Istilah dan Perhitungan Pertambangan Batubara
Istilah dan Perhitungan Pertambangan Batubara
MODUL I
DISUSUN :
1 Angle of deep Sudut kemiringan dari sebuah struktur mineral/batuan perm tanah/topografi
bidang datar
terhadap bidang datar (horizontal plane). Angle of deep
3. BCM Bank Cubic Metric, merupakan satuan volume. Secara pengukuran yang dilakukan pada
daerah ini (insitu), satuan yang
umum BCM merupakan satuan volume dalam m3 digunakan adalah BCM.
hanya saja untuk penghitungan volume batubara/OB Material insitu diangkut ke suatu
lokasi, misal OB ke disposal
maka digunakan istilah BCM. BCM digunakan untuk (exsitu). Pengukuran pada lokasi
satuan volume insitu batubara. Untuk satuan batubara disposal menggunakan satuan
LCM
exsitu digunakan satuan LCM (Loose Cubic Metric).
Untuk volume overburden insitu juga menggunakan
satuan BCM.
9. Calori value nilai kalori yang dikandung pada deposit tambang. Pada
batubara (coal) nilai kalori berkisar 3000 8000 kkal.
CROPLINE
15. Cropline Perpotongan/intersect struktur batubara terhadap
permukaan topografi, perpotongan ini berupa garis/line Permukaan topografi
yang menentukan arah awal penambangan.
23. Down deep arah kemiringan batubara yang semakin ke bawah, pada
arah ini biasa dibuat final wall sebagai batas akhir areal
penambangan. UP DEEP Permukaan topografi
DOWN DEEP
Permukaan /struktur batubara
roof
floor
topografi
27 Final Wall batas akhir dari sebuah areal penambangan, pada final Overburden yang
wall dibuat bench-bench untuk mencegah longsor. dibuang
Batas final wall ini dibuat dengan memperhatikan SR,
Perm batubara
FINAL WALL
Dengan 3 BENCH
28. Gold Merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa, kekerasannya berkisar antara 2,5 3 (skala Mohs), serta berat
jenisnya tergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu dengannya. Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi
dengan mineral ikutan (gangue minerals). Mineral ikutan tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah
kecil mineral non logam. Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi. Mineral
pembawa emas terdiri dari emas nativ, elektrum, emas telurida, sejumlah paduan dan senyawa emas dengan unsur-unsur
belerang, antimon, dan selenium. Elektrum sebenarnya jenis lain dari emas nativ, hanya kandungan perak di dalamnya >20%.
Emas terbentuk dari proses magmatisme atau pengkonsentrasian di permukaan.
Beberapa endapan terbentuk karena proses metasomatisme kontak dan larutan hidrotermal, sedangkan pengkonsentrasian
secara mekanis menghasilkan endapan letakan (placer). Genesa emas dikatagorikan menjadi dua yaitu endapan primer dan
endapan plaser. Emas banyak digunakan sebagai barang perhiasan, cadangan devisa, dll. Potensi endapan emas terdapat di
hampir setiap daerah di Indonesia, seperti di Pulau Sumatera, Kepulauan Riau, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Sulawesi,
Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
interburden
interburden
30. Land Clearing Pembersihan Lahan, dimana vegetasi yang ada disekitar
lokasi dibersihkan dan ditimbun pada disposal area
bersama dengan tanah penutup.
31. Loading Proses pengambilan deposit tambang dengan
menggunakan alat berat sepeti whell loader, excavator
dsb.
38. MT (metric ton) Metric ton atau lebih dikenal sebagai TON. Untuk
satuan massa batubara digunakan istilah metric ton,
bukan TON.
overburden
42. Open pit mining Tambang terbuka, adalah salah satu metode
penambangan di dalam tanah terbuka untuk
mendapatkan deposit tambang. Tahapannya adalah
overburden dibuka/dibuang, kemudian deposit tambang
nya di loading.
seam bawah
batubara
- Single slope : kemiringan pada sebuah lereng tunggal. overall slope permukaan topografi
- Overall slope : kemiringan untuk keseluruhan lereng, dari lereng yang membentuk bench
paling bawah sampai dengan atas.
53 Strike Arah kemenerusan batubara, arah strike menunjukkan
kemenerusan batubara dan aranya adalah tegaklurus
deep
54 Settling pond Tempat untuk menetralkan air di lokasi tambang yang
bersifat asam. Setling pond berupa kolam/tanggul yang
Air dari tambang
didesign sedemikian rupa sehingga air di lokasi dinetralkan terlebih
tambang tidak langsung keluar ke sumber air di sekitar dahulu melalui
lokasi tambang tetapi di netralkan terlebih dahulu agar setling pond, baru
kemudian dialirkan
ph nya normal. Secara umum fungsi setling pond ke sungai.
adalah untuk mencegah pencemaran air akibat
penambangan.
sungai
56 Stripping ratio Istilah dalam pertambangn batubara. Merupakan nilai perbandingan antara tonase batubara yang didapatkan (dalam satuan MT)
(SR) dengan volume overburden yang harus diambil (dalam satuan BCM) . Nilai SR menentukan layak tidaknya/nilai
keekonomiannya lokasi tersebut dilakukan penambangan.
Secara umum SR didefinisikan sebagai jumlah volume overburden yang diambil untuk mendapatkan 1 MT batubara. Nilai SR
berupa suatu perbandingan dari 1 : 1 s/d 1 : tak terhingga. Nilai ekonomis SR batubara sekarang adalah 1:12. Jika nilai SR >
1:12 maka daerah tersebut tidak menguntungkan untuk ditambang.
57 Sweel factor Factor pengembang, merupakan nilai pengembangan dari suatu bahan tambang (batubara). Sweel factor untuk batubara berkisar
1.1-1.2 . Sweel factor bisa dicari dengan cara pengukuran volume batubara insitu dibandingkan dengan volume batubara eksitu.
Factor ini lah yang mendasari adanya 2 jenis satuan volume, BCM dan LCM.
58 Shipping Pengapalan. Proses transportasi clean coal menuju ke
konsumer melalui jalan laut (dengan kapal/tongkang).
top soil
61 Truck Factor nilai rata-rata volume yang bisa diangkut oleh oleh alat
pengangkut. Truck factor dicari dengan cara
menghitung volume rata-rata yang bisa diangkut oleh
suatu jenis alat pengangkut. Untuk masing-masing jenis
alat pengangkut akan memiliki nilai truck factor yang
berbeda.
Dalam handout ini akan dijelaskan berbagai macam cara penghitungan cadangan deposit
tambang, seperti batubara, emas, tembaga, nikel dsb. Yang pertama akan dibahas adalah
penghitungan cadangan batubara.
Secara teori, jumlah volume material exsitu dengan insitu akan sama jika tidak ada
penambahan/pengurangan (looses) baik itu karena proses pengangkutan maupun karena
perubahan bentuk & struktur material tersebut, akan tetapi jika kita melakukan
pengukuran pada lokasi insitu dengan lokasi exsitu akan timbul perbedaan nilai volume
pada 2 material tersebut. Padahal kedua material sama, diambil pada lokasi yang sama,
hanya dipindahkan/diangkut menuju lokasi lain. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Disinilah
alasan mengapa terdapat 2 satuan pengukuran volume, BCM dan LCM. Perbedaan satuan
ini disebabkan adanya faktor pengembangan (sweel factor ) yang timbul akibat perubahan
bentuk/struktur material dari insitu ke exsitu. Secara sederhana bisa dilihat bahwa material
pada lokasi insitu berupa material padat, kompak dan teratur, sedangkan pada lokasi
eksitu terdapat bentuk tidak taratur, tidak padat, tidak kompak dan terdapat beberapa
rongga-rongga didalamnya. Ini lah yang disebut sebagai sweel factor . Akibatnya jumlah
volume eksitu lebih besar dari pada jumlah volume insitu karena fator tidak padat dan
tidak kompaknya kondisi eksitu. Satuan yang digunakan dalam kondisi exsitu adalah
LCM, sedangkan pada lokasi insitu adalah BCM.
Sweel factor
BCM LCM Bagaimana mencari besar sweelfactor?
(insitu) (eksitu)
Secara teori sweel factor bisa dicari dengan melakukan pengukuran survey secara
berulang-ulang untuk beberapa sampel/timbunan-galian kemudian dirata-rata. Pertama
dilakukan engukuran volume di lokasi insitu, dihitung besaran volume nya, kemudian
dilakukan pengukuran di lokasi eksitunya, dihitung besaran volume nya. Dari dua nilai
volume tersebut bisa dicari nilai sweel factor untuk material tsb dengan cara ;
Besaran sweel factor berbeda untuk tiap-tiap jenis dan macam material. Untuk batubara
besaran sweel factor berkisar 1.1 - 1.2
Contoh :
Dilakukan pengukuran volume batubara pada lokasi inpit stock, didapatkan nilai volume
sebesar 45,200 m3. Berapa volume batubara tersebut dalam satuan BCM? Sweel factor
= 1.176
Jawab :
Pada lokasi in pit stock, batubara berupa material yang sudah tidak padat lagi. In pit
stock adalah lokasi penimbunan/penyimpanan batubara yang diangkut dari dalam lokasi
tambang kemudian diangkut dan di timbun di lokasi ini. Artinya batubara pada lokasi ini
adalah batubara exsitu sehingga besaran 45,200m3 adalah satuan LCM. Sehingga
volume dalam BCM adalah:
Contoh :
Dilakukan pengukuran volume batubara pada lokasi inpit stock, didapatkan nilai volume
sebesar 34,400 m3. Berapa tonnage batubara tersebut ketika ditimbang? Sweel factor
1.176, density 1.2
Jawab :
Permukaan topografi
depth roof
Cat :
Thickness/tebal semu batubara : adalah ketebalan batubara yang bukan merupakan
ketebalan sebenarnya (true thick). Tebal semu diakibatkan karena adanya
kemiringan/deep batubara sehingga ketika dilakukan pengeboran/stripping dari arah
atas/vertikal, maka tebal yang ditemui adalah tebal semu. True thick hanya bisa
ditemui/dicari dengan cara pengeboran/stripping dari arah tegak lurus deep.
deep
arah pengeboran/stripping
deep semu
true deep
roof seam A
roof seam B
overburden
roof seam C
Interburden B
Interburden C
floor seam A
floor seam B
floor seam C
Setelah semua seam batubara dihitung dan juga OB/IB nya maka dapat dicari jumlah
deposit total untuk batubaranya dan jumlah Ob total nya.
seam B
IB seam B
seam C
IB seam C
Diketahui
Volume (topografi-roof seam A) dengan boundary cropline seam A = 750.000 BCM
Volume (topografi-floor seam A) dengan boundary coprline seam A = 823,500 BCM
Volume (topografi-roof seam B) dengan boundary coprline seam B = 2,473,500
Volume (topografi-floor seam B) dengan boundary coprline seam B = 2,636,900
Volume (topografi-roof seam C) dengan boundary coprline seam C = 6,511,900
Volume (topografi-floor seam C) dengan boundary coprline seam C = 6,837,220
Jika densitas batubara ditetapkan sebesar 1.3 berapkah SR untuk area tersebut.??
Menurut anda, layak-kah area tsb ditambang? Jelaskan argumen anda
seam A
OB
seam B
a
seam C IB seam B b
garis SR/Final wall
pada SR 1:10
IB seam C
c
nilai SR cenderung makin
rendah ke arah updeep
Pada gambar diatas tampak bahwa semakin ke arah updeep, maka jumlah OB yang
harus dikupas akan semakin sedikit, sehingga nilai SR akan bisa turun. Dari konsep
ini lah maka bisa ditentukan ke arah mana untuk merubah SR yang ada, nilai SR 1 : 8
kira-kira ada pada garis final wall (a), nilai SR 1 : 10 pada garis final wall (b), dan
garis final wall (c) memiliki nilai SR > 1:10.
Apakah selalu berlaku bahwa semakin ke arah updeep maka jumlah ON yang harus
dikupas akan semakin sedikit? Dan apakah SR akan selalu bisa turun pada arah ini?
permukaan topografi
Garis SR (a)
Garis SR (b)
up deep
down deep
Dari gambar diatas bisa dilihat bahwa pada arah down deep justru jumlah OB yang
diharus dikupas semakin kecil, hal ini karena struktur topografinya yang semakin
merendah pada arah down deep. Akan tetapi kejadian seperti ini sangat jarang
ditemui.
Sehingga dalam penentuan garis SR maka harus diperhatikan juga permukaan
topografinya. Penghitungan SR hanya bisa dilakukan setelah model topografi dan
model batubara sudah terbentuk dan dihitung masing-masing volume/tonnage-nya.
Pembuatan model batubara disini harus menyertakan pula model final wall-nya.
Sehingga 2 surface yang digunakan untuk menghitung SR adalah (1)surface topografi
dan (2) surface batubara+final wall yang menjadi satu bagian.
Dalam pembuatan garis final wall harus diperhatikan adanya batasan slope yang harus
dipatuhi untuk mencegah adanya longsoran tanah akibat terlalu curamnya slope yang
terbentuk. Nilai slope ditentukan dengan uji geoteknik pada jenis tanah/batuan di
sekitar lokasi penambangan. Nilai slope bervariasi dari 0 s/d 90. Juga diperhatikan
adanya nilai single slope dan overall slope sebelum melakukan design final wall.
tinggi berm
overal slope p
lebar berm
y
lebar berm
x
Contoh
Dari gambar diatas ditentukan single slope (slope) sebesar 54 , lebar berm 10m dan
tinggi berm 8m. Hitung overall slopenya.?
Jawab :
Besar sudut slope adalah 54, berarti = 90 - 54 =36 . Untuk menghitung overall
slopenya maka perlu dicari nilai x dan y. Nilai y diketahui dari tinggi masing-masing
berm yaitu 8m. Sehingga y = 4 x 8 = 32 m. Sedangkan untuk mencari x maka harus
dicari terlebih dahulu besar p yang mempunnyai harga sama pada tiap-tiap bench.
Sehingga x = (3 x 10) + 4p. Besar p adalah Tgn = Tinggi berm : p, Tgn 36 = 8 : p,
maka p = 11.01
Sehingga x = (3 x 10) + (4 x 11.01) = 74.04
Selain pembuatan final wall, salah satu unsur lain yang sangat penting untuk bisa
menghitung SR adalah cropline. Cropline merupakan garis intersect (perpotongan)
antara struktur topografi dengan struktur batubara pada arah up deep. Jadi cropline
adalah kebalikan dari final wall. Jika Final wall adalah garis akhir penambangan pada
arah down deep, maka croplinee adalah garis awal penambangan yang ada pada arah
up deep. Penambangan dilakukan/dimulai dari arah cropline menuju ke arah final
wall.
Cara pembuatan cropline adalah dengan memtongkan dua bidang/surface yaitu antara
surface batu bara roof per seam dengan surface topografi.
Cara pembuatan garis SR / final wall dan cropline akan dipelari dalam praktikum.
Latihan :