Pengertian dan Faktor Prestasi Belajar
Pengertian dan Faktor Prestasi Belajar
Prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata yaitu prestasi dan belajar.
Antara kata prestasi dan belajar mempunyai arti yang berbeda. Oleh karena itu, sebelum
pengertian prestasi belajar, ada baiknya pembahasan ini diarahkan pada masing-masing
permasalahan terlebih dahulu untuk mendapatkan pemahaman lebih jauh mengenai makna kata
prestasi dan belajar. Hal ini juga untuk memudahkan dalam memahami lebih mendalam tentang
pengertian prestasi belajar itu sendiri. Di bawah ini akan dikemukakan beberapa pengertian
prestasi dan belajar menurut para ahli.
Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individu
maupun secara kelompok (Djamarah, 1994:19). Sedangkan menurut Masud Hasan Abdul Dahar
dalam Djamarah (1994:21) bahwa prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil
pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.
Dari pengertian yang dikemukakan tersebut di atas, jelas terlihat perbedaan pada kata-kata
tertentu sebagai penekanan, namun intinya sama yaitu hasil yang dicapai dari suatu kegiatan.
Untuk itu, dapat dipahami bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan,
diciptakan, yang menyenangkan hati, yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja, baik secara
individual maupun secara kelompok dalam bidang kegiatan tertentu.
Menurut Slameto (1995 : 2) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Secara sederhana dari pengertian
belajar sebagaimana yang dikemukakan oleh pendapat di atas, dapat diambil suatu pemahaman
tentang hakekat dari aktivitas belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri individu.
Sedangkan menurut Nurkencana (1986 : 62) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah hasil
yang telah dicapai atau diperoleh anak berupa nilai mata pelajaran. Ditambahkan bahwa prestasi
belajar merupakan hasil yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari
aktivitas dalam belajar.
Setelah menelusuri uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa prestasi belajar adalah hasil atau
taraf kemampuan yang telah dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam
waktu tertentu baik berupa perubahan tingkah laku, keterampilan dan pengetahuan dan kemudian
akan diukur dan dinilai yang kemudian diwujudkan dalam angka atau pernyataan.
Dalam faktor jasmaniah ini dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor kesehatan dan faktor cacat
tubuh.
1. Faktor kesehatan
Faktor kesehatan sangat berpengaruh terhadap proses belajar siswa, jika kesehatan seseorang
terganggu atau cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk, jika keadaan badannya
lemah dan kurang darah ataupun ada gangguan kelainan alat inderanya.
2. Cacat tubuh
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurnanya mengenai
tubuh atau badan. Cacat ini berupa buta, setengah buta, tulis, patah kaki, patah tangan, lumpuh,
dan lain-lain (Slameto, 2003 : 55).
b. Faktor psikologis
1. Intelegensi
Slameto (2003: 56) mengemukakan bahwa intelegensi atau kecakapan terdiri dari tiga jenis yaitu
kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dan cepat efektif
mengetahui/menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan
mempelajarinya dengan cepat.
2. Perhatian
Menurut al-Ghazali dalam Slameto (2003 : 56) bahwa perhatian adalah keaktifan jiwa yang
dipertinggi jiwa itupun bertujuan semata-mata kepada suatu benda atau hal atau sekumpulan
obyek.
Untuk menjamin belajar yang lebih baik maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan
yang dipelajarinya. Jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah
kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar. Agar siswa belajar dengan baik, usahakan buku
pelajaran itu sesuai dengan hobi dan bakatnya.
3. Bakat
Menurut Hilgard dalam Slameto (2003 : 57) bahwa bakat adalah the capacity to learn. Dengan
kata lain, bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu akan terealisasi pencapaian
kecakapan yang nyata sesudah belajar atau terlatih. Kemudian menurut Muhibbin (2003 : 136)
bahwa bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki oleh seseorang untuk mencapai
keberhasilan pada masa yang akan datang.
4. Minat
Menurut Jersild dan Taisch dalam Nurkencana (1996 : 214) bahwa minat adalah menyakut
aktivitas-aktivitas yang dipilih secara bebas oleh individu. Minat besar pengaruhnya terhadap
aktivitas belajar siswa, siswa yang gemar membaca akan dapat memperoleh berbagai
pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, wawasan akan bertambah luas sehingga akan
sangat mempengaruhi peningkatan atau pencapaian prestasi belajar siswa yang seoptimal
mungkin karena siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu pelajaran akan mempelajari dengan
sungguh-sungguh karena ada daya tarik baginya.
5. Motivasi
Menurut Slameto (2003 : 58) bahwa motivasi erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan
dicapai dalam belajar, di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi
untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah
motivasi itu sendiri sebagai daya penggerak atau pendorongnya.
6. Kematangan
Menurut Slameto (2003 : 58) bahwa kematangan adalah sesuatu tingkah atau fase dalam
pertumbuhan seseorang di mana alat-alat tubuhnya sudah siap melaksanakan kecakapan baru.
Berdasarkan pendapat di atas, maka kematangan adalah suatu organ atau alat tubuhnya dikatakan
sudah matang apabila dalam diri makhluk telah mencapai kesanggupan untuk menjalankan
fungsinya masing-masing kematang itu datang atau tiba waktunya dengan sendirinya, sehingga
dalam belajarnya akan lebih berhasil jika anak itu sudah siap atau matang untuk mengikuti
proses belajar mengajar.
7. Kesiapan
Kesiapan menurut James Drever seperti yang dikutip oleh Slameto (2003 : 59) adalah preparedes
to respon or react, artinya kesediaan untuk memberikan respon atau reaksi.
Jadi, dari pendapat di atas dapat diasumsikan bahwa kesiapan siswa dalam proses belajar
mengajar, sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa, dengan demikian prestasi belajar siswa
dapat berdampak positif bilamana siswa itu sendiri mempunyai kesiapan dalam menerima suatu
mata pelajaran dengan baik.
c. Faktor kelelahan
Ada beberapa faktor kelelahan yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain dapat
dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani. Sebagaimana
dikemukakan oleh Slameto (1995:59) sebagai berikut:
Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecendrungan untuk
membaringkan tubuh. Kelelahan jasmani terjadi karena ada substansi sisa pembakaran di dalam
tubuh, sehingga darah kurang lancar pada bagian tertentu. Sedangkan kelelahan rohani dapat
terus menerus karena memikirkan masalah yang berarti tanpa istirahat, mengerjakan sesuatu
karena terpaksa, tidak sesuai dengan minat dan perhatian.
Dari uraian di atas maka kelelahan jasmani dan rohani dapat mempengaruhi prestasi belajar dan
agar siswa belajar dengan baik haruslah menghindari jangan sampai terjadi kelelahan dalam
belajarnya seperti lemah lunglainya tubuh. Sehingga perlu diusahakan kondisi yang bebas dari
kelelahan rohani seperti memikirkan masalah yang berarti tanpa istirahat, mengerjakan sesuatu
karena terpaksa tidak sesuai dengan minat dan perhatian. Ini semua besar sekali pengaruhnya
terhadap pencapaian prestasi belajar siswa. Agar siswa selaku pelajar dengan baik harus tidak
terjadi kelelahan fisik dan psikis.
Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap prestasi belajar dapatlah dikelompokkan menjadi tiga
faktor yaitu faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat (Slameto, 1995 : 60).
a. Faktor keluarga
Faktor keluarga sangat berperan aktif bagi siswa dan dapat mempengaruhi dari keluarga antara
lain: cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, keadaan keluarga, pengertian orang
tua, keadaan ekonomi keluarga, latar belakang kebudayaan dan suasana rumah.
Cara orang tua mendidik besar sekali pengaruhnya terhadap prestasi belajar anak, hal ini
dipertegas oleh Wirowidjojo dalam Slameto (2003 : 60) mengemukakan bahwa keluarga adalah
lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga yang sehat besar artinya untuk mendidik
dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan mutu pendidikan dalam ukuran besar yaitu
pendidikan bangsa dan negara.
Dari pendapat di atas dapat dipahami betapa pentingnya peranan keluarga di dalam pendidikan
anaknya. Cara orang mendidik anaknya akan berpengaruh terhadap belajarnya.
Berdasarkan pendapat di atas bahwa keadaan keluarga dapa mempengaruhi prestasi belajar anak
sehingga faktor inilah yang memberikan pengalaman kepada anak untuk dapat menimbulkan
prestasi, minat, sikap dan pemahamannya sehingga proses belajar yang dicapai oleh anak itu
dapat dipengaruhi oleh orang tua yang tidak berpendidikan atau kurang ilmu pengetahuannya.
4. Pengertian orang tua
Menurut Slameto (2003 : 64) bahwa anak belajar perlu dorongan dan pengertian orang tua. Bila
anak sedang belajar jangan diganggu dengan tugas-tugas rumah. Kadang-kadang anak
mengalami lemah semangat, orang tua wajib memberi pengertian dan mendorongnya sedapat
mungkin untuk mengatasi kesulitan yang dialaminya.
5. Keadaan ekonomi keluarga
Menurut Slameto (2003 : 63) bahwa keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar
anak. Anak yang sedang belajar selain terpenuhi kebutuhan pokoknya, misalnya makanan,
pakaian, perlindungan kesehatan, dan lain-lain, juga membutuhkan fasilitas belajar seperti ruang
belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis menulis, dan sebagainya.
6. Latar belakang kebudayaan
Tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam belajar
(Roestiyah, 1989: 156). Oleh karena itu perlu kepada anak ditanamkan kebiasaan-kebiasaan
baik, agar mendorong tercapainya hasil belajar yang optimal.
7. Suasana rumah
Suasana rumah sangat mempengaruhi prestasi belajar, hal ini sesuai dengan pendapat Slameto
(2003 : 63) yang mengemukakan bahwa suasana rumah merupakan situasi atau kejadian yang
sering terjadi di dalam keluarga di mana anak-anak berada dan belajar. Suasana rumah yang
gaduh, bising dan semwarut tidak akan memberikan ketenangan terhadap diri anak untuk belajar.
Suasana ini dapat terjadi pada keluarga yang besar terlalu banyak penghuninya. Suasana yang
tegang, ribut dan sering terjadi cekcok, pertengkaran antara anggota keluarga yang lain yang
menyebabkan anak bosan tinggal di rumah, suka keluar rumah yang akibatnya belajarnya kacau
serta prestasinya rendah.
b. Faktor sekolah
Faktor sekolah dapat berupa cara guru mengajar, ala-alat pelajaran, kurikulum, waktu sekolah,
interaksi guru dan murid, disiplin sekolah, dan media pendidikan, yaitu :
Dalam kegiatan belajar, guru berperan sebagai pembimbing. Dalam perannya sebagai
pembimbing, guru harus berusaha menhidupkan dan memberikan motivasi, agar terjadi proses
interaksi yang kondusif. Dengan demikian cara mengajar guru harus efektif dan dimengerti oleh
anak didiknya, baik dalam menggunakan model, tehnik ataupun metode dalam mengajar yang
akan disampaikan kepada anak didiknya dalam proses belajar mengajar dan disesuaikan dengan
konsep yang diajarkan berdasarkan kebutuhan siswa dalam proses belajar mengajar
2. Model pembelajaran
Model atau metode pembelajaran sangat penting dan berpengaruh sekali terhadap prestasi
belajar siswa, terutama pada pelajaran matematika. Dalam hal ini model atau metode
pembelajaran yang digunakan oleh guru tidak hanya terpaku pada satu model pembelajaran saja,
akan tetapi harus bervariasi yang disesuaikan dengan konsep yang diajarkan dan sesuai dengan
kebutuhan siswa, terutama pada guru matematika. Dimana guru matematika harus bisa menilih
dan menentukan metode pembelajaran yang tepat untuk digunakan dalam pembelajaran. Adapun
model-model pembelajaran itu, misalnya : model pembelajaran kooperatif, pembelajaran
kontekstual, realistik matematika problem solving dan lain sebagainya.
Dalam hal ini, model yang diterapkan adalah model kooperatif tipe STAD, dimana model atau
metode ini berpengaruh terhadap proses belajar siswa dan dapat meningkatkan prestasi belajar
siswa
3. Alat-alat pelajaran
Untuk dapat hasil yang sempurna dalam belajar, alat-alat belajar adalah suatu hal yang tidak
kalah pentingnya dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, misalnya perpustakaan,
laboratorium, dan sebagaianya.
Menurut Purwanto (2004 : 105) menjelaskan bahwa sekolah yang cukup memiliki alat-alat dan
perlengkapan yang diperlukan untuk belajar ditambah dengan cara mengajar yang baik dari guru-
gurunya, kecakapan guru dalam menggunakan alat-alat itu, akan mempermudah dan
mempercepat belajar anak.
4. Kurikulum
Kurikulum diartikan sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa, kegiatan itu sebagian besar
menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai dan mengembangkan bahan
pelajaran itu. Menurut Slameto (2003 : 63) bahwa kurikulum yang tidak baik akan berpengaruh
tidak baik terhadap proses belajar maupun prestasi belajar siswa.
5. Waktu sekolah
Waktu sekolah adalah waktu terjadinya proses belajar mengajar di sekolah, waktu sekolah dapat
pagi hari, siang, sore bahkan malam hari. Waktu sekolah juga mempengaruhi belajar siswa
(Slameto, 2003 : 68).
7. Disiplin sekolah
Kedisiplinan sekolah erat hubungannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah dan juga dalam
belajar (Slameto, 2003 : 67). Kedisiplinan sekolah ini misalnya mencakup kedisiplinan guru
dalam mengajar dengan pelaksanaan tata tertib, kedisiplinan pengawas atau karyawan dalam
pekerjaan administrasi dan keberhasilan atau keteraturan kelas, gedung sekolah, halaman, dan
lain-lain.
8. Media pendidikan
Kenyataan saat ini dengan banyaknya jumlah anak yang masuk sekolah, maka memerlukan alat-
alat yang membantu lancarnya belaajr anak dalam jumlah yang besar pula (Roestiyah, 1989 :
152). Media pendidikan ini misalnya seperti buku-buku di perpustakaan, laboratorium atau
media lainnya yang dapat mendukung tercapainya prestasi belajar dengan baik.
Faktor yang mempengaruhi terhadap prestasi belajar siswa antara lain teman bergaul, kegiatan
lain di luar sekolah dan cara hidup di lingkungan keluarganya.
Anak perlu bergaul dengan anak lain, untik mengembangkan sosialisasinya. Tetapi perlu dijaga
jangan sampai mendapatkan teman bergaul yang buruk perangainya. Perbuatan tidak baik mudah
berpengaruh terhadap orang lain, maka perlu dikontrol dengan siapa mereka bergaul.
Menurut Slameto (2003 : 73) agar siswa dapat belajar, teman bergaul yang baik akan
berpengaruh baik terhadap diri siswa, begitu juga sebaliknya, teman bergaul yang jelek
perangainya pasti mempengaruhi sifat buruknya juga, maka perlu diusahakan agar siswa
memiliki teman bergaul yang baik-baik dan pembinaan pergaulan yang baik serta pengawasan
dari orang tua dan pendidik harus bijaksana.
Cara hidup tetangga disekitar rumah di mana anak tinggal, besar pengaruh terhadap pertumbuhan
anak (Roestiyah, 1989 : 155). Hal ini misalnya anak tinggal di lingkungan orang-orang rajib
belajar, otomatis anak tersebut akan berpengaruh rajin juga tanpa disuruh.
Faktor eksternal ini dapat menimbulkan pengaruh positif antara lain dilihat dari
1. Ekonomi keluarga menurut Slameto (1993 : 63), bahwa keadaan ekonomi keluarga erat
hubungannya dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar selain terpenuhi kebutuhan
pokoknya, misalnya makanan, pakaian, perlindungan kesehatan dan lain-lain. Juga
membutuhkan fasilitas belajar seperti ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis menulis,
buku dan lain-lain. Fasilitas belajar itu hanya dapat terpenuhi jika keluarga mempunyai cukup
uang.
5. Teman bergaul
Anak perlu bergaul dengan anak lain untuk mengembangkan sosialisainya karena siswa dapat
belajar dengan baik apabila teman bergaulnya baik tetapi perlu dijaga jangan sampai
mendapatkan teman bergaul yang buruk perangainya.
Faktor eksternal yang dapat menimbulkan pengaruh negatif bagi prestasi anak adalah:
a. Cara mendidik
Orang tua yang memanjakan anaknya, maka setelah anaknya sekolah akan menjadi anak yang
kurang bertanggung jawab dan takut menghadapi tantangan atau kesulitan. Juga orang tua yang
mendidik anaknya secara keras maka anak tersebut manjadi penakut dan tidak percaya diri.
Guru yang kurang berinteraksi dengan murid secara intern menyebabkan proses balajar mengajar
menjadi kurang lancar juga anak merasa jauh dari guru maka segan berpartisipasi secara aktif
dalam belajarnya. Guru yang mengajar bukan pada keahliannya, serta sekolah yang memiliki
fasilitas dan sarana yang kurang memadai maka bisa menyebabkan prestasi belajarnya rendah.
Daftar Pustaka
Djamarah, Syaiful Bahri. 1994. Prestasi Belajar dan kompetensi Guru. Surabaya: Usaha
Nasional.
Nurkencana. 2005. Evaluasi Hasil Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Menurut Skinner , belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang harus dapat diukur. Bila
pembelajar (peserta didik) berhasil belajar, maka respon bertambah, tetapi bila tidak belajar
banyaknya respon berkurang, sehingga secara formal hasil belajar harus bisa diamati dan diukur.
Hasil temuan skinner terdapat tiga komponen dalam belajar yaitu: Discriminative stimulus (SD)
Response Reinforcement (penguatan) - penguatan positif- penguatan negative
1. lingkungan fisik
2. kematangan
3. pengaruh social
4. proses pengendalian diri (equilibration) (Piaget, 1977)
Tingkah laku sering dievaluasi, bebas dari umpan balik lingkungan sehingga mengubah kesan-
kesan personal Tingkah laku mengaktifkan kontingensi lingkungan Karakteristik fisik seperti
ukuran, ukuran jenis kelamin dan atribut sosial menumbuhkan reaksi lingkungan yang berbeda.
Pengakuan sosial yang berbeda mempengaruhi konsepsi diri individu. Kontingensi yang aktif
dapat merubah intensitas atau arah aktivitas.
Tingkah laku dihadirkan oleh model Model diperhatikan oleh pelajar (ada penguatan oleh model)
Tingkah laku (kemampuan dikode dan disimpan oleh pembelajar). Pemrosesan kode-kode
simbolik Skema hubungan segitiga antara lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku.
Skema
Proses Kognitif Pembelajar
Pembelajar mampu menunjukkan kompetensi/tingkah laku
Performance/unjuk kerja
Motivasi pembelajar mengolah tingkah laku
Proses perhatian sangat penting dalam pembelajaran karena tingkah laku yang baru (kompetensi)
tidak akan diperoleh tanpa adanya perhatian pembelajar. Proses retensi sangat penting agar
pengkodean simbolik tingkah laku ke dalam visual atau kode verbal dan penyimpanan dalam
memori dapat berjalan dengan baik. Dalam hal ini rehearsal (ulangan ) memegang peranan
penting.
Proses motivasi yang penting adalah penguatan dari luar, penguatan dari dirinya sendiri dan
Vicarius Reinforcement (penguatan karena imajinasi).
Lebih lanjut menurut Bandura (1982) penguasaan skill dan pengetahuan yang kompleks tidak
hanya bergantung pada proses perhatian, retensi, motor reproduksi dan motivasi, tetapi juga
sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang berasal dari diri pembelajar sendiri yakni sense of
self Efficacy dan self regulatory system. Sense of self efficacy adalah keyakinan pembelajar
bahwa ia dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan sesuai standar yang berlaku.
Self regulatory adalah menunjuk kepada 1) struktur kognitif yang memberi referensi tingkah laku
dan hasil belajar, 2) sub proses kognitif yang merasakan, mengevaluasi, dan pengatur tingkah
laku kita (Bandura, 1978). Dalam pembelajaran sel-regulatory akan menentukan goal setting
dan self evaluation pembelajar dan merupakan dorongan untuk meraih prestasi belajar yang
tinggi dan sebaliknya.
Berikut Bandura mengajukan usulan untuk mengembangkan strategi proses pembelajaran yaitu
sebagi berikut :
Apakah karekter dari tingkah laku yang akan dijadikan model itu berupa konsep, motor
skil atau efektif?
Bagaimanakah urutan atau sekuen dari tingkah laku tersebut?
Dimanakah letak hal-hal yang penting (key point) dalam sekuen tersebut?
2. Tetapkan fungsi nilai dari tingkah laku dan pilihlah tingkah laku tersebut sebagai model.
Apakah tingkah laku (kemampuan yang dipelajari) merupakan hal yang penting dalam
kehidupan dimasa datang? (success prediction)
Bila tingkah laku yang dipelajari kurang memberi manfaat (tidk begitu penting) model
manakah yang lebih penting?
Apakah model harus hidup atau simbol? Pertimbangan soal biaya, pengulangan
demonstrasi dan kesempatan untuk menunjukkan fungsi nilai dan tingkah laku.
Apakah reinforcement yang akan didapat melalui model yang dipilih?
hadirkan model
beri kesempatan kepada tiap-tiap pembelajar untuk latihan secara simbolik
beri kesempatan kepada pembelajar untuk latihan dengan umpan balik visual
b. proses kognitif
Tampilkan model, baik yang didukung oleh kode-kode verbal atau petunjuk untuk
mencari konsistensi pada berbagai contoh
Beri kesempatan kepada pembelajar untuk membuat ihtisar atau summary
Jika yang dipelajari adalah pemecahan masalah atau strategi penerapan beri kesempatan
pembelajar untuk berpartisipasi secaraaktif
Beri kesempatan pembelajar untuk membuat generalisasi ke berbagai siatuasi.
conditioning
modeling
kognitif
teori stimulus-respon
teori medan
Di dalam pembahasan akan difokuskan pada teori belajar orang dewasa. Ada aliran inkuiri yang
merupakan landasan teori belajar dan mengajar orang dewasa yaitu : scientific stream dan
artistic atau intuitive/reflective stream. Aliran scientific stream adalah menggali atau
menemukan teori baru tentang belajar orang dewasa melalui penelitian dan eksperimen . Teori
ini diperkenalkan oleh Edward L. Thorndike dengan pubilkasinya Adult Learning, pada tahun
1928.
Pada aliran artistic, teori baru ditemukan melalui instuisi dan analisis pengalaman yang
memberikan perhatian tentang bagaimana orang dewasa belajar. Aliran ini diperkenalkan oleh
Edward C. Lindeman dalam penerbitannya The Meaning of Adult Education pada tahun 1926
yang sangat dipengaruhi oleh filsafat pendidikan John Dewey. Menurutnya sumber yang paling
berguna dalam pendidikan orang dewasa adalah pengalaman peserta didik. Dari hasil penelitian,
Linderman mengidentifikasi beberapa asumsi tentang pembelajar orang dewasa yang dijadikan
fondasi teori belajar orang dewasa yaitu sebagai berikut :
1. Pembelajar orang dewasa akan termotivasi untuk belajar karena kebutuhan dan minat
dimana belajar akan memberikan kepuasan
2. Orientasi pembelajar orang dewasa adalah berpusat pada kehidupan, sehingga unit-unit
pembelajar sebaiknya adalah kehidupan nyata (penerapan) bukan subject matter.
3. Pengalaman adalah sumber terkaya bagi pembelajar orang dewasa, sehingga metode
pembelajaran adalah analisa pengalaman (experiential learning).
4. Pembelajaran orang dewasa mempunyai kebutuhan yang mendalam untuk mengarahkan
diri sendiri (self directed learning), sehingga peran guru sebagai instruktur.
5. Perbedaan diantara pembelajar orang dewasa semakin meningkat dengan bertambahnya
usia, oleh karena itu pendidikan orang dewasa harus memberi pilihan dalam hal
perbedaan gaya belajar, waktu, tempat dan kecepatan belajar.
Di samping defenisi tersebut, ada definisi lain yang yang dikemukakan oleh The National Joint
Commite for Learning Dissabilites (NJCLD) dalam Abdurrahman (2003 : 07) bahwa kesulitan
belajar menunjuk kepada suatu kelompok kesulitan yang didefenisikan dalam bentuk kesulitan
nyata dalam kematian dan penggunan kemampuan pendengaran, bercakap-cakap, membaca,
menulis, menalar atau kemampuan dalam bidang studi matematika.
Ilmu kimia merupakan salah satu pelajaran yang dirasakan sulit oleh siswa sekolah menengah
dan mahasiswa. Kesulitan mempelajari ilmu kimia ini terkait dengan ciri ilmu kimia itu sendiri.
Adapun ciri-ciri ilmu kimia tersebut adalah: 1) sebagian besar ilmu kimia itu bersifat abstrak, 2)
ilmu kimia merupakan penyederhanaan dari materi yang sebenarnya, 3) sifat ilmu kimia
berurutan dan berkembang pesat, 4) ilmu kimia tidak hanya memecahkan soal-soal, 5) bahan
atau materi yang dipelajari sangat banyak (Middlecam (1985) dalam Rumansyah dan Irhasyuna,
2001).
Di dalam mempelajari ilmu kimia kita tidak lepas dari persoalan-persoalan yang berhubungan
dengan perhitungan matematika. Dalam memecahkan persoalan-persoalan yang memerlukan
perhitungan ini tentunya siswa akan mengalami kesulitan muali dari memahami soal, menulis
apa yang diketahui seperti menulis lambang, menulis apa yang ditanyakan, menulis rumus-rumus
hingga mencapai ke penyelesaian atau operasi matemetika.
Menurut Arifin, dalam Rumansyah dan Irhasyuna (2001) kesulitan siswa dalam mempelajari
ilmu kimia dapat bersumber dari :
3. Kesulitan angka
Dalam mempelajari kimia tidak lepas dari perhitungan matematis, dimana siswa dituntut trampil
dalam menerapkan rumus atau operasi matematika. Namun sering dijumpai siswa tidak
memahami rumus tersebut.
Belajar tidak senantiasa berhasil, akan tetapi sering kali ada hal-hal yang bisa menghambat
kemajuan belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar dikarenakan metode
mengajar yang tidak sesuai, penekanan kurikulum yang tidak cocok atau bahkan pembelajaran
yang kompleks. Menurut Slameto (2003 : 54), faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan
belajar ada dua, yaitu :
1. Faktor intern
Faktor intern adalah faktor yang ada di dalam individu yang sedang belajar. Faktor intern dibagi
menjadi tiga faktor, yaitu :
Psikologis, yang terdiri dari faktor inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan
dan kesiapan.
Kelelahan yang terdiri dari faktor kelelahan jasmani dan kelelahan rohani.
2. Faktor ekstern
Faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu. Faktor ekstern dikelompokkan menjadi
tiga faktor, yaitu :
Keluarga, yang meliputi cara orang mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana
rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan.
Sekolah, yang meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi
siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di
atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.
Masyarakat, yang meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, teman
bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.
Secara garis besar, langkah-langkah yang perlu dalam rangka mengatasi kesulitan belajar, dapat
dilakukan melalui enam tahap yaitu :
1. Pengumpulan data
Untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar, diperlukan banyak informasi sehingga
perlu diadakan suatu pengamatan langsung yang disebut pengumpulan data.
2. Pengolahan data
Data yang telah terkumpul dari kegiatan tahap pertama tersebut, tidak ada artinya jika tidak
diadakan pengolahan secara cermat. Semua data harus diolah dan dikaji untuk mengetahui secara
pasti sebab-sebab kesulitan belajar yang dialami oleh anak.
5. Perlakuan, yang merupakan pemberian bantuan kepada anak yang bersangkutan (yang
mengalami kesulitan belajar) sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis
tersebut.
6. Evaluasi, dimaksudkan untuk mengetahui apakah perlakuan yang telah diberikan berhasil
dengan baik, artinya ada kemampuan atau bahkan gagal sama sekali. (Ahmadi dan Widodo,
2000: 96)
Achievement test a standardised test for measuring the skill or knowledge by person in one
more lines of work a study (Websters New Internasional Dictionary, 1951 : 20)
Mempunyai arti kurang lebih prestasi adalah standart test untuk mengukur kecakapan atau
pengetahuan bagi seseorang didalam satu atau lebih dari garis-garis pekerjaan atau belajar.
Dalam kamus populer prestasi ialah hasil sesuatu yang telah dicapai (Purwodarminto, 1979 :
251)
Menurut Drs. H. Abu Ahmadi menjelaskan Pengertian Prestasi Belajar sebagai berikut: Secara
teori bila sesuatu kegiatan dapat memuaskan suatu kebutuhan, maka ada kecenderungan besar
untuk mengulanginya. Sumber penguat belajar dapat secara ekstrinsik (nilai, pengakuan,
penghargaan) dan dapat secara ekstrinsik (kegairahan untuk menyelidiki, mengartikan situasi).
Disamping itu siswa memerlukan/ dan harus menerima umpan balik secara langsung derajat
sukses pelaksanaan tugas (nilai raport/nilai test) (Psikologi Belajar DRS.H Abu Ahmadi, Drs.
Widodo Supriyono 151)
Definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian prestasi belajar ialah hasil usaha bekerja
atau belajar yang menunjukan ukuran kecakapan yang dicapai dalam bentuk nilai. Sedangkan
prestasi belajar hasil usaha belajar yang berupa nilai-nilai sebagai ukuran kecakapan dari usaha
belajar yang telah dicapai seseorang, prestasi belajar ditunjukan dengan jumlah nilai raport atau
test nilai sumatif.
Ada beberapa cara untuk meningkatkan prestasi salah satunya adalah dengan memperhatikan dan
mencermati gaya belajar dan cara belajar yang baik.
Prestasi belajar merupakan hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah menjalani serangkaian
proses pembelajaran. Hasil belajar tersebut digambarkan secara kuantitas dan kualitas. Secara
kuantitas dinyatakan dengan angka antara 0 sampai 100. Sedangkan secara kualitas digambarkan
dengan katagori sangat baik , baik, sedang dan kurang.
Prestasi belajar siswa dikatakan baik apabila telah mencapai syarat kriteria ketuntasan
minimal (KKM). Sedangkan secara kualitas dikatakan baik apabila sudah mencapai katagori
minimal, baik. Pola ini berlaku universal untuk lembaga sekolah.
Minat siswa terhadap suatu mata pelajaran akan mempengaruhi sikap siswa terhadap mata
pelajaran itu. Jika siswa meminati suatu mata pelajaran maka ia akan menunjukkan sikap serius
dan ingin mengikutinya sebaik mungkin. Siswa akan memperoleh prestasi belajar yang
optimal. Sebaliknya, jika siswa kurang meminati suatu mata pelajaran karena dianggapnya sulit
misalnya, maka ia akan menunjukkan sikap cuek dan sering mengeluh.
[Link] belajar.
Motivasi merupakan hal-hal yang mendorong siswa untuk mau belajar. Semangat dan kemauan
belajar ini akan menjadi roket pendorong bagi siswa untuk memperoleh prestasi belajar secara
maksimal. Jika motivasi belajar siswa rendah, maka sangat sulit untuk meraih hasil belajar yang
maksimal.
[Link] belajar.
Konsentrasi belajar adalah pemusatan seluruh aktivitas fisik dan mental pada pelajaran yang
sedang berlangsung. Konsentrasi menjadi modal utama untuk dapat mengikuti suatu pelajaran
dengan baik. Dengan konsentrasi penuh, siswa tidak akan melakukan kegiatan lain selain dari
aktivitas belajar yang sedang berlangsung.
[Link]-cita siswa.
Untuk apa siswa belajar? Pertanyaan ini sederhana tapi kadang-kadang siswa tidak bisa
memberikan jawaban yang sesungguhnya. Malah berfikir panjang terlebih dulu baru
memberikan jawaban. Padahal cita-cita merupakan harapan untuk meraih sesuatu yang
diinginkan. Dengan adanya cita-cita maka siswa akan berusaha untuk meraih prestasi belajar
yang tinggi.
5. Intelegensi
Intelegensi (kecerdasan) juga menjadi faktor penentu dalam meraih hasil belajar yang optimal.
Faktor intelegensi tidak ditempatkan pada urutan pertama karena alasan fenomena yang terjadi
dalam kenyataan sehari-hari. Rupanya intelegensi tidak menjamin siswa untuk meraih prestasi
belajar yang tinggi tanpa didukung oleh faktor yang lainnya.***
74 Votes
To overcome obstacle, to exercise power, to strive to do something difficult as well and as quickly
as possible
Kebutuhan untuk prestasi adalah mengatasi
hambatan, melatih kekuatan, berusaha melakukan sesuatu yang sulit dengan baik dan secepat
mungkin.
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan. Gagne
(1985:40) menyatakan bahwa prestasi belajar dibedakan menjadi lima aspek, yaitu : kemampuan
intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan keterampilan. Menurut Bloom dalam
Suharsimi Arikunto (1990:110) bahwa hasil belajar dibedakan menjadi tiga aspek yaitu kognitif, afektif
dan psikomotorik.
Prestasi merupakan kecakapan atau hasil kongkrit yang dapat dicapai pada saat atau periode
tertentu. Berdasarkan pendapat tersebut, prestasi dalam penelitian ini adalah hasil yang telah dicapai
siswa dalam proses pembelajaran.
b. Pengertian Belajar
Untuk memahami tentang pengertian belajar di sini akan diawali dengan mengemukakan
beberapa definisi tentang belajar. Ada beberapa pendapat para ahli tentang definisi tentang belajar.
Cronbach, Harold Spears dan Geoch dalam Sardiman A.M (2005:20) sebagai berikut :
3) Geoch, mengatakan :
Dari ketiga definisi diatas dapat disimpulkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan
perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca,
mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik kalau si
subyek belajar itu mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik. Belajar sebagai
kegiatan individu sebenarnya merupakan rangsangan-rangsangan individu yang dikirim kepadanya
oleh lingkungan. Dengan demikian terjadinya kegiatan belajar yang dilakukan oleh seorang idnividu
dapat dijelaskan dengan rumus antara individu dan lingkungan.
Fontana seperti yang dikutip oleh Udin S. Winataputra (1995:2) dikemukakan bahwa learning
(belajar) mengandung pengertian proses perubahan yang relative tetap dalam perilaku individu
sebagai hasil dari pengalaman. Pengertian belajar juga dikemukakan oleh Slameto (2003:2) yakni
belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya.
Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan
sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan prestasi belajar yang baik
perlu diperhatikan kondisi internal dan eksternal. Kondisi internal dalah kondisi atau situasi yang ada
dalam diri siswa, seperti kesehatan, keterampilan, kemapuan dan sebaginya. Kondisi eksternal adalah
kondisi yang ada di luar diri pribadi manusia, misalnya ruang belajar yang bersih, sarana dan prasaran
belajar yang memadai.
Winkel (1996:226) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan bukti keberhasilan yang
telah dicapai oleh seseorang. Maka prestasi belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh
seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar. Sedangkan menurut Arif Gunarso (1993 : 77)
mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah usaha maksimal yang dicapai oleh seseorang setelah
melaksanakan usaha-usaha belajar.
Prestasi belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari pengukuran terhadap peserta didik
yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang
diukur dengan menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan. Jadi prestasi belajar adalah
hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf maupun
kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu. Prestasi
belajar merupakan hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif
dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen
tes yang relevan.
Prestasi belajar dapat diukur melalui tes yang sering dikenal dengan tes prestasi belajar.
Menurut Saifudin Anwar (2005 : 8-9) mengemukakan tentang tes prestasi belajar bila dilihat dari
tujuannya yaitu mengungkap keberhasilan sesorang dalam belajar. Testing pada hakikatnya menggali
informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Tes prestasi belajar berupa tes
yang disusun secara terrencana untuk mengungkap performasi maksimal subyek dalam menguasai
bahan-bahan atau materi yang telah diajarkan. Dalam kegiatan pendidikan formal tes prestasi belajar
dapat berbentuk ulangan harian, tes formatif, tes sumatif, bahkan ebtanas dan ujian-ujian masuk
perguruan tinggi.
1. Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang dapat
digolongkan ke dalam faktor intern yaitu kecedersan/intelegensi, bakat, minat dan motivasi.
Kecerdasan/intelegensi
Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan
keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi
yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya.
Adakalany perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu anak
dengan anak yang lainnya, sehingga seseorang anak pada usia tertentu sudah memiliki tingkat
kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan sebayanya. Oleh karena itu jelas
bahwa faktor intelegensi merupakan suatu hal yang tidak diabaikan dalam kegiatan belajar
mengajar.
Menurut Kartono (1995:1) kecerdasan merupakan salah satu aspek yang penting, dan sangat
menentukan berhasil tidaknya studi seseorang. Kalau seorang murid mempunyai tingkat
kecerdasan normal atau di atas normal maka secara potensi ia dapat mencapai prestasi yang
tinggi.
Slameto (1995:56) mengatakan bahwa tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil
daripada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah.
Muhibbin (1999:135) berpendapat bahwa intelegensi adalah semakin tinggi kemampuan
intelegensi seseorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya,
semakin rendah kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk
meraih sukses.
Dari pendapat di atas jelaslah bahwa intelegensi yang baik atau kecerdasan yang tinggi
merupakan faktor yang sangat penting bagi seorang anak dalam usaha belajar.
Bakat
Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan.
Ungkapan ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto (1986:28) bahwa
bakat dalam hal ini lebih dekat pengertiannya dengan kata aptitude yang berarti kecakapan,
yaitu mengenai kesanggupan-kesanggupan tertentu.
Kartono (1995:2) menyatakan bahwa bakat adalah potensi atau kemampuan kalau diberikan
kesempatan untuk dikembangkan melalui belajar akan menjadi kecakapan yang nyata. Menurut
Syah Muhibbin (1999:136) mengatakan bakat diartikan sebagai kemampuan indivedu untuk
melakukan tugas tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan.
Dari pendapat di atas jelaslah bahwa tumbuhnya keahlian tertentu pada seseorang sangat
ditentukan oleh bakat yang dimilikinya sehubungan dengan bakat ini dapat mempunyai tinggi
rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Dalam proses belajar terutama belajat
keterampilan, bakat memegang peranan penting dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang
baik. Apalagi seorang guru atau orang tua memaksa anaknya untuk melakukan sesuatu yang
tidak sesuai dengan bakatnya maka akan merusak keinginan anak tersebut.
Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenai beberapa kegiatan.
Kegiatan yang dimiliki seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa sayang.
Menurut Winkel (1996:24) minat adalah kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk
merasa tertarik pada bidang/hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu.
Selanjutnya Slameto (1995:57) mengemukakan bahwa minat adalah kecenderungan yang tetap
untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan, kegiatan yang diminati seseorang,
diperhatikan terus yang disertai dengan rasa sayang.
Kemudian Sardiman (1992:76) mengemukakan minat adalah suatu kondisi yang terjadi apabila
seseorang melihat ciri-ciri atai arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-
keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri.
Berdasarkan pendapat di atas, jelaslah bahwa minat besar pengaruhnya terhadap belajar atau
kegiatan. Bahkan pelajaran yang menarik minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan
karena minat menambah kegiatan belajar. Untuk menambah minat seorang siswa di dalam
menerima pelajaran di sekolah siswa diharapkan dapat mengembangkan minat untuk
melakukannya sendiri. Minat belajar yang telah dimiliki siswa merupakan salah satu faktor yang
dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Apabila seseorang mempunyai minat yang tinggi terhadap
sesuatu hal maka akan terus berusaha untuk melakukan sehingga apa yang diinginkannya dapat
tercapai sesuai dengan keinginannya.
Motivasi
Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang
mendorong keadaan siswa untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai motivasi dalam belajar
adalah bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan. Demikian pula dalam
kegiatan belajar mengajar sorang anak didik akan berhasil jika mempunyai motivasi untuk
belajar.
Nasution (1995:73) mengatakan motivasi adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk
melakukan sesuatu. Sedangkan Sardiman (1992:77) mengatakan bahwa motivasi adalah
menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu.
Dalam perkembangannya motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu (a) motivasi
instrinsik dan (b) motivasi ekstrinsik. Motivasi instrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang
bersumber dari dalam diri seseorang yang atas dasarnya kesadaran sendiri untuk melakukan
sesuatu pekerjaan belajar. Sedangkan motivasi ekstrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang
datangnya dari luar diri seseorang siswa yang menyebabkan siswa tersebut melakukan kegiatan
belajar.
Dalam memberikan motivasi seorang guru harus berusaha dengan segala kemampuan yang ada
untuk mengarahkan perhatian siswa kepada sasaran tertentu. Dengan adanya dorongan ini dalam
diri siswa akan timbul inisiatif dengan alasan mengapa ia menekuni pelajaran. Untuk
membangkitkan motivasi kepada mereka, supaya dapat melakukan kegiatan belajar dengan
kehendak sendiri dan belajar secara aktif.
2. Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya di
luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan
sekitarnya dan sebagainya.
Pengaruh lingkungan ini pada umumnya bersifat positif dan tidak memberikan paksaan kepada
individu. Menurut Slameto (1995:60) faktor ekstern yang dapat mempengaruhi belajar adalah
keadaan keluarga, keadaan sekolah dan lingkungan masyarakat.
a. Keadaan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang dilahirkan dan
dibesarkan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Slameto bahwa: Keluarga adalah lembaga
pendidikan pertama dan utama. Keluarga yanng sehat besar artinya untuk pendidikan kecil, tetapi
bersifat menentukan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia.
Adanya rasa aman dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang dalam belajar.
Rasa aman itu membuat seseorang akan terdorong untuk belajar secara aktif, karena rasa aman
merupakan salah satu kekuatan pendorong dari luar yang menambah motivasi untuk belajar.
Dalam hal ini Hasbullah (1994:46) mengatakan: Keluarga merupakan lingkungan pendidikan
yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan dan
bimbingan, sedangkan tugas utama dalam keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak
dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan.
Oleh karena itu orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan dimulai dari keluarga.
Sedangkan sekolah merupakan pendidikan lanjutan. Peralihan pendidikan informal ke lembaga-
lembaga formal memerlukan kerjasama yang baik antara orang tua dan guru sebagai pendidik
dalam usaha meningkatkan hasil belajar anak. Jalan kerjasama yang perlu ditingkatkan, dimana
orang tua harus menaruh perhatian yang serius tentang cara belajar anak di rumah. Perhatian
orang tua dapat memberikan dorongan dan motivasi sehingga anak dapat belajar dengan tekun.
Karena anak memerlukan waktu, tempat dan keadaan yang baik untuk belajar.
b. Keadaan Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat penting dalam menentukan
keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong untuk
belajar yang lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru
dengan siswa, alat-alat pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara guru dan siswa kurang baik
akan mempengaruhi hasil-hasil belajarnya.
Menurut Kartono (1995:6) mengemukakan guru dituntut untuk menguasai bahan pelajaran yang
akan diajarkan, dan memiliki tingkah laku yang tepat dalam mengajar. Oleh sebab itu, guru
harus dituntut untuk menguasai bahan pelajaran yang disajikan, dan memiliki metode yang tepat
dalam mengajar.
c. Lingkungan Masyarakat
di samping orang tua, lingkungan juga merupakan salah satu faktor yang tidak sedikit
pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dalm proses pelaksanaan pendidikan. Karena
lingkungan alam sekitar sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak, sebab
dalam kehidupan sehari-hari anak akan lebih banyak bergaul dengan lingkungan dimana anak itu
berada.
Dalam hal ini Kartono (1995:5) berpendapat:
Lingkungan masyarakat dapat menimbulkan kesukaran belajar anak, terutama anak-anak yang
sebayanya. Apabila anak-anak yang sebaya merupakan anak-anak yang rajin belajar, maka anak
akan terangsang untuk mengikuti jejak mereka. Sebaliknya bila anak-anak di sekitarnya
merupakan kumpulan anak-anak nakal yang berkeliaran tiada menentukan anakpun dapat
terpengaruh pula.
Dengan demikian dapat dikatakan lingkungan membentuk kepribadian anak, karena dalam
pergaulan sehari-hari seorang anak akan selalu menyesuaikan dirinya dengan kebiasaan-
kebiasaan lingkungannya. Oleh karena itu, apabila seorang siswa bertempat tinggal di suatu
lingkungan temannya yang rajin belajar maka kemungkinan besar hal tersebut akan membawa
pengaruh pada dirinya, sehingga ia akan turut belajar sebagaimana temannya.
Tulus Tuu (2004:75) mengemukakan bahwa prestasi merupakan hasil yang dicapai seseorang ketika
mengerjakan tugas atau kegiatan tertentu. Prestasi akademik adalah hasil belajar yang diperoleh dari
kegiatan pembelajaran disekolah yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan
penilaian. Sementara prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang
dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan
oleh guru.
Berdasarkan hal itu, prestasi belajar siswa dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Prestasi belajar siswa adalah hasil belajar yang dicapai siswa ketika mengikuti dan mengerjakan tugas
dan kegiatan pembelajaran disekolah.
2. Prestasi belajara tersebut terutama dinilai oleh aspek kognitifnya karena bersangkutan dengan
kemampuan siswa dalam pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesa dan evaluasi.
3. Prestasi belajar siswa dibuktikan dan ditunjukan melalui nilai atau angka nilai dari hasil evaluasi yang
dilakukan oleh guru terhadap tugas siswa dan ulangan-ulangan atau ujian yang ditempuhnya.
Nana Sudjana (dalam Tulus Tuu, 2004:23) mengemukakan bahwa di antara ketiga ranah ini, yakni
kognitif, afektif, psikomotor, maka ranah kongnitiflah yang paling sering dinilai oleh para guru di sekolah
karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran.
Suryadi dkk (1992:35) mengemukakan bahwa: prestasi diartikan sebagai hasil yang telah dicapai,
dilakukan, dikerjakan.
S. Nasution (1996:17) mendefinisikan pengertian prestasi belajar adalah kesempurnaan yang dicapai
seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi
tiga aspek yakni: kognitif, affektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika
seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut. Devi wulansari (2010:1),
mengemukakan pengertian Prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam
menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar.
Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi
pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses
pembelajaran. Moh Uzer Usman (2000:9), mengemikakan bahwa prestasi belajar siswa yang dipengaruhi
oleh berbagai faktor, baik berasal dari dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal). Oleh karena
itu faktor-faktor tersebut yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa penting sekali artinya dalam
rangka membantu siswa mencapai prestasi belajar yang seoptimal mungkin sesuai dengan
kemampuannya masing-masing.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa adalah suatu kecakapan atau hasil
yang telah diperoleh dari proses pembelajaran dengan penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang
ditunjukkan dengan nilai. Prestasi adalah segala keberhasilan yang telah diperoleh dalam mengerjakan
segala pekerjaan untuk dipertanggung jawabkan. Prestasi ini ditandai adanya nilai tambah dari hasil yang
sebelumnya.
Anda sedang membaca artikel tentang Pengertian Prestasi Belajar Siswa dan bila berkenan Anda bisa share artikel
Pengertian Prestasi Belajar Siswa ini dengan tombol share di bawah. Bila Anda bermaksud COPAS artikel
Pengertian Prestasi Belajar Siswa untuk diposting di blog Anda, mohon untuk meletakkan link Pengertian Prestasi
Belajar Siswa sebagai Sumbernya dengan mengcopy kode di bawah ini.
Prestasi belajar banyak diartikan sebagai seberapa jauh hasil yang telah dicapai siswa dalam
penguasaan tugas-tugas atau materi pelajaran yang diterima dalam jangka waktu tertentu.
Prestasi belajar pada umumnya dinyatakan dalam angka atau huruf sehingga dapat dibandingkan
dengan satu kriteria (Prakosa, 1991).
Prestasi belajar kemampuan seorang dalam pencapaian berfikir yang tinggi. Prestasi belajar
harus memiliki tiga aspek, yaitu kognitif, affektif dan psikomotor. Prestasi belajar adalah hasil
yang dicapai sebaik-baiknya pada seorang anak dalam pendidikan baik yang dikerjakan atau
bidang keilmuan. Prestasi belajar dari siswa adalah hasil yang telah dicapai oleh siswa yang
didapat dari proses pembelajaran. Prestasi belajar adalah hasil pencapaian maksimal menurut
kemampuan anak pada waktu tertentu terhadap sesuatu yang dikerjakan, dipelajari, difahami dan
diterapkan.
Pengertian tentang prestasi belajar. Prestasi belajar diartikan sebagai tingkat keterkaitan siswa
dalam proses belajar mengajar sebagai Hasil evaluasi yang dilakukan guru. Menurut Sutratinah
Tirtonegoro (1984 : 4), mengemukakan bahwa :
Prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk
symbol angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh
setiap anak didik dalam periode tertentu.
Menurut Siti Partini (1980 : 49), Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh seseorang dalam
kegiatan belajar. Sejalan dengan pendapat dicapai oleh seseorang dalam kegiatan belajar.
Sejalan dengan pendapat itu Sunarya (1983 : 4) menyatakan Prestasi belajar merupakan
perubahan tingkah laku yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik yang merupakan
ukuran keberhasilan siswa. Haditomo dkk (1980 : 4), mengatakan Prestasi belajar adalah
kemampuan seseoran Dewa Ketut Sukardi (1983 : 51), menyatakan Untuk mengukur prestasi
belajar menggunakan tes prestasi yang dimaksud sebagai alat untuk mengungkap kemampuan
aktual sebagai hasil belajar atau learning. Menurut Sumadi Suryabrata (1987 : 324), Nilai
merupakan perumusan terakhir yang dapat diberikan oleh guru menganai kemajuan atau prestasi
belajar siswa selama masa tertentu. Dengan nilai rapor, kita dapat mengetahui prestasi belajar
siswa. Siswa yang nilai rapornya baik dikatakan prestasinya tinggi, sedangkan yang nilainya
jelek dikatakan prestasi belajarnya rendah.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan ukuran
keberhasilan kegiatan belajar siswa dalam menguasai sejumlah mata pelajaran selama periode
siswa dalam menguasai sejumlah mata pelajaran selama periode tertentu yang dinyatakan dalam
nilai baik berbentuk rapor dan laporan lain seperti nilai mid semester, dimana angka mid
semester tersebut mencerminkan keberhasilan seseorang dalam kegiatan belajarnya.
Prestasi belajar meurpakan ukuran keberhasilan yang diperoleh siswa selama proses belajarnya.
Keberhasilan itu ditentukan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Menurut Dimyati itu
ditentukan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Menurut Dimyati Mahmud (1989 : 84-87),
mengatakan bahwa Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa mencakup : faktor
internal dan faktor eksternal.
Dari pendapat ini dapat dijelaskan mengenai kedua faktor tersebut sebagai berikut :
Faktor internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri, yang terdiri dari N.
Ach (Need For Achievement) yaitu kebutuhan atau dorongan atau motif untuk berprestasi.
Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar si pelajar. Hal ini dapat berupa sarana
prasarana, situasi lingkungan baik itu lingkungan keluarga, sekolah maupun lingkungan
masyarakat. Menurut pendapat Rooijakkersyang diterjemahkan oleh Soenoro (1982 : 30),
mengatakan bahwa Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah faktor yang berasal dari
si pelajar, faktor yang berasal dari si pengajar.
Kedua faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
Faktor ini meliputi motivasi, perhatian pada mata pelajaran yang berlangsung, tingkat
peneirmaan dan pengingatan bahan, kemampuan menerapkan apa yang dipelajari, kemampuan
mereproduksi dan kemampuan menggeneralisasi.
Faktor dari luar ini merupakan faktor yang berasal dari luar si pelajar (siswa) yang meliputi : (a)
lingkungan alam dan lingkungan sosial : (b) instrumentasi yang berupa kurikulum, guru atau
pengajar, sarana dan fasilitas serta administrasi.
Faktor dari dalam ini merupakan faktor yang berasal dalam diri si pelajar (siswa) itu sendiri yang
meliputi : (a) fisiologi yang berupa kondisi fisik dan kondisi pancaindra, (b) Psikologi yang
berupa bakat, minat, kecerdasan, motivasi dan kemampuan kognitif. Dari beberapa pendapat
para ahli tersebut di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa prestasi belaajr siswa secara
umum dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor yang pertama berasal dari dalam diri siswa itu
sendiri dan faktor yang kedua berasal dari luar diri siswa yang sedang melakukan proses kegiatan
belajar.