TUGAS MANAJEMEN STRATEGIS
TENTANG
ANALISIS CREATIVE PROBLEM SOLVING MENGGUNAKAN
TEORI OSBORN DAN TEORI GEORGE POLYA
DI RUMAH SAKIT X
OLEH KELOMPOK IV
1. Daeng Ramadhan Salim (1521312028)
2. Feny Marlena (1521312012)
3. Nurman Hidaya (1521312038)
4. Setiadi Syarli (1521312001)
5. Linda Andriani (1321312029)
6. Amrino (1521312051)
DOSEN PENGAJAR :
DR. Yuliastri Arif, [Link]
PROGRAM STUDI S2 KEPERAWATAN
KEKHUSUSAN KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN - UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG 2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahuwataala yang
telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusun bisa
menyelesaikan laporan tugas ini. Laporan tugas ini berjudul Analisis Creative
Problem Solving Menggunakan Teori Osborn dan Teori George Polya Di RS
X" yang ditulis sebagai tugas mata kuliah Manajemen Strategis. Semua ini
merupakan proses dari pemahaman dan pembelajaran di program pascasarjana
magister keperawatan kekhususan kepemimpinan dan manajemen keperawatan.
Ada banyak rintangan dan hambatan silih berganti, namun di atas semuanya itu
oleh pimpinanNya serta bantuan semua pihak akhimya penulisan tugas ini dapat
diselesaikan.
Sebenarnya tidak mungkin untuk mengucapkan terima kasih dengan
kata-kata dan tak ada satupun yang dapat kami berikan sebagai penghargaan,
betapapun indah dan panjangnya. demikian tim penulis merasa wajib
menghaturkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada ibu DR. Yuliastri Arif,
[Link] selaku dosen pengajar mata kuliah Manajemen Strategis. Laporan Tugas
ini hasil karya tim penyusun. Oleh sebab itu, tim penyusun bertanggung jawab
atas isi laporan tugas ini. Semoga laporan tugas ini bermanfaat.
Padang, Juni 2016
Tim Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berpikir kreatif merupakan cara berpikir untuk menghasilkan sesuatu yang
baru dalam konsep, pengertian dan penemuan. Syarat dalam berpikir kreatif
ada 2, yakni yang pertama sesuatu yang dihasilkan harus dapat memecahkan
persoalan secara realistis atau dengan kata lain masuk [Link] kedua yakni
merupakan upaya mempertahankan suatu pengertian atau pengetahuan murni,
dengan kata lain bukan tiruan. Masalah adalah formulasi jawaban baru, keluar
dari aplikasi peraturan yang dipelajari sebelumnya untuk menciptakan solusi.
Pemecahan masalah adalah apa yang terjadi ketika respon rutin dan otomatis
tidak sesuai dengan kondisi yang ada (Woolfolk & Nicholich, 2004:320).
Santrock (2005:356) mengemukakan bahwa pemecahan masalah
merupakan upaya untuk menemukan cara yang tepat dalam mencapai tujuan
ketika tujuan dimaksud belum tercapai (belum tersedia). Sementara itu,
Davidoff (1988:379) mengemukakan bahwa pemecahan masalah adalah suatu
usaha yang cukup keras yang melibatkan suatu tujuan dan hambatan-
hambatannya. Seseorang yang menghadapi satu tujuan akan menghadapi
persoalan dan dengan demikian dia akan terpacu untuk mencapai tujuan itu
dengan menggunakan berbagai cara.
Hunsacker (Lasmahadi, 2005) mengemukakan bahwa pemecahan masalah
merupakan suatu proses penghilangan perbedaan atau ketidak-sesuaian yang
terjadi antara hasil yang diperoleh dan hasil yang diinginkan. Salah satu
bagian dari proses pemecahan masalah adalah pengambilan keputusan
(decisionmaking), yang didefinisikan sebagai memilih solusi terbaik dari
sejumlah alternatif yang tersedia. Pengambilan keputusan yang tidak tepat,
akan mempengaruhi kualitas hasil dari pemecahan masalah yang dilakukan.
Munandar (Rosalina, 2008) mengatakan bahwa kreatifitas merupakan
kemampuan membuat kombinasi baru berdasarkan data informasi atau unsur-
unsur yang ada.
Pemecahan masalah secara kreatif merupakan upaya pemecahan suatu
masalah dengan menggunakan cara-cara yang kreatif dan revolusioner
(mengkombinasikan berbagai teknik dan metode), sehingga hasilnya lebih
signifikan. Cara-cara kreatif dimaksud merupakan cara atau metode yang baru
dan komprehensif dan cenderung eksentrik. Metode demikian merupakan
suatu penjabaran dari metode-metode yang telah ada sekaligus
sebagai upgrading dari metode-metode yang telah ada.
Aplikasi metode pemecahan masalah secara kreatif lahir dari satu bentuk
pemikiran (mindset) yang menerobos kleaziman paradigma tertentu. Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah kreatif merupakan
upaya pemecahan masalah dengan metode (cara) yang efektif dan
komprehensif.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Memahami Creatif Problem Solving Dengan Pendekatan Konsep Dan
Teori Menurut Alex Osborn Dan George Polya.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi Pemecahan Masalah Secara Kreatif Dengan
Pendekatan Konsep Dan Teori Alex Osborn.
b. Mengidentifikasi Pemecahan Masalah Secara Kreatif Dengan
Pendekatan Konsep Dan Teori George Polya.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Teori Alex Osborn
Model Creative Problem Solving (CPS) pertamakali dikembangkan oleh
Alex Osborn pendiri The Creative Education Foundation (CEF) dan co-
founder of highly successful New York Advertising Agenncy . Pada tahun
1950-an Sidney Parnes bekerjasama dengan Alex Osborn melakukan
penelitian untuk menyempurnakan model ini. Sehingga model Creative
Problem Solving ini juga dikenal dengan nama The Osborn-parnes Creative
Problem Solving Models. Pada awalnya model ini digunakan oleh perusahaan-
perusahaan dengan tujuan agar para karyawan memiliki kreativitas yang tinggi
dalam setiap tanggungjawab pekerjaannya, namun pada perkembangan
selanjutnya model ini juga diterapkan pada dunia pendidikan. Adapun
langkah-langkah dalam CPS adalah:
1. Mess-finding
Tahap pertama, merupakan suatu usaha untuk mengidentifikasi situasi
yang dirasakan mengganggu.
2. Fact-finding
Tahap kedua, mendaftar semua fakta yang diketahui yang berhubungan
dengan situasi tersebut, yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi informasi
yang tidak diketahui tetapi esensial pada situsi yang sedang diidentifikasi
dan dicari.
3. Problem-finding
Pada tahap menemukan masalah, diupayakan mengidentifikasi semua
kemungkinan pernyataan masalah dan kemudian memilih yang paling
penting atau yang mendasari masalah.
4. Idea-finding
Pada tahap ini diupayakan untuk menemukan sejumlah ide atau gagasan
yang mungkin dapat digunakan untuk memecahkan masalah.
5. Solution-finding
Pada tahap penemuan solusi, ide-ide atau gagasan-gagasan pemecahan
masalah diseleksi, untuk menemukan ide yang paling tepat untuk
memecahkan masalah.
6. Acceptance-finding
Berusaha untuk memperoleh penerimaan atas solusi masalah, menyusun
rencana tindakan dan mengimplementasikan solusi tersebut.
Teknik brainstorming pertama kali dicetuskan oleh Alex Osborn pada
tahun 1953 dalam bukunya Applied Imagination. Brainstorming berarti to
storm a problem with ideas (menyerbu suatu masalah dengan ide-ide).
Brainstorming atau penyerbuan dengan ide-ide yang sebanyak mungkin
terhadap suatu masalah dilangsungkan dalam suatu pertemuan. Teknik ini
pada dasarnya adalah menerapkan diadakannya suatu sidang serbuan gagasan
untuk memecahkan masalah. Pada pembelajaran dengan teknik brainstorming,
setiap siswa dianjurkan mengajukan pendapat atau gagasan yang sebanyak-
banyak mungkin untuk kemudian dicatat.
Penggalian ide dengan teknik ini bermula dari pemikiran Osborn yang
menganggap bahwa aliran ide spontan yang muncul dari banyak orang lebih
baik daripada gagasan seorang diri. Brainstorming mengacu pada penggalian
ide berdasarkan kreativitas berpikir manusia. Peserta diskusi bebas
menyampaikan pendapat tanpa rasa takut terhadap kritik dan penilaian sebab
selama tahap pengumpulan ide semua gagasan akan ditampung tanpa
terkecuali. Dalam prosesnya, tidak boleh dilangsungkan perdebatan atau
diberikan kritik terjadap sesuatu ide yang dilontarkan. Osborn dalam Gie
(1995) mensyaratkan 4 ketentuan dalam melaksanakan brainstorming yaitu:
1. Kritik tidak diperkenankan
2. Pengaliran ide secara bebas dianjurkan
3. Kualitas lebih diharapkan
4. Penggabungan dan penyampuran dicari
Selain menyumbangkan gagasan sendiri, setiap peserta diharapkan
menyarankan bagaimana 4 ide peserta lain dapat disempurnakan menjadi ide
yang lebih baik atau bagaimana dua atau lebih ide dapat digabungkan menjadi
satu lagi ide. Tujuan dan Manfaat Brainstorming Brainstorming bertujuan
untuk mendapatkan gagasan dan ide-ide baru dari anggota kelompok dalam
waktu yang relatif singkat tanpa adanya sifat kritis yang ketat.
B. Teori George Polya
Model Polya menunjukkan penyelesaian masalah sebagai proses langkah
demi langkah. Ia kelihatan mencadangkan bahawa penyelesaian masalah
matematik boleh dilaksanakan secara terpisah-pisah pada suatu hirarki.
Analisis Newmann (2006) tentang jenis kesiapan bagi masalah bercerita
menunjukkan pandangan yang sedemikian. Rumusan ini diperkukuhkan lagi
dengan terdapatnya model model yang berbeda daripada Model Polya hanya
pada bilangan langkah pada proses penyelesaian masalah. Antara model
tersebut ialah Model Lester (1989) dan Model Mayer (1992).
Tahap-tahap untuk menyelesaikan masalah menurut polya adalah:
1. Memahami problem
Problem apa yang dihadapi? Bagaimana kondisi dan datanya? Bagaimana
memilah kondisi-kondisi tersebut?
2. Menyusun rencana
Menemukan hubungan antara data dengan hal-hal yang belum diketahui.
Apakah pernah problem yang mirip?
3. Melaksanakan rencana
Menjalankan rencana guna menemukan solusi, periksa setiap langkah
dengan seksama untuk membuktikan bahwa cara itu benar.
4. Menengok ke belakang
Melakukan penilaian terhadap solusi yang didapat.
Keempat tahapan ini lebih dikenal dengan See (memahami masalah), Plan
(menyusun rencana), Do (melaksanakan rencana) dan Check (menguji
jawaban).
BAB III
ANALISA KASUS
A. TEORI OSBORN
1. Evidence Based
a. Pelaksanaan supervisi dari setiap bidang belum berjalan optimal.
b. Kegiatan supervisi juga dilakukan tidak terjadwal (masih bersifat
situasional).
2. Analisis Masalah
a. Man
1) Belum adanya komitmen tentang pelaksanaan supervisi secara
terjadwal.
2) Motivasi yang kurang.
b. Material
1) Tidak adanya standar dalam melakukan supervisi.
2) Format supervisi yang tidak ada.
c. Method
1) Belum adanya perencanaan yang optimal dalam kegiatan supervisi.
2) Jadwal kegiatan supervisi belum ada.
d. Marketing
1) Adanya tuntutan yang tinggi dari masyarakat terhadap pelayanan
keperawatan.
2) Peningkatan nilai dalam akreditas RS.
3. Brainstorming
a. Mengembangkan kemampuan pemimpin (strong leadershift) dalam
melakukan supervisi.
b. Membuat dan menetapkan jadwal kegiatan supervisi secara baik.
c. Menetapkan standar pelaksanaan supervisi dan menyiapkan format
dalam penilaian supervisi.
d. Meningkatkan motivasi perawat agar mempersiapkan diri dalam
mengahadapi supervisi diruangan, misalkan dengan memberikan
reward atau penghargaan.
Analisa SWOT
Kekuatan (Strenght) Kelemahan (Weakness)
1. Rumah Sakit yang memiliki 1. Tenaga keperawatan dengan
kerjasama langsung dengan latar belakang pendidikan S1
berbagai institusi pendidikan dan Profesi keperawatan masih
baik kesehatan maupun non terbatas baru 19 % sedang D3
kesehatan. keperawatan/kebidanan sebesar
2. Memiliki SDM dengan
70 %.
integritas tinggi sebagai tenaga 2. Belum adanya komitmen
Rumah Sakit baik tenaga tentang pelaksanaan supervisi
kesehatan maupun non secara terjadwal.
kesehatan. Dimana S2 3. Tidak adanya standar (SOP)
Keperawatan sebanyak 1 Orang dalam melakukan supervisi.
dan S1 sebanyak 28 orang. 4. Belum adanya format supervisi
3. Memiliki sarana dan prasarana 5. Motivasi yang kurang dalam
yang sesuai dengan Tipe rumah menghadapi kegiatan supervisi.
sakit sehingga hampir semua 6. Akreditas RS masih C.
kebutuhan pasien dapat
terpenuhi.
Peluang (Opportunity) Ancaman (Threatment)
1. Satu-satunya rumah sakit 1. Asumsi masyarakat umum
pendidikan yang ada di bahwa RS X memiliki
Kabupaten dan Kota. pelayanan yang kurang
2. Kesempatan SDM khususnya
baik.
keperawatan untuk melanjutkan 2. Tuntutan akreditas yang
pendidikan ke jenjang yang lebih baik.
lebih tinggi sangat besar.
4. Strategi Penyelesaian Masalah Menurut Teori Osborn
a. Fact-finding
Pelaksanaan supervisi dari bidang belum berjalan optimal.
b. Idea-finding
1) Mengembangkan kemampuan pemimpin (strong leadershift) dalam
melakukan supervisi.
2) Membuat dan menetapkan jadwal kegiatan supervisi secara baik.
3) Menetapkan standar pelaksanaan supervisi dan menyiapkan format
dalam penilaian supervisi.
4) Meningkatkan motivasi perawat agar mempersiapkan diri dalam
mengahadapi supervisi diruangan, misalkan dengan memberikan
reward atau penghargaan.
c. Solution-finding
1) Merubah persepsi dan paradigma perawat mengenai supervisi.
2) Adanya kepemimpinan yang kuat (strong leadershift)/pengawasan
dalam melaksanakan komitmen kegiatan supervisi.
3) Menetapkan standar pelaksanaan supervisi dan menyiapkan format
dalam penilaian supervisi.
4) Membuat dan menetapkan jadwal kegiatan supervisi secara baik.
5) Memberikan reward, agar motivasi perawat dapat meningkat dalam
mempersiapkan menghadapi supervisi.
B. TEORI GEORGE POLYA
1. Evidence Based
a. Menghitung dosis obat adalah keterampilan kunci bagi perawat.
b. Masih adanya perawat yang tidak mengetahui cara menghitung dosis
obat dengan baik dan benar.
c. Kesalahan dalam pemberian obat berdasarkan dosisnya dapat berisiko
merugikan dan membahayakan pasien.
2. Analisis Masalah
a. Man
1) Masih rendahnya pengetahuan dan keterampilan perawat dalam
menghitung dosis obat (Perawat Strata I Keperawatan dan Ners
masih sedikit).
2) Kurangnya pengawasan dari atasan.
b. Money
Belum adanya anggaran (dana) untuk memfasilitasi SDM (perawat)
untuk mengikuti pelatihan, training guna mengembangkan
keterampilan dan pengetahuan perawat.
c. Material
Belum adanya SOP tentang standar pengitungan dosis obat baik untuk
anak-anak dan orang dewasa.
d. Method
Belum adanya penggunaan rumus yang baku tentang penghitungan
dosis obat yang tepat baik untuk orang dewasa maupun untuk anak-
anak.
e. Marketing
1) Kepuasan pasien dalam menerima pelayanan keperawatan yang
optimal
2) Peningkatan nilai dalam akreditas RS
3. Brainstorming
a. Mengembangkan kemampuan perawat dalam menghitung dosis obat
dengan menggunakan rumus yang baku.
b. Meningkatkan kemampuan perawat dalam aritmatika formal seperti
pembagian panjang, pecahan, perkalian pecahan dan perkalian panjang
dilihat sebagai keterampilan kunci untuk perhitungan obat.
c. Meningkatkan keterampilan (kompetensi) perawat melalui kegiatan
pelatihan, training, dan kegiatan lainnya terutama tentang penghitungan
dosis obat bagi pasien anak, dewasa, serta pasien yang berada di ruang
ICU.
d. Masih banyak metode penghitungan dosis obat yang belum diteliti dan
harus dikembangkan dalam praktik keperawatan melalui riset-riset
(penelitian).
Analisa SWOT
Kekuatan (Strenght) Kelemahan (Weakness)
1. Memiliki SDM dengan 1. Tenaga keperawatan dengan
integritas tinggi sebagai tenaga latar belakang pendidikan S1
Rumah Sakit baik tenaga dan Profesi keperawatan masih
kesehatan maupun non terbatas baru 19 % sedang D3
kesehatan. Dimana S2 keperawatan/kebidanan sebesar
Keperawatan sebanyak 1 Orang 70 %.
dan S1 sebanyak 28 orang. 2. Belum ada pengembangan dan
2. Memiliki sarana dan prasarana pelatihan khusus pehitungan
yang sesuai dengan Tipe rumah dosis obat.
sakit sehingga hampir semua 3. Kurangnya pengawasan dalam
kebutuhan pasien dapat perhitungan dosis obat yang
terpenuhi. benar.
4. Tidak adanya standar (SOP)
dalam perhitungan dosis obat
5. Akreditas RS masih C.
Peluang (Opportunity) Ancaman (Threatment)
1. Satu-satunya rumah sakit 1. Asumsi masyarakat umum
pendidikan yang ada di bahwa RS X memiliki
Kabupaten dan Kota. pelayanan yang kurang baik.
2. Kesempatan SDM khususnya 2. Tuntutan akreditas yang lebih
keperawatan untuk melanjutkan baik.
pendidikan ke jenjang yang
lebih tinggi sangat besar.
3. Kesempatan untuk riset
pengembangan metode
perhitungan dosis obat
menggunakan rumus yang baku.
4. Strategi Penyelesaian Masalah Menurut Teori George Polya
a. See (Memahami Masalah)
1) Masih adanya perawat yang tidak mengetahui cara menghitung
dosis obat dengan baik dan benar.
2) Kesalahan dalam pemberian obat berdasarkan dosisnya dapat
berisiko merugikan dan membahayakan pasien.
b. Plan (Menyusun Rencana)
1) Meningkatkan pendidikan perawat agar pengetahuan dan
keterampilan perawat dalam menghitung dosis obat dapat
meningkat.
2) Menyiapkan anggaran/dana untuk mengirim perawat mengikuti
pelatihan dan pendidikan guna meningatkan pengetahuan dan
keterampilan perawat.
3) Menetapkan cara penghitungan dosis obat menggunakan rumus
yang baku.
4) Membuat standar operasional prosedur dalam menetapkan dosis
obat, baik bagi orang dewasa ataupun anak-anak.
5) Memberikan motivasi kepada perawat agar melakukan riset
penelitian untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan
dalam penghitungan dosis obat.
c. Do (Melaksanakan Rencana)
1) Menetapkan cara penghitungan dosis obat menggunakan rumus
yang baku.
2) Membuat standar operasional prosedur dalam menetapkan dosis
obat, baik bagi orang dewasa ataupun anak-anak.
3) Mengirim beberapa orang perawat untuk mengkuti pelatihan,
training ataupun kegiatan lainnya yang dapat meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan perawat terutama dalam
penghitungan dosis obat.
4) Melakukan riset penelitian untuk mengembangkan metode tentang
cara penghitungan dosis yang tepat, baik dan benar.
d. Check (Menengok ke Belakang)
Melakukan evaluasi/penilaian dari setiap solusi yang direncanakan,
misalnya : setelah ditetapkan standar baku penghitungan dosis obat
berdasarkan rumus dan sudah adanya standar penghitungan dosis obat,
maka membuat para perawat sudah dapat menghitung dosis secara baik
dan tepat. Artinya solusi yang dipilih untuk dilakukan sudah tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Herout PM, Erstad BL (2004) Medication errors involving continuously infused
medications in a surgical intensive care unit. Crit Care Med 32(2):
42832.
Hill. Kerri Wright. (2009). Supporting the development of
calculating skills in nurses. British Journal of Nursing. Volume
18 No 7.
Lasmahadi & Soleh. (2005). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Rineka Cipta
Mayer, R. E., Quilici, J.L., & Moreno, R. (1999). What is learned in after-school
computer club. Journal of Educational Computing Research,
20, 223-235.
Newman, B. M. & Newman P. R. (2006). Development Through Life A
Psychosocial Approach 9th ed. Thompson Wadsworth.
Santrock, J.W. (2005). Psychology updated seventh edition. Boston: Mc Graw
The Liang Gie. (1995). Cara Belajar Efisien II, Yogyakarta: PUBIB.
The Liang Gie. (2002). Cara Belajar Efisien I, Yogyakarta: PUBIB.
Woolfolk, Loraine McCune-Nicolich, (2004) Pengembangan Kepribadian dan
Kecerdasan Anak-anak (Psikologi Pembelajaran I), Jakarta: Inisiasi
Press.