BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Skabies
Skabies adalah penyakit kulit akibat investasi dan sensitisasi oleh tungau Sarcoptes
scabei. Skabies tidak membahayakan bagi manusia. Adanya rasa gatal pada malam hari
merupakan gejala utama yang mengganggu aktivitas dan produktivitas. Penyakit scabies
banyak berjangkit di: (1) lingkungan yang padat penduduknya, (2) lingkungan kumuh, (3)
lingkungan dengan tingkat kebersihan kurankg. Skabies cenderung tinggi pada anak-anak
usia sekolah, remaja bahkan orang dewasa (Siregar, 2005).
2.2 Etiologi
Penyebabnya penyakit skabies sudah dikenal lebih dari 100 tahun lalu sebagai akibat
infestasi tungau yang dinamakan Acarus scabiei atau pada manusia disebut Sarcoptes scabiei
varian hominis. Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo
Acarina, super famili Sarcoptes (Djuanda, 2010).
Gambar 1. Morfologi Sarcoptes Scabiei (Siregar, 2005)
Secara morfologi tungau ini berbentuk oval dan gepeng, berwarna putih kotor,
transulen dengan bagian punggung lebih lonjong dibandingkan perut, tidak berwarna, yang
betina berukuran 300-350 mikron, sedangkan yang jantan berukuran 150-200 mikron.
Stadium dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang merupakan kaki depan dan 2 pasang
lainnya kaki belakang. Siklus hidup dari telur sampai menjadi dewasa berlangsung satu
bulan. Sarcoptes scabiei betina terdapat cambuk pada pasangan kaki ke-3 dan ke-4.
Sedangkan pada yang jantan bulu cambuk tersebut hanya dijumpai pada pasangan kaki ke-3
saja. (Aisyah, 2005).
2.3 Epidemiologi
Faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini antara lain sosial ekonomi yang
rendah, higiene yang buruk, hubungan seksual dan sifatnya promiskuitas (ganti-ganti
pasangan), kesalahan diagnosis dan perkembangan demografi serta ekologi (Djuanda, 2010).
2.4 Patogenesis
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh
penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap
sekret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kurang lebih satu bulan setelah infestasi.
Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel,
urtika dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi
sekunder (Djuanda, 2010).
2.5 Cara Penularan
Penularan penyakit skabies dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung,
adapun cara penularannya adalah:
1. Kontak langsung (kulit dengan kulit)
Penularan skabies terutama melalui kontak langsung seperti berjabat tangan,
tidur bersama dan hubungan seksual. Pada orang dewasa hubungan seksual
merupakan hal tersering, sedangkan pada anak-anak penularan didapat dari orang tua
atau temannya.
2. Kontak tidak langsung (melalui benda)
Penularan melalui kontak tidak langsung, misalnya melalui perlengkapan
tidur, pakaian atau handuk dahulu dikatakan mempunyai peran kecil pada penularan.
Namun demikian, penelitian terakhir menunjukkan bahwa hal tersebut memegang
peranan penting dalam penularan skabies dan dinyatakan bahwa sumber penularan
utama adalah selimut (Djuanda, 2010).
2.6 Gambaran Klinis
Diagnosa dapat ditegakkan dengan menentukan 2 dari 4 tanda dibawah ini :
a. Pruritus noktural yaitu gatal pada malam hari karena aktifitas tungau yang lebih tinggi
pada suhu yang lembab dan panas.
b. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam keluarga, biasanya
seluruh anggota keluarga, begitu pula dalam sebuah perkampungan yang padat
penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau
tersebut. Dikenal keadaan hiposensitisasi, yang seluruh anggota keluarganya terkena.
c. Adanya kunikulus (terowongan) pada tempat-tempat yang dicurigai berwarna putih
atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata 1 cm, pada ujung
terowongan ditemukan papula (tonjolan padat) atau vesikel (kantung cairan). Jika ada
infeksi sekunder, timbul polimorf (gelembung leokosit).
d. Menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat ditemukan satu
atau lebih stadium hidup tungau ini. Gatal yang hebat terutama pada malam sebelum
tidur. Adanya tanda : papula (bintil), pustula (bintil bernanah), ekskoriasi (bekas
garukan).
Gejala yang ditunjukkan adalah warna merah, iritasi dan rasa gatal pada kulit yang
umumnya muncul di sela-sela jari, selangkangan dan lipatan paha, dan muncul gelembung
berair pada kulit (Djuanda, 2010)
2.7 Diagnosis Banding
1. Prurigo : Biasanya berupa papul, gatal, predileksi bagian ekstensor ekstremitas, dan
biasanya gatal pada malam hari.
2. Gigitan serangga : Timbul setelah gigitan berupa urtikaria dan Papul.
3. Folikulitis : Nyeri, pustula miliar dikelilingi eritema (Siregar, 2005).
2.8 Penatalaksanaan Skabies
Menurut Sudirman (2006), penatalaksanaan skabies dibagi menjadi 2 bagian :
a. Penatalaksanaan secara umum.
Pada pasien dianjurkan untuk menjaga kebersihan dan mandi secara teratur
setiap hari. Semua pakaian, sprei, dan handuk yang telah digunakan harus dicuci
secara teratur dan bila perlu direndam dengan air panas. Demikian pula dengan
anggota keluarga yang beresiko tinggi untuk tertular, terutama bayi dan anak-anak,
juga harus dijaga kebersihannya dan untuk sementara waktu menghindari terjadinya
kontak langsung. Secara umum meningkatkan kebersihan lingkungan maupun
perorangan dan meningkatkan status gizinya. Beberapa syarat pengobatan yang harus
diperhatikan:
1. Semua anggota keluarga harus diperiksa dan semua harus diberi pengobatan
secara serentak.
2. Higiene perorangan : penderita harus mandi bersih, bila perlu menggunakan sikat
untuk menyikat badan. Sesudah mandi pakaian yang akan dipakai harus disetrika.
3. Semua perlengkapan rumah tangga seperti bangku, sofa, sprei, bantal, kasur,
selimut harus dibersihkan dan dijemur dibawah sinar matahari selama beberapa
jam.
b. Penatalaksanaan secara khusus.
Dengan menggunakan obat-obatan (Djuanda, 2010), obat-obat anti skabies yang
tersedia dalam bentuk topikal antara lain:
1. Belerang endap (sulfur presipitatum), dengan kadar 4-20% dalam bentuk salep atau
krim. Kekurangannya ialah berbau dan mengotori pakaian dan kadang-kadang
menimbulkan iritasi. Dapat dipakai pada bayi berumur kurang dari 2 tahun.
2. Emulsi benzil-benzoas (20-25%), efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap
malam selama tiga hari. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi, dan kadang-
kadang makin gatal setelah dipakai.
3. Gama benzena heksa klorida (gameksan = gammexane) kadarnya 1% dalam krim atau
losio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium, mudah
digunakan, dan jarang memberi iritasi. Pemberiannya cukup sekali, kecuali jika masih
ada gejala diulangi seminggu kemudian.
4. Krotamiton 10% dalam krim atau losio juga merupakan obat pilihan, mempunyai dua
efek sebagai anti skabies dan anti gatal. Harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra.
5. Permetrin dengan kadar 5% dalam krim, kurang toksik dibandingkan gameksan,
efektifitasnya sama, aplikasi hanya sekali dan dihapus setelah 10 jam. Bila belum
sembuh diulangi setelah seminggu. Tidak anjurkan pada bayi di bawah umur 12
bulan.
2.9 Prognosis
Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakain obat, serta syarat pengobatan
dapat menghilangkan faktor predisposisi (antara lain hiegene), maka penyakit ini
memberikan prognosis yang baik (Djuanda, 2010).
2.10 Pencegahan
Cara pencegahan penyakit skabies adalah dengan :
a. Mandi secara teratur dengan menggunakan sabun.
b. Mencuci pakaian, sprei, sarung bantal, selimut dan lainnya secara teratur minimal 2
kali dalam seminggu.
c. Menjemur kasur dan bantal minimal 2 minggu sekali.
d. Tidak saling bertukar pakaian dan handuk dengan orang lain.
e. Hindari kontak dengan orang-orang atau kain serta pakaian yang dicurigai terinfeksi
tungau skabies.
f. Menjaga kebersihan rumah dan berventilasi cukup.
Menjaga kebersihan tubuh sangat penting untuk menjaga infestasi parasit. Sebaiknya
mandi dua kali sehari, serta menghindari kontak langsung dengan penderita, mengingat
parasit mudah menular pada kulit. Walaupun penyakit ini hanya merupakan penyakit kulit
biasa, dan tidak membahayakan jiwa, namun penyakit ini sangat mengganggu kehidupan
sehari-hari. Bila pengobatan sudah dilakukan secara tuntas, tidak menjamin terbebas dari
infeksi ulang, langkah yang dapat diambil adalah sebagai berikut :
a. Cuci sisir, sikat rambut dan perhiasan rambut dengan cara merendam di cairan antiseptik.
b. Cuci semua handuk, pakaian, sprei dalam air sabun hangat dan gunakan seterika panas
untuk membunuh semua telurnya, atau dicuci kering.
c. Keringkan peci yang bersih, kerudung dan jaket.
d. Hindari pemakaian bersama sisir, mukena atau jilbab (Depkes, 2007).
Departemen Kesehatan RI (2007) memberikan beberapa cara pencegahan yaitu
dengan dilakukan penyuluhan kepada masyarakat dan komunitas kesehatan tentang cara
penularan, diagnosis dini dan cara pengobatan penderita skabies dan orang-orang yang
kontak dengan penderita skabies,meliputi :
a. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya. Laporan kepada Dinas
Kesehatan setempat namun laporan resmi jarang dilakukan.
b. Isolasi santri yang terinfeksi dilarang masuk ke dalam pondok sampai dilakukan
pengobatan. Penderita yang dirawat di Rumah Sakit diisolasi sampai dengan 24 jam
setelah dilakukan pengobatan yang efektif. Disinfeksi serentak yaitu pakaian dalam
dan sprei yang digunakan oleh penderita dalam 48 jam pertama sebelum pengobatan
dicuci dengan menggunakan sistem pemanasan pada proses pencucian dan
pengeringan, hal ini dapat membunuh kutu dan telur.
Sutanto I, Ismid IS, Sjarifuddin PK, dan
Sungkar S. Parasitologi kedokteran edisi
keempat. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2008.
2. Audhah NA, Umniyati SR, dan Siswati AS.
Scabies risk factor on students of islamic
boarding school (study at darul hijrah
islamic boarding school, cindai alus village,
martapura subdistrict, banjar district,
south kalimantan). J Buski. 2012;1(4):14-
22.
3. Aminah P, Sibero HT, dan Ratna MG.
Hubungan tingkat pengetahuan dengan
kejadian skabies. J Majority. 2015;5(4):54-
59.
4. Ratnasari AF dan Sungkar S. Prevalensi
skabies dan faktor-faktor yang
berhubungan di pesantren x, jakarta
timur. eJKI [internet]. 2014 [diakses
tanggal 30 November 2015]; 2(1):7-12.
Tersedia dari:
[Link]
cle/viewFile/3177/3401.
5. Stephen J dan Gilmore. Control strategies
for endemic childhood scabies. PloS ONE
[internet]. 2011 [diakses pada 30
November 2015]; 6(1):e15990. Tersedia
dari:[Link]
le?id=10.1371/[Link].001599.
Firza Syailindra dan Hanna Mutiara l Skabies
Majority | Volume 5 | Nomor 2 | April 2016 |42
6. Ronny PH. Skabies. Dalam: Adhi D,
Mochtar H, Siti A, Editor. Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin Edisi Keenam. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI; 2010. hlm. 122-125.
7. Amiruddin MD. Ilmu penyakit kulit dan
kelamin edisi I. Makassar: Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin;
2003.
8. Centers for Disease Control Prevention;
2010 [diakses tanggal 29 oktober
2015].Tersedia dari:
[Link]
9. Currie BJ dan McCarthy JS. Permethrin
and ivermectin for scabies. N Egl J Med.
2010;362(8):717-725.
10. Medscape; 2014 [diakses tanggal 30
Oktober 2015]. Tersedia dari:
[Link]
1109204-overview#a4.
11. Centers for Disease Control Prevention;
2010 [diakses tanggal 29 oktober 2015].
Tersedia dari:
[Link]
[Link].
12. American Academy of Dermatology 1938;
2015 [diakses tanggal 30 Oktober 2015].
Tersedia dari:
[Link]
diseases-and-treatments/q---
t/scabies/who-gets-causes.
13. Medscape; 2014 [diakses tanggal 30
Oktober 2015]. Tersedia dari:
[Link]
1109204-overview#a5.
14. American Academy of Dermatology 1938;
2015 [diakses tanggal 30 Oktober 2015].
Tersedia dari:
[Link]
diseases-and-treatments/q---
t/scabies/signs-symptoms.
15. Gunning K, Pippitt K, Kiraly B, Sayler M.
Pediculosis and scabies: a treatment
update. American Family Physician.
2012;86(6):535-541.
16. Oakley A. Scabies: diagnosis and
management. BPJ19. 2009;19:12-16.
17. Oliver Chosidow. Scabies. N Engl J Med.
2006;354(16):1718-1-27.
18. Karthieyan K. Treatment in scabies:
newer perspectives. Postgraduate Med J.
2005;81:7-11.
19. Centers for Disease Control Prevention;
2010 [diakses tanggal 30 Oktober 2015].
Tersediadari:
[Link]
alth_professionals/[Link].
20. American Academy of Dermatology 1938;
2015 [diakses tanggal 30 Oktober 2015].
Tersedia dari:
[Link]