada
hari-10 pasca operasi.17

E. TERAPI FISIK

Terapi fisik umumnya tidak diperlukan untuk pasien dengan TF. Namun,
untuk kasus TF kronis, perawatan mungkin mencakup terapi fisik dengan teknik
pemanasan (fisioterapi). Setelah disuntik atau dioperasi, program latihan di rumah
(peregangan) merupakan salah satu komponen penting pengobatan untuk pasien.
Tidak ada program terapi yang telah didokumentasikan untuk memperbaiki TF.17

Aktivitas yang dapat mendukung keberhasilan terapi

Jika uji coba terapi direkomendasikan untuk pasien dengan TF kronis atau
untuk individu yang memerlukan terapi tangan pasca operasi, dokter dapat merujuk
mereka ke ahli terapi fisik atau ahli terapi okupasi, tergantung pada preferensi dan
ketersediaan terapisnya. Perawatan yang diberikan oleh terapis okupasi sangat mirip
dengan terapi fisik yang dibahas di atas. Selain itu, terapis okupasi dapat memberi
pasien strategi untuk menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL) dengan
keterbatasan penggunaan tangan yang masih memerlukan pemulihan pasca operasi.17

DIFERENSIAL DIAGNOSIS

1. Carpal Tunnel Syndrome


2. Radang sendi

KOMPLIKASI

Injeksi kortikosteroid

Komplikasi potensial dari injeksi kortikosteroid meliputi:18


1. Infeksi : Dapat dihindari dengan menerapkan prosedur yang
steril.
2. Perdarahan minimal darah.
3. Lemahnya tendon.
4. Atrofi lemak terjadi secara lokal di tempat suntikan.
5. Infiltrasi saraf dan cedera saraf berikutnya (komplikasi ini jarang terjadi).
Perdarahan

Hal ini dapat diminimalisir dengan menerapkan tekanan langsung segera


setelah prosedur. Dibutuhkan ketelitian sebelum menyuntik pasien dengan
memakai antikoagulan pada individu dengan penyakit perdarahan.18

Lemahnya tendon

Lemahnya tendon meningkatkan risiko pecahnya tendon berikutnya, suatu


kemungkinan yang menjadi perhatian khusus jika injeksi dilakukan secara tidak
benar (khususnya, jika suntikan diberikan ke dalam tendon itu sendiri dan bukan
hanya di dalam selubung tendon). Risiko ruptur tendon dapat terjadi dengan
beberapa suntikan, walaupun beberapa peneliti klinis tidak menemukan episode
tendon yang pecah setelah injeksi kortikosteroid untuk TF, bahkan dengan
suntikan berulang.18

Atrofi lemak

Atrofi lemak dapat terjadi secara lokal di tempat suntikan jika kortikosteroid
disuntikkan ke dalam jaringan subkutan. Komplikasi ini bisa menyebabkan depresi
kosmetik pada kulit.18

Pembedahan

Diharapkan pada ahli bedah dapat melakukan teknik pembedahan dengan


hati-hati sehingga dapat meminimalisir komplikasi. Potensi komplikasi operasi TF
meliputi:19
1. Tenderness di atas lokasi sayatan (terjadi cukup sering tapi biasanya akan
menghilang dengan sendirinya).
2. Adhesi dan kekakuan - Hal ini dapat terjadi akibat perlakuan pada tendon
yang berlebihan atau mobilisasi yang tertunda pasca operasi.
3. Cedera saraf Hal ini sangat jarang terjadi, meskipun saraf terletak 2-3 mm
dari garis tengah. Perbaikan atau rekonstruksi segera diindikasikan jika terjadi
komplikasi ini.
4. Potongan yang tidak disengaja ke pulley A2 - Hal ini dapat menyebabkan
browstringing finger injury, dengan kehilangan fleksi penuh.
5. Jaringan parut.
6. Kekambuhan - sangat jarang terjadi.
7. Infeksi.
PROGNOSIS

Injeksi dengan atau tanpa splinting

Prognosis pada TF sangat baik. Sebagian besar pasien merespons dengan


injeksi kortikosteroid dengan atau tanpa splinting. Beberapa kasus TF dapat sembuh
secara spontan dan kemudian terulang kembali tanpa korelasi yang jelas dengan
faktor pengobatan.
Freiberg dkk menemukan tingkat keberhasilan yang lebih besar untuk terapi
injeksi TF saat pengobatan digunakan pada pasien di mana pemeriksa dapat meraba
konsistensi nodular pada sarung flexor.
Jari dengan nodul yang teraba discrete memiliki tingkat keberhasilan 93%
dengan satu injeksi triamcinolone dengan follow up selama 3 bulan, sedangkan jari
dengan pola diffuse memiliki tingkat kegagalan 52%.
Marks dan Gunther melaporkan tingkat keberhasilan 92% pada trigger di
ibu jari dan tingkat keberhasilan 84% pada jari lainnya yang mengalami trigger
setelah satu suntikan dengan triamcinolone.
Dengan menggunakan sonoelastography, teknik terbaru untuk menilai
kuantitatif kekakuan pada jaringan lunak, salah satu penelitian mengungkapkan
bahwa penyebab gertakan (snapping) pada trigger finger adalah kekakuan dan
penebalan pada pulley A1. Tiga minggu setelah injeksi kortikosteroid, ketebalan
pulley dan rasio lemak subkutan terhadap menurun, gertakan hilang pada semua
pasien yang diteliti.
Griggs dkk melaporkan tingkat keberhasilan keseluruhan 50% untuk injeksi
steroid pada pasien DM.14

Common questions

Didukung oleh AI

Patofisiologi trigger finger melibatkan penebalan pada selubung tendon fleksor yang menyebabkan penyempitan saluran tendon, dan perkembangan nodul pada tendon. Saat jari difleksikan, nodul dapat terjebak pada tepi proksimal dari pulley A1, mengakibatkan kesulitan meluruskannya. Sebaliknya, penebalan yang menyebabkan penyempitan pada bagian distal dari pulley A1 dapat mengakibatkan jari terjebak dalam posisi ekstensi. Gejala khas seperti sensasi klik dan geraian jari terkunci terjadi karena pergerakan nodul melewati selubung tendon yang menyempit .

Pasien dengan diabetes mellitus memiliki risiko lebih tinggi terkena trigger finger karena kondisi ini lebih sering terjadi pada individu dengan diabetes. Hal ini diperkirakan disebabkan oleh penebalan nodul pada selubung tendon yang lebih umum terjadi pada pasien diabetes. Setelah pembedahan pelepasan terowongan karpal, risiko terjadinya TF lebih tinggi pada pasien diabetes dibandingkan dengan yang tanpa diabetes, seperti ditegaskan oleh penelitian Grandizio dkk. Pembedahan melibatkan pelepasan pulley A1, sehingga mengurangi penebalan dan memastikan tendon dapat bergerak bebas tanpa halangan nodul. Prosedur ini umumnya efektif dalam mengembalikan fungsi normal pada jari tanpa kekambuhan trigger .

Manajemen trigger finger kronis mencakup penggunaan splinting, selain injeksi kortikosteroid. Splinting membantu untuk mempertahankan posisi stabil jari dan mengurangi tekanan pada selubung tendon, yang dapat mengurangi rasa sakit dan pembengkakan. Custom-made splinting yang memposisikan sendi MCP dalam flexi 10-15° dikenal efektif, terutama digunakan selama enam minggu. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 87% pasien yang menggunakan metode ini tidak memerlukan injeksi atau pembedahan lebih lanjut dalam satu tahun berikutnya .

Injeksi kortikosteroid merupakan lini pertama pengobatan trigger finger, bertujuan mengurangi inflamasi dan penebalan pada selubung tendon. Keberhasilan terapi sangat bergantung pada faktor pasien, termasuk durasi penyakit dan adanya kondisi seperti diabetes atau rheumatoid arthritis yang dapat memengaruhi respons terhadap terapi. Meskipun injeksi ini sering efektif, serangan berulang mungkin terjadi dalam enam bulan setelah terapi, khususnya pada pasien muda atau dengan diabetes. Jika dua atau tiga kali suntikan tidak efektif, pembedahan menjadi pilihan jelas untuk pengobatan selanjutnya .

Terapi pembedahan umumnya dianggap lebih efektif dibandingkan perawatan konservatif untuk trigger finger, terutama untuk kasus yang tidak responsif terhadap injeksi kortikosteroid. Studi menunjukkan bahwa pembedahan pelepasan pulley A1 memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dalam mengembalikan fungsi normal jari dan minim risiko kambuhan. Sebaliknya, perawatan konservatif seperti injeksi steroid sering memerlukan perawatan berulang dengan potensi kekambuhan yang lebih tinggi. Dalam perbandingan percutaneous release dan injeksi steroid, hasil menunjukkan bahwa metode bedah memberikan hasil lebih memuaskan dalam pemulihan fungsi jari tanpa batasan aktivitas .

Percutaneous release tidak dianjurkan untuk menangani kontraktur PIP pada trigger finger karena metode ini lebih invasif dan memiliki risiko komplikasi lebih besar dibanding metode lainnya dalam penanganan kontraktur. Saat merawat kontraktur PIP, penting untuk memposisikan pemeriksaan di bawah penglihatan langsung untuk memastikan ketepatan dalam proses pelepasan pulley A1 dan meminimalkan risiko cedera pada struktur sekitarnya, seperti saraf dan pembuluh darah. Teknik percutaneous release cenderung kurang presisi untuk kondisi kompleks seperti kontraktur PIP .

Perawatan post-operatif setelah pembedahan trigger finger melibatkan beberapa langkah untuk memastikan pemulihan optimal. Pasien dianjurkan untuk segera melakukan gerakan aktif pada hari operasi. Penggunaan obat antiinflamasi dan menjaga elevasi tangan disarankan selama 2-3 hari setelah operasi untuk mengurangi bengkak dan nyeri. Jahitan dapat dilepaskan pada hari ke-10 pasca operasi. Selain itu, latihan peregangan di rumah penting untuk mencegah kekakuan dan mempertahankan mobilitas jari .

Tanda dan gejala klinis khas dari trigger finger meliputi sensasi klik atau gertakan saat jari difleksikan atau diekstensikan, jari terkunci (locking), nyeri di telapak tangan bagian distal, dan nodul teraba di atas pulley A1. Gejala ini membedakannya dari sindrom terowongan karpal, yang lebih ditandai oleh nyeri, kesemutan, atau mati rasa pada tangan dan jari akibat tekanan pada saraf median. Pasien trigger finger sering mengalami kesulitan dalam mencapai ekstensi penuh pada jari yang terkena dan melaporkan sensasi krepitasi di atas pulley A1 .

Beberapa penelitian menyebutkan adanya korelasi antara aktivitas pekerjaan yang melibatkan tekanan berulang pada telapak tangan, seperti cengkeraman kuat atau posisi jari dalam fleksi, dan risiko mengalami trigger finger. Aktivitas seperti pengelasan busur atau penggunaan gunting berat dapat menyebabkan beban tinggi pada tepi distal pulley A1, memicu trigger finger. Meskipun belum ada penyebab pasti yang diketahui, faktor pekerjaan dianggap sebagai salah satu potensi etiologi karena aktivitas berulang dapat menginduksi perubahan morfologis pada pulley atau selubung tendon .

Trigger finger lebih sering terjadi pada wanita, dengan perbandingan dua sampai enam kali lebih sering daripada pria. Kondisi ini lebih umum terjadi pada usia 55-60 tahun, meskipun aktivitas berulang seperti kerja komputasi semakin meningkat namun tidak terlalu mengubah distribusi usia. Alasan prevalensi yang lebih tinggi pada wanita bisa dikaitkan dengan perbedaan hormon atau seringnya melakukan kegiatan tangan tertentu. Selain itu, meskipun kurang umum, TF juga dapat menyerang anak-anak dan lebih sering terjadi pada ibu jari .

Anda mungkin juga menyukai