BAGIAN ILMU ORTHOPEDI REFERAT
FAKULTAS KEDOKTERAN JULI 2017
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
TRIGGER FINGER
OLEH:
Ika Pratiwi Lestari
111 2015 2242
PEMBIMBING :
dr. Hendrian Chaniago, [Link], [Link]
DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU ORTHOPEDI FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
2017
LEMBAR PENGESAHAN
Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:
Nama : Ika Pratiwi Lestari
NIM : 111 2015 2242
Judul Kasus : TRIGGER FINGER
Telah menyelesaikan tugas Referat dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian
orthopedi Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia.
Makassar, Juli 2017
Pembimbing,
dr. Hendrian Chaniago, [Link], [Link]
LATAR BELAKANG
Trigger finger (TF) adalah salah satu penyakit yang paling sering yang
ditemukan dalam praktik ortopedi dan merupakan salah satu penyebab yang sering
terjadi pada keluhan nyeri tangan dan disabilitas. Keadaan ini merupakan penyebab
dari penebalan tendon fleksor distal pada telapak tangan.1
Penebalan ini menyebabkan tendon tidak berjalan sempurna di dalam
selubung tendon. Tendon yang terserang berada pada tepi pulley A1. Pasien
mengalami kesulitan saat menekukkan jarinya jika tendon yang terserang berada di
bagian distal dari pulley A1, atau kesulitan saat meregangkan (ekstensi) jarinya jika
tendon yang terserang berada pada proksimal pulley. Gejalanya dirasakan sangat
nyeri, terutama jika terdapat locking atau snapping.1
Etiologi TF belum diketahui pasti, namun lebih sering terjadi pada pasien
dengan rheumatoid arthritis (RA) atau diabetes mellitus (DM). Gejala TF dimulai
dengan ketidaknyamanan pada telapak tangan saat jari yang terserang digerakkan.
Pasien biasanya datang dengan keluhan satu jari yang terkunci (locking) pada posisi
tertentu, paling sering fleksi, yang mungkin memerlukan manipulasi pasif untuk dapat
mencapai ekstensi penuh.2
Predileksi TF paling sering pada tangan yang dominan digunakan, dengan
jari yang paling sering terserang adalah jempol, diikuti oleh jari-jari ring, middle,
little, dan index.2
Sampai saat ini, terapi lini pertama yang digunakan untuk pengobatan TF
yakni dengan menyuntikkan kortikosteroid ke dalam selubung tendon, dan pelepasan
pulley A1 melalui pembedahan sebagai pengobatan lini kedua.2
Pembedahan dalam bentuk pelepasan pulley A1 menjadi populer saat
splinting dan / atau terapi injeksi gagal atau dengan adanya patologi lain, seperti RA,
dimana pengobatan injeksi terbukti tidak berguna atau ada risiko pecah atau infeksi
tendon.2
ANATOMI
Tendon adalah jaringan yang menghubungkan otot ke tulang. Saat otot
berkontraksi, tendon menarik tulang. Inilah yang menyebabkan beberapa bagian
tubuh bergerak.3
Otot yang menggerakkan jari dan jempol terletak di lengan bawah, di atas
pergelangan tangan. Berupa tendon yang panjang, disebut tendon fleksor yang meluas
dari otot melalui pergelangan tangan dan menempel pada tulang kecil jari dan
jempol.3
Tendon fleksor ini mengendalikan gerakan jari dan jempol. Saat menekuk atau
meluruskan jari, tendon fleksor masuk melalui terowongan yang disebut selubung
tendon, yang membuat tendon tetap berada di samping tulang.3
DESKRIPSI
Tendon fleksor terperangkap pada pintu masuk selubung tendon (tendon
sheaths) oleh karena adanya penebalan (nodul). 4
Nodul sekunder bisa berkembang pada tendon. Penyebab yang mendasari
tidak diketahui, namun kondisi ini kebanyakan dialami pada pasien dengan diabetes
mellitus. Pasien dengan rheumatoid arthritis yang beresiko terjadinya penebalan nodul
atau intratendinous nodul yang juga dapat menjadi pemicu. Walaupun faktor
pekerjaan biasanya juga dikaitkan dengan kondisi ini, namun belum ditemukan
penyebab yang dapat mendasarinya.4
Tendon fleksor dapat mengalami iritasi saat berjalan melalui terowongan
selubung tendon. Karena semakin lama teriritasi, tendon dapat menebal sehingga
nodul terbentuk, membuat perjalanannya melalui terowongan menjadi sulit.4
Selubung tendon juga bisa menebal, menyebabkan terbukanya pintu masuk
terowongan menjadi lebih sempit..4
DEFINISI
Trigger finger (stenosing tenosynovitis) adalah kelainan yang umum
terjadi pada jari tangan, yang disebabkan oleh inflamasi sehingga terjadi penebalan
selubung tendon fleksor dan penyempitan pada celah selubung retinakulum. Hal ini
menyebabkan nyeri, sensasi klik saat jari fleksi dan ekstensi, serta kehilangan gerak
atau terkunci (locking) pada jari yang terkena. Istilah trigger finger pertama kali
dideskripsikan oleh Notta pada tahun 1850.4
ETIOLOGI
Etiologi Trigger finger belum diketahui secara pasti. Diduga pembentukan
nodul pada tendon, perubahan morfologis pada pulley, atau kombinasi dari keduanya
dapat memicu terjadinya trigger. Beberapa penelitian telah menunjukkan korelasi
antara TF dengan aktivitas yang memerlukan tekanan pada telapak tangan misalnya
cengkeraman kuat yang sering dilakukan atau berulang dengan posisi jari fleksi
(misalnya pengelasan busur, penggunaan gunting berat). Fleksi phalangeal proksimal
pada posisi mencengkeram dapat menyebabkan beban annular yang tinggi pada tepi
distal pulley A1.5
Jadi, kesimpulannya, etiologi yang tepat belum diketahui, namun kondisi
tertentu seperti diabetes melitus (DM) atau rheumatoid arthritis (RA) dapat
mempengaruhi. Sampson dkk menyimpulkan bahwa mekanisme patobiologis yang
mendasari untuk memicu adalah metaplasia fibrokartilaginosa pada pulley karena
trauma atau penyakit. Beberapa penelitian telah gagal untuk menunjukkan adanya sel
peradangan akut atau kronis dalam tenosinovium. Akhiran -itis dalam istilah
stenosing tendovaginitis sebenarnya adalah keliru kecuali kondisinya terkait dengan
RA atau radang sendi. Etiologi yang tepat masih belum diketahui, namun
diperkirakan kondisi DM atau autoimun dapat menyebabkan perubahan morfologis
pada pulley dan / atau selubung tendon yang menyebkan terjadinya trigger. 5
Sebuah studi retrospektif oleh Grandizio dkk mengindikasikan bahwa
setelah dilakukan pembedahan pelepasan terowongan karpal pasien yang memiliki
risiko TF lebih besar pada pasien DM dibandingkan mereka yang tidak menderita
DM. Dalam penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa dari 1003 pelepasan
terowongan karpal pada pasien tanpa DM, kejadian TF pada 6 dan 12 bulan masing-
masing adalah 3% dan 4%, sedangkan dari 214 pelepasan terowongan karpal pada
pasien DM, Kejadian pada 6 dan 12 bulan masing-masing 8% dan 10%.5
Trigger thumb
Trigger thumb (trigger pada ibu jari) biasanya terjadi secara idiopatik, meski
berkembang lebih sering pada individu dengan diabetes atau osteoarthritis. Trigger
pada ibu jari lebih cenderung terjadi pada seseorang dengan kondisi apapun yang
menyebabkan berkembangnya tenosynovium, seperti radang sendi, encok, atau
infeksi kronis (misalnya jamur, mikobakteri atipikal). Keadaan seperti ini dapat
berkembang dari distal ke sendi MCP, dan bila berat dapat menyebabkan kekakuan.5
EPIDEMIOLOGI
Epidemiologi TF adalah kondisi yang relatif umum dan terjadi dua sampai
enam kali lebih sering pada wanita daripada pada pria. Beberapa penemuan
mengungkapkan bahwa puncak kejadian TF ada pada individu berusia 55-60 tahun.
Distribusi umur tidak berubah secara signifikan meski terjadi peningkatan aktivitas
komputasi dan kegiatan berulang. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, TF pada
populasi anak-anak terjadi lebih jarang daripada pada orang dewasa dan lebih sering
menyerang ibu jari.6
PATOFISIOLOGI
Pada kondisi normal, tendon fleksor pada jari berjalan di bawah pulley yang
menahan. Penebalan pada selubung tendon fleksor dapat membatasi mekanisme
gerakan normalnya. Sebuah nodul dapat berkembang pada tendon, menyebabkan
tendon terjebak di tepi proksimal pulley A1 saat pasien mencoba untuk memfleksikan
jarinya, sehingga menyebabkan kesulitan untuk melakukannya.7
Inflamasi yang terjadi dapat menghalangi jalannya tendon sehingga tidak
dapat melalui pulley A1 dengan lancar. Jika nodulnya terdapat pada bagian distal dari
pulley A1 (seperti yang ditunjukkan pada sketsa), maka jari akan terjebak pada posisi
ekstensi. Sebaliknya, jika nodul berada pada posisi proksimal dari pulley A1, maka
jari pasien lebih cenderung terjebak dalam posisi fleksi.7
Data dari suatu penelitian mencatat bahwa penyebab gertakan (snapping)
pada jari penderita trigger finger adalah penebalan dan kekakuan dari pulley A1. Tiga
minggu setelah injeksi kortikosteroid, ketebalan pulley dan rasio lemak subkutan akan
menurun, sehingga gertakan (snapping) berangsur hilang pada semua pasien yang
diteliti.7
TANDA DAN GEJALA KLINIS
Setiap jari tangan dapat terserang trigger finger, namun ibu jari, jari manis dan
jari tengah merupakan yang paling sering dialami oleh pasien. Pasien mengeluhkan
adanya klik atau terkunci (locking) pada saat jari yang terkena di fleksikan ataupun
diekstensikan. Awalnya jari tersebut posisi membungkuk pada sendi PIP, namun
dengan sedikit usaha yang lebih jauh tiba-tiba jari tersebut dapat melengkung
sempurna. Nodul dapat terasa pada perabaan di depan sendi MCP. Dan sensasi klik
dapat terjadi pada saat jari tangan ditekuk (fleksi) maupun dilururuskan (ekstensi).4
Tanda dan gejala TF adalah sebagai berikut:8
1. jari terkunci (locking) pada saat fleksi maupun ekstensi.
2. Jari kaku, terutama pada kasus lama dan tidak diobati
3. Nyeri di telapak tangan distal
4. Nyeri menyebar di sepanjang jari
5. Sensasi gertakan atau krepitasi di atas pulley A1
6. Teraba nodul lembut di atas pulley A1
7. Nodul teraba di garis fleksor digitorum superficialis (FDS), distal ke sendi
metacarpophalangeal (MCP) di telapak tangan.
8. Bukti kondisi terkait (misalnya rheumatoid arthritis [RA], asam urat)
Keluhan klasik adalah kesulitan mencapai ekstensi penuh pada jari yang
terserang, yang akhirnya akan membuka dengan disertai rasa sakit di telapak tangan
bagian distal dan menjalar ke [Link] pasien mengalami kesulitan dengan
memfleksikan jari, bukan ekstensi. Pasien lain mungkin memiliki nodul yang nyeri
pada telapak tangan distal tanpa adanya locking atau trigger. Beberapa pasien
melaporkan kekakuan pada jari, terutama setelah mereka tidur atau setelah jarinya
dalam keadaan tidak aktif beberapa saat. Beberapa pasien melaporkan pembengkakan
pada jari yang terkena, terutama pada bagian proksimal.8
KLASIFIKASI
Klasifikasi Green digunakan untuk penilaian klinis. Tidak ada hubungan
antara skema penilaian dan hasilnya setelah terapi injeksi. Adapun penilaiannya
sebagai berikut:9
1. Grade I (pre triggering) : Nyeri, catching yang tidak terbukti pada
pemeriksaan klinis, perabaan di atas pulley A1
2. Grade II (aktif) : adanya catching, namun dengan kekuatan yang
lebih kuat dapat mencapai ekstensi aktif.
3. Grade III (pasif) : catching, diperlukan ekstensi pasif (grade
IIIA) atau dimana pasien tidak dapat melakukan flexi aktif (grade IIIB)
4. Grade IV (contracture) : catching yang jelas, dengan fleksi yang
menetap pada PIP
TATALAKSANA
Pada orang dewasa, kasus ini dapat diterapi dengan pemberian suntikan
kortikosteroid dengan hati-hati pada selubung tendon. Serangan berulang terjadi
hingga 6 bulan kemudian pada lebih dari 30% pasien khususnya pasien yang lebih
muda dan penderita diabetes, yang mungkin memerlukan suntikan kedua. Kasus
refrakter memerlukan operasi, melalui sayatan pada lipatan palmar distal, atau pada
lipatan MCP ibu jari, bagian A1 di insisi sampai tendon dapat bergerak dengan
bebas.4
Terapi pembedahan pada trigger finger (TF) sangat direkomendasikan dan
sangat efektif, dibandingkan dengan perawatan konservatif yang memerlukan
perawatan jangka panjang dan membutuhkan biaya yang mahal. Kemudian
dilaporkan adanya hasil yang buruk dari tindakan bedah pada 7-9% kasus.10
Terapi injeksi sekarang disepakati sebagai lini pertama dalam penanganan
TF. Pembedahan dilakukan untuk pasien yang pengobatan injeksinya gagal atau pada
rheumatoid arthritis (RA) yang diduga tidak dapat ditangani secara konservatif. Tidak
ada kontraindikasi mutlak yang ada untuk terapi bedah.10
Pada bulan Mei 2014, European HANDGUIDE Group menetapkan panduan
untuk tatalaksana trigger finger. mencakup hal-hal berikut:10
1. Orthoses (splinting)
2. Injeksi kortikosteroid
3. Injeksi kortikosteroid dan penggunaan orthoses
4. Operasi (pembedahan)
Tingkat keparahan dan durasi penyakit serta perawatan sebelumnya yang
diterima dinilai sebagai faktor utama yang mempengaruhi pilihan terapi.10
Pengobatan konservatif
Sebagian besar trigger finger pada orang dewasa berhasil dengan injeksi
steroid lokal dan splinting. Pengobatan farmakologis oral maupun topikal belum
terbukti efektif. Penemuan lain oleh Lee et al, melaporkan bahwa extension splinting
selama 12 minggu memperlihatkan perbaikan pada 71% ibu jari, dibandingkan
dengan 23% pasien lainnya yang tidak menerima perawatan apapun. 11
Pasien hamil
Splinting dan injeksi kortikosteroid lokal dapat dilakukan pada pasien yang
sedang hamil. Pembedahan pada pulley A1 secara umum merupakan prosedur elektif
dan biasanya ditunda dulu sampai pasien telah melahirkan. 11
Pasien lansia
Pada pasien lansia dengan riwayat masalah gastrointestinal atau komplikasi
lain dari obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), pertimbangkan inhibitor cyclo-
oxygenase-2 (COX-2) jika NSAID oral dibutuhkan. 11
A. MEDIKASI (OBAT-OBATAN)
NONSTEROID ANTI INFLAMATION DRUGS (NSAID)
NSAID oral dapat membantu mengurangi rasa sakit dan pembengkakan.
Berbagai NSAID oral dapat digunakan, walaupun tidak satu pun yang memiliki
perbedaan jelas untul dijadikan sebagai obat pilihan (DOC). Pilihan NSAID sebagian
besar sebagian besar berdasarkan kenyamanan (seberapa sering dosis harus dilakukan
untuk mencapai efek analgesik dan anti inflamasi yang memadai) serta faktor biaya.12
Ibuprofen (Motrin, Advil, NeoProfen, Provil)
Ibuprofen merupakan obat pilihan untuk pasien dengan nyeri ringan sampai
sedang. NSAID menghambat reaksi inflamasi dan nyeri dengan mengurangi sintesis
prostaglandin.12
Diklofenak topikal (Zorvolex, Zipsor, Cambia, Cataflam, Voltaren XR)
NSAID yang menghambat reaksi inflamasi dan nyeri dengan mengurangi
sintesis prostaglandin.12
Ketoprofen
Ketoprofen memiliki sifat anti inflamasi yang baik dan sifat analgesik yang
luar biasa. Ini adalah obat lini pertama karena dosis hariannya, yang dapat membantu
pasien dalam hal kepatuhan minum obat. Dosis yang rendah ditunjukkan pada pasien
muda dan lanjut usia dan pada pasien dengan gangguan ginjal atau hati. Dosis yang
lebih tinggi dari 75 mg tidak meningkatkan efek terapeutik. Berikan dosis tinggi
dengan hati-hati, dan perhatikan perubahan yang terjadi pada pasien.12
Naproxen atau naproxen sodium (Naprelan, Naprosyn, Aleve, Anaprox)
Naproxen digunakan untuk menghilangkan nyeri ringan sampai sedang dan
pembengkakan. Obat ini menghambat reaksi inflamasi dan rasa sakit dengan
mengurangi aktivitas COX yang menyebabkan penurunan sintesis prostaglandin.
Naproxen tersedia dalam banyak dosis. Cukup murah dan memiliki profil terapeutik
yang serupa dengan NSAID lainnya.12
Indometasin (Indocin)
Indometasin digunakan untuk menghilangkan nyeri ringan sampai sedang.
Bekerja dengan menghambat reaksi inflamasi dan rasa sakit dengan mengurangi
aktivitas COX yang menyebabkan penurunan sintesis prostaglandin.12
B. INJEKSI
Injeksi kortikosteroid pada area penebalan tendon dianggap sebagai
pengobatan lini pertama untuk TF. Penelitian di tahun 2009 menyimpulkan bahwa
terapi yang paling berhasil dan dapat menghemat biaya untuk TF adalah dua suntikan
steroid sebelum intervensi bedah, jika diperlukan. Adapun obat yang paling umum
digunakan yakni prednisolon, deksametason, dan triamcinolone dimana sebagian
besar berhasil menghilangkan gejala.12
KORTIKOSTEROID
Berbeda dengan obat anti inflamasi oral yang terdistribusi meluas secara
sistemik dalam tubuh setelah dikonsumsi. Suntikan kortikosteroid lokal hanya hanya
fokus pada letak nyeri yang dirasakan pasien atau letak peradangan terjadi. Berbagai
sediaan kortikosteroid tersedia. Umumnya, kortikosteroid dicampur dengan anestesi
lokal sebelum disuntikkan.12
Methylprednisolone (A-Methapred, Depo-Medrol, Solu-Medrol, Medrol)
Biasanya digunakan dalam bentuk suntikan lokal yang disuntikkan pada
bursae atau persendian. Obat ini memberikan efek anti-inflamasi lokal serta
meminimalkan risiko gastrointestinal dan risiko lainnya dari obat sistemik.12
Dexamethasone acetate (Baycadron)
Agen ini dapat mengurangi peradangan dengan menekan migrasi leukosit
polimorfonuklear dan mengurangi permeabilitas kapiler. Dosisnya bervariasi
berdasarkan tingkat peradangan dan besarnya daerah yang terserang.12
Hydrocortisone acetate (Solu-Cortef, Cortef, A-Hydrocort)
Hydrocortisone acetate menurunkan peradangan dengan menekan migrasi
leukosit polimorfonuklear dan peningkatan permeabilitas kapiler. Dosis bervariasi
berdasarkan tingkat peradangan dan luasnya daerah yang terkena.12
Betamethasone (Celestone, Celestone Soluspan)
Betamethasone adalah obat pilihan untuk suntikan intraartikular. Preparat ini
tidak mengkristal jika digunakan dengan sediaan anestesi paraben.12
Triamcinolone (Aristospan, Kenalog-10, Kenalog-40)
Triamcinolone digunakan untuk kondisi inflamasi yang responsif terhadap
steroid. Preparat ini mengurangi peradangan dengan menekan migrasi leukosit
polimorfonuklear dan mengembalikan permeabilitas kapiler. Preparat ini merupakan
obat pilihan, karena durasi kerjanya lebih lama.12
Pereda Nyeri
Menyuntikkan kortikosteroid ke telapak dianggap sangat efektif dalam
mengobati TF, walaupun akan sedikit nyeri saat disuntikkan. Sebuah penelitian yang
membandingkan injeksi konvensional dengan injeksi yang didahului oleh blok saraf
median dan ulnar yang dilakukan di pergelangan tangan menemukan bahwa dari 19
pasien yang diteliti, sebanyak 88% lebih memilih untuk dilakukan blok saraf median
dan ulnaris sebelum di injeksi .13
Ulangi suntikan
Injeksi kortikosteroid kedua dapat dilakukan 3-4 minggu setelah
pemeriksaan pertama. Jika dua atau tiga kali suntikan tidak memberikan respon yang
baik, segera pertimbangkan untuk merujuk pasien agar dilakukan pembedahan.
Suntikan berulang secara teoritis meningkatkan kemungkinan pecahnya tendon,
walaupun risiko tersebut tidak ditemukan dalam studi tentang suntikan berulang untuk
TF. 13
C. SPLINTING
Splinting yang dibuat khusus (Custom-made splinting) untuk sendi
metacarpophalangeal (MCP) merupakan pengobatan konservatif lainnya yang
digunakan pada pasien yang tidak ingin menjalani injeksi steroid. Biasanya, Custom-
made splinting digunakan untuk menahan sendi MCP jari yang mengalami fleksi 10-
15. Biasanya splinting digunakan selama 6 minggu.13
Meskipun secara splinting belum dianggap sebagai pengobatan yang efektif
untuk TF, suatu studi membuktikan bahwa adanya perbaikan yang dirasakan oleh
pasien coba. Penelitian lain mengemukakan bahwa 87% pasien yang memakai
custom-made splinting selama 8-10 minggu tidak memerlukan injeksi atau bedah
dalam follow up 1 tahun kemudian.13
D. OPERATIF
Pembedahan
TF yang gagal dengan dua atau mungkin tiga suntikan memerlukan
penanganan bedah, termasuk pembedahan nodul pada tendon dan pelepasan pulley A1
dengan anestesi lokal. Manfaat dari penanganan operatif pada TF dan trigger thumb
dibuktikan oleh 3 studi tentang surgical pulley release. Pada follow up terakhir,
semua pasien pada penelitian ini telah dapat melakukan aktivitas seperti biasanya
tanpa ada batasan atau rasa sakit, dan tidak ada pasien yang mengalami kekambuhan
triggering ataupun MCP hyperextension deformity.15
Dalam sebuah penelitian terhadap 93 TF, Chao dkk membandingkan hasil
dari miniscalpel-needle percutaneous release dengan suntikan steroid. Ditemukan
bahwa 44 dari 46 pasien TF yang di terapi dengan miniscalpel-needle percutaneous
release memiliki hasil yang memuaskan (diukur dengan skala nyeri analog visual dan
kepuasan pasien). Dan sebanyak 12 dari 47 pasien yang diterapi dengan injeksi
steroid memiliki hasil yang memuaskan. Tidak ada cedera saraf yang terjadi pada
kedua kelompok tersebut.16
TF pada anak-anak hampir selalu memerlukan tindakan bedah. Sedangkan
TF pada orang dewasa hanya jika injeksi tendon dengan kortikosteroid tidak
merespons lalu diperlukan pembedahan. Semua operasi dilakukan dengan kontrol
tourniquet dan anestesi lokal sebagai prosedurnya dengan membuat sayatan
transversal pada lipatan palmar distal atau pada lipatan fleksor ibu jari pada sendi
MCP.16
Persiapan Operasi
Persiapan pra operasi meliputi:17
1. Hanya jari yang mengalami TF yang mendapatkan tindakan operasi.
2. Kontraktur PIP maupun trigger thumb tidak boleh dilakukan metode
percutaneous release, dan pulley A1 selalu diposisikan di bawah penglihatan
langsung.
3. Pasien dengan kontraktur sendi PIP menjalani masa terapi tangan dan splinting
sebelum prosedur operatif .
4. Turniket selalu digunakan untuk mendapatkan lapangan kerja yang bersih.
5. Sekitar 4-5 mL lignokain 1% digunakan untuk menginfiltrasi kulit di atas pulley
A1, dengan injeksi dilakukan lebih dalam ke selubung tendon.
6. Insisi transversal ditandai dengan penanda kulit yang sesuai dengan jari yang
akan dilakukan pembedahan.
Prosedur operasional
Sendi MCP hyperextended untuk menggantikan struktur neurovaskular
dorsal, sehingga dapat meminimalkan risiko cedera. Insisi transversal berukuran 1-1,5
cm dibuat di atas metacarpal head yang terlibat. Diseksi tumpul digunakan untuk
menepiskan lemak subkutan dan mengekspos selubung tendon. Tepi proksimal pulley
A1 diidentifikasi, dan pisau bedah digunakan untuk memisahkan seluruh pulley A1 di
garis tengah di bawah penglihatan. Ketelitian diperlukan untuk menghindari insisi
yang berlebihan dan mengurangi risiko terkenanya pulley A2, yang dapat
menyebabkan bowstringing finger injury. Kemudian luka ditutup dengan dua atau tiga
jahitan dan tangan dibiarkan bebas.17
Pulley A1 dipotong dengan menggunakan gunting tumpul, gunting halus, tepat di
garis tengah. Catatan: jari ditahan dalam posisi hiperxtended oleh asisten.
Insisi untuk pelepasan A1, diposisikan pada lipatan fleksi MP, berpusat di atas nodul
tendon fleksor.
Trigger thumb. A1 pulley exposed within surgical field (arrow). Digital neurovascular
bundles behind retractors.
Trigger thumb. A1 pulley has been released; flexor pollicis longus tendon now
exposed. Retractors have been removed to demonstrate proximity of neurovascular
bundles (arrows) to tendon.
Perawatan pasca operasi
Gerakan aktif dianjurkan pada hari operasi. Obat anti inflamasi dan elevasi
disarankan untuk jangka waktu 2-3 hari setelah operasi. Jahitan dapat dilepaskan pada
hari-10 pasca operasi.17
E. TERAPI FISIK
Terapi fisik umumnya tidak diperlukan untuk pasien dengan TF. Namun,
untuk kasus TF kronis, perawatan mungkin mencakup terapi fisik dengan teknik
pemanasan (fisioterapi). Setelah disuntik atau dioperasi, program latihan di rumah
(peregangan) merupakan salah satu komponen penting pengobatan untuk pasien.
Tidak ada program terapi yang telah didokumentasikan untuk memperbaiki TF.17
Aktivitas yang dapat mendukung keberhasilan terapi
Jika uji coba terapi direkomendasikan untuk pasien dengan TF kronis atau
untuk individu yang memerlukan terapi tangan pasca operasi, dokter dapat merujuk
mereka ke ahli terapi fisik atau ahli terapi okupasi, tergantung pada preferensi dan
ketersediaan terapisnya. Perawatan yang diberikan oleh terapis okupasi sangat mirip
dengan terapi fisik yang dibahas di atas. Selain itu, terapis okupasi dapat memberi
pasien strategi untuk menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL) dengan
keterbatasan penggunaan tangan yang masih memerlukan pemulihan pasca operasi.17
DIFERENSIAL DIAGNOSIS
1. Carpal Tunnel Syndrome
2. Radang sendi
KOMPLIKASI
Injeksi kortikosteroid
Komplikasi potensial dari injeksi kortikosteroid meliputi:18
1. Infeksi : Dapat dihindari dengan menerapkan prosedur yang
steril.
2. Perdarahan minimal darah.
3. Lemahnya tendon.
4. Atrofi lemak terjadi secara lokal di tempat suntikan.
5. Infiltrasi saraf dan cedera saraf berikutnya (komplikasi ini jarang terjadi).
Perdarahan
Hal ini dapat diminimalisir dengan menerapkan tekanan langsung segera
setelah prosedur. Dibutuhkan ketelitian sebelum menyuntik pasien dengan
memakai antikoagulan pada individu dengan penyakit perdarahan.18
Lemahnya tendon
Lemahnya tendon meningkatkan risiko pecahnya tendon berikutnya, suatu
kemungkinan yang menjadi perhatian khusus jika injeksi dilakukan secara tidak
benar (khususnya, jika suntikan diberikan ke dalam tendon itu sendiri dan bukan
hanya di dalam selubung tendon). Risiko ruptur tendon dapat terjadi dengan
beberapa suntikan, walaupun beberapa peneliti klinis tidak menemukan episode
tendon yang pecah setelah injeksi kortikosteroid untuk TF, bahkan dengan
suntikan berulang.18
Atrofi lemak
Atrofi lemak dapat terjadi secara lokal di tempat suntikan jika kortikosteroid
disuntikkan ke dalam jaringan subkutan. Komplikasi ini bisa menyebabkan depresi
kosmetik pada kulit.18
Pembedahan
Diharapkan pada ahli bedah dapat melakukan teknik pembedahan dengan
hati-hati sehingga dapat meminimalisir komplikasi. Potensi komplikasi operasi TF
meliputi:19
1. Tenderness di atas lokasi sayatan (terjadi cukup sering tapi biasanya akan
menghilang dengan sendirinya).
2. Adhesi dan kekakuan - Hal ini dapat terjadi akibat perlakuan pada tendon
yang berlebihan atau mobilisasi yang tertunda pasca operasi.
3. Cedera saraf Hal ini sangat jarang terjadi, meskipun saraf terletak 2-3 mm
dari garis tengah. Perbaikan atau rekonstruksi segera diindikasikan jika terjadi
komplikasi ini.
4. Potongan yang tidak disengaja ke pulley A2 - Hal ini dapat menyebabkan
browstringing finger injury, dengan kehilangan fleksi penuh.
5. Jaringan parut.
6. Kekambuhan - sangat jarang terjadi.
7. Infeksi.
PROGNOSIS
Injeksi dengan atau tanpa splinting
Prognosis pada TF sangat baik. Sebagian besar pasien merespons dengan
injeksi kortikosteroid dengan atau tanpa splinting. Beberapa kasus TF dapat sembuh
secara spontan dan kemudian terulang kembali tanpa korelasi yang jelas dengan
faktor pengobatan.
Freiberg dkk menemukan tingkat keberhasilan yang lebih besar untuk terapi
injeksi TF saat pengobatan digunakan pada pasien di mana pemeriksa dapat meraba
konsistensi nodular pada sarung flexor.
Jari dengan nodul yang teraba discrete memiliki tingkat keberhasilan 93%
dengan satu injeksi triamcinolone dengan follow up selama 3 bulan, sedangkan jari
dengan pola diffuse memiliki tingkat kegagalan 52%.
Marks dan Gunther melaporkan tingkat keberhasilan 92% pada trigger di
ibu jari dan tingkat keberhasilan 84% pada jari lainnya yang mengalami trigger
setelah satu suntikan dengan triamcinolone.
Dengan menggunakan sonoelastography, teknik terbaru untuk menilai
kuantitatif kekakuan pada jaringan lunak, salah satu penelitian mengungkapkan
bahwa penyebab gertakan (snapping) pada trigger finger adalah kekakuan dan
penebalan pada pulley A1. Tiga minggu setelah injeksi kortikosteroid, ketebalan
pulley dan rasio lemak subkutan terhadap menurun, gertakan hilang pada semua
pasien yang diteliti.
Griggs dkk melaporkan tingkat keberhasilan keseluruhan 50% untuk injeksi
steroid pada pasien DM.14