TUGAS KOMUNIKASI, INFORMASI DAN EDUKASI
Disusun Oleh : 1. Ulfi Fariah (1308010092)
2. Diyah Sobar Astuti (1308010156)
4. Bella Nadia Prasetyo (1308010160)
A. INFORMASI YANG PERLU DITANYAKAN DAN DISAMPAIKAN APOTEKER
KEPADA PASIEN DALAM SWAMEDIKASI.
Pelayanan obat non resep merupakan pelayanan kepada pasien yang ingin
melakukan pengobatan sendiri, dikenal dengan swamedikasi. Swamedikasi adalah
pengobatan sendiri yang biasanya dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan atau
gangguan yang ringan, misalnya batuk-pilek, demam, sakit kepala, diare, sembelit,
perut kembung, maag, gatal-gatal, infeksi jamur kulit dan lain-lain. Swamedikasi
bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya
sendiri guna mengatasi masalah kesehatan secara tepat, aman, dan rasional. Oleh
sebab itu peran apoteker di apotek dalam pelayanan KIE (komunikasi, informasi dan
edukasi) serta pelayanan obat kepada masyarakat perlu ditingkatkan dalam rangka
peningkatan pengobatan sendiri. Obat untuk swamedikasi meliputi obat-obat yang
dapat digunakan tanpa resep yang meliputi obat wajib apotek (OWA), obat bebas
terbatas (OBT) dan obat bebas (OB).
Hal-hal yang perlu diketahui sebelum melakukan pengobatan sendiri antara
lain:
a. Memahami masalah kesehatan yang sedang dihadapi.
b. Apakah memerlukan pemeriksaan dokter atau tidak?
c. Apakah memerlukan obat?
d. Obat yang dapat diperoleh tanpa resep dokter untuk mengatasi gejala, yang
dapat digunakan?
e. Konsultasikan dengan apoteker.
Sebelum melakukan pengobatan sendiri apoteker perlu mengetahui beberapa
hal, antara lain :
a. Nama dan jumlah setiap obat yang dikonsumsi.
b. Alergi terhadap obat (bila mengalaminya).
c. Diet khusus yang sedang dilakukan misalnya diet rendah gula, diet rendah
garam dan sebagainya.
d. Dalam keadaan hamil atau menyusui.
Informasi yang perlu diberikan Apoteker berhubungan dengan aturan
pemakaian:
a. Bagaimana cara memakainya.
b. Berapa jumlah obat yang digunakan.
c. Berapa kali sehari pemakaian obatnya.
d. Obat tersebut dipakai sebelum atau sesudah makan atau menjelang tidur.
e. Serta berapa lama pemakaian obat tersebut.
Selain hal-hal diatas, Apoteker juga perlu menjelaskan mengenai :
a. Kontra indikasi obat (pada keadaan mana obat tidak boleh digunakan).
b. Makanan, minuman atau obat lain yang harus dihindarkan.
c. Bagaimana cara penyimpanan obat (obat disimpan dimana dan dapatkah
sisa obat disimpan untuk digunakan lagi?).
B. INFORMASI YANG PERLU DITANYAKAN DAN DISAMPAIKAN APOTEKER
KEPADA PASIEN DALAM PELAYANAN RESEP
Resep obat adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada
apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Apotek wajib melayani resep dokter, dokter gigi
dan dokter hewan. Pelayanan resep sepenuhnya atas tanggung jawab apoteker
pengelola apotek. Dalam hal pasien tidak mampu menebus obat yang ditulis dalam
resep, apoteker wajib berkonsultasi dengan dokter untuk pemilihan obat
[Link] wajib memberi informasi yang berkaitan dengan penggunaan obat
yang diserahkan kepada pasien. Informasi tersebut meliputi :
1. Cara penggunaan obat
2. Dosis dan frekuensi pemakaian
3. Lamanya obat digunakan
4. Indikasi
5. Kontra indikasi
6. Kemungkinan efek samping dan hal-hal lain yang diperhatikan pasien.
Apabila apoteker menganggap dalam resep terdapat kekeliruan atau penulisan
resep yang tidak tepat, harus diberitahukan kepada dokter penulis resep. Bila karena
pertimbangannya dokter tetap pada pendiriannya, dokter wajib membubuhkan tanda
tangan atas resep. Salinan resep harus ditanda tangani oleh apoteker. Pelayanan resep
didahului proses skrining resep yang meliputi pemeriksaan kelengkapan resep,
keabsahan dan tinjauan kerasionalan obat.
Resep yang lengkap harus tertuliskan:
1. Nama pasien
2. Alamat pasien
3. Nomor ijin praktek dokter
4. Tempat dan tanggal resep
5. Tanda R pada bagian kiri untuk tiap penulisan resep
6. Nama obat dan jumlahnya
7. Kadang-kadang cara pembuatan atau keterangan lain (iter, prn, cito) yang
dibutuhkan, aturan pakai, nama pasien, serta tanda tangan atau paraf dokter.
Tinjauan kerasionalan obat meliputi pemeriksaan dosis, frekuensi pemberian,
adanya polifarmasi, interaksi obat, karakteristik penderita atau kondisi penyakit yang
menyebabkan pasien menjadi kontra indikasi dengan obat yang diberikan. Peracikan
merupakan kegiatan menyiapkan, mencampur, mengemas dan memberi etiket pada
wadah. Pada waktu menyiapkan obat harus melakukan perhitungan dosis, jumlah
obat dan penulisan etiket yang benar. Sebelum obat diserahkan kepada penderita
perlu dilakukan pemeriksaan akhir dari resep meliputi tanggal, kebenaran jumlah obat
dan cara pemakaian. Penyerahan obat disertai pemberian informasi dan konseling
untuk penderita beberapa penyakit tertentu.
C. INFORMASI YANG PERLU DITANYAKAN DAN DISAMPAIKAN APOTEKER
KEPADA PASIEN DALAM KONSELING
Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung
jawab kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan Farmasi dengan maksud
mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien (PP 51 tahun
2009 Pasal 1). Pemerintah telah mengamanahkan apoteker untuk memberikan
pelayanan kepada pasien sebagai upaya meningkatkan mutu kehidupan pasien, salah
satunya tentu melalui pemberian konseling obat. Apoteker memiliki tanggung jawab
terhadap pelayanan yang meliputi pengkajian resep, pelayanan informasi obat,
konseling, visite, pemantauan terapi obat, pelaporan efek samping obat, pemantauan
kadar obat dalam darah dan home pharmacy care. Dalam memberikan konseling,
apoteker akan menggali informasi pasien terkait riwayat kesehatan dan kondisinya
sekarang. Jika setiap pasien yang ada benar-benar mengetahui informasi obat detail,
dimonitor pengobatannya oleh apoteker, tentunya pengobatan akan optimal sehingga
derajat kesehatan masyarakat bisa meningkat. Secara prinsip, Pharmaceutical Care
atau pelayanan kefarmasian terdiri dari beberapa tahap yang harus dilaksanakan
secara berurutan:
1. Penyusunan informasi dasar atau database pasien.
2. Evaluasi atau Pengkajian (Assessment).
3. Penyusunan Rencana Pelayanan Kefarmasian (RPK).
4. Implementasi RPK.
5. Monitoring Implementasi.
6. Tindak Lanjut (Follow Up).
Keseluruhan tahap pelayanan kefarmasian ini dilakukan dalam suatu proses
penyuluhan dan konseling kepada pasien mengenai penyakit yang dideritanya.
Konseling kefarmasian bukan sekedar PIO atau konsultasi tapi lebih jauh dari itu. Dan
untuk mendapatkan konseling yang efektif, para apoteker praktisi harus selalu melatih
menggunakan teknik-teknik koseling yang dibutuhkan pada praktek komunitas.
Tujuan pemberian konseling kepada pasien adalah untuk mengetahui sejauh mana
pengetahuan dan kemampuan pasien dalam menjalani pengobatannya serta untuk
memantau perkembangan terapi yang dijalani pasien. Ada tiga pertanyaan utama
(Three Prime Questions) yang dapat digunakan oleh apoteker dalam membuka sesi
konseling untuk pertama kalinya. Pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Apa yang telah dokter katakan tentang obat anda?
2. Apa yang dokter jelaskan tentang harapan setelah minum obat ini?
3. Bagaimana penjelasan dokter tentang cara minum obat ini?
Pengajuan ketiga pertanyaan di atas dilakukan dengan tujuan agar tidak terjadi
pemberian informasi yang tumpang tindih (menghemat waktu), mencegah pemberian
informasi yang bertentangan dengan informasi yang telah disampaikan oleh dokter
(misalnya menyebutkan indikasi lain dari obat yang diberikan) sehingga pasien tidak
akan meragukan kompetensi dokter atau apoteker, dan juga untuk menggali informasi
seluas-luasnya (dengan tipe open ended question).
Tiga pertanyaan utama tersebut dapat dikembangkan dengan pertanyaan-pertanyaan
berikut sesuai dengan situasi dan kondisi pasien:
1. Apa yang dikatakan dokter tentang peruntukan/kegunaan pengobatan anda?
Persoalan apa yang harus dibantu?
Apa yang harus dilakukan?
Persoalan apa yang menyebabkan anda ke dokter?
2. Bagaimana yang dikatakan dokter tentang cara pakai obat anda?
Berapa kali menurut dokter anda harus menggunakan obat tersebut?
Berapa banyak anda harus menggunakannya?
Berapa lama anda terus menggunakannya?
Apa yang dikatakan dokter bila anda kelewatan satu dosis?
Bagaimana anda harus menyimpan obatnya?
Apa artinya tiga kali sehari bagi anda?
3. Apa yang dikatakan dokter tentang harapan terhadap pengobatan anda?
Pengaruh apa yang anda harapkan tampak?
Bagaimana anda tahu bahwa obatnya bekerja?
Pengaruh buruk apa yang dikatakan dokter kepada anda untuk
diwaspadai?
Perhatian apa yang harus anda berikan selama dalam pengobatan ini?
Apa yang dikatakan dokter apabila anda merasa makin parah/buruk?
Bagaimana anda bisa tahu bila obatnya tidak bekerja?
Pada akhir konseling perlu dilakukan verifikasi akhir (tunjukkan dan katakan)
untuk lebih memastikan bahwa hal-hal yang dikonselingkan dipahami oleh pasien
terutama dalam hal penggunaan obatnya dapat dilakukan dengan menyampaikan
pernyataan sebagai berikut:
Sekedar untuk meyakinkan saya supaya tidak ada yang kelupaan, silakan
diulangi bagaimana anda menggunakan obat anda.
Salah satu ciri khas konseling adalah lebih dari satu kali pertemuan.
Pertemuan-pertemuan selanjutnya dalam konseling dapat dimanfaatkan apoteker
dalam memonitoring kondisi pasien. Pemantauan kondisi pasien sangat diperlukan
untuk menyesuaikan jenis dan dosis terapi obat yang digunakan. Apoteker harus
mendorong pasien untuk melaporkan keluhan ataupun gangguan kesehatan yang
dirasakannya sesegera mungkin.