0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan4 halaman

Panggung Sandiwara Kehidupan Manusia

Dokumen tersebut merupakan kumpulan puisi yang menceritakan tentang perjalanan sebuah hubungan, mulai dari jatuh cinta pada pandangan pertama, menikmati waktu bersama, hingga kesedihan berpisah saat hari mulai gelap.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan4 halaman

Panggung Sandiwara Kehidupan Manusia

Dokumen tersebut merupakan kumpulan puisi yang menceritakan tentang perjalanan sebuah hubungan, mulai dari jatuh cinta pada pandangan pertama, menikmati waktu bersama, hingga kesedihan berpisah saat hari mulai gelap.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SANDIWARA

Aku tau benar dunia ini panggung sandiwara


Ada pemeran tangguh
Ada pemeran lemah
Atau skenario yang selalu berubah

Dunia ini tidak akan nyata


Dunia ini akan seperti alur saja
Alur yang dibuat semena-mena
Tak indah, tak buruk, tak jelas

Pura-pura menjadi baik


Pura-pura menjadi licik
Pura-pura menjadi cinta
Pura-pura menjadi dusta

Hati ini terus mencari ketidakpastian


Pikiran ini terus mencari kekeliruan
Jiwa ini terus mencari kepalsuan
Namun tak pernah mencari kebenaran

Aku tidak jago akting


Aku bukan orang asing
Aku hanya cukup bising
Agar mereka tak hening, aneh!

Panggung sandiwara
Topeng berwajah
Kata berlidah
Sudahlah!
INIKAH RASANYA SEKEJAP

Firasatku selalu tertuju padanya


Aku pun tak tahu mengapa
Kala pandangan pertama berjumpa dirinya
Hari-hari penuh nuansa
Rasa kagum terwujud bila mengingatnya
Ucapan terbata bila dekat dengannya
Resah gelisah bila tiada raganya

Rajutan senyuman bibirnya sungguh mempesona


Obat hati yang sedang dibuai luka
Zigzag langkahnya mengindahkan suara
Yang ku tahu aku jatuh cinta

Namun, semua itu tinggallah kenangan


Angan perlahan mulai menghilang
Sementara waktu mulai meninggalkan
Ulangan itu tak kan ada
Tanda hati saja enggan kembali
Iringan bayangan saja enggan mengikuti
Oh! apa benar inikah rasanya?
Nikmat tapi sekejap
TERBATAS

Aku mendekat, mereka sudah jauh


Berjarak, terhalang, terbatas
Aku tenggelam, mereka sudah di permukaan
Berjarak, terhalang, terbatas
Aku kegerahan, mereka sudah menggigil
Berjarak, terhalang, terbatas

Aku menutup, mereka membukanya


Ada jarak, ada halangan, terbatas
Aku tinggal, mereka pergi
Ada jarak, ada halangan terbatas
Aku bungkam, mereka teriak
Ada jarak, ada halangan, terbatas

Hancur sudah
Letih sudah
Aku harus gimana?
Mereka maunya apa?

Aku bukan lah wajah dan hati mereka


Aku hanyalah diriku
Aku hanya di duniaku
Aku adalah terbatas
Layaknya subuh bermula suatu cerita
Terbitnya matahari telah mempertemukan para jiwa raga
Jiwa raga yang lugu, yang haus akan perhatian dan keingintahuan
Aku, kamu, dan dia kala itu belum mengenal kata kita
Hingga hangatnya pagi seakan membangkitkan diri untuk saling berbagi

Banyak hal yang kita lalui di siang hari


Dari satu, dua, tiga, menjadi ribuan angka
Dari jauhnya jarak hingga sedekat nadi
Dari tangan tanpa jari menjadi genggaman yang kuat sekali

Oh, ya! kita pernah meretakkan kaca


Kita juga telah menodai kasa
Tapi kita selalu berusaha mengeratkan simpulan pita

Bukan hanya itu saja


Terkadang hujan tiba-tiba menghampiri
Membasahkan raga hingga ke dalam jiwa
Tidak masalah!
Asal matahari kembali tersenyum menampakkan dirinya
Asal bersama, semua itu menjadi biasa.

Kita sangat menyukai senja


Romantisnya suasana mengindahkan cerita
Cerita cinta yang hadir di antara kita
Kita tak bisa mempungkirinya
Bak bunga yang sedang masa mekarnya

Oh, tidak! matahari sudah lelah menemani kita


Hari mulai gelap pertanda kita kan berpisah
Jujur, aku benci malam tiba
Aku tak ingin cerita kita kan sudah
Aku enggan memberikan tanda titik selagi masih ada koma pada cerita
Karena aku ingin kita terus memuat halaman cerita lagi meski terbawa mimpi

Common questions

Didukung oleh AI

The speaker's longing is articulated through vivid imagery and emotional reflection on a moment of deep affection. The use of phrases like 'raagun senyuman bibirnya' (smile of their lips) and 'zigzag langkahnya' (zigzag steps) conveys an intense admiration and subsequent loss. The fleeting nature of these emotions leaves the speaker in a state of unresolved desire and nostalgia .

Natural imagery in the poem evokes both warmth and nostalgia, especially through references to sunlit mornings and sunsets, symbolizing beginnings and endings. The warmth of the sun suggests shared experiences and closeness, while the setting sun signals impending separation, evoking a bittersweet feeling of time passing and cherished moments becoming memories .

The speaker's attitude towards dreams involves a resistance to finality, illustrated by the desire to continue the narrative 'meski terbawa mimpi' (even if taken into dreams). This suggests that dreams serve as an extension of reality, a means to perpetuate a shared story beyond waking life. The reluctance to end with a full stop, favoring a comma, signifies continuity and hope, portraying dreams as a realm for unresolved emotions and continuity beyond reality .

The language in the poem uses metaphors and contrasts to shape the themes of connection and separation. Phrases like 'dari tangan tanpa jari menjadi genggaman yang kuat' (from hand without fingers to a strong grip) encapsulate the creation of a deep bond, while 'hari mulai gelap pertanda kita kan berpisah' (the day darkens signaling our separation) reflects the unavoidable return to solitude, thus highlighting a cyclical nature of relationships .

The poem explores fleeting emotions by examining the intense feelings of admiration and love experienced by the speaker during a brief encounter. Descriptions of a captivating first meeting and the subsequent disappearance of those emotions underscore their transitory nature, as the memory becomes a mere echo that leaves the speaker questioning its authenticity .

The conflict in the speaker's perspective revolves around the struggle to reconcile personal limitations with external expectations. The speaker's repeated acknowledgment of feeling 'terbatas' against the backdrop of others' actions reflects an internal battle between self-identity and societal roles. This tension is framed by the speaker's awareness of their unique perspective, reinforcing a sense of isolation from others due to intrinsic realities .

The world is metaphorically described as a 'panggung sandiwara' or stage play in the poem, reflecting the author's perspective that life is full of performative roles, changing scenarios, and insincerity. The metaphor suggests that life lacks authenticity and is scripted by others without clarity of purpose .

The narrative progresses from morning to night, symbolizing the journey of a relationship from its beginning to an inevitable separation. Mornings represent new opportunities and connections, while sunsets introduce the theme of parting intimately tied to the passage of time. This temporal structure emphasizes the impermanence of relationships and the persistence of memories even as time moves on .

The poem uses contrasting imagery to convey feelings of limitation and separation, such as the speaker being submerged while others are on the surface, or feeling heat while others feel cold. The repetition of 'berjarak, terhalang, terbatas' (distant, obstructed, limited) emphasizes the persistent barriers that distance the speaker from others, highlighting a sense of isolation .

The speaker challenges authenticity by depicting emotions and actions as mere acts in a play. Emotions like kindness, deceit, love, and lies are described as something people pretend to feel or enact, suggesting societal norms of insincerity. The speaker's detachment from 'akting' implies a quest for truth amidst pervasive pretense .

Anda mungkin juga menyukai