100% menganggap dokumen ini bermanfaat (6 suara)
1K tayangan6 halaman

Analisis Akar Masalah Kesalahan Obat

Dokumen tersebut merangkum hasil analisis akar masalah atas kesalahan pemberian obat di sebuah puskesmas. Beberapa faktor yang menjadi penyebab antara lain nama pasien yang tidak lengkap, obat tidak disiapkan oleh petugas farmasi, dan petugas yang menyerahkan obat tidak berkompeten. Rencana perbaikan meliputi pembuatan standar operasi prosedur identifikasi pasien, pembagian tugas petugas sesuai kompetensi,

Diunggah oleh

chusna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (6 suara)
1K tayangan6 halaman

Analisis Akar Masalah Kesalahan Obat

Dokumen tersebut merangkum hasil analisis akar masalah atas kesalahan pemberian obat di sebuah puskesmas. Beberapa faktor yang menjadi penyebab antara lain nama pasien yang tidak lengkap, obat tidak disiapkan oleh petugas farmasi, dan petugas yang menyerahkan obat tidak berkompeten. Rencana perbaikan meliputi pembuatan standar operasi prosedur identifikasi pasien, pembagian tugas petugas sesuai kompetensi,

Diunggah oleh

chusna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ROOT CAUSE ANALYSIS

Analisis terhadap KTD : Kesalahan pemberian obat

Tim RCA:
Ketua :dr. Andri
Anggota :
1. Dr. Slamet
2. Petugas Loket
3. Petugas Apotik
4. CS : Sulastri
5. CS : Retno

Diskripsi singkat kejadian:


Kesalahan pemberian obat 4 kali dalam 3 bulan

Faktor yang menjadi pencetus (trigger):


1. Nama yang ditulis tidak lengkap oleh petugas loket
2. Penyiapan dan penyerahan obat tidak dilakukan oleh petugas apotik
3. yang menyerahkan obat kepada pasien bukan orang yang berkompeten
dibidangnya (CS)
4. Saat penyerahan obat petugas tidak mengindentifikasi no. antrian dan nama
lengkap pasien
5. Pasiennya yang banyak pada hari tersebut (235 orang)

Kronologi kejadian:
Pada hari kamis tg 19 mei 2016 sekitar pukul 12.15 ada 4 pasien dengan nama
yang sama, nomor antrian ani sutrisna (65th) 211 dan ani saputra (70 th) 205.
Kemudian anaknya ibu ani sutrisna berulang kali menanyakan kapan obat untuk
ibunya diberikan, dan akhirnya petugas memberikan obat dengan nomor antrian
205 bukannya 211. Sehingga terjadilah kesalahan pemberian obat kepada
pasien.

Faktor-faktor yang terkait dengan kejadian:


a. Faktor-faktor yang terkait langsung:
1). Nama pasien yang tidak ditulis lengkap
2). Pemberian obat tidak dilakukan oleh petugas apotik

b. Faktor-faktor yang menunjang terjadinya kejadian:


1) Banyaknya pasien pada hari tersebut dan kurangnya petugas
2) Keluarga pasien mendesak petugas untuk segera menyerahkan obat
3) Ada anak kecil terpeleset di kamar mandi karena lantai licin
menyebabkan terbaginya perhatian petugas
4) Puskesmas dalam persiapan akreditasi sehingga belum semua
kebijakan, pedoman, dan prosedur pelayanan disusun dan disahkan
Analisis akar masalah (gambarkan diagram tulang ikan/pohon masalah)

Memberikan obat salah pasien


Mengambil

Nama pasien mirip, Orang yang Salah


petugas yang menyerahkan Pencatatan
memberikan obat obat kepada pemberian
tidak melakukan pasien bukan obat pada
pengecekan orang yang RM
identitas berkompeten
dibidangnya
(CS)

belum semua
Petugas
kebijakan, pedoman,
Farmasi
dan prosedur
Terlalu sibuk
pelayanan disusun
karena banyak
dan disahkan
pasien

Puskesmas dalam
persiapan akreditasi
Rencana solusi:
1. Nama pasien di tulis dengan lengkap
2. Melakukan pengecekan identitas sebelum memberikan obat
3. Melengkapi standart akreditasi 8.2

Implementasi dan Tindak lanjut:


1. Membuat SOP identifikasi pasien
2. Membuat SK Penggung Jawab Pelayanan obat
3. Membuat SK Persyarakat petugas yang berhak memberi resep
4. Membuat Pedoman
5. Membuat KAK program Keselamatan
6. Petugas yang melakukan sesuai dengan kompetensinya

Pelaporan: Terlampir
FMEA

Unit kerja:

Tim FMEA:

Peran masing-masing ketua dan anggota

Jadual kegiatan tim:

Alur proses yang sekarang:

Identifikasi Failure modes:


Contoh: pelayanan obat di Puskesmas

No Tahapan kegiatan pada alur Failure modes


proses
1 Menerima resep Salah identitas
Resep tertukar
2 Membaca resep Resep tidak dapat dibaca
Salah membaca resep
Salah identitas
Salah menghitung umur
3 Telaah resep Salah menganalisis internaksi obat
Dst

4 Menyiapkan obat Salah mengambil obat

Matriks FMEA:

N Failure Penyeb Akibat O S D RPN Solusi Indikat


o modes ab (occu (sev (dete (OxSx or
rrenc erity ctabili D) untuk
e) ) ty) validas
i

Menetapkan cut off point dengan diagram Pareto:

Alur proses yang baru:


Pelaksanaan:

Monitoring, validasi (bisa dihitung ulang RPN setelah implementasi), evaluasi,


dan pelaporan

Common questions

Didukung oleh AI

Accreditation plays a crucial role in addressing the issues by ensuring that policies, guidelines, and operating procedures are developed and implemented. The drive towards accreditation prompts the health center to systematically establish standards and procedures that minimize errors, thereby improving overall patient safety and service quality .

Inadequate documentation contributes to medication errors by causing misidentification due to partial information, such as incomplete writing of patient names. This lack of detailed and accurate documentation can lead to confusion among the staff, especially under high-pressure conditions, amplifying the risk of administering medication to the wrong patient .

Environmental and process distractions, such as a busy patient day, patient families pressing for quick service, and unrelated events like an incident in the bathroom, divide staff attention, increasing the likelihood of errors. The proposed solutions include restructuring workflows to mitigate peak time pressures, enhancing staff assignment flexibility to handle unexpected distractions, and refining processes to compartmentalize responsibilities, ensuring focused attention on each task .

The primary factors identified as direct contributors to medication dispensing errors include incomplete patient name documentation by the registration desk staff and the dispensing tasks not being performed by qualified pharmacy personnel .

The document suggests standardizing procedures by creating SOPs for patient identification, designating responsible personnel for medication services, establishing qualification requirements for those authorized to prescribe medication, and developing safety program guidelines. These measures aim to ensure only competent personnel handle medication dispensing .

Inadequate staff training leads to medication errors by allowing unqualified personnel to handle complex processes for which they are not skilled, such as medication dispensing. Addressing this issue requires implementing structured training programs tailored to ensure all staff involved are competently trained and acquainted with all relevant SOPs, thereby reinforcing the importance of training in error mitigation strategies .

Key components of the implementation plan include creating and enforcing SOPs for patient identification and medication dispensing, setting up responsibilities for service monitoring, establishing indicators for validation, and applying tools like Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) to monitor the effectiveness of these changes and adjust them as needed based on performance metrics like the Risk Priority Number (RPN).

The misidentification occurred when medications were given to the wrong patient due to similar names. The registration desk staff wrote only partial names, leading to confusion between patients with similar names. Additionally, during a busy day, the staff failed to confirm the queue number and complete the patient's identity before dispensing the medication .

Systemic factors include the high patient load, inadequate staff numbers, and the lack of fully developed guidelines and procedures. These factors should be managed by increasing staff training, optimizing staff assignments to balance workload, and expediting the finalization of comprehensive service guidelines, especially during periods of high demand or organizational changes like accreditation preparations .

The team proposes several solutions, including writing the full names of patients, performing identity checks before dispensing medication, completing accreditation standards, and implementing several standard operating procedures (SOPs) related to patient identification and the delegation of medication dispensing responsibilities .

Anda mungkin juga menyukai