0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan106 halaman

Laporan Kerja Praktek Pertamina Balikpapan

Laporan ini memberikan ringkasan umum proses pengolahan minyak bumi di PT Pertamina Refinery Unit V Balikpapan dalam kurang dari 3 kalimat. Laporan menjelaskan proses pengolahan minyak mencakup destilasi awal, pengolahan lanjut, dan pengolahan akhir untuk menghasilkan berbagai produk minyak olahan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan106 halaman

Laporan Kerja Praktek Pertamina Balikpapan

Laporan ini memberikan ringkasan umum proses pengolahan minyak bumi di PT Pertamina Refinery Unit V Balikpapan dalam kurang dari 3 kalimat. Laporan menjelaskan proses pengolahan minyak mencakup destilasi awal, pengolahan lanjut, dan pengolahan akhir untuk menghasilkan berbagai produk minyak olahan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN KERJA PRAKTEK

PT. PERTAMINA (PERSERO) REFINERY UNIT V


BALIKPAPAN KALIMANTAN TIMUR

Disusun Oleh:
KGS. Ade Anggara Pratama (03031181320059)
Dwi Riski Tyani (03031281320035)

Pembimbing: Agya Kumala Asri, S.T.

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2016
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

DISCLAIMER

Sesuai UU No 14 tahun 2008, seluruh data dan informasi pada laporan PKL ini
adalah milik PT Pertamina (Persero). Dilarang menyalin, memperbanyak, dan
memperjual belikan isi laporan ini tanpa seijin dari PT Pertamina (Persero).
Pelanggar ketentuan ini akan ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku.

I
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KERJA PRAKTEK


PT. PERTAMINA (PERSERO)
REFINERY UNIT V BALIKPAPAN

Telah disahkan dan disetujui pada:


28 Januari 2016

Menyetujui,
Pembimbing Kerja Praktek
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU V BALIKPAPAN

Agya Kumala Asri, S.T.

Mengetahui,
Section Head of Process Engineering Pjs. Senior Supervisor
Business Partner Refinery
PT. PERTAMINA (Persero) RU V PT. PERTAMINA (Persero) RU V
BALIKPAPAN BALIKPAPAN

Bambang Harimurti, S.T. Nur Hasanah

II
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

KATA PENGANTAR

Puji Syukur Penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat
dan karunia-Nya, sehingga Penulis dapat melaksanakan Kerja Praktek dan
menyelesaikan Laporan Kerja Praktek di PT. Pertamina (Persero) Refinery Unit V
Balikpapan.
Laporan Kerja Praktek ini ditulis untuk memenuhi persyaratan mata kuliah
Kerja Praktek di Jurusan Teknik Kimia Universitas Sriwijaya. Kerja Praktek ini
dimulai sejak tanggal 28 Desember 2015 hingga 28 Januari 2016 di bagian
Process Engineering PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan.
Laporan ini berisi gambaran secara umum proses pengolahan minyak bumi
di PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan. Dalam pelaksanaan Kerja Praktek
dan penulisan laporan ini penulis banyak memperoleh bimbingan, ilmu, dan
dukungan dari banyak pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini Penulis
menyampaikan terima kasih setulus-tulusnya kepada:
1) Kedua orang tua, saudara, dan keluarga besar yang selalu mendukung dan
mendoakan sehingga Kerja Praktek ini berjalan lancar
2) Ibu Dr. Ir. Hj. Susila Arita Rachman, DEA selaku ketua jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya dan Ibu Dr. Novia, S.T., M.T selaku sekretaris jurusan
Teknik Kimia Universitas Sriwijaya dan sekaligus dosen pembimbing Kerja
Praktek Teknik Kimia Universitas Sriwijaya
3) Ibu Agya Kumala Sari, S.T. selaku pembimbing kerja praktek di PT Pertamina
(Persero) RU V Balikpapan yang telah banyak membantu dan membimbing
penulis dalam menyelesaikan laporan ini
4) Bapak Bambang Harimurti, S.T selaku Section Head di Process Engineering
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan yang telah mengizinkan Penulis
melaksanakan Kerja Praktek.
5) Seluruh staf bagian Process Engineering atas ilmu, bantuan, dan pengalaman
yang telah dibagikan
6) Seluruh staf di luar bagian Process Engineering yang telah memberikan ilmu dan
pengalaman mengenai PT Pertamina (Persero) Refinery Unit V Balikpapan

III
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

7) Rekan-rekan mahasiswa kerja praktek dari berbagai universitas yang telah


memberikan berbagai pengalaman dan wawasan dan sahabat-sahabat penulis
yang selalu mendukung dan memberikan semangat tiada henti.
8) Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu
penulis selama Kerja Praktek baik secara langsung maupun tidak langsung.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna dan masih
banyak kekurangan, dengan berbagai kekurangan yang ada penulis memohon
maaf. Semoga laporan kerja praktek ini dapat bermanfaat untuk bagi semua pihak,
baik bagi penulis maupun bagi para pembaca.

Balikpapan, 28 Januari 2016

Penulis

IV
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

DAFTAR ISI
DISCLAIMER ......................................................................................................... I
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................... II
KATA PENGANTAR .......................................................................................... III
DAFTAR ISI ...........................................................................................................V
DAFTAR GAMBAR ..........................................................................................VIII
DAFTAR TABEL ................................................................................................. IX
IDENTITAS PERUSAHAAN ................................................................................X
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1. Latar belakang ............................................................................................. 1
1.2. Tujuan ......................................................................................................... 2
1.3. Manfaat ....................................................................................................... 3
1.4. Tujuan ......................................................................................................... 3
1.5. Waktu Pelaksanaan ..................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 4
2.1. Minyak Bumi ............................................................................................. 4
[Link] Bumi Mentah .......................................................................... 4
[Link] Minyak Bumi..................................................................... 4
2.1.3. Jenis Minyak Bumi .............................................................................. 5
2.2. Senyawa Hidrokarbon ............................................................................... 5
2.3. Kandungan Senyawa Non-Hidrokarbon ..................................................... 6
2.4. Proses Pengolahan Minyak Bumi ............................................................... 7
2.4.1. Pengolahan Pertama (Primary Processing) .......................................... 7
2.4.2. Pengolahan Lanjut (Secondary Processing) ......................................... 9
2.4.3. Pengolahan Treating ........................................................................... 12
BAB III PROSES PRODUKSI ............................................................................. 14
3.1. Bahan Baku ............................................................................................... 14
3.1.1. Bahan Baku Utama ............................................................................. 14
3.1.2. Bahan Baku Penunjang ....................................................................... 15
3.2. Deskripsi Proses ........................................................................................ 16
3.2.1. Kilang Balikpapan I ............................................................................ 17
3.2.2. Kilang Balikpapan II ........................................................................... 25
BAB IV PERALATAN DAN PENGENDALIAN PROSES ............................... 44
4.1. Peralatan .................................................................................................... 44

V
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

4.1.1. Kilang Balikpapan I ............................................................................ 44


4.1.2. Kilang Balikpapan II ........................................................................... 46
4.2. Pengendalian Proses .................................................................................. 53
4.2.1. Crude Distillation Unit ................................................................... 54
4.2.2. High Vacuum Unit .......................................................................... 54
4.2.3. Naptha Hydrotreating ..................................................................... 54
4.2.4. Platformer ....................................................................................... 55
4.2.5. Pengendalian Proses Refrigerasi ..................................................... 55
4.2.6. Product Separator ........................................................................... 55
4.2.7. Interstage Drum, Recontact Drum, dan Net Gas Wash Column .... 56
4.2.8. Debuthanizer ................................................................................... 56
4.2.9. LPG Recovery Unit ......................................................................... 56
4.2.10. Hydrocracker .................................................................................. 57
4.2.11. Hydrogen Plant ............................................................................... 57
BAB V PRODUK, LIMBAH, DAN K3 ............................................................... 58
5.1. Produk ....................................................................................................... 58
5.1.1. LPG ................................................................................................. 58
5.1.2. Premium dan Pertamax ................................................................... 58
5.1.3. Kerosin ............................................................................................ 59
5.1.4. Avtur ............................................................................................... 59
5.1.5. Industrial Diesel Oil (IDO), Automotive Diesel Oil (ADO), dan
Industrial Fuel Oil (IFO) ................................................................ 60
5.1.6. Wax.................................................................................................. 61
5.1.7. Naptha ............................................................................................. 61
5.1.8. Low Sulphur Waxy Residue (LSWR) .............................................. 62
5.1.9. Low Aromatic White Spirits (LAWS) ............................................. 62
5.1.10. Smooth Fluid (SF-05)...................................................................... 62
5.2. Limbah ...................................................................................................... 63
5.2.1. Limbah Cair ........................................................................................ 63
5.2.1. Limbah Padat ...................................................................................... 63
5.2.3. Limbah Gas ......................................................................................... 63
5.3. Kesehatan dan Keselamatan Kerja ............................................................ 63
BAB VI UNIT PENUNJANG PROSES .............................................................. 66
6.1. Utilitas ....................................................................................................... 66
6.1.1. Air ....................................................................................................... 66

VI
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

6.1.2. Air Pendingin ...................................................................................... 68


6.1.3. Steam System ....................................................................................... 68
6.1.4. Fuel System ......................................................................................... 69
6.1.5. Listrik .................................................................................................. 70
6.1.4. Udara ................................................................................................... 70
6.1.7. Nitrogen .............................................................................................. 70
6.2. Pengolahan Limbah................................................................................... 71
6.2.1. Pengolahan Limbah Padat ................................................................... 71
6.2.2. Pengolahan Limbah Cair ..................................................................... 71
6.2.3. Pengolahan Limbah Gas ..................................................................... 71
6.3. Laboratorium ............................................................................................. 72
6.3.1. Laboratorium Evaluasi Crude Oil ....................................................... 72
6.3.2. Laboratorium Produk Cair .................................................................. 73
6.3.3. Laboratorium Produk Gas ................................................................... 75
6.4. Terminal Balikpapan Lawe-lawe (TBL) ................................................... 76
6.4.1. Terminal Lawe-lawe ........................................................................... 76
6.4.2. Terminal Balikpapan ........................................................................... 77
BAB VII LOKASI DAN DENAH PABRIK ........................................................ 78
7.1. Lokasi Pabrik ............................................................................................ 78
7.2. Denah PT Pertamina (Persero) Refinery Unit V Balikpapan .................... 79
BAB VIII STRUKTUR ORGANISASI ............................................................... 81
8.1. Operation and Manufacturing Engineering ............................................. 82
8.2. Engineering and Development Function .................................................. 83
8.3. Health, Safety, and Environment .............................................................. 84
8.4. Procurement .............................................................................................. 85
8.5. Legal and General Affairs......................................................................... 85
8.6. Realibility Manager .................................................................................. 85
8.7. Operational Performance Improvement ................................................... 86
8.8. Human Resource, Finance Region, dan Information Technology ............ 86
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 87
LAMPIRAN .......................................................................................................... 89

VII
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Struktur senyawa Parifinik, Olefinik, Naftenik, Aromatik ................................... . 6
Gambar 3.1. Persentase asal minyak mentah yang diolah di RU V Balikpapan ....................... 15
Gambar 3.2. Diagram alir sederhana kilang Balikpapan .......................................................... 16
Gambar 3.3. Diagram proses kilang Balikpapan ....................................................................... 17
Gambar 3.4. Diagram Blok Dehydration Plant ........................................................................ 18
Gambar 3.5. Diagram blok proses pada unit CDU V ................................................................ 18
Gambar 3.6. Diagram blok crude oil pre-treatment ................................................................. 19
Gambar 3.7. Diagram blok proses Stabilizer ............................................................................. 20
Gambar 3.8. Diagram blok Naptha Splitter .............................................................................. 21
Gambar 3.9. Diagram blok High Vacuum Unit III ................................................................... 22
Gambar 3.10. Diagram blok proses Sweating ........................................................................... 23
Gambar 3.11. Diagram blok proses treating ............................................................................. 23
Gambar 3.12. Diagram blok proses moulding .......................................................................... 24
Gambar 3.13. Diagram blok pengolahan pada EWTP .............................................................. 24
Gambar 3.14. Diagram proses keseluruhan Kilang Balikpapan II ............................................ 25
Gambar 3.15. Diagram blok CDU IV Kilang Balikpapan II .................................................... 26
Gambar 3.16. Diagram alir proses dalam unit NHT ................................................................. 29
Gambar 3.17. Reaksi penghilangan senyawa oksigen dalam minyak ....................................... 29
Gambar 3.18. Diagram alir proses pada unit platformer .......................................................... 31
Gambar 3.19. Diagram alir unit CCR ....................................................................................... 32
Gambar 3.20. Diagram alir proses LPG Recovery Unit ............................................................ 33
Gambar 3.21. Diagram alir proses unit Sour Water Stripper .................................................... 34
Gambar 3.22. Diagram alir proses dalam HC Unibon .............................................................. 35
Gambar 3.23. Diagram alir proses fraksionasi .......................................................................... 37
Gambar 3.24. Diagram alir proses Naphta Splitter dan Light Naptha Stripper ........................ 38
Gambar 3.25. Diagram alir proses pada Hydrogen Plant ......................................................... 39
Gambar 3.26. Diagram alir kompresi 3 tahap gas hidrogen ..................................................... 42
Gambar 4.1. Diagram pengendalian CDU ................................................................................ 54
Gambar 4.2. Diagram pengendalian NHT ................................................................................ 55
Gambar 4.3. Diagram pengendalian LPG recovery .................................................................. 56
Gambar 4.4. Diagram sederhana pengendalian hydrocracker ................................................. 57
Gambar 4.5. Diagram alir pengendalian shift converter ........................................................... 57
Gambar 7.1. Lokasi PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan ............................................... 78
Gambar 7.2. Denah PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan ............................................... 79
Gambar 7.3. Fasilitas kilang minyak Pertamina RU V di Lawe-lawe ...................................... 80
Gambar 8.1. Struktur organisasi PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan ............................ 82
Gambar 8.2. Struktur organisasi Process Engineering Engineering and Development ........ 84

VIII
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Komposisi Unsur dalam Minyak Mentah ................................................... 4


Tabel 2.2. Klasifikasi minyak bumi berdasarkan berat jenisnya .................................. 5
Tabel 2.3. Klasifikasi minyak berdasarkan kandungan sulfur ..................................... 5
Tabel 3.1. Daerah asal minyak mentah yang diolah RU V Balikpapan ....................... 14
Tabel 3.2. Bahan baku penunjang yang digunakan pada proses di RU V Balikpapan . 15
Tabel 3.3. Spesifikasi umpan HVU III ......................................................................... 22
Tabel 3.4. Spesifikasi produk hasil NHT ..................................................................... 28
Tabel 3.5. Reaksi desulfurisasi dalam unit NHT .......................................................... 29
Tabel 5.1. Spesifikasi produk LPG .............................................................................. 58
Tabel 5.2. Spesifikasi produk premium dan pertamax ................................................. 59
Tabel 5.3. Spesifikasi produk kerosin ............................................................... 59
Tabel 5.4. Spesifikasi produk avtur ................................................................... 60
Tabel 5.5. Spesifikasi produk IDO .................................................................... 60
Tabel 5.6. Spesifikasi produk ADO ............................................................................. 60
Tabel 5.7. Spesifikasi produk IFO ..................................................................... 61
Tabel 5.8. Spesifikasi produk wax ..................................................................... 61
Tabel 5.9. Spesifikasi produk nafta .............................................................................. 61
Tabel 5.10. Spesifikasi produk LSWR ......................................................................... 62
Tabel 5.11. Spesifikasi produk LAWS ........................................................................ 62
Tabel 5.12. Spesifikasi produk Smooth Fluid .............................................................. 62
Tabel 5.13. Perbedaan Safety Practices dan MKP ....................................................... 64
Tabel 6.1. Spesifikasi steam dalam RU V Balikpapan ................................................. 69
Tabel 6.2. Spesifikasi turbin di RU V Balikpapan ....................................................... 70

IX
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

IDENTITAS PERUSAHAAN
Nama Perusahaan PT Pertamina (Persero) Refinery Unit V
Balikpapan
Alamat Jl. Yos Sudarso, No.1 Balikpapan, Kalimantan
Timur
Status, Tahun Pendirian, dan 1897 Pengeboran Pertama di Balikpapan
Jenis Perusahaan 1899 Shell Transport & Trading LTD
membangun kilang Balikpapan
1922 Pendirian Unit Penyulingan Minyak Kasar
PMK I dan II sebagai awal mulanya berdiri
kilang Balikpapan I
1948 Pembangunan kilang kembali setelah
rusak akibat perang dunia II
1966 Seluruh kekayaan Shel dibeli oleh PN
PERMINA (PERTAMINA)
1980 Pembangunan kilang Balikpapan II
1984 Peresmian dan pengoperasian kilang
Balikpapan II
1995 Kilang Balikpapan I di-upgrade
1997 Kilang Balikpapan I baru mulai beroperasi
Bahan Baku Perusahaan Minyak mentah domestik dan luar negeri
Produk Perusahaan 1) Kilang: LPG, Light Naptha+Reformate+
HOMC, Heavy Naptha, Diesel (ADO/ HGO/
LGO/ LVGO), POD, Kerosene, Avtur, Diesel
Stripper, Short Resides + ADO
2) Market: LPG, Pertamax, Feed PLF dan
KLBB RU VI, solvent, solar HSD, Wax,
LAWS, Kerosene, Avtur, MGO (Marine Gas
Oil), SF-05/ Oil Based Mud, Fuel Oil
Luas Area Perusahaan 889 heaktar (Luas Kilang: 339,2 hektar dan luas
Area Sarana Umum: 549,8 hektar)

X
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Visi Perusahaan Menjadi kilang kebanggaan nasional yang


mampu bersaing dan menguntungkan.
Misi Perusahaan 1) Mengelola operasional kilang secara aman,
handal, efisien, dan ramah lingkungan untuk
menyediakan kebutuhan energi yang
berkelanjutan.
2) Mengoptimalkan fleksibilitas pengolahan
untuk memperoleh valuable product.
3) Memberikan manffat pada stakeholder.
Tujuan Perusahaan 1) Memenuhi dan memuaskan kebutuhan
stakeholder.
2) Mennghasilkan keuntungan optimal.
3) Menjadi unit usaha yang unggul bersaing dan
berkembang.
Tata Nilai 1) Berwawasan Lingkungan
2) Profesionalisme
3) Kebanggaan pegawai
4) Penerapan teknologi secara efektif dan
efiseien
5) Keadilan, kejujuran, keterbukaan, dan dapat
dipercaya

XI
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Seiring dengan berkembangnya zaman, tidak bisa dipungkiri bahwa
seluruh aspek dalam kehidupan juga turut mengalami transformasi yang
mengikuti perubahan zaman. Salah satu aspek yang mengalami pertumbuhan yang
begitu pesat adalah aspek Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). IPTEK
merupakan salah satu aspek yang harus dimiliki seorang individu untuk dapat
menjawab berbagai tantangan di masa depan seperti ketahanan pangan, ataupun
ketahanan energi. Tanggung jawab untuk mengembangkan dan
mengimplementasikan IPTEK dalam berbagai tantangan di masa depan, bukan
hanya merupakan tanggung jawab yang harus dipikul oleh kaum profesional saat
ini, namun terutama oleh para pelajar di masa kini. Disadari atau tidak, ternyata
pemahaman keilmuan yang didasari hanya pada tataran teoritis kerap tidak dapat
memberikan hasil yang optimal. Banyak hal, ketika dalam operasionalnya tidak
dapat diselesaikan hanya dengan dasar-dasar teori belaka. Dilain pihak sampai
saat ini perkembangan teknologi dan informasi yang terjadi dalam dunia industri,
tidak selalu dapat diikuti oleh pihak universitas, sebagai sebuah institusi
pendidikan yang memiliki kewajiban mempersiapkan tenaga kerja. (Hermawan
Kertajaya, 1996).
Untuk dapat mempersiapkan generasi muda sebagai agen perubahan di
masa depan diperlukan suatu wadah persiapan. Lembaga pendidikan formal,
jenjang sekolah dan perguruan tinggi telah membekali masyarakat dengan
pengetahuan melalui fasilitas buku, laboratorium, dan proses belajar mengajar
yang dilakukan. Namun butuh pembekalan lebih bagi para generasi muda ini agar
tidak hanya mengetahui apa yang diajarkan di kelas dan di buku namun juga
mengetahui kondisi nyata di lapangan agar dapat secara langsung mengenal,
memahami, dan berinteraksi dengan objek yang akan mereka hadapi setelah
melalui jenjang pendidikan tinggi. Sebagai seorang calon insinyur kimia sudah
sepatutnya mengenal dan mengetahui teori dan keadaan nyata yang ada di suatu
lapangan, khususnya pada suatu pabrik.

1
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Dalam mengikuti perkembangan khususnya di bidang industri, Jurusan


Teknik Kimia Universitas Sriwijaya mewajibkan mahasiswanya untuk
melaksanakan Kerja Praktek. Mata kuliah ini menjadi salah satu persyaratan untuk
menyelesaikan studi di JurusanTeknik Kimia UNSRI. Tujuan dari Kerja Praktek
ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan skill dari mahasiswa tersebut
agar dapat memenuhi tuntuan di dunia kerja nantinya. Selain itu hasil yang
didapatkan dari Kerja Praktek ini adalah sebagai penjembatan antara pihak
Jurusan Teknik Kimia Universitas Sriwijaya dengan industri-industri yang ada
agar saling membagi informasi tentang perkembangan dunia industri sekarang.
PT Pertamina (Persero) Refinery Unit V Balikpapan merupakan salah satu
industri yang dipilih untuk melaksanakan Kerja Praktek karena perusahaan ini
memiliki berbagai sistem proses dan sistem pemroses yang berhubungan dengan
keilmuan Teknik Kimia. Sebagai perusahaan energi yang terkemuka di Indonesia,
PT Pertamina (Persero) juga dapat memberikan berbagai pengalaman dan
pengetahuan yang bermanfaat bagi peserta Kerja Praktek. Untuk itu, diharapkan
kegiatan Kerja Praktek di PT Pertamina (Persero) Refinery Unit V ini dapat
memberi pengalaman industri kepada perserta Kerja Praktek dan menjadi langkah
awal dalam menumbuhkan jiwa profesi onal di dalam diri peserta Kerj a Praktek.

1.2. Tujuan
Tujuan dari Kerja Praktek di PT Pertamina (Persero) Refinery Unit V
Balikpapan yaitu:
1) Memenuhi persyaratan kurikulum Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik
Universitas Sriwijaya.
2) Memperoleh pengalaman langsung yang aplikatif di dunia industri, terutama
yang berkaitan dengan proses dan unit operasi.
3) Mendapat gambaran secara langsung mengenai proses di dalam kilang.
4) Menerapkan dan membandingkan pengetahuan yang diperoleh dari
perkuliahan dengan kondisi nyata di lapangan.
5) Memahami sistem organisasi, sistem pembagian kerja, manajemen, dan
pengelolaan di dalam suatu perusahaan.

2
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

1.3. Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan kerja praktek yaitu:
Bagi Mahasiswa
1) Dapat mengetahui dan memahami berbagai aspek perusahaan seperti aspek
tekinik, aspek pemasaran, organisasi, ekonomi, persediaan, dan lain-lain.
2) Memperoleh kesempatan berlatih bekerja di lapangan.
3) Sebagai sarana pelatihan dalam penyusunan laporan dalam suatu penugasan.
Bagi Universitas
1) Dapat memperluas pengenalan Universitas Sriwijaya khususnya jurusan
Teknik Kimia kepada lingkungan masyarakat dan perusahaan
2) Mempererat kerjasama antara universitas dengan instansi pemerintahan
maupun swasta
Bagi Perusahaan
1) Laporan kerja praktek dapat diajdikan sebagai bahan evaluasi kerja, usulan,
ataupun masukan, sehingga dapat digunakan bila dibutuhkan dalam
pemecahan masalah-masalah di perusahaan.
2) Dapat melihat keadaan perusahaan dari sudut oandang mahasiswa yang
sedang kerja praktek.
3) Sebagai kontribusi perusahaan dalam berperan aktif memajukan pendidikan.

1.4. Tujuan
Agar tujuan di atas dapat diwujudkan, pelaksanaan Kerja Praktek ini dibatasi
pada ruang lingkup sebagai berikut:

1) Struktur Organisasi perusahaan yang mempunyai bagian/divisi/direktorat/


yang menangani: produksi, dukungan teknis dan administrasi.
2) Proses yang bisa memungkinkan bisa dipahami aplikasinya dari konsep-
konsep teknik kimia.
3) Kelengkapan penunjang proses seperti: water treatment, power generation,
dan waste treatment.
1.5. Waktu Pelaksanaan
Kerja praktek ini dilaksanakan selama kurang lebih 2 bulan yaitu dimulai
dari 28 Desember 2015sampai 28 Februari 2016.

3
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Minyak Bumi


2.1.1. Minyak Bumi Mentah
Minyak bumi merupakan cairan fossil yang dihasilkan di bawah
permukaan bumi yang berasal dari akumulasi sisa sisa hewan dan tumbuhan
dan bahan organik lainnya. Karbohidrat dan protein dipecah menjadi
komponen yang larut dalam air dan yang tidak, komponen minyak yang tidak
larut dalam air inilah yang melalui proses dekomposisi secara jutaan tahun
menghasilkan minyak bumi. Minyak bumi mentah (crude oil) merupakan
cairan coklat pekat yang menandung ribuan senyawa hidrokarbon dari yang
paling ringan (gas) sampai yang paling berat (aspal). Minyak bumi biasanya
terdiri dari tiga lapisan, yaitu gas di bagian atas garam di bagian bawah dan
cairan di antaranya. Tiap sumur penghasil minyak bumi tentunya
menghasilkan spesifikasi minyak bumi yang berbeda beda juga dari segi sifat
fisik maupun kimiawi. Maka itu diperlukan unit pengolahan yang sesuai
dengan jenis minyak mentah yang akan diolah
2.1.2. Komposisi Minyak Bumi
Tabel 2.1. Komposisi Unsur dalam Minyak Mentah
Elemen Komposis (%wt/w)
Karbon (C) 84-87
Hidrogen (H) 11-14
Sulfur (S) 0-3
Nitrogen (N) 0-1
Oksigen (O) 0-2

Minyak bumi tersusun atas atom hidrogen dan karbon. Di samping itu,
beberapa senyawa lain juga terkandung dalam bentuk senyawa dengan unsur
sulfur, oksigen, nitrogen, dan juga senyawa organometalik. Kandungan unsur
sulfur dan nitrogen dalam minyak dikarenakan oleh dekomposisi tak
sempurna dari protein pada masa pembentukan minyak mentah dalam bumi.
Sedangkan oksigen berasal dari hasil oksidasi produk antara dalam minyak.

4
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Organometalik yang terlarut dalam minyak dapat merusak katalis. Begitu juga
dengan kandungan sulfur, oksigen, dan nitrogen yang dapat mengakibatkan
korosi dalam sistem unit operasi dan perpipaan dalam kilang.
2.1.3. Jenis Minyak Bumi
Minyak bumi dapat dibedakan sesuai sifat fisik dan kimiawinya
berdasarkan berat jenis dan kandungan sulfur dalam minyak mentah tersebut.
Dari sifat berat jenis, minyak dipisah menjadi minyak berat (heavy crude) dan
minyak ringan (light crude). Satuan berat jenis ini juga dinyatakan dalam
index oAPI, semakin tinggi nilai oAPI maka akan semakin ringan minyak
mentah tersebut. Selain itu minyak juga sering dispesifikasikan dari
kandungan sulfur. Minyak dengan kadar sulfur di atas 0.05 %w/w di nyatakan
sebagai sour crude atau minyak asam sedangkan minyak dengan kadar
dibawah nilai tersebut dinyatakan sebagai sweet crude. Semakin rendah
kandungan sulfur dari minyak mentah akan semakin tinggi nilai jualnya.

Tabel 2.2. Klasifikasi minyak bumi berdasarkan berat jenisnya


Jenis APIo
Ringan > 39.0
Medium Ringan 39.0 35.0
Medium Berat 35.0 32.1
Berat 32.1 24.8
Sangat < 24.8

Tabel 2.3. Klasifikasi minyak berdasarkan kandungan sulfur


Jenis Minyak Bumi %w/w sulfur
Non Sulfurik 0.01 0.03
Sulfur Rendah 0.03 1
Sulfurik 1.3 3
Sulfur Tinggi >3
2.2. Senyawa Hidrokarbon
1) Parafinik
Hidrokarbon dalam golongan parafin adalah susunan hidrokarbon dengan
rantai lurus ataupun bercabang tanpa adanya ikatan rangkap di dalamnya. Contoh
dari parafin ini adalah metana dalam fasa gas dan pentana dalam fasa cair.

5
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

2) Olefin
Sedangkan olefin merupakan senyawa hidrokarbon yang memiliki rantai
rangkap atau disebut juga sebagai alkena dan alkuna. Kandungan olefin dalam
minyak mentah sangat kecil, dan seringkali berasal dari dekomposisi senyawa
hidrokarbon lain.
3) Naftenik
Naftenik merupakan senyawa hidrokarbon siklis yang lebih kompleks
dibandingkan parafin dan seringkali disebut sebagai sikloalkana. Kandungan
naften merupakan senyawa dengan jumlah kedua terbanyak setelah parafin dalam
minyak bumi.
4) Aromatik
Dalam minyak juga terdapat senyawa hidrokarbon aromatik yaitu sebuah
rantai hidrokarbon tertutup dengan ikatan rangkap di dalamnya. Senyawa aromatik
seringkali dijadikan produk konversi dari saudara saudara mi nyaknya, hal ini
disebabkan kandungan aromatik yang tinggi dalam minyak akan meningkatkan
nilai oktan dalam bensin yang menghindari peristiwa knocking dalam mesin.

Gambar 2.1. Struktur senyawa Parifinik, Olefinik, Naftenik, Aromatik

2.3. Kandungan Senyawa Non-Hidrokarbon


1) Garam
Keberadaan garam dalam minyak dapat menciptakan peristiwa korosi pada
unit-unit operasi. Selain korosi, garam juga dapat menyebabkan terjadinya
penyumbatan pada tray fraksionator dan juga pada heat exchanger.

6
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

2) Sulfur
Sulfur merupakaan komponen pengotor terbesar yang terkandung dal am
minyak bumi, dan jumlahnya berbeda dalam minyak mentah yang berbeda.
Minyak bumi dengan densitas lebih tinggi mengandung sulfur yang tinggi. Sulfur
dalam minyak bumi dapat menimbulkan permasalahan korosi oleh karena sifat
asam yang dimilikinya serta menurunkan aktivitas katalis. Salah satu contoh
senyawa sulfur dalam minyak mentah adalah merkaptan dan hidrogen disulfida.
Kandungan nitrogen dalam dalam minyak mentah tidak lebih dari 0.1%w/w.
3) Nitrogen
Senyawa nitrogen stabil terhadap panas sehingga kandungan nitrogen
dalam fraksi ringan sangat rendah. Bahaya dari nitrogen dalam proses pengolahan
minyak adalah sifatnya yang basa dapat meracuni katal is dan mendeaktivasi nya.
4) Oksigen
Senyawa asam karboksilat, fenol, amida, dan keton merupakan senyawa
senyawa oksigen yang seringkali terkandung dalam minyak bumi. Kandungan
oksigen dalam minyak mentah bisa bervariasi dari 0.03% - 3%. Keberadaan
oksigen tidaklah terlalu merugikan bagi proses kilang, hanya saja perlu perhatian
kepada kemungkinan terjadinya oksidasi pada minyak hasil olahan.
5) Logam dan Pengotor Lain
Logam - logam pengotor pada minyak bumi meliputi arsenik, timbal,
nikel, dan besi. Terutama bagi ni kel dan timbal sangatl ah berbahaya bagi proses
karena dapat meracuni katal is. Sedangkan pengotor lain seperti pasir dan air
terbawa secara alamiah dari area penegboran. Dalam proses kilang terkadang air
sengaja ditambahkan ke dalam minyak mentah agar campuran minyak-air akan
lebih mudah untuk dialirkan.

2.4. Proses Pengolahan Minyak Bumi


2.4.1. Pengolahan Pertama (Primary Processing)
Proses pegolahan pertama pada umumnya merupakan proses pemisahan
fraksi-fraksi dan treating berdasarkan perbedaan sifat fisis. Proses pengolahan
pertama yang seringkali digunakan pada kilang minyak bumi adalah distilasi
atmosferik, distilasi vakum, ekstraksi, adsorpsi, absorbsi, dan kristalisasi.

7
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

[Link].Distilasi Atmosferik
Distilasi atmosferik merupakan unit proses yang sangat penting dalam
proses pengilangan. Operasi pemisahan ini didasarkan atas volatilitas dan
perbedaan titik didih komponen komponen penyusun minyak bumi dalam
kondisi tekanan atmosferik. Batasan utama pada proses pemisahan ini adalah
temperatur, karena temperatur operasi yang terlalu tinggi dapat membuat
minyak mentah mengalami proses coking atau pengkokasan yang dapat
menyumbat perpipaan dalam kilang. Maka itu proses dalam unit ini dibatasi
sampai pada temperatur 340-350oC saja. Fraksi minyak yang memiliki titik
didih diatas 350oC (dalam kondisi atmosferik) akan terkumpul pada bagian
bawah kolom, sedangkan fraksi minyak yang memiliki titik didih
dibawahnya akan mengalir sebagai gas ke bagian atas kolom dan diambil
menggunakan sidestripper sesuai fraksi minyak yang ingin dipisahkan.
[Link].Distilasi Vakum
Distilasi vakum digunakan untuk memisahkan fraksi fraksi minyak bumi
yang memiliki titik didih diatas 350oC hasil keluaran dari unit distilasi
atmosferik. Umpan utama pada proses ini adalah long residue yang
dihasilkan oleh distilasi atmosferik. Tujuan dari distilasi yang dijalankan
dalam kondisi vakum, adalah untuk menurunkan titik didih umpan karena
pada temperatur tinggi sebagian fraksi minyak bumi mengalami
perengkahan. Tekanan dalam kolom adalah 8-11 mmHg absolut dan kondisi
vakum dicapai dengan sistem ejektor menggunakan steam sebagai media
penurun tekanan.
[Link].Ekstraksi
Ekstraksi merupakan salah satu proses pemisahan paling tua dalam operasi
pengilangan minyak bumi. Ekstraksi menggunakan prinsip dasar perbedaan
kelarutan antara dua senyawa Misalnya untuk memisahkan suatu senyawa X
dan Y digunakan pelarut Z awalnya X dan Y bercampur, namun saat
dikontakan dengan pelarut Z dan dikarenakan kelarutan zat Y lebih besar
dalam pelarut Z dibanding X maka Y akan terlarut dalam pelarut Z terpisah
dengan zat X.

8
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

[Link].Adsorbsi
Adsorbsi merupakan proses penyerapan suatu zat di permukaan zat lainnya
yang disebut sebagai adsorben. Adsorbsi seringkali digunakan untuk
menghilangkan gas gas yang tidak dikehendaki dengan mengontakan gas
tersebut dengan adsorben. Beberapa adsorben yang umum digunakan adalah
molecular sieve, gel silika, dan alumina.
[Link].Absorbsi
Absorbsi merupakan proses pemisahan campuran uap yang dilakukan
dengan cara menyerap dan melarutkannya ke dalam cairan. Pelarut atau lean
oilyang digunakan biasanya merupakan fraksi gasolin atau kerosin yang
memiliki titik didih tinggi. Pada proses pengolahan minyak, proses adsorbsi
digunakan untuk membebaskan gas-gas petroleum dalam jumlah kecil.
Absorbsi juga digunakan untuk memisahkan gas-gas yang tidak diinginkan
seperti CO2 dan H2S.
[Link].Kristalisasi
Kristalisasi adalah suatu pemisahan berdasarkan titik leleh. Contohnya
adalah pada proses dewaxing dari minyak pelumas dan pembuatan lilin. Pada
proses dewaxing, minyak didinginkan dengan proses refrigerasi untuk dapat
mengkristalkan lilin. Pemisahan lilin dari minyak dilakukan dengan
penyaringan dan pengendapan.

2.4.2. Pengolahan Lanjut (Secondary Processing)


Proses pengolahan lanjut merupakan proses yang digunakan guna
meningkatkan nilai jual dari suatu fraksi mi nyak dengan memotong motong
rantai panj ang hi drokarbon atau dengan menyusun ulang struktur rantai
hidrokarbon dalam minyak bumi. Tujuan ini dicapai dengan proses-proses
seperti perengkahan termis, catalytic cracking, hydrocracking, catalytic
reforming, polimerisasi, dan alkilasi.
[Link].Perengkahan Termis
Perengkahan termis menggunakan panas untuk merengkah rantai karbon.
Bahan baku perengkahan termis adalah HVGO dan residu vakum.
Perengkahan termis digunakan untuk mendapatkan nafta pada awalnya,

9
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

namun sekarang metode ini sudah tidak digunakan lagi. Ada dua macam
perengkahan termis; Visbreaking dan Coking. Visbreaking bertujuan untuk
menurunkan viskositas dan titik tuang umpan minyak dan bahan bakar
minyak. Dalam kondisi temperatur 480oC dan tekanan 16 kg/cm2. Coking
merupakan proses yang paling berat dalam perengkahan termis. Tujuan
proses ini adalah untuk menghasilkan kokas atau coke sebagai produk utama,
dalam kondisi temperatur 480- 520oC dan tekanan 14-26 kg/cm2.
[Link].Perengkahan Katalitis (Catalytic Cracking)
Proses perengkahan pada unit ini menggunakan katalis sebagai media
perengkah. Katalis yang biasa digunakan adalah katalis silika alumina.
Perengkahan dimulai dengan terbentuknya suatu ion karbonium dan
dilanjutkan dengan pelepasan rantai alkil untuk menghasilkan struktur
senyawa olefin seperti yang terlihat pada reaksi di bawah ini:
Pembentukan ion karbonium:
CH3 CH = CH2 + H+ - CH3 CH+ - CH3
Reaksi ion karbonium:
CH3 CH CH2 R - CH3-CH=CH2 + R+
Maka hasil terbesar dari reaksi perengkahan katalisis adalah olefin. Katalis
yang digunakan dalam perengkahan adalah bahan padat dengan sifat asam
untuk berperan sebagai donor proton. Penggunaan katalis dengan gugus
tereduksi seperti besi, nikel, vanadium, dan tembaga dapat menurunkan yield
gasolin dan meningkatkan yield kokas.
[Link].Hydrocracking
Hydrocracking merupakan proses perengkahan minyak bumi menjadi
rantai rantai hidrokarbon yang lebih pendek dengan bantuan gas hidrogen
pada tekanan dan temperatur yang tinggi dengan bantuan katalis. Proses ini
terjadi dalam suatu unit yang bernama Hydrocracker, dalam unit ini salah
satu variabel yang sangat dijaga adalah temperatur. Kondisi reaksi
perengkahan yang eksotermis dapat menimbulkan temperatur dalam reaktor
meningkat secara signifikan sampai katalis mengalami proses sintering atau
proses pelelehan dari katalis yang digunakan. Temperatur dan tekanan

10
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

operasi proses ini adalah 350-380oC dan 170kg/cm2 reaksi yang berl
angsung dalam hydrocracking terbagi menjadi tiga jenis:
Reaksi hydrocracking minyak parafinik:
R-CH2 CH2 R + H2 - R- CH3 + R CH3
Reaksi hidrodealkilisasi:

Reaksi hidrodesiklisasi:

[Link].Perengkahan Termis dan Katalis


Proses pengubahan (reforming) bertujuan untuk meningkatkan bilangan
oktan stok gasolin. Sasaran utama proses pengubahan adalah menghasilkan
senyawa aromatik yang memiliki bilangan oktan lebih tinggi. Reaksi yang
terjadi pada pengubahan katalistis ialah produksi aromatik, hydrocracking,
dan isomerisasi. Proses hydrocracking dapat menaikan angka oktan tetapi
kenaikannya dibandingkan dengan konversi parafin menjadi aromatik.
Katalis platina berfungsi ganda dengan bagian yang mengandung platina
sebagai bahan dehidrogenasi sementara bagian yang asam sebagai bahan
isomerisasi. Reaksi yang terjadi pada proses ini adalah:
Reaksi dehidrogenasi

Reaksi Isomerisasi

Umpan yang digunakan dalam proses pengubahan termis dan katalitis ini
adalah minyak dari fraksi nafta. Hasil dari proses ini dicampurkan dalam
gasolin.

11
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

[Link].Polimerisasi
Polimerisasi adalah kombinasi dua atau lebih molekul olefinik untuk
menghasilkan molekul yang lebih besar. Mekanisme reaksi yang terjadi
adalah pembentukan ion karbonium yang tebentuk oleh kombinasi olefin dan
proton yang dilengkapi oleh katalis asam. Kondisi reaksi yang digunakan
dalam reaksi polimerisasi ini adal ah temperatur 300-425oF dan tekanan 400-
500 psi. Umpan yang digunakan adalah segala jenis olefin, namun untuk
menghasilkan gasolin digunakan olefin berkarbon rendah. Unit Naphta
Hydrotreater adalah salah satu unit yang melakukan proses ini.
[Link].Alkilasi
Alkilasi adalah reaksi dimana gugus alkil ditambahkan pada senyawa lain
dalam pengilangan minyak bumi. Alkilasi bertujuan untuk mencapai nilai
oktan yang lebih tinggi dengan cara reaksi. Prinsip dalam reaksi alkilasi
adalah penggabungan i-parafin, isobutana dengan suatu olefin, seperti
propena dan butena. Ion karbonium dibetnuk oleh reaksi antara olefin dan
proton yang dilengkapi dengan katalis asam. Ion karbonium ini bereaksi
dengan isobutana menghasilkan isobutil ion karbonium. Isobutil karbonium
bereaksi dengan olefin menjadi ion karbonium yang lebih besar. Ion
karbonium ini akan bereaksi dengan isobutana menghasilkan isoparafin dan
ion karbonium isobutana kembali. Proses i ni berlanjut sampai terbentuk
produk hasil alkilasi lainnya.

2.4.3. Pengolahan Treating


Proses treating dapat diartikan sebagai penghilangan, pemisahan atau
pengubahan senyawa yang tidak diinginkan dalam minyak mentah maupun
produk produknya. Proses ini juga digunakan untuk memisahkan produk
produk hidrokarbon yang tidak diinginkan dalam suatu produk tertentu untuk
meningkatkan kualitas dari produk tersebut. Senyawa impurities ini seringkali
berasal dari unsur unsur dalam minyak mentah yang tidak berubah selama
proses, unsur unsur dalam minyak mentah yang mengalami perubahan selama
proses pengolahan, dan dari unsur unsur yang sengaja ditambahkan selama
proses berlangsung.

12
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

[Link].Sulfuric Acid Treatment


Perlakuan dengan asam sulfat dilakukan untuk menghilangkan pengotor-
pengotor berupa berupa substansi resin dan asphaltik. Digunakan asam kuat
untuk menghilangkan merkaptan namun sisa sulfur dilakukan dalam proses
sweetening. Selain itu juga diperlukan inhibitor gum untuk menghambat
pembentukan gum yang dikatalisis.
[Link].Sweetening Treatment
Proses sweetening digunakan untuk menghilangkan senyawa sulfur,
merkaptan, dan H2S. Senyawa belerag dapat menyebabkan korosi. Tiga cara
utama sweetening adalah mengoksidasi merkaptan menjadi disulfida,
pelarutan merkaptan, dan proses Merrox UOP. Pelarutan merkaptan yang
banyak dilakukan adalah pencucian kaustik, yaitu dengan mengontakan soda
kaustik dengan minyak yang ingin diolah. Sedangkan proses Merox
menghilangkan merkaptan dengan prinsip ekstraksi.
[Link].Desulfurisasi
Proses desulfurisasi adalah proses yang menghilangkan senyawa sulfur
lain bersama sama merkaptan, H2S , dan sulfur. Proses desulfurisasi dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu ekstraksi senyawa sulfur dengan
menggunakan pelarut dan dekomposisi senyawa sulfur secara katalitik
menghasilkan H2S. Proses ini dilakukan pada temperatur 400-800oF dan
tekanan 300-500 psi. Proses treating sulfur secara katalitik yang banyak
dipakai adalah hydrotreating. Proses ini digunakan untuk menghilangkan
sulfur atau sering disebut hidrodesulfurisasin.

13
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

BAB III
PROSES PRODUKSI

3.1. Bahan Baku


3.1.1. Bahan Baku Utama
Bahan baku utama pada PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan adalah
minyak mentah (crude oil). Dalam kilang ini terbagi menjadi dua bagian
pengolahan yaitu Kilang Balikpapan I dan Kilang Balikpapan II. Kapasitas
maksimum dari pengolahan di RU V Balipapan adalah 260 MBSD, dengan
kapasitas kilang 1 Balikpapan sebesar 60 MBSD dan kilang 2 Balikpapan
sebesar 200 MBSD.
Tabel 3.1. Daerah asal minyak mentah yang diolah RU V Balikpapan
Domestik Kalimantan Timur Domestik Luar Kalimantan Timur Luar Negeri
Sangatta Anoa (Sulawesi) Azeri
Tarakan Widuri (Laut Jawa) (Azerbaijan)
Badak Cinta (Laut Jawa) Seria (Brunei
Sepinggan Katapa (Rantan) Darussalam)
Bekapai Arbei (Rantau) Bonny Light
Sanga Sanga Kerapu (Natuna) (Nigeria)
Handil Belinda (Natuna) Escravos
Senipah Minas (Riau) (Nigeria)
Bunyu Langsa (Sumatera Utara) Qua Iboe
Mambrungan Jatibarang (Jawa Barat) (Nigeria)
Warukin Mudi (Jawa Timur) Sahanuran
Tanjung Banyu Urip (Jawa Timur) (Algeria)
Ujung Pangkah (Jawa Timur)
Madura (Madura)
Duri (Riau)
Kaji (Sumatera Utara)
Parameter utama bagi pengolahan kedua kilang adalah masing masing
kilang 1 & 2 menggunakan crude oil dengan spesifikasi yang berbeda juga.
Kilang Balikpapan I mengolah minyak mentah berjenis parafinik, sementara
Kilang Balikpapan II mengolah minyak mentah cocktail. Minyak berjenis

14
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

cocktail memiliki artian campuran minyak mentah dalam yang digunakan


sebagai feed, campuran cocktail untuk pengolahan kilang II Balikpapan
berasal dari beberapa minyak mentah dari Kalimantan Timur, daerah daerah
domestik lain, dan luar negeri.

Gambar 3.1. Persentase asal minyak mentah yang diolah di RU V Balikpapan

RU V Balikpapan mendapatkan 29% kebutuhan minyak mentah dari


domestik Kalimantan Timur, 17% domestik luar Kalimantan Timur, dan
sisanya dipenuhi dengan impor dari luar negeri.

3.1.2. Bahan Baku Penunjang


Selain bahan baku utama, RU V Balikpapan membutuhkan bahan
pendukung atau penunjang untuk membantu proses proses di dalam kilang.
Bahan-bahan penunjang yang digunakan dalam RU V Balikpapan ditunjukkan
dalam Tabel 3.2.

Tabel 3.2. Bahan baku penunjang yang digunakan pada proses di RU V Balikpapan
Bahan Pendukung Kegunaan
Asam Sulfat 98% Menghilangkan senyawa tak jenuh dalam proses
pembuatan lilin.
Activated Clay Menghilangkan warna dan bau dalam proses dewaxing
Kapur Menjaga kestabilah pH dalam proses treating pembuatan
lilin
Polietilen Mengeraskan produk lilin
High Octane Number Menaikkan bilangan oktan premium dengan cara blending
Mogas Component
(HOMC)
Deemulsifier Mempercepat pemecahan emulsi (Contoh: Air dan
minyak) sebelum masuk ke CDU

15
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Bahan Pendukung Kegunaan


Corrosion Inhibitor Menghambat terjadinya korosi pada peralatan
Amonia Menjaga kestabilan pH dalam proses treating
Metil Merkaptan Aditif untuk mmemberikan bau pada LPG
Static Dissipator Aditif Menaikkan konduktivitas elektrik
Dietanolamin Absorben untuk mengabsorbsi H2S
Gas LNG Bahan baku pembuatan hidrogen di Hydrocracker
Gravel Resin penukar ion
Air Sungai dan Laut Sumber air proses, air baku dan steam
Fuel Oil dan Fuel Gas Bahan baku furnace
HMP Meningkatkan titik leleh lilin
Sulfiding Agent Mengaktifkan base metal katalis
Polipropilen Meningkatkan elastisitas wax
Larutan Fosfat Untuk water treatment air boiler
Soda Kaustik Menyerap SO2, CO2, mengurangi kandungan Cl
Absorben Mengabsorbsi CO sebelum masuk ke metanator
Helamin Menjaga kestabilan pH pada BFW
Antifoam Menambahkan air di utilitas untuk mengurangi busa
Katalis Mempercepat laju reaksi

3.2. Deskripsi Proses


PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan mempunyai kapasitas total 260
MBSD dari dua kilang pengolahan minyak. Diagram blok proses pengolahan pada
keseluruhan RU V Balikpapan adalah sebagai berikut:

Gambar 3.2. Diagram alir sederhana kilang Balikpapan

16
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

3.2.1. Kilang Balikpapan I


Kilang Balikpapan I merupakan kilang lama yang diperbaharui pada tahun
1997. Saat ini Kilang Balikpapan I memiliki kapasitas pengolahan sebesar 60
MBSD. Kilang Balikpapan I didesain untuk mengolah minyak mentah yang
bersifat parafinik. Kilang Balikpapan I terdiri dari, CDU V, HVU III,
sedangkan untuk unit dehydration plant dan wax plant seringkali disebut
sebagai bagian Dis& Wax. Gambar alir proses pada kilang 1 Balikpapan dapat
dilihat pada gambar berikut.

Gambar 3.3. Diagram proses kilang Balikpapan I

[Link].Dehydration Plant (DHP)


Minyak mentah (crude oil) dari Tanjung merupakan minyak yang
parafinik. Untuk memudahkan transportasi, maka minyak ditambahkan air
sehingga komposisinya adalah 64% minyak dan 37% air. Maka itu sebelum
memasuki CDU minyak harus dikurangi kandungan airnya sampai kurang
dari 0.5% di dalam Dehydration Plant. Awalnya, crude yang berupa
suspensi dilewatkan pada mine line yang berupa pipa 20 in kemudian
ditambahkan deemulsifier untuk memudahkan aliran fluida. Crude oil
tersebut dipanaskan hingga 66oC dengan heat exchanger E-1-01A/B.
Sebelum dimasukkan ke dalam tangki T-1-01A/B, Selanjutnya crude oil
dilewatkan Demister untuk menghilangkan kandungan gas dalam minyak
dan dibuang menuju flare. Di dalam unit ini terdapat juga breather valve
yang berfungsi untuk menjaga tekanan dalam tangki dengan cara
mengeluarkan gas yang terdapat dalam tangki jika tekanan dalam tangki

17
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

terlalu besar. Sedangkan springkler water berfungsi untuk menyemprotkan


air jika terjadi kebakaran pada tangki. Crude oil ini kemudian ditampung
dalam tangki T-1-01A/B untuk dipisahkan antara airnya secara gravitasi.
Setelah itu crude oil dimasukan dalam Stabilizer untuk memisahkan gas
yang masih terkadung dalam crude oil, gas tersebut dipisahkan dan dibuang
melalui flare. Diatas Stabilizer juga terdapat Pressure Safety Valve yang
berfungsi untuk menjaga tekanan dalam stablizer dengan mengeluarkan gas
sesuai dengan batas keamanan yang ditentukan. Kapasitas unit ini adalah
90000 ton/hari.

Gambar 3.4. Diagram Blok Dehydration Plant

[Link].Crude Distillation Unit (CDU) V


CDU memiliki kapasitas 60 MBSD dan merupakan unit distilasi
atmosferik yang berfungsi untuk memisahkan minyak mentah berdasarkan
titik didihnya. Produk produk yang dihasilkan adalah LPG, light naphta,
heavy naphta, kerosene, HGO, dan LGO. Crude oil yang diolah oleh CDU V
merupakan minyak yang dominan mengandung jenis parafinic dikarenakan
dahulunya orientasi kilang I adalah untuk memroduksi wax yang merupakan
produk unggulan dari PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan.

Gambar 3.5. Diagram blok proses pada unit CDU V

18
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Minyak mentah dipompa ke dalam CDU V melalui pompa G-220-01.


Minyak dipanaskan kembali menjadi 78oC, melalui penukar panas E-201-
01A/B Aliran minyak mentah dipanaskan kembali sampai 147oC. Media
pemanas yang digunakan adalah produk kolom fraksionasi yang memiliki
temperatur tinggi. Minyak mentah kemudian menuju desalter untuk di
kurangi kandungan garamnya. Air yang digunakan untuk desalter adalah air
dari overhead section fraksionator dan juga dari air utilitas. Air berasal dari
desalter water surge drum C-201-11 kemudian dialirkan dengan pompa dan
dipanaskan hingga temperatur yang sama dengan minyak. Selain itu
ditambahkan juga demulsifier kepada minyak mentah yang bertujuan untuk
menipiskan emulsi yang terjadi pada air dan minyak dan mengurangi
kandungan air. Karena jika kandungan air dalam minyak berlebihan maka
akan sangat mengganggu proses distilasi. Begitu pula sebaliknya jika banyak
minyak yang terikut dalam air, maka akan terjadi pencemaran air saat air
tersebut dibuang dari pabrik. Kemudian, air pengotor, dan garam akan turun
dan mengendap di dasar desalter. Desalter crude mengalir keluar dari bagian
atas vessel dan air terkumpul di bagian dasar vessel. Desalter memiliki
kemampuan untuk menghilangkan 95% kandungan garam dalam minyak
mentah, sehingga kandungannya hanya 60 sampai 127 bbl. Sedangkan air
kotor dari desalter akan diolah kembali pada sour water stripper plant.
Crude oil dari desalter akan di pecah menjadi dua aliran yang sama besar
dan di panaskan dalam beberapa HE hingga 240oC baru setelah itu minyak
mentah akan kembali dipanaskan dalam furnace F-201-01A/B untuk
dipanaskan sampai 330oC. Setelah proses pretreatment selesai barulah
minyak memasuki kolom fraksionasi untuk memisahkan komponen
komponen ini sesuai titik didihnya.

Gambar 3.6. Diagram blok crude oil pre-treatment

19
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Kolom fraksionator C-201-01 terdiri atas 47 tray dengan 3 side stripper,


yaitu kerosene, LGO, dan HGO stripper. Pada unit ini dihasilkan beberapa
produk yaitu off gas, light naphta, heavy naphta, kerosin, LGO, HGO, dan
long residue. Tekanan kolom adalah 0.97 kg/cm2 dan temperatur overhead
110oC dan temperatur bottom 380oC. Kerosin dapat dialirkan ke tangki
penyimpanan setelah didinginkan sampai 38oC di penukar panas E -201-03
dan E 201-21. LGO dapat dialirkan setelah didinginkan hingga 38oC dan di
penukar panas E-201-06, dan begitu juga dengan HGO. Residu yang
dihasilkan didingankan sampai temperatur 160oC dan dialirkan menuju
sebuah surge drum sebelum dialirkan ke dalam unit distilasi vakum (HVU).
Gas yang terangkat ke atas kolom akan dikondensasikan dengan fin-fan
cooler dan dialirkan kepada accumulator untuk memisahkan uap/gas dan
minyak. Tekanan dipertahankan dalam 0.32 kg/cm2. Uap dari unit ini akan
dialirkan menuju desalter surge drum yang sebelumnya digunakan untuk
mengabsorbsi fraksi berat minyak, sedangkan minyak didinginkan dan
dikontakkan kembali pada recontact drum. Campuran uap minyak ini akan
dipanaskan dan memasuki Stabilizer dimana uap kaya hidrokarbon ringan
akan dialirkan menuju unit LPG recovery. Stabilizer berfungsi untuk
memisahkan naphtha dari fraksi-fraksi lain yang lebih ringan. Sebelum
memasuki Stabilizer, naphta diinjeksikan NH3 sebagai pengatur nilai pH agar
tetap netral dan inhibitor korosi sebagai aditif pencegah terjadinya korosi.
Fraksi ringan akan mengalir menuju LPG Recovery Unit dan sebagian
dialirkan sebagai refluks Stabilizer. Naphtha yang didinginkan hingga 150oC
kemudian dialirkan menuju Naphtha Splitter.

Gambar 3.7. Diagram blok proses Stabilizer

20
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Pada naphta splitter terjadi pemisahan antara produk overhead kolom


CDU. Residu dari fraksionator digunakan sebagai media pemanas pada
splitter reboiler. Produk atas akan dikondensasikan dan di-refluks sebagian
dan sebagiannya ditampung untuk dikirim menuju tangki penampungan.
Produk nafta berat dialirkan menuju tangki penyimpanan setelah
didingankan sampai 38oC. Long residue yang merupakan bottom product
diumpankan ke dalam kolom Heavy Vacuum Unit III untuk difraksionasi
lebih lanjut. Pada bagian bawah kolom, Low Pressure Steam bertekanan 3
kg/cm2 dialirkan untuk membantu penguapan dan mengurangi tekanan
parsial hidrokarbon sehingga fraksi ringan yang terbawa ke bagian top
kolom lebih mudah menguap.

Gambar 3.8. Diagram blok Naptha Splitter

[Link].High Vacuum Unit (HVU) III


High vacuum Unit III digunakan untuk memisahkan komponen komponen
long residue hasil CDU V. Proses pemisahan dilakukan dengan cara distilasi
pada kondisi vakum. Tujuan pemisahan yang dilakukan pada kondisi vakum
ini adalah untuk menurunkan titik didih dari minyak residu tersebut. Karena
bila distilasi tetap dilakukan pada tekanan atmosfir, akan dibutuhkan
temperartur yang sangat tinggi dan mengakibatkan potensi terjadinya
cracking dan terbentuknya kokas pada unit operasi. Tekanan dalam kolom
adalah 8-11 mmHg dan menghasilkan beberapa produk yaitu Parrafinic Oil
Distillate (POD), off gas, LVGO, HVGO, dan short residue. Spesifikasi
umpan long residue dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

21
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Tabel 3.3. Spesifikasi umpan HVU III


Jenis Spesifikasi Nilai Spesifikasi
TBP Nominal Cut Point (oC) 350 +
Gravity (oAPI) 27.35
Total Sulfur (%w/w) 0.12
Metal (NI + V) (ppm w/w) 15.6

Umpan HVU berada pada Vacuum feed Surge Drums yang bertekanan 1.7
kg/cm2 gauge. Umpan dipompakan ke dalam preheat yaitu furnace untuk
menaikkan temperatur umpan sehingga mencapai 341oC. Aliran selanjutnya
dimasukan kepada pemanas, yang sebelumnya dalam aliran dicampurkan
dengan slop wax yang bersirkulasi. Setelah itu umpan dimasukkan ke dalam
kolom vakum, Pertama residu memasuki flash zone yang memiliki tekanan
40 mmHg absolut. Gas hasil flash akan terpisah menjadi slop wax oil,
HVGO, POD, LVGO, dan off gas. Pada bagian overhead kolom diinjeksikan
amonia agar bereaksi dengan HCL dan H2S yang bersifat asam dan korosif.
LVGO disimpan dalam tangki IDO atau ADO. HVGO diumpankan ke
Hydrocracker pada Kilang Balikpapan II untuk dipisahkan menjadi fraksi-
fraksi yang lebih ringan. POD diolah menjadi lilin dalam Wax Plant,
sedangkan short residue ditampung pada LSWR Pool Existing. Non
condensable gas dialirkan menuju furnace HVU III.

Gambar 3.9. Diagram blok High Vacuum Unit III

[Link].Wax Plant
Kapasitas pengolahan dari Wax Plant adalah sebesar 10 ton per hari. Wax
Plant berfungsi untuk memisahkan lilin yang terkandung dalam Parafinic
Oil Distilate (POD) baik yang ringan atau medium. Umpan Wax Plant terdiri
dari campuran 70-80% berat paraffinic oil distilate dengan 20- 30%
ditambah dengan sedikit minyak dari filter press. Produk yang dihasilkan
dari wax plant adalah Hard Hard Paper (HHP), Hard Semi Refinite (HSR),
Yellow Batik wax (YWB), dan Fully Refinery Wax (FRW). Umpan yang

22
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

berupa POD akan mengalami proses sweating 1 untuk mengurangi


kandungan minyak dalam POD. Proses ini diawali dengan mendinginkan
POD tersebut dalam vertical tube stove sampai suhu 27oC (sampai beku)
dengan menggunakan air pendingin yang bersirkulasi dengan cooling tower
dan dengan udara yang berasal dari blower. Setelah itu dilakukan pemanasan
POD secara bertahap dengan kenaikan tempeatur sebesar 1oC/jam di mana
secara perlahan akan keluar foots oil dan sweat wax unit tersebut

Gambar 3.10. Diagram blok proses Sweating

Selanjutnya sweat wax melalui proses treating agar mencapai spesifikasi


yang diinginkan, yaitu tahap yang digunakan untuk menstabilkan warna,
bau, dan kandungan minyak. Sweat wax dicampur dengan H2SO4 pekat
(98%) dalam tangki yang dilengkaai dengan agitator. Pengadukan dilakukan
selama dua jam dengan temperatur 105-110oC, dan diendapkan selama dua
jam sampai H2SO4 terpisahkan sepenuhnya. Setelah itu ke dalam tangki
ditambahkan juga batu kapur untuk menetralkan asam, pengadukan
dilakukan selama dua jam. Selanjutnya campuran akan ditambahkan clay
untuk menyerap warna dalam lilin dan juga polietilen untuk memperbaiki
sifat kerekatan dari lilin. Selanjutnya clay akan dipisahkan melalui steam
heated filter press untuk menghasilkan produk akhir yaitu finished wax.

Gambar 3.11. Diagram blok proses treating

Terakhir wax harus melalui proses moulding untuk mencetak ready wax
dalam bentuk lempengan. Finished wax dari run down tank didinginkan dari
80oC sampai 50oC, kemudian didistruibusikan ke moulding press. Operasi

23
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

moulding dilakukan dengan mengalirkan air pendingin ke dalam plate


moulding. Setelah lilin membeku, moulding press dibongkar dan wax
dipasarkan dalam bentuk lempengan-lempengan.

Gambar 3.12. Diagram blok proses moulding

[Link].Effluent Water Treatment Plant (EWTP)


Air buangan dari kilang 1 Balikpapan dan limbah cair yang dihasilkan oleh
berbagai proses kilang Balikpapan II, serta buangan air hujan dari area
tangki yang mengandung minyak yang diolah di effluent water treatment
plant (EWTP). Tujuan pengolahan adalah agar air yang dibuang ke perairan
teluk Balikpapan memenuhi spesifikasi baku mutu air limbah cair yang
ditetapkan pemerintah daerah. EWTP mampu mengolah hingga 500 m3/jam.
Air limbah yang diolah dipisahkan menjadi dua jenis, refinery water dan
storm water. Refinery water berasal dari unit-unit proses yang mengandung
banyak minyak sehingga harus dipisahkan dari air sebelum dibuang ke laut.
Storm water berasal dari beberapa sump dan parit yang terdapat di dalam
kilang. Kandungan minyak dan senyawa berbahaya lain dikurangi sampai
batas aman air untuk dialirkan ke laut. Pada unit terdapat beberapa peralatan
proses seperti refinery water stilling zone, gravity separator, equalization
basin, coagulation tank, dissolved air flotator, bioaeration basin, clarifier,
dan gravity head discharge chamber. Secara umum pengolahan air di RU V
Balikpapan adalah sebagai berikut:

Gambar 3.13. Diagram blok pengolahan pada EWTP

24
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

3.2.2. Kilang Balikpapan II


Kilang Balikpapan II adalah kilang yang didirikan pada tahun 1981 dan
memiliki dua kompleks, yaitu hydroskimming complex (HSC) dan
hydrocracking complex (HCC). Kilang dengan kapasitas 200 MBSD ini
memiliki proses pengolahan secara umum seperti gambar di bawah ini:

Gambar 3.14. Diagram proses keseluruhan Kilang Balikpapan II

[Link].Hydroskimming Complex (HSC)


Diambil dari penggalan kata tersebut skimming memiliki arti mengambil
sesuatu yang ada pada permukaan atau bagian atas. Maka itu HSC memiliki
peran utama dalam memisahkan komponen-komponen dalam minyak
mentah. Di dalamnya terdapat beberapa unit yaitu CDU IV, Naphta
Hydrotreater, Platforming Unit, LPG Recovery Unit, Sour Water Stripping
Unit, LPG Treater Unit.
[Link].[Link] Distillation Unit (CDU IV)
Unit berkapasitas 200 MBSD ini, CDU IV, didesain untuk mengolah
minyak yang berasal dari Handil dan Bekapai serta mengolah berbagai
macam crude oil dalam bentuk cocktail. Sebelum memasuki proses
fraksinasi minyak mentah akan menerima pretreatment terlebih dahulu.
Proses pretreatment ini memiliki langkah dan proses pengolahan yang
sama seperti proses pretreatment yang dilakukan pada kilang Balikpapan I.
Keluaran dari proses perlakuan awal adalah minyak mentah dengan

25
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

temperatur 330oC dan memiliki kandungan pengotor yang rendah. Akibat


temperatur yang tinggi tersebut saat minyak mentah memasuki kolom
faksionasi minyak akan teruapkan sebanyak 66% pada tekanan 1.44
kg/cm2 gauge. Produk dari proses ini adalah off gas, light naphta, heavy
naphta, LGO, HGO, dan long residue sama hal nya seperti CDU pada
kilang Balikpapan I.

Gambar 3.15. Diagram blok CDU IV Kilang Balikpapan II

Secara umum proses pada CDU kilang ini mirip dengan CDU pada kilang
Balikapapn I. Kolom distilasi terdiri dari 53 valve tray dengan 3 side
striper, dengan tekanan kolom adalah 0.97 kg/cm2. Stripping steam
diinjeksikan ke dalam kolom sebagai pelucut. Steam juga digunakan untuk
mengurangi tekanan uap parsial sehingga hidrokarbon sehingga fraksi
ringan dapat terbawa oleh steam tersebut. Residu keluar pada temperatur
338oC pada tray bottom dan akan disirkulasikan sebagai fluida pemanas
sehingga menurunkan temperatur residu sampai 253oC sebelum memasuki
Vacuum Unit (HVU II). Uap bagian atas akan didinginkan dan
dikondensasikan sebagian oleh fin fan cooler kemudian dialirkan kepada
crude column receiver. Uap air dan hidrokarbon akan dipisahkan pada unit
ini. Tekanan gas pada receiver di kontrol pada 0.32 kg/cm2 dengan
mengalirkan gas ke fuel gas system atau membuang gas berlebih ke flare.
Uap dari akumulator akan dialirkan menuju compressor suction drum dan
di kompresi untuk dibawa menuju recontator drum dan Stabilizer feed
surge drum. Cairan dari accumulator yang terkondensasi. Amonia akan
diinjeksikan ke pipa produk uap untuk menetralisir air yang terkondensasi
pada akumulator serta menjaga pH pada kisaran 7-9 serta inhibitor korosi

26
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

untuk mecegah terjadinya korosi. Uap yang tidak terkondensasi akan di


kompresi dan dimasukan kepada recontactor drum untuk melucuti sisa sisa
hidrokarbon ringan yang tersisa sebelum dibuang menuju LPG recovery
plant. Sedangkan sisa air yang ada pada drum tersebut akan dikirimkan
pada sour water stripper. Minyak yang terkondensasi akan dikembalikan
sebagian menuju kolom dan sebagian sebagai produk Nafta yang akan
dimasukan kepada unit Naphta Splitter.

Produk samping bagian atas merupakan kerosin yang diambil pada tray 18
dengan temperatur 193oC. Produk kerosin akan melalui stripper yang
dipanaskan oleh HGO sirkulasi sehingga fraksi ringan akan menguap dan
dikembalikkan ke kolom. Produk kerosin yang keluar dari stripper bersuhu
212oC akan memanaskan minyak mentah dan melalui pendingin udara
serta pendingin air sampai temperaturnya mencapai 38oC. Light Gas Oil
diambil pada tray 32, dan 30% darinya dikembalikan ke dalam kolom
fraksionasi, 60% akan dipanaskan sampai suhu 200oC dan dikembalikan ke
kolom dan sisanya dijadikan produk. Produk LGO yang keluar dari
stripper akan digunakan akan memanaskan minyak mentah dan melalui
pendingin finfan sehingga temperaturnya mencapai 55oC. LGO kemudian
dicampur dengan kerosin dan didinginkan menjadi 38oC. Sedangkan
Heavy Gas Oil (HGO) diambil di tray 43, 45% dari campuran ini bersuhu
299oC di kembalikan langsung ke kolom tanpa di dinginkan menuju tray
44, dan 40% cairan ini didinginkan sampai 231oC dan di kembalikan ke
tray 41. HGO yang disirkulasi digunakan untuk memberikan panas
penguapan pada kerosene stripper dan Stabilizer column. Produk HGO
akan memasuki HGO stripper dengan bantuan steam untuk pelucutan.
Residu dialirkan menuju vacuum feed surge drum setelah didinginkan
hingga 159oC, sebelum dimasukan ke dalam unit vakum. Sama seperti
proses yang ada pada CDU kilang Balikpapan I, nafta dihasilkan dari
Stabilizer dan akan dipisahkan menjadi nafta ringan dan berat pada unit
naphta splitter. LGO digunakan sebagai media pemanas pada splitter
reboiler. Light Naphta merupakan produk Overherad yang kemudian di

27
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

kondensasi dengan udara sampai 55oC kemudian dikirimkan menuju


receiver. Sekitar 85% dari ini dikembalikan lagi ke kolom. Produk bawah
dari unit ini yaitu heavy naphta akan dikirimkan menuju unit NHT atau
naphta hydrotreating unit.

[Link].[Link] Hydrotreater Unit


Naphta Hydrotreater Unit (NHT) pada RU V memiliki kapasitas desain
sebesar 20 MBSD, merupakan unit proses katalitis dengan menggunakan
gas hidrogen untuk mendekomposisi sulfur organik, senyawa nitrogen dan
oksigen yang tekandung pada hidrokarbon. Proses ini juga
mendekomposisi senyawa olefinik jenuh. Naphta Hydrotreater Unit
bertujuan untuk menghilangkan racun katalis pada nafta yang akan
memasuki platformer unit. Kondisi operasi NHT adalah 368oC dan 28.6
kg/cm2. NHT menerima umpan dari CDU IV yang berupa heavy naphta.
Hasil keluaran dari unit NHT akan menghasilkan minyak dengan
spesifikasi berikut:

Tabel 3.4. Spesifikasi produk hasil NHT


Kontaminan Nilai
Klorida dan Florida Total 1 wt ppm
Sulfur Total 0.5 wt ppm
Nitrogen Total 0.5 wt ppb
Timah 0.5 wt ppb
Arsenik 1 wt ppb
Tembaga dan Logam Berat 25 wt ppb

Umpan campuran terakumulasi dalam feed surge drum dan di pompa ke


dalam reaktor melewati suatu pemanas furnace yang akan menguapkan
umpan. Hidrogen akan dicampurkan dengan umpan nafta sebelum
memasuki furnace. Reaktor untuk hydrotreating berjumlah satu dan diikuti
dengan sebuah penukar panas untuk menukar panas antara efluen reaktor
dengan umpan reaktor. Pada reaktor tersebut digunakan katalis Cobalt-
Molybdenum (UOP S-120) dengan volume katalis 13.25 m3. Reaktor NHT
ini beroperasi pada temperatur 315-340oC dan tekanan 20-35 kg/cm2.

28
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Gambar 3.16. Diagram alir proses dalam unit NHT

Reaksi reaksi treating yang ada di dalam unit NHT antara lain adalah
desulfurisasi atau penghilangan sulfur dari nafta dengan gas hidrogen yang
mengubahnya menjadi H2S. Temperatur masuk reaktor yaitu sekitar 315-
340oC dan tekanan 20-35 kg/cm2. Reaksi reaksi yang terjadi dalam reaktor
disimpulkan dalam tabel dibawah ini:

Tabel 3.5. Reaksi desulfurisasi dalam unit NHT


Zat Pengotor Reaksi Pemurnian
Merkaptan R-S-H + H2 R - H + H2S
Sulfida R S R + H2 2R - H + H2S
Disulfida R S S R + H2 2R-H + 2 H2S
Sulfida Siklis C6H14S + 2H2 C6H14 + H2S
Tiofien C6H14 + 4H2 C6H14 + H2S

Selain itu juga dilakukan proses untuk menghilangkan senyawa oksigen


dari minyak nafta dalam unit ini. Kandungan senyawa oksigen yang sering
menjadi peermasalahan adalah kandungan fenol yang dapat menyebabkan
fouling pada reaktor dan penukar panas. Reaksi hidrogenasi fenol untuk
dihilangkan adalah seperti berikut:

Gambar 3.17. Reaksi penghilangan senyawa oksigen dalam minyak


Reaksi penjenuhan olefin oleh hidrogenasi memiliki laju reaksi yang sama
dengan proses desulfurisasi. Reaksi ini bersifat sangat eksotermis. Olefin

29
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

dapat terpolimerisasi membentuk coke pada katalis. Selain itu juga olefin
yang terpolimerisasi dapat menyebabkan fouling pada unit-unit yang
dilaluinya. Selanjutnya proses dalam NHT juga menghilangkan kandungan
halida dan logam organo metalik dengan prinsip yang sama. Namun untuk
proses dekomposisi logam pada NHT dibutuhkan temperatur di atas
315oC.

Hidrogen yang tersisa kemudian dikembalikan lagi ke umpan dengan


bantuan kompressor yang menghisap gas hidrogen dari reactor product
separator. Cairan yang terpisah dari product reactor separator di alirkan
ke dalam kolom stripper yang dilengkapi dengan sebuah furnace reboiler
yang digunakan unuk membangkitkan uap pelucut di bottom. Uap ini akan
melucuti H2S, air hidrokarbon dan hidrogen dari nafta. Uap ini melewati
bagian atas stripper dan dikondensasi di fin-fan dan disimpan di overhead
reveiver. Semua H2S, air, dan hidrokarbon ringan yang terlucuti dibuang
sebagai fuel gas. Produk bawah dari kolom stripper ini adalah sweet nafta
yang merupakan umpan untuk platformer. Serta air yang berasal dari
reactor product separator akan di buang ke sour water stripper plant.
[Link].[Link] Unit
Platforming process unit dirancang untuk membetnuk molekul
hidrokarbon tertentu yang dapat digunakan untuk bahan bakar mesin
secara katalitik dalam rentang titik didih nafta dan menghasilkan
komponen blending bahan bakar dengan nilai oktan yang tinggi. Kapasitas
unit ini adalah 20000 barrel/hari dan menghasilkan 161638 barrel reformat
per harinya dengan nilai oktan 96. Umpan dalam unit ini adalah sweet
naphta. Sebagian dari umpan disimpan ke dalam tangki yang memiliki
nitrogen blanket yang berfungsi untuk menjaga sweet nafta tetap kering,
tidak teroksidasi dan memperpanjang umur storage. Platforming unit
dirancang untuk mengubah heavy nafta bernilai oktan rendah menjadi
bernilai oktan tinggi yang disebut dengan reformat. Platformat ini
merupakan komponen utama dalam blending bensin.

30
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Umpan nafta di campur dengan recycle gas hidrogen sebelum memasuki


Combined feed effluent exchanger. Umpan dingin dicampur dengan
hidrogen, dipanaskan dan diuapkan sebelum memasuki charged heater.
Beberapa reaksi dalam unit ini adalah dehidrogenasi naftena menjadi
aromatik, isomerisasi naftena, dan dehidrosiklisasi. Umpan campuran ini
lalu dipanaskan sampai 543oC dan masuk ke dalam reaktor dimana reaksi
utama berlangsung. Keluaran reaktor pertama adalah 438oC dan
memerlukan panas yang lebih untuk masuk ke reaktor kedua maka itu
diapanaskan lagi dalam interheater dimana temperatur reaksi meningkat
sampai 543oC. Proses ini diulangi untuk reaktor kedua dan ketiga.
Keluaran reaktor akhir bertemperatur 124oC yang kemudian didinginkan
oleh fin fan cooler sampai 34oC. Proses unit platforming dapat dilihat pada
gambar dibawah ini.

Gambar 3.18. Diagram alir proses pada unit platformer

Pada platforming unit di Pertamina RU V Balikpapan terdapat unit


regenerasi katalis untuk keperluan platformer yaitu Continous Catalyst
Regeneration Unit (CCR). Katalis yang digunakan dibawa via lock hopper
ke unit CCR dengan bantuan gas nitrogen yang mengangkut katalis ke
disengaging hopper. Kemudian katalis dimasukan ke regeneration tower
untuk dikontakkan dengan udara panas untuk membakar karbon yang
terdekomposisi di permukaan katalis. Kemudian katalis diklorinasikan
dengan perkloroetilen untuk mengoksidasi logam ke dalam bentuk Pt-O-
Cl. Setelah melewati tiga bagian kemudian katalis masuk ke dalam surge
hopper dimana katalis akan didinginkan ke 40oC dengan sirkulasi air.
Katalis baru ditambahkan ke surge hopper via catalyst addition lock
hopper. Untuk menggantikan katalis yang sudah tidak b sa di

31
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

regenerasikan kembali. Katalis yang sudah di regenerasi dikembalikan lagi


ke dalam reaktor No. 1 melalui lift engager dengan bantuan gas dari
recontact drum sebagai gas pengangkut. Berikut merupakan diagarm alir
proses CCR.

Gambar 3.19. Diagram alir unit CCR


[Link].[Link] Recovery Unit
LPG recovery unit didesain untuk mengolah 6.3 MBSD umpan. Umpan
merupakan gas campuran yang 7.9% berasal dari debutanizer platformer,
12.8 % debutanizer hidrocracker, dan 79.3% dari CDU. Unit ini
memproduksi aliran LPG yang terutama terdiri dari gas propan dan butan
yang kemudian dikirim ke tangki penyimpanan LPG. Unit juga
memroduksi gas aliran campuran yang kemudian dikirim ke sistem fuel
gas untuk dicampurkan dengan aliran off gas dari bermacam macam unit
di dalam kilang sebelum diguakan sebagai bahan bakar. Ketiga aliran asal
gas pengolahan unit ini akan digabungkan dan dipanaskan sebelum
memasuki deethanizer sampai pada 87oC. Dalam deetanizer zat-zat yang
lebih ringan dari propan akan dipisahkan. Panas diberikan ke kolom
menggunakan steam agar tekanan dan temperatur 32.7 kg/cm2 dan 104oC.
Gas overhead meninggalkan kolom pada 52oC dan 32.3 kg/cm2 dan di
masukkan ke dalam receiver. Dalam receiver ini gas, air, dan cairan akan
dipisahkan. Cairan yang dipisahkan dimanfaatkan sebagai reflux ke tray 1
deethanizer. Air kemudian dikirimkan menuju sour water stripper untuk
diolah sedangkan gas di panaskan dari 38oC menjadi 54oC dan dikirim

32
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

menuju fuel gas receiver. Gas overhead yang meninggalkan deetanizer


masih mengandung H2S, gas pencemar ini dihilangkan dengan
menambahkan suatu inhibitor kimia. Sedangkan produk bawah dari
deeethanizer berupa LPG yang didinginkan dengan aliran umpan sampai
pada 65oC dan didinginkan dengan air laut sampai 38oC sebelum
dimasukan ke dalam panampungan.

Gambar 3.20. Diagram alir proses LPG Recovery Unit

[Link].[Link] Treating
Unit ini bertujuan untuk menghilangkan kandungan sulfur yang berlebihan
pada LPG yang berasal dari LPG recovery plant. Proses yang terjadi
adalah LPG dilewatkan pada absorber yang berupa sistem caustic wash
sehingga sulfur dalam LPG akan terlarut. Kapasitas dari unit ini adalah
6300 Barrel per hari.

[Link].[Link] Water Stripper


SWS berfungsi untuk mengolah air buangan proses yang mengandung H2S
dan NH3. SWS memiliki kapasitas pengolahan maksimum sebesar 58
m3/jam. Air buangan proses dialirkan ke sour water degassing drum untuk
pemisahan antara air, minyak, dan gas. Air yang dialirkan ke sour water
degassing drum akan melalui distributor internal untuk mencegah
terjadinya turbulensi sehingga pemisahan antara air, minyak, dan gas bisa
berlangsung dengan baik. Gas yang terpisah dibakar di incinerator yang
terletak di bawah common stack bagian HSC. Minyak di permukaan air
dipisahkan dan dialirkan ke tangki slop oil. Air yang berada di bagian
bawah dialirkan ke stripper untuk dipisakan dari gas H2S dan NH3. Media
pemanas yang digunakan pada reboiler adalah LPS (Low Pressure Steam).
Produk overhead berupa gas dari stripper dialirkan ke incinerator untuk

33
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

dibakar dan dibuang melalui common stack. Produk bawah stripper berupa
air dialirkan dengan pompa dan didinginkan dengan heat exchanger dan
fin-fan. Air kemudian dialirkan ke CDU IV dan HVU II sebagai wash
water pada desalter. Jika kandungan minyak pada air melebihi spesifikasi,
air dialirkan ke EWTP. Diagram blok Sour Water Stripper dapat dilihat
pada gambar dibawah ini:

Gambar 3.21. Diagram alir proses unit Sour Water Stripper

[Link].Hydrocracking Complex (HCC)


Tujuan adanya kompleks ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan nilai
jual dari sisa sisa minyak berat yang masih dapat diolah dengan nilai jual
yang tinggi. Kompleks Hydrocracking ini terdiri dari HVU II, Hydrocracker
Unibon Plant, hydrogen plant, hydrogen recovery unit plant, dan flare gas
recovery plant.

[Link].[Link] Vacuum Unit (HVU) II


Umpan yang masuk ke unit HVU II terdiri dari 81.5% long residue yang
berasal dari CDU IV dan 18.5% dari CDU V. Unit ini memiliki kapasias
pengolahan sebesar 81 MBSD. Secara umum prinsip kerja HVU pada unit
ini sama saja dengan unit HVU pada kilang Balikpapan 1. HVU II
berfungsi untuk memisahkan fraksi-fraksi yang terdapat pada long residue
yang tidak dapat dipisahkan pada kolom fraksionasi CDU IV. HVU II
beroperasi pada tekanan vakum untuk menurunkan titik didih minyak
mentah agar temperatur operasi tidak terlalu tinggi untuk mencegah
terjadinya cracking. Kapasitas maksimum HVU II adalah 81 MBSD.
Produk HVU II adalah LVGO, HVGO, dan short residue. LVGO
digunakan sebagai bahan blending bahan bakar diesel, HVGO digunakan
sebagai umpan HCU, sedangkan short residue digunakan sebagai bahan

34
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

campuran heavy fuel oil dan LSWR. Keadaan vakum pada kolom
diciptakan oleh steam ejector tiga tahap dengan proses serupa dengan
HVU III Kilang Balikpapan I. Beberapa cairan yang diambil dari unit
HVU II digunakan sebagai fluida pemanas seperti HVGO. Perbedaan
produk antara HVU II dan HVU III ada pada produski POD yang tidak
terdapat pada HVU II karena perbedaan jenis minyak yang diolah.

[Link].[Link] Unibon Unit (HCU)


HCU memiliki fungsi utama untuk melakukan reaksi perengkahan rantai
hidrokarbon pada HVGO yang merupakan umpan dari unit ini. HVGO
mengalami perengkahan katalitik di unit HCU dengan kapasitas total 55
MBSD. Gas kaya hidrogen yang digunakan oleh proses hydrocracking
disuplai dari platforming unit sebanyak 25% dan dari hydrogen plant 75%.
Proses perengkahan dalam unit ini membutuhkan 236 Nm3/h gas hidrogen
per 1 m3 umpan HVGO, reaktor perengkahan beroperasi pada temperatur
350oC dan 170 kg/cm2. Selain digunakan untuk perengkahan, gas hidrogen
dalam unit ini juga digunakan untuk proses treating, yaitu menghilangkan
kandungan sulfur, oksigen, nitrogen, dan senyawa logam dari minyak
dengan mengubahnya menjadi senyawa lain. Reaksi perengkahan ini
dibantu dengan kehadiran katalis berfungsi ganda yang memiliki inti asam
dan inti logam untuk proses hydrogenation dan dehydrogenation. Katalis
terbuat dari unsur logam VIII dan silika-alumina. Reaksi penjenuhan
dalam unit ini selalu berlangsung eksotermis, semakin dikit kandungan
parafin dari minyak yang diolah maka akan semakin eksotermis reaksi
yang berlangsung.

Gambar 3.22. Diagram alir proses dalam HC Unibon


Pertama umpan HVGO dari HVU II masuk ke dalam surge drum dan
dipompa menuju reaktor 1 C-5-03 melalui penukar panas dan furnace

35
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

sehingga tekanan dan temperaturnya menjadi 203 bar dan 427 oC. Dalam
reaktor no.1 terdapat dua unggun katalis dimana terbagi pada bagian atas
dan bagian bawah. Tujuan adanya dua unggun ini adalah agar pada unggun
bagian atas terjadi pemurnian dan penyaringan dan perataan distribusi
aliran fluida, hal ini dilakukan untuk mencegahnya peristiwa pemanasan
lokal. Serta terdapatnya celah diantara dua unggun ini digunakan sebagai
celah quenching untuk mendinginkan jika terjadi peningkatan temperatur
yang tidak terkendali dalam reaktor oleh semburan gas H2. Temperatur
yang terlalu tinggi diakibatkan oleh reaksi yang sangat eksotermis,
temperatur yang terlalu tinggi atau excursion dapat menyebabkan
terjadinya sintering pada katalis dan mendeaktivasi katalis-katalis yang ada
dan menciptakan reaksi pengokasan pada minyak. Setelah melalui reaktor
1, effluent dari reaktor 1 dikontakkan kembali dengan gas hidrogen untuk
mendinginkan kembali aliran tersebut. Serta menambah jumlah hidrogen
dalam aliran sebelum memasuki reaktor 2. Berbeda dari rektor 1 pada
reaktor 2 hanya memiliki 1 unggun saja. Effluent keluaran dari reaktor2
akan digunakan untuk memanaskan aliran fresh feed dan mengalami
penurunan temperatur dari 194oC ke 54oC. Air juga diinjeksikan ke pada
aliran keluaran ini untuk melarutkan garam dimana air garam, gas, dan
produk minyak dipisahkan pada high pressure separator (HPS). Gas dari
HPS ini akan dialirkan kembali ke dalam reaktor, sedangkan minyak
dengan tekanan tinggi akan dialirkan menuju generator untuk
menghasilkan daya guna menggerakan pompa fresh feed. Setelah
menggerakan generator minyak akan masuk kepada low pressure flash
drum dan dipisahkan menjadi fasa gas sebagai fuel gas dan fasa minyak
bawah dikirim menuju bagian fraksionasi. Pertama effluent reaktor 2 akan
memasuki kolom debutanizer dan memisahkan butan dan fraksi-fraksi
hidrokarbon yang lebih ringan menuju LPG recovery plant dan sisa produk
bottom yaitu C5+ dialirkan menuju kolom fraksionasi melalui furnace
untuk meningkatkan temperaturnya menjadi 371oC dalam fraksionator
diambil beberapa produk yaitu gas overhead, light naphta, heavy naphta,

36
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

ligth kerosene, heavy kerosene, diesel dan net bottom fraksionator yaitu
produk bawah yang tidak teruapkan dalam kolom. Beberapa produk seperti
diesel oil digunakan sebagai fluida pemanas yang diputar putar untuk
memanaskan berbagai macam aliran dalam penukar panas, baru setelahnya
dialirkan menuju tangki penyimpanan. Produk light kero dan heavy kero
dialirkan ke dalam tangki. Produk bottom fraksionator yang bertemperatur
tinggi digunakan untuk membangkitkan steam pada high presssure steam
generator dan medium pressure steam generator dan mengalami
penurunan temperatur dari 360oC menj adi 221oC sebelum dikirimkan
kembali kepada recycle reactor untuk meningkatkan konversi
perengkahan.

Gambar 3.23. Diagram alir proses fraksionasi


Sedangkan produk nafta dikirimkan menuju naphta splitter dimana umpan
nafta akan dipisahkan menjadi produk bawah berupa heavy nafta dan
produk overhead berupa campuran hidrokarbon nafta fraksi ringannya
dikirimkan menuju unit light naphta stripper. Pada unit ini umpan yang
berasal dari produk atas naphta splitter tadi akan di pisahkan menjadi
produk gas hidrokarbon ringan dengan komposisi LPG yang berisi propan
dan butan yang dikirimkan menuju LPG storage. Sedangkan produk
bawah dari light naphta stripper ini adalah light naphta yang di gunakan
secara langsung untuk blending gasolin. Pada kedua unit pemroses nafta
ini digunakan prinsip pemisahan berdasarkan titik didih. Panas yang
dibutuhkan oleh kedua unit ini di-supply oleh hasil pump around dari
diesel yang memanaskan aliran refluks untuk naphta splitter dan light
naphta stripper. Stripping vapor dari kedua unit pengolah naphta ini

37
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

didapatkan dari cairan bottom unit itu sendiri yang diuapkan menggunakan
reboiler. Naphta stripper beroperasi pada temmperatur 58oC dan tekanan
4.92 kg/cm2. Diagram proses pada pengolahan nafta pada HCC dapat
dilihat pada diagaram alir berikut.

Gambar 3.24. Diagram alir proses Naphta Splitter dan Light Naptha Stripper

Selanjutnya aliran bottom fraksionator yang telah didinginkan dengan


membangkitkan steam, dialirkan menuju recycle feed reactor di mana
dalam reaktor tersebut sisa-sisa residu dari fraksionator yang tidak
terkonversi, dalam arti lain merupakan HVGO yang tidak bereaksi. Residu
ini akan bereaksi dengan bantuan katalis dan gas hidrogen menjadi produk-
produk yang lebih ringan. HVGO residu akan masuk ke dalam reaktor
recycle dan menghasilkan effluent produk dalam temperatur 221oC dan
tekanan 3.5 kg/cm2, kondisi ini digunakan untuk memanaskan aliran
recycle feed sebelum memasuki furnace heater dan masuk ke reaktor.
Produk ini kemudian dikondensasikan dan dicampur bersama produk
reaktor fresh feed pada high pressure separator dan mengikuti aliran
selayaknya produk dari reaktor 2.

[Link].[Link] Plant
Kebutuhan proses HCC membutuhkan gas hidrogen dalam jumlah yang
sangat banyak, bukan hanya banyak namun juga pada tekanan yang tinggi
yaitu 170 kg/cm2. Suplai gas hidrogen didapatkan dari platformer unit dan
hydrogen plant unit. Hydrogen plant berfungsi untuk mengolah gas alam
menjadi gas hidrogen untuk memenuhi kebutuhan unit HCU. Hydrogen
Plant terdiri dari dua train dan memiliki kapasitas maksimum sebesar

38
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

80.000 Nm3/jam. Hydrogen plant memanfaatkan reaksi steam reforming


yang mengkonversi CH4 menjadi H2 dan CO/CO2 dengan bantuan steam.
Kemurnian dari gas hidrogen yang dihasilkan adalah 96,6%. Diagram blok
Hydrogen Plant dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 3.25. Diagram alir proses pada Hydrogen Plant


Hydrogen plant (Plant 8) memproduksi hidrogen makeup untuk unit HCU
dari gas alam, uap LPG, atau campuran keduanya. Hydrogen plant
memiliki dua train paralel dengan rancangan 50% turndown. Mula-mula
pada bagian feed compression gas alam akan masuk ke dalam kompresor
dengan laju alir 15 MMSCFD pada tekanan 3.1 kg/cm2 dan dikompresi
menjadi 24.2 kg/cm2 melalui dua tahap kompresi. Proses reformasi kukus
ini membutuhkan pasokan gas alam dengan 80% metana, etana, propana,
dan butana dalam komposisi yang jauh lebih dikit. Pasokan gas alam ini
didapatkan dari Unocal. Saat pasokan gas alam menipis, dapat digunakan
gas LPG sebagai pengganti namun tidaklah disarankan karena tidak sesuai
desain katalis. Sebelum direaksikan gas alam akan dimurnikan dengan
penambahan gas hidrogen murni dan dilewatkan pada unggun katalis Co-
Mo dan unggun katalis ZnO. Setelah dimurnikan umpan gas yang akan
memasuki reformer akan dicampur dengan steam bertemperatur 400oC
bertekanan 32 kg/cm2 kemudian dipanaskan hingga 538oC dalam feed
preheat coil. Umpan kemudian dilewatkan melewati katalis Ni-Al pada
radiant section dimana reaksi terjadi dan produk keluar pada temperatur
849oC. Setelah melewati reformer gas produk didinginkan sampai pada
357oC dan produk ini masih mengandung 25% gas CO2 dan CO. Maka itu

39
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

seluruh gas CO akan dikonversi menjadi CO2 dan di hilangkan pada kolom
absorbsi. Untuk mengonversi sisa gas karbon yang ada, maka
digunakanlah dua unit converter yaitu high temperature shift converter
(HTSC) dan low temperature shift converter (LTSC). Dalam kedua unit ini
karbon monoksida diubah menjadi karbon dioksida melalui reaksi berikut:

CO + H2O CO2 + H2

Tujuan digunakannya dua unit ini adalah agar pada HTSC, temeperatur
yang cukup tinggi dapat membuat seluruh karbon bereaksi dengan sangat
cepat karena semakin tinggi temperatur maka akan semakin tinggi juga
laju reaksinya. Sedangkan pada LTSC membuat reaksi mencapai
kesetimbangan dan meningkatkan konversi dari gas CO menjadi gas
hidrogen. Katalis yang digunakan dalam HTSC adalah FeO atau pun CrO,
sedangkan untuk LTSC menggunakan katalis CuO atau Al2O3. Dalam
plant 8 ini juga terdapat unit benfield absorbtion system, dimana pada unit
ini gas-gas CO2 akan diabsorbsi oleh larutan benfield yang mengandung
27% K2CO3, 5% DEA, dalam air. Proses absorbsi berjalan pada tekanan
dan konsentrasi CO2 yang tinggi. Gas CO2 dilepaskan dari larutan dengan
cara menurunkan tekanan kemudian dilucuti dengan steam dalam benfield
solution stripper. Gas yang mengandung sedikit CO2 keluar dari kolom
absorbsi dan memasuki kolom hydrogen water wash column dan benfield
stripper di mana sisa-sisa larutan benfield dalam gas akan di hilangkan
menggunakan air. Hal ini penting dilakukan karena larutan benfield yang
terbawa ke unit metanator dapat meracuni katalis didalamnya. Setelah gas
bersih dari kandungan pengotor-pengotor di dalamnya, gas ini dimasukan
ke dalam unit metanator dengan tujuan mengkonversi sisa-sisa gas CO2
dan CO yang belum terkonversi menjadi hidrogen agar direaksikan untuk
dijadikan metana melalui reaksi berikut:

CO + 3 H2 CH4 + H2O
CO2 + 4 H2 CH4 + 2H2O

40
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Kedua reaksi tersebut sangatlah eksotermis. Metanator menggunakan


katalis NiO dengan support Alumina. Setelah keluar dari metanator gas
hidrogen didinginkan menjadi 176oC melalui penukar panas dan
didinginkan lagi sampai pada 55oC dengan methanator product air cooler.
Air dan gas produk ini dipisahkan pada separator menghasilkan gas
hidrogen dengan kemurnian yang tinggi.

Setelah gas hidrogen di produksi pada hydrogen plant, masih belum sesuai
dengan spesifikasi reaktor karena tekanannya masih terlalu rendah. Maka
dari itu sebelum dimasukan ke dalam reaktor hydrocracker gas hidrogen
mengalami perlakuan kompresi tiga tahap untuk menaikan tekanannya
sampai pada tekanan reaktor. Pertama gas hidrogen dari plant 8 akan
memasuki 1st stage flash drum yang lalu dilanjutkan dengan kompresi
yang menaikkan tekanan gas hidrogen dari 13 kg/cm2 menjadi 40 kg/cm2
dan temperatur 150oC maka itu sebelum masuk kepada tahap 2nd stage gas
harus didinginkan terlebih dahulu. Pendinginan menggunakan fin fan
cooler yang dilanjuti dengan pendinginan sea water mampu menurunkan
temperatur gas dari 150oC menjadi 38oC. Setelah didinginkan gas akan
memasuki 2nd flash drum kedua untuk memisahkan sisa-sisa air yang ada
dan juga sebagai tempat pencampuran gas hidrogen dari plant 8 dan
dengan gas hidrogen yang berasal dari platformer unit. Setelah kedua
aliran gas hidrogen tercampur gas dialirkan menuju 2nd stage kompressor
untuk meningkatkan tekanan gas hidrogen dari 39 kg/cm2 menjadi 89
kg/cm2 dan temperatur 121oC. Dari hasil keluaran ini maka gas hidrogen
haruslah didinginkan kembali menggunakan metode yang serupa pada
kompresi tahap 1. Setelah didinginkan sampai pada suhu 38oC barulah gas
hidrogen ini memasuki 3rd stage kompresor untuk menaikkan tekanannya
dari 89 kg/cm2 menjadi 200 kg/cm2 pada temperatur 117oC. Setelah tahap
ini tidak dibutuhkan lagi pendinginan dikarenakan gas hidrogen akan
langsung dialirkan menuju reaktor dimana dibutuhkan tekanan dan
temperatur yang tinggi.

41
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Gambar 3.26. Diagram alir kompresi 3 tahap gas hidrogen

[Link].[Link] Recovery Plant


Unit ini memiliki kapasitas sebesar 14467 Nm3/ jam. Umpan yang diterima
oleh hydrogen recovery plant berasal dari LPS off gas yang berasal dari
HCU. Gas hidrogen merupakan umpan dengan komposisi terbesar dalam
unit ini yaitu 76.4%. Plant ini terbagi menjadi dua bagian, gas sweetening
section dan membrane section. Gas sweetening section berfungsi untuk
mengurangi kandungan NH3 dan H2S yang terdapat pada aliran. Bagian ini
terdiri dari Ammonia Scrubber Section, Absorber Section, Amine
Regeneration System, dan Amine Makeup System. Off gas LPS dialirkan ke
scrubber untuk memisahkan NH3 dengan dikontakkan dengan air. Produk
sour gas dari scrubber dialirkan menuju absorber yang terdiri dari 15 valve
tray untuk memisahkan H2S. Absorben yang digunakan adalah larutan
dietanolamina berkonsentrasi 35% berat. Produk dari absorber diregenerasi
di regenerator melalui pengontakan dengan uap panas untuk
menghilangkan H2S. Membrane section berfungsi untuk mengambil gas
hidrogen dengan kemurnian 98% mol. Membrane section memiliki LPS
Off Gas Compressor dan Hydrogen Recovery Membrane. Nantinya gas
hidrogen inilah yang akan disuplai kembali menuju reaktor sebagai recycle
gas.

42
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

[Link].[Link] Gas Recovery System


Dalam unit ini flare gas dan off gas yang dihasilkan akan dikonversikan
menjadi fuel gas dan LPG. Kapasitas unit ini adalah 4000 Nm3/jam,
dengan produksi fuel gas sebesar 1256 Nm3/jam dan LPG 7092 kg/jam.
Unit ini terdiri dari Water Seal Drum Section, Off Gas Compressor
Section, dan LPG Separator Section. Umpan yang digunakan adalah off
gas yang berasal dari CDU IV dan produk yang dihasilkan adalah fuel gas
dan komponen LPG. Seal water berfungsi sebagai kontrol safety untuk
mencegah terbakarnya flare gas dalam drum dari flare stack.

43
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

BAB IV
PERALATAN DAN PENGENDALIAN PROSES

4.1. Peralatan
4.1.1. Kilang Balikpapan I
1) Crude Column (C-201-01)
Fungsi Memisahkan minyak mentah menjadi gas,naptha,
kerosene, minyak diesel, dan long residue pada
tekanan atmosferik,
Kapasitas 60 MBSD (397.5 m3/jam)
Tekanan Atas 0.62 kg/cm2, bawah 1.01 kg/cm2
Temperatur Atas 145oC, bawah 375oC
Ukuran ID = 4500 mm, T-T = 47700 mm, SH = 6500 mm
Jumlah Tray 47 valve tray bubble cap
Bahan Konstruksi Carbon Steel

2) Kerosene Stripper (C-201-02)


Fungsi Memisahkan kerosene sebagai top side-cut dari
fraksi yang lebih ringan
Tekanan 3.5 kg/cm2
Temperatur 245 oC
Ukuran ID = 1550 mm, T-T = 11300 mm
Jumlah Tray 8 valve tray
Bahan Konstruksi Carbon Steel

3) LGO Stripper (C-201-03)


Fungsi Memisahkan LGO sebagai intermediate side-cut
dari fraksi yang lebih ringan
Tekanan 3.5 kg/cm2
Temperatur 285oC
Ukuran ID =1550 mm, T-T = 7350 mm. SH = 5000 mm
Jumlah Tray 6 valve tray
Bahan Konstruksi Carbon Steel

44
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

4) HGO Stripper (C-201-04)


Fungsi Memisahkan HGO sebagai bottom side-cut dari fraksi ringan

Tekanan 3.5 kg/cm2


Temperatur 335oC
Ukuran ID =1550 mm, T-T = 7350 mm, SH = 5000 mm
Jumlah Tray 6 valve tray
Bahan Konstruksi Carbon Steel
5) Stabilizer (C-201-05)
Fungsi Menstabilkan naphtha dengan memisahkannya dari
komponen yang lebih ringan (LPG)
Tekanan 11.4 kg/cm2
Temperatur 230oC
Ukuran ID =1350 mm, T-T = 9300 mm, SH = 6000 mm
Jumlah Tray 40 valve tray
Bahan Konstruksi Carbon Steel
6) Naphta Splitter (C-201-06)
Fungsi Memisahkan naphtha menjadi heavy naphtha dan
light naphtha
Tekanan 3.5 kg/cm2
Temperatur 175 oC
Ukuran ID =1700 mm, T-T = 18050 mm, SH = 6000 mm
Jumlah Tray 20 valve tray
Bahan Konstruksi Carbon Steel
7) Vacuum Column (C-202-01)
Fungsi Memisahkan long residue menjadi LVGO, HVGO,
POD, dan short residue pada tekanan vakum.
Kapasitas 25 MBSD (165.63 m3/jam)
Tekanan Atas 20 mmHg abs, bawah 40 mmHg abs
Temperatur Atas 104 oC, bawah 343 oC
Ukuran ID = 5600 mm, T-T = 20985 mm, SH= 11400 mm
Bahan Konstruksi Carbon Steel

45
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

4.1.2. Kilang Balikpapan II


[Link].Crude Distillation Unit, Plant 1
1) Crude Column (C-01-01)
Fungsi Memisahkan crude menjadi gas, naphta, kerosene,
minyak diesel dan long residue pada tekanan
atmosferik
Kapasitas 200 MBSD (1325 m3/jam)
Tekanan 2.8 kg/cm2 abs
Temperatur Atas 343 oC, bawah 385 oC
Ukuran ID = 9500 mm, T-T = 63000 mm
Jumlah Tray 53 valve tray dengan downcomer 2 pass, kecuali
tray 16-18, 30- 32, 41-43, 44-49 empat pass
Bahan Konstruksi Carbon Steel (alloy C, Mn, P, S, dan Si)
Pabrikasi Hitachi Ltd. Tokyo, Japan, 1981
2) Kerosene Stripper (C-01-02)
Fungsi Memisahkan kerosene sebagai top side-cut dari
fraksi yang lebih ringan
Kapasitas Uap = 8206 m3/jam, cair = 452 m3/jam
Tekanan Atas 1.06 kg/cm2 gauge, bawah 1,15 kg/cm2 gauge
Temperatur Atas 193 oC, bawah 227 oC
Ukuran ID = 3400 mm, T-T = 7300 mm
Jumlah Tray 28 valve tray
Bahan Konstruksi Carbon Steel
Pabrikasi Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982
3) LGO Stripper (C-01-03)
Fungsi Memisahkan LGO sebagai intermediate side-cut
dari fraksi yang lebih ringan
Kapasitas Uap = 3242 m3/jam, cair = 264 m3/jam
Tekanan Atas 1.15 kg/cm2 gauge, bawah 1.22 kg/cm2 gauge
Temperatur Atas 260 oC, bawah 311 oC
Ukuran ID = 2500 mm, T-T = 7300 mm

46
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Jumlah Tray 6 valve tray


Bahan Konstruksi Carbon Steel
Pabrikasi Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982
4) HGO Stripper (C-01-04)
Fungsi Memisahkan HGO sebagai bottom side-cut dari
fraksi yang lebih ringan
Kapasitas Uap = 7742 m3/jam, cair = 271 m3/jam
Tekanan Atas = 1.22 kg/cm2 gauge, bawah 1.29 kg/cm2 gauge
Temperatur 293 oC
Ukuran ID = 2500 mm, T-T = 9900 mm
Jumlah Tray 6 valve tray, dengan downcomer 2 pass
Bahan Konstruksi Carbon Steel
Pabrikasi Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982
5) Stabilizer Column (C-1-05)
Fungsi Memisahkan full-range naphtha dari komponen
yang lebih ringan (LPG)
Kapasitas Uap = 11893 m3/jam, cair = 948.5 m3/jam
Tekanan 10.5 kg/cm2 gauge
Temperatur Atas 53 oC, bawah 206oC
Ukuran ID atas = 2600 mm, ID bawah = 3700 mm,
T-T = 28.100 mm
Jumlah Tray 35 sieve tray, tray 1-7 downcomer 2 pass, tray 18-
35 downcomer 4 pass
Bahan Konstruksi Carbon Steel
Pabrikasi Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982
6) Naphta Splitter Column (C-1-06)
Fungsi Memisahkan fraksi naphta ringan dengan fraksi
naphta berat
Kapasitas Uap = 34650 m3/jam, cair = 536.5 m3/jam
Tekanan Atas 1.05 kg/cm2 gauge, bawah 1.41 kg/cm2 gauge
Temperatur Atas 80 oC, bawah 145 oC

47
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Ukuran ID = 3100 mm, T-T = 23200 mm


Jumlah Tray 28 valve tray, tray 1-14 downcomer 2 pass, tray 15-
28 downcomer 3 pass
Bahan Konstruksi Carbon Steel
Pabrikasi Hitachi Ltd. Tokyo, Japan, 1981
[Link].Naptha Hydrotreating Unit, Plant 4
1) Stripper UOP Naptha Hydrotreater (C-04-01)
Fungsi Menghilangkan sulfur, air, nitrogen, dan hidrogen
terlarut serta fraksi hidrokarbon ringan.
Tekanan Atas 11.04 kg/cm2 gauge, bawah 11.25 kg/cm2 gauge
Temperatur Atas 183 oC, bawah 233 oC
Ukuran ID atas = 1900 mm, ID bawah = 3200 mm, T-T = 17900 mm

Jumlah Tray 20 sieve tray


Bahan Konstruksi Carbon Steel
Pabrikasi Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982
2) Reaktor Naptha Hydrotreater (C-04-07)
Fungsi Menyingkirkan pengotor yang dapat meracuni
katalis platforming
Kapasitas 20 MBSD (132.5 m3/jam)
Tekanan 28,5 kg/cm2 gauge
Temperatur 371 oC
Ukuran ID = 2400 mm, T-T = 4050 mm
Jumlah Tray 20 sieve tray
Bahan Konstruksi Carbon Steel
Pabrikasi Hitachi Ltd. Tokyo, Japan, 1981
[Link].Platforming Unit, Plant 5
1) Catalytic Reformer Reactor (C-05-01 A/B/C)
Fungsi Tempat berlangsungnya reaksi reformasi naphta,
aromat, dan olefin
Kapasitas A = 132.5 m3/jam, B = 30.9 m3/jam,
C = 43.1 m3/jam

48
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Tekanan A = 12.6 kg/cm2 gauge, B = 11.8 kg/cm2 gauge,


C = 11 1 kg/cm2 gauge
Temperatur A = 543 oC, B = 543 oC, C = 543 oC
Ukuran A : ID = 1900 mm, T-T = 11360 mm
B : ID = 2000 mm, T-T = 9910 mm
C : ID = 2300 mm, T-T = 10305 mm
Bahan Konstruksi Alloy Steel
Pabrikasi Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982
2) Debuthanizer Column (C-05-07)
Fungsi Menstabilkan produk platformer dengan
memisahkan fraksi LPG dari reformat
Kapasitas Uap = 2501 m3/jam, Cair = 387 m3/jam
Tekanan Atas 18.3 kg/cm2 gauge, bawah 18.65 kg/cm2 gauge
Temperatur Atas 65 oC, bawah 266 oC
Ukuran ID atas = 1400 mm, ID bawah = 2.600 mm, T-T = 42900 mm

Jumlah Tray 20 sieve tray


Bahan Konstruksi Carbon Steel
Pabrikasi Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982
3) Regeneration Tower (C-05-24)
Fungsi Menghilangkan coke dari permukaan katalis
Kapasitas 136 m3/jam
Tekanan 0.08 kg/cm2 gauge
Temperatur 540 oC
Ukuran ID atas = 762 mm, ID bawah = 1220 mm,
T-T = 7575 mm
Bahan Konstruksi SB 168 (72 Ni-13, CFr-8 Fe plate)
Pabrikasi Mitsui Engineering & Shipbuilding Ltd. Tokyo,
Japan, 1982
[Link].High Vacuum Unit (C-2-01)
Fungsi Memisahkan long residue menjadi LVGO, HVGO,
dan short residue pada tekanan vakum

49
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Kapasitas 81 MBSD (530 m3/jam)


Tekanan Atas 10 mmHg, bawah 40 mmHg
Temperatur Atas 43 oC, bawah 339 oC
Ukuran ID atas = 6300 mm, ID tengah = 13400 mm,
ID bawah = 3400 mm, T-T = 36.750 mm
Jumlah Tray 3 tray dan 3 packed section
Bahan Konstruksi Killed Carbon Steel
Pabrikasi Hitachi Ltd. Tokyo, Japan, 1982
[Link].LPG Recovery Unit, Plant 6
1) Deethanizer Column (C-06-01)
Fungsi Memisahkan fraksi LPG dari fraksi yang lebih ringan
Kapasitas 6.3 MBSD (41,74 m3/jam)
Tekanan Atas 32.3 kg/cm2 gauge, bawah 32.7 kg/cm2 gauge
Temperatur Atas 52 oC, bawah 104 oC
Ukuran ID atas = 1100 mm, ID bawah = 2000 mm, T-T = 33150 mm

Jumlah Tray 40 sieve tray


Bahan Konstruksi Carbon Steel
Pabrikasi Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982
[Link].Sour Water Stripper, Plant 7
1) Sour Water Stripper (C-07-01)
Fungsi Memisahkan sulfur dan ammonia dari air
Kapasitas 58047 m3/jam
Tekanan Atas 0.77 kg/cm2 gauge, dasar 1.05 kg/cm2 gauge
Temperatur Atas 93 oC, bawah 121 oC
Ukuran ID = 2600 mm, T-T = 21150 mm
Jumlah Tray 26 sieve tray
Bahan Konstruksi Carbon Steel
Pabrikasi Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982
2) Sour Water Degassing Drum (C-07-02)
Fungsi Memisahkan minyak, air, dan gas
Kapasitas 58154 m3/jam

50
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Tekanan 0.35 kg/cm2 gauge


Temperatur 49 oC
Ukuran ID = 2000 mm, T-T = 7700 m
Bahan Konstruksi Carbon Steel
Pabrikasi Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982
[Link].UOP Hydrocarbon Unibon, Plant 3
1) Fresh Feed Reactor 1 (C-3-03-A/B)
Fungsi Tempat berlangsungnya reaksi catalytic cracking
Kapasitas 27.5 MBSD (182.2 m3/jam)
Tekanan 199 kg/cm2 gauge
Temperatur 454 oC
Ukuran ID = 3700 mm, T-T = 10600 mm
Terdiri dari 2 packed bed katalis DHC 8
Bahan Konstruksi Carbon Steel
Pabrikasi Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982.
2) Fresh Feed Reactor 2 ( C-3-04 A/B)
Fungsi Tempat berlangsungnya reaksi catalytic cracking
Kapasitas 27.5 MBSD (182.2 m3/jam)
Tekanan 195.5 kg/cm2 gauge
Temperatur 454 oC
Ukuran ID = 3700 mm, T-T = 27400 mm
Terdiri dari 1 packed bed katalis DHC 8
Bahan Konstruksi Carbon Steel
Pabrikasi The Japan Dteel Works Ltd, Japan, 1982
3) Recycle Reactor (C-3-05-A/B)
Fungsi Tempat berlangsungnya reaksi catalytic cracking
untuk umpan recycle
Kapasitas 27.5 MBSD (182.2 m3/jam)
Tekanan 195.5 kg/cm2 gauge
Temperatur 454 oC
Ukuran ID = 3700 mm, T-T = 11700 mm

51
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Bahan Konstruksi Carbon Steel


Pabrikasi The Japan Dteel Works Ltd, Japan, 1982
4) Debuthanizer Column (C-3-14)
Fungsi Memisahkan fraksi LPG, fuel gas, dan air
Kapasitas 421 m3/jam
Tekanan Atas 14.15 kg/cm2 gauge, bawah 14.9 kg/cm2 gauge
Temperatur Atas 71 oC, bawah 330 oC
Ukuran ID atas = 2400 mm, ID tengah = 3300 mm,
ID bawah = 5700 mm, T-T = 27300 mm
Bahan Konstruksi Carbon Steel
Pabrikasi Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982
5) Product Fractionator (C-3-15)
Fungsi Memisahkan produk keluaranreaktor Hydrocracking
menjadi naphtha, kerosene, dan diesel oil
Kapasitas 555 m3/jam
Tekanan Atas 1.05 kg/cm2 gauge, bawah 1.51 kg/cm2 gauge
Temperatur Atas 113 oC, bawah 360 oC
Ukuran ID atas = 2600 mm, ID bawah = 4400 mm. T-T = 27300 mm

Jumlah Tray 52 tray


Bahan Konstruksi Carbon Steel
Pabrikasi Hitachi Ltd. Tokyo, Japan, 1982
[Link].Hydrogen Plant, Plant 8
1) Reformer Catalyst Tube (C-08-01-A/B)
Fungsi Mereaksikan gas alam dengan steam untuk
menghasilkan Hidrogen
Kapasitas 2531 kmol/jam
Tekanan 20.5 kg/cm2 gauge
Temperatur 977 oC
Ukuran ID = 168 mm
Bahan Konstruksi Cast fe, Cr, Ni
Pabrikasi Kinetic Technology Int. Ltd., London, UK, 1981

52
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

2) High Temperature Shift Converter (C-08-06-A/B)


Fungsi Mengkonversikan CO menjadi CO2 pada temperatur tinggi

Kapasitas 36 m3/jam
Tekanan 16.88 kg/cm2 gauge
Temperatur 419 oC
Ukuran ID = 3100 mm, T-T = 4,4 m
Bahan Konstruksi Carbon steel
Pabrikasi Hitachi Ltd. Tokyo, Japan, 1982
3) Low Temperature Shift Converter (C-08-07-A/B)
Fungsi Mengkonversikan CO menjadi CO2 pada temperatur
yang lebih rendah
Kapasitas 41 m3/jam
Tekanan 16.17 kg/cm2 gauge
Temperatur 238 oC
Ukuran ID = 3100 mm, T-T = 4,4 m
Bahan Konstruksi Carbon steel
Pabrikasi Sumitomo Heavy Industry Ltd. Tokyo, Japan, 1982
4) CO2 Absorber (C-08-12-A/B)
Fungsi Mengabsorbsi CO2 produk LTSC
Kapasitas 141.5 m3/jam
Tekanan 118 kg/cm2 gauge
Temperatur 15.75 oC
Ukuran ID atas = 1400 mm, ID bawah = 2200 mm, T-T = 41600 mm

Bahan Konstruksi Carbon steel


Pabrikasi Hitachi Ltd. Tokyo, Japan, 1982
4.2. Pengendalian Proses
Dalam unit proses, diperlukan sistem pengendalian agar proses dapat
berjalan dengan sesuai spesifikasi yang diharapkan. Pertamina RU V Balikpapan
sudah menggunakan sistem distributed control system (DCS). Sistem kontrol yang
digunakan di Pertamina RU V Balikpapan adalah sistem feedforward dan
feedback sebagian besarnnya. Operator dapat mengubah parameter-parameter

53
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

tertentu seperti set point, threshhold value, nilai proportional, integral, derivative.
Tentu saja kilang dapat dioperasikan secara manual jika dibutuhkan. Beberapa
instrumen yang digunakan untuk pengendalian proses meliputi Temperarture
Indicator Control (TIC), Pressure Indicator Control (PIC), Level Indicator
Control (LIC), dan Flow Indicator Control (FIC).
4.2.1. Crude Distillation Unit
Temperatur masuk minyak mentah ke dalam kolom distilasi dijaga pada
39oC. Oleh karena itu, sebelum masuk ke kolom, minyak mentah dipanaskan
terlebih dahulu dalam fired heater. Bila temperatur terlalu panas maka laju
bahan bakar akan dikurangi dan sebaliknya.

Gambar 4.1. Diagram pengendalian CDU

4.2.2. High Vacuum Unit


Temperatur umpan HVU dikendalikan dengan mengatur laju alir bahan
bakar pada heater. Level dan temperatur kolom dijaga dengan mengendalikan
laju refluks produk. Tekanan dalam kolom dijaga dengan mengendalikan laju
steam pada ejektor.
4.2.3. Naptha Hydrotreating
Temperatur umpan pada inlet reaktor dikendalikan dengan mengatur laju
bahan bakar pada fired heater. Air yang dipisahkan dialirkan menuju SWS
dan laju alirnya dikendalikan oleh level controller, begitu juga dengan aliran
sweet naphta yang dialirkan menuju light naphta stripper. Laju alir hidrogen
makeup ini dikendalikan oleh pressure controller yang ada di separator
tersebut.

54
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Gambar 4.2. Diagram pengendalian NHT

4.2.4. Platformer
Temperatur pada reaktor dikendalikan dengan menjaga temperatur masuk
umpan reaktor. Temperatur reaktor 1 dijaga dengan mengendalikan laju bahan
bakar fuel gas. Temperatur reaktor 2 dijaga dengan mengendalikan laju bahan
bakar di interheater begitu pula dengan reaktor 3. Pengendalian tekanan pada
unit platforming dilakukan pada unit product separator, pengendalian
dilakukan dengan mengatur laju alir gas dari unit produk separator. Laju alir
umpan dari naphta hydrocracker diatur dengan menggunakan flow controller
yang terhubung dengan valve. Rasio H2/HC diatur dengan laju alir recycle gas.
4.2.5. Pengendalian Proses Refrigerasi
Laju alir katalis di seluruh sistem CCR- platforming ditentukan oleh flow
control hopper yang memindahkan sejumlah katalis dari regeneration tower
menuju surge hopper. Ketika level katalis sudah meningkat sampai batas
tertentu lock hopper 1 akan memindahkan spent katalis dari reaktor 3 ke
disengaging hopper. Ketika spent katalis terpindahkan dari reaktor, maka
level katalis di reduction zone berkurang dari jika sudah mencapai batas
minimumnya, lock hopper 2 akan memindahkan katalis yang teregenerasi ke
reduction zone yang terletak di bagian atas reaktor.
4.2.6. Product Separator
Pengendalian pada product separator dilakukan dengan menggunakan
level controller (LC) dan pressure controller (PC). LC mengatur ketinggian
cairan dalam kolom dengan menggunakan valve pada aliran yang menuju
recontact drum. Sedangkan PC menggunakan split range dengan valve yang
menuju sistem fuel gas. Split range akan secara otomatis bekerja untuk
mengatur rasio yang sesuai untuk fuel gas.

55
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

4.2.7. Interstage Drum, Recontact Drum, dan Net Gas Wash Column
Pengendalian tekanan dilakukan pada kedua kolom, tekanan diatur dengan
pressure controller dengan menggunakan split range yang mempunyai prinsip
kerja yang sama dengan pengaturan tekanan pada product separator. Pada
recontact drum, sebuah level controller di pasang dengan mengatur laju alir
keluaran interstage drum yang menuju flash drum dengan sebuah valve. Level
controller pada kolom condensate dilakukan dengan mengatur bukaan valve
aliran kondensat, sehingga level pada kolom kondensat sesuai dengan set
point yang diinginkan.
4.2.8. Debuthanizer
Pengendalian level dilakukan pada flash drum dengan mengintergrasikan
level controller dengan bukaan valve aliran yang menuju debuthanizer.
Tekanan bagian atas kolom debuthanizer dijaga deengan mengatur valve
aliran gas flash drum, apabila tekanan kolom terlalu besar bukaan valve yang
akan diperbesar untuk menurunkan tekanan. Level cairan dalam drum diatur
dengan level controller yang diintegrasikan dengan flow controller yang
mengatur bukaan valve aliran refluks. Pengendalian temperatur dilakukan
dengan menggunakan temperature controller yang terintegrasi dengan flow
controller aliran produk yang menuju LPG recovery. Untuk menjaga
temperatur dasar kolom, sebagian produk dasar dipompa ke heater dan
dikembalikan ke kolom. Pengendalian pada heater dilakukan pada temperatur
aliran yang masuk ke kolom debuthanizer.
4.2.9. LPG Recovery Unit

Gambar 4.3. Diagram pengendalian LPG recovery

56
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Level LPG pada bawah kolom dijaga dengan mengatur laju air keluaan
LPG. Temperatur bagian bawah kolom dijaga dengan mengendalikan laju alir
steam ke dalam reboiler. Temperatur atas kolom dijaga dengan mengatur laju
refluks. Refluks berupa kondensat dari produk atas.

4.2.10. Hydrocracker
Temperatur masuk umpan ke dalam reaktor dijaga dengan mengendalikan
laju bahan bakar ke dapur. Pengendaliannya dapat dilihat pada gambar
berikut.

Gambar 4.4. Diagram sederhana pengendalian hydrocracker

4.2.11. Hydrogen Plant


Temperatur umpan dijaga dengan mengendalikan laju bahan bakar ke
dapur. Laju alir umpan baik itu gas alam maupun superheated steam juga
dikendalikan. Pengendalian bagian shift converter diutamakan pada
pengendalian temperatur aliran, karena teperatur sangat mempengaruhi reaksi
konversi.

Gambar 4.5. Diagram alir pengendalian shift converter

57
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

BAB V
PRODUK, LIMBAH, DAN K3

5.1. Produk
Produk yang dihasilkan oleh kilang Pertamina RU V Balikpapan ada
berbagai macam. Selain memenuhi kebutuhan bahan bakar di Indonesia kawasan
timur, RU V Balikpapan juga menjual produk-produk sampingan yang memiliki
nilai jual yang cukup tinggi. Secara keseluruhan produk-produk yang dihasilkan
adalah bahan bakar minyak premium, kerosin, solar (ADO, IDO, IFO), bahan
bakar khusus pertamax dan avtur serta produk non BBM yaitu wax, nafta, dan low
sulphur waxy residue (LSWR) dan gas LPG.

5.1.1. LPG
Syarat LPG yang di pasarkan di Indonesia adalah kandungan fraksi ringan
etana harus di bawah 0.2% v/v dan kandungan C5+ harus dibawah 2% v/v.
LPG diberikan merkaptan agar terdeteksi bau saat bocor. Berikut adalah
spesifikasi produk LPG RU V Balikpapan:
Tabel 5.1. Spesifikasi produk LPG

5.1.2. Premium dan Pertamax


Perbedaan utama antara BBM Premium dan Pertamax berada pada nilai
oktan yang dimilikinya dimana Premium 88 dan Pertamax 92. Nilai oktan
yang dimiliki oleh BBM ini diatur dengan mencampurkan beberapa komponen
yaitu light naphta, high octane mogas component (HOMC), dan reformat dan
disesuaikan komposisi campurannya untuk mendapatkan nilai oktan yang
diinginkan. Berikut merupakan spesifikasi produk Premium dan Pertamax oleh
RU V Balikpapan Pertamina:

58
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Tabel 5.2. Spesifikasi produk premium dan pertamax

5.1.3. Kerosin
Kerosin seringkali digunakan sebagai bahan bakar rumah tangga. Kerosin
memiliki fraksi titik didih yang sama dengan avtur. Berikut merupakan
spesifikasi produk kerosin:
Tabel 5.3. Spesifikasi produk kerosin

5.1.4. Avtur
Avtur (Aviation Turbine Fuel) adalah bajan bakar yang digunakan oleh
pesawat terbang. Avtur memiliki fraksi dan titik didih serupa dengan kerosin,
namun dubutuhkan standarsisasi yang jauh lebih ketat di karenakan
penggunaannya pada transportasi udara. Terutama pada adanya batas freezing
point yang menentukan kecenderungan bahan bakar membeku pada suhu
tertentu. Berikut merupakan spesifikasi produk avtur:

59
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Tabel 5.4. Spesifikasi produk avtur

5.1.5. Industrial Diesel Oil (IDO), Automotive Diesel Oil (ADO), dan Industrial
Fuel Oil (IFO)
IDO, ADO, dan IFO merupakan produk turunan yang sama dari minyak
fraksi diesel, yaitu merupakan bahan bakar mesin yang menggunakan siklus
diesel. ADO dihasilkan dari campuran light & heavy gas oil dari CDU dan
HVU. IFO dihasilkan dengan mencampurkan ADO dengan short residue.
Sedangkan IDO dihasilkan dari campuran ADO dengan IFO. Berikut
merupakan spesifikasi produk turunan solar tersebut:

Tabel 5.5. Spesifikasi produk IDO

Tabel 5.6. Spesifikasi produk ADO

60
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Tabel 5.7. Spesifikasi produk IFO

5.1.6. Wax
Wax atau lilin di produksi dengan mengolah paraffinic oil distilate yang
dihasilkan oleh HVU III. Sebagai produk akhir, terdapat empat jenis wax yang
dijual oleh RU V Balikpapan yaitu Hard Semirefined (HSR) sebagai bahan
baku kertas, Hard Hard Paper (HHP) sebagai bahan pembuatan lilin kreasi
dan lilin penerangan, Yellow Batik Wax (YBW) sebagai bahan industri kain
batik, dan Fully Refined Wax (FRW) sebagai bahan lilin cair.
Tabel 5.8. Spesifikasi produk wax

5.1.7. Naptha
Naphta selain digunakan sebagai bahan campuran premium dan pertamax
juga digunakan sebagai bahan baku industri petrokimia. Terdapat 2 macam
naphta, yaitu light naphta dan heavy naphta.
Tabel 5.9. Spesifikasi produk nafta

61
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

5.1.8. Low Sulphur Waxy Residue (LSWR)


LSWR adalah residu parafinik yang terdiri dari campuran 63% short
residue, 25-35% ADO, dan 2% kerosin. LSWR dapat digunakan sebagai fuel
oil.
Tabel 5.10. Spesifikasi produk LSWR

5.1.9. Low Aromatic White Spirits (LAWS)


Low aromatic white spirits atau biasa disebut light kerosene biasanya
digunakan sebagai bahan pelarut cat. Spesifikasi LAWS dapat dilihat pada
tabel berikut:
Tabel 5.11. Spesifikasi produk LAWS

5.1.10. Smooth Fluid (SF-05)


Smooth Fluid adalah fraksi hidrokarbon yang digunakan sebagai
komponen utama oil based mud yang memiliki karakteristik dan performa
yang sangat baik. Oil based mud digunakan sebagai pelumas dalam
pengeboran minyak. Spesifikasi SF-05 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 5.12. Spesifikasi produk Smooth Fluid

62
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

5.2. Limbah
Limbah yang dihasilkan dari proses pengolahan minyak mentah pada RU
V Balikpapan terbagi menjadi limbah padat, cair, dan gas. Berikut merupakan
deskripsi mengenai limbah-limbah yang dihasilkan dalam proses pengolahan
minyak mentah.

5.2.1. Limbah Cair


Limbah cair yang dihasilkan adalah air kotor sisa pengolahan. Air limbah
dibuang ke laut setelah di- treatment dengan unit pengolahan limbah
[Link] oil yang di olah di usahakan tidak menjadi limbah dan di proses
lagi untuk mendapatkan produk. Minyak bocoran, dan buangan yang off-spec
ditampung dalam slop oil tank untuk diproses lebih lanjut.

5.2.1. Limbah Padat


Pencemaran dalam lingkungan darat dalam kilang relatif kecil dan tidak
berbahaya. Limbah padat yang di hasilkan dari ki ang antara lain adalah katalis
bekas atau spent catalyst yang mayoritas berasal dari unit HCU. Selanjutnya
ada juga beberapa limbah padat lain seperti baterai bekas, logam-logam sisa
penegerjaan, sisa-sisa pabrik wax plant yang terbakar, dan plastik-plastik yang
tercecer di area kilang.

5.2.3. Limbah Gas


Beberapa limbah gas yang dihasilkan oleh kilang RU V Balikpapan
sebagian besar berasal dari gas sisa pembakaran, gas hasil pembakaran, dan
gas hasil reaksi yang tidak dibutuhkan. Gas gas ini seringkali berasal dari hasil
pembakaran pada flare dan juga seringkali berasal dari kebocoran-kebocoran
pada fitting antar perpipaan di areal kilang. Terkadang uap panas juga sering
keluar dari perpipaan menuju area terbuka di dalam kilang

5.3. Kesehatan dan Keselamatan Kerja


Mulai tahun 1997, PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan menerapkan
suatu pendekatan baru terhadap masalah keselamatan kerja, yaitu Manajemen
Keselamatan Proses (MKP). Dengan adanya perubahan safety practices menjadi

63
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

MKP diharapkan keuntungan perusahaan dapat meningkat tanpa ada rugi waktu
dan rugi produksi akibat kegagalan peralatan maupun kegagalan sistem.
MKP merupakan penerapan sistem manajemen dalam mengidentifikasi,
memahami dan mengendalikan bahaya proses dan merupakan program terpadu
pengolahan keselamatan dan kesehatan kerja. MKP dilaksanakan berdasarkan
atas:
1) SK Dir. Pengolahan No. KPTS 013/E100/96 SO tanggal 4 juli 1996
tentang MKP.
2) SK PUP V No. KPTS 016/E5000/97 SO tentang MKP.
Adapun perbedaan antara safety practices dan MKP adalah:

Tabel 5.13. Perbedaan Safety Practices dan MKP


Safety Practice Manajemen Keselamatan Proses
Fokus pada tenaga kerja dan alat Fokus pada bahan kimia dan parameter
reaksi
Menitikberatkan pada pencegahan dari Menitikberatkan pada pencegahan
kecelakaan seperti terjatuh, terjepit, terhadap ledakan, kebakaran, kebocoran,
terkena bahan kimia dan lainnya dan reaksi liar
Melakukan usaha perlindungan tenaga Mengendalikan perangkat-perangkat
kerja, alat keselamatan kerja, poster KK, lunak, perangkat-perangkat keras dan
inspeksi KK, dan lainnya kemampuan manusia
Terpusat pada LK & KK Terpusat pada team work operation dan
LK & KK

Ada 4 langkah penerapan MKP, yaitu:


1) Menciptakan budaya keselamatan kerja
2) Leadership dan komitmen
3) Penerapan program MKP
4) Pencapaian target operasi
MKP terdiri dari 13 elemen yang tercakup dalam 3 komisi, yaitu:
1) Komisi Teknologi
Komisi ini bertanggung jawab atas informasi keselamatan proses, analisa
bahaya proses, keterpaduan mekanik dan prestart up safety review.

64
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

2) Komisi Keselamatan Kerja


Komisi ini bertanggung jawab atas keselamatan kerja kontraktor, cara kerja
aman, prosedur operasi dan pelatihan karyawan.
3) Komisi Manajemen
Komisi ini bertanggung jawab atas partisipasi karyawan, manajemen
perubahan, rencana tanggap darurat, audit keselamatan proses dan
penyelidikan kecelakaan.

PT. Pertamina RU V Balikpapan ini memiliki peraturan keselamatan di


dalam kilang yang disebut dengan 10 Golden Safety Rules yang berisi
peraturan-peraturan di bidang:
1) Ijin kerja aman dan analisa keselamatan pekerjaan
2) Bekerja di ketinggian
3) Bekerja di perairan
4) Bekerja dengan Bahan Kimia
5) Memasuki ruang terbatas
6) Pengamanan sumber energi
7) Bekerja dengan alat angkat
8) Pengendalian sumber pemicu nyala api
9) Keselamatan berkendara
10) Cegah pencemaran lingkungan

65
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

BAB VI
UNIT PENUNJANG PROSES

6.1. Utilitas
Untuk menunjang proses pengolahan minyak mentah dalam kilang,
dibutuhkan aspek aspek penunjang yang memadai. Maka dari itu sistem utilitas di
kilang ini mampu menyediakan beberapa utilitas bagi kilang seperti air, steam,
dan listrik.
6.1.1. Air
Air yang digunakan untuk keperluan kilang diambil dari tiga sumber yaitu
air sungai, air sumur, dan air laut. Air kemudian diolah sesuai dengan
kegunaan yang ingin dicapainya. Sebelum dapat digunakan dalam kilang air
tersebut harus melalui serangkaian proses pengolahan seperti yang ada pada
skema gambar dibawah ini:

Gambar 6.1. Diagram alir pemrosesan air di RU V Balikpapan

[Link].Water Treatment Plant (WTP)


WTP berfungsi untuk mengolah air tawar dari air sungai Wain dan deep
well untuk di gunakan sebagai air proses dan air [Link] 3 buah
WTP dalam kilang ini yaitu WTP Gunung Empat, WTP I, dan WTP II. WTP
I Pancur dan WTP Gunung Empat mengolah air dari Sungai Wain dengan
kapasitas total 600-650 m3/jam dan kemudian didistribusikan menuju
perumahan bagian Utara, perumahan bagian Selatan, perkantoran, dan
kilang. Proses utama pada WTP I dan WTP Gunung Empat adalah flokulasi

66
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

dan filtrasi. WTP II mengolah air gabungan dari Sungai Wain dan deep well
dengan kapasitas maksimum 200 m3/jam yang kemudian didistribusikan
sebagai umpan demineralization plant, pendingin kompresor, dan pendingin
pompa dan kondensor. Perbedaan utama WTP II adalah adanya unit
degasser untuk mengurangi kandungan gas terlarut dari air deep well.
[Link].Sea Water Desalination (SWD) Plant
Unit berfungsi untuk mengolah air laut menjadi air tawar yang siap
digunakan sebagai umpan boiler bertekanan tinggi. Proses yang digunakan
adalah proses distilasi dengan kapasitas desain total dua unit distilasi yang
ada mencapai 500 m3, kedua unit tersebut adalah multi stage distillation dan
multieffect distilation. Ukuran kerja SWD dinilai dari banyaknya distilat
yang dihasilkan per satuan steam pemanas yang digunakan yang disebut
dengan Gain Output Ratio (GOR). Air laur sebelum masuk kedalam SWD
diinjeksikan dengan aditif antiscale dan antifoam untuk mencegah terjadinya
kerak pada pipa dan buih pada air laut.
[Link].Demineralization Plant
Demineralization Plant berfungsi untuk menghilangkan mineral-mineral
yang masih terkandung dalam air setelah melalui tahap SWD dan WTP.
Demineralization dilakukan dengan proses pertukaran ion sehingga air
terbebas dari mineral. Mineral-mineral dalam air laut ini harus dibersihkan
karena dapat membentuk kerak dalam boiler dan mempersingkat umur dari
peralatan yang digunakan. Unit demineralization terbagi menjadi 5 tahap,
yaitu gravel filter, cation filter, degasser, anion filter, dan mixed filter.
Gravel filter berfungsi untuk menyaring padatan berukuran besar. Cation
filter berfungsi untuk menukarkan kation-kation yang terkandung dalam air
dengan ion H+ menggunakan resin kation. Degasser berfungsi untuk
menghilangkan ion HCO3- dengan menggunakan udara. Anion filter
berfungsi sebagai penukar anion yang terkadung di dalam air dengan ion
OH- menggunakan resin anion. Mixed bed berfungsi untuk mengikat ion
yang masih terkandung dalam air dengan menggunakan resin penukar ion
campuran anion dan kation.

67
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

[Link].Polisher
Polisher memiliki fungsi untuk menghilangkan sisa-sisa mineral yang
masih ada dalam air. Kemampuan unit ini mampu menghilangkan kadar
mineral sampai dibawah 0.02 ppm. Prinsip kerja dari polisher adalah dengan
menukar ion ion sisa yang terkandung dengan sebuah resin penukar ion.

6.1.2. Air Pendingin


Air pendingin merupakan air yang pada proses pengolahan digunakan
dalam proses pertukaran panas untuk menurunkan temperatur effluent suatu
produk ataupun menurunkan temperatur fluida sebelum memasuki kompressor.
[Link].Sea Cooling Water
SCW digunakan sebagai air untuk pendingin dan juga sebagai pemadam
kebakaran jika diperlukan. Air laut didapat melalui menggunakan pompa
pada unit cooling water intake. Cooling water digunakan untuk operasional
Power Plant II dan Kilang Balikpapan II. Air laut disaring dengan screen
pada pompa, selanjutnya air laut masuk ke Sea Water Intake Basin untuk
mengendapan lumpur pada air laut. Lumpur yang terendapkan akan dipompa
keluar dengan portable sludge. Untuk menjaga kesetimbangan
perkembangan mikroba dalam aliran diinjeksikan air keluaran
Electrochlorination Plant.
[Link].Tempered Cooling Water (TCW)
Air pendingin berjenis TCW memiliki temperature 66 oC dan digunakan
untuk mendinginkan fluida yang memiliki viskositas dan titik leleh tinggi.
TCW dialirkan ke header dengan kapasitas 2087 ton/jam. Setelah
digunakan, TCW ditampung dalam return header kemudian didinginkan
kembali dalam TCW cooler dan dimasukkan dalam tangki penyimpanan
yang diselimuti gas nitrogen agar terbebas dari udara.
6.1.3. Steam System
Steam dihasilkan oleh boiler yang ada di power plant 1 dan power plant 2
serta dari beberapa waste heat boiler yang ada di beberapa unit pemroses.
Penggunaan steam di dalam kilang Balikpapan I dan II antara lain adalah

68
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

sebagai stripping steam dalam kolom kolom fraksionasi, sebagai penggerak


turbin, sebagai ejektor pada HVU, sebagai soot blower pada dapur.

Tabel 6.1. Spesifikasi steam dalam RU V Balikpapan

Steam digenerasi 6 boiler dengan kapasitas produksi total 440 ton/hari.


Sebelum masuk ke dalam boiler, air (boiler feed water) perlu diberikan
pretreatment. Pertama BFW dialirkan menuju deaerator untuk mengurangi
kadar oksigen terlarut. BFW kemudian dialirkan ke economizer sebagai
pemanas awal dengan memanfaatkan panas gas pembakaran furnace (bagian
konveksi). Setelah pretreatment tersebut BFW masuk ke dalam boiler dan
dipanaskan sampai menjadi saturated steam. Uap di panaskan lagi hingga
menjadi superheated steam bertekanan tinggi.

6.1.4. Fuel System


Pengilangan RU V Balikpapan menggunakan dua sistem bahan bakar;
yaitu fuel gas dan fuel oil. Bahan bakar gas biasanya digunakan sebagai bahan
bakar charge heater dan incenerator sedangkan bahan bakar minyak
digunakan di steam generator dan charge heater.

[Link].Fuel Gas System


Fuel gas didistribusikan pada 40oC dan 5.3 kg/cm2. Sistem fuel gas
terutama digunakan untuk menyediakan bahan bakar bagi berbagai
plant/unit dari kilang. Selain itu, sistem fuel gas dapat juga digunakan
sebagai sarana pembuangan dan pemanfaatan kembali bagi gas dan uap
overhead selama periode turn-around.
[Link].Fuel Oil System
Fuel oil untuk keperluan pengilangan dicampur di area off-plot kemudian
disimpan pada tangki. Fuel oil yang disuplai ke kilang berasal dari tangki O-
3 dan O-4 yang berasal dari residu vakum HVU, flux oil dari CDU, long
residue.

69
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

6.1.5. Listrik
Penyediaan listrik untuk menunjang operasi kilang Balikpapan dan
perumahan dipenuhi oleh unit pembangkit tenaga listrik yang ada pada power
plant I dan II. Pembangkit listrik I melayani kebutuhan kilang dan pemukiman
sementara pembangkit listrik II hanya melayani kilang. PL I memiliki 5 unit
steam turbine generator dan dapat menghasilkan listrik sebesar 33 MW. PL II
memiliki 4 unit steam turbine generator dan dapat menghasilkan listrik
sebesar 56.9 MW. Jumlah listrik yang dihasilkan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 6.2. Spesifikasi turbin di RU V Balikpapan
Konsumsi
Kapasitas SMW
No Turbin Generator Tipe tiap
(MW) Steam
(ton/jam)
1 TG-3/1 Full Condensing - - 5.6
2 TG-4/1 Full Condensing 7.5 0 5.6
3 TG-5/1 Back Pressure 9 3 14.12
4 TG-6/I Back Pressure 9 0 14.12
5 TG-1/II Full Condensing 9 4 4.55
6 TG-1/II Back Pressure 8.4 7 14.57
7 TG-2/II Extraction 12.8 7 13.59
8 TG-3/II Extraction 12.8 6.5 13.59

6.1.4. Udara
Sistem ini bertujuan untuk menyediakan fasilitas plant air dan instrument
air. Udara dari atmosfer disaring dengan filter, kemudian ditekan dengan
kompressor tiga tahap untuk mengahsilkan udara pada kondisi tekanan 9.2
kg/cm2 dan temepratur 40oC. Udara bertekanan ini bisa langsung digunakan
untuk Plant-Air sedangkan untuk instrument-air udara tadi harus dilewatkan
melalui pengering udara untuk mengurang kelembapan.
6.1.7. Nitrogen
Nitrogen dibutuhkan pada saat startup, purging, regenerasi katalis, dan
blanketing. Kebutuhan nitrogen RU V Balikpapan dipenuhi oleh nitrogen
plant yang memiliki tiga train dengan dua train berkapasitas 175 Nm3/jam dan
satu train 125 Nm3/jam. Nitrogen disimpan dalam fasa cair untuk menghemat
ruang dan memudahkan transportasi walaupun nitrogen penggunaannya dalam
fasa gasnya.

70
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

6.2. Pengolahan Limbah


RU V balikpapan menghasilkan limbah padat, cair, dan gas. Limbah
tersebut perlu diolah terlebih dahulu untuk mengurangi resiko pencemarannya.
6.2.1. Pengolahan Limbah Padat
Seperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya limbah padat yang berasal
dari RU V Balikpapan adalah katalis bekas dan lumpur. Katalis berbasis
platina dapat dijual dikarenakan memiliki nilai jual yang baik sedangkan
beberapa katalis yang berasal dari DHC-8 dijadikan bahan konstruksi
bangunan seperti digunakan untuk membuat trotoar yang ada pada area kilang.
Selain itu limbah lumpur yang di hasilkan dari proses penyediaan air di
kumpulkan dalam tangki sentrifugal, diendapkan dengan sludge colector dan
digumpalkan baru dipisahkan dari air dan dibuang.
6.2.2. Pengolahan Limbah Cair
Limbah cair yang dihasilkan adalah air kotor sisa pengolahan. Air limbah
dibuang ke laut setelah di- treatment dengan unit pengolah limbah cair. Crude
Oil yang diolah diusahakan tidak menjadi limbah cair. Pengolahan limbah cair
terdiri dari Oil Catcher, Corrogated Plate Interceptor, Sour Water Treating
Unit, Effluent Water, dan Treating Unit Plant. Oil Catcher berfungsi sebagai
pemisah minyak yang ada di dalam limbah cair dengan prinsip gravitasi.
Corrogated plate interceptor berfungsi untuk memperbesar kemampuan
pemisahan secara gravitasi dan mampu memisahkan partikel sebesar 150
mikron. Sour water treating unit dirancang untuk menghilangkan H2S dan
NH3 dari air bekas yang berasal dari unit penyulingan, hydrocracker, NHT,
dan LPG recovery unit. Air olahan tidak boleh lebih besar dari 100 ppm NH3
agar tidak terbentuk garam. Sedangkan effluent water treatment plant
berfungsi untuk mengolah air limbah cair hasil proses kilang balikpapan I dan
II serta air hujan. Tujuan dari unit ini adalah untuk mengurangi kandungan
minyak serta senyawa berbahaya yang terlarutkan.
6.2.3. Pengolahan Limbah Gas
Limbah gas dari RU V Balikpapan diolah menggunakan unit pemroses
dengan tujuan mengurangi pencemaran ke daerah sekitar, terlebih lagi kilang

71
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

ini yang dekat dengan perkotaan Balikpapan. Unit ini terdiri dari Incinerator
yang berfungsi membakar gas gas yang bersifat racun, stack untuk membuang
gas hasil pembakaran pada ketinggian tertentu, flare untuk membakar gas-gas
berlebih dari kilang yang tidak beracun, fuel gas system memanfaatkan gas-gas
yang masih memiliiki nilai kalor sebagai bahan bakar gas.

6.3. Laboratorium
Laboratorium merupakan salah satu sarana penunjang di Refinery Unit V.
Laboratorium memiliki peran yang sangat penting dalam melaksanakan
pengendalian mutu bahan baku, barang setengah jadi (intermediate) dan barang
jadi. Pengakuan standar internasional telah didapatkan dari ISO dengan
penganugerahan ISO 17025 pada tahun 1998. Bahkan saat ini laboratorium sudah
dikembangkan, sehingga bidang kerjanya tidak terbatas pada pelaksanaan
pengendalian mutu, tetapi juga mendukung rencana atau proyek perbaikan atau
modifikasi pengembangan atau pembaharuan.
6.3.1. Laboratorium Evaluasi Crude Oil
Laboratorium Evaluasi Crude Oil mempunyai tanggung jawab terhadap
hal-hal berikut :
1) Penelitian
Penelitian yang dilakukan dapat berdasarkan permintaan dari bagian lain
atau dari intern koordinasi ketiga laboratorium di atas. Jika penelitian
dilakukan untuk melayani permintaan dari bagian lain, maka sifatnya
hanya mendukung untuk digunakan sebagai evaluasi ataupun uji terhadap
bahan atau barang baru untuk menentukan spesifikasinya.
2) Pengembangan Metode dan Keahlian
Pengembangan metode dilakukan untuk mengikuti perkembangan
teknologi yang semakin maju, agar tidak tertinggal.
3) Perawatan
Bagian ini bertugas untuk merawat dan memperbaiki semua alat/instrumen
yang ada di semua laboratorium.

72
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

4) Evaluasi Crude
Evaluasi crude dilakukan terhadap crude baru yang belum pernah diolah
di Kilang Balikpapan dan crude lama yang biasanya diolah tapi
menunjukkan indikasi perubahan spesifikasi. Evaluasi crude dilakukan
dengan cara mengolah sample crude pada kondisi proses yang sama
dengan kondisi Kilang.
5) Pemeriksaan Octane Number (ON).
Pemeriksaan angka oktan (ON) dilakukan setiap hari, menggunakan
metode ASTM D-2700-80 (metoda motor) dengan menggunakan Knock
Characteristic Machine Standart ASTM (American Society for Testing
Materials). Pengujian angka oktan ini selalu dilakukan dengan kalibrasi
yang memakai bensin standart, hal ini dimaksudkan untuk menjaga hasil
akhir oktan number selalu tepat.
6) Pemeriksaan Cetane Number
Pemeriksaan angka cetane dilakukan setiap hari dengan menggunakan
metode ASTM D-613-79 alat cetane unit bracketing procedure. Kualitas
penyalaan dari sample minyak diesel, yaitu karakteristik ketukannya
dibandingkan dengan kualitas penyalaan minyak diesel standar ASTM
yang diketahui CN-nya. Periode penyalaan yang dilakukan adalah start,
injection dan ignition.
6.3.2. Laboratorium Produk Cair
Laboratorium ini bertugas memeriksa sifat-sifat fisis bahan baku, produk
setengah jadi dan produk akhir yang fasenya adalah cair misalnya bensin,
avtur, kerosene, lilin, fuel oil, dan LSWR pada saat dihasilkan di tangki
penyimpanan dan saat di kapal.
Pemeriksaan sampel dari dalam kilang dilakukan tiap 8 jam sekali dan
sehari sekali pada kapal, agar terjamin bahwa bahan yang diterima dan dikirim
benar-benar memenuhi spesifikasi yang diharapkan. Sifat atau Karakteristik
yang diperiksa adalah:

73
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

1) Spesific Grafity (ASTM D-1298)


Spesific grafity adalah suatu perbandingan berat dari sejumlah volume
tertentu suatu zat terhadap berat dari volume yang sama dari air pada suhu
tertentu. Pengukurannya dilakukan dengan alat Open Hidrometer.
2) Reid Vapor Pressure (ASTM D 323 79)
RVP diukur dengan manometer yang dirangkai pada 2 buah tabung silinder.
3) Distilasi ASTM (ASTM C 86-79)
Tujuan dari distilasi ASTM ini adalah untuk mengetahui trayek titik didih
dari beberapa produk minyak.
4) Titik nyala / Flash Point (ASTM D 9278 dan D 93-80)
Penentuan titik nyala dilakukan dengan alat Pensky Martens Close Up.
5) Analisa Warna / Colour (ASTM D 156-64 dan D 1500-64)
Tujuan dari analisa warna ini adalah untuk mengetahui warna secara visual
dari produk minyak.
6) Pemeriksaan viskositas (ASTM D 455-79)
Pemeriksaan ini dilakukan sesuai batas viskositas yang ditentukan.
7) Copper Strip Corrosion (ASTM D 130-80 dan D 1838-74)
Tujuan uji ini adalah untuk mengetahui tingkat korosivitas produk minyak.
8) Titik Asap / Smoke Point (IP 57/55)
Tujuan Test ini adalah untuk menentukan nyala api tertinggi yang tidak
menimbulkan asap.
9) Conradson Carbon Residue (ASTM 189-76)
Pengukuran ini untuk mengetahui berapa jumlah residu tak terdistilasi dari
crude oil.
10) Titik Tuang / Pour Point (ASTM D 97-66)
Tujuan pengukuran ini adalah untuk mengetahui suhu terendah dimana
minyak masih mengalir apabila didinginkan pada kondisi tertentu.
11) Melting Point of Petroleum Wax (ASTM D 87-88)
Test ini untuk mengetahui titik leleh dari petroleum wax, dimana sample
dimasukkan dalam wadah dan dipanasi dalam water bath.

74
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

12) Oil Content of Petroleum Wax (ASTM D 721-68)


Test ini untuk mengetahui kandungan minyak dalam produk lilin.
13) Base Sediment & Water (ASTM D 96-73)
Tujuan dari analisa ini adalah untuk mengetahui kandungan air, sedimen
dan minyak.
14) Anniline Point (ASTM D-611)
Merupakan suhu terendah dimana sample minyak dan anilin bercampur
sempura.
15) Pemeriksaan kadar air / Water Content (ASTM D 95)
Kandungan air dalam crude oil dapat ditentukan dengan jalan penyulingan
memakai zat pelarut yang tidak bercampur dengan air.
16) Doctor Test (ASTM D 484)
Test ini untuk mengetahui kandungan H2S dan merkaptan sebagai faktor
pengarat.

6.3.3. Laboratorium Produk Gas


Tugas dari laboratorium ini adalah memeriksa bahan baku, produk tengah
yang digunakan lagi dalam proses dan produk akhir fase gas, serta pengujian
bahan kimia baru yang akan diterima oleh PT. Pertamina. Pengujian yang
dilakukan untuk mengetahui komposisi gas (secara kimia), sifat fisis yang
diuji hanya spesific gravity dan RVP saja.
1) Komposisi LPG (ASTM D 2163-77)
Komposisi LPG diperiksa setiap hari dengan Gas Chromatography. Gas
Chromatography ini bekerja dengan sistem komputer, kondisi sudah diset
sesuai dengan kemampuan alat.
2) Komposisi Natural Gas (ASTM D 1945-64)
Komposisi naturan gas biasanya diperiksa setiap satu bulan sekali, atau
jika ada permintaan khusus dari bagian lain.
3) Cooper Strip Corrotion (ASTM D 1838 74)
Pengujian Cooper Strip Corrotion pada gas dilakukan sama dengan yang
dilakukan pada fase cair (ASTM D 130 80), hanya fase gas harus diubah
dulu menjadi fase cair.

75
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

4) Kadar CO2 dan CO


Pengujian ini menggunakan alat Dragerwerk, yaitu semacam pipet
berskala yang didalamnya terdapat susunan absorben. Perubahan warna
yang terjadi dan skala diamati.
5) Specific Grafity (ASTM D 1298)
Pengujian ini menggunakan Spesific Grafity Shilling dengan Closed
Hydrometer.

6.4. Terminal Balikpapan Lawe-lawe (TBL)


Sebagai gudang bahan baku, Terminal Balikpapan Lawe-Lawe (TBL)
bertanggung jawab atas lalu lintas keluar masuknya minyak mentah serta produk-
produk dari kilang. Selain itu, bagian ini juga melaksanakan proses pencampuran
(blending) produk berdasarkan perhitungan yang dilakukan bagian penjadwalan
produksi. Terminal Balikpapan Lawe-lawe adalah unit penunjang proses yang
mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:
1) Mengatur penerimaan minyak mentah yang akan diolah di kilang
2) Mengatur penerimaan minyak impor untuk campuran produk
3) Mengatur penerimaan produk jadi dan setengah jadi dari Kilang Balikpapan I
dan II
4) Mengatur/menyiapkan campuran/blending produk sesuai permintaan dari
bagian [Link] untuk selanjutnya dilakukan pengiriman
5) Mengatur pengiriman produk ke kapal dan UPMS VI
6) Mengelola fasilitas Jetty

6.4.1. Terminal Lawe-lawe


Terminal ini merupakan pintu masuk crude oil impor sebelum masuk ke
Terminal Balikpapan. Discharge crude oil dari kapal dilakukan dengan melalui
Single Buoy Mooring (SBM) yang terletak di tengah laut yang kemudian
disalurkan ke terminal Lawe-Lawe. Di terminal ini terdapat tujuh buah tangki
yaitu tangki 101T1A G. Tangki-tangki tersebut merupakan tipe tangki floating
roof dengan diameter 95 m, tinggi 19,5 m dengan kapasitas 800.000 barrel. Tiap
tangki tersebut dilengkapi dengan steam coil untuk mengatur suhu penyimpanan
crude dan juga dilengkapi mixer untuk menjaga homogenitas dari crude. Crude

76
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

oil yang disimpan di terminal ini merupakan crude yang akan diolah di Kilang
Balikpapan II. Penyaluran crude dari terminal Lawe-Lawe ke terminal Balikpapan
dilakukan melalui jaringan pipa bawah laut.

6.4.2. Terminal Balikpapan


Terminal Balikpapan mempunyai fungsi sebagai berikut:
1) Menerima crude oil, khususnya crude oil lokal yang akan diolah di kilang dan
dari terminal Lawe- Lawe dan juga crude oil dari Tanjung dan Warukin
2) Mengatur penerimaan minyak impor untuk campuran produk
3) Mengatur penerimaan produk setengah jadi dan produk jadi dari Kilang
Balikpapan I dan II
4) Melaksanakan blending terhadap produk
5) Melaksanakan penyaluran Non BBM dan BBM ke UPms dan Pihak ke III
6) Mengelola fasilitas Jetty
Terminal ini meliputi beberapa seksi antara lain :
1) Seksi Tank Farm dan Storage
2) Seksi Jembatan dan Terminal

77
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

BAB VII
LOKASI DAN DENAH PABRIK

7.1. Lokasi Pabrik


PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan terletak di Jalan Kom. Yos
Sudarso Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya di tepi Teluk
Balikpapan. Luas area perusahaan adalah sekitar 889 hektar. Kilang RU V
Balikpapan merupakan kilang terbesar ke-2 setelah kilang RU IV Cilacap. Lokasi
kilang RU V Balikpapan yang berdekatan dengan laut akan mempermudah
transportasi bahan baku minyak mentah maupun produk yang dihasilkan, terutama
dengan menggunakan kapal tanker. Sumber daya air laut di Teluk Balikpapan juga
dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air di kilang, misalnya untuk
keperluan utilitas kilang. Selain itu, pertimbangan dalam memilih Teluk
Balikpapan sebagai kawasan kilang RU V Balikpapan adalah tersedianya pasokan
minyak mentah yang cukup banyak dari kawasan-kawasan di sekitarnya, lokasi
yang cukup strategis untuk distribusi produk kilang terutama untuk memenuhi
kebutuhan di Indonesia bagian timur, tersedianya sarana pelabuhan, wilayah
tersebut merupakan jalur pelayaran yang ramai, dan ketersediaan lahan yang
cukup luas di daerah tersebut untuk pembangunan kilang dan sarana lainnya.

Gambar 7.1. Lokasi PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

78
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

7.2. Denah PT Pertamina (Persero) Refinery Unit V Balikpapan


Kilang RU V Balikpapan memiliki sebuah unit yang digunakan untuk
pemasokan dan pengapalan (distribusi) minyak mentah maupun produk yang
disebut sebagai unit loading and shipping serta tiga buah unit produksi mencakup
Hydroskimming Complex (HSC), Hydrocracking Complex (HCC), dan Dis and
Wax.

Gambar 7.2. Denah PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

79
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Selain di Balikpapan, PT Pertamina (Persero) RU V juga memiliki fasilitas


tangki penyimpanan minyak bumi berukuran besar (800.000 liter) sebanyak 8
tangki yang terletak di Lawe-lawe. Tangkitangki tersebut akan menerima minyak
mentah yang diangkut oleh kapal tanker berukuran besar. Minyak mentah dari
kapal akan dial irkan melalui pipa bawah laut dengan fasilitas SPM (Single Point
Mooring). Gambar 8.3 menunjukkan fasilitas kilang Pertamina RU V di Lawe-
lawe.

Gambar 7.3. Fasilitas kilang minyak Pertamina RU V di Lawe-lawe

80
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

BAB VIII
STRUKTUR ORGANISASI

PT. Pertamina (Persero) memiliki sistem organisasi di mana para staff


dibagi atas cabang-cabang berdasarkan regional. Organisasi PT. Pertamina
Refinery Unit V Balikpapan berada di bawah wewenang dan tanggung jawab
General Manager (GM) RU V yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur
Pengolahan.
General Manager RU V Balikpapan memiliki fungsi sebagai koordinator
seluruh kegiatan pengolahan Pertamina di Balikpapan, yang dalam tugasnya
dibantu oleh beberapa manajer, yaitu:
1) Operation and Manufacturing Senior Manager
2) Engineering and Development Manager
3) Health, Safety, and Environmental (HSE) Manager
4) Procurement Manager
5) Legal and General Affairs Manager
6) Reliability Manager
7) Operational Performance Improvement Manager
8) Human Relation (HR) Area Manager
9) Refinery Finance Offsite Supply Reg. IV Manager
10) IT Area Refinery Unit V Manager
Human Relation (HR) Area Manager, Refinery Finance Offsite Supply
Reg. IV Manager dan IT Area Refinery Unit V Manager bertanggung jawab
kepada Pertamina pusat dengan koordinasi dengan General Manager RU V.
Operation and Manufacturing Senior Manager sendiri membawahi beberapa
functions khusus yang tiap-tiapnya juga di pimpin oleh seorang Manager, yang
mencakup:
1) Turn Around Manager
2) Maintenance Planning and Support Manager
3) Refinery Planning and Optimization Manager
4) Maintenance Execution Manager
5) Production Manager

81
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Gambar 8.1. Struktur organisasi PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

8.1. Operation and Manufacturing Engineering


Pada bagian Operation and Manufacturing Function ini terdiri dari bagian
Production Function yang memiliki peran sebagai mengatur dan mengoperasikan
kilang secara keseluruhan. Fungsi produksi di kepalai oleh production manager
yang membawahi beberapa area proses yang di bagi menjadi seksi Distilling &
Wax Section yang berperan dalam pengoperasian kilang Balikpapan I, lalu
Hydroskimming Complex Section yang berperan dalam pengoperasian unit-unit
pemisahan seperti CDU, NHT, Platformer, dan unit-unit lain dalam HSC.
Kemudian Hydrocracking Complex yang berperan dalam perngoperasian
perengkahan dan suplai dan distribusi gas hidrogen pada kilang Balikpapan II.
Selanjtnya adalah Utilities Section yang bertanggung jawab akan ketersediaan air,
udara, listrik, dann bahan bakar bagi kilang, lalu seksi Oil Movement yang
berperan dalam pengaturan distribusi minyak dari pelabuhan menuju tangki
ataupun tangki menuju kilang, bagian ini memiliki dua fokus terminal yaitu di
terminal Balikpapan dan terminal [Link] dari bagian ini adalah
seksi Laboratory, bagian inilah sebagai penentu akhir apakah suatu minyak layak

82
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

jual atau tidak, bagian ini menganalisa minyak mentah yang diterima dan minyak
olahan yang siap dijual kepasar untuk diuji spesifikasinya.
Bagian selanjutnya Refinery Planning and Optimization Function secara
umum berfungsi dalam perencanaan pengolahan untuk mencari gross margin yang
sebesar-besarnya dari minyak minyak yang dapat diolah pada kilang. Bagian ini
membawahi beberapa seksi lainnya seperti refinery planning section yang
berfungsi untuk membuat perencanaan bulanan dan tahunan, serta potensi
pengolahan dan perencanaan crude. Selanjutnya terdapat juga seksi supply chain
& distribution section di mana bagian ini memiliki tugas untuk mengatur
penjadwalan crude yang diolah setiap harinya kepada bagian produksi,
menyampaikan realisasi pengolahannya dan mengatur penyaluran minyak-minyak
tersebut. Terakhir yang dibawahi oleh bagian RPO adalah seksi budget and
performance section yaitu pada bagian ini bertugas dalam mengoordinir anggaran
biaya di semua fungsi dan mengevaluasi ketercapaiannya. Bukan hanya budgeting
namun performa dari kilang pun turut di evalusi oleh seksi ini.
Bagian lainnya adalah maintenance planning and support function yang
membawahi 4 seksi yaitu planning and schedulling, Stationary engineer section,
electrical & instrument engineer, dan rotating eguipment egineer section. Lalu
bagian Maintenance execution function yang membawahi 6 seksi meliputi
maintenance area section 1-4, general maintenance section, dan workshop
section. Terakhir dal am grup function ini adalah Turn around yang membawahi
3 seksi yaitu turn around section, equipment overhaul section, dan scheduling
material & service support section.

8.2. Engineering and Development Function


Tugas utama fungsi ini adalah mengevaluasi proses kilang, dan
memberikan saran peningkatan kinerja operasi nya. Fungsi ini membawahi 3
bagian, yaitu process engineering section, project engineering section, energy
conservation & loss control section. Tugas utama pada seksi ini adalah
merencanakan, mengoordinasikan, mengarahkan dan mengendalikan penyusunan
evaluasi, dan rekomendasi pengembangan dari sisi proses untuk peningkatan
kinerja kilang.

83
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

Seksi project engineering yang berfungsi untuk mengatur kontrak kerja,


pelaksanan proses pengadaan barang dan jasa, mempersiapkan cetak biru
pengembangan kilang, dan hal hal lain yang berhubungan dengan persiapan
proyek, seksi ini terbagi menjadi 4 subseksi yaitu pengadaan, ahli proyek,
pengawas konstruksi, dan pengatur administrasi. Bagian selanjutnya adalah energy
conservation and loss control, pada bagian ini memiliki tujuan untuk
mengevaluasi, merencanakan, mengadakan, dan menyelesakan masalah mengenai
penggunaan energi dan kehilangan hidrokarbon dalam kilang.

Gambar 8.2. Struktur organisasi Process Engineering Engineering and Development


PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan
8.3. Health, Safety, and Environment
HSE melakukan merencanakan dan mengkoordinasikan pengelolaan,
pengendalian, pengawasan dan pengembangan, penyelenggaraan usaha-usaha
kegiatan pencegahan dan penanggulangan kecelakaan, kebakaran, peledakan, dan
pencemaran/kerusakan lingkungan serta pelestarian lingkungan, keselamatan dan
kesehatan kerja dalam upaya pengendalian kerugian operasi perusahaan serta
membina kerjasama dengan instansi pemerintah untuk mencapai operasi
perusahaan yang efisien dan andal. HSE mempunyai seksi seperti: Fire and
Insurance, Enviromental, Occupational Health, dan Safety.

84
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

8.4. Procurement
Procurement berfungsi dalam men-support dan melayani kebutuhan
operasi kilang serta dapat memenuhi kebutuhan pemeliharaan kilang untuk
kebutuhan barang dan jasa dengan tepat sumber, tepat spesifikasi, tepat jumlah,
tepat waktu, tepat harga/wajar, tepat mutu, dan tepat pemakai guna menjamin
tingkat layanan (Service Level) secara maksimal dan tingkat perputaran persediaan
(Turn Over Ratio) dapat optimal serta tetap menjamin setiap kegiatan dilakukan
secara transparan dan dapat di pertanggungjawabkan secara auditable dan
accountable. Bagian ini terbagi menjadi beberapa seksi yaitu inventory section,
purchasing section, service & warehousing section, dan contract section.

8.5. Legal and General Affairs


Legal and general berfungsi untuk menciptakan suasana lingkungan kerja
yang aman dan nyaman, citra perusahaan yang positif serta menjamin semua
putusan perusahaan berdasarkan pada aturan yang berlaku guna menunjang
kelancaran operasi RU V. Public Relation melakukan program pengembangan
masyarakat, kegiatan protokoler, penyajian data kepada publik intern dan ekstern
serta membina hubungan baik dengan pihak eksternal (Pemkot, Pemkab,
Pemprov, Instansi Sipil/Militer, Ormas/Orpol, Media Massa, LSM, tokoh
masyarakat) guna mempertahankan/meningkatkan citra dan good will terhadap
perusahaan agar diperoleh keharmonisan, dukungan dengan saling pengertian
secara efektif dan efisien. Legal berfungsi untuk mengembangkan, mengevaluasi,
melaksanakan kegiatan data dan informasi APU (tanah, bangunan, dan aset
lainnya) untuk menyusun strategi perencanaan pemasaran dan optimalisasi APU
agar dalam pemasaran APU dapat tercapai kesepakatan dan kerjasama dengan
mitra sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan.

8.6. Realibility Manager


Fungsi dari bagian ini adalah untuk merencanakan, melaksanakan,
mengoordinir pekerjaan, pemeliharaan dan meningkatkan kehandalan operasi
kilang. Bagian ini terbagi menjadi dua fungsi yaitu plant realibility section yang
bertugas untuk mengoordinasi pekerjaan pemeliharaan kilang dengan bidang jasa
dan pemeliharaan kilang. Kedua adalah bagian equipment realibility section

85
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

bagian ini bertugas untuk melakukan pemeriksaaan peralatan yang beroperasi


dalam kilang, seperti perpipaan, tangki, furnace, penukar panas dan alat-alat
lainnya. Selain itu, Plant Reliability, mensosialisasikan best practice program
Reliability Performace Improvement untuk meningkatkan Plant Availiability
Factor (PAF) dan Reliability Index (RI), mengevaluasi pencapaian KPI dan
memonitor hasil aktivitas pemeliharaan kilang di sistem SAP dalam rangka untuk
mencapai tingkat keandalan dan safety kilang RU yang optimal sesuai kebutuhan
operasi produksi, standard, code, practice, dan Peraturan Pemerintah yang
berlaku.

8.7. Operational Performance Improvement


OPI berfungsi merencanakan programprogram, coaching untuk mencapai
tujuan perusahaan seperti: Management Infrastructure, Mindset Capability &
Leadership, Hydrocarbon Management, Refinery Fuel, Refinery Loss, Reliability,
Port Transformation, dan Health-Safety & Environment melalui perumusan
strategi OPI Way dalam mewujudkan Refinery Unit V sebagai kilang world class
dengan hasil produksi yang berkualitas serta dapat diterima di pasaran domestik
dan internasional.

8.8. Human Resource, Finance Region, dan Information Technology


Bagian ini membawahi lima seksi yaitu people development, industrial
relation, organization development analysis, medical, dan HR service. Selanjutnya
pada bagian finance region sebagai pengatur keuangan membawahi 3 seksi yang
meliputi finance business suport, financial accounting , dan oil accounting.
Sedangkan bagian information technology membawahi dua seksi yaitu seksi
operasi komunikasi dan seksi operasi komputer.

86
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

DAFTAR PUSTAKA

Balikpapan Refinery I Upgrading Project , Manual Book Operation, 1997.


Bechtel Great Britain Ltd., Operating Manual Plant 1: Crude Distillation Unit,
London, 1983.
Bechtel Great Britain Ltd., Operating Manual Plant 2: Vacuum Distillation Unit,
London, 1983.
Bechtel Great Britain Ltd., Operating Manual Plant 3: HC UNIBON Process
Unit, London, 1983.
Bechtel Great Britain Ltd., Operating Manual Plant 4: Naphtha Hydrotreater
Unit, London,1983.
Bechtel Great Britain Ltd., Operating Manual Plant 5: Platforming Process Unit,
London,1983.
Bechtel Great Britain Ltd., Operating Manual Plant 6: LPG Recovery Unit,
London, 1983.
Bechtel Great Britain Ltd., Operating Manual Plant 7: Sour Water Stripper Unit,
London, 1983.
Bechtel Great Britain Ltd. Operating Manual Plant 8: Hydrogen Plant, London,
1983.
Bechtel Great Britain Ltd., Operating Manual Utilities, London, 1983.
Cosmo Engineering Co. Ltd., Operating Manual for Flare Gas Recovery
System, Tokyo, 2004.
Cosmo Engineering Co. Ltd., Operating Manual for Hydrogen Recovery
System, Tokyo, 2004.
Dis&Wax Pertamina RU V, Dis & Wax Section-Prod, Slide Presentasi, 2014.
HCC Pertamina RU V, Hydrocracking Complex Production, Slide Presentasi,
2014.
Herdani, Doan, Penjelasan Orientasi Kerja Praktek, Slide Presentasi, Budget
and Performance Section, Refinery Planning and Optimization, 2013.
Imron, Ali, Oil Movement, Slide Presentasi, Slide Presentasi, Oil Movement,
2014.

87
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

NHT Pertamina RU V, Dasar Proses dan Operasi Unit Naphtha Hydrotreater,


Slide Presentasi, 2011.
Pertamina RU V, Presentasi untuk Mahasiswa KP, Slide Presentasi, 2013
Platforming Pertamina RU V, Dasar Proses dan Operasi Unit Platforming-CCR,
Slide Presentasi, 2011.
Process Engineering RU V, Pertamina Refinery Unit V Balikpapan, Slide
Presentasi, 2011.
RP&O RU V, Refinery Planning Pertamina RU V Balikpapan, Slide Presentasi,
2011.
RP&O RU V, Refinery Planning & Optimization Department, Slide Presentasi,
2013.
Utilities Pertamina RU V, Overview bagian utilities-Prod, Slide Presentasi,
2013.
Utilities Pertamina RU V, Overview bagian utilities-Prod, Slide Presentasi,
2013

88
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

LAMPIRAN

LAMPIRAN 1: Diagram Alir Proses CDU IV (1)

LAMPIRAN 2: Diagram Alir Proses CDU IV (2)

89
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

LAMPIRAN 3: Diagram Alir Proses NHT (1)

LAMPIRAN 4: Diagram Alir Proses NHT (2)

90
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

LAMPIRAN 5: Diagram Alir Proses Platformer

LAMPIRAN 6: Diagram Alir Proses LPG Recovery Unit

91
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

LAMPIRAN 7: Diagram Alir Proses LPG Treater Unit

LAMPIRAN 8: Diagram Alir Proses Heavy Vacuum Unit

92
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
Laporan Umum Kerja Praktek
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan

LAMPIRAN 9: Diagram Alir Proses Hydrocracking Unibon Unit

LAMPIRAN 10: Diagram Alir Proses Fraksionasi HCU

93
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya

Anda mungkin juga menyukai