100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
510 tayangan16 halaman

Strategi Konseling: Cognitive Modeling

Dokumen tersebut membahas tentang strategi konseling cognitive modeling. Cognitive modeling adalah strategi dimana konselor memberikan contoh perilaku dan pola pikir positif kepada konseli untuk mengganti pola pikir dan perilaku negatif. Konselor akan memodelkan pola pikir dan perilaku yang diinginkan secara langsung kepada konseli agar dapat dijadikan teladan.

Diunggah oleh

raafi wiragati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
510 tayangan16 halaman

Strategi Konseling: Cognitive Modeling

Dokumen tersebut membahas tentang strategi konseling cognitive modeling. Cognitive modeling adalah strategi dimana konselor memberikan contoh perilaku dan pola pikir positif kepada konseli untuk mengganti pola pikir dan perilaku negatif. Konselor akan memodelkan pola pikir dan perilaku yang diinginkan secara langsung kepada konseli agar dapat dijadikan teladan.

Diunggah oleh

raafi wiragati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SETRATEGI KONSELING

COGNITIVE MODELING

Disusun oleh :

Gusti Ayu Akilil (12010014019)

Rosyida Aziz (12010014048)

Ummi Nadziroh (12010014203)

BK 2012 B

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
PRODI BIMBINGAN KONSELING
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Setiap individu memiliki kepribadian yang berbeda-beda sehingga menjadikan setiap
individu adalah individu yang unik, namun tidak semua kepribadian yang dimiliki oleh individu
adalah kepribadian yang positif, ada beberapa individu yang memiliki kepribadian pemalu,
tidak percaya diri, bahkan rendah diri. Sehingga ketika melakukan proses konseling seorang
konselor tidak boleh menganggap semua konseli memiliki kepribadian yang sama. Kondisi
lingkungan memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian seseorang, dimana
lingkungan sangat berpengaruh terhadap pola fikir seseorang terdap suatu hal.
Kondisi lingkungkungan seseorang dapat memicu munculnya rasa bahagia, namun
juga tidak jarang pula memunculkan perasaan trauma, takut, malas, dan perasaan-perasaan
lainnya, hal ini banyak terjadi di lingkungan sekolah, misalnya siswa yang takut pada guru
mata pelajaran yang disara kejam, tugas-tugas sekolah yang terlalu banyak, dan perasaan tidak
bisa menguasai mata pelajaran tertentu banyak menyebabkan menurunnya prestasi belajar yang
dimiliki oleh siswa.
Konselor terutama konselor sekolah harus mampu membangkitkan prestasi belajar
siswa dengan memberikan contoh-contoh positif kepada siswa atau konseli dengan masalah
yang lain. Konselor dapat membantu konseli dengan mengganti cara pandang mereka dalam
menyikapi sesuatu, dengan menggunakan cognitive modeling. Dalam cognitive modeling
konselor memberikan contoh kepada konseli tentang apa yang harus di lakukan, sehingga
konseli tau harus melakukan apa pada saat berada pada situasi dan kondisi yang ia merasa tidak
nyaman. Yang mana kemudian model yang di berikan kepada konseli tersebut dapat menjadi
suatu kebiasaan, sehingga konseli tidak lagi merasa resah saat mengalami situasi yang tidak
nyaman baginya.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa yang dimaksud dengan Cognitive Behavior therapy (CBT)?
2. Apakah tujuan dari CBT?
3. Apa yang dimaksud dengan cognitive modeling?
4. Apa saja kegunaan dari cognitive modeling?
5. Bagaimana prosedur dilaksanakannya cognitive modeling?
6. Bagaiamana contoh percakapan cognitive modeling dan cognitive self-instruction
training?

1.3 TUJUAN
1. Mengetahui pengertian Cognitive Behavior Therapy(CBT)
2. Mengetahui tujuan CBT
3. Mengetahui pengertian dari cognitive modeling
4. Mengetahui kegunaan dari cognitive modeling
5. Mengetahui prosedur dilaksanakannya cognitive modeling
6. Mengetahui contoh percakapan cognitive modeling dan cognitive self-instruction
training
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY

Terapi perilaku kognitif adalah salah satu dari beberapa bentuk psikoterapi yang
diberikan pada seseorang dengan membekali keterampilan yang melibatkan
pengidentifikasian pemikiran yang menyimpang,memodifikasi keyakinan,dan mengubah
[Link] perilaku kognitif didasarkan pada model kognitif yaitu dengan cara
pandang seseorang terhadap situasi yang mempengaruhi emosionalnya. Jadi bukan situasi
yang secara langsung mempengaruhi bagaimana orang merasa secara emosional, melainkan,
pikiran mereka dalam situasi [Link] orang-orang dalam kesulitan, perspektif mereka
sering tidak akurat dan pikiran mereka mungkin tidak [Link] perilaku kognitif
membantu orang mengidentifikasi pikiran negatif dan mengevaluasi bagaimana realistis
pikiran-pikiran itu. Kemudian mereka belajar untuk mengubah pemikiran
[Link] mereka berpikir lebih realistis, mereka merasa lebih baik.
Penekanannya adalah kekonsistenan pada pemecahan masalah dan memulai perubahan
perilaku.

CBT merupakan salah satu pendekatan yang telah terbukti keefektifaannya selama
20 tahun terakhir dalam menangani masalah-masalah anak dan remaja. Sampai saat ini studi
tentang CBT yang diterapakan kepada anak-anak telah menunjukkan hasil yang
memuaskan. CBT berfokus pada cara dimana seorang anak menafsirkan pengalamannya
dan bagaimana pikiran-pikiran ini akhirnya mempengaruhi sikap emosional atau fungsi
perilaku (Friedberg & McClure, 2002;. Reinecke et al, 2003). Misalnya, Theresa seorang
gadis 9 tahun yang datang dengan kecemasan yang signifikan sebelum menghadapi ujian di
sekolah. Meskipun penting untuk memahami konteks kecemasannya (misalnya, saat
mengambil soal), pengetahuan fisiologis reaksi nya (misalnya, mual, berkeringat, merasa
pusing, dll), pikiran-pikiran otomatis (misalnya, "Saya tidak belajar cukup; Aku akan gagal.
") Dan keyakinannya (misalnya," Jika saya tidak mendapatkan nilai A, Aku gagal. "). Yang
lebih penting untuk dilakukan terlebih dahulu adalah mengembangkan intervensi daripada
hanya sekedar "memerangi kegelisahannya."

2.2 TUJUAN KONSELING COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY

Tujuan dari konseling Cognitive-Behavior (Oemarjoedi, 2003: 9) yaitu mengajak


konseli untuk menentang pikiran dan emosi yang salah dengan menampilkan bukti-bukti yang
bertentangan dengan keyakinan mereka tentang masalah yang dihadapi. Konselor diharapkan
mampu menolong konseli untuk mencari keyakinan yang sifatnya dogmatis dalam diri
konseli dan secara kuat mencoba menguranginya.
Dalam proses konseling, beberapa ahli CBT (NACBT, 2007; Oemarjoedi,2003)
berasumsi bahwa masa lalu tidak perlu menjadi fokus penting dalam konseling. Oleh sebab
itu CBT dalam pelaksanaan konseling lebih menekankan kepada masa kini dari pada masa
lalu, akan tetapi bukan berarti mengabaikan masa lalu. CBT tetap menghargai masa lalu
sebagai bagian dari hidup konseli dan mencoba membuat konseli menerima masa lalunya,
untuk tetap melakukan perubahan pada pola pikir masa kini untuk mencapai perubahan di
waktu yang akan datang. Oleh sebab itu, CBT lebih banyak bekerja pada status kognitif saat
ini untuk dirubah dari status kognitif negatif menjadi status kognitif positif.

2.3 PENGERTIAN COGNITIVE MODELING

Strategi cognitive modeling merupakan strategi yang di gunakan konselor dalam


proses konseling. strategi ini di praktekkan kepada konseli yang memiliki pandangan
negative dalam melihat sesuatu, seperti merasa minder saat berbicara di depan banyak
orang, merasa takut pada saat mata pelajaran tertentu di kelas, dan lain sebagainya. Dalam
proses konseling ini konselor menanamkan persepsi baru pada konseli dengan cara
mempraktekkannya, konseli diminta memperhatikan apa yang dilakukan oleh konselor.
Konselor

Cognitive modeling adalah suatu prosedur dimana seorang konselor menunjukkan


kepada seorang siswa tentang apa yang harus dikatakan pada diri sendiri di saat
melaksanakan sebuah tugas, (Sarason, 1973). Dengan adanya latihan ini respon-respon
tertutup(covert) dapat ditunjukkan secara terbuka(overt). (Nursalim, 2013)

2.4 KEGUNAAN COGNITIVE MODELING

Meichenbaum & Goodman (1971), menggunakan model ini untuk mengembangkan


kontrol diri (self-control) pada anak-anak yang usianya masih muda. Kendall & Brawsell
(1982) menemukan bahwa anak-anak yang bermasalah antara 8-12 tahun, dengan adanya
latihan ini dapat membantu guru dalam menangani masalah siswanya. Sebelum memberikan
latihan ini kepada siswa para pembimbing sebaiknya merencanakan program untuk self-
instructional, terutama pada anak yang bersifat impulsif, dengan cara perlu memperhatikan
tingkat kematangan berpikir, umur, IQ, dll. Penggunaan Cognitive self-instruction
hendaknya dikombinasikan dengan latihan dan tugas pekerjaan rumah sehingga akan sangat
efektif untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan asertifnya(Kazdin & Mascitelli,
1982). (Nursalim, 2013)

Cara ini lebih mudah dilakukan pada anak-anak antara usia 8-12 tahun karena pola
berfikir mereka lebih mudah di rubah, dan ketika perubahan yang diberikan adalah
perubahan yang baik maka hal tersebut akan lebih mudah menempel dan bertahan dalam
pola perilaku mereka. Pada masa ini anak-anak lebih mudah mengidentifikasi perilaku yang
di contohkan oleh lingkungannya, sehingga pada saat konselor memberikan model model
kepada siswa, maka siswa akan dengan cepat menirukan dan menjadi perilaku yang
menetap pada diri siswa.

2.5 PROSEDUR COGNITIVE MODELING

Dalam buku Strategi & Intervensi Konseling para peneliti pemodelan kognitif dan self
instructional menybutkan langkah-langkah dalam melakukan strategi ini, yakni :

1. Konselor bertindak sebagai model(bisa menggunakan model simbolis)dan langkah


pertama melaksanakan tugas sambil berbicara pada diri sendiri secara keras/lantang.
2. Konseli melaksanakan tugas yang sama (seperti yang diharapkan oleh konselor)
sambil konselor memberi perintah jelas dan lantang.
3. Konseli diperintahkan untuk melaksanakan tugas yang sama kembali sambil
meginstruksikan diri sendiri dengan keras/lantang
4. Konseli membisikkan perintah-perintah tersebut pada diri sendiri sambil
melaksanakan tugasnya.
5. Akhirnya konseli melaksanakan tugasnya sambil memerintahkan diri secara
tersembunyi tersembunyi (covertly) / dalam hati.
Perlu diketahui bahwa pemodelan kognitif ini tergambar dalam langkah-langkah,
sedangkan langkah 2 sampai 5 merupakan latihan pada self-verbalization (bisik diri) sambil
melaksanakan tugasnya / tingkah lakunya. Pernyataan pernyataan konseli ini diucapkan
secara terbuka sampai tertutup (dalam hati).
Pemodelan kognitif dan self-instruction ini harus diimplementasikan dengan 7 langkah
yaitu:

1. Memberikan rasional
2. Pemodelan penugasan secara kognitif dan self-verbalization (bisik diri) yaitu
dengan melatih konseli
3. Bimbingan terbuka dari konselor
4. Bimbingan terbuka dari konseli sendiri
5. Bimbingan pada diri sendiri secara terbuka
6. Bimbingan pada diri sendiri secara tertutup
7. Pekerjaan rumah dan tindak lanjut (Nursalim, 2013)

Dalam strategi ini tidak hanya berfokus pada konseli, namun juga kepada konselor
karena apa yang dimodelkan oleh konselor lah yang akan di tirukan oleh konseli, dan akan
menjadi perilaku yang akan menetap. Jika konselor salah dalam menganalisis masalah yang
di alami oleh konseli, tidak menutup kemungkinan pemodelan yang dilakukan oleh konselor
juga tidak sesuai dengan masalah konseli. Sehingga sebelum melakukan proses konseling
konselor harus mengumpulkan informasi-informasi yang menunjang proses konseling.

Pembentukan hubungan yang baik akan memudahkan konselor member instruksi


kepada konseli untuk melakukan modeling. Modeling harus di lakukan berulang ulang agar
perilaku yang ingin di hadirkan oleh konselor dapat benar-benar tertanam pada kognitif
konseli. Selain harus di lakukan secara berulang, konselor juga harus memberikan beberapa
tugas untuk melihat perkembangan perubahan sikap pada konseli.

Dalam buku Strategi dan Intervensi Konseling di jelaskan tentang implementasi 7


langkah dalam cognitive modeling, yakni :

1. Rasional
Konselor memberikan rasional yang benar terhadap konseli ketika dia mengalami
masalah yang disebabkan oleh pikiran-pikiran yang menghambatnya dengan cara
memberikan latihan self talk (katanya pada diri sendiri) sehingga dengan adanya hal
tersebut konseli dapat melakukan tugasnya secara baik. Setelah dasar pemikiran
disampaikan dan beberapa pertanyaan dijelaskan, konselor mulai menampilkan
pemodelan kognitif.
2. Pemodelan Penugasan dan self-Guidance
Pada langkah ini konselor memerintahkan konseli untuk mendengarkan apa yang
dikatakan oleh konselor kepada dirinya pada saat melakukan tugas, pada saat
melakukan tugas itu sambil berbicara keras/lantang (Meichenbaum&Goodman
(1971). Adapun contoh self-instruction (instruksi/perintah diri) yang diperagakan
untuk melatih anak yang tergolong impulsive yaitu mencontoh sebuah pola sebagai
berikut:
Pertanyaan
a. Apa yang harus dilakukan
b. Jawab pertanyaan tersebut dengan merencanakan apa yang akan dikerjakan
c. Bimbingan diri sendiri (self-guidance) dan perhatian fokus
d. Self-reinforcement (penguat diri)
e. Penguasaan pernyataan-pernyataan self-evaluation (penilaian diri) dengan
daftar/format koreksi kesalahan

Dialog :
a. Baiklah apa yang harus aku lakukan?
b. Anda ingin aku menghitung soal yang ada di papan tulis
c. Aku harus pelan-pelan dan hati-hati, baiklah...aku harus mengalikan dua
angka kemudian menambahkan dengan angka berikutya kemudian aku harus
membaginya
d. Oke...andai aku melakukan keseluruhan aku bisa melanjutkannyan lagi dengan
pelan dan hati-hati sekarang aku harus mengalikan lagi dengan angka yang
diminta pada soal, nah sekarang ketemu hasilnya oke aku bisa menyelesaikan.
e. Sekarang aku harus lihat hasilnya tetapi kelihatannya ada yang salah, oke aku
harusnya membaginya dan mengalikannya...tak apalah hapus saja dan aku
akan menggantinya..hati..hati!

Contoh dialog diatas menunjukkan bahwa self-guidance HARUS terdiri dari 5 bagian:
Bagian I : Dari verbalisasi menanyakan tentang keaslian dan tuntutan dari tugas
yang hrus dilakukan. Tujuan dari pertanyaan tersebut adalah untuk
mengimbangi kekurangan dalam memahami apa yang harus dikerjakan
dikerjakan, untuk memberikan orientasi secara umum dan untuk mengatur pola
pikir/kognitif.
Bagian II :Dari verbalisasi yang diperagakan, menjawab pertanyaan tentang
apa yang harus dilakukan. Jawabannya dirancang untuk memperagakan latihan
kognitif dan perencanaan yang bertujuan untuk mengarahkan perhatian konseli
pada tugas-tugas yang diminta, pada latihan ini self-instruction(instruksi
diri)membentuk self-guidance(bimbingan diri)pada saat melakukan tugas.
Bagian III : Dari verbalisasai yang diperagakan(Modeled Verbalization)
tujuan self-guidance adalah untuk memfasilitasi perhatian(fokus)terhadap tugas
dan untuk mencegah setiap gangguan baik overt(terbuka) maupun
covert(tertutup)dari tugas yang tidak relevan.
Bagian IV : Contoh self-reinforcement yang diperagakan dirancang untuk
menjaga ketekunan dalam melakukan tugas dan memperkuat keberhasilan.
Bagian V : Dari verbalisasi yang diperagakan terdiri dari penguasaan self-
statement untuk mengatasi kesalahan dan frustasi dengan pilihan-pilihan untuk
mengoreksi kesalahannya.
3. Bimbingan Secara Terbuka dari Konselor (Overt External Guidance)
Setelah konselor memperagakan verbalisasinya, konseli diminta untuk melakukan
tugas(seperti yang diperagakan konselor), sementara itu konselor sambil melatihnya.
Disini konselor dalam melatih konseli dengan menggunakan kata kamu sebagai
pengganti saya(Apa yang kamu...., kamu harus hati-hati).Konselor dalam melatih harus
mengikuti 5 bagian yang sama dari self guidance seperti yang sudah disebutkan tadi
yaitu :
Pertanyaan
Perencanaan
Perhatian yang terpusat(fokus)
Self-reinforcement
Penguasaan self-evaluation

Apabila saat konseli berlatih ada kehadiran orang lain yang menjadikan konseli
terganggu, maka konselor dapat berkata :orang-orang itu mungkin mengganggu kamu,
jangan kamu hiraukan, tetap pusatakan perhatianmu pada apa yang kamu kerjakan
[Link] seperti ini dapat diucapkan konselor ketika menggunakan overt external
guidance, agar prosedur ini nantinya diharapkan serupa dengan keadaan yang dihadapi
konseli pada kehiduan sebenarnya. (Nursalim, 2013)
4. Bimbingan Secara Terbuka dari Konseli Sendiri(Overt self-guidance)
Konselor selanjutnya memerintahkan konseli untuk melaksanakan tugas sambil
membimbing diri sendiri dengan suara yang keras/lantang. Tujuan dari langkah ini
adalah untuk memberikan latihan kepada konseli jenis self-talk yang akan memperkuat
perhatian terhadap tuntutan tugas dan akan meminimalkan gangguan dari luar, seperti
pada dua langkah yang telah dibahas verbalisasi ini harus mengandung 5 komponen dan
konseli harus diyakinkan untuk menggunakan kalimatnya [Link] kata konseli
kehabisan kata-kata maka konselor dapat membantu dan melatihnya. Jika perlu
konselor dapat kembali mengulang langkah sebelumnya atau melatih lagi overt external
guidance. Setelah konseli melakukan langkah ini konselor harus memberikan tanggapan
bagian mana dari latihan tersebut yang dapat diselesaikan dengan baik oleh konseli dan
tentang kesalahan atau kekurangan yang diperbuat.
5. BIMBINGAN PADA DIRI SECARA TERBUKA(Faded Over self-guidance)
Selanjutnya konseli melakukan tugasnya sambil berbisik (dengan menggunakan
bibir),pemodelan ini menjadikan langkah pertengahan konseli dalam mengungkap kata-
kata sampai ia mengungkapkan tanpa kata-kata.
6. BIMBINGAN DIRI SECARA TERTUTUP(Covert Self-Guidance)
Pada langkah ini konseli dapat melakukan tugas dengan membimbing dan memerintah
dirinya secara tertutup(di dalam kepala).
7. PEKERJAAN RUMAH DAN TINDAK LANJUT
Pekerjaan rumah dapat diberikan konselor dengan cara :
a. Memantau apa yang dikerjakan konseli
b. Berapa banyak dan seberapa sering
c. Kapan dan dimana PR tersebut akan dikerjakan
Pekerjaan rumah dan tindak lanjut harus terjadwal dengan baik.
2.6 CONTOH PERCAKAPAN COGNITIVE MODELING DAN COGNITIF SELF-
INSTRUCTION TRAINING

Dalam melakukan strategi cognitive modeling langkah pertama yang harus dilakukan
adalah dengan memberikan alasan penggunaan pemodelan kognitif dalam menyelesaikan
masalah konseli. sebagai contoh seorang siswa mengalami masalah saat berbica di depan
orang banyak atau di depan kelas. Maka yang harus dilakukan pertama kali oleh konselor
adalah memberitahu tujuan pemodelan kognitif ini bertujuan untuk membantu konseli dalam
menghilangkan rasa takut dan rasa tidak percaya diri saat berada di depan kelas.

Konselor : Jadi salah satu tujuan yang akan kita kembangkan adalah untuk
membantu saudara dalam meninimalisir rasa malu dan rasa tidak
percaya diri pada saat berbicara di depan umum. Salah satu prosedur
yang bisa membantu meringankan masalah anda adalah dimana saya
akan memperagakan apa yang ingin anda lakukan, bahkan dalam berfikir
maupun berbicara di dalam diri anda, tentang tugas-tugas ini. Jadi cara
ini akan membantu anda menemukan cara mengembangkan rencana-
rencana dalam melaksanakan tugas tersebut. bagaimana menurut anda?

Konseli : Apakah dengan cara ini akan berhasil?

Konselor : Tentu saja tidak, tidak akan sulit jika anda sudah mencobanya, saya
akan member contoh dengan berbicara secara keras pada diri saya
sendiri, seakan-akan saya membimbing diri saya sendiri dalam
melakukan hal tersebut. Dan kemudian anda mengikuti saya untuk
melakukan hal yang sama hingga anda bisa melakukannya sendiri, dan
anda dapat berfikir tentang langkah apa yang harus anda lakukan
setelahnya. Bagaimana menurut anda?

Konseli : Saya masih belum yakin dengan hal tersebut.

Konselor : Apakah anda ingin mencobanya?

Konseli : Iya saya ingin mencobanya.

Konselor : Dalam prosesnya, paling tidak ada empat hal yang dapat dilakukan
dalam usaha meningkatkan kepercayaan diri anda saat berbicara di
depan umum. Yakni menjawab pertanyaan guru di depan kelas,
mengungkapkan pendapat di depan kelas, atau berdiskusi dengan teman
satu kelas. Yang mana yang ingin anda lakukan terlebih dahulu?

Konseli : Menjawab pertanyaan guru di depan kelas, tapi jika saya salah
menjawab maka saya akan di tertawakan oleh teman-teman satu kelas.

Konselor : Sepertinya anda merasa sedikit gugup, namun prosedur ini akan
membantu anda untuk lebih berkonsentrasi pada tugas yang diberikan
daripada terhadap diri anda sendiri. Sekarang saya akan berpura-pura
maju kedapan kelas, dan saya akan ngengungkapkan secara keras apa
yang saya pikirkan, yang mungkin dapat membantu anda dalam
menjawab soal [Link] dengarkan dengan baik, karena setelah
ini anda akan melakukan hal yang sama dengan apa yang sudah saya
lakukan. Apakah ada pertanyaan?

Konseli : Tidak, saya sudah faham. Saya akan memperhatikan dengan seksama.
Saya akan menirukan gara guru Bahasa Inggris saya yang saat member
tugas nampak sangat menakutkan dan membuat gugup.

Konselor : Baik, kamu bisa membantu jalannya adegan. Sekarang mintalah saya
maju kedepan dengan memanggil nama saya.

Konseli : (Berperan sebagai sebagai guru Bahasa Inggris) Agil maju ke depan
dan bacakan cerita di halaman 20, dan jawab pertanyaannya.

Konselor : (Berperan sebagai Konseli, seolah-olah berjalan ke depan kelas, dengan


membawa buku, dan berkata dengan lantang: Apa yang harus saya
lakukan ya? Dia memintaku untuk membaca cerita dan menjawab
pertanyaan di bawahnya. Ya, aku harus membacanya dengan pelan-pelan
dan tidak gugup. Baik, aku harus membacanya dengan perlahan dan
memahami isi bacaan tersebut.(konselor memusatkan perhatian dan
menggunakan self-guidance). Bagaimana jika jawaban ku tadi salah?aq
mendengar ibu guru itu berdeham, coba aku cari lagi jawabanya. Nah,
bagus. Jika aku mengerjakannya dengan pelan-pelan dan konsentrasi,
aku dapat menemukan jawabnnya walaupun aku tidak memahami
sepenuhnya arti dari cerita di atas. Ok aku berhasil, aku telah selesai
dan dapat kembali ke tempat duduk lagi.
Konselor : Baiklah sudah selesai, sekarang mari kita berganti peran, saya ingin
anda berdiri dari tempat duduk, berjalan ke depan kelas, dan menjawab
tugas yang di berikan oleh guru. Saya akan melatih kamu tentang rencana
selama proses berlangsung. bagaiaman apa anda sudah siap? Kamu
hanya harus berkonsentrasi dalam menjalankan tugas dan memikirkan
tentang rencana yang saya berikan.

Kenseli : Baik bu, saya mengerti.

Konselor : Baik, sekang saya akan menjadi gurumu dan meminta anda menjawab
pertanyaan yang saya berikan. Agil tolong aku maju ke depan, bacakan
cerita di halaman 20 dan jawab pertanyaan di bawahnya. Sekarang coba
baca dengan pelan-pelan dan konsentrasi. Lalu tanyakan pada dirimu
sendiri, Apakah yang harus saya lakukan dengan bacaan ini? Nah
sekarang bacalah dengan perlahan dan lantang, carilah inti dari
pertanyaan dengan mencari kata-kata yang sama pada bacaan yang telah
kamu baca. Setelah mendapatkannya, kamu baca kaliamat yang ada
didalam cerita dengan perlahan dan tegas. Walaupun guru mu berdeham,
kamu terus saja membaca. Sekarang anda telah mendapatkan jawaban
dari pertanyaan tersebut. bagus, anda berhasil. Sekarang anda boleh
kembali ke tempat duduk.

Konselor : Bagaimana perasaan anda saat melakukan praktik tadi?

Konseli : Saya merasa sangat gugup dan tidak bisa berkonsentrasi dengan bacaan
saya, sehingga saya sulit mencari jawaban di bacaan tersebut. saya juga
takut pada saat guru saya berdeham karena beliau terlihat sangat
menakutkan.

Konselor : Ya benar, pikiran-pikiran semacam itulah yang membuat anda merasa


sulit berkonsentrasi dan akhirnya tidak dapat mengerjakan soal. Maka
latihan semacam ini dapat membantu dan memberikan kesempatan
kepada anda untuk berusaha berkonsentrasi pada apa yang ingin anda
lakukan.

Konseli : Saya paham bu sekarang.

Konselor : Sekrang mari kita ulangi apa yang telah kita lakukan, namun saya ingin
anda melakukannya sendiri tanpa bantuan dari saya. Anda berdiri dan
melakukannya sendiri dengan mengungkapkan dengan keras apa yang
anda pikirkan.

Konseli : Baik saya paham bu.

(Konseli melakukan lagi apa yang sudah dilakukan, dengan mengungkapkan pikiran
dan perasaannya dengan keras dan lantang.)

Konselor : Apa yang anda lakukan sudah sangat bagus Agil. Walaupun guru mu
berdeham anda tetap berkonsentrasi.

Konseli : Setelah melakukannya saya merasa semakin mudah bu.

Konselor : Baik, hal ini tidak hanya bisa anda lakukan disini, namun juga bisa juga
anda lakukan untuk mengerjakan PR di rumah. Nah sekarang mari kita
lakukan sekali lagi, namun tanpa anda mengatakan apa yang sedang
anda lakukan dan anda pikirkan. Bagiamana?

Konseli : Jadi saya tidak lagi harus mengatakan apa yang pikirkan dengan
keras?

Konselor : Iya..

(konseli mempraktikkan sekali lagi apa yang sudah di lakukannya tadi)

Konselor : Lalu apa yang anda rasakan saat melakukannya tadi?

Konseli : Saya merasa lebih tenang, dan bisa berkonsentrasi dalam menjawab
pertanyaan di depan kelas.

Konselor : Hal ini di lakukan untuk kepentingan anda, tidak hanya dalam
berkomunikasi dengan teman satu kelas, namun juga dapat di gunakan
untuk melatih kesiapan mental anda dalam berbicara di depan kelas.
Sebaiknya hal ini di lakukan berulang kali, setidaknya dalam minggu ini
saja. Apakah anda mau melakukannya?

Konselor :Nampaknya hal ini akan sangat membantu saya.

Konselor : Saya rasa hal ini akan menjadi penolong anda jika anda mau
melakukannya terus menerus dalam minggu-minggu ini.

Konseli : Yang ibu maksud tidak hanya di sekolah atau di kelas?


Konselor : Iya, hal ini akan sangat membantu di manapun anda berada, cobalah
dengan mengungkapkan pendapat anda di hadapan kelarga anda, atau
orang-orang di lingkungan anda. Selesaikan masalah satu per satu dan
instruksikan keoada hati anda. Apakah ada pertanyaa?

Konsel : Tidak bu, saya sudah sangat jelas dengan penjelasan anda.

Konselor : Baiklah jika sudah tidak ada lagi yang mau di tanyakan, tolong berikan
tanda (tally) apabila anda berhasil berbicara di depan umum, atau di
depan orang lain yang baru anda kenal. Minggu berikutnya bawalah
kertas ini kepada saya, dan kita akan melgevaluasi dan menentukan
kapan kegiatan ini akan di akhiri.
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Cognitive modeling adalah suatu prosedur dimana seorang konselor menunjukkan


kepada seorang siswa tentang apa yang harus dikatakan pada diri sendiri di saat
melaksanakan sebuah tugas. Meichenbaum & Goodman (1971), menggunakan model ini
untuk mengembangkan kontrol diri (self-control) pada anak-anak yang usianya masih
muda. Kendall & Brawsell (1982) menemukan bahwa anak-anak yang bermasalah antara 8-
12 tahun, dengan adanya latihan ini dapat membantu guru dalam menangani masalah
siswanya.

Peneliti pemodelan kognitif dan self instructional menybutkan langkah-langkah dalam


melakukan strategi ini, yakni :

6. Konselor bertindak sebagai model(bisa menggunakan model simbolis)dan langkah


pertama melaksanakan tugas sambil berbicara pada diri sendiri secara keras/lantang.
7. Konseli melaksanakan tugas yang sama (seperti yang diharapkan oleh konselor)
sambil konselor memberi perintah jelas dan lantang.
8. Konseli diperintahkan untuk melaksanakan tugas yang sama kembali sambil
meginstruksikan diri sendiri dengan keras/lantang
9. Konseli membisikkan perintah-perintah tersebut pada diri sendiri sambil
melaksanakan tugasnya.
10. Akhirnya konseli melaksanakan tugasnya sambil memerintahkan diri secara
tersembunyi tersembunyi (covertly) / dalam hati.
DAFTAR PUSTAKA

Cormier, W.H. & Cormier, L.S. 1995. Interviewing Strategies for Helpers. Fundamentals
Skills and Cognitive Behavioral Interventions. [Link].. Monterey, California :
Books/Cole Publishing Company

Nursalim, Mochamad. 2013. Stratedi dan Intervensi Konseling. Surabaya: Akademia Permata

Handbook of brief cognitive behavior therapy

Cognitive behavior intervention in education setting

[Link] di akses pada 24


september 2014

[Link] di akses pada 24 september


2014

Anda mungkin juga menyukai