NAMA : NANDA DAYANA HARAHAP
NPM : 71160811024
NOTE-MAKING
FEEDBACK
DEFINISI FEEDBACK
Feedback dapat didefinisikan sebagai :
Deskripsi dari suatu performa pembelajar dalam suatu aktivitas spesifik untuk
memandu usahanya di masa yang akan datang (Brodsley & Doherty, 2010)
Suatu proses komunikasi 2 arah yang bersifat non-judgemental dengan tujuan
untuk menyediakan sutu informasi tentang kualitas suatu pekerjaan untuk
meningkatkan kualitas pekerjaan sesorang (Hamid & Mahmood, 2010).
.
KEPENTINGAN FEEDBACK
feedback dapat menunjukkan komitmen pengajar untuk membantu pembelajar
mencapai tujuan pembelajaran.
Feedback dapat memicu pembelajaran dan kemajuan mahasiswa dalam suatu
proses atau kegiatan pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan
dapat mendorong pembelajar melakukan performa yang lebih baik sebagai
sarana perbaikan kesalahan (formatif).
FEEDBACK DENGAN PROSES BELAJAR
Hill 2007, mengidentifikasikan bahwa feedback memegang peranan penting dalam
membantu pembelajar melewati seluruh siklus. Feedback dapat membantu proses refleksi dan
memungkinkan pembelajar untuk menggali ilmu baru secara lebih mendalam. Dengan adanya
proses negosiasi, feedback juga dapat membantu pembelajar untuk merencanakan pengalaman
belajar berikutnya.
FEEDBACK YANG EFEKTIF
;Hattie & Timperley (2007) menjelaskan bahwa tujuan pemberian feedback adalah
untuk menutup celah (gap) antara performa yang diharapkan (goals) dengan performa yang
dilakukan pembelajar saat ini. Suatu feedback yang efektif harus menjawab 3 pertanyaan
berikut :
1. Where am I going ? (what are the goals?)
2. How am I going ? (what progress is being made towards the goals?)
3. Where to next ? (what activities need to be undertaken to make better progress?)
Proses pemberian feedback sendiri, dapat berupa feedback yang negatif dan feedback
positif, namun yang paling penting adalah bahwa suatu feedback haruslah konstruktif.
Feedback
1
NAMA : NANDA DAYANA HARAHAP
NPM : 71160811024
konstruktif dapat meningkatkan self awareness, menawarkan opsi dan merangsang
pengembangan.
Ende, 1983 memberikan panduan dalam pemberian feedback yang efektif ;
Feedback harus dilakuakn anatraa pengajar dan pembelajar dalam konteks
teman atau sekutu dengan tujuan yang sama
Sesi pemberian feedback harus direncanakan dan diharapkan
Feedback harus didasarkan pada hasil observasi langsung sipemberi feedback
Sesi feedback harus dilakukan secara regular dan terbatas pada tingkah laku
yang dapat diubah
Feedback harus secara rutin dilakukan
Bahasa feedback harus dalam bentuk deskriptif dan tidak evaluatif
Feedback harus didasarkan pada performa spesifik, bukan generalisasi
Feedback harus menawarkan data subjektif
Feedback harus berhubungan dengan keputusan dan aksi, tidak hanya dengan
tujuan ataupun interpretasi
Selain beberapa prinsip di atas, ada beberapa hal penting yang harus dipahami
sehubungan dengan pemberian feedback yang baik:
Pemberian feedback juga dimaksudkan sebagai sarana saling tukar informasi,
bukan sebagai sarana pemberian nasihat
Feedback harus diberikan dalam konsep menolong pembelajar bukan untuk
menunjukkan pada pembelajar superioritas pemberi feedback atau
kebutuhan/keharusan pengajar memberi feedback.
Dalam pemberian feedback, harus ada keseimbangan (balance), berikan
feedback positif dan juga feedback negative serta berikan juga saran untuk
perbaikan.
Feedback yang baik juga harus memfasilitasi pengembangan self-assessment
dalam proses pembelajaran.
Dalam pemberian feedback, perhatikan konsekuensi yang terjadi terhadap
performa yang dilakukan oleh pembelajar.
Setelah sesi pemberian feedback selesai, pembelajar harus ditanyakan untuk
memverifikasi feedback yang telah diberikan
2
NAMA : NANDA DAYANA HARAHAP
NPM : 71160811024
MODEL PEMBERIAN FEEDBACK
1. Model sandwich
Model ini mengikuti prinsip bahwa feedback yang diberikan harus adil. Dalam hal ini,
dalam suatu sesi pemberian feedback dimulai dengan pemberian feedback positif,
dilanjutkan dengan pemberian feedback negative dan diakhiri dengaan pemberian
feedback negative (P-N-P)
2. SETGO model
Model ini ditawarkan oleh Silverman et al. Metode yang ditawarkan adalah :
What I Saw? describing what you saw
What Else did you (learner) see? What happened next
;What do you Think? Reflect back to the learner
What Goals are we trying to achieve?
Any Offers on how to achieve the goals? Suggestion regarding skill nad
reherasal
3. TELL model
Model yang disitasi penulis dari artikel Hamid & Mahmood (2010) ini memiliki
gambaran :
TELL them specifically, about the exact behavior you want to repeated or is
problematic (and therefore to be corrected). Be objective and beware of
taking a position about your observations
EXPLAIN what results or implications are created by their action either
negative or positive. Do not blame or attack
LISTEN to their ideas for correcting the problem. Solicit their buy-in and be
prepared to negotiate in an agreeable solution
;LET them know what positive or negative consequences will occur if the
p;roblems are corrected or not.
4. Pendletons rule
Pendletons rules adalah metode konvensional dalam pemberian feedback yang
ditawarkan oleh Pendleton dan memiliki struktur seperti yang tergambar di bawah
3
NAMA : NANDA DAYANA HARAHAP
NPM : 71160811024
bahwa hal-hal positif dari performa mahasiswa disorot terlebih dahulu. Lalu
dilanjutkan dengan pengajar yang me-reinforce hal-hal positif tadi dan
mendiskusikan kemampuan/keterampilan untuk mencapainya. hal apa lagi yang
dapat dilakukan? kemudian diajukan, pertama oleh pembelajar kemudian oleh
pengajar.
5. ALOBA model
Pada metode ini, prinsipnya adalah untuk mengidentifikasi masalah pembelajar apa
yang perlu dibantu. Diskusi kemudian diarahkan pada pencapaian tujuan pembelajar
dengan mendorong self-assessment dan secara opurtunistik memperkenalkan
agenda fasilitator dan mendiskusikan teori dan konsep baru. Metode ini lebih
berfokus pada
usaha-usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan dibanding untuk mengkritisi
apa yang telah salah dilakukan oleh pembelajar.
HAMBATAN DALAM PEMBERIAN FEEDBACK
Bing-You dan Trowbridge (2009), menyatakan ada 3 hal yang dapat menyebabkan
gagalnya pemberian feedback : kemampuan pembelajar yang rendah dalam self assessment,
pengaruh yang terlalu kuat terhadap reaksi afektif dari feedback yang diberikan dan kurangnya
kemampuan metakognisi
Hasketh dan Laid law (2002) mengidentifikasi beberapa kesulitan yang muncul dalam
pemberian feedback : ketakutan akan membuat marah pembelajar yang dapat merusak
hubungan pembelajar-pengajar, ketakutan bahwa feedback akan lebih banyak menimbulkan
masalah dibanding kebaikan, pembelajar merasa dikritik atau merasa defensive saat menerima
feedback, feedback yang diberikan terlalu umum dan tidak terkait dengan fakta spesifik dari
observasi yang dilakukan, feedback tidak memberikan panduan dalam memodifikasi tingkah
laku, feedback yang inkonsisten dari berbagai sumber.
SOLUSI MENGATASI KESULITAN PEMBERIAN FEEDBACK
dapat dibuat suatu workshop atau pelatihan bagi para pengajar mengenai
pemberian feedback.
Kemudian dapat dilanjutkan dengan sesi pelatihan dengan ahli untuk
mendiskusikan strategi-strategi baru dalam pemberian feedback.
4
NAMA : NANDA DAYANA HARAHAP
NPM : 71160811024