0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
60 tayangan37 halaman

Uji Kekuatan Geser Tanah Lempung

Bab VI membahas tentang uji kekuatan geser tanah yang dilakukan untuk mengetahui kekuatan tanah menahan beban dan geser, serta hubungannya dengan daya dukung tanah, tegangan dinding penahan, dan kestabilan lereng. Uji ini penting untuk menjamin keamanan dan kualitas bangunan. Metode uji meliputi uji terkonfinasi dan tak terkonfinasi untuk menentukan kohesi dan sudut geser tanah.

Diunggah oleh

wieirra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
60 tayangan37 halaman

Uji Kekuatan Geser Tanah Lempung

Bab VI membahas tentang uji kekuatan geser tanah yang dilakukan untuk mengetahui kekuatan tanah menahan beban dan geser, serta hubungannya dengan daya dukung tanah, tegangan dinding penahan, dan kestabilan lereng. Uji ini penting untuk menjamin keamanan dan kualitas bangunan. Metode uji meliputi uji terkonfinasi dan tak terkonfinasi untuk menentukan kohesi dan sudut geser tanah.

Diunggah oleh

wieirra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB VI

UNCONFINED COMPRESSION TEST

I. LATAR BELAKANG

Untuk membuat bangunan teknik sipil perlu kita pelajari kondisi tanah masing

masing dan perlu juga dipelajari sifatsifat tanah. Sifatsifat tanah dibagi dalam tiga

golongan yaitu fisik, sifat mekanis, dan sifat hidrolis.

Adapun sifat sifat tanah antara lain :

a. Konsolidasi

Pada konsolidasi dihitung dari perubahan isi pori tanah akibat beban. Sifat ini

diperlukan untuk penurunan bangunan.

b. Kekuatan geser

Untuk menentukan kemampuan tekan tanah tanpa mengalami keruntuhan. Sifat ini

dibutuhkan dalam perhitungan stabilitas pondasi / dasar yang dibebani, stabilitas isian

/ timbunan di belakang penahan tanah dan stabilitas timbunan tanah.

Pengetahuan mengenai kekuatan geser tanah sangat penting dalam teknik sipil hal

ini terutama untuk mengetahui daya dukung tanah, tegangan tanah terhadap dinding

penahan dan kestabilan lereng. Untuk mengenai dan menjawab ketiga faktor tersebut,

maka perlu diadakan percobaan Unconfined Compression Test. Dan mengenai ketiga

faktor tersebut, maka segi keamanan bangunan dapat terjamin dan kualitas dapat

dipertanggung jawabkan.

II. PERUMUSAN MASALAH


1. Apa hubungan daya dukung tanah dengan kekuatan geser ?

2. Apa hubungan tegangan tanah terhadap dinding penahan dengan kekuatan geser ?

3. Apa hubungan kestabilan lereng dengan kekuatan geser ?

4. Apa hubungan antara pondasi dengan kekuatan geser ?

III. MAKSUD DAN TUJUAN

1. Untuk mengetahui apakah tanah yang bersangkutan cukup buat menahan beban

pondasi tanpa terjadi keruntuhan akibat menggeser dan mengetahui penurunan tanah

yang tergantung macam tanahnya.

2. Untuk mengetahui tegangan yang terjadi dalam lapisan tanah baik tegangan tanah

horisontal maupun tegangan tanah vertikal yang tergantung pada berat isi tanah,

kedalaman dan koefisien tanah.

3. Untuk mengetahui kestabilan lereng dan kemantapan lereng baik lereng alam, lereng

yang dibuat dalam tanah asli atau lereng dari tanah yang dipadatkan dari

kemungkinan timbulnya kelongsoran akibatnya terletak pada bidang gelincir dan

bidang dasar.

4. Untuk mengetahui apakah tanah tempat mendirikan rencana pondasi cukup kuat

menahan beban pondasi dan bangunan diatasnya.

IV. INTRODUKSI TEORI

Keruntuhan geser dalam tanah adalah akibat gerak relatif antar butiran. Oleh

karena itu kekuatan tanah tergantung pada kekuatan geser yang bekerja pada tanah

tersebut. Maka kekuatan geser tanah terdiri dari dua bagian :


1. Bagian yang bersifat kohesi, yang tergantung pada macam tanah serta kepadatan

butiran.

2. Bagian yang mempunyai gerakan yang sebanding dengan tegangan efektif yang

bekerja pada bidang geser.

Maka didapat rumus :

S = c + ( - u ) tg

Dimana : c = kohesi

= tegangan total pada bidang geser

u = tegangan air pori

= sudut perlawanan geser

S = kekuatan geser tanah

Dalam percobaan, kekuatan geser dilakukan dalam 2 tanah :

1. Tingkat I, yaitu dengan pemberian tegangan normal.

2. Tingkat II, yaitu pemberian tegangan geser sampai terjadi keruntuhan akan sampai

mencapai tegangan geser maksimum.

Untuk bangunan yang sangat besar C, , , sebaiknya dilakukan dengan pengukuran

laboratorium

Percobaan ini banyak dipakai untuk mengukur Unconfined Compression Test dari tanah

lempung atau lanau, bilamana lempung mempunyai derajat jenuh 100 % maka kekuatan

geser dapat ditentukan langsung dari kekuatan unconfined.

Kalau qu = confined compression test maka :

qu
Cu = kg / cm 2
2
Cu = kekuatan geser undrained, kecepatan strain rate untuk percobaan ini biasanya

digunakan 1 % per menit.

Percobaan kekuatan geser dapat dibagi tiga macam yaitu :

1. Undrained Test ( percobaan tertutup )

2. Pada percobaan ini tidak diperbolehkan mengalir dari contoh sama sekali, baik pada

air tingkat pertama maupun tingkat kedua. Tegangan air pori biasanya tidak diukur

pada percobaan semacam ini. Dengan demikian hanya kekuatan geser undrained (

Undrained shear strength ) yang dapat ditentukan dengan percobaan ini.

3. Consolidation Undrained Test

4. Pada percobaan ini contoh diberikan tegangan normal dengan air diperbolehkan

mengalir dari contoh. Tegangan normal ini bekerja sampai konsolidasi selesai, yaitu

sampai tidak terjadi percobaan pada isi sampel tanah. Kemudian jalan air dari contoh

tanah ditutup dan contoh diberi tegangan geser secara undrained yaitu secara tertutup

dengan tegangan normal masih bekerja biasa, tegangan air pori diukur selama

tegangan geser ini diberikan.

5. Drained test ( percobaan terbuka )

6. Pada percobaan ini contoh diberikan tegangan normal dari air diperbolehkan mengalir

sampai konsolidasi selesai.

7. Kemudian tegangan geser diberikan dengan jalan air tetap terbuka, yaitu pergeseran

dilakukan secara drained ( secara terbuka ). Untuk menjaga supaya tegangan pori

tetap nol. Maka percobaan harus perlahan lahan. Pada percobaan consolidation

undrained dan drained kita mengetahui nilai c dan karena sudah diketahui nilai
tegangan pori dan tegangan efektif sedang pada undrained adalah mengukur kekuatan

geser.

UJI KEKUATAN GESER

a. Lempung

Untuk mendapat nilai c dan pada tanah lempung percobaan percobaan

consolidation undrained yang dipakai. Bilamana plastisitas tanah lempung tersebut

agak rendah sehingga lebih mudah dirembesi air, maka percobaan drained juga dapat

dipakai untuk mendapat c dan . Harga c dan untuk lempung mempunyai variasi

yang agak besar. Secara garis besar harga c yang kecil sekali ( hampir sama dengan

nol ). Makin besar derajat over consolidation maka makin besar harga c harga

diameter secara garis besar tergantung pada besarnya fraksi lempung, maka makin

kecil , makin besar fraksi lempung.

b. Pasir

Percobaan pada pasir biasanya dilakukan secara drained ( terbuka. Karena pasir tidak

mempunyai kohesi maka nilai C selalu nol. Nilai tergantung terutama pada

kepadatan pasir tetapi dipengaruhi juga oleh gradasi. Pasir yang pada mempunyai

nilai kira kira antara 40 sampai 45, sedangkan pasir yang tidak padat

mempunyai nilai sekitar 30.

1. Hubungan Daya Dukung Tanah dengan Kekuatan Geser


Bilamana beban diatas sebuah pondasi ditambah sedikit demi sedikit,

maka pondasi tersebut akan turun. Besarnya penurunan pada setiap penambahan

beban dapat ditentukan sehingga dapat dibuat grafik penambahan beban. Bila

tanah agak keras atau padat maka tanah tersebut akan membentuk seperti garis

Q1. Dalam hal ini ternyata tegangan terbesar yang dapat ditahan pondasi tersebut

sebesar q1. Tegangan ini disebut daya dukung keseimbangan. Bila tanah lunak /

lepas bentuk grafiknya seperti garis Q2 , dimana daya dukung keseimbangan tidak

punya harga tertentu atau tidak punya batas yang jelas. Harga tegangan yang

diambil pada titik dimana lengkungan maksimum dari grafik tersebut dengan q2

dianggap sebagai daya dukung keseimbangan. Cara praktis yaitu dengan

mengambil contoh tanah asli. Untuk menentukan kekuatan geser dilakukan di

laboratorium. Kemudian nilai kekuatan geser dipakai. Untuk menghitung daya

dukung tanah dengan teori daya dukung tanah, diantaranya teori Terzaghi, yang

menghasilkan rumus :

q = ( c x Nc ) + ( x d N q ) + ( x x BN )

Dimana :

q = daya dukung keseimbangan

B = lebar pondasi

d = dalam pondasi

= berat isi tanah

c = kohesi

N = sudut perlawanan

N c , N q , N r = faktor daya dukung yang tergantung pada


FAKTOR FAKTOR DAYA DUKUNG

1. Daya dukung untuk tanah lempung

Rumus kekuatan geser yang dipakai pada teori daya dukung diatas mengandung nilai

tegangan air tanah. Rumus kekuatan geser yang dimaksud S = c + tg

Sebenarnya tepat bila tidak ada tegangan air pori, kalau ada tegangan air pori maka

itu harus juga diperhitungkan. Untuk lapisan lempung pembuatan bangunan diatasnya

akan selalu menimbulkan tegangan air pori, yang mana tidak akan segera menyusut.

Biasanya waktu yang diperlukan untuk penyusutan tegangan air pori jauh lebih lama

dari pada waktu yang diperlukan untuk mendirikan bangunan di atasnya. Hal ini

berarti bahwa kekuatan geser lempung tidak akan banyak mengalami perubahan

selama pembangunan gedung tersebut. Oleh karena itu daya dukung lempung

biasanya dihitung dengan memakai nilai kekuatan geser, yaitu kekuatan geser

undrained dengan cara ini sudut geser dianggap nol dan kekuatan geser S = 0.

Jika = c, maka rumus Terzaghi menjadi :

q = c . Nc + . d

Dimana : c = kohesi

Nc = faktor daya dukung yang tergantung pada

= berat istirahat tanah

d = dalam pondasi

Nilai Nc ini diperoleh berdasarkan pada teori maupun pengalaman lapangan. Untuk

pondasi dangkal nilai Nc diambil menurut Terzaghi sedangkan untuk pondasi dalam

nilai Nc diambil menurut Meyer Hoof. Untuk pondasi lingkaran atau bujur sangkar
nilai NC mendekati q. Bila dalamnya pondasi 4 kali lebih lebar pondasi ( Menurut

Skempton ).

2. Daya Dukung Pasir.

Untuk pasir yang telah mengandung lempung maka nilai C = O, sehingga rumus

tercapai menjadi :

q = . d . N q + . . B . N

Untuk pondasi pada permukaan tanah :

q = . . B . N

Dimana :

BN = sumbangan terhadap daya dukung akibat berat sendiri tanah.

D Nq = sumbangan dari tekanan akibat beban

Jadi pondasi izin pasir tergantung pada kerapatan relatif, sejarah tegangan, posisi

muka air tanah relatif terhadap elevasi pondasi dan ukuran pondasi, serta bentuk

partikel dan gradasinya.

TEKANAN TANAH PADA DINDING

Menurut cara Rankine jika dinding dianggap licin ( smooth ), tidak ada gaya gesekan

maka Ka dan Kp dapat dihitung langsung. Untuk menentukan tegangan horizontal kita

pakai kekuatan geser tanah, karena tanah adalah dalam keadaan keruntuhan. Bentuk

rumus kekuatan geser tanah kita rubah sehingga mengandung tegangan tegangan utama

( principal shees ) bukan tegangan geser seperti biasanya. Menurut teori Rankine, tanah

di dalam daerah ABC adalah keadaan keruntuhan. Dalam keadaan aktif, tegangan
vertikal didalam tanah adalah tegangan utama besar ( 1 = h ). Dan tegangan horizontal

adalah tegangan utama kecil ( 3 = a ). Jika C tidak sama dengan 0 ( C 0 )

1 sin
N0
1 sin

h 2c
Jadi : a =
N0 N0

Dimana :

a = tegangan aktif

= berat isi tanah

h = kedalaman

= sudut geser

c = kohesi

Dalam keadaan tanah positif tegangan horizontal adalah yang menjadi tegangan utama

besar ( 1 = p ) dan tegangan vertikal menjadi kecil ( 3 = h ).

Jadi : p = h . N + 2c . N

Dimana :

p = tegangan rankine pasif

= tegangan horizontal

= sudut geser

c = kohesi

Gaya total pada dinding dalam keadaan aktif sebesar :

h 2c

H
Pa =
O N


. h
N
H 2 2cH
=
2 N N

Dimana : Pa = gaya aktif normal

H = kedalaman ( tinggi dinding )

Gaya total dalam keadaan pasif ialah :

P p = H 2 , N + 2 cH N

Dimana : P p = gaya pasif total

Dalam hal tanah tidak berkohesi ( c = 0 ) maka tegangan pada dinding sebagai

berikut :

h H 2
a = dan Pa =
N 2 N

juga P = h . N dan P p = h

Dimana :

P = tegangan pasif

a = tegangan aktif

= berat isi tanah

N = faktor daya dukung

H = kedalaman

P a = gaya aktif total

P p = gaya pasif total

1
Gaya P a dan P p yang bekerja pada fungsi dinding.
3
1. Hubungan antara tegangan tanah terhadap dinding penahan dengan kekuatan

geser.

Dalam setiap lapisan tanah dalam keadaan asli terdapat horizontal. Biasanya tegangan

horizontal lebih kecil dari tegangan vertikal.

Yaitu : h = Ko . v

= Ko . h

Dimana h = tegangan tanah horizontal

v = tegangan tanah vertikal

h = kedalaman

= berat isi tanah

K o = koefisien tanah

Nilai K 0 untuk beberapa tanah :

Pasir 0,35

Pasir lepas 0,45

Lempung Normally Consolidate 0,4 0,8

Lempung oven consolidated 0,8 2,0

Pada pembuatan dinding penahan, terlebih dahulu mengatakan penggalian tanah.

Setelah kita mengisolasikan kembali tanah di belakang dinding. Apabila dinding kaku

( rigid ) maka tegangan yang bekerja sebesar h = K 0 . h. Pada umumnya

dinding penahan tidaklah dianggap kaku dan sedikit banyak akan bergerak ( deform )
ke depan pada waktu pemimpin tanah di belakangnya, akibatnya deformasi cukup

besar sehingga tercapai keadaan keruntuhan dalam tanah. Tegangan yang bekerja

disebut tegangan tanah aktif. Dan juga beberapa keadaan dimana dinding ditekan

sehingga bergerak ke belakang maka tegangan tanah menjadi lebih besar dari K0

.h. Sedang tegangan tanah pasif adalah tegangan tanah yang mencapai keadaan

runtuh.

Keadaan tanah pasif ini tanah ditekan sebenar-benarnya oleh dinding. Sedang

keadaan aktif dinding ditekan oleh tanah. Bila dinding dipegang teguh sampai tak

bergerak kedepan, tegangan akan menurun sebesar Ka x h, dimana Ka adalah

koefisien tegangan aktif dan apabila dinding ditekan supaya bergerak ke belakang (

yaitu ke arah tanah yang ditekan ), maka tegangan akan naik sampai menjadi Ka x h,

dimana Ka adalah koefisien tegangan aktif.

2. Hubungan antara kestabilan lereng dengan kekuatan geser.

Dalam teknik sipil adalah 3 macam lereng :

a. Lereng alam :

Yaitu lereng yang terbentuk karena proses-proses alam misalnya lereng bukit.

b. Lereng yang dibuat dalam tanah asli

Bilamana tanah dipotong untuk pembuatan jalan atau saluran air.

c. Lereng yang dibuat dari tanah yang dipadatkan, misalnya tanggul untuk

bendungan.

Pada setiap lereng kemungkinan terjadi kelongsoran selalu ada. Sering kita melihat

tanah longsoran dan secara umum telah mengetahui bentuk tanah longsor. Jelas
bahwa tanah yang longsor itu bergerak pada bidang tertentu. Bidang ini disebut

bidang gelincir ( shift surface ) atau ( shear surface ).

Beberapa bidang longsor :

a. Rotational slide : Bidang gelincir berbentuk busur lingkaran.

b. Translation surface : bidang hampir lurus.

c. Surface slide : tanah longsor yang terjadi pada bidang yang dangkal.
d. Deep slide : bidang gelincir yang dalam.

Bilamana terjadi tanah longsor, maka dalam hal ini kekuatan geser akan terlampaui

yaitu perlawanan geser pada bidang gelincir tidak cukup untuk menahan gaya

gaya yang bekerja pada bidang tersebut. Secara umum digunakan rumus :

S = c + ( U ) tg

Dimana : S = kekuatan geser tanah

U = tegangan air pori

= tegangan normal

c = kohesi

= sudut geser

Kekuatan geser pada bidang longsor

Rumus ini S = c + ( - U ) tg digunakan untuk menentukan kekuatan

geseran tanah pada bidang manapun asal kohesi dan sudut geser diketahi.

Cara untuk menentukan kemantapan lereng dengan memperhitungkan

tegangan pori dengan rumus di atas, disebut Effective stress Analysis yaitu

perhitungan berdasarkan tegangan efektif sedang, sebelum perhitungan

kemantapan lereng, memakai rumus kekuatan geser yang memperhitungkan

tegangan total bukan tegangan air pori.


Cara cara menstabilkan lereng

a. Memperkecil momen penggerak atau gaya penggerak.

Membuat lereng lebih datar yaitu mengurangi sudut kemiringan.

Memperkecil ketinggian lereng.

b. Memperbesar gaya melawan atau momen melawan

Dengan memakai counter weight tanah timbunan pada kaki lereng.

Dengan mengurangi tegangan air pori di dalam lereng.

Dengan mekanis, dengan memasang tiang atau dengan membuat

dinding penahan.

Dengan cara injeksi yaitu bahan kimia atau semen yang dipompa

melalui pipa supaya masuk ke dalam lereng.

3. Hubungan antara perencanaan pondasi dengan kekuatan geser.

Pada umumnya pondasi bangunan dapat bidang dalam 2 golongan utama :

A. Pondasi Dalam

Pondasi ini dibagi menjadi 2 macam :

Pondasi sumuran

Pondasi ini dipakai bertujuan supaya berat bangunan dapat dipikul oleh

lapisan keras yang terlampau dalam, pondasi ini dipakai bila lapisan keras

terdapat pada kedalaman 2 3 m.

Beban yang diperbolehkan di atas sumuran dihitung dengan :

Qa = qa . A

Qa = tegangan yang diperbolehkan di atas tanah pada dasar sumuran.

A = luas sumuran.
Pondasi tiang

A. Tiang Tunggal

Pondasi ini digunakan bila bagian atas tanah sedikit lembek sehingga tidak

cukup kuat memikul bangunan dengan memakai pondasi langsung. Cara

untuk menentukan daya dukung tiang adalah dengan melakukan

percobaan pembebanan tiang.

B. Tiang group

Jika kelompok tiang terdiri dari point bearing piles maka memang cukup

tepat bila daya dukung kelompok dianggap sama dengan daya dukung

sebuah tiang tiang tersendiri dikalikan jumlah tiang. Daya dukung

kelompok ( Qt ) adalah :

Qt = c . Nc . A + 2 ( b + y ) . Lc

Dimana : C = kekuatan geser tanah

Nc = faktor daya dukung

L = kedalaman tiang

b = lebar kelompok

y = panjang kelompok

A = luas kelompok

B. Pondasi dangkal.

Pondasi langsung di atas lempung.


Penentuan daya dukung dengan tepat tergantung pada telitinya pengukuran

contoh tanah asli untuk percobaan undrained compression di laboratorium.

Nilainya diambil dari dari kekuatan unconfined compresionnya.

Pondasi langsung diatas pasir.

Daya dukung lapisan ditentukan dengang mengambil contoh asli untuk

pengukuran c dan di laboratorium. Lalu nilai itu dimasukkan rumus daya

dukung Terzaghi.

Pondasi plat.

Cara perencanaannya sama seperti pondasi langsung. Pondasi plat diatas pasir

akan mengalami penurunan yang kurang lebih sama (bagian tengah

penurunannya tidak akan lebih besar dari penurunan bagian pinggir).

Sedangkan diatas lempung bagian tengah akan mengalami penurunan yang

lebih besar.

V. ALAT DAN CARA KERJA

1. Alat alat :

a. Alat Unconfined compression Test

b. Stop watch

c. Mistar dan busur derajat

d. Pisau untuk meratakan

2. Persiapan

a. Contoh dari tabung dikeluarkan

b. Contoh dicetak dengan trimming

3. Cara Kerja :
a. Sampel diletakkan tegak lurus

b. Dial pada proving ring distel dan harus menunjukkan angka nol.

c. Setelah siap, dilaksanakan pemutaran pada tangkai dongkrak perlahan-lahan serta

pada waktu memutar bersamaan dengan pemasangan stop watch.

d. Kedua dial harus dilihat atau diperhatikan dan dicatat pada waktu berhenti dan

sampel sudah pecah dan stop watch dimatikan.

e. Dongkrak diangkat kembali contoh tanah diambil dengan hati-hati supaya sudut

pecahnya tetap sesudah itu diukur dengan busur derajat.

f. Contoh yang telah hancur dicetak lagi untuk di kompres dalam keadaan tidak asli.

VI. PERHITUNGAN

Kedalaman 1 1,5 meter

1) Diameter contoh = 5 cm

2) Tinggi contoh = 10 cm

3) Luas = . D = . 3.14 . ( 5 )

= 19,625 cm

4) Isi contoh = luas x tinggi

= 19,625 x 10

= 196,25 cm

5) Berat contoh = 343 gr


343
6) Berat isi ( b ) = = 1,748 gr / cm
196,25

7) Berat cawan ( a ) = 5,8 gr

8) Berat basah + cawan ( b ) = 348,8 gr

9) Berat kering + cawan ( c ) = 293,0 gr

10) Berat contoh basah = 343,0 gr

11) Berat contoh kering = 287,2 gr

bc 348,8 293,0
12) Kadar air ( w ) = x 100% = x 100%
ca 293,0 5,8

= 19,43 %

1. Sampel Asli
a. Mencari beban ( kg )
Beban = pembacaan dial x kalibrasi ( 1,824 )

Regangan Pembacaan dial x kalibrasi Beban


(%) ( kg )
0,00 0,0 x 1,824 0
0,50 1,0 x 1,824 1,82
1,00 1,3 x 1,824 2,37
2,00 2,0 x 1,824 3,65
3,00 2,3 x 1,824 4,20
4,00 2,4 x 1,824 4,38
5,00 2,5 x 1,824 4,56
6,00 3,0 x 1,824 5,47
7,00 3,3 x 1,824 6,02
8,00 3,9 x 1,824 7,11
9,00 4,0 x 1,824 7,30
10,00 4,1 x 1,824 7,48
11,00 4,9 x 1,824 8,94
12,00 4,9 x 1,824 8,94
13,00 4,8 x 1,824 8,76

b. Mencari luas koreksi ( cm )


Luas koreksi = angka koreksi x luas semula

Regangan Angka koreksi x Luas semula Luas koreksi


(%) ( cm )

0,00 1,000 x 19,625 19,625


0,50 1,005 x 19,625 19,723
1,00 1,010 x 19,625 19,821
2,00 1,020 x 19,625 20,018
3,00 1,031 x 19,625 20,233
4,00 1,042 x 19,625 20,449
5,00 1,053 x 19,625 20,665
6,00 1,064 x 19,625 20,881
7,00 1,075 x 19,625 21,097
8,00 1,087 x 19,625 21,332
9,00 1,099 x 19,625 21,568
10,00 1,111 x 19,625 21,803
11,00 1,123 x 19,625 22,039
12,00 1,137 x 19,625 22,314
13,00 1,149 x 19,625 22,549

c. Mencari tegangan ( qu ) kg / cm
Tegangan = beban : luas koreksi

Regangan Beban : Luas koreksi Tegangan


(%) ( kg/cm )

0,00 0 : 19,625 0
0,50 1,82 : 19,723 0,092
1,00 2,37 : 19,821 0,120
2,00 3,65 : 20,018 0,182
3,00 4,20 : 20,233 0,208
4,00 4,38 : 20,449 0,214
5,00 4,56 : 20,665 0,221
6,00 5,47 : 20,881 0,262
7,00 6,02 : 21,097 0,285
8,00 7,11 : 21,332 0,333
9,00 7,30 : 21,568 0,338
10,00 7,48 : 21,803 0,343
11,00 8,94 : 22,039 0,406
12,00 8,94 : 22,314 0,401
13,00 8,76 : 22,549 0,388

d. Mencari Cu
Cu = x q u asli
= x 0,406
= 0,203 kg / cm2.

VII. KESIMPULAN

Dari penelitian Unconfined Compression yang kami lakukan memperoleh hasil :

Pada kedalaman 1 1,5 meter

- Berat isi tanah ( b ) : 1,748 gr / cm

- Kadar air ( w ) : 19,43 %

- qu maks sampel asli : 0,406 kg / cm

( Termasuk tanah yang memiliki derajat sensitivitas rendah karena kepekatan ( < 2 ).
BAB IX

DIRECT SHEAR TEST

I. LATAR BELAKANG

Kedalaman geser tanah merupakan penentu yang dapat menimbulkan kelongsoran

tanah. Untuk itu pengetahuan mengetahui berat geser tanah sangat diperlukan dalam bidang

teknik sipil, yaitu untuk menghitung :

1. Daya dukung tanah.

2. Tegangan tanah terhadap dinding penahan.

3. Kestabilan lereng.

Kestabilan lereng Keruntuhan geser dapat terjadi bila suatu titik pada sembarang

bidang dan suatu masa tanah memiliki tegangan besar yang sama dengan kekuatan

gesernya. Keruntuhan akibat kuat geser tanah dapat dihindarkan dengan merekayasa 3 hal

diatas, maka untuk mengetahui kuat geser tanah dilakukan percobaan direct shear.

II. PERUMUSAN MASALAH

Berapa besar kohesi tanah ( c ) ?

Berapa besar sudut geser tanah ( ) ?

Berapa besar tegangan normal ( n ) ?

Berapa besar tegangan geser ( s ) ?

III. TUJUAN PENELITIAN

3.1. Mencari besar kohesi ( c ).


3.2. Mencari besar sudut geser tanah ( O ).

3.3. Mencari tegangan normal ( n ).

3.4. Mencari besar tegangan geser ( s ).

IV. INTRODUKSI TEORI

Keruntuhan geser dalam tanah adalah gerak relatif antara butirannya. Untuk kekuatan

tanah tergantung pada yang bekerja antara butirannya. Untuk itu kekuatan geser tanah terdiri

dari 2 bagian, yaitu :

Bagian yang bersifat kohesif tergantung pada macam tanah dan kepadatan butirannya.

Bagian yang mempunyai gesekan sebanding dengan tegangan efektif yang bekerja pada

bidang geser.

Rumus :

S = C + ( - U ) tg

Dimana : S = kekuatan geser ( hg / cm )

c = kohesi ( kg / cm )

= sudut geser ( )

= tegangan total pada bidang geser ( kg / cm )

U = tegangan air pori ( kg / cm )

Dalam percobaan kekuatan geser biasanya dilakukan dalam dua tingkat :

a. Tingkat pertama : dengan pemberian tegangan normal ( n )

b. Tingkat kedua : dengan pemberian tegangan geser sampai terjadi keruntuhan yaitu

sampai tercapai tegangan geser maksimum ( s max ).

Dalam teknik sipil adalah 3 macam lereng :


a. Lereng alam :

Yaitu lereng yang terbentuk karena prosesproses alam misalnya lereng bukit.

b. Lereng yang dibuat dalam tanah asli

Bilamana tanah dipotong untuk pembuatan jalan atau saluran air.

c. Lereng yang dibuat dari tanah yang dipadatkan, misalnya tanggul untuk bendungan.

Pada setiap lereng kemungkinan terjadi kelongsoran selalu [Link] kita melihat

tanah longsoran dan secara umum telah mengetahui bentuk tanah longsor. Jelas bahwa tanah

yang longsor itu bergerak pada suatu bidang [Link] ini disebut bidang gelincir (shift

surface) atau (shear surface).

Beberapa bidang longsor :

a. Rational slide : Bidang gelincir berbentuk bidang lingkaran.

b. Translation surface : bidang hampir lurus.


c. Surface slide tanah longsor yang terjadi pada bidang yang dangkal.

d. Deep slide bidang gelincir yang dalam.

Sedangkan peralatan pengujian meliputi kotak geser dari besi, yang berfungsi sebagai

tempat benda uji. Kotak geser tempat benda uji dapat berbentuk bujur sangkar maupun

lingkaran,dengan luas kira-kira 19,35 cm sampai 25,8 cm dengan tinggi 2,54 cm (1").
Kotak terpisah menjadi dua bagian yang sama. Tegangan normal pada benda uji diberikan

dari atas [Link] geser diterapkan pada setengah bagian atas dari kotak geser untuk

memberikan geseran pada tengah-tengah benda uji.

Pada benda uji yang kering, kedua batu tembus air (porous) tidak diperlukan. Selama

pengujian, perpindahan akibat geser ( L) dari setengah bagian atas kotak geser dan

perubahan tebal ( h ) benda uji dicatat.

Alat uji geser langsung dapat dibentuk bujur sangkar . Kotak pengujian dapat

bervariasi dari yang luasnya 100 x 100 mm sampai 300 x 300 mm. Kotak geser dengan

ukuran yang besar digunakan untuk pengujian tanah dengan butiran yang berdiameter lebih

besar.

Terdapat beberapa batasan maupun kekurangan dalam pangujian geser langsung,

antara lain :

1. Tanah benda uji dipaksa untuk melawan keruntuhan ( fail ) pada bidang yang telah

ditentukan sebelumnya.

2. Distribusi tegangan pada bidang kegagalan tidak uniform.

3. Tekanan air pori tidak dapat diukur.

4. Deformasi yang diterapkan pada benda uji hanya sebatas pada gerakan maksimum

sebesar alat geser langsung dapat digerakan.

5. Pola tegangan pada kenyataan adalah sangat kompleks dan arah dari bidang-bidang

tegangan utama ber-rotasi ketika regangan geser ditambah.

6. Drainase tidak dapat dikontrol, (hanya dapat ditentukan kecepatan penggeserannya).


7. Luas bidang kotak antara tanah dikedua setengah bidang kotak geser berkurang ketika

pengujian berlangsung. Koreksi mengenai kondisi ini diberikan oleh Petley (1966).

Tetapi pengaruhnya sangat kecil pada hasil pengujian, sehingga dapat diabaikan.

V. METODOLOGI PENELITIAN

i. Alat-alat

Alat-alat :

a. Direct shear test apparatus.

b. Anak timbangan (pembebanan).

c. Stop watch.

d. Pisau/alat pemotong atau pencetak.

ii. Persiapan

a. Alat direct shear test sudah disiapkan dan stop watch serta dial harus menunjukan

angka nol, anak timbangan atau pembebanan dimulai dari yang ringan (0,5 kg/cm

- 1,5 kg/cm).

b. Contoh tanah (sample) dicetak dan dimasukan ketempatnya.

iii. Cara Kerja :


a. Beban vertikal (normal) dipasang guna mendapatkan tegangan normal (n) dan

alat pemutar mulai dilaksanakan guna mendapatkan tegangan geser (s)

bersamaan dengan pemasangan stop watch.

b. Pada waktu sudah menggeser jarum dial berhenti dan dicatat (dua gerakan dial).

c. Percobaan dilakukan beberapa kali dengan beban yang berbeda-beda untuk

penggambaran.

VI. PEMBAHASAN MASALAH

6.1. Beban normal (p) dibagi luas penampang sampel untuk mendapatkan tegangan normal

(n).

6.2. Penunjuk dial (angka yang dicatat) pada provigring dikalikan faktor kalibrasi, setelah

itu dibagi luas permukaan tanah (sample).

6.3. Angka-angka dari percobaan digambarkan dan koordinat-koordinat dengan absis

adalah tegangan normal dan sebagai ordinat adalah tegangan geser.

6.4. Garis lurus yang menghubungkan dari koordinat-koordinat akan memotong sumbu

koordinat. Dan titik pemotong garis lurus tersebut dicari jaraknya dari titik pusat

(0,0).
6.5. Sedangkan sudut pemotongan dihitung atau diukur dengan berpedoman pada garis

yang mendatar ataun horisontal dengan busur derajat. Maka akan mendapatkan sudut

geser ().

Rumus :

Pembacaan skala x faktor kalibasi


n= kg/cm 3
luas penampang sample

Berat beban (V total)


s= kg/cm 3
luas penampang sample

VII. PERHITUNGAN

1. Kedalaman 0,50 meter

a. Berat beban 1 ( V 1 ) = 4 kg.

Berat beban 2 ( V 2 ) = 8 kg.

Berat beban 3 ( V 3 ) = 16 kg.

Faktor kalibrasi = 0,375 kg.

Pembacaan dial = 26
bebanV1 4,760
n = 0,153 kg / cm.
luas ( A) 31,157

s = pembacaan dial x kalibrasi kg / cm.


luas ( A )

26 x0,375
= 0,313 kg / cm.
31,157

b. Berat beban 1 ( V 1 ) = 4 kg.

Berat beban 2 ( V 2 ) = 8 kg.

Berat beban 3 ( V 3 ) = 16 kg.

Faktor kalibrasi = 0,375 kg.

Pembacaan dial = 31

bebanV1 8,760
n = 0,281 kg / cm.
luas ( A) 31,157

s = pembacaan dial x kalibrasi kg / cm.


luas ( A )

31x0,375
= 0,373 kg / cm.
31,157

c. Berat beban 1 ( V 1 ) = 4 kg.

Berat beban 2 ( V 2 ) = 8 kg.

Berat beban 3 ( V 3 ) = 16 kg.

Faktor kalibrasi = 0,375 kg.

Pembacaan dial = 37
bebanV1 16,76
n = 0,538 kg / cm.
luas ( A) 31,157

s = pembacaan dial x kalibrasi kg / cm.


luas ( A )

37 x0,375
= 0,445 kg / cm.
31,157

2. Kedalaman 1,00 meter

a. Berat beban 1 ( V 1 ) = 4 kg.

Berat beban 2 ( V 2 ) = 8 kg.

Berat beban 3 ( V 3 ) = 16 kg.

Faktor kalibrasi = 0,375 kg.

Pembacaan dial = 30

bebanV1 4,760
n = 0,153 kg / cm.
luas ( A) 31,157

s = pembacaan dial x kalibrasi kg / cm.


luas ( A )

30 x0,375
= 0,361 kg / cm.
31,157

b. Berat beban 1 ( V 1 ) = 4 kg.

Berat beban 2 ( V 2 ) = 8 kg.

Berat beban 3 ( V 3 ) = 16 kg.


Faktor kalibrasi = 0,375 kg.

Pembacaan dial = 35

bebanV1 8,760
n = 0,281 kg / cm.
luas ( A) 31,157

s = pembacaan dial x kalibrasi kg / cm.


luas ( A )

35 x0,375
= 0,421 kg / cm.
31,157

c. Berat beban 1 ( V 1 ) = 4 kg.

Berat beban 2 ( V 2 ) = 8 kg.

Berat beban 3 ( V 3 ) = 16 kg.

Faktor kalibrasi = 0,375 kg.

Pembacaan dial = 39

bebanV1 16,76
n = 0,538 kg / cm.
luas ( A) 31,157

s = pembacaan dial x kalibrasi kg / cm.


luas ( A )

39 x0,375
= 0,469 kg / cm.
31,157

VIII. KESIMPULAN
Dari percobaan Direct Shear Test didapatkan harga atau nilai kohesi (c) dan sudut

geser ( ) :

1. Kedalaman 0,50 meter.

- Nilai kohesi ( c ) = 0,245 kg / cm.

- Sudut geser ( ) = 12

2. Kedalaman 1,00 meter.

- Nilai kohesi ( c ) = 0,245 kg / cm.

- Sudut geser ( ) = 12

Jadi pada kemiringan lereng yang berbeda akan didapatkan kekuatan geser yang

berbeda karena dipengaruhi oleh nilai kohesi dan sudut geser yang berbeda pada tiap tiap

deskripsi tanah.
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dan perhitungan serta pembahasan praktikum Mekanika Tanah

II, maka dapat diambil suatu kesimpulan sebagai berikut :

Pada percobaan-percobaan di laboraturium kita dapat menentukan kadar air. Sifat-sifat

tanah dengan memakai metode-metode sistematika. Sehingga untuk tanah-tanah tertentu

dapat diberikan nama yang tepat dan istilah tentang sifatnya, dapat terpilih dengan tepat.

Kadar air dan jenis tanah disuatu tempat berbeda-beda menyesuaikan dengan keadaan

setempat.

Pada kemiringan dan kecuraman lereng yang berbeda-beda akan mendapatkan deskripsi

tanah yang berbeda pada tiap-tiap deskripsi tanah.

Dari percobaan diatas diketahui bahwa jenis tanah yang kita uji banyak yang

mengandung lempung.

B. SARAN-SARAN

Untuk meningkatkan motivasi praktikum, dibutuhkan suatu cara atau sarana yang

dapat merangsang motivasi kerja praktikum tersebut maka perlu ditingkatkan kualitas

asistensi dalam membimbing praktikum dan juga didukung dengan peralatan yang lebih baik

untuk membantu kelancaran dan ketelitian dalam praktikum.

Dengan adanya saran tersebut diatas maka diharapkan untuk praktek-praktek

selanjutnya lebih baik dari sebelumnya.


PENUTUP

C. KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dan perhitungan serta pembahasan praktikum Mekanika Tanah

II, maka dapat diambil suatu kesimpulan sebagai berikut :

Pada percobaan-percobaan di laboraturium kita dapat menentukan kadar air. Sifat-sifat

tanah dengan memakai metode-metode sistematika. Sehingga untuk tanah-tanah tertentu

dapat diberikan nama yang tepat dan istilah tentang sifatnya, dapat terpilih dengan tepat.

Kadar air dan jenis tanah disuatu tempat berbeda-beda menyesuaikan dengan keadaan

setempat.

Pada kemiringan dan kecuraman lereng yang berbeda-beda akan mendapatkan deskripsi

tanah yang berbeda pada tiap-tiap deskripsi tanah.

Dari percobaan diatas diketahui bahwa jenis tanah yang kita uji banyak yang

mengandung lempung.

D. SARAN-SARAN

Untuk meningkatkan motivasi praktikum, dibutuhkan suatu cara atau sarana yang

dapat merangsang motivasi kerja praktikum tersebut maka perlu ditingkatkan kualitas

asistensi dalam membimbing praktikum dan juga didukung dengan peralatan yang lebih baik

untuk membantu kelancaran dan ketelitian dalam praktikum.

Dengan adanya saran tersebut diatas maka diharapkan untuk praktek-praktek

selanjutnya lebih baik dari sebelumnya.

Anda mungkin juga menyukai