Protein total
Pemeriksaan Protein total adalah untuk mengetahui kadar protein total dalam darah. Protein
dalam darah terdiri dari Albumin dan globulin. Hasil pemeriksaan Protein total dapat digunakan
untuk mendeteksi adanya penyakit dan gangguan hati serta status nutrisi.
Fungsi:
untuk pertumbuhan dan pembentukan
mekanisme pengangkutan zat-zat metabolit
menjaga keseimbangan cairan tubuh
mekanisme pertahanan tubuh dalam merangsang kekebalan
faktor genetic
mengatur meatbolisme tubuh
faktor yang dibutuhkan dalam koagulasi darah normal
Prinsip :
ikatan peptide dalam suasana basa akan membentuk senyawa kompleks yang berwarna ungu
dengan adanya pereaksi biuret. Intesinsitas warna yang terbentuk sebanding dengan kadar
protein total dalam sampel dan diukur menggunakan fotometer dengan panjang gelombang 546
nm
Metode :
Biuret
Prosedur :
Pereaksi biuret:
Na-K Tartrat 20 mmol/L
NaOH 0,75 mol/L
KI 6mmol/L
Standar protein total 6 g/L
Cara kerja :
sediakan 4 tabung
campur sampai homogeny
Blanko Standar CS sampel
Standar 20 l
CS 20 l
Serum 20 l
Reagen kerja 1000 l 1000 l 1000 l 1000 l
inkubasi selama 10 menit pada temperature kamar
baca absorban standard an sampel terhadap blanko menggunakan fotometer pada
panjang gelombang 546 nm
warna terbentuk stabil sampai satu jam (nilai rujukan 6,-8,0 g/dl)
Bilirubin total
Pemeriksaan bilirubin total untuk mengetahui total kadar bilirubin dalam darah baik yang
terkonjugasi maupun yang tidak terkonjugasi. Biliburin tidak terkonjugasi tidak larut dalam air,
sehingga tidak ditemukan dalam pemeriksaan urine.
Macam dan sifat bilirubin
a. Bilirubin terkonjugasi /direk
Pemeriksaan Bilirubin direk untuk mengetahui kadar bilirubin terkonjugasi dalam darah.
Bilirubin adalah pecahan haem (darah) yang akan berikatan dengan albumin dan bersikulasi
dalam darah, kemudian dikonjugasi dan disekresi oleh hati. Karena bilirubin direk adalah
bilirubin yang terkonjugasi sehingga bersifat larut dalam air, maka dapat pula ditemukan dalam
urine
Bilirubin terkonjugasi /direk adalah bilirubin bebas yang bersifat larut dalam air sehingga dalam
pemeriksaan mudah bereaksi. Bilirubin terkonjugasi (bilirubin glukoronida atau hepatobilirubin )
masuk ke saluran empedu dan diekskresikan ke usus. Selanjutnya flora usus akan
mengubahnya menjadi urobilinogen.
Bilirubin terkonjugasi bereaksi cepat dengan asam sulfanilat yang terdiazotasi membentuk
azobilirubin. Peningkatan kadar bilirubin direk atau bilirubin terkonjugasi dapat disebabkan oleh
gangguan ekskresi bilirubin intrahepatik antara lain Sindroma Dubin Johson dan Rotor,
Recurrent (benign) intrahepatic cholestasis, Nekrosis hepatoseluler, Obstruksi saluran empedu.
Diagnosis tersebut diperkuat dengan pemeriksaan urobilin dalam tinja dan urin dengan hasil
negatif.
b. Bilirubin tak terkonjugasi/ indirek
Bilirubin tak terkonjugasi (hematobilirubin) merupakan bilirubin bebas yang terikat albumin,
bilirubin yang sukar larut dalam air sehingga untuk memudahkan bereaksi dalam pemeriksaan
harus lebih dulu dicampur dengan alkohol, kafein atau pelarut lain sebelum dapat bereaksi,
karena itu dinamakan bilirubin indirek. Peningkatan kadar bilirubin indirek mempunyai arti dalam
diagnosis penyakit bilirubinemia karena payah jantung akibat gangguan dari delivery bilirubin ke
dalam peredaran darah. Pada keadaan ini disertai dengan tanda-tanda payah jantung, setelah
payah jantung diatasi maka kadar bilirubin akan normal kembali dan harus dibedakan dengan
chardiac chirrhosis yang tidak selalu disertai bilirubinemia. (6:1)
Peningkatan yang lain terjadi pada bilirubinemia akibat hemolisis atau eritropoesis yang tidak
sempurna, biasanya ditandai dari anemi hemolitik yaitu gambaran apusan darah tepi yang
abnormal,umur eritrosit yang pendek.
Penyakit yang berhubungan dengan bilirubin
Hiperbilirubinemia Hiperbilirubinemia adalah keadaan dimana konsentrasi bilirubin darah
melebihi 1 mg/dl.
Metode Pemeriksaan Bilirubin Total
1. Metode Jendrasik- Grof
Prinsip : Bilirubin bereaksi dengan DSA ( diazotized sulphanilic acid) dan membentuk senyawa
azo yang berwarna merah. Daya serap warna dari senyawa ini dapat langsung dilakukan
terhadap sampel bilirubin pada panjang gelombang 546 nm. Bilirubin glukuronida yang larut
dalam air dapat langsung bereaksi dengan DSA, namun bilirubin yang terdapat di albumin yaitu
bilirubin terkonjugasi hanya dapat bereaksi jika ada akselerator. Total bilirubin bilirubin direk +
bilirubin indirek.(5:9)
2. Colorimetric Test - Dichloroaniline (DCA)
Prinsip :Total bilirubin direaksikan dengan dichloroanilin terdiazotisasi membentuk senyawa azo
yang berwarna merah dalam larutan asam, campuran khusus (detergen enables ) sangat
sesuai untuk menentukan bilirubin total. Reaksi : Bilirubin + ion diazonium membentuk
Azobilirubin dalam suasana asam
Fungsi Bilirubin
zat pemberi warna pada feses / kotoran.
Pemeriksaan bilirubin total/direct menggunakan cara colorimetrik
NaNO2 + sulfanilic acid + diazonium
Total bilirubin + diazonium DMSO compound
Direct bilirubin + diazonium = diazoic compound
Faktor tersebut membuat warna di diazoic compound berubah sesuai dengan kadar bilirubin
TTT (Test Turbiditas Timol)
Pemeriksaan TTT (tes turbiditas timol) merupakan salah satu tes labilitas yang telah lama
dikenal (sejak 1944). Mekanisme fisikakimia dari tes ini belum jelas. Diketahui globulin akan
mempermudah pembentukan presipitasi, sedangkan albumin menghambat proses ini.
Disamping itu trigliserida dan khilomikron dapat menyebabkan tes TTT positip. Peningkatan dari
TTT kadang-kadang ditemukan sebelum terjadi kelainan pada hasil pemeriksaan elektroforesa
dan albumin. Tes labilitas yang lain adalah tes turbiditas zink sulfat (Kunkel), Takata Ara, dan
lain-lain. Sebenarnya tes-tes labilitas ini bukan berdasarkan reaksi antigen antibodi, tetapi
menggambarkan fraksi-fraksi protein
SGOT dan SGPT
Pemeriksaan untuk melihat item faal hati atau fungsi hati
SGOT (serum glutamic oxaloacetic transaminase)
SGOT adalah enzim yang lebih sensitive untuk mendeteksi kerusakan otot dan otot jantung
daripada kerusakan hati. Sebab utamanya adalah SGOT juga di produksi di otot dan otot
jantung. SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase), seperti halnya SGPT, SGOT
merupakan enzim hati yang terdapat di dalam sel parenkim hati. SGOT akan meningkat
kadarnya di dalam darah jika terdapat kerusakan sel hati. Kembali ke sebelumnya bahwa
produksi SGOT bukan hanya ada pada hati, karena itu peningkatan SGOT tidak selalu
menunjukkan adanya kelainan di sel hati
SGPT (Serum Glutamic Pyruvate Transaminase)
merupakan suatu enzim yang terdapat di dalam sel hati. Karena itu, SGPT lah yang lebih
menggambarkan fungsi hati seseorang. Ketika sel hati mengalami kerusakan akibat sesuatu
baik itu gangguan virus atau gangguan lainnya, akan terjadi pengeluaran enzim SGPT dari
dalam sel hati ke darah. Hal ini akan diketahui melalui pemeriksaan darah di laboratorium. Itu
kenapa dokter selalu menganjurkan periksa SGPT untuk mengetahui kondisi fungsi hati
seseorang.
Nilai normal SGOT adalah 3-45 u/L, sedangkan nilai normal SGPT adalah 0-35 u/L (terdapat
sedikit variasi dari nilai normal dan sangat tergantung dari laboratorium tempat pemeriksaan).
Penyakit-penyakit yang di kaitkan dengan ketidak normalan SGOT-SGPT
1. Hepatitis
Orang yang terserang hepatiis baik itu jenis A, B, Ataupun C akan mengalami peradangan di
dalam organ hatinya. Sel-sel dalam hatinya bisa saja mengalami kematian. Hal ini lah yang
mengakibatkan terjadinya kenaikan SGOT-SGPT, Pada serangan hepatitis akut atau penderita
baru, kenaikannya bisa mencapai 5-10 kali nilai normal. Hal ini akan di barengi dengan
peningkatan angka billirubin, penurunan albumin dan bebrapa parameter kerusakan hati yang
lain. Pada kasus kronis atau menahun, nilai SGOT-SGPT bisa saja normal.
2. Fatty liver ( perlemakan hati )
Tes fungsi hati pada perlemakan hati Biasanya SGOT dan SGPT meningkat sekitar 2 sampai 3
kali nilai normal sedang Albumin/globulin dan Bilirubin biasanya masih normal. Kadar enzim
yang di produksi hati lainnya seperti triglyserida dan LDL (kolesterol) juga terlihat meninggi.
Kelainan ini sering terjadi pada orang dengan usia muda/pertengahan berbadan gemuk.
Biasanya penderita mengalami perasaan tak nyaman pada perut bagian kanan atas atau bisa
saja tidak menimbulkan keluhan sama sekali.
3. Sumbatan empedu
Tes fungsi hati pada sumbatan saluran empedu akan mendapati Peningkatan SGOT dan SGPT
biasanya tidak terlalu tinggi, sekitar kurang dari 4 kali nilai normal. Yah, tak bisa dipungkiri
bahwa empedu merupakan organ diluar hati yang juga berpengaruh bagi hati, jika empedu
terganggu otomatis kerja fungsi hati pun begitu. Kadar Bilirubin akan tinggi sekali, utamanya jika
sumbatan pada empedu sudah cukup lama. Ini mengakibatkan pasien mengalami kulit dan
mata kekuningan atau ikterus.
4. Penyakit non liver
Bebapa penyakit yang tidak ada hubungannya dengan organ hati pun bisa mengakibatkan
kadar SGOT-SGPT meninggi. Ini sekali lagi bisa di fahami karena enzim ini bukan hanya di
produksi di dalam hati. Penyakit seperti penyakit thyroid/kelenjar gondok, Penyakit auto immune
(AIH), Wilson disease, Celiac disease, Muscle disorders. Bahkan penyakit seperti tipus dan
DHF (demam berdarah) pun juga bisa mengakibatkan kadar SGOT-SGPT seseorang menjadi
tinggi.
GAMA GT
Pemeriksaan gamma glutamil transpeptidase (gamma GT atau GGT) merupakan suatu
pemeriksaan yang dilakukan untuk mengukur kadar enzim GGT di dalam darah Anda. Enzim
GGT ini berfungsi sebagai alat transportasi di dalam tubuh. GGT berperan penting dalam
proses metabolisme obat-obatan dan berbagai zat racun lainnya di dalam hati. GGT terutama
terdapat di dalam hati.
Selain hati, GGT juga dapat ditemukan pada kandung empedu, limpa, pankreas, dan ginjal.
Peningkatan kadar GGT di dalam darah biasanya disebabkan oleh kerusakan di dalam hati.
Pemeriksaan ini seringkali dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan lainnya untuk mengukur
enzim-enzim hati.
Kadar GGT yang normal adalah antara 0-51 IU/L. Beberapa gangguan kesehatan yang dapat
menyebabkan peningkatan kadar GGT Anda adalah:
Mengkonsumsi alkohol secara berlebihan
Menderita hepatitis
Kurangnya aliran darah yang menuju ke hati (iskemia hati)
Tumor hati
Sirosis hati
Penyalahgunaan obat-obatan atau zat beracun lainnya
Gagal jantung
Menderita diabetes
Gangguan atau penyumbatan aliran cairan empedu dari hati (kolestasis atau batu
empedu)
Nekrosis hati
Menderita penyakit paru
Menderita gangguan pankreas
Sebelum melakukan pemeriksaan ini, Anda diharuskan untuk berpuasa selama 8 jam dan
berhenti mengkonsumsi obat-obatan tertentu seperti fenobarbital, fenitoin, dan alkohol karena
dapat meningkatkan kadar GGT Anda. Anda juga akan diminta untuk berhenti merokok
sebelum melakukan pemeriksaan GGT karena merokok dapat menyebabkan peningkatan
kadar GGT.
Selain itu, pil KB dan klofibrat juga dapat menurunkan kadar GGT Anda. Bahkan jika Anda
hanya mengkonsumsi sangat sedikit alkohol dalam waktu 24 jam sebelum pemeriksaan
dilakukan
Metode pemeriksaan untuk tes GGT adalah spektrofotometri atau fotometri, dengan
menggunakan spektrofotometer/fotometer atau alat kimia otomatis. Bahan pemeriksaan yang
digunakan berupa serum atau plasma heparin.
Natrium, kalium, kalsium, chlorida
Pemeriksaan Natrium adalah untuk mengetahui kadar Natrium (Na) dalam darah. Natrium
berperan penting dalam menjaga keseimbangan air dan elektrolit dalam tubuh, mengontrol
tekanan darah, dan kerja sistem syaraf dan otot.
Pemeriksaan Natrium dapat digunakan untuk menilai keseimbangan asam basa, dehidrasi,
sindrom nefrotik, gagal jantung kongestif dan keadaan klinis lainnya.
Penyakit yang berhubungan dengan natrium adalah hypernatremia
Nilai normal dalam serum :
Dewasa 135-145 mEq/L
Anak 135-145 mEq/L
Bayi 134-150 mEq/L
Nilai normal dalam urin :
40 220 mEq/L/24 jam
Penurunan Na terjadi pada diare, muntah, cedera jaringan, bilas lambung, diet rendah garam,
gagal ginjal, luka bakar, penggunaan obat diuretik (obat untuk darah tinggi yang fungsinya
mengeluarkan air dalam tubuh).
Peningkatan Na terjadi pada pasien diare, gangguan jantung krohis, dehidrasi, asupan Na dari
makanan tinggi,gagal hepatik (kegagalan fungsi hati), dan penggunaan obat antibiotika, obat
batuk, obat golongan laksansia (obat pencahar).
Sumber garam Na yaitu: garam dapur, produk awetan (cornedbeef, ikan kaleng, terasi, dan
Iain-Iain.), keju,/.buah ceri, saus tomat, acar, dan Iain-Iain.
Pemeriksaan Kalium (K) adalah untuk mengetahui kadar kalium dalam darah .
Kalium adalah elektrolit dan mineral tubuh yang penting untuk keseimbangan air dan elektrolit
dalam tubuh, berperan dalam kerja syaraf dan otot.
Pemeriksaan Kalium dapat menilai kondisi tubuh seperti hipertensi, penyakit ginhalm aritmia
jantung,dan kelainan lainnya.
Nilai normal :
Dewasa 3,5 5,0 mEq/L
Anak 3,6 5,8 mEq/L
Bayi 3,6 5,8 mEq/L
Peningkatan kalium (hiperkalemia) terjadi jika terdapat gangguan ginjal, penggunaan obat
terutama golongan sefalosporin, histamine, epinefrin, dan Iain-Iain.
Penurunan kalium (hipokalemia) terjadi jika masukan kalium dari makanan rendah, pengeluaran
lewat urin meningkat, diare, muntah, dehidrasi, luka pembedahan.
Makanan yang mengandung kalium yaitu buah-buahan, sari buah, kacang-kacangan, dan Iain-
Iain.
Pemeriksaan Kalsium (Ca) adalah untuk mengetahui kadar kalsium dalam darah.
Sebagian besar kalsium dalam tubuh tersimpan dalam tulang.
Fungsi Kalsium adalah untuk membentuk dan memperbaiki tulang dan gigi serta membantu
kerja syaraf, pembekuan darah dan kerja jantung.
Mengetahui Kadar Ca dapat mendeteksi kondisi Karsinoma dengan atau tanpa metastase
tulang, dehidrasi, sarcidosis, hipervitaminosis, penyakit hati kronis lanjut, bakteremia, defisiensi
vitamin D, Pankreatitis akut, asidosis tubular ginjal, osteomalacia, dan gangguan malabsorspsi
lainnya.
Nilai normal :
Dewasa 9-11 mg/dl (di serum) ; <150 mg/24 jam (di urin & diet rendah
Ca) ; 200 300 mg/24 jam (di urin & diet tinggi Ca)
Anak 9 -11,5 mg/dl
Bayi 10 -12 mg/dl
Bayi baru 7,4 -14 mg/dl.
lahir
Penurunan kalsium dapat terjadi pada kondisi malabsorpsi saluran cerna, kekurangan asupan
kalsium dan vitamin D, gagal ginjal kronis, infeksi yang luas, luka bakar, radang pankreas,
diare, pecandu alkohol, kehamilan. Selain itu penurunan kalsium juga dapat dipicu oleh
penggunaan obat pencahar, obat maag, insulin, dan Iain-Iain.
Peningkatan kalsium terjadi karena adanya keganasan (kanker) pada tulang, paru, payudara,
kandung kemih, dan ginjal. Selain itu, kelebihan vitamin D, adanya batu ginjal, olah raga
berlebihan, dan Iain-Iain, juga dapat memacu peningkatan kadar kalsium dalam tubuh.
Pemeriksaan Chlorida (Cl) adalah untuk mengetahui kadar Chlorida (Cl) dalam darah.
Chlorida adalah elektrolit yang penting dalam menjaga keseimbangan cairan dalam dan luar sel
tubuh, mempertahankan volume darah normal, tekanan darah dan pH cairan tubuh.
Manfaat pemeriksaan Cl adalah untuk membedakan diagnosis asidemia dan alkalemia,
mendeteksi kondisi diare, asidosis, diabetik ketoasidosis, dan gangguan kesehatan lainnya.
Nilai normal :
Dewasa 95-105 mEq/L
Anak 98-110 mEq/L
Bayi 95 -110 mEq/L
Bayi baru lahir 94-112 mEq/L
Penurunan klorida dapat terjadi pada penderita muntah, bilas lambung, diare, diet rendah
garam, infeksi akut, luka bakar, terlalu banyak keringat, gagal jantung kronis, penggunaan
obatThiazid, diuretik, dan Iain-lain.
Peningkatan klorida terjadi pada penderita dehidrasi,cedera kepala, peningkatan natrium,
gangguan ginjal,penggunaan obat kortison, asetazolamid, dan Iain-Iain.
PANEL DEMAM.
Hal ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui adanya penyakit infeksi yang dapat menimbulkan
demam seperti halnya infeksi saluran nafas (Bronchitis, TBC), Infeksi Saluran kemih, Demam
Typhoid, Demam Berdarah, Malaria dan lain-lain. Untuk tujuan pengobatan dan mengetahui
perjalanan penyakit dapat dilakukan dengan kultur (biakan kuman dan juga dengan tes
kepekaan kuman terhadap antibiotika.
Jenis pemeriksaan yang dilakukan adalah :
Hematologi Rutin.
Urin Rutin.
Malaria (Sediaan apus darah tepi).
Widal, Anti Dengue IgG, IgM.
SGOT, SGPT.
PANEL GANGGUAN FUNGSI HATI dan PETANDA HEPATITIS.
Manfaat dan kegunaan pemeriksaan fungsi hati dan penyakit hepatitis ini adalah untuk
mengetahui gangguan fungsi hati dan radang atau infeksi hati.
Pemeriksaan Gangguan Funsi Hati meliputi :
1. SGOT, SGPT.
2. Gamma GT, Alkali Fosfatase.
3. Total Protein dan fraksinya.
4. Bilirubin Total.
Pemeriksaan Petanda Hepatitis terdiri dari :
1. gM anti HAV
2. HBsAg.
3. Anti HCV.
PANEL GANGGUAN FUNGSI GINJAL.
Tujuan dan kegunaan pemeriksaan fungsi ginjal adalah dalam rangka mengetahui adanya
gangguan pada fungsi ginjal seseorang.
Jenis Pemeriksaan Fungsi Ginjal antara lain adalah sebagai berikut :
Urin Rutin.
Ureum, Kreatinin, Asam Urat.
Elektrolit yang terdiri dari : Natrium (Na), Kalium (K), Clorida (Cl), Kalsium.
Fosfat Anorganik (Pada umumnya diperiksa bagi usia > 40 tahun).
PANEL UJI SARING ANEMIA.
Kegunaan manfaat pemeriksaan laboratorium ini adalah untuk mengetahui adanya anemia dan
juga mengetahui penyebab anemia.
Jenis Pemeriksaan yang dilakukan antara lain adalah sebagai berikut :
Analyzer Hematologi (HB,Ht,Leukosit,Hitung jenis lekosit,Indeks eritrosit.
Gambaran darah tepi, retikulosit.
Fe Serum, Fenritin, TIBC.
PANEL GANGGUAN METABOLISME GULA (DIABETES MELLITUS).
Pemeriksaan untuk diagnosa DM dan juga untuk follow up penyakit kencing manis adalah
dengan pemeriksaan gula darah dan urin puasa gula darah dan urin 2 jam pp.
Pemeriksaan Laboratorium Pengelolaan Penyakit DM adalah dengan melakukan pemeriksaan
lab gula darah puasa dan 2 jam PP, HbA1c (dilakukan setiap 3 bulan), urin rutin, benda keton,
ureum, kreatinin, asam urat, Mikroalbumin, Kolesterol total, HDL Kolesterol, LDL Kolesterol,
Trigliserida.
Glukosa, atau gula darah, dipecah dalam sel darah untuk memberikan energi. Kadar
yang lebih tinggi dapat disebabkan oleh diabetes atau pengobatan seperti steroid.
Tingkat Sodium dalam darah merepresentasikan keseimbangan antara asupan dan
pengeluaran sodium dan air. Tingkat sodium darah abnormal dapat mengindikasikan
disfungsi jantung atau ginjal atau dehidrasi.
Potassium memainkan peran penting dalam regulasi aktivitas otot, termasuk kontraksi
jantung. Gagal ginjal, muntah-muntah, atau diare dapat menyebabkan tingkat abnormal.
Tingkat Klorida dapat meningkat dan menurun secara paralel dengan tingkat sodium
untuk membangun netralitas elektrik. Beberapa gangguan dapat mengubah tingkat
klorida, termasuk disfungsi ginjal, penyakit adrenal, muntah-muntah, diare, dan gagal
jantung kongestif.
Karbon Dioksida (CO2) beraksi sebagai sistem penyangga untuk membantu
membangun keseimbangan asam basa dalam darah. Penyakit pernafasan, gangguan
ginjal, muntah parah, diare, dan infeksi yang sangat parah dapat memproduksi tingkat
abnormal.
Blood urea nitrogen (BUN) memberikan ukuran kasar penyaringan glomerular, atau
tingkat penyaringan darah melalui pembuluh darah kecil pada ginjal. Tingkat BUN yang
tinggi dapat mengindikasikan disfungsi ginjal.
KreatininYang merupakan produk pemecahan kreatin, adalah komponen penting otot
dieksresikan secara khusus oleh ginjal. Tingkat serum creatinine dianggap sebagai tes
darah paling sensitif dari fungsi ginjal.
Glukosa (Sewaktu, Puasa dan 2 jam PP)
Untuk mengetahui kadar Glukosa darah, sehingga membantu menentukan terapi pasien
diabetes
Cholesterol Total, Trigliserida, HDL, LDL Direk
Untuk mengetahui profil lemak pasien, sehingga membantu menentukan terapi,
memantau terapi, menentukan faktor resiko PJK dan Stroke
Lp(a)
Merupakan faktor resiko stroke
Small dense-LDL
LDL berukuran kesil dan lebih berbahaya dari LDL, merupakan faktor resiko PJK dan
stroke
Ureum (BUN), Kreatinin
Untuk mengetahui fungsi ginjal
Asam Urat
Untuk mengetahui adanya penyakit Gout Arthritis (nyeri sendi karena tingginya kadar
asam urat)
SGOT, SGPT
Untuk mengetahui fungsi hati, sehingga membantu mendiagnosis kelainan hati
Billirubin
Peningkatan kadar billirubin bisa terjadi karena penyakit hati dan empedu (karena
radang / infeksi, sumbatan batu, tumor) atau pemecahan sel darah merah yang
berlebihan
Protein Total
Untuk mengetahui apakah seseorang menderita kekurangan protein, untuk mengetahui
fungsi hati (hati merupakan organ yang menghasilkan protein)
Albumin
Kekurangan albumin dapat terjadi pada penyakit hati (misalnya serosi), kekurangan gizi,
kebocoran di ginjal (misalnya sindrom nefrotik)
Globulin
Penurunan kadarnya berarti terdapat gangguan kekebalan tubuh. Peningkatan kadar
globulin terjadi pada infeksi, penyakit hati dan beberapa keganasan.
Cholenesterase (CHE)
Merupakan enzim hati yang dipergunakan untuk membantu menentukan apakah fungsi
sintetis dari hati masih baik
Alkali Fosfatase (ALP) Gamma-GT
Meruoakan enzim yang dihasilkan oleh hati dan saluran empedu. Peningkatan kadarnya
berarti kemungkinan ada kelainan (radang, infeksi, batu, tumor) pada hati dan saluran
empedu
Protein Elektrophoresis (SPF)
Merupakan test untuk mengetahui proporsi (%) fraksi-fraksi protein dalam darah
(albumin, a1- dan a2-globulin, b-globulin, dan g-globulin