GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN PENCEGAHAN
TERHADAP PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) PADA
KELUARGA
Oleh
Maurisa
Fakultas Kedokteran, Universitas Abulyatama, Jl. Blang Bintang Lama Km 8,5,
Aceh Besar 23372.
Email Coresponden : risa_maurisa@[Link]
Abstrak
Demam Berdarah Dengue/DBD (Dengue Hemorrohagic Fever/DHF) adalah penyakit yang di
sebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot, nyeri sendi yang di
sertai dengan leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diatesis hemoragik. Hasil
Riset Kesehatan Dasar (RIKESDAS) tahun 2007 menyatakan prevalensi DBD di provinsi Aceh
sebesar 1.569 kasus dengan Case Fatality Rate (CFR) 0,83% dan Insidensi Rate38,92%.
Terdapat 15 kabupaten di Provinsi Aceh dengan angka kadud DBD tinggi . Data penderita DBD
di Banda Aceh pada tahun 2007 adalah 851 kasus dengan kematian 4 orang. Tahun 2008 terjadi
penurunan kasus menjadi 593 kasus dengan kematian 5 orang. Tahun 2009 telah terjadi
penurunan kasus lagi menjadi 313 kasus dengan kematian 7 orang. Tahun 2010 terjadi
peningkatan kasus menjadi 759 kasus. Tahun 2011 telah terjadi penurunan kasus menjadi 383.
Tahun 2012 terjadi peningkatan lagi menjadi 506. Tahun 2013 terjadi penurunan lagi menjadi
258 kasus. Dari sembilan kecamatan yang ada di Banda Aceh, Kecamatan Syiah Kuala termasuk
yang memiliki banyak kasus DBD. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengetahuan,
sikap dan tindakan pencegahan masyarakat pada keluarga tentang penyakit Demam Berdarah
Dengue (DBD).
Pendahuluan beredar. Selama empat tahun terakhir,
epidem dengue telah menyebar ke Bhutan
Demam berdarah dengue merupakan
dan Nepal pada kaki gunung Himalaya.
masalah utama penyakit menular di berbagai
Pada tahun 2007 di Indoneia di laporkan
belahan dunia. Selama 1 dekade angka
150.000 kasus, yang mana 25.000 kasus
kejadian atau incideance rate (IR) DBD
berasal dari jakarta dan Jawa Barat (WHO,
meningkat dengan pesat di seluruh belahan
2009). Pada tahun 2008 terdapat 117.830
dunia. Di perkirakan 50juta orang terinfeksi
kasus dan 953borang meninggal dunia. Pada
DBD setiap tahn nya dan 2,5 miliar (1/5
tahun 2009 mengalami peningkatan 121.423
penduduk dunia) orang tinggal di daerah
kasus dan 1.013 orang meninggal (Depkes
endemik DBD.
RI, 2009). Dimana pada tahun 2007 terjadi
Epidemi Dengue merupakan masalah 178 kasus, tahun 2008 terjadi 120 kasus, dan
kesehatan masyarakat yang utama di tahun 2009 ada 65 kasus (Dinkes Kota
Indonesia, Myanmar, Sri Lanka, Thailand Banda Aceh, 2010). Tahun 2010 terjadi 106
dan Timor-Leste yang berada di negara kasus, tahun 2011 terjadi 38 kasus, tahun
subtropis dan zona khatulistiwa. Nyamuk 2012 67 kasus, dan tahun 2013 ada 55 kasus
Aedes aegyptitersebar luas di perkotaan dan (Dinkes Kota Banda Aceh, 2014) Pada
daerah pedesaan, dimana beberapa serotipe tahun 2013 prevalensi DBD di wilayah kota
virus dengue yang beredar. Siklik epidemi Banda Aceh sebesar 258 kasus. (Dinkes
frekuensinya meningkat di dalam negeri. Banda Aceh, 2013)
Ekspansi geografis yang terjadi di
Bangladesh, India dan Maladewa negara
yang mengalami musim gugur dan zona
iklim basah dengan beberapa serotipe yang
Pengertian Demam Berdarah Dengue Case Fatality Rate (CFR) mencapai 1% -
(DBD) 5% (Wills,2005).
Demam Berdarah Dengue/DBD (Dengue Demam dengue dan deman berdarah dengue
Hemorrohagic Fever/DHF) adalah penyakit di sebabkan oleh virus dengue, yang
yang di sebabkan oleh virus dengue dengan termasuk dalam genus Flavivirus, keluarga
manifestasi klinis demam, nyeri otot, nyeri Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus
sendi yang di sertai dengan leukopenia, dengan diameter 30 nm terdiri dari asam
ruam, limfadenopati, trombositopenia dan ribonukleat rantai tunggal dengan berat
diatesis hemoragik. Pada DBD terjadi molekul 4x106. Terdapat 4 serotipe virus
pembesaran plasma yang di tandai dengan yaitu DEN-1, DEN-2, Den-3 dan DEN-4
hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) yang semuanya dapat menyebabkan demam
atau penumpukan cairan di rongga tubuh dengue atau demam berdarah dengue.
(Suhendro dkk, 2009). Keempat serotipe ditemukan di Indonesia
dengan DEN-3 merupakan serotipe
Penyebab Demam Berdarah Dengue
terbanyak. (Suhendro dkk, 2009).
(DBD)
Klasifikasi Demam Berdarah Dengue
Penyakit DBD di sebabkan oleh virus
(DBD)
dengue yang di tularkan melalui gigitan
nyamuk Aedesaegepty. Dari 250.00 sampai Demam berdarah dengue
500.000 kasus DBD, terutama pada anak- diklasifikasikan berdasarkan derajat
anak, yang di laporkan World Health beratnya, secara klinis di bagi 4 derajat:
Organization (WHO) setiap tahun dengan (WHO, 1999)
Derajat I: Demam disertai gejala tidak membedakan DBD derajat
khas dan satu-satunya I/II dengan DD, pembagian
manifestasi perdarahan derajat penyakit dapat juga di
adalah uji tourniquet positif, pergunakan untuk kasus
trombositopenia dan dewasa.
hemokonsentrasi.
Ada empat derajat berat nya penyakit
Derajat II: Seperti derajat I, disertai DBD. Tanda derajat I adalah demam
perdarahan spontan dikulit mendadak dan gejala klinis lain dengan
dan atau perdarahan lain. manifestasi perdarahan yang paling ringan,
yaitu rumple leed positif. Dari uji bendung,
Derajat III: Didapatkan kegagalan
perdarahan itu berupa bintik-bintik merah di
sirkulasi, yaitu nadi cepat dan
lengan lebih dari 10.
lemah, tekanan nadi menurun
(20 mmHg atau kuranag) atau Derajat II adalah kondisi yang lebih
hipotensi, sianosis disekitar berat dari pada derajat I. Selain demam,
mulut, kulit dingin dan ditemukan perdarahan kulit dan manifestasi
lembab, dan pasien tampak perdarahan di tempat lain, seperti mimisan
gelisah. (epistaksis), perdarahan di gusi, muntah
darah (hematemesis), dan atau buang air
Derajat IV: Syok berat (profoud shock),
besar yang mengandung darah sehingga
nadi tidak dapat diraba dan
tinja terlihat seperti ter atau aspal (melena).
tekanan darah tidak terukur.
Kedua stadium ini digolongkan
Catatan: Adanya trombositopenia
sebagai DBD non-syok, yaitu demam
disertai hemokonsentrasi
berdarah tanpa syok atau renjatan yang harus bersaing dengan sel manusia sebagai
sering menimbulkan kematian. Adapun pejamu terutama dalam mencukupi
DBD yang tergolong sindrom syok dengue kebutuhan akan protein. Persaingan tersebut
adalah DBD stadium tiga dan empat. Pada sangat tergantung pada daya tahan pejamu,
tahap ini penderita ada dalam fase kritis dan bila daya tahan baik maka akan terjadi
membutuhkan perawatan intensif (Satari, penyembuhan dan timbul antibody, namun
2004). bila daya tahan rendah maka perjalanan
penyakit menjadi makin berat dan bahkan
Patogenesis Demam Berdarah Dengue
dapat menimbulkan kematian. Patogenesis
(DBD)
DBD dan sindrom syok sengue (SSD) masih
Virus dengue masuk ke dalam tubuh meeerupakan masalah kontroveersial. Dua
manusia lewat gigitan nyamuk Aedes teori yang banyak dianut pada DBD dan
aegypti atau Aedes albopictus. Organ SSD adalah hipotesis infeksi sekunder (teori
sasaran dan virus adalah organ RES meliputi secondary heterologus infection) atau
sel kupffer hepar, endotel pembuluh darah, hipotesis immune enchancement. Hipotesis
nodus limfaticus, sumsum tulang, serta paru- ini menyatakan secara tidak langsung bahwa
paru. Data dari sebagian penelitian pasien yang mengalami infeksi yang kedua
menunjukkan bahwa sel-sel monosit dan kalinya dengan serotipe virus dengue yang
makrofag mempunyai peranan besar pada heterolog mempunyai risiko berat yang lebih
infeksi ini. besar untuk menderita DBD/berat. Antibodi
heterolog yang telah ada sebelumnya akan
Virus merupakan mikroorganisme
mengenai virus lain yang akan menginfeksi
yang hanya dapat hidup di dalam sel hidup,
dan kemudian membentuk kompleks antigen
maka demi kelangsungan hidupnya, virus
antibodi yang kemudian berkaitan dengan infeksius dan nyamuk Aedes aegypti dapat
Fc reseptor dari membran sel leokosit mengandung virus dengue pada saat
terutama makrofag. Oleh karena antibodi menggigit manusia yang sedang mengalami
heterolog maka virus tidak dinetralisasikan viremia (Depkes, RI 2005).
oleh tubuh sehigga akan bebas melalukan
Masa pertumbuhan dan perkembangan
replikasi dalam sel makrofag.
nyamuk Aedes aegypti dapat di bagi menjadi
Dihipotesiskan juga mengenai antibodi
4 tahap, yaitu telur, larva, pupa, dewasa
dependent enhancement(ADE), suatu proses
(imago), sehingga termasuk metamorphosis
yang akan meningkatkan infeksi dan
sempurna (Soegeng, 2006).
replikasi virus dengue di dalam sel
monokulear. Sebagai tanggapan terhadap a. Telur
infeksi tersebut, terjadi sekresi mediator
Telur nyamuk Aedes aegypti
vasoaktif yang kemudian menyebabkan
berbentuk elips atau oval memanjang,
peningkatan permeabelitas pembuluh darah,
warna hitam, ukuran 0,5-0,8 mm,
sehingga mengakibatkan keadaan
permukaan poligonal, tidak memiliki
hipovolomia dan syok (Depkes RI, 2009).
alat pelampung, dan diletakkan satu per
Cara Penularan Demam Berdarah satu pada benda-benda yang terapung
Dengue (DBD) atau pada dinding bagian dalam Tempat
Penampungan Air (TPA) yang
Ada tiga faktor yang memegang peranan
berbatasan langsung dengan permukaan
penting pada penularan penyakit DBD, yaitu
air. Dilaporkan bahwa dari telur yang
manusia, virus, dan vektor perantara. Virus
dilepas, sebanyak 85% melekat di
dengue ditularkan kepada manusia melalui
dinding TPA, sedangkan 15% lainnya
gigitan nyamuk Aedes aegypti yang
jatuh ke permukaan air. Telur nyamuk Pupa nyamuk Aedes aegypti bentuk
Aedes aegypti di dalam air dengan suhu tubuhnya bengkok, dengan bagian
20-400C akan menetas menjadi larva kepala sampai dada lebih besar bila
dalam waktu 1-2 hari (Soegemg, 2006). dibandingkan dengan bagian perutnya,
sehingga tampak seperti tanda baca
b. Larva
koma. Pada bagian punggung dada
Larva nyamuk Aedes aegypti terdapat alat pernafasan seperti terompet.
tubuhnya memanjang tanpa kaki dengan Pada ruas perut ke-8 terdapat sepasang
bulu-bulu sederhana yang tersusun alat pengayuh yang berguna untuk
secara bilateral simetris. Larva ini dalam berenang. Alat pengayuh tersebut
pertumbuhan dan perkembangannya berjumbai panjang dan bulu di nomor 7
mengalami 4 kali pergantian kulit, dan pada ruas perut ke-8 tidak bercabang.
larva yang terbentuk berturut disebut Pupa adalah bentuk tidak makan, tampak
larva instar I, II, III, IV. Pada bagian gerakannya lebih lincah bila
kepala terdapat sepasang mata majemuk, dibandingkan dengan larva. Waktu
larva ini tubuhnya langsing dan bergerak istirahat posisi pupa sejajar dengan
sangat lincah, bersifat fototaksis negatif, bidang permukaan air. Pupa berkembang
dan waktu istrahat membentuk sudut menjadi nyamuk dewasa dalam 2-3 hari
hampir tegak lurus dengan bidang (Soegeng, 2006).
permukaan air. Pada kondisi optimum,
d. Dewasa (imago)
larva berkembang menjadi pupa dalam
4-9 hari ( Soegeng, 2006). Nyamuk dewasa Aedes aegypti
keluar dari pupa melalui celah antara
c. Pupa
kepala dan dada. Nyamuk dewasa betina
yang menghisap darah manusia untuk dapat mengeluarkan telur sebanyak 100
keperluan pematangan telurnya. Nyamuk butir. Telur itu di tempat yang kering
ini menyerang manusia dari bagian (tanpa air) dapat bertahan berbulan-
bawah atau belakang tubuh mangsanya. bulan pada suhu -20C -420C, dan bila
Umur Aedes aegypti di alam bebas tempat-tempat tersebut kemudian
sekitar 10 hari. Umur ini telah cukup tergenang air atau kelembabannya maka
bagi nyamuk ini mengembangkan virus telur dapat menetes lebih cepat (Depkes
dengue menjadi jumlah yang lebih RI, 2005).
banyak dalam tubuhnya (Soegeng,
Biasanya nyamuk Aedes aegypti
2006).
mencari mangsanya pada siang hari.
Setelah beristirahat dan proses Aktivitas menggigit biasanya mulai pagi
pematangan telur selesai, nyamuk betina sampai petang hari, dengan dua puncak
Aedes aegypti akan meletakkan telurnya aktivitas antara pukul 09.00-10.00 dan
di dinding tempat perkembang 16.00-17.00. tidak seperti nyamuk lain,
biakannya, sedikit di atas permukaan air. nyamuk Aedes aegypti mempunyai
Pada umumnya telur akan menetas kebiasaan menghisap darah berulang kali
menjadi jentik dalam waktu 2 hari untuk memenuhi lambungnya dengan
setelah telur terendam air. Stadium jentik darah sehingga nyamuk ini sangat efektif
biasanya berlangsung 6-8 hari, dan sebagai penular penyakit. Setelah
pertumbuhan dari telur menjadi nyamuk menghisap darah, nyamuk ini higgap
dewasa selama 9-10 hari. Umumnya (beristirahat) di dalam atau kadang-
nyamuk betina dapat mencapai 2-3 kadang di luar rumah berdekatan dengan
bulan. Setiap bertelur nyamuk betina tempat perkembangbiakannya, biasanya
di tempat yang agak gelap dan lembab. 1. Badan kecil bewarna hitam dengan
Ditempat-tempat ini nyamuk menunggu bintik-bintik putih.
proses pematangan telurnya
2. Jarak terbang nyamuk sekitar 100
(Hadinegoro, 2005, dalam Manalu,
meter.
2009)
3. Umur nyamuk betina dapat mencapai
Nyamuk lebih menyukai benda-
sekitar 1 bulan.
benda yang tergantung di dalam rumah
seperti gorden, kelambu dan 4. Menghisap darah pada pagi hari
baju/pakaian. Maka dari itu pakaian sekitar pukul 09.00-10.00 dan sore
yang tergantung di balik pintu sebaiknya hari pukul 16.00-17.00
dilipat dan disimpan dalam almari,
5. Nyamuk betina menghisap darah
karena nyamuk Aedes aegypti senang
untuk pematangan sel telur,
hinggap dan beristirahat di tempat-
sedangkan nyamuk jantan memakan
tempat gelap dan kain yang tergantung
sari-sari tumbuhan.
untuk berkembang biak, sehingga
6. Hidup di genangan air bersih bukan
nyamuk berpotensi untuk bisa menggigit
di got atau comberan.
manusia (Yatim, 2007)
7. Di dalam rumah dapat hidup di bak
Nyamuk Aedes aegypti telah lama
mandi, tempayan, vas bunga, dan
diketahui sebagai vektor utama dalam
tempat air minum burung.
penyebaran penyakit DBD, adapun ciri-
cirinya adalah sebagai berikut: (Nadezul,
2007)
8. Di luar rumah dapat hidup di Pasien biasanya mengalami demam
tampungan air yang ada di dalam secara tiba-tiba. Fase demam akut ini
drum, dan ban bekas. biasanya berlangsung selama 2-7 hari dan
sering di sertai dengan kemerahan pada
Gejala Demam Berdarah De ngue (DBD)
wajah, eritema kulit, badan terasa sakit,
Manifestasi klinis infeksi virus mialgia, arthalgia dan sakit kepala. Beberapa
dengue dapat bersifat asimtomatik, atau pasien mungkin mengalami sakit
dapat berupa demam yang tidak khas, tenggorokan, infeksi faring dan infeksi
demam dengue, demam berdarah dengue konjungtiva, anoreksia, mual dan muntah.
atau sindrom syok dengue (SSD). Pada Sulit untuk membedakan demam berdarah
umumnya pasien mengalami fase demam klinis dari demam berdarah non penyakit
selama 2-7 hari, yang diikuti oleh fase kritis pada tahap awal demam. Tes tourniquet
selama 2-3 hari. Pada waktu fase ini pasien positif dalam fase ini meningkatkan
sudah tidak demam, akan tetapi mempunyai probabilitas demam berdarah. Selain itu,
resiko untuk terjadi renjatan jika tidak cara ini tidak bisa di bedakan secara klinis
mendapat pengobatan adekuat (Suhendro antara kasus demam berdarah parah dan non
dkk, 2009). parah. Oleh karena itu pentingnya
pemantauan peingkatan tanda-tanda dan
Keluhan pokok berupa seperti suhu
parameter klinis lainnya untuk mengetahui
meningkat tiba-tiba, sakit kepala
perpindahan ke fase kritis. Manifestasi
supra/retroorbital, nyeri otot dan tulang
perdarahan ringan seperti petekie dan
belakang, waktu sikat gigi gusi berdarah,
perdarahan membran mukosa (misalnya
sakit perut dan diare, mual dan muntah.
hidung dan gusi), perdarahan massive pada
(Halim, 2007)
vagina ( wanita usia subur) dan perdarahan sekitar mulut, nadi cepat-lemah, tekanan
gastrointestinal dapat terjai selama tahap ini nadi < 20 mmHg dan hipotensi. Kebanyakan
tetapi tidak umum. Setelah beberapa hari pasien masih tetap sadar sekalipun sudah
demam hati mengalami pembesaran. mendekati stadium akhir. Dengan diagnosis
Kelainan paling awal dalam jumlah darah dini dan penggantian cairan adekuat, syok
adalah penurunan progresif dalam sel darah biasanya teratasi dengan segera, namun bila
putih total yang harus diwaspadai dokter terlambat diketahui atau pengobatan tidak
untuk kemungkinan demam berdarah tinggi adekuat, syok dapat menjadi syok berat
(WHO, 2009). dengan berbagai penyulitnya seperti asidosis
metabolik, perdarahan hebat saluran cerna,
Masa kritis dari penyakit terjadi pada
sehingga memperburuk prognosis. Pada
akhir fase demam, pada saat ini terjadi
masa penyembuhan yang biasanya terjadi
penurunan suhu yang tiba-tiba yang sering
dalam 2-3 hari, kadang-kadang ditemukan
di sertai dengan gangguan sirkulasi yang
sinus bradikardi atau aritmia, dan timbul
bervariasi dalam berat-ringannya. Pada
ruam pada kulit. Tanda prognostik baik
kasus dengan gangguan sirkulasi ringan
apabila pengeluaran urin cukup dan
perubahan yang terjadi minimal dan
kembalinya nafsu makan (Depkes RI, 2009).
sementara, pada kasus berat penderitas dapat
mengalami syok. Syok biasa terjadi pada Diagnosis Demam Berdarah Dengue
saat atau segera setelah suhu turun, antara (DBD)
hari ke-3 sampai hari sakit ke-7. Pasien
Pemerikasaan darah yang rutin
mula-mula terlihat letargi atau gelisah
dilakukan untuk menapis pasien tersangka
kemudian jatuh ke dalam syok yang di
demam dengue adalah melalui pemeriksaan
tandai dengan kulit dingin-lembab, sianosis
kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah
trombosit dan hapusan darah tepi untuk b. Trombosit: umumnya terdapat
melihat adanya limfositosis relatif disertai trombositopenia pada hari ke-3
gambaran limfosit plasma biru. Diagnosis hingga ke-8.
pasti didapatkan dari hasil isolasi virus
c. Hemotokrit: kebocoran plasma
dengue (cell culture) ataupun deteksi
dibuktikan dengan ditemukannya
antigen virus RNA dengue dengan teknik
peningkatan hematokrit > 20% dari
RT-PCR (Reverse Transcriptase
hematokrit awal, umumya dimulai
Polymerase Chain Reaction), namun karna
pada hari ke-3 demam.
teknik yang lebih rumit, saat ini tes serologis
yang mendeteksi adanya antibodi spesifik d. Hemostatis: dilakukan pemeriksaan
terhadap dengue berupa antibodi total, IgM PT, APTT, Fibrinogen, D-Dimer,
maupun IgG-lebih banyak. Parameter atau FDP pada keadaan yang
laboraturium yang dapat diperiksa antara dicurigai terjadi perdarahan atau
lain: (Sehendro dkk, 2009) kelainan pembekuan darah.
a. Leukosit: dapat normal atau e. Protein/albumin: dapat terjadi
menurun. Mulai hari ke-3 dapat hipoproteinemia akibat kebocoran
ditemui limfositosis Relatif (>45% plasma. SGOT/SGPT dapat
dari total leokosit) disertai adanya meningkat.
limfosit plasma biru (LPB) >15%
f. Ureum, kreatinin: bila didapatkan
dari jumlah total leokosit yang pada
gangguan fungsi ginjal.
fase syok akan meningkat.
g. Elektrolit: sebagai parameter
pemantauan pemberian cairan.
h. Golongan darah dan cross match ( Penatalaksanaan Demam Berdarah
uji cocock serasi) bila akan diberikan Dengue (DBD)
transfusi darah atau komponen
Pada dasarnya pengobatan DBD
darah.
bersifat suportif, yaitu mengatasi kehilangan
i. Imunoserologi dilakukanpemeriksaan cairan plasma sebagai akibat peningkatan
IgM dan IgG terhadap dengue. IgM: permeabilitas kapiler dan sebagai akibat
terdeteksi mulai hari ke-3 hingga ke- perdarahan. Pasien DD dapat berobat jalan
5, meningkat sampai minggu ke-3, sedangkan pasien DBD dirawat di ruang
menghilang setelah 60-90 hari. perawatan biasa. Tetapi pada kasus DBD
dengan komplikasi diperlukan perawatan
j. Uji HI: dilakukan pengambilan
intensif. Untuk dapat merawat pasien DBD
bahan pada hari pertama serta saat
dengan baik, diperlukan dokter dan perawat
pulang dari perawatan, uji ini
yang terampil, sarana laboraturium yang
digunakan untuk kepentingan
memadai, cairan kristaloid dan koloid, serta
surveilans.
bank darah yang senantiasa siap bila
NS1: antigen NS1 dapat di deteksi pada diperlukan. Diagnosis dini dan memberikan
awal demam hari pertama sampai hari nasehat untuk segera dirawat bila terdapat
kedelapan. Sensivitas anti gen NS1 berkisar tanda syok, merupakan hal yang penting
63%-93,4% dengan spesifitas 100% sama untuk mengurangi angka kematian. Di pihak
tingginya dengan spesifitas gold standar lain, perjalanan penyakit DBD sulit
kultul virus, hasil negatif antigen NS1 tidak diramalkan. Pasien yang pada waktu masuk
menyingkirkan adanya infeksi virus dengue. keadaan umumnya tampak baik, dalam
waktu singkat dapat memburuk dan tidak
tertolong. Kunci keberasilan tatalaksana infeksi akut lainnya. Perubahan ini mungkin
DBD/SSD terletak pada keterampilan para terjadi dari saat ke saat berikutnya. Maka
dokter untuk dapat mengatasi masa pada kasus-kasus yang meragukan dalam
peralihan dari fase demam ke fase menentukan indikasi rawat diperlukan
penurunan suhu (fase kritis, fase syok) observasi/pemeriksaan lebih lanjut. Pada
dengan baik. seleksi pertama diagnosis ditegakkan
berdasarkan anamnesis dan pemerikasaan
Tatalaksana Protokol 1 Tersangka
fisik serta hasil pemeriksaan Hb, Ht, dan
DBD.
jumlah trombosit.
Protokol 1 ini dapat digunakan
Indikasi rawat pasien DBD dewasa
sebagai petunjuk dalam memberikan
pada seleksi pertama adalah
pertolongan pertama pada pasien DBD atau
1. DBD dengan syok dengan atau tanpa
yang di duga DBD di puskesmas atau
perdarahan.
Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit dan
tempat perawatan lainnya untuk dipakai 2. DBD dengan perdarahan masif
sebagai petunjuk dalam memutuskan dengan atau tanpa syok
indikasi rujuk atau rawat. Mnifestasi
3. DBD tanpa perdarahan masif dengan
perdarahan pada pasien DBD pada fase awal
mungkin masih belum tampak, demikian a. Hb, Ht, normal dengan trombosit
pula hasil pemeriksaan darah tepi <100.000/ul
(Hemoglobin (Hb), Hematokrit (Ht), leoosit
b. Hb,Ht yang menigkat dengan
dan trombosit) mungkin masih dalam batas-
trombositopenia <150.000/ul
batas normal, sehingga sulit
membedakannya dengan gejala penyakit
Pasien yang di curigai menderita b. Hb, Ht yang meningkat dengan
DBD dengan hasil Hb, Ht dan jumlah trombosit kurang dari
trombosit dalam batas normal dapat 150.000/ul
dipulangkan dengan ajuran kembali
2. Pasien dipulangkan apabila
kontrol ke poliklinik Rumah Sakit
didapatkan nilai Hb, Ht dalam batas
waktu 24 jam beriktnya atau bila
normal dengan jumlah trombosit
keadaan pasien memburuk agar
lebih dari 100.000/ul dan dalam
segera kembali ke puskesmas atau
waktu 24 jam kemudian diminta
fasilitas Kesehatan. Sedangkan pada
kontrol ke Puskesmas/poliklinik atau
kasus yang meragukan indikasi
kembali ke IGD apabila kedaan
rawatnya, maka untuk sementara
menjadi memburuk. Apabila masih
pasien tetap diobservasi di
meragukan, pasien tetap diobservasi
Puskesmas dengan ajuran minum
dan tetap diberikan infus ringer
yang banyak 500cc dalam empat
laktat 500 cc dalam waktu empat jam
jam. Setelah itu dilakukan
berikutnya. Setelah itu dilakukan
pemeriksaan ulang Hb, Ht dan
pemeriksaan ulang Hb, Ht dan
trombosit.
jumlah trombosit.
1. Pasien di rujuk apabila didapatkan
3. Pasien dirawat bila di dapakan hasil
hasil sebagai berikut:
laboraturium sebagai berikut.
a. Hb, Ht dalam batas normal
a. Nilai Hb, Ht dalam batas normal
dengan jumlah trombosit kurang
dengan jumlah trombosit kurang
dari 100.000/ul atau
dari 100.000/ul
b. Nilai Hb, Ht tetap/meningkat Mencegah atau mengurangi penularan
dibandingkan nilai sebelumnya virus dengue tergantung sepenuhnya pada
dengan jumlah trombosit normal pengendalian vektor nyamuk atau gangguan
atau menurun. Selama dari kontak manusia dengan vektor nyamuk
diobservasi perlu dimonitori atau gangguan dari kontak manusia dengan
tekanan darah, frekuensi nadi dan vektor. Kegiatan untuk mengontrol transmisi
pernafasan serta jumlah urin harus menargetkan Aedes aegypti (vektor
minimal setiap 4 jam. utama) dalam habitat dari tahap belum
dewasa dan dewasa dalam rumah tangga dan
Nilai normal Hemoglobin:
sekitarnya. Pengaturan di mana kontak
Anak-anak: 11,5-12,5 gr/100ml manusia dengan vektor terjadi (misalnya, di
darah sekolah, di rumah sakit dan tempat kerja).
Aedes aegypti banyak berproliferasi dalam
Laki-laki dewasa: 13-16 gr/100ml darah
rumah tangga dalam suatu wadah seperti
Wanita dewasa: 12-14 gr/100ml darah
yang digunakan untuk penyimpanan air
rumah tangga dan untuk tanaman hias, serta
Nilai normal Hematokrit:
keragaman habitat yang di penuhi hujan.
Anak-anak: 33-38 vol%
Biasanya, nyamuk ini tidak terbang jauh,
Laki-laki dewasa: 40-48 vol% mayoritas sisanya dalam radius 100 meter
dari tempat mereka muncul. Mereka mencari
Wanita dewasa: 37-43 vol%
makan pada manusia, terutama pada siang
Upaya pencegahan Demam Berdarah hari, baik indoor maupun outdoor.
Dengue (DBD) Manajemen lingkungan berupaya mengubah
lingkungan untuk mencegah atau pembersihan dengan menyikat
meminimalkan vektor. Sehingga kontak tempat penyimpanan air, vas bunga,
manusia dengan patogen-vektor, dengan melindungi ban dari curah hujan.
menghancurkan, mengubah, menghapus
c. Perubahan habitasi atau perilaku
atau daur ulang kontainer yang tidak penting
manusia-tindakan untuk mengurangi
yang menyediakan habitat larva. Seperti itu
kontak manusia dengan vektor
tindakan harus menjadi andalan
seperti menggunakan kelambu saat
pengendalian vektor demam berdarah
tidur.
andalan pengendalian vektor demam
berdarah. WHO membagi tiga jenis untuk mencegah penyakit DBD setiap
manajemen lingkungan : (WHO, 2009) keluarga di anjurkan untuk melaksanakan
3M dirumah dan halaman masing-maing
a. Modifikasi Lingkungan: transformasi
dengan melibatkan seluruh keluarga, dengan
fisik jangka panjang untuk
cara :
mengurangi vektor habitat larva,
seperti pemasangan pipa air bersih 1. Menguras bak mandi sekurang-
yang dapat diandalkan untuk kurangnya 1 minggu sekali
masyarakat, termasuk sambungan
2. Menutup rapat-rapat tempat
rumah tangga.
penampungan air
b. Manipulasi Lingkungan: perubahan
3. Mengganti air vas bunga/tanaman air
sementara habitat vektor yang
seminggu sekali
memerlukan pengaturan wadah yang
4. Mengganti air tempat minum burung
penting dan wadah yang tidak
penting, seperti pengosongan dan
5. Menimbun barang-barang bekas (peningkatan hematokrit) atau penumpukan
yang dapat menampung air. cairan di rongga tubuh.
Penutup Gejala yang timbul Pasien biasanya
mengalami demam secara tiba-tiba. Fase
Demam Berdarah Dengue/DBD
demam akut ini biasanya berlangsung
(Dengue Hemorrohagic Fever/DHF) adalah
selama 2-7 hari dan sering di sertai dengan
penyakit yang di sebabkan oleh virus dengue
kemerahan pada wajah, eritema kulit, badan
dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot,
terasa sakit, mialgia, arthalgia dan sakit
nyeri sendi yang di sertai dengan
kepala. Beberapa pasien mungkin
leukopenia, ruam, limfadenopati,
mengalami sakit tenggorokan, infeksi faring
trombositopenia dan diatesis hemoragik.
dan infeksi konjungtiva, anoreksia, mual dan
Pada DBD terjadi pembesaran plasma yang
muntah.
di tandai dengan hemokonsentrasi
Daftar Pustaka
1. Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta; 2006
2. Candra, B. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : PT EGC
3. DEPKES RI. 2005, Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue Di
Indonesia. Jakarta : Depkes RI
4. Dinkes. Laporankasus dan kematian penyakit demam berdarah dengue, Banda Aceh:
Pemerintah Aceh. 2013
5. Dinkes. Kasus DBD di wilayah kota Banda Aceh, Banda Aceh : Dinkes Kota Banda
Aceh. 2013
6. Fariz, Miftah. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Upaya Masyarakat Dalam
Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Kecamatan Syiah
Kuala Kota Banda Aceh
7. Handinegoro, Sri Rezeki H. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue Di Indonesia. Ed
ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan.2004
8. Halim Mubin,A. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam: Diagnosis dan Terapi. Edisi
2. Jakarta : EGC. 2007
9. Muhammad, Teuku. Pedoman umum penulisan skripsi mahasiswa. Banda aceh:
Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Aceh. 2013
10. Muttaqien, Teuku Muhammad Iqbal. Perilaku Masyarakat Kecamatan Syiah Kuala
Mengenai Demam Berdarah Dengue. Universitas Syiah Kuala.2011
11. Nadesul, Handrawan. Cara mudah mengalahkan Demam Berdarah. Jakarta: PT
Kompas Nusantara.2007
12. Notoadmojdo, Soekidjo. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. 2005
13. Notoadmodjo, Soekidjo. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka
Cipta.2007
14. Notoatmodjo, Soekidjo. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta; 2010
15. Profil Puskesmas KOPELMA Darussalam Babda Aceh 2014
16. Satari, Hindra I. Demam Berdarah Dengue. Jakarta: Puspa Swara. 2004
17. Sutaryo. 2005. Dengue. Yogyakarta : Medika FK UGM
18. Suhendro, Leonard Nainggolan, Khie chen, Herdiman T. Pohan. 2009. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Edisi kelima. Editor : Aru W. Sudoyo, Bambang setiyohadi, Idrus Alwi,
Marcellus Simadibrata K, Siti setiati. EGC, Jakarta. Halaman: 2773-2779.
19. World Health Organization; Asih, Yasmin. Demam Berdarah Dengue, diagnosis,
pengobatan, pencegahan dan pengendalian. Ed 2. Jakarta: EGC. 1999
20. Yatim, Faisal. 2007. Macam-macam Penyakit Menular dan Cara Pencegahannya. Jilid
2. Jakarta : Pustaka Obor Populer.