Tutorial SAP2000 untuk Bangunan 2 Lantai
Tutorial SAP2000 untuk Bangunan 2 Lantai
Soal
1. Buatlah perhitungan struktur beton bangunan 2 lantai dengan data sebagai berikut :
- Untuk variabel tiap mahasiswa sesuai nilai NIM terakhir sebagai berikut :
NIM Nilai
1 2,5
2 3,5
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 6,5
9 7,5
10 5,5
Untuk contoh pekerjaan ini memakai nilai NIM 345 sehingga variabel abcnya adalah
Ketinggian lantai /Stories Height (a) = 3. Ada 3 bay x dan 3 bay y
Lebar x / Bay x (b) = 4
Lebar y / Bay y (C) = 5
- Terdapat plat lantai setebal 12cm untuk lantai 2 dan lantai atap
- Beban hidup lantai sebesar 250 kg/m2
- Untuk tugas ini karena tinggi bangunan 2 lantai tidak melebihi 16 meter maka perhitungan angin tidak
dipakai
- Perhitungan gempa utk tugas ini tidak dipakai
- Terdapat 3 buah frame :
Balok, Kolom dan Sloof. Besar sloof dipakai 15x20.
- Pembebanan
Untuk nilai pembebanan riil dilapangan pakai SNI Pembebanan yang berlaku saat ini. Untuk tutorial ini
memakai variabel dibawah
Tulangan Begel. Berat jenis baja = 7850 kg/m3; fy = 240 MPa; Es = 200 000 Mpa; poisson ratio = 0,3.
Hapus data material yang lain sehingga Cuma ada 3 material yang ada.
Kenapa DEAD Nilainya 1. Karena berat mati bangunan akan dihitung sendiri oleh program SAP2000
Secara default program Sap 2000 otomatis akan menghitung berat sendiri struktur berdasarkan info
luas penampang elemen dan berat jenis material yang dipakai. Selanjutnya, beban akibat berat sendiri
dikelompokkan dalam static load case pertama yaitu DEAD. Jika nilai selfweight multiplier = 0, maka
perhitungan berat sendiri struktur tidak akan dilakukan oleh program. Dalam tutorial ini, diinginkan
programSAP 2000 menghitung berat sendiri struktur.
7. Klik menu Define > Load Case > Add New Load Case. Untuk mempermudah input kombinasi
pembebanan,sebaiknya beban-beban yang termasuk dalam beban mati (DL) digabung dalam satu load
case. Beban mati (DL) terdiri dari DEAD atau berat sendiri struktur, SIDL dan beban DINDING.
Pastikan cuma ada 5 variabel di Load Case, kalau ada variabel lain hapus.
Noted.
Untuk perhitungan riil dilapangan harus memakai perhitungan angin dan gempa. Untuk tutorial ini kita
kesampingkan dulu.
10. Menggambar Elemen Frame (Balok dan Kolom). Klik tombol Draw Frame/Cable Element atau
Pilih Section yang diinginkan > klik dua titik yang akan menjadi titik awal dan titik akhir
balok/kolom > klik kanan pada mouse untuk mengakhirinya.
Untuk pandangan 3D. Klik View 3D View. Bisa diset 3d atau potongan xy, xz atau yz
Lanjutkan penggambaran balok laintai 2 dan lantai atap. Dengan nilai Z = 3 dan 6
Untuk hasil 3D yang jelas. Klik View Set Display Option Centang Extrude View
Lakukan semua pada lantai 1 ( z = 3) dan lantai atap ( z = 6 ). Sehingga semua warna jadi merah.
13. Lakukan Pembebanan pada struktur. Untuk yang pertama lakukan pembebanan plat (LL). Pilih pelat
yang akan diberi beban > Assign > Area Loads > Pilih jenis beban pada Load Pattern Name, kemudian isi
nilai beban-nya. Option Add existing load akan menambahkan beban yang kita berikan pada beban
yang sudah ada atau sudah terlebih dahulu diberikan pada pelat. Option Replace existing load akan
mengganti beban yang sudah ada dengan beban yang kita berikan. Arah gravitasi merupakan arah Z
dalam koordinat global. Jika diperlukan, maka arah beban ini dapat diganti menurut arah tertentu
dalam koordinat global maupun koordinat lokal. Klik dulu semua plat baru lakukan pembebanan.
14. Pembebanan tembok (DINDING) pada sloof terluar (lantai 1) dan balok terluar (lantai 2).
Dengan nilai pembebanan 810 kg/m2 dengan beban merata pada sloof dan balok
Untuk beban dinding sloof
Klik View Set View 2D X-Y Plane dgn Z=0
Pilih semua sloof terluar sesuai gambar dan klik Assign Frame Load Distributed
15. Untuk beban mati tambahan plat (SIDL) sebesar 175 kg/m2
Pilihlah semua plat lantai Cuma di lantai 1 saja. Dengan cara masuk X-Y Plane dan z=3
Serta pilih semua platnya.
Jangan lupa option pilih yang add to existing load. Karena plat lantai telah ada beban (LL) sebelumnya.
16. Untuk dapat menghitung beban pondasi. Lakukan perletakan joint pada semua titik dibawah kolom.
Klik Assign Joint Restraint. Dan pilih restraint yang jepit. Karena pondasi berada didalam tanah.
Untuk hasil gaya Forces bisa dilihat hasil Joint, Frame atau Shell
Untuk gaya di Frames terdapat 6 macam gaya yang dapat dipilih yaitu :
Axial = P, gaya aksial
Shear 2-2 = V2, gaya geser pada bidang 1-2
Shear 3-3 = V3, gaya geser pada bidang 1-3
Torsion = T, momen torsi aksial atau momen yang berputar terhadap sumbu 1
Moment 2-2 = M2, momen yang berputar terhadap sumbu 2
Moment 3-3 = M3, momen yang berputar terhadap sumbu 3
Sehingga ketika akan melihat momen yang terjadi pada balok. Lihat sumbu momennya apakah 2
ataukah 3. Apabila melihat balok yang sejajar sumbu x, cek momen sumbu 2-2. Begitu seterusnya.
Apabila memakai SAP2000 versi yang lain sesuai. Sesuaikan variabel ACI yang berlaku menjadi sesuai
variabel diatas.
Noted.
ACI sekarang sampai 2014 dan SNI Beton kita sampai 2013.
22. Fungsi SAP2000 adalah membantu perhitungan gaya yang komplek untuk sebuah struktur bangunan.
Dimana beton adalah material yang mempunyai kekuatan tekan, sedangkan besi adalah material yang
mempunyai kekuatan tarik. Untuk tabel hubungan diameter tulangan dan luas tulangan lihat tabel
dibawah.
Diameter Tulangan (mm) Luas Tulangan (mm2)
8 50,24
10 78,5
12 113,04
14 153,86
16 200,96
19 226,865
21 346,185
Untuk melihat hasil penulangan lagi. Hilangkan centang label seperti cara diatas setelah itu klik Design
Concrete Frame Design Display Design Info.
Kita buat tabel hasil penulangan kolom dengan cara berulangkali seperti itu diatas dan masuk ke
potongan X dan Y masing-masing, sehingga didapat hasil semua penulangan kolom seperti tabel
dibawah.
Nomor Frame Hasil Penulangan (mm2) Nomor Frame Hasil Penulangan (mm2)
1 1225 11 1225
2 1309 12 1540
3 1225 22 1225
4 1225 23 1225
5 1225 24 1225
6 1225 25 1225
7 1225 26 1225
8 1309 27 1540
9 1225 13 1225
10 1540 15 1309
16 1225 28 1225
17 1225 29 1225
18 1225 30 1225
19 1225 31 1225
20 1225 32 1225
21 1540 33 1309
Bisa dilihat dari hasil semua penulangan kolom, penulangan terbesar ada di frame 10 dan 21 sebesar
1540 mm2.
Sehingga dipakai penulangan sebagai berikut :
8 D16 = 8 x 200,96 = 1607,68 mm2 > 1540 mm2 Jadi penulangan Aman
Kolom 35x35 dipakai tulangan D16 sebanyak 8 buah
Karena sloof langsung menumpu di tanah, maka tidak perlu dibedakan tulangan tumpuan dan lapangan.
Sehingga dapat dilihat tulangan terbesar pada frame 34, 36, 40 dan 42 dengan nilai tulangan atas 494
mm2 dan nilai tulangan bawah 226m2
25. Untuk penulangan balok kita harus melihat 2 lantai yaitu lantai 2 dan lantai atap. Sehingga kita cek
seperti tadi untuk X Y Plane untuk x = 3 dan x = 6
Dalam tutorial ini, penulangan balok untuk tumpuan dan lapangan dianggap sama sehingga penulangan
balok Cuma ada satu jenis penulangan saja. Untuk perhitungan riil dilapangan harus dibedakan
penulangan tumpuan dan lapangan.
Dari grafik diatas didapat penulangan maksimal terdapat pada frame 78 dan 79 dengan nilai penulangan
atas sebesar 847mm2 dan nilai penulangan bawah sebesar 573 mm2
Ukuran balok dan kolom bisa berbeda tiap lantai sesuai dengan asumsi awal, Penulangan juga bisa berbeda-
beda tiap lantai. Semuanya menyesuaikan kebutuhan pemilik proyek baik keamanan maupun biaya dari tiap
pekerjaan.
Kita semua engineer menjembatani antara keinginan pemilik proyek untuk membangun yang gedung aman
dan efisien baik dari segi biaya atau segi pembuatannya.
b. File word hasil perhitungan beton bertulang dgn judul sesuai nama mahasiswa
Contoh: Choirul [Link]
Contoh :
Nama : Choirul Asmawan
NIM : 2016.2345
Tugas ini memakai nilai NIM 345 sehingga variabel abcnya adalah
Ketinggian lantai /Stories Height (a) = 3. Ada 3 bay x dan 3 bay y
Lebar x / Bay x (b) = 4
Lebar y / Bay y (C) = 5
- Terdapat plat lantai setebal 12cm untuk lantai 2 dan lantai atap
- Beban hidup lantai sebesar 250 kg/m2
- Untuk tugas ini karena tinggi bangunan 2 lantai tidak melebihi 16 meter maka perhitungan angin tidak
dipakai
- Perhitungan gempa utk tugas ini tidak dipakai
- Terdapat 3 buah frame :
Balok, Kolom dan Sloof. Besar sloof dipakai 15x20.
- Pembebanan
Untuk nilai pembebanan riil dilapangan pakai SNI Pembebanan yang berlaku saat ini. Untuk tutorial
ini memakai variabel dibawah
Contoh :
Bisa dilihat dari hasil semua penulangan kolom, penulangan terbesar ada di frame 10 dan 21 sebesar
1540 mm2.
Sehingga dipakai penulangan sebagai berikut :
8 D16 = 8 x 200,96 = 1607,68 mm2 > 1540 mm2 Jadi penulangan Aman
Kolom 35x35 dipakai tulangan D16 sebanyak 8 buah
Karena sloof langsung menumpu di tanah, maka tidak perlu dibedakan tulangan tumpuan dan lapangan.
Sehingga dapat dilihat tulangan terbesar pada frame 34, 36, 40 dan 42 dengan nilai tulangan atas 494
mm2 dan nilai tulangan bawah 226m2
Dalam tutorial ini, penulangan balok untuk tumpuan dan lapangan dianggap sama sehingga penulangan
balok Cuma ada satu jenis penulangan saja. Untuk perhitungan riil dilapangan harus dibedakan
penulangan tumpuan dan lapangan.
Dari grafik diatas didapat penulangan maksimal terdapat pada frame 78 dan 79 dengan nilai penulangan
atas sebesar 847mm2 dan nilai penulangan bawah sebesar 573 mm2