Berada di atas lahan seluas 10.
000 m2 di Kota Cirebon, Jawa Barat, berdiri
pabrik pengolahankulit udang dan cangkang rajunganchitosan dan
berbagai produk turunannya. Pabrik milik PT Biotech Surindo (Biotech) itu
memproduksiChitosan yaitu produk alami dariChitin yang berasal dari kulit
udang dan cangkang rajungan.
Chitosan sudah banyak digunkan sebagai bahan baku berbagai industri
seperti kosmetik, rokok, bahkan industri pangan. Menurut Direktur Utama
PT Biotech Surindo - Suresh B. Bahirwani, sejauh ini produk turunan
dariChitosan belum terlalu populer di telinga masyarakat. Padahal manfaat
dari produk ini cukup beragam, ungkap Suresh kepada TROBOS Aqua.
Limbah Jadi Emas
Berawal dari kepedulian terhadap lingkungan, Biotech menginisiasi
pengolahan limbah kulit udang dan cangkang rajungan yang tadinya memili
nilai renah dan mencemari lingkungan,menjadi produk yang memiliki nilai
tambah dan ramah lingkungan. Konsepnya adalah blue economy, ujar
Suresh.
Lebih lanjut ia menjelaskan, perusahaan ini dibangun sekitar 2008 dan
mulai berproduksi pada 2009. Tidak saja membuat Chitosan, pabrik ini juga
memproduksi produk turunannya seperti pupuk organik cair yang berguna
untuk pertanian, perikanan, serta peternakan serta produk produk
turunan Chitosanuntuk bahan baku pangan. Produk
turunan Chitosan untuk bahan baku pangan telah terdaftar di BPOM
(Badan Pengawas Obat dan Makanan) dan memiliki sertifikat halal,
kataSuresh.
Produksi Chitosandisesuaikan dengan permintaan konsumen. Menurut
Suresh, setiap konsumen meminta karakteristik berbeda-beda tergantung
kebutuhan masing-masing industri. Kapasitas produksi Chitosan di pabrik
ini antara 1 1,5 ton/bulan, pupuk organik cair sebanyak 7.000 10.000
liter/bulan, serta produk bahan baku pangan sebanyak 1.000 1.500
liter/bulan. Kapasitas produksi masih dapat ditingkatkan tergantung dari
order yang diterima, ungkapnya
Keunggulan
Diakui Suresh, produk Chitosan dan turunannya dari perusahaannya
memiliki kualitas yang tak kalah bagus dibanding produk luar negeri.
Misalnyapupuk organik cair, produk ini memiliki kelebihan lain yakni
sebagai anti bakteri dan anti fungi alami. Dibanding pupuk organik lain
yang mengandung mikroba, produk inimalah berfungsi ganda sebagai
desinfektan alami dan aman bagi manusia dan lingkungan, jelas Suresh.
Pemberian produk pupuk cair organik inidapat meningkatkan panen padi
sampai 750 kg per [Link] pupuk lain hanya berfungsi menyehatkan
tanah sebelum tanam. Pemberian produk inidilakukan dari sebelum tanam
sampai menjelang panen. Sebelum tanam, diberikan untuk perendaman
benih, selama proses pertumbuhan disemprot untuk menghindari hama
sampai menjelang panen, papar Suresh.
TeknologiPengolahan
Biotech memiliki fasilitas produksi dan didukung oleh fasilitas
laboratorium Quality Control (QC) dan Riset and Development(R&D) yang
menggunakan teknologi modern untuk menghasilkanChitosan dan produk
turunan yang berkualitas tinggi. Bahan baku yang digunakan kami adalah
alami, maka dari itu setiap batch kami tes, jelas Suresh.
Ia memaparkan tentang proses produksi, pertama kulit udang dan rajungan
disortir untuk dibersihkan dari kotoran. Selanjutnya kulit udang dan
cangkang rajungan yang telah disortir diproses dengan menggunakan
asam dan basa sehingga menghasilkan [Link] kemudian dicuci,
dijemur hingga kering dan disortir untuk dibersihkan dari kotoran.
Chitin yang telah disortir lalu diproses dengan menggunakan basa
sehingga menjadi Chitosan. Chitinyang telah hilang gugus asetilnya
disebut chitosan Chitosan. kemudian dicuci, dijemur hingga kering,dan
disortir untuk selanjutnya dikemas. Asam digunakan untuk menghilangkan
protein dan mineral sehingga dihasilkan Chitosan, tambahnya.
Sementara itu untuk produk pupuk organik cair dan bahan baku pangan
diproses dengan formulasi khusus menggunakanChitosandengan
spesifikasi yang telah diformulasikan untuk keperluan pertanian, perikanan,
dan bahan pangan. Ditambahkan Budi Hartono Tanu Technical Advisor
Manager PT Biotech Surindo, secara kasat mata
antara Chitosan dan Chitin tidak dapat dibedakan kecuali dengan uji lab.
Dengan bahan baku sebanyak 1 ton belum tentu
didapatkan Chitosansebanyak 100 kg, ucapnya menjelaskan.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-18/15 Desember
2013 - 14 Januari 2014