0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
169 tayangan39 halaman

Tutorial SAP2000 untuk Bangunan 2 Lantai

Tutorial ini memberikan instruksi lengkap untuk melakukan perhitungan struktur bangunan dua lantai menggunakan program SAP2000. Langkah-langkahnya meliputi menentukan koordinat sistem, memasukkan data material, membuat properti balok dan kolom, mendefinisikan beban mati dan hidup, serta menggambar elemen struktur dan melakukan analisis beban.

Diunggah oleh

Agung Sahistya Hadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
169 tayangan39 halaman

Tutorial SAP2000 untuk Bangunan 2 Lantai

Tutorial ini memberikan instruksi lengkap untuk melakukan perhitungan struktur bangunan dua lantai menggunakan program SAP2000. Langkah-langkahnya meliputi menentukan koordinat sistem, memasukkan data material, membuat properti balok dan kolom, mendefinisikan beban mati dan hidup, serta menggambar elemen struktur dan melakukan analisis beban.

Diunggah oleh

Agung Sahistya Hadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUTORIAL TUGAS SAP2000

Soal

1. Buatlah perhitungan struktur beton bangunan 2 lantai dengan data sebagai berikut :
- Untuk variabel tiap mahasiswa sesuai nilai NIM terakhir sebagai berikut :

NIM Nilai
1 2,5
2 3,5
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 6,5
9 7,5
10 5,5
Untuk contoh pekerjaan ini memakai nilai NIM 345 sehingga variabel abcnya adalah
Ketinggian lantai /Stories Height (a) = 3. Ada 3 bay x dan 3 bay y
Lebar x / Bay x (b) = 4
Lebar y / Bay y (C) = 5
- Terdapat plat lantai setebal 12cm untuk lantai 2 dan lantai atap
- Beban hidup lantai sebesar 250 kg/m2
- Untuk tugas ini karena tinggi bangunan 2 lantai tidak melebihi 16 meter maka perhitungan angin tidak
dipakai
- Perhitungan gempa utk tugas ini tidak dipakai
- Terdapat 3 buah frame :
Balok, Kolom dan Sloof. Besar sloof dipakai 15x20.

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 1
Sedangkan besar Balok Kolom memakai Rumus sesuai SNI. Sehingga karena bcnya adalah 4 dan 5. Dipakai
nilai 5 karena lebih besar dari 4. Sehingga karena balok 2 tumpuan sederhana memakai rumus sehingga
Tebal balok = 31,25cm = 35cm untuk tingginya 50cm. Sehingga Balok 35x50
Sedangkan untuk kolom dipakai ukuran 35x35 sesuai tebal balok
Ukuran balok dan kolom berbeda setiap mahasiswa sesuai dengan nilai bc terbesar masing-masing.

- Data beton (concetre) sebagai berikut :


Kuat desak beton fc = 25Mpa atau K300
Modulus elastisitas beton, Ec = 4700 fc = 23500 Mpa
Poisson ratio beton, c = 0,2
Berat jenis beton, c = 2400 kg/m3
- Data tulangan (rebar) sebagai berikut :
Tulangan longitudinal, BJTD 40 (ulir) fy = 400 Mpa
Tulangan transversal/sengkang, BJTP 24 (polos) fys = 240 Mpa
Poisson ratio baja, s = 0,3
Berat jenis baja, s = 7850 kg/m3

- Pembebanan
Untuk nilai pembebanan riil dilapangan pakai SNI Pembebanan yang berlaku saat ini. Untuk tutorial ini
memakai variabel dibawah

Beban Mati (DL)


Beban mati sendiri (SW) dihitung secara otomatis oleh program SAP 2000
Beban mati tambahan (SIDL) terdiri dari ME, keramik, spesi semen untuk lantai 2 adalah SIDL = 175 kg/m2

Beban Tembok (DINDING)


Beban dinding dipisahkan karena pemodelan struktur bersifat open frame sehingga dinding dianggap
sebagai beban garis pada balok. Tembok tebal 15 cm dengan memakai tembok bata. Tembok mengelilingi
lantai 1 dan 2.
Karena nilai a / Ketinggian adalah 3 maka berat dinding adalah
= (1800 kg/m3 x tebal dinding m x tinggi dinding m) kg/m.
= (1800 kg/m3 x 0,15 x 3) kg/m.
= 810 kg/m
Beban hidup (LL)
Untuk lantai 2 dan atap, LL = 250 kg/m2

- Untuk tutorial ini memakai SAP2000 versi 14

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 2
TAHAPAN PEKERJAAN
1. Pilih New Model Blank. Pastikan satuan dibawah kanan windows adalah kgf,m,C

2. Masukkan koordinat sistem di Define Coordinat System/Grids Modify/Show System


Masukkan data sebagai berikut :

Karena nilai a / ketinggian bangunan adalah 3. Masukkan nilai kelipatan 3 di Z Grid


Karena nilai b / lebar x adalah 4. Masukkan nilai kelipatan 4 di X Grid
Karena nilai c / lebar y adalah 5. Masukkan nilai kelipatan 5 di Y Grid

3. Set data material. Klik Define Material Add New Material.


Masukkan data pertama untuk betonnya. Ubah dulu variabel ke N mm C. Berat jenis
beton = 2400 kg/m3; fc = 25 Mpa; Ec = 23500 Mpa; poisson ratio 0,2

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 3
Masukkan data tulangannya. Terdapat 2 buah tipe tulangan yaitu Tul Pokok dan Tul Begel.
Klik Add New Material lagi dan masukkan data sebagai berikut :
Tulangan Pokok. Berat jenis baja = 7850 kg/m3; fy = 400 MPa; Es = 200 000 Mpa; poisson ratio = 0,3.

Tulangan Begel. Berat jenis baja = 7850 kg/m3; fy = 240 MPa; Es = 200 000 Mpa; poisson ratio = 0,3.

Hapus data material yang lain sehingga Cuma ada 3 material yang ada.

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 4
4. Sekarang masukkan data sectionnya. Define Section Properties Frame Section Add New Property
Pilih Type concrete dan Rectangular. Masukkan data Balok B 35x50 dulu sebagai berikut :

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 5
Masukkan data Sloof 15x25 dulu sebagai berikut :

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 6
Masukkan data Kolom 35x35 dulu sebagai berikut :

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 7
5. Untuk Plat. Klik Define Section Properties Area Section Add New Section
Masukkan data plat sebagai berikut :

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 8
6. Klik Define Load Pattern

Kenapa DEAD Nilainya 1. Karena berat mati bangunan akan dihitung sendiri oleh program SAP2000
Secara default program Sap 2000 otomatis akan menghitung berat sendiri struktur berdasarkan info
luas penampang elemen dan berat jenis material yang dipakai. Selanjutnya, beban akibat berat sendiri
dikelompokkan dalam static load case pertama yaitu DEAD. Jika nilai selfweight multiplier = 0, maka
perhitungan berat sendiri struktur tidak akan dilakukan oleh program. Dalam tutorial ini, diinginkan
programSAP 2000 menghitung berat sendiri struktur.

7. Klik menu Define > Load Case > Add New Load Case. Untuk mempermudah input kombinasi
pembebanan,sebaiknya beban-beban yang termasuk dalam beban mati (DL) digabung dalam satu load
case. Beban mati (DL) terdiri dari DEAD atau berat sendiri struktur, SIDL dan beban DINDING.

Pastikan cuma ada 5 variabel di Load Case, kalau ada variabel lain hapus.

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 9
8. Untuk memperoleh beban ultimate dari beban-beban yang mungkin akan terjadi pada struktur, maka
dilakukan kombinasi beban terfaktor. Klik menu Define > Load Combinations > Add New Combo
Mengacu pada SNI 2847-2002, maka definisikan semua kombinasi pembebanan berikut :

Kombinasi Pembebanan Gravitasi


1.4 DL
1.2 DL + 1.6 LL

Noted.
Untuk perhitungan riil dilapangan harus memakai perhitungan angin dan gempa. Untuk tutorial ini kita
kesampingkan dulu.

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 10
9. Kombinasi beban diatas dapat dicari nilai envelope (maksimum/minimumnya) dengan cara mengubah
Load Combination Type menjadi Envelope, kemudian memasukkan semua kombinasi diatas dalam
kombinasi yang baru tersebut. Klik lagi Add New Combo dan masukkan semua COMB

10. Menggambar Elemen Frame (Balok dan Kolom). Klik tombol Draw Frame/Cable Element atau
Pilih Section yang diinginkan > klik dua titik yang akan menjadi titik awal dan titik akhir
balok/kolom > klik kanan pada mouse untuk mengakhirinya.

Pertama gambarlah semua kolomnya dahulu


Untuk mempermudah tampilan. Perlihatkan tampilan dalam 2 dimensi dengan cara
Klik View Set 2D View. Untuk Y Z Plane atau Potongan X. Nilai X dari 0,4,8,12

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 11
Untuk X Z Plane atau Potongan Y. Nilai X dari 0,5,10,15

Untuk pandangan 3D. Klik View 3D View. Bisa diset 3d atau potongan xy, xz atau yz

Ini hasil penggambaran Kolom

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 12
Lanjutkan penggambaran Sloof. Masuk ke 2D View dan nilai Z = 0

Lanjutkan penggambaran balok laintai 2 dan lantai atap. Dengan nilai Z = 3 dan 6

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 13
Hasil penggambaran akhir 3D

Untuk hasil 3D yang jelas. Klik View Set Display Option Centang Extrude View

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 14
11. Menggambar Plat Bangunan. Ubahlah view ke 2D, X-Y Plane dengan nilai Z = 3 dan 6
Klik Draw Rectangular Elemen. Klik pojok kiri atas adan kanan bawah plat pada tiap balok.

Lakukan semua pada lantai 1 ( z = 3) dan lantai atap ( z = 6 ). Sehingga semua warna jadi merah.

Hasil tampak 3D, extrude view

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 15
12. Untuk menghaluskan dan membuat model lebih detail atau lebih kecil dapat dilakukan dengan cara
membagi elemen menjadi elemen-elemen lain yang lebih kecil (meshing). Klik pelat yang lantai atau
atap yang akan dipartisi > Assign > Area > Automatic area mesh.
Untuk mudah memilih semua plat. Klik Select Select - Properties Area Section. Pilih Plat dan Ok
Maka semua plat akan terpilih. Baru lakukan perintah Mesh diatas

13. Lakukan Pembebanan pada struktur. Untuk yang pertama lakukan pembebanan plat (LL). Pilih pelat
yang akan diberi beban > Assign > Area Loads > Pilih jenis beban pada Load Pattern Name, kemudian isi
nilai beban-nya. Option Add existing load akan menambahkan beban yang kita berikan pada beban
yang sudah ada atau sudah terlebih dahulu diberikan pada pelat. Option Replace existing load akan
mengganti beban yang sudah ada dengan beban yang kita berikan. Arah gravitasi merupakan arah Z
dalam koordinat global. Jika diperlukan, maka arah beban ini dapat diganti menurut arah tertentu
dalam koordinat global maupun koordinat lokal. Klik dulu semua plat baru lakukan pembebanan.

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 16
Untuk melakukan pengcekan apakah beban sudah terdefinisi pada pelat maka klik kanan mouse pada
plat yang ditinjau.

14. Pembebanan tembok (DINDING) pada sloof terluar (lantai 1) dan balok terluar (lantai 2).
Dengan nilai pembebanan 810 kg/m2 dengan beban merata pada sloof dan balok
Untuk beban dinding sloof
Klik View Set View 2D X-Y Plane dgn Z=0
Pilih semua sloof terluar sesuai gambar dan klik Assign Frame Load Distributed

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 17
Lakukan hal yang sama pada balok lantai 1 untuk balok terluar.
Klik View Set View 2D X-Y Plane dgn Z=3

15. Untuk beban mati tambahan plat (SIDL) sebesar 175 kg/m2
Pilihlah semua plat lantai Cuma di lantai 1 saja. Dengan cara masuk X-Y Plane dan z=3
Serta pilih semua platnya.

Jangan lupa option pilih yang add to existing load. Karena plat lantai telah ada beban (LL) sebelumnya.

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 18
Cek pembebanan lantai 2 dengan klik kanan pada salah satu plat.

16. Untuk dapat menghitung beban pondasi. Lakukan perletakan joint pada semua titik dibawah kolom.
Klik Assign Joint Restraint. Dan pilih restraint yang jepit. Karena pondasi berada didalam tanah.

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 19
17. Lakukan Analisis Struktur. Klik Analysis Set Analysis Option. Pilih Space Frame dan Ok

Lakukan Run Analysis atau F5. Tunggu proses analisis.

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 20
18. Untuk melihat hasil analisis. Bisa dilihat dengan cara klik Display Deformed Shaped atau Forces

Untuk hasil gaya Forces bisa dilihat hasil Joint, Frame atau Shell

Untuk gaya di Frames terdapat 6 macam gaya yang dapat dipilih yaitu :
Axial = P, gaya aksial
Shear 2-2 = V2, gaya geser pada bidang 1-2
Shear 3-3 = V3, gaya geser pada bidang 1-3
Torsion = T, momen torsi aksial atau momen yang berputar terhadap sumbu 1
Moment 2-2 = M2, momen yang berputar terhadap sumbu 2
Moment 3-3 = M3, momen yang berputar terhadap sumbu 3

Sumbu 1, 2 dan 3 adalah sumbu lokal dimana


Sumbu 1 = z, sumbu 2 = x dan sumbu 3 = y

Sehingga ketika akan melihat momen yang terjadi pada balok. Lihat sumbu momennya apakah 2
ataukah 3. Apabila melihat balok yang sejajar sumbu x, cek momen sumbu 2-2. Begitu seterusnya.

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 21
Untuk gaya di plat (shell) terdapat 14 macam gaya yang bisa dilihat.

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 22
PERHITUNGAN BETON SAP2000
19. Setelah dianalisis barulah bisa dihitung perhitungan betonnya.
Masuk ke Design > Concrete Frame Design > View / Revise Preference. Sesuaikan peraturan beton yang
berlaku di SAP2000 sesuai dengan SNI Beton kita. Untuk tutorial ini kita ubah ACI (American Concrete
Institute) sesuai dengan standart beton kita. Kita ubah ACI 318-99 menjadi :

Apabila memakai SAP2000 versi yang lain sesuai. Sesuaikan variabel ACI yang berlaku menjadi sesuai
variabel diatas.

Noted.
ACI sekarang sampai 2014 dan SNI Beton kita sampai 2013.

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 23
20. Klik Design Concrete Frame Design Select Desgin Combos. Masukkan nilai envelope sebagai beban
yang akan dicek sebagai dasar perhitungan beton. Pilih Envelope dan pencet Add.

21. Lalu pencet Start Design


Gantilah satuan ke N mm C, menyesuaikan satuan diameter tulangan.
Lihat hasil desain baik potongan X, Y atau Z. Apakah ada yang mengalami O/S
O/S berarti Over Strength dimana balok atau kolom tidak kuat menerima momen.
Selain itu lihat apakah warnanya dalam gambar hijau semua.

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 24
Noted.
Warna bukan acuan dasar karena setingan dasar warna SAP2000 bisa diubah atau beda versi SAP2000
juga beda dasar warna.

Apabila masih O/S.


a. Cek konstruksi apakah sudah benar penggambarannya. Semua struktur sudah benar sambungannya
b. Cek pembebanan apakah sudah benar nilai dan satuannya
c. Apabila sudah benar semua, perbesar ukuran balok dan atau kolom
d. Apabila pembesaran balok dan atau kolom masih belum bisa. Rombak total bangunan dan beri
kolom pada balok yang panjang bentangnya.
Sesuai dengan Standart SNI, harusnya L/16 sudah lebih dari cukup untuk kekuatan penulangannya.
Apabila masih OS berarti gambar struktur atau pembebanan salah.

22. Fungsi SAP2000 adalah membantu perhitungan gaya yang komplek untuk sebuah struktur bangunan.
Dimana beton adalah material yang mempunyai kekuatan tekan, sedangkan besi adalah material yang
mempunyai kekuatan tarik. Untuk tabel hubungan diameter tulangan dan luas tulangan lihat tabel
dibawah.
Diameter Tulangan (mm) Luas Tulangan (mm2)
8 50,24
10 78,5
12 113,04
14 153,86
16 200,96
19 226,865
21 346,185

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 25
23. Untuk melihat hasil penulangan kolom kita hilangkan dulu hasil penulangan dan kita lihat label urutan
frame untuk tiap kolom dengan cara. Klik Undeformed Shape setelah itu klik View Set Limit Display
Option untuk bagian Frame centang labelnya dan OK

Untuk melihat hasil penulangan lagi. Hilangkan centang label seperti cara diatas setelah itu klik Design
Concrete Frame Design Display Design Info.
Kita buat tabel hasil penulangan kolom dengan cara berulangkali seperti itu diatas dan masuk ke
potongan X dan Y masing-masing, sehingga didapat hasil semua penulangan kolom seperti tabel
dibawah.
Nomor Frame Hasil Penulangan (mm2) Nomor Frame Hasil Penulangan (mm2)
1 1225 11 1225
2 1309 12 1540
3 1225 22 1225
4 1225 23 1225
5 1225 24 1225
6 1225 25 1225
7 1225 26 1225
8 1309 27 1540
9 1225 13 1225
10 1540 15 1309
16 1225 28 1225
17 1225 29 1225
18 1225 30 1225
19 1225 31 1225
20 1225 32 1225
21 1540 33 1309

Bisa dilihat dari hasil semua penulangan kolom, penulangan terbesar ada di frame 10 dan 21 sebesar
1540 mm2.
Sehingga dipakai penulangan sebagai berikut :
8 D16 = 8 x 200,96 = 1607,68 mm2 > 1540 mm2 Jadi penulangan Aman
Kolom 35x35 dipakai tulangan D16 sebanyak 8 buah

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 26
24. Untuk penulangan sloof kita buka potongan X Y Plane dgn x = 0. Kita buka hasil penulangan dan nomer
frame semua sloofnya.

Karena sloof langsung menumpu di tanah, maka tidak perlu dibedakan tulangan tumpuan dan lapangan.
Sehingga dapat dilihat tulangan terbesar pada frame 34, 36, 40 dan 42 dengan nilai tulangan atas 494
mm2 dan nilai tulangan bawah 226m2

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 27
Sehingga dipakai penulangan atas sebagai berikut :
3 D16 = 3 x 200,96 = 602,88 mm2 > 494 mm2 Jadi penulangan Aman

Sehingga dipakai penulangan bawah sebagai berikut :


2 D14 = 2 x 153,86 = 307,72 mm2 > 226 mm2 Jadi penulangan Aman

Sehingga Sloof 15x20 memakai tulangan 3 D16 dan 2 D14

25. Untuk penulangan balok kita harus melihat 2 lantai yaitu lantai 2 dan lantai atap. Sehingga kita cek
seperti tadi untuk X Y Plane untuk x = 3 dan x = 6

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 28
Untuk lantai 2 ketinggian 3 meter atau 3000mm

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 29
Untuk penulangan lantai atap dengan ketinggian 6m atau 6000mm

Dalam tutorial ini, penulangan balok untuk tumpuan dan lapangan dianggap sama sehingga penulangan
balok Cuma ada satu jenis penulangan saja. Untuk perhitungan riil dilapangan harus dibedakan
penulangan tumpuan dan lapangan.

Dari grafik diatas didapat penulangan maksimal terdapat pada frame 78 dan 79 dengan nilai penulangan
atas sebesar 847mm2 dan nilai penulangan bawah sebesar 573 mm2

Sehingga dipakai penulangan atas sebagai berikut :


4 D19 = 4 x 226,865 = 907,46 mm2 > 847 mm2 Jadi penulangan Aman

Sehingga dipakai penulangan bawah sebagai berikut :


3 D19 = 4 x 226,865= 680,595 mm2 > 573 mm2 Jadi penulangan Aman

Sehingga Balok 35x50 memakai tulangan 4 D19 dan 3 D19


Untuk samping kiri dan kanan dibantu tulangan bantu 4 D14

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 30
Noted.

Ukuran balok dan kolom bisa berbeda tiap lantai sesuai dengan asumsi awal, Penulangan juga bisa berbeda-
beda tiap lantai. Semuanya menyesuaikan kebutuhan pemilik proyek baik keamanan maupun biaya dari tiap
pekerjaan.

Kita semua engineer menjembatani antara keinginan pemilik proyek untuk membangun yang gedung aman
dan efisien baik dari segi biaya atau segi pembuatannya.

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 31
PELAPORAN TUGAS SAP2000

1. Tugas diemail ke budionojoko@[Link] seminggu sebelum ujian Pengetahuan Komputer untuk


mendapat SP (Surat Puas) sebagai syarat mengikuti ujian
2. Yang diemail adalah 2 macam file yaitu :
a. File .sdb dari SAP2000 yang namanya disesuaikan dengan nama mahasiswa.
Contoh: Choirul [Link]

b. File word hasil perhitungan beton bertulang dgn judul sesuai nama mahasiswa
Contoh: Choirul [Link]

Contoh struktur laporan :


Halaman 1: Cover judul, nama tugas, nama mahasiswa dan nomer NIM
Halaman 2 : Data Awal pekerjaan

Contoh :
Nama : Choirul Asmawan
NIM : 2016.2345
Tugas ini memakai nilai NIM 345 sehingga variabel abcnya adalah
Ketinggian lantai /Stories Height (a) = 3. Ada 3 bay x dan 3 bay y
Lebar x / Bay x (b) = 4
Lebar y / Bay y (C) = 5
- Terdapat plat lantai setebal 12cm untuk lantai 2 dan lantai atap
- Beban hidup lantai sebesar 250 kg/m2
- Untuk tugas ini karena tinggi bangunan 2 lantai tidak melebihi 16 meter maka perhitungan angin tidak
dipakai
- Perhitungan gempa utk tugas ini tidak dipakai
- Terdapat 3 buah frame :
Balok, Kolom dan Sloof. Besar sloof dipakai 15x20.

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 32
Sedangkan besar Balok Kolom memakai Rumus sesuai SNI. Sehingga karena bcnya adalah 4 dan 5.
Dipakai nilai 5 karena lebih besar dari 4. Sehingga karena balok 2 tumpuan sederhana memakai
rumus sehingga
Tebal balok = 31,25cm = 35cm untuk tingginya 50cm. Sehingga Balok 35x50
Sedangkan untuk Kolom dipakai ukuran 35x35 sesuai tebal balok

- Data beton (concetre) sebagai berikut :


Kuat desak beton fc = 25Mpa atau K300
Modulus elastisitas beton, Ec = 4700 fc = 23500 Mpa
Poisson ratio beton, c = 0,2
Berat jenis beton, c = 2400 kg/m3
- Data tulangan (rebar) sebagai berikut :
Tulangan longitudinal, BJTD 40 (ulir) fy = 400 Mpa
Tulangan transversal/sengkang, BJTP 24 (polos) fys = 240 Mpa
Poisson ratio baja, s = 0,3
Berat jenis baja, s = 7850 kg/m3

- Pembebanan
Untuk nilai pembebanan riil dilapangan pakai SNI Pembebanan yang berlaku saat ini. Untuk tutorial
ini memakai variabel dibawah

Beban Mati (DL)


Beban mati sendiri (SW) dihitung secara otomatis oleh program SAP 2000
Beban mati tambahan (SIDL) terdiri dari ME, keramik, spesi semen untuk lantai 2 adalah SIDL = 175
kg/m2

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 33
Beban Tembok (DINDING)
Beban dinding dipisahkan karena pemodelan struktur bersifat open frame sehingga dinding dianggap
sebagai beban garis pada balok. Tembok tebal 15 cm dengan memakai tembok bata. Tembok
mengelilingi lantai 1 dan 2.
Karena nilai a / Ketinggian adalah 3 maka berat dinding adalah
= (1800 kg/m3 x tebal dinding m x tinggi dinding m) kg/m.
= (1800 kg/m3 x 0,15 x 3) kg/m.
= 810 kg/m
Beban hidup (LL)
Untuk lantai 2 dan atap, LL = 250 kg/m2

Halaman 3 dst : Hasil desain pekerjaan

Contoh :

A. HASIL PERHITUNGAN PENULANGAN KOLOM


Nomor Frame Hasil Penulangan (mm2) Nomor Frame Hasil Penulangan (mm2)
1 1225 11 1225
2 1309 12 1540
3 1225 22 1225
4 1225 23 1225
5 1225 24 1225
6 1225 25 1225
7 1225 26 1225
8 1309 27 1540
9 1225 13 1225
10 1540 15 1309
16 1225 28 1225
17 1225 29 1225
18 1225 30 1225
19 1225 31 1225
20 1225 32 1225
21 1540 33 1309

Bisa dilihat dari hasil semua penulangan kolom, penulangan terbesar ada di frame 10 dan 21 sebesar
1540 mm2.
Sehingga dipakai penulangan sebagai berikut :
8 D16 = 8 x 200,96 = 1607,68 mm2 > 1540 mm2 Jadi penulangan Aman
Kolom 35x35 dipakai tulangan D16 sebanyak 8 buah

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 34
B. HASIL PERHITUNGAN PENULANGAN SLOOF

Karena sloof langsung menumpu di tanah, maka tidak perlu dibedakan tulangan tumpuan dan lapangan.
Sehingga dapat dilihat tulangan terbesar pada frame 34, 36, 40 dan 42 dengan nilai tulangan atas 494
mm2 dan nilai tulangan bawah 226m2

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 35
Sehingga dipakai penulangan atas sebagai berikut :
3 D16 = 3 x 200,96 = 602,88 mm2 > 494 mm2 Jadi penulangan Aman

Sehingga dipakai penulangan bawah sebagai berikut :


2 D14 = 2 x 153,86 = 307,72 mm2 > 226 mm2 Jadi penulangan Aman

Sehingga Sloof 15x20 memakai tulangan 3 D16 dan 2 D14

C. HASIL PERHITUNGAN PENULANGAN BALOK

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 36
Untuk lantai 2 ketinggian 3 meter atau 3000mm

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 37
Untuk penulangan lantai atap dengan ketinggian 6m atau 6000mm

Dalam tutorial ini, penulangan balok untuk tumpuan dan lapangan dianggap sama sehingga penulangan
balok Cuma ada satu jenis penulangan saja. Untuk perhitungan riil dilapangan harus dibedakan
penulangan tumpuan dan lapangan.

Dari grafik diatas didapat penulangan maksimal terdapat pada frame 78 dan 79 dengan nilai penulangan
atas sebesar 847mm2 dan nilai penulangan bawah sebesar 573 mm2

Sehingga dipakai penulangan atas sebagai berikut :


4 D19 = 4 x 226,865 = 907,46 mm2 > 847 mm2 Jadi penulangan Aman

Sehingga dipakai penulangan bawah sebagai berikut :


3 D19 = 4 x 226,865= 680,595 mm2 > 573 mm2 Jadi penulangan Aman

Sehingga Balok 35x50 memakai tulangan 4 D19 dan 3 D19


Untuk samping kiri dan kanan dibantu tulangan bantu 4 D14

Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST


Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 38
Mata Kuliah Pengetahuan Komputer Budiono Joko Nugroho, ST
Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Page 39

Anda mungkin juga menyukai