RKL dan RPL Pembangunan Pengaman Pantai
RKL dan RPL Pembangunan Pengaman Pantai
DOKUMEN AKHIR
BANDAR LAMPUNG - DESEMBER 2015
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ............................................................................................................. I1
1.2. Maksud dan Tujuan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup ..................... I2
1.3. Kegunaan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup..................................... I3
1.3.1 Kegunaan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup ........................................ I3
1.3.2 Kegunaan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup ........................................ I4
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
ii
DAFTAR TABEL
iii
DAFTAR GAMBAR
iv
DAFTAR LAMPIRAN
v
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
BAB I
PENDAHULUAN
Adanya dampak pada berbagai komponen lingkungan perlu dikelola dengan baik
agar perubahan kualitas dan keseimbangan lingkungan tersebut tidak mengarah
ke kondisi yang lebih buruk, maka rencana kegiatan ini perlu disertai dengan
penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL), sehingga kegiatan
yang dilakukan pelaksanaannya dilakukan secara berkelanjutan dan dapat
diwujudkan, dimana komponen lingkungan yang dapat terkena dampak negatif
dapat diminimalkan dan dampak positifnya dapat dioptimalkan.
Memahami hal ihwal proyek secara jelas serta ikut menghindari timbulnya
kesalahpahaman, hingga dapat menggalang kerjasama yang saling
menguntungkan.
Mengetahui sejak dini perubahan kualitas lingkungan.
Untuk dipergunakan masyarakat sebagai sosial kontrol, guna memaksimalkan
dampak positif dan meminimalkan dampak negatif.
BAB II
RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
(RKL)
Pada laporan ANDAL telah diuraikan telaahan prakiraan dampak penting dan evaluasi
dampak penting rencana kegiatan, meliputi :
Pada dasarnya seluruh dampak tersebut masih dalam batas kisaran yang dapat
dikendalikan, baik melalui pendekatan teknologi, sosial ekonomi, maupun pendekatan
institusional. Berdasarkan hasil studi tersebut, maka ruang lingkup pengelolaan
lingkungan yang akan dilaksanakan adalah menyangkut semua komponen kegiatan
yang menimbulkan dampak negatif penting dan dampak positif penting yang tergolong
dampak penting hipotetik maupun yang tergolong dampak negatif penting (+) yang
tetap dikelola.
Berikut adalah Tabel 2.1 yang menyajikan pengelolaan lingkungan yang akan
dilakukan terhadap kegiatan yang dapat menimbulkan dampak penting terhdap
komponen lingkungan fisik-kimia, sosekbud, dan kesehatan masyarakat baik pada
tahap konstruksi maupun tahap operasional serta pengelolaan yang tidak termasuk
dampak penting/tidak termasuk dampak penting hipotetik yang tetap perlu dikelola.
INDIKATOR
DAMPAK LINGKUNGAN SUMBER KEBERHASILAN BENTUK PENGELOLAAN LOKASI PENGELOLAAN PE
NO PENGELOLAAN
YANG DIKELOLA DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP LINGKUNGAN HIDUP L
LINGKUNGAN HIDUP
Kategori Dampak Penting Hipotetik
Tahap Pra Konstruksi
1 Keresahan Sosial Penetapan tapak dan Tidak adanya keresahan Pendekatan Sosial Desa Margasari P
sigi sosial penduduk di lokasi Melaksanakan Desa Sri Minosari di
studi sebagai akibat adanya sosialisasi/musyawarah di ta
Desa Sukorahayu
informasi rencana kegiatan wilayah studi untuk menjelaskan ko
(Kecamatan Labuhan
Terjalinnya interaksi sosial l rencana kegiatan secara jelas
Maringgai)
di
yang baik antara pada masing-masing desa di M
pemrakara, pemerintah wilayah studi de
desa dan masyarakat. Musyawarah dilakukan di wilayah m
studi bersama penduduk serta di
dengan instansi terkait sebagai ta
fasilitator. bu
Pendekatan Institusional pe
Balai Besar Wilayah Sungai K
Mesuji Sekampung akan de
melakukan koordinasi dengan ke
Kecamatan Labuhan Maringgai, di
Desa Margasari, Desa Sri ak
Minosari dan Desa Sukorahayu bu
ta
(p
Tahap Konstruksi
1 Peluang kerja dan usaha Mobilisasi perekrutan Adanya 127 orang tenaga Pendekatan Sosial Lokasi kantor lapangan P
Peningkatan pendapatan tenaga kerja kerja lokal yang direkrut Rekruitmen tenaga kerja non skill kontraktor di
Keresahan sosial
dalam kegiatan proyek. akan diprioritaskan dari lokasi Desa Margasari pr
Meningkatnya studi, bilamana dari lokasi studi Desa Sri Minosari
te
kesejahteraan tenaga kerja belum terpenuhi, maka akan ya
Desa Sukorahayu bu
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
INDIKATOR
DAMPAK LINGKUNGAN SUMBER KEBERHASILAN BENTUK PENGELOLAAN LOKASI PENGELOLAAN PE
NO PENGELOLAAN
YANG DIKELOLA DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP LINGKUNGAN HIDUP L
LINGKUNGAN HIDUP
kerja lokal sesuai dengan K
kualifikasi yang dibutuhkan oleh de
kegiatan sebagai bagian dari ke
pengalihan keahlian; dan ak
memanfaatkan pekerja non skill bu
secara maksimal sesuai dengan pr
kebutuhan; pe
Pendekatan Institusional te
Hubungan kerja antara tenaga
kerja dengan pemberi kerja akan
mengacu pada peraturan dan
kebijakan Dinas Sosial Tenaga
Kerja dan Transmigrasi
Kabupaten Lampung Timur.
Balai Besar Wilayah Sungai
Mesuji Sekampung akan
melakukan koordinasi dengan
Kecamatan Labuhan Maringgai,
Desa Margasari, Desa Sri
Minosari dan Desa Sukorahayu
untuk perekrutan tenaga kerja.
2 Penurunan kualitas udara Mobilisasi alat dan Kualitas udara ambien Pendekatan Teknologi Lokasi bongkar muat Pen
ambien bahan memenuhi baku mutu Penyiraman secara berkala pada barang di tapak proyek ling
Gangguan kesehatan berdasarkan Peraturan ruas jalan Labuhan Maringgai - dila
masyarakat Pemerintah Republik tapak proyek di lokasi studi yang hari
Indonesia Nomor 41 tahun digunakan mobilisasi alat bahan. keg
1999 tentang Pengendalian alat
Menutup bak atas truk
Pencemaran Udara. pengangkut material-bahan juga
Tidak terjadi gangguan untuk angkutan tanah/lumpur
penyakit (ISPA) sebagai kering hasil pengerukan dengan
akibat proyek terpal/plastik agar material yang
dimuat tidak berceceran di jalan
raya
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
INDIKATOR
DAMPAK LINGKUNGAN SUMBER KEBERHASILAN BENTUK PENGELOLAAN LOKASI PENGELOLAAN PE
NO PENGELOLAAN
YANG DIKELOLA DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP LINGKUNGAN HIDUP L
LINGKUNGAN HIDUP
Pendekatan Sosial
Melakukan sosialisasi
pelaksanaan kegiatan sebelum
pelaksanaan konstruksi kepada
masyarakat sekitar.
Kontraktor akan membentuk dan
mengaktifkan Unit Pengaduan
Keluhan yang dapat dihubungi
masyarakat setiap hari.
3 Peningkatan intensitas Mobilisasi alat dan Intensitas kebisingan Pendekatan Teknologi Lokasi area bongkar muat Pen
kebisingan bahan memenuhi baku mutu Menggunakan peralatan berat material barang untuk ling
Gangguan kesehatan berdasarkan Keputusan yang mempunyai kondisi baik, kebutuhan proyek dila
masyarakat Menteri Negara Lingkungan laik jalan dan dilakukan pengujian hari
Hidup Republik Indonesia secara berkala baik kondisi fisik keg
Nomor 48 Tahun 1996 kendaraan, sehingga bising alat
tentang Baku Tingkat memenuhi baku mutu
Kebisingan. Penjadwalan pelaksanaan
Tidak terjadi pengaduan kegiatan mobilisasi alat dan
gangguan penyakit bahan agar dilaksanakan pada
/terganggunya sistim siang hari dan terhindar
pendengaran dan gangguan kenyamanan
kenyamanan akibat penduduk sekitar
kegiatan. Mengatur peralatan yang
digunakan, sehingga tidak semua
alat berat digunakan bersamaan.
Pelaksanaan kegiatan konstruksi
dilakukan pada waktu siang hari
guna menghindari gangguan
kenyamanan
Pendekatan Sosial
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
INDIKATOR
DAMPAK LINGKUNGAN SUMBER KEBERHASILAN BENTUK PENGELOLAAN LOKASI PENGELOLAAN PE
NO PENGELOLAAN
YANG DIKELOLA DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP LINGKUNGAN HIDUP L
LINGKUNGAN HIDUP
4 Kerusakan Jalan Mobilisasi alat dan Tidak terjadinya kerusakan Pendekatan Teknologi Lokasi bengkel alat berat Per
bahan jalan selama kegiatan Kendaraan dan alat berat yang di tapak proyek pen
mobilisasi alat dan bahan akan digunakan selama Lokasi ruas jalan Labuhan dila
berlangsung pekerjaan mobilisasai alat-bahan Maringgai tapak proyek sela
akan dipilih dengan tonase yang di lokasi studi yang mob
disesuaikan dengan beban digunakan untuk rute bah
jalan/kelas jalan setempat. angkutan mobilisasi alat
Berupaya untuk memperbaiki bahan.
kembali ruas jalan yang rusak
sebagai akibat pelaksanaan
mobilisasi alat dan bahan.
5 Timbulan tanah dan lumpur Normalisasi Way Tidak terjadinya Tanah/lumpur hasil pengerukan Lokasi timbunan Pen
Penet dan Normalisasi pendangkalan pada Way sungai selama pekerjaan tanah/lumpur sementara ling
Muara Way Penet Penet dan Muara Way normalisasi Way Penet dan sebelum diangkut ke dila
Penet Muara Way Penet akan disimpan lokasi penimbunan akhir men
Tidak terjadinya sementara pada area antara Lokasi penimbunan akhir hari
penyumbatan aliran pada sungai dan jalan inspeksi yang terpilih sebagai keg
Muara Way Penet akibat sebelum diangkut ke lokasi disposal area norm
erosi dari hulu yang disposal area lumpur/tanah hasil Pen
menyebabkan Mengamankan tanah/lumpur pengerukan sungai Wa
pendangkalan hasil pengerukan sungai selama
Terkelolanya timbulan pekerjaan normalisasi Way Penet
tanah/lumpur hasil dan Muara Way Penet akan
pengerukan sungai selama disimpan sementara dengan
pekerjaan normalisasi cara:
sungai - Memadatkan tanah/lumpur
Tidak adanya tanah/lumpur pada timbunan sementara
hasil pengerukan sungai agar tidak jatuh / terbawa
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
INDIKATOR
DAMPAK LINGKUNGAN SUMBER KEBERHASILAN BENTUK PENGELOLAAN LOKASI PENGELOLAAN PE
NO PENGELOLAAN
YANG DIKELOLA DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP LINGKUNGAN HIDUP L
LINGKUNGAN HIDUP
pembangunan jetty, tanggul
penutup dan rehabilitasi TPI
6 Bangkitan lalulintas Normalisasi Way Kelancaran pada ruas jalan Pendekatan Teknologi Jl Labuhan Maringgai D
Penet dan normalisasi Labuhan Maringgai tapak Memastikan setiap mobil tapak proyek s
muara Way Penet proyek tidak terjadi pengangkut material bangunan Lokasi penempatan s
hambatan/tidak terjadi melaksanakan standar aman rambu lalulintas m
kemacetan lalulintas. pengangkutan barang, sehingga b
Lokasi bongkar muat
Ada tidaknya pelaksana material yang diangkut tidak barang di tapak proyek
a
pengatur kendaraan masuk- membahayakan operasional t
Lokasi ruas jalan s
keluar proyek. lalulintas di jalan yang dapat
inspeksi sungai di area n
Kontraktor melaksanakan mengganggu lalulintas
normalisasi sungai dan W
prosedur pekerjaan tanah Menempatkan petugas pengatur normalisasi muara
lalulintas yang mengendalikan n
dengan baik dan benar sungai
kendaraan keluar dan masuk m
Tidak ada pengaduan dari P
masyarakat kawasan, dengan prinsip dasar
pengaturan tetap mengutamakan S
kelancaran di Jalan Raya d
Labuhan Maringgai tapak s
proyek p
Pemasangan rambu lalulintas k
(larangan parkir) pada depan
gerbang masuk-keluar tapak
proyek
Pemasangan rambu hati-hati ada
keluar masuk kendaraan proyek,
larangan parkir pada lokasi
keluar-masuk kendaraan proyek
Penempatan pekerja proyek
untuk mengatur lalu lintas saat
masuk dan keluar kendaraan
pengiriman material konstruksi
dan alat-alat berat dari arah
silang.
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
INDIKATOR
DAMPAK LINGKUNGAN SUMBER KEBERHASILAN BENTUK PENGELOLAAN LOKASI PENGELOLAAN PE
NO PENGELOLAAN
YANG DIKELOLA DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP LINGKUNGAN HIDUP L
LINGKUNGAN HIDUP
masyarakat sekitar.
Kontraktor akan membentuk dan
mengaktifkan Unit Pengaduan
Keluhan yang dapat dihubungi
masyarakat setiap hari.
Pendekatan Institusional
Kegiatan mengacu pada
Peraturan Menteri Perhubungan
Nomor 14 Tahun 2006
Manajemen dan Rekayasa Lalu
Lintas di Jalan
Bekerjasama dengan dengan
Dinas Perhubungan Komunikasi
dan Informatika Kabupaten
Lampung Timur dan Polsek
Kecamatan Labuhan Maringgai
untuk melakukan rekayasa
lalulintas guna meminimalkan
gangguan lalulintas. .
7 Penurunan kualitas udara Normalisasi Way Kualitas udara ambien Pendekatan Teknologi Lokasi bongkar muat Pen
ambien Penet dan Normalisasi memenuhi baku mutu Penyiraman secara berkala pada barang di tapak proyek ling
Gangguan kesehatan Muara Way Penet berdasarkan Peraturan ruas jalan Labuhan Maringgai - dila
masyarakat Pemerintah Republik tapak proyek di lokasi studi yang hari
Indonesia Nomor 41 tahun digunakan untuk angkutan keg
1999 tentang Pengendalian tanah/lumpur kering hasil pera
Pencemaran Udara. pengerukan normalisasi Way proy
Tidak terjadi gangguan Penet dan normalisasi nuara Way ang
penyakit (ISPA) sebagai Penet selama musim kemarau. tana
pen
akibat proyek Menutup bak atas truk
dala
pengangkut material-bahan juga
norm
untuk angkutan tanah/lumpur
dan
kering hasil pengerukan dengan
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
INDIKATOR
DAMPAK LINGKUNGAN SUMBER KEBERHASILAN BENTUK PENGELOLAAN LOKASI PENGELOLAAN PE
NO PENGELOLAAN
YANG DIKELOLA DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP LINGKUNGAN HIDUP L
LINGKUNGAN HIDUP
menempel terbawa pada ban truk
tidak berceceran di jalan raya
yang dilaluinya dan menimbulkan
sebaran debu ke jalanan yang
dilalui.
Pendekatan Sosial
Melakukan sosialisasi
pelaksanaan kegiatan sebelum
pelaksanaan konstruksi kepada
masyarakat sekitar.
Kontraktor akan membentuk dan
mengaktifkan Unit Pengaduan
Keluhan yang dapat dihubungi
masyarakat setiap hari.
8 Peningkatan intensitas Normalisasi Way Intensitas kebisingan Pendekatan Teknologi Lokasi area bongkar muat Pen
kebisingan Penet dan Normalisasi memenuhi baku mutu Menggunakan peralatan berat material barang untuk ling
Gangguan kesehatan Muara Way Penet berdasarkan Keputusan yang mempunyai kondisi baik, kebutuhan proyek dila
masyarakat Menteri Negara Lingkungan laik jalan dan dilakukan pengujian hari
Hidup Republik Indonesia secara berkala baik kondisi fisik keg
Nomor 48 Tahun 1996 kendaraan, sehingga bising tana
tentang Baku Tingkat memenuhi baku mutu pen
Kebisingan. norm
Penjadwalan pelaksanaan
Tidak terjadi pengaduan Pen
kegiatan angkutan tanah hasil
gangguan penyakit norm
pengerukan sungai dalam
/terganggunya sistim Wa
pekerjaan normalisasi Way Penet
pendengaran dan dan normalisasi muara Way
kenyamanan akibat Penet agar dilaksanakan pada
kegiatan. siang hari dan terhindar
gangguan kenyamanan
penduduk sekitar
Mengatur peralatan yang
digunakan, sehingga tidak semua
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
INDIKATOR
DAMPAK LINGKUNGAN SUMBER KEBERHASILAN BENTUK PENGELOLAAN LOKASI PENGELOLAAN PE
NO PENGELOLAAN
YANG DIKELOLA DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP LINGKUNGAN HIDUP L
LINGKUNGAN HIDUP
masyarakat setiap hari
9 Penurunan kualitas air sungai Normalisasi Way Pengumpulan data jenis Dampak penurunan kualitas air Lokasi pengerukan Pen
Penet dan normalisasi dan kelimpahan plankton sungai tidak dapat dihindari normalisasi Way Penet dan ling
muara Way Penet dilakukan dengan sebagai akibat kegiatan normalisasi muara Way dila
mengambil contoh pengerukan, namun upaya Penet men
plankton, yaitu dengan pengelolaan yang dapat hari
cara menyaring air selokan dilakukan guna memimimalkan keg
sebanyak 30 liter dengan dampak penurunan kualitas air norm
plankton net no. 25 yang sungai adalah melaksanaan Pen
kemudian kegiatan pengerukan normalisasi norm
dikonsentrasikan menjadi Way Penet dan normalisasi Wa
25 ml selanjutnya muara Way Penet dilakukan diaw
ditambahkan pengawet secara bertahap/tidak pen
formalin menjadi 4% menggunakan alat keruk dalam pera
sebanyak 4 tetes. jumlah banyak guna
Adapun untuk memantau meminimalkan dampak
jenis dan kelimpahan penurunan kualitas air sungai
benthos dilakukan dengan Memindahkan tanah/lumpur hasil
cara mengambil contoh pengerukan kegiatan normalisasi
substrat dasar perairan Way Penet dan normalisasi
selokan (lumpur/pasir) Muara Way Penet dari lokasi
dengan menggunakan penimbunan sementara ke lokasi
surber net. penimbunan akhir yang terpilih
Contoh plankton dan agar tidak jatuh yang
benthos kemudian di memperkeruh kualitas air sungai
periksa di laboratorium
dengan menggunakan
mikroskop dan stereo
mikroskop, selain itu akan
dilakukan pula
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
INDIKATOR
DAMPAK LINGKUNGAN SUMBER KEBERHASILAN BENTUK PENGELOLAAN LOKASI PENGELOLAAN PE
NO PENGELOLAAN
YANG DIKELOLA DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP LINGKUNGAN HIDUP L
LINGKUNGAN HIDUP
10 Penurunan kualitas air Laut Konstruksi jetty Tidak terjadi penurunan Dampak penurunan kualitas air Lokasi pemasangan silt Pen
Gangguan pada biota air kualitas air laut di area laut tidak dapat dihindari sebagai screen di area pengerukan ling
laut rencana jetty yang akibat kegiatan konstruksi jetty, pada lokasi rencana jetty dila
mengganggu organisme namun upaya pengelolaan yang men
perairan (plankton, dapat dilakukan guna hari
benthos dan nekton) memimimalkan dampak keg
Baku mutu kualitas air laut penurunan kualitas air laut adalah jetty
berdasarkan Keputusan melaksanaan kegiatan konstruksi
Menteri Lingkungan Hidup jetty dilakukan secara bertahap
Nomor 51 tahun 2004 guna meminimalkan dampak
tentang Baku Mutu Air Laut penurunan kualitas air laut
pada lampiran I dengan Mengisolasi area pengerukan
konsentrasi parameter dengan memasang silt screen
TSS = 80 mg/l aliran guna meminimalkan
Indeks diversitas plankton kekeruhan air laut di area
dan benthos berdasarkan pengerukan
kriteria Shannon and Memindahkan tanah/lumpur hasil
Wiener pengerukan kegiatan pengerukan
dari lokasi penimbunan
sementara ke lokasi penimbunan
akhir yang terpilih agar tidak jatuh
ke perairan kembali
5 Timbulan lumpur hasil Konstruksi jetty Tidak terjadinya Lumpur hasil pengerukan, selama Lokasi timbunan Pen
pengerukan pendangkalan akibat konstruksi jetty akan disimpan tanah/lumpur sementara ling
konstruksi jetty sementara pada area antara sebelum diangkut ke dila
Tidak terjadinya sungai dan jalan inspeksi lokasi penimbunan akhir men
penyumbatan aliran akibat sebelum diangkut ke lokasi Lokasi penimbunan akhir hari
konstruksi jetty disposal area yang terpilih sebagai keg
Mengamankan lumpur dengan norm
Terkelolanya timbulan disposal area
dengan cara : lumpur/tanah hasil Pen
lumpur hasil pekerjaan
pengerukan sungai Wa
konstruksi jetty - Memadatkan lumpur pada
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
INDIKATOR
DAMPAK LINGKUNGAN SUMBER KEBERHASILAN BENTUK PENGELOLAAN LOKASI PENGELOLAAN PE
NO PENGELOLAAN
YANG DIKELOLA DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP LINGKUNGAN HIDUP L
LINGKUNGAN HIDUP
Tahap Operasi
1 Persepsi masyarakat Operasional dan Tidak terjadi abrasi pada Pemeliharan pengaman pantai Lahan tambak di Desa Per
pemeliharaan lahan milik penduduk di Desa Margasari dan Desa Sri Margasari yang pen
pengaman pantai setempat Minosari agar dapat berfungsi berbatasan dengan dila
Tidak terjadi kerusakan secara optimal untuk menahan pesisir pantai taha
lahan tambak dan abrasi pantai Lahan tambak di Desa pem
mangrove akibat ombak Memperbaiki adanya kerusakan Sri Minosari yang pen
laut pada tanggul pengaman abrasi berbatasan dengan di D
dan
Adanya persepsi positif yang rusak akibat ombak pesisir pantai
Min
penduduk terhadap Mempertahankan adanya Area lahan mangrove
kegiatan mangrove yang berada di bagian yang berada di bagian
belakang tanggul penahan belakang tanggul
abrasi penahan abrasi sebagai
Menambah penanaman pohon pengaman pantai
mangrove yang berada di depan Area penanaman lahan
tanggul penahan abrasi secara mangrove di bagian
bertahap depan area pengaman
pantai
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
INDIKATOR
DAMPAK LINGKUNGAN SUMBER KEBERHASILAN BENTUK PENGELOLAAN LOKASI PENGELOLAAN PE
NO PENGELOLAAN
YANG DIKELOLA DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP LINGKUNGAN HIDUP L
LINGKUNGAN HIDUP
selanjutnya diresapkan ke media kon
tanah. cam
Secara periodik limbah padat/
lumpur pada septik tank akan
dikuras petugas untuk dibuang
ke lokasi resmi
2 Timbulan limbah B3 Operasional base Volume limbah kategori B3 Terdapatnya penampungan Lokasi penampung limbah Per
camp yang terkumpul setiap saat limbah B3 (drum kapasitas 200 B3 (drum tertutup) dari pen
dan frekuensi pembuangan liter) untuk menampung oli pelaksanaan pekerjaan (oli dila
ke lokasi yang memiliki izin bekas dan majun dari kegiatan bekas, kain majun sela
dari instansi terkait. tahap konstruksi. terkontaminasi oli bekas ope
PP no 101 tahun 2014 TPS limbah B3 akan dibedakan dari kegiatan bengkel alat cam
tentang pengelolaan antara jenis cairan dan padat. berat)
Limbah B3. Izin TPS limbah B3 akan
Permen LH no 18 tahun ditempuh ke BPLH Kabupaten
2009 tentang perizinan Lampung Timur. Kontraktor
Limbah B3. akan bekerjasama dengan pihak
ketiga untuk pengangkut limbah
B3 yang memiliki ijin dari Dirjen
Perhubungan Darat Rdan KLH
serta senantiasa terdapat
manifest.
Tahap Operasi
1 Penurunan abrasi Operasional dan Tidak terjadi abrasi pada Pemeliharan pengaman pantai Lahan tambak di Desa Per
pemeliharaan lahan milik penduduk di Desa Margasari dan Desa Sri Margasari yang pen
pengaman pantai setempat Minosari agar dapat berfungsi berbatasan dengan dila
Tidak terjadi kerusakan secara optimal untuk menahan pesisir pantai taha
lahan tambak dan abrasi pantai Lahan tambak di Desa pem
pen
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
INDIKATOR
DAMPAK LINGKUNGAN SUMBER KEBERHASILAN BENTUK PENGELOLAAN LOKASI PENGELOLAAN PE
NO PENGELOLAAN
YANG DIKELOLA DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP LINGKUNGAN HIDUP L
LINGKUNGAN HIDUP
2 Kerusakan jalan Operasional, Tidak terjadinya kerusakan Pendekatan Teknologi Lokasi ruas jalan Labuhan Per
pemeliharaan dan jalan selama kegiatan Pembatasan berat kendaraan Maringgai tapak proyek di pen
jalan inspeksi Way operasional, pemeliharaan dan harus sesuai dengan tonase lokasi studi yang digunakan dila
Penet dan jalan inspeksi Way Penet beban jalan/kelas jalan setempat. untuk jalan inspeksi Way sela
Penet. ope
Berupaya untuk memperbaiki
kembali ruas jalan yang rusak.
3 Penurunan abrasi Operasional dan Tidak terjadi abrasi pada Pemeliharan pengaman pantai Lahan tambak di Desa Per
pemeliharaan lahan milik penduduk di Desa Margasari dan Desa Sri Margasari yang pen
rehabilitasi tanggul setempat Minosari agar dapat berfungsi berbatasan dengan dila
TPI Tidak terjadi kerusakan secara optimal untuk menahan pesisir pantai taha
lahan tambak dan abrasi pantai Lahan tambak di Desa
mangrove akibat ombak Memperbaiki adanya kerusakan Sri Minosari yang
laut pada tanggul pengaman abrasi berbatasan dengan
yang rusak akibat ombak pesisir pantai
Mempertahankan adanya Area lahan mangrove
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
INDIKATOR
DAMPAK LINGKUNGAN SUMBER KEBERHASILAN BENTUK PENGELOLAAN LOKASI PENGELOLAAN PE
NO PENGELOLAAN
YANG DIKELOLA DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP LINGKUNGAN HIDUP L
LINGKUNGAN HIDUP
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
BAB III
RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP
(RPL)
Pada laporan ANDAL telah diuraikan telaahan prakiraan dampak penting dan evaluasi
dampak penting rencana kegiatan, meliputi:
Guna mengurangi dampak negatif dan meningkatkan dampak positif, maka dalam
pelaksanaan rencana kegiatan ini akan dikelola komponen kegiatan yang dapat
menimbulkan dampak, sedangkan untuk mengetahui seberapa jauh
keberhasilan/efektifitas pengelolaan tersebut, maka akan dilaksanakan pemantauan
lingkungan terhadap komponen lingkungan yang tercakup dalam ruang lingkup
AMDAL.
Pada Tabel 3.1 berikut disajikan matrik rencana pemantauan lingkungan hidup untuk
kegiatan dan memantau komponen lingkungan fisik-kimia, sosekbud dan kesehatan
masyarakat pada tahap pra konstruksi, tahap konstruksi maupun tahap operasional.
2. Peningkatan Tingkat pendapatan tenaga Mobilisasi perekrutan Pemantauan akan dilakukan Lokasi kantor Waktu
Pendapatan kerja lokal yang direkrut tenaga kerja dengan cara wawancara dan lapangan kontraktor akan dil
selama tahap konstruksi observasi : Desa Margasari saat
sebelum dan setelah terlibat Untuk mengetahui dan perekrut
Desa Sri Minosari
dalam kegiatan konstruksi memantau tingkat kerja
Desa Sukorahayu sebelum
Meningkatnya kesejahteraan pendapatan tenaga kerja
tenaga kerja lokal dari lokal yang direkrut dalam fisik) s
upah/pendapatan yang pekerjaan konstruksi. pekerjaa
dihasilkan dari proyek. Untuk mengetahui tingkat berjalan
kesejahteraan penduduk
lokal setelah terlibat dalam Frekuen
kegiatan tahap konstruksi pemanta
dilakuka
sekali
3. Keresahan sosial Adanya persaingan untuk Mobilisasi perekrutan Pemantauan akan dilakukan Lokasi kantor Waktu
memperbutkan peluang tenaga kerja dengan cara wawancara dan lapangan kontraktor akan dil
kerja dan usaha observasi : Desa Margasari saat
Adanya kecemburuan sosial Untuk mengetahui dan perekrut
Desa Sri Minosari
penduduk lokal akibat memantau jumlah / frekuensi kerja
Desa Sukorahayu sebelum
adanya tenaga kerja penduduk lokal yang direkrut
pendatang dalam pekerjaan konstruksi. fisik) s
Pemantauan ada tidaknya pekerjaa
persaingan untuk berjalan
memperebutkan peluang
kerja dan usaha dalam Frekuen
pekerjaan tahap konstruksi pemanta
Pemantauan ada tidaknya dilakuka
kecemburuan sosial sekali
penduduk lokal akibat
adanya tenaga kerja
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
4. Penurunan kualitas Kualitas udara ambien Mobilisasi alat dan Pemantauan kualitas udara Lokasi pemantauan Periode
udara ambien memenuhi baku mutu bahan ambien : kualitas udara ambien dilakuka
berdasarkan Peraturan Melakukan sampling kualitas Lokasi permukiman kegiatan
Pemerintah Republik udara ambien untuik pada Desa alat dan
Indonesia Nomor 41 tahun parameter debu di lokasi Sukorahayu, Kec. frekuens
1999 tentang Pengendalian studi kemudian dianalisis di Labuhan Maringgai pemanta
Pencemaran Udara. sekali s
laboratorium dan hasilnya Lokasi permukiman
Tidak terjadi gangguan dibandingkan dengan baku konstruk
pada Desa
penyakit (ISPA) sebagai mutu kualitas udara ambien musim k
Margasari, Kec.
akibat proyek menurut PP RI No. 41 Tahun Labuhan Maringgai
1999.
Lokasi permukiman
Analisis untuk parameter di area TPI
debu menggunakan metode
Lokasi permukiman
gravimetri.
pada Desa Sri
Penentuan titik sampling Minosari, Kec.
ditentukan berdasarkan Labuhan Maringgai
pertimbangan arah angin
dominan, lokasi rencana
kegiatan, dan permukiman
sekitar yang terkena dampak
dan disesuaikan hasil
pengujian rona lingkungan
awal.
Selain itu pemantauan
lingkungan akan dilakukan
Lokasi pemantauan
guna memantau pelaksanaan
implementasi
pengelolaan yang telah
pengelolaan
dilakukan/diimplementasikan di
lingkungan
lapangan meliputi :
Pemantauan pelaksanaan
penyiraman Jl. Labuhan
Maringgai tapak proyek di Jl Labuhan
lokasi studi yang digunakan Maringgai tapak
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
5. Peningkatan Intensitas kebisingan Mobilisasi alat dan Pemantauan intensitas Lokasi pemantauan Periode
intensitas kebisingan memenuhi baku mutu bahan kebisingan akan dilakukan intensitas bising dilakuka
berdasarkan Keputusan dengan melakukan Lokasi permukiman kegiatan
Menteri Negara Lingkungan pengukuran intensitas pada Desa alat dan
Hidup Republik Indonesia kebisingan dengan Sukorahayu, Kec. frekuens
Nomor 48 Tahun 1996 menggunakan alat sound level Labuhan Maringgai pemanta
tentang Baku Tingkat meter dan hasilnya sekali s
Lokasi permukiman
Kebisingan. dibandingkan dengan baku konstruk
pada Desa
Tidak terjadi gangguan tingkat kebisingan menurut
Margasari, Kec.
penyakit /terganggunya Keputusan Menteri Negara
Labuhan Maringgai
sistim pendengaran dan Lingkungan Hidup Nomor Kep-
48/MENLH/11/1996 serta Lokasi permukiman
kenyamanan akibat di area TPI
pelaksanaan mobilisasi alat kondisi rona lingkungan awal
dan bahan angkutan Lokasi permukiman
tanah/lumpur hasil Selain itu pemantauan pada Desa Sri
pengerukan sungai lingkungan akan dilakukan Minosari, Kec.
guna memantau pelaksanaan Labuhan Maringgai
pengelolaan yang telah
dilakukan/diimplementasikan di Pemantauan juga akan
lapangan untuk kegiatan : dilakukan pada lokasi
mobilisasi alat dan bahan, pelaksanaan
angkutan tanah/lumpur hasil pengelolaan guna
pengerukan. mengetahui
implementasinya
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
7. Kerusakan jalan Tidak terjadinya kerusakan Mobilisasi alat dan Pemantauan jumlah Lokasi bengkel alat Periode
jalan selama kegiatan bahan kendaraan dan tonase berat di tapak proyek dilakuka
mobilisasi alat dan bahan angkutan selama pekerjaan Lokasi ruas jalan kegiatan
berlangsung mobilisasi alat bahan Labuhan Maringgai alat dan
Pemantauan pelaksanaan tapak proyek di lokasi pemanta
mobilisasi alat dan bahan, studi yang digunakan dilakuka
apakah telah disesuaikan untuk rute angkutan sekali s
dengan kelas jalan setempat. mobilisasi alat bahan konstruk
Pemantauan ada tidaknya
kerusakan jalan yang dilalui
sebagai akibat pelaksanaan
mobilisasi alat dan bahan,
8. Timbulan tanah dan Tidak terjadinya Normalisasi Way Penet Pemantauan lokasi Lokasi timbunan Pemanta
lumpur pendangkalan pada Way dan Normalisasi Muara penimbunan sementara tanah/lumpur lingkung
Penet dan Muara Way Penet Way Penet tanah/lumpur hasil sementara sebelum akan
Tidak terjadinya pengerukan sungai selama diangkut ke lokasi selama
penyumbatan aliran pada pekerjaan normalisasi sungai penimbunan akhir kegiatan
Muara Way Penet akibat Pemantauan apakah Lokasi penimbunan Way
erosi dari hulu yang penimbunan sementara akhir yang terpilih Muara
menyebabkan pendangkalan tanah pada area antara sebagai disposal dengan
pemanta
Terkelolanya timbulan sungai dan jalan inspeksi area lumpur/tanah
sebelum diangkut ke lokasi hasil pengerukan sekali s
tanah/lumpur hasil
disposal area selama ini sungai konstruk
pengerukan sungai selama
pekerjaan normalisasi sungai mengganggu aktivitas
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
9. Bangkitan lalulintas Kelancaran pada ruas jalan Normalisasi Way Penet Pemantauan akan dilakukan Pemantauan trafic Waktu
Labuhan Maringgai / tidak dan Normalisasi Muara dengan cara survey lalu counting : Jl Labuhan akan
terjadi hambatan Way Penet lintas (Traffic Counting /laju Maringgai tapak selama
Ada tidaknya pelaksana kendaraan) untuk proyek. angkuta
pengatur kendaraan masuk- menentukan beberapa pengeru
keluar proyek. parameter lalu lintas seperti Pemantauan rambu normalis
kapasitas kendaraan, Penet
Kontraktor melaksanakan lalulintas :
volume, rasio V/C dan normalis
prosedur pekerjaan tanah Jl Labuhan
sebagainya selama Way Pen
dengan baik dan benar Maringgai tapak
pekerjaan mobilisasi alat-
Tidak ada komplain dari bahan dan pekerjaan tanah
proyek
Frekeue
masyarakat berlangsung dibandingkan Lokasi penempatan
pemanta
dengan kondisi sebelum ada rambu lalulintas
bangkita
proyek (rona lingkungan awal Lokasi bongkar akan d
sebagai data dasar) muat barang di bulan s
Pemantauan survey lalu tapak proyek tahap ko
lintas (Traffic Counting /laju Lokasi area sekitar
kendaraan) pada waktu jam normalisasi Way
sibuk (peak hour) pada jam Penet
06.00 s/d 08.00, jam 11.00 Lokasi area sekitar
s/d 13.00, jam 16.00 s/d normalisasi Muara
18.00 WIB Way Penet
Selain itu pemantauan
lingkungan akan dilakukan
guna memantau pelaksanaan
pengelolaan yang telah
dilakukan/diimplementasikan di
lapangan meliputi :
Pemantauan ada tidaknya
rambu lalulintas pada area
gerbang masuk untuk
mobilisasi alat-bahan dan
pekerjaan tanah
Pemantauan ada tidaknya
pemasangan rambu hati-hati
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
10. Penurunan kualitas Kualitas udara ambien Normalisasi Way Penet Pemantauan kualitas udara Lokasi pemantauan Periode
udara ambien memenuhi baku mutu dan Normalisasi Muara ambien : kualitas udara ambien dilakuka
berdasarkan Peraturan Way Penet Melakukan sampling kualitas Lokasi permukiman kegiatan
Pemerintah Republik udara ambien untuik pada Desa Way Pen
Indonesia Nomor 41 tahun parameter debu di lokasi Sukorahayu, Kec. normalis
1999 tentang Pengendalian studi kemudian dianalisis di Labuhan Maringgai Way
Pencemaran Udara. laboratorium dan hasilnya Lokasi permukiman frekuens
Tidak terjadi gangguan dibandingkan dengan baku pada Desa pemanta
penyakit (ISPA) sebagai mutu kualitas udara ambien Margasari, Kec. sekali s
akibat proyek menurut PP RI No. 41 Tahun Labuhan Maringgai konstruk
1999. musim k
Lokasi permukiman
Analisis untuk parameter di area TPI
debu menggunakan metode
Lokasi permukiman
gravimetri.
pada Desa Sri
Penentuan titik sampling Minosari, Kec.
ditentukan berdasarkan Labuhan Maringgai
pertimbangan arah angin
dominan, lokasi rencana
kegiatan, dan permukiman
sekitar yang terkena dampak
dan disesuaikan hasil
pengujian rona lingkungan
awal.
Selain itu pemantauan
lingkungan akan dilakukan
Lokasi pemantauan
guna memantau pelaksanaan
implementasi
pengelolaan yang telah
pengelolaan
dilakukan/diimplementasikan di
lingkungan
lapangan meliputi :
Jl Labuhan
Pemantauan pelaksanaan
Maringgai tapak
penyiraman Jl. Labuhan
proyek
Maringgai tapak proyek di
lokasi studi yang digunakan
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
11. Peningkatan Intensitas kebisingan Normalisasi Way Penet Pemantauan intensitas Lokasi pemantauan Periode
intensitas kebisingan memenuhi baku mutu dan normalisasi muara kebisingan akan dilakukan intensitas bising dilakuka
berdasarkan Keputusan Way Penet dengan melakukan Lokasi permukiman kegiatan
Menteri Negara Lingkungan pengukuran intensitas pada Desa Way Pen
Hidup Republik Indonesia kebisingan dengan Sukorahayu, Kec. normalis
Nomor 48 Tahun 1996 menggunakan alat sound level Labuhan Maringgai Way
tentang Baku Tingkat meter dan hasilnya frekuens
Lokasi permukiman
Kebisingan. dibandingkan dengan baku pemanta
pada Desa
Tidak terjadi gangguan tingkat kebisingan menurut sekali s
Margasari, Kec.
penyakit /terganggunya Keputusan Menteri Negara konstruk
Labuhan Maringgai
sistim pendengaran dan Lingkungan Hidup Nomor Kep-
48/MENLH/11/1996 serta Lokasi permukiman
kenyamanan akibat di area TPI
pelaksanaan mobilisasi alat kondisi rona lingkungan awal
dan bahan angkutan Lokasi permukiman
tanah/lumpur hasil Selain itu pemantauan pada Desa Sri
pengerukan sungai lingkungan akan dilakukan Minosari, Kec.
guna memantau pelaksanaan Labuhan Maringgai
pengelolaan yang telah
dilakukan/diimplementasikan di Pemantauan juga akan
lapangan untuk kegiatan : dilakukan pada lokasi
mobilisasi alat dan bahan, pelaksanaan
angkutan tanah/lumpur hasil pengelolaan guna
pengerukan. mengetahui
implementasinya
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
13 Penurunan kualitas Tidak terjadi penurunan Normalisasi Way Penet Pemantauan akan dilakukan Way Penet Pemanta
air sungai kualitas air Way Penet dan dan normalisasi muara dengan cara pengambilan Muara Way Penet lingkung
Muara Way Penet yang Way Penet contoh sampel kualitas air dilakuka
mengganggu organisme sungai sebanyak 2 liter pada kegiatan
perairan lokasi area kegiatan Wayi
selanjutnya disimpan pada normalis
Baku mutu kualitas air laut ice box. Way P
berdasarkan Keputusan Contoh sampel kualilas air diawali
Menteri Lingkungan Hidup sungai selanjutnya diperiksa pengeru
Nomor 51 tahun 2004 tentang di laboratorium terakreditasi perairan
Baku Mutu Air Laut pada KAN untuk parameter TSS frekuens
lampiran I (dengan dan hasilnya dibandingkan pemanta
pertimbangan bahwa Way dengan baku mutu yang sekali
Penet dan Muara Way Penet berlaku berdasarkan dilaksan
dipengaruhi pasang surut, Keputusan Menteri pekerjaa
sehingga baku mutu merujuk Lingkungan Hidup Nomor 51
baku mutu kualitas air laut) tahun 2004 tentang Baku
dengan konsentrasi parameter Mutu Air Laut pada lampiran I
TSS = 80 mg/l. (pelabuhan).
14 Penurunan kualitas Tidak terjadi penurunan Konstruksi jetty Pemantauan akan dilakukan Lokasi pengerukan di Pemanta
air laut kualitas air laut di area dengan cara pengambilan area rencana jetty dilakuka
konstruksi jetty contoh sampel kualitas air (awal dan ujung) kegiatan
Baku mutu kualitas air laut laut sebanyak 2 liter pada jetty y
berdasarkan Keputusan lokasi perairan pada area dengan
Menteri Lingkungan Hidup rencana kegiatan dasar pe
Nomor 51 tahun 2004 pembangunan jetty Frekuen
tentang Baku Mutu Air Laut selanjutnya disimpan pada pemanta
pada lampiran I dengan ice box. sekali
dilaksan
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
15. Gangguan pada biota Tidak terjadi penurunan Konstruksi jetty Pengumpulan data jenis dan Lokasi pengerukan di Pemanta
air laut kualitas air laut yang kelimpahan plankton area rencana jetty dilakuka
mengganggu organisme dilakukan dengan mengambil (awal dan ujung) kegiatan
perairan (plankton, benthos contoh plankton, yaitu Way
dan nekton) dengan cara menyaring air normalis
Indeks diversitas plankton selokan sebanyak 30 liter Way P
dan benthos berdasarkan dengan plankton net no. 25 diawali
kriteria Shannon and Wiener yang kemudian pengeru
dikonsentrasikan menjadi 25 perairan
ml selanjutnya ditambahkan frekuens
pengawet formalin menjadi pemanta
4% sebanyak 4 tetes. sekali
Adapun untuk memantau pelaksan
jenis dan kelimpahan kegiatan
benthos dilakukan dengan
cara mengambil contoh
substrat dasar perairan
selokan (lumpur/pasir)
dengan menggunakan surber
net.
Contoh plankton dan benthos
kemudian di periksa di
laboratorium dengan
menggunakan mikroskop
dan stereo mikroskop, selain
itu akan dilakukan pula
pengumpulan data jenis
nekton yang diamati ialah
jenis ikan pada lokasi kolam
pemancingan ikan yang
sumber airnya berasal dari
aliran air selokan di bagian
barat lokasi kegiatan.
16. Timbulan lumpur hasil Terkelolanya timbulan Konstruksi jetty Pemantauan lokasi Lokasi timbunan Pemanta
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
Tahap Operasi
1. Persepsi masyarakat Tidak terjadi abrasi pada Operasional dan Pemantauan persepsi Pesisir pantai pada Waktu
lahan milik penduduk pemeliharaan penduduk di lokasi studi guna lokasi Desa ganggua
setempat pengaman pantai mengetahui Margasari yang telah kenyama
Tidak terjadi kerusakan pendapat/persepsi setelah terdapat pengaman dilakukan
lahan tambak dan mangrove dilakukan konstruksi pantai dari abrasi tahap ko
akibat ombak laut pengaman pantai dengan Pesisir pantai pada
sebelumnya, khususnya
Adanya persepsi positif Desa Sri Minosari Frekeuen
pada penduduk yang berada yang telah terdapat pemanta
penduduk terhadap
pada area pesisir pantai yang pengaman pantai dilakukan
kegiatan
memiliki lahan tambak dan dari abrasi sekali s
sebelumnya terabrasi. operasi
Pemantauan juga akan
dilakukan untuk mengetahui
harapan/masukan penduduk
setelah terdapatnya
bangunan pengaman pantai
dari abrasi
2. Timbulan limbah B3 Volume limbah kategori B3 Operasional base Mengumpulkan informasi Lokasi penampung Waktu
yang terkumpul setiap saat camp data timbulan limbah B3, limbah B3 (drum timbulan
dan frekuensi pembuangan. frekuensi pembuangan tertutup) dari akan
PP no 18 tahun 1999 tentang limbah B3 dan data manifest pelaksanaan selama
pengelolaan Limbah B3. dari pihak ketiga untuk pekerjaan (oli bekas, tahap ko
pengelolaan limbah kategori kain majun Frekuen
Permen LH no 18 tahun 2009
B3 terkontaminasi oli pemanta
tentang perizinan Limbah
Mengumpulkan informasi bekas dari kegiatan limbah
B3.
tentang upaya pengelolaan bengkel alat berat) dilakuka
yang telah dilaksanakan guna sekali s
mengelola limbah B3 konstruk
menyangkut kapasitas
tampung limbah B3 dan
upaya untuk meminimalkan
dampak ke lingkungan
sekitar.
Tahap Operasi
1. Penurunan abrasi Tidak terjadi abrasi pada Operasional dan Pemantauan parameter abrasi Pesisir pantai pada Waktu
lahan milik penduduk pemeliharaan akan dilakukan melalui lokasi Desa ganggua
setempat pengaman pantai pengamatan dan pengukuran Margasari yang telah kenyama
Tidak terjadi kerusakan garis pantai dari titik yang dapat terdapat pengaman dilakukan
lahan tambak dan mangrove dijadikan sebagai titik tetap pantai dari abrasi tahap ko
akibat ombak laut Pesisir pantai pada
Adanya persepsi positif Cara mengetahui terjadinya Desa Sri Minosari Frekeuen
penduduk terhadap abrasi pantai akan dilakukan yang telah terdapat pemanta
kegiatan dengan mengetahui ada pengaman pantai dilakukan
tidaknya kemunduran garis dari abrasi sekali s
pantai yang mengarah ke operasi
dtahui aratan akibat hilangnya
sebagian lahan pantai akibat
gerusan gelombang laut.
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
2. Kerusakan jalan Tidak terjadinya kerusakan Operasional, Pemantauan jumlah Lokasi ruas jalan Periode
jalan selama kegiatan pemeliharaan dan jalan kendaraan dan tonase Labuhan Maringgai dilakuka
operasional, pemeliharaan dan inspeksi Way Penet angkutan disesuaikan tapak proyek di lokasi kegiatan
jalan inspeksi Way Penet dengan kelas jalan setempat. studi yang digunakan Frekeue
Pemantauan ada tidaknya untuk jalan inspeksi pemanta
kerusakan jalan Way Penet. dilakuka
sekali s
konstruk
3. Penurunan abrasi Tidak terjadi abrasi pada Operasional dan Pemantauan parameter abrasi Pesisir pantai pada Waktu
lahan milik penduduk pemeliharaan akan dilakukan melalui lokasi Desa penuruna
setempat rehabilitasi tanggul TPI pengamatan dan pengukuran Margasari yang telah akan
Tidak terjadi kerusakan garis pantai dari titik yang dapat terdapat pengaman selama
lahan tambak dan mangrove dijadikan sebagai titik tetap pantai dari abrasi operasi.
akibat ombak laut Pesisir pantai pada
Cara mengetahui terjadinya Desa Sri Minosari Frekeuen
abrasi pantai akan dilakukan yang telah terdapat pemanta
dengan mengetahui ada pengaman pantai dilakukan
tidaknya kemunduran garis dari abrasi sekali s
pantai yang mengarah ke operasi
dtahui aratan akibat hilangnya
sebagian lahan pantai akibat
gerusan gelombang laut.
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
RENCANA PENGELOLAAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL RPL)
BAB IV
JUMLAH DAN JENIS IZIN PPLH YANG DIBUTUHKAN
Studi AMDAL Pada laporan ANDAL telah diuraikan telaahan prakiraan dampak penting
dan evaluasi dampak penting bermaksud membangun melaksanakan rencana kegiatan
yang berlokasi di Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, meliputi;
Rehabilitasi tanggul eksisting TPI bagian kiri 261 m - bagian kanan 326 m di Desa
Margasari, Kec. Labuhan Maringgai
Normalisasi Way Panet dan normalisasi muara Way Panet di Kecamatan Labuhan
Maringgai
Pembangunan jetty muara Way Panet 2 x 375 m, di Desa Margahayu, Kec. Labuhan
Maringgai