Strategi Konseling: Cognitive Modeling
Strategi Konseling: Cognitive Modeling
COGNITIVE MODELING
Disusun oleh :
BK 2012 B
1.3 TUJUAN
1. Mengetahui pengertian Cognitive Behavior Therapy(CBT)
2. Mengetahui tujuan CBT
3. Mengetahui pengertian dari cognitive modeling
4. Mengetahui kegunaan dari cognitive modeling
5. Mengetahui prosedur dilaksanakannya cognitive modeling
6. Mengetahui contoh percakapan cognitive modeling dan cognitive self-instruction
training
BAB II
PEMBAHASAN
Terapi perilaku kognitif adalah salah satu dari beberapa bentuk psikoterapi yang
diberikan pada seseorang dengan membekali keterampilan yang melibatkan
pengidentifikasian pemikiran yang menyimpang,memodifikasi keyakinan,dan mengubah
[Link] perilaku kognitif didasarkan pada model kognitif yaitu dengan cara
pandang seseorang terhadap situasi yang mempengaruhi emosionalnya. Jadi bukan situasi
yang secara langsung mempengaruhi bagaimana orang merasa secara emosional, melainkan,
pikiran mereka dalam situasi [Link] orang-orang dalam kesulitan, perspektif mereka
sering tidak akurat dan pikiran mereka mungkin tidak [Link] perilaku kognitif
membantu orang mengidentifikasi pikiran negatif dan mengevaluasi bagaimana realistis
pikiran-pikiran itu. Kemudian mereka belajar untuk mengubah pemikiran
[Link] mereka berpikir lebih realistis, mereka merasa lebih baik.
Penekanannya adalah kekonsistenan pada pemecahan masalah dan memulai perubahan
perilaku.
CBT merupakan salah satu pendekatan yang telah terbukti keefektifaannya selama
20 tahun terakhir dalam menangani masalah-masalah anak dan remaja. Sampai saat ini studi
tentang CBT yang diterapakan kepada anak-anak telah menunjukkan hasil yang
memuaskan. CBT berfokus pada cara dimana seorang anak menafsirkan pengalamannya
dan bagaimana pikiran-pikiran ini akhirnya mempengaruhi sikap emosional atau fungsi
perilaku (Friedberg & McClure, 2002;. Reinecke et al, 2003). Misalnya, Theresa seorang
gadis 9 tahun yang datang dengan kecemasan yang signifikan sebelum menghadapi ujian di
sekolah. Meskipun penting untuk memahami konteks kecemasannya (misalnya, saat
mengambil soal), pengetahuan fisiologis reaksi nya (misalnya, mual, berkeringat, merasa
pusing, dll), pikiran-pikiran otomatis (misalnya, "Saya tidak belajar cukup; Aku akan gagal.
") Dan keyakinannya (misalnya," Jika saya tidak mendapatkan nilai A, Aku gagal. "). Yang
lebih penting untuk dilakukan terlebih dahulu adalah mengembangkan intervensi daripada
hanya sekedar "memerangi kegelisahannya."
Cara ini lebih mudah dilakukan pada anak-anak antara usia 8-12 tahun karena pola
berfikir mereka lebih mudah di rubah, dan ketika perubahan yang diberikan adalah
perubahan yang baik maka hal tersebut akan lebih mudah menempel dan bertahan dalam
pola perilaku mereka. Pada masa ini anak-anak lebih mudah mengidentifikasi perilaku yang
di contohkan oleh lingkungannya, sehingga pada saat konselor memberikan model model
kepada siswa, maka siswa akan dengan cepat menirukan dan menjadi perilaku yang
menetap pada diri siswa.
Dalam buku Strategi & Intervensi Konseling para peneliti pemodelan kognitif dan self
instructional menybutkan langkah-langkah dalam melakukan strategi ini, yakni :
1. Memberikan rasional
2. Pemodelan penugasan secara kognitif dan self-verbalization (bisik diri) yaitu
dengan melatih konseli
3. Bimbingan terbuka dari konselor
4. Bimbingan terbuka dari konseli sendiri
5. Bimbingan pada diri sendiri secara terbuka
6. Bimbingan pada diri sendiri secara tertutup
7. Pekerjaan rumah dan tindak lanjut (Nursalim, 2013)
Dalam strategi ini tidak hanya berfokus pada konseli, namun juga kepada konselor
karena apa yang dimodelkan oleh konselor lah yang akan di tirukan oleh konseli, dan akan
menjadi perilaku yang akan menetap. Jika konselor salah dalam menganalisis masalah yang
di alami oleh konseli, tidak menutup kemungkinan pemodelan yang dilakukan oleh konselor
juga tidak sesuai dengan masalah konseli. Sehingga sebelum melakukan proses konseling
konselor harus mengumpulkan informasi-informasi yang menunjang proses konseling.
1. Rasional
Konselor memberikan rasional yang benar terhadap konseli ketika dia mengalami
masalah yang disebabkan oleh pikiran-pikiran yang menghambatnya dengan cara
memberikan latihan self talk (katanya pada diri sendiri) sehingga dengan adanya hal
tersebut konseli dapat melakukan tugasnya secara baik. Setelah dasar pemikiran
disampaikan dan beberapa pertanyaan dijelaskan, konselor mulai menampilkan
pemodelan kognitif.
2. Pemodelan Penugasan dan self-Guidance
Pada langkah ini konselor memerintahkan konseli untuk mendengarkan apa yang
dikatakan oleh konselor kepada dirinya pada saat melakukan tugas, pada saat
melakukan tugas itu sambil berbicara keras/lantang (Meichenbaum&Goodman
(1971). Adapun contoh self-instruction (instruksi/perintah diri) yang diperagakan
untuk melatih anak yang tergolong impulsive yaitu mencontoh sebuah pola sebagai
berikut:
Pertanyaan
a. Apa yang harus dilakukan
b. Jawab pertanyaan tersebut dengan merencanakan apa yang akan dikerjakan
c. Bimbingan diri sendiri (self-guidance) dan perhatian fokus
d. Self-reinforcement (penguat diri)
e. Penguasaan pernyataan-pernyataan self-evaluation (penilaian diri) dengan
daftar/format koreksi kesalahan
Dialog :
a. Baiklah apa yang harus aku lakukan?
b. Anda ingin aku menghitung soal yang ada di papan tulis
c. Aku harus pelan-pelan dan hati-hati, baiklah...aku harus mengalikan dua
angka kemudian menambahkan dengan angka berikutya kemudian aku harus
membaginya
d. Oke...andai aku melakukan keseluruhan aku bisa melanjutkannyan lagi dengan
pelan dan hati-hati sekarang aku harus mengalikan lagi dengan angka yang
diminta pada soal, nah sekarang ketemu hasilnya oke aku bisa menyelesaikan.
e. Sekarang aku harus lihat hasilnya tetapi kelihatannya ada yang salah, oke aku
harusnya membaginya dan mengalikannya...tak apalah hapus saja dan aku
akan menggantinya..hati..hati!
Contoh dialog diatas menunjukkan bahwa self-guidance HARUS terdiri dari 5 bagian:
Bagian I : Dari verbalisasi menanyakan tentang keaslian dan tuntutan dari tugas
yang hrus dilakukan. Tujuan dari pertanyaan tersebut adalah untuk
mengimbangi kekurangan dalam memahami apa yang harus dikerjakan
dikerjakan, untuk memberikan orientasi secara umum dan untuk mengatur pola
pikir/kognitif.
Bagian II :Dari verbalisasi yang diperagakan, menjawab pertanyaan tentang
apa yang harus dilakukan. Jawabannya dirancang untuk memperagakan latihan
kognitif dan perencanaan yang bertujuan untuk mengarahkan perhatian konseli
pada tugas-tugas yang diminta, pada latihan ini self-instruction(instruksi
diri)membentuk self-guidance(bimbingan diri)pada saat melakukan tugas.
Bagian III : Dari verbalisasai yang diperagakan(Modeled Verbalization)
tujuan self-guidance adalah untuk memfasilitasi perhatian(fokus)terhadap tugas
dan untuk mencegah setiap gangguan baik overt(terbuka) maupun
covert(tertutup)dari tugas yang tidak relevan.
Bagian IV : Contoh self-reinforcement yang diperagakan dirancang untuk
menjaga ketekunan dalam melakukan tugas dan memperkuat keberhasilan.
Bagian V : Dari verbalisasi yang diperagakan terdiri dari penguasaan self-
statement untuk mengatasi kesalahan dan frustasi dengan pilihan-pilihan untuk
mengoreksi kesalahannya.
3. Bimbingan Secara Terbuka dari Konselor (Overt External Guidance)
Setelah konselor memperagakan verbalisasinya, konseli diminta untuk melakukan
tugas(seperti yang diperagakan konselor), sementara itu konselor sambil melatihnya.
Disini konselor dalam melatih konseli dengan menggunakan kata kamu sebagai
pengganti saya(Apa yang kamu...., kamu harus hati-hati).Konselor dalam melatih harus
mengikuti 5 bagian yang sama dari self guidance seperti yang sudah disebutkan tadi
yaitu :
Pertanyaan
Perencanaan
Perhatian yang terpusat(fokus)
Self-reinforcement
Penguasaan self-evaluation
Apabila saat konseli berlatih ada kehadiran orang lain yang menjadikan konseli
terganggu, maka konselor dapat berkata :orang-orang itu mungkin mengganggu kamu,
jangan kamu hiraukan, tetap pusatakan perhatianmu pada apa yang kamu kerjakan
[Link] seperti ini dapat diucapkan konselor ketika menggunakan overt external
guidance, agar prosedur ini nantinya diharapkan serupa dengan keadaan yang dihadapi
konseli pada kehiduan sebenarnya. (Nursalim, 2013)
4. Bimbingan Secara Terbuka dari Konseli Sendiri(Overt self-guidance)
Konselor selanjutnya memerintahkan konseli untuk melaksanakan tugas sambil
membimbing diri sendiri dengan suara yang keras/lantang. Tujuan dari langkah ini
adalah untuk memberikan latihan kepada konseli jenis self-talk yang akan memperkuat
perhatian terhadap tuntutan tugas dan akan meminimalkan gangguan dari luar, seperti
pada dua langkah yang telah dibahas verbalisasi ini harus mengandung 5 komponen dan
konseli harus diyakinkan untuk menggunakan kalimatnya [Link] kata konseli
kehabisan kata-kata maka konselor dapat membantu dan melatihnya. Jika perlu
konselor dapat kembali mengulang langkah sebelumnya atau melatih lagi overt external
guidance. Setelah konseli melakukan langkah ini konselor harus memberikan tanggapan
bagian mana dari latihan tersebut yang dapat diselesaikan dengan baik oleh konseli dan
tentang kesalahan atau kekurangan yang diperbuat.
5. BIMBINGAN PADA DIRI SECARA TERBUKA(Faded Over self-guidance)
Selanjutnya konseli melakukan tugasnya sambil berbisik (dengan menggunakan
bibir),pemodelan ini menjadikan langkah pertengahan konseli dalam mengungkap kata-
kata sampai ia mengungkapkan tanpa kata-kata.
6. BIMBINGAN DIRI SECARA TERTUTUP(Covert Self-Guidance)
Pada langkah ini konseli dapat melakukan tugas dengan membimbing dan memerintah
dirinya secara tertutup(di dalam kepala).
7. PEKERJAAN RUMAH DAN TINDAK LANJUT
Pekerjaan rumah dapat diberikan konselor dengan cara :
a. Memantau apa yang dikerjakan konseli
b. Berapa banyak dan seberapa sering
c. Kapan dan dimana PR tersebut akan dikerjakan
Pekerjaan rumah dan tindak lanjut harus terjadwal dengan baik.
2.6 CONTOH PERCAKAPAN COGNITIVE MODELING DAN COGNITIF SELF-
INSTRUCTION TRAINING
Dalam melakukan strategi cognitive modeling langkah pertama yang harus dilakukan
adalah dengan memberikan alasan penggunaan pemodelan kognitif dalam menyelesaikan
masalah konseli. sebagai contoh seorang siswa mengalami masalah saat berbica di depan
orang banyak atau di depan kelas. Maka yang harus dilakukan pertama kali oleh konselor
adalah memberitahu tujuan pemodelan kognitif ini bertujuan untuk membantu konseli dalam
menghilangkan rasa takut dan rasa tidak percaya diri saat berada di depan kelas.
Konselor : Jadi salah satu tujuan yang akan kita kembangkan adalah untuk
membantu saudara dalam meninimalisir rasa malu dan rasa tidak
percaya diri pada saat berbicara di depan umum. Salah satu prosedur
yang bisa membantu meringankan masalah anda adalah dimana saya
akan memperagakan apa yang ingin anda lakukan, bahkan dalam berfikir
maupun berbicara di dalam diri anda, tentang tugas-tugas ini. Jadi cara
ini akan membantu anda menemukan cara mengembangkan rencana-
rencana dalam melaksanakan tugas tersebut. bagaimana menurut anda?
Konselor : Tentu saja tidak, tidak akan sulit jika anda sudah mencobanya, saya
akan member contoh dengan berbicara secara keras pada diri saya
sendiri, seakan-akan saya membimbing diri saya sendiri dalam
melakukan hal tersebut. Dan kemudian anda mengikuti saya untuk
melakukan hal yang sama hingga anda bisa melakukannya sendiri, dan
anda dapat berfikir tentang langkah apa yang harus anda lakukan
setelahnya. Bagaimana menurut anda?
Konselor : Dalam prosesnya, paling tidak ada empat hal yang dapat dilakukan
dalam usaha meningkatkan kepercayaan diri anda saat berbicara di
depan umum. Yakni menjawab pertanyaan guru di depan kelas,
mengungkapkan pendapat di depan kelas, atau berdiskusi dengan teman
satu kelas. Yang mana yang ingin anda lakukan terlebih dahulu?
Konseli : Menjawab pertanyaan guru di depan kelas, tapi jika saya salah
menjawab maka saya akan di tertawakan oleh teman-teman satu kelas.
Konselor : Sepertinya anda merasa sedikit gugup, namun prosedur ini akan
membantu anda untuk lebih berkonsentrasi pada tugas yang diberikan
daripada terhadap diri anda sendiri. Sekarang saya akan berpura-pura
maju kedapan kelas, dan saya akan ngengungkapkan secara keras apa
yang saya pikirkan, yang mungkin dapat membantu anda dalam
menjawab soal [Link] dengarkan dengan baik, karena setelah
ini anda akan melakukan hal yang sama dengan apa yang sudah saya
lakukan. Apakah ada pertanyaan?
Konseli : Tidak, saya sudah faham. Saya akan memperhatikan dengan seksama.
Saya akan menirukan gara guru Bahasa Inggris saya yang saat member
tugas nampak sangat menakutkan dan membuat gugup.
Konselor : Baik, kamu bisa membantu jalannya adegan. Sekarang mintalah saya
maju kedepan dengan memanggil nama saya.
Konseli : (Berperan sebagai sebagai guru Bahasa Inggris) Agil maju ke depan
dan bacakan cerita di halaman 20, dan jawab pertanyaannya.
Konselor : Baik, sekang saya akan menjadi gurumu dan meminta anda menjawab
pertanyaan yang saya berikan. Agil tolong aku maju ke depan, bacakan
cerita di halaman 20 dan jawab pertanyaan di bawahnya. Sekarang coba
baca dengan pelan-pelan dan konsentrasi. Lalu tanyakan pada dirimu
sendiri, Apakah yang harus saya lakukan dengan bacaan ini? Nah
sekarang bacalah dengan perlahan dan lantang, carilah inti dari
pertanyaan dengan mencari kata-kata yang sama pada bacaan yang telah
kamu baca. Setelah mendapatkannya, kamu baca kaliamat yang ada
didalam cerita dengan perlahan dan tegas. Walaupun guru mu berdeham,
kamu terus saja membaca. Sekarang anda telah mendapatkan jawaban
dari pertanyaan tersebut. bagus, anda berhasil. Sekarang anda boleh
kembali ke tempat duduk.
Konseli : Saya merasa sangat gugup dan tidak bisa berkonsentrasi dengan bacaan
saya, sehingga saya sulit mencari jawaban di bacaan tersebut. saya juga
takut pada saat guru saya berdeham karena beliau terlihat sangat
menakutkan.
Konselor : Sekrang mari kita ulangi apa yang telah kita lakukan, namun saya ingin
anda melakukannya sendiri tanpa bantuan dari saya. Anda berdiri dan
melakukannya sendiri dengan mengungkapkan dengan keras apa yang
anda pikirkan.
(Konseli melakukan lagi apa yang sudah dilakukan, dengan mengungkapkan pikiran
dan perasaannya dengan keras dan lantang.)
Konselor : Apa yang anda lakukan sudah sangat bagus Agil. Walaupun guru mu
berdeham anda tetap berkonsentrasi.
Konselor : Baik, hal ini tidak hanya bisa anda lakukan disini, namun juga bisa juga
anda lakukan untuk mengerjakan PR di rumah. Nah sekarang mari kita
lakukan sekali lagi, namun tanpa anda mengatakan apa yang sedang
anda lakukan dan anda pikirkan. Bagiamana?
Konseli : Jadi saya tidak lagi harus mengatakan apa yang pikirkan dengan
keras?
Konselor : Iya..
Konseli : Saya merasa lebih tenang, dan bisa berkonsentrasi dalam menjawab
pertanyaan di depan kelas.
Konselor : Hal ini di lakukan untuk kepentingan anda, tidak hanya dalam
berkomunikasi dengan teman satu kelas, namun juga dapat di gunakan
untuk melatih kesiapan mental anda dalam berbicara di depan kelas.
Sebaiknya hal ini di lakukan berulang kali, setidaknya dalam minggu ini
saja. Apakah anda mau melakukannya?
Konselor : Saya rasa hal ini akan menjadi penolong anda jika anda mau
melakukannya terus menerus dalam minggu-minggu ini.
Konsel : Tidak bu, saya sudah sangat jelas dengan penjelasan anda.
Konselor : Baiklah jika sudah tidak ada lagi yang mau di tanyakan, tolong berikan
tanda (tally) apabila anda berhasil berbicara di depan umum, atau di
depan orang lain yang baru anda kenal. Minggu berikutnya bawalah
kertas ini kepada saya, dan kita akan melgevaluasi dan menentukan
kapan kegiatan ini akan di akhiri.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Cormier, W.H. & Cormier, L.S. 1995. Interviewing Strategies for Helpers. Fundamentals
Skills and Cognitive Behavioral Interventions. [Link].. Monterey, California :
Books/Cole Publishing Company
Nursalim, Mochamad. 2013. Stratedi dan Intervensi Konseling. Surabaya: Akademia Permata