0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
116 tayangan30 halaman

Istilah dan Perhitungan Pertambangan Batubara

Mata kuliah Survey Pertambangan membahas istilah-istilah penting dalam dunia pertambangan seperti penambangan terbuka dan bawah tanah, serta terminologi terkait bahan galian dan metode penambangan. Mata kuliah ini juga akan membahas konsep perhitungan sumber daya tambang, eksplorasi, survei kemajuan tambang, pemodelan data, dan penghitungan cadangan. Mahasiswa akan belajar membuat peta desain tambang, disposal, dan perencana

Diunggah oleh

Rizky Pradana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
116 tayangan30 halaman

Istilah dan Perhitungan Pertambangan Batubara

Mata kuliah Survey Pertambangan membahas istilah-istilah penting dalam dunia pertambangan seperti penambangan terbuka dan bawah tanah, serta terminologi terkait bahan galian dan metode penambangan. Mata kuliah ini juga akan membahas konsep perhitungan sumber daya tambang, eksplorasi, survei kemajuan tambang, pemodelan data, dan penghitungan cadangan. Mahasiswa akan belajar membuat peta desain tambang, disposal, dan perencana

Diunggah oleh

Rizky Pradana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KERANGKA MATA KULIAH SURVEY PERTAMBANGAN

I. Pengenalan istilah-istilah yang digunakan dalam pekerjaan pertambangan


I.1. Istilah umum pertambangan (open mining / underground)
I.2. Istilah khusus dalam pertambangan batubara
I.3. Terminologi dalam pertambangan, bahan galian, metode penambangan, dsb.

II. Konsep perhitungan resourches bahan tambang


III.1 Coal Mining (pertambangan batubara)
III.2 Explorasi
III.3 Mine progress survey
III.4 Pemodelan batubara, processing data bor, logging, dan peta topografi.
III.5 Konsep penghitungan cadangan

II. Praktical work


III.1 Pembuatan peta progress tambang
III.2 Peta design disposal
III.3 Pembuatan mine design map (peta design tambang)
Pembuatan model/modelling batubara (modelling roof & floor).
Menghitung volume cadangan /resourches deposit tambang
Membuat peta design perencanaan tambang (pembuatan cropline, final wall,
bench, ramp, berm, garis SR)
SURVEY PERTAMBANGAN
(teori dan praktik)

MODUL I

DISUSUN :

RULI ANDARU, ST, [Link]

JURUSAN TEKNIK GEODESI


FAKULTAS TEKNIK UGM
2008
ISTILAH-ISTILAH DALAM DUNIA PERTAMBANGAN

NO NAMA ISTILAH DEFINISI KETERANGAN/GAMBAR

1 Angle of deep Sudut kemiringan dari sebuah struktur mineral/batuan perm tanah/topografi
bidang datar
terhadap bidang datar (horizontal plane). Angle of deep

perm struktur batuan

2 Backfill Proses penimbunan kembali areal pit yang telah diambil


deposit tambangnya, penimbunan dilakukan dengan Areal telah diambil
deposit tambangnya
memperhatikan RL topografi disekitar areal pit untuk (mine out) dan siap untuk
kemudian di lakukan revegetasi. di lakukan proses backfill

3. BCM Bank Cubic Metric, merupakan satuan volume. Secara pengukuran yang dilakukan pada
daerah ini (insitu), satuan yang
umum BCM merupakan satuan volume dalam m3 digunakan adalah BCM.
hanya saja untuk penghitungan volume batubara/OB Material insitu diangkut ke suatu
lokasi, misal OB ke disposal
maka digunakan istilah BCM. BCM digunakan untuk (exsitu). Pengukuran pada lokasi
satuan volume insitu batubara. Untuk satuan batubara disposal menggunakan satuan
LCM
exsitu digunakan satuan LCM (Loose Cubic Metric).
Untuk volume overburden insitu juga menggunakan
satuan BCM.

Belt conveyor terbuat dari karet


4. Belt conveyor Sabuk yang terbuat dari karet, terdapat pada conveyor, elastis, gambar disamping adalah
digunakan untuk media pengerak deposit tambang yang proses pengangkutan BB
menggunakan conveyor, hanya
telah mengalami proses penggilingan (crusher). saja belt conveyor pada keadaan
sobek/putus sehingga harus
dilakukan penyambungan
kembali.
crest
5 Berm Merupakan space dalam jarak tertentu yang
menghubungkan secara mendatar antara toe dan crest . crest
BERM
Gambar tampang melintang
dari sebuah bench
Berm yang digunakan sebagai jalan angkutan toe permukaan topografi yang
kendaraan berat (heavy equipment) disebut sebagai crest membentuk crest-toe
(tangga).
ramp. toe BERM
toe
BERM

6. Blasting Adalah proses pengupasan/pembukaan lapisan


Overburden dimana menggunakan teknik peledakan
dengan menggunakan bahan dinamit. Blasting
dilakukan pada areal dimana overburden yang ada
struktur batuannya sangat keras sehingga tidak bisa
dilakukan pembukaan menggunakan alat berat.

7. Breakline Garis yang saling berpotongan/tumpang tindih,


(istilah di surpac) merupakan garis yang menghubungkan titik-titik detil
(spot height) pada pengukuran survey. Untuk dapat
diproses lebih lanjut , garis garis yang berpotongan ini
harus di break agar tidak saling tumpang tindih.
breakline

Data asli pengukuran survey Data pengukuran setelah di


breakline
8. Bridge conveyor kerangka/konstruksi pada peralatan conveyor

9. Calori value nilai kalori yang dikandung pada deposit tambang. Pada
batubara (coal) nilai kalori berkisar 3000 8000 kkal.

Atau disebut sebagai washed coal (coal yang sudah di


10. Clean coal cuci), adalah batubara yang telah mengalami proses
cleaning (coal yang dihasilkan dari proses pencucian).
Biasanya coal ini sudah di haluskan menggunakan
mesin crusher, clean coal dapat berupa butiran-butiran clean coal
halus seperti pasir dan siap untuk di kirim/transport
untuk diolah lebih lanjut, misal untuk pembuatan briket
batubara.

11. Coal Merupakan batuan hidrokarbon padat yang terbentuk


dari tetumbuhan dalam lingkungan bebas oksigen, serta
terkena pengaruh tekanan dan panas yang berlangsung
sangat lama. Proses pembentukan (coalification)
memerlukan jutaan tahun, mulai dari awal pembentukan
yang menghasilkan gambut, lignit, subbituminus,
bituminous, dan akhirnya terbentuk antrasit. Di
Indonesia, endapan batubara yang bernilai ekonomis
terdapat di cekungan Tersier, yang terletak di bagian
barat Paparan Sunda (termasuk Pulau Sumatera dan
Kalimantan), pada umumnya endapan batubara tersebut
tergolong usia muda, yang dapat dikelompokkan
sebagai batubara berumur Tersier Bawah dan Tersier
Atas. Potensi batubara di Indonesia sangat melimpah,
terutama di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera,
sedangkan di daerah lainnya dapat dijumpai batubara
walaupun dalam jumlah kecil, seperti di Jawa Barat,
Jawa Tengah, Papua, dan Sulawesi.

12. Coal washing Proses pencucian batubara untuk mendapatkan kualitas


yang lebih bagus, dengan cara pencucian, beberapa nilai
parameter kualitas seperti ash, sulfur dan kalori dapat
di maksimalkan untukmendapatkan hasil kualitas yang
tinggi. Pencucian batubata dilakukan pada keadaan raw
coal (batubara yang baru diambil dari pit, dan belum
dilakukan proses crushing).

13. Conveyor alat transportasi material deposit tambang yang


bergerak secara continyu dalam sebuah belt/sabuk
sehingga dapat membawa material secara kontinyu
dalam volume yang besar.
14. Core sample sampel yang diambil dari data bor, sampel ini diambil
pada proses penegboran dengan menggunakan teknik
coring, sampel batuan/tanah ataupun material yang ada
selama proses pengeboran dapat diambil untuk
kemudian dianalisa deskripsi batuan tersebut.

CROPLINE
15. Cropline Perpotongan/intersect struktur batubara terhadap
permukaan topografi, perpotongan ini berupa garis/line Permukaan topografi
yang menentukan arah awal penambangan.

Permukaan /struktur batubara

16. Crest tebing atas/kepala tebing Lihat gambar (5)

17. Depth nilai kedalaman, biasa digunakan untuk menyatakan


elevasi/kedalaman dimana deposit tambang ditemukan.
18. Dencity Densitas/ massa jenis, merupakan perbandingan massa
dan volume. Densitas pada batubara berkisar 1,2-1,4.

19. Drilling Proses pengeboran, pada prinsipnya pengeboran


dilakukan untuk menganalisa struktur tanah/batuan
yang ada di lokasi tersebut dan untuk mengetahui
kedalaman deposit.
20. Dril hole Lubang bekas aktifitas pengeboran

21. Dumping Kegiatan membuang/dumping material overburden


pada areal buangan (disposal area)

22. Disposal area Tempat pembuangan material overdurden

23. Down deep arah kemiringan batubara yang semakin ke bawah, pada
arah ini biasa dibuat final wall sebagai batas akhir areal
penambangan. UP DEEP Permukaan topografi

DOWN DEEP
Permukaan /struktur batubara

24. Exploration merupakan pekerjaan / aktifitas untuk menemukan,


menentukan batas deposit tambang dan untuk
menentukan nilai ekonomi yang potensial guna
pekerjaan lebih lanjut. Pekerjaan ini meliputi pencarian,
reconnaissance, mapping, penginderaan jauh, geologi,
geochemistry, geifisik dan pengeboran, trenching,
sampling dsb
25. Exploitation Pengambilan deposit tambang dimana sebelumnya telah
dilakukan pengupasan lapisan penutup.

26. Floor Permukaan bawah dari suatu jenis deposit tambang.


Istilah ini lebih sering digunakan pada penambngan
batubara

roof

floor

topografi
27 Final Wall batas akhir dari sebuah areal penambangan, pada final Overburden yang
wall dibuat bench-bench untuk mencegah longsor. dibuang
Batas final wall ini dibuat dengan memperhatikan SR,

Perm batubara
FINAL WALL
Dengan 3 BENCH
28. Gold Merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa, kekerasannya berkisar antara 2,5 3 (skala Mohs), serta berat
jenisnya tergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu dengannya. Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi
dengan mineral ikutan (gangue minerals). Mineral ikutan tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah
kecil mineral non logam. Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi. Mineral
pembawa emas terdiri dari emas nativ, elektrum, emas telurida, sejumlah paduan dan senyawa emas dengan unsur-unsur
belerang, antimon, dan selenium. Elektrum sebenarnya jenis lain dari emas nativ, hanya kandungan perak di dalamnya >20%.
Emas terbentuk dari proses magmatisme atau pengkonsentrasian di permukaan.
Beberapa endapan terbentuk karena proses metasomatisme kontak dan larutan hidrotermal, sedangkan pengkonsentrasian
secara mekanis menghasilkan endapan letakan (placer). Genesa emas dikatagorikan menjadi dua yaitu endapan primer dan
endapan plaser. Emas banyak digunakan sebagai barang perhiasan, cadangan devisa, dll. Potensi endapan emas terdapat di
hampir setiap daerah di Indonesia, seperti di Pulau Sumatera, Kepulauan Riau, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Sulawesi,
Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

29. Interburden Merupakan layer/lapisan yang berada diantara 2 buah


lapisan batubara. Layer ini berupa tanah/batuan yang
harus dikupas terlebih dahulu untuk mendapatkan
batubara.

interburden

interburden

30. Land Clearing Pembersihan Lahan, dimana vegetasi yang ada disekitar
lokasi dibersihkan dan ditimbun pada disposal area
bersama dengan tanah penutup.
31. Loading Proses pengambilan deposit tambang dengan
menggunakan alat berat sepeti whell loader, excavator
dsb.

32. LCM Loose Cubic Metric. Merupakan satuan volume untuk


batubara eksitu. Artinya batu bara telah mengalami
proses pengangkutan/loading. Untuk menghitung
tonnage batubara dari pengukuran volume eksitu, maka
volume hasil ukuran (LCM) harus dikonversi terlebih
dahulu ke satuan BCM.

33. Logging Pekerjaan untuk mendeskripsikan jenis dan struktur


batuan yang ada dalam tanah. Deskripsi dengan
menggunakan sensor elektris yang dapat menentukan
jenis dan karakteristik suatu layer/lapisan yang ada.
Proses logging dilakukan setelah dilakukan pekerjaan
drilling/pengeboran.

34 Lithology Karakter dari suatu batuan yang dideskripsikan oleh


struktur, warna, komposisi mineral, ukuran batuan
penyusun, susunan komponen penyusun

35. Low sulfur Batubara dengan nilai sulfur antara 0.1-1.0 %.


36. Loose factor Nilai penyusutan. Nilai ini disebabkan banyak hal,
karena terbuangnya sejumlah material karena proses
pengangkutan ataupun karena tingkat moisture (kadar
air) yang berkurang.
Loose factor juga bisa diartikan kebalikan dari sweel
factor (lihat pengertian sweel factor ).
37. Metalurgical coal/met Coal yang dapat digunakan untuk memproduksi coke
coal (batu arang) yang memiliki tekanan tinggi pada
temperatur tinggi.

38. MT (metric ton) Metric ton atau lebih dikenal sebagai TON. Untuk
satuan massa batubara digunakan istilah metric ton,
bukan TON.

39. Nicel Nikel digunakan sebagai bahan paduan logam yang


banyak digunakan diberbagai industri logam. Nikel
biasanya terbentuk bersama-sama dengan kromit dan
platina dalam batuan ultrabasa seperti peridotit, baik
termetamorfkan ataupun tidak. Terdapat dua jenis
endapan nikel yang bersifat komersil, yaitu: sebagai
hasil konsentrasi residual silika dan pada proses
pelapukan batuan beku ultrabasa serta sebagai endapan
nikel-tembaga sulfida, yang biasanya berasosiasi
dengan pirit, pirotit, dan kalkopirit.
Potensi nikel terdapat di Pulau Sulawesi, Kalimantan
bagian tenggara, Maluku, dan Papua.

40. Outcrop singkapan. Bagian dari bahan galian yang tersingkap


ato muncul k permukaan. Untuk batubara outcrop
banyak ditemui di tebing-tebing sungai, dasar sungai,
ataupun lereng bukit.
41. Overburden Layer / lapisan tanah dan batu yang ada di atas coal Top soil
seam.

overburden

42. Open pit mining Tambang terbuka, adalah salah satu metode
penambangan di dalam tanah terbuka untuk
mendapatkan deposit tambang. Tahapannya adalah
overburden dibuka/dibuang, kemudian deposit tambang
nya di loading.

43 Ore Bahan galian (mineral) yang memiliki kadar tertentu


dan bernilai ekonomis. Ore dalam bentuk bijih, dan
biasa digunakan dalam hubungannya dengan logam.

44 Parting Bagian non batubara (pengotor) yang membagi atau


menyisip di dalam 1 lapisan batubara
Pada gambar
disamping, sandstone,
dark shale,
siltstone,limestone,con
cretion merupakan
parting /pengotor
batubara

45 Pick up progress survey, adalah pekerjaan mengupdate keadaan


topografi di lokasi pit, yaitu melakukan pekerjaan
situasi secara menyeluruh pada semua lokasi pit.
Biasanya pick up dilakukan dalam kurun mingguan dan
bulanan. Hasil dari pekerjaan ini adalah peta kemajuan
tambang.

46 Ramp Jalan pada lokasi tambang

47 Reclamation proses restorasi/pengembalian fungsi tanah yang telah


digali karena aktifitas tambang, meliputi pengkonturan
kembali bekas galian dengan cara menutup dengan
material overburden untuk kemudian di lapisi lapisan
top soil agar bisa ditanami kembali (revegetasi)
48 Resourches Cadangan sumberdaya deposit tambang
49 Roof Permukaan atas dari suatu jenis deposit
tambang. Istilah ini lebih sering digunakan pada
penambngan batubara
50 Ritasi Cara penghitungan volume dengan cara menghitung
jumlah angkutan/trip dari suatu jenis alat pengangkut.
Volume ritasi = jumlah trip x truck factor. Truck factor
adalah nilai rata-rata volume yang bisa diangkut oleh
oleh alat pengangkut

51 Seam Lapisan batubara. Batubara terbentuk oleh beberapa


lapisan, lapisan yang paling muda terletak pada elevasi
paling atas. Masing-masing seam mempunyai ciri-ciri
seam atas
dan kualitas tersendiri. batubara

seam bawah
batubara

52 Slope kemiringan lereng, biasa dinyatakan dalam satuan


derajad atau persen. slope/single slope

- Single slope : kemiringan pada sebuah lereng tunggal. overall slope permukaan topografi
- Overall slope : kemiringan untuk keseluruhan lereng, dari lereng yang membentuk bench
paling bawah sampai dengan atas.
53 Strike Arah kemenerusan batubara, arah strike menunjukkan
kemenerusan batubara dan aranya adalah tegaklurus
deep
54 Settling pond Tempat untuk menetralkan air di lokasi tambang yang
bersifat asam. Setling pond berupa kolam/tanggul yang
Air dari tambang
didesign sedemikian rupa sehingga air di lokasi dinetralkan terlebih
tambang tidak langsung keluar ke sumber air di sekitar dahulu melalui
lokasi tambang tetapi di netralkan terlebih dahulu agar setling pond, baru
kemudian dialirkan
ph nya normal. Secara umum fungsi setling pond ke sungai.
adalah untuk mencegah pencemaran air akibat
penambangan.
sungai

55 Stock pile/inpit Lokasi untuk menyimpan batubara, berupa tumpukan-


stock tumpukan batubara yang diambil dari lokasi pit.

56 Stripping ratio Istilah dalam pertambangn batubara. Merupakan nilai perbandingan antara tonase batubara yang didapatkan (dalam satuan MT)
(SR) dengan volume overburden yang harus diambil (dalam satuan BCM) . Nilai SR menentukan layak tidaknya/nilai
keekonomiannya lokasi tersebut dilakukan penambangan.
Secara umum SR didefinisikan sebagai jumlah volume overburden yang diambil untuk mendapatkan 1 MT batubara. Nilai SR
berupa suatu perbandingan dari 1 : 1 s/d 1 : tak terhingga. Nilai ekonomis SR batubara sekarang adalah 1:12. Jika nilai SR >
1:12 maka daerah tersebut tidak menguntungkan untuk ditambang.
57 Sweel factor Factor pengembang, merupakan nilai pengembangan dari suatu bahan tambang (batubara). Sweel factor untuk batubara berkisar
1.1-1.2 . Sweel factor bisa dicari dengan cara pengukuran volume batubara insitu dibandingkan dengan volume batubara eksitu.
Factor ini lah yang mendasari adanya 2 jenis satuan volume, BCM dan LCM.
58 Shipping Pengapalan. Proses transportasi clean coal menuju ke
konsumer melalui jalan laut (dengan kapal/tongkang).

59 Tonnage Tonase, massa batubara

60 Top soil Lapisan tanah paling atas, berwarna coklat, merupakan


lapisan tanah tempat tumbuhan hidup (tempat akar
tumbuh).

top soil

61 Truck Factor nilai rata-rata volume yang bisa diangkut oleh oleh alat
pengangkut. Truck factor dicari dengan cara
menghitung volume rata-rata yang bisa diangkut oleh
suatu jenis alat pengangkut. Untuk masing-masing jenis
alat pengangkut akan memiliki nilai truck factor yang
berbeda.

62 Thick Nilai ketebalan. Untuk menyatakan tebal suatu lapisan


63 Toe kaki tebing
64 Underground Mining Metode penambangan bawah tanah/terowongan. Secara
umum, akses ke arah bawah tanah/trowongan melalui
saluran yang disebut adit.

65 Up deep arah kemenerusan batubara mengarah ke atas, pada


ujung paling atas akan membentuk outcrop. Pada arah Lihat gambar down deep (gambar 23)
ini akan terbentuk cropline yang merupakan intersec
antara kemenerusan batubara dengan topografi.
PEMBUATAN MODEL STRUKTUR &
PENGHITUNGAN CADANGAN DEPOSIT TAMBANG

Dalam handout ini akan dijelaskan berbagai macam cara penghitungan cadangan deposit
tambang, seperti batubara, emas, tembaga, nikel dsb. Yang pertama akan dibahas adalah
penghitungan cadangan batubara.

I. Satuan dalam penghitungan volume & massa


I.1. Penghitungan volume
Dalam penghitungan cadangan/resourches batubara dikenal satuan volume BCM dan
LCM. Sedangkan satuan massa digunakan MT (metric Ton). Pengertian istilah tsb bisa
dilihat pada bab pengenalan istilah.
Istilah BCM dan LCM tidak hanya digunakan dalam pengukuran volume batubara saja,
untuk material lain misalkan OB/material tanah pun menggunakan satuan volume yang
sama. Perbedaan mendasar satuan volume LCM dengan BCM adalah BCM digunakan
untuk pengukuran volume pada lokasi insitu, sedangkan LCM digunakan untuk
pengukuran volume exsitu. Penjelasan mengenai dua istilah ini dijelaskan dalam gmbar
berikut :

material insitu diangkut dan


di timbun pada suatu lokasi
(exsitu)

kondisi material insitu kondisi material eksitu

Secara teori, jumlah volume material exsitu dengan insitu akan sama jika tidak ada
penambahan/pengurangan (looses) baik itu karena proses pengangkutan maupun karena
perubahan bentuk & struktur material tersebut, akan tetapi jika kita melakukan
pengukuran pada lokasi insitu dengan lokasi exsitu akan timbul perbedaan nilai volume
pada 2 material tersebut. Padahal kedua material sama, diambil pada lokasi yang sama,
hanya dipindahkan/diangkut menuju lokasi lain. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Disinilah
alasan mengapa terdapat 2 satuan pengukuran volume, BCM dan LCM. Perbedaan satuan
ini disebabkan adanya faktor pengembangan (sweel factor ) yang timbul akibat perubahan
bentuk/struktur material dari insitu ke exsitu. Secara sederhana bisa dilihat bahwa material
pada lokasi insitu berupa material padat, kompak dan teratur, sedangkan pada lokasi
eksitu terdapat bentuk tidak taratur, tidak padat, tidak kompak dan terdapat beberapa
rongga-rongga didalamnya. Ini lah yang disebut sebagai sweel factor . Akibatnya jumlah
volume eksitu lebih besar dari pada jumlah volume insitu karena fator tidak padat dan
tidak kompaknya kondisi eksitu. Satuan yang digunakan dalam kondisi exsitu adalah
LCM, sedangkan pada lokasi insitu adalah BCM.

Sehingga selalu berlaku bahwa : LCM > BCM

Sweel factor
BCM LCM Bagaimana mencari besar sweelfactor?
(insitu) (eksitu)

Secara teori sweel factor bisa dicari dengan melakukan pengukuran survey secara
berulang-ulang untuk beberapa sampel/timbunan-galian kemudian dirata-rata. Pertama
dilakukan engukuran volume di lokasi insitu, dihitung besaran volume nya, kemudian
dilakukan pengukuran di lokasi eksitunya, dihitung besaran volume nya. Dari dua nilai
volume tersebut bisa dicari nilai sweel factor untuk material tsb dengan cara ;

Volume eksitu ( LCM )


Sweel factor =
Volume insitu ( BCM )

Besaran sweel factor berbeda untuk tiap-tiap jenis dan macam material. Untuk batubara
besaran sweel factor berkisar 1.1 - 1.2

Contoh :
Dilakukan pengukuran volume batubara pada lokasi inpit stock, didapatkan nilai volume
sebesar 45,200 m3. Berapa volume batubara tersebut dalam satuan BCM? Sweel factor
= 1.176

Jawab :
Pada lokasi in pit stock, batubara berupa material yang sudah tidak padat lagi. In pit
stock adalah lokasi penimbunan/penyimpanan batubara yang diangkut dari dalam lokasi
tambang kemudian diangkut dan di timbun di lokasi ini. Artinya batubara pada lokasi ini
adalah batubara exsitu sehingga besaran 45,200m3 adalah satuan LCM. Sehingga
volume dalam BCM adalah:

Vol BCM = Vol LCM / sweel factor


= 45,200 : 1.176 = 38,435 BCM
I.2 Penghitungan tonnage/massa
Untuk merubah satuan dari volume ke satuan tonnage maka diperlukan besaran densitas
(dencity). Dencity adalah perbandingan antara massa dan volume pada suatu zat/material.
Pada batubara densitas nya berkisar antara 0.8-1.2. Densitas batubara dihitung
berdasarkan pada kondisi material padat atau BCM. Sehingga jika dilakukan pengukuran
pada kondisi material LCM maka harus dikonvert terlebih dahulu ke satuan BCM baru
kemudian dicari tonnage nya.

(x) dencity (x) sweel factor


TONNAGE BCM LCM
0.8 1.2 1.1 1.2

Contoh :
Dilakukan pengukuran volume batubara pada lokasi inpit stock, didapatkan nilai volume
sebesar 34,400 m3. Berapa tonnage batubara tersebut ketika ditimbang? Sweel factor
1.176, density 1.2

Jawab :

(x) dencity (x) sweel factor


TONNAGE BCM LCM
(35,102) (29,251) (34,400)

Sehingga tonnage batubara dari pengukuran tersebut adalah 35,102 MT


II. Pembuatan model / modelling struktur batubara
Untuk dapat menghitung jumlah/ besar cadangan (resourches) deposit batubara, maka
harus dibuatkan model struktur batubara dan juga model topografinya. Model struktur
yang harus dibuat yaitu :
1. Model struktur permukaan topografi
Model ini didapatkan dengan cara melakukan pemetaan topografi terlebih dahulu
terhadap lokasi yang akan dilakukan penambangan. Dari data survey yang ada (x,y,
dan z) kemudian dibuat garis konturnya. Dari data kontur ini kemudian dibuat model
strukturnya. Model struktur adalah model digital yang menggambarkan permukaan
suatu struktur. Model ini dapat berupa kontur digital, atau berupa digital terrain
model. Untuk mempermudah proses penghitungan dan untuk mempermudah tampilan,
sebaiknya model struktur berupa model DTM. Setelah DTM terbentuk, maka file
tersebut disimpan dalam nama yang sesuai nama strukturnya, misal
struktur_topografi.

2. Model sruktur permukaan atas batubara (roof batubara)


Model ini didapatkan dengan cara memasukkan nilai x, y dan z dari semua data
roof batubara yang ada. Data roof ini didapatkan dengan cara melakukan
drilling/pengeboran terlebih dahulu kemudian untuk memastikan dengan benar
nilai depth nya dilakukan proses logging. Dari data pengeboran & logging
didapatkan nilai depth permukaan atas batubara (roof), kemudian dikonversi
menjadi data elevasi berdasarkan data tpografi. Untuk nilai x dan y didapatkan
dengan cara mencari koordinat (positioning) dengan menggunakan alat GPS teliti
maupun alat TS.

alat drilling dicari koordinat x,y dan z (topo)

Permukaan topografi
depth roof

dicari nilai z dengan cara Thickness/tebal semu batubara


Zroof=Ztopo-depth roof
roof batubara
dicari nilai z dengan cara
Zfloor=Ztopo-(depth roof+thick)
Struktur batubara
floor batubara
Semakin banyak titik bor yang ada, maka semakin rapat dan semakin detil untuk
pembentukan model struktur roof batubaranya. Setelah semua detil/titik roof
didapatkan nilai x,y dan z nya kemudian data tersebut dibuat model digitalnya
(DTM) dan disimpan dalam nama fila khusus, misal struktur_roof

Cat :
Thickness/tebal semu batubara : adalah ketebalan batubara yang bukan merupakan
ketebalan sebenarnya (true thick). Tebal semu diakibatkan karena adanya
kemiringan/deep batubara sehingga ketika dilakukan pengeboran/stripping dari arah
atas/vertikal, maka tebal yang ditemui adalah tebal semu. True thick hanya bisa
ditemui/dicari dengan cara pengeboran/stripping dari arah tegak lurus deep.

deep
arah pengeboran/stripping

bidang tegal lurus arah deep

deep semu

true deep

3. Model sruktur permukaan bawah batubara (floor batubara)


Model ini didapatkan dengan cara sama seperti pembuatan struktur roof, hanya
saja data yang dimasukkan adalah x, y dan z dari semua data floor batubara yang
[Link] data pengeboran & logging didapatkan nilai depth permukaan bawah
batubara (floor), kemudian dikonversi menjadi data elevasi berdasarkan data
topografi. Untuk lebih jelasnya lihat gambar diatas.
Semakin banyak titik bor yang ada, maka semakin rapat dan semakin detil untuk
pembentukan model struktur floor batubaranya. Setelah semua detil/titik roof
didapatkan nilai x,y dan z nya kemudian data tersebut dibuat model digitalnya
(DTM) dan disimpan dalam nama fila khusus, misal struktur_floor

4. Model sruktur roof & floor batubara pada multi seam


Seperti dijelaskan dalam bab pengenalan istilah di depan, seam merupakan
lapisan/layer batubara. Batubara terbentuk dalam beberapa lapis seam. Dalam
suatu lokasi jarang ditemui batubara yang ada hanya tediri dari 1 seam saja,
melainkan bisa terbentuk oleh 3-6 seam. Seam ini menggambarkan proses geologi
yang terjadi pada waktu pembentukan batubara. Lapisan yang paling tua terbentuk
di lapisan bawah, dan yang paling muda di bagian layer atas.
Untuk pembentukan model struktur yang terjadi pada multi seam, maka proses
pembentukan model juga mengikuti jumlah seam tersebut, jadi nantinya tidak
hanya akan terbentuk satu model struktur untuk roof, dan satu model struktur
untuk floor, melainkan bebrapa model roof dan beberapa model floor.

roof seam A

roof seam B
overburden

roof seam C
Interburden B

Interburden C
floor seam A

floor seam B

floor seam C

III. Penghitungan cadangan deposit/resourches batubara dan OB/IB


Setelah model struktur terbentuk (model topografi, model roof seam A-C, model floor
seam A-C) maka dapat dihitung cadangan/resourches batubara yang ada dan juga
jumlah OB/IB yang harus digali.

III.1 Penghitungan jumlah overburden


Untuk menghitung jumlah overburden yang harus digali, maka harus dipersiapkan
terlebih dahulu model sruktur untuk topografi dan model struktur untuk roof seam A.
Di dalam konsep pengitungan cadangan (volume), diperlukan 2 buah model surface
sebagai pembatas dari material yang akan dihitung. Sebagai contoh, akan dihitung
volume overburden pada gambar ( ) diatas. Overburden di batasi oleh struktur
topografi dan struktur roof seam A. Oleh karena itu diperlukan data model kedua
struktur tersebut. Dari kedua buah jenis model/surface ini kemudian digunakan untuk
menghitung jumlah Overburden dengan menggunakan software, misal surfer/surpac
(volume between 2 surface). Model disini bisa berupa kontur digital maupun
menggunakan DTM.
III.2 Penghitungan deposit/volume seam A
Untuk menghitung volume seam A maka diperlukan 2 data struktur yaitu struktur roof
seam A dan struktur floor seam A. Seam A dibatasi oleh 2 buah struktur yaitu struktur
roof seam A dan struktur floor seam A, sehingga dengan menggunanakn model kedua
struktur tersebut dapat dihitung volume depositnya.

III.3 Penghitungan volume interburden seam B


Untuk menghitung volume interburden seam B maka diperlukan 2 data struktur yaitu
struktur floor seam A dan struktur roof seam B. Interburden seam B dibatasi oleh 2
buah struktur yaitu struktur floor seam A dan struktur roof seam B, sehingga dengan
menggunakan model kedua struktur tersebut dapat dihitung volume IB untuk seam B.

III.4 Penghitungan deposit/volume seam B


Untuk menghitung volume seam B maka diperlukan 2 data struktur yaitu struktur roof
seam B dan struktur floor seam B. Seam B dibatasi oleh 2 buah struktur yaitu struktur
roof seam B dan struktur floor seam B, sehingga dengan menggunanakn model kedua
struktur tersebut dapat dihitung volume depositnya.

III.5 Penghitungan volume interburden seam C


Untuk menghitung volume interburden seam C maka diperlukan 2 data struktur yaitu
struktur floor seam B dan struktur roof seam C. Interburden seam C dibatasi oleh 2
buah struktur yaitu struktur floor seam B dan struktur roof seam C, sehingga dengan
menggunakan model kedua struktur tersebut dapat dihitung volume IB untuk seam C.

III.6 Penghitungan deposit/volume seam C


Untuk menghitung volume seam C maka diperlukan 2 data struktur yaitu struktur roof
seam C dan struktur floor seam C. Seam C dibatasi oleh 2 buah struktur yaitu struktur
roof seam C dan struktur floor seam C, sehingga dengan menggunanakn model kedua
struktur tersebut dapat dihitung volume depositnya.

Setelah semua seam batubara dihitung dan juga OB/IB nya maka dapat dicari jumlah
deposit total untuk batubaranya dan jumlah Ob total nya.

Coal deposit = Coal Seam A+coal seam B+coal Seam C


OB = volume OB + volume IB seam B + volume IB seam C
IV. Penghitungan nilai Stripping Ratio (SR) dan Pembuatan Garis Final
Wall

Penghitungan SR sangat penting untuk dasar pembuatan peta design


perencanaan tambang. SR menentukan suatu lokasi layak/tidak layak untuk
ditambang, dan jika layak sampai seberapa jauh progress stripping berlanjut ke arah
down deep batubaranya. Ketika nilai SR menyatakan layak bahwa suatu lokasi
tersebut ditambang maka perlu dibuat garis/batas finall wall yang merupakan batas
akhir dari sebuah penambangan.
SR merupakan nilai perbandingan antara jumlah tonnage batubara yang
didapatkan (satuan MT) dengan volume overburden yang harus digali (satuan BCM).
SR juga bisa diartikan jumlah overburden yang harus diambil untuk mendapatkan 1
MT batubara.
Nilai SR sangat bervariasi untuk berbagai lokasi dan jenis batubra yang ada.
Ada yang menerapkan batas SR yang ekonomis untuk ditambang adalah < 1 : 5,
artinya didapatkan 1 MT batubara dengan menggali sebesar 5 BCM overburden, dan
berlaku kelipatannya. Namun ada pula yang menentukan batasan SR sampai dengan
1:14. Hal ini terkait dengan harga/nilai jual tambang tersebut. Batubara mempunyai
beberapa jenis dan macam kualitasnya. Secara umum kualitas batubara bisa di ketahui
dengan 3 faktor, yaitu calori value (CV), kadar abu (ash) dan kadar sulfur. Nilai jual
batubara/kualitas batubara yang bagus adalah jika nilai CV nya tinggi (diatas 6000
kkal) , nilai kadar abunya rendah (<10) dan kadar sulfurnya rendah (<1.0). Nilai
jual/kualitas ini akan mempengaruhi besarnya SR yang efisien dan ekonomis, secara
sederhana jika harga batubara tinggi, dan harga operasional stripping OB tetap, maka
SR akan cenderung bisa naik (bahkan dibeberapa perusahaan menentukan SR 1:17).
Namun secara umum, SR yang ekonomis sampai saat ini adalah berkisar 1:12.
seam A OB

seam B

IB seam B

seam C
IB seam C

Diketahui
Volume (topografi-roof seam A) dengan boundary cropline seam A = 750.000 BCM
Volume (topografi-floor seam A) dengan boundary coprline seam A = 823,500 BCM
Volume (topografi-roof seam B) dengan boundary coprline seam B = 2,473,500
Volume (topografi-floor seam B) dengan boundary coprline seam B = 2,636,900
Volume (topografi-roof seam C) dengan boundary coprline seam C = 6,511,900
Volume (topografi-floor seam C) dengan boundary coprline seam C = 6,837,220

Jika densitas batubara ditetapkan sebesar 1.3 berapkah SR untuk area tersebut.??
Menurut anda, layak-kah area tsb ditambang? Jelaskan argumen anda

Jelaskan istilah berikut :


1. Low wall
2. Logging
3. Final wall
4. cropline
5. mine out
Dari contoh seperti gambar diatas didapatkan nilai SR adalah 1 : 10, bagaimana
caranya semisal nilai SR tersebut mau di turunkan manjadi 1 : 8 ? Bagaimana kita
mendesign sebuah areal penambangan dengan mengacu pada nilai SR sebesar 1 : 8?
Gambar dibawah akan menjelaskan bagaimana cara untukmerubah, menurunkan atau
bahkan menaikkan nilai SR pada sebuah areal penambangan.

garis SR/Final wall


pada SR 1:8

seam A
OB

seam B

a
seam C IB seam B b
garis SR/Final wall
pada SR 1:10
IB seam C

garis SR/Final wall


pada SR > 1:10

c
nilai SR cenderung makin
rendah ke arah updeep

nilai SR cenderung makin


tinggi ke arah downdeep

Pada gambar diatas tampak bahwa semakin ke arah updeep, maka jumlah OB yang
harus dikupas akan semakin sedikit, sehingga nilai SR akan bisa turun. Dari konsep
ini lah maka bisa ditentukan ke arah mana untuk merubah SR yang ada, nilai SR 1 : 8
kira-kira ada pada garis final wall (a), nilai SR 1 : 10 pada garis final wall (b), dan
garis final wall (c) memiliki nilai SR > 1:10.
Apakah selalu berlaku bahwa semakin ke arah updeep maka jumlah ON yang harus
dikupas akan semakin sedikit? Dan apakah SR akan selalu bisa turun pada arah ini?

permukaan topografi

Garis SR (a)

Garis SR (b)

up deep

down deep
Dari gambar diatas bisa dilihat bahwa pada arah down deep justru jumlah OB yang
diharus dikupas semakin kecil, hal ini karena struktur topografinya yang semakin
merendah pada arah down deep. Akan tetapi kejadian seperti ini sangat jarang
ditemui.
Sehingga dalam penentuan garis SR maka harus diperhatikan juga permukaan
topografinya. Penghitungan SR hanya bisa dilakukan setelah model topografi dan
model batubara sudah terbentuk dan dihitung masing-masing volume/tonnage-nya.
Pembuatan model batubara disini harus menyertakan pula model final wall-nya.
Sehingga 2 surface yang digunakan untuk menghitung SR adalah (1)surface topografi
dan (2) surface batubara+final wall yang menjadi satu bagian.

Dalam pembuatan garis final wall harus diperhatikan adanya batasan slope yang harus
dipatuhi untuk mencegah adanya longsoran tanah akibat terlalu curamnya slope yang
terbentuk. Nilai slope ditentukan dengan uji geoteknik pada jenis tanah/batuan di
sekitar lokasi penambangan. Nilai slope bervariasi dari 0 s/d 90. Juga diperhatikan
adanya nilai single slope dan overall slope sebelum melakukan design final wall.

slope lebar berm

tinggi berm

overal slope p
lebar berm

y
lebar berm

x
Contoh
Dari gambar diatas ditentukan single slope (slope) sebesar 54 , lebar berm 10m dan
tinggi berm 8m. Hitung overall slopenya.?

Jawab :
Besar sudut slope adalah 54, berarti = 90 - 54 =36 . Untuk menghitung overall
slopenya maka perlu dicari nilai x dan y. Nilai y diketahui dari tinggi masing-masing
berm yaitu 8m. Sehingga y = 4 x 8 = 32 m. Sedangkan untuk mencari x maka harus
dicari terlebih dahulu besar p yang mempunnyai harga sama pada tiap-tiap bench.
Sehingga x = (3 x 10) + 4p. Besar p adalah Tgn = Tinggi berm : p, Tgn 36 = 8 : p,
maka p = 11.01
Sehingga x = (3 x 10) + (4 x 11.01) = 74.04

Tan = y : x = 32 : 74.04, sehingga = 23.37

Selain pembuatan final wall, salah satu unsur lain yang sangat penting untuk bisa
menghitung SR adalah cropline. Cropline merupakan garis intersect (perpotongan)
antara struktur topografi dengan struktur batubara pada arah up deep. Jadi cropline
adalah kebalikan dari final wall. Jika Final wall adalah garis akhir penambangan pada
arah down deep, maka croplinee adalah garis awal penambangan yang ada pada arah
up deep. Penambangan dilakukan/dimulai dari arah cropline menuju ke arah final
wall.
Cara pembuatan cropline adalah dengan memtongkan dua bidang/surface yaitu antara
surface batu bara roof per seam dengan surface topografi.

Cara pembuatan garis SR / final wall dan cropline akan dipelari dalam praktikum.

Latihan :

Diketahui satruktur batubara mempunyai deep/kemiringan pada arah Utara-Barat


30. Diketahui pula dari data bor bahwa pada lokasi tersebut mengandung 2 jenis
seam, yaitu seam E dan seam F dengan elevasi outcrop seam E yang muncul
dipermukaan tanah adalah pada RL 40 dan seam F pada RL 30.
Akan di design garis final wall pada areal tersebut dengan data sbb : elevasi roof
seam F pada arah down deep (final wall) adalah pada RL 20 dan elevasi topografi
pada RL 54
a. Buatlah tampang melintang dari struktur tersebut, dan designlah sebuah garis
final wall, berapa bench yang harus dibutuhkan jika slope yang dianjurkan
adalah sebesar 54 lebar berm 10m dan tinggi berm 8m. Hitung juga overall
slope nya.
b. Dengan metode cross section, hitunglah volume OB dan tonnage batubara
seam E dan F, massa jenis batubara : 1.3 dengan data sbb :
Luas tampang melintang untuk OB adalah sebesar 80.211 m2, dengan
panjang tampang adalah 10m. Hitung vol OB nya
Luas tampang melintang untuk seam E adalah sebesar 6.112 m2, dengan
panjang tampang adalah 10m. Hitung tonnage seam E.
Luas tampang melintang untuk IB adalah sebesar 58.161 m2, dengan
panjang tampang adalah 10m. Hitung volume IB
Luas tampang melintang untuk seam F adalah sebesar 5.060 m2, dengan
panjang tampang adalah 10m. Hitung tonnage seam F.
c. Hitung nilai SR untuk seam E
d. Hitung nilai SR untuk seam F
e. Hitung nilai SR total.

Anda mungkin juga menyukai