Uji Kekuatan Geser Tanah Lempung
Uji Kekuatan Geser Tanah Lempung
I. LATAR BELAKANG
Untuk membuat bangunan teknik sipil perlu kita pelajari kondisi tanah masing
masing dan perlu juga dipelajari sifatsifat tanah. Sifatsifat tanah dibagi dalam tiga
a. Konsolidasi
Pada konsolidasi dihitung dari perubahan isi pori tanah akibat beban. Sifat ini
b. Kekuatan geser
Untuk menentukan kemampuan tekan tanah tanpa mengalami keruntuhan. Sifat ini
dibutuhkan dalam perhitungan stabilitas pondasi / dasar yang dibebani, stabilitas isian
Pengetahuan mengenai kekuatan geser tanah sangat penting dalam teknik sipil hal
ini terutama untuk mengetahui daya dukung tanah, tegangan tanah terhadap dinding
penahan dan kestabilan lereng. Untuk mengenai dan menjawab ketiga faktor tersebut,
maka perlu diadakan percobaan Unconfined Compression Test. Dan mengenai ketiga
faktor tersebut, maka segi keamanan bangunan dapat terjamin dan kualitas dapat
dipertanggung jawabkan.
2. Apa hubungan tegangan tanah terhadap dinding penahan dengan kekuatan geser ?
1. Untuk mengetahui apakah tanah yang bersangkutan cukup buat menahan beban
pondasi tanpa terjadi keruntuhan akibat menggeser dan mengetahui penurunan tanah
2. Untuk mengetahui tegangan yang terjadi dalam lapisan tanah baik tegangan tanah
horisontal maupun tegangan tanah vertikal yang tergantung pada berat isi tanah,
3. Untuk mengetahui kestabilan lereng dan kemantapan lereng baik lereng alam, lereng
yang dibuat dalam tanah asli atau lereng dari tanah yang dipadatkan dari
bidang dasar.
4. Untuk mengetahui apakah tanah tempat mendirikan rencana pondasi cukup kuat
Keruntuhan geser dalam tanah adalah akibat gerak relatif antar butiran. Oleh
karena itu kekuatan tanah tergantung pada kekuatan geser yang bekerja pada tanah
butiran.
2. Bagian yang mempunyai gerakan yang sebanding dengan tegangan efektif yang
S = c + ( - u ) tg
Dimana : c = kohesi
2. Tingkat II, yaitu pemberian tegangan geser sampai terjadi keruntuhan akan sampai
laboratorium
Percobaan ini banyak dipakai untuk mengukur Unconfined Compression Test dari tanah
lempung atau lanau, bilamana lempung mempunyai derajat jenuh 100 % maka kekuatan
qu
Cu = kg / cm 2
2
Cu = kekuatan geser undrained, kecepatan strain rate untuk percobaan ini biasanya
2. Pada percobaan ini tidak diperbolehkan mengalir dari contoh sama sekali, baik pada
air tingkat pertama maupun tingkat kedua. Tegangan air pori biasanya tidak diukur
pada percobaan semacam ini. Dengan demikian hanya kekuatan geser undrained (
4. Pada percobaan ini contoh diberikan tegangan normal dengan air diperbolehkan
mengalir dari contoh. Tegangan normal ini bekerja sampai konsolidasi selesai, yaitu
sampai tidak terjadi percobaan pada isi sampel tanah. Kemudian jalan air dari contoh
tanah ditutup dan contoh diberi tegangan geser secara undrained yaitu secara tertutup
dengan tegangan normal masih bekerja biasa, tegangan air pori diukur selama
6. Pada percobaan ini contoh diberikan tegangan normal dari air diperbolehkan mengalir
7. Kemudian tegangan geser diberikan dengan jalan air tetap terbuka, yaitu pergeseran
dilakukan secara drained ( secara terbuka ). Untuk menjaga supaya tegangan pori
tetap nol. Maka percobaan harus perlahan lahan. Pada percobaan consolidation
undrained dan drained kita mengetahui nilai c dan karena sudah diketahui nilai
tegangan pori dan tegangan efektif sedang pada undrained adalah mengukur kekuatan
geser.
a. Lempung
agak rendah sehingga lebih mudah dirembesi air, maka percobaan drained juga dapat
dipakai untuk mendapat c dan . Harga c dan untuk lempung mempunyai variasi
yang agak besar. Secara garis besar harga c yang kecil sekali ( hampir sama dengan
nol ). Makin besar derajat over consolidation maka makin besar harga c harga
diameter secara garis besar tergantung pada besarnya fraksi lempung, maka makin
b. Pasir
Percobaan pada pasir biasanya dilakukan secara drained ( terbuka. Karena pasir tidak
mempunyai kohesi maka nilai C selalu nol. Nilai tergantung terutama pada
kepadatan pasir tetapi dipengaruhi juga oleh gradasi. Pasir yang pada mempunyai
nilai kira kira antara 40 sampai 45, sedangkan pasir yang tidak padat
maka pondasi tersebut akan turun. Besarnya penurunan pada setiap penambahan
beban dapat ditentukan sehingga dapat dibuat grafik penambahan beban. Bila
tanah agak keras atau padat maka tanah tersebut akan membentuk seperti garis
Q1. Dalam hal ini ternyata tegangan terbesar yang dapat ditahan pondasi tersebut
sebesar q1. Tegangan ini disebut daya dukung keseimbangan. Bila tanah lunak /
lepas bentuk grafiknya seperti garis Q2 , dimana daya dukung keseimbangan tidak
punya harga tertentu atau tidak punya batas yang jelas. Harga tegangan yang
diambil pada titik dimana lengkungan maksimum dari grafik tersebut dengan q2
dukung tanah dengan teori daya dukung tanah, diantaranya teori Terzaghi, yang
menghasilkan rumus :
q = ( c x Nc ) + ( x d N q ) + ( x x BN )
Dimana :
B = lebar pondasi
d = dalam pondasi
c = kohesi
N = sudut perlawanan
Rumus kekuatan geser yang dipakai pada teori daya dukung diatas mengandung nilai
Sebenarnya tepat bila tidak ada tegangan air pori, kalau ada tegangan air pori maka
itu harus juga diperhitungkan. Untuk lapisan lempung pembuatan bangunan diatasnya
akan selalu menimbulkan tegangan air pori, yang mana tidak akan segera menyusut.
Biasanya waktu yang diperlukan untuk penyusutan tegangan air pori jauh lebih lama
dari pada waktu yang diperlukan untuk mendirikan bangunan di atasnya. Hal ini
berarti bahwa kekuatan geser lempung tidak akan banyak mengalami perubahan
selama pembangunan gedung tersebut. Oleh karena itu daya dukung lempung
biasanya dihitung dengan memakai nilai kekuatan geser, yaitu kekuatan geser
undrained dengan cara ini sudut geser dianggap nol dan kekuatan geser S = 0.
q = c . Nc + . d
Dimana : c = kohesi
d = dalam pondasi
Nilai Nc ini diperoleh berdasarkan pada teori maupun pengalaman lapangan. Untuk
pondasi dangkal nilai Nc diambil menurut Terzaghi sedangkan untuk pondasi dalam
nilai Nc diambil menurut Meyer Hoof. Untuk pondasi lingkaran atau bujur sangkar
nilai NC mendekati q. Bila dalamnya pondasi 4 kali lebih lebar pondasi ( Menurut
Skempton ).
Untuk pasir yang telah mengandung lempung maka nilai C = O, sehingga rumus
tercapai menjadi :
q = . d . N q + . . B . N
q = . . B . N
Dimana :
Jadi pondasi izin pasir tergantung pada kerapatan relatif, sejarah tegangan, posisi
muka air tanah relatif terhadap elevasi pondasi dan ukuran pondasi, serta bentuk
Menurut cara Rankine jika dinding dianggap licin ( smooth ), tidak ada gaya gesekan
maka Ka dan Kp dapat dihitung langsung. Untuk menentukan tegangan horizontal kita
pakai kekuatan geser tanah, karena tanah adalah dalam keadaan keruntuhan. Bentuk
rumus kekuatan geser tanah kita rubah sehingga mengandung tegangan tegangan utama
( principal shees ) bukan tegangan geser seperti biasanya. Menurut teori Rankine, tanah
di dalam daerah ABC adalah keadaan keruntuhan. Dalam keadaan aktif, tegangan
vertikal didalam tanah adalah tegangan utama besar ( 1 = h ). Dan tegangan horizontal
1 sin
N0
1 sin
h 2c
Jadi : a =
N0 N0
Dimana :
a = tegangan aktif
h = kedalaman
= sudut geser
c = kohesi
Dalam keadaan tanah positif tegangan horizontal adalah yang menjadi tegangan utama
Jadi : p = h . N + 2c . N
Dimana :
= tegangan horizontal
= sudut geser
c = kohesi
h 2c
H
Pa =
O N
. h
N
H 2 2cH
=
2 N N
P p = H 2 , N + 2 cH N
Dalam hal tanah tidak berkohesi ( c = 0 ) maka tegangan pada dinding sebagai
berikut :
h H 2
a = dan Pa =
N 2 N
juga P = h . N dan P p = h
Dimana :
P = tegangan pasif
a = tegangan aktif
H = kedalaman
1
Gaya P a dan P p yang bekerja pada fungsi dinding.
3
1. Hubungan antara tegangan tanah terhadap dinding penahan dengan kekuatan
geser.
Dalam setiap lapisan tanah dalam keadaan asli terdapat horizontal. Biasanya tegangan
Yaitu : h = Ko . v
= Ko . h
h = kedalaman
K o = koefisien tanah
Pasir 0,35
Setelah kita mengisolasikan kembali tanah di belakang dinding. Apabila dinding kaku
dinding penahan tidaklah dianggap kaku dan sedikit banyak akan bergerak ( deform )
ke depan pada waktu pemimpin tanah di belakangnya, akibatnya deformasi cukup
besar sehingga tercapai keadaan keruntuhan dalam tanah. Tegangan yang bekerja
disebut tegangan tanah aktif. Dan juga beberapa keadaan dimana dinding ditekan
sehingga bergerak ke belakang maka tegangan tanah menjadi lebih besar dari K0
.h. Sedang tegangan tanah pasif adalah tegangan tanah yang mencapai keadaan
runtuh.
Keadaan tanah pasif ini tanah ditekan sebenar-benarnya oleh dinding. Sedang
keadaan aktif dinding ditekan oleh tanah. Bila dinding dipegang teguh sampai tak
koefisien tegangan aktif dan apabila dinding ditekan supaya bergerak ke belakang (
yaitu ke arah tanah yang ditekan ), maka tegangan akan naik sampai menjadi Ka x h,
a. Lereng alam :
Yaitu lereng yang terbentuk karena proses-proses alam misalnya lereng bukit.
c. Lereng yang dibuat dari tanah yang dipadatkan, misalnya tanggul untuk
bendungan.
Pada setiap lereng kemungkinan terjadi kelongsoran selalu ada. Sering kita melihat
tanah longsoran dan secara umum telah mengetahui bentuk tanah longsor. Jelas
bahwa tanah yang longsor itu bergerak pada bidang tertentu. Bidang ini disebut
c. Surface slide : tanah longsor yang terjadi pada bidang yang dangkal.
d. Deep slide : bidang gelincir yang dalam.
Bilamana terjadi tanah longsor, maka dalam hal ini kekuatan geser akan terlampaui
yaitu perlawanan geser pada bidang gelincir tidak cukup untuk menahan gaya
gaya yang bekerja pada bidang tersebut. Secara umum digunakan rumus :
S = c + ( U ) tg
= tegangan normal
c = kohesi
= sudut geser
geseran tanah pada bidang manapun asal kohesi dan sudut geser diketahi.
tegangan pori dengan rumus di atas, disebut Effective stress Analysis yaitu
dinding penahan.
Dengan cara injeksi yaitu bahan kimia atau semen yang dipompa
A. Pondasi Dalam
Pondasi sumuran
Pondasi ini dipakai bertujuan supaya berat bangunan dapat dipikul oleh
lapisan keras yang terlampau dalam, pondasi ini dipakai bila lapisan keras
Qa = qa . A
A = luas sumuran.
Pondasi tiang
A. Tiang Tunggal
Pondasi ini digunakan bila bagian atas tanah sedikit lembek sehingga tidak
B. Tiang group
Jika kelompok tiang terdiri dari point bearing piles maka memang cukup
tepat bila daya dukung kelompok dianggap sama dengan daya dukung
kelompok ( Qt ) adalah :
Qt = c . Nc . A + 2 ( b + y ) . Lc
L = kedalaman tiang
b = lebar kelompok
y = panjang kelompok
A = luas kelompok
B. Pondasi dangkal.
dukung Terzaghi.
Pondasi plat.
Cara perencanaannya sama seperti pondasi langsung. Pondasi plat diatas pasir
lebih besar.
1. Alat alat :
b. Stop watch
2. Persiapan
3. Cara Kerja :
a. Sampel diletakkan tegak lurus
b. Dial pada proving ring distel dan harus menunjukkan angka nol.
d. Kedua dial harus dilihat atau diperhatikan dan dicatat pada waktu berhenti dan
e. Dongkrak diangkat kembali contoh tanah diambil dengan hati-hati supaya sudut
f. Contoh yang telah hancur dicetak lagi untuk di kompres dalam keadaan tidak asli.
VI. PERHITUNGAN
1) Diameter contoh = 5 cm
2) Tinggi contoh = 10 cm
3) Luas = . D = . 3.14 . ( 5 )
= 19,625 cm
= 19,625 x 10
= 196,25 cm
bc 348,8 293,0
12) Kadar air ( w ) = x 100% = x 100%
ca 293,0 5,8
= 19,43 %
1. Sampel Asli
a. Mencari beban ( kg )
Beban = pembacaan dial x kalibrasi ( 1,824 )
c. Mencari tegangan ( qu ) kg / cm
Tegangan = beban : luas koreksi
0,00 0 : 19,625 0
0,50 1,82 : 19,723 0,092
1,00 2,37 : 19,821 0,120
2,00 3,65 : 20,018 0,182
3,00 4,20 : 20,233 0,208
4,00 4,38 : 20,449 0,214
5,00 4,56 : 20,665 0,221
6,00 5,47 : 20,881 0,262
7,00 6,02 : 21,097 0,285
8,00 7,11 : 21,332 0,333
9,00 7,30 : 21,568 0,338
10,00 7,48 : 21,803 0,343
11,00 8,94 : 22,039 0,406
12,00 8,94 : 22,314 0,401
13,00 8,76 : 22,549 0,388
d. Mencari Cu
Cu = x q u asli
= x 0,406
= 0,203 kg / cm2.
VII. KESIMPULAN
( Termasuk tanah yang memiliki derajat sensitivitas rendah karena kepekatan ( < 2 ).
BAB IX
I. LATAR BELAKANG
tanah. Untuk itu pengetahuan mengetahui berat geser tanah sangat diperlukan dalam bidang
3. Kestabilan lereng.
Kestabilan lereng Keruntuhan geser dapat terjadi bila suatu titik pada sembarang
bidang dan suatu masa tanah memiliki tegangan besar yang sama dengan kekuatan
gesernya. Keruntuhan akibat kuat geser tanah dapat dihindarkan dengan merekayasa 3 hal
diatas, maka untuk mengetahui kuat geser tanah dilakukan percobaan direct shear.
Keruntuhan geser dalam tanah adalah gerak relatif antara butirannya. Untuk kekuatan
tanah tergantung pada yang bekerja antara butirannya. Untuk itu kekuatan geser tanah terdiri
Bagian yang bersifat kohesif tergantung pada macam tanah dan kepadatan butirannya.
Bagian yang mempunyai gesekan sebanding dengan tegangan efektif yang bekerja pada
bidang geser.
Rumus :
S = C + ( - U ) tg
c = kohesi ( kg / cm )
= sudut geser ( )
b. Tingkat kedua : dengan pemberian tegangan geser sampai terjadi keruntuhan yaitu
Yaitu lereng yang terbentuk karena prosesproses alam misalnya lereng bukit.
c. Lereng yang dibuat dari tanah yang dipadatkan, misalnya tanggul untuk bendungan.
Pada setiap lereng kemungkinan terjadi kelongsoran selalu [Link] kita melihat
tanah longsoran dan secara umum telah mengetahui bentuk tanah longsor. Jelas bahwa tanah
yang longsor itu bergerak pada suatu bidang [Link] ini disebut bidang gelincir (shift
Sedangkan peralatan pengujian meliputi kotak geser dari besi, yang berfungsi sebagai
tempat benda uji. Kotak geser tempat benda uji dapat berbentuk bujur sangkar maupun
lingkaran,dengan luas kira-kira 19,35 cm sampai 25,8 cm dengan tinggi 2,54 cm (1").
Kotak terpisah menjadi dua bagian yang sama. Tegangan normal pada benda uji diberikan
dari atas [Link] geser diterapkan pada setengah bagian atas dari kotak geser untuk
Pada benda uji yang kering, kedua batu tembus air (porous) tidak diperlukan. Selama
pengujian, perpindahan akibat geser ( L) dari setengah bagian atas kotak geser dan
Alat uji geser langsung dapat dibentuk bujur sangkar . Kotak pengujian dapat
bervariasi dari yang luasnya 100 x 100 mm sampai 300 x 300 mm. Kotak geser dengan
ukuran yang besar digunakan untuk pengujian tanah dengan butiran yang berdiameter lebih
besar.
antara lain :
1. Tanah benda uji dipaksa untuk melawan keruntuhan ( fail ) pada bidang yang telah
ditentukan sebelumnya.
4. Deformasi yang diterapkan pada benda uji hanya sebatas pada gerakan maksimum
5. Pola tegangan pada kenyataan adalah sangat kompleks dan arah dari bidang-bidang
pengujian berlangsung. Koreksi mengenai kondisi ini diberikan oleh Petley (1966).
Tetapi pengaruhnya sangat kecil pada hasil pengujian, sehingga dapat diabaikan.
V. METODOLOGI PENELITIAN
i. Alat-alat
Alat-alat :
c. Stop watch.
ii. Persiapan
a. Alat direct shear test sudah disiapkan dan stop watch serta dial harus menunjukan
angka nol, anak timbangan atau pembebanan dimulai dari yang ringan (0,5 kg/cm
- 1,5 kg/cm).
b. Pada waktu sudah menggeser jarum dial berhenti dan dicatat (dua gerakan dial).
penggambaran.
6.1. Beban normal (p) dibagi luas penampang sampel untuk mendapatkan tegangan normal
(n).
6.2. Penunjuk dial (angka yang dicatat) pada provigring dikalikan faktor kalibrasi, setelah
6.4. Garis lurus yang menghubungkan dari koordinat-koordinat akan memotong sumbu
koordinat. Dan titik pemotong garis lurus tersebut dicari jaraknya dari titik pusat
(0,0).
6.5. Sedangkan sudut pemotongan dihitung atau diukur dengan berpedoman pada garis
yang mendatar ataun horisontal dengan busur derajat. Maka akan mendapatkan sudut
geser ().
Rumus :
VII. PERHITUNGAN
Pembacaan dial = 26
bebanV1 4,760
n = 0,153 kg / cm.
luas ( A) 31,157
26 x0,375
= 0,313 kg / cm.
31,157
Pembacaan dial = 31
bebanV1 8,760
n = 0,281 kg / cm.
luas ( A) 31,157
31x0,375
= 0,373 kg / cm.
31,157
Pembacaan dial = 37
bebanV1 16,76
n = 0,538 kg / cm.
luas ( A) 31,157
37 x0,375
= 0,445 kg / cm.
31,157
Pembacaan dial = 30
bebanV1 4,760
n = 0,153 kg / cm.
luas ( A) 31,157
30 x0,375
= 0,361 kg / cm.
31,157
Pembacaan dial = 35
bebanV1 8,760
n = 0,281 kg / cm.
luas ( A) 31,157
35 x0,375
= 0,421 kg / cm.
31,157
Pembacaan dial = 39
bebanV1 16,76
n = 0,538 kg / cm.
luas ( A) 31,157
39 x0,375
= 0,469 kg / cm.
31,157
VIII. KESIMPULAN
Dari percobaan Direct Shear Test didapatkan harga atau nilai kohesi (c) dan sudut
geser ( ) :
- Sudut geser ( ) = 12
- Sudut geser ( ) = 12
Jadi pada kemiringan lereng yang berbeda akan didapatkan kekuatan geser yang
berbeda karena dipengaruhi oleh nilai kohesi dan sudut geser yang berbeda pada tiap tiap
deskripsi tanah.
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dan perhitungan serta pembahasan praktikum Mekanika Tanah
dapat diberikan nama yang tepat dan istilah tentang sifatnya, dapat terpilih dengan tepat.
Kadar air dan jenis tanah disuatu tempat berbeda-beda menyesuaikan dengan keadaan
setempat.
Pada kemiringan dan kecuraman lereng yang berbeda-beda akan mendapatkan deskripsi
Dari percobaan diatas diketahui bahwa jenis tanah yang kita uji banyak yang
mengandung lempung.
B. SARAN-SARAN
Untuk meningkatkan motivasi praktikum, dibutuhkan suatu cara atau sarana yang
dapat merangsang motivasi kerja praktikum tersebut maka perlu ditingkatkan kualitas
asistensi dalam membimbing praktikum dan juga didukung dengan peralatan yang lebih baik
C. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dan perhitungan serta pembahasan praktikum Mekanika Tanah
dapat diberikan nama yang tepat dan istilah tentang sifatnya, dapat terpilih dengan tepat.
Kadar air dan jenis tanah disuatu tempat berbeda-beda menyesuaikan dengan keadaan
setempat.
Pada kemiringan dan kecuraman lereng yang berbeda-beda akan mendapatkan deskripsi
Dari percobaan diatas diketahui bahwa jenis tanah yang kita uji banyak yang
mengandung lempung.
D. SARAN-SARAN
Untuk meningkatkan motivasi praktikum, dibutuhkan suatu cara atau sarana yang
dapat merangsang motivasi kerja praktikum tersebut maka perlu ditingkatkan kualitas
asistensi dalam membimbing praktikum dan juga didukung dengan peralatan yang lebih baik