PROGRAM PENANGGULANGAN TBC PADA PENGIDAP HIV/AIDS
AIDS didefinisikan sebegai suatu sindrom atau kumpulan gejala penyakit
dengan karakteristik defisiensi kekebalan tubuh yang berat dan merupakan
manifestasi stadium akhir inveksi virus HIV.
Virus HIV terdapat dalam darah dan cairan tubuh seseorang yag telah
tertular, walaupun orang tersebut belum menunjukkan keluhan atau gejala
penyakit. HIV hanya dapat ditularkan bila terjadi kontak langsung denggan cairan
tubuh atau darah. Dosis virus memegang peranan penting. Makin besar jumlah
virusnya, makin besar kemungkinan terinfeksi.
Berdasarkan informasi kesehatan, terdapat beberapa manifestasi klinis
paling umum pada pasien AIDS di Asia, meliputi pneumonia pneumocytis carinii,
candidiasis, tuberculosis (TBC), varicella zoster, herpes simpleks,
cytomegalovirus, dan sarkoma kaposi. Pada perkembangan selanjutnya
manifestasi klinis TBC merupakan manifestasi klinis paling umum di negara-
negara sedang berkembang.
Dalam mengatasi hal tersebut, terdapat beberapa program yang dapat
dilakukan:
1. Program Pencegahan
Input
- Menghilangkan faktor risiko untuk terinveksi HIV pada masyarakat
pengidap TBC laten, dengan cara:
Menghindari kontak host dengan HIV
Pemeriksaan diri untuk tes HIV
Konseling sebelum tes HIV
Konseling sesudah tes HIV
- Menghilangkan faktor risiko untuk terinveksi Mycobacterium
tuberkulosis pada pengidap HIV, dengan cara:
Konseling penjelasan tentang TB dan perkembangannya
Skrining terhadap TB secara klinis dan radiologis
Evaluasi terhadap kemungkinan TB aktif apabila terdapat kelainan
paru
Evaluasi secara berkala terhadap penyakit TB aktif apabila berada di
tempat endemik
Terapi profilaksis apabila terdapat TB aktif
Output
Program pencegahan AIDS berjalan baik dan disertai dengan berhasilnya
program pencegahan infeksi oleh kuman tuberkulosis.
Outcome
Pencegahan infeksi oportunistik TBC pada pengidap HIV/AIDS
2. Program Pengobatan TBC Pada Pengidap HIV/AIDS
Input
Pengobatan dimulai dengan Isoniazid, pirasinamid, dan rifampisin sampai
hasil kultur resistensi datang.
Output
Program pengobatan yang dilakukan untuk mangatasi infeksi oportunistik
penyakit TBC pada pengidap HIV/AIDS dapat memberikan perubahan,
meskipun sedikit perubahan yang terjadi mengingat sampaai saat ini belum
ada penelitian yang dapat menentukan obat penyembuh penyakit AIDS.
Namun, telah ditemukan beberapa obat yang dapat menghambat infeksi HIV
dan beberapa yang secara efektif dapat mengatasi infeksi oportunitis.
Outcome
- Pengobatan terhadap virus HIV
- Pengobatan terhadap infeksi oportunistik
- Pengobatan pendukung
PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PENYAKIT CAMPAK
DI PROVINSI JAWA TENGAH
Definisi, Tanda dan Gejala, Cara Penularan
Merupakan penyakit infeksi virus yaitu Morbillivirus. Kejadiannya di
seluruh dunia. Menyerang manusia, belum diketahui pada binatang. Sangat
menular, >90 % diantara kelompok orang rentan. Umur terbanyak menderita
campak adalah <12 bulan, diikuti kelompok umur 1-4 tahun dan 5-14 tahun
terlebih yang tidak mendapatkan imunisasi campak.
Tanda dan Gejala
Hari 1-3 :
1. Demam tinggi.
2. Mata merah dan sakit bila kena cahaya.
3. Anak batuk pilek
4. Mungkin dengan muntah atau diare
Hari 3- 4 :
1. Demam tetap tinggi
2. Timbul ruam / bercak-bercak merah pada kulit dimulai wajah dibelakang
telinga menyebar cepat ke seluruh tubuh.
3. Mata bengkak terdapat cairan kuning kental
Bila ruam timbul waktu demam turun dan dengan penyebaran yang tidak
khas, dan penderita berumur < 2tahun, bukan merupakan penyakit campak tetapi
Eksantema Subitum / Roseola Infantum ( infeksi virus Herpes tipe 6 dan 7)
Hari 4 6 :
1. Ruam berubah menjadi kehitaman dan mulai mengering
2. Selanjutnya mengelupas secara berangsur-angsur
3. Akhirnya kulit kembali seperti semula tanpa menimbulkan bekas
4. Hilangnya ruam sesuai urutan timbulnya.
Penegakan diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan ruam kulit yang khas.
Pemeriksaan lain yang perlu dilakukan adalah :
1. Pemeriksaan darah
2. Pembiakan virus
3. Serologi campak
Cara penularan
1. Penularan dari orang ke orang melalui percikan ludah dan transmisi
melalui udara (sampai 2 jam setelah penderita campak meninggalkan
ruangan).
2. Waktu Penularan: 4 hari sebelum dan 4 hari setelah ruam.
3. Penularan maksimum pada 3-4 hari setelah ruam.
A. Input tambahan
Alat dan bahan : Pemeriksaan laboratorium campak, cold chain, sarana
imunisasi
B. Proses
Pencegahan
Pencegahan Tingkat Awal (Priemordial Prevention)
Pencegahan tingkat awal berhubungan dengan keadaan penyakit yang
masih dalam tahap prepatogenesis atau penyakit belum tampak yang dapat
dilakukan dengan memantapkan status kesehatan balita dengan memberikan
makanan bergizi sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh.
Pemberian imunisasi Campak pada bayi.
Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mencegah
seseorang terkena penyakit campak, yaitu :
1. Memberi penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya
pelaksanaan imunisasi campak untuk semua bayi.
2. Imunisasi dengan virus campak hidup yang dilemahkan, yang diberikan
pada semua anak berumur 9 bulan sangat dianjurkan karena dapat
melindungi sampai jangka waktu 4-5 tahun.
Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
Pencegahan tingkat kedua ditujukan untuk mendeteksi penyakit sedini
mungkin untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.
Dengan demikian pencegahan ini sekurang-kurangnya dapat
menghambat atau memperlambat progrefisitas penyakit, mencegah komplikasi,
dan membatasi kemungkinan kecatatan, yaitu :
1. Menentukan diagnosis campak dengan benar baik melalui pemeriksaan
fisik atau darah.
2. Mencegah perluasan infeksi. Anak yang menderita campak jangan masuk
sekolah selama empat hari setelah timbulnya rash. Menempatkan anak
pada ruang khusus atau mempertahankan isolasi di rumah sakit dengan
melakukan pemisahan penderita pada stadium kataral yakni dari hari
pertama hingga hari keempat setelah timbulnya rash yang dapat
mengurangi keterpajanan pasien-pasien dengan risiko tinggi lainnya.
3. Pengobatan simtomatik diberikan untuk mengurangi keluhan penderita
yakni antipiretik untuk menurunkan panas dan juga obat batuk. Antibiotika
hanya diberikan bila terjadi infeksi sekunder untuk mencegah komplikasi.
4. Diet dengan gizi tinggi kalori dan tinggi protein bertujuan untuk
meningkatkan daya tahan tubuh penderita sehingga dapat mengurangi
terjadinya komplikasi campak yakni bronkhitis, otitis media, pneumonia,
ensefalomielitis, abortus, dan miokarditis yang reversibel.
Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)
Pencegahan tingkat ketiga bertujuan untuk mencegah terjadinya
komplikasi dan kematian. Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan pada
pencegahan tertier yaitu :
1. Penanganan akibat lanjutan dari komplikasi campak.
2. Pemberian vitamin A dosis tinggi karena cadangan vitamin A akan turun
secara cepat terutama pada anak kurang gizi yang akan menurunkan
imunitas mereka.
Faktor Risiko :
1. Anak tidak diimunisasi campak
2. Daerah dengan cakupan imunisasi campak kurang dari 90%
Proses imunisasi:
1. Imunisasi campak pada bayi
2. Dan ulangan pada anak 2 tahun dan anak sekolah
Surveilans campak melalui CBMS dengan pengambilan specimen darah
pada kasus yang diduga campak
Tata laksana
Pengobatan
1. Pada umumnya penyakit Campak dapat sembuh dengan sempurna.
Komplikasi terjadi bila kekebalan anak tidak bagus atau anak menderita
kurang gizi.
2. Pengobatan bersifat suportif, terdiri dari pemberian cairan yang cukup,
suplemen nutrisi, obat anti-demam, obat batuk dan pilek. Bila tidak ada
komplikasi dilakukan rawat jalan.
3. Rawat Inap bila:
a. Demam tinggi (>39C), dehidrasi, kejang, asupan makanan / minuman
sulit, atau adanya komplikasi.
b. Pemberian Vitamin A (100.000 IU untuk anak usia 6-12 bulan dan
200.000 IU untuk >12 bulan. Vitamin A ini berfungsi untuk perbaikan
selaput lendir ( mata, mulut, hidung, usus) yang meradang.
Tanda-tanda KLB/Wabah
Batasan KLB campak yaitu ditemukan indikasi adanya peningkatan
kasus dan penyelidikan Pra KLB menunjukkan terjadi KLB, atau adanya
laporan peningkatan kasus atau peningkatan kematian campak dari masyarakat.
C. Output
Penemuan kasus campak sedini mungkin dan cakupan imunisasi > 90 %
D. Outcome
Eliminasi Campak pada tahun 2016 dan mempertahankannya.
PENYAKIT JANTUNG KORONER DAN HIPERTENSI
Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan problema kesehatan utama di
negara maju. Di Indonesia telah terjadi pergeseran kejadian Penyakit Jantung dan
pembuluh darah dari urutan ke-l0 tahun 1980 menjadi urutan ke-8 tahun 1986.
Sedangkan penyebab kematian tetap menduduki peringkat ke-3. Banyak faktor
yang mempengaruhi terjadinya Penyakit Jantung Koroner (PJK) sehingga usaha
pencegahan harus bentuk multifaktorial juga. Pencegahan harus diusahakan
sedapat mungkin dengan cara pengendalian faktor-faktor risiko PJK dan
merupakan hal yang cukup penting dalam usaha pencegahan PJK, baik primer
maupun sekunder. Pencegahan primer lebih ditujukan pada mereka yang sehat
tetapi mempunyai resiko tinggi, sedangkan sekunder merupakan upaya
memburuknya penyakit yang secara klinis telah diderita.
Merupakan salah satu faktor resiko utama penyebab terjadinya PJK.
Penelitian di berbagai tempat di Indonesia (1978) prevalensi Hipertensi untuk
Indonesia berkisar 615%, sedang di negara maju misal : Amerika 15-20%. Lebih
kurang 60% penderita Hipertensi tidak terdeteksi, 20% dapat diketahui tetapi
tidak diobati atau tidak terkontrol dengan baik. Perubahan hipertensi khususnya
pada jantung disebabkan karena:
a. Meningkatnya tekanan darah
b. Mempercepat timbulnya arterosklerosis
Undang-undang tentang pemerintahan daerah menetapkan bahwa
pemerintah daerah memiliki wewenang untuk mengatur dan mengurus sendiri
urusan wajib diwilayahnya, lebih lanjut ditetapkan bahwa yang dimaksud dengan
urusan wajib adalah urusan pemerintahan yang berkaitan dengan hak dan
pelayanan dasar warga negara yang penyelenggaraannya diwajibkan kepada
daerah, salah satu urusan wajib tersebut adalah pelayanan kesehatan.
Untuk menjamin bahwa pelayanan kesehatan tersebut dilaksanakan sesuai
dengan jenis dan mutu yang diharapkan masyarakat, maka pemerintah pusat
berdasarkan kewenangannya telah menetapkan pedoman standar pelayanan
minimal (SPM) bidang kesehatan yang wajib dilaksanakan oleh pemerintah
daerah. SPM bidang kesehatan terdiri dari 26 jenis pelayanan dengan 54 indikator
mutu yang masing-masing ditargetkan dapat tercapai pada tahun 2010. Dari
sekian banyak indikator, belum terdapat indikator mutu bagi pelayanan kesehatan
penyakit tidak menular.
Namun demikian Indonesia menghadapi berbagai masalah kesehatan,
salah satunya adalah perubahan pola penyakit (epidemiological transition) dimana
jumlah penderita penyakit tidak menular semakin meningkat.
Pelayanan pengendalian penyakit menular dapat dikelompokkan menjadi
berbagai upaya pengendalian penyakit, yaitu untuk: Penyakit jantung dan
pembuluh darah, Gangguan kecelakaan dan cedera, Penyakit diabetes melitus,
Penyakit kanker, dan Penyakit kronis dan degeneratif.
Jenis pelayanan dalam bidang pengendalian penyakit jantung dan
pembuluh darah yang wajib diberikan oleh pemerintah daerah kepada
masyarakatnya adalah:
1. Pengendalian penyakit jantung koroner
2. Pengendalian penyakit hipertensi
INPUT
1. Terbentuknya jaringan kerja yang berfungsi dalam surveilans faktor risiko,
penyakit dan registri kematian akibat PJK dan Hipertensi di daerah
2. Tersedianya metodeinstrumen standar untuk surveilans faktor risiko
penyakit dan registri kematian akibat PJK dan Hipertensi
3. Terbentuknya unit yang bertanggung jawabsurveilans PJK dan Hipertensi
di daerah
4. Tersedianya informasi faktor risiko, angka kesakitan, angka kecacatan dan
angka kematian akibat PJK dan Hipertensi
5. Adanya kebijakan publik yang mendukung kegiatan pengendalian PJK dan
Hipertensi
OUTPUT
1. Menurunnya faktor risiko penyebab kejadian PJK dan Hipertensi
2. Meningkatnya kualitas dan kuantitas kemampuan tenaga dalam melakukan
promosi pencegahan PJK dan Hipertensi
3. Terbentuknya kemitraan dalam pemberdayaan masyarakat
OUTCOME
1. Ada standar metode dan instrumen surveilans PJK dan hipertensi
2. Adanya data faktor risiko PJK dan hipertensi
3. Ada Perda Kesehatan yang terkait dengan pengendalian PJK dan
hipertensi (misalnya Perda larangan merokok ditempat umum)
4. Persentase penurunan penyandang faktor resiko
5. Jumlah tenaga yang telah terlatih dalam pengendalaian PJK koroner dan
penyakit hipertensi
6. Terbentuknya LSM yang bergerak dalam pengendalian PJK dan
hipertensi
7. Meningkatnya persentase kelengkapan jenis dan jumlah obat-obatan
8. Meningkatnya persentase Puskesmas yang menyediakan pelayanan PJK
dan hipertensi
PROGRAM POSYANDU
Posyandu merupakan perpaduan kegiatan masyarakat bersama dengan
tenaga kesehatan yang berupa:
a. Kegiatan pelaksanaan gerakan keluarga berencana
b. Kegiatan evaluasi kesehatanibu dan anak
c. Penanggulangan diare
d. Upaya peningkatan gizi keluarga dan ibu hamil
e. Imunisasi balita dan anak.
Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang dselenggarakan dari,
oleh, untuk dan bersama masyarakat. Posyandu dapat dilaksanakan satu kali
dalam sebulan di tempat yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Sasaran
pelaksanaan posyandu sendiri yaitu balita, ibu hamil dan ibu menyusui, dan
pasangan usia subur (PUS).
Sistem pelayanan posyandu adalah sistem lima meja, diantaranya:
a. Meja pertama : pencatatn dan pelaporan
b. Meja kedua : penimbangan
c. Meja ketiga : penerangan dan pendidikan
d. Meja keempat : peningkatan tentang gizi/ASI
e. Meja kelima : pelayanan esehatan seperti pemeriksaan hamil, imunisasi
balita, anak dan ibu hamil, program keluarga berencana dan
pemberiantablet besi dan vitamin A).
Untuk meja pertama sampai meja keempat dilayani oleh kader desa,
sedangkan meja kelima oleh tenaga kesehatan yang terkait yaitu bidan swasta,
bidan desa, tenaga kesehatan puskesmas, dan dokter swasta.
Menurut Depdagri RI (2001), kegiatan posyandu dapat diukur dari
berbagai aspek, diantaranya:
a. Input:
1. Jumlah posyandu yang telah lengkap sarana dan obat-obatnya
2. Jumlah kader yang telah dilatih dan aktif
3. Jumlah kader yang mendapat akses untuk meningktakan ekonominya
4. Adanya dukungan pembiayaan dari masyarakat setempat, pemerintah
dan lembaga donor untuk kegaiatan posyandu
b. Proses:
1. Meningkatnya frekuensi pelatihan kader posyandu
2. Meningkatnya frekuensi pendampingan dan pembinaan posyandu
3. Meningkatnya jenis pelayanan yang dapat diberikan
4. Meningkatnya partisipasi masyarakat untuk posyandu
5. Menguatnya kapasitas pemantauan pertumbbuhan anak
c. Output:
1. Meningkatkan cakupan bayi dan balita yang dilayani
2. Pencapaian cakupan seluruh balita
3. Meningkatnya cakupan ibu hamil dan ibu menyusui yang dilayani
4. Meningkatnya cakupan kasus yang dipantau dalam kunjungan rumah
d. Outcome:
1. Meningkatnya status gizi balita
2. Berkurangnya jumlah anak yang berat badannya tidak cukup baik
3. Berkurangnya prevalensi penyakit anak
4. Berkurangnya prevalensi anemia ibu hamil dan ibu menyusui
5. Mantapnya pola pemeliharaan anak secara baik di tingkat keluarga
6. Mantapnya kesinambungan posyandu
PROGRAM PENCEGAHAN PENYAKIT DBD
Meningkatnya Kejadian Luar Biasa DBD di berbagai wilayah
menyebabkan tingginya angka kesakitan dan kematian penduduk akibat DBD.
Pola distribusi penderita DBD mengindikasikan adanya persoalan gender seperti
terlihat dari data berikut:
Angka kesakitan pada laki-laki (54/100.000 penduduk) lebih tinggi
dibanding pada perempuan (35/100.000) penduduk.
- Umur < 1 tahun : laki-laki 62%, perempuan 38%
- Umur 1-4 tahun : laki-laki 58%, perempuan 42%
- Umur 5-14 tahun : laki-laki 57%, perempuan 43%
- Umur >15 tahun : laki-laki 66%, perempuan 34%
Angka kematian DBD pada perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki.
Ada penelitian imunologi yang menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh
lelaki lebih rentan terhadap DBD dibandingkan perempuan. Ada indikasi bahwa
lebih tingginya angka kematian DBD pada perempuan berkaitan dengan adanya
kecenderungan penderita perempuan dibawa ke RS ketika kondisi sudah lebih
parah. Diperkirakan hal ini terkait dengan peran perempuan selaku cargiver di
keluarganya yang kemudian cenderung menomorduakan kesehatan sendiri. Perlu
penelitian lebih lanjut mengenai cara jangkit DBD serta cara pandang masyarakat
terkait dengan penanganan terhadap lelaki dan perempuan jika terkena penyakit
DBD.
Di banyak tempat, terjadi kesulitan mendapatkan tenaga jumantik (juru
pemantau jentik) laki-laki karena persepsi bahwa kader kesehatan berasal dari
PKK yang umumnya adalah perempuan yang melakukan tugas secara sukrela
(tanpa bayaran). Padahal medan pemantau jentik ada yang cukup berat dan sulit
dijangkau oleh jumantik perempuan.
INPUT
- Tersedianya tenaga jumantik laki-laki dan perempuan di kelurahan
- Tersedianya tenaga penyulih kesehatan laki-laki dan perempuan
- Tersedianya media penyuluhan yang sesuai untuk masing-masing
kelompok sasaran
- Tersedianya sarana pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin
OUTPUT
- 100% wilayah dipantau secara rutin oleh jumantik laki-laki dan
perempuan
- Pelaksanaan penyuluhan yang efektif kepada kelompok sasaran
Yang relevan (dewasa &anak sekolah, perempuan & laki-laki, miskin
& kaya)
- Tertanganinya seluruh penderita DBD dengan layanan berkualitas,
baik perempuan dan laki-laki, miskin dan kaya
OUTCOME
- Menurunnya angka kesakitan baik penderita perempuan maupun laki-
laki menjadi < 20/100.000 penduduk
- Menurunnya Cash Fatality Rate,baik penderita perempuan dan
penderita laki-laki, menjadi <1%
PROGRAM PENANGGULANGAN PENYAKIT MALARIA
Malaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat
menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi yaitu bayi, anak
balita, ibu hamil, selain itu malaria secara langsung menyebabkan anemia dan
dapat menurunkan produktivitas kerja.
Dalam rangka pengendalian penyakit malaria banyak hal yang sudah
maupun sedang dilakukan baik dalam skala global maupun nasional. Target pada
tahun 2015 adalah untuk menghentikan penyebaran dan mengurangi kejadian
insiden malaria yang dilihat dari indikator menurunnya angka kesakitan dan angka
kematian akibat malaria. Global Malaria Programme (GMP) menyatakan bahwa
malaria merupakan penyakit yang harus terus menerus dilakukan pengamatan,
monitoring dan evaluasi, serta diperlukan formulasi kebijakan dan strategi yang
tepat. Di dalam GMP ditargetkan 80% penduduk terlindungi dan penderita
mendapat pengobatan Arthemisinin based Combination Therapy (ACT). Karena
pentingnya penanggulangan malaria, maka beberapa partner internasional salah
satunya Global Fund, memberikan bantuan untuk pengendalian malaria. Dalam
pengendalian malaria, ditargetkan penurunan angka kesakitannya dari 2 menjadi 1
per 1.000 penduduk.
Upaya penanggulangan penyakit malaria di Indonesia sejak tahun 2007
dapat dipantau dengan menggunakan indikator Annual Parasite Incidence (API).
Hal ini sehubungan dengan kebijakan Kementerian Kesehatan mengenai
penggunaan satu indikator untuk mengukur angka kejadian malaria, yaitu dengan
API. Pada tahun 2007 kebijakan ini mensyaratkan bahwa setiap kasus malaria
harus dibuktikan dengan hasil pemeriksaan sediaan darah dan semua kasus positif
harus diobati dengan pengobatan kombinasi berbasis artemisinin atau ACT
(Artemisinin-based Combination Therapies).
Dalam upaya penanggulangan penyakit malaria dapat dilakukan beberapa
beberapa upaya, yaitu:
INPUT
- Menyediakan sumber informasi tentang penyakit malaria, baik melalui
sosialisasi, poster dan lain-lain
- Menyediakan pemeriksaan sediaan darah untuk pasien dengan gejala
malaria
- Menyediakan pelayanan pengobatan berbasis ACT
- Melakukan proses pemantauan malaria dengan indikator API
OUTPUT
- Masyarakat mendapatkan informasi terkait malaria
- Data kejadian malaria lebih valid karena memiliki bukti yang kuat,
yaitu hasil pemeriksaan sediaan darah
- Seluruh penderita malaria dapat tertangani dengan baik sesuai dengan
aturan penanganan malaria
- Setiap kejadian malaria dipantau sesuai dengan standar yang telah
diatur
OUTCOME
- Menurunnya angka kesakitan malaria
- Menurunnya Case Fatality Rate pada kejadian malaria
PROGAM KB
Pengertian KB
Menurut undang-undang no. 10 tahun 1982 Keluarga Berencana adalah
uapaya peningkatan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil
yang bahagia sejahtera.
Tujuan Program KB
a. Tujuan umumnya dalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan
sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak,
agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi
kebutuhan hidupnya.
b. Tujuan lain meliputi pengaturan kelahiran , pendewasaan usia perkawinan,
peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.
c. Jadi tujuan program KB adalah: memperbaiki kesehatan kesejahteraan ibu,
anak, keluarga, dan bangsa; mengurangi angka kelahiran untuk
meningkatkan taraf hidup rakyat dan bangsa; memenuhi permintaan
masyarakat akan pelayanan KB dan KR yang berkualitas, termasuk upaya-
upaya menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan anak serta
penanggulangan masalah kesehatan reproduksi
Input
1. Penyediaan pelayanan KB dan Alat kontrasepsi bagi keluarga miskin
2. Fasilitas pelayanan KB-KR dan pengembangan jaringan kerja
3. Pembinaan dan pengendalian program KB
4. Pembinaan hak kesehatan reproduksi remaja
5. Fasilitasi pembentukan kelompok masyarakat peduli KB
Output
1. Pengadaan almari tempat alat kontrasepsi
2. Sosialisasi pelayanan KB bagi keluarga miskin
3. Pembekalan tentang program KB bagi bidan
4. Pembinaan bagi calon pengatin atau PUS muda tingkat kecamatan
5. Bimbingan lengkap petugas KB
6. Pengendalian anggaran dan program KB
7. Koordinasi dan konsolidasi program KB dengan kader
Outcome
1. Terpenuhinya sebagian kebutuhan sarana pelayanan KB bagi masyarakat
2. Diketahuinya hak yang dimiliki dan prosedur dalam mengikuti program
KB
3. Meningkatnya kualitas pelayanan KB-KR dan meningkatnya jumlah
peserta KB baru
4. Meningkatnya pemahaman remaja tentang kesehatan reproduksi dan
mampu menghindari diri dari pergaulan seks bebas dan bahaya HIV/AIDS
5. Meningkatnya kualitas dan profesionalisme kader dalam memegang
keberhasilan program KB
PROGRAM KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA)
Pengertian
Kesehatan Ibu dan Anak adalah suatu program yang meliputi pelayanan
dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu dengan komplikasi
kebidanan, keluarga berencana, bayi baru lahir, bayi baru lahir dengan
komplikasi, bayi dan Balita, remaja, dan Lansia.
OUTPUT / Target Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Target program adalah meningkatnya ketersediaan dan keterjangkauan
pelayanan kesehatan yang bermutu bagi seluruh masyarakat pada tahun 2014
dalam program gizi serta kesehatan ibu dan anak yaitu :
Ibu hamil mendapat pelayanan Ante Natal Care (K1) sebesar 100%.
Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih sebesar 90%.
Cakupan peserta KB aktif sebesar 65%.
Pelayanan kesehatan bayi sehingga kunjungan neonatal pertama (KN1)
sebesar 90% dan KN Lengkap (KN1, KN2, dan KN3) sebesar 88%.
Pelayanan kesehatan anak Balita sebesar 85%.
Balita ditimbang berat badannya (jumlah balita ditimbang/balita
seluruhnya (D/S) sebesar 85%).
ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan sebesar 80%.
Rumah Tangga yang mengonsumsi Garam Beryodium sebesar 90%.
Ibu hamil mendapat 90 Tablet Tambah Darah sebesar 85% dan Balita usia
6-59 bulan mendapatkan Kapsul Vitamin A sebanyak 85%.
Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap kepada bayi 0-11 bulan sebesar 90 %.
Penguatan Imunisasi Rutin melalui Gerakan Akselerasi Imunisasi
Nasional (GAIN) UCI, sehingga desa dan kelurahan dapat mencapai
Universal Child Immunization (UCI) sebanyak 100%.
Pelaksanaan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat dalam
mendukung terwujudnya Desa dan Kelurahan Siaga aktif sebesar 80%
INPUT / Strategi Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Strategi Promosi Peningkatan KIA serta percepatan penurunan AKI dan
AKB adalah melalui Advokasi, Bina Suasana dan Pemberdayaan Masyarakat
yang didukung oleh Kemitraan.
a. Advokasi
Advokasi merupakan upaya strategis dan terencana untuk mendapatkan
komitmen dan dukungan dari para pengambil keputusan dan pihak terkait
(stakeholders) dalam pelayanan KIA.
b. Bina Suasana
Bina Suasana merupakan upaya menciptakan opini publik atau lingkungan
sosial, baik fisik maupun non fisik, yang mendorong individu, keluarga dan
kelompok untuk mau melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) terkait
dengan upaya peningkatan KIA serta mempercepat penurunan AKI dan AKB.
Bina suasana salah satunya dapat dilakukan melalui sosialisasi kepada kelompok-
kelompok potensial, seperti organisasi kemasyarakatan, kelompok opini dan
media massa. Bina suasana perlu dilakukan untuk mendukung pencapaian target
program KIA.
c. Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya menumbuhkan kesadaran,
kemauan, kemampuan masyarakat dalam mencegah dan mengatasi masalah KIA.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan mampu berperilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS) dan berperan serta dalam pemberdayaan masyarakat di bidang KIA.
d. Kemitraan
Kemitraan dalam penanganan masalah KIA adalah kerjasama formal
antara individu-individu, kelompok-kelompok peduli KIA atau organisasi-
organisasi kemasyarakatan, media massa dan swasta/dunia usaha untuk berperan
aktif dalam upaya peningkatan KIA di masyarakat.
OUTCOME
Menurunnya AKI (Angka Kematian Ibu) dan AKB (Angka Kematian
Bayi).
PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN DIABETES
MELITUS (DM) DAN PENYAKIT METABOLIK (PM)
Diabetes Melitus (DM) adalah suatu penyakit gangguan metabolik
menahun yang ditandai oleh kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal.
Klasifikasi Diabetes Melitus berdasarkan klasifikasi etiologi DM yaitu: Diabetes
Melitus tipe 1, Diabetes Melitus tipe 2, Diabetes Melitus tipe lain, dan Diabetes
Melitus tipe Gestasional.
Penyakit Metabolik (PM) adalah suatu penyakit yang mempengaruhi
metabolisme tubuh sehingga menimbulkan gangguan, terdiri dari obesitas,
penyakit akibat gangguan kelenjar hipofisis, penyakit kelenjar thypoid, gangguan
metabolisme kalsium, gangguan sekresi korteks adrenal. Termasuk dalam
kelompok metabolik adalah: obesitas, obesitas sentral, dan dislipidemia.
Outcome
Outcome dari program pencegahan dan penanggulangan DM dan PM
adalah menurunkan mordibitas dan mortallitas akibat DM dan PM.
Pencegahan dan Pengendalian Faktor Risiko DM dan PM
Input
Pedoman umum pengendalian DM dan PM
Pedoman teknis metode pencegahan dan penanggulangan faktor risiko DM
dan PM
Modul TOT pencegahan dan penanggulangan faktor risiko DM dan PM
Proses
Sosialisasi pedoman umum pengendalian DM dan PM
Sosialisasi pedoman teknis metode pencegahan dan penanggulangan
faktor risiko DM dan PM
TOT pencegahan dan penanggulangan faktor risiko DM dan PM
Output
Proporsi faktor risiko DM dan PM di Puskesmas
Jumlah Provinsi, Kabupaten/Kota yang telah tersosialisasi
Jumlah Provinsi, Kabupaten/Kota dan Puskesmas yang telah
melaksanakan pengendalian faktor risiko DM dan PM
Jumlah kebijakan Provinsi, Kabupaten/Kota yang mendukung
pengendalian faktor risiko DM dan PM
Jumlah program dan sektor lain yang berpartisipasi aktif dalam jejaring
kerja pengendalian faktor risiko DM dan PM
Penemuan dan Tatalaksana
Input
Pedoman teknis penemuan dan tatalaksana penderita DM dan PM
Modul TOT penemuan dan tatalaksana penderita DM dan PM
Pengadaan dan pendistribusian bahan/alat deteksi dini/diagnosis penderita
DM dan PM
Proses
Sosialisasi pedoman teknis penemuan dan tatalaksana penderita DM dan
PM
TOT penemuan dan tatalaksana penderita DM dan PM
Lelang terbuka/tender
Output
Proporsi kasus DM dan PM di Puskesmas
Prevalensi DM dan PM
Jumlah Provinsi, Kabupaten/Kota yang telah tersosialisasi
Jumlah Provinsi, Kabupaten/Kota yang telah melaksanakan kegiatan
penemuan dan tatalaksana kasus DM dan PM
Jumlah kebjiakan Provinsi, Kabupaten/Kota yang mendukung kegiatan
penemuan dan tatalaksana kasus DM dan PM
Jumlah program dan sektor lain yang berpartisipasi aktif dalam jejaring
kerja penemuan dan tatalaksana kasus DM dan PM
Diterbitkannya kebijakan tentang jumlah hari pemberian obat (minimal 10
hari pemakaian) hipoglikemik oral (OHO) di Unit Yankes
Surveilans Epidemiologi DM dan PM
Input
Modul TOT KIE
Pengadaan dan pendistribusian bahan penyuluhan atau KIE melalui media
cetak berupa poster, lembar balik, leaflet ke daerah
Proses
Pelatihan KIE bagi tenaga kesehatan dan kader
Kegiatan advokasi
Diterbitkannya kebijakan jaminan kesehatan yang berhubungan dengan
jenis dan jumlah obat maupun kualitas jenis pelayanan yang dapat dicakup
oleh PT. Askes
Output
Tersedianya data faktor risiko DM dan PM
Tersedianya data kasus DM dan PM
Jumlah Provinsi, Kabupaten/Kota yang telah tersosialisasi SE
Jumlah Provinsi, Kabupaten/Kota yang telah melaksanakan SE DM dan
PM
Peningkatan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE), Jejaring Kerja baik
Lintas Program dan Lintas Sektor, dan Advokasi DM dan PM
Output
Jumlah kebijakan yang mendukung kegiatan pengendalian DM dan PM
Terbentuknya jejaring kerja pokja DM dan PM
Tercapainya kesepakatan kelompok kerja (pokja) pengendalian DM dan
PM di Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota
Forum/kelompok kerja (pokja) di Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota
Dihasilkannya kebijakan publik untuk mendukung pengendalian DM dan
PM
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular; Direktorat Jenderal
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 2008. Pedoman
Pengendalian Diabetes Melitus dan Penyakit Metabolik. Departemen
Kesehatan RI.
[Link]
[Link] (diakses tanggal 18 Maret 2016)
Gubernur Jawa Tengah. 2014. Peraturan Gubernur Provinsi Jawa Tengah Nomor
36 Tahun 2014 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor
11 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit di
Provinsi Jawa Tengah. Sekretaris Daerah Jawa Tengah
[Link]
(diakses tanggal 18 Maret 2016)
[Link] (diakses
tanggal 18 Maret 2016)
[Link]
(diakses tanggal 18 Maret 2016)
Kementerian Kesehatan RI. 2010. Rencana Operasional Promosi Kesehatan Ibu
dan Anak. [Link] (diakses tanggal 18 Maret 2016)
Lihad, Ferdinand dkk. 2011. Epidemiologi Malaria di Indonesia. Jakarta:
Kementrian Kesehatan RI
Manuaba, I.B.G, dkk. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC
Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat: Ilmu dan Seni. Jakarta:
Rineka Cipta