0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
325 tayangan39 halaman

Model Keperawatan Dorothea Orem

Bab II memberikan tinjauan teoritis mengenai konsep model Dorothea E. Orem yang mencakup definisi self care, unsur-unsurnya seperti self care agency dan self care deficit, serta proses keperawatan berdasarkan model tersebut. Model ini bertujuan untuk memandu perawat dalam membantu pasien memenuhi kebutuhan perawatan dirinya sendiri.

Diunggah oleh

Efrin Syafrina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
325 tayangan39 halaman

Model Keperawatan Dorothea Orem

Bab II memberikan tinjauan teoritis mengenai konsep model Dorothea E. Orem yang mencakup definisi self care, unsur-unsurnya seperti self care agency dan self care deficit, serta proses keperawatan berdasarkan model tersebut. Model ini bertujuan untuk memandu perawat dalam membantu pasien memenuhi kebutuhan perawatan dirinya sendiri.

Diunggah oleh

Efrin Syafrina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keperawatan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang

mempunyai peran penting dalam membantu klien mencapai derajat kesehatan

dengan mempertahankan status kesehatan individu, keluarga, kelompok dan

komunitas untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Bentuk kemandirian

profesionalisme keperawatan salah satunya ditunjukkan dalam pemberian asuhan

keperawatan.

Asuhan keperawatan merupakan pendekatan ilmiah dan rasional dalam

menyelesaikan masalah keperawatan yang ada, dengan pendekatan yang

dilakukan tersebut bentuk penyelesaian masalah keperawatan dapat terarah dan

terencana dengan baik, hal ini karena dalam asuhan keperawatan terdapat

beberapa tahap metodologi ilmiah yaitu pengkajian, perumusan diagnosa,

perencanaan, implimentasi dan evaluasi keperawatan.

Asuhan keperawatan sebagai pelayanan profesional akan berkembang bila

didukung oleh teori dan model keperawatan serta pengembangan riset

keperawatan, aplikasi hasil-hasil riset keperawatan di dalam praktek

keperawatan. Sebenarnya model konseptual keperawatan sudah berkembang

banyak, namun banyak pula kalangan perawat yang belum mengenalnya karena

keterbatasan informasi, waktu, kesempatan, bahasa dan teknologi. Salah satu

konsep model keperawatan yang menunjang pengembangan keperawatan baik

1
2

dalam pengembangan ilmu maupun dalam praktek adalah model self care yang

dikembangkan oleh Dorothea E. Orem.

Teori self care Orem ini dapat digunakan dalam memberikan asuhan keperawatan

dan membantu hubungan antara perawat-klien dengan lingkungannya yang

berdampak pada status kesehatan serta kebutuhan akan keperawatan.

Sejalan dengan teori self care yang bentuk stimulusnya berasal dari

ketidakmampuan individu dalam melakukan perawatan diri, maka aplikasi teori

self care tersebut adalah bagaimana melakukan tahap-tahap asuhan keperawatan

yang didasarkan pada bentuk kerangka pikir model koseptual Orem dalam

memberikan bantuan ketidakmampuan kepada individu atau keluarga dalam

memenuhi kebutuhan dasarnya dengan tujuan utamanya adalah bagaimana

memandirikan individu atau keluarga dalam melakukan aktivitas hidup sehari-

hari untuk memenuhi kebutuhan dasar sesuai tingkat ketidakmampuan klien.

Inilah yang menjadi alasan penulis membahas konseptual model Dorothea

[Link].

B. Tujuan Penulisan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk:

1. Meningkatkan pemahaman tentang konseptual model Orem dalam penerapan

asuhan keperawatan yang komprehensif dengan berbasis self care.

2. Memenuhi tugas individu Mata Kuliah Sains Keperawatan sebagai salah satu

aspek yang dievaluasi.


3

C. Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan untuk menyusun makalah ini adalah dengan

studi pustaka dari beberapa buku sumber yang berkaitan dengan teori/konsep

model Orem, sedangkan pada pembahasan penulis mencoba mengaplikasikann

teori tersebut dalam kasus yang sering dijumpai di lahan sehingga akan

membantu pemahaman penulis sendiri khususnya dan pembaca umumnya.

D. Sistematika Penulisan

Makalah ini terbagi dalam empat bab, terdiri dari: Bab I pendahuluan, berisi

latar belakang, tujuan penulisan, metode dan sistematika penulisan. Bab II

tinjauan teoritis, berisi tinjauan konseptual model Dorothea [Link], yang

meliputi dasar konseptual, paradigma keperawatan dan proses keperawatan. Bab

III pembahasan, berisi pembahasan kasus yang sering ditemui di lahan, berkaitan

dengan teori self care Orem. Bab IV penutup, berisi kesimpulan saran.
4

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konseptual Model Dorothea E. Orem

Menurut Orem (2001) self care merupakan kemampuan individu untuk

memprakarsai dirinya dalam melakukan perawatan diri sendiri dalam rangka

mempertahankan kehidupan, kesehatan dan kesejahteraan.

1. Definisi Konseptual Model Self Care Dorothea E. Orem

Teori Orem dikenal dengan teori self care deficit. Teori ini disusun

berdasarkan tiga teori yang berhubungan yaitu: self care, self care deficit dan

nursing system. Asumsi dasar dari ketiga hal tersebut menurut Orem, adalah

sebagai berikut:

a. Perawatan Sendiri (Self Care)

Menggambarkan atau menjelaskan tentang perawatan diri sendiri dalam

suatu kontribusi berkelanjutan pada orang dewasa bagi eksistensi,

kesehatan dan kesejahteraannya. Dapat pula diartikan sebagai latihan

aktifitas yang individunya dalam memulai dan menampilkan kepentingan

mereka dalam mempertahankan hidup, kesehatan dan kesejahteraan.

Didalam mencapai perawatan mandiri ada beberapa syarat-syarat yang

harus dipenuhi. Syarat-syarat perawatan itu sendiri diartikan sebagai

tujuan yang harus dicapai melalui macam-macam usaha perawatan.

Syarat-syarat ini dikelompokkan menjadi :

1) Syarat umum perawatan sendiri (Universal self care

requisites)
5

Merupakan hal umum bagi seluruh manusia meliputi pemenuhan

kebutuhan udara, air, makanan, kebersihan, aktifitas dan istirahat,

menyendiri dan interaksi sosial, pencegahan dari bahaya, dan


4
pengenalan fungsi mahluk hidup. Delapan syarat-syarat ini akan

mempengaruhi macam-macam perbuatan manusia yang akan

membawa pada kondisi internal dan eksternal yang dapat

mempertahankan fungsi dan struktur manusia, yang pada akhirnya

akan mendukung pertumbuhan manusia dan kedewasaannya. Jika hal

ini tersedia secara efektif, perawatan diri atau perawatan bergantung

yang terorganisir seputar syarat-syarat universal perawatan mandiri

membantu perkembangan positif bagi kesehatan dan kesejahteraan.

2) Syarat perkembangan perawatan sendiri

(Developmental self care requisites)

Adalah bagaimana mempelajari proses-proses kehidupan,

pendewasaan, dan pencegahan terhadap kondisi-kondisi yang merusak

kedewasaan atau dapat mengurangi efek-efek tersebut. Ada dua tipe

dari syarat-syarat perkembangan perawatan diri yaitu tipe satu untuk

siklus kehidupan normal dan tipe dua untuk kondisi-kondisi khusus.

Masing-masing tahap perkembangan manusia mulai dari fetal

termasuk kelahiran, neonatal, infant, anak-anak dan remaja, dewasa,

kehamilan pada remaja maupun dewasa memiliki karakteristik

kebutuhan perawatan diri yang berbeda-beda. Kemampuan perawatan

diri yang mandiri atau ketergantungan sesuai tahapannya sangat

mempengaruhi proses perkembangan yang pada akhirnya akan

mempengaruhi kondisi kesehatan dan kesejahteraan.


6

3) Syarat deviasi kesehatan perawatan sendiri (Health

deviation self care requisites)

Adalah bagaimana memenuhi kebutuhan manusia dengan

menghubungkan faktor genetic dan gangguan yang menetap,

gangguan struktur dan fungsi manusia atau ketidakmampuan, atau

efek dari pengobatan dan tindakan. Penyakit atau luka tidak hanya

berpengaruh pada mekanisme-mekanisme struktur spesifik secara

fisiologis atau psikologis tetapi juga bersatu dengan fungsi

kemanusiaan. Bukti deviasi-deviasi kesehatan membawa tuntutan apa

yang harus dilakukan untuk memulihkan ke keadaan normal. Jika

orang-orang dengan deviasi-deviasi kesehatan menjadi kompeten

dalam mengatur sistem perawatan mandiri maka mereka harus dapat

menerapkan pengetahuan medis yang relevan bagi perawatan mereka

sendiri.

Terkait dengan upaya untuk mencapai kemandirian memenuhi syarat-

syarat deviasi kesehatan perawatan diri maka muncul totalitas upaya-

upaya perawatan sendiri yang ditampilkan untuk beberapa waktu agar

menemukan cara dan metode-metode yang valid dan berhubungan

dengan perangkat operasi atau penanganan atau dikenal dengan istilah

terapi kebutuhan perawatan sendiri (therapeutic self care demand).

Adanya agen perawatan sendiri (Self Care Agency) yaitu kekuatan

individu yang berhubungan dengan perkiraan dan esensial operasi-

operasi produksi untuk perawatan mandiri. Ada tambahan tiga istilah

yang berhubungan dengan Self care agency,yaitu agent, self


7

care agent, dependent care agent. Agent adalah orang yang

mengambil tindakan. Self care agent adalah penyedia perawatan

mandiri. Dependent care agent adalah penyelenggara perawatan.

b. Ketidakmampuan Perawatan Mandiri (Self Care Deficit)

Adalah hubungan antara self care agency dengan self care therapeutic

demand yang didalamnya self care agency tidak cukup mampu

menggunakan self care therapeutic demand. Hal ini menentukan kapan

dan kenapa ilmu keperawatan dibutuhkan. Terkait hal tersebut maka

dikenal agen keperawatan (Nursing agency) yaitu karakteristik orang

yang mampu memenuhi status perawatan dalam kelompok-kelompok

sosial. Tersedianya perawatan bagi individu laki-laki, wanita dan anak

atau kumpulan manusia seperti keluarga-keluarga, memerlukan perawat

karena memiliki kemampuan khusus yang memungkinkan mereka

memberikan perawatan yang akan menggantikan kerugian atau bantuan

dalam mengatasi penurunan kesehatan atau hubungan perawatan mandiri-

kesehatan atau perawatan dependent deficit bagi orang lain.

c. Sistem-sistem Keperawatan (Nursing Systems)

Sistem-sistem keperawatan dibentuk ketika para perawat menggunakan

kemampuan-kemampuan mereka untuk menulis (menetapkan),

merancang, dan memberikan perawatan kepada pasien (sebagai individu

atau kelompok) Aksi-aksi ini atau sistem-sistem keperawatan ini

mengatur nilai kemampuan atau latihan kemampuan individu


8

dihubungkan dengan self care dan mempertemukan syarat-syarat

perawatan sendiri bagi individu dengan cara terapi yang tepat.

Terdapat tiga teori yang saling berkaitan yaitu teori self care, self care

deficit dan nursing system (gambar 2.1). Dari gambar tersebut dapat

dijelaskan bahwa self care deficit adalah ketidakmampuan individu

memenuhi kebutuhan dirinya disebabkan keterbatasan yang ada pada

individu untuk memenuhi kebutuhan self care-nya (karena sakit,

kelelahan atau karena penyebab lain). Self care deficit terjadi bila agen

self care tidak dapat memenuhi kebutuhan self care individu dan

memberikan self care secara therapeutik melalui tiga jenis bantuan.

Gambar 2.1. Struktur konseptual dari teori self care deficit


(sumber:Nursing Theorists and Their Work [Link]:Mosby, h. 183.)

Didalam sistem-sistem keperawatan yang disampaikan oleh Orem,

mempunyai tiga tipe sistem keperawatan, yaitu: Sistem keperawatan

penyeimbang menyeluruh, sebagaian, atau mendukung/mendidik, semua


9

tergantung pada siapa yang dapat atau harus menjalankan aksi-aksi self

care tersebut.

1) Sistem penyeimbang keperawatan menyeluruh

(Wholly atau Totally compensatory nursing system): Sistem

penyeimbang keperawatan menyeluruh dibutuhkan ketika perawat

harus menjadi peringan bagi ketidakmampuan total seorang pasien

dalam hubungan kegiatan merawat yang membutuhkan tindakan-

tindakan penyembuhan dan manipulasi. Perawat mengambil alih

pemenuhan kebutuhan self care-nya secara menyeluruh kepada pasien

yang tidak mampu melakukannya, misal: pada pasien koma atau

pasien bayi.

2) Sistem Penyeimbang Sebagian (Partially atau

Partly compensatory nursing system): Perawat mengambil alih

beberapa aktifitas yang tidak dapat dilakukan oleh pasien dalam

memenuhi kebutuhan self care-nya, dijalankan pada saat perawat dan

pasien menjalankan ukuran-ukuran perawatan atau tindakan-tindakan

lain yang melibatkan tugas-tugas manipulatif atau penyembuhan,

misal: pasien dengan usia lanjut, pasien stroke dengan kelumpuhan

separuh badan.

3) Sistem Mendukung/Mendidik (Supportif atau

Educatif nursing system): Perawat memberikan pendidikan kesehatan

atau penjelasan untuk memotivasi melakukan self care, tetapi yang

melakukan self care adalah pasien sendiri, misal: mengajarkan pasien

merawat lukannya, mengajarkan bagaimana menyuntik

[Link] pada situasi dimana pasien dapat menampilkan


10

atau dapat dan harus belajar untuk menjalankan ukuran-ukuran yang

dibutuhkan secara eksternal atau internal yang ditujukan oleh

therapeutic self care, namun tidak dapat melakukan hal-hal tersebut

tanpa bantuan. Metode-metode bantuan termasuk didalamnya:

tindakan atau melakukan apa, panduan, pelajaran, dukungan dan

memberikan lingkungan yang membangun (gambar 2.2).

Gambar 2.2. Dasar Sistem keperawatan menurut Orem


(Sumber: Nursing Concepts of Practice,[Link]: Mosby,h.351)

2. Paradigma Keperawatan Ditinjau dari Konseptual Model


11

Dorothea [Link]

a. Manusia

Orem mengemukakan pandangannya tentang manusia dalam kaitannya

dengan teori self care, sebagai berikut:

1. Individu sebagai kesatuan unit yang menjalankan

fungsi biologis, simbolik dan sosial dengan melakukan aktifitas self

care untuk mempertahankan kehidupan, kesehatan, dan kesejahteraan.

2. Setiap individu memerlukan self care dan

mempunyai hak untuk memenuhi kebutuhannya sendiri selama masih

mungkin dan pada dasarnya kebutuhan self care merupakan tanggung

jawab individu untuk memenuhinya.

3. Pada keadaan normal dan maturitas yang cukup individu bertindak

sebagai agen self care untuk dirinya. Pada bayi, orang tua bertindak

sebagai agen self care dan pada individu yang sakit atau cacat, maka

keluarga dan perawat menjadi agen self care bagi mereka.

4. Individu mempunyai kemampuan untuk berkembang dan belajar

dalam memenuhi kebutuhan self [Link] ini dipengaruhi oleh

usia (kematangan) kapasitas mental, sosial, budaya masyarakat dan

status emosi individu.

5. Manusia berbeda dari makhluk lainnya dalam

kapasitasnya untuk merefleksikan dirinya dan lingkungannya, mampu

mensimbolisasi apa yang mereka alami, menggunakan kreasi simbol

(ide, kata kata) dalam berfikir dan berkomunikasi, membimbing

untuk melakukan sesuatu dan membuatnya berguna untuk dirinya atau

orang lain.
12

b. Lingkungan

Pandangan Orem berkaitan dengan lingkungan, yaitu: Lingkungan

merupakan segala sesuatu yang berada di sekitar pasien yang

menpengaruhi dan berinteraksi dengan individu. Lingkungan menurut

Orem terdiri dari lingkungan fisik, kimia, biologi dan sosial yang dapat

mempengaruhi individu memenuhi kebutuhan self care-nya secara

optimal.

Disamping lingkungan fisik, kimia, biologi dan sosial Orem mengemukan

juga bahwa terdapat lingkungan positif dan lingkungan negatif.

Lingkungan posistif menurutnya, adalah lingkungan yang dapat

menunjang individu memenuhi kebutuhan self care-nya dan lingkungan

negatif adalah lingkungan yang menghambat pemenuhan kebutuhan self

care-nya.

c. Sehat atau Kesehatan

Orem mengemukakan pandangan bahwa sehat merupakan suatu keadaan

yang ditandai dengan perkembangan struktur tubuh dan fungsi mental

secara terintegrasi dan menyeluruh termasuk aspek fisik, psikologis,

interpersonal dan sosial. Status kesehatan ditunjukan melalui kemampuan

individu mencegah terjadinya sakit dan mempertahankan serta

meningkatkan status kesehatan, mengobati penyakit dan mencegah

komplikasi.
13

Orem juga memandang bahwa sehat merupakan tanggung jawab individu

untuk mencapainnya, bila individu dapat memenuhi kebutuhan self care-

nya secara baik dan optimal maka individu tersebut dapat dikatakan sehat.

Sehat merupakan hasil dari pengalaman individu menghadapi dan

mengatasi stimulus yang timbul seperti tuntutan kebutuhan, dorongan dan

keinginan.

Dikatakan bahwa kesejahteraan merupakan simbul kesehatan yang

ditandai dengan keberhasilan individu mengembangkan diri dan

memanfaatkan sumber daya yang ada yang dimanifestasikan melalui

kemampuan menunjukkan eksistensinya serta dipengaruhi oleh

persepsinya.

d. Keperawatan

Keperawatan menurut orem adalah kelompok sosial yang memberikan

pelayanan kepada orang yang membutuhkan, seperti orang sakit,

kelemahan, lansia atau kecacatan. Keperawatan merupakan jenis

pelayanan spesifik yang didasari oleh dua nilai yaitu sosial (kerelaan

menolong sesama manusia). Dan keharusan memberikan pelayanan

kepada masyarakat sesuai kebutuhan.

Keperawatan merupakan rangkaian aktifitas yang bersifat therapeutik

didasari oleh teori keperawatan. Sistem keperawatan diartikan sebagai

produk atau hasil dari aktifitas perawat sebagai agent self care pasien

serta memenuhi kebutuhan self care secara therapeutik. Didalam sistem


14

keperawatan, perawat memberi gambaran, merancang dan memfasilitasi

kebutuhan self care pasien dan mencari cara bentuk terapeutik perawat

sehingga dapat mengeliminir self care deficit dari pasien. Telah

disampaikan diatas terdapat tiga kategori sistem keperawatan yang

mendasari perawat untuk memberikan bantuan, yaitu: total, partial dan

supportif. Sedangkan tujuan keperawatan menurut orem, adalah sebagai

berikut:

1) Mempertahankan kebutuhan self care sesuai kemampuan klien dan

meminimalkan dari self care deficit.

2) Meningkatkan kemampuan pasien dalam pemenuhan kebutuhan self

care.

3) Membantu orang lain untuk memberikan bantuan self care jika pasien

tidak mampu.
15

Gambar 2.3. Hubungan antara perawat-klien dan lingkungan


(Sumber: Professional Nursing Practice;Concepts and Perspective. (3th
Ed). Philadhelpia: Addison Esley, h.128)

Dari gambar 2.3 dapat disimpulkan bahwa perawat sebagai self care

agent (nursing agency) mempunyai tugas memberikan tindakan

keperawatan yang meliputi: tindakan langsung, memberikan pendidikan

kesehatan, membimbing pasien dan keluarga, memotivasi pasien dan

keluarga dan memfasilitasi lingkungan yang dapat menunjang pemenuhan

self care.

B. Konseptual Model Dorothea E. Orem dan Asuhan Keperawatan


16

Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktek

keperawatan yang langsung diberikan kepada pasien. Pada pelaksanaan asuhan

keperawatan terdapat pendekatan dan metode utama yang digunakan yaitu

metode memecahkan masalah secara ilmiah yang selanjutnya dikenal sebagai

proses keperawatan (nursing process) (Craven dan Hirnle 2002). Adapun tahap-

tahap proses keperawatan terdiri dari pengkajian, perumusan masalah,

perencanaan, intervensi dan evaluasi.

Proses keperawatan yang dijelaskan oleh Orem mempunyai tiga tahap proses

keperawatan yang dikenal sebagai kegiatan proses teknologi dari praktek

keperawatan. Tahapan tersebut meliputi: diagnosa keperawatan dan persepsi,

mendisain sistem keperawatan dan perencanaan, serta memproduksi dan

mengatur sistem keperawatan.

Adapun masing-masing tahap dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tahap 1: Diagnosa keperawatan dan persepsi

Pada tahap ini memperjelas mengapa keperawatan dibutuhkan. Analisa dan

interpretasi dalam membuat keputusan mengenai perawatan merupakan

bentuk kegiatan manajemen kasus. Didalam diagnosa keperawatan

memerlukan telaah dan pengumpulan fakta tentang pasien termasuk self care

agent dan therapeutic self-care demand dan hubungan keduannya sehingga

dapat ditetapkan self care deficit (Orem, 2001, hlm.309). Orem menegaskan

bahwa dalam diagnosa keperawatan merupakan dasar tujuan untuk


17

memberikan arahan dalam melakukan tindakan keperawatan dalam

pengobatan, kemampuan pasien dan minat keluarga serta bentuk dalam

kolaborasi mempengaruhi tindakan keperawatan yang dilakukan perawat.

Pada tahap ini perawat melakukan pengkajian dan pengumpulan data

berdasarkan enam area yang ditentukan oleh Orem yaitu: Status kesehatan

perorangan, persepsi dokter terhadap kesehatan seseorang, persepsi

pasien/individu berkaitan kesehata dirinya sendiri, tujuan kesehatan berkaitan

dengan konteks riwayat kesehatan, gaya hidup dan status kesehatan,

kebutuhan pasien/individu terhadap self-care dan integritas/kapasitas

pasien/individu melakukan self care. Dari data-data dikumpulkan dan

dikelompokkan kedalam area masing-masing, yaitu: Universal self care

requisites, developmental requisites dan healt deviation self care requisites

serta hubungan timbal baliknya. Selain data-data tersebut penting juga

dikumpulkan hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan, ketrampilan,

motivasi dan orientasi pasien.

Pada tahap pertama ini, asuhan keperawatan pada teori orem dapat

disimpulkan bahwa perawat harus mengajukan beberapa pertanyaan dan

menjawab hal-hal yang berkaitan dengan: Apakah kebutuhan perawatan

therapeutic pasien, sekarang, dan masa yang akan datang, apakah pasien

mempunyai self care demand dan untuk memenuhi therapeutic self-care

demand-nya, apakah sifat dan alasan hal tersebut, apakah pasien perlu

dibantu untuk menahan diri menggunakan self care, apakah untuk melindungi
18

perkembagan kemampuan self care dari tujuan terapetik, dan apakah potensi

pasien untuk menggunakan self care pada periode yang akan datang.

2. Tahap 2 : Mendisain sistem keperawatan dan perencanaan

Tahap ini merupakan tahap dalam memberikan perawatan pada pasien dan

membuat nursing system yang efisien-efektif dan menentukan cara-cara yang

benar dalam membantu self care pasien. Tahap ini termasuk mendisain

bagaimana peran pasien dan peran perawat dalam melakukan self care yang

dilakukan dalam memenuhi therapeutic self care demand, dan mengatur

latihan self care agency, melindungi dan membantu self care agency.

Sedangkan perencanaan merupakan kegiatan mengarahkan dan cara untuk

mengimplementasikan sistem keperawatan dan berhubungan dengan usaha

untuk mendapatkan aktifitas tertentu saat perawat dengan klien beriteraksi.

3. Tahap 3: Memproduksi dan manajemen sistem keperawatan

Didalam tahap ketiga ini, perawat bekerja untuk menghasilkan dan mengatur

sistem keperawatan. Perawat selama berinteraksi dengan pasien, dapat

melakukan perencanaan dan control dan tahap ini mengatur sistem

keperawatan serta menghasilkan kegiatan yang terencana untuk memenuhi

therapeutic self care demand dan mengatur latihan dan pengembangan

kemampuan akan self care.

Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi: membatu, menuntun, mengarahkan,

menstimulus minat, mendukung, meregulasi, mengkoordinasi dan memonitor

tugas self-care sehingga sistem perawatan dapat berjalan dengan optimal.


19

Tabel 2.1. Bentuk perbandingan antara langkah-langkah proses keperawatan


umum dan proses keperawatan self care deficit (Orem)

Proses Keperawatan Proses Keperawatan Orem


Tahap 1.
1. Pengkajian dan Diagnosa Diagnosa dan persepsi; menentukan
Keperawatan mengapa perawat dibutuhkan.
Menganalisa dan menginterpretasi
membuat keputusan yang berkaitan
dengan perawatan.
Tahap 2.
2. Perencanaan Mendisain sistem keperawatan dan
merencanakan untuk memberikan
perawatan
3. Implementasi Tahap 3.
4. Evaluasi Menghasilkan dan mengelola sistem
keperawatan
(Sumber: Nursing Theories; The Base For Professional Nursing practice,Connecticut:
Appleton dan Lange,h.109 dan Self-care Deficit Theory of Nursing; Concepts and
Applications, [Link]: Mosby h.106).

Tabel 2.2. Aplikasi Teori Orem dalam Proses Keperawatan


Faktor Personal Universal self Developmental Health Medical Self care
care self-care deviation problem and deficit
plan
Usia Udara, Kebutuha Kondi Ko Perbedaan
Jenis air, makanan n khusus untuk si penyakit ndisi antara
kelamin Ekskresi proses atau injury perspektif kebutuhan
Tinggi Aktifitas perkembangan Pengo dokter self-care dan
badan dan istirahat Kebutuha batan untuk Dia kemampuan
Berat Kesendiri n baru yang memperbaiki gnosa self-care
badan an dan interaksi berkaitan kondisi medik
Kebuda social dengan kondisi Pen
yaan Hal yang Kebutuha gobatan
Suku membahayakan n yang medik
bangsa hidup dan berkaitan
Status kesejahteraan dengan kejadian
perkawinan Peningka
Agama tan fungsi dan
pekerjaa perkembangan
20

n manusia

Tabel 2.3. Proses Keperawatan dalam Teori Orem

Diagnosa Perencanaan Implementasi Evaluasi


Keperawatan
Berdasarkan self Tujuan dan sasaran: Tindakan perawat- Keefektifan tindakan
care deficit 1. Sesuai dengan diagnosa pasien untuk: perawat-pasien:
keperawatan 1. Meningkatkan pasien 1. Meningkatkan
2. Berdasarkan self-care sebagai self-care pasien sebagai self-care
demand agent agent
3. meningkatkan pasien 2. Memenuhi kebutuhan 2. Memenuhi
sebagai self-care agent self-care kebutuhan self-care
Mendisain sistem 3. Menurunkan self-
keperawatan: care deficit
3. Menurunnya
1. Wholly compensatory selfcare deficit
2. Partly compensatory
3. Supportive-educative
Motede yang tepat untuk
menolong :
1. Membimbing
2. Mendukung
3. mengajarkan
4. Beraksi atau melakukan
sesuatu
5. Memberikan lingkungan
yang berkembang
(Sumber: Nursing theories; The base for professional nursing [Link]:
Appleton & Lange, h.112-113)
21

BAB III
PEMBAHASAN

A. Kasus

[Link] umur 65 tahun, suku jawa, agama Islam, pensiunan PNS, riwayat

pendidikan tamat SMA, suami sudah meninggal 1 tahun lalu, dan saat ini Ny. SA

tinggal dengan anak bungsunya. Ny. SA dirawat di ruang penyakit dalam RS.

Roemani Semarang. Ny. SA dirawat hari ketiga, dengan diagnosa medis stroke,

dengan kondisi saat masuk kesadaran menurun, GCS: 10, TD: 160/110 mmHg,

RR: 32 x/mt, N: 68 x/mt, nafas cepat dan terdengar suara ngorok. Kondisi saat

ini didapatkan data sebagai berikut: Kesadaran composmentis, GCS 13, TD:

160/100, N: 68 x/mnt, RR: 28x/mt, terdengar bunyi ronki basah dextra sinistra,

kelumpuhan anggota gerak bagian atas dan bawah kanan (hemiparese dextra),

bicara pelo, tetapi bila diajak bicara Ny. SA dapat mengerti dan dapat menjawab

pertanyaan dengan menganggukan kepala dan bicara pelo. Ny. SA tidak dapat

menelan sehingga terpasang NGT untuk memasukan makanannya, terpasang

oksigen kanul 3 lt/mnt, terpasang infus NaCl 20 tts/mnt, pada saat ini juga Ny.

SA sudah dianjurkan untuk melakukan aktivitas ringan yang dapat dilakukan dan

melakukan ROM aktif pada daerah yang tidak terjadi kelumpuhan dan dilakukan

ROM pasif pada daerah yang mengalami kelumpuhan. Kebutuhan sehari-hari,

seperti makan/minum, toileting/bab dan bak, mandi dan dalam melakukan

aktifitas masih selalu dibantu.

20
22

B. Analisis Teory Self Care Orem dalam Asuhan

Keperawatan

1. Manusia

Beberapa penekanan pandangan dari Orem berkaitan dengan manusia, yaitu:

manusia sebagai kesatuan unit fungsi biologis, memerlukan self care secara

mandiri, keadaan normal self care terpenuhi dan kondisi sakit self care

individu akan membutuhkan bantuan, manusia mempunyai kemampuan

untuk berkembang dan belajar, juga dipengaruhi oleh kondisi mental, sosial,

budaya dan emosi. Secara biologis manusia merupakan satu kesatuan unit dan

merupakan satu sistem yang melakukan fungsi biologisnya guna terpenuhi

kebutuhan self carenya.

Setiap manusia dalam kondisi normal/sehat dapat melakukan pemenuhan

kebutuhan sehari-harinya, tetapi pada kondisi sakit manusia mengalami

gangguan dalam kebutuhan sehari-harinnya atau ketidakmampuan melakukan

kebutuhan sehari-harinya. Didalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya

manusia/individu akan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari, karena

kebutuhan-kebutuhan yang disampaikan oleh teori Orem menyangkut

kebutuhan dasar dan kebutuhan yang bersifat komplek. Pada konseptual

model Orem penekanannya lebih pada kemampuan atau kemandirian

individu dalam memenuhi kebutuhan perawatan sehari-harinya.

Pada dimensi kebutuhan psikis/ mental individu dapat dilihat pada proses

kemampuan manusia untuk berkembang dan belajar. Pemenuhan kebutuhan

mental individu dilihat apakah manusia/individu sudah mempunyai

kemampuan untuk berkembang dan belajar disini ditekankan kearah


23

maturasitas atau kematangan individu dalam melakukan aktivitas baik dari

usia bayi sampai usia lanjut.

2. Lingkungan

Lingkungan menurut Orem berkaitan dengan bagaimana suatu lingkungan

mempengaruhi individu dalam memenuhi kebutuhan self care-nya, dikatakan

lingkungan pendukung (positif) dan lingkungan menghambat (negatif). Ini

mengambarkan bahwa penekanan pada lingkungan yang bersifat eksternal

dan internal tubuh, baik yang sifatnya fisik, kimia, biologi dan sosial dan

lingkungan internal merupakan bentuk gangguan yang berada dalam tubuh,

seperti kondisi sakit akibat stroke, kelemahan dan sebagainya. Sebagai contoh

untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi pada pasien bernafas cepat, belum

tentu orang tersebut sakit, ada proses kompensasi tubuh untuk memenuhi

kebutuhan oksigennya.

Kemampuan individu dalam memenuhi perawatan diri sehari-hari

dipengaruhi oleh lingkungan-lingkungan tersebut baik internal maupun

exsternal, kondisi inilah yang perlu dinilai atau dikaji sehingga lingkungan

positif maupun negatif dapat diidentifikasi sehingga dalam memberikan

bantuan kebutuhan hidup sehari-hari dapat terarah dan terencana dengan

memanfaatkan kondisi lingkungan positif sehingga pasien dapat beraktivitas

dengan aman dan nyaman.


24

3. Sehat dan Kesehatan

Sehat dan kesehatan berkaitan dengan fungsi tubuh yang terintegritasi dalam

memenuhi kebutuhan self care-nya, bila seseorang mampu memenuhi

kebutuhan self care dikatakan sehat dan dapat ditingkatkan menjadi sejahtera,

tetapi bila seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhannya dikatakan

mengalami sakit baik fisik maupun mental. Sehat menurutnya hasil dari

individu menghadapi dan mengatasi stimulus, tuntutan kebutuhan dan

dorongan serta keinginan. Bila seseorang tidak dalam kondisi sehat maka

kebutuhan self care-nya akan terganggu. Adanya motivasi ini individu

mampu mencari dan memanfaatkan segala sumber daya dan kekuatannya

dalam memenuhi kebutuhan self care-nya.

Kondisi sehat dapat dikatakan sebagai bentuk keseimbangan antara

kebutuhan self care dan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Bila kebutuhan self care menurun maka kemampuan dalam memenuhi

kebutuhan dasar pun akan menurun dan pada kondisi inilah pasien/individu

memerlukan bantuan.

4. Keperawatan

Penekanan konseptual model Orem tentang keperawatan adalah keperawatan

merupakan bentuk pelayanan bantuan sukarela yang spesifik dari sekelompok

orang yang telah memperoleh pendidikan keperawatan. Aktifitas perawat

merupakan produk dan hasil dari pemenuhan kebutuhan self care pasien.

Sedangkan sasaran pelayanan keperawatan terdiri dari individu yang

mengalami sakit, kelemahan, usia lanjut dan kecacatan yang mana kondisi

tersebut menunjukan kondisi penyimpangan kebutuhan self care.


25

Pada kondisi self care deficit individu/pasien akan terganggu pula pemenuhan

kebutuhan dasarnya, maka tugas perawat adalah memberi bantuan terhadap

pemenuhan kebutuhan dasar pasien/individu sesuai tingkat

ketidakmampuannya baik bantuan secara totally, partialy dan

Suportif/edukatif.

Dengan demikian aplikasi dalam Asuhan keperawatan dapat dilaksanakan

pada setiap langkah proses keperawatan yang dimulai dari tahap pengkajian,

perumusan diagnosa, perencanaan dan evaluasi, menggunakan teori self care

sebagai berikut:

1. Tahap Pengkajian

Berfokus pada bentuk self care deficit dan ketidakmampuan memenuhi

kebutuhan dasar, maka penyimpangan dalam pemenuhan kebutuhan

sehari-hari seperti pemenuhan akan oksigen, eliminasi, makan dan minum

dan lain-lain harus dikaji secara lengkap. Penting pula dilakukan

pengkajian pada bentuk ketidakmampuan dalam melakukan aktifitasnya

memenuhi kebutuhan dasar dan kebutuhan yang lebih kompleks, karena

dengan pengkajian yang lengkap inilah akan didapat bentuk

ketidakmampuan akan kebutuhan sehari-hari pasien/individu, termasuk

juga penting dikaji beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk

ketidakmmapuan tersebut.

Karakteristik perawatan diri secara normal, berkaitan dengan kemampuan

dan kondisi normal dalam melakukan fungsi perkembangan dan


26

bagaimana berpakaian, makan, dan toileting tersebut bahwa

ketidakmampuan pasien/individu dalam melakukan aktivitas pemenuhan

kebutuhan sehari-hari dan perawatan diri sendiri dipengaruhi dari dalam

diri pasien/individu tersebut seperti, umur, jenis kelamin, kondisi

mental/psichological termasuk prilaku, budaya, emosi, kebiasaan dan

status perkawinannya, sedangkan dari luar diri pasien/indivu,

diantarannya: kekuatan fisik, ability, bentuk penyimpangan kesehatan

yang spesifik, lamanya masalah yang terjadi.

Semua kondisi-kondisi tersebut harus dikaji dengan teliti dan

komprehensif agar dalam melakukan intervensi keperawatan dapat

direncanakan dengan baik. Tehnik-tehnik dalam mendapatkan pengkajian

dapat dilakukan dengan wawancara, observasi langsung pasien dan

pemeriksaan fisik serta fungsi kognitifnya.

Ketidakmampuan dalam melakukan perawatan diri berhubungan erat

dengan kemampuan dalam melakukan aktivitas dan dalam pengkajian

sudah terdapat beberapa cara dalam menilai atau mengidentifiakasi

bentuk self care dan aktivitasnya. Semua aktivitas pemenuhan sehari-hari,

seperti mandi, berpakaian, toileting dan eliminasi dapat dilihat dari

tingkat independensi dan dependensi pasien, sebagai contoh dalam

memenuhi kebutuhan toileting, pasien mengalami kelumpuhan maka

perawat membantu dalam menyiapkan dan memberi penjelasan tentang

pemakaian bedpan di tempat tidur.


27

2. Tahap Perumusan diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah self care deficit,

perubahan dalam melakukan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, seperti:

kebersihan diri, berpakaian, eliminasi dan lain-lain. Sedangkan

ketidakmampuan melakukan aktifitas hidup sehari-hari baik yang bersifat

perawatan total, perawatan partial maupun berbentuk perawatan suportif.

Bahwa ini menjelaskan inti dari bentuk diagnosa keperawatan yang dapat

muncul adalah tingkat ketergantungan pasien/individu dalam memenuhi

kebutuhan dan perawatan dirinya berbeda-beda karena manusia yang

bersifat unik.

3. Tahap Perencanaan

Perencanaan keperawatan meliputi tindakan menetapkan tujuan

perawatan yang sesuai dengan tingkat ketidakmampuan pasien/individu

dalam melakukan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Rencana

keperawatan dirumuskan oleh perawat dan pasien/individu/keluarga

bersama-sama dan diimplementasikan untuk mendukung pasien menuju

tingkat kemandirian.

4. Tahap Implementasi

Implementasi keperawatan dilakukan dengan memberikan asuhan

keperawatan berdasarkan tingkat ketidakmampuan pasien dalam

melakukan aktivitasnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, baik

ketidakmampuan yang bersifat menyeluruh (totally), sebagian (partially)

dan bentuk suportif/edukasi. Bentuk implementasi disesuaikan dengan


28

kondisi-kondisi tersebut agar kerja perawat dapat dilakukan seoptimal

mungkin.

Dalam melakukan implementasi keperawatan, perawat harus melibatkan

pasien/individu/keluarga untuk berpartisipasi didalamnya agar proses

memandirikan pasien/individu/keluarga dapat tercapai sesuai tujuan yang

diharapkan. Bila bentuk implementasi tidak sesuai dengan masalah

keperawatan yang ada akan menghambat proses kemandirian dan

kontinuitas asuhan keperawatan yang diterima pasien/individu/keluarga

karena rasa ketergantungan yang terlalu tinggi dari

pasien/individu/keluarga terhadap perawat menjadikan motivasi untuk

proses kemandiriannya tidak terjadi.

Dengan kemampuan pasien mendeteksi ketidakmampuan dalam

beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maka bentuk

bantuan/implementasi dapat sesuai tujuan yang diharapkan sesuai

tingkatan ketergantungannya. Bentuk implementasi yang dapat dilakukan

yaitu melakukan tindakan langsung terhadap ketidakmampuan dalam

memenuhi perawatan diri, memberikan pendidikan kesehatan,

membimbing dan memotivasi pasien dan keluarga dan yang penting

adalah memfasilitasi lingkungan yang dapat menunjang pemenuhan self

care dan aktivitasnya.


29

5. Tahap Evaluasi

Evaluasi terhadap terpenuhinya bantuan dan kebutuhan pasien/individu,

diantaranya: mempertahankan kondisi sehat, sembuh dari sakit atau

kebutuhan self care terpenuhi, dan kemampuan pasien/individu

meningkat dalam melakukan aktivitas sesuai harapan sehingga terhindar

dari kecacatan dan kematian. Orem tidak menuliskan secara spesifik

mengenai evaluasi dalam bukunya, akan tetapi ia mengemukakan bahwa

pasien membutuhkan kemandirian dalam hal mengatasi masalah

kesehatannya. Oleh karena itu evaluasi difokuskan pada: kemampuan

pasien mempertahankan kebutuhan self-care, kemampuan pasien untuk

mengatasi defisit perawatan diri dan sampai sejauh mana perkembangan

kemandirian pasien, kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan

perawatan diri anggota keluarganya yang tidak mampu.

C. Analisis Konsep pada Kasus Ny. SA

Asuhan keperawatan teori self care Orem bila diterapkan pada kasus Ny. SA,

maka tetap menggunakan langkah-langkah proses keperawatan, yaitu:

pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

1. Pengkajian

Mengacu pada teori self care, maka hal-hal yang perlu dikaji adalah faktor

personal, universal self care, development self care, health deviation, medical

problem and plan dan self care deficit, dan data yang dapat dikumpulkan dari

kasus Ny. SA, adalah sebagai berikut:

Faktor personal: Usia 65 tahun, TB/BB tidak ada data, Suku Jawa, WNI,

status perkawinan janda, Agama Islam, pekerjaan pensiunan PNS.


30

Universal self care: Ny. SA tampak sesak, terdapat suara rongki basah

kiri/kanan, RR 28 x/mnt, TD 160/100 mmHg, terpasang infus NaCl 20 tts/mt,

aktivitas dan kebutuhan sehari-hari dibantu, Ny. SA mengalami kelumpuhan

anggota gerak atas/bawah kanan, bicara pelo/tidak jelas.

Development self care: Ny. SA sudah usia lanjut, janda dan tinggal dengan

anak bungsunya, pensiunan PNS, keterbatasan melakukan aktivitas karena

adanya kelumpuhan anggota gerak atas dan bawah kanan, membutuhkan

bantuan sepenuhnya/total, membutuhkan latihan ADL secara bertahap.

Health Deviation: Aktual gangguan sistem neurologi dan adanya kelumpuhan

anggota gerak bawah/atas kanan, sesak nafas, tidak dapat menelan, bicara

pelo.

Medical problem and plan: Diagnosa medik adalah Stroke dengan hipertensi

dan adanya kelumpuhan anggota gerak atas/bawah kanan, tidak dapat

menelan, bicara pelo. Perencanaan: istirahat, lakukan ROM aktif pada

anggota gerak yang tidak mengalami kelumpuhan dan ROM pasif anggota

gerak yang lumpuh secara bertahap, berikan oksigen 3 lt/mnt, Monitor TTV

(TD,N,RR), monitor tingkat kesadaran pasien (GCS), membantu dalam

pemenuhan kebutuhan aktivitasdan perawatan diri, mengajarkan pasien dan

keluarga secara bertahap tentang perawatan Ny. SA, meningkatkan aktivitas

secara bertahap, motivasi pasien dan keluarga dalam menghadapi penyakit

yang dialaminya.

Self Care Deficit: Adanya ketergantungan pasien karena kondisi penyakit dan

kelumpuhannya sehingga pasien tidak mampu dalam memenuhi self care-

nya.
31

2. Diagnosa Keperawatan

Beberapa data yang telah terkumpul dapat ditegakan suatu diagnosa/masalah

keperawatan yang terjadi pada Ny. SA, adalah sebagai berikut:

a. Gangguan perfusi jaringan

cerebral berhubungan dengan masukan oksigen ke jaringan cerebral

berkurang dan adanya iskemic pada jaringan cerebral.

b. Self care deficit berhubungan

dengan kelemahan/kelumpuhan anggota gerak kanan sekunder terhadap

serangan stroke.

c. Intoleran aktivitas berhubungan

dengan adanya kelumpuhan anggota badan, imobilisasi/tirah baring.

3. Perencanaan

Pada tahap perencanaan ini tujuan dari masalah self care deficit-nya, yaitu

mengembalikan kebutuhan self care dalam kondisi normal atau optimal,

dengan kriteria: Ny. SA dapat melakukan aktivitas bernafas normal, dapat

makan/minum tanpa terpasang NGT, dapat mandi dan memenuhi bab/bak

dengan sendirinya (kamar mandi) atau dilakukan ditempat tidur dan dapat

melakukan ROM Aktif pada semua anggota gerak.

Model system keperawatan: Wholly/totally compensatory, dan metode yang

dilakukan, membantu, membimbing, mendukung, mengajarkan, intervensi

langsung dan menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman.

4. Implementasi
32

a. Perawat bersama pasien dan keluarga

melakukan kontrak untuk dapat memenuhi kebutuhan self care.

b. Menentukan hal-hal yang perlu dilakukan baik

bagi pasien dan keluarga maupun perawat.

c. Bersama keluarga dan pasien mengidentifikasi

beberapa aktivitas yang dapat dilakukan pasien dan yang tidak dapat

dilakukan pasien

d. Membantu, membimbing, mendukung pasien

dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, aktivitas dan kegiatan lain yang

mendukung pasien dan keluarga yang dapat meningkatkan

kemampuannya.

e. Keberhasilan dalam mengembalikan fungsi self

care yang normal harus didukung sepenuhnya oleh perawat dan keluarga

atau self care agent.

4. Evaluasi

Evaluasi yang dilakukan bertitik tolak dari masalah yang terjadi, rencana

keperawatan dan intervensi yang dilakukan pada Ny. SA, tetapi yang penting

dalam evaluasi adalah menjalankan fungsi kontrol pada aktivitas dan umpan

balik keperawatan, dari kasus Ny. SA dapat dievaluasi beberapa hal berikut:

a. Tidak terjadi komplikasi penyakit dan komplikasi dari kondisi Ny. SA

karena harus tirah baring/imobilitas.

b. Tidak terjadi kontraktur karena adanya kelumpuhan pada anggota gerak

yang terjadi pada Ny. SA.


33

c. Kelumpuhan pada anggota gerak yang terjadi dapat kembali pada

kondisi optimal secara bertahap.

d. Terpenuhinya semua kebutuhan sefl care.

e. Ny. SA dan keluarga mengetahui dan dapat melakukan aktivitas yang

telah diajarkan oleh perawat.

f. Penilaian menyeluruh terhadap sistem totally compensatory, apakah

efektif dalam meningkatkan self care agent Ny. SA.


34

BAB IV
SIMPULAN SARAN

A. Simpulan

Konseptual model self care yang dikembangkan oleh Dorothea E. Orem

merupakan salah satu model yang menekankan pada kemampuan individu untuk

memenuhi kebutuhan self care secara mandiri dan selama masih memungkinkan

dan menekankan supaya individu menjadi self care agent bagi dirinya sendiri.

Dimana manusia merupakan kesatuan unit fungsional yang menjalankan fungsi

biologisnya, sedangkan sehat-kesehatan merupakan kondisi seseorang dapat

memenuhi kebutuhan self care-nya dan kondisi sehat akan mudah dicapai.

Apabila individu mempunyai kemampuan dan kesadaran yang tinggi dalam

merawat dirinya sendiri dan mengoptimalkan kesehatannya, serta memodifikasi

lingkungan yang dapat menunjang dalam aktivitas hidup sehari-hari maka

individu tersebut akan berada dalam kondisi sehat.

Peran keperawatan dalam kondisi ketidakmampuan dalam melakukan self care

ditekankan kepada proses bagaimana memberi bantuan dan membimbing,

memfasilitasi dan memotivasi individu untuk memenuhi kebutuhan self care-nya

dengan membantu aktivitasnya. Bila individu gagal memenuhi kebutuhan self

care-nya, pada kondisi ini perawat bertindak sebagai self care agent bagi individu

tersebut.

Konseptual model self care dapat diimplementasikan dalam proses asuhan

keperawatan yang merupakan metode penyelesaian masalah keperawatan secara

ilmiah dan komprehensif dengan langkah-langkah pengkajian, perumusan

33
35

masalah, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Oleh karena itu pengkajian

dalam menentukan tingkat independensi dan dependensi dari pasien dalam

memenuhi kebutuhan perawatan sehari-hari merupakan langkah awal yang

sangat penting sehingga dalam melakukan intervensi sejalan dengan

meningkatkan tingkat kemandirian pasien/individu .

B. Saran

Sejalan dengan konseptual model Orem dan aplikasinya pada asuhan

keperawatan yang telah dibahas pada bab-bab sebelumnya, maka saran yang

dapat menjadi masukan adalah sebagai berikut:

1. Konsep model self care tersebut masih dapat berkembang dan dapat

dikembangkan menjadi beberapa teori keperawatan turunan yang baru sesuai

dengan kondisi perkembangan keperawatan.

2. Konseptual model self care dapat diaplikasikan pada praktek

keperawatan pada semua unit baik Rumah Sakit, keluarga/komunitas

tergantung pada areanya dan sasaran pasiennya

3. Pada pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasien, diperlukan adanya

self-care agent yang membantu pasien tidak mampu.

4. Konsep tersebut dapat memperjelas peran perawat dan

pasien/keluarga, dalam hal ini yang diharapkan adalah kesadaran pasien

mampu melakukan perawatan diri secara mandiri sehingga tercapai tingkat

kemandirian yang optimal.

5. Perlu diterapkannya teori tersebut bagi pofesi keperawatan baik untuk

pendidikan, perawat klinik, perawat komunitas, administrasi dan penelitian.


36

DAFTAR PUSTAKA

Craven & Hirnle. (2002). Fundamental of Nursing; Human Health and Function. (4th
Ed.). Philadephia: Lippincott

Dennis, C.M. (1997). Self Care Deficit Theory of Nursing: Concepts and
Applications. St. Louis: Mosby-Year Book, Inc.

Fitzpatrick, J.J. & Whall, A.L. (1989). Conceptual models of nursing: Analysis and
Application. (2nd Ed.). Norwalk: Appleton & Lange

George, J.B. (1995). Nursing Theories: The base for professional nursing practice.
(4th Ed.). Connecticut: Appleton and Lange

Jacqueline & Fawcett. (2005). Contemporary nursing knowledge;Analysis and


evaluation of nursing model and theories. (2nd Ed.). Philadelphia: F.A Davis
Company.

Joanne & Hickey. (2000). The Clinical Practice of Neurological and Neurosurgical
Nursing. (4th Ed.). Philadhelpia: Lippincott

Kozier, B. (1997). Professional Nursing Practice: Concepts and Perspective. (3th


Ed.). Philadhelpia: Addison Esley.

Orem, D.E. (2001). Nursing Concepts of Practice. (6th Ed.), St. Louis: Mosby, Inc.

Tomey, A.M. & Alligod, M.R. (1994). Nursing theorist and their work. (3th Ed.).
[Link]: Mosby, Inc.

Warlow, et al. (2002). Stroke: A practical guide to management. (2nd Ed.). United
Kingdom: Blackwell Science
37

UNIVERSITAS INDONESIA

APLIKASI KONSEP MODEL OREM


DALAM ASUHAN KEPERAWATAN STROKE

Tugas individu Mata Kuliah Sains Keperawatan


Dosen: Enie Novieastari, [Link], MSN

Oleh

SITI AISAH
0606027322

PROGRAM MAGISTER ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
2006
38

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................ii
BAB I: PENDAHULUAN.........................................................................................1
A. Latar Belakang.........................................................................................1
B. Tujuan penulisan......................................................................................2
C. Metode Penulisan.....................................................................................3
D. Sistematika Penulisan...............................................................................3
BAB II: TINJAUAN TEORITIS...............................................................................4
A. Konseptual Model Dorothea E. Orem......................................................4
1. Definisi Konseptual Model Self Care Dorothea E. Orem..................4
2. Paradigma Keperawatan Ditinjau dari Konseptual Model
Dorothea [Link]...............................................................................10
B. Konseptual Model Dorothea E. Orem dan Asuhan Keperawatan............15
1. Tahap 1: Diagnosa keperawatan dan persepsi....................................16
2. Tahap 2 : Mendisain sistem keperawatan dan perencanaan...............17
3. Tahap 3: Memproduksi dan manajemen sistem keperawatan............18
BAB III: PEMBAHASAN.........................................................................................20
A. Kasus........................................................................................................20
B. Analisis Teory Self Care Orem dalam Asuhan Keperawatan...................21
1. Tahap pengkajian................................................................................24
2. Tahap perumusan diagnosa keperawatan...........................................26
3. Tahap perencanaan.............................................................................26
4. Tahap Implementasi...........................................................................26
5. Tahap Evaluasi...................................................................................28
C. Analisis konsep pada kasus Ny. SA.........................................................28
1. Pengkajian..........................................................................................28
2. Diagnosa keperawatan.......................................................................30
3. Perencanaan........................................................................................30
4. Implementasi......................................................................................30
5. Evaluasi..............................................................................................31
BAB IV: SIMPULAN SARAN.................................................................................33
A. Simpulan...................................................................................................33
B. Saran.........................................................................................................34
39

KATA PENGANTAR
ii

Makalah dengan judul Aplikasi Konsep Model Orem dalam Asuhan Keperawatan

Stroke merupakan tugas individu dalam Mata Kuliah Sains Keperawatan.

Penyusunan tugas ini sebagai suatu proses belajar yang membutuhkan kemampuan

analisis dan sintesis dalam aplikasi suatu model ke dalam asuhan keperawatan area

tertentu.

Untuk menciptakan kemampuan tersebut tim mata kuliah sains keperawatan sudah

banyak melatih dan membantu dalam proses belajar mengajar, sehingga dalam

kesempatan ini penulis mengucapakan terimakasih kepada koordinator mata kuliah

dan tim pengajar sains keperawatan yang sudah memberikan wacana penulis dalam

proses penyusunannya. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam

penyusunan makalah ini, maka kritik dan saran yang bisa menambah khasanah

makalah ini sangat penulis hargai.

Jakarta, Desember 2006

Penulis,

Siti Aisah
0606027322

Anda mungkin juga menyukai