1
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring dengan meningkatnya kebutuhan bahan konstruksi maka
keberadaan industri kayu lapis mulai berkembang. Perkembangan itu dimulai
setelah tahun 1930-an yang ditandai dengan penggunaan kempa panas dari Eropa
dan perekat resin sintetis sebagai perkembangan teknik yang memiliki peranan
penting pada pertumbuhan awal industri kayu lapis. Pada tahun 1972 di Amerika
Serikat ada sekitar 600 perusahaan pembuat kayu lapis dan vinir yang telah
mampu mengekspor kayu lapis sebesar US$ 3 Milyar (Haygreen and Bowyer,
1993).
Kayu lapis merupakan produk komposit yang terbuat dari lembaran-
lembaran vinir yang direkat bersama dengan susunan bersilangan tegak lurus.
Kayu lapis termasuk kedalam salah satu golongan panel struktural, dimana arah
penggunaan kayu lapis ini adalah untuk panel-panel struktural. Cikal bakal
munculnya kayu lapis terjadi di Mesir sekitar tahun 1500 SM, dimana pada masa
tersebut orang-orang Mesir telah mampu membuat vinir untuk menghiasi perabot
rumah tangga mereka. Selanjutnya disusul bangsa Yunani dan Roma kuno
mengembangkan alat pemotong vinir (Haygreen and Bowyer, 1993).
Di Indonesia sendiri, perkembangan industri kayu lapis terjadi sekitar
tahun 1980-an semenjak diberlakukannya larangan ekspor kayu bulat oleh
pemerintah. Pada tahun tersebut kondisi hutan di Indonesia masih sangat
mendukung perkembangan industri kayu lapis, ketersediaan log-log berdiameter
2
besar dan silindris yang berasal dari hutan alam sebagai syarat utama bahan baku
dalam pembuatan kayu lapis masih cukup melimpah (Iswanto, 2008).
Saat ini, kebutuhan kayu sebagai bahan baku industri kayu lapis
semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, terutama
kebutuhan terhadap kayu bulat berdiameter besar. Akan tetapi potensi kayu bulat
berdiameter besar dan memiliki kualitas bagus yang terdapat di hutan alam
semakin berkurang sehingga ketersediaannya menjadi terbatas. Hal ini
menimbulkan permasalahan di industri perkayuan terutama industri kayu lapis
yang menggunakan kayu bulat berdiameter besar sebagai bahan baku. Jika
hal ini tetap dibiarkan berkelanjutan, masa depan industri kayu lapis dapat
terancam kesulitan bahan baku (Arsadi, 2011).
Upaya yang perlu dilakukan untuk mengatasi keterbatasan ketersediaan
kayu bulat berdiameter besar yaitu dengan memanfaatkan kayu bulat berdiameter
kecil (Small Diameter Logs) yang berasal dari hutan rakyat maupun hutan
tanaman industri. Akan tetapi dalam pemanfaatannya terdapat kendala yakni kayu
bulat berdiameter kecil banyak mengandung kayu juvenile yang menyebabkan
kerapatan dan kekuatannya lebih rendah dari kayu mature. Selain itu,
stabilitas dimensi Small Diameter Logs (SDL) lebih rendah dari Large
Diameter Logs (LDL) (Massijaya et al. 2010). Oleh karena itu, dibutuhkan
teknologi yang baik dan pengolahan yang tepat agar diperoleh produk yang
berkualitas (Arsadi, 2011).
3
1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui cara
pembuatan, bahan yang digunakan, mutu serta kegunaan dari kayu lapis
struktural.
4
II. ISI
2.1 Defenisi Kayu Lapis (Plywood)
Hing (1992) mendefinisikan kayu lapis adalah sebuah papan tiruan
yang terbuat dari lembaran-lembaran tipis atau vinir kayu yang terdiri dari
tiga lapis atau lebih dimana setiap lapisan ditumpuk dan direkatkan satu
sama lain dengan arah serat berlawanan atau tegak lurus. Namun, menurut
Bowyer et al. (2003) kayu lapis merupakan sebuah produk panel dari
lembaran vinir yang direkatkan bersama-sama sehingga arah seratnya tegak
lurus dari beberapa vinir kayu dan sejajar atau searah panel.
Kebanyakan jenis plywood, orientasi seratnya dari setiap lembaran
saling tegak lurus satu sama lain. Pada umumnya kayu lapis dibuat dengan
jumlah lapisan ganjil, tetapi ada beberapa kayu lapis yang dibuat dengan
jumlah lapisan genap seperti empat dan enam lapis (Bowyer et al. 2003).
Sifat dan kinerja kayu lapis dipengaruhi beberapa faktor. Menurut Faherty
dan Williamson (1999) faktor-faktor yang mempengaruhi sifat dan kinerja
kayu lapis berasal dari komposisi kayu lapis itu sendiri, antara lain
ketebalan lapisan, jumlah lapisan, jenis vinir dalam satu panel, orientasi lapisan,
kualitas kelas vinir dan jenis perekat. Kombinasi dari komposisi tersebut
memungkinkan produsen untuk menyesuaikan produk sesuai tujuan
penggunannya.
Contoh kayu yang dapat digunakan sebagai bahan baku kayu lapis
antara lain meranti, kamper, mersawa, mengkulang, gerunggang, mahoni,
5
agathis, trembesi, sengon, mindi dan sebagainya. Diameter log yang
digunakan disarankan diatas 30 cm, tetapi saat ini mesin-mesin yang lebih
modern dapat mengolah log dengan diameter yang lebih kecil.
2.2 Penggolongan Kayu Lapis
Berdasarkan penggunaannya, kayu lapis dikelompokkan menjadi dua
yaitu interior dan eksterior plywood. Youngquis (1999) mengelompokkan
kayu lapis menjadi dua bagian yaitu :
Kayu lapis konstruksi dan industri
Kayu lapis hardwood dan dekoratif
Berdasarkan jenis perekat yang dipergunakan, pengelompokan kayu
lapis dibedakan menjadi dua (Iswanto, 2008) :
Kayu lapis interior yaitu kayu lapis yang penggunaanya di dalam ruangan
atau dengan kata lain tidak langsung terekspos oleh kondisi lingkungan
luar ruangan, perekat yang dipergunakan adalah perekat interior seperti
UF, MF dan MUF .
Kayu lapis eksterior yaitu kayu lapis yang penggunaanya di luar ruangan
yang terekspos langsung dengan kondisi luar ruangan, perekat yang
dipergunakan adalah perekat eksterior seperti PF.
Berdasarkan finir mukanya, kayu lapis dikelompokkan menjadi :
6
Ordinary plywood yaitu kayu lapis dimana finir mukanya dihasilkan dari
proses rotary
cutting.
Fancy plywood yaitu kayu lapis dimanafinir mukanya terbuat dari kayu-
kayu indah dan dihasilkan dari proses slice cutting atau half rotary cutting.
2.3 Kegunaan Kayu Lapis
Menurut Massijya (2006), penggunaan kayu lapis dikelompokkan
menjadi:
Konstruksi bangunan
Paneling: penyekat ruang, pintu, jendela
Bahan pelapis
Lantai
Sidding : dinding
Plyform
Konstruksi alat-alat transportasi
Pesawat terbang : pelapis dinding bagian dalam
Kereta api : atap, lantai, dinding
7
Truk dan trailer : body
2.4 Proses Pembuatan Kayu Lapis (Plywood)
Proses pembuatan kayu lapis banyak variasinya, tetapi pada prinsipnya
menggunakan urutan dan tata cara yang relatif sama. Adapun urut urutan
pembuatan kayu lapis tersebut menurut Massijaya (2006) adalah sebagai berikut:
1. Seleksi Log
Log yang akan dipergunakan sebagai bahan bakukayu lapis diseleksi mulai
dari ukuran, bentuk, dan kondisinya terhadap cacat-cacat yang masih
diperbolehkan.
2. Perlakuan Awal Pada Log
Perlakuan awal ini ditujukan untuk memudahkan dalam proses
pengupasan log terutama untuk kayu yang memiliki kerapatan tinggi. Beberapa
perlakuan awal pada log diantaranya adalah pemanasan log (dengan air
panas, uap panas, uap panas bertekanan tinggi, listrik, memaksa air/ uap panas
masuk dari arah longitudinal).
Haygreen and Bowyer (1993) dan Tsoumis (1991) mengemukakan
beberapa keuntungan dari pemanasan log diantaranya adalah terjadi
peningkatan rendemen sebesar 3-5%, peningkatan kualitas vinir (ketebalan
lebih seragam, permukaan lebih halus, retak akibat pengupasan dapat
dikurangi), pengurangan biaya pengolahan, penguranganpemakaian jumlah
perekat, mengurangi perbedaan kadar air kayu gubal dan kayu teras,
memperbaiki warna kayu, membunuh jamur dan serangga perusak kayu.
8
3. Pembuatan Finir
Finir adalah lembaran papan tipis untuk membuat plywood, cara
pembuatannya ada 4 macam:
Cara Pengupasan (Rotary Cuttings)
Cara pengupasan akan menghasilkan finir untuk membuat plywood
biasa atau plywood penggunaan umum (general plywood). Dengan cara ini
bentuk bahan baku kayunya adalah log tanpa kulit. Finir yang dihasilkan
cukup panjang dan dapat dihasilkan dalam waktu yang relatif singkat.
Produk finirnya dapat untuk memenuhi bahan plywood sampai 80%
kebutuhan. Melalui cara ini, tebal finir yang diperoleh minimal 0,4 mm tetapi
yang banyak dibutuhkan adalah 0,6-1,0 mm. Cara pengupasan finir dapat dilihat
pada gambar berikut :
9
Gambar 1. Cara Pengupasan (Rotary Cuttings) Finir
Pada gambar tersebut terlihat bahwa pengupasan log dilakukan
mengikuti (searah) dengan permukaan batang kayu. Proses pembuatan finir
dengan pengupasan merupakan cara tercepat sehingga produktivitas dalam
menghasilkan finir persatuan waktu paling tinggi dibandingkan dengan cara
pembuatan finir lainnya. Kelemahan cara ini adalah kondisi finir yang dihasilkan
kurang tipis dan gambar seratnya tidak dekoratif.
Didalam proses pengupasan terlebih dahulu harus ditentukan titik pusat
log (center log) karena di tempat ini akan ditempatkan chuck (penjepit log).
Penentuan center log dapat dilakukan secara manual dan dengan mesin
senter (flash machine) yaitu melalui pencahayaan pada dua sisi potongan log
yang telah dilengkapi dengan pola-pola kedudukan pusat kayunya.
Pada pengupasan finir ini digunakan sudut kupas (knife angle) 89-92,5o
dan sudut tekan (nosebar) 20o. Besarnya sudut kupas dapat diatur dan ini
penting dilakukan dalam mendapatkan tebal finir. Sudut kupas yang disetel
besar akan menghasilkan finir yang tipis begitupun sebaliknya. Pada proses
pengupasan, bagian permukaan finir yang langsung bersinggungan dengan sisi
tajam pisau kupas disebut sisi kasar (loose side), sedang sisi lainnya disebut sisi
halus (tight side). Di dalam proses pelaburan perekat sisi halus sangat
dianjurkan untuk diberikan perekat pertama kali agar lebih menghemat
perekatnya. Ada satu hal lagi yang harus diperhatikan dalam proses
10
pengupasan log, yaitu bahwa kecepatan mesin kupas harus sejalan dengan
kekerasan kayunya, artinya kayu yang memiliki berat jenis tinggi harus
dikupas lebih cepat dibandingkan dengan kayu yang memiliki berat jenis rendah.
Cara Penyayatan/Pengirisan (Slicing)
Cara penyayatan akan menghasilkan finir yang lebih tipis yaitu dengan
tebal 0,2-0,6 mm dan umumnya berfungsi untuk melapis plywood biasa.
Dengan cara ini menghasilkan plywood yang lebih dekoratif (gambar
seratnya baik) dengan ukuran lebar dan panjang relatif masih sama dengan ukuran
bahan baku aslinya. Kayu yang digunakan umumnya dari jenis kayu yang
mempunyai berat jenis tinggi dengan warna kayu lebih dan bergambar serat
bagus (dekoratif). Dengan demikian harus ada perlakuan proses penyayatan
yaitu bahan baku kayu harus direndam, direbus atau dikukus dulu. Fungsi
perebusan adalah untuk meningkatkan elastisitas kayu (karena melunak) dan
melarutkan zat ekstraktif yang biasanya dapat mengganggu proses
perekatannya. Elastisitas kayu dapat meningkatkan rendemen finir yang
dihasilkan karena finir yang robek atau putus lebih sedikit.
Bentuk bahan baku kayu yang akan disayat dapat berupa flitch (kayu
persegi tanpa hati) atau blockware (belahan kayu). Dalam bentuk blockware
rendemen finirnya dapat meningkat sampai 50% dibandingkan dengan bahan
berupa flitch. Didalam pembuatannya, finir sayat dapat dilakukan dengan
menggunakan bahan baku berupa log tanpa kulit yang dikupas eksentris,
11
yaitu center log tanpa penjepit tidak berada tepat ditengah-tengah tetapi lebih ke
pinggir.
Gambar 2. Cara Penyayatan/pengirisan (Slicing)
Proses penyayatan dapat dilakukan dengan cara kayu bergerak maju
mundur dan pisau sayat diam atau sebaliknya. Penyayatan dapat dilakukan pada
arah vertikal dan horizontal. Tipe penyayatan yang paling banyak digunakan
adalah arah penyayatan horizontal, kayu yang disayat bergerak maju mundur
dan pisau sayat diam. Proses penyayatan untuk menghasilkan finir dengan tebal
tertentu dilakukan secara otomatis.
Cara Penggergajian/Sawing
Merupakan cara paling tua dan sudah sangat jarang digunakan,
karena finirnya cukup tebal yaitu minimal 5 mm. Bahan kayu yang digunakan
12
berbentuk kayu persegi dan rendemennya rendah. Kalaupun masih ada hanya
dapat dijumpai pada industri kecil. Proses penggergajian menggunakan
circular sawing of veneer atau horizontal gang saw for veneer.
Cara Perautan
Prinsip cara pembuatan finir iniadalah seperti orang meruncingkan pensil
(pensil adalah analogi log tanpa kulit). Cara ini sekarang sudah ditinggalkan dan
tak dikembangkan lagi.
4. Penyortiran Vinir
Kegiatan ini dilakukan untuk menyeleksi vinir setelah proses pengupasan.
Vinir dipisahkan antara yang rusak dengan yang tidak serta vinir untuk bagian
face dan core.
5. Pengeringan Vinir
Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi kadar air vinir
sehingga dapat menghindarkan terjadinya blister pada kayu lapis setelah
dilakukan pengempaan panas. Tsoumis (1991) mengemukakan bahwa temperatur
dalam pengeringan vinir sekitar 60-80o C tergantung pada jenis kayu, kadar air
awalnya, ketebalan vinir.
6. Perekatan Kayu Lapis
Untuk merekat finir-finir hingga menjadi plywood dapat digunakan
berbagai macam perekat, misalnya :
13
Berdasarkan asal bahannya, dibedakanatas:
Perekat nabati, misalnya kedelai, kacang, ketela (tapioka)
Perekat hewani, misalnya kasein (susu), fibrin, protein, tulang
Perekat sintesis, misalnya urea formaldehid, fenol formaldehid, melamin,
formaldehid, resorcinol formaldehid
Berdasarkan ketahanannya terhadap air dan pengaruh cuaca luar
dibedakan atas :
Perekat WBP, yaitu perekat yang tahan terhadap cuaca luar,air,
dan kelembaban udara sekitar. Jenis perekat ini misalnya fenol
formaldehid, dan kayu lapis yang dihasilkan dengan perekat ini disebut
eksterior plywood (tipe 1). Apabila sangat tahan terhadap kelembaban
udara sekitar kekuatan rekatnya 5-15 kg/cm2.
Perekat MR, yaitu perekat yang tidak tahan terhadap kelembaban
udara dalam ruangan. Contoh jenis perekat ini misalnya urea
formaldehid, dan kayu lapis yang dihasilkannya disebut interior
plywood (tipe II). Kalau diuji kekuatannya kurang dari 5 kg/cm.
Berdasarkan cara mengerasnya :
Perekat yang mengeras secara panas, misalnya perekat darah, fibrin
(hewani), perekat sintesis.
14
Perekat yang mengeras secara dingin, misalnya perekat tulang, nabati.
Perekat yang mengeras karena adanya reaksi kimia misalnya : kasein
(susu), perekat sintesis.
Perekat yang mengeras karena evaporasi pelarutnya : perekat-perekat
yang larut dalam air.
Berdasarkan kemampuan pemulihannya :
Perekat thermoplastic, dapat dipulihkan dan diperbaiki ulang
Perekat thermosetting, tidak dapat dipulihkan
Apabila akan digunakan untuk merekatkan finir dalam pembuatan
plywood maka jenis-jenis perekat tersebut harus ditambahkan lagi dengan
beberapa bahan lain antara lain :
Hardener (pengeras), misalnya NH4Cl (sekitar 1%)
Extender (pengembang), misalnya tepung kayu, tepung tempurung kelapa,
tepung kaolin (sekitar 6%)
Air (sebagai pengatur kekentalan, secukupnya)
Setiap campuran perekat dengan kekentalan (poise) tertentu mempunyai
masa pakai tertentu sehingga perlu diperhatikan dalam penyiapan dan
15
penggunaannya. Banyaknya perekat yang dilaburkan (GPU) per satuan luas
lembar panel plywood yang dibuat ditentukan dengan rumus :
(Dalam gram satuan panel)
Keterangan :
GPU = Gram Pick Up (kg/m2/cm2)
S = $ MSGL/ $ MDGL biasanya 20-50
A = Luas panel (m2, cm2)
Penjelasan tentang S dapat silihat sebagai berikut :
$ MSGL = million square glue line, yaitu sistem pelaburan perekat dengan satu
garis perekat.
Gambar 3. Sistem Pelaburan Perekat denga Satu Garis Perekat
16
$ MDGL = million square double glue line, yaitu sistem pelaburan perekat
dengan dua garis perekat.
Gambar 4. Sistem Pelaburan Perekat dengan Dua Garis Perekat
Perekat yang dilaburkan (GPU) $MDGL = $MSGL + 10%
Apabila plywood tersusun atas 3 lapis finir, maka pelaburan dilakukan
dengan sistem $ MSGL pada kedua permukaan finir core.
Kalau plywood 5 lapis, yang diberi perekat adalah kedua permukaan dari
masing-masing cross-bandnya (ada2 cross band). Cross band adalah finir
nomor 2 dari atas-bawah langsung dibawah face dan back veneernya.
Apabila plywood 7 lapis yang diberi perekat adalah kedua permukaan
dari 2 CB dan dua permukaan dari satu center core veneer-nya. Center core
adalah finir yang letaknya paling tengah dari yang ditengah di dalam
susunan plywood tersebut.
17
Proses perekatan biasanya sering memberikan hasil yang tidak memadai
atau mengalami kegagalan yang umumnya disebabkan oleh kondisi finir (kadar
air dan porositas) dan perekatnya sendiri, disamping proses perekatan tersebut.
Kagagalan tersebut adalah :
BGJ : Bleeding Glue Joint, yaitu kegagalan perekatan yang disebabkan
karena kelebihan perekat dalam proses perekatan, sehingga perekat
menjadi meluap keluar. Hal ini disebabkan karena perekat yang diberikan
berlebihan, perekat terlalu encer atau karena kadar air finir/kayunya terlalu
tinggi.
SGJ : Starved Glue Joint, yaitu kegagalan perekatan, yang disebabkan
karena kekurangan perekat dalam proses perekatan, sehingga permukaan
finir/kayu tidak terlabur perekat secara merata. Hal ini disebabkan karena
jumlah perekat yang dilaburkan kurang, porositas finir/kayu yang tinggi
atau karena kadar air finir/kayu yang direkat sangat rendah. Kadar air
finir yang akan direkat sebaiknya sebesar 6-8%,atau jangan melebihi 10%.
Perekat Urea Formaldehide (UF)
Pizzi (1994) mengemukakan bahwa perekat UF merupakan hasil reaksi
polimer kondensasi dari formaldehid dengan urea. Keuntungan dari perekat UF
antara lain larut air, keras ,tidak mudah terbakar, sifat panasnya baik, tidak
berwarna ketika mengeras serta harganya murah.
Hiziroglu (2007) mengemukakan beberapa karakteristik dari perekat Urea-
Formaldehyde (CH4N2OCH2O)x antara lain:
18
pH : 7.98
Titik didih : 100
Berat jenis : 1.2
Solid content : 64.8%
Vick (1999) mengemukakan bahwa perekat UF ada yang berbentuk
serbuk atau cair, berwarna putih, garis rekatnya tidak berwarna dan lebih durable
apabila dikombinasikan dengan melamin. Penggunaan perekat ini adalah untuk
kayu lapis, meubel, papan serat dan papan partikel.
Tsoumis (1991) mengemukakan bahwa UF tersedia daalam bentuk cair
atau serbuk. Resain ini mengeras pada suhu 95-130oC. UF tidak cocok dipakai
untuk eksterior. Namun kinerjanya dapat diperbaiki dengan penambahan Melamin
Formaldehyde atau Resorcynol Formaldehyde sekitar 10-20%. Hasil sambungan
dengan UF tidak berwarna sampai berwarna coklat terang. Kelemahan dari UF
antara lain tidak tahan air serta menyebabkan emisi formaldehyde yang
berdampak pada kesehatan.
Perekat UF termasuk dalam kelompok perekat termosetting. Dalam
pemakaiannya sering ditambahkan hardener, filler, extender dan air. Menurut
Rayner (1967) dalam Joyoadikusumo (1984) perekat UF memiliki ketahanan
yang sangat baik terhadap air dingin, agak tahan terhadap air panas, tetapi tidak
tahan terhadap perebusan.
Setelah itu apabila dibuat plywood tiga lapis, khusus untuk finir yang akan
dijadikan sebagai core dilabur kedua permukaannya dengan lem/perekat melalui
mesin glue spreader, sedangkan finir-finir yang lain (F/B) dilekatkan pada finir
19
yang telah diberi perekat tersebut dengan ketentuan arah seratnya saling tegak
lurus satu sama lainnya.
Selanjutnya finir-finir yang telah direkatkan tersebut (jumlah finir harus
ganjil) dipress secara dingin dalam cold press selama 5-15 menit, tekanan 10-15
kg/cm2, dan kemudian dilanjutkan dengan pengempaan secara panas dalam
hot press dengan jalan memasukkan finir-finir yang telah direkatkan tersebut di
antara plat-plat baja panas dengan tekanan 10 kg/cm2, suhu 100-170o (umumnya
110- 120oC), selama1,5 menit.
Setelah itu rekatan finir (calon plywood) dikeluarkan dari mesin hot press
satu persatu sehingga diperoleh plywood (kayu lapis). Plywood selanjutnya
dipotong pinggirnya sesuai ukuran final dengan gergaji potong dobel (double
saw), kemudian dihaluskan (sanding) dan diperiksa kualitasnya (plywood
grading). Jika masih dijumpai kerusakan (sobekan atau lobang) dan
memungkinkan diperbaiki maka bagian muka plywood kemudian diperbaiki
lagi dengan didempul agar kualitas plywoodnya meningkat.
7. Pengempaan Kayu Lapis
Pengempaan plywood dapat dilakukan secara dingin (biasa),panas atau
kombinasi keduanya, yaitu pengempaansecara dingin dan panas. Apabila
digunakan kombinasi maka akan diperoleh hasil efisiensi pres panas yang
cukup tinggi karena perataan perekat telah dilakukan pada pres dingin.
Pengempaan kombinasi sangat cocok diaplikasikan pada penggunaan perekat
sintesis seperti UF dan PF.
Kondisi perekatan dapat diberikan sebagai berikut:
20
Pres dingin :
Waktunya lebih dari 5 menit
Tekanan diatas 15 kg/cm2 (di atas 200 psi)
Pengempaan dingin dilakukan sekaligus untuk tiap-tiap satu tumpukan
calon plywood (sampai100 lembar) tiap satu alat pressdingin
Pres panas :
Waktu lebih dari 1 menit
Tekanan di atas 10 kg/cm2 (di atas 100 psi)
Suhu 82-176o C (untuk UF 100-130o C dan PF 130-170o)
Pengempaan panas dilakukan dengan memasukkan satu per satu lembar
calon plywood kedalam ruang antar plat-plat panas dari pres tersebut
atau opening. Tiap satu alat pres panas bisa sampai 50 opening.
Besarnya tekanan pengempaan yang diberikan dihitung dengan rumus
sebagai berikut :
21
Keterangan :
G = Pengempaan total (psi, kpc)
P = Tekanan spesifik (psi, kpc)
J = Luas total pistonpres (2, dalam in2 atau cm2)
PSI = Pound per square inch
Kpc = kg per cm
Besarnya prestotal yang diberikan dipengaruhi oleh faktor :
a. Berat jenisfinir/kayu asalnya
b. Ketebalan kayu lapis yang dihasilkan
Kayu dengan berat jenis lebih tinggi dan ketebalan lapisan yang lebih
tebal harus menggunakan tekanan pres total yang lebih tinggi dan waktu
pengempaan yang lebih lama pada lembaran finir tersebut. Untuk finir bagian
luar, misalnya untuk F/B tidak dipotong dulu tetapi dikeringkan dulu dalam
continues dryer baru kemudian dipotong. Finir core yang diperoleh kemudian
dikeringkan dalam kilang pengeringan roll (roll dryer) (110 -175o C,10-25
menit) hingga kadar airnya 5-10 %. Pengeringan finir dapat pula dilakukan
sebelum finirnya dipotong.
Selanjutnya potongan-potongan finir tersebut disortir kualitasnya dengan
memperhatikan adanya sobekan-sobekan, lubang-lubang dan lain-lain. Bila
perlu diadakan penambalan (penutupan) atau tapping dan penyambungan-
penyambungan atau jointing, agar finir menjadi utuh dan baik. Tapping
dilakukan dengan menambal menggunakan finir yang sejenis, sedang jointing
dapat dilakukan dengan merekatkan dua finir, menyambungkan dengan gumta
peatau dengan menjahit (dengan nilon). Hanya jenis finir core dan atau back yang
boleh ada sambungan atau tambalan.
8. Pengkondisian
22
Pengkondisian dilakukan bertujuan untuk mengurangi sisa tegangan
akibat proses pengempaan serta menyesuaikan dengan kondisi lingkungan.
Biasanya dilakukan selama 1-2 minggu.
9. Remanufacturing
Selanjutnya dilakukan pengampelasan ulang pada plywood yang telah
diperbaiki (bagian permukaan atas bawah atau satu muka saja). Pekerjaan
perbaikan dan penghalusan ulang ini termasuk remanufacturing dan dilakukan
grading ulang pada plywood ini.
10. Packing
Selanjutnya kayu lapis telah sempurna dan siap untuk dipasarkan.
Penentuan kelas mutu, pemberian tanda merk penghitungan dan pengepakan
dilakukan sebelum plywood tersebut dibawa ke gudang dan siap dijual.
Menurut Kasmudjo (2001), skema urutan proses pembuatan plywood
untuk tiga lapis finir penyusun berikut ini :
23
Gambar 5. Skema Proses Pembuatan Plywood Tiga Lapis
2.5 Kayu Lapis Struktural (Structural Plywood)
Penggolongan kayu lapis berdasarkan penggunaannya dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu kayu lapis penggunaan umum dan kayu lapis penggunaan
khusus. Kayu lapis struktural termasuk kayu lapis penggunaan khusus. Kayu lapis
struktural merupakan suatu tipe kayu lapis tertentu yang strukturnya terdiri atas
susunan lembaran-lembaran finir saling tegak lurus dan digunakan dalam struktur
bangunan, dan dalam pengggunaannya memerlukan perhitungan beban. Kayu
lapis struktural dibuat dengan mengutamakan kemampuan panel memikul beban
konstruksi yang direncanakan (Haryanti, 2002).
Menurut SNI 01-5008.7-1999, kayu lapis struktural adalah kayu lapis yang
terdiri dari susunan venir yang dibuat khusus untuk digunakan sebagai penahan
24
atau pemikul beban dari suatu kontruksi. Dalam SNI 01-5008.7-1999 juga
dijelaskan beberapa hal menyangkut kayu lapis struktural seperti berikut :
Klasifikasi
Kayu lapis struktural diklasifikas ikan menjadi dua katagori, yaitu katagori
1 (Tipe kayu lapis struktural) dan katagori 2 (Mutu kayu lapis struktural).
Kategori 1 (Tipe kayu lapis struktural).
Kayu lapis struktural diklasifikas ikan menjadi 2 tipe, berdasarkan
kekuatan ikatan perekatnya yaitu:
Tipe Eksterior I, adalah kayu lapis struktural yang dalam penggunaannya
tahan terhadap cuaca dalam waktu relatif lama.
Tipe Eksterior II, adalah kayu lapis struktural yang dalam penggunaannya
tahan terhadap cuaca dalam waktu relatif pendek.
Kategori 2 (Mutu kayu lapis struktural).
Berdasarkan penampilannya, mutu kayu lapis struktural diklasifikasikan
menjadi 4 kelas, dengan kode kelas mutu berturut-turut A, B, C, dan D, dengan
ketentuan mutu lapisan luarnya sama atau hampir sama.
25
Contoh: Mutu A, maksudnya baik lapisan muka maupun lapisan
belakangnya harus memenuhi persyaratan mutu A, sedangkan mutu A/B adalah
lapisan mukanya memenuhi persyaratan mutu A dan lapisan belakangnya
memenuhi persyaratan mutu B.
Syarat mutu
Syarat bahan baku
Jenis kayu yang dapat digunakan untuk pembu atan kayu lapis struktural
adalah jenis-jenis kayu yang berat jenis (BJ) nya lebih dari 0,4.
Syarat mutu penampilan
Syarat Umum
Tidak diperkenankan adanya delaminasi, lapuk dan serangan aktif organisme
perusak kayu.
Syarat Khusus
Syarat khusus mutu kayu lapis struktural tercantum pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1. Persyaratan mutu kayu lapis struktural
26
lanjutan tabel 1.
Kadar Air
27
Kadar air kayu lapis struktural tidak diperkenankan lebih dari 14%.
Keteguhan rekat
Keteguhan rekat pada kayu lapis struktural untuk setiap tipenya harus
sesuai dengan persyaratan pada table 2.
Tabel 2. Persyaratan keteguhan rekat kayu lapis
e. Mutu Keteknikan
Mutu keteknikan kayu lapis struktural harus diuji dengan dua cara yaitu uji
lapangan dan uji laboratories.
III. PENUTUP
28
3.1 Kesimpulan
Kayu lapis hadir sebagai inovasi pengggunaan kayu solid agar lebih efektif
dan efisien. Dan kayu lapis struktural hadir untuk memenuhi berbagai kebutuhan
konsumen yang senang memilih kayu sebagai bahan untuk berbagai kebutuhan
konstruksi. Agar kualitasnya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh konsumen,
ketentuan dalam pemilihan bahan baku, perekat, pengawet, dan tata cara
pembuatan kayu lapis struktural harus diperhatikan dengan seksama.
Berbagai penelitian mengenai kayu lapis struktural juga telah dilakukan,
tetapi seiring berkembangnya zaman, kebutuhan informasi dan inovasi mengenai
ini juga sangat dibutuhkan. Untuk itu perlu dilakukan penelitian-penelitian lain
untuk menjawab berbagai permasalahan dan kebutuhan konsumen.
Kayu lapis struktural dalam penggunaannya lebih mengutamakan
kekuatan dalam menahan beban dibandingkan dengan keindahannya. Oleh sebab
itu harus dipilih jenis kayu yang memiliki kekuatan dan keawetan yang memenuhi
syarat.
3.2 Saran
Saran dari makalah ini yaitu agar dapat membandingkan berbagai bahan
yang dapat digunakan sebagai pembuatan kayu lapis, sehingga dapat mengetahui
kualitas yang paling bagus.
29
DAFTAR PUSTAKA
Arsadi, B. 2011. Kualitas Kayu Lapis Dari Kayu Bulat Berdiameter Kecil Jenis Dadap
(Erythrina variegata Lamk.), Kemiri (Aleurites moluccana L. Willd.) dan Jengkol
(Pithecellobium jiringa Benth. I. C. Nielsen). Fakultas Kehutanan. IPB. Bogor.
Haryanti, E. 2002. Keandalan Bifenthrin Sebagai Bahan Pengawet Kayu Lapis: Pengaruh
Terhadap Sifat Fisis, Mekanis, dan Keawetan. IPB. Bogor.
Haygreen, J.G., and JL. Bowyer. 1993. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu (Suatu Pengantar).
Diterjemahkan oleh Sutjipto A. Hadikusumo. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Iswanto, A.H. 2008. Kayu Lapis. Karya Tulis. Departemen Kehutanan. Fakultas
Pertanian. Universitas Sumatera Utara
Wood Division. Knives For The Wood Processing Industry. Klingelnberg Group-
German.
SNI 01-5008.7-1999 tentang Kayu Lapis Struktural.
Syahidah. 2011. Bahan Ajar Teknologi Pengolahan Kayu. Fakultas Kehutanan.
Universitas Hasanuddin. Makassar